Chapter 55
"Trims," gumam Ino seraya menerima gelas karton mengepul yang baru diulurkan Sai padanya, memberi senyum kecil sekilas pada cowok itu sebelum berpaling. Ia bisa mendengar Sai mendudukkan diri di sebelahnya. Keduanya terdiam.
Suasana taman kota tempat keduanya duduk sekarang ini hening. Hanya terdengar gemerisik dedaunan yang tertiup angin dan sesekali, deru kendaraan yang kebetulan melintas.
Sai mengawasi gadis yang duduk di sebelahnya dari sudut matanya. Wajah cantik yang separuh tertutup syal itu terlihat murung, masih sama seperti saat Sai menariknya dari jalan tadi. Bola mata biru yang biasanya tampak cemerlang kini redup, memandang kosong ke depan. Tetapi itu tidak lantas mengurangi kadar kecantikan gadis itu di matanya.
Degupan itu muncul lagi, memompakan darah lebih deras, membuat wajahnya terasa panas. Sai memalingkan wajah, bertanya-tanya sendiri perasaan aneh apa yang sedang menyerangnya kini? Sebelah tangannya terangkat lalu mendarat di bagian di mana seharusnya jantungnya berada, seolah dengan begitu detak jantungnya yang menggila bisa kembali normal. Tetapi nyatanya tidak.
"Yang tadi itu..." suara Ino yang tiba-tiba nyaris membuat Sai terlonjak dari duduknya. Ia menoleh dan mendapati gadis berambut pirang itu sedang memandang ke arahnya, tersenyum tipis, "Terimakasih. Kalau tidak ada kau, barangkali aku sudah tertabrak tadi."
Berusaha mengabaikan degupan jantungnya yang menggila, Sai balas tersenyum. "Sama-sama," sahutnya. Suaranya terdengar agak aneh di telinganya sendiri, seperti bukan suaranya. Namun lagi-lagi, Sai berusaha mengabaikannya dan bersikap sewajar mungkin. "Teman yang baik selalu bersedia membantu saat dibutuhkan, bukan?"
"Benar," ujar Ino sambil tertawa kecil. Mata birunya melembut. "Tahu tidak, kalau ingat Sakura pernah memberitahuku kalau kau sangat menyebalkan, rasanya tidak percaya kalau cowok yang sedang dibicarakannya saat itu ada cowok yang sama yang sedang duduk di sebelahku sekarang."
Sai tertawa gugup. "Orang bisa berubah, Ino."
"Hm.." Ino mengangguk setuju, "Tentu saja."
Keduanya terdiam lama. Ino mengangkat minumanya ke bibir, menghirupnya perlahan. Cairan hangat itu langsung membasahi kerongkongannya yang terasa kering, mengalirkan perasaan nyaman dan hangat. Tiba-tiba saja ia merasa jauh lebih baik—entah karena minumannya atau keberadaan seseorang yang menemaninya saat itu. Meskipun ia belum mengenal Sai cukup lama seperti ia mengenal Shikamaru dan Chouji, tetapi Ino merasa cukup nyaman berada di dekatnya sebagaimana ia nyaman bersama Shikamaru dan Chouji. Terlebih setelah apa yang terjadi beberapa waktu yang lalu.
Ino menghela napas berat, membuat kepulan uap hangat muncul di depan hidungnya. Mengingat kejadian tadi membuatnya nyaris kehilangan kontrol diri lagi. Ini adalah kali pertama ia bertengkar hebat dengan pacarnya, bagaimana ia tidak terguncang?
Dan Sai menyadari ketika wajah Ino kembali berubah muram, sama sekali kontras dengan keceriaan yang ditampilkannya saat di festival tadi. Sepertinya memang benar telah terjadi sesuatu yang membebani pikiran gadis itu saat ini. Sai mengambil waktu menghirup minumannya, sebelum bertanya ragu-ragu, "Er... Sebenarnya ada masalah apa?"
Seakan baru tersadar dari lamunannya, Ino menoleh. "Maaf?"
Sai berdehem kecil, lalu melanjutkan, "Aku perhatikan kau agak murung malam ini. Kupikir pasti ada sesuatu yang mengganggumu."
"Ah." Ino memalingkan wajahnya lagi, tampak bimbang sebelum akhirnya menjawab dengan suara lirih, "Tidak ada apa-apa. Aku hanya... sedikit capek," ia menambahkan dengan senyum hambar. "Kau tahu kan, belakangan ini kita latihan gila-gilaan?"
"Begitu..." ujar Sai. Ditatapnya gadis itu beberapa saat, tidak yakin apakah jawaban yang diberikannya bisa dipercaya atau tidak. Terlebih Ino bukanlah aktris yang baik. Ia tidak pandai menyembunyikan perasaannya yang sesungguhnya, karena detik berikutnya wajahnya kembali murung. Sai baru akan membuka mulut untuk bertanya lagi, tetapi kemudian mengurungkan niatnya. Sepertinya kurang bijak kalau harus mendesak Ino lebih jauh sekarang, pikirnya. Dan gadis itu memang kelihatan lelah.
"Kurasa sebaiknya kau pulang dan bersitirahat, Ino," usul Sai setelah membiarkan keheningan menyusup di antara mereka selama beberapa waktu lagi—dan setelah degupan jantungnya kembali normal—sambil menghirup sisa sari jahenya sampai tandas.
"Hmm.." Ino mengangguk. Gadis itu beranjak dari bangkunya.
"Aku akan mengantarmu pulang."
Ino yang sedang membuang cangkir kartonnya yang sudah kosong ke tempat sampah menoleh. "Oh, tidak perlu. Rumahku di dekat sini kok."
"Tidak baik membiarkan seorang gadis pulang malam-malam sendirian," ujar Sai, susah payah tidak menambahkan kalimat 'seperti kata buku'. Ujung bibirnya sedikit naik, memberikan senyum kecil. "Lagipula aku juga ingin tahu rumahmu."
Ino tidak tahu harus berkata apa atas tawaran yang menurutnya amat manis itu, hanya membalas senyumnya dan mengangguk. Rasanya ia tidak bisa menolak. "Oh, oke."
Keduanya lantas meninggalkan taman itu, berjalan menyusuri trotoar yang sudah mulai lengang sambil sesekali mengobrol ringan. Ino tidak terlalu banyak bicara seperti biasanya malam itu, membuat obrolan mereka berjalan tidak terlalu lancar. Karena lima menit berikutnya mereka sudah kehabisan topik dan tidak tahu harus mengobrolkan apa lagi. Suasana kembali hening.
