OoCness, Crackness, Gajeness alert!

Chapter 58

Oto city…

Sasuke menutup pintu ganda berpelitur di belakangnya perlahan. Ujung-ujung bibirnya tertarik ke atas membentuk senyum—atau seringai?—tipis. Wajahnya yang pucat tampak berseri-seri. Jelas sekali suasana hatinya sedang sangat bagus. Luar biasa bagus. Sejenak ia menatap plat bertuliskan 'Kepala Sekolah' dengan huruf-huruf emas yang terpampang di depan pintu sebelum berbalik.

Apa yang lebih baik dari ini? Pikirnya riang seraya menyusuri koridor meninggalkan ruang kepala sekolah dengan langkah ringan.

Semuanya berjalan lebih mudah dari yang diperkirakannya. Sebelumnya, Sasuke mengira akan sangat sulit saat mengutarakan keinginannya pada kedua orangtuanya—terutama Mikoto, ibunya. Tetapi nyatanya tidak begitu. Betapa terkejutnya saat melihat kedua orangtuanya justru menyetujui pilihannya untuk pindah ke Konoha, bahkan mendukungnya seratus persen.

"Kalau kau memang sudah memutuskan seperti itu, Sasuke, Ayah akan dukung," begitu kata Fugaku beberapa malam yang lalu. Nadanya begitu santai, sama sekali tak terdengar nada keberatan dalam suaranya yang berat. Begitu pula dengan ibunya. Sepertinya mereka pada akhirnya mulai mengerti bahwa putra bungsu mereka sudah beranjak dewasa dan bisa mengambil keputusan sendiri.

Fugaku langsung menghubungi Itachi di Konoha dan memberitahukan keinginan Sasuke saat itu juga. Itachi—yang sering mengeluh kesepian di rumah sejak Sasuke tidak tinggal bersamanya lagi—tentu saja sangat senang dan langsung mengurusi segalanya termasuk sekolah Sasuke di Konoha.

Dengan jaminan nama besar keluarga mereka, sekolah Sasuke di Oto pun dengan cepat mengurusi kepindahannya. Meski begitu, Sasuke terpaksa bolak-balik ke kantor kepala sekolahnya, Profesor Orochimaru, yang tampaknya sangat enggan melepaskan salah satu siswanya yang cemerlang itu untuk sekolah lain. Pria paruh baya sangar itu berusaha keras membujuk Sasuke agar berubah pikiran dan tetap tinggal, tapi tentu saja itu tidak berhasil. Sampai akhirnya sore ini beliau memberitahukan persetujuannya dengan berat hati.

Akhirnya…

"Sasuke!" jeritan yang berasal dari seorang gadis yang baru saja muncul dari pintu samping mengalihkan perhatian Sasuke. Gadis berambut merah itu berlari-lari menghampirinya, wajahnya gusar bukan kepalang. "Apa benar yang dikatakan anak-anak kalau kau bakal pindah minggu ini, Sasuke?"

"Ya," sahut Sasuke datar, melanjutkan perjalannya menuju lokernya. Tayuya merendenginya.

"Tapi kau baru saja kembali! Bahkan belum ada satu semester!" ujar gadis itu gusar.

"Aku tahu," Sasuke menggerutu. Sama sekali tidak mengindahkan ekspresi kesal gadis yang sempat sempat 'jadian' dengannya gara-gara kalah taruhan beberapa minggu saat ia masih kelas satu.

"Kenapa?" Tayuya menuntut. Alisnya bertaut dan ia menatap Sasuke curiga. "Karena gadis itu, kan? Hyuuga. Iya, kan?!"

Sasuke memutar matanya, sama sekali tidak menjawab. Langkah mereka bergema di koridor yang lengang. Saat itu jam pelajaran memang sudah usai dan hampir semua anak sedang berada di luar untuk mengikuti kegiatan ekstrakulikuler—Tayuya sendiri masih mengenakan seragam klub pemandu sorak yang ditutupi jaket olahraga, dan ia masih membawa pom-pom.

"Sasuke, jawab aku!" Tayuya menarik lengan kaus Sasuke, memaksanya berhenti tepat ketika mereka sudah sampai di depan ruang ganti siswa.

Tidak tahan, Sasuke akhirnya menghentikan langkah dan berbalik menatap gadis yang sekepala lebih pendek darinya itu tajam. Mau tak mau ia menyesal juga dulu begitu mudahnya membuat taruhan konyol seperti itu dengan teman-temannya. Meskipun ia sudah menegaskan pada Tayuya kalau mereka hanya pura-pura, tapi gadis keras kepala itu tetap menganggapnya serius, tidak peduli Sasuke 'memutuskannya' dengan mengatakan sudah punya gadis lain di Konoha—Hinata. Tayuya terus saja bersikap seolah-olah mereka benar-benar pacaran, menempel terus seperti kutil.Awalnya Sasuke tidak peduli, tapi lama-lama itu menjadi sangat menjengkelkan.

Terutama sekarang.

Itulah mengapa ia tidak pernah memberitahukan teman-temannya di sekolah tentang rencana kepindahannya kembali ke Konoha, termasuk Tayuya—terlebih gadis itu.

"Memangnya kenapa?" tukasnya kesal. "Kurasa itu bukan urusanmu lagi, kan?"

Wajah Tayuya langsung memucat dan sepertinya ia hendak menangis. Melihat ini, Sasuke menghela napas keras. Ia tidak tahan melihat orang menangis.

"Sampai kapan kau mau mengikat dirimu terus padaku, eh? Kau tidak lelah? Aku yang melihatnya saja, lelah," tanya Sasuke tak sabar. Ia menggelengkan kepalanya, "Itu tidak akan mengubah apa-apa karena kita memang tidak ada apa-apa. Kau kan tahu itu hanya taruhan bego yang dibuat anak-anak. Tidak ada yang serius. Dan Hinata… jangan salahkan dia karena dia memang tidak ada hubungannya dengan ini."

"Tapi Sasuke, aku masih sayang padamu dan aku ingin kau tetap di sini. Asal kau tahu, aku terus menunggumu selama kau di Konoha. Aku menolak semua cowok-cowok yang nembak, karena di hati aku cuma ada kau!" Air mata mulai mengalir di pipi Tayuya yang dengan cepat berubah warna menjadi merah. "Jadi aku mau kau tetap tinggal. Demi aku… Ya?"

Astaga…

Mau tak mau Sasuke merasa kasihan juga pada gadis di depannya itu. Entah bagaimana sikap Tayuya itu mengingatkannya pada dirinya sendiri beberapa bulan yang lalu, saat ia masih memohon-mohon pada Hinata untuk mau menjadi kekasihnya. Hopeless.

Hinata… sekarang aku mengerti bagaimana perasaanmu saat itu. Ternyata aku sangat menyebalkan, ya?

"Dengarkan aku, Tayuya. Bisa kan kau melupakannya saja? Aku tahu itu sulit—aku juga pernah merasakannya—tapi aku yakin, dengan kepergianku itu akan mempermudahmu. Sudah cukup kau menyiksa dirimu terus, sudah waktunya membuka hati untuk orang lain. Oke?" Jeda sejenak sebelum Sasuke menambahkan dengan senyum tipis sekilas, "Bagaimana pun, kau adalah temanku," ia memberikan tepukan pelan di lengan gadis itu sebelum berbalik, membuka pintu ruang ganti.

