Chapter 47

Sakura merasakan tubuhnya sangat lemah, dadanya sakit dan kepalanya seperti berputar. Susah payah ia memaksakan diri untuk bangun dari posisi tidurnya dan menyibak rambut panjangnya yang terjurai ke wajah. Gadis itu menoleh dengan bingung, lalu menatap ke dalam cermin tak jauh dari ranjangnya. Seraut wajah pucat pasi balas menatap padanya. Tubuh kurusnya terbalut gaun tidur putih yang menjuntai sampai ke lantai.

Oh… mengapa ia terlihat seperti orang sakit?

Kemudian ia menyapu pandangannya berkeliling dan mendapati dirinya bukan sedang berada di kamar tidurnya yang biasa. Ruangan itu luas, berlangit-langit tinggi dengan sebuah kandil kristal berdebu yang memberikan pencahayaan remang-remang, dan sangat bergaya Eropa abad pertengahan. Sakura mengerjapkan matanya, bingung.

Tiba-tiba saja seorang wanita tergopoh-gopoh masuk. Rasanya ia mengenal wajah yang sedang tersenyum lebar itu. "Nyonya… dia datang!"

"Siapa?" tanya Sakura tidak mengerti.

"Seseorang… yang akan membuat hari Anda dipenuhi kebahagiaan. Dia ada di depan…" sahut wanita itu.

Sakura tidak mengerti ketika nama itu meluncur dari bibirnya dan ia merasakan bahagia yang amat sangat. "Alfredo? Dia datang?"

Wanita di depannya mengangguk penuh antusias. Ia lalu membukakan pintu ganda kamar itu dan Sakura bergegas menyusulnya. Dadanya berdebar-debar dipenuhi dengan kebahagiaan ketika ia melihat pria itu. Dengan mantel hitam panjang dan rambut cokelat panjangnya yang terkucir rapi di belakang tengkuknya, pria itu berdiri di dekat jendela tinggi melengkung. Ia menoleh ketika mendengar langkah kaki Sakura. Senyum di wajah tampannya melebar, mata lavendernya melembut tatkala melihat wanita yang amat dicintainya ada di sana.

"Alfredo…"

"Violetta…" Dan pria itu pun berlari ke arah sang wanita.

Keduanya berpelukan erat, saling melepaskan kerinduan yang selama ini terpendam. Dan Sakura—Violetta, merasakan penderitaannya selama ini akan segera berakhir dengan kembalinya pria yang dikasihinya ke pelukannya.

Mendadak tubuhnya melemah. Ia limbung. Namun sebelum ia terjatuh ke lantai, Alfredo dengan sigap menangkap tubuhnya dan mengangkatnya ke dalam gendongannya. Dengan lembut, dibawanya tubuh wanita itu kembali ke ranjangnya.

"Bangun, Sakura!" tiba-tiba Alfredo berteriak sambil menjawil-jawil lengannya agak keras.

"Eh?" Sakura—Violetta, mengerjap kaget. Suasana romantis mendadak buyar.

"Sakura… bangun!"

-

-

-

Mata hijau itu perlahan membuka. Awalnya semua tampak buram, tapi kemudian ia melihat tiga wajah dengan ekspresi cemas menunduk di atasnya. Sakura mengerjapkan matanya dengan bingung ketika wajah cemas itu perlahan berubah cerah.

"Ino?" Sakura berbisik lemah. "Naruto? Sai?"

"Haah.. syukurlah Sakura sudah bangun!" seru Naruto lega.

"Aku akan panggil Suster Airi," kata Sai. Dan ia menghilang dari pandangan.

Sakura menggosok-gosok matanya, lalu mencoba bangun. Ino bergegas membantunya duduk. "Apa yang terjadi?" tanya Sakura bingung pada kedua temannya yang masih di sana sambil mengangkat tangannya, menyapu rambut yang terjatuh ke matanya.

"Kau pingsan di koridor tadi," jawab Ino. Tampangnya geli, seperti sedang menahan tawa. "Dasar! Tiba-tiba pingsan begitu. Bikin orang panik saja."

Dahi Sakura mengerut. "Pingsan? Aku…" gadis itu menoleh pada Naruto. Cowok itu mengangguk.

"Kau pingsan setelah membaca pengumuman tentang audisi dramamu." Naruto tersenyum agak dipaksakan. "Selamat ya, Sakura. Aku tahu kau akan mendapatkan peran itu," ujarnya seraya menepuk lengan gadis itu.

Sakura menempelkan tangan ke sisi wajahnya dan ingatan tentang pengumuman itu bekelebat masuk ke dalam otaknya.

-Sakura Haruno as Violetta Valery

Rupanya itu bukan hanya bayangannya saja! Itu nyata! Ia benar-benar mendapatkan peran itu! Dan—tepat di bawah namanya…

-Neji Hyuuga as Alfredo Germont

Sakura bisa merasakan wajahnya memanas ketika teringat pada mimpinya barusan.

Tepat saat itu perawat sekolah mereka, Suster Airi, memasuki ruangan dengan membawa secangkir teh manis hangat. Sai mengikuti di belakangnya. Sang perawat muda itu tersenyum. "Sudah bangun, Sakura?" ia bertanya seraya mengulurkan cangkir yang dibawanya pada gadis itu. "Minumlah… barangkali bisa membantu."

Sakura menerima cangkirnya. "Terimakasih, Suster Airi."

Airi mengulurkan tangannya pada kening Sakura, memeriksa suhu tubuhnya. "Apa yang kau rasakan sekarang? Pusing? Mual? Atau—"

Sakura buru-buru menggeleng. "Aku tidak apa-apa, Suster Airi."

Perawat itu mengangguk sambil tersenyum. Ia mengedarkan pandangannya ke teman-teman Sakura. "Baiklah. Kalau ada apa-apa, aku ada di meja depan, ya." Dan ia pun kembali ke mejanya.

"Oke, Sakura," kata Naruto setelah Suster Airi pergi, "Sepertinya aku juga harus pergi—er… ke belakang. Kau istirahatlah…" Tanpa menunggu jawaban, Naruto berbalik dan berjalan menuju pintu keluar. Sai menyusulnya kemudian setelah berkata ia ada perlu dengan klub jurnalnya.

Sakura mengernyitkan dahi pada Ino. "Sikap Naruto agak aneh atau hanya perasaanku saja?"

