Warning : OoC-ness & Gaje-ness!!!

Chapter 48

Oto City, Uchiha Mansion

Hari sudah menjelang senja di Oto City ketika Jaguar hitam itu memasuki gerbang utama Uchiha Mansion. Dengan mulus, mobil mewah milik salah satu orang penting di Oto itu berhenti di depan beranda depan rumah besar bercat putih itu. Seorang pria berseragam serbahitam keluar dari mobil, bergegas mengitari mobil untuk membukakan pintu untuk sang tuan –seorang remaja laki-laki tujuhbelas tahun dengan rambut gelap mencuat di bagian belakang membingkai wajahnya yang rupawan, Sasuke Uchiha.

Sungguh sangat berbeda dengan saat ia masih tinggal di Konoha besama kakaknya, Itachi Uchiha. Di kota itu, kemana-mana ia mengendarai sepeda sport-nya –atau naik bus, tergantung kondisi—kadang-kadang, kalau ia sedang beruntung, ia akan meminjam –atau membawa kabur—mobil sang kakak. Tapi sekarang, saat ia sudah kembali ke rumahnya di Oto, segalanya sudah terjamin dengan fasilitas nomor satu, termasuk dalam hal transportasi. Di Oto City, kau tidak akan mendapati seorang Uchiha naik bus umum.

Sasuke melangkah keluar dari bangku belakang mobil itu, mengucapkan terimakasih pada sang supir sebelum melangkah menaiki undakan menuju pelataran pintu utama rumahnya yang megah. Seorang pria paruh baya dengan wajah ramah yang membukakan pintu untuknya mengangguk sambil tersenyum hangat. "Anda bersenang-senang hari ini, Tuan Muda Sasuke?" sambutnya.

Sasuke menoleh seraya menyunggingkan senyum tipis pada kepala pelayan yang sudah bekerja pada keluarga mereka sejak ia dan kakaknya masih kecil itu. Seharian menghabiskan waktu menemani ayahnya main golf sebenarnya bukan kegiatan yang paling digemarinya. Tapi berhubung ini ada kaitannya dengan menghabiskan waktu berkualitas dengan Ayah yang kerap diocehkan Itachi setiap kakaknya itu menelepon ke rumah, jadi Sasuke berusaha menikmatinya. Dan ia memang menikmatinya. Ia tidak pernah tahu kalau ayahnya itu orangnya cukup asyik diajak bicara tentang banyak hal.

"Lumayan juga, Paman Hayato," Sasuke menjawab. "Ibu di mana?" Ia mengalihkan pandangannya berkeliling ruang depan yang luas itu.

Hayato, sang kepala pelayan itu, menutup pintu ganda di belakangnya perlahan sebelum menjawab, "Nyonya ada di dapur seperti biasa, Tuan Muda Sasuke."

"Pantas saja aku mencium bau lezat," komentar Sasuke seraya membaui udara. Bau lezat memang tercium samar-samar, dan Sasuke sangat mengenali bau itu… Ah, seorang ibu memang selalu tahu, bukan?

Dan omong-omong, meskipun keluarga Uchiha adalah keluarga terpandang di Oto dan memiliki segalanya termasuk sederet pelayan yang siap melayani, namun sudah menjadi tradisi dalam keluarga itu bahwa seorang wanita Uchiha harus pandai dalam urusan dapur. Dan Mikoto Uchiha sangat memegang teguh tradisi ini. Semua urusan yang berhubungan dengan dapur selalu ia urus sendiri dan kelezatan masakannya adalah yang nomor satu –setidaknya itu menurut suami dan kedua putranya.

Sasuke mendapati ibunya itu sedang berkutat di dapur, tampak sedang mengaduk-aduk sebuah panci yang isinya menguarkan aroma menggiurkan sambil bersenandung kecil. Wanita itu mengenakan kostum dapurnya yang biasa, termasuk sebuah celemek bermotif bunga kecil-kecil dan rambut digelung tinggi di belakang kepalanya. Ia tampak terlalu asyik dengan pekerjaannya sampai-sampai tidak menyadari saat putra bungsunya menyelinap ke belakangnya.

Mikoto terlonjak kaget saat merasakan sepasang lengan melingkar di sekeliling perutnya, memeluknya dengan lembut dari belakang. "Eeek… Sasuke!"

"Hmm… sup tomat. Kelihatannya lezat, Bu…" kata Sasuke dari atas bahu ibunya tanpa melepaskan pelukannya.

"Eeh.. jangan peluk-peluk begitu, Nak. Ibu sedang bau dapur…" Mikoto mencoba melepaskan tangan putranya.

"Masa bodoh. Aku suka baru dapur Ibu," sahut Sasuke bandel.

