Chapter 50
Konoha Art Academy rupanya lebih megah dari yang ada dalam bayangkan Sakura sebelumnya. Selama ini, ia hanya melihatnya dari luar atau dari internet –dan itu pun terlihat sangat keren. Dan sekarang, ia berkesempatan untuk melihatnya secara langsung, dan ternyata… jauh lebih hebat dari yang pernah dibayangkannya.
Mulai dari gerbang utama yang megah, mereka langsung disambut pemandangan artistik dari sculpture cantik berukuran besar lambang sekolah itu di tengah-tengah kolam air mancur yang berhadapan langsung dengan gerbang utama. Belum lagi gedung megah bergaya klasik berdinding merah bata di belakangnya. Cantik sekali.
Tampilan depannya saja sudah membuat Sakura terpesona, membuat gadis itu tidak sabar melihat bagian dalamnya!
"Ayo, Sakura!"
Sai kemudian mengajak Sakura masuk, menaiki undakan megah menuju pintu utama gedung itu. Mereka berpapasan dengan beberapa siswa yang sepertinya hendak pulang. Mereka semua mengenakan seragam berupa celana atau rok hitam dengan jas merah marun ber-emblem KAA. Mereka melirik sejenak melihat Sai, kemudian saling berbisik-bisik. Jelas sekali mereka mengenal Sai dan barangkali bertanya-tanya mau apa dia kembali ke sekolah lamanya. Tapi sepertinya Sai tidak terlalu memperhatikan.
Aula depan ternyata lebih hebat dari yang pernah Sakura lihat di internet. Ruangan itu luas dengan langit-langit tinggi dan sebuah kandil kristal cantik di atasnya. Mereka bisa melihat para siswa berlalu lalang di sana sambil saling mengobrol riang. Beberapa membawa instrument musik atau gulungan kanvas. Sakura tidak bisa mengalihkan pandangannya dari sekelompok siswi yang kebetulan melintas di sana. Mereka tengah menyenandungkan melodi dengan memadukan suara mereka, membuat musik indah dengan suara mereka yang jernih dan merdu. Meskipun tampaknya mereka tidak serius, karena saat berikutnya para gadis itu tertawa.
Sakura terlonjak sendiri saat Sai menarik tangannya menuju meja resepsionis.
"Kau dengar mereka tadi, Sai? Suara mereka keren banget, ya…" kata Sakura terkagum pada Sai.
Sai mengerling gadis-gadis yang dimaksud Sakura, lalu tersenyum tipis. "Mereka dari departemen musik, divisi vocal," beritahunya. "Mereka memang yang paling sering melakukan ajang pamer di sini. Menyanyi di mana-mana. Kau akan melihat yang lain nanti." Dari nadanya, sepertinya Sai tidak begitu terkesan—barangkali ia memang sudah terbiasa dengan itu.
Tapi tetap saja kan, bagi telinga awam seperti telinga Sakura, itu terdengar sangat indah.
"Selamat sore, Tuan Sai," sapa salah seorang dari dua wanita berpenampilan anggun yang duduk di belakang meja resepsionis dengan senyum ramah di wajahnya. "Senang melihat Anda lagi. Anda ingin bertemu Profesor Danzou?"
"Ah, tidak. Aku hanya mau menemani temanku melihat-lihat," sahut Sai sambil melambaikan tangan pada Sakura yang berdiri di sampingnya.
"Ah, selamat siang, Nona..."
"Sakura," sambung Sai, "Namanya Sakura Haruno. Temanku di sekolah yang baru."
"Selamat siang," balas Sakura sopan.
Wanita itu tersenyum, begitu juga dengan temannya. "Selamat datang di Konoha Art Academy, Nona Haruno."
"Boleh kami minta brosurnya?" tanya Sai pada kedua resepsionis itu.
Mereka lalu memberikan dua lembar brosur pada Sai. Sakura menunduk memandang brosur yang diulurkan Sai padanya. Terdapat foto-foto gedung, fasilitas dan beberapa kegiatan para siswa di sana, disamping beberapa keterangan singkat tentang sekolah seni itu.
"Kau mau melihat-lihat dari mana dulu?" tanya Sai kemudian pada Sakura.
Oh, kalau bisa Sakura ingin sekali melihat semuanya dalam satu waktu! Tapi mana mungkin, kan? "Terserah kau saja, Sai," sahutnya. Mata zamrudnya berbinar dipenuhi kegairahan.
"Um…" Sai tampak berpikir sejenak sambil membolak-balik brosur di tangannya. "Bagaimana kalau yang paling ujung dulu? Departemen tempatku dulu saat masih sekolah di sini, Visual Art Department?"
"Baiklah!"
Sai kemudian meraih tangan Sakura, membuat gadis itu terkejut ketika Sai menyelipkan jemarinya di antara sela-sela jarinya dan menggenggam tangannya erat. Sakura bisa melihat kedua resepsionis itu mengangkat alis mereka sesaat sebelum Sai menariknya pergi dari tempat itu.
"Aku tidak tahu cucu Tuan Danzou bisa punya pacar…" bisik salah satu resepsionis.
"Dia bilang gadis itu temannya!" kata temannya. Ada nada tidak yakin dalam suaranya.
"Kau bercanda, ya? Tuan Sai kan tidak pernah dekat dengan gadis manapun! Haruno itu pastilah sangat istimewa sampai-sampai Tuan Sai membawanya kemari. Dan kau tadi lihat cara Tuan Sai menggandeng tangannya?"
Keduanya lantas mengikik.
"Sudah, ah. Kalau Tuan Danzou tahu kita membicarakan pewarisnya, kita bisa dipecat, tahu!"
Sementara itu, Sakura yang menyadari tatapan aneh kedua resepsionis tadi menjadi sedikit jengah. "Um… Sai?" panggilnya ketika mereka sedang berjalan di koridor yang agak lengang. Samar-samar, mereka bisa mendengar dentingan piano dari salah satu ruangan tertutup di sana.
"Hn?" Sai menoleh, menghentikan langkah.
Sakura menunduk memandang tangan mereka yang bertaut –atau tepatnya tangan Sai yang mencengkeram tangannya. "Bisakah kau jelaskan maksudnya ini?"
Sai mengerutkan dahi, tampak tidak mengerti. "Maksud apa?"
