Chapter 51
Blossoms Street No.28, Kediaman Haruno. Konoha…
sasuke_uchiha : Sakura??
Sakura menatap layar notebook-nya dengan mata melebar. Jantungnya tiba-tiba saja berdegup kencang saking girangnya ia melihat nama sahabatnya itu di sana. Sasuke Uchiha. Memekik girang, gadis itu melompat duduk di depan meja belajarnya dan buru-buru mengetik balasannya.
sakura_blossom : SASUKEEEE!!!
Tak lama kemudian, Sasuke membalasnya.
sasuke_uchiha : Lama
Sakura tertawa kecil. Jawaban singkat bernada dingin yang khas Sasuke. Langsung saja terbanyang di benaknya tampang sebal cowok itu. Dengan penuh semangat, Sakura membalasnya,
sakura_blossom : Iya, maaf……………….. aku baru selesai mandi
sasuke_uchiha : Huh? Mandi jam segini? Masuk angin baru tahu rasa!!
sakura_blossom : Jangan menyumpahiku begitu dong! DASAR!!
Dan setelah itu Sakura sepertinya langsung dikuasai semangat menggebu-gebu untuk mengetik, sampai-sampai tidak memberi jeda untuk Sasuke membalas.
sakura_blossom : Aku baru saja pulang. Hari ini Sai mengajakku jalan-jalan ke sekolahnya yang lama, Konoha Art Academy. Keren BANGET di sana!! Aku juga bertemu dengan teman-temannya… bla bla bla…
Lalu diakhiri dengan protes kerasnya atas kealpaan Sasuke menghubunginya selama ini.
sakura_blossom : Btw, kau kok baru menghubungi aku sekarang sih? Emailku tidak pernah kau balas. Ponsel jarang aktif. Sudah sombong sekarang kau, ya!! Atau jangan2 hanya denganku saja? Sai bilang kau memberitahunya sesuatu tentang Naruto!! Jangan2 kau CUMA tidak membalas emailku saja? AAARGH! JAHAAAAAT~~!!!
Kali ini Sakura perlu menunggu agak lama sampai akhirnya Sasuke membalas,
sasuke_uchiha : Sudah selesai ngomongnya?
Setengah geram, setengah geli, Sakura membalasnya,
sakura_blossom : Sudah
sasuke_uchiha : Dasar cerewet! Yang penting kan aku sudah menghubungimu sekarang
sakura_blossom : Yeah. Tepatnya BARU SEKARANG!
sasuke_uchiha : Tidak ada yang perlu dibicarakan denganmu, jadi buat apa menghubungimu?
Sakura menatap layar notebook-nya dengan pandangan jengkel, sambil menggerutu mengomeli Sasuke—yang tentu saja tidak bisa didengar oleh yang bersangkutan.
sakura_blossom : Oke. Jadi SEKARANG ada yang mau dibicarakan?
sasuke_uchiha : Naruto memberitahuku kalau hubungan kalian tidak begitu baik akhir-akhir ini. Dia juga cerita soal ciuman itu.
Wajah Sakura kontan memanas membaca kata 'ciuman' dan ia merasakan wajahnya merona. Untungnya Sasuke tidak bisa melihat ini.
sakura_blossom : Naruto TIDAK menciumku!! Er… tidak kena, tepatnya.
sasuke_uchiha : Dia tidak cerita kalau tidak kena. Kurasa itu bukan bagian yang terpenting. Kau marah padanya?
sakura_blossom : Awalnya sih iya. Tapi sekarang sudah tidak lagi. Lagipula kami sudah bicara lagi, kok. Meskipun masih kaku…
sasuke_uchiha : Baguslah. Kalau begitu Naruto dan Sai bisa berhenti menggerecokiku. Memangnya aku kurang kerjaan sampai harus mengurusi masalah begituan?
Benar, kan? Ternyata memang hanya aku yang tidak dihubungi, pikir Sakura jengkel.
sakura_blossom : Kau ini selalu saja dingin. Memangnya kau tidak peduli?
sasuke_uchiha : Tentu saja aku peduli! Memangnya kau pikir ngapain aku menghubungimu sekarang?
-
-
Uchiha Mansion, Oto City…
Sakura_blossom : Mungkin… karena kau merindukanku? ^_^;
Sejenak, Sasuke seperti membeku di depan mejanya. Matanya melebar menatap rangkaian kata-kata yang dikirimkan Sakura. Barangkali itu maksudnya hanya bercanda, tapi entah mengapa kata-kata itu seperti menusuknya. Tepat sasaran, bisa dikatakan seperti itu.
Ooh, tentu saja Sasuke yang angkuh tidak mau mengakui itu. Dengan cepat ia kembali menguasai diri.
sasuke_uchiha : Dalam mimpimu.
sakura_blossom : Huh! Dasar dingin! Padahal aku sangat kangen padamu, tahu!!
Sasuke menggigit bagian dalam pipinya, menahan diri supaya tidak tersenyum terlalu lebar membaca balasan Sakura. Mendadak ia menjadi bersemangat melanjutkan percakapan. Obrolan berikutnya mengalir sangat menyenangkan bagi Sasuke. Ia menceritakan soal kehidupannya di Oto sementara Sakura juga bercerita tentang teman-teman di Konoha High, tentang band tempat Naruto bergabung dan macam-macam lagi yang membuat kerinduan Sasuke akan Konoha semakin membesar saja.
Tetapi suasana hatinya yang riang itu tidak bertahan lama. Terutama setelah obrolan mereka mulai mengarah ke Neji Hyuuga. Bagaimana pendapat Sakura terhadapnya—yang berarti Sasuke harus tahan membaca deretan pujian gadis itu terhadap Neji. Betapa Sakura sepertinya amat memujanya…
Cih!
sasuke_uchiha : Yah, semoga dramamu sukses
sakura_haruno : ^_^ Thanks, aku yakin banget bakal sukses! Omong2, kami besok mau joging bareng di KCP lho… pasti asyik banget…
Asyik, karena di sana ada Neji, Sasuke membatin sebal. Membayangkan Sakura dan Neji berlari bersama membuat kepalanya pening. Lantas ia membalas dengan setengah hati,
sasuke_uchiha : Itu tidak kuragukan lagi
sakura_blossom : Btw, video yang dikirimkan Sai padamu sudah dilihat belum?
Karena Sakura menanyakannya, Sasuke jadi teringat ia belum melihat video itu. Bahkan mengunduhnya pun belum. Yah, tidak bisa disalahkan, sih. Ia menerima file video itu bertepatan dengan saat ia mengetahui insiden Naruto dan Sakura. Sasuke terlalu sibuk memikirkan hal lain saat itu.
sasuke_uchiha : Belum
sakura_blossom : Yah… kok belum, sih? Setelah ini dilihat, ya! Kami merekam banyak sekali di video itu, termasuk saat audisi dramaku.
sasuke_uchiha : Nanti aku tonton…
Malam sudah larut ketika mereka akhirnya mengakhiri obrolan. Menguap lebar-lebar, Sasuke membuka kembali file email dari Sai dan mulai mengunduh file video di attachment-nya. Tidak butuh waktu lama sampai akhirnya video itu tersimpan di memori notebook-nya.