"Kapan kau akan pergi?" tanya Tayuya serak sebelum Sasuke sempat menutup pintu ruang ganti.

"Jumat ini adalah hari terakhirku," jawab Sasuke. Ditatapnya mantan kekasihnya itu beberapa lama lagi, kemudian bertanya dengan diiringi seringai kecil, "Omong-omong, sampai kapan kau mau menggantung Kimimaro terus, hm?"

Ekspresi terkejut langsung menghiasi wajah Tayuya. Mulutnya membuka dan menutup tanpa suara, seakan ingin mengatakan sesuatu tetapi pada saat yang bersamaan, tidak tahu harus berkata apa. Tampaknya ia terlalu kaget mengetahui Sasuke memperhatikan gosip yang dulu sempat heboh saat Sasuke masih di Konoha itu. Sejak kapan? Gadis itu bertanya-tanya dalam hati. Biasanya Sasuke tidak pernah peduli dengan gosip.

"Menurutku dia cowok yang baik. Pertimbangkanlah.."

Sasuke kemudian menutup pintu ruang ganti.

Fiuh… rasanya seperti déjà vu…

Sasuke kemudian bergegas mengganti setelan olahraganya dengan kemeja dan celana seragam bersih. Menjejalkan semuanya ke dalam tas olahraga, lalu pulang. Untunglah Tayuya tidak menungguinya di depan ruang ganti, pikir Sasuke lega sambil cepat-cepat berjalan menuju pintu keluar sebelum muncul gangguan yang lain berkaitan dengan desas-desus yang terlanjur menyebar soal kepindahannya. Rasanya sudah tak sabar ingin cepat sampai di rumah.

Mobil jemputannya sudah menunggu di depan gerbang utama.

-

-

Rasanya ingin sekali Sasuke melompat kegirangan melihat BMW hitam dengan plat nomor yang sudah sangat dikenalnya terparkir di depan pelataran rumah ketika ia akhirnya sampai di Uchiha Mansion. Tetapi tentu saja ia tidak melompat kegirangan karena itu sama sekali bukan seperti Sasuke. Cowok pemilik tatapan tajam—menurut gadis-gadis yang mengenalnya—itu hanya menyeringai tipis sebelum turun dari mobil dan bergegas masuk ke dalam rumah.

Tak perlu berlama-lama sampai ia menemukan sang kakak, Itachi, yang rupanya sedang duduk-duduk di ruang keluarga mereka yang besar sambil minum teh dan makan dango bersama ibu mereka. Omong-omong, Mikoto selalu membuat dango setiap kali Itachi pulang ke Oto. Kontras dengan adik laki-lakinya, Itachi sangat suka makanan manis.

"Sasuke!" sambut Itachi cerah. Ia meletakkan tusuk dango yang baru dimakannya ke piring, beranjak lalu menghampiri Sasuke sambil membuka kedua tangannya. Dipeluknya adiknya itu hangat. "Lama tak bertemu. Kau oke, kan?" tanyanya setelah melepaskan pelukannya.

"Hn. Kita kan baru ngobrol semalam lewat telepon, Kak," sahut Sasuke datar. Ia kemudian mengedarkan pandangannya, seperti sedang mencari sesuatu. "Mana Rufus?"

Itachi, yang memang sudah terbiasa dengan sikap dingin Sasuke, mendengus kecil. "Haah.. kau ini benar-benar adik tidak sopan. Sudah lama tidak bertemu, bukannya menanyakan kabar, malah Rufus yang ditanya."

Mikoto yang sedari tadi memperhatikan kedua pangeran-nya itu dari sofa, tertawa renyah. "Bukannya begitu, Sayang. Adikmu sebenarnya kangen sekali padamu, hanya saja tidak tahu bagaimana memberitahumu…" ujarnya pada Itachi. Senyum lembut mengembang dari wajahnya yang masih terlihat cantik dan awet muda itu. "Begitu kan, Sasuke?"

Sasuke tidak menjawab, barangkali untuk menutupi rasa malunya karena kata-kata Mikoto yang mendekati kebenaran. Sementara itu, Itachi menyeringai lebar. Disambarnya leher Sasuke dengan lengannya, dirangkulnya erat-erat, membuat adiknya itu tercekik.

"Oh, begitu… Padahal kalau kangen, bilang saja kangen, Sasukeee~ Dasar, kau ini!" Itachi mengacak-acak rambut adiknya gemas.

"Kakak! Lepaskan aku!" teriak Sasuke memprotes, mencoba mendorong minggir kakaknya.

Tapi Itachi tidak mau melepaskannya. Alhasil, kedua kakak beradik itu bergulat dengan ditonton ibu mereka yang tertawa-tawa. Lama-lama, Sasuke tidak tahan juga untuk tetap menahan tawanya. Ia tergelak bersama Itachi dan Mikoto. Beberapa saat berselang, kedua kakak beradik itu sudah ambruk di sofa, terengah-engah. Mikoto sudah pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam.

"Jadi Kakak tidak membawa Rufus?" tanya Sasuke setelah napasnya sudah kembali teratur.

"Tidak," jawab Itachi, mengambil setusuk dango, "Dia kutitipkan ke tempat Hana. Kasihan kalau diajak perjalanan jauh." Ia menggigit dangonya.

"Hn…" Sasuke menyapu rambutnya yang jatuh ke dahi kebelakang. "Kak Hana apa kabar?"

Itachi mengerling Sasuke dengan mata disipitkan. "Tak akan kubiarkan kau mendekati Hana-ku," ujarnya, pura-puramemasang tampang serius.

Sasuke memutar matanya. "Aku tidak berminat dengan cewek yang lebih tua, terimakasih banyak."

Mendengar itu, Itachi menyambar bantal sandaran kursi di sebelahnya dan melemparnya pada Sasuke, terkekeh-kekeh. "Hana baik. Dia titip salam untukmu."

"Hn."

"Sakura juga baik," kata Itachi lagi, melirik Sasuke dengan seringai tipis di bibirnya.

Sasuke merasakan perutnya sedikit anjlok mendengar kakaknya menyebut nama itu. Sialan, pikirnya ketika menyadari Itachi sedang mencoba menggodanya. Tapi ia tidak akan terpancing semudah itu. "Hn." Sasuke cepat-cepat mengalihkan pembicaraan sebelum kakaknya itu menemukan celah lagi untuk menyudutkannya. "Jadi, kakak sudah mengurusnya, kan? Sekolahku di Konoha?"

"Yeah," sahut Itachi santai sembari melipat kedua lengannya di belakang kepala, bersandar dengan nyaman di sofa. Kilat nakal melintas di mata gelapnya. "Aku sudah mendaftarkanmu di Hidden Leaf Public School—"

"Apa?!" dengking Sasuke seketika. Punggungnya menegak, matanya melebar. Jelas terkejut setengah mati dengan jawaban yang diberikan Itachi.