Sementara keduanya berjalan dalam diam, dari sudut matanya Sai melihat Ino kembali murung, dan entah mengapa itu membuat perasaannya sangat buruk. Ia menghela napas panjang sambil memutar otak, mencari cara untuk mencairkan suasana penuh kekakuan itu. Tetapi tidak ada yang terpikirkan. Maka ia hanya berjalan di sisinya, membenamkan kedua tangan ke dalam saku mantel sambil sesekali mengawasi dari sudut matanya.
Mereka berbelok di pertigaan, memasuki kawasan Alamanda Avenue yang didominasi deretan bangunan apartemen cantik dengan beberapa toko dan coffee shop yang masih buka. Sai mengedarkan pandangannya ke sepanjang jalan itu. Entah mengapa ada perasaan aneh menyerangnya seakan ia sudah sangat mengenal tempat itu sebelumnya, padahal seingatnya ia sama sekali belum pernah ke sana sebelum ini. Terlebih saat mereka melintasi sebuah coffee shop dengan beberapa meja di bagian outdoor, dengan kanopi cantik berwarna putih dengan garis-garis hijau dan tulisan besar Green Leaves Coffee Shop yang dihiasi rangkaian gambar daun maple berwarna hijau di bagian kacanya. Suara musik jazz terdengar lamat-lamat dari dalam coffee shop itu, diselingi dengan suara obrolan ramah para pengunjung.
Tanpa sadar Sai menghentikan langkahnya, kedua matanya terpacang ke tempat itu. Perasaan akrab yang aneh kembali dirasakannya. Lambang rangkaian maple itu, deretan bangku berwarna putih itu, kanopi itu, bahkan seragam para pelayannya... rasanya Sai pernah melihatnya sebelum ini. Entah di mana. Atau hanya bayangannya saja? Deja vu?
"Sai?"
Suara Ino membuyarkan lamunannya. Sai mengerjap dan menoleh, mendapati gadis itu sudah berdiri agak jauh darinya, melempar pandang heran padanya.
"Ada apa?"
"Oh, tidak ada apa-apa," sahut Sai buru-buru sambil menyusul gadis itu. "Rumahmu ada di sekitar sini?"
"Yeah.."
Ino menunjuk toko bunga besar yang berada tepat di sebelah Green Leaves Coffee Shop. Yamanaka's Flowers Shop tertulis di bagian etalase yang menampilkan bunga-bunga segar beraneka jenis dan warna. Deretan pot-pot berisi bunga mawar beraneka warna terpajang di bagian depan toko bersama sekeranjang besar bunga lili putih yang cantik. Meskipun sudah malam, toko itu masih banyak pengunjungnya.
Lagi-lagi Sai merasa seperti pernah melihat pemandangan itu entah di mana.
"Mau mampir sebentar?" tawar Ino, mengembalikan kembali perhatian Sai padanya.
"Eh—ah, terimakasih. Mungkin lain kali," tolak Sai halus.
"Um... baiklah."
"Sampai jumpa besok kalau begitu," pamit Sai. Tetapi sebelum cowok berkacamata itu sempat berbalik, ia merasakan tangan Ino menangkap tangannya. Sai memandang terkejut sementara darah terpompa dengan cepat ke wajahnya tanpa bisa dicegahnya. Terlebih ketika melihat gadis di depannya itu tersenyum.
"Terimakasih sudah menemaniku pulang, Sai," ucap Ino pelan sambil menggenggam tangan Sai yang mulai berkeringat, meremasnya lembut sekilas sebelum akhirnya melepaskannya. "Hati-hati di jalan."
Sai berbalik dan secepat mungkin meninggalkan tempat itu. Tangannya yang baru saja digenggam Ino terasa kaku dan kebas—padahal jelas genggaman gadis itu tidak terlalu kuat. Dan dengan tangan itu pula, Sai mencengkeram bagian depan mantelnya, tepat di mana jantungnya berdebar-debar sangat kencang.
Ada yang tidak beres dengan jantungku. Sepertinya kau perlu berkonsultasi dengan dokter ahli jantung setelah ini.
-
-
Malam sudah larut saat Sakura akhirnya sampai di Blossoms Street dengan aman. Gadis itu melambai pada van yang mengantarnya sampai kendaraan itu menghilang di ujung jalan sebelum berbalik. Dengan perut kenyang dan hati riang, gadis berambut merah muda itu berjalan dengan langkah ringan menuju undakan depan rumahnya sambil bersenandung kecil.
"Ibu, aku pulang!" serunya setelah membuka pintu depan rumahnya yang tidak dikunci dan melangkah masuk. Tidak ada jawaban dari dalam, yang terdengar hanyalah suara televisi yang menyala di ruang keluarga. Setelah mengunci kembali pintu depan, gadis itu mulai melepas sepatunya dan meletakkannya di rak.
"Ibu?" Sakura memanggil Ibunya sambil melangkah memasuki ruang keluarga, tetapi ia tidak mendapati Azami di sana. Ruangan itu kosong dengan televisi yang dibiarkan menyala, menampilkan opera sabun yang biasa ditonton ibunya saat senggang. Gadis itu melongok ke dapur, tetapi ibunya juga tidak ada di sana.
Mungkin sudah tidur, pikir Sakura, teringat wajah pucat lelah ibunya saat ia meninggalkan rumah tadi pagi. Sakura hendak berbalik dan melangkah menuju tangga ketika ekor matanya tiba-tiba saja menangkap sesuatu yang sedikit ganjil. Serta merta langkahnya terhenti. Di ruang keluarga, di atas meja kopi di samping sofa, pigura foto keluarganya tergeletak dalam posisi menelungkup. Padahal pigura itu biasanya berada di meja pajangan. Kernyitan muncul di antara kedua alis gadis itu.
Bagaimana pigura itu bisa sampai di sana?
Gadis itu lantas kembali melangkah ke ruangan itu dan menghenyakkan diri di sofa. Setelah mematikan televisi, kemudian diraihnya foto berpigura dari atas meja. Wajah mendiang ayahnya, ibunya, mendiang Himeko dan ia yang jauh lebih muda tersenyum padanya dari dalam foto lama itu. Sakura tersenyum kecil. Perasaan rindu tiba-tiba saja merasuk dalam hatinya.
Ayah... Kak Hime... sudah berapa lama, ya? Rasanya kangen sekali...
Diusapnya kaca yang melapisi foto itu perlahan, kemudian berpaling, mengedarkan pandangannya berkeliling ruangan mungil hangat penuh kenangan itu. Di sofa yang sama yang didudukinya sekarang, ia bersama mendiang ayah, kakak dan juga ibunya sering menghabiskan waktu bersama-sama, menoton televisi atau video keluarga yang mereka buat bersama-sama, atau mendengarkan kisah-kisah yang dibacakan mendiang sang ayah tentang masa mudanya...