Mikoto tertawa kecil. Yah, Sasuke bisa berubah menjadi sangat manja kalau mereka sedang berdua saja, sama seperti kakaknya. Kedua belahan jiwanya itu memang hanya memperlihatkan sisi mereka yang itu padanya saja. Dan biasanya Mikoto membiarkannya saja. Tapi kali ini…

"Sasuke.." Mikoto akhirnya berhasil melepaskan diri dari pelukan putra bungsunya. Ia lalu berbalik dan memegangi kedua lengan Sasuke supaya aman. "Kalau kau memeluk ibu seperti itu, kapan ibu selesai masaknya, Nak? Nanti masakan ibu bisa gosong semua dan kau tidak bisa makan sup tomat."

Sasuke memamerkan cengirannya yang langka. "Iya deh.. Tapi aku bantu ibu, ya—"

Sasuke baru saja akan menyambar pisau dapur di atas meja, tapi Ibunya kembali menghalanginya. "Eeh… Sasuke, sudah, biar ibu saja yang kerjakan. Kau tahu kan, bagaimana jadinya kalau kau atau kakakmu mencoba membantu ibu?" ujar Mikoto sambil tersenyum. Maksudnya tentu saja, Sasuke dan Itachi hanya bisa mengacau di dapur. Terakhir kali kedua putranya itu mencoba membantunya, semua masakannya keasinan.

Sang putra bungsu Uchiha itu pun akhirnya mengalah dengan berpura-pura cemberut. Ia mundur ke meja konter dan mengawasi ibunya melanjutkan pekerjaannya memasak.

"Di Konoha, aku dan kakak kadang-kadang masak," kata Sasuke sambil mengambil sepotong tomat yang sudah diiris di meja konter, lalu menggigitnya. "Tapi biasanya tidak enak," tambahnya setelah menelan potongan tomatnya. "Lain cerita kalau kak Hana datang ke rumah dan membantu kakak masak. Masakannya lumayan, tapi tentu saja tidak seenak ibu."

Mikoto terkekeh-kekeh pelan. Ia mengecilkan api di kompor dan berbalik untuk memotong-motong sayuran. "Ibu suka pada Hana. Dia kelihatannya wanita yang baik, kan?" tanya Mikoto.

Sasuke mengangkat bahunya. "Yeah. Kakak juga sepertinya sayang sekali padanya. Sampai-sampai membeli anjing segala hanya untuk mendekatinya."

Mikoto tertawa kecil. "Ah, retriever manis itu, kan? Siapa namanya—ah, Rufus."

"Ya, Rufus." Sasuke tersenyum kecil mengingat anjingnya itu, terutama saat Rufus menemaninya saat ia sedang sakit waktu itu. Tiba-tiba saja ia merasa kangen. Ah, kalau saja Itachi membolehkan ia membawa Rufus ke Oto, pasti sangat menyenangkan. Tapi apa boleh buat, Rufus adalah hak milik kakaknya.

"Bagaimana tadi main golf-nya, Nak?" tanya Mikoto kemudian sementara Sasuke bergerak ke arah kulkas setelah sebelumnya mengambil gelas bersih dari rak.

"Hmm…" Sasuke mengambil waktu mengambil sebotol air dingin dan menuangnya ke dalam gelas sebelum menjawab ringan, "Lumayan juga. Aku mengalahkan ayah!" umbarnya, nyengir puas.

"Ayahmu itu sebenarnya tidak begitu pandai main golf," ujar Mikoto dengan senyum lembut. "Kurasa itu dilakukannya hanya untuk menghabiskan waktu denganmu –atau kakakmu, setiap dia pulang ke Oto. Ayahmu itu…" wanita itu terdiam sejenak, "…sering curhat pada ibu bahwa ia menyesal tidak memperlakukan kalian dengan sepantasnya kalian diperlakukan sejak dulu. Itulah mengapa dia berusaha sekuat tenaga memperbaiki hubungannya dengan kalian sekarang. Ayahmu itu sangat menyayangi kalian berdua –kau dan kakakmu."

Sasuke tidak tahu harus menanggapi bagaimana perkataan ibunya itu, maka ia hanya diam saja, menenggak habis air dalam gelasnya. Tentu saja ia tahu, karena perubahan itu sangat terasa olehnya juga. Dan Sasuke belum pernah melihat Fugaku tertawa sebanyak hari ini.

"Oh iya," kata Mikoto kemudian seraya berpaling dari sayuran yang sedang dipotong-potongnya dan menatap Sasuke, "Tadi ada temanmu dari Konoha yang menelepon kemari."

Sasuke mengangkat alisnya. Ia memang telah memberikan nomor telepon rumahnya pada Naruto, Sakura dan Sai. Tapi sampai saat ini mereka belum pernah menelepon ke rumah. "Hm? Siapa, Bu?"

"Siapa, ya..? Um…" Mikoto mencoba mengingat-ingat lagi, dan suara serak anak laki-laki yang meneleponnya tadi siang terngiang lagi, "Ah, ya. Naruto. Dia mencarimu, Nak. Katanya ponselmu tidak bisa dihubungi."

Itu karena Sasuke sengaja mematikan ponselnya. Ia tidak ingin waktunya bersama ayahnya terganggu. "Mau apa Naruto menelepon?"

