Sori lama apdetnya... Kena WB bu... =_="
Chapter 57
Sudah lewat dua puluh menit semenjak Sakura duduk di sana, di sudut yang sama di perpustakaan tempat gadis itu melewatkan waktu istirahat makan siangnya dengan sesi diskusi dan berlatih dialog ringan drama bersama Neji dua hari belakangan. Hanya saja kali itu ia duduk sendirian, bertopang dagu sambil sesekali mengerling arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Buku yang terbuka di depannya sama sekali tidak diperhatikan.
Sakura menghela napas seraya menyandarkan punggung ke sandaran kursi yang didudukinya. Entah untuk keberapa kalinya gadis itu melirik ke arah pintu masuk perpustakaan. Belum ada tanda-tanda orang yang ditunggunya bakal muncul di sana, yang muncul malah seorang cowok pirang kelas tiga berpenampilan kalem yang dikenalinya sebagai ketua OSIS, Menma, bersama beberapa orang temannya. Sakura mengeluh pelan sambil berpaling lagi ke bukunya.
Neji lama sekali, Sakura membatin resah. Tidak biasanya cowok itu terlambat begini. Hari sebelumnya malah ia yang datang duluan…
Eh, tunggu dulu! Punggung Sakura menegak. Apa kemarin Neji mengatakan sesuatu tentang pembatalan sesi ini dan ia tidak mendengarnya—karena terlalu sibuk berdebar-debar?
Kernyitan dalam muncul di antara kedua alisnya ketika ia berusaha mengingat-ingat kembali. Tidak, gadis itu membatin, kembali menyandarkan punggungnya ke kursi. Neji sama sekali tidak membatalkannya. Mereka malah berjanji akan bertemu lagi di tempat itu esoknya—sekarang.
"Kalau begitu besok kita bertemu lagi di sini," begitu kata Neji kemarin.
Tapi kenapa sampai sekarang ia belum datang? pikir Sakura sambil menggerigiti kukunya—kebiasaannya setiap kali merasa cemas. Apa dia lupa? Atau ia sedang sibuk dengan hal lain? Tugas? Proyek kelulusan? Klub komputernya? Atau… cewek?
Sakura menggelengkan kepala kuat-kuat untuk mengusir keluar bayangan Yakumo dan Neji yang sedang bersama-sama dari otaknya.
'Tidak, tidak! Tentu saja tidak!' Sakura berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Mereka kan sudah putus. Seharusnya tidak ada urusan lagi—yah, kecuali urusan pementasan. Urusan antara sutradara dan pemainnya. Tidak lebih dari itu. Titik, tidak pakai koma.
Tiba-tiba saja perutnya bergemuruh keras. Sakura mengeluh pelan.
Aku lapar…
Tadi pagi ia tidak sempat sarapan karena bangun kesiangan. Masih untung ia tidak terlambat masuk ke kelas pertamanya—Sakura tiba di sekolah tepat sebelum bel berbunyi—dan itu semua gara-gara Sasuke. Tepatnya gara-gara ia chatting semalam suntuk dengan cowok itu setelah pulang dari rumah Ino. Entah apa yang membuat Sasuke begitu banyak bicara—mengetik—semalam, biasanya hanya hn hn saja. Dan berakhir dengan sedikit pertengkaran karena Sasuke dengan seenak jidat telah menuding Sakura sudah menjadi penyebab ia lupa mengerjakan PR malam itu.
Sakura merogoh sakunya, mengeluarkan sebungkus permen cokelat, membuka bungkusnya lalu memasukkannya ke dalam mulut. Lumayan untuk mengganjal perut. Setidaknya ada tambahan kalori walau sedikit…
"Sakura?"
"Astaganagaulartangga!!" Sakura terlonjak kaget dari kursinya ketika ada yang tiba-tiba saja menepuk bahunya dengan keras dari belakang. Gadis itu memutar kepalanya. "Ino!" desisnya mencela pada gadis pirang yang entah sudah berapa lama berdiri di belakangnya, nyengir. "Mengagetkanku saja!"
Ino mengikik kecil. "Sori… Sedang menunggu Pangeran Hyuuga-mu, ya?" godanya.
Sakura merasakan wajahnya menghangat. Tidak tanya juga sudah tahu, kan? Bukankah kemarin mereka baru saja membicarakannya? Alih-alih menjawab, gadis berambut merah muda itu malah balik bertanya dalam bisikan rendah—mengingat mereka sedang berada di perpustakaan—"Ngapain kau kemari?"
"Judes sekali sih jawabannya," komentar Ino, mengikik kecil, seraya menarik kursi ke dekat Sakura, lalu duduk. "Aku habis menemui Menma."
Mata Sakura otomatis mengarah pada meja baca di seberang ruangan, tempat Menma sedang berdiskusi serius entah apa dengan temannya dengan suara rendah sementara tangannya sibuk menuliskan sesuatu di buku catatannya. "Ngapain?"
"Tadinya mau ngomongin soal danus. Tapi kelihatannya dia sibuk, jadi tidak jadi," kata Ino seraya menyapu poni yang terjatuh ke matanya dengan tangan, lalu menopang dagu. Tampangnya cemberut. Saat berikutnya, ia mulai berkeluh kesah, "Kami kekurangan orang, dan bendahara OSIS hari ini absen karena sakit. Padahal anak-anak sedang butuh dana, terutama klubmu tuh," gadis itu melirik Sakura. "Mereka sudah mulai membuat kostum, tapi dana dari sekolah belum cair. Terpaksa pakai dana dari Hinata Hyuuga dulu. Haah… baik sekali dia. Kostum kan tidak murah.."
"Yeah," timpal Sakura setuju. Seharusnya itu bukan masalah besar bagi Hinata, karena gadis itu memang berasal dari salah satu keluarga terpandang di Konoha. Tapi lebih dari itu, Hinata memang dikenal murah hati.
"Tapi masalahnya, panitia yang bertanggungjawab seperti Hinata hanya segelintir diantara anak-anak malas yang lain. Astaga…" keluh Ino lagi. "Ada saja alasan anak-anak danus mangkir kalau disuruh ngumpul. Yang lain juga. Rakor—rapat koordinator—kemarin juga hanya sedikit sekali yang datang."
"Oh, jadi kau jadi koordinator bidang danus?"
"Yeah," sahut Ino sambil mengangkat bahu dengan sikap bosan, "Habis, yang lain tidak ada yang mau."
"Seharusnya Menma menegur mereka, kan?" Sakura mengerutkan kening.
"Menma sudah menegur mereka. Tapi kau tahu cowok itu, kan?" Ino melirik Menma dengan pandangan prihatin. "Menurutku dia kurang tegas, terlalu lembut. Kadang-kadang aku kasihan padanya. Apa-apa harus dia yang mengerjakan, karena hanya segelintir orang yang punya hati untuk mendengarkannya. Apalagi anak-anak kelas tiga. Mereka benar-benar menyebalkan! Sepertinya di pemilihan ketua OSIS nanti kita harus mendapatkan yang lebih tegas—galak lebih baik. Ya ampun.. kenapa orang-orang macam Neji dan Temujin tidak tertarik mencalonkan diri di pemilihan tahun kemarin, sih? Dan kau tahu cowok yang jadi koordinator bagian logistik? Dia lebih parah dari Shikamaru…"
Sakura hanya bisa nyengir dan manggut-manggut melihat temannya itu mengomel dan marah-marah soal koordinasi panitia yang menurutnya kurang oke. Sepertinya kesibukkannya di kepanitiaan festival sekolah telah mengembalikan kebawelannya kembali.
"Kalau festival band sudah selesai, aku pasti anak menyeret mereka semua membantuku mengumpulkan dana!" Ino mengakhiri omelan panjangnya dengan wajah penuh tekad.
"Tapi kan Shikamaru terlibat di drama juga. Bagian musik latar," kata Sakura mengingatkan. "Dia pasti akan mengajak Chouji dan yang lain untuk membantunya… Sai juga sudah di bagian pubdok—publikasi dan dokumentasi."
Ino langsung lesu. "Benar juga…"
Sakura tersenyum, menepuk pundak sahabatnya itu. "Tapi aku yakin mereka mau bantu. Apalagi Naruto. Kau tahu dia, kan? Naruto pasti dengan senang hati akan membantumu."
"Kau benar," Ino membalas senyumnya. "Omong-omong soal Naruto, sepi ya tidak ada dia…"
Sakura menghela napas. "Ya…" desahnya.
Hari ini Naruto, Sai dan yang lain memang mengambil dispensasi untuk mengikuti jadwal manggung di festival band di KCS. Tadinya Sakura tidak terlalu memikirkannya, tetapi setelah disinggung-singgung soal ketidakhadiran cowok yang biasanya paling vokal dan hiperaktif di antara anak-anak angkatan mereka, ia merasa sedikit kesepian juga. Rasanya ada yang kurang kalau tidak mendengar suara keras Naruto yang menyapanya di koridor setiap hari.
