Chapter 53
Memasuki bulan Desember, suhu udara di Konoha semakin menurun. Namun udara yang dingin itu tidak lantas menyurutkan semangat para siswa Konoha High, terlebih menjelang akhir tahun tampaknya kegiatan mereka bertambah padat.
Para siswa kelas tiga mulai semakin giat belajar untuk mengikuti tes masuk beberapa universitas di penjuru negeri, dan juga tes kelulusan—walaupun itu masih lama. Belum lagi kegiatan-kegiatan lain di luar kulikulum resmi seperti festival sekolah yang akan dilaksanakan awal Februari tahun depan. Para siswa yang tergabung dalam kepengurusan OSIS sudah mulai bergerak untuk mempersiapkan salah satu program besar tahunan mereka.
Pendaftaran untuk bergabung dalam kepanitiaan festival sudah mulai dibuka, dan mereka juga mulai mendata anak-anak di luar klub yang berminat membuka stand-stand—yang ternyata banyak sekali peminatnya, sampai-sampai pihak OSIS kerepotan memilah-milah mana yang layak dan yang tidak. Tentu saja ini menimbulkan kehebohan yang lain, terutama yang berasal dari kelompok yang tidak diterima. Sangat kontras dengan jumlah anak-anak yang berminat menjadi panitia; sangat sedikit. Mereka terpaksa menarik perwakilan dari klub-klub untuk menjadi panitia, seperti klub jurnal yang semua anggotanya menjadi panitia bagian Pubdok (publikasi dan dokumentasi).
Tidak hanya OSIS saja yang sibuk. Klub-klub tertentu yang punya agenda sendiri juga kerap terlihat bertahan di sekolah sampai senja. Mulai dari klub olahraga seperti basket yang sebentar lagi akan menghadapi turnamen antarsekolah, klub cheerleader yang juga akan mengikuti kompetisi di tahun baru, dan klub musik. Band-band yang diusung klub itu untuk mengikuti festival band yang pembukaannya tinggal menghitung hari semakin gencar berlatih. Studio musik tidak pernah terlihat kosong, selalu saja ada yang memakainya berlatih. Bergantian, tentu saja.
Begitu juga dengan klub teater sebagai penampil utama dalam festival tahunan yang sudah memulai latihan mereka, meskipun belum begitu intensif mengingat beberapa anggota mereka harus absen untuk mengikuti tes masuk universitas di kota lain. Maka minggu pertama latihan lebih banyak dihabiskan dengan berlatih dialog tanpa menggunakan adegan yang sesungguhnya. Hanya beberapa adegan yang pemainnya tidak absen saja yang dicobakan, seperti adegan Violetta dan Giorgio yang dimainkan Sakura dan Juugo yang keduanya adalah siswa kelas dua.
"Oke, cukup!" seru Tenten sang sutradara dalam salah satu sesi latihan mereka yang sepi.
Juugo dan Sakura menghentikan adegan yang mereka mainkan dan menghadap ke Tenten. Kali ini dia sendirian yang menjadi pengarah, karena Yakumo juga absen hari itu. Yah, tidak sendirian juga sih, karena ada satu orang lagi yang selalu hadir dalam setiap sesi latihan mereka semenjak Tenten memperkenalkannya di hari pertama mereka latihan.
Flashback
Ruang teater sedang ramai oleh suara obrolan anak-anak ketika Tenten masuk siang itu bersama Yakumo. Gadis itu berjalan menuju salah satu bangku yang kosong yang sengaja disusun melingkar di ruangan itu sementara Yakumo menutup pintu di belakangnya sebelum kemudian menyusul. Tenten menaruh tasnya di sana sebelum berbalik menghadapi anak-anak.
"Selamat siang, teman-teman!" sapa Tenten ceria seperti biasanya.
Suara dengungan anak-anak langsung mereda dan mereka membalas sapaan sang sutradara dengan sama semangatnya, membuat gadis itu tersenyum lebar dan memandang puas pada mereka. Sepertinya 'pemanasan' yang mereka lakukan di hari sebelumnya cukup efektif untuk membangkitkan semangat.
"Oke, semuanya," kata Tenten memulai setelah Yakumo selesai mengabsen, memandang berkeliling pada anak-anak sambil menggosok-gosokkan kedua tangannya dengan sikap antusias, "Hari ini kita akan memulai sesi latihan kita yang pertama. Nah, karena—"
Kata-katanya terhenti ketika tiba-tiba saja terdengar pintu diketuk seseorang dari luar. Semua orang langsung menoleh. Begitu pula dengan Tenten yang kini ekspresi kesal muncul di wajahnya. "Siapa, sih?!"
"Biar aku yang buka," kata Yakumo. Gadis itu beranjak dari bangkunya, berjalan ke arah pintu dan membukanya sedikit. Ia terdengar berbicara dengan suara rendah dengan seseorang di luar selama beberapa saat sebelum menoleh pada Tenten.
"Siapa?" Tenten melempar pandang bertanya pada temannya.
Yakumo mengangkat bahu. "Katanya sih temanmu, Tenten. Sepertinya bukan murid sini, aku tidak pernah melihatnya. Kau mau dia masuk?"
Kedua alis Tenten bertaut selagi ia mengira-ngira siapa yang mencarinya. "Suruh masuk saja, deh," katanya akhirnya.
