Warning : Time skip, setting berpindah-pindah, alur gaje banget… =_='
Chapter 49
Setelah peristiwa di rumah Shikamaru, hubungan antara Sakura dan Naruto tampaknya semakin merenggang. Keduanya belum bicara satu sama lain sejak saat itu. Naruto, yang masih dilanda rasa bersalah karena perbuatannya waktu itu selalu menghindari Sakura, duduk sejauh mungkin darinya di kelas, kabur setiap kali berpapasan di koridor, dan apa pun yang tidak memungkinkan ia untuk berinteraksi untuk sementara waktu dengan gadis itu. Cowok itu terus menerus dihantui pikiran bahwa Sakura membencinya dan cemas setiap kali memikirkan hal itu.
Awalnya Sakura sama sekali tidak peduli karena ia terlalu kecewa dan marah pada Naruto. Tapi perlahan sikap Naruto itu membuatnya resah, terlebih setelah pembicaraannya dengan Ino.
"Aku percaya Naruto tidak bermaksud melakukan hal itu, Sakura," kata Ino dengan suara pelan keesokan harinya setelah kejadian di rumah Shikamaru. Saat itu mereka sedang menghabiskan waktu istirahat makan siang mereka di perpustakaan sekolah, sementara Naruto entah berada di mana bersama Sai. "Kau mengenal Naruto, kan?"
"Kau tidak ada di sana, Ino!" Sakura balas mendesis dari atas buku yang tengah dibacanya. "Kau tidak tahu bagaimana rasanya—"
"Kecewa?" sahut Ino. "Yeah, aku memang tidak tahu –karena baik Chouji maupun Shikamaru tidak pernah ada yang mencoba menciumku—Tapi, ayolah… Barangkali saat itu dia hanya refleks, tersandung sesuatu atau apa…"
"Tersandung sesuatu?" dengus Sakura. "Yang benar saja."
Ino nyengir kecil ketika menyadari bahwa idenya yang barusan memang terdengar agak konyol. "Well, mungkin memang tidak tersandung sesuatu," ujarnya kemudian, lalu menatap Sahabatnya itu memohon. "Tapi bisakah kau memikirkannya lagi, Sakura? Cobalah memahami perasaannya. Aku tahu kau sangat menyayangi Naruto, seharusnya kau paham situasinya, meskipun yah… tindakannya itu tidak bisa dibenarkan juga, sih."
Sakura tidak membalasnya. Mata zamrudnya berhenti bergerak pada satu titik di bukunya dan ekspresi sedih tampak selintas di wajahnya sebelum ia berbalik dan berjalan ke arah bangku baca. Ino menyambar salah satu buku asal saja dari rak dan mengikuti Sakura.
"Dengar," kata Ino lagi sambil berpura-pura membuka-buka bukunya sementara mata birunya terpacang pada Sakura, "Aku yakin seratus persen Naruto tidak mungkin dengan sengaja menyakitimu. Dia kelihatannya menyesal sekali –kalau kau tidak tahu."
"Kalau dia menyesal, kenapa tidak minta maaf?!" tukas Sakura jengkel.
Ino menghela napas. "Karena dia tahu kau masih marah padanya. Barangkali malah dia berpikir kalau kau benci padanya. Dia sangat bingung. Maka dari itu dia terus menghindarimu," tuturnya sabar.
"Oh, sepertinya kau sangat mengerti dia, ya?" sahut Sakura sarkastis sambil membalik halaman bukunya dengan marah.
Ino memutar bola matanya melihat sikap emosional sahabatnya itu. "Kau sangat kekanak-kanakan kalau sedang marah, kau tahu?"
Sakura tidak menyahutnya. Bibirnya terkatup rapat.
Ino memandang Sakura putus asa. "Oke. Aku tidak akan mendesakmu lagi untuk memaafkan Naruto. Percuma saja karena yang ada di kepalamu sekarang ini hanya dirimu sendiri. Tapi coba pikirkan lagi. Persahabatan kalian sudah sedemikian dalam, sayang kalau harus berakhir dengan cara seperti ini—"
"Dia yang memulai duluan!" desis Sakura keras kepala, tapi Ino mengabaikannya.
"—Coba ingat lagi semua hal yang sudah Naruto lakukan untukmu, Sakura. Dia selalu ada saat kau butuh dia, kan? Pikirkan apakah kemarahanmu setimpal dengan semua yang sudah kalian lewati bersama-sama? Dan pikirkan juga bagaimana perasaan Sai. Kau tahu, dari kemarin dia kebingungan setengah mati dengan sikap kalian berdua. Jangan karena kau sedang marah, kau jadi mengacuhkannya juga dong. Kasihan dia. Sasuke juga. Bagaimana perasaannya kalau dia tahu dua sahabatnya bersikap seperti orang asing satu sama lain?"
Sakura tertegun mendengar ini. Entah mengapa ia merasa telah bersikap sangat kejam. Namun ia terlalu keras kepala untuk mengakuinya.
Keduanya terdiam selama beberapa waktu lagi, sebelum akhirnya Ino menghembuskan napas berat. "Kurasa aku sudah mengatakan apa yang seharusnya kukatakan, Sakura. Keputusan masih ada di tanganmu. Tapi asal kau tahu saja, aku bilang begini karena aku peduli padamu—pada kalian."
Gadis itu pun beranjak, meninggalkan bukunya di atas meja dan berbalik meninggalkan perpustakaan.
Sejak saat itu, Sakura perlahan mulai menyadari bahwa yang dikatakan Ino mungkin benar. Ia juga mulai berusaha untuk memahami situasinya, kendatipun sangat sulit. Dan gadis itu sama sekali tidak menyangka, selewat beberapa hari, absennya gurauan dan suara tawa cowok itu membuatnya merasa sedikit kesepian. Ia mulai dilanda ketakutan akan benar-benar kehilangan sahabatnya itu untuk selamanya. Tapi ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya untuk memperbaiki situasi yang sudah runyam ini sementara Naruto terus saja menghindarinya. Dan ini benar-benar membuatnya sedih.
Sementara itu, Sai, yang tidak memahami apa yang terjadi antara kedua sahabatnya itu mulai frustasi sendiri. Bahkan balasan email yang diterimanya dari Sasuke hanya sedikit sekali membantunya. Di hari pertama mereka bersekolah setelah kejadian di rumah Shikamaru, ia melompat ke sana kemari antara Naruto dan Sakura, sama sekali tidak mengerti mengapa mereka tidak mau bersama-sama seperti biasanya.
'Mengapa memangnya kalau Naruto menyukai Sakura lebih dari seorang sahabat? Apakah itu salah? Tapi selama ini semuanya baik-baik saja…' pikirnya bingung.
Untungnya ada Ino di sana yang mau membantunya memahami apa yang sedang terjadi antara Sakura dan Naruto. Gadis itu menariknya pada hari kedua ketika Naruto kabur entah kemana sementara Sakura mengurung diri di antara buku-buku di perpustakaan. Dengan penuh kesabaran –mengingat Sai tidak memahami apa itu 'perasaan cinta' dan fakta ini sejenak membuat gadis pirang itu tercengang—Ino memberitahunya segalanya yang terjadi hari sebelumnya.
"Kuharap kau bisa mengerti, Sai," kata Ino saat itu dengan sorot mata sedih, "Mereka barangkali butuh saling menjauh untuk sementara waktu, memikirkan apa yang terjadi dengan kepala dingin, dan yah…" gadis itu terdiam sementara mata birunya menyapu koridor yang ramai itu, sebelah tangannya terangkat memijat pelipisnya, "Kurasa hal terbaik yang bisa kita lakukan saat ini adalah mendampingi mereka sampai mereka berdua siap untuk saling bicara lagi."
