Chapter 54

Jalanan menuju Konoha City Square tempat diadakannya festival band mendadak menjadi sangat padat, sampai-sampai kau harus menempuh perjalanan dua kali lebih lama naik bus hanya untuk sampai ke halte yang terdekat dengan tempat itu. Waktu sudah menunjukkan setengah jam sebelum acara pembukaan dimulai ketika Sakura turun dari bus bersama serombongan besar remaja dari sekolah lain yang sepertinya juga hendak menonton festival.

"Kyaaa!! Kosaku pasti keren banget!" Sakura bisa mendengar salah seorang dari mereka berseru antusias di depannya sesaat setelah turun dari bus. "Jadi tidak sabar menonton mereka manggung!"

"Pastinya!" seru yang lain. "Dia kan kandidat the best male vocalist tahun lalu. Mudah-mudahan saja tahun ini dia bisa menang."

"Hmm.. tapi sepertinya sulit kalau harus bersaing dengan KAA..."

Salah satu dari mereka tertawa sambil mengibas-ibaskan tangannya. "Tenang saja. Aku dengar dari sepupuku yang jadi panitia. Katanya vocalist dari KAA cewek—"

Saat berikutnya diskusi mereka langsung terhenti, digantikan seruan histeris dari beberapa gadis di rombongan itu. Mereka menjerit-jerit kegirangan ketika sebuah van yang sepertinya membawa band yang menjadi bintang tamu di pembukaan festival melintas perlahan. Para personilnya yang kesemuanya adalah cowok berjejalan di dalamnya seperti ikan sarden dalam kaleng. Tapi sepertinya itu tidak mengurangi kekerenan mereka di hadapan gadis-gadis itu.

"Kyaaa!! Kau lihat yang duduk di depan? Kece banget, yaaa..."

Sakura memutar bola matanya. Di mana-mana sama saja. Kenapa sih, orang-orang hanya menilai dari tampangnya saja? Sakura benar-benar tidak habis pikir.

Gadis itu lalu mempercepat jalannya mendahului rombongan itu. Lima menit kemudian ia sudah sampai di pintu masuk. Sakura menyerahkan karcisnya dan mendapatkan stempel tanda masuk sebelum diizinkan masuk ke area festival.

Tempat itu sangat ramai. Beberapa panggung telah dibangun melingkari tempat yang luas itu, sementara orang-orang dengan seragam kaus hijau lumut dengan badge panitia sibuk berlalu-lalang mengatur ini itu, saling bicara lewat handy-talkie. Di sisi lain, terdapat beberapa stand minuman dan makanan kecil bagi para pengunjung yang mulai memenuhi tempat itu.

Sakura menjulurkan lehernya, mencoba mencari-cari sosok yang dikenalnya di antara kerumunan orang-orang.

"Sakura! Sakura!!" panggil seseorang. "Di sini!"

Sakura menolehkan kepala ke arah sumber suara dan tersenyum lebar ketika mendapati Ino sedang melambai ke arahnya di sisi salah satu panggung bersama seorang cowok—Idate. Sakura balas melambai dan bergegas menghampirinya.

"Aku baru saja sampai. Jalanan macet," engah Sakura, "Meriah sekali di sini, ya. Oh, hai, Idate," sapanya pada pacar Ino, yang segera dibalas mahasiswa tingkat dua Konoha University itu dengan 'hai' pelan.

Sakura kembali mengalihkan perhatiannya pada Ino yang tampil beda dengan balutan kostum panggung bernuansa gelap. Ia mengenakan celana hitam ketat, dipadu dengan sweter kashmir biru berkerah tinggi di balik mantel gelapnya. Syal yang berwarna senada dengan sweternya dibiarkan menggantung bebas di lehernya tanpa dililitkan. Ino juga mengenakan boot bertumit tinggi yang membuatnya terlihat jauh lebih jangkung dari aslinya. Rambutnya pirang panjangnya sebagian dibiarkan terjatuh membingkai wajahnya sementara sisanya dikucir tinggi di belakang kepalanya. Ino juga telah membubuhkan makeup tipis-tipis, cukup untuk memberikan aksen pada garis lembut wajahnya yang memang sudah sangat cantik.

"Kau kelihatan... WOW!" seru Sakura terkagum. Pada dasarnya Ino memang hampir selalu kelihatan cantik dalam kostum apa pun.

Gadis pirang itu tersenyum lebar. "Thanks. Kau juga oke," balasnya.

Sakura balas tersenyum agak malu. Kalau dibandingkan dengan Ino, ia tampak jauh lebih sederhana. Gadis itu mengenakan mantel cokelat tua sepanjang lutut di atas sweter merah marun dan jeansnya yang biasa. Juga dengan syal wol tebal rajutan sendiri melingkar di leher. Lengkap dengan sneaker yang biasa dipakainya ke sekolah. Rambut merah mudanya yang panjang dikepang longgar di tengkuknya.

"Anak-anak yang lain masih siap-siap di belakang," beritahu Ino sambil menunjuk belakang panggung. "Kalau kau mau melihat mereka."

"Oh, yeah..." sahut Sakura, menyadari barangkali Ino ingin ditinggal berduaan dengan pacarnya sebelum naik panggung. Dengan melempar senyum terakhir pada pasangan itu, Sakura bergegas pergi ke arah yang ditunjuk Ino.

-

-

Suasana di belakang panggung sama hebohnya dengan di depan. Para panitia bagian logistik sibuk membantu band-band yang akan tampil menyiapkan instrumen dan peralatan yang mereka butuhkan, sementara beberapa band tampak melakukan pemanasan dengan memainkan istrumen mereka.

Seperti Naruto yang kini duduk di atas tumpukan kotak-kotak peralatan yang sudah kosong sambil memetik gitarnya, memainkan beberapa nada. Jemarinya menari lincah di atas senar gitarnya sementara bibirnya turut bersenandung mengikuti lirik yang dimainkannya. Sejenak ia tampaknya tenggelam dalam permainannya sendiri sebelum akhirnya konsentrasinya buyar karena seseorang memanggil namanya.

"Naruto!"

Naruto mendongak dan langsung tersenyum lebar begitu melihat sosok gadis yang dikenalnya sedang berlari-lari kecil ke arahnya.

"Ah, Sakura," balasnya cerah sambil menurunkan gitarnya.

"Akhirnya aku menemukan kalian!" engah Sakura sambil memandang berkeliling. Ia kemudian menyapa Shikamaru dan Chouji yang sedang berbicara dengan cowok berkulit gelap yang menjadi panitia. "Sai kemana?" tanyanya saat menyadari Sai tidak tampak di mana pun.

"Oh, dia sedang—Ah, itu dia!" Naruto menunjuk ke arah bagian belakang panggung.

Sai baru saja muncul bersama Zaku. Sakura memperhatikan, penampilan cowok-cowok itu, termasuk Shikamaru, Chouji dan Naruto, sewarna dengan Ino. Semuanya mengenakan kostum bernuansa gelap. Tetapi bukan itu yang membuatnya terkejut, terutama oleh penampilan Sai yang agak lain. Kacamata berbingkai separuh bertengger manis di batang hidungnya yang mancung.

"Hai. Kau datang, Sakura," sapa Sai ketika ia dan Zaku sudah dekat. Senyum menghiasi wajah pucatnya seperti biasa.

Perlu beberapa waktu bagi Sakura untuk mengatasi rasa panglingnya.

"Sai!" seru gadis itu kemudian. Mata zamrudnya membulat. "Kau pakai kacamata!"

"Oh, ini..." Sai menaikkan posisi kacamata di atas hidungnya, nyengir malu-malu. "Aku menghilangkan lensa kontakku pagi ini."

"Kau tidak pernah bilang matamu minus!"

Cowok itu hanya memamerkan senyumnya yang biasa. "Tidak ada yang tanya."

Sakura menatap sosok temannya yang pemalu itu selama beberapa saat lagi, lalu nyengir. "Kau kelihatan cakep dengan kacamata, Sai."