Yakumo lalu membuka pintunya lebih lebar. Seorang cowok berambut cokelat jabrik berdiri di depan pintu, tersenyum lebar. Anak-anak langsung berbisik-bisik, sementara Tenten tampak terkejut sekaligus senang. Cowok itu melambaikan tangan pada Tenten.
"Hai, Odango!"
"Ya, ampun! KANKUROU!!"
Tenten setengah berlari menuju pintu untuk menyambut cowok itu. Gadis bercepol itu tertawa senang ketika melempar kedua tangannya memeluk cowok yang dipanggilnya Kankurou itu erat-erat seperti sahabat yang sudah lama tidak bertemu, mengundang bisik-bisik yang lebih seru dari anak-anak. Yakumo yang masih berdiri di dekat pintu mengangkat alisnya tinggi-tinggi.
"Kenapa enggak bilang hari ini mau kemari?" protes Tenten ketika ia sudah melepaskan pelukannya. Pipinya digembungkan dan ia memberikan tinju main-main di lengan cowok itu. "Katamu kau baru datang minggu depan?!"
"Ke-ju-tan!!" Kankurou tertawa terkekeh-kekeh seraya menggosok lengan yang baru saja ditinju Tenten. "Dasar Odango! Memangnya tidak senang aku datang lebih cepat, eh?"
"Kau masih saja senang memanggilku dengan panggilan itu, Kanpachi!" kata Tenten sambil memutar matanya.
"Ehem!" Yakumo menyela mereka. Gadis itu melempar pandang mengingatkan pada Tenten.
Tenten tersentak seakan baru saja teringat sesuatu. "Oh, yeah. Yuk, Kankurou, aku kenalkan pada teman-temanku." Ia lantas menyambar tangan Kankurou dan membawanya masuk sementara Yakumo menutup pintu di belakang mereka.
"Teman-teman," Tenten berkata di depan yang lain, "sebelum kita mulai latihan kita, aku ingin memperkenalkan seseorang. Dia…" gadis itu melirik Kankorou yang berdiri di sebelahnya sambil tersenyum lebar sebelum kembali berpaling pada teman-temannya, "adalah temanku dari Suna. Namanya Kankurou Sabaku."
"Hai, semuanya…" sapa Kankurou cerah sambil melambaikan tangan pada anak-anak, yang dibalas mereka dengan gumaman 'Hai' tidak jelas.
"Dia baru saja lulus dari Suna School of the Arts jurusan teater—"
"Theatre Production, tepatnya," imbuh Kankurou.
Tenten tersenyum padanya, lalu melanjutkan, "Calon mahasiswa Kaze University. Kankurou sengaja datang kemari untuk membantu kita dalam penggarapan drama tahunan kita. Aku harap kita bisa bekerjasama dengan.. er… beliau."
"Beliau, beliau… Kedengarannya aku sudah tua sekali," protes Kankurou, mengundang tawa Tenten dan beberapa anak lain.
"Yeah, dia memang suka bercanda," tambah Tenten pada teman-temannya.
Saat berikutnya, Kankurou sudah berkeliling untuk berkenalan secara pribadi dengan semua anak yang ada di sana. Sepertinya ia memang tipe yang mudah akrab dengan orang lain, terlebih dengan sifatnya yang humoris dan senang berkelakar—seperti Naruto. Cowok itu berhenti agak lama ketika sampai di bangku Sakura.
"Ooh.. rupanya kau juga terlibat dalam drama tahunan, ya, Sakura? Kok tidak bilang dari kemarin, sih?"
Sakura hanya nyengir kuda.
"Lho? Kalian sudah saling kenal, ya?" tanya Tenten heran.
"Oh, aku kemarin makan di restorannya. Kami ketemu di sana," beritahu Kankurou pada Tenten. Mata hitamnya berkilat jahil. "Tidak usah cemburu begitu, Odango. Tidak ada apa-apa kok antara aku dan Sakura.."
"Oh, tak usah, ya!" Tenten pura-pura mencibirnya, lalu berbalik menuju bangkunya sendiri dengan dagu terangkat.
Kankurou terkekeh-kekeh. "Dia itu sebenarnya naksir aku, tapi tidak mau ngaku," katanya dengan suara rendah pada Sakura—seakan gadis itu peduli saja. Sakura memaksakan diri tertawa. Cowok itu lalu menyusul Tenten dan duduk di bangku kosong di sebelahnya.
"Kankurou kelihatannya orang yang sangat menyenangkan, ya," kata Sakura pada Neji yang kebetulan duduk di sebelahnya. Gadis itu sudah mulai terbiasa memulai perbincangan dengan Neji akhirnya.
Tapi sepertinya Neji tidak mendengarkannya. Matanya terpaku ke depan dan ekspresinya tampak agak tegang. "Neji?" Sakura menyentuh lengannya dan cowok itu terlonjak kaget.
"Ap—Oh, yeah. Jelas sekali dia orang yang menyenangkan," sahut Neji kemudian. Tapi dari nada bicaranya yang agak kaku sepertinya ia sama sekali tidak memaksudkannya seperti itu. Cowok bermata lavender itu lalu menunduk pada naskah di tangannya dan mulai membaca—atau pura-pura membaca.