Melihat tampang shock Sasuke, Itachi tergelak lagi. Menyadari sang kakak sekali lagi menggodanya—dan kali ini berhasil—Sasuke lantas mengambil bantal sandaran kursi yang tadi dilempar Itachi dan menyambitnya tanpa ampun.

"Damn you, Itachi!" makinya kesal.

Itachi masih tekekeh-kekeh beberapa saat lagi, sebelum membalas melempar bantal pada Sasuke yang langsung menepisnya. "Dasar kau ini! Aku kan hanya bergurau, adik kecil…"

"Aku bukan anak kecil!" tukas Sasuke, memelototi kakaknya.

Butuh beberapa waktu bagi Itachi untuk meredam kekehannya. Menyenangkan sekali menggodai Sasuke seperti ini, pikirnya. Ia lantas berdeham untuk meredam tawanya. "Iya, iya… Urusan sekolah, kau tenang saja. Aku sudah mengurusnya. Tuan Besar tinggal tahu beres."

"Hn!" Sasuke mendengus keras, terlanjur kesal sehingga tidak tertarik untuk mendengar lebih lanjut lagi. Dengan geram disambarnya ransel dan beranjak dari sana, menuju kamarnya di lantai atas.

Itachi menatap punggung adiknya dengan alis terangkat tinggi. Masih saja gampang panas, pikirnya. Benar-benar tidak bisa diajak bergurau bocah satu itu…

Suara tawa kecil dari arah ruang depan mengalihkan perhatian Itachi dari Sasuke. Pria awal duapuluhan itu menoleh, dan langsung beranjak dari sofa begitu melihat sesosok pria paruh baya berambut gelap licin di sana, sedang melepas mantel bepergiannya dibantu oleh sang kepala pelayan, Paman Hayato.

"Ah, Ayah!" Itachi bergegas menghampiri Fugaku yang kemudian membuka kedua tangannya, memberi putra sulungnya itu pelukan singkat.

"Hn. Waktu ibumu memberitahu kau sudah sampai, Ayah langsung pulang," kata Fugaku setelah mengizinkan Paman Hayato pergi untuk menaruh mantel dan tas kerjanya. Matanya mengamati putra sulungnya dengan seksama. "Bagaimana keadaan kantor di Konoha?"

"Kau ini benar-benar keterlaluan, Sayang," tegur Mikoto yang baru saja keluar dari dapur. Ia masih mengenakan celemeknya dan membawa segelas air untuk suaminya. Mata onyx yang diwariskan pada kedua putranya menatap Fugaku dengan tatapan seorang-ibu-yang-protektif-pada-anaknya. "Jangan membicarakan urusan pekerjaan di rumah. Anakmu ini baru saja sampai," ujarnya tajam seraya mengangsurkan gelas air pada suaminya itu.

"Tidak apa, Bu," kata Itachi. "Kantor oke, Yah. Proyek yang terakhir sudah hampir selesai," lapornya pada Fugaku. "Tapi sepertinya Sasuke yang sedang tidak begitu oke. Hanya perasaanku saja atau dia jadi semakin gampang marah?"

"Bukannya gampang marah," kata Mikoto. Wanita itu menghela napas seraya menatap tangga menuju lantai dua, tempat di mana putra bungsunya baru saja menghilang beberapa saat yang lalu, tersenyum lembut. "Sasuke hanya sedang sangat bersemangat dengan rencananya kembali ke Konoha. Saking semangatnya, dia jadi senewen."

"Dan dia juga menanyakanmu terus sejak kemarin," Fugaku menambahkan setelah menenggak airnya separuh.

"Ah!" kepala Itachi teranggung-angguk paham.

"Nah, sekarang, sebelum makan malam, sebaiknya kalian bersih-bersih dulu!" seru Mikoto pada kedua pria itu selang beberapa saat. "Sayang, aku sudah siapkan air mandi dan pakaian bersih untukmu di atas." Ia mengambil gelas yang sudah setengah dari tangan suaminya, kemudian beralih pada Itachi. "Paman Hayato sudah menaruh kopermu di kamar, Nak. Sekarang kau sebaiknya mandi dulu, lalu kita makan malam bersama. Oke?"

"Baik…" Kedua pria itu langsung beranjak dari sana, diawasi oleh tatapan puas Mikoto.

Omong-omong, meskipun Fugaku Uchiha adalah kepala keluarga di sana, tetapi bos yang sebenarnya di rumah besar itu adalah istrinya, Mikoto Uchiha. Tidak ada yang berani membantahnya di rumah itu.

-

-

Sasuke segera mendudukkan pantatnya ke kursi belajarnya segitu selesai mandi. Handuk lembab masih bertengger manis di rambutnya yang basah, sama sekali tidak peduli dengan air yang masih menetes-netes membasahi kaus oblong putih yang dikenakannya. Ia sudah tidak sabar melihat video yang dimintanya pada Sakura dua malam yang lalu.

Hal pertama yang ia lihat di rekaman yang baru saja diunggahnya dari attachment email Sakura adalah tampang berseri-seri gadis berambut merah muda itu. Dari latar belakangnya yang serba merah muda, Sasuke bisa menebak Sakura sedang berada di dalam kamarnya. Gadis itu sudah mengenakan piama putih dengan motif bunga kecil-kecil. Rambutnya yang merah muda panjang dililit dan disampirkan di bahunya.

"Hai, Sasuke!" sapa Sakura ceria—membuat Sasuke tak bisa menahan senyum. Temannya itu terlihat sangat cute kalau sedang ceria begitu. Tapi tentu saja Sasuke tidak mau mengakuinya—Gadis itu menyibak poni dari dahinya yang lebar, kemudian melanjutkan, "Ini video yang kau minta kemarin. Benar-benar merepotkan, tahu!" Sakura pura-pura cemberut, tapi detik berikutnya ia sudah nyengir lagi, "Tapi aku senang kok. Dengan begini kau tidak akan kehilangan momen yang menyenangkan di sini."

"Dan aku juga jadi punya rekaman bagus yang bisa selalu kutonton kalau aku mau!" ia menambahkan, mengikik sendiri. Wajahnya mendadak bersemu merah. "Um.. tapi karena aku tidak terlalu bisa mengedit, jadi yang kuberikan padamu ini mentahnya saja, ya. Kau bisa mengeditnya sendiri kalau kau mau, Sasuke!"

"Baiklah, dari pada terlalu banyak ngomong, lebih baik langsung saja. Selamat menikmati pertunjukannya!" Sakura terlihat menjulurkan tangan ke arah kamera dan segalanya menjadi gelap beberapa detik sebelum muncul gambar yang sama sekali berbeda. Kali ini berada di luar ruangan, dan kamera menyorot close-up seraut wajah yang sudah sangat dikenalnya. Dengan kulitnya yang gelap terbakar matahari, rambut pirang jabrik yang sedikit terlihat basah oleh gel rambut dan mata biru cemerlang.

Melihat wajah sahabat yang dirindukannya sekali lagi, sudut-sudut bibir Sasuke terangkat membentuk seringai.

Hanya saja saat itu Naruto sedang tidak melihat ke arah kamera, tetapi sepertinya sedang menatap orang di belakang kamera. Mungkin Sakura.