Rona kemerahan muncul di pipi pucat Sai, dan cowok itu mulai melakukan kebiasaannya setiap kali malu atau gugup—menggaruk pipinya dengan jari. Sakura dan Naruto bertukar pandang dengan tampang geli. Sai memang tampak seperti anak kecil yang menggemaskan kalau sudah melakukan itu.

"Ah!" seru Naruto sesaat kemudian. Gitaris berambut pirang itu menurunkan gitarnya dan mengambil sebuah kotak bekal yang sedari tadi diletakkan di sampingnya. Dibukanya kotak itu—yang rupanya berisi nasi kepal dan beberapa makanan kecil yang tampak menggoda selera—lalu diulurkannya pada kedua sobatnya. "Kalian mau? Sai, kau belum sarapan, kan? Sakura?"

"Aku sudah sarapan, trims," Sakura menolak halus. Ia kemudian duduk di sebelah Naruto.

Naruto menyodorkan kotaknya pada Sai. "Sarapan dulu. Kau butuh tenagamu."

"Thanks." Sai mengambil nasi kepal. Ia juga duduk di sisi lain Naruto dan mulai makan.

"Ayahmu masih sempat membuatkan bekal untukmu, Naruto?" tanya Sakura.

Naruto tertawa kecil. "Bukan ayahku. Ini dari Hinata," ujarnya sambil mengambil nasi kepal.

Sakura menatap Naruto dengan alis terangkat. Gadis itu nyengir. Benar-benar kemajuan, pikirnya senang. Kemudian ia teringat kata-kata Ino saat di telepon tadi pagi. "Hei, kudengar kau memberikan karcismu pada Hinata?" tanyanya dengan tatapan ingin tahu.

Naruto mengambil waktu untuk mengunyah dan menelan nasi kepalnya sebelum menjawab dengan nada ringan, "Yeah. Aku memberikan karcisku padanya. Habis aku tidak tahu harus mengajak siapa lagi. Pap tidak bisa karena banyak pekerjaan—tugas anak-anak yang harus dikoreksi dan membuat soal ujian atau apalah..."

Sakura mengerutkan alisnya. "Jadi kau mengajaknya hanya karena tidak ada pilihan lain?"

"Bukannya begitu," sahut Naruto cepat-cepat. Ia butuh waktu beberapa lama lagi sebelum berkata lambat-lambat, "Aku pikir... dia teman yang sangat menyenangkan. Dia baik, lembut. Aku menyukainya."

"Naruto memberitahuku kalau dia dan Hinata menghabiskan akhir pekan bersama-sama seminggu yang lalu," celetuk Sai setelah menghabiskan nasi kepalnya.

"Benarkah?" tanya Sakura antusias.

"Um.. yeah..." Entah mengapa informasi yang baru saja dibeberkan Sai pada Sakura ini membuatnya agak malu. Ia bisa merasakan wajahnya menghangat dan entah mengapa rasanya ia tidak bisa menahan diri untuk nyengir—yang kemudian berusaha ditutupinya dengan melahap tempura yang lezat dari kotak bekal Hinata.

Sakura yang menyadari perubahan ekspresi Naruto, tersenyum penuh arti. "Omong-omong, di mana dia?—Hinata maksudku."

"Oh, dia ada di depan," sahut Naruto setelah menelan tempuranya, "Sedang mengantar adiknya beli minum di stand makanan. Sekalian mau nonton band pembu—"

Sebelum Naruto selesai bicara, terdengar suara panitia yang bertindak sebagai MC hari itu lewat pengeras suara yang memberitahukan bahwa festival akan segera dibuka. Kemudian diikuti suara tepuk tangan dan sorakan riuh rendah penonton yang menyahutnya.

"Sebaiknya kau segera ke depan kalau tidak ingin ketinggalan pertunjukan band pembukanya, Sakura," kata Sai, "Band KAA. Gaara main di sana."

"Yeah. Kau duluan saja, nanti kami menyusul. Kami harus er..." Naruto melirik barang-barang yang masih berantakan di sekitar mereka, "beres-beres dulu."

Sakura lalu beranjak. "Kalau begitu aku duluan, teman-teman!"

Area depan panggung sudah jauh lebih penuh dibanding beberapa menit yang lalu. Tampaknya pengunjung yang baru datang semuanya tumpah ruah di depan panggung. Mereka berjubel, berdesakkan, bersorak-sorai di dekat bibir panggung. dan bersorak sorai ketika MC mempersilakan band dari KAA untuk naik panggung.

Dan setelah berhasil menembus kerumunan penonton, akhirnya Sakura bertemu dengan Hinata di dekat salah satu stand yang menjual minuman, agak jauh dari panggung dan jelas lebih lengang. Hinata bersama seorang gadis yang lebih muda yang sepertinya adalah adiknya, kalau dilihat dari mata lavender mereka yang persis.

"Ramai sekali, ya?" seru Sakura pada Hinata sambil menjulurkan kepalanya—sebenarnya tidak perlu karena posisi panggung yang lebih tinggi membuat penonton yang berdiri paling belakang juga bisa melihat.

"I-iya..." sahut Hinata, nyaris tak terdengar di tengah hiruk-pikuk orang-orang.

Mereka turut bertepuk tangan bersama penonton lain ketika MC mempersilakan band KAA untuk naik panggung. Satu per satu mereka muncul, diiringi dengan sorakan riuh rendah dan suitan dari penonton. Salah satunya adalah cowok berambut merah marun yang membawa biola. Gaara Sabaku. Dan ia menempatkan diri paling depan. Vocalist mereka belum muncul.

Gaara memimpin teman-temannya memberi salam pada para penonton sebelum akhirnya menempatkan instrumennya di posisi siap di bahunya. Saat berikutnya alunan biola yang dinamis dari melodi 'Toss The Feathers' yang pernah Sakura dengar mereka melatihnya saat kunjungannya ke KAA bersama Sai beberapa minggu yang lalu memenuhi tempat itu, mengajak para penonton bersorak lebih riuh dan mulai bergoyang mengikuti iramanya yang dinamis.

"Kyaaa!! Kak Gaara!!" Hanabi, adik Hinata, menjeritkan nama sang violinist yang sedang beraksi di atas panggung sambil berjingkrak-jingkrak.

Hinata dan Sakura tertawa melihat tingkah gadis kecil itu—meskipun tentu saja tawa mereka teredam oleh suara di sekitar mereka.

"H-Hanabi mengambil les biola di KAA," beritahu Hinata pada Sakura, "Dan p-pemuda bernama G-Gaara itu adalah salah satu p-pengajar favoritnya, siswa pertukaran d-dari Suna katanya."

"Yeah," sahut Sakura keras, mengatasi suara bising, "Aku pernah bertemu dengannya juga."

"Mereka keren banget, ya…" kata Ino yang tiba-tiba saja muncul di sebelah Sakura, membuat gadis itu terlonjak kaget.

"Ino!" teriak Sakura memprotes sambil memelototi temannya itu. "Kau mengagetkanku, tahu!"

Ino nyengir minta maaf. "Iya, maaf…"

"Lho? Mana Idate?" tanya Sakura keheranan karena tidak mendapati Idate di sebelah Ino. Biasanya kan mereka selalu nempel kemana-mana kalau sudah bersama-sama.

Ino mengibaskan tangannya nyaris ogah-ogahan. "Dia sedang ke kamar kecil." Gadis itu kembali memusatkan perhatiannya ke arah panggung dengan kepala terangguk-angguk mengikuti irama musik. Mata birunya berbinar-binar mengagumi sosok sang violinist. "Wah, Gaara… Masih sama kerennya dengan saat terakhir dia main untuk acara penutupan turnamen. Cakep kan dia, eh, Sakura?"

"Lumayan," sahut Sakura.

Bersama penonton lain, gadis itu pun turut larut dalam alunan musik apik yang dimainkan oleh Gaara dan kawan-kawan di atas panggung. Bahkan band-band lain yang seharusnya bersiap-siap juga ikut menonton dari pinggir panggung. Sakura juga sudah melihat Naruto, Sai, Shikamaru dan Chouji di sana. Sai tampak antusias melihat penampilan temannya itu, sementara Naruto dan yang lain tampak turut menikmati musik mereka, betapapun orang-orang di atas panggung itu adalah rival mereka di kompetisi ini.