Dengan penasaran—karena Sakura dari tadi terus saja mendesaknya untuk menonton—Sasuke membuka file video itu. Awalnya memang sangat menarik. Sasuke tidak bisa menahan dirinya nyngir dan tertawa melihat polah teman-temannya. Naruto dengan tingkahnya yang konyol dan narsis di depan kamera berlagak bak seorang pembawa acara di televisi, memperlihatkan bagaimana kegiatan mereka di sekolah, bagaimana hebohnya teman-teman yang lain. Mereka juga memperlihatkan kelas dan bangku di mana ia, Naruto dan Sakura biasa duduk, lalu kantin—mendadak Sasuke dilanda kerinduan pada tempat-tempat itu.
Lalu klub jurnal, tempat Sai bergabung, di mana ia melihat Hinata Hyuuga, cinta pertamanya—yang sudah ia lepaskan dengan rela—Gadis itu masih sama manisnya seperti saat terakhir Sasuke melihatnya. Dengan suara halus dan senyum malu-malunya, Hinata menyapanya lewat kamera, begitu juga anak-anak jurnal lain yang mengenalnya. Melihat ini, Sasuke jadi penasaran apakah Hinata sudah berhasil mendekati Naruto atau belum.
Kemudian Sakura, yang tidak lupa numpang mengomel padanya di video itu—Sasuke tertawa lagi melihat ini. Gemas sekali rasanya melihat ekspresi pura-pura sebal Sakura—di sela-sela latihan dramanya di gymnasium sekolah. Sakura sangat berbakat, pikir Sasuke saat melihat bagaimana latihannya. Yah, meskipun kebanyakan mengikik, mungkin karena gugup disorot kamera. Gambar beralih lagi, tapi masih di gymnasium sekolah. Terlihat Naruto, Shikamaru, Ino dan anak gemuk bernama Chouji yang tampak sedang menonton sesuatu, sebelum akhirnya kamera menyorot ke depan.
Ia bisa melihat Sakura di sana—hatinya serasa dicakar-cakar dari dalam melihat ini—bersama Neji. Lalu terdengar suara Naruto meneriakkan sesuatu entah apa, Sasuke tidak begitu fokus mendengarkannya karena perhatiannya sekarang sepenuhnya tertuju pada Sakura dan Neji. Dahinya berkerut dalam.
Dan pemandangan berikutnya benar-benar membuat perutnya sakit, kepalanya sakit, seluruh tubuhnya serasa terbakar dan… Ah, tidak terkatakan. Tidak tahan, Sasuke akhirnya berpaling dan beranjak dari kursinya. Sasuke membiarkan saja video itu terus berputar sementara ia mencoba mengendalikan dirinya supaya tidak menghancurkan barang-barang. Sampai akhirnya ia menendang kaki tempat tidurnya untuk melampiaskan perasaannya—dan langsung disesalinya karena kakinya yang berkontak dengan kayu keras itu langsung berdenyut-denyut menyakitkan.
Sasuke terguling ke kasurnya sambil mengumpat-umpat dan mencengkeram sebelah kakinya. Matanya berair dan napasnya terengah-engah.
Damn! Aku kenapa, sih?!
Sasuke membenamkan wajah ke bantal dan sedetik kemudian terdengar teriakan frustasinya yang teredam.
-
-
Blossoms Street No.28, Kediaman Haruno. Konoha…
Sakura meregangkan tubuhnya setelah berkutat di depan notebook-nya beberapa saat yang lalu. Ekspresi puas terlukis di wajahnya. Sepertinya ia benar-benar sedang gembira. Berbaikan dengan Naruto, jalan-jalan ke KAA, mengobrol dengan Sasuke… Ah, benar-benar hari yang menyenangkan…
Menguap lebar-lebar, Sakura kemudian mematikan notebook-nya. Ia kemudian beranjak dari kursinya menuju jendela kamarnya yang masih terbuka. Sakura menyapukan pandangannya ke jalanan yang sudah sepi di kompleks itu. Belum ada tanda-tanda ibunya akan segera pulang. Menghela napas, gadis itu lalu menutup jendela dan tirai kamarnya sebelum kemudian menyusup ke balik selimutnya yang hangat dan nyaman.
Ia harus bangun pagi-pagi besok.
Sakura tidak bisa menahan cengirannya ketika ia mulai membayangkan acara besok pagi.
Neji…
Ia pun terlelap dengan memikirkan Sang Pangeran Hyuuga.
-
-
Sakura menemukan ibunya sudah berada di ruang makan, sedang menyesap kopi, ketika ia turun sarapan keesokan paginya. Azami masih mengenakan gaun tidurnya dan wajahnya tampak lelah. Sesekali ia terlihat memijati pelipisnya.
"Ibu sakit?" Sakura bertanya dengan nada cemas sambil meletakkan sebelah tangannya di bahu Azami yang tengah duduk membelakanginya. Sakura yang tiba-tiba muncul di belakangnya agaknya membuat wanita itu sedikit terkejut.
"Sayang?" Azami buru-buru meletakkan mug kopinya di atas meja.
Sakura berjalan mengitarinya dan duduk di kursi yang paling dekat dengan sang ibu, menatapnya dengan pandangan bertanya. "Ibu semalam kemana? Ayame bilang Ibu sudah pulang dari restoran sejak sore. Tapi waktu aku pulang, Ibu tidak ada di rumah."
Azami tidak langsung menjawabnya. Ia terdiam, menyibukkan diri dengan mengaduk mug kopinya sebelum akhirnya mengangkat wajah menatap putri sematawayangnya dengan senyum tersungging di bibir. "Semalam ibu kebetulan bertemu teman lama, dan kami memutuskan mampir sebentar di coffe shop." Ia tertawa kecil. "Kami mengobrol banyak sampai lupa waktu."
Kerutan samar muncul di antara kedua alis Sakura, bibirnya dimajukan. "Sampai lupa kalau anaknya juga menunggu dengan cemas di rumah juga?"
Tawa kecil keluar dari mulut Azami. Wanita paruh baya itu mengulurkan tangan mencubit pipi Sakura dengan ekspresi gemas. "Iya, maaf… Wah, seharusnya Ibu tahu kalau putri Ibu yang manja ini selalu minta ditemani…" ia terkekeh-kekeh.
Sakura ikut tertawa juga. Gadis itu beranjak dari kursinya dan mengambil dua tangkap roti lalu memasukkannya ke dalam mesin toaster sambil bersenandung pelan. Ibunya mau tidak mau memperhatikannya juga.
"Pagi-pagi begini putri Ibu sudah ceria sekali," komentarnya.
"Hari ini aku akan joging dengan teman-teman teaterku di KCP, Bu," sahut Sakura berseri-seri.
"Joging? Rapi begitu?" Azami menaikkan alisnya.
Sakura menunduk, memandang training hitam yang dikenakannya, dipadu dengan jaket merah berkerah tinggi yang serasi dengan bandananya. Yah, penampilannya memang agak sedikit rapi untuk ukuran orang yang mau berolahraga—biasanya Sakura tidak pernah memakai hiasan rambut kecuali topi baseball atau kucir kalau mau berolahraga. Nyengir, gadis itu lantas memutar tubuhnya dan nyengir malu-malu.
"Terlalu rapi ya, Bu?"
Bukannya menjawab, Azami malah menggodai putrinya itu. "Oh, apakah itu berarti akan ada pemuda yang kau sukai juga, hm?"
Wajah Sakura langsung merona kemerahan. "Idih, Ibu apaan, sih?"
Meski begitu, ia tidak bisa menahan cengirannya ketika berbalik untuk mengambil roti panggangnya.