Seperti yang dikatakan Sasuke dalam emailnya, Sai membatin. "Tapi kalau mereka berpencar-pencar seperti ini, bagaimana aku bisa mendampingi mere—"
"Aku tidak hanya membicarakan dirimu, Sai," sela Ino. Tampangnya seperti tercabik antara geli dan tidak sabar. "Tapi aku juga akan melakukannya, kita berdua. Aku akan menemani Sakura sementara kau bersama Naruto. Oke?"
"Tapi Sasuke bilang, aku harus menjaga Sakura," kata Sai, teringat pesan tambahan di email Sasuke.
Ino melempar senyum manis pada cowok itu. "Menjaganya kan tidak harus selalu bersama dengannya, Sai. Lagipula kita bisa tukar tempat kalau kau mau."
Tiba-tiba saja Sai merasa bodoh sendiri. Wajahnya yang pucat merona kemerahan sementara tangannya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Oh, yeah, kau benar."
"Tentu saja aku benar!" Ino tertawa merdu sambil memutar-mutar bola matanya. "Ya sudah. Kalau begitu aku ke perpus dulu. Bye!" Gadis itu berbalik pergi.
Sai juga berbalik, namun ia segera teringat sesuatu. Ia tidak tahu Naruto ada di mana. "Ino!" panggilnya.
Ino yang untungnya belum terlalu jauh dari sana, menoleh. Kedua alisnya terangkat. "Apa?"
"Kau tahu di mana Naruto?" tanya Sai padanya.
Ino tampak berpikir sejenak. "Hmm… coba cari di gymnasium, barangkali dia sedang main basket dengan anak-anak cowok yang lain di sana. Atau di atap sekolah." Dan setelah berkata begitu, ia melempar senyum 'semoga-berhasil' pada Sai, lalu berbalik dan menghilang di belokan.
Dan sejak saat itulah semuanya berlangsung; Ino selalu bersama Sakura sementara Sai menemani Naruto atau kebalikannya –sesuai keadaan. Terjadi semacam konspirasi antara Sai dan Ino sejak saat itu. Baik Naruto maupun Sakura tidak mengetahui bahwa 'pendamping' mereka kerap membicarakan mereka setiap kali mereka tidak ada. Saling bertukar informasi tentang apa yang mereka –Sakura dan Naruto—keluhkan dan menyusun rencana apa yang harus mereka lakukan selanjutnya untuk mendamaikan keduanya. Ino, tentu saja sudah ahli dalam hal seperti ini, sementara Sai masih banyak membutuhkan bantuannya.
Sampai di akhir minggu, akhirnya keduanya berhasil menyeret Sakura dan Naruto duduk dalam satu meja di kantin saat istirahat makan siang. Mereka tidak kesulitan membawa Sakura, karena hati gadis itu memang sudah mulai melunak dan ia pernah berkata pada Ino kalau ia sangat ingin bicara lagi pada Naruto. Sementara Naruto sendiri agak susah dibujuk, meskipun ia mau juga pada akhirnya.
Sai menyeruput sari jeruknya sementara matanya bergantian mengamati Sakura dan Naruto yang duduk berhadapan, tetapi tidak saling bicara. Suasana kaku itu belum sepenuhnya mencair.
Sakura merasa terlalu canggung untuk memulai pembicaraan. Gadis itu memilih untuk menyibukkan diri dengan buku pemberian Sasuke –ia memulai kebiasaan membawa-bawa buku itu bersamanya seperti Sasuke dulu sejak seminggu terakhir—dan menunduk terus, makanannya sama sekali tidak disentuh. Sementara itu Naruto yang tampak murung mengaduk-aduk mangkuk ramennya tanpa semangat. Berkali-kali ia melirik ke arah Sakura dengan ekspresi merana di wajahnya.
Keheningan tidak nyaman melingkupi meja itu selama beberapa waktu, padahal bukan hanya mereka berempat yang duduk di sana, melainkan berenam dengan Shikamaru dan Chouji juga. Tapi sepertinya baik Shikamaru maupun Chouji tidak menyadarinya. Shikamaru terlalu asyik dengan permainan shogi di ponselnya sementara Chouji tidak bisa dialihkan dari menu makan siangnya.
Ino dan Sai bertukar pandang sejenak. Awalnya mereka berencana membiarkan saja Sakura dan Naruto mengobrol berdua, tapi nampaknya itu tidak memungkinkan, maka mereka akan menjalankan rencana kedua; memancing obrolan. Ino kemudian merogoh ke dalam tasnya dan mengeluarkan sebuah notes kecil.
"Berhubung kita sedang berkumpul," gadis pemilik mata sapphire itu memulai sambil membuka notes-nya, "aku ingin minta pendapat soal lagu yang akan band kami bawakan di acara pembukaan festival band di KCS nanti. Aku sudah membuat daftarnya, tapi aku bingung mau memilih yang mana. Sakura," Ino menjawil lengan Sakura, membuat gadis itu mengangkat wajahnya dari bukunya dan memandangnya. Ino menyodorkan daftar di notes-nya pada Sakura. "Menurutmu bagus yang mana?"
Sakura membaca daftar itu. "Aku suka Kelly Clarkson," ujarnya setelah beberapa saat, mengembalikan lagi notes Ino pada pemiliknya.
"Kelly Clarkson lumayan juga," sahut Ino sambil mengangguk. "Tapi aku ingin lagu yang bisa dinyanyikan dua orang. Supaya bisa duet dengan vocalist keduaku." Ia menekankan dua suku kata terakhir sambil menatap Sakura.
Sakura langsung memahami arti tatapan itu, dan ia langsung menyahutnya, "Kalau begitu 'Bring Me To Life'-nya Evanescence saja." Gadis itu mengerling kecil ke arah Naruto, tampak ragu-ragu sejenak sebelum menambahkan, "Setahuku Naruto suka lagu itu. Iya kan, Naruto?"
Naruto mengerjap. Jelas sekali ia terkejut karena tiba-tiba ditanya oleh Sakura setelah sekian lama tidak saling bicara. "Eh—Oh, yeah. Tentu saja. Lagu itu keren banget…" cowok pemilik mata biru itu memaksakan cengiran yang membuatnya tampak seperti sedang meringis karena sakit gigi. "Tapi kalau mau duet yang ballad, 'Way Back Into Love' keren juga," ia menambahkan pada Ino.
Ino menjentikkan jadinya, nyengir lebar pada Naruto. Kena! Cowok itu baru saja menyebutkan salah satu lagu favorit Sakura. "Pintar!" Ia buru-buru mengambil bolpoint dari dalam tasnya dan pura-pura menulis di notes-nya. Ia mengerling Sai dan mengedip padanya.
"Wow! Kau suka lagu itu, Naruto?" tanya Sakura, berusaha terdengar antusias, pada cowok yang duduk di seberangnya itu. "Itu salah satu lagu favoritku! Jadi kepingin dengar kau menyanyikan lagu itu dengan Ino!"
Naruto terkekeh-kekeh canggung sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Kami pernah menyanyikannya sekali waktu latihan," katanya. "Bagaimana menurutmu, Sai?" Ia melirik Sai. "Kau kan mantan murid sekolah seni, pasti punya selera bagus tentang musik."
"Yeah, lagu itu bagus juga. Tapi bagaimana kalau theme song-nya film Moulin Rogue, 'Come What May'? Aku suka lagu itu," kata Sai dengan senyumnya yang biasa.
"Lagu itu terlalu mellow, Sai," kata Ino sambil memutar bola matanya. "Bisa-bisa semua orang tidur waktu giliran kami tampil. Lagunya yang lebih semangat dong. Bagaimana, sih?"
"Lagipula itu bukan lagu yang bisa dibawakan band seperti band kami," timpal Naruto sambil tertawa kecil. "Sama sekali enggak disangka, ternyata kau punya selera yang romantis seperti itu, Sai."