"Aku akan pergi ke KCS setelah ini," beritahu Ino kemudian. "Yeah, aku akan bolos pelajaran," imbuhnya setelah melihat tampang Sakura, "dan jangan menatapku seperti itu, Sakura."
"Tapi kan kau bisa datang setelah jam pulang!" kata Sakura, tak bisa menahan nada mencela setelah mendengar kata-kata 'bolos pelajaran' meluncur dari bibir temannya. "Aku juga akan ke sana. Kita bisa bareng."
Ino meringis. "Aku tahu kau akan bilang seperti itu, Sakura. Tapi aku benar-benar ingin pergi. Memikirkan mereka akan manggung tanpaku membuatku gila. Setidaknya aku harus menjenguk mereka, kan? Lagipula habis ini pelajaran Sejarah, tidak terlalu penting…" Ino mengatakan ini sambil berbisik pelan, karena tepat saat itu, Pak Namiashi, guru yang mengajar Sejarah kebetulan sedang lewat di dekat mereka sebelum kemudian menghilang di balik rak bagian buku-buku ilmu sosial.
Sakura menatap gadis pirang itu dengan dahi berkerut, mencela. Karena bagi Sakura, tidak ada pelajaran yang tidak penting. Meski begitu, ia memilih untuk tidak berkomentar ataupun membantah Ino. Hanya akan buang-buang tenaga saja. Kalau Ino sudah bilang seperti itu, tidak akan ada yang bisa membelokkannya. Ino memang keras kepala. Seharusnya ia bergabung di tim debat saja.
"Ya sudah, kalau begitu aku pergi sekarang." Ino baru saja bangkit dari bangkunya saat Sakura menahannya. Gadis itu menoleh, menatap Sakura. "Kau tidak bisa menghalangiku, asal kau tahu saja."
"Aku tidak akan menghalangimu—seperti aku bisa melakukannya saja." Sakura memutar matanya. "Semalam Sasuke memintaku merekam mereka manggung untuknya. Kau bisa membantuku?"
"Sasuke? Oh, wow! Ternyata kalian tidak pernah kehilangan kontak, ya," komentar Ino sambil tertawa. Di depannya, Sakura tersenyum simpul. "Oke. Kau bawa kameranya?"
"Yap. Ada di lokerku…" Sakura ragu sejenak. Beberapa saat ia melirik arlojinya, sudah hampir bel jam pelajaran berikutnya. Barangkali Neji memang tidak akan datang, pikirnya.
"Lho, bukannya kau sedang menunggu Neji?" tanya Ino heran begitu melihat Sakura menutup bukunya dan beranjak. "Biar aku saja yang ambil. Beritahu saja nomor kombinasi lokermu."
Sakura melangkah menuju salah satu rak untuk mengembalikan bukunya ke tempat semula. "Kurasa dia tidak akan datang," gumamnya muram. Gadis itu kemudian berbalik untuk menatap Ino yang mengikutinya. "Dan aku tidak akan memberikan nomor kombinasi lokerku pada siapa pun, termasuk kau."
Mata biru Ino membeliak, menatap Sakura tak percaya. Gadis pirang mantan kapten tim pemandu sorak itu berkacak pinggang, mulutnya membuka. "Hei, kau tidak percaya padaku?!"
Betapa herannya ketika melihat temannya malah tertawa sambil mengibas-ibaskan tangan. "Aku hanya bercanda, Ino," ujar Sakura enteng. "Ah, sudahlah. Kita ke lokerku sekarang?"
Kedua gadis yang sudah bersahabat sejak kecil itu lantas meninggalkan perpustakaan menuju koridor loker mereka di lantai satu. Baru setengah jalan mereka berjalan menuju loker Sakura, mereka berpapasan dengan serombongan cewek-cewek populer yang sepertinya baru kembali dari kantin. Mereka semua mengenakan jaket tim pemandu sorak Konoha High dan sedang ramai mengobrol. Biasanya kalau berpapasan seperti itu, mereka akan mengacuhkan Sakura si kutu buku dan hanya menyapa Ino saja. Tetapi betapa terkejutnya mereka—Sakura juga—ketika salah satu dari gadis itu, yang adalah pemimpin dari kelompok itu menyapa Sakura agak kelewat ramah.
"Hai, Karin," balas Sakura, tak bisa menyembunyikan rasa herannya. Ia bertukar pandang dengan Ino, yang kemudian mengangkat bahu.
"Er… bisa bicara sebentar, Sakura? Boleh kan, Ino?"
Belum sempat Sakura maupun Ino membuka mulut untuk mengatakan sesuatu, gadis berkacamata itu sudah menyambar lengan Sakura. Masih dengan senyum-yang-Sakura-tidak-mengerti-apa-maksudnya, Karin membawanya menjauh dari yang lain.
"Aku tunggu kau di loker, Sakura!" seru Ino.
Sakura memandangnya dari atas bahu Karin, kemudian mengangguk. Ia melihat Ino berbalik dan berjalan menuju lokernya sebelum kemudian memandang Karin, melempar pandang bertanya padanya.
"Well," Karin memulai. Gadis itu terlihat agak canggung. Ia berdeham kecil sebelum melanjutkan, "Soal yang kemarin malam… er… aku akan sangat menghargai kalau kau tidak menceritakannya pada orang-orang."
Kedua alis Sakura terangkat tinggi. Mulanya ia sama sekali tak mengerti apa yang sedang dibicarakan Karin, sebelum ia teringat melihat gadis berambut merah menyala itu keluar dari sebuah optik semalam. Tapi bukan itu, jelas bukan itu sama sekali. Melainkan dengan siapa ia keluar dari sana semalam.
Suigetsu Hozuki.
Dan Sakura sempat melihat mereka bergadengan tangan sebelum akhirnya buru-buru saling melepaskan diri begitu melihatnya.
Setengah mati Sakura menahan diri untuk nyengir, mempertahankan ekspresinya tetap datar. Sopan.
"Aku bisa habis kalau teman-temanku sampai tahu," lanjut Karin dengan nada memohon. "Please, anggap saja kau tidak melihat apa-apa semalam."
"Aku mengerti," sahut Sakura.
Yeah, ia mengerti betul bagaimana pandangan cewek-cewek itu tentang cowok yang bergabung di klub non-olahraga. Bergaul dengan mantan anggota tim pemandu sorak, Sakura barang tentu sudah tahu tentang aturan tidak tertulis di kelompok itu bahwa kalau memilih teman kencan, setidaknya harus memilih atlit—cowok-cowok dari klub olahraga seperti sepak bola, basket atau yang lain—atau cowok yang sama 'keren'nya seperti mereka. Yang berarti cowok-cowok bertampang superior seperti Sasuke atau Neji sudah pasti diincar, tidak peduli mereka bukan atlit. Ia juga pernah mendengar gosip kalau ada di antara mereka yang mengincar Naruto sejak ia membawa tim sepak bola sekolah mereka memenangi pertandingan persahabatan dengan Iwa beberapa waktu yang lalu.
Ketahuan mengencani 'cowok drama' seperti Suigetsu, pastilah bisa mencoreng nama baik. Padahal tidak ada salahnya kalau memang suka, pikir Sakura. Lagipula Suigetsu juga lumayan good-looking—ia punya cengiran 'taring' yang manis.
"Janji tidak akan cerita pada siapa-siapa?" Karin tampaknya masih belum begitu yakin, mengingat Sakura memiliki alasan sah untuk menghancurkan reputasinya dengan gosip itu.
Menahan diri memutar matanya, Sakura mengangkat sebelah tangan, membuat isyarat seperti sedang mengunci bibirnya. "Aku tidak akan bilang siapa-siapa. Janji."
Setelah beberapa saat menatap Sakura, meyakinkan dirinya sendiri kalau si kutu buku itu bisa memegang janjinya, ia terlihat sedikit lega. "Trims, Sakura…" ucapnya sambil menyunggingkan senyum manis. "Dengar, aku janji setelah ini akan lebih banyak bekerja untuk proyek Biologi kita."
"Aku pegang janjimu," kata Sakura. Selama ini yang lebih banyak bekerja untuk proyek kelompok Biologi mereka hanya Sakura dan Chouji sementara Karin lebih sibuk dengan dirinya sendiri. Ini juga yang menjadi salah satu alasan hubungan keduanya menjadi tidak begitu baik—diluar masalah Sasuke, tentu saja. Sakura sering jengkel setengah mati padanya karena ini, dan sekali mereka pernah bertengkar seru di lab sebelum dilerai oleh guru mereka.
"Um… aku juga minta maaf atas sikapku selama ini," kata Karin lagi, membuat Sakura agak terkejut. Ini kali pertama ia melihat gadis angkuh seperti Karin meminta maaf.
"Aku juga tidak memperlakukanmu lebih baik. Jadi kurasa kita impas saja." Sakura mengulurkan tangan padanya, tanda berdamai.
Karin langsung menyambutnya. "Oke."
Kedua gadis itu bertukar senyum. Sakura merasa lega. Setidaknya sudah berkurang satu orang yang mencapnya sebagai 'nerd'.