Semua penonton bertepuk riuh ketika KAA band selesai menampilkan bagian pembukaan dan langsung menyambung dengan intro 'So Young' milik The Coors. Diawali dengan suara dari para penyanyi latar—yap, mereka juga memakai penyanyi latar khusus yang semuanya perempuan—sebelum sang lead vocalist muncul dari sisi panggung sambil menyapa para penonton yang langsung heboh, terutama para penonton cowok.

Gadis itu bernyanyi dengan penuh semangat di atas panggung, suaranya yang merdu jernih itu membuai telinga sementara ia bergerak ke sana kemari dengan lincahnya, berkomunikasi dengan penonton. Keriangan Shion—nama sang vocalist—sepertinya menular pada rekan-rekan dan juga penonton. Semua orang bergoyang dan berjingkrak-jingkrak mengikuti irama lagu.

"Coz we are so young now, we are so young, so young now

And when tommorow comes, we can do it all again

Yeah, we are so young now, we are so young, so young now

And when tommorow comes, we'll just do it all again

All again…"

Shion menyanyikan bagian refrain sambil melambaikan tangannya ke arah Gaara yang segera menyambung dengan permainan biolanya. Kali ini giliran penonton cewek yang histeris. Kemudian Shion mulai mengajak para penonton untuk bernyanyi bersamanya. Segera saja tempat itu dipenuhi oleh koor penonton yang menyanyikan refrain penutup.

"So young now, we are so young, so young now

And when tommorow comes, we'll just do it all again

Yeah, we are so young now, we are so young, so young now

And when tommorow comes, we'll just do it all again

We are so young..."

Para penonton bertepuk, bersorak dan bersuit-suit ketika band KAA mengakhiri lagu yang mereka bawakan. Shion dan teman-temannya membungkuk memberi salam sebelum panggung kembali diambil alih oleh MC.

"Kau tidak siap-siap?" seru Sakura pada Ino.

Tetapi sepertinya Ino tidak mendengarkannya saking sibuknya menjulurkan leher, mencoba melihat dari atas kepala kerumunan penonton yang lain. Gadis itu kemudian memekik dan menunjuk-nunjuk ketika melihat sosok berambut merah terihat muncul di sisi panggung. "Ah, itu Gaara! Kita sapa dia, yuk!"

Sebelum Sakura sempat memberikan jawaban, Ino sudah menyambar pergelangan tangannya dan menyeretnya menembus kerumunan penonton menuju ke arah yang ditunjuknya tadi, meninggalkan Hinata bersama adiknya yang rupanya juga telah bertemu dengan teman mereka yang lain sehingga tidak menyadari ketika Sakura dan Ino pergi dari sana.

Sebagian peserta festival sudah kembali ke belakang panggung saat itu untuk bersiap-siap, sebagian lagi bertahan di depan panggung untuk menonton band yang selanjutnya tampil—barangkali berharap mendapatkan tips. Dari peserta yang masih bertahan menonton itu adalah Naruto dan Sai. Dan di bersama mereka berdualah Sakura dan Ino mendapati Gaara.

"Gaara!" seru Ino keras mengatasi suara bising sambil melambai-lambaikan tangannya dengan heboh saat mereka sudah dekat.

Gaara yang sedang mengobrol dengan Sai dan Naruto menoleh. Sejenak matanya mencari-cari, sebelum akhirnya mendapati sesosok gadis yang samar-samar dikenalnya. Keningnya sedikit berkerut. "Kamu? Um..."

"Aku INO! Ino Yamanaka!" seru Ino dengan senyuman lebar di wajahnya. Napasnya sedikit terengah. "Kita pernah ketemu waktu ada turnamen olahraga dan seni di Ame! Masa kau lupa, sih?!"

"Eh, jadi Ino kenal Gaara?" celetuk Naruto sementara Gaara mencoba mengingat-ingat. Ino mengabaikannya. Sepertinya perhatiannya saat itu hanya tertuju pada cowok dengan tato kanji 'Ai' di keningnya itu.

"Ah! Ya, aku ingat," sahut Gaara setelah beberapa saat. "Cewek gymnastic teman Temari, kan? Apa kabar, Yamanaka?" Cowok itu mengulurkan tangan, menjabat tangan Ino.

"Oh, aku ba—"

"INO?!" seru suara lain yang muncul dari belakang mereka. Mereka semua menoleh. "Ino Yamanaka, kan?" Seorang gadis dengan rambut pirang pasir yang dikucir empat baru saja muncul dari kerumunan penonton. Di belakangnya, seorang cowok dengan rambut cokelat jabrik dan seorang gadis yang lebih muda, dengan rambut cokelat muda pendek yang ditutupi topi pet merah.

Ino memekik girang, "TEMARI!!!"

"Ah, ternyata benar kau!!" seru gadis bernama Temari itu.

Dan kedua gadis itu pun menjerit-jerit sambil berpelukan seperti sepasang sahabat yang telah lama tidak bertemu. Sementara Ino dan temannya saling melepas kerinduan dengan hebohnya, Sakura menghampiri Gaara.

"Penampilanmu tadi bagus sekali, Gaara," puji Sakura tulus sambil tersenyum manis.

"Trims," Gaara membalas senyumnya. Ia lalu berpaling ketika gadis yang tadi datang bersama Temari mendekatinya. "Kau datang juga, Matsuri."

"Tentu saja. Aku kan sudah janji," kata Matsuri dengan wajah berseri-seri. Ia menoleh pada yang lain. "Halo Sakura, Sai, dan um..." gadis itu mengernyit pada Naruto.

"Naruto Uzumaki, salam kenal!!" seru Naruto, nyengir lebar.

"Hai, Naruto," gadis itu membalas ceria, "Aku Matsuri, salam kenal."

"Ahahaha... pacarnya Gaara, ya?" seloroh Naruto asal, membuat wajah Matsuri merona kemerahan.

"Ah, bukan kok. Kami hanya teman," gumam Matsuri malu-malu.

"Tapi sebentar lagi akan menjadi adik ipar kami!" seru seorang cowok yang tadi datang bersama Matsuri dan Temari sambil melingkarkan lengannya ke bahu Matsuri dan Gaara, menyelip di antara keduanya. Gaara membeliak padanya, tapi cowok itu mengabaikannya. Ia lebih tertarik menyapa yang lain. "Ah, rupanya Gaara sudah kenalan dengan teman-teman dari Konoha High. Hai, Sakura."

Sakura memaksakan senyum, masih teringat kejadian saat latihan drama beberapa hari yang lalu. "Hai, Kankurou," sapanya kaku.

"Um... dia ini kakakku yang nomor dua, Kankurou Sabaku," ujar Gaara memperkenalkan kakaknya.

"Adik bodoh. Mereka sudah mengenalku, tahu!" Kankurou mengacak rambut Gaara, membuat adiknya itu melempar pandang sebal padanya.

"Jadi Kankurou itu kakak Gaara?!" celetuk Naruto terkejut. "Tidak mirip," ia menambahkan pelan sehingga tidak ada yang mendengarnya kecuali Sakura yang berdiri tepat di sampingnya. Gadis itu nyengir, lalu mengangguk setuju.

"Dan aku kakak pertama Gaara." Gadis pirang berkucir empat yang sedari tadi sibuk mengobrol dengan Ino kini menggabungkan diri bersama yang lain. "Temari Sabaku. Salam kenal."

"Ini temanku waktu kejuaraan di Ame yang aku ceritakan padamu, Sakura!" sambung Ino sambil menepuk-nepuk lengan Temari. "Temari yang dapat medali emas-nya."

Sakura mengulurkan tangannya pada Temari sambil memperkenalkan namanya. Sepertinya Temari ini orangnya lebih menyenangkan dari pada adik keduanya, pikir Sakura sambil tersenyum. Sepertinya mereka bakal cocok. Temari, meskipun usianya lebih tua beberapa tahun dari ketiga gadis yang lain, tidak tampak canggung bergaul dengan mereka. Bahkan gadis Suna itulah yang banyak memulai obrolan, dan ia orang kedua yang paling heboh berteriak dan melompat-lompat selain Ino ketika band-band selanjutnya tampil.