"Bawaan seniman, tuh…" kata Sakura.
Yang bersangkutan hanya tersenyum tersipu-sipu sambil menggaruk sisi wajahnya dengan jemari. "Aku kan hanya mengusulkan," gumamnya pelan.
Gelak tawa kemudian menyusul memenuhi meja mereka. Tampaknya semua kembali normal di antara Sakura dan Naruto saat itu, meskipun masih tampak kaku dan satu sama lain berinteraksi seperti dua orang yang baru saling kenal. Tapi setidaknya mereka sudah mulai saling bicara.
Yang mereka butuhkan hanyalah waktu sampai hubungan mereka bisa kembali seperti dulu. –Ah, dan juga kebesaran hati dari salah satu pihak.
Semoga saja…
-
-
Sound-city School – Oto City
Instirahat makan siang, seperti biasa Sasuke Uchiha menghabiskan waktu di salah satu bangku taman favoritnya di halaman sekolahnya yang luas dan asri seorang diri, menikmati hembusan angin musim gugur yang sejuk di bawah naungan deretan pohon maple yang daunnya berguguran di tanah sambil menyantap bekal sandwich istimewa buatan ibunya. Mata onyx-nya sesekali mengawasi adik-adik kelasnya yang masih duduk di bangku sekolah dasar bermain sepak bola di lapangan tak jauh dari tempatnya duduk sekarang.
Sasuke selalu menyukai ketenangan seperti yang dirasakannya sekarang. Di Konoha, mana ada suasana yang tenang seperti ini, di mana-mana bising. Tapi ada sebagian dari dalam dirinya yang merindukan kebisingan itu. Bukan—tentu saja bukan kebisingan yang ditimbulkan oleh segerombol cewek-cewek penganggumnya yang selalu mengikik seakan tidak bisa hidup tanpa itu. Kalau itu sih, di mana-mana juga sama saja (Terdengar kikikan samar dari balik semak mawar. Sasuke memutar bola matanya dan memutuskan untuk mengabaikannya saja).
Seulas senyum muncul di bibirnya yang tipis ketika bayangan sahabat-sahabatnya muncul di kepalanya. Diam-diam, Sasuke sangat merindukan waktu-waktu yang dihabiskannya bersama mereka di Konoha. Saling lempar ejekan dengan Naruto, berdebat dengan Sakura, menahan geli setiap kali berhadapan dengan Sai. Tidak ada yang bisa menggantikan kesenangan itu di tempat ini.
Bahkan tidak oleh teman-teman lamanya. Sama-sama berisik sih, tapi berbeda sama sekali.
Dan omong-omong tentang Naruto dan Sakura, Sasuke menjadi bertanya-tanya sendiri bagaimana kabar mereka sekarang? Ia masih belum melupakan pembicaraannya dengan Naruto seminggu yang lalu. Pembicaraan yang benar-benar membuatnya gusar bukan kepalang dan menyesal tidak berada di sana bersama mereka sekarang.
Sasuke hanya bisa berharap Sakura dan Naruto bisa mengenyampingkan ego masing-masing dan mementingkan persahabatan mereka –meskipun Sasuke tidak yakin bisa melakukannya seandainya ia berada di posisi Naruto sekarang ini. Dan ia juga berharap Sai bisa membantu mereka melewati ini. Semoga saja…
Sebuah seruan yang berasal dari gedung sekolahnya membuyarkan lamunan Sasuke. Ia menoleh dan melihat lima orang yang sudah sangat dikenalnya keluar dari pintu samping, sedang berjalan ke arahnya. Sasuke mengeluh pelan.
"Sasuke!" seru seorang gadis berambut kemerahan yang merupakan gadis paling populer di sekolah itu, Tayuya, sambil duduk di sampingnya dan melempar lengannya merangkul pundak Sasuke. "Kau ini selalu saja kabur dari kami. Kami mencarimu, tahu!" Tayuya mengerucutkan bibirnya, berpura-pura ngambek.
Menghela napas, Sasuke lalu melepaskan lengan Tayuya dari pundaknya. "Aku hanya butuh sedikit ketenangan di sini."
"Kau banyak berubah semenjak kembali dari Konoha," kata cowok jangkung berkulit gelap yang kemudian duduk di sisi lain Sasuke, Kidomaru, sambil melirik temannya dengan mata dipicingkan.
"Yeah," timpal salah satu dari si kembar berambut putih, Sakon, dari samping Tayuya, "Kau tidak asyik lagi."
"Kau bahkan menolak waktu kami ajak clubbing akhir pekan yang lalu," Ukon berkata mendukung saudara kembarnya.
Sasuke hanya menyeringai dingin. "Aku tidak tertarik dengan hal-hal semacam itu lagi. Ada hal lain yang lebih penting yang bisa kulakukan."
Tayuya menatap Sasuke seakan ia sedang menatap makhluk asing. "Ya, ampun…" hanya itu yang bisa ia katakan untuk mengomentarinya.
"Wow, Sasuke Uchiha sudah berubah jadi anak baik…" Sakon dan Ukon menggelengkan kepala mereka bersamaan.
"Mereka tidak memukulkan batu ke kepalamu, kan, Sasuke?" tanya Kidomaru.
Sasuke mendengus tertawa. "Yang mereka lakukan hanyalah menawarkan persahabatan untukku," gumamnya pelan.
"Apa?"
Sasuke mengabaikan mereka. Ia memasukkan potongan terakhir sandwich-nya ke mulut dan mengunyahnya perlahan-lahan sementara pikirannya melayang ke Konoha.
"Kimimaro," celetuk Tayuya selewat beberapa waktu.
Seorang cowok pendiam berpostur kurus dengan rambut putih lewat seorang diri di depan mereka duduk. Cowok bernama Kimimaro Kaguya itu mengendikkan kepala pada mereka sebentar sebelum melanjutkan perjalanannya menuju gedung sekolah dengan dagu terangkat.
"Murid favorit Profesor Orochimaru setelah kau minggat ke Konoha," kata Sakon, menatap punggung cowok itu sampai akhirnya menghilang di balik pintu.
"Dan yang paling menjadi perhatian cewek-cewek –setidaknya itu yang terjadi setelah kau pergi, Sasuke," timpal Ukon.
"Tapi tentu saja kau tetap yang nomor satu!" cetus Tayuya sambil bergelayut di lengan Sasuke dan menyandarkan kepalanya ke bahu cowok itu. Yang bersangkutan dengan wajah datar melepaskan tangan gadis itu dari lengannya.
"Aku tidak peduli siapa yang menjadi favorit Orochimaru," ujar Sasuke dingin.
Saat itu serombongan anak dari kelas Elementary berlari-lari ribut melewati mereka. Kidomaru yang memang dikenal tidak menyukai anak kecil, menjulurkan kakinya, membuat salah seorang anak laki-laki bertubuh kecil yang tidak hati-hati tersandung dan jatuh terguling ke tanah.
Suara tawa gelak-gelak langsung terdengar sementara teman-teman si bocah hanya bisa membelalak ketakutan pada rombongan remaja itu –mengingat geng itu adalah yang paling ditakuti di seantero SCS—sama sekali tidak berani bergerak membantu teman mereka. Sasuke, yang menjadi satu-satunya yang tidak tertawa di sana, melempar pandang dingin pada keempat temannya sebelum beranjak.
Cowok itu berjalan mendekati si bocah yang seperti membeku di tempatnya, menatapnya dengan tatapan ngeri, seakan Sasuke datang untuk menggigitnya. Namun yang terjadi selanjutnya dengan sukses melenyapkan gelak tawa Kidomaru dan yang lain.
