Warning OoC tingkat parah!! XD
Satu lagi chapter yang 'rada-rada' nih. Ringan n gak ada konflik. Sedikit overview tentang Itachi dkk a.k.a Akatsuki di sini, tapi jadinya gaje banget... –sigh- Ampuni aku, teman-teman~
Chapter 52
Firefly Cafe, Konoha City Square...
"Ramen miso?"
"Pesananku."
"Kalau begitu Nona pasti yang memesan udon tempura ini."
"Terimakasih."
Cowok berpostur jangkung yang menjadi pelayan di restoran pinggir jalan itu pun meletakkan dua mangkuk dan gelas limun di nampannya ke atas meja tempat Sakura dan Hokuto duduk. Saat itu sesi latihan telah usai dan mereka semua sedang makan siang bersama di salah satu restoran pinggir jalan di KCS yang letaknya memang tidak jauh dari KCP.
"Wow, kelihatannya enak," kata Hokuto riang sambil menggeser mangkuk udon-nya lebih dekat dan membuka bungkus sumpitnya.
"Yeah. Apa pun kalau sedang lapar pasti terasa enak," sahut Sakura. Gadis itu menggeser mangkuk ramennya juga.
Hokuto melirik Sakura, nyengir. "Apalagi setelah semua yang gila-gilaan itu tadi. Aku jadi lapar banget..."
"Banget..." Sakura terkekeh-kekeh. Yah, setelah berteriak-teriak seperti orang kalap di taman tadi, Sakura mendadak menjadi sangat lapar. Ia membuka sumpitnya dan langsung menyumpit mie banyak-banyak.
Sementara kedua gadis itu menghabiskan makan siang mereka, suara tawa dan obrolan ringan dari meja-meja di sekitar mereka mulai terdengar di antara suara denting alat-alat makan. Sakura menyapukan pandangannya berkeliling setelah menelan mie ramen yang kenyal dan melihat Neji duduk beberapa meja dari mejanya, sedang makan sambil mengobrol santai dengan para cowok; Motoki, Shingo dan Kyusuke.
Seulas senyum muncul di wajah Sakura ketika ia teringat adegan gila-gilaannya dengan Neji di taman tadi. Sebenarnya ia sama sekali tidak menyangka bisa berkembang sampai begitu rupa, namun berakting bersama Neji membuatnya merasa bisa melakukan segalanya, mengeluarkan semua kemampuannya. Dan ini membuatnya lebih percaya diri.
Tepat saat itu Neji menoleh ke arahnya. Hati Sakura mencelos ketika mata mereka bertemu, tapi ia berusaha untuk tidak memalingkan wajah, melainkan melempar senyum padanya. Gelombang perasaan bahagia menyerangnya ketika ia melihat cowok itu membalas senyumnya sekilas sebelum kembali berpaling dan melanjutkan mengobrol dengan teman-temannya. Sakura kemudian berpaling sambil menggigit bibir bawahnya keras-keras untuk mencegah dirinya tersenyum terlalu lebar. Gadis itu menunduk, menyibukkan dirinya dengan ramennya yang baru setengah dimakan, sementara pikirannya berkelana ke meja sebelah. Sesekali ia mencuri-curi pandang.
"Ehem!"
Sakura menoleh dan mendapati Hokuto sedang nyengir padanya. "Apa?"
Hokuto mengikik. "Wah, sepertinya ada yang sedang jatuh cinta, nih..." godanya dalam bisikan.
Sakura merasakan wajahnya langsung menghangat. "Sembarangan!" bantahnya langsung dalam desisan rendah. Mata zamrudnya membeliak lebar.
Hokuto memutar bola matanya. Ditudingnya Sakura dengan sumpit. "Masih saja mau mengelak. Sudah ngaku saja, deh."
Selama beberapa saat, Sakura hanya bisa cemberut menatap temannya itu. Ia merasa tidak bisa mengelak lebih jauh lagi. Salahkan matanya yang tak hentinya mengarah ke meja sebelah, seakan tertarik oleh magnet yang sangat kuat. Sial...
Kemudian ia menggeser kursinya supaya membelakangi meja Neji dan teman-temannya. Dipandangnya Hokuto dengan tatapan cemas. "Memangnya kelihatan sekali, ya?" tanyanya dalam bisikan rendah.
Gadis berkucir itu mengikik tertahan sebelum menjawab, "Tidak juga sih. Aku hanya menebak-nebak saja, kok."
Sakura menyambar gulungan tissue bekas lalu menimpukkannya ke arah Hokuto dengan gemas. "Dasar!"
Hokuto tertawa-tawa. Ia mengambil gulungan tissue yang dilempar Sakura dan balas menimpuk gadis itu. "Tapi benar, kan?" godanya.
Sakura hanya cemberut, mengaduk-aduk kuah ramennya.
Hokuto terkekeh puas. Ia mengambil waktu untuk menyeruput limunnya sebelum berkata sok bijak, "Tidak perlu malu begitu, Sakura. Wajar kok..." Gadis berambut cokelat muda itu kemudian menghela napas dramatis sambil menoleh untuk menatap Neji dari kejauhan dengan tatapan rindu. "Siapa sih, cewek di Konoha High yang tidak mengakui kalau Neji Hyuuga adalah cowok yang benar-benar menarik? Pintar, tampan, kaya. Tidak heran kalau banyak cewek yang mengincarnya." Hokuto lalu berpaling pada Sakura, nyengir. "Tapi kau harus siap bersaing dengan selusin lebih cewek kalau mau mendekatinya, Sakura."
Sakura tersenyum hambar. Hokuto benar, ia membatin kecut. Ia merasa terlalu biasa saja kalau dibandingkan dengan gadis-gadis cantik dan menarik di kelas tiga yang selalu mengelilingi Neji. Kalau membayangkan ini, rasanya kesempatan Neji akan memperhatikan gadis kelas dua seperti dirinya sama besarnya dengan cacing pita. Tetapi tetap saja, Sakura tidak bisa menahan dirinya untuk berharap.
Hokuto kemudian mencondongkan tubuhnya ke atas mangkuk udonnya yang entah sejak kapan sudah kosong dan berkata dengan ekspresi serius di wajahnya. "Tapi menurutku kau punya kans, Sakura. Dengan menjadi lawan mainnya, berarti nanti kau akan menghabiskan banyak waktu bersamanya. Siapa tahu, kan? Cinta bisa datang karena terbiasa, Saku..."
"Menurutmu begitu?" bisik Sakura seraya turut mencondongkan tubuhnya. Ia tidak bisa menahan nada berharap dalam suaranya.
Temannya itu mengangguk. Ia merendahkan suaranya saat melanjutkan, "Hanya saja kau harus berhati-hati dengan Yakumo. Kau tahu kan, mereka pernah jadian selama beberapa bulan. Memang sih, sekarang mereka sudah putus, tapi aku curiga masih ada apa-apa di antara mereka. Soalnya aku beberapa kali memergoki mereka berduaan saja di belakang sekolah, mengobrol entah apa, sepertinya serius sekali."
Sakura otomatis menoleh ke arah gadis berambut panjang kecokelatan yang duduk tidak jauh dari meja Neji dan teman-teman, bersama Tenten dan Reika. Yakumo terlihat sedang menyibakkan rambutnya yang halus panjang kecokelatan sambil tertawa dengan suaranya yang merdu, wajahnya sedikit merona di bawah siraman cahaya matahari. Sakura tertohok oleh perasaan cemburu. Gadis itu begitu menawan, berbakat dan berasal dari keluarga terpandang. Kalau disandingkan dengan Yakumo yang anggun, Sakura merasa dirinya sangat menyedihkan.
Semangatnya karena memikirkan memiliki kans untuk dekat dengan Neji mendadak melorot.
"Hei, kok tiba-tiba lesu begitu, sih?" Hokuto terkekeh-kekeh. "Ayolah, bukan berarti mereka bakal jadian lagi, kan?"