Suasana akrab itu terpaksa berakhir ketika Shikamaru muncul dan memberitahu mereka bahwa Inoshikachou Jr akan segera tampil. Ino segera pamit pada teman-temannya dan bergegas ke belakang panggung untuk bersiap-siap menyusul Shikamaru bersama Sai dan Naruto. Sakura dan yang lain berseru menyemangatinya.

Satu lagu lagi dari band yang sedang tampil sekarang sebelum giliran Inoshikachou Jr.

Suara orang-orang bersorak dan bertepuk riuh—yang terutama datang dari rombongan anak-anak Konoha High yang sengaja hadir untuk menyemangati perwakilan mereka—langsung terdengar begitu Ino menampakkan diri di atas panggung setelah dipersilakan oleh MC. Gadis itu dengan ceria menyapa para penonton untuk memberi waktu pada teman-temannya bersiap dengan instrumen masing-masing di belakangnya.

Rupanya Ino tidak hanya populer di kalangan cowok-cowok Konoha High saja—yang bersorak paling keras di antara yang lain—tetapi sepertinya cowok-cowok di luar itu juga mengenalnya. Tidak mengherankan sebetulnya, mengingat ini bukan kali pertama Ino dan bandnya mengikuti acara seperti ini, dan tahun lalu band mereka rajin menjadi band cafe-cafe tempat anak-anak muda Konoha biasa nongkrong.

"INO! INO! INO~~~!!!" mereka semua bersorak heboh.

Di panggung, Ino tersenyum lebar dan melambaikan tangan ke arah kerumunan anak-anak Konoha High.

Saat berikutnya, Ino memberikan kode pada teman-temannya untuk memulai. Kemudian Sai mulai memainkan nada pembuka untuk lagu pertama mereka dengan keyboard-nya. Disusul oleh entakan drum dari Zaku dan instrumen lain. Detik berikutnya Ino mulai memamerkan suaranya yang tinggi dan jernih, membuat cowok-cowok bertambah seru bersorak, nyaris menenggelamkan suara gadis itu. Lagu 'Carnival' milik The Cardigans yang dibawakan oleh mereka sukses membuat para penonton bergoyang.

"I will never know
cause you will never show
come on and love me now
come on and love me now

Carnival came by my town today
bright lights from giant wheels
fall on the alleyways
and I'm here by my door
waiting for you"

Ino menyanyikan bagian refrain dengan penuh semangat dengan suara Naruto sebagai backing-nya. Mereka berdua yang paling lincah di atas panggung, benar-benar duo pirang yang kompak. Ino bergerak lincah ke sana kemari, menggiring penontonnya berjingkrak-jingkrak lebih semangat. Dengan senyum lebar gadis itu membungkuk dan menerima sekuntum bunga yang diulurkan oleh salah satu penonton cowok—diiringi sorakan menggoda dari yang lain.

Benar-benar heboh. Ino benar-benar lihai menghibur para penonton.

Lagu pertama selesai—diiringi dengan tepukan riuh, tentu saja—dan dilanjutkan dengan lagu kedua yang lebih ballad, 'Together' dari Michelle Branch. Kali ini penonton mengangkat tangan mereka dan mengayun-ayunkannya seiring dengan irama musik yang dimainkan.

"S-suara Ino bagus sekali, ya," puji Hinata, mengagetkan Sakura.

Gadis bermata zamrud itu menoleh dan agak terkejut melihat Hinata sudah bergerak lebih dekat ke arah panggung. "Hinata?" Sakura memandang ke sekeliling gadis itu. "Mana adikmu?"

"Oh, H-Hanabi tadi bertemu dengan teman-temannya," jawab Hinata seraya mengerling Sakura sejenak sebelum perhatiannya kembali ke arah panggung, tersenyum penuh kekaguman.

Sakura ikut menatap ke arah panggung dan sepertinya ia tahu siapa yang sedang ditatap Hinata di sana. Naruto sudah bergerak lebih dekat ke bibir panggung bersama Ino, memainkan gitarnya dengan penuh semangat. Cowok itu melihat ke arah mereka, nyengir.

"Suara Naruto juga bagus, kan?"

Rona kemerahan muncul di wajah Hinata ketika ia mengangguk. Ia yang sudah pernah mendengar Naruto bernyanyi saat kunjungannya ke panti asuhan beberapa waktu yang lalu, setuju dengan pendapat Sakura. Suara Naruto memang sangat bagus—walaupun di sini cowok itu lebih banyak kebagian menjadi backing vocal Ino.

"Apa kalian meliput ini?" tanya Sakura kemudian. Yang dimaksudkannya dengan 'kalian' tentu saja adalah anak-anak jurnal.

"Ya, t-tentu saja." Hinata melambaikan tangannya ke arah cowok-cowok yang dikenali Sakura sebagai anak kelas satu yang menjadi anggota klub jurnal yang berdiri tidak jauh dari mereka. Mereka tampak sibuk mengambil foto.

Ketika sedang melihat ke arah mereka, Sakura tidak sengaja melihat pacar Ino, Idate, sedang berdiri di dekat stand minuman bersama teman-temannya. Kedua tangannya terlipat di depan dada dan mata hitamnya terpacang ke arah panggung. Tapi ekspresinya sama sekali tidak menampakkan antusiasme seperti yang ditunjukkan teman-temannya. Yang ada hanyalah kerutan samar di antara alisnya dan bibirnya yang terkatup.

Entah mengapa perasaan Sakura menjadi tidak enak melihatnya. Tetapi perhatiannya langsung teralih begitu ia mendengar Hinata berkata,

"K-Kak Neji pulang malam ini."

Sakura bisa merasakan wajahnya menghangat. "Kenapa kau memberitahuku?"

"Barangkali Sakura ingin tahu kapan Kak Neji pulang," sahut Hinata dengan senyum yang sama sekali tidak bisa diartikan oleh Sakura.

Dengan gugup, Sakura membalas senyum itu singkat sebelum berpaling dan menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga dengan gugup, berdeham. Memikirkan Hinata mungkin mengetahui perasaannya terhadap Neji benar-benar membuatnya salah tingkah. Gadis itu mencoba berkonsentrasi menonton aksi Ino dan yang lain di atas panggung, namun yang terbayang di depan wajahnya malah wajah tampan kakak sepupu Hinata. Sakura menggigit bibir bawahnya, menahan senyum.

Ya ampun... Besok aku akan bertemu dengannya lagi...

"And we belong together

Like the moon and stars in the midnight

And we'll be strong forever

Cause we belong together

Whoa, whoa... Whoa, whoa..

Whoa, oh..."

Ino mengakhiri lagu kedua mereka diiringi tepukan dan sorakan riuh dari penonton. Setelah menyerukan terimakasih pada para penonton dan panitia, ia bersama para personil lainnya meninggalkan panggung. MC kemudian menggantikan mereka dan memanggil penampil selanjutnya, Alpha Band.

Ekspresi riang dan bersemangat tampak jelas di wajah keenam personil band itu ketika Sakura dan Hinata menemui mereka di belakang panggung. Bahkan Shikamaru yang selalu kelihatan mengantuk pun tampak segar dan senang mendengar komentar Naruto tentang betapa hebohnya penampilan mereka di hari pembukaan ini.

"Sakura!!" sambut Ino riang begitu melihat Sakura mendekat. Gadis itu mengulurkan kedua tangannya dan memeluk sahabat kentalnya itu sebagai ucapan selamat.

"Yang tadi itu benar-benar keren," komentar Sakura ceria, "Oh, tapi tanpa diberitahu pun kurasa kau sudah tahu—"

Kedua gadis itu tertawa. Ino mengibas-ngibaskan tangannya. "Beritahu saja. Aku senang kok mendengarnya."

"Hinata!" Naruto yang telah melihat Hinata langsung menarik tangannya supaya mendekat, sama sekali tidak memedulikan—atau tidak memperhatikan?—wajah Hinata yang sudah semerah tomat ranum. "Kau tadi melihat kami, kan? Bagaimana menurutmu? Apa band kami akan diliput dan masuk majalah sekolah? Atau mading?" cowok pirang itu langsung mencecar gadis pemalu itu dengan pertanyaan.