"Sakura yang minta," kata orang di belakang kamera. Ternyata bukan Sakura, suaranya berbeda. "Katanya Sasuke menyuruhnya merekam kalian saat manggung."

Naruto terlihat mendengus keras. "Huh! Dasar cowok ngebos satu itu, bisanya menyuruh-nyuruh orang saja. Kalau mau nonton kan tinggal datang saja kemari! Begitu saja kok repot!" ia mengomel.

Melihat ini, Sasuke terkekeh.

"Oi, Sasuke," Naruto membelalak pada kamera, seakan benar-benar memelototinya, "Kalau kau benar-benar ingin nonton, datang saja ke Konoha. Daripada merepotkan Sakura begini. Untung saja Sakura baik dan—"

Setelah sesi mengomel Naruto yang diiringi suara tawa dari orang yang memegang kamera, mereka kemudian mulai merekam apa saja yang dilakukan band Naruto di belakang panggung. Ternyata Ino—Naruto sempat memanggil nama gadis yang mengambil gambar—tertinggal pertunjukan putaran pertama mereka sebelum ini. Mereka membuatnya seperti semacam reality show, dengan memperkenalkan personilnya satu per satu.

Sasuke bisa melihat mereka sedang berkumpul di dekat sebuah van berwarna hijau tua dengan lambang tertentu di badannya, Shikamaru dan Chouji yang bermain shogi untuk membunuh waktu, Naruto yang mengajari Sai memainkan gitar tuanya, dengan suara dentuman musik yang terdengar sebagai latar belakang. Naruto tak hentinya mengoceh, memberikan tips-tips pada Sai yang sepertinya mengalami kesulitan memindahkan jemarinya di senar-senar tebal itu dan tertawa terbahak-bahak ketika Sai memperlihatkan ujung-ujung jemarinya yang memerah ke kamera. Sebelum kemudian ia mendemonstrasikan kebolehannya mengolah melodi dengan gitarnya. Mau tak mau, Sasuke mengagumi bakat Naruto yang satu itu. Permainannya benar-benar sudah mahir.

Adegan kemudian berganti lagi. Mereka—Naruto bersama band-nya—sudah dalam perjalanan menuju belakang panggung.

"Setelah ini giliran kami tampil lagi, Sasuke!" beritahu Naruto dengan kegairahan sekaligus kegugupan yang tampak nyata di wajahnya. "Mudah-mudahan lancar. Penontonnya banyak sekali, kau bisa dengar, kan?"

Sasuke memang bisa mendengarkan suara orang-orang bersorak heboh selain suara musik dari band yang sedang tampil.

"Oke. Sepertinya aku akan mengambil gambar dari depan panggung. Barangkali saja Sakura juga sudah datang." Kamera sedikit bergoyang ketika Ino bicara dan selanjutnya kamera mengarah ke rumput. "Semoga sukses kalian berlima!"

Detik berikutnya pemandangan berganti lagi. Kerumunan orang yang ramai bersorak dan berjingkrak-jingkrak memenuhi layar notebook Sasuke sekarang. Ia bisa mengenali serombongan besar anak-anak Konoha High; gadis bercepol yang dikenalinya sebagai senior klub teater Sakura, kapten tim sepak bola Naruto, Lee, serombongan besar gadis-gadis cheers termasuk Karin dan teman-temannya—yang langsung menyapa Ino dan pasang aksi begitu tahu Ino merekam mereka—Kiba dan teman-teman jurnalnya dan banyak lagi yang Sasuke tidak ingat namanya satu per satu.

Sampai akhirnya layar meninggalkan kerumunan dan menuju tempat yang lebih lengang, dimana ia bisa melihat gadis berambut merah muda pemilik kamera, Sakura, sedang berdiri di sebelah gadis berambut gelap panjang yang juga dikenalnya, Hinata. Kedua gadis itu terlihat sedang asyik mengobrol sambil tertawa-tawa. Rasanya belum pernah ia melihat Sakura dan Hinata seakrab itu sebelumnya.

"Forehead girl!" Sasuke bisa mendengar Ino berseru, membuat Sakura dan Hinata menoleh padanya. Kamera sedikit bergoyang sebelum akhirnya stabil lagi. Sepertinya barusan Ino berlari menghampiri kedua temannya.

"Dapat gambarnya?" Sakura bertanya antusias.

"Aku terlewat putaran pertama," ia mendengar Ino menyahut, "Gara-gara mengobrol denganmu tadi, sih… Tapi aku dapat special back-stage mereka! Dijamin Tuan Uchiha itu akan senang melihatnya nanti—atau muntah-muntah."

Sasuke menyeringai mendengar ini.

"Seperti mereka sudah menjadi band ngetop saja ada special back-stage segala," Sakura berkomentar sambil tertawa dan menggelengkan kepala.

Kamera mengarah pada Hinata sekarang. Gadis itu masih sama manisnya dengan yang terakhir kali dilihat Sasuke.

"Hei, Hinata, apa aku sudah terlihat seperti anak jurnal?"

"I-Ino berbakat jadi jurnalis," Hinata menjawab dengan suaranya yang lembut, nyaris tak terdengar dari rekaman itu.

Gambar berganti. Kamera kini menyorot ke arah panggung. Ino memperbesar gambar sehingga ia bisa melihat Naruto muncul dari sisi panggung disambut sorakan penonton. Wajah sahabatnya itu sumringah, meskipun ia juga bisa melihat kegugupan di sana. Sama seperti ekspresinya saat akan mengikuti pertandingan sepak bola yang waktu itu. Yang lain menyusul muncul satu demi satu, disambut sama meriahnya.

"NARUTO! SAI! SHIKA! CHOUJI! ZAKU! LIHAT KEMARI!!" Ino berteriak keras mengatasi sorak-sorai penonton.

Entah hanya kebetulan atau Naruto memang mendengar teriakan gadis itu, Sasuke melihat sahabatnya itu melambai penuh semangat ke arah mereka.

"Whoa… Kau berbakat jadi rocker, Ino!" Sasuke bisa mendengar suara Sakura berkomentar sambil tertawa.

"Aku memang rocker!" seru Ino sebagai balasannya.

Kemudian Naruto menyapa penonton, tertawa dan berinteraksi dengan mereka sebentar sementara teman-teman di belakangnya bersiap-siap. Sasuke yang sudah penasaran semenjak mereka memberitahunya Naruto menggantikan posisi Ino sebagai lead vocalist di band itu, semakin tak sabar sampai akhirnya mereka memainkan intro-nya. Naruto memang banyak gaya, pikir Sasuke geli ketika melihat temannya itu membuka kedua tangannya sementara ia menyanyikan bait pembuka,

Welcome to the planet…

Welcome to existence…

"Kau ini benar-benar tidak tidak mau kehilangan momen, ya?"

Suara yang dekat sekali di belakangnya nyaris membuat Sasuke terjungkal dari kursi saking kagetnya.

"Kakak!" dengkingnya, membelalak pada Itachi yang malah terkekeh-kekeh melihat kekagetan adiknya. "Sejak kapan kau di sini?"