-
-
Konoha Central Park…
Belum ada seorang pun anak-anak klub teater yang datang ketika Sakura sampai di taman pusat kota. Gadis itu mengedarkan pandangannya ke sana kemari berharap melihat seseorang yang dikenalnya—atau orang yang paling ingin ditemuinya hari itu?—tapi tidak melihat siapapun kecuali orang-orang tua entah siapa yang sedang berjoging mengitari taman.
Sepertinya ia datang kepagian, pikir Sakura. Terlalu bersemangat.
Sembari menunggu teman-temannya datang, Sakura memutuskan untuk melakukan pemanasan ringan –yah, meskipun sebenarnya ia sudah pemanasan tadi dengan berlari dari rumahnya sebelum kebetulan bertemu dengan Yamato di dekat restoran dan membujuk cowok itu supaya mengantarnya ke KCP dengan motor—Tapi tidak apalah, dari pada bengong. Ia lantas melakukan gerakan stretching.
Kemudian matanya tidak sengaja menangkap pemandangan yang tidak asing. Seekor retriever tampan berbulu cokelat keemasan sedang berlari di seberang jalan. Tali yang melingkar di lehernya menghubungkannya dengan sang tuan yang tidak kalah tampannya. Itachi Uchiha dan anjingnya, Rufus. Tetapi mereka tidak hanya berdua saja. Di samping Itachi, seorang gadis yang kira-kira sebayanya berlari-lari kecil menyamai langkahnya. Rambutnya yang panjang kecokelatan dan dibuntut kuda berayun di punggung. Keduanya tampak begitu akrab.
Pastilah itu pacarnya Kak Itachi, pikir Sakura. Wah, senangnya joging bersama pacar… Bikin iri saja, Kak Itachi…
"Selamat pagi!"
Suara yang sudah sangat dikenalnya terdengar menyapa. Sakura terlonjak kaget dan memutar tubuhnya. Degupan yang tidak asing lagi langsung menderanya begitu ia melihat sosok jangkung Neji Hyuuga sudah berada di sampingnya. Wajahnya sedikit berkilau karena keringat dan napasnya terengah. Sepertinya ia datang dengan berlari dari White Hills ke tempat itu.
"S-selamat pagi," sahut Sakura tergagap-gagap setelah memastikan orang yang disapa Neji bukan orang lain.
"Kukira belum ada yang datang," kata Neji sambil tersenyum tipis. Ia lalu mengelap peluh di wajah dan lehernya dengan handuk putih kecil yang diselipkan di saku training-nya.
Sakura menelan ludah dengan susah payah. 'Mengapa dia bisa sangat keren meskipun sedang berkeringat? Mengapa…??'.
"A-Aku baru saja datang."
"Kau kelihatannya sangat bersemangat, eh, Sakura?" tanya Neji dengan nada ringan sambil mengerling gadis itu. Ia lalu duduk di bangku taman tak jauh dari mereka dengan kaki diluruskan.
Sakura tidak menjawabnya. Wajahnya merona kemerahan dan ia meneruskan gerakan pemanasannya dengan hati riang, terlebih ketika menyadari Neji mengamatinya dari bangku.
Wuah… siapa sangka bisa berduaan begini?
Tapi rupanya itu tidak berlangsung terlalu lama, karena anak-anak mulai berdatangan satu demi satu sampai akhirnya semua anak sudah berkumpul dan mereka memulai kegiatan hari itu dengan berlari mengitari taman yang luas itu beberapa putaran. Anak laki-laki melesat mendahului mereka jauh di depan sementara anak-anak perempuan dalam sekejap sudah kehabisan napas dan tertinggal di belakang.
Betapa tercengangnya ketika anak laki-laki yang tadinya berlari di depan mereka tiba-tiba saja muncul dari belakang. Rupanya mereka satu putaran lebih cepat! Mereka ribut mengolok-olok anak-anak perempuan yang lambat saat mendahului mereka.
"Lari dong… Jangan ngesot!"
"Diam kau, Motoki!"
Anak-anak tertawa dan menyoraki ketikat Reika mengejar Motoki mendahului yang lain. Reika meneriakinya sementara cowok di depannya itu tertawa-tawa menggodanya. Motoki memang hobi sekali mengganggu Reika, membuat anak-anak lain curiga kalau sebenarnya ia naksir gadis itu. Tapi Motoki tidak pernah mau mengaku. ("Aku? Dengan cewek galak itu? Please deh…")
"Mereka itu, kelakuannya seperti anak-anak saja," kata sebuah suara di sebelah Sakura.
Hati gadis itu nyaris saja terjatuh ketika telinganya mengenali suara yang dalam dan empuk itu. Dan benar saja, saat ia menoleh, ia melihat Neji berlari-lari kecil di sampingnya, menyejajarinya.
"Sudah capek, Sakura?" tanya Neji.
Sakura, yang tentu saja tidak ingin terlihat sebagai cewek lemah di depan Neji, langsung menggeleng.
Neji menyeringai tipis. "Kalau capek tidak usah dipaksakan. Istirahat saja seperti yang lain." Ia lalu mengendikkan kepala ke arah beberapa anak perempuan yang sudah menyerah, istirahat di bangku taman yang mereka lewati.
"Tidak apa-apa kok," sahut Sakura pelan sambil menyunggingkan senyum yang dianggapnya sebagai senyum yang tangguh.
Neji mengeluarkan tawa kecil. "Baiklah. Kalau begitu aku duluan." Kemudian ia berlari melesat mendahului Sakura, seperti cowok-cowok yang lain.
Sakura menatap punggung Neji yang berlari di depannya, bahunya yang lebar dan rambutnya yang bergoyang seirama dengan langkah kakinya. Gadis itu mengkikik dalam hati. Bahkan dari belakang saja Neji sudah tampak memesonanya. Matanya seakan tidak mau lepas memandangi punggung itu, sampai-sampai ia tidak menyadari ranting di depannya.
Sepatunya keds-nya menginjak ranting itu dan ia langsung tergelincir jatuh dengan sukses dan mendarat pada bagian belakang tubuhnya terlebih dahulu. Rasa sakit ketika bokongnya bertemu dengan aspal yang keras membuat matanya berkunang-kunang.
"AUWW…" gadis itu mengeluarkan dengkingan seperti anjing terjepit, membuat orang-orang yang kebetulan berada di sekitarnya menoleh. Tapi bukannya membantu, mereka malah girang menertawakannya. Sakura merasakan wajahnya berubah merah padam karena rasa sakit bercampur malu, terlebih ketika menyadari Neji juga menoleh padanya.
'Kenapa sih, aku selalu saja mengalami hal-hal yang memalukan setiap kali ada Neji?' rutuknya kesal pada diri sendiri.
Sakura berpaling, berusaha tidak memandang orang-orang di sekitarnya dan mencoba bangun. Gadis itu meringis akibat bokongnya yang berdenyut-denyut menyakitkan, rasa nyerinya membuatnya pusing. Ia menggigit bibir bawahnya untuk menahan dirinya mengeluh keras-keras.
"Kau tidak apa-apa, kan? Sebaiknya jangan dipaksa bangun dulu kalau masih pusing."
Suara dalam itu membuat Sakura terlonjak dan ia nyaris kehilangan keseimbangan lagi, namun sebuah tangan kuat menahan lengannya. Sakura tidak bisa mencegah refleks tubuhnya yang langsung mencari tumpuan pada tangan yang terjulur itu. Jantungnya langsung berdegup tidak karuan ketika ia mendongak dan melihat Neji-lah yang menopangnya. Rupanya cowok itu telah berlari kembali padanya.