Setitik bening yang tiba-tiba terjatuh dari sudut mata zamrudnya membuat Sakura kembali tersadar. Buru-buru diusap air mata dari wajahnya. Sudah bukan saatnya terus-menerus larut dalam kedukaan, pikirnya.
Aku harus terus menjalani hidupku dengan senyum! Lihat saja, Ayah... Kakak.... Aku akan membuat kalian bangga!
Setelah meletakkan kembali pigura itu di tempatnya, Sakura bergegas menuju kamarnya di lantai dua. Koridor di depan kamarnya dalam keadaan gelap. Gadis itu mendecakkan lidah tidak sabar.
"Haah... yang benar saja!" gerutunya jengkel, "Padahal lampunya baru diganti seminggu yang lalu, masa sudah drop lagi, sih?"
Namun betapa herannya ia ketika menekan saklar, lampu koridor langsung menyala. Kalau begitu Azami yang membiarkan lampu dalam keadaan mati. Aneh, pikir Sakura. Biasanya ibunya itu tidak suka tempat gelap. Tidur saja lampu harus dalam keadaan menyala, kecuali kalau ada yang menemani. Dan ia sudah pasti tidak akan membiarkan lampu koridor itu dalam keadaan padam di malam hari.
Tiba-tiba saja ia merasa cemas. Kelakuan ibunya belakangan ini sungguh lain dari biasanya, seperti sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Kakinya kemudian membawanya ke ujung koridor, melewati kamarnya, menuju pintu kamar utama—kamar ibunya.
"Ibu, kau di dalam?" Sakura mengetuk pintu itu. Tidak ada jawaban dari dalam, begitu pula setelah beberapa kali mengetuk. Sama sekali tidak ada jawaban, sunyi. Akhirnya Sakura memutuskan untuk masuk, dan ternyata pintu itu tidak dikunci.
Gelap. Lampu di kamar ibunya dalam keadaan mati. Pencahayaan hanya berasal dari cahaya bulan dan lampu taman belakang yang masuk dari jendela yang terbuka. Dan yang membuat Sakura terkejut adalah ia tidak mendapati Azami di sana. Kamar itu gelap dan kosong.
Sakura melangkah masuk. "Ibu?" panggilnya ragu, hanya untuk meyakinkan ibunya tidak sedang bersembunyi di balik tirai atau apa, sementara tangannya meraba dinding, mencari-cari tombol saklar. Ia menemukannya. Saat berikutnya cahaya dari lampu di atasnya langsung menerangi kamar yang didominasi perabot dengan warna cokelat tua dan krem itu. Sprai di kasur dalam keadaan berantakan dan beling dari gelas yang pecah berserakan di bawah ranjang, di antara genangan air. Dan Azami memang tidak ada di sana. Sakura menjatuhkan tangannya dari saklar lampu sambil menghela napas keras-keras.
'Ibu pergi ke mana sih? Katanya mau di rumah seharian?' Sakura membatin gusar sambil menutup jendela yang terbuka di kamar itu. Meninggalkan rumah tanpa mengunci pintu, membiarkan televisi menyala dan kamar berantakan seperti ini, benar-benar tidak seperti ibunya.
Sakura mencoba menghubungi ponsel ibunya kemudian. Gadis itu terlonjak ketika mendengar suara dering ponsel dari arah meja rias. Azami telah meninggalkan ponselnya di sana. Tidak putus asa, Sakura menghubungi siapa pun yang terlintas di pikirannya, tapi tidak ada hasil. Azami tidak ada di restoran, tidak ada bersama temannya—beberapa orang teman ibunya yang dikenal Sakura—tidak ada di mana pun. Ponsel Kakashi mati ketika ia mencoba menghubungi pamannya itu dan telepon rumahnya tidak ada yang mengangkat—Sakura baru ingat kemudian kalau saluran telepon rumah Kakashi sedang dalam perbaikan.
Ibu... Sebenarnya kau ada di mana..??
Ia berjalan mondar-mandir dengan gelisah di ruang keluarga, sesekali melongok ke jendela, berharap sang ibu akan muncul dari ujung jalan sewaktu-waktu. Tetapi sampai waktu menunjukkan hampir tengah malam, Azami belum kunjung pulang. Sakura sempat mempertimbangkan untuk mencarinya sendiri keluar dengan mobil ibunya—rupanya Azami pergi tanpa membawa mobilnya—tetapi saat itu sudah larut dan di Konoha diberlakukan jam malam bagi anak-anak di bawah usia delapan belas tahun. Kalau ia sampai berani keluar, bisa-bisa ia digaruk polisi. Ah, lagipula Sakura tidak punya SIM dan tidak bisa menyetir.
Maka gadis itu memutuskan untuk menunggu saja, sembari berjaga-jaga di dekat telepon dan ponselnya, barangkali saja ibunya akan menghubungi. Sampai akhirnya gadis itu kelelahan dan jatuh tertidur di sofa.
-
-
Sehelai selimut flanel merosot dari bahunya begitu Sakura terbangun keesokan harinya. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya, menghalau cahaya matahari pagi yang masuk lewat jendela supaya tidak silau. Punggung dan lehernya terasa pegal ketika ia mendorong tubuhnya ke posisi duduk—sepertinya karena posisi tidur yang sangat tidak nyaman semalaman—kemudian memandang berkeliling dengan bingung sambil memijat-mijat belakang lehernya, menguap lebar-lebar.
Kenapa aku di sini...??
Mata hijaunya membulat begitu ia teringat kejadian semalam, bagaimana ia bisa tertidur di sana.
Ah, Ibu?!
Sakura lantas melompat dari sofa, terhuyung-huyung karena kakinya terserimpet selimut yang kemudian ditendangnya minggir sebelum melesat ke lantai dua. Namun sebelum ia mencapai tangga, ia mendengar suara-suara dari arah dapur. Serta merta ia menghentikan langkahnya dan berbelok menuju dapur.
"Ibu?!"
Sosok yang masih mengenakan gaun tidur berwarna krem itu berpaling dari kegiatannya mengocek secangkir teh hangat. Azami tersenyum lemah. "Ah, Sakura, sudah bangun, Nak?"
Sakura mengabaikannya. Gadis itu melangkah masuk ke dapur mendekati ibunya, menatapnya penuh selidik. "Semalaman Ibu kemana saja, sih?" tuntutnya.