Sakura mengernyit. Sepertinya Neji tidak menyukai Kankurou, entah mengapa, pikirnya. Gadis itu lantas mengikuti arah pandang Neji sebelumnya; Kankurou tengah menyalami Yakumo di seberang dan sedang mengajak gadis itu mengobrol akrab. Sakura menggigit bibir bawahnya ketika merasakan denyut kecemburuan di hatinya.
"Baiklah semuanya," suara Tenten mengalihkan perhatian semua orang di sana, termasuk Sakura dan Neji, "Kita mulai saja. Dari adegan pertama; Pesta dansa!"
Flashback End
"Bagus. Kalian jelas sudah menguasai adegan itu, Saku—"
"Oh, tunggu dulu!" Kankurou menyela komentar Tenten. "Menurutku itu masih agak datar. Juugo emosinya kurang masuk, dan Sakura… Maaf, Honey, tapi aktingmu masih datar di bagian-bagian tertentu."
Tenten mengernyit padanya—begitu juga Sakura dan Juugo, karena selama ini Tenten selalu puas dengan akting mereka—"Datar bagaimana? Menurutku sudah bagus kok…"
"Yeah, yeah, memang bagus. Tapi ada sedikiiiit emosi yang masih miss," jelas Kankurou. Meski begitu Tenten dan dua orang di depannya masih agak bingung. Kankurou menghela napasnya lalu memandang Sakura dan Juugo. "Juugo, yang diinginkan dari Giorgio di adegan ini bukan hanya rasa kasihan terhadap Violetta, tapi respek karena wanita malang itu sudah rela berkorban demi Alfredo dan keluarganya. Oke?"
Juugo mengangguk.
"Untuk Violetta," Kankurou sekarang beralih pada Sakura. Ia tersenyum. "Sebelumnya aku ingin bertanya padamu, kau sudah pernah jatuh cinta? Atau malah sedang jatuh cinta?"
Mendengar pertanyaan Kankurou membuat wajah gadis itu memanas. Ia bahkan bisa mendengar anak-anak yang lain mengikik. Tenten menyuruh mereka diam.
Sakura berdeham dan menjawab pelan, "I-Iya…"
"Ow, siapa cowok beruntung yang ketiban cintamu—ehem, tidak penting," Kankurou tertawa sendiri. "Baiklah, sekarang kau bayangkan cowok itu baik-baik, Sakura. Resapi setiap perasaanmu padanya sampai kau benar-benar yakin kau mencintai dia. Sangat mencintai dia. Dalam… sampai-sampai hatimu rasanya mau meledak. Kau bisa merasakannya, kan?"
Sakura mengangguk, wajahnya merona.
Kankurou terkekeh, "Well, sepertinya kau benar-benar jatuh cinta pada cowok ini, ya? Ehem, tidak penting lagi. Um… sampai di mana tadi? Oh ya… Lalu bayangkan ketika tiba-tiba kau dihadapkan pada kenyataan bahwa kau harus melepaskannya untuk membuktikan cintamu. Bahwa cintamu hanya akan membelenggunya. Dan itu terjadi saat kau merasakan saat-saat paling bahagia karena cintamu padanya. Rasakan bagaimana sakitnya, pahitnya, marahnya, putusasanya dirimu menghadapi pilihan itu, Sakura…"
Konsep itu terasa tidak asing di kepalanya. Orang-orang di sekelilingnya pernah mengalaminya. Sasuke… Naruto…
Gadis itu pun mengangguk.
"Coba luapkan semua perasaan itu lewat dialog. Saat kau menolak kenyataan…" Kankurou bangkit dari kursinya mendekati Sakura.
"TIDAK!!" Sakura meraung, membelalak pada Kankurou.
"Kau marah, tidak terima…"
"TIDAK!!" gadis itu berteriak lagi, berusaha sekuat tenaga untuk merasakan kemarahan itu, "Anda tidak mengerti, ya? Betapa aku mencintai Alfredo..."
"Ya... kau mencintainya. Katakan itu pada Giorgio. Paksa dia mengerti..." Kankurou berjalan mengitari Sakura.
"Anda tidak mengerti... Aku sangat... mencintai Alfredo..."
"Masih kurang, Sakura. Lanjutkan..."
"Dari pada harus berpisah dengannya... Lebih baik aku MATI SAJA!!"
Ia bisa mendengar Kankurou menghela napas. "Air mata memang bagus, tapi tidak cukup hanya itu. Kau juga harus meyakinkan penonton kalau air matamu memang asli, bukan hanya sekedar akting. Kau masih belum memahami bagaimana perasaan Violetta, Sakura. Pengorbanan yang harus dilakukannya demi cintanya pada Alfredo."
Sakura memandang Kankurou sambil mengusap air mata di pipinya. Ia tidak berkata apa-apa.
"Kau belum pernah merasakan bagaimana cinta yang sesungguhnya," kata Kankurou melanjutkan. Nadanya yang biasanya terdengar ceria berubah dingin. "Cinta yang kau rasakan belum apa-apa.."
Wajah Sakura langsung merah padam, dan tatapan bingungnya sedetik yang lalu telah berubah menjadi tatapan marah. Kedua tangan mengepal di sisi tubuhnya.