"Sejak tadi," sahut Itachi santai sambil menegakkan diri. Kedua tangannya tenggelam di saku celana pendek yang dikenakannya. Rambut panjangnya yang terlihat basah dibiarkan tergerai di bahunya dan wangi bersih sabun menguar dari tubuhnya. "Aku sudah mengetuk pintu," selanya ketika melihat Sasuke hendak memprotes, "Tapi kau tidak menjawab. Jadi aku masuk saja. Aku jadi penasaran…" Itachi kembali melirik layar notebook adiknya, "…ternyata adikku sedang melepas kangen dengan teman-temannya, eh?"

Setengah kesal dan setengah malu karena sudah dipergoki seperti itu membuat wajah Sasuke merona. Ia berpaling untuk menutupinya dari sang kakak. Cemberut. Itachi tertawa kecil, lalu menarik sebuah kursi dari sebelah rak buku ke belakang kursi Sasuke dan duduk di sana, ikut menonton dari atas bahu adiknya.

"Oh, ini festival band tahunan di Konoha City Square, kan?" celetuk Itachi kemudian. "Wah, aku tidak tahu Naruto bisa bernyanyi seperti itu. Suaranya lumayan juga…"

"Naruto pernah bernyanyi di restorannya Sakura bersama almarhum Tuan Haruno," kata Sasuke sedikit menerawang, mengenang peristiwa beberapa bulan yang lalu. Ia masih ingat saat itu belum begitu akur dengan Naruto, tetapi Naruto sudah membuatnya terkesan dengan kemampuan bermusiknya.

"Hm…" Itachi mengangguk. "Jelas tidak seperti adikku yang tidak bisa nyanyi. Sekalinya dia mencoba bernyanyi, ada saja kaca yang retak," kekehnya sambil mengacak rambut Sasuke.

"Sialan kau," gerutu Sasuke sambil menepis tangan sang kakak dari kepalanya. "Nyanyian kamar mandimu tidak lebih baik!"

"Wah, ada Neji juga ternyata!" Itachi menunjuk layar begitu Ino mengalihkan sorotannya dari panggung ke arah Sakura.

Tampak seorang cowok jangkung berambut cokelat gelap berdiri di samping Sakura, mengangsurkan sekaleng minuman untuknya dan Hinata. Sakura sedang menatap ke arahnya sambil tersenyum—senyum yang benar-benar berbeda dengan yang selama ini dilihatnya—dan mengucapkan terimakasih. Neji membalas senyumnya.

Perasaan yang sama seperti saat ia melihat video audisi Sakura yang pernah dikirimkan Sai tempo hari kembali lagi ketika melihat gadis itu dan Neji tampak begitu dekat dan akrab. Panas, seperti ada sesuatu yang mencakari organ-organ dalamnya tanpa ampun. Tapi ia bersikeras memelototi layar, kalau tidak, Itachi bisa tahu kalau ada apa-apa. Kakaknya itu memang sangat sensitif dengan apa pun yang menyangkut Sasuke. Termasuk kalau adiknya itu sedang kena penyakit cinta.

"Kukira Neji tidak menyukai acara-acara seperti itu," Sasuke mendengar kakaknya berkomentar lagi. Dan kecurigaannya langsung melambung tinggi.

Apakah karena Sakura?—karena Sakura datang ke acara itu, makanya Neji juga datang? Ada hubungan apa sebenarnya mereka? Kenapa Sakura—damn! Apa yang kupikirkan?!

"Ino! Kau sedang merekam ke mana, sih!"

Perhatian Sasuke langsung teralih lagi mendengar Sakura menukas pada temannya. Gadis itu membelalakkan mata dan wajahnya merona ketika ia mendekat dan menyambar kameranya. Gambar langsung bergoyang-goyang dan mereka bisa mendengar suara orang tertawa ditingkahi sorakan sebagai latar belakangnya. Kemudian gambar kembali fokus ke panggung. Tetapi tidak dengan Sasuke. Pikirannya masih melayang-layang ke dekat Sakura dan Neji, membuatnya panas sendiri. Terlebih ketika mendengar Itachi berkomentar,

"Mereka pacaran, ya? Neji dan Sakura? Hm.. serasi juga."

Sialan!

"Mana kutahu!" tukas Sasuke judes.

Dan ternyata tidak sampai di sana saja Sasuke harus tersiksa melihat keakraban Sakura dan Neji. Setelah acara selesai pun mereka masih bersama-sama. Barangkali karena Naruto mengajak Hinata ikut, jadi Neji juga ikut untuk menemaninya, Sasuke mencoba berpikir masuk akal. Tetapi yang ia lihat justru semakin membuatnya berpikir kalau mereka memang mulai ada apa-apanya. Selagi mereka merekam kegiatan jajan mereka di pinggiran Konoha Central Park sambil bercanda dan tertawa, entah bagaimana Sakura dan Neji selalu saja mendapat sorotan yang cukup banyak dibandingkan Naruto maupun Sai.

"Kue pedas?" Naruto menawarkan beberapa potong kue yang terbuat dari tepung beras berlumur saus pedas pada Sakura ketika mereka sedang memilih-milih makanan di warung-mobil keliling di KCP.

Sakura yang sedang memilih di sampingnya menggeleng. "Aku tidak suka yang pedas-pedas, Naruto," ujarnya sambil mengambil beberapa jajanan yang tidak pedas ke piring kertasnya.

"Padahal enak, lho…" kata Naruto, menuangkan kue pedas banyak-banyaknya ke piringnya dan piring Sai yang sama sekali tidak memprotes—bahkan ia terlihat tidak tahu apa yang akan ia makan—dan memasukkan satu buah ke mulutnya. "Huaaah…" Naruto langsung mengibas-ngibaskan tangan di depan mulutnya, kepedasan. Di sampingnya, Sai memelototi makanan di piringnya dengan curiga.

"Tidak separah itu kok, Sai," kekeh seseorang dari belakang kamera. Kemudian terlihat sebuah tangan mengambil garpu plastik, mencocol satu kue dan menyodorkannya ke bibir Sai. "Coba deh. Enak. Aa.."

Wajah Sai mendadak merah, tetapi ia tetap membuka mulutnya dan membiarkan Ino—atau siapa pun yang ada di belakang kamera—menyuapkan kue merah itu ke mulutnya. Kamera benar-benar fokus padanya selama beberapa saat. Merekam bagaimana perubahan ekspresi cowok berkulit pucat ketika ia mengunyah kuenya. Awalnya biasanya saja, tetapi mendadak ia terbatuk-batuk heboh. Wajahnya berubah lebih merah dari sebelumnya.

Semua orang tertawa.

"Lee pasti menyukai ini," kamera kembali menyorot Neji dan Sakura. Hinata berdiri di sisi Neji yang lain, menerima takoyaki yang baru selesai dimasak oleh paman penjualnya. "Dia suka sekali yang pedas-pedas. Semakin membakar lidah, semakin baik."

"Seleranya memang aneh," komentar Naruto, menyuapkan satu kue lagi ke mulutnya. "Kau mau satu, Neji?"