Azami menurunkan cangkirnya dan meletakkannya di atas meja konter. "Ibu..." wanita berambut kemerahan itu terdiam sejenak, tampak ragu, sebelum melanjutkan pelan, "...keluar sebentar. Ada urusan."
Jawaban Azami yang menggantung membuat Sakura makin penasaran. Terlebih ibunya tidak langsung menatap matanya saat mengatakannya, membuat gadis itu semakin yakin kalau ada yang disembunyikan darinya. Dan ini benar-benar membuatnya gusar.
"Ada urusan apa?" tanya Sakura, gagal menahan nada tak sabar dalam suaranya, "Kenapa Ibu tidak beritahu aku? Kenapa Ibu meninggalkan ponsel di rumah?"
Melihat sang ibu yang masih saja menghindari tatapannya membuat Sakura tidak bisa menahan diri lagi. "Aku benar-benar bingung dengan sikap Ibu belakangan ini, Bu. Ibu selalu saja pergi tanpa bilang apa pun padaku, selalu pulang larut, meninggalkan restoran, dan tadi malam..." Sakura bergerak lebih dekat, menatap ibunya dengan pandangan memohon, "Meninggalkan rumah dalam keadaan tidak terkunci, kamar berantakan... Sebenarnya ada apa, Bu?" tanyanya dengan nada yang lebih lembut.
Butuh waktu beberapa lama bagi Azami untuk menjawabnya. "Tidak ada apa-apa, Sakura, Nak. Jangan khawatir.."
"Apanya yang tidak ada apa-apa?! Jelas ada apa-apa. Ibu jangan bohong padak—"
"IBU BILANG TIDAK ADA APA-APA, YA TIDAK ADA APA-APA!!" jerit Azami sambil menatap putrinya marah, "Kau jangan berani-berani memaksa Ibu..."
Sakura terbelalak kaget melihat ibunya yang biasanya selalu bersikap sabar dan lembut itu tiba-tiba meledak marah. Untuk beberapa saat ia seperti kehilangan suara, hanya mata zamrudnya yang mulai berkaca-kaca memandang Azami dengan tatapan sakit hati. Kemudian Sakura berpaling, berbalik meninggalkan dapur menuju kamarnya tanpa mengucapkan apa-apa lagi. Ia membanting pintu kamarnya menutup.
Suara bantingan pintu dari lantai dua seperti menyadarkan Azami. Ia terkesiap, terkejut sendiri dengan apa yang telah dilakukannya barusan terhadap putrinya. Dadanya tiba-tiba saja terasa sesak oleh rasa bersalah. Wanita itu terhenyak di kursi dapur, tubuhnya gemetaran sementara air mata meluncur jatuh tanpa suara membasahi wajahnya yang pucat. Ia bahkan masih bergeming di tempatnya ketika mendengar langkah kaki Sakura meninggalkan kamarnya beberapa menit kemudian, terlalu takut melihat ekspresi terluka di mata putri tunggalnya itu.
Dan Sakura pun tidak repot-repot pamit pada ibunya saat meninggalkan rumah.
-
-
Pertengkarannya dengan sang ibu pagi itu nampaknya membuat suasana hati Sakura menjadi sangat buruk. Gadis itu jadi cepat sekali marah dan banyak melamun sepanjang pelajaran. Naruto dan Sai adalah dua orang malang pertama pagi itu yang terkena serangan jutek-nya, padahal mereka hanya menyapanya ringan sebagaimana yang biasa mereka lakukan setiap hari, membuat kedua sahabatnya itu bingung setengah mati. Guru Aljabar yang juga pamannya, Kakashi, bahkan sempat menegurnya karena tidak menyimak pelajarannya seperti biasa.
"Ada masalah, Sakura?" tanya Kakashi dengan tatapan khawatir. Saat itu ia tengah menyuruh Sakura membantunya mengumpulkan kertas-kertas kuis yang baru mereka kerjakan. "Aku perhatikan kau melamun saja sejak tadi."
Sakura menghela napas berat sembari merapikan tumpukan kertas-kertas penuh coretan di atas meja. "Tidak…" gerutunya pelan.
Namun sepertinya pamannya itu bisa membaca kalau Sakura sedang berbohong. "Kau bisa cerita pada paman kalau ada apa-apa. Kau tahu aku bisa diandalkan, kan?"
Sakura memaksakan senyum hambar. Ia tidak menyahut apa-apa, terlalu malas untuk mengingat—apalagi membahas—permasalahannya dengan sang ibu, juga perilakunya yang diluar kebiasaan. Ia masih sakit hati.
Cukup lama kedua guru dan murid itu terdiam, berkutat dengan kertas-kertas dan buku tugas. Sesekali Kakashi menatap sang keponakan yang berwajah muram itu dari sudut matanya. Ekspresinya prihatin, seakan ia sudah tahu apa yang sedang dipikirkan Sakura. Sejenak ia ragu, sebelum bertanya dengan nada hati-hati, "Ibumu… apakah kalian sudah bicara?—Maksudku, apakah dia sudah memberitahumu sesuatu, Sakura?"
Gerakan gadis itu terhenti, matanya menatap kosong pada tumpukan kertas kuis yang baru dirapikannya di atas meja.
'Bicara apa?' pikirnya marah. 'Apanya yang mau diberitahu? Ditanya saja marah begitu!!'
"Sudah selesai! Aku harus pergi," kata Sakura dengan nada ketus sambil beranjak dari meja Kakashi, sama sekali tidak memedulikan ketika pamannya itu memanggilnya kembali. Ia bahkan tidak memedulikan apa-apa termasuk jalan di depannya sampai ia nyaris bertabrakan dengan Sai di pintu kelas.
"Sakura, kau mau kemana?"
Tetapi Sakura juga mengabaikan sahabatnya itu. Gadis berambut merah muda itu terus saja berjalan menerobos kerumunan anak-anak di koridor, tidak benar-benar memikirkan tujuannya, sampai akhirnya dari suara seseorang yang sudah dikenalnya memanggilnya, serta merta menghentikan langkahnya. Dengan cepat Sakura memutar tubuhnya, hatinya mencelos.
"N-Neji?"
Cowok kelas tiga berambut cokelat gelap itu baru saja muncul dari arah tangga, melempar senyum tipis padanya. Sakura membeku di tempatnya sementara Neji berjalan ke arahnya.
"Hei, kenapa kaget begitu melihatku, Sakura?" tanya Neji dengan pandangan geli sekaligus heran.
Sakura mengerjap kaget ketika menyadari kalau sedari tadi ia membelalakkan mata menatap cowok itu, juga dengan mulut yang sedikit terbuka. Ah, tampangnya pasti sangat konyol sampai Neji memandangnya geli seperti itu. Sakura merasakan wajahnya memanas.