Hinata, yang tidak tahu harus menjawab yang mana dulu, hanya bergumam pelan sambil tersenyum malu-malu, "I-Iya, N-Naruto..."

"Dasar!" Zaku menimpuk kepala pirang Naruto dengan stick drumnya sambil tertawa puas, "Tentu saja kita akan masuk majalah, bodoh! Lagipula kau kan sudah sering masuk majalah sekolah beberapa bulan terakhir ini!"

Naruto hanya tertawa sambil menggaruk belakang kepalanya. Tentu saja, pikirnya. Wajahnya hampir selalu muncul di majalah sekolah dan mading beberapa bulan terakhir ini. Mulai dari konfliknya dengan Sasuke dan Sakura, pertandingan sepak bola, dan sekarang... band. Bagaimana ia tidak menjadi sangat populer seantero Konoha High setelah ini?

"Ayo kita bersenang-senang!" seru Chouji riang. Kedua lengannya yang gemuk dan berat merangkul pundak Shikamaru dan Sai. "Ayo kita makan-makan!"

"Aah, kau ini makan terus yang dipikirkan!" komentar Shikamaru sambil menahan cengiran. "Festivalnya belum selesai, tahu!"

"Makan-makan!!" Chouji jelas tidak mendengarkan Shikamaru.

Sai, yang sebelum giliran mereka manggung tidak banyak bicara—barangkali karena terlalu tegang—tampak berseri-seri. Ia tersenyum dan tertawa melihat tingkah riang teman-temannya.

Senja sudah mulai turun di langit Konoha ketika acara akhirnya berakhir. Setelah band dari KAA—yang bertugas membuka dan menutup acara—menyelesaikan lagu mereka yang terakhir, para penonton perlahan mulai membubarkan diri.

Setelah selesai mengepak peralatan mereka, Shikamaru bersama teman-temannya berniat merayakan keberhasilan kecil mereka tadi dengan makan-makan di kedai pizza milik Anko Mitarashi, salah satu guru mereka. Naruto mengajak serta Hinata dan adiknya, Hanabi—meskipun Hanabi tampaknya agak keberatan, tetapi berkat bujukan dari sang kakak dan tawaran traktiran dari Naruto, akhirnya gadis kecil itu mau juga. Tapi sayang sekali Ino tidak bisa ikut karena Idate mengajaknya pergi begitu acara selesai.

"Maaf ya, teman-teman," ucap Ino dengan cengiran minta maaf. Diliriknya Idate yang sudah menunggunya tidak jauh dari van milik Shikamaru. "Aku ada acara, jadi tidak bisa ikut kalian."

Naruto mendecakkan lidahnya, pura-pura kesal. Kedua tangan di pinggang. "Haah.. kau ini pacaran melulu!"

Ino menjulurkan lidah pada cowok itu. "Berisik kau, Naruto! Bilang aja kau iri!" Gadis itu tidak memberikan kesempatan pada Naruto untuk membalasnya, karena saat berikutnya ia sudah melesat menghampiri Idate sambil tertawa-tawa.

"Oi, Ino! Pulangnya jangan malam-malam! Aku tunggu kau di rumah!!" seru Naruto bergurau, disambut gelak tawa yang lain. Bahkan Hinata pun ikut terkekeh.

"Jangan begitu ah, Naruto," kata Sakura, tak bisa menahan cengirannya, "Kalau Idate dengar dan menanggapi serius, kau bisa kena masalah, tahu."

Naruto hanya menyeringai sambil menggaruk belakang kepalanya. Sementara itu Idate dan Ino terlihat sudah meninggalkan arena festival dan menuju pusat Konoha City Square sambil bergandengan tangan.

Sepasang kekasih itu baru saja menghilang begitu Sai muncul dari arah kamar kecil. "Sudah mau berangkat sekarang? Lho? Ino kemana?" tanyanya saat menyadari sang vocalist tidak ada di sana.

"Sudah pergi dengan pacarnya," sahut Shikamaru sambil lalu sambil memasukkan kotak gitar terakhir milik Naruto ke dalam van. "Ayo kita pergi!"

Satu persatu mereka mulai masuk ke dalam van, berjejalan dengan barang-barang.

"Eh, bagaimana kalau kita ajak Gaara dan kakak-kakaknya sekalian!" usul Naruto.

"Mereka tidak bisa," kata Sai sambil menutup pintu, "Gaara memberitahuku kalau mereka akan makan malam dengan paman mereka di KCS."

"Wah, sayang sekali," gumam Naruto kecewa. Ia tampaknya mulai akrab dengan Gaara setelah menghabiskan beberapa waktu mengobrol tadi.

"Oi, sadar dong, mobil sudah sempit begini masih mau mengajak orang!" tukas Zaku yang kebagian duduk di belakang, terhimpit kotak-kotak gitar. "Mau di taruh di mana? Atap?"

Tidak seorang pun menggubrisnya.

Tetapi tidak hadirnya Gaara tidak lantas mengurangi keceriaan mereka malam itu. Terlebih dengan para personil Alpha Band dan The Glossy dan juga para manager klub musik yang bergabung dengan mereka di kedai pizza Mitarashi, membuat restoran itu jauh lebih bising ketimbang biasanya. Mereka mengobrol, makan-makan dan tertawa bersama. Pokoknya bersenang-senang, sebelum memasuki kompetisi yang sebenarnya selama seminggu ke depan.

"Hey, kalian anak-anak bandel!" gelegar Anko yang kemudian muncul dengan senyuman lebarnya. Mereka—minus Shikamaru, Hinata, Hanabi dan Sai—langsung ribut menyambut guru mereka yang memang terkenal nyantrik dan akrab—meskipun kadang galak—dengan murid-muridnya itu. "Dari pada ribut tidak jelas, bagaimana kalau kalian bernyanyi untuk Ibu?"

Murid-muridnya langsung bersorak antusias, menyanggupi tantangan guru mereka. Tampaknya mereka memang sedang sangat bersemangat. Naruto buru-buru mengambil gitarnya. Kemudian saat berikutnya restoran itu sudah dipenuhi koor anak-anak yang bernyanyi tidak jelas diiringi oleh genjrengan gitar Naruto.

Di antara hiruk pikuk suara anak-anak yang memenuhi restoran, Sai mengeluarkan ponselnya dan mengaktifkan kamera.

"Kamu sedang apa?" tanya Sakura yang duduk di sebelah Sai.

"Merekam," sahut Sai seraya mengarahkan ponselnya ke arah anak-anak yang ramai bernyanyi. "Kita tidak boleh kehilangan momen seperti ini."

Sakura tersenyum. "Kau benar..." Gadis itu menatap Naruto sejenak, lalu beralih ke anak-anak yang riuh di sekelilingnya. "Kalau sedang berkumpul seperti ini, aku jadi kangen pada Sasuke. Pasti asyik kalau dia juga ada di sini..." desahnya.

Kamera ponsel Sai masih terarah pada Naruto, merekam momen itu selama beberapa saat lagi sebelum Sai menurunkannya. Ia tampak berpikir sejenak. "Ah! Aku tahu!"

"Eh?" Sakura menatap tak mengerti.

-

-

Uchiha Mansion – Oto City

Sasuke menatap layar televisi plasma di hadapannya dengan tatapan kosong. Seorang gadis cantik yang sedang menangis di pundak pemuda tampan yang berusaha menenangkannya di layar televisi sama sekali tidak digubrisnya. Padahal biasanya Sasuke akan mual dan segera mengganti chanel. Tetapi kali ini tidak. Remote televisi menggantung begitu saja di tangannya.

Ah, jelas sekali pikirannya sedang tidak berada di sana saat itu.

Siang ini Naruto meneleponnya. Memberitahunya kalau ia akan segera naik panggung dan minta didoakan. Tentu saja Sasuke tahu kalau Naruto bersama bandnya ikut serta dalam festival band tahunan di Konoha—bagaimana tidak kalau Naruto kerap mengocehkannya setiap kali mereka saling bertukar kabar lewat telepon?—Dan entah mengapa memikirkannya membuat hatinya terasa berat.