"Kankurou, cukup!" sela Tenten ketika dilihatnya tampang Sakura yang seperti akan menangis. Gadis itu menghampiri Sakura dan merangkulnya. "Jangan memojokkan Violetta-ku seperti itu, dong!" ia membeliak pada Kankurou.
Cowok itu seperti terkejut, lalu buru-buru meminta maaf. "Aduuuh... maaf, maaf.. kata-kataku terlalu keras, ya?"
Tapi sepertinya saat itu Sakura terlalu kesal untuk menerima permintaan maaf Kankurou. Gadis itu melepaskan diri dari Tenten, menyambar tas dan mantelnya di bangku dan meninggalkan ruangan itu tanpa bicara apa-apa.
"Kau, sih..." sungut Tenten pada Kankurou yang kelihatannya kaget sendiri dengan efek ucapannya tadi. "Standarmu terlalu tinggi, tahu! Salahmu kalau Sakura sampai mengundurkan diri! Kau kira gampang mencari pemain dengan chemistry yang pas dengan Neji?"
"Iya iya, maaf..." Kankurou nyengir minta maaf.
Tenten lalu berpaling pada yang lain yang masih tercengang di bangku masing-masing. "Kita sudahi saja latihan hari ini. Kita lanjutkan minggu depan!"
Sementara itu suara langkah kaki Sakura yang menghentak bergaung di sepanjang koridor itu. 'Enak saja menghakimiku seperti itu! Enak saja mengataiku belum apa-apa merasakan cinta!! Memangnya siapa dia? Cuma orang asing!' Sakura membatin marah. Jantungnya berdentum-dentum liar dalam rongganya sementara air matanya mengalir bebas tanpa disadarinya.
"Suasana hatimu sedang buruk, ya?"
Suara dalam dari belakangnya sontak membuat Sakura terlonjak kaget. Gadis berambut merah muda itu otomatis menghentikan langkahnya dan memutar tubuh untuk melihat siapa yang bicara.
"Sai!"
Sai sedang berdiri di depan pintu ruang jurnal dengan senyumnya yang biasa. Tangannya yang kurus menutup pintu ruangan itu perlahan sebelum berjalan menghampiri Sakura. Kancing mantel hitamnya sedikit terbuka di bawah syal merah yang menggantung di lehernya. Ia juga membawa ransel besar di pundaknya.
"Geez.. kau mengagetkanku, tahu!"
Sai tertawa kecil sambil menggaruk tengkuknya. "Ah, maaf..." Alisnya naik ketika melihat bekas air mata di wajah Sakura. "Kau.. menangis?"
Sakura cepat-cepat mengusap air mata di wajahnya dan memaksakan senyum. "Tidak kok. Aku cuma... ah, sedikit emosi."
Kerutan samar muncul di antara kedua alis Sai. "Apa ada yang mengganggumu?"
"Tidak," jawab Sakura geli. Kali ini ia benar-benar tersenyum, terharu atas perhatian Sai kepadanya.
Gadis itu tertawa kecil, sebelum kemudian berbalik dan melanjutkan berjalan menuju tangga di ujung koridor. Sai mengikuti di sebelahnya. Keduanya berjalan dalam diam selama beberapa saat.
"Latihan dramamu cepat sekali selesainya. Yang kemarin saja sampai senja, kan?" ujar Sai kemudian saat keduanya tengah menuruni tangga menuju lantai dasar.
Sakura menghela napasnya keras-keras dan menggeram, "Seharusnya sih belum selesai. Tapi aku sedang tidak mood latihan hari ini." Sebelah tangannya terangkat, menyisiri rambut merah mudanya yang terurai asal, membuatnya sedikit berantakan. Tapi tampaknya ia tidak begitu peduli.
Melihat itu, Sai mengangkat sebelah alisnya. "Bukan karena tidak ada Neji kau jadi tidak mood, kan?"
Rona kemerahan sekejap muncul di wajah Sakura. "Bukan begitu!!" ia menukas. "Enggak ada hubungannya dengan Neji. Cuma orang luar bego yang membuatku kesal!" Sakura bersungut-sungut.
"Tapi setahuku, seorang aktris yang baik tidak akan mangkir meskipun sedang kesal atau tidak mood," komentar Sai. Nada bicaranya terdengar ringan, tetapi tepat sasaran.
Sakura tertawa canggung, agak malu. Tentu saja, sutradara yang asli di luar sana bisa lebih galak dari Kankurou. "Yeah, kau benar..."
Langkahnya terhenti lagi begitu ia merasakan tangan Sai menangkap pergelangan tangannya. Sakura menoleh, memandang cowok itu dengan kedua alis terangkat.
"Well, dari pada kesal, bagaimana kalau kita ke studio musik saja?" usul Sai, "Band-nya Naruto sedang latihan di sana sekarang. Katanya kita boleh nonton."
Sakura tampak mempertimbangkannya selama beberapa saat sebelum menjawab, "Ide bagus. Aku memang sedang butuh hiburan."
Dan kedua sahabat itu pun berbalik menaiki tangga menuju lantai tiga di mana studio klub musik berada. Koridor di lantai itu sama lengangnya seperti lantai di bawahnya, hanya terdengar suara-suara dari ruang sekretariat OSIS—sepertinya mereka sedang rapat atau apa—dan alunan musik samar-samar dari arah studio di ujung koridor.