"Jadi apa maunya cewek itu?" tanya Ino penasaran begitu Sakura menghampirinya di depan loker. Ino sedang bersandar dengan tampang bosan di loker kosong yang tadinya milik Sasuke.
"Hanya obrolan kecil saja, tidak begitu penting," sahut Sakura sambil membuka kombinasi kunci lokernya.
"Hanya obrolan kecil, eh? Tapi sepertinya menarik."
Sakura tahu Ino sedang berusaha memancingnya. Dasar ratu gosip. Meskipun ingin, tapi ia sudah janji pada Karin untuk tutup mulut. Dan Sakura bukan tipe yang suka ingkar janji. Ditariknya tas mungil berisi handycam kesayangan pemberian mendiang ayahnya dari dalam loker lalu menjejalkannya ke tangan Ino. "Memang tidak menarik," tukasnya, memelototi temannya itu.
Ino mengerucutkan bibirnya, pura-pura kesal. Sedetik kemudian tampang kesalnya langsung berganti dengan cengiran lebar. Mata birunya terpacang pada sosok dari atas bahu Sakura. "Neji Hyuuga," celetuknya sambil menunjuk ke ujung koridor, membuat hati Sakura mencelos seketika. "Sepertinya pangeranmu itu sedang mencarimu."
Menahan napas, Sakura berbalik. Benar saja, Neji terlihat di dekat tangga di ujung koridor, menoleh ke sana kemari. Jelas sekali sedang mencari sesuatu—atau seseorang.
"Oh tidak…" bisik Sakura cemas. "Dia pasti marah aku tidak ada di perpus menunggunya."
"Tapi dia tidak kelihatan marah," komentar Ino.
Tepat saat itu Neji melihat ke arah mereka. Cowok itu melambaikan tangannya sekilas, dan setelah yakin orang yang dicarinya juga sudah melihat ke arahnya, ia berjalan mendekat.
"Ehm… sepertinya aku harus pergi sekarang, Sakura. Sampai ketemu di KCS!"
"Tidak, tunggu I—" belum sempat Sakura menyambar lengan Ino untuk menahannya, gadis pirang itu keburu berkelit menjauh. Sakura melihat sahabatnya itu mengedipkan mata, mengikik sementara ia berjalan menuju pintu utama. Ino mengucapkan 'good luck!' tanpa suara sebelum akhirnya menghilang di pintu.
Sakura mengumpat pelan. Dengan gugup ia berpaling untuk menutup lokernya. Dengan helaan napas dalam, Sakura berusaha menenangkan diri. Kemudian ia memutar tubuhnya, memasang senyum yang paling manis—tapi karena ia gugup, senyumnya lebih mirip ringisan kuda.
"Ha—"
"Sori," potong Sakura, menahan napas, "Tadinya aku menunggumu di perpus, sungguh…"
Selama beberapa saat, Neji menatapnya dengan ekspresi bingung. "Ah, itu…" ia menyeringai tipis, "Aku mengerti. Tidak apa." Entah mengapa ia terlihat agak gugup. "Justru aku yang harusnya minta maaf karena membuatmu menunggu. Salahku.."
"Eh?"
"Well… Hari ini sepertinya aku agak banyak pikiran sampai lupa janji kita. Maaf…"
Normalnya, Sakura pasti akan langsung pasang tampang jengkelnya yang paling sangar dan bersiap memuntahkan komentar-komentar sadis, karena—normalnya—gadis itu paling benci kalau disuruh menunggu. Lebih benci lagi kalau orang yang ditunggunya malah lupa janji mereka. Tapi berhubung situasi ini—maksudnya tentu saja, perasaannya terhadap orang itu, alias Neji—di luar batas kenormalan, maka ia tidak marah. Sama sekali. Sebaliknya, ia malah tersenyum manis.
"Kelas tiga pastilah sangat sibuk, ya?" ujarnya lembut.
"Begitulah," Neji mengangkat bahunya, tersenyum tipis. Keduanya terdiam sesaat. "Kudengar Uzumaki dan yang lainnya manggung hari ini."
Sakura mengangguk, dalam hati bertanya-tanya kemana arah pembicaraan mereka. Apakah seperti yang sedang dibayangkannya? "Ya…"
"Kau akan pergi menonton mereka setelah jam sekolah?" tanya Neji lagi.
"Tentu saja." Harapannya melambung.
"Bagaimana kalau kita pergi bersama?"
Setengah mati Sakura menahan diri untuk melonjak-lonjak kegirangan. Dengan cengiran tertahan gadis itu mengangguk. "Baiklah!"
Ups! Agak terlalu bersemangat…
-
-
Sementara itu di Konoha City Square tempat diadakannya festival band, suasananya tidak seramai saat acara pembukaan beberapa hari yang lalu. Bukan hal yang aneh sebenarnya, karena selain band-band umum, sebagian peserta yang lain adalah pelajar sekolah. Begitu pula dengan penontonnya. Dan karena saat itu masih jam sekolah, penonton yang hadir didominasi masyarakat umum saja, yang tentu saja tidak seantusias para remaja kelebihan energi itu.
Tapi faktor penonton yang sedikit tidak lantas membuat para peserta menjadi lebih santai. Karena dengan lengangnya lapangan itu, para panitia yang menjadi juri di festival itu terlihat dengan jelas dari atas panggung, membuat mereka semakin tegang.
"Wow, mukamu pucat sekali," komentar Naruto pada sang keyboardist, Sai, begitu band mereka baru saja turun panggung setelah penampilan putaran pertama mereka.
"Rasanya lebih tegang dari saat pembukaan," gerutu Sai sambil menggosok-gosokkan kedua tangannya yang dingin. "Tanganku rasanya beku."
"Aku juga," gumam Naruto sambil merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel dan earphone. "Apa tadi suaraku oke?"
"Hn," sahut Sai dengan tampang tegang.
Bukan hanya Sai, yang lain juga begitu. Zaku terus-terusan memasang tampang sangar dan tidak banyak bicara. Chouji makan keripik kentang lebih banyak dari pada biasanya untuk mengatasi ketegangan. Sementara Naruto, earphone tidak pernah lepas menyumpal telinganya—kecuali saat manggung, tentu saja. Benar-benar cemas kalau-kalau ia melupakan lirik yang harus dinyanyikannya di atas panggung. Sepertinya yang tidak terlihat tegang hanyalah Shikamaru. Sang leader itu malah sempat-sempatnya tidur dulu sebelum naik panggung tadi.
"Kerja bagus, teman-teman," kata Shikamaru yang baru saja muncul dari sisi panggung. Ekspresinya yang santai sangat kontras dengan teman-temannya yang berkeringat dingin. Cowok berkucir itu kemudian menurunkan gitarnya. "Pertahankan untuk nanti sore."
Yang lain menjawab dengan gerutuan. Mereka mengucapkan 'Semoga berhasil!' pada Alpha Band yang akan naik panggung setelah ini, sebelum kembali ke van Shikamaru untuk beristirahat. Naruto dan Sai tinggal untuk menonton junior mereka.
Seorang pria berseragam kelabu rapi sudah menunggu di dekat van hijau itu ketika Shikamaru, Chouji dan Zaku sampai di sana. Pria itu membawa sebuah kotak berukuran lumayan besar yang dibungkus kain linen putih dan sebuah termos di tangannya. Ia menoleh dan menyunggingkan senyum tipis pada mereka.
"Maaf, Anda mencari siapa?" tanya Shikamaru sopan.
"Um… Apakah Tuan Uzumaki ada di sini?" pria itu balik bertanya.
Shikamaru dan kedua temannya bertukar pandang. "Maksudmu Naruto Uzumaki?"
"Ya, ya… Naruto Uzumaki." Pria itu mengangguk. "Apa dia ada?"
"Kalau Naruto sih ada di depan, sedang nonton," jawab Chouji. "Memangnya ada perlu apa, Paman?"
"Nona menyuruhku mengantarkan ini pada Tuan Naruto Uzumaki." Pria itu mengangkat bungkusan dan termos yang dibawanya. "Atau pada teman-temannya."
"Nona?" celetuk Zaku ingin tahu. "Nona siapa?"
Belum sempat pria itu membuka mulut untuk menjawabnya, Shikamaru menyela, "Kami teman-temannya. Nanti akan kami sampaikan titipannya pada Naruto."
"Oh, terimakasih banyak!" Pria itu tampak lega. Ia memindahtangankan kotak dan termosnya ke tangan Shikamaru setelah Shikamaru meletakkan gitarnya di van. "Kalau begitu saya permisi." Pria itu lantas berbalik pergi.
"Nona siapa, sih? Penggemarnya Naruto?" Zaku masih penasaran, menatap punggung pria itu menjauhi van mereka.
Shikamaru meletakkan bungkusan dan termos yang diberikan pria tadi di atas tumpukan kotak-kotak pengeras suara. "Kau tidak lihat simbol api di seragamnya?"
"Simbol keluarga Hyuuga," ujar Chouji pada Zaku yang tampak masih bingung. Cowok berambut merah itu mendekat ke kotak di atas meja dengan ekspresi antusias, hidungnya mengendus-endus. "Hmm… Baunya enak sekali…"
"Sebaiknya tunggu sampai Naruto datang, Chouji," kata Shikamaru pada Chouji sepertinya sudah gatal ingin membuka bungkusan itu.