Naruto dan Sai akan pentas. Sakura pasti akan datang juga. Mereka semua berkumpul di sana...

Sasuke hampir bisa membayangkan teman-temannya di Konoha. Berkumpul, tertawa, bersenang-senang. Dan ia tidak ada di sana untuk turut serta. Itu sangat menjengkelkan. Terasing dari ketiga sahabatnya lama-kelamaan membuatnya frustasi juga. Tapi bukan berarti ia menyesal telah ikut orangtuanya ke Oto. Dengan hubungannya yang semakin membaik dengan sang ayah, bagaimana ia bisa menyesal? Hanya saja melewatkan waktu dengan orangtua sama sekali berbeda dengan melewatkannya dengan teman-teman.

"Sedang memikirkan apa, Sayang?"

Sebuah sentuhan di bahunya membuyarkan lamunan Sasuke seketika. Ia menoleh dan mendapati Mikoto sudah berdiri belakang sofa yang sedang ia duduki seraya meletakkan kedua tangan di bahunya.

"Ibu?"

Mikoto tersenyum lembut. Wanita paruh baya itu lalu berjalan mengitari sofa dan menempatkan dirinya duduk di sebelah putra bungsunya. Ia meletakkan tangan di lutut Sasuke sambil mengamati wajah putranya itu lekat-lekat. "Ada sesuatu yang sedang kau pikirkan, Sasuke?"

"Tidak," sahut Sasuke berbohong. "Aku sedang menonton televisi. Acaranya bagus." Ia menunjuk ke arah televisi. Wajahnya langsung memerah begitu melihat adegan yang sedang berlangsung di layar: kissing scene.

Ibunya tertawa kecil. "Ibu tidak tahu kau senang opera sabun."

Sasuke buru-buru mengganti chanel ke acara berita malam.

Lama keduanya terdiam. Sasuke masih merasakan tatapan ibundanya beberapa saat lagi sebelum akhirnya ia menoleh. Ia tahu kalau ia tidak bisa menutupi apa pun dari Mikoto. Ibunya itu hampir selalu tahu setiap kali ada yang mengganggu pikirannya. Kemampuan yang diturunkannya pada Itachi.

"Kalau ada apa-apa, kau bisa cerita pada Ibu, Nak," Mikoto menepuk-nepuk paha putranya. "Apa masalah di sekolah? Dengan gurumu? Teman-temanmu?"

"Sama sekali tidak ada masalah di sekolah, kok," sahut Sasuke. Ia terdiam lagi, tidak tahu harus memulai dari mana. Dan ia juga tidak ingin membuat ibunya sedih dengan mengatakan ingin pergi ke Konoha. Nanti dikiranya ia tidak betah di rumah. "Tidak tahulah, Bu..." hanya itu akhirnya yang keluar dari mulutnya.

"Bosan ya, di rumah terus?" tebak Mikoto seraya menatap Sasuke prihatin. Sasuke memang hampir tidak pernah keluar bersama teman-temannya semenjak kembali dari Konoha, tidak seperti sebelumnya yang malah nyaris tidak pernah ada di rumah.

Sasuke menyandarkan punggungnya ke sofa yang empuk, menghela napas panjang. "Tidak juga..."

Mikoto mengedarkan padangannya sejenak, sebelum kembali memandang Sasuke dengan senyum di wajahnya. "Menurut Ibu, ada baiknya kau keluar dengan teman-temanmu barang sebentar. Apa tidak suntuk di rumah terus, hm?"

Sasuke menyeringai tipis. Masalahnya ibunya sama sekali tidak tahu bagaimana teman-temannya di sekolah. Di mana mereka bergaul dan apa yang mereka lakukan di luar sana. Sasuke lebih memilih terkurung di rumah bersama ibunya atau ikut ayahnya ngantor dari pada bergabung dengan Kidomaru dan yang lain di luar sana. Masa bodoh mereka menyebutnya tidak asyik atau bahkan anak mami.

"Aku senang di rumah," ujarnya pelan.

"Kalau begitu undang saja teman-temanmu main kemari," usul Mikoto lagi. "Kau bisa mengadakan pesta barbeque atau apa di halaman belakang."

Tapi teman-teman yang ingin ia undang berada sangat jauh di luar Oto, pikir Sasuke masam.

Tepat saat itu ponsel Sasuke yang diletakkan di atas meja kopi bergetar. Sasuke segera meraihnya. Ternyata video-call. Sai.

"Sebentar, Bu."

Sasuke beranjak dari sofa dan meninggalkan ruang keluarga menuju beranda samping rumahnya yang menghadap ke taman—tempat favoritnya untuk menyendiri. Cahaya dari lampu taman dan bagian dalam rumah membuat tempat itu cukup terang meskipun tanpa lampu.

"Ya?" sahut Sasuke sambil memastikan supaya bagian depan kamera ponselnya menyorot wajahnya. Ponsel itu nyaris tergelincir dari tangannya ketika melihat wajah Sakura lah yang ada di layarnya, bukan Sai.

"Hai, Sasuke!" seru gadis itu ceria dengan latar belakang suara berisik orang-orang. Ia kemudian menoleh ke sebelah kanannya. "Sai, merapat dong. Sasuke tidak bisa melihatmu!"

Detik berikutnya Sai muncul di sebelah Sakura. Keduanya duduk berhimpitan. "Sekarang kelihatan?"

"Sudah kelihatan," kata Sasuke dengan nada dipaksakan supaya terdengar biasa—padahal dadanya berdebar-debar tidak karuan—"Kalian berdua di mana, sih? Berisik sekali!"

"Kami sedang di kedai pizza Ibu Mitarashi," kata Sakura, "Kau ingat kan, pamanku pernah mentraktir kita makan di sini?"

Tentu saja Sasuke ingat. Bagaimana tidak, kalau saat itu adalah awal dari keterikatannya pada dua makhluk yang akhirnya membuat kehidupannya berubah sama sekali dalam satu bulan saja; Naruto dan Sakura.

"Kakashi mentraktir kalian makan di sana lagi?" Sasuke malah balik bertanya, sambil duduk di salah satu bangku kayu berpelitur di sana.

"Tidak. Kami sedang makan-makan dengan anak-anak klub musik," kata Sakura. Gadis itu terlihat mengedarkan pandangannya sejenak sebelum kembali menatap Sasuke—dari layar ponsel Sai—sambil tersenyum. "Mereka semua dapat sambutan bagus, jadinya kami memutuskan untuk merayakannya dengan makan-makan."

"Yeah," timpal Sai, lengkap dengan senyumnya yang tidak asing lagi, "Naruto sekarang sedang menghibur orang-orang dengan gitarnya. Lihat."

Gambar mengabur sejenak sementara Sai memutar ponselnya sehingga menyorot ke arah Naruto yang duduk dikelilingi anak-anak yang ber-koor menyanyikan lagu-entah-apa sementara ia menggenjreng gitarnya. Sepertinya cowok pemilik mata biru langit itu sedang sangat gembira.

Kamera tetap mengarah pada Naruto selama beberapa saat lagi, memberi kesempatan Sasuke untuk melihat orang-orang di sekitarnya. Ia melihat Shikamaru dan Chouji di sana, juga Zaku, cowok kelas dua yang sama berisiknya seperti Kiba. Serombongan anak kelas satu yang tidak dikenal Sasuke—yang pastilah anggota klub musik juga—Ia sedikit terkejut melihat Hinata dan Hanabi ada di sana, duduk di dekat Naruto—meskipun tidak ikut bernyanyi dengan yang lain—Tetapi kemudian ia ingat Naruto pernah memberitahunya kalau ia menghabiskan akhir pekannya yang lalu dengan Hinata di panti asuhan. Hinata banyak kemajuan rupanya, pikir Sasuke, tak bisa menahan senyumnya.

Selang beberapa waktu, akhirnya mereka mengakhiri nyanyian mereka yang—menurut Sasuke—parah. Orang-orang bertepuk tangan dan bersuit-suit riuh seakan baru saja menyambut penyanyi sekaliber Michael Jackson. Naruto berdiri dari bangkunya dan membungkuk dengan gaya dilebih-lebihkan, mengundang tawa semua orang.