"Um…" Ino tampak ragu sejenak sembari menyamankan diri duduk di tepi ranjang. "Kurasa bukan hanya perasaanmu. Naruto sejak kemarin memang agak aneh." Ia mereka terdiam sejenak sementara Sakura menghirup minumannya sedikit. "Kalau kau tanya aku, kurasa Naruto sedang cemburu, Sakura…"

Sakura terhenyak, tapi ia tidak menanggapi apa-apa –atau tepatnya, ia tidak tahu harus menanggapi apa.

"Kau tidak bisa menyangkalnya, Sakura, Naruto itu masih sangat menyukaimu," lanjut Ino.

Sakura tidak menjawabnya, melainkan sekali lagi mengangkat cangkir ke bibirnya. Bola matanya bergerak-gerak gelisah.

"Dan ia tidak tahan melihatmu bersama cowok lain," lanjut Ino, "Neji, terutama… karena dia tahu kau ada hati pada Neji."

Sakura menurunkan cangkirnya, menghela napas. "Aku tidak bermaksud menyakitinya. Dia temanku…"

"Ya ya, aku tahu…" Ino mengangguk mengerti. "Dan kurasa Naruto juga sudah menyadari hal itu. Hanya saja… yah, mungkin terkadang perasaan itu sudah tak tertahankan olehnya. Aku sering melihatnya dalam matanya…" gadis itu terdiam sejenak, melirik Sakura. Cengiran tipis muncul di bibirnya. "Misalnya saja, saat ia melihat Neji menggendongmu kemari…"

Sakura yang sedang meminum tehnya langsung tersedak. Teh menyembur dari mulutnya dan ia mulai terbatuk-batuk. Matanya membeliak pada Ino. "A-apa maksudmu Neji menggendongku kemari?"

"Memangnya kau pikir bagaimana kau bisa sampai kemari? Terbang?" Ino memutar bola matanya, tertawa. Gadis itu menambahkan setelah tawanya mereda, "Waktu kau pingsan tadi, Neji ada di belakangmu dan kau menabraknya."

Kata-kata Ino barusan membuat Sakura semakin membelalakkan matanya. Jantungnya serasa berhenti. "Ya, ampun…" desahnya tak percaya. "No way!"

Ino tertawa sebelum melanjutkan dengan gaya dilebih-lebihkan, "Dan dia… dengan gentle-nya mengangkatmu ke dalam gendongannya. Bayangkan, Sakura… Di depan anak-anak…"

"Ya, ampun…" Wajah Sakura serasa terbakar. Gadis itu tidak akan heran kalau asap panas menguar dari kedua telinganya. Tapi melihat cengiran di wajah Ino membuatnya berfikir kalau sahabatnya itu hanya mengada-ada saja –hanya untuk mempermainkannya—Sakura memaksakan tawa. "Kau bohong, Ino," ujarnya.

"Tentu saja aku tidak bohong!" seru Ino, pura-pura tersinggung. Tapi ia tidak bisa menahan diri untuk nyengir semakin lebar setelahnya. "Kau bisa tanya pada anak-anak yang lain, Sakura! Separuh siswa sekolah ini bisa jadi saksi! Atau—" ia mengikik lagi. Melihat ekspresi kaget-setengah-mati Sakura membuatnya geli, "…kau bisa tanya langsung pada Neji. Karena dia yang membawamu kemari."

Sakura tidak tahu harus berkata apa lagi saat itu. Rasanya semua darah di tubuhnya mengalir deras ke wajahnya, membuatnya kebas.

Dan Ino sama sekali tidak membantu, malah menambah-nambahi, "Kau tahu, anak-anak menyoraki kalian sepanjang koridor." Mata birunya membulat dengan ekspresi berlebihan. "Tapi Neji sama sekali tidak menghiraukan mereka. Cowok itu tetap menggendongmu kemari!"

"Aaargh!!" Sakura akhirnya tidak tahan lagi. Ia menjatuhkan dirinya kembali ke ranjang, menyembunyikan wajahnya yang sudah semerah tomat ranum ke bantal. "Maluuuu…" suaranya teredam.

Ino terkekeh-kekeh, belum puas. "Coba bayangkan situasinya, Sakura… Dan kau..." gadis itu tidak bisa menahan tawanya. Ia terbahak. Sejenak ia berhenti sebelum melanjutkan dengan wajah geli, "Kau sadar tidak sih waktu kau mengigau.. 'Alfredo… Alfredo..' tadi?"

"AAARGH!!" Sakura menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kalap. "MALU… MALU… MALU… MALUUUU…"

Ino malah girang menertawakannya sampai sisi tubuhnya terasa nyeri saking serunya ia tertawa. Ia menepuk-nepuk punggung Sakura yang masih menyembunyikan wajah di bantal sambil masih terkekeh-kekeh. "Sudahlah, Sakura. Yang penting Neji tidak menertawakanmu, kan? Dia kelihatannya maklum…"

Dan ketika Sakura mengangkat kepalanya, Ino melihat wajah sahabatnya itu sudah sangat merah. Dan ia nyaris bisa merasakan panas menguar dari gadis berambut merah muda itu. Kedua mata zamrudnya berair dan ia menatap Ino dengan penuh kejengkelan.

"Maklum sih, maklum…" tukasnya, cemberut. "Tapi aku malu sekali…" dan Sakura merasa tidak ada nyali lagi menampakkan batang hidungnya di depan cowok itu setelah apa yang terjadi. Tapi ia tidak mungkin kabur dari Neji, mengingat mereka terlibat dalam drama sekolah –sebagai pasangan pula!

"Aaargh… mengapa akhir-akhir ini aku selalu mengalami kejadian yang memalukan, sih?" gerungnya. Insiden ketiduran di kelas Kakashi saja sudah memalukan. Dan kali ini, lebih memalukan lagi.

"Aku mengerti… aku mengerti…" sahut Ino, masih sambil cekikikan. Wajahnya juga sama merahnya dengan wajah Sakura, hanya saja dengan alasan yang sama sekali berbeda.

-

-

Sakura masih belum bisa mengatasi rasa malunya sampai akhirnya bel tanda pelajaran berikutnya akan segera dimulai, berbunyi. Akhirnya, setelah bujuk rayu –dan paksaan—dari Ino, akhirnya Sakura bersedia meninggalkan ruang kesehatan. Itu pun Ino harus menyeretnya keluar.

Dan sesampainya di kelas, reaksi teman-temannya saat melihatnya tidak membuatnya merasa lebih baik. Wajah Sakura terasa terbakar ketika ia masuk langsung disambut kikikan dan sorakan meledek dari yang lain.

