Warning : OoC-ness!!

Chapter 56

Mundurnya Ino dari band benar-benar membuat Sakura bingung. Setahunya, Ino lah yang paling bersemangat di band itu, paling getol menyeret teman-temannya latihan, bahkan rela menyerahkan jabatannya sebagai kapten tim cheerleaders sekolah ke tangan Karin demi band. Tapi sekarang… Gadis itu malah mundur begitu saja, tanpa alasan jelas—setidaknya itu menurut Naruto dan Sai.

Dan sejak Sakura mendengar kabar itu dari mereka, ia belum bertemu lagi dengan Ino. Entah mengapa, ia merasa Ino sedang menghindarinya, atau mungkin malah menghindari semua orang karena ia tidak terlihat di mana pun sepanjang hari. Sakura hanya sekilas saja melihatnya sepulang sekolah di hari yang sama sebelum Hokuto menariknya ke ruangan teater untuk latihan reguler untuk pementasan. Wajahnya yang tampak kusut dan tidak bersemangat benar-benar membuat Sakura cemas.

Oh, bagus sekali, pikirnya tidak senang. Pertama Ibu, sekarang Ino…

Keesokan harinya keadaan masih belum membaik. Di rumah, hubungan Sakura dan ibunya mendadak dingin dan kaku. Sakura yang masih sakit hati karena kejadian hari sebelumnya, terlalu enggan untuk memulai pembicaraan dengan ibunya, bicara hanya seperlunya saja dan lega sekali saat tiba waktunya ia berangkat sekolah. Sakura benar-benar kabur dari ibunya pagi itu.

Di sekolah pun sama saja. Ino menghindarinya saat Sakura bertemu dengannya di koridor loker sebelum jam pelajaran pertama dimulai, bahkan sebelum Sakura sempat membuka mulut untuk menyapanya dan langsung melengos ke arah lain. Bahkan ketika mereka bertemu di kelas Biologi, Ino sama sekali tidak bicara padanya dan tampangnya masam sepanjang hari. Dan absennya Naruto dan Sai yang harus latihan band sepanjang istirahat makan siang tidak membuatnya merasa lebih baik. Barangkali ia bakal uring-uringan dan marah-marah sepanjang hari kalau saja ia tidak ingat punya janji dengan Neji untuk menghabiskan waktu berdua saja mendiskusikan tentang drama.

Juga kencan itu—ah, tidak bisa disebut kencan juga sih—Meskipun memikirkannya kadang membuatnya cemas lagi.

Neji benar-benar baik padanya, membuat Sakura merasa nyaman dan sedikit lebih bergairah. Sejenak membuatnya melupakan masalahnya dan larut dalam diskusi mendalam tentang Alfredo dan Violetta. Cowok itu juga mengusulkan untuk mengundurkan rencana mereka menonton opera menjadi Minggu malam begitu mendapatkan informasi dari Hinata bahwa puncak festival band akan dilaksanakan hari Sabtu.

"Tidak apa-apa, kan?" tanya Neji saat itu, "Kupikir kau pasti ingin menonton teman-temanmu manggung di hari terakhir festival."

Sakura tidak bisa berkata apa-apa untuk membalasnya, hanya mengangguk dan tersenyum tanda bersedia. Bertambah satu lagi alasannya begitu menyukai Neji Hyuuga. Cowok itu begitu penuh pengertian.

Setidaknya, masih ada alasan bagi Sakura untuk bertahan menghadapi sisa hari itu dengan senyuman. Sampai bel tanda jam pelajaran terakhir selesai berbunyi.

"Aku dan Sai akan ke rumah Shikamaru," beritahu Naruto sementara Sakura sibuk membereskan buku-buku dan peralatan tulisnya. Di sekeliling mereka, anak-anak mulai meninggalkan kelas Kimia dengan bising. "Mau ikut? Kau tidak ada latihan drama hari ini, kan?"

"Tidak," sahut Sakura sambil lalu. Ia memasukkan buku terakhir ke dalam tas dan menutup kancingnya, lalu mendongak pada Naruto. "Tidak apa-apa aku menonton latihan kalian?"

Naruto meringis, menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Sebenarnya permainan kami masih agak kacau sih. Tapi tenang saja, setidaknya tidak sampai menimbulkan kerusakan telinga tingkat parah kok!" guraunya sambil tertawa. Ia kemudian mengangkat bahu. "Yah, dari pada kau tidak ada kerjaan, mending menonton kami latihan."

"Enak saja bilang tidak ada kerjaan!" tukas Sakura sambil terkekeh. "PR kita banyak, tahu!"

"Ah…" Naruto mengeluh keras-keras. "Aku bahkan belum menulis satu kalimat pun tugas esai Budaya Dunia!"

"Tugas Budaya Dunia yang untuk hari Kamis itu, kan?" Sai yang baru saja kembali dari membantu guru Kimia mereka membawa buku tugas ke ruang guru langsung nimbrung. "Aku sudah selesai. Minimal tiga ribu kata, kan?"

"Yap!" Sakura nyengir, "Punyaku sudah kelebihan seribu kata."

Naruto tercengang menatap kedua temannya. "Tidak masuk akal. Bagaimana kalian bisa punya waktu mengerjakan PR, sih?!" sungutnya. Mendadak ia ngeri sendiri membayangkan tumpukan PR-nya yang belum dikerjakan. "Hah.. mudah-mudahan hari ini latihannya tidak sampai malam, jadi aku punya waktu bikin PR…" ia bergumam sendiri sementara mereka mulai meninggalkan kelas yang kosong.

"Benar tidak mau ikut kami, Sakura?" tanya Naruto lagi saat mereka sampai koridor dekat tangga menuju lantai dua, setelah serombongan anak kelas tiga turun melewati mereka.

Sakura mengangguk, melempar pandang menyesal pada kedua cowok di depannya. "Sori, mungkin lain kali."

Setelah itu mereka berpisah. Naruto dan Sai menuju lantai dua untuk mengambil gitar Naruto sementara Sakura menuju pintu depan, bergabung dengan anak-anak yang hendak pulang. Namun sebelum gadis itu mencapai pintu depan, sebuah suara memanggil namanya. Refleks ia menoleh, dan mendapati pamannya berdiri di dekat kelas Aljabar yang baru bubar, menggendong buku diktatnya yang tebal. Sakura mengangkat alis ketika Kakashi memberikan isyarat dengan tangannya supaya ia mendekat. Gadis itu kemudian mendekat dengan enggan.

"Ada apa?" tanya Sakura tanpa basa-basi.

"Kau sedang buru-buru, Sakura?"

"Er…" Sakura agak ragu. Sebenarnya ia berencana akan pergi ke Konoha's Library untuk mencari bahan tambahan untuk tugas makalah Science-nya, tapi itu tidak begitu mendesak. Hanya saja entah bagaimana ia punya firasat pamannya itu akan membicarakan soal ibunya, dan Sakura masih enggan membahasnya sekarang.

"Sakura?"

"Tidak," sahutnya kemudian, memutuskan untuk tidak berbohong. Teringat sikapnya yang sedikit kasar hari sebelumnya membuatnya tidak enak. "Aku tidak sedang terburu-buru."

Kakashi tersenyum hangat padanya. "Kalau begitu kau ada waktu, kan? Aku ingin sedikit mengobrol denganmu."

"Oke."

Sakura kemudian mengikuti Kakashi ke ruang guru yang ramai. Ruang guru selepas jam pelajaran selalu menyenangkan untuk diintip. Kau bisa melihat para guru yang selalu menjaga wibawa di kelas ternyata sama saja dengan orang-orang lain di luar sana. Mereka juga senang mengobrol dengan suara keras, saling bercanda dan tertawa terbahak-bahak—terutama kalau Pak Gai Maito, guru olahraga yang memang terkenal heboh, sudah terlibat di dalamnya—Bahkan ada juga yang sedang curhat.

Di salah satu meja, Pak Shiranui sedang bicara serius dengan Ibu Yuuhi dan tunangannya, Pak Sarutobi Asuma. Entah apa yang mereka bicarakan, Sakura hanya menangkap kalimat "…jadi emosian semenjak hamil…" dari mulut guru Kimia-nya itu.

Tetapi yang langsung menyita perhatian Sakura adalah sosok jangkung bermata lavender tajam yang tampak sedang berbicara dengan guru senior yang ia kenal sebagai pengajar Science untuk kelas tiga yang rambut putihnya sudah mulai menipis. Sepertinya Neji sedang berkonsultasi tentang tugasnya atau apa, dilihat dari cara guru itu membaca lembaran yang diserahkan Neji padanya. Dahinya berkerut dalam, serius. Sesekali mengangguk setuju.

Neji menoleh ke arah Sakura begitu gadis itu lewat, lalu melempar senyum tipis padanya. Sakura langsung membalas senyumnya gugup. Hatinya langsung berbunga-bunga. Seandainya saja Neji tidak langsung menoleh lagi pada gurunya, pasti ia akan melihat rona kemerahan muncul di wajah gadis itu.