Gambar mengabur lagi, dan detik berikutnya Sai dan Sakura muncul lagi.

"Seru, ya..." Sakura berkata ceria dengan wajah merona karena tertawa. "Sayang banget kamu tidak ada di sini, Sasuke..."

"Geez, berisik!" sahut Sasuke ketus. Kesal, bukan karena suasana bising yang membuat sakit kuping di layar ponselnya, melainkan karena ia tidak berada di sana, melihatnya secara langsung. Sasuke memang tidak terlalu suka suasana bising, tapi kali itu—untuk sekali itu saja, keinginan untuk bergabung dalam kebisingan itu bersama sahabat-sahabatnya begitu besar sampai membuat hatinya terasa sakit.

Sakura mencibirnya. "Huh, bilang saja kalau kau kepingin ikutan di sini!" ejeknya tepat sasaran. "Lihat saja tuh, mukanya sampai ditekuk begitu..."

Sasuke memutar matanya. "Dengar, kalau kalian menghubungiku hanya untuk pamer, sebaiknya kututup saja!"

"Dasar kau ini!" Mata zamrud Sakura membeliak, bibirnya mengerucut. "Begitu saja marah."

"Jangan dimasukkan ke dalam hati, Sasuke. Sakura kan hanya bercanda, tidak serius," tutur Sai dengan tampang polos. Sakura mengikik di sampingnya.

Sasuke membalasnya dengan gerutuan tak jelas. Tentu saja ia tahu kalau Sakura hanya bercanda—itu kan memang hobinya. Mengapa juga ia jadi jatuh suka pada gadis menyebalkan seperti itu? Sama sekali bukan tipikalnya. Sangat berbeda dengan Hinata.

"Oi, kalian berdua ngapain duduk dempet-dempet begitu?" terdengar suara Naruto. Pandangan Sakura dan Sai langsung teralih dari kamera. "Bahaya, tahu!"

Sakura tampak menunjuk ke arah ponsel Sai. "Sasuke, nih..."

"Sasuke?!" Detik berikutnya rambut pirang Naruto mendesak di antara dua yang lain. Sasuke memutar bola matanya sekali lagi saat melihat ketiga orang itu berdesakan dan saling dorong supaya terlihat di kamera. "Sendirian saja nih, Sasuke?" Naruto terkekeh-kekeh. "Rindu pada kami, ya?"

"Tch!" Sasuke mendengus, tapi tidak berkata apa-apa untuk membantahnya.

Naruto benar, Sasuke merindukan mereka. Sangat. Meski begitu, Sasuke tahu bagaimana mengungkapkannya pada mereka. Hanya bisa memandangi ketiganya lewat layar ponsel, mendengarkan mereka tertawa dan mengoceh tentang serunya hari itu.

.

.

"Sasuke, kenapa matamu basah?"

"Ah, saking terharunya mendengar suaraku yang merdu sampai menangis begitu! Aku jadi malu..."

"Er... mungkin kau perlu periksa mata, Sasuke."

"DIAM!!"

.

.

Halaman depan Mitarashi's Pizza – Konoha

"Taksi!" seru Naruto sambil menjulurkan tangan pada taksi yang kebetulan melintas. Taksi biru itu kemudian menepi. Dibukanya pintu belakang kendaraan itu untuk kedua gadis Hyuuga yang berdiri di belakangnya.

Hanabi langsung melompat masuk sementara kakak perempuannya mengambil waktu beberapa lama lagi berdiri di sisi pintu yang terbuka. "T-terimakasih sudah mengundangku n-nonton festival h-hari ini, N-Naruto..." ucapnya terbata. Cahaya redup dari lampu trotoar membuat rona merah yang baru saja muncul di wajahnya yang putih susu itu tidak begitu terlihat. "M-Menyenangkan sekali..."

"Ah, itu!" kekeh Naruto sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Tidak masalah. Justru aku yang harus berterimakasih padamu. Bekal buatanmu sangat enak."

Pujian Naruto membuat gadis Hyuuga itu tersipu. Hinata mengalihkan tatapannya, berusaha tampak tidak terlalu berpuas diri, sebelum kembali memandang Naruto. "Benarkah?"

"Hmm..." Naruto mengangguk riang. "Kau jelas akan menjadi istri yang sangat hebat suatu hari nanti!" cetusnya, tanpa menyadari efek dari pernyataannya barusan nyaris membuat Hinata pingsan di tempat. "Lain kali bawa bekal untukku lagi, ya!"

"I-Iya..." Hinata tergagap-gagap, berusaha keras menahan dirinya. "L-lain ka-kali akan aku bawakan lagi."

Mendengar ini, Naruto terbahak. "Kau ini. Aku kan cuma bercanda." Diliriknya jam tangan sport yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. "Ups! Sudah jam segini. Sebaiknya kalian bergegas sebelum orang-orang rumah cemas."

"I-Iya..." Hinata kemudian masuk ke dalam taksi.

Naruto membungkuk untuk memandang Hanabi. "Hanabi, setelah ini kau langsung cuci kaki, cuci muka, gosok gigi, lalu tidur, ya!"

Hanabi menjulurkan lidah sebagai balasannya. "Tapi Kak Naruto harus mentraktirku pizza lagi!"

"H-Hanabi..." Hinata menegur adiknya. Meski begitu Naruto tampaknya tidak terlalu keberatan. Ia malah tertawa.

"Beres, Bos! Tapi kalau Kak Naruto sudah dapat honor dari band, ya!" Naruto beralih pada Hinata. "Sampai ketemu di sekolah, Hinata!"

"S-Sampai ketemu..."

"Pak, jangan ngebut-ngebut, ya!" seru Naruto pada sang supir sebelum menutup pintunya.

Ia masih berdiri di sana, mengawasi taksi yang membawa kedua Hyuuga melaju menjauh sampai akhirnya menghilang di ujung jalan, sebelum berbalik menghampiri teman-temannya yang hendak bersiap pulang. Ia melambai ketika van milik Alpha Band dan The Glossy berturut-turut melewatinya meninggalkan lapangan parkir kedai pizza itu.

"Kok hanya begitu saja ucapan selamat malamnya, Naruto?" tanya Sakura jahil dari arah pintu van Shikamaru. Gadis itu sudah bersiap naik.

"Eh?" Naruto nyengir polos, "Aku bahkan tidak mengucapkan selamat malam. Lupa!"

"Apa? Haaah.. dasar kau ini!" Menggelengkan kepala tak habis pikir, Sakura kemudian naik ke dalam van, tepat ketika Shikamaru menyalakan mesinnya. Naruto menyusul naik di belakangnya bersama Zaku sementara Chouji duduk di bangku depan di sebelah Shikamaru yang menyetir.

"Lho? Sai tidak ikut?" tanya Naruto begitu menyadari Sai tidak ikut naik ke dalam van bersama mereka.

Cowok berambut eboni itu menggeleng. "Tidak usah. Arah rumah kalian kan berlawanan dengan Root Hills. Aku naik bus saja."

"Bareng saja, Sai," kata Chouji, "Lebih enak bareng-bareng. Kami bisa mengantarmu dulu. Iya kan, Shikamaru?" Ia menoleh pada Shikamaru yang sedang memasang sabuk pengaman.

"Yeah," gerutu Shikamaru tidak jelas.

Sai tersenyum menanggapi tawaran teman-temannya. Tetapi melihat Shikamaru yang kelihatannya sudah sangat lelah, ia jadi tidak tega kalau harus merepotkannya lebih jauh dengan mengantarnya pulang sampai ke Root Hills.

"Ya sudahlah, kalau dia tidak mau tidak usah dipaksa," tukas Zaku tidak sabaran dari bangku belakang sambil ongkang-ongkang kaki. "Buruan berangkat! Sudah kemalaman, nih!"

Naruto melempar pandang sebal pada cowok itu. Zaku balas melotot. "Ada masalah?"