"Er… maaf," gumamnya sambil merutuki ketololannya dalam hati. Gadis itu menunduk dalam, menyembunyikan wajahnya yang pasti sudah semerah tomat ranum.
Ia bisa mendengar Neji tertawa kecil. "Tidak apa."
Entah mengapa hanya dengan mendengar suaranya yang dalam dan tenang itu bisa membalikkan mood Sakura—meskipun tidak sepenuhnya. Sakura menyelipkan anak rambut ke belakang telinganya dengan gugup, lalu mengangkat wajahnya sambil memasang ekspresi riang. "Bagaimana pendaftaran universitasnya?" ia bertanya sopan.
"Oke juga," Neji menjawab ringan sambil mengangkat bahu. "Banyak sekali yang mendaftar ternyata."
"Begitu…" Sakura tersenyum manis.
"Kita ke perpustakaan sekarang?"
Sakura mengerjap lagi. "Eh?" celetuknya bingung. Tetapi kemudian ia segera teringat pembicaraannya dengan Neji seminggu yang lalu,
"...kau tidak keberatan kan kalau harus menjalani latihan ekstra bersamaku di luar sesi latihan reguler? Mungkin kita bisa melatih dialog saat jam istirahat atau.. um.. yah, kita bisa mengaturnya lagi nanti. Bagaimana?"
"Oh, i-iya…" gadis itu mengangguk. Bagaimana ia bisa sampai lupa, sih?
"Atau kau ingin sekalian makan siang di kantin?" tawar Neji.
Sakura menggeleng pelan. "Tidak. Di perpustakaan saja." Kantin terlalu ramai, pikirnya.
Keduanya lantas berjalan menuju perpustakaan, mengabaikan olok-olok beberapa anak kelas tiga—tidak sebanyak saat mereka baru dinobatkan sebagai pasangan dalam drama festival sekolah nanti sih, tapi tetap saja bikin muka panas—yang kebetulan berpapasan dengan mereka.
"Ciee~ Neji, pulang-pulang ke Konoha langsung nemuin istri, nih?"
"Kangen, nih?"
"Awas, istri pertamanya marah, lho.."
Sakura baru bisa bernapas lega setelah mereka sampai di perpustakaan yang juga salah satu tempat favoritnya di Konoha High. Tempat itu jauh lebih tenang dibanding suasana di luar, dan yang jelas, aman dari suara-suara yang menggodai mereka. Neji kemudian menarik Sakura menuju salah satu bangku baca kosong di sudut ruangan, membuat Sakura bertambah gugup, karena setahunya spot itu adalah tempat yang biasa digunakan anak-anak untuk mojok, kencan diam-diam.
"Jadi…" Neji memulai. Suaranya sedikit kaku—barangkali dia juga gugup, pikir Sakura—"…bagaimana latihannya selama aku tidak ada?"
"Oh, itu…" Sakura memfokuskan pandangannya ke sekitar telinga Neji—menatap matanya langsung hanya akan membuat lututnya lemas dan kata-katanya macet di tenggorokan, terlebih dengan posisi sedekat itu—sebelum kemudian menceritakan latihan drama mereka selama ia di Ame.
Sementara Sakura bicara, gadis itu bisa melihat Tenten duduk di salah satu bangku tidak jauh dari mereka. Gadis bercepol itu sedang memandang ke arah mereka saat Sakura melihat ke arahnya. Tenten lalu nyengir dan melambaikan tangan sebelum berpaling pada cowok berambut cokelat jabrik yang duduk di sampingnya—Kankurou Sabaku. Keduanya tampak sedang membicarakan sesuatu dengan suara rendah sambil sesekali cekikikan.
Apa yang dilakukan Kankurou di jam sekolah begini? Bukannya dia selalu datang saat latihan drama saja?
-
-
Suasana ceria yang menyelimuti para personil band Inoshikachou Jr setelah pembukaan festival band Konoha hari sebelumnya dengan cepat menguap lenyap hanya selang sehari setelahnya. Ekspresi gembira yang terkembang hari berikutnya langsung lenyap seketika ketika Ino mengumumkan kabar tidak menyenangkan bagi mereka saat istirahat makan siang: Ia memutuskan untuk mengundurkan diri dari band.
"Aku benar-benar minta maaf," bisik Ino sambil menunduk, seakan tak kuasa menatap keterkejutan dan ketidakpercayaan di wajah teman-temannya—tepatnya di wajah Naruto, Sai dan Zaku, karena Ino sudah memberitahu Shikamaru dan Chouji yang merupakan personil inti band itu selain dirinya tadi pagi.
Ruangan itu sunyi senyap selama beberapa saat. Naruto, Sai dan Zaku terlalu terkejut sampai-sampai mereka seperti kehilangan suara, sementara Shikamaru dan Chouji memilih untuk tidak berkomentar.
"Apa maksudmu kau mau berhenti?" Naruto-lah yang pertama menemukan suaranya. Mata biru cowok itu melebar, menatap Ino penuh ketidakpercayaan. "Kompetisinya bahkan belum benar-benar dimulai. Bagaimana bisa kau berhenti begitu saja?"
"Oi! Yang benar saja, Ino! Kau tahu kan konsekuensinya kalau ada salah satu personil yang mengundurkan diri? KITA BAKAL DIDISKUALIFIKASI!!" raung Zaku berang.
"Aku tahu…" bisik Ino lirih, masih tidak menatap teman-temannya, melainkan menatap lantai sambil bergerak-gerak gelisah.
"Kalau kau tahu kenapa masih kau lakukan?" tanya Naruto putus asa. Ia berpaling sambil mengacak rambut pirangnya yang entah bagaimana caranya tampak lemas hari ini. Musik adalah hal kedua yang paling disukainya setelah sepak bola dan pengunduran diri Ino benar-benar mengecewakannya. Sama halnya seperti saat ia tidak terpilih menjadi pemain inti di pertandingan sepak bola persahabatan melawan Iwa di kesepatan pertama dulu.
"Jangan-jangan kau hanya ingin cari sensasi saja!" dengus Zaku kejam seraya tersenyum mengejek. "Menarik perhatian seperti caramu kemarin menarik cowok-cowok. Iya, kan?"
"Zaku! Jangan ngomong seperti itu pada Ino!" bentak Chouji membela teman sejak kecilnya. Mata sipitnya membulat menatap Zaku dengan galak—yang diabaikan oleh yang bersangkutan.