Mikoto meneruskan kegiatannya yang sempat terhenti. "Ibu juga tidak tahu. Dia tidak bilang apa-apa. Tapi dari suaranya, sepertinya dia sedang bersedih. Suaranya terdengar lesu."

Sasuke mengernyit. Bersedih? Seingatnya, Naruto tidak pernah bersedih. Paling kalau ada masalah, biasanya Naruto akan merengut sebentar dan marah-marah, tapi tidak bersedih. Dengan perasaan heran, Sasuke bertanya-tanya dalam hati, apa kira-kira yang membuat sobat pirangnya itu bersedih?

"Sebaiknya nanti kau telepon dia, Nak," saran Mikoto, membuyarkan lamunan Sasuke.

"Oh, iya, Bu. Nanti kutelepon dia," sahutnya sambil meletakkan gelas yang sudah kosong ke atas meja konter, lalu mengambil irisan tomat yang lain dan menggigitnya. Sementara itu pikirannya kembali melayang ke Naruto.

Mikoto melirik putranya itu dari sudut matanya, tersenyum. Rasanya baru kali ini ia melihat Sasuke tampak memikirkan orang lain selain dirinya sendiri. Sasuke-ku sudah mulai dewasa rupanya, pikirnya senang.

"Omong-omong, apa ayahmu pulang bersamamu tadi?"

"Ap—Oh, Ayah mampir dulu ke kantor. Ada hal yang harus dikerjakan, katanya," sahut Sasuke.

Mikoto menghela napas dan berkata pelan, "Ayahmu itu terlalu keras bekerja."

"Ayah bekerja keras juga demi kepentingan orang-orang, Bu. Kalau perusahaan bangkrut, akan ada banyak sekali orang yang kehilangan pekerjaan mereka," kata Sasuke. "Lagipula katanya Ayah hanya sebentar saja. Sebentar lagi juga pulang."

Mikoto menghentikan pekerjaannya sejenak untuk menoleh memandang Sasuke dengan tatapan lembut. "Caramu bicara itu semakin lama semakin mirip kakakmu, Sayang. Itachi juga sering bicara seperti itu."

"Yeah…" Sasuke mengambil irisan tomat ketiga, "Aku memang banyak belajar dari kakak." Ia menggigit tomatnya. Dan dari teman-temanku di Konoha juga..

"Nah, Sasuke," kata Mikoto lagi, "Dari pada kau di situ terus menghabiskan tomat ibu, bagaimana kalau mandi dulu? Badanmu itu bau keringat, Nak." Mikoto menunjuk putranya itu dengan sendok salad di tangannya.

Sasuke mengangkat sebelah tangannya dan berpura-pura membaui dirinya sendiri. "Wangi begini dibilang bau keringat. Ibu ini bagaimana, sih?"

Mikoto tertawa renyah. "Sejak kapan kau suka melucu begitu, Sasuke?"

Sasuke hanya nyengir. Tentu saja sejak ia bergaul dekat dengan si biangnya tukang lawak di Konoha, Naruto Uzumaki.

"Ayo sana, mandi dulu," Mikoto lalu menggiring Sasuke keluar dari dapur, "Setelah segar dan ayah sudah pulang, kita bisa makan malam bersama."

"Iya iya, Bu… Tapi tomatnya sepotong lagi, ya…"

.

.

.

Malam sudah larut ketika Sasuke akhirnya kembali ke kamarnya. Setelah makan malam yang benar-benar lezat –tidak seperti makan masakan Itachi yang rasanya tidak karuan—ayahnya mengajaknya bermain catur. Mereka bermain beberapa ronde sampai akhirnya Sasuke menyerah. Ayahnya itu memang sangat jago dalam permainan seperti itu dan yang bisa menyamainya sejauh ini baru Itachi. Tapi Sasuke tidak mengeluh. Hei, skor mereka kan jadi seri kalau digabungkan dengan permainan golf siang tadi!

Dengan perasaan puas, Sasuke menghempaskan dirinya ke atas ranjang. Sejenak ia menatap langit-langit kamarnya sembari mengingat-ingat kembali hari-hari yang sudah dijalaninya di Oto setelah kepulangannya kembali ke kota itu. Banyak hal telah berubah di sini, pikirnya. Terutama hubungannya dengan sang ayah yang semakin membaik. Meski begitu, ia tidak lantas melupakan Konoha. Terutama ketiga sahabatnya yang sedikit banyak telah membawa perubahan pada dirinya.

Dan omong-omong soal ketiga sahabatnya itu, Sasuke belum sekali pun menghubungi mereka sejak ia pindah ke Oto. Bukannya apa-apa, tapi peraturan sekolah barunya –atau sekolahnya sebelum ia pindah ke Konoha High—yang benar-benar ketat tidak memungkinkannya menghubungi teman-temannya di Konoha. Salah satu peraturannya adalah para siswa tidak diperkenankan membawa alat komunikasi ke sekolah dan wajib mengikuti kegiatan belajar dari pagi sampai siang, juga kegiatan ekstrakulikuler setelah jam pelajaran selesai sampai menjelang senja (Sasuke kembali ikut ke tim sepak bolanya yang lama). Yeah, Orochimaru, selaku kepala sekolah di sana memang benar-benar orang yang sangat kaku. Walaupun sangat menjengkelkan, tapi apa boleh buat, kan?