Kalau saja ada lubang yang mendadak muncul di sana, Sakura ingin sekali melompat ke dalamnya dan tidak akan keluar dari sana sampai satu semester ke depan.

-

-

Sakura sangat berharap tidak perlu bertemu dengan Neji dulu –setidaknya sampai rasa malunya akibat insiden pingsan di koridor itu memudar. Entah kapan itu—Namun sepertinya harapannya itu tidak terwujud. Entah karena kebetulan atau memang sudah ditakdirkan, yang jelas setelah insiden itu mereka semakin kerap bertemu; di koridor saat pergantian mata pelajaran, di gerbang saat baru datang atau pulang, di kantin, di perpus, di ruang guru, bahkan saat Sakura baru saja keluar dari toilet anak perempuan ia nyaris bertabrakan dengan Neji yang kebetulan melintas di sana. Padahal sebelumnya, tidak sesering itu mereka bertemu.

Dan kalau itu sudah terjadi –mereka tidak sengaja bertemu—Sakura akan bersembunyi di balik punggung terdekat yang bisa dicapainya. Biasanya punggung Ino, atau Sai, atau Naruto atau siapa pun yang ada di sana. Kadang Neji tidak menyadarinya, tapi di lain waktu, mata lavendernya yang awas lebih cepat menemukan gadis itu sebelum ia sempat ngumpet. Lalu Neji akan menyunggingnya senyum tipisnya yang menawan –menurut Sakura—dan menyapanya. Sakura ingin sekali mengutuki teman-teman isengnya yang senang sekali menyoraki dan menyuiti mereka setiap kali mereka berpapasan. Namun di sisi lain Sakura sangat bersyukur Neji tidak menganggapnya aneh karena seringnya tampak seperti kepiting rebus.

"Acuhkan saja mereka. Lama-lama juga bosan sendiri," ujar Neji pada Sakura suatu hari ketika mereka berpapasan di koridor laboratorium. Saat itu Sakura baru saja mengumpulkan makalah Biologi kelompoknya dan ketika keluar dari ruangan lab, ia bertemu Neji bersama geng cowok-cowok kelas tiganya. Dan tepat seperti yang ditakutkannya, teman-teman Neji itu langsung menggoda mereka.

Ingin sekali Sakura melakukannya seperti yang dikatakan seniornya itu, tetapi susah sekali menghiraukan ketika anak-anak mulai mengungkit-ungkit soal insiden pingsannya untuk menggodanya. Apalagi setiap kali tertangkap oleh mata zamrudnya kedua belah lengan Neji dan otot yang menyembul dari balik lengan kausnya itu. Membayangkan sepasang lengan yang tampak kokoh itu pernah mengangkat tubuhnya membuat Sakura ingin pingsan –lagi.

Kalau saja tidak ada ketiga sahabatnya yang terus berada di sampingnya, barangkali Sakura sudah pingsan betulan. Terutama Ino, yang hampir selalu menghabiskan waktu bersamanya –yah, meskipun sesekali gadis pemilik rambut pirang sepanjang bokong itu ikut ambil bagian dalam acara goda-menggoda Sakura.

Sementara Sai lebih suka mengalihkan perhatian Sakura dengan membicarakan hal-hal lain yang tidak ada hubungannya –yang terkadang juga sangat tidak penting, seperti bertanya 'Mengapa mereka mengecat dinding kantin dengan warna hijau muda?'—tapi yang mengherankan Sakura, biasanya itu cukup berhasil.

Lain lagi dengan Naruto yang entah mengapa menjadi sangat emosional. Dan biasanya godaan yang dialamatkan anak-anak pada Sakura lebih mengesalkannya daripada Sakura sendiri. Kalau sudah begitu biasanya ia akan meledak marah dan berteriak pada semua orang, sampai-sampai mengenai penonton yang tidak bersalah. Misalnya saja Hinata yang kebetulan lewat saat Naruto marah-marah. Cowok itu baru gelagapan dan merasa bersalah saat melihat mata adik sepupu Neji itu berkaca-kaca setelah diteriaki olehnya –dan ia terpaksa menerima makian dari Kiba dan Shino.

Sikap meledak-ledak baru yang ditunjukkan Naruto ini mau tidak mau mengganggu pikiran Sakura. Bukan karena ia tidak suka Naruto membelanya, hanya saja rasanya itu terlalu berlebihan. Terlebih saat Naruto memasang sikap bermusuhan dengan Neji. Dan saat Sakura memintanya untuk berhenti, Naruto jadi marah juga padanya. Sakura benar-benar terkejut ketika Naruto berteriak padanya saat itu.

Sakura sama sekali tidak mengerti –atau ia berpura-pura tidak mengerti?

-

-

"Pendapatku masih sama seperti waktu itu, Sakura," ujar Ino dengan suara pelan suatu hari di akhir pekan. "Mungkin… Naruto sudah sampai pada batasnya menahan perasaannya padamu."

Saat itu keduanya sedang berada di rumah Shikamaru Nara, atau lebih tepatnya di gudang belakang rumahnya yang sudah disulap sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah studio band yang lumayan nyaman –terlepas dari fakta bahwa mereka di sana berjejalan dengan barang-barang rongsokan keluarga Nara. Klub musik sedang mengadakan latihan rutin mereka hari itu dan Sakura juga Sai menyempatkan diri untuk menonton.

Sakura menatap sedih pada Naruto yang sedang duduk di sofa kulit yang sudah sangat butut dan berlubang di sudut ruangan bersama Sai, menonton anak-anak The Glossy yang sedang berlatih. "Aku tidak tahu, Ino…" ia mendesah sedih.

Ino menghela napas, lalu menyandarkan punggungnya ke pintu. Kedua lengannya terlipat di depan dada dan ia menatap Sakura lurus-lurus. "Oh, tentu saja kau tahu, Sakura," ujarnya tak sabar. "Kau tahu dia sudah menyukaimu sejak kita sama-sama di sekolah dasar, dan kita sudah melihatnya cukup bersabar sejak saat itu."