"Apa alasanmu mundur dari band?" tanya Naruto setelah ia berhasil menenangkan dirinya. Sekarang cowok itu menatap Ino dengan tatapan menyelidik. "Tiba-tiba mundur, pasti ada alasannya, kan?"
Entah mengapa Ino tampak agak gugup ditanyai seperti itu. Ia pun berpaling untuk menyembunyikan kegugupannya, namun sama sekali tidak berkata apa-apa untuk mejawab Naruto. Matanya sekilas bersitatap dengan Sai yang berdiri dengan kedua tangan terlipat di dekat pintu, namun sekali lagi ia berusaha menghindar.
"Itu juga yang sudah kutanyakan pada Ino sebelum ini," kata Shikamaru sambil menghela napas berat. Kedua tangannya tenggelam dalam saku jeans-nya sementara ia bersandar di dinding yang dilapisi lapisan kedap suara di dekat jendela, mengawasi Ino dengan malas. "Tapi sepertinya… Ino punya alasan sendiri yang tidak mungkin diceritakan pada kita," lanjutnya lambat-lambat.
"Bukannya begitu…" desah Ino. "Aku…" gadis itu tampaknya kesulitan mencari kata-kata yang tepat untuk menjelaskan alasan pengunduran dirinya. Ia pun menyerah, menghela napas dengan sikap putus asa. "Jangan paksa aku menjelaskan, please… Aku benar-benar minta maaf. Aku hanya… tidak bisa melanjutkan ini. Maafkan aku, teman-teman…" dan dengan pandangan minta maaf terakhir, gadis itu berbalik dan meninggalkan ruangan.
"Cewek sialan!" maki Zaku sambil melempar stik drumnya ke seberang ruangan. Stik itu menghantam dinding dan jatuh berkelontangan di lantai. "Seenaknya saja! Sia-sia saja kita latihan selama ini!"
"Tidak akan sia-sia," Shikamaru berkata tegas, "Kita akan melakukan sesuatu, untuk itulah kita berkumpul di sini sekarang—untuk mendiskusikan ini, maksudku, selain untuk mendengarkan pengumuman Ino."
"Benar," sambung Chouji, "Kami—aku dan Shikamaru—sudah mendiskusikan ini sebelum kalian datang tadi. Tapi sebelumnya," wajah bulatnya menoleh pada Naruto yang berdiri di sisi jendela, "Naruto, kau siap jadi vocalist menggantikan Ino, kan?"
Naruto tampak agak terkejut awalnya, tetapi ia langsung menyanggupi, meskipun masih ragu apakan band mereka masih bisa main di festival.
"Jangan khawatir. Kita akan bicara pada panitianya. Kita memang didiskualifikasikalau menambah personil baru setelah acara pembukaan, tapi di peraturan tidak disebutkan soal gitaris tidak boleh merangkap jadi vocalist kalau vocalist utama berhalangan," papar Shikamaru.
"Tapi kalau ada yang mundur—" Zaku mendengus meragukan, "Sama saja bohong. Ujung-ujungnya kita PASTI didiskualifikasi juga."
"Kita tidak tahu kalau tidak mencoba bicara pada mereka," sahut Chouji sambil menatap Zaku tajam. Sikap menyebalkan cowok satu itu kadang-kadang membuatnya nyaris habis kesabaran juga.
"Yeah. Chouji benar." Shikamaru mengangguk. Ia lalu mengeluarkan secarik kertas dari dalam saku kemejanya. "Yang kita butuhkan sekarang adalah daftar lagu-lagu baru, karena lagu yang lama tidak bisa lagi dibawakan dengan Naruto sebagai vocalist utama. Aku sudah memilih beberapa lagu yang pas dengan warna suara Naruto. Ini…" Ia mengulurkan daftarnya pada Naruto.
Naruto menerima dan membuka kertas daftar yang terlipat di tangannya. Matanya menyusuri daftar lagu-lagu dengan tulisan tangan Shikamaru yang seperti cakar ayam itu. Ia tahu semua lagu itu, ini tidak akan terlalu sulit, pikirnya. Tapi…
"Tapi jadwal manggung kita dua hari lagi—"
"Waktu kita memang sempit, tapi kita pasti bisa melatihnya," kata Shikamaru yakin. Ia lalu menoleh memandang Sai yang sedari tadi sama sekali tidak bersuara di dekat pintu. "Sai!" panggilnya.
Sai mengangkat wajahnya dengan terkejut mendengar namanya dipanggil, seakan baru tersadar dari lamunannya. "Apa?"
"Dengar, aku tahu kalau jadwal kegiatan jurnal sangat padat. Jadi kuharap kau bisa mengusahakan dispensasi selama seminggu ini untuk memaksimalkan latihan kita."
Sai mengangguk paham. "Aku akan bicara dengan Shino soal ini nanti."
-
-
"Jadi begitu…" Neji menganggukkan kepalanya begitu Sakura selesai bercerita. Jemarinya mengetuk-ngetuk lembar naskah yang terbuka di atas meja. "Hanya adegan yang tidak melibatkan Alfredo…" gumamnya.
"Karena kau tidak ada," ujar Sakura dengan suara rendah, berusaha mengabaikan sebelah tangan Neji yang diletakkan di punggung kursinya. "Jadi yang dilatih baru adeganku dengan Juugo."
"Hmm…" Neji memandangnya, bibirnya tertarik sedikit membentuk seringai kecil, "Kalau begitu kau sudah menguasainya, bukan? Kalau tidak salah audisi pertamamu pakai adegan itu, kan?"
Sakura mengeluarkan tawa canggung. "Tidak juga."
Keduanya terdiam. Sejenak yang terdengar hanyalah suara buku-buku yang diambil dari rak di dekat mereka dan bisik-bisik pelan yang berasal dari anak-anak yang sedang berdiskusi di bilik baca. Sakura memberanikan diri memandang wajah cowok di sampingnya. Neji tampak sedang memikirkan sesuatu entah apa.
"Akhir pekan ini Konoha City Hall akan menampilkan opera 'La Traviata'," beritahu Neji kemudian, "Hari Sabtu dan Minggu. Aku sedang berpikir, bagaimana kalau kita pergi menontonnya?"
Sakura mengerjap. Eh?
"Kebetulan pamanku punya dua tiket tidak terpakai yang tadinya untuk Hinata dan Hanabi. Tapi rupanya mereka sibuk akhir pekan ini jadi paman memberikannya padaku. Kupikir ini kesempatan bagus, kan? Maksudku, kita bisa sekalian mencari referensi dari pertunjukannya langsung."