Kakashi yang melihat perubahan ekspresi keponakannya mengangkat alis. Tetapi begitu ia menyadari apa yang membuat Sakura begitu, pria itu hanya terkekeh kecil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Dasar remaja…

"Konsultasi esay untuk AMS—Ame Medical School—, Hyuuga?" tanya Kakashi pada Neji sambil meletakkan buku diktat ke mejanya.

Neji berpaling padanya. "Ya, Pak Hatake," sahutnya mantap.

"Bagaimana ujian tulisnya kemarin?"

"Um… yah, lumayan, Pak," sahut Neji sambil menyeringai tipis.

Kakashi balas menyeringai. "Lumayan mudah, atau lumayan susah?"

"Tentu saja lumayan mudah!" Pak Maito lah yang kemudian menyahut untuk siswanya. Pria kekar itu menepuk bahu Neji keras sebelum melenggang ke mejanya sendiri, duduk di sana sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Tersenyum lebar. "Apa yang tidak bisa dilakukan siswa teladan Konoha High, eh? Dia pasti tembus!" ujarnya yakin.

"Kenapa tidak mengambil sekolah akting saja, Neji?" seru Ibu Mitarashi dari mejanya. "Kau berbakat jadi aktor! Tapi sebelum kau jadi aktor kelas Oscar, aku minta tanda tanganmu dulu, ya…" wanita berambut keunguan itu mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum nakal.

Beberapa guru tergelak.

"Hei, Anko. Ingat umur dong…" kekeh Pak Namiashi yang mejanya tepat di sebelah meja Ibu Mitarashi, "Apa kata pacarmu kalau tahu kau melirik remaja?—Hei, anak pacarmu siswa sini juga, kan?"

Wajah guru Budaya Dunia itu langsung bersemu merah. Pena yang tengah dipegangnya menuding sang kolega. "Diam kau, Raidou! Umino itu cuma kawan lamaku! Kami. Tidak. Pacaran."

"Sebaiknya kita mengobrol di tempat lain saja, ya," kata Kakashi, mengalihkan perhatian Sakura dari obrolan menarik para guru itu. "Di sini terlalu berisik."

Sakura mengangguk patuh saja. Kakashi kemudian meninggalkan mejanya, meletakkan tangan di bahu keponakannya dan menggiringnya meninggalkan ruang guru yang kembali riuh oleh perdebatan Pak Namiashi dan Ibu Mitarashi soal ia pacaran dengan siapa-Umino (sepertinya Sakura familier dengan nama itu, tapi terlalu malas untuk mengingat-ingatnya lagi) atau tidak. Sekilas sebelum Kakashi menggeser pintu ruang guru menutup, Sakura mengerling ke arah Neji tepat ketika cowok itu juga sedang memandangnya.

Sekali lagi mereka bertukar senyum.

Sakura tidak bisa menahan dirinya bernostalgia ketika Kakashi membawanya ke ruang bimbingan konseling yang sedang kosong. Di tempat itulah ia dulu pernah disidang bersama Naruto dan Sasuke karena berkelahi di koridor. Matanya tidak lepas menatap deretan bangku di depan meja guru BK, nyengir, sebelum akhirnya mengikuti Kakashi duduk di sofa yang lebih nyaman.

"Jadi… bagaimana kemajuan latihan dramanya, hm?" Kakashi memulai ketika Sakura sudah menyamankan diri di sebelahnya. Mata kelabunya menatap keponakannya itu dengan lembut, kebapakan. "Sejauh ini oke?" Ia tersenyum.

"Oke juga," sahut Sakura, mulai merasa santai. Terkadang duduk bersama pamannya seperti ini membuatnya merasa hangat, seperti dekat dengan ayahnya sendiri. Walaupun tidak selalu, terutama kalau Kakashi sudah bertingkah yang aneh-aneh dan membaca buku-ehm-nya itu.

"Sepertinya kau menikmatinya," komentar Kakashi setelah beberapa lama, "Senang bisa dekat dengan Hyuuga, kan?"

"Idih, apaan sih?" tukas Sakura, pipinya yang digelembungkan merona kemerahan. "Kau mengajakku kemari bukan untuk ngomongin dramaku atau Neji, kan?"

Pria berambut keperakan itu tersenyum. "Ibumu sering cerita kalau kau ceria terus belakangan ini," ujarnya, "Kau berhasil mengatasi situasi sulit sejak Hiroyuki wafat, itu sangat bagus, Nak."

Ingatan Sakura langsung melayang di saat-saat awal kecelakaan yang menimpa almarhum ayahnya, ingat bagaimana depresinya ia saat itu karena kehilangan orang yang ia cintai begitu dalam. Ingat bagaimana ia sempat menolak makan, menolak bertemu orang-orang dan menangis sepanjang hari. Sampai akhirnya seseorang menyelamatkannya…

"Sepertinya aku harus berterimakasih padamu untuk itu juga, Kakashi," ujar Sakura, meletakkan sebelah tangannya ke lengan sang paman. "Kalau kau tidak menyatukan aku dengan Naruto dan Sasuke, mungkin tidak akan secepat itu aku pulih."

"Sudah kukatakan padamu kau tidak akan menyesal soal hukuman itu," Kakashi menepuk tangan Sakura pelan. "Benar, kan?"

Sakura tertawa kecil, lalu mengangguk. Tentu saja, ia tidak menyesal menjalin ikatan persahabatan dengan Naruto yang kocak dan selalu penuh semangat, Sasuke yang walaupun terkadang sangat sok dan menyebalkan, tapi bisa jadi baik kalau ia mau. Juga Sai yang ternyata sangat manis di balik sifatnya yang dulu teramat sangat tidak peka itu. Siapa yang menyangka Sakura Haruno yang dulu bisa dibilang kuper dan hanya tau menghabiskan waktunya di perpustakaan atau ruang teater selain di kelas, sekarang bisa bergaul akrab dengan cowok-cowok itu?—dan sempat menjadi trio paling beken di seantero Konoha High bersama Naruto dan Sasuke beberapa bulan yang lalu.

"Kalau saja Azami bisa sepertimu…"

Gumaman Kakashi mengembalikan Sakura kembali ke bumi. Gadis itu mengerjap. "Eh—Apa?"

"Tidak," ujar pamannya buru-buru. Sepertinya Sakura tidak begitu mendengarkannya barusan. "Ibumu… bagaimana keadaannya sekarang?"

Wajah Sakura langsung berubah murung begitu topik beralih pada ibunya. "Tidak begitu baik, kurasa." Sakura menghela napas. "Aku bertengkar dengan ibu kemarin. Sikapnya belakangan ini memang aneh dan kemarin adalah puncaknya. Aku tidak tahu kenapa dia tiba-tiba marah padaku, biasanya tidak begitu."

Butuh waktu beberapa lama bagi Kakashi untuk menanggapi ucapan Sakura. Pria itu tampak seperti memikirkan sesuatu sebelum akhirnya menghembuskan napas panjang seraya menyandarkan punggungnya ke sofa. Ekspresinya lelah. "Kalau begitu Azami belum bicara padamu lagi?"

Sakura bersungut-sungut. "Bicara apanya?! Aku tanya baik-baik saja ibu sudah marah begitu…"

"Kau marah padanya?"

"Tentu saja!"

"Cobalah untuk memahaminya, Sakura…"

"Bagaimana aku bisa paham kalau ibu tidak bicara apa pun padaku!" tukas Sakura keras kepala.

Kakashi mengangkat tangannya dan mengacak-acak rambut keponakannya dengan gemas. "Dasar keras kepala. Susah dibilangin ya kalau sudah ngambek, hm?"

"Biarin!" Sakura memonyongkan bibirnya tanda sebal, lalu menarik tangan pamannya paksa dari kepalanya.

"Cobalah untuk bicara lagi dengan ibumu, oke?"

Sakura menggerung malas. "Iya, iya, nanti kalau suasana hatiku sudah membaik."

Kakashi menatap keponakannya beberapa saat lagi sebelum ia mendengus tertawa. "Dasar bocah nakal…" kekehnya sambil mencubit pipi Sakura, membuat gadis itu memprotes keras.

"Aduh!—Hei, aku bukan anak kecil lagi yang bisa kau cubit-cubit seenaknya, Kaka—" kata-kata Sakura langsung terhenti begitu ia menyadari sesuatu yang berbeda dari pamannya. Tangannya yang mencengkeram jemari Kakashi yang besar tidak lagi menemukan logam perak yang biasa melingkar di sana. "Kemana cincinmu?"

Kakashi menarik tangannya dari cengkeraman Sakura, tampak salah tingkah. "Oh, itu… Aku simpan di rumah."

"Disimpan?" Sakura memandang sang paman dengan dahi berkerut dalam.

Aneh, pikirnya. Setahunya Kakashi tidak pernah melepaskan cincin itu dari jarinya, bahkan setelah bertahun-tahun sejak Ayashi Hatake, istrinya, meninggal saat melahirkan anak mereka. Tapi sekarang… untuk pertama kalinya Kakashi melepaskan cincin kawin itu dari jarinya—untuk disimpan. Ini tidak biasa… Oh! Kecuali kalau…

"Siapa dia?" tanyanya kemudian dengan senyum nakal tersungging di bibirnya, senang punya alasan untuk menggoda pamannya.