"Whoops! Hati-hati," ujar Neji sembari dengan lembut membantu Sakura bangun. "Sakit, ya?" cowok itu tampak susah payah menahan seringainya. Untungnya ia cukup sopan untuk tidak menanyakan, "Bagian mana yang sakit?" Melihat cara jatuhnya tadi, ia pastilah sudah tahu bagian mana yang sakit.
"Ti-tidak…" desah Sakura menahan nyeri sekaligus rasa malunya. Wajahnya tidak bisa lebih merah lagi.
"Tidak usah dipaksakan," ujar Neji, "Kau istirahat saja…" cowok itu mengedarkan pandangannya. Tampaknya semua anak sudah melesat di depan mereka, terlalu jauh untuk dimintai bantuan. Matanya akhirnya tertumbuk pada sebuah bangku taman kosong tidak jauh dari sana. "Di sana," ia menunjuk bangku itu sebelum kembali menoleh pada Sakura, "Bisa jalan, kan?"
Sakura mengangguk pelan.
"Aku bantu. Pelan-pelan saja jalannya." Neji kemudian dengan hati-hati melingkarkan lengan di pinggang Sakura sementara lengan gadis itu dilingkarkannya di bahunya, lalu membantunya berjalan perlahan-lahan menuju bangku taman yang kosong itu.
Sementara itu di sampingnya, Sakura berusaha keras tidak menoleh memandangnya. Barangkali ia akan pingsan kalau melakukan itu, karena dengan menyadari lengan Neji di pinggangnya saja sudah nyaris membuat lututnya lemas, juga rambut cokelat lembut di tengkuk Neji yang menggelitik bagian lengannya yang terbuka. Sampai-sampai ia tidak sadar sekejap kemudian mereka sudah tiba di bangku dan Neji melepaskan pegangannya lalu membantunya duduk.
"Pusing?" tanya Neji setelah ia mendudukkan diri di sebelah Sakura, menatap gadis itu.
Sakura berdeham kecil. "Sedikit…"
Neji sekali lagi mengedarkan pandangannya berkeliling taman itu sebelum kembali menatap Sakura. "Tunggulah di sini sebentar, aku akan mencarikan minum untukmu."
"Trims…" bisik Sakura, tidak tahu lagi harus berkata apa.
Neji menyunggingkan senyum tipis. "Kurasa sebentar lagi anak-anak juga akan sampai kemari."
Sakura hanya mengangguk pelan.
Neji lalu beranjak dan berlari-lari kecil menuju ke area luar taman. Sakura menatap punggungnya sampai akhirnya menghilang di ujung jalan. Hatinya serasa ingin meledak saat itu juga saking bahagianya. Hanya tindakan sederhana yang wajar, tetapi membuat segalanya tampak seratus kali lebih indah dan lebih sempurna bagi Sakura. Bahkan ia bisa menolelir rasa sakit di bokongnya dan cuaca yang sebenarnya tidak terlalu bagus hari itu. Gadis itu tersenyum pada semua orang yang melewati bangkunya, membuat mereka semua terheran-heran.
Apa kepalanya baru saja terbentur sesuatu atau apa?
"Sakura!!" sebuah suara membuyarkan lamunan indahnya. Gadis itu menoleh dan mendapati Tenten dan Yakumo berlari-lari kecil ke arahnya. Wajah kedua gadis seniornya itu menampakkan ekspresi cemas.
"Tenten? Yakumo?" balas Sakura.
"Tadi kami berpapasan dengan Neji. Katanya kau jatuh…" engah Tenten ketika ia sudah duduk di tempat yang tadi diduduki Neji. Yakumo duduk di sisi lain Sakura.
"Sudah tidak apa-apa, kok…" sahut Sakura cepat-cepat, merasa tidak enak. Padahal hanya jatuh, tapi sudah membuat seniornya cemas seperti itu.
"Kalau sakit, kau harus bilang pada kami, Sakura," kata Yakumo sambil menyentuh lengan Sakura. "Tapi kau yakin tidak apa-apa, kan?"
Sakura mengangguk meyakinkan –dan rasa sakitnya memang sudah jauh berkurang, hanya terasa samar-samar saja sekarang. Dan kepalanya sudah tidak pusing lagi.
"Sebaiknya mereka tidak berlama-lama mampir di minimarket-nya, supaya kita bisa segera mulai," kata Tenten sambil memandang ke arah datangnya tadi. Tepat saat itu rombongan cowok-cowok datang berlari-lari ke arah mereka. Masing-masing mereka membawa botol air mineral. "Ah, itu mereka datang…"
Tak lama setelah mereka, Neji muncul dengan membawa kantung plastik berisi air mineral. Anak-anak perempuan menyusul di belakangnya beberapa saat kemudian.
"Ini, minumlah," kata Neji sambil menawari salah satu botol air mineral yang sudah dibukanya pada Sakura. Gadis itu menggumamkan terimakasih padanya, sambil menahan elspresi wajahnya supaya tampak biasa.
Rupanya Neji tidak hanya membawakan air untuk Sakura, tapi juga untuk Tenten dan Yakumo. "Kulihat kalian tidak bawa minum, jadi sekalian saja," ujarnya pada kedua gadis itu. Ia lalu duduk di space kosong di samping Yakumo, meminum air mineralnya juga.
Mereka duduk di sana, beristirahat, sampai ada salah satu dari cowok-cowok yang duduk tak jauh dari tempat mereka menyeletuk, "Wah wah… Alfredo duduk bersama mantan dan calon kekasihnya, nih!!"
Wajah Sakura langsung memanas, tetapi Yakumo lah yang bereaksi paling cepat. Gadis itu beranjak dari duduknya dan berjalan menjauhi mereka menuju lapangan berumput di seberang, tampak sangat tidak senang. Tenten menghela napas keras, lalu mengikutinya.
"Berhentilah ngomong sembarangan, Ryuta!" tukas Tenten pada cowok yang menyeletuk barusan sebelum berlari ke arah Yakumo. Ryuta –nama cowok itu—hanya nyengir dan menyilangkan kedua telunjuknya di depan mulut.
Sakura cepat-cepat menoleh ke arah Neji. Cowok itu sama sekali tidak bereaksi. Ekspresinya datar, tapi kedua mata lavendernya mengawasi kedua gadis tadi. Entah apa yang sedang dipikirkannya saat itu.
-
-
Panti Asuhan Kasih Bunda Konoha...
"Ah, Naruto... Sudah lama tidak kemari, Nak?" sambut Shizune begitu wanita itu membukakan pintu panti asuhan bagi Naruto. Perutnya sudah lebih besar dari yang terakhir kali Naruto lihat dan wajahnya begitu ceria seperti biasa. "Bagaimana kabarmu, Nak?" tanyanya seraya membukakan pintu lebih lebar.
Naruto memamerkan cengiran lebar yang menjadi ciri khasnya sambil membuka kedua lengannya. "Kondisi baik seratus persen seperti biasa, Bunda Shizune!" cetusnya riang.
Shizune tertawa kecil mendengar jawaban Naruto, kemudian mulai mengamatinya dari kepala sampai kaki. Naruto memakai jaket hitam-oranye-nya yang biasa dan di bahunya ia menggendong tas gitarnya. Naruto tampak sangat ceria hari ini, pikir Shizune, berbeda dengan apa yang beberapa kali dikeluhkan Iruka padanya beberapa hari belakangan.
"Ayahmu memberitahu kami kalau kau agak murung belakangan ini," kata Shizune.