Chouji menurunkan tangannya, tampak agak kecewa. Menelan ludah, ia pun berpaling dari bau menggoda yang menguar dari bungkusan itu dan menghenyakkan diri di tumpukan kotak-kotak yang lain. Mata sipitnya masih mengawasi bungkusan di seberangnya, perutnya mendadak bergemuruh keras sekali. Shikamaru yang melihat itu hanya menggelengkan kepala, lalu mengambil kotak permainan shogi dari dalam van.
"Hinata, ya?" Zaku mendengus, "Enak sekali Naruto. Kemarin juga dikirimi makanan. Haaah… Hinata, my lady, kenapa naksirnya sama Naruto, sih? Padahal jelas ada yang lebih cakep di sini…" gerutunya.
"Jangan cerewet. Nanti juga kau dibagi," gumam Shikamaru sambil mengatur bidak-bidak di atas papan. "Dari pada sibuk iri pada Naruto, lebih baik kau temani aku main."
"Aku tidak iri pada Naruto!"
Shikamaru memutar matanya.
Beberapa menit kemudian, saat Zaku kalah main shogi dari Shikamaru untuk yang ketiga kalinya, Naruto dan Sai akhirnya datang. Ketegangan sudah tidak tampak dari wajah keduanya, mereka tampak lebih riang. Mendengar apa yang mereka ceritakan tentang penampilan junior mereka barusan, sepertinya Alpha tampil bagus dan itu mendongkrak semangat mereka untuk penampilan nanti sore.
"Ada titipan untukmu," beritahu Shikamaru setelah Naruto mengakhiri ceritanya, sama sekali tidak memedulikan Zaku yang kembali mengatur bidak-bidak sambil menggerutu sebal. Ia menunjuk ke bungkusan dan termos di atas tumpukan kotak. "Tadi ada yang datang membawakan itu untukmu."
"Apa ini?"
Dengan penasaran, Naruto mulai membuka kain yang membungkus kotak di dalamnya. Chouji dan Sai ikut mendekat untuk melihat. Rupanya sebuah kotak makan siang empat tumpuk yang masih terasa hangat. Juga lima buah mangkuk kecil, dan secarik kertas pesan yang tersemat di bagian atasnya. Naruto mengambil kertas pesan itu, kemudian membuka kotaknya satu demi satu. Berbagai jenis makanan mengundang selera tersusuk dengan cantik di dalamnya, mulai dari nasi kepal dan berbagai macam lauk yang niscaya membuat air liur menetes hanya dengan melihatnya saja. Dilengkapi dengan sup miso hangat di dalam termos.
"Whoaa…"
Tanpa menunggu lama, cowok-cowok itu dengan barbarnya langsung menyerbu—setelah diizinkan oleh Naruto, tentu saja. Shikamaru dan Zaku juga meninggalkan permainan shogi mereka untuk menikmati makan siang yang cukup wah itu—roti selai yang sudah mereka bawa sebelumnya langsung terlupakan begitu saja.
Sambil membawa mangkuk penuh sup yang masih beruap dan mulut penuh tempura, Naruto membuka kertas pesannya.
Aku tidak bisa memberikan dukungan apa-apa selain ini.
Mudah-mudahan ini cukup.
Semoga sukses, semuanya!
SEMANGAT!!
-Hinata-
Cengiran lebar langsung mengembang di bibir Naruto. Sambil tertawa kecil, ia membaca kembali pesan yang teramat singkat itu. Hampir di setiap katanya, Naruto hampir-hampir bisa membayangkan bagaimana ekspresi gadis itu saat menulisnya. Bukan Hinata yang biasa, yang teramat sangat pemalu, melainkan Hinata yang riang—seperti yang pernah dilihatnya di panti asuhan tempo hari—yang mengucapkan kata-kata semangat dengan kepalan tangan teracung.
Entahlah, pikirnya sambil tertawa kecil. Memikirkan gadis Hyuuga itu membuatnya merasa aneh. Sama sekali berbeda dengan apa yang dirasakannya terhadap gadis lain, bahkan dengan Sakura sekalipun. Memang, menghabiskan waktu bersama Sakura membuatnya merasakan kehangatan yang menyenangkan, yang membuatnya ingin tersenyum setiap saat. Tetapi dengan Hinata… ada yang berbeda dalam caranya merasakan sesuatu pada gadis itu. Sesuatu yang tak bisa ia jelaskan.
Yang bisa ia jelaskan sekarang hanyalah, bahwa Hinata adalah teman yang sangat baik.
Perlahan Naruto meminum supnya. Aroma harum dan rasa gurihnya mengingatkannya pada sup buatan mendiang ibu angkatnya. Lezat sekali…
Ah, dan bahwa Hinata juga sangat pandai memasak.
"Trims, Hinata…" bisiknya seraya memasukkan gigitan terakhir nasi kepalnya ke mulut.
Tidak butuh waktu lama sampai isi kotak makan siang itu ludes. Bersih tak tersisa.
-
-
Suara dentuman musik yang berasal dari band yang sedang beraksi di panggung besar itu langsung menyapa telinganya begitu Ino menginjakkan kaki di arena festival. Untung saja tidak begitu penuh seperti hari akhir pekan kemarin, sehingga ia tidak perlu berdesakkan menembus kerumunan penonton.
Gadis pirang itu menjulurkan leher, mata birunya menjelajah di sekeliling tempat itu, mencari-cari wajah yang dikenalnya di antara para penonton dan peserta. Setelah memastikan apa yang dicarinya tak ada di sana, Ino langsung bergegas menuju area belakang panggung, tempat yang biasa digunakan para peserta festival berkumpul.
Ino menghela napas lega begitu menemukan van Shikamaru terparkir tidak jauh dari sana. Sai dan Zaku tampak sedang duduk-duduk di dekat van. Sai tengah asyik memainkan gitar akustik tua milik Naruto sementara Zaku menontonnya sambil memain-mainkan stik drum di tangannya. Shikamaru, Chouji dan Naruto tidak tampak di mana pun.
Kedua cowok itu menoleh begitu mendengar langkah kaki mendekat. Sai berhenti memetik senar dan Zaku mengernyit saat mereka melihat Ino.
"Ngapain kau kemari?" tanya Zaku dingin sebagai pengganti sapaan.
Ino memandangnya dengan khawatir. Kalau saja ia sedang tidak masih merasa bersalah saat itu, pastilah ia sudah melabrak cowok itu. Tetapi Ino memilih tidak membalasnya. "Aku hanya ingin menonton kalian," ujarnya pelan dengan senyum yang tertahan.
"Peduli apa kau setelah mencampakkan kami begitu saja?" tukas Zaku sinis. "Ingin menonton. Jangan membuatku tertawa, Ino."
Ino tampak terpukul mendengar perkataan Zaku, dan menatap punggung sang drummer dengan tatapan sedih ketika cowok itu beranjak pergi dari sana sambil menggerutu sendiri. Setelah melihat reaksi Zaku yang seperti itu, hatinya mendadak galau. Ia tidak yakin bagaimana sikap Shikamaru atau yang lain terhadapnya. Sejak mengumumkan pengunduran dirinya, Ino belum bicara lagi pada mereka.
Dengan takut-takut, ia berpaling untuk memandang Sai. Cowok itu sedang menatapnya juga. Mata onyx di balik lensa kacamata itu tidak menampakkan emosi sama sekali. Datar.
Ino melempar senyum ragu-ragu padanya. "Apa kau juga marah padaku, Sai?" tanyanya dengan suara pelan. "Kau tidak bicara apa-apa saat… yah, kau tahu, kan—saat aku bilang aku keluar."
Sai tidak langsung menjawab, melainkan menatap Ino selama beberapa saat lagi. Ia kemudian berpaling untuk meletakkan gitar Naruto pada tempatnya sambil menghela napas. "Jujur saja aku tidak tahu harus berkata apa, Ino," ujarnya lambat-lambat, "Keputusanmu begitu mengecewakan teman-teman, dan aku merasa kalau itu sesuatu yang salah."
Hati Ino langsung mencelos. "Kalau begitu kau marah padaku juga, kan?" keluhnya.
"Aku tidak bilang aku marah padamu." Senyum di wajah Sai saat mengatakannya membuat gadis di depannya sedikit terkejut. "Kurasa kau punya alasan sendiri untuk mundur dari band—yah, meskipun kau tidak mau mengatakannya pada kami—dan sebagai teman, aku harus menghargai keputusanmu. Naruto dan yang lain juga setuju denganku."
"Tapi Zaku—"
"Zaku hanya sedang emosi. Kau tahu dia, kan?" sela Sai tenang. Cowok itu beranjak dari duduknya dan mendekati Ino. "Jangan khawatir. Kami tidak marah padamu, apalagi membencimu. Bagaimana pun, kau juga bagian dari band ini."