"Siapa?" Kakashi malah balik bertanya, tampangnya bingung—atau hanya pura-pura saja.

"Siapa lagi kalau bukan orang yang menjadi alasanmu menyimpan cincinmu?" Sakura memutar bola matanya. Ia tertawa begitu menyadari semburat kemerahan tipis muncul di wajah Kakashi.

Rahasianya sudah terbongar—dan Kakashi memutuskan untuk mengalah kali itu.

-

-

Sakura melenggang meninggalkan sekolah beberapa menit berikutnya dengan tampang puas. Meskipun hatinya masih diliputi penasaran dengan sosok yang telah berhasil meluluhkan hati pamannya yang sekian lama dingin terhadap wanita mana pun.

"Kau mengenalnya," hanyalah clue yang diberikan Kakashi padanya. Dan Sakura mulai mengingat-ingat wanita-wanita yang dikenalnya, yang juga mengenal Kakashi.

Ibu Yuuhi? –Tidak. Sudah tunangan dengan Pak Sarutobi.

Ibu Mitarashi? –Sepertinya tidak. Bukan tipenya.

Coret semua guru-guru wanita di Konoha High selain Kurenai dan Anko. Mereka semua sudah menikah.

Isaribi? –Tidak mungkin. Isaribi kan naksir Izumo.

Ayame? –Hm.. tidak. Ayame sedang dekat dengan Yamato sekarang—dan menghancurkan hati Izumo dan Kotetsu. Ha ha… kisah cinta seru di Blocaf. Sepertinya tidak mungkin Kakashi terlibat juga.

Suster Airi? –Mungkin saja. Airi kan memang naksir Kakashi… Tapi masa sih? Rasanya sebelum ini mereka tidak pernah terihat terlibat obrolan yang terlalu akrab—atau hanya ada orang lain saja? Hm…

Sakura masih memikirkan kemungkinan pamannya menjalin hubungan dengan perawat sekolahnya sementara kakinya membawanya menjauhi gerbang Konoha High menuju halte bus yang menuju Konoha's Library. Namun sekejap kemudian bayangannya soal pamannya dan suster Airi langsung menguap begitu matanya menangkap sosok yang tidak asing yang baru saja keluar dari deli di dekat sekolah. Wajahnya memang setengah tertutup syal tebal yang melingkar di lehernya, tetapi Sakura masih mengenali rambut pirang dan mantel biru tua yang dikenakannya.

"Ino!" panggil Sakura. "Hei!"

Gadis pirang itu menoleh dengan terkejut mendengar namanya dipanggil. Langkahnya langsung terhenti. Mata birunya melebar menatap Sakura yang kemudian bergegas menghampirinya dengan berlari-lari kecil. "Sakura?"

-

-

"Jadi ada masalah apa sebenarnya?" tanya Sakura tanpa basa-basi setelah pelayan yang membawakan dua cangkir cappuccino hangat mengepul di meja mereka pergi. Saat itu keduanya sudah duduk di salah satu bangku nyaman di bagian dalam Green Leaves Coffee Shop di dekat rumah Ino.

"Aku tidak mengerti," sahut Ino yang duduk di kursi di depannya dengan ekspresi bingung yang tidak meyakinkan, "Masalah apa? Semuanya baik-baik saja."

Sakura mengerutkan dahi, menatap temannya dengan tatapan tak sabar. "Baik-baik saja apanya?" tukasnya gusar, "Sejak kemarin kau menghindari semua orang."

"Hanya perasaanmu saja. Kau terlalu sibuk dengan Neji, jadi—"

"Ini tidak ada hubungannya dengan Neji!" sela Sakura. Sikap menghindar Ino lama-lama membuatnya jengkel juga. "Aku sudah mengenalmu lebih dari separuh hidupku, Ino," ujarnya lebih lembut ketika dilihatnya sahabatnya itu memalingkan wajah, ekspresi sedih terpeta di wajahnya yang pucat. "Kita sudah bersahabat sangat lama. Jadi aku akan tahu kalau ada yang tidak beres denganmu—dan lagipula kau tidak pandai berakting, kau tahu, kan?"

"Aku bukan anak teater," kata Ino dengan suara pelan. Ia mengangkat cangkirnya dan mengirup cappuccino-nya perlahan.

Sakura nyaris tertawa mendengarnya, tapi dengan cepat ia menahan diri. Dalam situasi seperti ini Ino masih saja sempat berkelakar. Ia berdeham kecil. "Dengar, kau tahu kau bisa cerita apa saja padaku, kan?"

Ino menurunkan cangkirnya kembali ke meja. Kepalanya tertunduk sejenak sebelum akhirnya melempar pandangan ke luar jendela, mata birunya berkaca. Tampangnya seperti hendak menangis. "Aku dan Idate bertengkar dua hari yang lalu," ujarnya setelah terdiam cukup lama. "Setelah pembukaan festifal…"

Sakura seharusnya sudah menduga jawaban ini akan meluncur dari bibir Ino. Sekilas ia masih ingat bagaimana ekspresi Idate dua hari lalu saat mereka menonton festival band—dan saat cowok itu menarik Ino pergi setelah pertunjukan selesai. Saat itu seharusnya Sakura tahu ada yang tidak beres, tetapi ia terlalu larut dalam euphoria pasca-pertunjukkan bersama Naruto dan yang lain sehingga tidak terlalu memperhatikan. Lagipula, kalaupun ia benar-benar memperhatikan saat itu, ia bisa apa? Mencegah Ino pergi dengan pacarnya sendiri? Tidak mungkin.

Dan sepertinya pertengkaran mereka cukup hebat sampai membuat Ino terguncang seperti ini. Air mata mulai membanjir di mata biru itu ketika Ino mulai menceritakan apa yang terjadi setelah ia dan Idate meninggalkan arena festival. Tuduhan-tuduhan tak berdasar yang dialamatkan Idate padanya, kecemburuan yang berlebihan. Sepertinya Idate tidak suka Ino terlalu banyak mendapatkan perhatian dari cowok-cowok lain.

Sungguh tidak adil, pikir Sakura. Bukan salah Ino ia menjadi pusat perhatian cowok-cowok. Ino tidak pernah menginginkan hal itu. Gadis itu hanya melakukan apa yang ia senangi tanpa bermaksud mencari perhatian. Cowok-cowok itu hanya mengapresiasi bakat Ino. Yah, barangkali memang ada yang benar-benar naksir satu atau dua, tetapi bukankah Ino tidak pernah menghiraukan mereka? Cowok di mata dan hati Ino saat ini hanyalah Idate seorang. Seharusnya itu alasan yang cukup bagi cowok itu untuk mempercayai Ino—tapi ia tidak. Idate menolak mendengar alasan.

"Apa Idate yang menyuruhmu meninggalkan band?" tanya Sakura hati-hati selang beberapa lama setelah Ino menyelesaikan penuturannya.

Ino menggeleng, mengusap basah di wajahnya dengan tisu. Matanya terlihat sedikit membengkak. "Idate tidak pernah menyuruhku meninggalkan band. Itu keputusanku sendiri. Tolong jangan salahkan dia."

Meski begitu, tetap saja Idate yang menjadi alasan Ino meninggalkan band, Sakura membatin miris. Begitu berharganyakah Idate sampai-sampai Ino mau berkorban seperti itu demi menentramkan hati kekasihnya? Meninggalkan band yang dibangunnya bersama Shikamaru dan Chouji sejak mereka duduk di bangku sekolah menengah pertama pastilah sangat berat.

"Yang aku butuhkan sekarang hanya waktu untuk membiasakan diri, Sakura," Ino melanjutkan sambil menyunggingkan senyum tegar, "Tidak perlu terlalu mengkhawatirkan aku."

"Ino…"

"Kalau kau memiliki seseorang yang benar-benar kau cintai, aku akan mengerti…"

Pengorbanan. Bagi Sakura ini seperti cerita-cerita dalam novel yang sering dibacanya. Terdengar begitu indah, sekaligus tidak masuk akal pada waktu yang bersamaan. Konsep yang diketahuinya, tapi tidak benar-benar ia mengerti. Sesuatu yang mungkin akan benar-benar ia pahami kalau sudah mengalaminya sendiri.

I think that possibly, maybe I'm falling for you
Yes, there's a chance that I've fallen quite hard over you
I've seen the paths that your eyes wander down, I wanna come too
I think that possibly, maybe I'm falling for you

Irama lembut 'Coffee Shop' mengalun dari pengeras suara memenuhi tempat itu sementara Sakura dan Ino terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing, seraya menyesap minuman yang semakin lama semakin dingin di cangkir mereka.