Naruto tertawa kecil sambil mengibas-ngibaskan tangannya. "Pap terlalu membesar-besarkan, Bunda. Aku baik-baik saja, kok!" Ia lalu menjulurkan leher untuk melihat ke belakang Shizune. "Adik-adik di dalam kan, Bun? Aku kangen sekali ingin main dengan mereka.."
Shizune tersenyum lembut. "Ya, mereka sedang main di dalam," ujarnya sambil mengamit lengan Naruto dan membawanya masuk, menutup pintu di belakangnya. "Mereka juga bilang sudah kangen sekali padamu, mereka kesepian kalau kau tidak main kemari terlalu lama, Nak. Tapi untungnya... ada kakak lain yang sering datang dan mengajak mereka main."
"Kakak lain?" tanya Naruto bingung. "Maksud Bunda, ada anak lain yang suka main kemari?"
"Ya..." sahut Shizune lambat-lambat. "Dan mereka sangat menyukai kakak ini. Dia membacakan cerita, mendengarkan ocehan mereka. Dia seperti seorang ibu walaupun usianya masih sangat muda."
"Wow.." kekeh Naruto, "Sepertinya kakak baru ini sangat hebat. Aku jadi ingin tahu..."
"Kau mengenalnya kok. Dia bilang, dia teman sekolahmu." Shizune tertawa renyah. "Aneh sekali. Kalian berdua sama-sama senang datang kemari, dan sekolah di tempat yang sama, tapi kau tidak tahu dia..."
"Bunda benar-benar membuatku penasaran..."
"Kau akan segera bertemu dengannya, Naruto. Dia ada di dalam," kata Shizune sambil mengedipkan sebelah matanya.
Saat itu mereka melangkah masuk ke dalam aula. Tampak anak-anak panti –yang kebanyakan adalah anak perempuan dan anak-anak yang masih kecil—sedang duduk bergerombol di dekat televisi, namun bukan televisi yang menjadi pusat perhatian mereka saat itu, melainkan seorang gadis berambut gelap panjang yang duduk di tengah-tengah mereka. Gadis itu tengah membacakan sebuah buku cerita bergambar. Biasa saja sebenarnya, kalau saja si gadis tidak membacakannya dengan cara yang amat menarik, ekspresif, seakan ia adalah bagian dari cerita itu.
Mata Naruto membulat dengan terkejut melihat betapa berbedanya gadis itu dengan yang dikenalnya di sekolah.
"Hinata?"
Gadis yang dimaksud menghentikan ceritanya dan menoleh, begitu pula dengan anak-anak panti asuhan yang mengelilinginya.
"Kalau begitu Bunda tinggal dulu ke dapur ya, Nak." Shizune menepuk pelan pundaknya, kemudian berlalu menuju dapur.
"Kakak Naruto!!" Anak-anak yang lebih besar langsung melompat berdiri dan menyerbu kakak kesayangan mereka. Jelas sekali kalau mereka sudah sangat kangen.
Perhatian Naruto langsung teralih pada mereka. Dengan senyum lebara, Naruto membalas sapaan adik-adiknya. "Hei, kalian... Apa kabar?" Ia mengacak rambut pirang salah satu adiknya.
Bukannya menjawab, anak-anak itu malah ramai memprotes. "Kakak Naruto kemana saja, sih? Kok jarang main kemari?"
Naruto tertawa ringan. "Iya, maaf, maaf... Kakak sibuk sekali belakangan ini." Ia lalu mengangkat seorang gadis cilik berkucir merah yang memeluk kakinya ke dalam gendongannya. "Madoka kangen sama kakak Naruto?"
Si gadis cilik berambut merah, Madoka, melingkarkan lengannya ke leher Naruto. "Madoka kangen Kakak..." ujarnya dengan suara cempreng. "Kakak Sasuke enggak ikut?"
Naruto pura-pura cemberut. "Kau kangen sama Kakak atau Kakak Sasuke, sih?"
Madoka hanya nyengir, memamerkan gigi depannya yang tanggal.
"Kakak Naruto, kata Kakak Hinata, Kakak Sasuke pindah ke Oto, ya?" tanya si gadis cilik pirang, Usako, dengan tampang sedih.
Naruto tersenyum kecil padanya. "Iya, Sayang. Kakak Sasuke pindah ke Oto..."
Terdengar keluhan dari anak-anak, terutama anak-anak perempuan. Naruto hanya bisa nyengir, membayangkan bagaimana reaksi Sasuke kalau sahabatnya itu melihat betapa ia sangat populer di kalangan anak-anak panti.
Suara tawa lembut mengalihkan perhatian Naruto. Ketika ia mendongak, ia melihat Hinata sudah berdiri di belakang anak-anak itu, tersenyum malu-malu padanya. "Hai, N-Naruto..."
"Hei..." Naruto membalas senyum Hinata, agak canggung, teringat peristiwa beberapa hari yang lalu saat ia marah-marah pada gadis itu tanpa alasan jelas. Ia lalu menurunkan Madoka yang langsung berlari ke arah Hinata, menarik-narik ujung rok Hinata.
"Kakak Hinata, ayo lanjutin ceritanya!"
"Ayo, Kakak Naruto juga ikut.."
Naruto menurut saja ketika salah satu adiknya menyeretnya mengikuti Hinata dan Madoka yang sudah terlebih dahulu kembali ke tempat mereka duduk semula. Madoka mengambil buku ceritanya dan menyerahkannya pada Hinata sebelum merangkak naik ke pangkuan gadis itu dan duduk di sana.
Naruto mendudukkan diri berbaur dengan adik-adiknya sementara Hinata melanjutkan membacakan cerita dengan wajah sedikit merona. Gadis itu tampak sedikit lebih gugup dibanding tadi, namun tidak mengurangi keceriaannya di tengah-tengah anak-anak. Membuat Naruto terbawa ke dalam cerita yang sedang dibacakannya, sama seperti adik-adiknya.
-
-
Konoha Central Park...
Semua anak sudah berkumpul dan kini mereka duduk melingkar di lapangan berumput di tengah-tengah KCP, bagian yang langsung terkena sinar matahari yang memang tidak terlalu terik. Sakura duduk di antara teman-teman sesama kelas dua-nya, Hokuto, Suigetsu dan Juugo di lingkaran itu sementara mendengarkan pidato Tenten yang duduk di seberang mereka.
"Sepertinya drama tahun ini anak-anak kelas dua lumayan mendapat peran besar, ya," bisik Hokuto pada Sakura.
"Hm?" Sakura mengalihkan perhatiannya dari Tenten dan melirik temannya itu.
"Iya, kan?" Hokuto mengangkat bahunya. "Kita memegang dua dari tiga tokoh utamanya. Kau dan Juugo."
"Oh yeah," sahut Sakura, nyengir. Ia melirik ke arah Juugo yang duduk dengan kaki diselonjorkan di sebelah Suigetsu. Di drama tahun lalu, cowok pendiam itu juga mendapatkan peran sebagai tentara Nazi. Diam-diam menghanyutkan, pikir Sakura.
Gadis itu lalu mengedarkan pandangannya berkeliling dan terkejut sendiri ketika melihat anak-anak yang tidak terlibat drama –atau belum. Mereka belum melibatkan para figuran, soalnya—juga ada di sana, menonton dari dekat pepohonan yang rindang. Sakura bahkan bisa melihat Ino dan pacarnya, Idate, di antara mereka. Keduanya tampaknya baru selesai joging juga. Dan anak jurnal, tentu saja. Kiba Inuzuka bersama anjing kesayangannya, Akamaru, tampak di dekat kolam dengan kamera siap di tangan. Cowok itu nyengir dan melambaikan tangan ketika Sakura melihat ke arahnya.