Sakura tidak menjawabnya, tampak bimbang. "Tapi aku sudah menganggapnya seperti saudaraku sendiri…"

"Tapi dia tidak –mungkin tidak," sela Ino. Ia juga menoleh menatap Naruto yang sekarang tampak berbicara dengan suara rendah dengan Sai, barangkali sedang mengomentari band cewek-cewek yang sedang bermain di depan mereka. "Kau tidak bisa terus-terusan menutup mata kalau Naruto masih menyimpan rasa terhadapmu. Dan aku belum pernah melihat cowok sesabar Naruto dalam hal yang ada kaitannya dengan cewek. Tapi kau harus hati-hati, Sakura. Cowok kadang-kadang sering lepas kendali saat kesabarannya habis. Kau sudah lihat tanda-tandanya, dan entah kapan ia akan menyerangmu…"

Sakura terperanjat mendengar kata-kata Ino. "Naruto tidak akan menyerangku, Ino! Oh, kau jangan membuatku takut begitu dong!" desisnya.

Ino hanya mengangkat bahu. "Aku hanya berbicara berdasarkan yang sering terjadi, Sakura."

Sakura menggigit bibir. Tentu saja, pikirnya. Hal seperti itu sangat mungkin. Dan ia pernah melihatnya sekali di depan matanya sendiri –bukan Naruto, tapi Sasuke. Betapa cowok itu tampak kehilangan kendali saat melihat gadis yang disukainya bersama orang lain. Sakura belum lupa insiden penyerangan Naruto oleh Sasuke beberapa bulan lalu. Dan ia bergidik ngeri membayangkan Naruto barangkali akan menyerang Neji dengan alasan yang sama seperti Sasuke waktu itu.

"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Sakura, terdengar agak putus asa.

Ino tampak berpikir sejenak. "Mungkin… kau bisa menjauhinya—"

"Aku tidak mungkin menjauhi Naruto dengan alasan yang tidak jelas, Ino!" sela Sakura gusar. "Itu bisa menyakitinya…"

"Sekarang kau juga sudah menyakitinya, Sakura. Kau tidak lihat bagaimana tampangnya saat Neji ada di dekatmu. Dan saat audisi itu juga," sahut Ino pelan. Ia terdiam sejenak. "Saat itu pastilah ia merasakan dilemma. Di satu sisi dia ingin mendukungmu, tapi di sisi lain itu akan membuatmu dekat dengan cowok yang kau suka."

Sakura tidak menjawabnya. Kedua sahabat itu kemudian terdiam, sementara alunan Refrein 'How Do I Deal' yang dimainkan The Glossy terdengar menghentak.

"How do I deal with you? How do I deal with me?

When I don't even know myself, Or what it is you want from me?

How do I deal with love? Why do I have to choose?

And everybody's tellin me, What the hell I have to do?

And how do I deal with us? How do I know what's real?

When I don't even trust myself, Or what it is I feel?

Now how do I deal?"

Sementara The Glossy mulai memainkan bagian yang lebih lembut, pikiran Sakura melayang lagi.

Apa yang harus aku lakukan? gadis itu membatin. Matanya tanpa sadar terarah lagi pada Naruto yang sekarang sedang mendengarkan band yang sedang bermain di depannya seraya menggoyang-goyangkan kakinya seiring dengan irama lagu (Ia sudah tidak lagi menggunakan kruk). Sakura menghela napas. Ia seharusnya sudah bisa menyangka kalau saat seperti ini akan datang cepat atau lambat. Rintangan bernama 'cinta' memang yang tersulit dalam sebuah persahabatan.

Sasuke… Kalau kau jadi aku, apa yang akan kau lakukan?

"Ah, kenapa Idate belum datang juga?" kata Ino seraya mengerling arloji di pergelangan tangannya dengan sikap tidak sabar.

Sakura mengalihkan pandangan padanya, dahinya berkerut. "Idate mau kemari? Bukannya katamu kalian sedang marahan?"

Ino menghela napas berat. "Yeah, memang. Aku menyuruhnya datang kemari supaya dia bisa lihat bagaimana teman-temanku, bagaimana latihan band-ku. Kau tahu kan, Idate itu curigaan terus bawaannya sejak kuliahnya tambah padat dan kami jarang bertemu. Mendengar aku jalan dengan Shikamaru saja dia bisa segitu ngambeknya. Padahal… Ya, ampun… Shikamaru kan temanku!"

Sakura tersenyum tipis. "Well, sepertinya punya pacar pun tidak selamanya indah, ya.."

Ino memutar bola mata biru-nya. "Ini bukan negeri dongeng, Nona Haruno. Di dunia nyata tidak ada yang namanya kesempurnaan yang absolut. Selalu ada cacatnya."

"Iya deh," Sakura terkekeh.

"Humph! Haus nih. Ke dalam yuk, ambil minum," ajak Ino kemudian seraya memegangi lehernya yang terasa kering. Gadis itu berbalik meninggalkan studio menuju rumah utama. Sakura mengikuti di belakangnya.

Saat itu kedua orangtua Shikamaru memang sedang tidak ada di rumah. Keduanya sedang pergi ke Iwa, menghadiri pernikahan kerabat jauh mereka. Jadi Shikamaru diberi tanggung jawab untuk menjaga rumah selama seminggu penuh. Ino dan Chouji, yang memang sudah seperti saudara dengannya –mengingat ayah-ayah mereka yang bersahabat karib sewaktu muda—juga ikut membantunya dalam hal ini, karena Shikamaru yang pemalas itu tidak begitu pandai mengurus rumah. Maka sebagai imbalannya, Shikamaru mengizinkan mereka menginvasi dapurnya.

Sebenarnya ini bukan kali pertama Sakura berkunjung ke rumah Shikamaru –dulu, waktu mereka masih sekolah dasar, Shikaku Nara, ayah Shikamaru, mengadakan pesta barbeque kecil-kecilan di halaman belakang saat tahun baru dan Shikamaru diizinkan mengundang beberapa temannya, termasuk Sakura—tapi bagian rumah yang pernah dimasukinya hanyalah toiletnya. Jadi ia tidak sehafal Ino mengenai ruangan-ruangan di sana. Ia tinggal mengikuti saja ketika Ino memasuki pintu belakang, melewati sebuah ruangan seperti ruang bersantai dengan jendela tinggi menghadap ke halaman belakang sebelum masuk ke dapur.

Dapur keluarga Nara sedikit lebih luas dari dapur di rumahnya, Sakura menyadari. Tapi sedikit berantakan. Piring-piring yang belum dicuci bertumpuk di bak cuci piring dan kantung sampah yang penuh belum dibuang, menyembul dari bak sampah di sudut.

"Eww, jorok!" seru Ino jijik. "Shikamaru gimana sih? Bukannya langsung dibersihkan! Padahal punya pencuci piring otomatis, dasar pemalas!"