Sakura menggoyang tangannya yang digandeng Sai. "Menggandengku seperti ini…"
"Oh… Aku sendiri juga tidak begitu mengerti," aku Sai dengan wajah tersipu. Ia menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal dengan tangannya yang bebas. "Tapi aku sering melihat di televisi atau di jalan-jalan, seorang cowok yang memegang tangan cewek di sebelahnya dengan cara seperti ini sementara mereka berjalan bersama. Biasanya cewek itu akan tampak senang." Sai terdiam sejenak, menunduk menatap tangannya yang menggenggam tangan Sakura. "Beberapa hari ini kau kelihatan sedih terus. Aku hanya ingin membuat Sakura senang."
Sakura tercengang mendengar jawaban cowok itu. Selama beberapa saat, tampaknya ia tidak tahu harus berkata apa.
Kemudian Sai mengangkat wajahnya, menatap Sakura dengan ekspresi cemas. "Apa aku melakukan hal yang salah, Sakura?"
"Oh, tidak—tentu saja tidak," sahut Sakura, tertawa canggung. "Hanya saja.. yah, biasanya yang melakukan ini adalah sepasang kekasih –Kau tahu kan? Orang yang hubungannya sudah lebih dari sekedar teman?"
Sai mengerjap. Perkataan Sakura mengingatkannya pada sesuatu. "Maksudmu seperti kau dan Naruto?"
"Eh?"
Sai tersenyum. "Sasuke dan Ino memberitahuku kalau Naruto menganggapmu lebih dari sekedar teman –kurang lebih seperti itu—Apakah itu berarti kalian adalah sepasang kekasih?"
Gadis itu hanya bisa melongo selama beberapa saat. Ia sama sekali tidak menyangka kalau Sai benar-benar… clueless dalam hal seperti itu, benar-benar masih polos. Selain itu, ia tercengang saat mengetahui Sasuke dan Sai sampai membicarakan tentang perasaan Naruto pada Sakura. 'Sasuke! Bagaimana bisa dia membicarakan itu dengan Sai?! Dia bahkan tidak membalas email-email-ku! Oh, aku akan bicara padanya nanti!'
"Tentu saja kami bukan sepasang kekasih, Sai. Aku dan Naruto hanya teman, sahabat… Seperti aku dan kamu," jelas Sakura sabar.
Nampaknya Sai masih belum mengerti benar. Ia melempar pandang bertanya. "Jadi kalau hanya teman, kita tidak boleh bergandengan tangan, ya?"
Sakura tertawa kecil. Ingin sekali rasanya mencubit bibi Sai saking gemasnya ia saat itu. "Bukan begitu… Boleh-boleh saja bergandengan tangan dengan teman… Tapi…" Ah, Sakura juga bingung bagaimana harus menjelaskan. Akhirnya ia melepas tangan Sai dan menggandengnya dengan cara yang biasa, lalu tersenyum. "Begini lebih enak."
"Gandengan ala teman?" tanya Sai.
Sakura menjawabnya hanya dengan tawa kecil. "Bagaimana kalau kita lanjutkan tur-nya?"
"Bolehkan aku menggandeng Naruto atau Sasuke seperti ini?"
"Tidak! Jangan—mereka bisa memukulmu kalau kau melakukan itu. Serius!"
"Begitu, ya?"
"Iya," sahut Sakura sungguh-sungguh, ngeri membayangkan bagaimana reaksi kedua cowok itu kalau Sai berani meng—ah, sudahlah. "Kita lanjutkan?"
"Oh, yeah…"
Sai kemudian memaparkan segalanya tentang sekolah itu pada Sakura sementara mereka menuju Visual Art Departmen—Departemen Seni Rupa.
"Kami memiliki empat Departemen utama," katanya, "Dance, Music, Theatre dan Visual Art. Disamping mata pelajaran seni—sesuai jurusan yang diambil—kami juga mendapat pelajaran-pelajaran umum seperti di sekolah biasa, seperti Aljabar, Kimia, Science, Biologi, Bahasa Asing, Kebudayaan, Sejarah, Olahraga dan lain-lain. Di Departemen Seni Rupa tempatku dulu, ada beberapa divisi; Drawing, Design, Painting dan Sculpture. Di tahun awal, kami mempelajari semuanya, dan baru di tahun kedua kami benar-benar mempelajari yang benar-benar menjadi minat kami. Aku dulunya di Divisi Lukis, sama seperti kakakku."
Gedung itu rupanya berbentuk seperti huruf O, dengan sebuah taman berumput di bagian tengahnya, tempat para siswa bisa menghabiskan waktu dengan duduk-duduk menikmati sinar matahari pada jam istirahat.
"Biasanya tempat ini sangat ramai kalau musim semi. Dan tempat ajang pamer anak-anak," beritahu Sai. "Ah, lihat itu!" ia menunjuk ke arah kolam air mancur tepat di tengah-tengah taman. Tampak para siswa yang sedang ramai berkerumun di sana. "Sepertinya ada yang sedang pamer." Sai lalu mengajak Sakura mendekat untuk melihat lebih jelas.
Rupanya mereka sedang menonton lima orang cowok yang sedang ber-acapela sambil duduk di tepi kolam. Suara cowok-cowok itu berpadu indah menyanyikan 'Here, There and Everywhere' milik The Beatles.
"…I want her everywhere and if she's beside me
I know I need never care
But to love her is to need her everywhere
Knowing that love is to share
Each one believing that love never dies
Watching her eyes and hoping I'm always there…"
Ah, rupanya bukan ajang pamer biasa, pikir Sakura. Karena salah satu dari kelima cowok itu akhirnya berdiri dan berjalan ke arah salah seorang gadis yang menonton –wajah gadis itu merah padam sementara teman-temannya mengikik menggoda di belakangnya—lalu mengulurkan setangkai mawar merah padanya dengan diiringi dengan senyum dan pandangan memohon.
"To be there…
Here, there and everywhere
Here, there and everywhere…"
Anak-anak yang menonton bersorak riuh dan bertepuk tangan. "Terima! Terima! Terima!!" Sementara ada beberapa cowok yang iseng berseru, "Tolak! Tolak! Tolak!"
Sakura tertawa menyaksikan ini. Acara penembakan yang manis, ia membatin. Kalau ia yang menjadi gadis yang ditembak, pastilah hatinya sudah meleleh. Tapi belum sempat ia mendengar jawaban gadis itu, Sai sudah mengajaknya pergi lagi.