"Sai…"
Kata-kata Sai sedikit banyak membuat hati Ino lebih tenang, seperti malam itu. Gadis itu kemudian membalas senyum Sai, meraih tangan cowok itu dan menggenggamnya. "Terimakasih banyak…"
Sai sedikit tersentak begitu Ino menyentuh tangannya barusan. Perasaan berdebar yang sejak tadi berusaha diredamnya kembali lagi begitu cepat sehingga ia tidak akan heran kalau wajahnya berubah merah padam dalam sekejap. Ia lantas menunduk, menandang tangannya yang bertaut dengan tangan Ino. Tanpa sadar ia telah membalas meremas tangan yang lebih kecil itu dengan lembut. "Sama-sama," ujarnya, memaksakan senyumnya yang biasa.
Ino melepaskan genggamannya dan memandang berkeliling—jelas sekali ia tidak menyadari perubahan ekspresi Sai. "Omong-omong, di mana Shikamaru dan yang lain?"
"Oh, mereka sedang ke kamar kecil," jawab Sai sambil berpaling, kembali duduk di tempatnya semula.
Ino mengikuti lalu duduk di sebelahnya. "Aku sudah sangat cemas kalian tidak diizinkan ikut serta lagi," desahnya. "Senang sekali ternyata tidak begitu."
"Shikamaru yang meyakinkan mereka agar kami dibolehkan ikut serta," kata Sai.
"Shikamaru memang paling pandai membujuk orang kalau dia mau," Ino tertawa kecil. "Akalnya memang bulus. Tapi berguna."
Sai mengangguk setuju. "Hanya saja kami diharuskan ganti nama," ujarnya, "Nama awal sudah tidak bisa digunakan lagi."
Tentu saja tidak bisa digunakan lagi, Ino membatin. Karena nama lama mengandung konten namanya. Dan sekarang, setelah ia sudah bukan lagi personil band itu, nama awal mereka otomatis tidak mungkin dipakai lagi.
"Kalian sudah menentukan namanya, kalau begitu?"
Sebelum Sai sempat menjawab. Shikamaru, Chouji dan Naruto muncul dari arah kamar kecil yang khusus disediakan untuk peserta.
"Ino!" sapa Naruto ceria—seakan tidak pernah ada konflik sama sekali. "Kau datang!"
"Naruto," balas Ino, balas nyengir, "Shikamaru, Chouji." Ia melambai pada dua yang lain. Chouji membalas sama cerianya sementara Shikamaru hanya menangguk.
"Eh, tunggu dulu…" Naruto yang hendak duduk di sebelah Ino mendadak berhenti. Keningnya berkerut dan ia memandang Ino curiga. "Sekarang masih jam sekolah, kan? Ngapain kau di sini?"
Gadis pemilik rambut pirang itu meringis. "Aku bolos jam terakhir untuk menonton kalian—eh, kalian belum tampil, kan?"
"Sayangnya sudah," kata Chouji sambil duduk di seberang Shikamaru yang sudah akan memulai permainan shogi lagi. "Dan kau juga melewatkan makan siang lezat kiriman Hinata Hyuuga."
"Hinata?" Kepala Ino otomatis menoleh pada Naruto yang sudah duduk di sebelahnya. Cowok itu balas memandangnya bingung.
"Kenapa memandangku seperti itu?"
"Tidak kenapa-kenapa," kata Ino sambil mengibas-ibaskan tangannya, benar-benar tak habis pikir. Tapi ia sedang tidak ingin membahasnya sekarang, karena ada sesuatu yang lebih menyita perhatiannya saat itu. "Yah… berarti aku terlambat," gerutunya kecewa, lalu menoleh pada Shikamaru. "Shika, kudengar kalian ganti nama."
"Oh, yah," sahut Shikamaru sambil mengangkat bahunya dengan sikap malas. Matanya tak lepas memandang papan shogi. "Ganti nama benar-benar merepotkan."
"Kau tahu nama baru kami sekarang?" Naruto berkata cerah. "'Volatile'!"
"'Volatile'?" Ino mengangkat alisnya.
"Yah, itu jelas lebih baik dari pada 'Band-Tanpa-Nama' atau 'The Troublesome', kan?" Naruto mengerling Shikamaru yang memang paling malas kalau disuruh menentukan nama. Nama awal band mereka juga menggunakan nama yang digunakan band ayah-ayah mereka dulu—tinggal ditambah 'junior'—saking tidak kreatif-nya. "Atau 'Keripik Kentang'." Naruto menahan geli sambil melirik Chouji.
"Haah.. kau sendiri mengusulkan 'The Beatles', 'Rolling Stone', 'WESTLIFE'…" balas Shikamaru.
Naruto langsung cemberut. Bibirnya maju.
"Sai yang mengusulkan nama 'Volatile'," beritahu Chouji.
Ino melempar senyum pada Sai. "Namanya oke juga, Sai," pujinya tulus.
"Thanks…" ucap Sai pelan, membalas senyumnya.
"Baiklah. Kalau tidak bisa merekam penampilan awal kalian…" Ino merogoh sesuatu dalam tasnya, lalu mengeluarkan handycam milik Sakura, menyalakannya, "…aku akan merekam kegiatan belakang panggung kalian. Special back stage…"
Ino mengarahkan kameranya pada Naruto. "Sakura yang minta. Katanya Sasuke menyuruhnya merekam kalian saat manggung," jelasnya menjawab tatapan bertanya Naruto.
Naruto mendengus keras. "Huh! Dasar cowok ngebos satu itu, bisanya menyuruh-nyuruh orang saja. Kalau mau nonton kan tinggal datang saja kemari! Begitu saja kok repot!" omelnya.
Ino hanya tertawa saja, sama sekali tidak menyadari ada yang mengawasinya sejak tadi dengan tatapan lembut.
Syukurlah kau sudah ceria lagi…
-
-
Neji sudah menunggunya di undakan depan untuk berangkat bersama-sama menuju Konoha City Square setelah pulang sekolah. Dengan senyum manis, Sakura menghampirinya dan mereka berjalan bersama menuju halte bus tak jauh dari sekolah sambil sesekali mengobrol. Sakura dengan penuh semangat menceritakan bagaimana serunya acara pembukaan festival akhir pekan lalu, termasuk saat mereka semua berkumpul di kedai pizza Ibu Anko Mitarashi.
"Sepertinya ramai sekali," komentar Neji kemudian. Saat itu mereka hampir sampai di halte. "Hinata juga kelihatannya sangat menikmatinya."
Tentu saja, Sakura membatin sambil menyunggingkan senyum lembut. Siapa yang tidak akan menikmati saat-saat kau bisa menghabiskan waktu bersama orang yang kau suka, seperti Hinata saat itu?—dan seperti ia saat ini…
Neji yang kemudian sadar sedang diperhatikan menoleh, memandang gadis di sebelahnya. "Ada apa?"
Sakura buru-buru berpaling. Wajahnya terasa hangat di udara yang dingin. "Ah, ti-tidak ada apa-apa," sahutnya gugup.
Rupanya tidak hanya satu dua anak-anak Konoha High yang akan pergi menonton festival band sore itu. Rasanya halte yang mereka tuju jauh lebih penuh daripada biasanya. Mereka bertemu serombongan besar cowok-cowok kelas tiga, beberapa anak-anak jurnal—termasuk adik sepupu Neji, Hinata—teman-teman Naruto di klub sepak bola, serombongan cewek kelas satu tukang mengikik dan anak-anak lain yang Sakura kenali wajahnya tapi tidak hapal namanya.
Sakura merasakan wajahnya seperti terbakar ketika mereka mulai menggodainya dengan Neji lagi dengan gosip lama—terutama yang datang dari rombongan teman-teman Neji yang usil. Mereka tak hentinya bersuit, melontarkan celetukan-celetukan nakal yang membuat muka merah dan menertawai mereka. Neji yang tampaknya tidak terlalu memedulikan, ikut tertawa hambar sambil berkali-kali berkata pada mereka, "Jangan ganggu dia."
Yang dimaksud dengan 'dia' tentu saja adalah Sakura yang tampangnya seperti mau pingsan. Sayangnya tidak ada yang berminat untuk mendengarkan Neji, kecuali Rock Lee yang ikut membela Sakura.
"Sebaiknya kalian pergi naik taksi saja deh," usul Lee pada Neji dalam bisikan. Matanya mengawasi Sakura yang sedari tadi berdiri diam di belakang Neji dengan tatapan khawatir. "Anak-anak mulai keterlaluan.."
"Yeah, kurasa kau benar," Neji mengangguk, mengerling gusar pada anak-anak yang masih terkekeh-kekeh, kemudian menoleh pada Sakura. "Kita pergi naik taksi saja, ya?"
"Eh?" Sakura mengerjap. Gadis itu seperti kehilangan kata-kata ketika Neji menarik tangannya menjauh dari halte—setelah sebelumnya juga mengajak Hinata, tapi sepupunya itu memilih untuk pergi naik bus bersama teman-temannya. Mereka kemudian naik ke dalam taksi yang sudah dipanggil oleh Lee untuk mereka.