Dengan gesit, Ino mengumpulkan piring-piring kotor dan memasukkannya ke mesin pencuci piring. Saat berikutnya, gadis itu melesat lagi untuk membuang sampah ke tempat sampah di luar. Sepertinya sifatnya yang cinta kebersihan itu sama sekali belum berubah sejak dulu, sampai-sampai mau-maunya membersihkan dapur orang lain.

"Kalau tidak begini, lama-lama tempat ini bisa berubah menjadi gunung sampah. Kalau sudah begitu, Shikamaru akan dapat masalah dengan Bibi Yoshino kalau beliau pulang," kilah Ino beberapa saat kemudian, setelah dapur itu bersih. Sakura hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah temannya itu.

Dan setelah mencuci tangannya di wastafel, gadis pirang itu beranjak ke arah lemari bawah, membukanya dan mengeluarkan satu dari berkrat-krat kaleng cola dari sana. "Kemarin aku dan Chouji menemani Shikamaru membeli ini semua, untuk persiapan karena klub kami bakalan sering latihan di sini," ujarnya sembari mengulurkan satu kaleng pada Sakura.

"Kalian bertiga benar-benar kompak dari dulu," komentar Sakura sembari membuka kaleng coke-nya, lalu menghirupnya sedikit.

Ino terkekeh. "Bagaimana tidak begitu, kalau dari kecil keluarga kami sering menghabiskan waktu bersama-sama?" Ia juga membuka kaleng coke-nya dan menenggaknya, menyandarkan punggungnya ke meja konter. Ia menyapu poni yang terjatuh ke wajahnya ke belakang, lalu kembali melirik arlojinya, menghela napas berat sekali lagi. "Ya sudah, deh. Tidak datang juga tidak apa-apa. Tapi jangan salahkan aku kalau aku kecantol cowok lain—"

"Ino!" Sakura berseru kaget. Karena setahunya sahabatnya itu, walaupun banyak dikejar cowok-cowok yang naksir dia, adalah tipikal pacar yang setia. Terlebih, Sakura tahu betul Ino sangat menyayangi Idate.

Ino terkekeh-kekeh, lalu menepuk bahu Sakura. "Aku kan cuma bercanda. Jangan bertampang seperti itu, ah!" Ia kemudian meletakkan kaleng coke-nya yang sudah separuh diminum di atas meja konter. "Sakura, bantu aku bawa minuman untuk anak-anak ke studio, ya." Ino bergerak lagi ke lemari yang tadi. Baru saja ia setengah jalan mengeluarkan satu krat lagi dari dalam lemari, ponselnya berdering.

Ino buru-buru menegakkan diri, merogoh saku jeans­-nya dan mengeluarkan ponsel. "Idate," beritahunya pada Sakura sebelum menekan tombol answer. "Idate? Hm… kau sudah di depan? Baiklah, aku segera ke sana. Tunggu aku!" ia memutuskan sambungannya, kemudian menatap Sakura. "Idate sudah datang. Aku ke depan dulu menemuinya, ya!"

"Tapi Ino—hei!"

Namun Ino sudah keburu melesat meninggalkan dapur. Meninggalkan Sakura di sana bersama berkrat-krat kaleng minuman yang tidak mungkin dibawanya sendiri.

Sakura mengeluh pelan, kedua tangannya di pinggul. "Bagaimana aku mengangkat semua ini sendirian?"

-

-

The Glossy baru saja menyelesaikan lagu yang mereka mainkan. Naruto, bersama dengan Chouji –yang dari tampak lebih asyik makan keripik kentang dari pada menyimak band junior mereka itu—Shikamaru –yang menahan diri dari tadi untuk menguap lebar-lebar—dan Sai –yang tampak agak antusias—bertepuk tangan. Naruto lalu mengalihkan pandangannya ke arah pintu dan ia melihat Sakura sekilas di sana sebelum gadis itu keluar bersama Ino.

Cowok pirang itu mengernyitkan alisnya. Tiba-tiba saja perasaan bersalah merasuk ketika ia teringat kejadian hari sebelumnya. Ia telah marah-marah pada Sakura tanpa alasan dan sepanjang hari ini gadis itu menjadi sangat muram –terutama padanya.

Naruto menghela napas sedih. Seharusnya aku tidak begitu, ia membatin menyesal. Seharusnya aku lebih bisa menahan diriku. Akh, bisa-bisanya… Tapi melihatnya bersama Hyuuga itu membuatku marah—Bodoh! Bukankah dulu aku sudah berjanji tidak akan 'mengganggu'-nya lagi? Ia mengacak rambutnya dengan sikap frustasi.

"Kau tidak apa-apa, Naruto?"

Suara Sai membuatnya tersadar. Naruto menoleh dan mendapati tampang khawatir temannya itu. "Apa?" Jelas ia tidak mendengarkannya.

"Kau baik-baik saja? Kau kelihatannya capek. Apa kakimu sakit lagi?"

"Um… tidak.. aku cuma tiba-tiba teringat tugas makalah yang belum kukerjakan," sahut Naruto berbohong seraya memaksakan cengirannya yang biasa, lalu berpaling.

Sai menatapnya selama beberapa saat lagi, tampak tidak begitu mempercayai perkataan temannya itu, karena saat berikutnya wajah Naruto sudah berubah masam lagi. "Kau tahu, kalau kau ada masalah, kau bisa cerita padaku. Di antara sahabat, tidak seharusnya ada rahasia, bukan?"

Naruto memaksakan dirinya tertawa. "Yeah, kau benar…" ucapnya. Tapi bagaimana kalau rahasia itu hanya akan menghancurkan persahabatan yang sudah ada, Sai?

Dan Naruto kembali terpekur. Bahkan ia tidak memperhatikan ketika Alpha Band –yang sedari tadi menunggu di luar sambil makan kacang dan mengotori halaman rumah Shikamaru dengan kulit kacang (Tunggu saja sampai Hoshino Nara, ibu Shikamaru yang galak itu, melihat)—mulai menggantikan tempat The Glossy dan mulai melatih lagu yang akan mereka mainkan untuk festival band nanti.

"Aku mau ke belakang dulu," gumam Naruto kemudian sambil beranjak. "Shikamaru, aku pinjam toiletmu, ya," katanya basa-basi pada Shikamaru, dan tanpa menunggu jawabannya, Naruto meninggalkan studio.