Ino benar-benar berpengalaman dalam hal-hal seperti ini, Sakura membatin seraya mengedarkan pandangannya berkeliling coffe shop yang tidak terlalu ramai itu. Kalau dibandingkan dengan dirinya yang belum pernah jadian dengan seorang cowok pun, pengalaman Ino jelas lebih banyak. Meskipun kebanyakan dari mereka hanya main-main, tetapi kali ini sepertinya Ino cukup serius dengan Idate, cowok pertama—ah, tidak, kedua—yang membuat hati sahabatnya itu luluh.

Sebelum ini, tepatnya beberapa bulan yang lalu, saat mereka masih duduk di kelas satu, ada seorang cowok misterius yang juga sempat menyita begitu banyak perhatian Ino. Bagaimana tidak? Cowok itu selalu mengirimkan setangkai mawar secara berkala ke sekolah, menyelipkannya di loker. Muncul sewaktu-waktu di dekat rumahnya atau di sekitar sekolah, menuliskan pesan singkat untuknya yang dituliskan di secarik kertas yang kemudian dititipkannya pada seseorang, dan banyak hal-hal menyentuh yang membuat Ino jatuh hati padanya, padahal ia tidak mengenal cowok itu. Sakura tidak pernah melihat bagaimana rupanya, tetapi menurut Ino yang pernah melihatnya beberapa kali, cowok itu memiliki senyum yang indah. Sayangnya cowok itu menghilang tanpa jejak bahkan sebelum Ino mengetahui namanya.

Dan di tempat inilah cowok misterius itu sering muncul.

Sakura mengerling Ino dari sudut matanya. Gadis itu terlihat sedang menopang dagunya, matanya terarah pada grand piano berwarna putih yang terpajang manis di sudut ruangan. Pandangannya menerawang.

"Dia seorang pianis. Aku kadang-kadang melihatnya main di sini."

Mungkinkah Ino masih mengingatnya, makanya ia mengajakku kemari? Ah, tidak—tentu saja tidak. Itu hanya bayanganku saja. Ino sudah memutuskan untuk melupakan cowok itu jauh sebelum ini. Ia pasti sedang memikirkan Idate.

Sakura mengambil waktu untuk menghirup minumannya sekali lagi sebelum bertanya, "Kau sudah bicara lagi dengan Idate?"

Ino menjawabnya dengan gelengan pelan. "Saatnya mungkin belum tepat, Sakura. Kami masih sama-sama emosi sekarang. Aku tidak ingin memperburuk suasana."

"Begitu…" Rupanya pacaran itu rumit juga, begitu banyak yang harus dipikirkan. "Lalu sekarang, apa yang akan kau lakukan?—selain meredakan emosimu, tentu saja."

Ino mengangkat bahunya sekilas. "Sekarang aku ikut kepanitiaan untuk festival sekolah. Bagian dana usaha. Aku bisa menjual bunga atau handycraft buatan bibiku seperti tahun sebelumnya. Lumayan untuk mengisi waktu, kan?"

"Hmm…" Sakura mengangguk setuju. Syukurlah kalau Ino sudah menemukan kegiatan lain yang bisa mengalihkan perhatiannya.

"Sekarang giliranmu cerita," ujar Ino beberapa saat kemudian seraya menatap Sakura dari atas bibir cangkir yang tengah digenggamnya dengan kedua tangan di depan hidung, "Apa yang terjadi selama kita tidak ketemu di sekolah, eh? Ada sesuatu yang menarik?"

Sakura menghela napas panjang. Ia sedang tidak ingin membicarakan masalahnya dengan ibunya. Tetapi itu bukan berarti ia tidak memiliki hal lain yang bisa diceritakannya pada Ino—yang barangkali akan membangkitkan semangat Ino kembali. Dan benar saja. Ketika nama Neji terucap dari bibir Sakura, mata biru Ino yang semula suram berubah berbinar penuh semangat.

-

-

Oto-city…

Sasuke menatap bosan ke kerumunan beberapa anak berseragam Sound-city School yang sejak tadi ribut bernyanyi—kalau mengeluarkan suara-suara tak jelas itu bisa disebut bernyanyi—di depan sementara sebagian besar yang lain menonton sambil bersorak-sorai—yang bahkan lebih keras dari yang bernyanyi. Hari itu salah satu teman sekelasnya sedang berulang tahun dan mereka sedang merayakannya di salah satu karaoke di pusat kota setelah pulang sekolah.

Sebenarnya Sasuke sama sekali tidak berminat ikut kalau saja teman-temannya tidak memohon-mohon memintanya ikut. Apalagi setelah menerima belasan pasang puppy-eyes dari para gadis dan death-glare dari para cowok. Banyak lawan satu, tentu saja ia kalah telak. Demi menghargai yang sedang berulangtahun, tidak apalah, Sasuke meyakinkan dirinya sendiri. Lagipula ini kan hanya karaoke, seharusnya tidak akan separah itu. Tetapi sekarang Sasuke jadi agak menyesali keputusannya untuk ikut, karena kepalanya sudah mulai pening dan telinganya berdenging menolak polusi suara menerpa indera pendengarannya lebih lama lagi.

Nyanyian-kamar-mandi Itachi bahkan jauh lebih bagus dari ini.

"Sasuke tidak nyanyi?" Tayuya menyelip duduk di antara Sasuke dan Kidoumaru, dan langsung menyelipkan tangannya memeluk lengan Sasuke.

"Tidak, aku di sini saja," gerutu Sasuke, berusaha melepaskan pegangan Tayuya dari lengannya.

"Nyanyi dong…" bujuk gadis berambut merah itu. "Satu laguuu saja!"

"Tidak," jawab Sasuke tegas. Memikirkan dirinya bernyanyi seperti orang bego di depan orang-orang ini membuatnya mual. Lebih baik mati saja, pikirnya.

"Ah, Sasuke tidak asik!" Tayuya memasang tampang cemberut.

Sasuke tidak menghiraukannya. Tidak tahan, ia lantas beranjak sofa, mengambil tas dan mantelnya yang disampirkan ke punggung sofa.

"Lho? Kau mau kemana, Sasuke?" tanya Tayuya.

"Pulang," sahut Sasuke sambil lalu.

Dan sebelum Tayuya sempat membuka mulutnya hendak memprotes, Sasuke buru-buru meraih kenop pintu dan keluar dari ruangan yang bising itu. Untungnya saat itu perhatian semua anak sedang tertuju pada si kembar Sakon dan Ukon yang sedang beraksi di depan dengan mike masing-masing—keduanya bernyanyi dengan heboh yang bagi Sasuke lebih terdengar seperti ringkikan kuda—sehingga tidak ada yang memperhatikannya pergi. Suara-suara ribut dari dalam langsung terblokir saat pintu tertutup. Sasuke menghela napas lega. Keheningan di lorong gedung tempat karaoke itu terasa lebih nyaman di telinga.

Sasuke merapatkan mantel ke tubuhnya, menahan udara dingin yang menerpa begitu ia melangkahkan kaki meninggalkan gedung. Udara yang dihembuskan langsung berubah menjadi kepulan uap di depan hidungnya. Sejenak ia memandang berkeliling. Langit sudah tidak seterang sebelum ia masuk bersama rombongan teman-temannya dan lampu-lampu sudah mulai dinyalakan. Di musim dingin matahari memang tenggelam lebih cepat dari biasanya.

Alih-alih segera menuju tempat mobilnya diparkir untuk pulang, Sasuke memutuskan untuk jalan-jalan sebentar.

Sudah lama Sasuke tidak menikmati suasana malam di kota seperti ini. Terakhir ia keluar setelah gelap adalah ketika orang tuanya mengajaknya menghadiri jamuan makan malam bersama seorang klien penting dari luar negeri beberapa hari setelah ia kembali dari Konoha. Dan tentu saja duduk di restoran hotel berbintang sangat berbeda dengan berjalan kaki di jalanan seperti yang dilakukannya sekarang, dimana ia bisa melihat berbagai macam orang berseliweran di sepanjang trotoar, mulai dari para nyonya berpakaian wah sampai gelandangan. Juga mendengar berbagai macam suara, mulai dari musik klasik yang memanjakan telinga, sampai teriakan orang yang memaki dengan kata-kata kasar yang niscaya akan membuat rambut berdiri orang yang mendengarnya.

Tetapi Sasuke sudah terbiasa dengan semua itu. Apalagi setelah pengalamannya tinggal di jalanan selama beberapa hari dulu, saat ia masih menjadi bocah pemberontak yang minggat dari rumah. Tentu saja itu sebelum Itachi kemudian menangkap dan menyeretnya ke Konoha. Sasuke masih ingat betul saat-saat itu, saat-saat dimana ia harus sembunyi dari orang-orang suruhan ayahnya, menghindari polisi, dipukuli preman, makan seadanya dan semuanya yang telah membuatnya menyadari betapa nyaman kehidupannya selama ini—hanya saja saat itu egonya terlalu besar untuk kembali ke rumah.

Sekelompok orang berpakaian lusuh terlihat sedang menghangatkan diri di dekat sebuah tong besar tempat pembakaran sampah ketika Sasuke lewat di depan sebuah gedung besar tua yang dulunya adalah sebuah sekolah. Ia dulu juga pernah seperti itu. Rasanya seperti diingatkan kembali…

"Sasuke..??" terdengar suara serak memanggil namanya dari arah orang-orang itu.