Sakura tidak tahu harus berkata apa untuk menanggapi ajakan yang tiba-tiba itu. Imajinasinya langsung melesat tinggi. Gadis itu mebayangkan dirinya pergi ke gedung pertunjukan mentereng di Konoha itu sambil bergandengan tangan dengan Neji, mengenakan gaun yang indah dan anggun yang membuatnya tampak seperti seorang puteri. Setelah itu makan malam di restoran mewah di dekat sana—barangkali restoran terkenal di puncak Hidden Leaves Building. Ah… sungguh kencan yang romantis…
"Tapi kalau kau tidak bisa juga tidak apa-apa."
Kata-kata Neji berikutnya menghempaskannya kembali ke bumi.
"Tidak!" sahut Sakura agak terlalu cepat. Wajahnya merona, lalu ia menambahkan dengan lebih pelan, "Um… maksudku… sepertinya itu ide yang sangat bagus. Pasti menyenangkan."
Eh, tapi tunggu dulu!
Sakura tidak pernah menonton opera di Konoha City Hall sebelumnya. Ayahnya dulu sering mengajaknya nonton teater di Konoha Theatre, dan tempat itu jauh kalau dibandingkan dengan Konoha City Hall. Berbeda dengan Konoha Theatre, Konoha City Hall tidak hanya digunakan untuk pertunjukkan teater saja, tetapi juga opera, orchestra klasik juga resital dari pemusik-pemusik terkenal. Orang-orang yang datang ke sana biasanya dari kalangan elit, orang-orang jetset yang selalu mengenakan pakaian formal yang bagus dan rapi.
Masalahnya, Sakura tidak yakin apakah ia bisa tampil tanpa memalukan Neji. Karena seingatnya ia tidak memiliki pakaian formal yang cukup pantas untuk dipakai di musim dingin seperti ini, belum lagi sepatu dan asesori yang serasi. Dan ia juga tidak punya cukup tabungan untuk membeli pakaian baru! Bagaimana ini..?? Tidak mungkin kan, kalau Sakura datang mengenakan kostumnya yang biasa? Celana jeans—atau minimal rok, yang lebih sopan—dan sweter, dan mantel sederhana…
"Kalau begitu aku akan menjemputmu di rumah hari Sabtu malam."
Ooh… Bagaimana Sakura bisa menolaknya??
"Iya…" sahutnya lemas.
BRUUK!!
Kedua remaja itu terlonjak kaget dan langsung menoleh untuk melihat apa yang membuat suara ribut itu. Sakura terkejut ketika mendapati Yakumo berdiri di samping rak yang letaknya tidak jauh dari bangku yang mereka duduki, buku-buku berserakan di kakinya—sepertinya gadis itu menjatuhkannya barusan—Yakumo menatap ke arah mereka beberapa saat dengan tatapan yang membuat Sakura merasa bersalah, seperti telah tertangkap basah sedang menggoda pacar orang—padahal tidak. Gadis bermata cokelat cemerlang itu kemudian berpaling dan membungkuk untuk mengumpulkan kembali buku-bukunya.
"Yakumo…" bisik Neji, sebelum bangkit dari bangkunya untuk membantu gadis itu. Tetapi Yakumo buru-buru menolaknya dan berbalik pergi setelah sebelumnya mendesiskan kata-kata yang tidak bisa didengar Sakura pada Neji.
Hati Sakura mendadak terasa panas melihatnya. Ia lantas berpaling.
"...aku curiga masih ada apa-apa di antara mereka..."
"...beberapa kali memergoki mereka berduaan saja di belakang sekolah..."
Kata-kata Hokuto tempo hari terngiang lagi. Sekali lagi gadis itu terlonjak begitu mendengar derit bangku yang digeser di sebelahnya. Neji sudah kembali.
"Sampai di mana tadi diskusi kita?"
-
-
"Aku benar-benar berharap Shikamaru berhasil membujuk panitia supaya band kita bisa main," Naruto berkata beberapa menit setelah mereka meninggalkan ruangan studio. Sekarang ia dan Sai sedang berjalan di koridor yang ramai menuju kantin.
"Hmm…" Sai mengangguk-anggukan kepalanya.
"Argh… Tidak bisa dipercaya Ino mengundurkan diri tiba-tiba seperti ini!" geram Naruto ketika mereka berbelok ke koridor kantin. "Padahal kan dia yang paling semangat…"
Sai tidak benar-benar mendengarkan kata-kata Naruto berikutnya karena bayangan Ino sesaat sebelum meninggalkan ruangan studio tadi melintas di kepalanya. Ia berani sumpah melihat air mata mengalir di wajah gadis itu sebelum pintu menutup tadi. Ino menangis. Dan sikap anehnya yang semalam—barangkali Ino inilah yang juga membuatnya begitu murung tadi malam, ia sedang memikirkan pengunduran dirinya dari band. Tapi kenapa? Sai bertanya-tanya dalam hati. Seperti yang dikatakan Naruto, Ino yang paling semangat di band mereka. Tiba-tiba keluar tanpa alasan rasanya tidak masuk akal.
Pasti ada sesuatu di balik itu, pikirnya. Tetapi Sai tidak melihat alasan apa pun yang kira-kira membuat gadis itu sampai mengambil keputusan seperti itu.
"Omong-omong Sakura di mana, ya?"
Suara Naruto membuyarkan lamunan Sai. Cowok berkacamata—ia belum sempat membeli lensa kontak baru—itu mengerjap. "Ap—Oh, aku tadi melihat dia pergi dengan Neji setelah bubar pelajaran Aljabar. Mungkin ada urusan dengan drama mereka," ia menambahkan hati-hati sambil melirik Naruto, khawatir sahabatnya itu mendadak kesal kalau ia mengungkit-ungkit soal Neji di depannya. Betapa leganya ia melihat Naruto tampak biasa saja.
"Oh yeah, drama…" ujar Naruto dengan nada ringan sambil tertawa kecil. "Ya ampun, aku hampir lupa kalau Sakura mendapat peran utama…" Dan bicara soal Sakura, ia jadi teringat sesuatu yang membuatnya kepikiran. "Kau merasa tidak kalau sikap Sakura tadi pagi sedikit aneh?" tanyanya pada Sai.
"Ya," sahut Sai. Tiba-tiba saja ia merasa agak cemas. "Naruto, apa menurutmu Sakura sedang marah pada kita?"
"Itu tidak mungkin," kata Naruto, meskipun ia sendiri tidak begitu yakin. "Sakura tidak punya alasan untuk marah pada kita. Barangkali suasana hatinya sedang tidak baik. Ada masalah di rumah, mungkin…" ia mengangkat bahunya.
"Atau mungkin dia kelelahan," usul Sai.