Sakura meringis. Tidak ingin memikirkannya lagi, ia lantas menunduk untuk melanjutkan menghabiskan ramennya. Sementara itu di sampingnya, Hokuto sudah mengeluarkan ponsel dan tampak asyik mengutak-atiknya, sesekali mengikik sendiri dengan wajah merona. Mizura, jelas sekali. Sakura menghela napas berat. Enak sekali yang sudah punya cowok, pikirnya sambil melanjutkan menghabiskan ramennya.
Dalam waktu beberapa menit, mangkuk ramennya akhirnya tandas. Sakura menyeka bibirnya dengan tisue bersih dan menyeruput limun. "Aku sele—"
"Dia datang, Sakura!" seru Hokuto menyelanya. Matanya membulat menatap sesuatu di belakangnya.
Belum sempat Sakura menoleh untuk melihat apa yang sedang dipandangi Hokuto, sebuah suara dalam yang sudah sangat ia kenali menyapanya, membuatnya jantungnya seakan melompat dalam rongganya.
"Apa aku mengganggu?"
Sakura menoleh cepat dan melihat Neji sudah berdiri di sana, menunggu jawaban mereka.
"Sama sekali tidak," sahut Hokuto segera sambil melempar pandangan penuh arti pada Sakura. Cengiran muncul di wajahnya ketika melihat temannya itu salah tingkah.
"Baguslah," kata Neji sembari menarik kursi di sebelah Sakura dan duduk di sana. "Aku hanya ingin membicarakan soal latihan—"
"Dengan Sakura, kan?" sela Hokuto cepat sambil kembali melirik Sakura yang sedang membeliak padanya, "Soalnya kalau kalian berdua tidak keberatan, aku ingin ke toilet sebentar."
"Oh, yeah, tentu saja," sahut Neji padanya.
Sementara itu Sakura menarik-narik tangan Hokuto dari bawah meja seraya memberi isyarat dengan matanya supaya gadis itu tinggal, tapi Hokuto mengabaikannya. Ia menyentakkan tangan Sakura lepas seraya menyunggingkan senyum jahil. "Aku tinggal dulu kalau begitu, Neji, Sakura." Dan ia pun beranjak dan pergi dari sana.
Sakura mengutuki temannya itu dalam hati. Tega-teganya Hokuto meninggalkannya begitu saja! Ia merasa belum siap berduaan dengan Neji dalam satu meja seperti ini. Tapi apa boleh buat, bagaimanapun ia harus menghadapinya. Sakura lantas menoleh pada Neji.
"Um... tadi mau bicara apa?" tanyanya bego. Ingin sekali Sakura menggetok kepalanya sendiri. Jelas-jelas Neji tadi sudah menyebutkannya.
"Soal latihan," sahut Neji tenang sambil menatap Sakura, tanpa menyadari bahwa tatapannya itu membuat lawan bicaranya itu lemas, "Kau pasti tahu kalau latihan akan mulai diadakan minggu depan, bukan?"
Sakura mengangguk canggung.
"Nah, masalahnya barangkali aku tidak bisa mengikuti beberapa sesi, karena aku harus pergi ke Ame untuk mengurusi pendaftaran dan test ke universitas di sana beberapa hari. Mungkin seminggu atau lebih—Kuharap sih tidak sampai seminggu."
"Kau akan kuliah di Ame?" celetuk Sakura terkejut, "Di mana? University of Amegakure?"
"Ame Medical School," jawab Neji.
"Ooh... kau berminat menjadi dokter kalau begitu?"
Mata zamrud Sakura membulat, setengah kagum setengah terheran. Kagum karena universitas pilihan Neji adalah universitas medis terbaik di seluruh negeri dan sulit sekali untuk bisa masuk ke sana. Di sisi lain ia terheran karena ia mengira Neji akan melanjutkan sekolah bisnis mengingat keluarganya adalah pemilik perusahaan real estate terbesar di Konoha, Hyuuga Group.
Neji tersenyum tipis, "Begitulah."
"Wow!" desah Sakura. "Kukira kau akan melanjutkan kuliah bisnis."
Neji hanya tersenyum menanggapinya. "Bisakah kita kembali ke topik awal?"
"Oh! Um... maaf," gumam Sakura sambil menundukkan kepala, malu.
"Jadi..." Neji memulai, "Aku harap aku bisa mengganti sesi di mana aku tidak hadir, dan berhubung scene Alfredo lebih banyak bersama Violetta, kupikir aku harus mendiskusikannya denganmu." Ia terdiam sejenak. "Begini, kau tidak keberatan kan kalau harus menjalani latihan ekstra bersamaku di luar sesi latihan reguler? Mungkin kita bisa melatih dialog saat jam istirahat atau.. um.. yah, kita bisa mengaturnya lagi nanti. Bagaimana?"
Otak Sakura dengan cepat mengolah informasi ini. Apakah itu berarti ekstra waktu yang harus dilewatkannya berdua saja dengan Neji?
"O-Oke..." sahutnya setelah beberapa lama.
"Tidak akan merepotkanmu?"
Sakura menggeleng cepat. "Tentu saja tidak."
Neji memberinya senyum tipis. "Baguslah kalau begitu. Kita akan bicarakan lagi besok setelah latihan pertama."
Sakura mengangguk, membalas senyum cowok itu. Dalam hati sekuat tenaga menahan diri supaya tidak melonjak-lonjak kegirangan.
Neji kemudian menghela napas panjang sambil menyandarkan punggungnya ke kursi, tampak lebih santai. Sekali lagi ia memandang Sakura, membuat gadis itu gugup lagi. "Yang di taman tadi itu, aku tidak menyangka kau bisa improvisasi sejauh itu, Sakura."
"Aku hanya mengeluarkan yang ada di kepalaku, seperti katamu," sahut Sakura sambil nyengir.
Neji mengeluarkan tawa kecil. "Tidak salah Tenten memilihmu untuk peran utama," ujarnya.
Sakura merasa sangat tersanjung sampai-sampai tidak tahu harus menanggapi bagaimana selain mengucapkan, "Trims."
"Nah, begitu dong..." kata sebuah suara wanita yang melengking tinggi dari sebelah meja mereka.
Baik Sakura maupun Neji menoleh ke sumber suara dan mendapati seorang ibu-ibu berpostur gemuk pendek yang sedang menggendong seekor chihuahua berpita pink berdiri di sebelah meja mereka. Mereka mengenalinya sebagai ibu-ibu yang membelalak pada mereka saat sedang berakting di taman tadi. Sepertinya ia kebetulan lewat di sana.
"Kalau akur begini kan enak dilihatnya. Yang namanya masalah di antara pasangan itu biasa, yang penting bagaimana menyelesaikannya dengan kepala dingin. Dari pada bertengkar seperti tadi, kan?"
Kedua remaja itu hanya bisa tercengang.
"Kamu juga," tuding ibu-ibu itu pada Neji, "Kau harus menjaga perasaan pacarmu ini. Apalagi dia sedang mengandung, kan?" Ia melirik Sakura. "Emosi yang berlebihan itu bahaya buat janin, lho..."
Wajah Sakura langsung merah padam mendengar perkataan ibu-ibu itu barusan, sementara itu Neji tampak setengah mati menahan tawanya.
"I-Iya..." gumam cowok itu dengan suara seperti tercekat.
Ibu-ibu itu mengangguk dengan ekspresi puas di wajahnya dan menghela napas dengan gaya berlebihan. "Hah... Ada-ada saja. Kenapa ya, hari ini banyak sekali orang bersikap yang aneh-aneh?" Kemudian ia pun berbalik dan melenggang pergi.
Tak seorangpun dari mereka yang bicara selama beberapa saat, sama-sama tercengang karena tiba-tiba disambangi dan dinasihati oleh ibu-ibu tidak dikenal. Keduanya bertukar pandang dan saat berikutnya gelak tawa meledak di meja itu, mengundang pandangan heran dari meja-meja di sekitar mereka.