"Sudah kubilang kan, anak-anak vocal memang paling suka pamer," kata Sai sementara mereka berjalan ke arah salah satu sisi gedung.
"Tapi kalau pamernya keren seperti itu sih, aku tidak keberatan melihatnya setiap hari!" cetus Sakura sambil tertawa.
Sai tersenyum padanya. "Benarkah? Kalau begitu lain kali aku akan pamer."
Sakura tertawa, lalu memukul lengan cowok itu main-main. "Memangnya kau bisa pamer apa, Sai?"
Sai hanya tertawa kecil. Kemudian keduanya memasuki Departemen Seni Rupa, melintasi koridor beratap tinggi, melewati deretan kelas dan studio. Mereka sempat mengintip salah satu studio tempat beberapa anak sedang duduk melingkar di depan sketsel masing-masing sementara seorang tutor mengawasi pekerjaan mereka. Duduk di tengah-tengah, seorang gadis berpenampilan anggun dengan rambut panjang menjuntai, menjadi model lukisan hari itu.
Sang tutor menoleh ketika melihat mereka dan mengangguk pada Sai. Jelas sekali kalau orang-orang di sana menghormati Sai, termasuk para pengajarnya. Mereka kemudian meninggalkan ruangan itu dan melihat-lihat studio lain, studio design, sculpture dan drawing. Di mana-mana tampak anak-anak berlalu lalang sambil membawa gulungan entah apa—atau benda-benda lain yang Sakura tidak tahu namanya—dan saling mendiskusikan kelas hari itu.
"Memangnya di sini selesai kelas terakhir jam berapa, sih?" tanya Sakura heran, karena hari sudah menjelang sore tapi sekolah itu tampaknya masih penuh saja.
"Oh, tidak tentu," jawab Sai. "Kelas di sini dibagi jadi dua, kelas pagi dan siang. Dan ada kelas tambahan setelah jam resmi kalau kau mau. Belum lagi kelas privat untuk siswa senior dan les-les yang dibuka untuk umum—pengajarnya diambil dari para siswa. Biasanya sekolah baru ditutup malam."
"Wow, kedengarannya asyik sekali," komentar Sakura.
"Karena sebentar lagi akan ada Showcase, mereka biasanya juga memanfaatkan fasilitas sekolah untuk latihan semaksimal mungkin."
"Showcase?"
"Itu semacam ajang pembuktian kebolehan mereka setelah menjalani pendidikan di sini kalau kau sudah menjadi murid senior. Salah satu bagian dari ujian akhir juga. Biasanya, orang-orang penting dari dunia seni akan datang –kau tahu kan, semacam produser musik atau orkestra, kolektor, petinggi-petinggi dari Professional Dance Company dan macam-macam—dan kalau kau beruntung, mereka bisa memberimu pekerjaan setelah lulus. Atau beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di universitas."
"Keren sekali…" gumam Sakura.
Mereka kemudian menyusuri koridor panjang menuju Departemen Musik.
"Departemen dengan divisi terbanyak," kata Sai, "Mulai dari intrumen sampai vocal. Bermacam-macam aliran, mulai dari klasik sampai rock ada. Ada Orchestra juga."
Sakura mengedarkan pandangannya berkeliling dengan bergairah. Di mana-mana, tampak anak-anak berlalu lalang dengan membawa berbagai alat musik dan buku partitur. Dan mereka juga bisa mendengar suara berbagai macam alat musik setiap kali mereka melewati kelas-kelas tertentu. Piano, gitar, cello, biola, perkusi dan macam-macam lagi. Suaranya begitu menggoda Sakura untuk berhenti dan mengintip ke dalam. Tapi Sai keburu menarik tangannya.
"Ada seorang teman yang ingin kukenalkan padamu. Dia siswa pertukaran dari Suna School of the Art," kata Sai.
Mereka akhirnya berhenti di depan sebuah ruangan seperti studio musik yang letaknya paling ujung. Alunan melodi biola yang dinamis terdengar dari dalam. Sai membuka pintunya sedikit dan tampak seorang cowok berambut merah sedang menggesek biolanya dengan penuh semangat sementara teman-temannya mengiringinya dengan alunan band. Sakura mengenali melodi itu, 'Toss The Feathers'. Beat dari drum yang menghentak berpadu harmonis dengan gesekan biola yang dimainkan dengan apik oleh sang violinist, membuat siapapun yang mendengarnya ingin bergoyang mengikuti iramanya yang cepat.
Namun sayang sekali musik itu segera berakhir.
"Bravo!" seru Sai sambil bertepuk tangan.
Para personil band itu menoleh dan cowok berambut merah yang tadi memainkan biola tersenyum dan menyapanya, "Sai!"
Sai membuka pintunya lebih lebar, berjalan masuk melewati Sakura dan menyalami temannya. "Yang tadi itu keren sekali, Gaara."
"Kami sedang latihan untuk festival band nanti," Gaara melambaikan tangannya pada teman-teman personil band-nya, "Tapi karena vocalist-nya sedang sibuk latihan untuk Showcase, jadi hanya kami yang latihan. Omong-omong, kau tidak bilang akan kemari."
"Memang tidak ada rencana kemari," sahut Sai. Ia melirik Sakura yang berdiri agak di belakangnya. "Aku sedang mengantar seorang teman melihat-lihat KAA. Kenalkan, ini temanku dari Konoha High, Sakura Haruno."
Sakura lantas tersenyum sopan sambil mengulurkan tangannya pada Gaara. "Hai, aku Sakura Haruno. Salam kenal."
Gaara menyambut uluran tangannya. "Aku Gaara Sabaku. Salam kenal, Sakura."
"Jadi.. kau ikut band juga?" tanya Sai.
"Yeah. Untuk mengisi waktu luang," sahut Gaara. Ia berbalik untuk menaruh kembali biolanya di tempatnya, lalu menutupnya. Ia mengambil botol air mineral. "Band lebih mengasyikan dari kelas Orchestra."
Sai tertawa. "Kalau begitu kau harus bersiap-siap, Gaara. Sekolah kami juga akan mengikuti festival itu."
Gaara mengambil waktu untuk menenggak airnya. Ia mendengus. "Kami tidak akan kalah," sahutnya percaya diri sambil menutup botol di tangannya dan dimasukannya kembali ke dalam tas. "Latihannya sudah selesai, kan? Aku ada perlu lain soalnya," kata Gaara pada salah satu teman band-nya.