Sasuke serta merta menoleh dan melihat seorang pria tua bungkuk yang mengenakan mantel panjang yang sudah sangat usang dan ditisik di beberapa bagian sedang menatap ke arahnya. Kepalanya yang botak ditutupi kupluk woll tebal yang rasanya tidak asing. Sasuke mengerutkan kening, merasa pernah melihat pria itu entah di mana ia tidak ingat.

"Nak Sasuke yang itu, kan?" ulang pria itu dengan suara tuanya sambil berjalan terbungkuk mendekati Sasuke. Setelah bisa melihat wajah Sasuke dengan cukup jelas, pria itu menyeringai senang, memamerkan deretan giginya yang kotor. Ia mengulurkan tangannya, mencengkeram kedua lengan Sasuke dan mengguncangnya sambil tertawa senang seakan baru bertemu dengan cucunya yang sudah lama hilang. "Ternyata memang benar Sasuke. Aku kira salah lihat. Wah, aku pangling! Kau kelihatan cakep sekali sekarang, Nak…"

Mata onyx Sasuke melebar ketika kenangan beberapa bulan silam itu kembali lagi. Ia ingat. Bukan hanya dari kupluk woll yang dikenakannya, yang dulunya adalah milik Sasuke yang diberikan untuknya. Tentu saja. Bersama kakek inilah Sasuke dulu pernah tinggal di jalanan. Kakek inilah yang sering membantunya bersembunyi, melindunginya, mengajarinya cara bertahan hidup di jalanan yang liar, menganggapnya seperti cucunya sendiri.

"Kakek Genzo?" suaranya tercekat.

Pria tua itu terbahak senang sampai tubuhnya berguncang-guncang. "Ha ha ha… dia ingat aku! Hei, dia ingat aku!!" serunya girang pada orang-orang di belakangnya. Sebagian yang tertarik ikut mendekat dan kini mereka mengerumuni Sasuke, memandanginya dengan pandangan tertarik. Sementara sebagian yang lain tidak begitu memedulikan dan meneruskan kegiatannya menjejalkan koran bekas ke balik mantel atau menghangati tangan di bara api dalam tong.

Untuk beberapa waktu Sasuke sepertinya tak dapat berbuat apa-apa sementara orang-orang itu memandanginya, memegang-megang pakaiannya, tasnya, wajahnya, rambutnya, seakan ia benda antik yang sangat menarik.

-

-

Konoha…

"…Dan dia mengajakku keluar nonton opera di Konoha City Hall Minggu malam nanti," ujar Sakura pelan mengakhiri penuturan panjangnya tentang waktu yang dihabiskannya bersama Neji dua hari belakangan ini, berusaha terdengar wajar. Padahal wajahnya itu sudah nyaris sama merahnya dengan warna rambut Karin. Sakura hendak mengangkat cangkirnya lagi ke bibir, tetapi kemudian ia sadar cangkirnya sudah kosong.

Di depannya Ino tersenyum superlebar, tampak puas dengan apa yang didengarnya barusan. "Wow! Aku benar-benar tidak menyangka kemajuannya bakal jadi secepat ini. Drama itu benar-benar membawa keberutungan." Gadis itu tertawa kecil. "Aku cukup yakin setelah ini kalian berdua bisa saja jadian."

Ucapan Ino kontan membuat kadar panas di wajah Sakura bertambah. Ia tidak akan heran kalau kedua telinganya mengepulkan uap panas sekarang ini. "Jangan bicara ngaco! Itu tidak mungkin."

Dahi Ino berkerut. "Jangan bilang tidak mungkin, Sakura," tegurnya.

"Maksudku… tidak mungkin untuk sekarang ini," Sakura buru-buru meralat ucapannya. "Itu terlalu cepat. Lagipula…" kata-katanya terputus ketika ia teringat Yakumo. Pertemuan mereka di perpustakaan tempo hari, cara gadis itu menatap Neji dan cara Neji memperlakukannya saat itu benar-benar membuat hatinya ciut. Neji memang baik padanya, tetapi ia dan Yakumo memiliki masa lalu yang mungkin saja masih mengikat keduanya sampai sekarang.

Sakura menghela napas berat. Selama ini ia berusaha keras mengabaikan keberadaan Yakumo—juga kenyataan bahwa ia dan Neji pernah menjadi sepasang kekasih. Tetapi semakin ia mencoba tidak menghiraukannya, semakin jelas bayangan mereka berdua di matanya.

Kalau itu memang benar… Ino, apa aku masih bisa berharap..??

"Ada apa, Sakura?" tanya Ino pada Sakura yang tiba-tiba diam. "Lagipula apa?"

"Tidak. Tidak ada apa-apa," sahut Sakura cepat seraya menyunggingkan senyum tipis setengah hati. "Sudah yuk. Tidak enak duduk terlalu lama di sini." Gadis itu kemudian mengambil dompet dari dalam tas.

"Biar aku saja," kata Ino sebelum Sakura mengeluarkan uangnya. "Aku kan yang mengajakmu kemari, jadi aku yang traktir." Kemudian Ino mengeluarkan beberapa lembar uang dan meletakkannya di atas meja.

Sakura menggumamkan terimakasih sebelum kemudian keduanya beranjak meninggalkan coffee shop itu. Sakura tidak tahu berapa lama waktu yang mereka habiskan mengobrol tadi, yang jelas gadis itu terkaget sendiri ketika menyadari hari sudah mulai senja dan udara menjadi lebih dingin dari sebelumnya. Sepertinya rencananya ke Konoha's Library harus ditunda untuk hari ini.

"Mau mampir sebentar?" tawar Ino begitu mereka sampai di depan Yamanaka's Flower Shop. Rute menuju halte bus memang harus melewati rumah Ino dulu.

"Tidak, sudah malam. Ibu—" Sakura berdeham kecil, menunduk sekilas, "—Kalau kemalaman ibuku bisa khawatir."

"Hmm…" Ino mengangguk, "Baiklah kalau begitu. Sampai kete—"

"Wah, Sakura!" seru seorang wanita jangkung berambut pirang digelung yang baru saja keluar dari toko. Ibu Ino yang anggun dan sangat mirip putri tunggalnya muncul dengan mengenakan celemek cantik seragam toko bunga itu di atas sweternya. Ia tersenyum. "Sudah lama kau tidak main kemari, Sayang."

Sakura mengangguk sopan pada Nyonya Yamanaka, membalas senyumnya. "Selamat sore, Bibi…"

Ibu Ino tertawa merdu. "Selamat sore," balasnya ceria, "Mampir sebentar, yuk, Sakura. Bibi baru saja membuat kue almond. Tidak seenak buatan Yamato sih, tapi… ah, pokoknya kau harus mencobanya! Ayo…" wanita itu kemudian meletakkan lengannya di pinggang Sakura, menggiring gadis itu ke dalam.

Sakura melempar pandang minta bantuan pada Ino, tetapi sahabatnya itu hanya nyengir kuda, lalu mengikik. Ibunya memang paling jago dalam hal membujuk orang seperti itu, dan sekali lagi tampaknya ia berhasil. Sakura pasrah saja dibawa masuk.

"Bagaimana kabar ibumu, Sakura?" tanya ibu Ino beberapa waktu berikutnya. Saat itu Sakura sudah duduk di salah satu kursi tinggi di dekat gerai, disuguhi secangkir teh chamomile hangat dan sepiring kue almond yang garing dan gurih.

"Ibu sehat-sehat saja…" sahut Sakura pelan. Sebenarnya ia sendiri tidak begitu yakin dengan kesehatan Azami.

"Ah, syukurlah kalau dia baik. Terakhir kali bibi melihat ibumu di Blossoms' Café, dia kelihatannya agak pucat," kata Ibu Ino yang duduk di balik gerai. Mata cokelat madunya sedikit menerawang ke arah deretan rak-rak yang dipenuhi bunga crisant beraneka warna.

Sakura mengangkat cangkir tehnya ke bibir dan menghirupnya sedikit. "Belakangan ini Ibu memang bekerja terlalu keras di restoran. Mungkin dia kelelahan…" Sakura merasa dirinya sangat buruk karena mengatakan sesuatu yang tidak benar seperti ini. Ibunya bahkan jarang pergi ke restoran belakangan ini—menurut apa yang diberitahukan Isaribi padanya.

Ibu Ino menghela napas. "Azami yang malang… Pastilah sangat berat menjadi orang tua tunggal…"

Sakura tidak menanggapi, hanya mengulum senyum kecil. Tepat saat itu pintu depan toko bergemerincing membuka dan beberapa orang pengunjung masuk.

"Sakura, Bibi tinggal sebentar, ya…" kata Ibu Ino sebelum melesat meninggalkan gerai untuk menyambut pelanggan mereka.