"Baiklah, kita mulai sekarang, teman-teman!!" seru Tenten, membuat perhatian Sakura sekali lagi beralih padanya. Gadis bercepol itu berdiri dari posisi duduknya, menepuk-nepuk bagian belakang training-nya. Anak-anak lain mengikutinya.
Dan saat berikutnya mereka memulai latihan suara dan pernapasan. Sakura berhati-hati supaya tidak melakukan sesuatu yang memalukan lagi di depan Neji.
-
-
Panti Asuhan Kasih Bunda Konoha...
"Aku tidak tahu kalau kau pandai sekali mendongeng, Hinata," kata Naruto dengan kekaguman yang terdengar jelas dalam suaranya setelah Hinata selesai berdongeng dan anak-anak pergi untuk bermain di luar. Hanya ada anak-anak yang lebih kecil yang masih berada di dalam, bermain balok susun sementara kedua kakak mereka itu membereskan buku-buku yang tadi berserakan ke raknya semula.
Hinata tersenyum kecil dengan wajah bersemu. "Biasa saja, N-Naruto..." ujarnya merendah. Ia menerima buku-buku yang diulurkan Naruto dan menumpuknya sebelum meletakkannya ke rak.
"Kau sering kemari, ya?" tanya Naruto kemudian.
Hinata berpaling dari rak, matanya mengawasi anak-anak yang sedang bermain balok susuk beberapa saat sebelum menjawab Naruto, "Hm... L-lumayan juga."
Naruto tertawa ringan. "Aneh ya... Padahal kita sama-sama sering kemari, tapi tidak pernah bertemu di sini sebelumnya." Ia terdiam, ikut mengawasi adik-adiknya. "Omong-omong, sejak kapan kau sering kemari?"
Hinata tampak berpikir sejenak. "S-sudah cukup lama juga. A-awalnya aku hanya menemani Kak Neji menemui Pak Shiranui untuk t-tugas K-kimia-nya. Waktu itu beliau m-meminta kami menemuinya di sini. K-kurasa sejak s-saat itu, N-Naruto, aku langsung j-jatuh hati pada mereka..." Mata lavendernya melembut.
Mendengar nama Neji disebut membuat senyum Naruto sedikit memudar. Walaupun ia sudah memutuskan untuk melepaskan Sakura, toh bukan perkara mudah baginya untuk benar-benar menghapus perasaannya pada gadis itu.
"Neji sering kemari juga, kalau begitu?" tanyanya kemudian dengan nada yang diatur supaya terdengar wajar.
Hinata, yang memang mengetahui masalah yang terjadi antara Naruto dan Sakura yang sedikit banyak ada hubungannya dengan kakak sepupunya, menatap prihatin pada Naruto beberapa saat. "T-tidak juga," sahutnya perlahan seraya berlutut di samping salah satu anak dan membelai rambut anak itu dengan lembut. "Awalnya dia memang sering m-menemaniku kemari, tapi sejak jadwalnya semakin p-padat, aku kemari s-sendirian."
"Begitu, ya..." gumam Naruto.
Saat itu Shizune muncul dari arah dapur bersama seorang wanita berambut kecokelatan yang merupakan salah satu pengurus panti juga, lalu ikut menggabungkan diri dengan mereka. "Naruto, Hinata, bisa aku minta tolong kalian mengawasi anak-anak yang bermain di luar?" pinta Shizune pada kedua remaja itu.
"Oke, Bun!" Naruto segera bangkit, "Yuk, Hinata."
Hinata mengangguk dan bergegas mengikutinya menuju pintu ke halaman belakang panti, tempat anak-anak sedang bermain.
-
-
Konoha Central Park...
"SUDAH KUKATAKAN BERULANG KALI, SAKURA!! DIA ITU CUMA TEMANKU!!" teriak Neji tidak sabar pada gadis di depannya, yang melotot menatapnya dengan sama marahnya.
"CUMA TEMAN, KATAMU?!!" dengus Sakura sengit, "Coba katakan padaku, teman macam apa yang rangkul-rangkulan di depan umum, bermesraan di depan umum, BERCIUMAN DI DEPAN UMUM!! TEMAN MACAM APA, HAH?!!"
"Damn, Sakura!!" Neji mendesis seraya menyambar lengan gadis itu dengan kasar, "Pelankan suaramu!"
Sakura mendengus lagi, lalu menyentakkan tangan Neji sampai cengkeramannya terlepas dari lengannya. "Kenapa?" tantangnya, "Kau takut, Tuan Hyuuga? Takut mereka semua tahu bagaimana wajah aslimu sebenarnya, eh?"
Wajah Neji berubah merah. "Hati-hati kalau bicara, Haruno..." desisnya penuh ancaman. "Kau tidak tahu apa yang kau bicarakan..."
Perkataan Neji barusan sepertinya malah semakin membakar kemarahan gadis itu. Emosi menguasainya dan air matanya mulai meleleh. "Aku tahu apa yang aku bicarakan, Neji," bisiknya dengan gigi gemeletukan menahan isakan. "Aku melihatmu dengan mata kepalaku sendiri. Selama ini aku mencoba bersabar, asal kau tahu saja." Ia menelan ludah dengan susah payah. "Teman-temanku selama ini sudah mencoba memperingatkanku soal ini. Hokuto... Ino... siapa lagi selain mereka yang kau bawa ke ranjangmu?"
Keduanya saling tatap selama beberapa saat. Neji tampaknya tidak mampu berkata apa-apa.
"Kenapa?" suara Sakura gemetar sementara air matanya semakin menderas. "Kaget aku tahu dengan siapa saja kau berkencan selama ini, eh?" Ia tersenyum, getir. "Aku sama sekali tidak menyangka, Neji. Selama ini kau bilang hanya aku satu-satunya gadis dalam hidupmu. Tapi nyatanya... Semuanya omong kosong!"
"S-Sakura, bisa kujelaskan—"
"Jelaskan apa lagi?!" teriak Sakura, "Percuma, Neji. Toh semuanya sudah jelas. Aku MUAK padamu!" gadis itu pun berlari pergi.
Neji tersentak. "SAKURA!!" Ia bergegas mengejarnya, tidak memedulikan orang-orang yang menonton pertengkaran mereka sejak tadi sambil berbisik-bisik di balik tangan mereka. "SAKURA, KAU HARUS DENGARKAN AKU!!"
"PERGI KAU!! AKU TIDAK MAU DENGAR APA-APA LAGI!!" jerit Sakura. Gadis itu terkejut ketika Neji tiba-tiba menangkap lengannya dan memeluknya erat-erat. Ia meronta-ronta dalam pelukan Neji. "LEPASKAN AKU!! LEPASKAN AKU!!"
"TIDAK SEBELUM KAU MENDENGARKANKU!!" teriak Neji tak mau kalah.
Keduanya berkutat selama beberapa saat; Sakura meronta-ronta dan mengamuk sementara Neji mengunci tubuhnya dalam pelukannya, berusaha membuatnya tenang. Tatapan orang-orang sama sekali tidak dipedulikan, termasuk seorang ibu-ibu yang membeliak pada mereka.
Akhirnya Sakura menyerah, ia berhenti meronta kendatipun tubuhnya masih gemetar hebat seiring dengan isak tangisnya.
"Oke, oke... aku mengaku. Ya, semua yang kau dengar memang benar, Sakura. Tapi satu hal yang harus kau tahu, mereka semua tidak berarti apa-apa. Kau tahu kan, pada akhirnya aku akan selalu kembali ke sisimu..."