Kalau sudah begitu, mereka akan kelelahan setelah pulang dari sekolah dan hanya sempat mandi, makan malam, mengerjakan tugas rumah lalu tidur sebelum keesokan harinya kembali ke rutinitas harian yang gila di sekolah. Sasuke bahkan nyaris tidak pernah menyentuh ponselnya lagi. Maka, akhir pekan seperti sekarang tentu saja dimanfaatkan oleh anak-anak sebagai ajang balas dendam –tentu saja bukan dalam artian yang sebenarnya.

Begitu juga dengan Sasuke. Dan ini adalah akhir pekan keduanya setelah kembali ke Oto. Sebenarnya Sasuke bisa saja menghubungi teman-temannya itu sejak minggu sebelumnya, tapi saat itu ia tidak tahu harus mengatakan apa pada mereka. 'Aku merindukan kalian,' kedengarannya sangat cengeng dan bukan Sasuke –meskipun sebenarnya memang itu-lah yang ingin ia sampaikan.

Sasuke menghela napas berat. Bayangan wajah kesal Sakura, pelototan Naruto dan ekspresi datar Sai membuatnya merasa agak tidak enak hati. Barangkali ini memang saatnya untuk menghubungi mereka, pikirnya. Masih dalam posisi berbaring di ranjangnya yang besar, Sasuke melirik ke arah meja belajar di dekat jendela balkon. Notebook-nya masih dalam keadaan stand-by sejak ia menyalakannya sebelum makan malam tadi.

Sasuke beranjak bangun. Ia ingat tadi sedang mengecek email yang masuk sebelum Paman Hayato mengetuk pintu kamarnya untuk memanggilnya makan malam. Ia lantas berjalan menuju meja belajarnya, menarik kursi lalu duduk. Setelah beberapa saat berkutat di depan notebook-nya, Sasuke mendapati beberapa email dengan nama Sakura dan Naruto terselip di inbox-nya, di antara email-email tidak penting lain.

Sasuke membuka satu demi satu email mereka, yang kebanyakan dikirim sejak beberapa hari yang lalu.

-

From : yellowflashboy(at)gmail(dot)com

To : sasuke_uchiha(at)yahoo(dot)co(dot)hi

Subject : Orang sombong masuk neraka

Sudah hampir seminggu kau pergi, kenapa tidak ada kabar? Kemana saja kau, wahai orang sombong..?? Kalau kau tidak juga membalas yang ini, aku bersumpah akan menendang bokongmu balik ke Oto kalau kau berani datang lagi ke Konoha! Aku serius!! Dan aku akan mengirimimu email berisi kutukan yang membuat bulu hidungmu tumbuh lebat! Mwahahahaha… Jangan bilang aku belum memperingatkanmu, Roster-head!

Salam dari orang keren,

Naruto

-

Sasuke selalu tertawa setiap kali membaca email dari sahabat pirangnya itu, termasuk yang ini.

Dasar! Masih belum berubah juga tingkah konyolnya itu. Kutukan bulu hidung? Ada-ada saja…

Menggelengkan kepala, Sasuke menggerakkan kursor di layar untuk membuka email lain dari Sakura.

-

From : sakura_blossom(at)yahoo(dot)co(dot)hi

To : sasuke_uchiha(at)yahoo(dot)co(dot)hi

Subject : AKU DITERIMAAAA!!!

Dear Sasuke,

Apa kabar? Kau pasti sangat sibuk sampai-sampai tidak sempat membalas email. Tapi yah, kurasa aku sudah mulai terbiasa dengan sifatmu yang cuek bebek itu, Sasuke Uchiha. Tenang saja, aku tidak marah, kok, hanya ingin mencekik lehermu kalau kau datang ke Konoha nanti. ^_^ Cuma bercanda.

Kau sudah membaca emailku yang kemarin, kan? Masih ingat dengan audisi drama yang kuceritakan padamu? Sekarang audisi itu sudah selesai, hasilnya sudah diumumkan dan kau tahu? AKU DITERIMA!! Bukan hanya itu… AKU AKAN MEMAINKAN TOKOH WANITA UTAMA!! KYAAAAAA!!! Dan kau tahu siapa lawan mainku? NEJI HYUUGA!! Oh, kau pasti tidak bisa membayangkannya, Sasuke.. Aku senaaaaaang sekali… ^_^ Rasanya seperti mau pingsan –er… sepertinya aku memang sempat pingsan. Ehehe… Tapi aku tidak akan menceritakan detailnya di sini. Itu SANGAT memalukan, tahu!

Doakan aku ya, teman. Mudah-mudahan semuanya berjalan lancar dan ini akan menjadi drama terhebat yang pernah dimainkan di festival sekolah! Aku harap –entah bagaimana caranya- kau bisa datang dan menonton pertunjukan kami. Aku, Naruto dan Sai benar-benar bakal sibuk mulai sekarang! Yeah, semangat!!