Sakura berbalik di kursinya, memandang berkeliling toko bunga yang luas itu. Para pengunjung tampak sedang melihat-lihat rak berisi bunga beraneka jenis didampingi oleh florist yang dipekerjakan orang tua Ino. Sementara di meja kasir, tempat cowok berambut cokelat jabrik dan bertindik di hidung sedang melayani pembayaran. Di gerai sebelahnya, seorang gadis florist yang lain tengah merangkai buket pesanan di samping meja kasir.

Pandangan Sakura tertumbuk pada buket yang sedang dikerjakan florist itu. Mawar putih. Sakura tak bisa menahan senyumnya.

"Kau ini menyeramkan," kata suara geli dari arah pintu belakang toko yang berhubungan dengan rumah utama. Sakura berpaling dan melihat Ino baru saja masuk. Ia sudah berganti pakaian dan mengenakan celemek sama seperti yang dipakai ibunya dan para pegawai di sana. "Senyum-senyum sendiri…"

"Hanya teringat masa lalu," desah Sakura sembari mengerling ke buket mawar putih yang tadi.

Terdengar bangku digeser. Ino sudah duduk di bangku tinggi yang ditinggalkan ibunya beberapa saat yang lalu. Gadis itu juga sudah melihat apa yang dimaksudkan Sakura. Ia lantas mengikik. "Buket penipuan," kekehnya.

"Itu sangat manis," kata Sakura, berpaling lagi pada Ino. "Aku tidak menyangka kau dan Sasuke akan berbuat seperti itu."

"Habisnya kau juga sih…" kata Ino membela diri. Ia mengambil sekeping kue almond, lalu menggigitnya. "Sasuke dan aku hanya mencoba membuatmu ceria lagi."

"Aku tahu itu." Sakura tersenyum, teringat kartu yang tersemat di buket yang diterimanya dulu. Kartu dengan tulisan tangan Sasuke, tetapi atas nama Neji itu masih disimpannya sampai sekarang. Ah, tiba-tiba saja ia jadi kangen pada Sasuke…

"Sasuke bagaimana kabarnya, ya?" tanya Ino lembut seakan ia tahu apa yang sedang dipikirkan Sakura.

Sakura mengangkat bahunya, menyeruput minumannya lagi. Sejak ber-video call minggu malam kemarin, ia belum menghubungi Sasuke lagi.

"Dulu dia kemari bersama kakaknya yang tampan itu," beritahu Ino, "Waktu kami mengirimkan buket itu padamu," ia menambahkan begitu melihat Sakura tampak tak paham. Gadis itu kemudian mengikik, mengenang saat itu. Mata birunya membulat ketika ia melanjutkan, "Kakaknya itu sepertinya orang yang sangat romantis. Kau tahu, ia memesan banyak sekali bunga mawar. Kurasa itu untuk pacarnya kalau dilihat dari kartu ucapannya."

"Jadi kau mengintip kartu ucapan orang?" tanya Sakura pura-pura mencela.

"Hei, aku hanya penasaran," kilah Ino. "Hebat ya… Kalau seperti itu caranya sih, aku juga kepingin seperti pacarnya kakak Sasuke." Pandangannya menerawang. "Menurutmu, apa Sasuke sama romantisnya seperti kakaknya?" Ino bertanya penasaran.

"Sasuke romantis?" Sakura terkekeh. "Kau bercanda, ya?"

-

-

Oto-City…

"ACHOO!!"

Sasuke menggosok-gosok hidungnya yang mendadak tadi terasa gatal.

"Flu?" tanya Kakek Genzo yang duduk di sebelahnya.

"Tidak, Kek," sahut Sasuke singkat sebelum kemudian menggigit roti isinya.

Ketika itu mereka sedang duduk di tangga pelataran depan gedung tua kosong tempat Kakek Genzo sudah tinggal selama beberapa hari. Beberapa saat yang lalu Sasuke baru saja membelikan makanan untuk semua orang di sana dan untuk dirinya sendiri—ada kepuasan tersendiri ketika melihat wajah penuh syukur orang-orang tadi ketika mendapatkan makanan yang layak, walaupun itu hanya roti dan air—dan sekarang ia sedang menikmatinya bersama Kakek Genzo.

"Atau ada orang yang sedang membicarakanmu," usul Kakek Genzo kemudian. Pria tua itu terkekeh. "Biasanya sering begitu…"

"Mungkin…" Entah mengapa yang terpikir di kepala Sasuke adalah orang-orang di Konoha sebagai tersangka utama. Sakura? Mungkin Naruto atau Sai? Atau malah kakaknya yang sedang membual soal dirinya?

Hening sementara mereka menghabiskan makan malam mereka yang sederhana—Sasuke sudah memberitahu orang rumah kalau ia akan makan malam di luar bersama teman, tapi tentu saja tidak memberitahu siapa teman yang dimaksudkannya. Ia tidak ingin membuat ibunya cemas—Orang-orang sesekali melintas di jalanan, sama sekali tidak menghiraukan mereka, melirik pun tidak. Tetapi tidak ada yang keberatan, mereka sudah terbiasa dengan kehidupan keras seperti itu.

"Aku bertanya-tanya sendiri," suara tua Kakek Genzo mengalihkan kembali perhatian Sasuke padanya, "Menghilang kemana saja kau selama ini, Nak Sasuke?"

Sasuke mengambil waktu mengunyah dan menelan potongan rotinya sebelum menjawab, "Kakak saya menemukan saya dan membawa saya ke Konoha, Kek. Saya tinggal di sana selama beberapa bulan."

"Konoha, eh? Tempat yang menyenangkan kukira?" Bibir gelap pria tua itu melengkung membentuk senyuman penuh arti. Matanya yang sayu memandang Sasuke.

"Hm?" Sasuke melempar pandang tidak paham.

Kakek Genzo menghela napas, membentuk uap napasnya mengepul tipis dari bibirnya. "Ingat dulu waktu aku bilang padamu kalau hidupmu akan berubah kalau kau datang ke tempat yang tepat?" Pria tua berhenti sebentar, mengamati Sasuke yang tampak sedang mengingat-ingat. "Dan sekarang sepertinya itu sudah terjadi. Aku sudah tidak melihat lagi aura gelap yang dulu mengelilingimu. Sebaliknya, kau kelihatan… jauh lebih baik." Ia terkekeh-kekeh. "Sekarang… kau bukan pelarian lagi, kan?"

"Bukan," gumam Sasuke diiringi dengan dengusan kecil. "Sudah bukan lagi…"

"Sudah baikan dengan ayahmu kalau begitu?"

Sasuke hanya mengangguk sambil tersenyum tipis. Ia merasakan lengannya ditepuk-tepuk.

"Itu bagus sekali… Wah wah… aku beruntung. Tidak biasanya ramalanku tepat seperti ini," kata Kakek Genzo senang. Lalu melahap rotinya dalam satu gigitan besar. Pipinya yang sudah tidak kencang lagi bergoyang-goyang sementara ia mengunyah. "Kau tahu, biasanya ramalanku selalu meleset. Padahal nenek moyangku dulu adalah seorang cenayang yang hebat, tapi sepertinya kemampuan itu sudah meluntur di generasiku."

Sasuke sudah lupa sama sekali soal Kakek Genzo yang (katanya) bisa meramal, wajar saja karena Sasuke tidak mempercayai hal-hal seperti itu. Sampai sekarang pun tidak. Kakek pastilah hanya beruntung tebakannya benar, pikirnya.

"Bagaimana kalau aku mencoba meramalmu lagi, Sasuke?"

"Tidak—tidak perlu, Kek…" tolak Sasuke nyaris langsung.

Kakek Genzo tertawa. "Kau tidak pasti tidak percaya ramalan, ya?" tebaknya tepat sasaran. "Tidak apa, Nak… Kakek juga tidak terlalu percaya," ujarnya begitu melihat ekspresi tidak enak Sasuke. "Bagi kakek, ini semacam main tebak-tebakan saja…"

Tapi tetap saja kemampuannya menebak dengan tepat apa yang sedang dipikirkan atau dirasakan orang itu agak menyeramkan, pikir Sasuke.

"Sayang sekali… sayang sekali…" gumam Kakek Genzo lagi seraya menggelengkan kepalanya dengan sedih. "Sepertinya aku tidak akan melihatmu lagi di kota ini nanti."

Ucapannya membuat Sasuke tersentak. Bagaimana…??

"Beberapa hari yang lalu, aku bertemu dengan salah satu kerabatku dan katanya mereka akan membawaku ke Iwa bersama mereka," lanjut si Kakek dengan wajah sumringah.

'Aku kira apa…' batin Sasuke. "Pasti menyenangkan bertemu kerabat."

"Yaa…" pria tua itu menghela napas lagi, lalu menoleh, menyeringai pada Sasuke. "Sama sepertimu.." Sunyi lagi sementara Sasuke menghabiskan potongan terakhir rotinya. "Sekarang ceritakan soal teman-temanmu. Yang rambutnya pirang itu kelihatannya orangnya menyenangkan, ya…"

Sasuke langsung tersedak rotinya.

-

-

Konoha…

"Trims untuk hari ini ya, Sakura…" Ino memeluk sahabatnya hangat saat sedang mengantarnya sampai ke depan toko. "Perasaanku sudah jauh lebih baik setelah ngobrol denganmu.."