Naruto baru akan membuka mulut untuk membalasnya ketika Sakura berkata tegas, "Sudah cukup. Kenapa malah berantem, sih?"

"Zaku benar. Kalian duluan saja." Sai menutupkan pintu van dari luar.

"Sampai ketemu besok kalau begitu, Sai!"

Dan van hijau lumut itu melaju perlahan meninggalkan lapangan parkir yang berkerikil. Sai menghela napas, membuat uap hangat berembus di udara dingin di depan hidungnya. Senyum puas menghiasi wajahnya ketika ia berbalik dan mulai berjalan menuju halte dengan kedua tangan tenggelam dalam saku mantelnya.

Tidak perlu waktu lama sampai bus yang menuju kawasan Root Hills akhirnya tiba. Sai bergegas naik ke dalam bus yang hangat dan menempatkan diri duduk di bangku kosong di dekat pintu setelah sebelumnya memasukkan beberapa keping koin ke dalam kotak ongkos. Bus pun bergerak perlahan memasuki kota Konoha yang benderang. Konoha City Square masih sama ramainya seperti saat ia meninggalkan tempat itu tadi sore. Dari dalam bus yang kebetulan rutenya melewati KCS, Sai bisa melihat air mancur besar yang menjadi pusat tempat itu berpendaran indah oleh cahaya lampu. Dan di antara orang yang berlalu lalang, ia juga melihat beberapa orang yang dikenalnya sebagai peserta festival. Mereka masih mengenakan kostum panggung.

Sai tertawa dalam hati. Pantas saja kakaknya dulu sangat suka berkeliaran menghadiri festival-festival macam ini. Ternyata sangat menyenangkan. Sai agak menyesal dulu selalu menolak ikut dengan Shin hanya karena tidak suka keramaian.

Ah, rasanya Sai yang sekarang jadi suka tempat-tempat yang ramai. Terutama kalau di sana ada Naruto, Sakura dan teman-teman yang lain. Er... juga Sasuke.

Dengan perasaan ringan, Sai menghela napasnya, lalu menyandarkan punggungnya yang sedikit lelah pada punggung bangku yang didudukinya. Sekarang bus mulai meninggalkan keramaian pusat kota Konoha yang memasuki distrik yang lebih lengang. Mereka melewati deretan cafe-cafe pinggir jalan, toko-toko, deli dan tempat-tempat fasilitas umum lain yang masih belum ditinggalkan pengunjungnya.

Sai tampak asyik menikmati pemandangan malam Konoha sampai matanya menangkap sesuatu—atau tepatnya, seseorang—yang dikenalinya sedang berjalan sendirian di trotoar yang lengang. Ia masih mengenali rambut pirang itu walaupun tertutup topi woll warna gelap, dan pakaian yang dikenakannya pun masih sama. Dan ketika bus yang ditumpanginya perlahan melewati sosok itu sehingga ia bisa melihat wajahnya dengan cukup jelas, Sai semakin yakin kalau ia tidak salah orang.

Ino Yamanaka.

Tapi mengapa dia sendirian? Bukannya tadi...??

Sai tidak mengerti apa yang mendorongnya melakukan itu. Saat berikutnya tangannya refleks melayang, menekan bel bus. Bus itu mengurangi kecepatannya sampai akhirnya berhenti. Sai bergegas turun.

Ino sudah agak jauh dari tempatnya, tapi Sai masih bisa melihatnya cukup jelas di antara orang-orang. Sai buru-buru menyusulnya, mengikutinya dari belakang. Cukup dekat sebetulnya untuk disadari keberadaannya oleh Ino, tetapi nampaknya pikiran gadis itu sedang berkelana entah kemana sampai-sampai tidak sadar telah dibuntuti. Ia bahkan sampai tidak sengaja menabrak orang beberapa kali. Sai mengernyitkan dahi memperhatikan tingkah gadis itu. Ekspresi wajahnya terlihat kusut, berbeda dengan yang dilihatnya tadi pagi, seakan semua keceriaan itu sudah habis menguap entah ke mana. Tampangnya mengingatkan pada tampang Sakura saat awal-awal ia mengenal gadis itu, saat ia masih suka bicara kasar.

Padahal setahu Sai semenjak ia mengenal Ino dengan baik—tepatnya sejak mereka banyak berdiskusi saat konflik Naruto dan Sakura—gadis itu hampir tidak pernah terihat murung. Kalau ia bertampang seperti itu sekarang, pastilah ada sesuatu yang mengganggunya.

Mereka semakin mendekati sisi jalan. Sepertinya Ino hendak menyeberang, tetapi tampaknya ia tidak begitu memperhatikan lampu lalu lintas untuk pejalan kaki yang hendak menyeberang di depannya yang berkedip kuning. Alih-alih menunggu sampai lampu menyala hijau, Ino terus saja berjalan menyeberang ketika lampu berganti merah. Gadis itu sama sekali tidak menyadari ketika sebuah sedan meluncur dari arah kanannya.

Sai terkesiap kaget, dan dengan cepat berlari ke arah Ino, menariknya kembali ke sisi jalan tepat saat mobil itu nyaris menyerempetnya.

Ino memekik kaget saat tubuhnya menabrak dada penolongnya, dan tetap dalam posisi itu—dengan lengan orang itu melingkar di tubuhnya dengan sikap melindungi—selama beberapa saat. Samar-samar, ia bisa mendengar suara orang memaki-maki dari dalam mobil yang nyaris menabraknya.

Sementara itu, Sai seperti membeku di tempatnya. Matanya membulat dengan terkejut ketika perasaan aneh yang sama sekali asing menyerangnya saat ia memeluk Ino. Perasaan yang sama sekali berbeda seperti yang dirasakannya setiap kali bersama dengan orang lain. Ia sama sekali tidak mengerti mengapa jantungnya tiba-tiba saja berdetak begitu keras sampai-sampai terasa menyakitkan, tapi dalam waktu bersamaan, membuatnya merasa hangat. Aroma segar yang menguar dari rambut pirang halus Ino yang menempel di sisi wajahnya seakan melumpuhkannya saat itu juga.

Kesadarannya kembali sama mendadaknya seperti datangnya saat ia merasakan tangan gadis itu mendorong dadanya dengan lembut dan bergerak menjauh. Refleks Sai melepaskan pelukannya.

Ino mendongak, menatap penolongnya dengan terkejut. "Sai?!"

"Kamu... tidak apa-apa, kan?" Sai nyaris tidak bisa mengenali suaranya sendiri.

-

-

TBC...

-

-

Curhat colongan :

Aduuh.. gomen update-nya telat.. Habisnya keasyikan nonton dvd serial Korea sih (Kyaaa~~ Dennis Oh ganteng bangeet!! XD) sampe lupa sama ff. Hihi... Terus sebenernya fic ini bisa apdet kemarin-kemarin, tapi voucher inetku habis sebelum tanggalnya. Hiksu... Ini juga ngapdet di warnet. Aslinya, chapter ini hanya sekitar 3ribuan kata. Tapi setelah dipertimbangkan (halah), akhirnya aku menambahkan beberapa scene biar panjangan. Habis chapter yang kemarin 4ribuan kata aja ada yang protes terlalu pendek~~ Aslinya scene Sasuke videocall-an sama NaruSakuSai itu enggak ada, terus scene SaiIno itu juga gak ada. Jadinya...—jreng!!!—membengkak jadi 7ribuan kata (itu ceritanya aja, belum termasuk A/N)! Dan itu juga ada scene yang dipindah ke chapter depan. Kalau digabungin, bisa sampe 9ribuan kata kali. Hihi..

Seperti biasa, spesial thanks buat yang udah mereview chapter kemarin dan kemarin-kemarinnya lagi : Reiya Sumeragi, Uchiha Cesa, Emi-chan, Mayura, Arai-chan, kakkoii-chan, Ryn zaoLdyeck, Hikari Akabara, Ambu, Uci-chan, Aika-chan, Light-Sapphire-chan, Bunbun-chan, MinaKushi, Tobi-Luna-chan, dan semua yang udah baca dan ngikutin sampe sejauh ini. Mudah-mudahan enggak pada bosen, yah! –peluk-peluk semuanya-