"Kau bisa bangun?" Sasuke berlutut di depan sang bocah dan membantunya berdiri. Ia bahkan membantu membersihkan dedaunan dan tanah yang menempel pada bagian depan seragam bocah itu, sementara sang bocah sepertinya sudah hampir menangis saking ketakutannya. "Jangan menangis. Anak laki-laki tidak boleh cengeng," kata Sasuke. "Lain kali hati-hati kalau berlari. Oke? Sekarang pergilah."
Bocah itu menatap Sasuke dengan terkejut selama beberapa saat, seakan tidak mempercayai bahwa yang bicara ramah di depannya ini adalah Sasuke Uchiha yang terkenal dengan sikapnya yang tidak berperasaan itu. Tetapi ia kemudian segera menguasai diri. Ia menyeka matanya yang berair, mengangguk sambil menggumamkan terimakasih dan segera pergi dari sana, bergabung bersama teman-temannya yang lain. Sesekali menoleh pada Sasuke sebelum akhirnya menghilang di ujung jalan ke arah gedung untuk kelas sekolah dasar.
Sasuke lalu menegakkan diri. Dan tanpa menoleh pada empat yang lain—yang masih tercengang melihat apa yang telah ia lakukan barusan—Sasuke berjalan meninggalkan tempat itu dengan kedua tangan tenggelam di saku celana seragamnya.
"Geez, dia benar-benar sudah berubah…"
-
-
Konoha High – Konoha, siang harinya…
Bel pulang baru saja berbunyi dan anak-anak yang mengikuti kelas Anko Mitarashi siang itu langsung ribut membereskan barang-barang mereka. Naruto, yang duduk di bangku belakang, langsung melayangkan pandangannya ke punggung Sakura yang duduk di meja depan begitu guru mereka meninggalkan ruang kelas. Terlihat gadis itu sedang memasukkan barang-barangnya ke dalam tas sambil mengobrol dengan salah satu teman klub teaternya, Hokuto.
Pada awalnya Naruto ragu-ragu untuk menyapa Sakura duluan dan mengajaknya pulang bersama seperti yang mereka biasa lakukan sebelum ini, mengingat apa yang telah terjadi sepanjang minggu antara dirinya dengan gadis pemilik mata zamrud itu. Tapi ingatan soal obrolan mereka saat istirahat makan siang tadi, meskipun agak kaku dan canggung, membuat Naruto membulatkan tekadnya. Ini demi memperbaiki hubungan pertemanan mereka yang sempat merenggang.
Naruto lantas mempercepat acara beres-beresnya dan bergegas menghampiri gadis itu. "Hei," sapanya kaku.
Sakura menoleh dan tersenyum padanya. "Hei," ia membalas.
"Pulang sekarang?" tanya Naruto. "Bareng, yuk."
Ia melihat Sakura dan Hokuto bertukar pandang sejenak sebelum menatapnya lagi dengan ekspresi menyesal di wajahnya. "Maaf, Naruto. Klub teaterku ada kumpul hari ini. Tapi kau kan bisa pulang bareng Sai," Sakura buru-buru menambahkan.
Naruto mengatur wajahnya agar tidak terlalu terlihat kecewa, lalu berkata, "Well, yeah. Tidak apa-apa. Aku akan cari Sai kalau begitu. Bye."
Hokuto menatap Sakura setelah Naruto menghilang di pintu kelas. Alisnya berkerut. "Kuperhatikan kalian berdua agak lain belakangan ini, Sakura. Kalian tidak saling bicara, Kau murung, Naruto juga kelihatan murung. Kalian bertengkar?"
Sakura mengambil waktu menutup ritsleting tasnya sebelum menjawab dengan suara pelan. "Ada sesuatu yang terjadi dan yeah, bisa dibilang kami bertengkar. Tapi kuharap semuanya bisa mulai membaik mulai sekarang."
"Sebaiknya begitu," Hokuto mengangguk setuju, "Karena kau harus berkonsentrasi dengan drama mulai sekarang. Kudengar, latihan reguler dimulai minggu depan."
"Hmm.." Sakura menyandangkan tasnya ke bahu, lalu keduanya berjalan meninggalkan kelas. "Ingatkan aku soal drama itu kalau aku mulai murung lagi, Hokuto."
Hokuto mengikik. "Aku akan mengingatkanmu soal Alfredo-mu kalau kau mulai murung lagi, Sakura."
Kontan wajah Sakura merona. "Apaan, sih?" tukasnya.
Hokuto tertawa, memutar bola matanya ketika dilihatnya Sakura tidak bisa menyembunyikan cengirannya.
-
-
Naruto melenggang meninggalkan koridor kelasnya dengan tampang lesu. Padahal ia tadi berharap bisa pulang bersama Sakura dan mungkin membicarakan lagi apa yang telah telah terjadi seminggu ini, sekalian untuk meminta maaf atas—
"Whoa!"
Ia tidak sengaja menabrak seseorang dengan keras di belokan menuju koridor loker. Naruto hanya terhuyung sedikit, tetapi orang yang menabraknya, yang rupanya adalah seorang gadis berperawakan mungil, jatuh terjengkang ke lantai dan barang-barang yang dibawanya langsung berhamburan.
"Hei, hati-hati, dong…" hardik Naruto.
"M-maafkan… Maafkan… a-aku tidak s-sengaja…" gagap si gadis mungil seraya buru-buru berdiri dan mengumpulkan barang-barangnya yang tercecer.
"Hinata?" celetuk Naruto terkejut saat menyadari siapa yang menabraknya.
Gerakan gadis berambut panjang itu terhenti, seakan membeku, dan wajahnya sudah semerah tomat ranum ketika ia menengadahkan wajahnya. "N-Naruto—ah, maaf… aku tidak sengaja menabrakmu, s-sungguh…"
Entah mengapa Naruto selalu saja diserang perasaan bersalah setiap kali bertemu dengan Hinata belakangan ini. Barangkali karena insiden tempo hari –saat ia marah-marah tanpa alasan pada gadis itu di depan orang banyak, padahal Hinata sama sekali tidak bersalah—dan ia belum sempat minta maaf secara langsung padanya. Dan melihat Hinata seperti ketakutan melihatnya membuat hatinya semakin menciut.
"Tidak apa-apa, Hinata, tenang saja!" seru Naruto buru-buru sambil ikut merangkak membatu Hinata mengumpulkan barang-barangnya. Ini mengingatkannya pada kejadian beberapa bulan yang lalu, saat Hinata ikut merangkak bersamanya di koridor untuk mengumpulkan barang-barang yang berhamburan dari dalam lokernya. Naruto lantas nyengir. Déjà vu.
"Terimakasih," gumam Hinata tanpa menatap Naruto ketika cowok pirang itu mengulurkan barang-barangnya.
"Itu bahan untuk jurnal?" tanya Naruto menunjuk potongan-potongan artikel dari surat kabar di pelukan Hinata.
"I-Iya... Ini u-untuk majalah d-dinding…" sahut Hinata masih tidak menatap lawan bicaranya.
Naruto tertawa kecil sambil menggaruk tengkuknya. "Jangan takut begitu dong. Aku tidak akan menggigitmu, kok," guraunya. "Hei, lihat aku…" Ia membungkuk di depan Hinata, supaya bisa melihat wajahnya yang separuh tertutup bayangan poninya. Dan ketika gadis itu mengangkat wajahnya, Naruto tersenyum. "Nah, kalau begini kan lebih enak dilihat."
Wajah Hinata yang sudah merah semakin merah. Namun sepertinya Naruto tidak terlalu memperhatikannya.
"Kelihatannya berat. Aku bantu, ya…" tawar Naruto kemudian sambil mengambil tumpukan buku selain kumpulan potongan artikel di gendongan Hinata.