Sisi tubuh Sakura terasa nyeri saking serunya ia tertawa. Di sudut matanya yang berair, ia melihat Neji terbahak sama serunya. Omong-omong, ini pertama kalinya Sakura melihat Neji tertawa begitu lepas, dan ternyata dalam keadaan terbahak-bahak pun ia masih terlihat amat memesona.
-
-
Dua jam kemudian Sakura sudah turun dari bus di halte Crimson Drive di dekat Blossom Cafe. Dengan ekspresi puas, gadis itu mengedarkan pandangannya berkeliling dan tersenyum pada semua orang yang ada di sana. Tidak peduli ia mendapatkan tatapan heran sebagai balasannya. Suasana hati Sakura begitu riang saat itu, sampai-sampai ia merasa dirinya terbang saat melangkah menuju restoran keluarganya.
Hari yang sungguh menyenangkan, gadis itu membatin seraya menyibak poni yang terjatuh ke matanya. Senyum tak hentinya membayang di wajahnya ketika ingatan soal kejadian hari itu berputar lagi dalam ingatannya.
Senyumnya... Suaranya... Tawanya... Bahkan mereka sempat berpelukan tadi—ah, tepatnya Neji lah yang memeluknya! Yah, walaupun itu hanya akting saja. Tapi tetap saja, kan?
Neji...
Sakura menggigit bibirnya dan mengikik sendiri. Ah, panah dewi asmara yang baru saja menancap di hatinya nampaknya telah membuatnya seperti orang kehilangan akal.
"Oi, Sakura!!" Izumo menyapanya dari arah pintu masuk saat Sakura sudah sampai di Blossom Cafe. Pria muda itu nyengir lebar menyambut putri pemilik tempatnya bekerja. "Lagi senang, ya? Senyum-senyum terus..."
Sakura hanya terkekeh-kekeh, lalu melangkah masuk melewati pintu yang terbuka. Suara musik yang mengalun riang langsung menyambutnya begitu ia masuk, benar-benar sesuai dengan suasana hatinya saat itu—Omong-omong, mereka telah mengganti jukebox tua milik mendiang ayah Sakura dan menggantinya dengan yang baru—Sakura menyapa semua orang di sana dengan riang.
"Lho? Ibu mana?" tanyanya terheran ketika mendapati ibunya tidak tampak di mana pun.
"Nyonya Azami keluar lagi tadi siang, Sakura," sahut Ayame sambil menuangkan kopi tambahan untuk salah satu tamu mereka.
"Keluar lagi?" Sakura mengernyitkan dahi, meletakkan telunjuk di dagunya. "Kok tidak bilang-bilang, ya?"
Ayame hanya mengangkat bahu sebagai jawaban.
Aneh, pikir Sakura. Biasanya Azami selalu memberitahunya dulu kalau mau keluar-keluar. Semalam juga...
Ah, tapi kali itu Sakura terlalu senang untuk memikirkannya. Paling-paling ibunya pergi ke luar dengan teman-temannya lagi. Gadis itu kemudian melompat masuk ke dapur untuk menyapa semua orang di sana dengan keceriaan tingkat tinggi.
"Sore, Yamato! Iwashi! Paman Teuchi!!!" serunya, yang langsung dibalas oleh mereka. Tak lupa ia juga menyapa para pekerja paruh waktu yang bertugas mencuci piring-piring kotor.
"Sudah pulang, Sakura?" tanya Yamato dari balik panci yang menguarkan aroma lezat. "Bagaimana tadi?"
"Menyenangkaaaaaaaan banget!!" cetus Sakura sambil nyengir lebar. Ia lalu meninggalkan dapur, menuju ruang ganti. Bersenandung kecil, ia membuka salah satu lokernya dan menyimpan barang-barangnya, lalu mengambil baju ganti yang sengaja disiapkan untuknya di sana.
Beberapa menit berselang, ia sudah berganti pakaian mengenakan seragam restoran keluarganya yang berwarna merah marun dan berdiri di depan cermin, mengamati bayangannya sendiri. Mata hijaunya tampak lebih berbinar dari pada biasanya dan pipinya merona kemerahan, entah karena terlampau senang atau terlalu lama terpapar udara dingin di luar. Sakura tersenyum pada bayangannya sendiri seraya membenahi rambut merah mudanya yang agak berantakan. Ia kemudian mengenakan roller blade-nya.
Selesai! Ia pun meluncur meninggalkan ruang ganti dan bersiap bergabung dengan Izumo dan yang lain.
"Biar kutebak," kata Isaribi ketika Sakura menghampirinya di dekat pintu. "Pasti ada hubungannya dengan cowok. Benar, kan?"
Wajah Sakura merona kemerahan dan ia terkekeh. "Tahu aja, sih?"
Isaribi menyeringai penuh kemenangan. "Tahu dong... Habis mukamu merah begitu, sih. Jadi siapa cowok beruntung itu, eh?"
Sakura mengikik, menyembunyikan wajahnya di balik buku menu yang dipegangnya. "Ra-ha-si-a!!" Sebuah cubitan mendarat di pinggang Sakura, membuatnya mengaduh dan nyaris tergelincir. "Ow, hati-hati dong..."
"Dasar, yang lagi kasmaran!" ledek Isaribi.
Sakura pura-pura mencibirnya, lalu tertawa. Gadis itu mengedarkan pandangannya. Restoran sedang agak lengang saat itu, hanya ada beberapa orang saja yang duduk di meja-meja dan dua orang pria berpostur kurus bermantel yang duduk di bar. Sakura mengerling arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Sebentar lagi masuk waktu makan malam, pikir Sakura. Pasti nanti bakal ramai.
Oh, tidak masalah... Sakura merasa tahan kerja semalaman di restoran! Ia sedang sangat bersemangat!
Tapi sebelum itu...
"Sebentar," katanya pada Isaribi sebelum meluncur menuju jukebox baru mereka di sudut ruangan dan mulai mengutak-utiknya. Beberapa saat kemudian intro berirama salsa mulai memenuhi restoran itu. Sakura menggoyangkan tubuhnya mengikuti irama, mengundang kikik dari Isaribi dan Ayame.
"Funny thing is when I look into your eyes
I sense something so sincere in your disguise
You whisper secrets I hear only in my dreams
Then I wake up to your tele-smoke screen..."
"Eh, kenapa diganti tuh?" protes Kotetsu yang baru selesai mengantarkan pesanan.
"Yang tadi terlalu berisik, ah!" sahut Sakura enteng sambil nyengir. "Yang ini lebih enak!" Terkekeh, gadis itu lalu meluncur ke arah Kotetsu dan mengajaknya berjoget. Kotetsu, meskipun bingung, meladeni saja ajakan Sakura. Gelak tawa memenuhi restoran itu kemudian.
"(So baby, stop) Stop, you're surrounded
(I got my love) Love all around ya
(One wrong move) Move and I'll down ya
And that'll end ya
You should surrender
You'll never win
Unless you give in..."
Bel dari arah pintu berbunyi membuat mereka menoleh. Rupanya ada pelanggan datang, pelanggan yang tidak asing. Seorang cowok jangkung bermantel hitam. Rambutnya yang juga berwarna hitam tampak sedikit berantakan, dan wajahnya yang biasanya pucat terlihat merona.
"Sai!" seru Sakura ceria seraya melepaskan diri dari Kotetsu, kemudian bergegas meluncur menyambutnya dengan senyum lebar. Gadis itu agak terlalu bersemangat sampai nyaris tergelincir dan menubruk Sai.
"Whoops!" Sai menangkap lengan Sakura. "Hati-hati."
Gadis itu tertawa-tawa. "Sori, sori... Roller blade-ku terlalu bersemangat." Ia mundur sedikit begitu Sai melepaskan pegangannya dan menatap cowok itu sambil tersenyum. "Tumben kemari, Sai?"