Salam hangat,

Sakura-chan..

p.s : Apa Sai sudah mengirimkan video padamu? Balaslah kalau kau sempat. Oke? ;D

-

Neji Hyuuga.

Sasuke membaca nama itu berulang-ulang dengan perasaan gusar. Keriangannya semenjak membaca email-email Naruto yang kocak mendadak menguap lenyap membaca nama itu. Padahal ia biasanya merasa biasa saja dengan nama itu, bahkan terkesan akrab karena mereka memang sudah saling mengenal sejak sama-sama masih bocah ingusan. Tapi mengingat yang menulis nama itu adalah Sakura…

Oh, ia sama sekali tidak menyukai ini. Perasaan aneh menyerangnya saat itu, seperti organ-organ dalam perutnya mendadak merosot ke kaki, meninggalkan perasaan hampa yang tidak nyaman.

Sasuke menggeram pelan, menyisir rambut hitamnya ke belakang dengan jemarinya. Berusaha mengusir perasaan aneh yang membuatnya resah itu.

'Tidak boleh, Sasuke. Kau tidak boleh begini!! Dia temanmu, dia… terlarang…' ia memarahi dirinya sendiri. Tapi tetap saja, membayangkan Sakura melewatkan waktunya bersama Neji membuatnya ingin sekali melempar notebook-nya dan menginjak-injaknya.

Sasuke cepat-cepat menutup email Sakura untuk mencegah dirinya melakukan hal yang gila. Sementara berusaha menenangkan dirinya, tiba-tiba tanda peringatan masuknya pesan baru berbunyi.

You Got Mail!

Nama Sai tertera di email itu.

-

From : painterboy(at)plasa(dot)com

To : sasuke_uchiha(at)yahoo(dot)co(dot)hi

Subject : Apa kabar?

Sasuke yth,

Kau mungkin bingung kenapa aku tiba-tiba mengirimkan pesan ini padamu. Yah, sejujurnya aku juga tidak tahu harus menulis apa berhubung memang tidak ada yang perlu dibicarakan. Tapi kali ini aku merasa perlu berbicara denganmu. Tapi karena Sound-city School tempatmu bersekolah peraturannya sangat ketat dan padat kegiatan, sepertinya aku tidak mungkin meneleponmu. (Jangan tanya dari mana aku tahu kau sekolah di mana sekarang, Sasuke).

Singkat saja, beberapa hari ini aku merasa sikap Naruto agak aneh –dan aku rasa ini ada hubungannya dengan Sakura. Dia tiba-tiba saja menjadi sangat emosional, marah-marah pada semua orang seakan ada sesuatu yang mengganggunya. Terlebih kalau anak-anak mulai menggodai Sakura soal drama yang akan dimainkannya nanti. Aku sama sekali tidak mengerti apa yang sedang terjadi, Sasuke. Dan Naruto juga tidak mau cerita. Dia selalu bilang tidak ada apa-apa setiap kali kutanya. Sakura juga kelihatannya sedih dengan sikap baru Naruto ini.

Dan siang ini juga seperti itu. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Yang aku tahu, tiba-tiba Naruto pergi begitu saja dari rumah Shikamaru Nara –kami datang untuk menonton latihan band Naruto di sana—dan Sakura seperti mengamuk, berteriak memaki-maki Naruto sambil menangis. Tapi dia sama sekali tidak berkata apa-apa ketika kami tanya apa yang terjadi. Kupikir pastilah sudah terjadi sesuatu yang gawat di antara mereka. Tapi aku tidak percaya kalau mereka bertengkar.

Barangkali kau tahu sesuatu, Sasuke, makanya aku bertanya padamu. Menurutmu, apa yang harus aku lakukan? Aku harap kau mau memberiku saran –karena yah, kau sudah mengenal mereka lebih dekat dibanding aku. Aku tunggu balasanmu.

-Sai-

P.S : Aku kirimkan bersama ini, video yang kubuat bersama Naruto. Kuharap kau menyukainya.

-

Membaca email Sai membuat Sasuke tersentak. Ia langsung teringat ibunya memberitahunya tentang telepon Naruto tadi siang –yang dilupakannya karena ia terlalu asyik dengan ayahnya…

"…dari suaranya, sepertinya dia sedang bersedih."

Pasti ada kaitannya dengan kejadian-entah-apa di rumah Shikamaru, pikir Sasuke. Ia mencoba mengira-ngira apa yang sebenarnya terjadi di sana tadi siang. Apa yang membuat Naruto begitu… bukan dirinya. Dan Sakura… dia menangis?Tidak. Naruto bukan tipe orang yang akan dengan sengaja membuat orang menangis. Terlebih orang itu adalah Sakura.

Sasuke tahu betul bagaimana Naruto menyayangi gadis itu.

Hatinya mencelos ketika ia menyadari fakta yang nyaris dilupakannya, bahwa Naruto sangat menyukai Sakura lebih dari sekedar teman biasa, bahwa perasaannya pada gadis itu lebih mendalam dari yang seharusnya. Sama seperti…—Akh, Sasuke tidak ingin memikirkannya.