"Aa—t-tidak usah, N-Naruto. B-biar aku saja…" gadis Hyuuga itu berusaha mempertahankan barang-barangnya.
"Tidak apa-apa," kata Naruto berkeras, sampai akhirnya barang-barang yang tadinya berada di pelukan gadis itu berpindah padanya hingga Hinata tinggal hanya membawa tas selempangnya saja. "Hitung-hitung sebagai permintaan maafku soal kejadian waktu itu," tambahnya dengan senyum menyesal. "Kau tahu kan, yang di koridor. Seharusnya aku tidak begitu padamu, kau tidak salah apa-apa."
Hinata tampak agak bingung pada awalnya, tetapi akhirnya ia paham apa yang sedang dibicarakan Naruto. Ia mengangguk pelan. "T-tidak apa-apa. N-Naruto kan t-tidak bermaksud seperti itu."
Senyum Naruto melebar sampai kemudian ia tertawa. "Kau benar-benar gadis baik, Hinata! Thanks!"
Sekali lagi Hinata memerah.
"Mau ke ruang jurnal, kan?"
Dan ke sanalah mereka menuju sekarang; ruang secretariat klub jurnal. Ruangan itu sedikit lebih sempit dari pada ruang klub sepak bolanya, dan jauh lebih penuh. Di salah satu sisi ruangan, terdapat lemari besar yang dipenuhi dokumen-dokumen entah apa, rak-rak yang dijejali barang-barang, lemari pajangan dengan sederet piala dan piagam penghargaan, deretan foto-foto ketua klub mereka dari masa ke masa (yang paling baru tentu saja adalah foto Shino Aburame yang tanpa senyum). Ada juga foto berpigura yang menampilkan Hinata yang sedang menerima penghargaan dari Gubernur Sarutobi, didampingi pembimbing klub mereka, Kakashi Hatake. Di sudut ruangan terdapat sebuah meja kerja yang di atasnya diletakkan seperangkat komputer yang sepertinya sudah tua dan sebuah meja besar di tengah-tengah ruangan dengan kursi-kursi yang mengelilinginya.
Beberapa anak klub jurnal termasuk Sai, Kiba dan Shino sedang berada di sana. Ketiga cowok itu mengalihkan pandangan mereka dari layar laptop Shino ketika Naruto dan Hinata masuk, sementara anak-anak yang lain, yang tampak sibuk mengurusi majalah dinding sekolah, sama sekali tidak mengangkat wajah mereka.
"Naruto?" sapa Sai, heran melihat sahabatnya itu ada di sana.
"Hei. Sedang sibuk, eh?" tanya Naruto sambil meletakkan bawaannya di atas meja, di tempat yang kosong.
"Um.. tidak juga," sahut Sai.
"Ngapain kau kemari, Naruto?" Kiba menanyainya. Mata hitamnya berkilat jahil memandang Naruto dan Hinata bergantian. "Berminat bergabung di klub jurnal? Salah seorang dari kami pasti akan senang sekali kalau kau mau gabung."
"Kiba!" tegur Hinata dengan wajah merah padam. Yang bersangkutan hanya tertawa.
Naruto membalasnya dengan cengiran, jelas sekali tidak menangkap maksud kata-kata Kiba seperti halnya Hinata. "Tidak. Aku sudah cukup sibuk dengan sepak bola dan band. Aku kemari hanya membantu Hinata membawakan ini," ia mengendik ke arah meja, tempat ia menaruh barang-barang Hinata.
Kiba baru saja akan membuka mulut untuk meledeknya lagi, tetapi Shino segera memberi isyarat padanya untuk kembali berkonsentrasi pada laptop di depan mereka. Shino sama sekali tidak menghiraukan Naruto.
"Terimakasih sudah membantu membawakan barang-barang kami, N-Naruto," ucap Hinata kemudian.
"Yeah, sama-sama, Hinata," sahut Naruto sambil nyengir. Ia mengerling Sai sejenak. Sepertinya temannya itu sedang sibuk, tidak mungkin mengajaknya pulang bersama sekarang, pikirnya. Ah, terpaksa pulang sendiri… "Kalau begitu aku pulang dulu."
"H-Hati-hati di jalan, N-Naruto," Hinata berkata padanya.
Naruto mengangguk singkat, lalu berbalik meninggalkan ruangan yang sibuk itu. Hinata masih di sana untuk beberapa saat lagi, menatap pintu di mana Naruto baru saja menghilang di baliknya. Wajahnya merona dan senyuman masih terpatri di sana.
"Ehem!" suara Shino membuatnya terlonjak kaget. "Kalau kau sudah selesai mengagumi pintu, kau boleh ikut membantu yang lain, Hinata," ujarnya datar.
Hinata bisa melihat Kiba nyengir dari samping Shino dan anak-anak perempuan yang sedang menyusun majalah dinding mengikik. Wajahnya kontan memanas. "I-Iya, Shino. Maaf…"
-
-
Ruangan sekretariat klub teater sudah ramai oleh anak-anak ketika Sakura dan Hokuto tiba di sana. Tampaknya semua anak-anak yang terlibat dalam drama tahunan sudah berkumpul di sana. Sakura tidak bisa menahan rona kemerahan yang muncul di wajahnya ketika melihat Neji ada di antara mereka, sedang berbicara serius dengan suara rendah dengan Juugo –yang berperan sebagai ayahnya dalam drama itu.
"Ups! Sepertinya tinggal kita saja yang baru datang," bisik Hokuto pada Sakura seraya meringis.
"Kau sih, lama sekali mampir ke toilet-nya," Sakura balas mendesis. "Ayo, masuk!"
Neji menoleh ketika Sakura sudah mendekat. Juugo yang juga sudah melihatnya datang langsung tersenyum lebar.
"Ah, Sakura! Kemari, duduk di sini!" cowok bertubuh tinggi besar itu menggeser duduknya dan memberi isyarat supaya Sakura duduk di sebelahnya –di antara ia dan Neji. "Hokuto, itu masih ada tempat di sebelah Suigetsu!"
"Sana…" Sakura merasakan Hokuto sedikit mendorongnya ke arah Neji dan ia bersumpah mendengar gadis itu mengikik di belakangnya. Sialan!
Berusaha menahan debaran jantungnya yang tidak karuan, Sakura akhirnya melangkah memenuhi isyarat Juugo ke bangku di sebelahnya dan duduk dengan sikap canggung. Ia langsung merasakan aroma bersih yang menguar dari Neji, membuat jantungnya berdetak kian cepat. Gadis itu sekuat tenaga berusaha mengatur ekspresinya agar terlihat biasa saja. Ia lantas menoleh pada Neji.
"Halo," sapanya sambil tersenyum sewajar mungkin.
"Hai," cowok itu membalas dengan senyum tipis.
"Oke, karena semuanya sudah kumpul, kita langsung saja!" kata Tenten memulai.
Agenda mereka hari itu adalah membicarakan soal rencana latihan mereka sebelum pertunjukkan bulan Februari nanti –tepat di hari Valentine, yang membuatnya agak istimewa. Sakura mencoba berkonsentrasi menyimak kata-kata Tenten, meskipun agak susah dengan adanya Neji duduk tepat di sebelahnya. Terlebih ketika lengan cowok itu beberapa kali tak sengaja menyenggol lengannya setiap kali ia bergerak.
-
-
"Oi, ternyata di sana kau, Naruto!!"
Mendengar namanya dipanggil, Naruto menoleh ke arah suara datang. Ia belum terlalu jauh dari ruang klub jurnal saat itu.
"Ino? Ada apa?" tanyanya heran saat Ino berlari-lari kecil ke arahnya, membuat rambut pirangnya yang dikucir tinggi bergoyang seiring langkah kakinya.
Gadis itu melempar pandang mencela padanya. "Ada apa, ada apa! Kau lupa ya, kalau hari ini kita latihan? Pembukaan festival sebentar lagi, Naruto…!!!"