Mereka sudah sampai memainkan bagian terakhir lagu 'Together', ketika Sakura dan Sai tiba di sana. Suara Ino yang tinggi dan jernih mengalun memenuhi ruangan itu saat ia menyanyikan bagian refrain,
"And we belong together
Like the moon and stars in the midnight
And we belong together
Like the moon and stars in the midnight
And we'll be strong forever
Cause we belong together
And we belong together
Like the moon and stars in the midnight
And we'll be strong forever
Cause we belong together
Whoa, whoa... Whoa, whoa..
Whoa, oh..."
Sakura dan Sai bertepuk tangan antusias ketika mereka mengakhiri lagu itu. Ino menjauhkan mike-nya dan membungkuk pada kedua penontonnya sambil tersenyum lebar. Gadis itu lalu meletakan mike yang dipegangnya di tiangnya setelah menegakkan diri.
"Kita istirahat sebentar!" serunya pada yang lain.
"Oi, Sakura, Sai!" sapa Naruto sumringah, yang langsung dibalas oleh kedua temannya itu.
Sai langsung bergerak mendekati Naruto sementara Sakura mengikuti Ino ke sudut ruangan. Ino mengambil botol air dari tasnya yang disampirkan di bangku, lalu menenggaknya banyak-banyak.
"Katamu kau hari ini latihan drama, Sakura?" tanya Ino pada sahabatnya yang kini telah mendudukan diri di bangku dekat jendela.
"Latihannya sudah selesai," sahut Sakura sambil lalu seraya menatap ke arah jendela. Tampak beberapa anak yang dikenalnya sebagai teman-teman klub teaternya sedang berjalan meninggalkan gedung. Ia juga melihat Tenten dan Kankurou di antara mereka.
Ino mengikuti arah pandang Sakura. Cengiran muncul di bibirnya. "Kankurou Sabaku... Bagaimana dia, eh? Kudengar dia membantu drama kalian."
Kankurou dan Ino memang sudah saling mengenal sebelum ini. Mereka bertemu saat Ino mengikuti kompetisi di Ame beberapa bulan yang lalu. Saat itu Kankurou sedang menjenguk kakak perempuannya yang kebetulan juga menjadi peserta turnamen itu. Kakak perempuan Kankurou yang akrab dengan Ino kemudian memperkenalkannya dengan kedua adik laki-lakinya, termasuk Kankurou. Mereka sempat bertemu lagi saat kunjungan pertama Kankurou ke sekolah mereka, tetapi belum sempat mengobrol banyak karena Ino sibuk dengan band saat itu.
"Orangnya nyebelin," tukas Sakura langsung sambil cemberut ke sosok Kankurou di bawah sana. Ino terbahak.
"Yang benar? Kukira orangnya sangat kocak, apalagi dengan boneka tangannya itu!" kekeh Ino. Gadis pirang itu kemudian duduk di bangku kosong di sebelah Sakura, menyandarkan punggungnya. "Tapi iya juga sih, kalau sudah mengkritik, omongannya suka tajam. Temari juga sering mengeluh soal itu."
Sakura mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju.
"Ah... jadi kangen dengan Temari, deh. Adiknya yang bungsu juga, Gaara. Kangen melihat muka imutnya..." desah Ino dengan pandangan menerawang.
"Gaara?" Sakura mengalihkan perhatiannya dari jendela dan menatap Ino. "Gaara Sabaku? Rambutnya merah, yang penampilannya agak-agak gothic? Pakai tato kanji 'Ai' di keningnya?"
"Kau tahu dia?" Ino tampak agak terkejut.
Sakura terkekeh bangga. "Tentu saja. Kami pernah bertemu saat Sai mengajakku jalan-jalan ke KAA, dan beberapa hari yang lalu dia juga mampir ke restoranku bersama Kankurou dan paman mereka."
"Oh!" Mata biru Ino membulat. "Kau bilang KAA? Ngapain Gaara di sekolah itu?"
"Kata Sai sih murid pertukaran," Sakura mengangkat bahunya, lalu nyengir. "Main biolanya keren sekali."
"Wow!" Ino terlihat berseri-seri. "Wah... aku jadi ingin bertemu..."
Sakura menyenggol lengan sahabatnya itu sambil tertawa. "Hei, kau kan sudah punya Idate."
Ino mengikik. "Habisnya... Gaara kan sangat cute."
Sakura memutar mata. "Dasar... Yah, cowok itu memang sangat cute sih, jadi aku tidak bisa menyalahkanmu. Tapi sepertinya dia sudah punya cewek."
"Yah..." Ino pura-pura kecewa. Dan kedua gadis itu pun mengikik lagi. "Hei, menurutmu cakep mana? Sasuke atau Gaara?"
Dan saat berikutnya kedua gadis itu sudah ribut membanding-bandingkan Gaara dengan para hotie—istilah Ino untuk menyebut deretan cowok-cowok bertampang kece yang pernah ditemuinya, termasuk Sasuke, Neji, Temujin dan sederet cowok-cowok populer bintang olahraga di sekolah mereka—sambil cekikikan seru.