"Yeah," sahut Sai berseri-seri. Tampaknya suasana hatinya juga sama bagusnya dengan Sakura. Ia lalu mengangsurkan sebuah buku berukuran agak lebar pada Sakura. Sebuah sketch book. "Aku ingin memberitahu sesuatu padamu, Sakura!" katanya sedikit terengah.
Sakura mengangkat alisnya menerima buku itu. "Apa ini?"
"Lihat saja..."
Sakura membuka buku itu dengan penasaran. Isaribi turut melongok dari atas bahu Sakura. Bahkan Arashi Fuuma yang kebetulan lewat juga turut penasaran dan mengintip. Lembar demi lembar halaman yang dibukanya menampakkan beraneka macam sketsa yang telah digoreskan oleh Sai. Sebagian besar adalah sketsa wajah. Sakura bisa mengenali wajahnya sendiri, lalu Naruto, Sasuke dan sebagian besar berlatar sekolah mereka.
"Wow, itu bagus sekali," puji Arashi.
"Sangat indah," timpal Isaribi setuju.
"Ini semua kau yang buat, Sai?" tanya Sakura kagum. Matanya tidak lepas memandang deretan sketsa indah di halaman-halaman itu.
"Yeah," sahut Sai. Ada nada puas dalam suaranya. "Inilah yang ingin kuberitahukan padamu."
Sakura mengangkat wajahnya, menatap Sai tidak paham. "Apa maksudnya?"
Tapi sebelum Sai sempat menjawabnya, Arashi menyela mereka, "Bagaimana kalau kalian ngobrolnya sambil duduk saja? Kalian sejak tadi menghalangi pintu soalnya."
"Oh, yeah benar," kata Sakura. Ia juga baru menyadarinya. "Yuk masuk, Sai," ajaknya sebelum berbalik dan meluncur menuju salah satu meja kosong di dekat jendela. Sai mengikuti di belakangnya.
"Jadi..." Sakura memulai ketika keduanya sudah duduk dengan nyaman di sana, "Aku masih tidak mengerti soal ini."
Sai tersenyum lebar, lalu berkata, "Aku sudah bisa melukis lagi, Sakura. Aku mendapatkan sense-ku kembali!"
Sakura mengangkat kedua alisnya tinggi. Masih tidak mengerti.
"Kau masih ingat soal lukisan 'Sang Bidadari' milik kakakku? Kau tahu kan, kalau aku pindah sekolah untuk mencari gadis dalam lukisan itu? Alasan sebenarnya di balik itu adalah aku berusaha mendapatkan kembali sense melukisku dengan mencari gadis itu."
"Apa hubungannya sense melukis dengan gadis itu?" Sakura bertanya bingung.
"Kakakku selalu bilang kalau gadis dalam lukisan itu adalah sumber inspirasinya yang paling besar. Aku mencarinya karena aku berharap gadis itu juga bisa mengembalikan sense-ku, menjadi sumber inspirasiku yang paling besar, seperti Shin."
"Ooh.. jadi kau sudah menemukan siapa gadis itu dan mendapatkan sense-mu kembali?" tanya Sakura antusias.
Sai menggeleng. "Tidak. Aku tidak tahu siapa gadis itu dan sekarang itu sudah tidak terlalu penting, karena sense-ku sudah kembali."
"Bagaimana bisa?"
Sai tidak langsung menjawab. Matanya sedikit menerawang sebelum memulai penuturannya. "Entahlah, aku juga tidak terlalu mengerti. Yang aku tahu, pagi ini aku sedang memikirkanmu, Naruto juga Sasuke, mengenang kembali awal pertemananku dengan kalian. Tiba-tiba saja aku merasa ingin sekali melukis, padahal sebelumnya keingingan itu tidak pernah muncul, tapi pagi ini rasanya tanganku gatal ingin mengangkat pensil dan kuasku lagi. Tapi aku masih terlalu takut untuk berhadapan lagi dengan kanvas, jadi aku memulainya dari sini," ia menunjuk sketch book-nya.
Mata onyx-nya berbinar ketika ia melanjutkan, "Tanganku seperti bergerak sendiri ketika aku mulai menggoreskan pensilku. Semuanya mudah sekali, padahal sebelumnya begitu sulit—membuat karikatur untuk jurnal saja rasanya sulit sekali—Tapi aku sekarang bisa menggambar apa pun yang aku mau! Kemudian aku mencoba melukis di atas kanvas, dan..." Sai seperti tidak mampu melanjutkan lagi saking senangnya. Tangannya sampai gemetaran.
Dan di tangan itu, Sakura melihat bekas-bekas cat minyak. Gadis itu lantas tersenyum. "Biar kutebak. Kau berhasil melukis lagi?"
Sai mengangguk penuh antusias. "Aku melukis gila-gilaan siang ini. Menghabiskan banyak sekali cat dan kanvas..." Cowok itu kemudian mengambil tangan Sakura yang tergeletak di atas meja dan menggenggamnya. "Aku rasa kalianlah—kau, Naruto dan Sasuke—yang membuatku mendapatkan sense-ku kembali. Kalian yang menjadi sumber inspirasi terbesarku sekarang. Terimakasih banyak, terimakasih banyak..."
Sakura tertawa kecil. Ia meletakkan sebelah tangannya lagi di atas tangan Sai yang menggenggam tangannya yang satunya. "Kadang-kadang persahabatan bisa membawa keajaiban, Sai. Aku senang itu terjadi padamu..."
Cowok itu tersenyum tulus. Wajahnya yang biasa pucat berseri-seri, membuatnya terlihat jauh lebih tampan dibanding biasanya.
"Whoa, Sai, tanganmu sampai gemetaran begini," ujar Sakura sambil tertawa kecil. "Kau pastilah sangat senang, ya?"
"Sangat," sahut Sai. "Sangat senang..."
Sakura tertawa renyah seraya melepaskan tangan mereka yang saling bertaut. "Bagaimana kalau secangkir teh atau kopi hangat untuk menenangkan diri?"
"Teh saja, please. Dan aku juga masih utang janji makan di sini, kan?" kata Sai.
"Kalau begitu silakan pilih menunya." Sakura mengangsurkan buku menu pada Sai sambil tersenyum ceria. "Sementara itu aku akan mengambilkan teh hangat untukmu."
"Terimakasih, Sakura."
"Sama-sama." Dan gadis berambut merah muda itu pun beranjak menuju bar untuk memesankan secangkir teh hijau hangat untuk Sai pada Ayame.
Sementara menunggu Ayame selesai meracik teh pesanannya, Sakura menyapukan pandangnya berkeliling. Ia melihat Sai sedang membuka-buka buku menu dengan wajah luar biasa gembira. Sakura tidak bisa menahan diri tersenyum. Sejak kemarin banyak sekali hal menyenangkan yang terjadi, pikirnya.
Suara bel terdengar begitu pintu masuk berayun membuka. Sakura menoleh dan melihat Isaribi sedang menyambut seorang pria muda tampan berambut hitam berkucir yang baru saja masuk. Sosok itu rasanya tidak asing. Tentu saja, karena Sakura melihatnya juga di taman tadi pagi.
"Kak Itachi!" sapa Sakura cerah.
Itachi menoleh dan tersenyum. "Hai, Sakura!" balasnya.
Sakura bergegas meluncur menghampiri kakak Sasuke itu, berhati-hati agar tidak menubruknya. "Wah, sudah lama tidak ketemu. Kak Itachi apa kabar?"
"Yah, begini begini saja," sahut Itachi dengan senyumnya yang hangat. "Kau juga kelihatannya sehat, kan?"
Sakura mengangguk riang. "Bagaimana kabar Sasuke, Kak?"
"Oh, Sasuke juga sehat. Dia bilang dia kangen Konoha," kata Itachi terkekeh-kekeh. "Dia juga kangen pada teman-temannya."
"Sudah seharusnya begitu. Tapi Sasuke sombong sekali. Masa dia tidak pernah membalas sms kami. Kemarin saja kebetulan sama-sama online, jadi bisa ngobrol sebentar," Sakura langsung curhat.