"Yeah. Kita lanjutkan besok saja," sahut temannya sambil memasukkan gitar ke tempatnya. "Tidak ada gunanya berlatih tanpa Shion."
"Itulah repotnya kalau punya vocalist yang sudah senior," gumam yang lain. "Showcase lebih penting."
"Apa boleh buat, kan? Tidak ada anak dari divisi vocal yang mau gabung. Mereka lebih senang bersolo…"
"Kalian mau kemana lagi setelah ini?" Gaara bertanya pada Sai dan Sakura setelah mereka meninggalkan studio.
"Mungkin ke Departemen Tari. Kami belum ke sana," sahut Sai. Sakura mengangguk.
"Oh, kalau begitu kita bisa sekalian. Aku juga mau ke sana," kata Gaara.
Departemen Tari letaknya tepat di seberang Departemen Musik kalau kau lewat taman tengah, di sisi yang lain gedung itu. Departemen itu lebih didominasi siswa perempuan –dan mereka semua tampak memesona dengan postur langsing dan pembawaan gemulai khas penari. Tidak heran kalau cowok-cowok dari departemen lain senang pergi ke sana sekedar untuk cuci mata –atau kalau beruntung, mereka bisa mendapatkan teman kencan di sana. Setidaknya, itulah yang dikatakan Gaara pada mereka.
"Jadi kau ke sana juga ingin mencari teman kencan, Gaara?" tanya Sai dengan polosnya.
Gaara tertawa kecil. "Tentu saja tidak. Aku sudah berjanji menemui seseorang, juniorku dari Suna yang pernah kuceritakan padamu."
"Oh, kau sudah menemukannya kalau begitu?"
"Ya. Ternyata dia tidak terlalu jauh."
Sakura memperhatikan, ruangan-ruangan di sana jauh lebih luas dari ruang kelas yang ia lihat sebelumnya. Hanya ada beberapa ruangan yang berupa ruang kelas biasa dengan meja dan bangku, tapi sebagian besar adalah studio-studio dengan ukuran besar, dengan kaca besar di salah satu dindingnya dan pegangan. Sakura hanya pernah melihat yang seperti itu dalam film bertema dance yang pernah ditontonnya. Melihatnya secara langsung membuatnya terpesona, terutama saat melihat para siswa yang sedang berlatih balet di salah satu ruangan dengan diiringi musik klasik yang indah.
Gadis itu nyaris saja terpisah dari kedua cowok itu saking asyiknya melihat-lihat kalau saja Sai tidak memanggilnya.
Mereka kemudian berhenti di depan salah satu studio. Mereka bisa melihat dari pintu kaca di studio yang luas itu, sekelompok siswa –perempuan dan laki-laki—sedang berlatih di dalam. Kali ini bukan musik klasik yang terdengar mengiringi mereka, melainkan musik beat modern dengan sedikit sentuhan hip hop. Dan tari yang dimainkan bukan murni balet klasik seperti yang mereka lihat di kelas-kelas lain, tapi seperti percampuran antara balet dan tari modern yang gerakannya lebih dinamis.
Salah satu gadis di antara para dancer itu sudah melihat mereka. Gadis itu tersenyum, melambaikan tangannya sekilas sebelum kembali berkonsentrasi pada latihannya.
"One, two, three, four, five, six, seven, eight—an-one, two…"
Mereka bergerak mengikuti instruksi salah seorang dari mereka, seorang gadis cantik berambut panjang berkucir yang sepertinya adalah lead-dancer di kelompok itu. Mereka melakukan gerakan penutup tarian itu sebelum akhirnya berhenti bertepatan dengan berakhirnya musik pengiring.
"Oke. Bagus sekali, teman-teman!" seru sang lead-dancer diiringi tepukan tangan dari para dancer-nya sementara mereka membubarkan diri. "Dua hari lagi kita akan melatih gerakan sesi selanjutnya!" serunya sebelum ia berbalik menuju bangku tempat tasnya diletakkan, lalu menuju ruang ganti.
Dancer yang tadi melambai pada mereka sekarang berlari-lari kecil ke arah pintu. Gadis itu mengenakan kaus longgar tanpa lengan dipadu dengan celana ketat hitam sebatas betis. Keringat mengalir deras di pelipis dan lehernya. Napasnya agak terengah.
"Maaf menunggu. Sudah lama?" tanyanya pada Gaara sambil menyeka keringatnya dengan handuk kecil yang dibawanya. Rambutnya yang pendek berwarna cokelat muda agak berantakan karena gerakan tarinya tadi.
"Baru saja. Kau sudah bertemu Sai?" Gaara menunjuk Sai.
Gadis itu menoleh pada Sai, tersenyum padanya. "Cucunya Profesor Danzou yang pindah ke Konoha High, kan?" Ia mengulurkan tangannya. "Ceritamu sangat terkenal di sini. Aku Matsuri."
"Sai," balas Sai sambil menjabat tangan gadis berperawakan mungil itu. "Dan ini Sakura, temanku dari Konoha High."
"Hai." Giliran Sakura yang menjabat tangan Matsuri.
"Tunggu di dalam saja, yuk," kata Matsuri mempersilakan ketiga orang itu masuk ke dalam studio. "Aku mau ganti baju dulu sebentar," ia menambahkan pada Gaara sebelum melesat mengambil tasnya dan menyusul teman-temannya ke ruang ganti.
Cowok itu mengangguk, lalu duduk di salah satu bangku kosong yang baru saja ditinggalkan para penari cowok, meletakkan tas biolanya di bangku kosong di sampingnya. Hanya ada beberapa siswa yang masih tinggal di sana untuk melatih beberapa gerakan yang belum fasih, tampak tidak terganggu dengan kehadiran orang asing di sana. Paling hanya beberapa gadis yang mengikik dan menunjuk-nunjuk ke arah Gaara –yang memang berpenampilan cool.
Sakura memandang berkeliling. Ruangan itu sangat mengesankan. Ukurannya hampir sama dengan gymnasium di sekolahnya, hanya sedikit lebih kecil dan tanpa bangku tribun, ring basket dan garis-garis di lantainya terbuat dari kayu berpelitur. Plus, dinding gymnasium sekolah mereka tidak dilapisi cermin, juga loker di salah satu sisi ruangan, dan jelas tidak akan ada sebuah grand piano seperti yang ada di ruangan itu.