Aku harus menelepon Naruto!

Ia lantas mengambil ponselnya yang diletakkan di sebelah notebook-nya, mengaktifkannya. Segera saja ponselnya diserang pesan-pesan baru yang masuk. Menggeram pelan, Sasuke mengabaikan pesan-pesan itu dan segera memasukkan nomor Naruto.

-

-

Kitsune's Park, Fox Avenue – Konoha

Sosok gelap bermantel panjang itu berjalan cepat menyusuri jalanan yang sepi di Fox Avenue. Sebelah tangannya bergerak membetulkan letak syal yang melilit di lehernya, menahan udara malam yang semakin dingin, sementara sebelah tangannya dibenamkan ke dalam saku mantelnya. Bayangan istri dan anak-anaknya yang sudah menunggunya di rumah semakin mendorongnya untuk semakin bergegas. Namun ada sesuatu saat melintasi Kitsune's Park yang membuat langkahnya terhenti.

Lamat-lamat, ia bisa mendengar suara-suara dari arah taman yang kosong –atau ia kira begitu. Ia memang pernah mendengar desas-desus bahwa taman itu berhantu, tepatnya hantu rubah berekor sembilan yang katanya pernah disegel dalam tubuh seorang bayi di tempat itu beratus-ratus tahun yang lalu. Legenda menyebutkan bahwa rubah berekor sembilan yang legendaris itu mati bersamaan dengan meninggalnya orang yang menjadi wadah-nya dan menjadi penunggu tempat itu sejak saat itu, menunggu manusia yang menjadi wadah-nya untuk bersatu kembali dengannya.

Legenda konyol. Mana ada hal-hal yang seperti itu di zaman cyber seperti sekarang, ia membatin. Namun suara-suara aneh yang didengarnya memaksanya untuk mengingat legenda kota itu.

Kriet… Kriet…

Pandangan orang itu menyapu seluruh taman, dan berhenti ketika matanya menangkap sesuatu di deretan ayunan. Jantungnya yang sempat berpacu cepat barusan perlahan mulai tenang ketika samar-samar ia bisa melihat bahwa itu bukan hantu seperti yang dikiranya semula, melainkan seseorang. Sosok gelap itu duduk di salah satu ayunan yang bergerak perlahan. Cahaya remang-remang dari lampu taman menerangi sosok itu. Kepalanya tertunduk, tapi ia bisa mengenali jaket hitam-oranye dan rambut pirang yang mencuat berantakan itu.

Lho? Bukannya itu putranya Pak Guru Umino?

Ia baru saja akan menyapa anak itu ketika dirasakannya ponselnya bergetar dalam saku mantelnya. Rumah.

"Halo, Ayah? Ayah sudah di mana? Cepat pulang, Yah…"

"Iya, iya, ayah hampir sampai…"

Dan sosok itu segera mengurungkan niatan awalnya untuk menyapa dan bergegas pergi dari sana.

Sementara itu, sosok di atas ayunan itu mengangkat kepalanya sedikit saat ia mendengar suara langkah birunya menatap kosong ke arah sosok bermantel itu sampai akhirnya menghilang di ujung jalan.

Naruto menghela napas berat, membentuk uap di udara malam yang dingin. Wajahnya tampak kacau dan rambut pirangnya lebih berantakan dibanding biasanya. Entah sudah berapa lama ia duduk di sana, menunggu sampai kegalauan hatinya mereda –yang sayangnya tidak kunjung terjadi. Ingatan atas kejadian tadi siang terus saja membebani hatinya, membuatnya tersiksa oleh rasa bersalah dan ia mulai takut.

Sakura akan membenciku… Sakura akan membenciku…

Kata-kata itu terus saja menggema dalam kepalanya, membuat segalanya lebih buruk. Belum lagi wajah Sakura yang terus-menerus muncul dalam kepalanya, tatapannya yang menyiratkan kekecewaan dan ketidakpercayaan dan air mata itu…

Kalau saja waktu bisa diputar kembali, sesalnya, aku tidak akan melakukan hal bodoh seperti itu…

"Brengsek!" ia mendesis, memaki dirinya sendiri sementara jemarinya mencengkeram rambutnya dengan geram, seakan ingin mencabutnya sampai ke akar-akarnya sebagai hukuman.

Kemudian ia merasakan ponselnya bergetar dalam sakunya.

'…Dancing in the moonlight

Everybodys feeling warm and bright

It's such a fine and natural sight

Everybodys dancing in the moonlight…'

Naruto mengangkat kepalanya dan dengan malas-malasan merogoh saku celananya, mengeluarkan ponselnya.

Nama 'Sasuke' tertera di layar.

Naruto mendengus.

-

-

Oto City, Uchiha Mansion

"Kukira kau sudah melupakan kami, Sialan!" adalah kata-kata pertama Naruto yang Sasuke dengar lewat ponselnya. Suaranya terdengar lebih serak dari biasanya –dan lebih berat.