Yah, sebenarnya ia tidak terlalu ingin pergi ke belakang. Ia hanya ingin sejenak menggerakkan tubuhnya dan meninggalkan studio yang entah mengapa hari itu terasa begitu sumpek –barangkali itu karena ia terlalu banyak pikiran—Sesampainya di pintu belakang rumah Shikamaru, ia berpapasan dengan Ino yang tampaknya sedang terburu-buru.

"Ah, syukurlah. Naruto, tolong kau bantu Sakura mengangkat minuman ke studio, ya! Dia ada di dapur," kata Ino buru-buru sebelum gadis itu melesat menuju halaman depan.

Naruto menghela napas saat punggung Ino baru saja menghilang ke arah halaman depan rumah itu. Sebenarnya ia agak cemas juga menghadapi Sakura, bagaimana kalau gadis itu benar-benar marah padanya karena kejadian hari sebelumnya? Bagaimana ia harus menjelaskan perilakunya yang agak kelewatan pada gadis itu? Tapi tidak ada gunanya juga terus-terusan menghindari Sakura, kan? Barangkali ia harus meminta maaf…

Dengan pikiran seperti itu, Naruto berbalik dan melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah.

Naruto menemukan Sakura di dapur, tampak sedang mengeluarkan beberapa kaleng minuman ringan dari dalam lemari sambil menggerutu pelan. Gadis itu mengangkat kepalanya ketika mendengar seseorang datang, agak terkejut melihat Naruto.

"H-Hei," sapa Sakura kaku sebelum kemudian kembali menyibukkan diri dengan kaleng-kaleng itu.

Hati Naruto mencelos. Ia bisa melihat bahwa Sakura masih belum melupakan kejadian hari sebelumnya karena gadis itu tidak tersenyum padanya seperti biasa. Dengan langkah ragu, ia mendekat. "Butuh bantuan?"

Sakura mengeluarkan sekaleng lagi dan menegakkan diri, tidak memandang Naruto, melainkan memandang kaleng-kaleng minuman di depannya. "Um.. yeah. Bisa bantu aku bawa ini ke studio?"

"Oke."

Tapi Naruto sama sekali tidak bergerak dari tempatnya, melainkan hanya mengawasi gadis itu. Dan Sakura pun bergeming di tempatnya, tampak bimbang.

"Naruto—" Sakura menoleh padanya, dan pada saat bersamaan Naruto berkata,

"Sakura—"

Keduanya saling tatap beberapa saat, sebelum kemudian Sakura memecah keheningan dengan berkata, "Ya, Naruto?"

Naruto bergerak-gerak canggung, lalu berjalan mendekat. Sakura mengawasinya.

"Aku…" Naruto menelan ludah dengan susah payah, "Soal kejadian kemarin… aku benar-benar menyesal. Maafkan aku…" ia menatap Sakura hati-hati. "Saat itu aku sedang emosi."

Ekspresi sedih tampak di wajah gadis itu, walaupun saat itu ia sedang tersenyum. "Aku bisa mengerti."

"Tidak.. tidak… Seharusnya aku tidak begitu." Naruto terdiam sejenak. "Aku benar-benar minta maaf, aku tidak bermaksud marah padamu."

Sakura hanya bisa memandang Naruto dengan tatapan menyesal saat itu. Ino benar, pikirnya, Naruto sepertinya sudah sampai pada batas kesabarannya menahan perasaannya selama ini. Dan itu menyiksanya. Sakura bisa melihatnya dalam mata biru yang jernih itu. Tapi Sakura tidak tahu harus berbuat apa, ia merasa tidak berdaya.

"Aku bisa mengerti, Naruto," hanya itu yang bisa ia katakan.

"Kau memaafkan aku, kan? Aku janji tidak akan mengulanginya lagi," kata Naruto.

Sakura tidak menyukai nada memohon dalam suaranya, karena Naruto memang tidak seharusnya mengatakan itu. Ia sama sekali tidak salah.

"Permohonan maaf diterima," sahut Sakura akhirnya.

"Terimakasih, Sakura," ucap Naruto dengan senyum yang merekah lebar. Hatinya diliputi kelegaan.

Keduanya lantas terlibat dalam percakapan seru mengenai festival band yang akan segera berlangsung dalam waktu dekat, sebagai pengganti saat-saat tidak menyenangkan yang terjadi beberapa hari belakangan di antara mereka. Mereka sama sekali tidak tahu bahwa masalah tidak selesai sampai di situ saja karena 'rasa' itu masih ada di sana, menjadi duri dalam daging dalam persahabatan mereka. Yang mungkin akan menimbulkan masalah yang lebih besar lagi di antara keduanya.

"Rasanya tidak sabar menonton penampilan kalian di pembukaan festival nanti," kata Sakura ceria, lalu meminum tegukan terakhir coke-nya sebelum membuang kaleng yang sudah kosong itu ke tempat sampah. "Latihannya saja sudah keren banget, apalagi saat manggung nanti."

Naruto tertawa. "Tentu saja kami keren," umbarnya, "Pastikan kau datang nanti, Sakura."

"Tentu saja," Sakura menoleh dan tersenyum padanya. "Pasti akan sangat ramai… Sayang sekali Sasuke tidak bisa menonton, ya..." Gadis itu lalu berjalan mendekati Naruto dan bersandar di meja konter di sebelah cowok itu seraya memandang ke arah jendela. Senyum tipis masih menghiasi wajahnya saat itu.

Naruto tidak menjawabnya, melainkan hanya memandangi gadis di sebelahnya itu sambil tersenyum. Mengawasi mata zamrudnya yang menerawang, anak rambutnya yang berwarna merah muda lembut terjatuh ke sisi wajahnya yang bersih, lalu bibirnya… Bibir tipis kemerahan yang sedikit terbuka itu…

Entah kegilaan macam apa yang merasukinya saat itu, tapi yang jelas apa yang terjadi selanjutnya sama sekali di luar kendalinya. Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang dan saat berikutnya ia sudah mencondongkan tubuhnya ke arah Sakura. Wajah mereka sudah sangat berdekatan ketika gadis itu tiba-tiba menoleh.

Sakura menarik napas dengan kaget ketika hidungnya bersentuhan dengan hidung Naruto, dan refleks gadis itu bergerak mundur. Mata hijaunya melebar, memandang Naruto dengan terkejut dan tidak percaya.