"Tempat ini sangat hebat," desah Sakura pada Sai sementara mata zamrudnya mengawasi anak-anak yang baru saja keluar dari ruang ganti, sudah mengenakan seragam mereka yang biasa –jas merah marun dan celana atau rok hitam.
"Terakhir kali masuk ke ruangan ini, waktu mengikuti kelas dansa," kata Sai.
"Kau belajar dansa juga?" tanya Sakura antusias seraya mendudukkan diri di sebelah Sai.
"Hn," Sai mengangguk. "Soalnya kami sering menyelenggarakan acara amal atau semacamnya yang ada acara dansa-dansa-nya. Mereka—para guru—menginginkan kami setidaknya tahu cara berdansa. Apa di SSA juga diajari pelajaran semacam itu, Gaara?" Sai menanyai Gaara.
"Yeah.. Pelajaran wajib. Meskipun, yah—aku masih agak canggung kalau berdansa," Gaara mengakui. Seringai tipisnya mengingatkan Sakura akan Sasuke. "Bukan pelajaran kegemaranku. Untungnya tidak diwajibkan lagi di tingkat dua."
"Kau bisa dansa apa, Sai?" Sakura bertanya. Meskipun agak susah membayangkan Sai yang sehari-hari tampak canggung dan kaku ini bisa berdansa, tetap saja Sakura penasaran.
"Hm… waltz… tanggo… sedikit salsa…"
"Wow! Ino juga bisa salsa. Dia jago sekali menari," kata Sakura. "Hah.. kalau saja dia bisa melihat ini, dia pasti tercengang."
"Gaara!" gadis berambut pirang panjang yang baru saja keluar dari ruang ganti berjalan mendekati mereka. Sakura mengenalinya sebagai lead-dancer yang memimpin penari-penari yang tadi. Gadis itu sangat cantik, agak mirip Ino hanya saja memiliki garis wajah yang lebih lembut dan warna mata ungu cerah alih-alih biru. "Latihannya sudah selesai?" gadis itu bertanya pada Gaara.
Gaara mengangguk. "Sudah. Tapi besok kita ada latihan lagi. Kau harus datang kali ini, Shion."
Gadis bernama Shion itu melempar pandang menyesal. "Sori banget, ya. soalnya Showcase ini sangat penting untukku. Kau kirimkan saja daftar lagu yang akan kita bawakan nanti via email yang kemarin. Oke?"
Gaara menghela napasnya. "Baiklah."
Shion tersenyum manis padanya. "Trims, ya. Sekarang aku harus pergi. Orangtuaku mengajak makan malam di luar hari ini. Sampai ketemu besok kalau begitu, Gaara!" Gadis itu pun berbalik dan melenggang pergi meninggalkan studio bersama teman-temannya—yang sempat melempar pandang tertarik ke arah Gaara.
"Kukira vocalist kalian dari divisi vocal," ujar Sai heran.
"Jangan remehkan dia. Suaranya sangat bagus," seringai Gaara.
Tepat saat itu, Matsuri muncul dari arah ruang ganti. Ia sudah mengenakan seragamnya dan tas olahraga tersampir di bahunya. Rambut cokelatnya yang pendek juga sudah dijepit rapi. "Kita pergi sekarang?" tanyanya kepada Gaara.
"Oke." Gaara kemudian berdiri dan menyampirkan lagi tas biolanya ke bahu.
Kemudian mereka meninggalkan studio itu. Gaara dan Sai berjalan agak di depan, mengobrol dengan suara rendah sementara Matsuri dan Sakura di belakang mereka.
"Jadi…" Sakura memulai sambil melirik Matsuri, "..kalian biasa latihan sampai sore begini?"
"Oh, tidak juga kok," gadis Suna itu menyahut. "Ini hanya karena kami dimintai tolong oleh Shion untuk menjadi dancer-nya untuk Showcase nanti."
"Jadi kau tidak ikut Showcase itu?" Sakura memandang gadis di sebelahnya itu keheranan.
Matsuri tertawa kecil. "Aku masih junior, belum saatnya ikut Showcase. Barangkali kalau aku di sekolah umum, dihitungnya masih kelas satu." Ia menarik napas panjang. "Tapi ditawari jadi dancer untuk Showcase juga pengalaman yang luar biasa. Hitung-hitung sebagai latihan sebelum ikut Showcase yang sesungguhnya, kan?"
"Benar juga, ya…" Sakura tersenyum.
Mereka berpisah dengan Gaara dan Matsuri di aula depan. Sai ingin memperlihatkan satu tempat lagi pada Sakura sementara Gaara dan Matsuri akan pergi ke Konoha City Square untuk makan malam bersama sambil membicarakan masa lalu—setidaknya itu menurut pengakuan keduanya yang entah mengapa sama-sama merona.
"Yang terakhir, Departemen Teater, kan?" tanya Sakura setelah Gaara dan Matsuri pergi.
Sai menggeleng sambil tersenyum tipis. "Departemen itu tempatnya terlalu membosankan," ujarnya, "Tapi aku akan memperlihatkan tempat lain yang lebih menarik. Ayo." Cowok itu lalu menarik tangan Sakura dan membawanya naik ke tangga utama menuju lantai dua di gedung utama itu.
Awalnya Sakura mengira ia akan melihat kelas-kelas atau studio-studio lain, tetapi bukan itu yang dilihatnya sekarang. Melainkan sebuah ruangan luas seperti sebuah museum—museum seni tepatnya. Karena ruangan itu dipenuhi oleh berbagai macam benda-benda seni; sederet lukisan dengan berbagai macam aliran, patung-patung tanah liat dan banyak benda-benda cantik lain.
"Ini adalah gallery kami. Tempat pameran, terutama untuk anak-anak dari Departemen Seni Rupa, dalam showcase," Sai menjelaskan, "Aku ingin memperlihatkan sesuatu padamu, Sakura. Ayo ikut aku."
Sai membawanya ke salah satu sisi ruangan, ke tempat di mana sebuah lukisan berukuran besar terpajang. Sakura terperangah. Bukan karena itu adalah lukisan paling memesona yang pernah dilihatnya, tapi karena objek dalam lukisan itu mengingatkannya pada seseorang –hanya saja tampak lebih cantik dari aslinya.
"Ini… Ino?"
"Awalnya kukira juga begitu," gumam Sai.
Sakura menoleh pada Sai. "Bagaimana lukisan Ino bisa ada di sini, Sai?" ia bertanya keheranan.