Itachi tertawa. "Yah, maklumi saja. Sasuke memang seperti itu. Tapi setiap kali aku meneleponnya, yang ditanya olehnya pertama kali pasti kalian." Keduanya lalu bertukar senyum. "Oh, ya. Kenalkan, ini Kisame Hoshigaki," Itachi memperkenalkan pria di belakangnya.
Sakura menoleh ke belakang Itachi. Ia tidak begitu memperhatikannya sebelumnya, pria yang datang bersama Itachi. Padahal postur tubuhnya yang tinggi besar itu hampir memenuhi pintu masuk. Pria itu berkulit pucat dengan rambut tegak berwarna biru tua.
"Halo," kata pria itu dengan suaranya yang serak.
Sakura mendongak menatap pria itu. Wajahnya agak menyeramkan, pikir Sakura. Matanya kecil dan berwarna keperakan, sangat kontras dengan senyumnya yang kelewat lebar menampakkan gigi-giginya yang agak runcing, seakan giginya taring semua. Meski begitu, Sakura tetap melempar senyum sopan padanya.
"Aku Sakura Haruno. Salam kenal, Paman—"
Itachi mendengus tertawa sementara pria bernama Kisame itu mendengking, "Aw, kok 'Paman', sih? Itachi saja dipanggilnya 'Kakak', kenapa aku jadi 'Paman'? Kami seumuran lho, Sakura..."
Ups!
"Um... maaf, Kak Kisame," ucap Sakura pelan dengan wajah memerah karena malu.
"Nah, begitu kan enak didengarnya," kata Kisame. Sakura lega sekali melihatnya tersenyum ramah.
Dari sudut matanya, Sakura melihat Ayame sudah selesai dengan tehnya dan sedang meletakkannya di atas nampan.
"Um.. kalau begitu aku permisi dulu, Kak..." Sakura membungkukkan tubuhnya sedikit pada Itachi dan temannya sebelum meluncur kembali ke bar untuk mengambil teh Sai.
Isaribi kembali mengambil alih setelah Sakura pergi. Gadis itu mengantar kedua tamu mereka ke salah satu meja kosong.
"Bisa pesannya nanti saja, Nona?" tanya Itachi pada Isaribi saat gadis itu mengangsurkan buku menunya, "Kami masih menunggu teman kami soalnya."
"Oh, baiklah," sahut Isaribi ramah. "Tapi sementara menunggu, barangkali kalian ingin minum sesuatu, atau mencoba menu sore kami?"
"Um.. dua teh hijau hangat saja kalau begitu," kata Itachi, "Ah, dan dangonya dua porsi kalau ada."
"Baiklah. Mohon tunggu sebentar." Isaribi meluncur pergi setelah mencatatkan pesanan mereka, meninggalkan buku menunya di meja.
"Anak perempuan yang rambutnya merah muda tadi siapamu?" tanya Kisame setelah Isaribi pergi. Sakura baru saja melewati meja mereka dengan membawa nampan berisi teh. Gadis itu melempar senyum sopan pada mereka. "Kelihatannya kalian akrab sekali."
"Oh, Sakura? Dia teman adikku. Sudah seperti adikku sendiri juga," sahut Itachi sambil membuka-buka buku menunya.
"Sudah seperti adik?" Kisame mengernyit heran. Setahunya Itachi tidak pernah akrab dengan teman-teman adiknya—atau tepatnya Itachi biasanya tidak begitu menyukai teman-teman Sasuke saat di Oto dulu. Tangannya yang besar mengambil botol garam dan memain-mainkannya. "Tumben kau suka pada teman adikmu, Itachi. Atau jangan-jangan, dia itu calon adik iparmu atau apa."
Itachi tertawa pelan sambil mengibaskan tangannya. "Kalau itu sih, aku harus tanya Sasuke dulu." Ia lalu mengerling Sakura dari kejauhan, tersenyum kecil. "Tapi aku tidak keberatan dia jadi adik iparku. Dia gadis yang manis, kan? Sasuke juga sepertinya menaruh perhatian padanya."
"Kalau begitu jangan sampai kelihatan Deidara. Bisa gawat urusannya," gurau Kisame. "Kau tahu dia, kan?"
Itachi mendengus kecil. "Bukannya katamu Deidara sudah punya pacar tetap sekarang?"
"Bukan kataku, tapi kata Sasori. Aku belum ketemu Deidara lagi. Aku agak malas pulang ke Kiri soalnya, kau tahu, kan?"
Itachi menyeringai tipis menatap wajah tidak senang temannya itu. "Masalah dengan Kakuzu lagi? Apa maunya Paman Gober satu itu kali ini?"
"Biasalah," sungut Kisame seraya mengibas-ngibaskan tangan besarnya. "Padahal sudah kukatakan berulang kali padanya kalau uang yang kupakai untuk traveling-ku yang terakhir ke Eropa adalah tabungan pribadiku dari penangkaran hiu keluargaku di Kiri, bukan dari kas Akatsuki. Tapi dia tidak percaya. Dasar lintah darat satu itu, urusan uang paling semangat. Padahal dia juga ambil keuntungan dari perjalananku. Kalau bukan karena memikirkan bisnis kita, aku tidak akan mau mengumpulkan resep-resep setiap kali pergi-pergi."
Itachi hanya menggeleng-gelengkan kepala tidak habis pikir. Sejak dulu urusan dengan Kakuzu pasti seputar itu-itu saja, tidak pernah jauh dari masalah keuangan. Itulah sebabnya ia malas berurusan dengan kawannya yang satu itu. Selama ia masih mendapatkan bagiannya dari keuntungan usaha restoran mereka di Kiri, Itachi sama sekali tidak berminat mengganggu Kakuzu.
"Heran. Zetsu, Tobi dan Hidan tahan sekali dekat-dekat dengannya," kata Kisame yang tampaknya masih belum puas bersungut-sungut. "Ah, Deidara juga. Kau tahu tidak dia pindah dari Iwa ke Kiri? Katanya mau ambil S2 di Kirigakure University of Art."
Itachi mengangguk lagi tanpa mengangkat matanya dari buku menu di tangannya. "Yeah. Dia sudah meneleponku seminggu yang lalu. Dan omong-omong soal sekolah lagi, aku berencara mengambil S2 di Konoha School for Business and Management. Pein dan Konan juga katanya mengambil program spesialis di Ame Medical School. Kau bagaimana? Berminat melanjutkan studimu tidak?"
Kisame meringis. "Untuk sementara ini masih belum minat. Aku masih ingin keliling dunia soalnya. Aku berencana pergi ke Asia Tenggara, penasaran dengan Bali dan Yogyakarta, Thailand juga. Setelah itu, mungkin aku akan pergi ke Timbuktu."
"Kabur dari Paman-Kakuzu-Gober?" Itachi tertawa. "Kalau begitu selamat bersenang-senang sajalah." Ia lalu mengeling arlojinya. "Aku harap Sasori tidak nyasar."
"Dia tidak akan nyasar," kata Kisame. "Kau kan tahu dia mahir membaca peta. Lagipula ia kemari pakai taksi, paling-paling sebentar lagi juga sampai. Dan katanya dia kemari dengan keponakannya."
"Oh, Sasori punya keponakan di Konoha?" Itachi tampak sedikit terkejut.
Kisame mengangkat bahunya. "Katanya sih siswa pertukaran Konoha-Suna. Dia hanya sementara di Konoha."
"Ooh..."
"Omong-omong, katanya kau punya anjing?"
"Yap. Golden retriever yang bagus sekali, namanya Rufus. Dia sedang bersama Hana sekarang, sepertinya ada masalah dengan pencernaannya."
"Hana? Pacarmu yang dokter hewan itu?" tanya Kisame penasaran. "Dia cantik tidak? Cantik mana dengan Konan?"
Itachi mengangkat wajahnya dari buku menunya dan menyeringai tipis menatap Kisame. "Aku tidak akan memberitahumu, nanti kau naksir dia."