"N-Naruto… A-apa yang kau—" tapi Sakura tampaknya tidak sanggup melanjutkan kata-katanya saking terkejutnya ia dengan tindakan Naruto yang… di luar perkiraannya. Sakura memekapkan tangan ke mulutnya dan menatap Naruto seakan yang ada di depannya itu bukanlah temannya yang selama ini ia kenal.

Seperti baru mendapatkan pukulan telak di kepalanya, Naruto mengerjap dengan kaget ketika menyadari apa yang sudah dilakukannya. Seraya mengutuki dirinya sendiri, ia bergerak mundur, tidak sanggup berkata apa-apa. Jantungnya masih berdegup dengan kencang.

Bodoh! Bodoh! BODOH!! Apa yang baru saja kau lakukan, Naruto?!

"Sakura… A-aku…"

Namun kata-katanya langsung terhenti ketika ia melihat Sakura menggelengkan kepalanya dengan sikap tidak percaya. Hatinya mencelos melihat kekecewaan di mata zamrud yang kini sudah dibayangi air mata itu.

Napasnya tercekat. Naruto sungguh tidak tahu apa yang sebaiknya ia lakukan saat itu. Yang jelas saat itu ia merasa tidak bisa lebih buruk lagi. Tidak tahan, ia lantas berbalik tanpa berkata apa-apa lagi dan bergegas pergi dari sana, pergi jauh-jauh dari Sakura sebelum ia melakukan sesuatu yang lebih parah. Sembari terus mengutuki kebodohannya…

Segalanya terasa berputar dalam kepala Naruto sementara ia berlari meninggalkan rumah Shikamaru. Saat-saat yang ia habiskan bersama Sakura beberapa bulan belakangan, melihat ia tertawa, menangis dan segalanya yang telah mereka bagi bersama… Sebagai sahabat. Bagaimana bisa ia mempertaruhkan semua itu hanya untuk kepentingannya sendiri? Demi keegoisannya sendiri?

Teman macam apa aku?!!

Mengabaikan rasa nyeri di kakinya dan dadanya yang sesak karena penyesalan, Naruto terus berlari.

-

-

Selama beberapa saat Sakura masih menatap tempat di mana beberapa saat yang lalu Naruto baru saja berada. Pandangannya kosong. Perlahan, bulir-bulir bening mulai turun dari kedua mata zamrudnya, tetapi Sakura tidak berusaha mencegahnya. Tubuhnya mulai gemetaran dan kedua tangannya mengepal.

Mengapa bisa jadi seperti ini..?? Mengapa..??

"Kau tidak bisa terus-terusan berpura-pura tidak tahu kalau Naruto masih menyimpan rasa terhadapmu. Dan aku belum pernah melihat cowok sesabar Naruto dalam hal yang ada kaitannya dengan cewek. Tapi kau harus hati-hati, Sakura. Cowok kadang-kadang sering lepas kendali saat kesabarannya habis. Kau sudah lihat tanda-tandanya, dan entah kapan ia akan menyerangmu…"

Kata-kata Ino kembali terngiang dalam benaknya. Ia benar. Seharusnya Sakura mendengarkannya.

Tapi ini… Sakura sama sekali tidak bisa menolelir ini… Bisa-bisanya...

Tiba-tiba saja rasa kecewanya berganti dengan kemarahan. Rahangnya berkedut dan dengan kasar gadis itu mengusap basah di wajahnya. Kemudian ia menghambur meninggalkan dapur, berlari menuju pintu belakang dan mendorongnya dengan kalap.

"NARUTO!!!"

-

-

"Sudah kubilang, kan?" Ino memandang cowok di depannya itu dengan bibir sedikit dimajukan. "Mereka semua teman-temanku. Seharusnya kau tidak perlu cemburu begitu." Saat itu Ino baru saja memperkenalkan pacarnya, Idate, pada teman-teman klub musiknya di studio dan sekarang mereka sedang berdiri di dekat pintu.

"Iya deh, maaf…" Idate sekali lagi mengedarkan pandangannya berkeliling studio yang penuh itu, matanya sedikit menyipit. "Rupanya kau punya banyak teman cowok, eh?"

Ino memutar bola matanya, menghela napas keras-keras. "Mulai lagi deh…" Ia kemudian merangkul lengan Idate dan berkata dengan nada manis, "Dengar, Honey, mereka-cuma-teman. Kau bisa lihat sendiri, kan? Mereka tidak seistimewa itu." Gadis itu tersenyum membujuk. "Tidak sepertimu…"

Idate menahan cengirannya, namun gagal. Mahasiswa Konoha University tingkat dua itu tertawa, lalu menyelipkan lengannya ke sekeliling pinggang Ino dan menariknya mendekat. Ia memberikan kecupan singkat di pipi gadisnya dan berbisik, "Dasar tukang rayu."

Ino mengkikik. "Aku mempelajarinya darimu, Tuan Morino."

Sejoli itu berada dalam posisi itu selama beberapa saat, sebelum akhirnya Ino menyadari orang-orang di sana sedang mengawasi mereka berdua. Wajahnya bersemu merah ketika ia mendengar kikik yang datang dari cewek-cewek The Glossy yang sedang bergerombol di dekat pintu, cowok-cowok Alpha yang menatap mereka dengan mulut sedikit terbuka, Chouji yang melongo dan Sai yang memandangi mereka seakan mereka pemandangan menarik, kedua alisnya terangkat. Sepertinya hanya Shikamaru saja yang tidak begitu tertarik dengan mereka. Cowok pemalas-tapi-jenius itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sebelum kembali sibuk menyetel gitarnya.

"Ehm…" Ino melepaskan diri dari Idate –tapi tangan mereka masih bertaut—dan berkata gugup, "Yuk, kita duduk…" Gadis itu lantas membawa Idate menuju sofa butut tempat Sai duduk. Sofa itu melesak sedikit ketika Idate duduk di samping Sai dan Ino duduk di lengan sofa di sebelahnya.

Keheningan dipecah oleh seruan vocalist Alpha, "Oke, teman-teman. Kita lanjut latihannya!!"

Dan latihan mereka yang sempat tertunda setelah kedatangan Idate kembali dilanjutkan. Intro dimulai dengan aba-aba dari ketukan stick drummer mereka sebelum yang lain mengikuti. Dan alunan 'The Reason' milik Hoobastank segera menghentak memenuhi studio itu.

"I'm not a perfect person…

There's many things I wish I didn't do

But I continue learning

I never meant to do those things to you

And so I have to say before I go…"

"Hmm… lumayan juga," gumam Idate pada Ino.