Yah, Sasuke tidak bisa mengharapkan sambutan yang lebih baik setelah sekian lama ia tidak memberikan kabar pada sahabatnya itu, maka ia memilih untuk tidak memprotes.

"Ibuku bilang kau menelepon tadi siang," kata Sasuke hati-hati, berusaha tidak langsung masuk ke pokok permasalahan, karena suasana hati Naruto tampaknya belum begitu baik. "Ada apa?"

Ia mendengar Naruto mendengus. "Jadi kau baru menelepon setelah aku meneleponmu duluan, begitu?" ujarnya sinis.

Sasuke mengertakkan gigi. Naruto yang sedang bad-mood adalah makhluk yang paling menjengkelkan di dunia, pikirnya kesal. Tapi ia berusaha menahan diri. "Dengar, aku meneleponmu bukan untuk bertengkar, Bodoh." Ia menghela napas sebelum melanjutkan, "Baiklah, aku minta maaf karena tidak pernah menghubungi kalian. Di sini sangat sibuk, asal kau tahu saja."

"Yeah, yeah.." sahut Naruto sambil lalu. Jelas sekali ia tidak tertarik dengan alasan Sasuke tidak pernah menghubungi mereka saat itu.

Mereka terdiam beberapa saat.

Sasuke beranjak dari kursinya dan berjalan mendekati jendela tinggi di dekat ranjangnya, memandang bulan purnama yang menggantung rendah di langit Oto sementara pikirannya sibuk mereka-reka dari mana sebaiknya ia memulai. Sasuke menarik napas panjang. "Bagaimana kabar kalian?" tanyanya kemudian.

Naruto tidak langsung menjawab. Sasuke bisa mendengar suara seperti tercekat di seberang saja sebelum Naruto berkata serak, "Tidak begitu baik. Kau tahu, Sasuke, sepertinya aku baru saja mengacaukan segalanya. Persahabatan kami sudah berakhir."

Sasuke mengernyit, sama sekali tidak menyukai apa yang ia dengar. "Apa maksudmu dengan persahabatan sudah berakhir?"

Sepertinya Naruto sudah dikuasai emosi saat itu, karena berikutnya Sasuke bisa mendengar ia terisak serak. "Aku sudah berbuat sesuatu… yang sangat bodoh… Aku—brengsek!—bodoh sekali!!"

Entah mengapa perasaan Sasuke mendadak tidak enak. "Apa?" tuntutnya tak sabar, "Apa yang kau lakukan?"

"Aku sudah mengecewakannya—"

"Apa yang kau lakukan?!" ulang Sasuke, mulai gusar.

"Aku…" Naruto terdiam sejenak. Sasuke bisa mendengar tarikan napasnya yang serak sebelum melanjutkan dengan suara sarat emosi, "Aku—mencoba menciumnya tadi siang."

Ponsel Sasuke nyaris meluncur jatuh dari tangannya saking terperanjatnya ia mendengar kata-kata Naruto. Mata onyx-nya membulat. "Kau—APA?!"

"AKU MENCOBA MENCIUMNYA, SASUKE!!" teriak Naruto dikuasai emosi. "Aku benar-benar tidak tahu apa yang kulakukan..." lanjutnya merana, "Sakura pasti membenciku sekarang…"

Sasuke tidak bisa berkata apa-apa selama beberapa saat, terlalu shock untuk sekedar berkomentar atas pengakuan Naruto itu. Ia sama sekali tidak menyangka Naruto akan bertindak sejauh itu. Dan ia tidak tahu apa yang sedang dirasakannya sekarang. Kaget, itu sudah pasti. Marah? Kecewa? –Cemburu?

"Damn you Naruto!" hanya itu akhirnya yang bisa ia desiskan sementara ia menghenyakkan diri di ranjangnya, mencengkeram rambutnya. Tangan yang memegang ponselnya bergetar.

"Yeah," kata suara getir Naruto di seberang, "Maki saja aku, Sasuke. Bilang aku brengsek, keparat atau apa pun terserah kau. Aku memang pantas mendapatkannya…" diam sejenak, "Kau seharusnya melihat bagaimana cara Sakura menatapku tadi. Aku sudah mengacaukan segalanya…"

"Kau jelas sudah mengacaukan segalanya," geram Sasuke, "Bisa-bisanya kau berbuat seperti itu, hah?! Gila—"

"Aku tidak tahan lagi, Sasuke. Ini sangat menyiksaku. Melihat dia bersama cowok lain membuatku sinting!"

"Tapi itu tidak lantas membuatmu boleh melakukan itu padanya!!" desis Sasuke sengit.

"Aku tahu, aku tahu!!" teriak Naruto, "Salahkan saja aku! Aku memang bodoh!!"