Sai mengangkat bahu. "Mendiang kakakku yang melukisnya. Tapi… aku agak ragu kalau yang dilukisnya adalah Ino. Meskipun yah… dia sangat mirip dengan lukisan ini."
Sakura kembali mengalihkan perhatiannya pada lukisan bertitel "Sang Bidadari" di depannya itu, memandanginya dengan lebih teliti. Sapuan kuas yang membentuk rambut pirang itu tampak seperti nyata, begitu juga dengan sepasang mata berwarna sapphire itu, raut wajah itu. Memang sangat mirip dengan Ino. Sakura tersenyum, sekarang ia paham mengapa Sai tampak sangat terkejut ketika bertemu pertama kali dengan Ino. Bukan karena naksir –seperti yang dipikirkannya semula—tapi karena kemiripannya yang luar biasa dengan lukisan kakaknya.
"Shin sangat mencintai objek lukis-nya ini," ujar Sai, "setidaknya itulah yang dikatakannya dulu…"
"Kakakmu mencintai Ino?" Sakura terkejut.
Sekali lagi Sai mengangkat bahunya. "Entahlah. Aku sedikit ragu itu Ino atau gadis lain. Kalau itu memang Ino, dia pasti mengenal Shin. Lagipula, gadis berambut pirang dan bermata biru bukan cuma Ino."
"Benar juga, ya." Dan setelah diingat-ingat, Ino memang tidak punya kenalan cowok dari KAA. Hanya seorang cowok misterius tidak dikenal yang selalu mengiriminya setangkai mawar putih dulu—tapi Sakura ragu apakah cowok itu siswa KAA atau bukan.
Gadis itu menoleh ketika didengarnya Sai tertawa kecil. "Sebetulnya.. itulah alasanku pindah ke sekolah umum. Supaya lebih leluasa mencari gadis ini—yang katanya memang seorang siswi sekolah umum di Konoha. Tapi…" ia menghela napas, "…semua itu sudah tidak penting lagi. Aku sudah tidak peduli lagi itu akan kembali atau tidak. Aku sangat bahagia dengan keadaanku yang sekarang."
Sai menoleh saat merasakan Sakura meraih tangannya dan menggenggamnya lembut. Gadis itu tersenyum padanya. "Yeah, kau benar," ujarnya. "Tapi kalau itu memang benar Ino, apa yang akan kau lakukan, Sai?"
Cowok itu tampak berpikir. "Mungkin… aku akan mengatakan padanya tentang perasaan Shin yang belum sempat tersampaikan padanya. Kalau Shin telah jatuh cinta padanya—" kata-katanya terhenti dan sekarang Sai menatap Sakura dengan pandangan ingin tahu, "Omong-omong, aku tidak tahu bagaimana rasanya jatuh cinta itu. Bisa kau jelaskan padaku bagaimana rasanya, Sakura?"
"Eh?" gadis itu terkejut karena tiba-tiba ditanya seperti itu. Pertanyaan yang benar-benar membuat keki. Wajahnya mendadak memanas. Ia lalu tertawa gugup. "Kau akan tahu kalau kau merasakannya sendiri, Sai."
Sai mengeluh pelan. "Shin juga bilang seperti itu padaku dulu," katanya. "Aku hanya ingin tahu bagaimana tepatnya—" cowok itu menatap Sakura, menunggunya mengatakan sesuatu. Sepertinya ia memang benar-benar penasaran.
Tercabik antara perasaan geli dan malu –karena membicarakan topik ini membuatnya teringat akan Neji—akhirnya Sakura membuka mulutnya. "Bagaimana, ya? Um…" Sakura benar-benar bingung harus memulai dari mana. "Biasanya… kau akan merasakan berdebar-debar saat berada di dekatnya, tapi anehnya terasa sangat menyenangkan. Dan… kau akan berharap bisa melewatkan waktumu bersamanya. Kurang lebih seperti itu."
"Oh, begitu," gumam Sai pelan seraya mengangguk-anggukkan kepalanya. Keduanya berdiri di sana selama beberapa waktu lagi, memandangi lukisan Shin. "Aku mau menunjukkan padamu satu tempat lagi," ajak Sai kemudian.
Sakura menghembuskan napas panjang, lega bukan kepalang karena Sai tampaknya tidak berminat memperpanjang pembicaraan yang membuat muka memanas itu.
Mereka kemudian meninggalkan gallery dan menuju sebuah koridor luas dengan papan nama di atasnya, 'KAA Centre for the Performing Arts'. Ada dua buah pintu ganda yang saling berhadapan di koridor itu.
"Ini adalah tempat pertunjukan kami," beritahu Sai, "Showcase, pertunjukkan amal, recital, pemutaran film, seminar, semuanya dilakukan di sini. Yang sebelah sana adalah teater tempat pertunjukan tari, teater dan film," Sai menunjuk pintu di sebelah kanan, "Dan yang satunya adalah teater untuk pertunjukan musik," ia menunjuk pintu yang sebelah kiri. "Anak-anak Teater juga sering menggunakan tempat ini. Biasanya jam segini mereka masih latihan untuk drama Showcase."
Sai kemudian berjingkat untuk mengintip dari jendela kecil di pintu sebelah kanan. "Mereka masih di dalam. Kau mau menonton mereka?"
Sakura mengangguk antusias. Sai kemudian mendorong pintu yang tampaknya berat itu dan mempersilakan Sakura masuk terlebih dahulu sebelum ia menyusulnya. Ruangan itu lebih luas dari yang Sakura kira sebelumnya, kira-kira bisa menampung sampai lima ratusan orang, dengan deretan bangku penonton yang bersusun menurun sampai di depan bibir panggung yang berbentuk oval di depan. Seluruh permukaan dindingnya dilapisi lapisan kedap suara berwarna merah marun.
Mereka bisa melihat beberapa orang di atas panggung dan sisanya yang lain duduk di bangku penonton, dan kesemuanya tampak serius—saking seriusnya sampai-sampai mereka seperti tidak memedulikan ada orang yang masuk. Seorang pria berbadan besar yang duduk di bangku penonton –sepertinya adalah tutor di kelas itu—memberikan instruksi-instruksi dan komentar menyengat dengan suara menggelegar pada mereka yang sedang berada di panggung.