Kisame tertawa gelak-gelak, membuat pengunjung lain menoleh ke meja mereka.
-
-
"Sudah memutuskan mau makan apa, Sai?" tanya Sakura sambil meletakkan cangkir teh hijau Sai di atas meja.
"Um... semuanya kelihatan enak. Aku bingung..." Sai menggaruk kepalanya yang tidak gatal sementara tangan satunya membuka-buka buku menu. "Kalau begitu aku ikut pilihanmu saja deh," katanya pada akhirnya sembari mengembalikan buku menunya pada Sakura. "Omong-omong, bisakah kau makan bersamaku juga? Aku tidak ingin makan sendirian kalau bisa."
"Oh, kau ingin service istimewa, Tuan Sai?" tanya Sakura dengan senyum nakal. "Baiklah. Tapi ada tip khususnya, ya.."
"Eh?"
Sakura tertawa lagi. "Cuma bercanda. Hari ini aku yang traktir deh. Waktu itu kan kau sudah mentraktirku makan nasi daging panggang. Hitung-hitung juga untuk merayakan keberhasilanmu mendapatkan sense-mu kembali. Bagaimana?"
"Um.. baiklah," sahut Sai sambil tersenyum.
Saat berikutnya, Sakura sudah menunduk untuk memilihkan makan malam untuk mereka berdua dan mencatatkan menu istimewa di restoran itu di lembar pesanan.
"Hei, bukannya itu kakaknya Sasuke?" celetuk Sai kemudian sambil menunjuk salah satu meja di dekat pintu.
Sakura yang baru saja selesai menuliskan pesanan mengangkat kepalanya dan menoleh. Gadis itu tersenyum. "Yap. Kak Itachi." Ia memandang Sai lagi. "Kau ingin menyapanya?"
"Um.. kalau boleh."
Sakura terkekeh. "Kau ini bagaimana? Tentu saja boleh. Kak Itachi pasti senang melihatmu."
Lagi-lagi Kisame dibuat terheran begitu Sai dan Sakura mendatangi meja mereka. Itachi menyambut kedua remaja itu dengan hangat, bahkan menawarkan untuk bergabung dengan mereka—setelah memperkenalkan Sai pada Kisame sebelumnya, tentu saja—Padahal dulu, saat mereka bertemu teman-teman Sasuke saat masih di Oto, Itachi selalu pasang tampang tidak senang. Kontras sekali dengan apa yang terjadi sekarang.
Barangkali memang ada yang istimewa dalam diri bocah-bocah Konoha ini, pikir Kisame.
"Omong-omong, kenapa aku tidak melihat Naruto?" celetuk Itachi kemudian.
"Naruto ada keperluan lain, Kak. Dia bilang hari ini akan pergi ke panti asuhan," sahut Sai. "Aku meneleponnya tadi dan ayahnya memberitahuku dia pergi ke sana," ia menambahkan pada Sakura.
"Oh," Itachi tampak terkesan. "Hebat sekali.."
"Naruto itu sangat menyayangi anak-anak di sana seperti adik-adiknya sendiri," kata Sakura dengan nada bangga yang tidak bisa disembunyikan dalam suaranya. "Dia senang menghabiskan waktu di sana sekedar untuk bermain bersama mereka."
"Wah, jarang-jarang ada anak muda yang berjiwa sosial seperti itu," celetuk Kisame kagum. "Tidak seperti kita-kita dulu. Yang dipikirkan hanyalah bagaimana bisa bersenang-senang," kekehnya sambil melirik ke arah Itachi. Pria berambut hitam itu hanya terkekeh-kekeh, lalu menghirup tehnya yang baru diantarkan Isaribi.
Obrolan ringan yang sesekali diselingi dengan tawa itu berlanjut sampai kemudian Kisame menoleh ke arah jendela dan berseru,
"Ah, itu Sasori!"
Kisame menunjuk taksi yang baru saja memasuki lapangan parkir restoran. Taksi itu berhenti tepat di depan pintu utama, dan saat berikutnya seorang pria yang kira-kira seumuran dengan Itachi muncul. Pria itu memiliki rambut merah yang sepertinya tidak asing. Menyusul kemudian seorang remaja yang mirip dengannya –sama-sama memiliki warna rambut merah—dan remaja lain yang tampaknya lebih tua dari yang pertama dan berambut cokelat gelap. Ketiga laki-laki itu melangkah memasuki restoran dan segera disambut oleh Kotetsu.
"Oi, Sasori!" gelegar Kisame sambil melambaikan tangannya.
Orang yang dimaksud kemudian menoleh, lalu menyunggingkan senyum tipis yang terkesan dingin melihat temannya ada di sana. "Kisame. Itachi," sahutnya datar. Ia kemudian berjalan mendekati meja mereka, diikuti oleh dua keponakannya.
"Hei, itu kan Gaara, temanmu yang di KAA, kan?" bisik Sakura pada Sai, merujuk pada salah satu keponakan pria bernama Sasori itu.
"Lama tidak bertemu, teman," kata Itachi sambil berdiri menyambut Sasori sambil mengulurkan tangannya. Kedua teman lama itu lantas berjabat tangan. "Keponakanmu?" Itachi melirik dua remaja di belakang Sasori.
"Hn. Gaara," Sasori menunjuk remaja berambut merah yang mirip dengannya –kecuali warna mata mereka yang berbeda—Gaara mengangguk sopan. "Dan kakaknya, Kankurou." Ganti cowok di samping Gaara yang mengangguk. "Gaara, Kankurou, ini Itachi Uchiha dan Kisame Hoshigaki." Sasori memperkenalkan kedua temannya pada keponakannya.
Sai mengangguk dengan wajah berseri. "Hai, Gaara," sapanya pada remaja berambut merah di belakang Sasori.
Sepertinya Gaara baru menyadari kehadirang orang yang sudah dikenalnya di sana karena saat berikutnya mata hijau pucat cowok itu sedikit melebar. "Sai?"
"Oh, rupanya kalian sudah saling kenal?" tanya Itachi.
"Gaara sempat tinggal beberapa hari di rumahku sebelum pindah ke apartemen," Sai menjelaskan. "Sakura juga pernah bertemu Gaara di KAA."
Sakura mengangguk sambil tersenyum pada cowok berambut merah itu. "Halo, Gaara," sapanya. Mata zamrudnya beralih pada dua yang lain. "Namaku Sakura Haruno. Salam kenal." Ia mengangguk sopan.
"Halo, Sakura!" seru si rambut cokelat sambil memamerkan cengirannya. Tampaknya dari mereka bertiga, ialah yang berpembawaan paling ceria sementara dua yang lain terkesan lebih kalem. "Kankurou Sabaku di sini! Dan ini paman kami tersayang, Sasori Akasuna."
Dan setelah beramah tamah beberapa saat, Kisame berseru, "Ah, sepertinya mejanya tidak cukup nih!"
Kotetsu yang kebetulan ada di dekat sana bergegas membantu mereka menyatukan dua meja untuk mereka bertujuh. Izumo datang tidak lama kemudian membawakan beberapa buku menu tambahan.
"Pesananku dan Sai," Sakura mengulurkan lembar pesanannya pada Izumo.
Tak lama kemudian, Izumo pergi dengan membawa buku menu dan catatan pesanan yang sudah terisi. Dan sementara menunggu pesanan mereka datang, suara obrolan santai mulai terdengar lagi. Kali ini kubu terbagi dua. Itachi, Kisame dan Sasori di satu sisi, asyik mengobrol tentang teman-teman mereka yang lain dan pekerjaan yang mereka jalani sekarang.
"Apa? Tobi melamar jadi penjaga pantai? Kau pasti bercanda. Dia kan tidak bisa renang!" seru Kisame kaget.
"Tidak juga. Hidan mengajarinya berenang sebelum mendaftar." Sasori mengangkat bahunya. "–yah, meskipun dia nyaris tenggelam beberapa kali. Dasar bocah keras kepala!"
"Lalu bagaimana dengan yang lain?" Kisame bertanya lagi.