Naruto mengerjap. Ia sama sekali lupa soal latihan band! Ia lantas nyengir minta maaf sambil menggaruk belakang kepalanya. "Sori, aku lupa!"
Ino memutar bola matanya, lalu menyambar pergelangan tangan Naruto dan menyeretnya sepanjang koridor menuju ruang studio klub musik.
-
-
"Jadi kita sepakat. Minggu depan kita akan mulai latihannya dua kali seminggu dan dua minggu sebelum hari-H akan lebih intensif, tiga atau empat kali seminggu. Tapi sebelum itu, bagaimana kalau kita adakan joging bareng di Konoha Central Park dan sekalian latihan suara dan pernapasan di sana hari Minggu nant—"
Kata-kata Tenten langsung disela dengan suara dengungan yang berasal dari teman-temannya. "Tapi kan di sana banyak orang. Apalagi kalau akhir pekan. Malu dong kalau ditonton banyak orang."
Tenten tersenyum lebar. "Justru itu," ujarnya menekankan, "karena di sana banyak orang, kita bisa sekalian membiasakan diri dengan orang-orang yang akan menonton pertunjukkan nantinya. Dan seperti biasa, kita akan melakukan ritual seperti saat pelantikan!" Gadis bercepol itu menggogosok-gosokkan kedua tangannya dengan sikap antusias, mengabaikan keluhan yang datang dari anak-anak. Ia lalu menoleh ke arah Neji dan Sakura. "Terutama kalian berdua. Kalian siap kan, Neji, Sakura?"
"Hn," Neji menggumamkan persetujuannya sementara Sakura hanya mengangguk tidak yakin.
"Bagus!" cetus Tenten gembira. Ia lalu membuka-buka catatannya. "Hmm… latihan sudah… Oke, sekarang kita akan membicarakan soal penambahan kru. Kita butuh orang untuk mengurusi dekorasi, properti panggung, kostum, make up dan musik latar. Nanti aku dan Yakumo akan bicara dengan anak-anak musik. Mudah-mudahan Nara mau bantu lagi tahun ini…"
"Tenten, bukannya yang akan mengurus dekorasi dan properti panggung akan diambil dari OR panitia festival sekolah oleh OSIS, ya?" tanya Yakumo.
"Oh, yeah benar," Tenten nyengir, lalu mencoretkan sesuatu di catatannya. "Sepertinya Menma memang sudah pernah bilang. Tapi aku lupa. Sori…"
Yakumo memutar matanya. "Haah.. kau ini.."
"Soal kostum, adik sepupuku sudah bersedia membantu," beritahu Neji. "Dia bahkan sudah mulai membuat rancangannya. Mungkin hanya tinggal menambah beberapa orang lagi untuk membantunya."
"Untuk makeup, aku merekomendasikan temanku, Ino Yamanaka. Tahun lalu dia juga bantu-bantu makeup untuk drama," kata Sakura. "Dia bisa mengajak teman-temannya yang lain kalau masih kurang orang."
"Kiba dari klub jurnal tadi bertanya padaku kapan kita bisa foto untuk poster," sambung Suigetsu pada Tenten.
"Karin juga tanya apa akan ada pendaftaran untuk figuran atau semacamnya," kata Juugo.
Tenten bertukar pandang dengan Yakumo. Kedua gadis kelas tiga itu tampak berseri-seri mendengar antusiasme anak-anak di luar mereka menghadapi pertunjukkan mereka nanti yang merupakan acara puncak dari festival sekolah nanti.
-
-
Suara entakan musik terdengar samar-samar di sepanjang koridor di dekat ruangan studio klub musik tempat band Ino sedang berlatih. Alunannya menggoda beberapa anak yang kebetulan lewat berhenti sejenak untuk mendengarkan, mengangguk-anggukkan kepala mereka seiring dengan alunannya yang dinamis.
Di dalam, tampak Ino berdiri di depan tiang mike, berkonsentrasi pada melodi yang dimainkan teman-teman personil band itu sebelum menyanyikan liriknya,
"Carnival came by my town today
bright lights from giant wheels
fall on the alleyways
and I'm here by my door
waiting for you"
Di bagian refrain, Naruto yang memainkan rythem di sampingnya turut bernyanyi mengiringi Ino.
"I will never know
cause you will never show
come on and love me now
come on and love me now
I will never know
cause you will never show
come on and love me now
come on and love me now
come on and love me now…"
Ekspresi tidak puas tampak di wajah sang lead vocal ketika mereka selesai di bagian refrain—yah, sebenarnya ketidakpuasannya tampak sejak tadi. Gadis itu lantas menjauhkan mike dari bibirnya dan berseru, "Stop! Stop!"
Mereka menghentikan permainan dan memandang Ino yang tampak tidak puas. Gadis itu memandang Shikamaru dengan wajah berkerut. "Kau merasa ada yang kurang tidak sih? Agak aneh tahu…"
"Yeah, memang," sahut Shikamaru, mengangguk. "Ada yang kurang."
"Aku setuju!" timpal Zaku Abumi, cowok kelas dua yang bermain sebagai drummer band mereka dari balik drumnya. Ia memain-mainkan stik drumnya dan melanjutkan, "Kurasa kita butuh keyboardist untuk lagu ini."
"Tapi masalahnya tidak ada waktu untuk mencari personil tambahan," kata Chouji, sang basist.
"Kalian sih, pakai acara ganti-ganti lagu melulu," keluh Naruto, "Alpha dan The Glossy saja sudah mantap dengan lagu-lagu mereka dari jauh-jauh hari."
"Berisik ah, Naruto!" tukas Ino. Darah naik ke wajahnya. "Masalahnya waktu aku lihat list lagu yang bakal dibawakan band-band peserta lain, lagu kita sudah banyak yang memainkan. Enggak seru dong kalau lagu kita sama dengan band lain? Bakal membosankan nantinya…"
Naruto mendecakkan lidah dengan tak sabar. Meski begitu, ia mengakui bahwa yang dikatakan Ino benar.
"Sebenarnya tidak masalah kalau Ino mau memainkan rythem," usul Shikamaru sambil memandang Ino dengan tatapan malas, "Biar Naruto yang memainkan melody, dan aku yang jadi keyboadist. Beres!"
"Sudah kubilang berapa kali aku tidak ingin konsentrasi nyanyiku terbagi dengan main instrument!" sahut Ino keras kepala.
Shikamaru memutar matanya.
"Kalau begitu tidak ada cara lain selain mencari lagu lain," kata Chouji.
"Yeah, benar," timpal Naruto. "Hei, bukankah tadi kau sudah mendaftar pilihan lagu-lagunya? Kita mainkan yang itu saja. Kelly Clarkson atau apalah…"
Wajah Ino kontan memerah. Ia tidak mungkin mengatakan pada Naruto kalau daftar tadi adalah daftar lagu-lagu milik The Glossy yang tertinggal padanya, yang sengaja dipakainya tadi untuk memancing obrolan Naruto dan Sakura. Dengan panik, gadis itu mencoba mengarang alasan, "Um.. sayangnya waktu aku konfirmasi ke The Glossy tadi, sepertinya mereka menggunakan lagu itu juga."
"Haah… aku tidak percaya band senior didului juniornya!" tukas Zaku sebal. "Kalau begini caranya, bagaimana kita bisa memenangkan kompetisi, coba?"
Tampang Ino seperti sudah gatal ingin menjejalkan mike ke mulut cowok itu.
"Break dulu deh," sela Shikamaru. Cowok berkucir itu lantas menurunkan gitarnya dan menyandarkannya di pengeras suara. "Kita akan pikirkan lagi sambil istirahat."