"Omong kosong... Aku tidak percaya padamu..." desis Sakura di antara isak tangisnya. Ia mendadak meronta lagi dan kali ini berhasil melepaskan diri. Ia berbalik menghadap Neji dan menyeka air matanya dengan kasar. "Kau tahu apa yang kuinginkan sekarang, Neji? Aku ingin kau enyah dari kehidupanku selamanya. KITA PUTUS!!"
Neji terperangah. "T-Tapi... bagaimana dengan—"
"KITA PUTUS!!" tegas Sakura sebelum berbalik meninggalkannya.
"BAGAIMANA DENGAN ANAK KITA YANG SEDANG KAU KANDUNG, SAKURA??!!" raung Neji.
Langkah Sakura terhenti. Selama beberapa saat ia tampak bingung, sebelum akhirnya seulas senyum sinis muncul di bibirnya. Ia berbalik, menatap Neji dengan dingin. "Siapa bilang ini anakmu? Kau kira hanya kau saja yang bisa bermain di belakang, eh?"
Mata Neji membulat, terkejut bukan kepalang. "Apa maksudmu?"
"Sasuke... Bagaimana menurutmu, eh? Dia lebih segala-galanya dibanding dirimu, lebih tampan, lebih mapan dan dia juga mencintaiku. Kami berencana menikah akhir bulan ini..." Dengan senyum penuh kemenangan gadis itu berbalik pergi meninggalkan Neji tercenung di sana.
.
.
"AAAAH... GILA KALIAN BERDUA!!" teriak Motoki Furuhata sambil bertepuk keras sementara anak-anak yang lain bersorak dan menyuiti dua teman mereka yang baru saja bergabung kembali dengan mereka.
"Kok bisa, sih?" kata yang lain.
"Sakura beneran hamil?" kekeh yang lain. "Gokil banget idenya..."
Sakura berlari kembali ke tempatnya duduk semula di sebelah Hokuto, menghempaskan dirinya ke rerumputan. Wajahnya merah padam dan sedikit nyengir sementara anak-anak bersuit-suit dan bertepuk. Di seberang, Neji juga baru bergabung dengan teman-teman cowoknya dan mereka ber-high-five sambil tertawa-tawa.
Saat itu mereka baru saja selesai melakukan giliran mereka di salah satu sesi latihan 'uji nyali' setelah selesai dengan latihan suara dan pernapasan. Semua anak juga melakukannya, termasuk sang sutradara sendiri. Ada yang berpura-pura menjadi orang gila di tengah-tengah taman yang ramai, menangis histeris, berteriak-teriak dan segala macam hal gila lain. Dan di sesi itu Sakura sengaja dipasangkan dengan Neji dan mereka diminta berakting menjadi sepasang kekasih yang sedang bertengkar hebat. Semua dialognya mereka improve sendiri.
"Ah, sakit jiwa kau, Sakura!" kata Hokuto sambil tertawa-tawa, lalu memonyongkan bibirnya, "Ngapain kau pakai bawa-bawa namaku segala?"
Sakura nyengir padanya. "Habis yang terlintas di kepalaku namamu dan Ino, sih... Sori..."
Hokuto terkekeh-kekeh, begitu pula dengan Suigetsu dan Juugo yang duduk di dekat mereka.
"Jadi anak yang sedang kau kandung anak siapa tuh, Sakura?" tanya Suigetsu iseng, "Neji atau Sasuke?"
Wajah Sakura langsung merah padam. "Apaan sih, Suigetsu! Itu kan cuma bohongan!" tukasnya cemberut. Yang lainnya tertawa.
"Wah, aku jadi curiga. Ada apa nih dengan Sasuke?" goda Suigetsu lagi.
"Diam, kau!" Sakura menimpuk cowok itu dengan botol air mineralnya. Sama seperti Ino dan Hokuto, nama Sasuke melintas begitu saja di kepalanya tadi. Sakura nyengir sendiri, membayangkan bagaimana reaksi Sasuke seandainya cowok itu tahu Sakura telah mencatut namanya seperti itu.
"Tapi bisa-bisanya sih, bikin skenario seperti itu, Sakura? Kesannya jadi kalian berdua sama-sama.. er... kau tahu... brengsek," kata Hokuto dengan mata berbinar takjub.
Sakura nyengir padanya. "Entahlah. Neji bilang keluarkan saja semuanya yang ada di kepala. Aku hanya menurutinya." Gadis itu tertawa sementara mata zamrudnya mengawasi Neji yang sedang menenggak botol airnya di seberangnya. "Aku sempat kaget juga waktu dia bilang 'Bagaimana dengan anak kita yang sedang kau kandung?'. Lalu yang keluar ya seperti itu."
Hokuto terkekeh-kekeh. "Sepertinya balas dendam tuh. Waktu kau bilang, 'Siapa lagi yang kau bawa ke ranjangmu?' dia juga kelihatan kaget sekali. Kurasa Neji tidak menyangka skenarionya akan berkembang menjadi seperti itu." Gadis itu menggelengkan kepalanya tidak habis pikir. "Liar sekali imajinasimu, Sakura..."
Sakura mengikik. Ia menyapukan pandangannya berkeliling untuk mencari sosok Ino di antara anak-anak yang menonton. Dan gadis pirang itu masih ada di sana, bersandar di salah satu pohon bersama Idate. Sakura tertawa kecil ketika Ino memberi isyarat dengan jari melintang di dahinya. Sinting!
-
-
Panti Asuhan Kasih Bunda Konoha...
"...sebentar ya, Sayang. Ini cuma sakit sedikit, kok..." bujuk Hinata pada seorang anak laki-laki kecil berusia sekitar tiga tahun yang duduk di bangku kecil di depannya dengan lutut terluka. Anak itu menangis sesegukan sejak terjatuh saat bermain bersama yang lain tadi. Dengan lembut, Hinata membersihkan luka anak itu sementara kaki si pemuda cilik itu ditumpukan ke pangkuannya.
Anak itu berjengit saat kapas basah itu menyentuh lukanya yang berdarah. "Aw... sakit..." isaknya sambil menarik kakinya dari pegangan Hinata.
"Ayo dong, Kei..." kali ini Naruto yang membujuk sambil membelai rambut Kei yang kemerahan. "Kalau tidak mau diobati nanti lukanya enggak sembuh-sembuh..."
"T-tapi sakit, Kak..." isak Kei.
Naruto dan Hinata bertukar pandang. Naruto menghela napas. "Kalau tidak diobati, sakitnya tidak hilang-hilang, lho..." bujuknya.
Kei cemberut, menahan isakannya.
"Bagini saja deh..." kata Naruto sambil menegakkan diri. Ia lalu mengangkat Kei ke dalam gendongannya, kemudian duduk sehingga bocah itu duduk di pangkuannya. "Kakak akan pegangi kamu. Tidak apa-apa, oke?"
Sepertinya Kei menjadi lebih tenang dalam pelukan Naruto. Ia menangguk kecil.
Hinata tersenyum pada dua orang di depannya sebelum kembali mengambil kaki Kei dengan lembut ke pangkuannya dan mulai membersihkannya. Naruto menahan kaki bocah itu supaya tidak bergerak. Kei berjengit dan mencengkeram lengan jaket Naruto sementara cairan dingin terasa perih menyentuh lukanya.
"Sedikit lagi selesai, Kei, Sayang..." ujar Hinata seraya menutup luka Kei yang sudah bersih dan diberi obat merah dengan kain kasa dan plester. "Nah, sudah tidak sakit lagi, kan?"