"Thanks, Lee!" ucap Neji seraya memberi sobatnya itu tepukan di bahu.
"Yo! Sama-sama, teman! Kita ketemu di KCS! Bye bye, Sakura…" Lee menutup pintu setelah Neji masuk.
"Sori soal yang tadi," kata Neji setelah taksi yang mereka tumpangi mulai bergerak meninggalkan kawasan Konoha High. "Mereka kadang-kadang keterlaluan."
"Tidak apa. Ini bukan pertama kalinya, kok…" sahut Sakura pelan, memaksakan senyum. Saat masih duduk di sekolah dasar dulu, ia juga pernah mengalami hal yang sama. Hanya saja yang menjadi objek olok-olok adalah dahinya yang lebar. Dan setelah semua orang bosan dengan dahinya, mereka ganti mengatainya kutu buku atau Nona sok tahu. Memang, itu tidak sama dengan digosipkan punya hubungan dengan Neji. Tapi tetap saja membuat canggung dan malu.
"Aku tetap merasa harus minta maaf, karena mereka teman-temanku, Sakura," ujar Neji.
"Kalau mereka mengejekku—kita—karena peran di pementasan drama nanti, aku anggap itu adalah tantangan. Kalau begitu saja menyerah, Tenten bakal sedih. Dia pernah bilang padaku, ini termasuk dalam latihan mental. Seorang aktris yang baik harus tahan menerima hal-hal semacam ini, kan?" Sakura tertawa kecil. "Yah, walaupun awalnya keki juga."
Selang beberapa saat, Neji hanya menatapnya, seakan kehabisan kata-kata. "Wow," komentarnya kemudian, ujung-ujung bibirnya naik membentuk senyum yang selama ini sangat Sakura kagumi, "Kalau kau benar-benar menjadi seorang aktris nantinya, aku berani bertaruh kau bakal jadi aktris hebat."
Wajah Sakura memerah lagi, bahkan lebih merah dibanding saat anak-anak mengolok-oloknya dengan Neji beberapa menit yang lalu. Musim dingin mendadak terasa seperti musim semi yang hangat bagi gadis bermata hijau zamrud itu. Dan ia juga seakan baru menyadari betapa indahnya pemandangan di luar jendela.
Beberapa menit kemudian akhirnya mereka sampai di KCS. Tempat itu, terutama di area diadakannya festival, dipenuhi orang-orang yang hendak menonton. Sakura sempat melihat rombongan anak-anak yang mengenakan seragam Konoha Art Academy yang baru saja masuk ke pintu utama sebelum perhatiannya teralih pada anak-anak Konoha High yang ia kenal yang menyapa mereka, termasuk sekelompok cewek kelas tiga pengagum Neji yang langsung melempar pandang dengki ke arahnya.
Mengabaikan mereka, Neji kemudian mengajak Sakura bergabung di antrian yang akan memasuki pintu utama.
Suara dentuman musik yang berasal dari band yang sedang beraksi di panggung besar itu menambah suasana meriah di tempat itu. Para penonton dan beberapa panitia berbaur di depan panggung, berjingkrak-jingkrak mengikuti alunan musik, sementara yang lain memilih untuk menonton dari tepi sambil mengambil foto, sesekali menertawakan ulah para penonton lain yang berjoget gila-gilaan.
Di antara mereka yang menonton dari tepi keramaian, mereka melihat anak-anak teater, termasuk Yakumo, Tenten dan Kankurou. Ketiganya tampak larut dalam suasana meriah itu, tertawa-tawa menikmati alunan musik. Barangkali mereka tidak akan menyadari kehadiran Sakura dan Neji di sana seandainya saja Kankurou tidak sengaja memandang ke arah mereka datang.
"Lihat! Romeo and Juliet kita datang!" serunya mengatasi dentuman musik yang keras, menyambut mereka berdua.
"Alfredo dan Violetta," koreksi Tenten, memutar bola mata cokelat cemerlangnya. "Kau ini selalu saja lupa, Kanpachi!"
"Intinya kan sama saja; tokoh utama kita!" kekeh Kankurou. Ia berpaling lagi pada Neji dan Sakura yang baru tiba. "Halo, Neji, Sakura!" sapanya antusias, yang dibalas keduanya dengan 'hai' kaku.
"Kupikir kalian akan berlatih berdua lagi!" Tenten tersenyum lebar pada mereka.
"Sakura tidak akan melewatkan pertunjukan teman-temannya," sahut Neji. Sakura mengangguk antusias. "Aku juga ingin melihat kebolehan musisi yang kau pilih untuk drama nanti, Tenten."
"Shikamaru Nara sih tidak perlu diragukan lagi. Tenang saja. Dia keren kok!" seru Tenten sambil mengacungkan ibu jarinya. "Sebentar lagi mungkin mereka akan tampil."
Neji tersenyum sekilas padanya, sebelum berpaling pada satu-satunya orang yang sejak tadi berpura-pura tidak menyadari kehadiran mereka di sana. "Yakumo," sapanya ragu.
Gadis itu tidak bisa berpura-pura lagi. Ia pun menoleh, memasang senyum ceria. "Hai, Neji. Hai, Sakura…"
Meskipun Yakumo menyapa mereka dengan nada riang, entah mengapa Sakura merasa gadis itu agak kurang senang melihatnya. Suasana mendadak canggung. Berusaha mengabaikan perasaan tidak enak itu, Sakura memusatkan perhatiannya pada band yang sedang beraksi di atas panggung.
The Glossy sedang beraksi di atas panggung. Band cewek-cewek asuhan Shikamaru Nara itu tampil habis-habisan. Keringat mengucur deras di wajah para personilnya, padahal saat itu udara begitu dingin. Dengan penuh semangat, Sasame Fuuma, gadis berambut oranye panjang dikucir tinggi yang menjadi lead vocalist mereka bernyanyi sambil berjingkrak-jingkrak di sisi kanan panggung, sementara second vocalist mereka beraksi di sisi kiri panggung, menggiring penonton untuk koor bersama mereka.
Tak lama kemudian, mereka melihat anak-anak Konoha High yang tadi menunggu bus di halte bergabung di kerumunan penonton yang berjoget di depan panggung, turut berjingkrak-jingkrak bersama yang lain. Tenten dan Kankurou tertawa keras melihat tingkah orang-orang itu.
"Wuih.. ramai sekali, ya!!"
Mereka semua menoleh dan melihat Lee datang mendekat bersama Hinata dan Kiba yang sudah memegang kameranya, siap mengambil gambar untuk jurnal mereka.
"Sasame Fuuma, d-dari The Glossy, kan?" Sakura bisa mendengar Hinata menanyai Kiba yang asik memotret penampilan gadis-gadis itu dari kejauhan, lalu ke rombongan anak-anak Konoha High yang berkerumun di depan panggung.
"Yap! Cewek manis itu enerjik sekali di atas panggung," Kiba terkekeh-kekeh, kemudian menoleh pada Hinata. "Kau mau melihat lebih dekat, Hinata? Kurasa lebih bagus kalau memotret lebih dekat."
Hinata menggeleng perlahan. "T-tidak usah, aku di sini saja."
"Ya sudah," Kiba mengangkat bahu, lalu mendekat ke arah panggung supaya bisa melihat lebih jelas.
Setelah Kiba menghilang di kerumunan, Hinata bergerak lebih dekat dengan kakak sepupunya, melempar senyum hangat pada Sakura. "S-Sakura tidak ikut melihat dari dekat?" gadis itu bertanya lembut.
Sakura menjawabnya dengan gelengan kepala. "Tidak. Dari sini juga cukup jelas."
Mata Hinata sejenak mengerling Neji yang sedang diajak mengobrol oleh Kankurou, senyum penuh arti kembali tersungging di bibirnya ketika ia kembali menatap Sakura. Hinata sama sekali tidak berkomentar, tetapi tatapan matanya yang melembut itu mendadak membuat Sakura gugup. Sepertinya ia tahu Sakura menyukai kakak sepupunya.
Beberapa saat kemudian, tawaran untuk 'turun' mendekat ke arah panggung kembali datang. Kali ini datangnya dari Lee. Sakura menyunggingkan senyum tidak enak pada Lee yang tampak agak kecewa dengan penolakannya, tetapi kemudian cowok itu balas nyengir dan beralih pada gadis lain. Yakumo, yang langsung menerimanya dengan senang. Lee menoleh pada Neji.
"Tidak apa-apa, kan, Neji?"
Neji meringis. "Silakan saja," gerutunya.
"Come on, My Lady…" Lee menggandeng Yakumo bergabung dalam kerumunan penonton.
Kankurou memelototi mereka menjauh, sebelum kemudian menyambar tangan Tenten. "Kita juga turun, yuk!" ajaknya. Tenten sama sekali tidak memprotes.
"Kalian tidak ikut?" seru Tenten sambil menoleh pada yang lain sementara Kankurou membawanya menuju kerumunan.
"Kami di sini saja," sahut Neji. Kedua tangannya tenggelam di dalam saku mantelnya. Ia mengawasi ketika Tenten dan Kankurou bergabung di kerumunan penonton menyusul Lee dan Yakumo.