-
-
Beberapa waktu telah berlalu sampai akhirnya anak-anak yang berkumpul di sekretariat klub drama membubarkan diri. Mereka berjalan bersama-sama di koridor sambil mengobrol, membicarakan rencana mereka besok. Kali itu Sakura memberanikan diri untuk lebih terlibat dengan Neji dan yang lain, dan berusaha mengabaikan komentar-komentar menggoda dari anak-anak –yang terkadang masih membuat wajahnya serasa terbakar.
Setelah ini mereka akan sering menghabiskan waktu bersama-sama, pikir Sakura. Tidak mungkin ia selamanya akan bersikap malu-malu kucing di depan cowok itu. Bisa-bisa semua anak benar-benar berpikir Sakura memang naksir Neji –meskipun kenyataannya memang seperti itu.
"Besok jangan sampai terlambat!" seru Tenten mengingatkan teman-temannya sementara mereka berpisah di undakan depan gedung sekolah mereka.
"Oke, Tenten!" seru salah seorang cowok.
"Tidak akan telat, deh!" kata yang lain.
"Sampai ketemu besok kalau begitu!"
Dan mereka pun berpencar. Beberapa anak menuju tempat parkir siswa sementara yang lain menuju gerbang untuk menunggu jemputan atau pergi ke halte bus, termasuk Sakura.
Gadis itu merapatkan jaketnya untuk menahan udara dingin ketika meninggalkan gadung sekolahnya yang hangat. Semakin mendekati musim dingin, suhu udara memang semakin rendah –meskipun tidak sedingin saat salju sudah benar-benar turun, dan saat itu kira-kira tinggal beberapa minggu lagi—Karena alasan itu pula sudah beberapa minggu ini Sakura memilih untuk naik bus alih-alih sepedanya yang biasa sebagai sarana transportasi ke sekolah.
"Mudah-mudahan besok pagi tidak terlalu dingin," kata Neji membuat gadis itu nyaris terlonjak kaget. Entah sejak kapan cowok itu berjalan di sampingnya dengan kedua tangan tenggelam di saku jaket tebalnya yang berwarna putih.
Sakura tidak bisa mencegah rona yang muncul di wajahnya akibat kemunculan tiba-tiba Neji. Ia baru menyadari bahwa semua cowok-cowok kelas tiga menggunakan sepeda. Hanya Neji saja yang rumahnya terlalu jauh untuk ditempuh dengan sepeda, yang naik bus umum.
"Hmm…" Sakura berusaha mengatasi kegugupannya. "Mudah-mudahan saja."
Dan keduanya berjalan beriringan bersama yang lain menuju gerbang utama Konoha High.
-
-
Greeek…
Naruto membuka jendela studio lebar-lebar sehingga udara bersuhu rendah langsung memenuhi ruangan yang pengap itu. Cowok itu menghirup udara dalam-dalam sambil mengacak rambut pirangnya. Terlihat olehnya serombongan anak-anak mulai meninggalkan sekolah. Barangkali anak-anak klub lain, pikirnya sambil memandang bosan ke pemandangan di bawah sana –ruangan studio mereka berada di lantai tiga, omong-omong.
"Sepertinya kita jadi klub yang paling terakhir pulang," keluh Ino seraya turut melongok ke bawah. Bibirnya cemberut.
"Yeah. Apa boleh buat. Kita kan memang selalu menjadi penghuni terakhir sekolah," kekeh Naruto.
"Bukan," kata Ino, nyengir, "Penghuni terakhir gedung ini tentu saja Pak Ebisu yang galak itu."
Naruto tertawa. "Iya benar. Tunggu saja sampai dia menendang kita semua keluar dari sini nanti."
Tertangkap oleh mata mereka kemudian, sosok gadis dengan rambut merah muda panjang baru saja menuruni undakan depan.
"Hei, itu kan Sakura!" seru Naruto sambil menunjuk sosok yang dikenalnya itu. Ia baru saja akan berteriak memanggilnya, tapi dengan cepat mengurungkan niatnya ketika melihat sosok lain menyusul di belakangnya. Sosok cowok jangkung berambut cokelat. Neji Hyuuga.
"Wuah! Sakura dan Neji!" seru Ino sambil mengikik, melihat kedua sosok di bawah sana itu berhenti dan sepertinya mengobrol sebentar sebelum melanjutkan perjalanan menuju gerbang utama. "Sepertinya ada kemajuan.."
Gadis itu lalu melirik cowok di sebelah, dan terkejut sendiri melihat mata biru jernih itu menatap lembut ke arah sosok-sosok di bawah sana. Meski bibirnya menyunggingkan senyum getir.
"Kau tidak apa-apa, Naruto?" tanya Ino cemas.
"Sakura selalu kelihatan gembira setiap kali ada di dekat Hyuuga, kan?" ujar Naruto dengan suara seperti tercekat. Mata birunya masih tidak lepas memandang sosok Sakura yang sedang tertawa di bawah sana. "Kalau dia tersenyum dan tertawa seperti itu, aku rasa aku akan baik-baik saja."
"Naruto…"
Naruto tertawa pahit, mengalihkan pandangannya ke arah Ino. Ia tersenyum. "Aku sudah memikirkannya baik-baik seminggu ini, Ino. Kurasa aku sudah siap melepaskan tanganku dan membiarkannya mendapatkan apa yang benar-benar dia inginkan. Aku sadar kalau persahabatan kami lebih penting dari apa pun. Aku menyayanginya, memang, dan karena itulah aku melepaskannya. Aku tidak ingin dia sampai terluka lagi gara-gara keegoisanku seperti waktu itu." Pandangannya kembali menerawang, dan senyumnya tampak lebih rileks dari sebelumnya. "Apa pun pilihan Sakura, aku akan mendukungnya."
Untuk beberapa waktu, Ino tampaknya tidak sanggup berkata apa-apa. Gadis itu hanya bisa menatap Naruto seakan sedang menatap orang yang sama sekali berbeda. Orang yang jauh lebih dewasa. "Wow… pemikiranmu dewasa sekali. Serasa nonton opera sabun di televisi," komentar Ino akhirnya.
Cengiran lebar khas Naruto langsung menggantikan ekspresi lembut yang tadi. "Itu karena ada tiga orang yang selalu menggerecokiku setiap hari. Kau, Sai dan Sasuke. Aku curiga kalian bertiga bersekongkol supaya kami bisa baikan."
Ino tertawa renyah. "Kurang lebih sih memang seperti itu," gadis itu mengakui. "Habis, sayang banget kalau persahabatan kalian putus begitu saja. Tapi aku tidak tahu kalau Sasuke juga…"
"Sasuke itu orang pertama yang kucurhati. Awalnya dia memaki-makiku," kata Naruto sambil tertawa, mengenang pembicaraannya dengan Sasuke via telepon seminggu yang lalu, "Tapi setelah itu dia sering mengirimkan pesan singkat padaku, mendesakku supaya segera menyelesaikan masalah ini bagaimana pun caranya."
Gadis pirang itu mendengus tertawa, kedua lengannya terlipat di depan dada. "Jadi Sasuke sering menghubungimu?" katanya sambil geleng-geleng kepala. "Sakura memberitahuku kalau Sasuke sama sekali tidak pernah menghubunginya. Curang sekali…"
"Mungkin karena aku telah mengancamnya dengan kutukan bulu hidung," gurau Naruto.
Duo pirang itu lantas tertawa.
"Hei, itu kan anak-anak jurnal!" Ino kemudian menunjuk ke bawah.
Mereka mengenali sosok Sai dalam jaket hitamnya tengah menuruni undakan depan bersama anak-anak jurnal yang lain. Sai bergerak mendahului yang lain menuju gerbang utama sekolah, menyusul Sakura dan Neji.
"Wah wah… Sai mengganggu saja, nih!" kekeh Naruto.