"Oi, oi... Kalian berdua ribut saja ngomongin cowok!" sela Naruto yang rupanya mendengarkan obrolan kedua gadis itu. "Kalau mau tahu cowok yang paling cakep, imut, kece, tampan dan menawan..." cowok pirang itu menepuk dadanya sendiri, "Perkenalkan, Naruto Uzumaki—Oi, jangan lempar-lempar!"
Zaku terbahak dari balik set drumnya. Cowok itu baru saja melempar Naruto dengan gulungan kertas bekas, yang tepat mengenai sisi kepalanya. "Kau kelihatan cakep kalau dilihat dari puncak menara Hokage sambil merem, Naruto," komentar Zaku sambil geleng-geleng kepala. Gelak tawa dari yang lain menyusul kemudian.
Naruto memonyongkan bibirnya, pura-pura tersinggung.
Shikamaru kemudian meraih gitarnya yang sedari tadi disandarkan ke pengeras suara sementara mereka beristirahat. "Kita latihan lagi?"
"Yosh!" seru Chouji penuh semangat. Cowok tambun itu melempar bungkus keripik kentang yang sudah kosong ke tempat sampah, lalu mengambil bass-nya. Naruto juga bersiap dengan gitarnya. Ino beranjak dari bangku yang didudukinya dan meraih mike sementara Sai menduduki tempatnya semula di sebelah Sakura.
Mereka kembali melatih lagu yang tadi mereka mainkan. Naruto memulai dengan memainkan bagian intro dengan gitar akustiknya, kemudian Ino masuk menyanyikan bait pertama lagu itu,
"It doesn't matter how far apart we are now
You can add up all the miles in between
If you take a good look all around now
All you see is you and me.."
"Naruto bilang padaku kalau mereka masih kekurangan personil," bisik Sai pada Sakura sementara mereka mendengarkan lagu yang dimainkan Ino dan yang lain.
"Hm?" Sakura mengalihkan pandangannya pada Sai. "Oh, iya. Mereka masih butuh pemain keyboard. Keyboardist mereka yang lama sudah lulus soalnya."
"Begitu…"
Keduanya kembali terdiam. Sakura tampak larut dalam alunan yang dimainkan teman-temannya. Kakinya yang disilangkan bergoyang mengikuti irama sementara bibirnya turut membisikkan lirik yang sudah dihapalnya di luar kepala. Di sebelahnya Sai terlihat sedang asyik dengan pikirannya sendiri.
"Menurutmu, kalau aku mengajukan diri, mereka akan menerima tidak?" celetuk Sai kemudian, membuat kepala Sakura memutar cepat ke arahnya.
"Apa?"
Sai tersenyum sangsi sambil menggaruk pipinya. "Aku hanya berpikir… mungkin aku bisa sedikit membantu. Lagipula sepertinya ngeband cukup asyik juga."
Selama beberapa saat Sakura memandang cowok bermata kelam itu. Setelah mengenal Sai cukup lama, ia tahu bahwa Sai sedikitnya bisa memainkan alat musik. Piano, kalau ia tidak salah ingat. Keyboard pastilah tidak jauh berbeda, pikirnya.
"Kalau kau bisa, kenapa tidak?" sahutnya kemudian dengan senyum lebar.
Beberapa saat berselang, mereka akhirnya menyelesaikan lagu yang mereka mainkan. Dengan cepat Sakura menyela mereka sebelum mereka memainkan lagu berikutnya.
"Sai ingin mengatakan sesuatu pada kalian," katanya. Sakura melirik cowok yang duduk di sebelahnya.
Semua orang kemudian memandang Sai dengan alis terangkat, menunggunya mengatakan sesuatu sementara cowok itu terlihat sedikit gugup. "Ano… kalau kalian tidak keberatan, aku bisa memainkan keyboard untuk kalian."
Para personil band itu saling bertukar pandang. "Kalau kau bisa, aku sih tidak keberatan," kata Shikamaru, "Kebetulan kami memang sedang butuh personil tambahan untuk posisi keyboardist."
"Memangnya kau bisa main keyboard elektrik?" tanya Zaku sangsi dari balik drum-nya, matanya menyipit.
"Eh, berisik," sembur Naruto pada sang drummer, "Bagaimanapun Sai itu mantan siswa sekolah seni dan bisa main piano. Jangan meremehkannya, dong!"
"Tidak semudah itu, Naruto," kata Chouji masuk akal. Mata sipitnya memandang Sai. "Kami perlu mendengarkan permainanmu dulu, Sai, baru bisa memutuskan kamu bisa bergabung atau tidak."
"Kenapa tidak kita dengarkan saja?" seru Ino antusias. Gadis itu maju dan menarik tangan Sai, membawanya mendekat ke keyboard yang sedari tadi tidak terpakai di dekat Shikamaru.
"Ayo coba, Sai!" Naruto menyemangatinya. "Perlihatkan kebolehanmu."
Sai menoleh ke arah Sakura dan mendapati gadis itu mengangguk menyemangatinya. Shikamaru kemudian membantunya menyalakan dan menyetel keyboard-nya, sebelum Sai mencoba memainkan beberapa nada. Cowok itu memejamkan matanya sejenak, mencoba mengingat lagu yang kira-kira ia kuasai—tentu saja di luar lagu-lagu klasik yang biasa dibawakannya dengan piano. Dan saat berikutnya, lantunan intro lagu 'I Will Survive' terdengar memenuhi ruangan itu sementara jemari panjang Sai menari lincah di atas tuts.