"Bisa jadi…"
Suasana hiruk pikuk langsung menyambut kedua cowok itu begitu mereka menginjakkan kaki di kantin yang penuh. Naruto menyapukan pandangannya ke penjuru kantin, melambai ketika beberapa anak menyapanya dengan suara riuh. Pasti ini karena penampilan mereka hari sebelumnya—Sai juga sempat terkejut ketika beberapa gadis menyapanya sambil mengikik dan saling berbisik-bisik tadi pagi.
"Ramen, aku datang!!" Naruto berseru riang sambil ngeloyor menuju konter. Sai menyusul di belakangnya, sekali lagi terheran-heran melihat para gadis melirik padanya ketika ia melewati meja cewek-cewek populer.
Tidak butuh waktu lama sampai kedua cowok itu mendapatkan makan siang mereka, karena antrian sudah tidak sepanjang saat jam makan siang baru dimulai. Mereka mendapatkan bangku kosong di dekat jendela, yang kebetulan tidak jauh jaraknya dari bangku yang diduduki serombongan besar gadis kelas satu.
"Mengapa mereka semua melihat ke arah kita?" tanya Sai keheranan ketika mendapati gadis-gadis itu mencuri-curi pandang ke meja mereka sambil berbisik-bisik, lalu menjerit tertawa.
Naruto terkekeh, mengeluarkan sumpit dari wadahnya. "Yah, begitulah kalau kau baru saja melakukan sesuatu yang keren. Itu artinya mereka menyukai kita," sahutnya sambil mengangkat bahu. Ia menyumpit ramen banyak-banyak lalu menyeruputnya dengan nikmat.
Sai melempar pandang ke arah gadis-gadis itu tepat ketika salah satu dari mereka sedang menatapnya. Sai mengerjap sesaat sebelum memutuskan untuk melakukan sesuatu yang ramah untuk membalas perhatian itu—tersenyum, kemudian menunduk dan menekuni makan siangnya.
Di meja sebelah suasana langsung heboh. "Kalian lihat tadi si kacamata yang tampan itu tersenyum padaku?? Kyaa!! Menurut kalian apa dia naksir aku?"
Beberapa saat telah berlalu sebelum Sai melihat Sakura muncul di pintu kantin bersama Neji. Ia menyenggol Naruto dan mengendik ke arah pintu. Kedua cowok itu melihat sahabat mereka di sana, sedang berbicara dengan Neji dengan wajah berseri-seri. Keduanya lalu berpisah, Neji menuju meja tempat di mana Rock Lee dan anak-anak kelas tiga yang lain duduk sementara Sakura mengedarkan pandangannya, mencari-cari. Naruto lantas melambaikan tangan sambil berseru memanggilnya.
"Sakura! Di sini!!"
Sakura menoleh dan senyumnya melebar menemukan kedua sahabatnya. Gadis itu pun bergegas mendekat.
"Bagaimana latihannya?" tanya Naruto begitu Sakura duduk di bangku kosong di sebelah Sai.
"Oh, kami tidak latihan kok," sahut Sakura ceria seraya mencomot kentang goreng dari nampan Sai. "Hanya membicarakan bagaimana latihan kami selama dia tidak ada."
"Berarti kau menceritakan soal betapa menyebalkannya Kankurou Sabaku itu?" kekeh Naruto.
Sakura mengangkat bahunya, tertawa. Ia mengambil waktu mengunyah dan menelan kentang gorengnya sebelum menjawab, "Aku bahkan tidak ingat soal Kankurou."
Naruto tertawa seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. Sakura bisa lupa apa saja kalau sudah ada hubungannya dengan Neji—yah, kecuali mungkin dialog-dialog yang harus diucapkannya, pikir Naruto—Barangkali cowok itu jugalah yang membuat sikap jutek Sakura pada mereka tadi pagi mendadak berubah ceria lagi.
"Omong-omong, kalian melihat Ino tidak?" tanya Sakura kemudian setelah menyadari Ino tidak ada di sana. Betapa herannya ia saat melihat ekspresi kedua sahabatnya itu langsung berubah. Sakura mengernyit curiga. "Ada apa? Apa yang terjadi?"
"Ino baru saja mengundurkan diri dari band." Kali ini Sai yang menjawabnya.
Mata hijau zamrud Sakura melebar dalam keterkejutan. "APA?!"
-
-
TBC
-
-
B/A (Bacotan Author)—bosen sama A/N XD:
Hehehehe… telat update lagi. Gomenasai ne?? Alesannya masih idem sama yang kemarin, plus karena banyak banget perubahan plot di chapter ini. Aku gak puas dengan plot awal yang abal nan maksa banget (memangnya yang ini gak abal dan maksa? =.=') Hasilnya ya seperti ini, jadi lebih pendek dari versi awal, tapi lebih padat. Kakashi akhirnya muncul!!!—sedikit sih, tapi kan seenggaknya guru kita tersayang itu muncul lagi. Khu khu khu~~~ Tapi Sasuke malah sama sekali gak disebut. Hihi… XD Chapter depan deh… Habis beliau gak ada kepentingan di chapter ini…
Makasih buat Ambu, Uci-chan, Reiya Sumeragi,Aika-chan, Light-Sapphire-Chan, Lawra-chan, Tobi-Luna-chan, Teh Bella, Uchiha Cesa, Emi-chan, Furu-chan, Kakkoii-chan, Arai-chan, Hikari Akabara, Erri-chan dan mae123 yang sudah mereview chapter kemarin. Yang baca tanpa mereview juga makasih…
Gomen gak dibalesin satu-satu. Habis bingung mau balas apaan. Mungkin beberapa pertanyaan aja kali yah…
1) Novel yang dikasih Sasuke ke Sakura?
Nanti bakal diceritain lagi kok.. Soalnya Sasuke ngasih novel itu ke Sakura bukan tanpa alasan.
2) Chapter ini (kemarin) sepertinya akan menjadi jembatan untuk mencapai klimaks ceritanya?
Sepertinya sih gitu. Di chapter yang ini juga udah mulai 'naik' lagi 'tense'-nya.
3) Sakura bisa nyanyi?
Well, iya, Sakura bisa nyanyi. Tapi enggak ditonjolin sih, mungkin nanti ada saatnya Sakura nyanyi saat diperlukan (??) –lirik2 yang udah dapet spoileran-
Btw, karena di chapter ini banyak banget yang diubah, kayaknya apdetan selanjutnya bakal agak lama karena harus menyesuaikan juga. Gomenna… (lagi) –menunduk dalam-dalam- Dan yang nyontreng, selamat menikmati sajian demokrasi Indonesia!! BANZAI!!!