"Hmm… sama-sama…" balas Sakura setelah Ino melepaskan pelukannya. "Terimakasih juga untuk ini." Sakura mengangkat kotak berisi kue almond yang sengaja dibungkuskan ibunda Ino untuk dibawa pulang. Gadis itu kemudian melambai pada ibu Ino yang sedang sibuk melayani pelanggan dari atas bahu Ino. "Bibi, terimakasih banyak kuenya."

"Ya, Nak…" sahut wanita anggun itu sambil tersenyum. "Hati-hati di jalan. Salamkan untuk ibumu, ya.."

Sakura kembali berpaling pada Ino. "Kalau begitu sampai ketemu besok di sekolah…"

"Oke, bye…"

Sakura lantas melenggang pergi dengan langkah ringan meninggalkan toko bunga Yamanaka, menyusuri Alamanda Avenue, menikmati suasana malam yang hangat di kawasan itu. Setelah mengobrol ngalor ngidul dengan Ino sepanjang sore, sedikit beban di hatinya ikut terangkat. Setidaknya sekarang Ino sudah tidak semurung hari sebelumnya, pikirnya riang. Saking riangnya, ia tanpa beban menyapa Karin yang kebetulan baru saja keluar dari sebuah optik di dekat toko buku bersama Suigetsu, membuat gadis berambut merah itu tercengang—entah karena tiba-tiba disapa atau karena tertangkap basah keluar bersama Suigetsu—Padahal biasanya mereka jarang saling bicara di sekolah, terlebih dengan sikap Karin padanya sejak Sasuke…

Sasuke…

Sakura nyengir sendiri saat teringat diskusi serunya dengan Ino tentang seberapa romantisnya cowok satu itu. Sasuke pasti bersin-bersin di Oto sana… pikir Sakura geli. Ah, tiba-tiba saja ia ingin mengobrol dengan Sasuke. Rasanya kangen mendengar suara datar tak bernadanya itu…

Sedang apa ya, dia?

Gadis itu kemudian mengeluarkan ponsel dari saku mantelnya, mencari nomor Sasuke di phonebook-nya, lalu menekan tombol call. Kedua alisnya naik tatkala mendengar suara operator yang memberitahukan bahwa nomor itu sedang sibuk yang menyambutnya.

"Eh?"

-

-

Oto-City

Malam sudah semakin larut. Mikoto pun sudah menelepon putra bungsunya, bertanya-tanya di mana Sasuke sampai semalam itu belum pulang. Sasuke harus bergegas pulang. "Aku harus pulang sekarang, Kek," pamit Sasuke pada Kakek Genzo setelah sesi mengobrol panjang lebar tentang masa mudanya. Ia lalu beranjak dari anak tangga tempatnya duduk, melempar bungkus roti dan botol airnya yang sudah kosong ke tempat sampah.

Kakek Genzo turut berdiri. Ekspresinya sekilas terlihat agak sedih menyadari anak yang sudah seperti cucunya sendiri itu akan meninggalkannya lagi, tapi ia berusaha menutupinya dengan senyuman giginya yang biasa. "Terimakasih makanannya, ya, Nak Sasuke…" ucapnya kemudian.

"Sama-sama, Kek," balas Sasuke, dengan suara sedikit serak. Jeda sejenak sebelum ia berkata, "Selamat tinggal…" pelan, lalu berbalik pergi.

Baru beberapa langkah Sasuke meninggalkan tempatnya semula, suara serak pria tua itu kembali memanggilnya. Sasuke menoleh.

"Sebelum kita berpisah, apakah kau mau memberikan kakek tua malang ini satu pelukan saja, anakku?"

Sasuke tak bisa berkata apa-apa untuk beberapa saat, sebelum akhirnya kakinya membawanya kembali pada kakek Genzo. Ia menuruti permintaan pria tua itu, mengulurkan kedua lengannya merengkuh tubuh tua yang sudah bungkuk itu hangat.

"Jadilah pria kuat, Sasuke anakku," suaranya teredam dalam bahu Sasuke. Tangan tuanya yang berbonggol menepuk-nepuk punggung pemuda itu mantap. "Kakek percaya kau akan jadi orang hebat nantinya. Keluargamu… Teman-temanmu… jagalah mereka, karena dengan dukungan mereka kau bisa mencapai tujuan hidupmu kelak, Nak."

Sasuke menangguk. "Terimakasih, Kek," ucapnya setelah kakek Genzo melepaskan pelukannya.

Pria tua itu tersenyum lebar, sebelah tangannya menepuk pipi pucat Sasuke. "Satu lagi nasihat dari kakek, Sasuke," katanya, "Kau harus ekstrasabar untuk urusan asmara. Itu tidak mudah, butuh pengorbanan dan kerelaanmu untuk melepaskan sekali lagi. Tapi kalau kau bisa melewati penantian panjang itu, kau akan mendapatkan kebahagiaanmu."

Sasuke tercengang mendengar penuturan itu, sama sekali tidak paham apa maksudnya. Dan sepertinya kakek itu mengetahui kebingungan Sasuke, karena saat berikutnya ia sudah terbahak lagi.

"Tidak usah terlalu dipikirkan yang terakhir itu. Hanya ocehan orang tua yang sudah bau tanah…" ia terkekeh-kekeh. "Ya sudah, sekarang pulanglah. Nanti orangtuamu cemas."

Sasuke tertawa hambar, masih penasaran dengan kata-kata kakek tadi. "Kalau begitu aku pulang, Kek…" Kemudian ia berbalik untuk pulang.

"Menurut kakek gadis bermata hijau itu sangat manis," seruan kakek Genzou di belakangnya nyaris membuat Sasuke tersungkur saking terkejutnya. Wajahnya memanas—tapi untungnya saat itu gelap, jadi tidak ada yang melihat. "Tapi kau harus hati-hati dengan tangannya!!"

Damn! Bagaimana kakek Genzo bisa tahu?—padahal aku tidak bilang apa-apa soal Sakura!

Sasuke mempercepat langkahnya menuju mobilnya yang diparkirkan di dekat karaoke yang tadi sementara pikirannya terus melayang-layang ke dekat-dekat Sakura. Ucapan kakek Genzo tadi membuatnya terus kepikiran gadis itu.

Sangat manis, tapi harus hati-hati dengan tangannya… Apa maksudnya?

Sasuke membuka pintu depan BMW birunya—model yang sama dengan milik Itachi. Ia dulu memang terobsesi menyamai sang kakak, sampai pilihan kendaraan pribadi juga sama—melempar tasnya ke bangku penumpang, lalu mengenakan sabuk pengamannya setelah sebelumnya membanting pintunya menutup.

Sasuke tidak langsung menjalankan mobilnya, melainkan duduk diam di belakang roda kemudi, menunggu debaran jantungnya kembali normal—entah sejak kapan hanya dengan memikirkan gadis berambut merah muda itu saja sudah cukup untuk membuat jantungnya menggila. Tapi semakin ia ingin tidak terlalu memikirkannya, semakin ia ingin sekali bertemu dengan gadis itu, minimal bicara padanya.

Menyerah menahan godaan itu, akhirnya Sasuke mengambil ponselnya dari dalam saku celana. Memasangkan earphone-nya ke telinganya, lalu menyambungkannya dengan nomor Sakura. Tapi sepertinya ia harus menahan kekecewaan ketika mendengar suara operator alih-alih suara cempreng Sakura.

"Sedang sibuk, ya?" keluhnya.

-

-

Konoha, kediaman Nara…

"Aaah.. gila! Otakmu itu terbuat dari apa sih, Shikamaru?" seru Naruto takjub seraya menatap angka-angka yang sudah dituliskan Shikamaru di buku tugas Science-nya. Dalam waktu singkat saja putra tunggal keluarga Nara itu berhasil memecahkan soal supersulit yang sejak tadi mati-matian dikerjakan Naruto di sela-sela istirahat mereka latihan band. "Trims, ya!"

"Hn," sahut Shikamaru jemu seraya bangkit dari sofa dan mengambil gitarnya lagi. "Kalau begitu kita lanjutkan latihannya. Lebih cepat selesai, lebih cepat tidur."

Zaku yang duduk di sebelah Naruto memutar bola matanya. "Ujung-ujungnya tidur lagi, tidur lagi…" Cowok itu juga bangkit, mengambil stik drumnya dan berjalan ke tempatnya.

"Tunggu Chouji dulu," kata Sai yang sedari tadi mencoba belajar memainkan gitar tua Naruto—ia benar-benar tertarik memainkan istrumen satu itu, yang menurutnya sangat keren—tapi belum berhasil juga. Jemarinya masih kaku. Ia lantas meletakkan kembali gitarnya dan beranjak juga.

Sementara itu Naruto mulai membereskan buku-bukunya yang berserakan dan sedang menjejalkannya ke dalam tas ketika Chouji memasuki studio.

"Sudah mau mulai lagi?" tanya Chouji memandang teman-temannya sudah berdiri. Ia pun bergegas mengambil bass-nya.