"Tidak, terimakasih banyak. Lambungku sensitif—"

Suara tawa Itachi membuat Sasuke mengalihkan perhatian dari rekaman itu. "Neji memang tidak tahan makanan pedas. Ingat saat mendiang Kak Shisui pernah tidak sengaja memberinya kue pedas seperti itu? Dia langsung mulas-mulas.."

'Oh, yeah. Pasti menyenangkan melihatnya mulas-mulas di depan Sakura,' pikir Sasuke kejam, langsung membayangkan kejadian menyenangkan itu dalam kepalanya, yang sayangnya tidak terjadi karena Neji telah mengambil makanan yang sama sekali bebas cabai—dibantu Sakura. Mereka bahkan saling bertukar makanan, dan yang paling menyebalkan adalah saat Neji menyekakan saus yang mengotori dagu Sakura.

Kalau tidak ada Itachi di sana, Sasuke pastilah sudah membanting notebook-nya.

"Kau baik-baik saja, Sasuke?" tanya Itachi tiba-tiba.

"Hn," gerutu Sasuke tak jelas.

"Aneh.. hanya perasaanku saja atau udara di kamarmu memang panas begini, Sasuke?"

Sasuke lega bukan kepalang karena terbebas dari kewajiban menjawab Itachi maupun menonton rekaman itu lebih jauh lagi, karena tepat saat itu Mikoto memanggil mereka turun makan malam.

-

-

Konoha…

Anak-anak langsung berhamburan keluar kelas begitu bel tanda istirahat berbunyi siang itu. Koridor yang tadinya lengang mendadak penuh dan riuh oleh suara celotehan anak-anak. Dan di antara mereka, termasuk dua orang cowok yang baru saja meninggalkan kelas Biologi. Yang satu berambut pirang jabrik dengan kulit kecokelatan terbakar matahari, dan temannya yang bertubuh sedikit lebih jangkung dari yang pertama dan berambut sewarna kayu eboni. Keduanya terlihat sedang terburu-buru; bukan menuju ke arah kantin atau pintu utama seperti sebagian anak-anak yang lain, melainkan menuju studio musik di lantai tiga, sambil sesekali membicarakan soal latihan mereka.

"…Tiga lagu," suara cowok berambut eboni terdengar di antara suara hiruk pikuk koridor sambil melangkah ke arah tangga, "Shikamaru baru memutuskan dua."

Temannya menyunggingkan cengirannya yang khas sambil menaikkan tas gitar di bahunya yang bidang. "Tenang saja, Sai. Aku sudah memikirkan lagu bagus yang akan kita mainkan nanti."

"Oh ya?" Sai menatap tertarik, "Lagu apa?"

"Nanti juga kau akan tahu sendiri. Ini lagu yang istimewa," sahut Naruto cerah.

Keduanya baru saja akan menapak di anak tangga pertama ketika suara anak perempuan terdengar memanggil Naruto dari arah koridor loker. Mereka lantas berbalik dan melihat seorang gadis berambut gelap panjang yang sudah tidak asing lagi berjalan ke arah mereka dari koridor loker. Rona kemerahan menghiasi wajahnya seperti biasa, entah karena udara dingin atau… kau-tahu-apa. Ia memeluk sebuah bungkusan berukuran sedang.

"Hinata!" sapa Naruto cerah pada si gadis setelah ia dekat.

Hinata langsung menyodorkan bungkusan yang dibawanya pada Naruto. Dengan senyum malu-malu yang tertahan, ia berkata pelan, "U-Untukmu."

Untuk beberapa saat, Naruto tampaknya tidak tahu harus berkata apa yang dibawakan Hinata untuknya. Untuk ketiga kalinya dalam seminggu ini Hinata membuatkan bekal makan siang untuknya, termasuk makan siang istimewa yang disiapkannya saat mereka manggung hari sebelumnya. Sepertinya gadis itu benar-benar menganggap serius perkataan Naruto saat setelah pembukaan festial tempo hari. Dengan ragu diterimanya bungkusan itu. "Hinata, seharusnya kau tidak perlu repot-repot begini…" desahnya tidak enak.

Hinata tersenyum sambil menggeleng pelan. "N-Naruto dan yang lain…" ia mengerling Sai, "sibuk berlatih sepanjang waktu, pasti tidak sempat beli makan siang di kantin. Jadi aku buatkan saja. Sama sekali tidak merepotkan, kok. L-lagipula ini hanya nasi kepal biasa."

Naruto membalas tersenyum, memeluk bungkusan Hinata di dadanya. "Terimakasih banyak kalau begitu, Hinata."

Gadis Hyuuga itu mengangguk singkat. "Hmm… K-kalian semangat ya, latihannya!" serunya dengan suaranya yang lembut sambil mengepalkan sebelah tinjunya, sebelum melesat pergi.

"Oi, Hinata!" panggil Naruto tiba-tiba sebelum gadis itu menghilang di belokan. Hinata menghentikan langkah, lalu menoleh. "Hari Minggu nanti… kau mau ke panti asuhan lagi?"

Hinata menyunggingkan senyum berseri-seri, lalu mengangguk antusias. "Y-ya."

"Oke!" Naruto membalas senyumnya. Hinata mengangguk lagi ke arahnya sebelum memutar tubuhnya dan menghilang di koridor menuju ruang jurnal.

Tawa kecil terdengar dari bibir Naruto. "Cewek aneh," ujarnya terkekeh. Ia berpaling pada Sai, "Sebaiknya kita cepat ke studio. Kalau tidak si Zaku sialan itu bisa ngomel-ngomel lagi. Tahu kan, suaranya bikin sakit kuping saja—"

Keduanya baru saja sampai di anak tangga kelima ketika gangguan datang lagi. Kali ini dari seorang gadis berambut pirang panjang yang membawa-bawa sebuah kotak berukuran sedang. Gadis itu baru turun dari lantai dua dan langsung menghadang mereka, menyorongkan kotak yang dibawanya ke depan hidung kedua cowok itu sambil memasang tampang penagih hutang.

"Beli!" katanya dengan nada memerintah pada dua cowok itu.

"Hee??" Baik Naruto maupun Sai hanya bisa melongo, terkejut karena tiba-tiba ditodong seperti itu.

"Eh, kok malah bengong, sih!" si gadis memprotes, lalu menggoyang-goyangkan kotaknya sehingga menimbulkan suara gemerincing dari dalamnya. "Ayo beli…"

"Apaan nih, Ino?" Naruto akhirnya bersuara, sambil menunjuk ke kotak di tangan Ino.

"Danus untuk festival sekolah," sahut Ino. "Gantungan kunci cantik bikinan rumah," ujarnya promosi, kemudian ia mengambil satu gantungan kunci berbentuk babi berwarna pink yang terbuat dari kayu daur ulang dari dalam kotak, "Murah lho, cuma tiga ryo satu buah."

"Hee, gantungan kunci. Seperti cewek saja," kata Naruto. Meski bicara seperti itu, ia tetap mengambil gantungan itu dari tangan Ino dan mengamatinya dengan tertarik.

"Kalau begitu Ino jadi panitia festival juga?" tanya Sai.