Selama beberapa saat, tak seorang pun dari mereka yang bicara. Terlalu emosi dan marah untuk mengatakan kata-kata yang membesarkan hati. Sejujurnya Sasuke tidak tahu pasti apa yang dirasakannya saat itu. Di satu sisi ia kecewa akan tindakan Naruto yang –menurutnya—sudah di luar batas, tapi di sisi lain, ia bisa mengerti situasi yang dialami sahabatnya itu. Karena ia sendiri pun pernah dihadapkan pada situasi yang hampir sama –dan rasanya memang sangat sulit menahan diri untuk melakukan hal-hal gila karena itu. Jadi ia tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Naruto.

"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Sasuke akhirnya.

"Aku tidak tahu," sahut Naruto parau. "Aku tidak tahu. Aku bingung sekali. Menurutmu aku harus bagaimana, eh? Kalau kau jadi aku, apa yang akan kau lakukan, Sasuke?"

Sejujurnya Sasuke juga tidak tahu apa yang akan dilakukannya untuk mengatasi kekacauan ini seandainya ia berada di Konoha bersama-sama mereka sekarang. Sementara hatinya sendiri sedang dilanda kebimbangan atas perasaannya terhadap Sakura.

Ah, sepertinya persahabatan mereka tengah diuji oleh sebentuk perasaan bernama cinta.

-

-

-

From :sasuke_uchiha(at)yahoo(dot)co(dot)hi

To : painterboy(at)plasa(dot)com

Subject : Re : Apa kabar?

Naruto sudah cerita semuanya padaku. Dan sepertinya yang kau katakan memang benar, sudah terjadi sesuatu yang gawat antara mereka.

Ada satu hal yang perlu kau ketahui tentang Sakura dan Naruto, Sai. Naruto sangat menyukai Sakura lebih dari seorang sahabat, kalau kau mengerti maksudku. Dan melihat situasi yang sedang terjadi sekarang kurasa Naruto sudah tidak bisa menahan perasaannya lagi.

Sejujurnya aku juga tidak tahu apa yang harus dilakukan, aku tidak pandai dalam hal-hal seperti ini. Tapi kupikir membiarkan mereka memikirkan semuanya sendiri dan 'bicara dengan kepala dingin' adalah jalan yang terbaik. Karena mereka berdualah yang akan memutuskan ke mana arah persahabatan mereka akan dibawa.

Kuharap kau bisa memahami mereka.

-Sasuke-

P.S : Terimakasih video-nya. Belum sempat kutonton sekarang, mungkin lain kali.

P.P.S : Situasi ini pastilah sangat berat untuk Sakura. Tolong jaga dia semampumu.

-

­-

TBC…

-

-

Disclaimer:

Naruto © Masashi Kishimoto

Dancing In The Moonlight © Toploader

Aku sengaja milih lagu yang riang untuk ringtone Naruto, supaya sesuai dengan kepribadiannya yang asli. ^_^

-

Thanks to :

Uci-chan :Iya, bukan konflik rasa main-main, nih. Authornya juga pusing mikirinnya. Hihi… XD Ini Saskey-nya udah nongol. Masih kangen kah?

Teh Bella : Lanjutan yang ini masih belum ada perkembangan, Teh. Gomen ne? Mudah-mudahan bisa memberikan kejutan… ^_^

Lawra-chan : Hahaha… kalo langsung hajar, yang ada Naruto dibakbuk langsung ama Saku-chan. XD Uh, kelas berapa? Ada kelas 16 gak, yah? Hihi…

ShazaNamiKaze Mystica : Ini Saskey udah nongol, kok… Soal Saia ma Ino dipair atau enggak, kamu tunggu aja yah.

Uchiha cesa : Kenapa? Karena authornya males. Hihi.. XD Wah, makasih banget udah suka sama fic ini, cesa-san!! -blushing-

M4yura : Iya tuh, jadi kacau gitu mereka. Rupanya persahabatan juga bisa mengalami pasang surut begitu, yah. Um.. apa kangennya sama Sasu udah terobati? Idate emang posesif! –tendang Idate-

Aika-chan : Nah lho, sepertinya kebalik tuh. Kemarin NejiSaku, sekarang NaruSaku.. ^_^

Tobi-Luna-chan : Iya tuh, si Idate. Hihi.. jadi keinget dia ngerayu Sakura di filler Naruto. Saku-nya sampe blushing gitu, kan? Yang lainnya udah dibahas di chatingan, yah… ^_^ Soal Saku nangis, gomen, sepertinya kalau kejadiannya kayak gitu rasanya gak mungkin dia gak nangis, Lun. Sambil marah-marah tentunya…

kakkoii-chan : Ah… NarShip movie yang itu emang ada hint NejiSaku-nya!! Aku juga geregetan sendiri waktu nonton. Hahaha… Luv NejiSaku soooo much!

Ambu : Kalo dipikir-pikir iya juga ya, Mbu.. Kalo Lee yang jadi Alfredo, NaruSaku gak akan runyam… Tapi jadi gak ada konflik juga.. Haduh, binun.. -_-;

RinMaru HanAmu : Makasih… -blushing lagi- InsyaALLAH, doain mudah2an gak hiatus.

Miami : Ini lanjutannya.. ^_^

Special thanks untuk Ai Rina-san yang udah mereview di FB ^_^