Sakura tidak tahan untuk nyengir. Ia teringat pada Sasuke saat cowok itu melatih Naruto sepak bola beberapa bulan yang lalu. Saat itu komentar-komentar Sasuke pada permainan Naruto sama sadisnya dengan komentar sang tutor di bawah sana.
Sai kemudian mengajaknya duduk di salah satu bangku paling atas. "Ada tiga divisi di Departemen Teater," ujar Sai dengan suara rendah, "Divisi Teater, Produksi Panggung dan Produksi Film. Untuk showcase, biasanya anak-anak teater bekerjasama dengan anak-anak produksi panggung untuk membuat drama seperti ini, sebagian lagi bekerjasama dengan anak-anak produksi film, membuat film di luar sekolah."
"Seru banget…" bisik Sakura takjub.
"Yeah…" sahut Sai setuju, "Kakakku sering mengajakku menonton latihan atau syuting mereka kalau ia sedang bosan. Atau menonton kelas Orchestra di ruangan sebelah."
"Hmm…" gumam Sakura tidak jelas. Ia terlalu asyik memperhatikan kegiatan di bawah sana, di atas panggung. Ya, teater selalu membuatnya tertarik sampai-sampai tidak memperhatikan sekelilingnya. Walaupun itu hanya latihan saja dan bukan pertunjukkan yang sesungguhnya. Tapi dengan melihat bagaimana setting-nya yang sudah seperti setting pertunjukan sungguhan dan permainan para siswa-nya yang memang sudah terbiasa berakting, Sakura sudah cukup puas.
Dan satu lagi… Sakura memang sangat menyukai sandiwara 'Romeo and Juliet' karya William Shakespeare yang sedang mereka mainkan.
-
-
Semburat kemerahan tanda senja sudah mulai turun muncul di langit Konoha ketika Sakura dan Sai akhirnya meninggalkan kampus KAA. Sebelum pulang, mereka memutuskan untuk mampir di kedai nasi daging panggang yang terletak tidak jauh dari sana. Kedai bernuansa tradisional Korea itu disebut-sebut sebagai kedai yang menjual nasi daging panggang yang paling enak seantero Konoha, setidaknya itu menurut Sai. Dan sebagian besar meja-meja di sana dipenuhi oleh anak-anak berseragam KAA.
"Shin dulu sering mengajakku makan di sini kalau kami sama-sama pulang sore," suara Sai mengalihkan perhatian Sakura dari dua cowok berseragam KAA –sepertinya mereka kembar—yang sedang berduet dengan biola masing-masing di salah satu meja. "Dia suka sekali nasi daging panggang."
Sakura menanggapinya dengan senyum lemah. Ini sudah kesekian kalinya ia mendengar Sai membicarakan mendiang kakaknya. "Kau pastilah sangat merindukan dia."
"Sangat," Sai bergumam, pandangannya menerawang.
"Aku juga sangat merindukan kakakku," ujar Sakura. "Yah, meskipun kami sering sekali bertengkar dan tidak akur seperti kau dan kakakmu," ia menambahkan seraya tertawa kecil mengingat saat-saat itu. "Sepertinya kita memang banyak persamaan ya, Sai. Kita sama-sama suka seni, sama-sama ditinggal kakak…"
"Dan makam kakak-kakak kita berdekatan," sambung Sai, tersenyum. "Sepertinya kita memang berjodoh."
Sakura membalas senyum cowok itu. "Yeah, benar…" ujarnya.
Keduanya terdiam setelah itu. Alunan Pachelbel Canon in D yang dimainkan oleh duo kembar dari bangku tak jauh dari mereka memenuhi kedai mungil itu. Sepertinya anak-anak KAA memang sering mengadakan live concert cuma-cuma di sana, karena semua orang tampaknya sudah tidak aneh lagi. Alunannya yang lembut membuat Sakura merasa ia sedang berada di salah satu restoran Prancis di Konoha City Square alih-alih hanya di kedai makanan tradisional sederhana.
"Terimakasih sudah mengajakku ke KAA hari ini, Sai. Aku senang sekali…" ucap Sakura kemudian.
"Sama-sama," Sai membalas. "Aku senang kalau kau menikmatinya."
"Tentu saja aku menikmatinya," balas Sakura tulus.
Tak lama kemudian seorang pelayan datang membawakan pesanan mereka. "Maaf sudah menunggu lama," ujarnya sambil menaruh dua mangkuk berisi nasi daging panggang dan dua cangkir teh hijau hangat di meja mereka, lalu meminta diri.
"Kelihatannya enak. Selamat makan!" Sakura lalu mengeluarkan sumpit dari tempatnya, mengambil sepotong daging beraroma lezat itu dan menggigitnya. Baru satu gigitan, tapi bumbu oriental khas Korea langsung menyebar di mulutnya, belum lagi tekstur dagingnya yang lembut. Tidak heran kalau Sai menyebutnya sebagai yang terenak… "Whoa, lezat sekali!" seru Sakura sambil menyumpit nasi dan kimchi. "Lain kali aku akan mengajak Ino kemari. Ini favoritnya!"
-
-
"Seharusnya kau tidak perlu mengantarku sampai ke rumah, Sai." Sakura menatap Sai tidak enak setibanya mereka di depan rumah Sakura di Blossoms' Street. Sai sengaja mengantarnya sampai ke rumah naik bus, padahal arah rumah mereka berlawanan. Ditambah lagi, saat itu langit sudah gelap.
"Aku pernah baca di buku, laki-laki tidak seharusnya membiarkan teman perempuan mereka pulang sendirian, apa lagi kalau sudah malam begini," kata Sai menjawab ringan sambil mengangkat bahu. Kedua tangannya tenggelam di saku jaket.
Sakura tertawa seraya menyelipkan anak rambut ke belakang telinganya. "Jadi kau hanya mengikuti apa kata buku?"
"Apa itu salah?" Sai balik bertanya dengan alis terangkat.
"Tidak," kekeh Sakura, "Mengantar seorang gadis pulang, itu perbuatan yang sangat manis, Sai. Tentu saja tidak salah. Thanks, ya."
"Sama-sama."
"Kalau begitu sebaiknya kau pulang sekarang, Sai," kata Sakura seraya mengerling arloji di pergelangan tangan kirinya. "Jangan sampai kau kemalaman sampai rumah."