Semua orang di sana—kecuali Sakura dan Naruto yang sudah tahu Sai bisa main musik—tampak tercengang selama beberapa saat. Ino tampak sumringah seakan baru saja menemukan sesuatu yang sudah lama dicarinya. Kepala pirangnya terangguk-angguk mengikuti irama sambil menyenandungkan liriknya. Shikamaru memejamkan matanya, menyimak permainan Sai dengan telinganya, sementara Chouji mengangguk-angguk setuju. Bahkan Zaku yang sempat menyangsikan pun turut mengetuk-ngetukkan stick drum-nya, mengikuti irama keyboard.
Melihat itu, Sakura dan Naruto bertukar senyum puas.
"Whoa!!" seru Ino, terkejut sekaligus senang setelah Sai menyelesaikan lagunya. Mata birunya berbinar-binar. "Kenapa kau tidak bilang dari dulu kalau kau bisa main musik, Sai?" tuntutnya.
Sai menjauh dari keyboard dan tersenyum malu-malu. "Tidak ada yang tanya," sahutnya sederhana.
"Bagus banget!" puji Chouji. "Kau jelas bisa main untuk band ini. Iya kan, Shikamaru?"
"Tentu saja," kata Shikamaru, mengangguk. Cowok yang kerap memasang tampang malas itu tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya. "Kalau bisa memainkan lagu itu dengan bagus, lagu-lagu lain juga bisa dipelajari dengan mudah."
"Kalau begitu sudah diputuskan!!" Ino berseru kegirangan. "Akhirnya kita mendapatkan keyboardist!! YAY!!" Gadis itu melompat ke arah Sai dan memeluknya dengan penuh suka cita. "Selamat datang di band kami, Sai!"
Sakura memandang temannya itu berseri-seri sementara Naruto memberikannya tepukan selamat datang di bahu Sai.
"Yah. Kalau begitu jatah honor manggungnya dibagi lagi dong..." keluh Zaku.
"Diam kau!!" Naruto melemparkan handuk kecilnya yang penuh keringat ke arah cowok itu, dan tepat mendarat di wajahnya.
"EEWW..."
Dan sejak saat itu, Sai resmi bergabung dengan band Ino dan kawan-kawan, mengikuti latihan mereka setiap hari, sampai akhirnya hari di mana acara pembukaan festival band tahunan pun diselenggarakan.
-
-
"Acaranya masih satu setengah jam lagi," beritahu Ino lewat ponselnya hari Minggu paginya, "Tapi kalau kau mau melihat band pembukanya, sebaiknya kau datang cepat."
"Dari KAA lagi?" tanya Sakura sambil memeriksa bayangan dirinya dalam cermin. Sebelah tangannya sibuk merapikan sebagian rambut yang dibiarkan terlepas dari kucir di belakang kepalanya.
"Yeah... dari mana lagi? Kau tahu kan mereka juara setiap tahun dan panitia khusus meminta mereka main sebagai band pembuka," kata Ino di seberang.
"Hmm..." gumam Sakura tidak jelas. Sekarang ia sedang memoleskan lipgloss ke bibirnya tipis-tipis, lalu merapikannya.
"Anak-anak lagi siap-siap di belakang," beritahu Ino. "Sai kelihatannya agak gugup. Sepertinya ini baru pertamakalinya dia tampil di muka umum."
"Hmm..." gumam Sakura lagi. "Tapi dia pasti bisa."
"Aku tidak ragu itu," sahut Ino. "Dan coba tebak, apa yang kulihat di sini, Sakura!" suara Ino mendadak dipenuhi kegairahan seperti setiap kali ia menemukan bahan seru untuk digosipkan.
"Serombongan cowok-cowok cakep?" tebak Sakura asal sambil tertawa.
Ino tertawa di seberang, dilatarbelakangi suara ribut orang-orang yang sepertinya berlalu-lalang di dekat sana. "Aku tidak keberatan kalau menemukan itu. Tapi bukan itu. Kau tahu, Hinata Hyuuga datang kemari!!"
Sakura mengerutkan alisnya. Bukankah itu tidak aneh? pikirnya, mengingat Hinata adalah anggota jurnal. Barangkali ia datang ke sana untuk meliput seperti biasa. "Memangnya kenapa kalau dia datang?" tanya Sakura heran.
"Memangnya kenapa? Karena dia mendapatkan karcis masuknya dari NARUTO!!"
Berita ini kontan mengejutkan Sakura. Ia tahu bahwa setiap personil band yang menjadi peserta mendapatkan masing-masing satu karcis masuk gratis untuk orang terdekat mereka. Sai memberikan karcisnya untuk Sakura sementara Ino untuk Idate. Sakura sama sekali tidak menyangka Naruto akan memberikannya pada Hinata. Melihat mereka berdua benar-benar dekat bahkan mengobrol di sekolah pun rasanya nyaris tidak pernah. Bagaimana bisa..??
"Yang benar? Hinata yang itu? Yang selalu gagap di depan Naruto?"
"Memangnya di sekolah kita ada berapa Hinata?" Sakura bisa membayangkan Ino memutar bola matanya di seberang.