Dari kejauhan, mereka bisa melihat empat orang itu di dekat panggung bersama penonton yang lain, berjingkrak-jingkrak dan tertawa-tawa. Kelihatannya asyik sekali. Melihat itu, Sakura tak bisa menahan diri berharap Neji akan mengajaknya juga. Tapi Neji sama sekali tak menampakkan tanda-tanda ke arah sana.
Sakura kemudian menuruti dorongan hatinya untuk melirik ke arah Neji yang berdiri di sebelahnya. Tampaknya ia tidak terlalu menikmati pertunjukan itu. Matanya memang terpacang ke depan, tetapi ekspresinya kosong, seakan suara dentuman musik hanya lewat begitu saja di telinganya tanpa meninggalkan kesan apa pun. Sama sekali berbeda dengan Hinata yang berdiri di sisi lain Neji. Gadis berparas lembut itu terlihat sangat antusias, meskipun tidak heboh seperti yang lain. Mata lavendernya yang besar mengawasi para penonton asyik berjoget dengan ekspresi tertarik.
Beberapa saat berselang, akhirnya Neji menyadari tatapan Sakura padanya. Ia menoleh.
Sakura terkejut. Mata zamrudnya mengerjap ketika dilihatnya Neji menoleh ke arahnya dengan tatapan bingung. Cepat-cepat ia berpaling. Wajahnya memanas, malu karena telah tertangkap basah dengan memandangi cowok itu.
"Kau haus, Sakura?" ia mendengar Neji menanyainya.
"Eh?" kepala Sakura otomatis menoleh lagi padanya.
"Mau kubelikan minuman? Kau mau juga, Hinata?" Neji beralih pada adik sepupunya.
"Ya, Kak. Terimakasih," sahut Hinata ceria.
Dengan senyum tipis terakhir, Neji berbalik meninggalkan kedua gadis itu dan berjalan menuju stand minuman yang jaraknya agak jauh dari sana. Ekor mata Sakura mengikuti sosok Neji sampai ahirnya punggungnya menghilang di antara orang-orang yang berlalu-lalang.
Sorakan riuh penonton seketika mengalihkan perhatian Sakura. Rupanya The Glossy telah mengakhiri penampilan mereka, diiringi tepuk tangan meriah dari penonton. Di sebelahnya, Hinata turut bertepuk tangan antusias bersama penonton lain.
"M-mereka main b-bagus sekali, ya…" seru Hinata dengan suaranya yang halus.
"Yeah…" sahut Sakura.
"Kak Neji sebenarnya tidak begitu menyukai acara-acara musik seperti ini," beritahu Hinata kemudian. Sakura memutar kepala ke arahnya dan mendapati adik sepupu Neji itu tersenyum tipis. "A-agak kaget juga waktu tahu Kak Neji mengajak Sakura kemarin. B-biasanya Kakak lebih senang mendengarkan musik-musik klasik dan jazz, menonton resital atau pertunjukan teater…"
Entah mengapa Sakura tidak bisa menahan dirinya nyengir saat dilihatnya tatapan penuh arti Hinata.
"Butuh hiburan yang berbeda setelah ujian di Ame, barangkali," sahutnya ringan sambil mengangkat bahu.
"B-benar juga, ya…" Hinata tertawa kecil.
"Forehead girl!!"
Mendengar suara yang sudah dikenalinya—selain panggilan itu, tentu saja—mata Sakura segera mencari-cari sumber suara. Sesosok gadis berambut pirang yang dikucir kuda baru saja muncul dari kerumunan penonton, melambaikan tangan ke arahnya sementara tangan yang satu lagi memegang handycam milik Sakura. Ino berlari-lari kecil menghampirinya.
"Dapat gambarnya?" Sakura menanyainya langsung begitu Ino sampai di dekatnya.
"Aku terlewat putaran pertama," Ino memajukan bibirnya, "Gara-gara mengobrol denganmu tadi, sih… Tapi aku dapat special back-stage mereka," gadis itu menambahkan dengan cengiran lebar. "Dijamin Tuan Uchiha itu akan senang melihatnya nanti—atau muntah-muntah."
Sakura mendengus tertawa. "Seperti mereka sudah menjadi band ngetop saja ada special back-stage segala." Ia menggeleng-gelengkan kepala.
Ino tertawa renyah, lalu berpaling pada Hinata. "Hei, Hinata, apa aku sudah terlihat seperti anak jurnal?" Ino memasang pose dengan kamera di tangannya.
Hinata ikut tertawa bersama mereka. "I-Ino berbakat jadi jurnalis," ujarnya lembut, membuat Ino nyengir lebar padanya. Hinata memang punya kecenderungan untuk berkata hal-hal yang menyenangkan seperti itu pada orang-orang, dan selalu terdengar sangat tulus.
"Kalian datang berdua?"
"Um… tidak juga," sahut Hinata dengan senyum lembut yang sudah jadi ciri khasnya, "Kami datang ramai-ramai," Hinata melambaikan tangannya ke arah penonton, di mana mereka melihat sekumpulan anak-anak Konoha High, "Tapi Sakura tadi datang bersama Kak Neji. Iya, kan, Sakura?"
Hinata mengatakannya dengan begitu lembut, tanpa terkesan sedang memojokkan Sakura sama sekali, membuat gadis berambut merah muda itu tersipu, alih-alih membeliak galak pada Hinata.
"Ah… Neji, huh?" Ino menyenggol lengan Sakura, nyengir lebar.
"Diamlah…" gerutu Sakura. Meski begitu, ia tak mampu menyembunyikan senyumnya.
"Tapi di mana dia sekarang?" Ino mengedarkan pandangannya, mencari-cari sosok Neji yang tak tampak di mana pun.
"Kakak sedang ke stand minuman," kata Hinata.
"Oh…"
Perhatian para gadis itu langsung teralih begitu MC yang membawakan acara muncul di panggung.
-
-
Suasana belakang panggung langsung riuh begitu para gadis personil The Glossy muncul. Wajah ketujuh gadis itu sumringah meskipun tampak agak letih—terutama kedua vocalist-nya yang wajahnya sudah merona kemerahan. Dua cowok kelas tiga yang memanageri mereka—sekaligus dua band yang lain—langsung menyambut dengan tepukan tangan sambil mengedarkan air mineral untuk masing-masing personil.
"Sukses?" tanya Naruto pada Sasame yang tengah menenggak sebotol air mineral.
"Pastinya!" sahut gadis itu ceria. "Penontonnya lebih heboh dari yang tadi siang. Banyak anak-anak Ko-High juga!"
Naruto nyengir lebar, lalu menoleh pada teman-teman personil bandnya. Keempat cowok di belakangnya balas memandang sambil melempar senyum yakin. Kesuksesan The Glossy menghibur penonton nampaknya semakin mengobarkan semangat mereka untuk menampilkan yang lebih baik, terlebih setelah keluarnya Ino dari formasi lama band yang mengharuskan mereka memulai kembali dari awal. Setelah latihan keras yang dijalani—sampai pakai acara menginap di studio Shikamaru segala—tentu saja mereka tidak ingin penampilan yang hanya biasa-biasa saja. Naruto merasa sangat bersemangat. Sama bersemangatnya seperti saat ia menghadapi pertandingan persahabatan sepak bola melawan tim Iwa beberapa waktu yang lalu.
Suara celotehan para MC terdengar dari arah panggung, memberi jeda sebelum penampilan band selanjutnya, sekaligus memberi kesempatan untuk para penonton beristirahat sejenak.
"Baiklah teman-teman," Naruto bisa mendengar Shikamaru berseru pada mereka, "Kita harus segera naik pentas. Usahakan lebih bagus dari yang tadi. Ayo, semuanya bersiap-siap!"
"YOSH!!"
Kelima cowok itu kemudian berkumpul membentuk lingkaran kecil, menyatukan tangan mereka.
"Volatile… GO!!"
-
-
Suara sorakan dari arah rombongan anak-anak Konoha High langsung bergemuruh begitu sesosok cowok berambut pirang muncul dari belakang panggung, disusul sosok-sosok lain yang juga mendapatkan sambutan yang sama meriahnya.
"Ah, N-Naruto…" desah Hinata penuh kekaguman saat melihat Naruto yang terlihat amat keren dalam balutan kostum hitam-oranye mengambil posisi paling depan di dekat tiang mike. Cowok itu nyengir lebar dan melambai ke arah penonton.
Ino dan Sakura melonjak-lonjak sambil melambai-lambaikan tangan, berharap cowok-cowok di atas panggung melihat ke arah mereka.
"NARUTO!!" Ino berseru keras mengalahkan sorakan penonton, "SAI! SHIKA! CHOUJI! ZAKU!! LIHAT KEMARI!!" Kamera di tangannya menyorot ke arah panggung.
Sai lah yang tampaknya pertama kali menyadari keberadaan gadis itu—padahal jarak mereka cukup jauh dari panggung. Cowok berkacamata itu memanggil Naruto lalu mengendikkan kepala ke arah penonton. Naruto mengikuti arah pandangnya dan mata biru langitnya segera menemukan sosok Ino, Sakura dan Hinata di pinggir arena. Naruto tersenyum lebar melihat para gadis itu, kemudian melambaikan tangan penuh semangat.