"Mereka baru dibentuk. Hebat, kan?" umbar Ino, nyengir.

"Band kampusku tidak akan kalah," Idate balas menyeringai padanya. Ino hanya cemberut saja. Cowok itu lalu menoleh pada Sai yang duduk di sampingnya. "Hei. Kau juga personil band-nya Ino, kan? Main apa?"

"Oh, bukan," sahut Sai ringan sambil memamerkan senyumnya yang biasa, "Aku kemari hanya untuk menonton temanku latihan."

Idate menoleh cepat ke arah Ino, mengernyit curiga.

"Apa?" Ino yang menyadari tatapan pacarnya itu tertawa kecil. "Sai itu kemari untuk menonton Naruto. Lagipula dia kemari bersama Sakura. Kau pernah bertemu dengannya, kan?"

"Oh. Baiklah…" Idate mengangguk.

"Omong-omong soal Naruto dan Sakura, mereka kok lama sekali sih ambil minumnya?" Ino menjulurkan leher, melongok ke arah pintu. "Keburu dehidrasi nih…"

Tepat saat itu, ia melihat Naruto keluar dari pintu belakang rumah utaman dan berjalan cepat –nyaris berlari—melewati studio mereka. Sebelah tangannya mencengkeram rambut pirangnya, dan ia berjalan terus menuju halaman depan.

"Naruto? Mau kemana dia?" Ino mengernyit heran. Gadis itu melepaskan tangannya dari Idate, menggumamkan sesuatu padanya, lalu beranjak menuju pintu. "Naruto!" panggilnya, tapi cowok pirang itu seperti tidak mendengarnya.

Baru saja punggung Naruto menghilang, Ino kembali dikagetkan dengan Sakura yang menghambur keluar dari pintu yang sama sambil berteriak. Ekspresi marah tampak di wajahnya yang merah padam dan basah oleh air mata.

"Sakura!" teriak Ino terperanjat. Ia bergegas menghampiri sahabatnya itu dan merengkuhnya. Ia bisa merasakan tubuh Sakura gemetaran. "Hei, tenanglah. Apa yang terjadi?"

Namun Sakura tampaknya terlalu kalut untuk menjelaskan apa yang terjadi saat itu.

-

TBC…

-

Disclaimer :

Naruto © Masashi Kishimoto

Lagu 'How Do I Deal' © Jennifer Love Hewitt, lagu lama. Soundtrack-nya film 'I Know What You Did Last Summer'

Lagu 'The Reason' © Hoobastank

-

Aku tidak suka chapter ini… Gaje… =.=' Menulis tentang retaknya persahabatan NaruSaku sangat menyakitkan, membingungkan dan aneh banget… -sigh- Semuanya OOC!!! –sebel- Tapi mudah-mudahan reaksi marah Sakura bisa dimengerti. Dari awal chapter mood-nya selalu berubah-ubah dia… Haah.. Beritahu kau kalau ada bagian yang gak 'klik' yah.

ShazaNamiKazeNa Mystica : Aduh… jangan panggil senpai dong. Aku bukan senpai kok.. Btw, makasih udah mampir, Shaza-san. Gomen, Sasuke-nya belum bisa dimunculin sekarang. Tapi dia bakal muncul di chapter depan kok.. ^_^

Uci-chan : Adegan NejiSaku-nya mungkin bakal dipending dulu. Ngeberesin NaruSaku dulu, Ci… XD

Fuku-chan : Yeah, Naruto emang merana. Tentang Saskey, idem ama jawabannya Shaza ya..

Teh Bella : Ah, lagunya Savage Garden! Aku suka banget ama lagu itu! Kyaaa!! –lho?- Sasuke…?? Sepertinya sih iya, Teh… ^_^

Uchiha cesa : Aaah.. gomenasai, Cesa-san… Sasuke belum muncul chap ini, tapi chapter depan.. Btw, makasih udah baca.

Aika-chan : Tentang Sasuke, idem sama yang di atas. Banshee itu sebangsanya kuntilanak. ^_^ NaruSaku emang slight banget di chapter kemarin, Aika-chan.

Ang-gaara : Hai, ang-gaara-kun!! Inget dong… Makasih ya udah review. ^_^

Dilia-chan : Neji emang memesona sih. Hehe.. (Neji FG mode). Kekuatanku.. deskrip? Tapi aku ngerasa paling lemah di situ.. –garuk-garuk-

Dar3 DeviL : Aduh, soal patah hatinya Saku… gomen, gak bisa dijawab di sini. Ntar jadinya spoiler dong… Silakan DD menebak-nebak sendiri, yah… ^_^

Adekku : Iya ini diupdate!! Hihi… XD Pulang ke Lampung? Kapan ya…?? Paling liburan nanti Mas Wiwit yang ke sana. Ehehehe… XD Harusnya aku yang nanya, kamu kapan ke Jawa?

Lawra-chan : Suka NejiSaku juga, yah? Ini udah update..

Arai-chan : Ahahaha… iya tuh, OON banget dan supermalu-maluin. –dishannaro Sakura-

Antlia : Aww… makasih… -peluk2-

Kakkoii-chan : Sasu bakal muncul chapter depan kok. Malah kayaknya chapter depan dominan Sasu.. Hihi… NejiSaku-nya dipending sementara yah..

Tobi-Luna-chan : Ahahaha… makasih.. –peluk2 yang kenceng- Er… sekolahnya gak sehebat itu kok. Itu kan sebenernya gymnasium sekolah yang biasa dipakai untuk olahraga in-door. Karena ruang teaternya gak cukup, jadi mereka pake gymnasium. ^_^

Ambu : Haha.. Ambu pingin Lee jadi Alfredo-nya yah? ^_^. Uwaaa… kumaha atuh, Mbu~~

Emi-chan : Sering mimisan? O.o Kaya temen teteh dong, lagi ketawa-ketawa tau-tau mimisan. (ups, OOT). Tapi setahuku di La Traviata gak ada tokoh yang jahat tuh. Baik semua… Mungkin barangkali Alfredo yang sedang marah. Dia jadi kejam banget sama Violetta.

Bunbun-chan (yang review via PM) : Hihi.. Bunbun-chan, soal Reika Nishimura udah dibahas di wall fb yah… Kalo NejiSaku… Neji ada rasa tak ya sama Saku?? Mari menebak.. ^_^

Semua yang udah mereview… makasih banget!!! –seneng baca review kalian semua- Maaf kalo chapter yang ini mengecewakan..