Ino berpaling pada cowok itu sambil tersenyum cerah. "Yap! Dari pada bengong tidak ada kerjaan. Sai di tim pubdok, kan?"

"Ya.."

Sai menatap gadis itu sementara Ino kembali berpaling pada Naruto yang mulai sibuk memilih-milih—atau tepatnya, mengacak-acak—gantungan kunci di kotak yang dibawanya. Gadis itu memprotes Naruto yang dianggapnya terlalu brutal mengaduk-aduk kotaknya, tetapi kemudian tertawa sampai mata birunya menjadi segaris. Ino yang ceria seperti itu kelihatan bersinar cantik sekali, pikir Sai, dan kemiripannya dengan objek lukisan Shin menjadi semakin jelas.

Apa kau memang Sang Bidadari, Ino? Apakah itu benar-benar dirimu yang ada di lukisan kakakku—dan di hatinya? Cintanya yang dibawa mati?

"Aku ambil ini!" kata Naruto kemudian, mengambil salah satu gantungan kunci sederhana berbentuk katak betung hijau.

"Kok cuma satu, sih?" protes Ino.

"Satu juga lumayan. Yang penting kan niatnya untuk membantu, Nona Yamanaka…" Naruto kemudian merogoh saku jeansnya dan memasukkan tiga keping koin ke dalam kotak di pelukan Ino.

Ino sedikit mengerucutkan bibirnya, pura-pura cemberut. "Iya deh, Tuan Uzumaki pelit…"

"Apa-apaan itu? Dibantu malah menghina…" giliran Naruto yang protes.

Ino mengikik sambil menjulurkan lidahnya, kemudian berpaling pada Sai. "Sai mau beli tidak?" tawarnya, menyodorkan kotaknya ke depan cowok itu.

Tidak ada tanggapan dari yang bersangkutan. Sai masih memandangi gadis di depannya itu dengan tatapan seperti menerawang, seperti sedang memikirkan sesuatu. Ino melempar pandang bertanya pada Naruto yang menjawabnya dengan mengangkat bahu.

"Oi, Sai!"

Sebuah sikutan cukup keras dari Naruto menyadarkannya. Cowok itu mengerjap kaget. "A-Apa?" ia tergagap-gagap sendiri.

"Haah.. kau ini melamun apa, sih?" komentar Naruto sambil tertawa.

Sai mengabaikannya, dan sekarang perhatiannya tercurah pada Ino yang sedang mengangsurkan kotak ke arahnya. "Sai beli ya… Untuk bantuin danus…" gadis itu berkata dengan nada membujuk sambil memasang tampang manis—yang sudah terbukti berhasil membuat hati sebagian besar cowok-cowok Konoha High luluh seketika di bawah tatapan mata sapphire yang berbinar itu.

Dan sepertinya Sai termasuk di dalamnya kali ini. Saat berikutnya ia sudah mengangkat tangannya, mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya.

Ino tersenyum senang. "Kau mau dua?"

"Dua… puluh," gerutu Sai tidak jelas. Ia berdeham, kemudian memasang senyumnya yang biasa. "Beri aku dua puluh."

Baik Naruto dan Ino tercengang.

"Dua puluh?" tanya Ino, dengan tatapan tidak percaya.

Sai mengangguk mantap. "Iya, dua puluh. Aku mau beli dua puluh. Apa tidak boleh?"

"Ah, tidak, tidak," sahut Ino cepat-cepat. Ekspresi kagetnya berganti dengan senyum lebar berseri-seri. "Baiklah, dua puluh…" gadis itu dengan tampang riang mulai menghitung gantungan-gantungan itu untuk Sai, menaruhnya satu demi satu ke tangan cowok itu.

Naruto menoleh, menatap temannya itu dengan heran. "Buat apa dua puluh?"

Sejujurnya Sai sendiri tidak memikirkan apa yang akan dilakukannya dengan dua puluh buah gantungan kunci. Tadi meluncur begitu saja dari mulutnya. Tapi itu urusan belakangan, pikirnya sambil membalas tatapan heran Naruto dengan senyum tipis.

"Semuanya jadi enam puluh ryo!"

Sai sedang mengeluarkan beberapa lembar uang pecahan besar dari dalam dompetnya tepat ketika Sakura muncul dari arah perpustakaan sambil menggendong tiga tumpuk buku tebal. Wajahnya juga sama cerianya seperti Ino, begitu juga saat pemilik mata sewarna batu zamrud itu menyapa mereka.

"Tidak bareng Neji?" tanya Ino, menggodanya.

Sakura mengikik sambil mengibas-ngibaskan tangan. "Neji sedang diskusi kelompok dengan teman-temannya hari ini. Kau tahu kan, anak kelas tiga selalu sibuk?"

"Dan kau berniat belajar juga kalau begitu?" Ino mengerling tumpukan buku yang dibawa Sakura. Temannya itu hanya nyengir.

"Ini bahan untuk bahan paper tugas semester Biologi!"

"Sakura sudah mulai dari sekarang?!" Naruto tercengang, menatap Sakura tak percaya.

"Soalnya dekat-dekat akhir semester kan festival sekolah. Bakal sangat sibuk. Kalau tidak dikerjakan dari sekarang, bisa keteteran nanti, Naruto!" sahut Sakura, paling semangat kalau sudah membicarakan masalah pelajaran.

Naruto hanya memandang sahabatnya itu dengan tatapan antara takjub dan tak percaya.

"Oke. Uangnya sudah pas, Sai," kata Ino setelah menghitung kembali uang yang diangsurkan Sai padanya. "Thanks banget, ya…"

Tepat saat itu, tiba-tiba saja terdengar keributan dari lantai bawah. Keempat remaja itu dengan penasaran melongok dan menjulurkan leher untuk melihat apa yang terjadi. Anak-anak lain yang juga penasaran terlihat bergegas berbondong-bondong menuju koridor depan.

"Ada apa, sih?" tanya Sakura penasaran.

Sebelum seorang pun dari mereka menyahut, Karin muncul dari bawah tangga. Ekspresinya girang ketika melihat Ino. Gadis berkacamata itu lantas berlari menghampiri Ino, langsung menyambar tangannya. "Ayo, Ino! Kau harus melihat ini!" serunya sambil menarik Ino turun bersamanya.

"Melihat apa, sih?" jerit Ino.

"Kau akan tahu nanti—Oh, aku bakal nangis bahagia kalau jadi kau. Betul!" seru Karin.

Didorong rasa penasaran, Ino lantas mengikuti Karin. Sisa gantungan kunci dan uang receh bergerincingan di kotak yang digendongnya sementara ia berlari.

Melihat keributan yang terjadi membuat Naruto dan Sai melupakan tujuan mereka sebelumnya. Kedua cowok itu bersama Sakura lebih memilih menuruti rasa penasaran mereka dan bergabung dengan anak-anak yang berbondong-bondong menuju koridor depan yang riuh dengan anak-anak—terutama para gadis yang saling berbisik-bisik dan cekikikan dan cowok-cowok yang sebagian memasang tampang kecut.