Dan setelah saling mengucapkan selamat malam, Sai berbalik pergi. Sakura masih mengawasinya dari sana sampai akhirnya cowok itu menghilang di belokan menuju halte bus terdekat. Sakura menarik napas dalam-dalam, merasakan udara malam yang sejuk segar merasuk dalam paru-parunya. Sungguh hari yang menyenangkan, ia membatin. Berbaikan dengan Naruto, jalan-jalan ke KAA dengan Sai dan bertemu orang-orang yang menarik. Tidak ada yang membuat harinya sesempurna itu setelah sepanjang minggu terus-menerus dirundung perasaan sedih.
Barangkali tidak akan begini kalau saja Sai tidak mengajaknya tadi, dan Sakura benar-benar berterimakasih untuk itu. Sekarang ia yakin sepenuhnya kalau Sai benar-benar teman yang manis. Beruntung sekali gadis yang akan menjadi kekasihnya nanti, pikirnya
Sakura kemudian berbalik, berjalan memasuki jalan setapak menuju undakan depan rumahnya. Lampunya masih belum dinyalakan. Ibunya pasti belum pulang. Sakura mengerling arlojinya. Mungkin sebentar lagi, ia membatin seraya merogoh tasnya dan mengeluarkan kunci cadangan miliknya.
Sakura segera menyalakan lampu depan begitu ia masuk. Ia melempar tas dan jaketnya ke sofa di ruang keluarga sebelum menuju dapur untuk mengambil air. Ia mengerling bak cuci piring dan mengernyit begitu melihat peralatan makan bekas sarapan tadi pagi masih teronggok di sana, belum dicuci. Biasanya ibunya selalu memastikan rumah dalam keadaan bersih sebelum pergi ke restoran. Ia tidak akan meninggalkan piring kotor begitu saja di bak cuci piring, pikir Sakura heran.
Aneh…
Sakura lantas meletakkan gelasnya di meja konter, menggulung lengan kausnya dan mulai mencuci semua peralatan makan kotor itu. Setelah selesai, ia menaruhnya di rak.
Beberapa saat kemudian terdengar bunyi dering telepon dari ruang keluarga. Sakura buru-buru mengeringkan tangannya sebelum bergegas meninggalkan dapur.
"Halo?" sapanya.
Terdengar suara Ayame di seberang, "Sakura? Ini Ayame. Ibumu sudah pulang?"
Sakura mengernyitkan dahinya. "Belum. Bukannya jam segini ibu masih ada di restoran?"
"Tidak tuh. Dia sudah pulang dari sore tadi."
"Sudah pulang dari sore?" kernyitan Sakura bertambah dalam. "Tapi dia belum sampai di sini."
"Aneh. Dari tadi aku telepon ke rumah juga tidak ada yang mengangkat."
"Kenapa tidak telepon ke ponselnya saja, Aya?" usul Sakura.
"Masalahnya aku meneleponnya juga mau memberitahu kalau ponselnya tertinggal di restoran," kata Ayame. "Ya sudah deh. Besok saja aku kembalikan ponselnya. Bye, Sakura.."
'Ibu kemana, sih?' Sakura membatin setelah Ayame mematikan sambungan. Gadis itu mengetuk-ngetukkan jari di dagunya, mencoba mengira-ngira di mana ibunya sekarang berada. 'Aneh… Biasanya Ibu selalu memberitahuku kalau mau pergi-pergi. Ah, nanti saja aku tanya kalau Ibu sudah pulang.' Dan dengan pikiran seperti itu, Sakura menyambar jaket dan tasnya dari sofa dan berbalik menuju kamarnya di lantai dua.
Azami masih belum pulang ketika Sakura akhirnya melangkah keluar dari kamar mandi. Rambut merah mudanya yang basah dililit handuk dan ia sudah mengenakan kostum tidurnya berupa celana flanel panjang yang sudah agak lusuh dan kaus supergombrong. Sakura mengintip ke jendela kamarnya dan menunggu sejenak kalau-kalau mobil ibunya muncul dari ujung jalan. Tapi setelah beberapa menit, ibunya belum juga menunjukkan tanda-tanda akan segera pulang. Menyerah, akhirnya Sakura menutup jendela kamarnya.
Sakura menghempaskan diri ke kasur seraya menghembuskan napas keras-keras. Mata hijaunya menerawang menatap langit-langit kamarnya yang dicat merah muda pucat, pikirannya kembali melayang ke ibunya. Namun kemudian ia memutuskan barangkali ibunya sedang keluar dengan temannya, bersenang-senang –hal yang memang sangat dibutuhkannya semenjak suaminya meninggal.
Ah, sebaiknya ia tidur saja.
Gadis itu baru saja bangkit untuk menaruh handuknya ketika tertangkap oleh sudut matanya, notebook yang tadi sempat dinyalakannya sebelum pergi mandi dan belum dimatikan. Sakura membuka lilitan handuknya dan berjalan menuju meja belajarnya. Betapa terkejutnya ia ketika melihat ada pesan instan yang masuk, dan lebih terkejut lagi melihat siapa yang mengirimkannya.
Sasuke, dan statusnya masih online.
-
TBC…
-
Disclaimer :
Naruto (c) Masashi Kishimoto
Here, There and Everywhere (c) The Beatles
-
Ada sedikit perubahan dari versi awalnya, dan hasilnya tetap saja abal. Hiksu…
Thanks to : Aika-chan, uci-chan, Furu-chan, Lawra-chan, Linlin-chan, Ambu, Kakkoii-chan, Uchiha Cesa, Arai-chan, M4yura, Imouto-chan, Hikari Akabara dan semuanya yang udah baca!! -peluk-peluk semuanya sekaligus- Uh.. enggak muat yak. Hihihi…
Wah, banyak yang nanyain Sakura jadinya sama siapa nih? ^_^ Sebenernya enggak terlalu jadi masalah juga Sakura jadian sama siapa nantinya, karena romance bukan menu utama di sini (tapi tetep aja aka nada romance. Cerita remaja kayaknya gak lengkap tanpa menghadirkan bumbu romance n naksir-naksiran). Yang penting gimana mereka mengatasi rintangan-rintangan dalam persahabatan mereka. Bakal banyak ganjalan dan pengorbanan yang mesti dilakukan untuk bisa tetep mempertahankan sebuah pertemanan, kan?
Reverensi buat KAA, aku contoh dari Baltimore School for the Arts di Maryland USA. Sekolah itu juga pernah nongol di film 'Step Up' dan 'Step Up 2: The Street' dengan nama Maryland School of the Arts (MSA).
C U next time…