"Oi, jangan ngobrol saja di sana! Ayo mulai lagi latihannya!"
-
-
"Sakura!"
Gadis berambut merah muda itu menoleh dan tersenyum ketika mendapati Sai berlari-lari kecil mendekat. "Sai? Kukira kau sudah pulang duluan."
"Baru selesai pengeditan untuk majalah sekolah edisi bulan depan," beritahu Sai agak terengah. Ia melirik cowok di samping Sakura. "Hai, Neji."
Neji membalasnya dengan anggukan singkat. Ia kemudian melihat adik sepupunya datang dari atas bahu Sai.
"Kakak!" gadis bermata lavender itu bergegas menghampiri kakak sepupunya. "A-Ayah bilang kita hari ini d-dijemput."
"Kenapa?" alis Neji berkerut.
"K-katanya Ayah ingin mengajak k-kita ke suatu tempat," beritahu Hinata.
Tepat saat itu, sebuah jaguar silver berhenti tepat di depan gerbang sekolah. Seorang supir bersetelan jas hitam keluar dari dalam mobil dan menghampiri mereka. "Nona Hinata, Tuan Neji," sapanya sopan sebelum membukakan pintu belakang bagi mereka.
Hinata menggumamkan terimakasih padanya sambil tersenyum sementara Neji tampak agak risih. Kedua Hyuuga itu menoleh pada yang lain. "Kami duluan." Kemudian masuk ke dalam mobil.
Sang supir menutup pintunya, berjalan mengitari mobil dan menjalankan jaguar itu dengan kecepatan sedang sampai akhirnya menghilang di ujung jalan.
"Suasana hatimu hari ini pasti sedang sangat bagus."
Perkataan Sai kemudian membuat Sakura berpaling. Sedari tadi tanpa sadar gadis itu masih memandangi ujung jalan tempat mobil yang membawa Neji dan Hinata menghilang sambil tersenyum.
"Hm?" Sakura mengangkat alisnya. Jelas ia tidak mendengarkan perkataan Sai barusan.
"Hn. Nevermind," kata Sai dengan senyumnya yang biasa.
"Hei, tadi kau ngomong apa?" desak Sakura. Tampaknya gadis itu menjadi sangat penasaran.
"Tidak," sahut Sai, tertawa kecil. "Aku hanya senang bisa melihatmu gembira lagi setelah berhari-hari murung." Nada bicaranya begitu tulus sehingga membuat Sakura merona.
"Kau ini selalu bicara ceplas-ceplos, ya?"
Sai hanya mengangkat bahu sebagai jawaban. Ia terdiam beberapa saat. "Tadinya aku ingin mengajakmu dan Naruto ke suatu tempat hari ini. Tapi Naruto sudah pulang duluan, jadi…" ia menatap Sakura, "..bagaimana kalau kita jalan-jalan sebentar? Hitung-hitung untuk merayakan kembalinya pertemanan kau dan Naruto."
Sakura tersenyum padanya. "Kau ini bisa saja. Memangnya kau mau mengajakku ke mana?"
Sai tampak berpikir sejenak. "Bagaimana kalau ke sekolahku yang lama? Aku sudah pernah janji mengajakmu ke sana, kan?"
Kegairahan mendadak tampak memenuhi gadis itu. "Konoha Art Academy?! Kau serius mau mengajakku ke sana?" Tapi ekpresinya berubah lesu saat ia menyadari sesuatu. "Tapi kan sekarang akhir pekan, Sai."
"Tidak masalah. Justru biasanya di akhir pekan anak-anak menghabiskan waktu sampai malam di sekolah. Apalagi sekarang sudah dekat jadwal showcase." Sai berhenti sejenak. "Um… kau mau, kan? Sekalian aku ingin mengenalkan temanku padamu."
Sakura menatap Sai beberapa saat sebelum kemudian senyumnya merekah dalam antusiasme. Ia menganggukkan kepala.
-
TBC…
-
Disclaimer :
Naruto © Masashi Kishimoto
Carnival © The Cardigans
-
Banyak banget perubahan dari plot semula di chapter ini. Jadinya malah membingungkan gini. Timeline seminggu dalam satu chapter, jadi kesannya agak terburu-buru. –getok diri sendiri- Terus, tadinya scene Sasuke di Oto gak akan ada, tapi dimunculin juga. Habis, katanya ada yang kurang kalo gak ada Sasu. Jadi sekalian aja memperlihatkan gimana sekolah dan teman-temannya di Oto. Dan kegiatan klub Naruto dan kawan-kawan juga, tadinya gak ada. Btw, pada tahu Zaku Abumi, kan? Itu lho, cowok yang tangannya dipatahin Sasuke di ujian chunin. Dia aku masukin jadi drummernya band Ino dkk. ^_^ Sedikit sentuhan NaruHina, SaIno, NejiSaku dan SaiSaku yang gak jelas. Hihi.. XD
M4yura : Ohohoho… berharap pairing apapun boleh kok. Makasih udah setia menunggu.. –halah-
Ambu : Iya ya, Mbu… Saku agak-agak sue di sini. Tapi ya sutralah, udah kadung. Ehehehe.. –ngeles abis-
Aika-chan : Iya, zaman cyber itu zaman modern. ^_^
Uci-chan : Ini update-nya, Uci-chan.. Mudah-mudahan gak mengecewakan.
Shazanamikaze Mystica : Ahahaha… Sasu nyengir cuma di depan ibu-nya aja tuh.
Primrose Violett : Ini udah diupdate… makasih…
Arai-chan : Sasu kenapa jauh dari Saku? Karena udah takdir ? –ditimpuks-
Lawra-chan : Oke deh, Naru-kun emang kasihan. Tapi gak lama-lama…
Furu-chan : Udah update! ^_^
Kakkoii-chan : Ahahaha… Iya tuh, video-nya belum dilihat-lihat ama Sasu-kun. Ah, suka nyiksa Sasu juga yah?
Linlin-chan ^_^ : Ini Sasu nongol lagi, Lin… Dia manja kalo sama ibunya aja sih, kalo di luar mah, angger wae dingin. Wkwkwk.. XD
Tobi-luna : CHA!! Tobi-Luna-chan, reviewnya always lengkap! SaiSaku-ish-nya udah kerasa di bagian akhir-akhir? Ohoho.. jelas Mikoto ibu rumah tetangga (?) sejati. Eta Fugaku kan lagi di kantor, Itachi lagi di Konoha. Fufufu.. Naru-kun emang cinta ama Saku-chan, makanya dia ngelepasin Saku sekarang. –peluk2 Naru-kun-
Uchiha cesa : Waw, fans-nya SasuSaku!! Buku yang dikasih Sasuke ke Sakura, yah? Sebenernya sih cuma novel romance biasa.. ^_^ Masih kejutanlah itu mah..
Imouto-chan : Adeeek~~ tumben gak sms nagih? Kata Mas Wiwit, 'Wa'alaikum salam'. Tuh, mww-nya lagi nginep di kosanku. Numpang nongton tipi. Ehehe… Eh?? Siapa yang ELF –peri-? Legolas? Wkwkwk… Emangnya kalo Suju manggung di Indonesia, kamu dibolehin nonton gitu? –ditimpukin-
Teh Bella : Kalo Sasuke suka ama Sakura, gimana yah?? –bingung juga-
RinMaru HanAmu : Aku juga sebenernya agak risih juga bikin konfliknya. Gak tega sama Naruto-kun. Tapi kan mulai chapter ini mereka memulai lagi persahabatannya dari awal. ^_^ Terus, masalah Sai? Masalah yang mana, yak? –ditampol- iya, ntar bakal dikupas kok..
Makasih sudah membaca sampai sejauh ini, teman-teman… -bowed-