"Well..." Sakura tersenyum pada bayangannya sendiri, membayangkan Naruto dekat dengan Hinata membuatnya hatinya terasa lebih ringan, "Sepertinya kemajuan untuk Hinata, kan?"
"Yeah," Ino menyahut setuju, "Mereka kelihatannya cukup akrab, meskipun Hinata gugupan. Beda sekali dengan adiknya yang penuh semangat itu."
"Ada adiknya juga?"
"Yap. Hinata membawa adik perempuannya juga. Ah, Idate sudah datang! Sudah dulu ya, Sakura. Aku harus pergi sekarang. Kau cepatlah kemari!"
Sambungan terputus. Tertawa sendiri, Sakura meletakkan ponselnya di meja rias dan melanjutkan acara berdandannya, sampai terdengar suara ketukan dari pintu kamarnya yang dibiarkan sedikit terbuka. Gadis itu menoleh dan mendapati ibunya berdiri di ambang pintu.
"Ibu? Belum berangkat ke restoran?" tanya Sakura heran. Biasanya jam-jam ini ibunya pasti sudah berangkat ke restoran. Tapi sekarang ia masih di rumah, masih dalam balutan gaun tidur yang sama saat mereka sarapan tadi.
"Ibu mungkin tidak ke restoran hari ini, Sayang..." Azami membuka pintu kamar putrinya lebih lebar dan berjalan masuk.
Sakura menghampiri ibunya, menatap wajah sendu itu dengan tatapan khawatir. "Ibu sakit? Tidak enak badan?" gadis itu meletakkan tangannya di sisi wajah ibunya, merasakan suhu tubuhnya. Tidak panas.
Azami menggeleng pelan sambil menyunggingkan senyum. "Ibu tidak apa-apa, Nak. Hanya ingin menghabiskan waktu di rumah. Kau rapi sekali, Nak. Mau keluar?"
Sakura membalas senyum ibunya dengan cengiran riang. "Ya, Bu! Aku akan ke festival band di Konoha City Square. Band-nya Ino dan Naruto akan manggung di sana hari ini!"
"Wah, kedengarannya seru," sahut Azami dengan nada antusias. Ia kemudian mendudukkan dirinya di ranjang Sakura. "Ibu perhatikan, kau ceria sekali belakangan ini, Sakura."
Sakura yang juga telah duduk di sisi ibunya, tertawa kecil. "Yah, karena banyak hal menyenangkan yang terjadi, Bu. Bagaimana aku tidak senang?"
Azami meletakkan sebelah tangannya di atas tangan Sakura, menepuk-nepuknya dengan lembut. Sejenak ia masih tersenyum, tapi saat berikutnya senyumnya perlahan memudar. Keduanya terdiam beberapa saat sementara Azami memalingkan wajahnya ke arah jendela, pandangannya menerawang seakan ada sesuatu yang sedang dipikirkannya saat itu. Pandangannya beralih lagi dan sekarang ia memandangi wajah putrinya, tetapi pandangannya tidak fokus. Sakura bisa merasakan ada yang tidak beres.
"Ibu baik-baik saja, kan?" gadis itu bertanya cemas. Ia mengawasi ibunya dengan tatapan khawatir. Pasti ada sesuatu yang membebani ibu saat ini, pikirnya. "Kalau ibu mau, aku bisa membatalkan rencanaku dan menemani ibu di sini. Ino pasti—"
"Ah, tidak, tidak, Sayang..." sela Azami cepat-cepat. Ia tersenyum lagi. "Kau bersenang-senanglah. Jangan kecewakan teman-temanmu."
Sakura menatap ibunya beberapa saat lagi, tidak yakin. "Ibu yakin tidak apa-apa aku tinggal?"
Wanita berambut merah keunguan itu mengangguk disertai senyuman menenangkan. Mata zamrud yang diwarisinya pada sang putri melembut. "Ayo, sekarang kau berangkat. Jangan biarkan teman-temanmu menunggu!"
Nada bicara Azami yang terdengar begitu ceria nampaknya sedikit melegakan Sakura. Gadis itu balas tersenyum, lalu mengangguk.
-
TBC...
-
Um.. ada yang bisa melihat bakal konflik yang akan terjadi nanti di chapter ini? Tersirat secara gaje sih. Hihi.. Chapter ini sepertinya lebih didominasi dialog, ya? Gomen ne… Otak aku kayanya lagi stuck bikin deskrip, jadinya gini deh.
Curhat dikit… sebenernya aku agak bingung waktu mau ngelanjutin cerita ini. Gara-gara otak terpolusi plot untuk HidanHinata (ya, ampun… aku kok jadi suka banget sama mereka, ya??) Fufufu… Jadinya plot untuk L'aPT seperti mengabur dari kepala. Ampuni daku~~
Makasih buat Uci-chan, Ambu, Haruki ozora, Aika-chan, Reiya Sumeragi, TheIceBlossom, Bunbun-chan, Ryn zaoLdyeck, Ngina-chan XD, Light-Sapphire-Chan, Uchiha Cesa, Arai-chan, Kakkoi-chan ama Teh Bella yang udah mereview.. –peluk-peluk semuanya-
Dan terimakasih udah membaca. Btw, mampir ke 'The Prisoner' dong~~ Hihi.. XD