"Lagu yang mana?" tanya Zaku dari belakang drum-set.

"Yang pertamaaaa~," sahut Shikamaru sambil menguap lebar-lebar. "Naruto, cepatlah.." katanya pada Naruto yang sedang menenggak botol airnya sampai tandas.

Sejenak Naruto bengong di tempatnya. Tiba-tiba saja gagasan itu muncul di kepalanya. "Ng… 'bentar…" kata Naruto kemudian. Ia melempar botol airnya yang sudah kosong ke sofa dan merogoh sakunya, mengeluarkan ponsel, mengutak-atiknya.

"Mau menelepon siapa sih?!" tukas Zaku. "Buruan, sudah malam, nih…"

"Iya, iya… bawel banget sih.." Naruto masih memencet-mencet ponselnya.

Sai yang penasaran mengintip dari bahu Naruto. Alisnya terangkat begitu melihat apa yang dilakukan Naruto. Tetapi sekejap kemudian ia mengerti dan ikut mengeluarkan ponselnya.

"Apa yang kau lakukan?" Naruto bertanya heran pada temannya ketika menyadari Sai melakukan hal yang sama dengannya.

"Seperti yang kau lakukan," sahut Sai sambil memamerkan senyumnya yang biasa. "Kita manggung besok saat jam sekolah. Sakura pasti tidak bisa menonton kita memainkan lagu ini, bukan?"

Naruto mengerjap memandangnya, tapi kemudian ia nyengir lebar. "Brilian, Sai!"

"Sudah seharusnya seorang teman mengerti apa yang sedang dipikirkan temannya, Naruto."

-

-

Sebuah bus dengan rute yang melewati Blossom's Street berhenti di halte. Sakura bergegas naik bersama beberapa orang lain, memasukkan beberapa keping uang logam ke kotak pembayaran sebelum kemudian duduk di salah satu bangku yang masih kosong di dekat jendela. Gadis itu menghela napas seraya menyandarkan punggungnya yang sedikit lelah di sandaran.

Bus mulai bergerak perlahan meninggalkan halte.

Sakura tengah asyik memperhatikan keramaian di sepanjang jalan menuju rumahnya ketika tiba-tiba ponsel di sakunya bergetar. Nama Sai tertera di layar.

"Ya, Sai?"

Tetapi tidak ada suara Sai yang membalas dari seberang. Hanya suara-suara samar orang yang sedang berbicara—dan jelas bukan bicara padanya, kemudian suara gemerisik, sebelum akhirnya terdengar alunan intro sebuah lagu yang dikenalnya.

Sakura tersenyum.

-

-

BMW biru tua itu meluncur perlahan di jalanan Oto yang padat. Pengemudinya tampak bosan dan tidak sabar ketika akhirnya mobilnya terkena lampu merah. Jemarinya mengetuk-ngetuk roda kemudi sementara mata onyx-nya menjelajahi mobil-mobil di sekelilingnya.

Pemandangan membosankan, pikirnya.

Tepat saat itu, ponselnya berbunyi. Sasuke mengangkat alisnya begitu melihat nama Naruto di layarnya. Cepat-cepat ia memasang kembali earphone ponselnya di telinga, kemudian menekan tombol jawab.

"Ada apa, Naruto?"

"Jangan tutup teleponnya!!" terdengar seruan Naruto dari seberang.

"Apa?" Sasuke bingung.

Tidak ada jawaban. Terdengar suara tuk pelan dan suara-suara aneh lain sebelum akhirnya suara musik mengalun dari earphone-nya.

Sasuke mendengus, seringai tipis menghiasi wajahnya.

-

-

Sai memulai dengan memainkan nada pembuka dengan keyboard-nya, kemudian disusul dengan gitar Naruto dan Shikamaru. Intro lagu 'Dancing In The Moonlight' langsung memenuhi ruangan studio itu.

"We get it on most every night
When that moon is big and bright
Its a supernatural delight
Everybodys dancing in the moonlight"

Naruto mulai menyanyikan bait pertama lagunya dengan penuh semangat.

Sementara itu tak jauh dari tempat mereka, tepatnya di atas meja kecil di samping sofa di studio itu, dua ponsel digeletakkan berjejeran dalam keadaan tersambung, sehingga orang di seberang saja bisa mendengarkan.

"Everybody here is out of sight
They dont bark and they dont bite
They keep things loose they keep it tight
Everybodys dancing in the moonlight"

Sai dan Shikamaru ikut bernyanyi mengiringi Naruto begitu memasuki bagian refrain.

-

-

"Dancing in the moonlight
Everybodys feeling warm and bright
Its such a fine and natural sight
Everybodys dancing in the moonlight"

-

-

Hanya saja mereka tidak tahu bahwa bukan hanya mereka saja yang menyanyikan lagu itu. Dua orang di seberang juga turut bersenandung mengikuti irama yang mereka mainkan. Seakan mereka sedang berada di tempat yang sama saat itu.

-

-

TBC…

-

-

Disclaimer :

Naruto © Masashi Kishimoto

"Coffee Shop" © Landon Pigg

"Dancing In The Moonlight" © Top Loader

-


A/N :

Warning : Author's Note bakal agak panjang. Jadi yang udah capek, bisa dilewat saja. Yang mau baca, monggo~~~ ^_^

Pertama, aku pingin bilang, "Maaf banget update-nya lama~~". Bisa dibilang hiatus juga karena suatu sebab yang gak bisa aku bilang di sini (lirik-lirik someone yang jadi tempat aku nangis-nangis semaleman). Agak lama sampai akhirnya mood buat nulis muncul lagi. Yah, disamping jadwal yang tambah padet. Aaah.. gila ya, ternyata SP tuh lebih berat dari semester biasa. Hampir setiap hari ada aja tugas n ujian. –misuh-misuh-

Sebenernya chapter ini tadinya gak ada. Chapter 56 yang benernya sekarang digeser jadi chapter 57. Yang ini asli aku bikin baru lagi. Tadinya mau digabungin sama chapter depan, tapi setelah dihitung, chapter ini aja ada 8ribuan K, kalau ditambah sama yang depan yang panjangnya kira-kira 5ribuan K, bisa dibayangin bikin capek mata yang baca dong… Jadinya aku split aja jadi dua. Er… sebenernya panjang cerita yang enak dibaca itu kisaran berapa sih? Suka bingung deh… Pernah lihat reviewan salah satu fic yang panjangnya sekitar 6ribuan K, katanya kepanjangan segitu. Tapi chap kemarin aku bikin segitu, ada yang protes kependekan… Nah lho~~

Kenapa ditambahin? Soalnya waktu aku baca ulang OV-nya chap 56, banyak banget plothole-nya… Alurnya jadi terlalu cepat dan terkesan dipaksakan. –emangnya yang ini gak maksa, Bu? XD-

Soal OC…

Aku masukkin beberapa OC lagi di sini : Kredit untuk PinkBlue Moonlight untuk Ayashi Hatake (aka Aya-chan), istrinya Kakashi. Thanks OC-nya ya, Tobi-Luna-chan.. –peluk2-; Kakek Genzo, orang yang udah bantuin Sasuke waktu dia masih kabur-kaburan dari keluarganya di chapter awal. Cuma waktu itu gak disebutin. Jadi di sini ada sedikit overview ke sana. Nama Genzo sebenernya aku dapet dari chara-list Naruto. Tapi aku gak tau kaya gimana Genzo sebenernya di Naruto.. =_='; Mamanya Ino yang gak aku sebutin namanya. Habis males nyari nama lagi sih.. –ngeles-

Dan bakal ada OC-OC lain yang bakal muncul di chapter-chapter depan. Tapi sifatnya cuma side-chara aja kok, dan gak akan jadi fokus—kecuali mungkin Azami Haruno. Omong-omong soal OC, pernah dengar katanya banyak yang gak suka, yah? Jadi penasaran, sebenarnya OC-OC yang aku munculin di fic ini mengganggu gak sih? Pernah nanya sih, tapi masih penasaran saja…

Beberapa pertanyaan dari review yang kemarin yang sepertinya harus dijawab… Tapi pertanyaan yang sifatnya spoiler, gomen, mungkin gak akan dijawab sekarang. Ada waktunya nanti semua pertanyaan bakal terjawab dari cerita. Plotnya udah disiapin kok… ^_^

Soal jam malam yang anak di bawah 18 tahun gak boleh keluar malam itu… Sebenernya bukan gak boleh keluar malam, tapi gak boleh keluar lewat tengah malam. Aku adaptasi dari novel-novel terjemahan yang pernah kubaca. Biasanya ada aturan seperti itu, untuk keamanan remaja itu sendiri. Gitu…

Déjà vu itu apa? Semacam perasaan familier terhadap suatu kejadian atau situasi. Jadi kita merasa pernah ngalamin kejadian itu. Semacam itulah…

Kayanya cuma segitu, yah? Hihi…

Buat yang sudah membaca dan mereview cerita superpanjang dan membosankan ini, makasih banyak… -bowed-