"Hn. Zetsu sibuk mengurusi rumah kacanya seperti biasa. Kakuzu mendesaknya supaya membuka bisnis tanaman organik, sekalian untuk suplai ke restoran. Kau tahu kan, harga sayuran organik sangat mahal, jadi dia punya alasan untuk menaikkan harga per menunya."
Kisame mengeluh. "Hah... kalau harga menunya terlalu mahal, bisa-bisa bisnis kita sepi!"
"Tidak akan. Bukan Kakuzu namanya kalau gagal dalam berbisnis. Dia pasti punya strategi. Kau hanya kesal padanya soal tabungan pribadimu, Kisame..." ujar Itachi masuk akal.
"Hidan. Bagaimana dengan dia?" Kisame mengalihkan pembicaraan. Mengungkit soal perselisihannya dengan Kakuzu hanya akan menghilangkan selera makannya saja.
"Dia masih seperti dulu, ikut kegiatan sekte tidak jelas sana sini. Kalau saja Kakuzu tidak menyuruhnya menggantikanmu mengurusi persediaan dapur A-Cafe, dia pasti sudah luntang-lantung tidak karuan," kata Sasori pada Kisame.
"Khas Hidan." Itachi geleng-geleng kepala.
"Deidara pindah ke Kiri bulan ini," kata Sasori lagi, "Dia berencana melanjutkan kuliah di sana."
"Kalau itu sih, kami juga sudah dengar. Sepertinya Deidara memang sengaja gembar-gembor ke semua orang soal itu," kata Kisame.
"Menurutku sih, dia itu ingin menyamaimu, Sasori," sambung Itachi sambil menyeringai. "Kau mungkin tidak tahu, tapi dia kesal sekali waktu tahu kau mendapatkan gelar Master of Art dari SSA dan menjadi dosen tetap di sana."
Sasori menyeringai tipis. "Kukira dia cuma mau cari cewek di sana. Soalnya baru seminggu dia tinggal di sana, tahu-tahu sudah membawa seorang gadis ke A-Cafe." Ia tertawa sekilas. "Tapi sepertinya gadis satu ini berbeda dengan gadis-gadis yang biasa dipacari Deidara sebelumnya. Mahasiswi Kirigakure University of Art. Kelewat cuek untuk ukuran seorang gadis, kalian tahu, sama sekali di luar tipikal Deidara yang senang dengan gitar spanyol."
"Ohoho... Dasar womanizer tidak pilih-pilih! Tiada gitar spanyol, suling pun jadi!" Kisame terbahak.
Sementara itu para remaja mulai terlibat obrolan dengan topik yang sama sekali berbeda.
"Ooh.. jadi kalian sekolah di Konoha High?" kata Kankurou antusias pada Sakura dan Sai. "Wah, kebetulan sekali! Temanku juga sekolah di sana."
"Oh, ya?" tanya Sakura penasaran. "Siapa?"
"Dia anak kelas tiga. Namanya Tenten," sahut Kankurou.
Mata zamrud Sakura melebar. "Ooh... aku kenal dia! Tenten itu seniorku di klub Teater dan dia juga jadi sutradara drama untuk festival sekolah tahun ini."
"Wow, kebetulan sekali. Aku kemari juga untuk membantunya," kata Kankurou. Ia lalu melirik adiknya yang sedari tadi diam saja menyimak obrolan yang lain. "Sekalian untuk menonton adikku main di festival band musim dingin ini. Kau jadi vocalist kan, Gaara?"
"Violinist," Gaara mengoreksi kakaknya. "Kau tahu aku tidak suka nyanyi, bikin tenggorokan sakit saja."
"Ooh, jangan begitu dong. Suaramu kan lumayan.." bujuk Kankurou.
"Tidak semudah itu. Kami sudah punya vocalist tetap yang punya suara lebih bagus dari siapa pun," sahut Gaara.
"Ah, tapi kau belum bertemu Naruto, Gaara," kata Sai ikut nimbrung, "Suaranya bagus sekali. Empuk dan sangat cowok. Iya kan, Sakura?"
"Tentu saja." Sakura menganggukinya.
"Tapi vocalist kami kan cewek, Sai," kata Gaara sambil menyeringai tipis. "Kau tidak bisa menyamakan suara cewek dengan cowok. Kategorinya saja sudah beda."
Sai menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal sambil nyengir. "Iya juga, ya.."
"Padahal Temari pasti senang sekali kalau melihatmu nyanyi, Gaara. Dia juga akan datang untuk menonton nanti," beritahu Kankurou pada Gaara.
"Hn," hanya itu tanggapan dari adiknya.
"Oh ya, Gaara," kata Kankurou lagi. Seulas senyum nakal muncul di wajahnya. "Bagaimana? Kau sudah bertemu Matsuri? Katamu kau mencarinya, kan?"
Rona kemerahan tipis muncul di wajah Gaara yang pucat. Untuk beberapa saat ia tampak salah tingkah. Untunglah kedatangan Izumo dan Isaribi yang membawakan pesanan ke meja mereka menyelamatkannya dari kewajiban menjawab pertanyaan iseng sang kakak.
-
-
White Hills...
Langit sudah semakin gelap dan lampu-lampu jalan sudah mulai dinyalakan ketika dua sosok remaja turun dari bus di halte di ujung kompleks perumahan mentereng itu. Suara tawa kecil dan obrolan riang mengiringi langkah kaki keduanya meninggalkan halte.
"A-Aku tidak menyangka Pak Guru Iruka bisa menjadi seseorang yang begitu berbeda k-kalau di rumah..." kata Hinata dengan suaranya yang lembut. Raut wajahnya menampakkan ekspresi geli. Saat itu Naruto baru saja menceritakan kebiasaan-kebiasaan konyol yang sering dilakukannya bersama ayahnya di rumah, termasuk kebiasaan buang angin sembarangan.
Naruto tertawa lagi. "Yeah. Pap di sekolah dan di rumah seperti dua orang yang sama sekali berbeda. Tapi baiknya sih tetap sama," ujarnya dengan nada bangga. Cowok pirang itu tersenyum, matanya menerawang menatap ke kejauhan. "Aku harap kalau aku sudah dewasa nanti, aku bisa menjadi pria dan ayah yang hebat seperti dia."
Mata lavender gadis yang berjalan di sebelahnya melembut menatapnya, tapi Naruto tentu saja tidak menyadarinya. "A-Aku percaya kau b-bisa sehebat itu, N-Naruto..."
"Benarkah?" Naruto terkekeh-kekeh. Ia mengeluarkan sebelah tangannya yang sedari tadi dibenamkan di dalam saku jaketnya lalu menyapu rambut pirangnya yang mencuat ke segala arah, membuatnya semakin berantakan. Namun entah mengapa itu malah membuat wajah Hinata merona. Gadis itu buru-buru mengalihkan pandangannya untuk menutupinya.
Naruto menoleh memandang Hinata sambil nyengir. "Aku juga percaya kau bisa menjadi ibu yang hebat suatu hari nanti, Hinata. Caramu menghadapi adik-adik tadi sangat keren."
Wajah Hinata semakin memerah saja. Untungnya saat itu gelap, jadi Naruto tidak bisa melihatnya sejelas di siang hari.
Selama beberapa saat keduanya berjalan dalam keheningan. Naruto terlalu asyik mengedarkan pandangannya, menatap deretan rumah-rumah megah bak istana di sepanjang kompleks itu dengan tatapan kagum, belum lagi jajaran pepohonan yang tumbuh apik di kanan kiri jalan menambah keasrian lingkungan itu. Yah, walaupun agak menyeramkan lewat di bawah pohon-pohon besar yang sudah meranggas itu saat sudah gelap seperti ini.
"Wow, kira-kira usia pohon ini sudah berapa tahun, ya?" tanya Naruto ketika mereka melewati salah satu pohon besar yang kelihatannya sudah tua sekali di dekat pagar tinggi salah satu rumah di sana.