"Whoa… Kau berbakat jadi rocker, Ino!" seru Sakura sambil tertawa.
"Aku memang rocker!" Ino balas berseru. Nyengir.
"SELAMAT SORE SEMUANYA!!" seru Naruto menyapa penonton yang langsung heboh bersorak-sorai. "KONOHA, MASIH SEMANGAT, KAN?!"
Penonton menyahut dengan sorakan heboh. Bahkan ada di antara penonton yang berteriak iseng, "Naruto! Aku padamu!!"
Naruto tertawa. "Baiklah! Lagu ini aku persembahkan PADAMU juga!!" cowok itu balas berkelakar sambil menunjuk kerumunan teman-temannya, lalu menoleh ke arah para personil band yang lain. "Kita mulai saja, teman-teman?"
Zaku memukul drumnya sebagai jawaban. Di belakang keyboard, Sai menaikkan posisi kacamata di atas hidungnya, lalu mengacungkan ibu jari. Shikamaru dan Chouji mulai memainkan nada-nada pembuka.
Naruto kembali menghadap penonton yang heboh, membuka kedua tangannya seolah-olah ia sedang menyambut mereka. Dengan penuh penghayatan, Naruto mulai melagukan bait-bait pertama lirik lagunya dengan suaranya yang sedikit serak,
Welcome to the planet… Welcome to existence…
Everyone's here… Everyone's here…
Para penonton bersorak, bertepu tangan heboh, membuat mereka tambah semangat. Gebukan drum Zaku yang berirama pelan mengiringi saat Naruto menyanyikan bait selanjutnya.
Everybody's watching you now
Everybody waits for you now
What happens next?
What happens next?
Di bagian refrein, para penonton mulai mengangkat tangan mereka dan mengayunkannya mengikuti alunan musik. Naruto melepas mike dari tiangnya dan berjalan ke bibir panggung, bernyanyi lebih semangat. Mereka mulai memainkan beat yang lebih keras.
I dare you to move, I dare you to move
I dare you to lift yourself up off by the floor
I dare you to move, I dare you to move
Like today never happened
Today never happened before…
-
-
"Kita sudah sampai. Ini rumahku…"
Dua sosok itu kini sudah berdiri di depan jalan masuk menuju salah satu rumah di Blossoms Street, kediaman Haruno. Salah satu diantara keduanya, yang lebih pendek dari yang lain dan memiliki rambut merah muda panjang, tersenyum malu-malu menatap yang lain.
"Sederhana. Tidak sebesar rumahmu di White Hills," ujarnya pelan.
Sosok satunya menatap rumah itu sejenak, lalu membalas senyumnya, "Tapi kelihatannya menyenangkan."
Sakura tertawa kecil. "Yeah, memang. Um…" Gadis itu menunduk sejenak sebelum kembali mendongakkan wajah menatap lawan bicaranya, "Terimakasih sudah mengantarku sampai ke rumah, Neji."
"Tak usah sungkan. Aku juga sekalian ingin tahu rumahmu, supaya hari Minggu nanti aku bisa menjemputmu kamari," kata Neji.
Mengingat mereka masih ada satu janji untuk jalan sekali lagi membuat Sakura berseri-seri. Gadis itu mengangguk antusias.
"Yang tadi itu benar-benar menyenangkan, Sakura," ujar Neji kemudian, membuat Sakura sedikit terkejut tapi senang, "Aku sangat menikmatinya. Kalian benar-benar asyik."
"Naruto memang biasa heboh begitu," Sakura terkekeh.
"Hn. Pantas saja Hinata senang bersama kalian."
"Yeah…"
Lama keduanya terdiam, tampak canggung untuk saling mengucapkan selamat malam.
"Well, sepertinya aku harus pulang sekarang," kata Neji setelah beberapa lama. "Sampai ketemu besok, Sakura." Cowok itu menepuk pelan lengan Sakura, tersenyum tipis, lalu berbalik pergi.
Sakura berdiri di sana beberapa lama lagi setelah punggung Neji menghilang di jalan besar, seakan masih belum mempercayai apa yang baru saja terjadi. Neji baru saja mengantarnya pulang dan berkata bahwa ia sangat menikmati waktu yang dihabiskannya bersama Sakura?
Aku sama sekali tidak bermimpi, kan?
Sakura mencubit lengannya keras-keras. Sakit. Itu sama sekali bukan mimpi.
Tiba-tiba saja gadis itu bersorak, melompat-lompat kegirangan. Wajahnya sampai merah padam saking bahagianya. Bersenandung senang, Sakura pun masuk ke dalam rumah. Suasana hatinya sedang luar biasa riang, sampai-sampai ia lupa sedang marahan dengan ibunya. Ia langsung melompat memeluk Azami begitu melihatnya di ruang keluarga.
"Astaga, Sakura. Ada apa?" tanya Azami kaget.
"Ibu.. Ibu… Oh, Ibu-sayang.. aku senaaaaang sekali…" seru Sakura, melompat-lompat seperti orang gila di depan ibunya.
Azami, meskipun sangat bingung atas kelakuan putri tunggalnya itu, mau tak mau tersenyum melihat Sakura begitu bahagia—dan yang paling penting baginya saat itu, Sakura tidak lagi bersikap ketus padanya. Ini membuatnya sedikit lega. Dengan lembut, dibelainya rambut merah muda anaknya. Matanya berkaca penuh kelegaan.
-
-
TBC…
-
-
Naruto © Masashi Kishimoto
'Dare You To Move' © Switchfoot
-
-
A/N seperti biasa agak panjang. Yang udah capek, silakan diskip aja… Cuma curhatan gaje author aja kok.
Fiuh… akhirnya kelar juga satu chapter gaje. Banyak banget perubahannya.. Gomen, Sasuke-kun gak nongol lagi di chap ini, cuma numpang disebut namanya doang. Ehehe… Sebenernya dia ada di chap ini, tapi karena kepanjangan, jadinya aku split jadi dua. Bagian Sasuke di chapter depan. Gomenna… -bowed-
Chapter ini terasa agak datar, ya? Banyak nongolin scene-scene yang dirasa kurang penting. Tapi aku bener-bener kepingin munculin kehidupan sekolah sih. Gak cuma masalah cinta-cintaan, tapi kesibukan mereka sebagai pelajar. Gimana pusingnya ngurusin organisasi, dsb. Pertanyaan untuk ini: 'Who's the next KHS' president?' Yang udah dapet spoileran dilarang jawab. Ehehehe… Dan Karin akhirnya berdamai juga sama Sakura. ^_^ Terus… kalo gak salah ada yang pernah tanya Ino kok kesannya mary-sue di sini. Um.. aku memang kepingin lebih menonjolkan Ino sih.. Habisnya di setiap fic yang aku baca, dia hampir selalu jadi cewek kedua setelah Sakura, terus sering dibashing, apalagi di fic ShikaTema. Padahal dia kan emang cantik n baik banget, role model-nya Sakura. Jadilah di sini dia jadi cewek terkeren di sekolah.. Seenggaknya itu –menurutku- jadi mengurangi kesuperioran Sakura. Dan Naruto juga gitu. Aku pingin dia kelihatan lebih keren dari Sasuke. XD –disambit Sasuke FG-
Um… ada yang melihat plothole gede banget di chapter ini?—atau ada yang bingung dengan scene terakhir NejiSaku di atas tea? Hihihi… sengaja sih… -ditelen Manda-
Dan maafkan karena menggantung konflik Sakura-Azami. Kejutan deh… ^_^
Kredit lagi buat Tobi-Luna yang udah ngusulin nama baru band-nya Naruto dkk. Thanks, Hun.. –peluk-peluk-
Terus… Masalah hubungan Kakashi ama keluarga Haruno dan cincin Kakashi, itu akan kebuka seiring jalannya cerita. Gak seru dong kalo dikasih tau di sini. Ehehe… Dan.. betul! Aku ngefans ama Kakashi-kun! -menghindari kunai yang dilempar Teh Bellatrix- XD
Makasih yang udah baca dan mereview chapter sebelumnya, yah… Dan makasih juga yang udah baca n review Spring Waltz.. Itu oneshot kok, bukan prolog.. T_T
Dan yang terakhir… mohon doanya yah, minna-sama. Besok sobatku akan menjalani operasi penggantian katup jantung di RS Jantung Harapan Kita. Beneran ikutan deg-degan nih. Mana kemarin gak ikut nengokin lagi, gara-gara tugas kuliah yang setumpuk ituh.. Gomennasai, teman… -ngasih pelukan virtual jarak jauh- 'Thanks sudah mengajarkan pada kami bagaimana arti sebuah kesabaran dan perjuangan, teman. Doa kami selalu menyertai! Ganbatte kudasai!! Kami menunggumu kembali di kampus FIK tercinta!!'
'Pe ketemu di chapter selanjutnya… -halah-