Sakura dan kedua sahabatnya mendesak ke depan sampai akhirnya mereka bisa melihat apa yang menjadi penyebab kemacetan parah di koridor itu; seorang cowok jangkung berambut hitam sedang berdiri di depan pintu, membawa setangkai mawar merah di tangannya. Tetapi bukan hanya itu. Sekelompok cowok-cowok yang sepertinya bukan siswa sekolah itu membawa buket-buket bunga mawar merah yang kemudian tiletakkan di sisi-sisi pintu utama.

"I-Idate?" bisik Ino tak percaya melihat kekasihnya itu ada di sana. "Sedang apa, ka—"

"Tentu saja untuk menemuimu, Ino," ujar Idate lembut. Cowok itu berjalan mendekati Ino yang sudah didorong maju ke depan anak-anak oleh Karin yang juga sudah mengambil alih kotak danus Ino. "I miss you… so much…" diulurkannya mawar di tangannya pada Ino.

Anak-anak mulai bersuit-suit dan menyoraki mereka.

Dengan gugup, Ino menerima mawarnya. Wajahnya merona merah, mata birunya mulai berkaca-kaca. Gadis itu lantas menunduk untuk menyembunyikannya. "Kau seharusnya tidak melakukan ini, Idate," ia berbisik.

Idate tersenyum, menggelengkan kepala. Diletakkannya jarinya di bawah dagu Ino, membuat gadis itu mendongak menatapnya. "Aku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan untuk minta maaf padamu, Honey. Tidak melihat matamu, senyummu, wajahmu… benar-benar membuatku gila, kau tahu?"

Ino menyunggingkan senyum tertahan. Air mata yang sedari tadi ditahannya sudah meleleh di pipinya yang merona. Cepat-cepat disekanya basah itu dengan lengan sweter Kashmir-nya. "Gombal…" kikiknya, setengah terisak.

"Apa perlu aku membelah dadaku untuk membuktikannya, hm?"

Cowok-cowok langsung ber-boo heboh mendengarnya. Beberapa malah berteriak, "Jangan percaya, Ino!" atau "Gombal banget tuh!". Tetapi baik Idate maupun Ino mengabaikan mereka. Ino hanya tertawa di antara isakannya.

Idate kemudian mengulurkan tangannya, menyibak poni pirang Ino yang terjatuh ke depan matanya dan membingkai wajah cantik itu dengan kedua tangannya yang besar. "Dengarkan aku, Sweetheart, aku benar-benar menyesal dengan yang kemarin. Aku menyesal membuatmu menangis seperti itu, Ino. Kalau ada yang bisa kulakukan untuk membuatmu memaafkanku, akan kulakukan."

Ino tidak berkata apa-apa, hanya balas menatap mata onyx di depannya seakan ingin memastikan apakah Idate benar-benar serius dengan ucapannya atau tidak.

"I'm sorry… I'm so sorry, for everything…" bisik Idate di telinganya. "I love you."

Waktu seakan berhenti saat itu, seolah-olah semua yang ada di sana menunggu dengan harap-harap cemas jawaban Ino atas permintaan maaf Idate yang… romantis. Sampai akhirnya Ino menganggukkan kepalanya, menerima permintaan maaf kekasihnya. Gadis itu tertawa di antara isakan sebelum kemudian melempar kedua lengannya memeluk Idate. Anak-anak perempuan langsung menjerit bersorak sementara cowok-cowok langsung mengeluh keras-keras, kecewa berat gadis paling menarik seantero Konoha High itu tidak jadi 'available'. Teman-teman Idate yang ikut membawakan bunga tadi turut bertepuk dan bersuit-suit bersama yang tidak kecewa.

"Ada-ada saja…" komentar Naruto, terkekeh-kekeh.

"Romantis banget…" desah Sakura iri. "Ino pasti senang sekali."

"Jelas sekali," timpal Naruto. Seperti baru saja teringat sesuatu yang sangat penting, ia menepuk dahinya keras. "Oh, ya ampun, aku sampai lupa! Gawat, mereka bisa ngamuk-ngamuk kalau latihannya terlambat! Ayo, Sai, kita ke stu—" Naruto menoleh ke sana kemari, mencari sosok Sai yang tidak tampak dimana pun. "Kemana dia?"

Sakura ikut-ikutan bingung. "Lho? Bukannya tadi dia ada di sebelahmu?"

-

-

Sai menatap pantulan wajahnya dalam cermin di toilet anak laki-laki yang kosong. Kedua tangannya yang mencengkeram sisi-sisi wastafel gemetar, napasnya tak beraturan. Tapi ia tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Jantungnya berdegup kencang sekali dengan cara yang entah mengapa terasa sangat menyakitkan setiap kali bayangan dua orang di koridor tadi memasuki pikirannya. Perutnya melilit dan rasanya ia ingin sekali menendang sesuatu.

Kenapa aku selalu merasa aneh seperti ini? Perasaan macam apa ini sebenarnya? Kenapa rasanya begitu… sakit?

Ia meletakkan sebelah tangan di atas dadanya yang mendadak terasa seakan sangat penuh, membuatnya sesak. Sai meraup air yang mengucur dari keran dan membasuhkannya ke wajah untuk meredakan rasa panas yang tak bisa dijelaskan. Dan ketika ia mendongak lagi menatap bayangannya di cermin, yang dilihatnya adalah cairan bening yang terjatuh dengan bebas dari sudut-sudut matanya, bercampur dengan air.

Air mata itu… turun sendiri. Aku tidak bisa menahannya…

-

-

TBC…

-

-

Baiklah… yang terakhir itu sangat absurd.. TT_TT Gak bisa deskripnya euy! Gomen na? Gomen juga udah membuat cowok-cowok itu tersiksa. Um… gimana slight NejiSakuSasu n IdaInoSai-nya?—Yang paling aman cuma NaruHina aja.. Hihi.. sepertinya tema yang tepat untuk chapter ini emang jealousy, yah? Tapi kerasa gak yah..?? –meragukan-

Dan untuk scene IdaIno, wuah… Idate gombal amat tuh! –timpukin Idate- hihi.. Terus, yang awal juga sedikit SasuTayu. Tadinya aku mau bikin Sasuke pernah jadian beneran sama Tayuya, tapi ternyata ada di chapter berapa.. gitu, yang Sasuke bilang 'satu-satunya pengalamannya dengan cewek adalah ditolak Hinata', jadinya gak jadi deh. Nanti malah jadi kontradiksi. Putz hanya bikin mereka pernah pura-pura jadian, jadinya Sasuke gak memasukkannya sebagai 'pengalaman dengan cewek'. Yang gak suka crack, jangan dimasukkan ke dalam hati yah? SasuTayu hanya pemanis aja kok.. ^___^

Um… thanks banget buat yang udah review chapter sebelumnya; Aika-chan, Hikari-chan, Ambu, Nana-chan, M4yura, Emi-chan, Furu-chan, Uchiha Cesa, Raiko Azawa-san, Reiya Sumeragi-san, dan semua yang udah baca n belum sempat mereview.

Um.. akhir kata mau ngucapin, "Selamat hari kemerdekaan RI! MERDEKA!!" n "Marhaban yaa Ramadhan!" buat semuanya yang menjalankan. ^__^