"E-Entahlah," sahut Hinata pelan, turut memandangi pohon itu. "Tapi katanya pohon itu sudah ada di sana sebelum ayahku lahir. P-pasti sudah sangat t-tua..."
"Hmm... spooky," kata Naruto bergidik. Ia memandang ke atas dan mendengar gemerisik dedaunan yang disapu angin dingin.
"Every time I think of you
I get a shot right through into a bolt of blue
It's no problem of mine but it's a problem I find
Living a life that I can't leave behind"
Dering ponsel Hinata membuat keduanya terlonjak kaget. Hinata buru-buru merogoh ke dalam saku mantelnya dan mengeluarkan ponselnya yang menyala.
"Halo.. Kak Neji? I-Iya, aku sudah di dekat rumah, kok. S-sebentar lagi sampai... Hmm... I-iya, aku akan cepat." Dan Hinata kemudian mematikan ponselnya.
"Sudah ditunggu, ya?" tanya Naruto. Mendadak ia menjadi merasa tidak enak hati. Kalau saja ia tidak mengajak Hinata mengobrol ngalor ngidul sampai lupa waktu tadi, barangkali Hinata sudah sampai di rumah sebelum gelap. Maka untuk menebusnya, Naruto menawarkan diri untuk mengantarnya pulang –yah, meskipun dengan bus umum karena ia tidak punya kendaraan pribadi. Awalnya Hinata menolaknya karena takut merepotkan, tapi Naruto memaksanya sampai gadis itu tidak kuasa menolak lagi.
"Hmm..." Hinata mengangguk pelan seraya memasukkan ponselnya ke tempatnya semua. Gadis itu menoleh memandang Naruto dan segera menangkap ekspresi tidak enak di wajah itu. "T-tidak apa-apa, N-Naruto... Kadang-kadang a-aku juga suka pulang k-kemalaman, kok," ujarnya dengan senyum menenangkan.
"Seharusnya aku mengantarkanmu pulang naik taksi saja," kata Naruto, masih merasa tidak enak.
"A-Aku senang N-Naruto mengantarkanku pulang n-naik bus," balas Hinata.
Mendengar keceriaan dalam suara gadis itu sedikit membuat Naruto lebih tenang, meskipun ia masih khawatir Hinata akan dimarahi orang tuanya saat tiba di rumah nanti. "Kalau begitu sebaiknya kita cepat!" kata Naruto sambil mempercepat jalannya. Betapa herannya ia ketika menyadari Hinata tidak bergerak dari tempatnya semula. Naruto menoleh. "Hinata?"
"Um... K-kita sudah sampai, N-Naruto," ujar gadis itu sambil tersenyum. Ia menunduk sekilas sambil menyelipkan anak rambutnya di belakang telinga sebelum kembali mengangkat wajahnya dan melambaikan tangannya ke arah rumah besar di belakang pagar tinggi di dekat mereka.
Naruto menoleh dan melihat papan nama di samping gerbang utama rumah itu.
Hyuuga.
Naruto nyengir lebar, lalu tertawa. "Ah, sudah sampai rupanya..." katanya sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"T-terimakasih sudah mengantarku, N-Naruto," ujar Hinata sopan sambil membungkukkan tubuhnya sedikit pada Naruto. "K-Kau mau mampir sebentar?"
"Ah, tidak usah, terimakasih, Hina—"
Kata-kata Naruto langsung terputus ketika pintu samping gerbang utama kediaman Hyuuga membuka dan Neji muncul. Alisnya terangkat melihat Naruto ada di sana.
"K-Kak Neji?" sapa Hinata pada kakak sepupunya.
"Rupanya sudah sampai," ujar Neji pada Hinata sebelum matanya kembali beralih pada Naruto.
"Malam, Neji," sapa Naruto kaku sambil memaksakan senyum.
"Malam," balas Neji datar.
"N-Naruto yang mengantarku pulang, Kak," Hinata memberitahu Neji. "Tadi kami sama-sama di panti asuhan."
"Hn, begitu..." Ekspresi wajah Neji sedikit melunak dan ia tersenyum tipis pada Naruto. "Terimakasih sudah mengantar adikku pulang, Naruto."
"Y-Yeah, sama-sama," Naruto menyeringai. "Kalau begitu sebaiknya aku pulang sekarang. Um.. sampai ketemu besok, Hinata Neji..." pamitnya sebelum berbalik pergi dengan kedua tangan terbenam dalam saku jaketnya.
Kedua Hyuuga masih berdiri di sana, mengawasi sampai akhirnya punggung Naruto menghilang di ujung jalan.
"Masuklah, Hinata. Di luar dingin..." kata Neji kemudian sambil membuka pintu lebih lebar untuk adik sepupunya itu. Hinata buru-buru masuk melewati Neji, kemudian keduanya bersama-sama menuju ke rumah.
"Hari yang menyenangkan, eh, Hinata?" tanya Neji dengan seringai tipis.
"Kakak..." Wajah Hinata merona merah. Dan gadis itu pun buru-buru masuk ke dalam rumah mendahului Neji. Ia bisa mendengar kakak sepupunya itu tertawa kecil di belakangnya ketika ia menaiki tangga marmer menuju kamarnya di lantai dua.
Senyum tidak lepas menghiasi wajahnya sepanjang malam.
-
TBC
-
Disclaimer :
Naruto (c) Masashi Kishimoto
Do You Only Wanna Dance (c) Mya
Bizarre Love Triangle (c) Frente
-
Imouto-chan : Mwahahaha~ Apa tuh, Dek, Sasuke hatinya terkoyak? Kaya lagu aja.. XD
Uchiha Cesa : Iya, didoain lulus.. Amin... Gimana kemarin ujiannya? Lancar dong?? ^_^
Arai-chan : Aw, makasih.. –ikutan seneng- Sasuke nembak Saku? Kapan yah...??? Hihihi... XD
Uci-chan : Di chapter ini juga masih kebawa ceria nih. Apalagi Saku-nya...
Bunbun-chan : Aaaah~~ akhirnya bisa baca review Bunbun lagi.. Ya ampun, kemana aja, Bun? Kangeeeen~~~ -peluk-peluk-
Kakkoii-chan : Yay! Sesama penggemar NejiSaku! –peluk-peluk- Iya ya, kalo Sasukebe lihat bisa uring-uringan dia. Ahahaha..XD
Ambu : Ahahaha... scene uji nyali emang ngasal banget tuh, Mbu.. –ikut nyubit pipi Kei-
Hikari Akabara : Wah, makasih... ^_^
Aika-chan : Um.. review keren, karena dengan review, author bisa terus nulis, penambah semangat. Makanya aku bilang keren.. gitu...
Dilia-chan : Cara deskripsiinnya gimana yah..?? Sebenernya itu deskripsi Neji berdasarkan perspektif Sakura. Dia kan memang naksir berat sama Neji di sini, jadi biar kata Neji biasa aja juga tetep memesona gitu. Gampangnya, bayangin aja cowok yang kamu taksir. Hihi.. XD
Silvermist Primrose Violett : Makasih.. ini udah updetannya.
Lawra-chan : NejiSaku emang keren kok.. Ahaha.. ternyata banyak yang seneng ngelihat Saskey tersiksa, yah..
Fuyuno Hoshi : Nasib ke-4 sahabat bisa dibaca di chapter-chapter depan. Silakan dibaca. Hihi..
Teh Bella : Iya tuh, Teh.. Padahal udah diperiksa n diedit berulang-ulang. Tetep aja suka ada yang kelewat. Hiks... Suigetsu n Juugo kenapa bisa di Konoha? Er.. supaya porsi muncul mereka lebih gede. Jadinya aku masukin aja jadi siswa KHS. Hehe.. Aku suka mereka, terutama Juugo sih.. –peluk-peluk Juugo-
Light-Sapphire-Chan : Makasih udah baca, yah~~ Speechless deh baca reviewmu... Thanks a lot~~ –peluk-peluk-