Cengkeraman Kei pada lengan jaket Naruto mengendur dan ia mengangguk.
"Ah, dasar bocah manja..." kekeh Naruto sambil mencium puncak kepala Kei. Bocah itu nyengir sambil mendongak menatap Naruto, menarik-narik lengan jaketnya. "Hm? Ada apa?" Ia mendekatkan telinganya pada bocah itu. Kei membisikkan sesuatu padanya.
Hinata tertawa. Hatinya sungguh hangat melihat keakraban anak-anak itu dengan Naruto.
Selang beberapa saat Naruto menegakkan diri lagi dan nyengir pada Hinata. "Hinata, mendekatlah kemari. Kei ingin menyampaikan sesuatu padamu."
"Eh?" Hinata tampak bingung, tapi tetap mendekat pada Kei –otomatis ia juga mendekat pada Naruto. Betapa terkejutnya gadis itu ketika dirasakannya Kei mendaratkan ciuman di pipinya sebelum meluncur turun dari pangkuan Naruto dan melesat masuk, nyaris menabrak Shizune di pintu.
"Kei, hati-hati, Sayang..." wanita itu memperingatkan salah satu anak asuhnya itu, namun si kecil Kei sudah keburu melesat ke dalam. Shizune menggeleng-gelengkan kepala, kemudian mengumumkan pada anak-anak yang masih bermain di luar, "Sudah waktunya makan siang, anak-anak!"
Terdengar sorakan girang dari anak-anak dan mereka langsung meninggalkan arena permainan dan berbondong-bondong masuk.
Shizune menoleh pada Naruto dan Hinata yang masih duduk di bangku beranda. "Kalian berdua, ayo makan siang sama-sama juga.."
"Iya, sebentar lagi, Bunda," kata Naruto.
Shizune melempar senyum pada keduanya sebelum berbalik menyusul anak-anaknya masuk.
Pandangan Naruto teralih lagi pada Hinata yang kini wajahnya memerah. Ia tertawa. "Caranya berterimakasih memang seperti itu, Hinata," ujarnya.
Hinata mengerjap, kemudian tertawa gugup. "A-aku tahu, ini bukan p-pertama kalinya," ujarnya halus sambil tersenyum, "Dia a-anak yang manis, ya..."
"Hmm..." Naruto mengangguk setuju. Ia lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, matanya menatap ke kejauhan, seperti menerawang. "Kadang-kadang kalau melihat Kei, aku seperti melihat diriku sendiri. Pap bilang, kami sangat mirip. Maksudku... cara kami bisa sampai ke panti ini hampir sama."
Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan. "Orang tua Kei meninggal dalam kecelakaan lalu lintas. Kei menjadi satu-satunya yang selamat dalam kecelakaan itu, padahal waktu itu dia masih sangat kecil. Ia sebatang kara sejak saat itu, tidak punya kerabat, tidak tahu apa-apa. Sampai akhirnya pihak rumah sakit yang merawatnya menyerahkannya ke panti asuhan ini. Aku juga seperti itu..."
"O-Orang tua Naruto juga m-meninggal dalam k-kecelakaan?" tanya Hinata hati-hati.
Naruto menjawabnya dengan gelengan pelan. "Bencana alam lebih tepatnya. Gempa bumi besar yang pernah menimpa perbatasan Konoha-Suna enambelas tahun yang lalu. Aku adalah satu dari sedikit korban yang selamat saat itu." Naruto menelan ludah dengan susah payah sebelum melanjutkan dengan suara parau, "Mereka menemukanku selamat dalam pelukan ibu dan ayahku yang sudah meninggal tertimpa reruntuhan bangunan. Aku dirawat selama berminggu-minggu di rumah sakit, tanpa kerabat sama sekali, sebelum akhirnya mereka membawaku kemari."
Hinata menatapnya penuh simpati, kemudian mengulurkan tangan dan dengan lembut membelai lengan Naruto. "Aku t-turut menyesal..." bisiknya.
Naruto menoleh menatap gadis di sebelahnya dan menyunggingkan senyum kecil. "Tidak perlu, Hinata," ujarnya tenang, "Sebenarnya aku sendiri juga tidak ingat. Itu berdasarkan yang aku dengar dari para pengurus panti yang sebelumnya. Dan aku sama sekali tidak menyesalinya, karena tidak lama setelah aku tinggal di sini, aku bertemu dengan sepasang suami istri luar biasa yang akhirnya mengadopsiku. Pap dan mendiang Mam..." Ia meletakkan tangannya di atas tangan Hinata, membuatnya sedikit berjengit –tapi tampaknya Naruto tidak begitu memperhatikannya—"Aku tidak tahu mengapa aku bisa menceritakan ini padamu, Hinata. Entahlah..." ia tertawa kecil, "...aku merasa nyaman di dekatmu."
Rona kemerahan muncul di wajah Hinata ketika ia membalas senyum Naruto malu-malu. Gadis itu menundukkan wajah untuk menyembunyikannya.
"Aku rasa kita harus sering-sering mengobrol seperti ini. Sepertinya kita bisa jadi teman baik," kata Naruto seraya menepuk-nepuk tangan Hinata. "Kau tidak keberatan, kan, kalau aku curhat padamu lagi seperti ini lain kali?"
"T-tentu saja..." desah Hinata berseri-seri, "N-Naruto bisa cerita a-apa saja padaku."
Naruto tertawa lagi. "Asal tidak dimasukkan ke artikel majalah sekolah," guraunya.
"T-tidak akan," sahut Hinata cepat sambil tertawa lembut.
Naruto menatap wajah malu-malu Hinata selama beberapa saat lagi, lalu berkata, "Bunda Shizune benar. Kau sangat lembut seperti seorang ibu, Hinata..."
Hinata tidak tahu harus menanggapi bagaimana atas komentar itu. Gadis itu merasa amat tersanjung tentu saja, terlebih yang mengatakannya adalah Naruto, pemuda yang sangat dikaguminya sejak lama. Maka ia hanya tersenyum dan dengan gugup menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinganya, lalu mulai menyibukkan diri membereskan kotak P3K yang tadi digunakannya untuk mengobati Kei.
"Omong-omong, Hinata, kau suka musik tidak?"
-
TBC...
-
Fiuh… update-an terakhir sebelum masuk ujian dan masa-masa sibuk lain!! Huhu.. hiks…
Kayanya chapter ini masih terbawa suasana chapter kemarin, banyak seneng-senengnya—kecuali untuk Sasuke. Hahaha..—Sedikit aku masukin unsur NaruHina dan NejiSaku. Sai sama sekali gak nongol! Hiks.. (lagi) Oia, satu yang aku lupa bilang chapter kemarin… YES!! KAKASHI N SHIZUNE MASIH IDUP!! Berarti masih ada peluang buat GenShizu/KakaShizu! Wakakak… XD TAPI KENAPA DANZOU YANG JADI HOKAGE?? NOOOO!!! –ehem. Garing-
Makasih untuk yang udah ngereview chapter kemarin yang banyak typo-nya itu. Hihi.. XD Tapi udah dibenerin kok ^_^
Aika-chan, Ambu, Uci-chan, Fay, Uchiha cesa, Tobi-Luna-chan, Ryn, Kakkoii-chan, Mystery-man (no name) siapakah dirimu?? XD, Lawra-chan, Imotou-chan, Arai-chan, M4yura, Fuyuno Hoshi.
Makasih banget~~ Review kalian kereeeen~~~
^_^
