Chapter 58
Hari terakhir festival band di Konoha City Square berlangsung jauh lebih meriah dari hari-hari sebelumnya, seakan semua anak muda Konoha—dan beberapa yang datang dari luar Konoha—tumpah ruah di tempat itu. Setelah satu minggu melihat band-band muda berbakat dari seantero Konoha, pastilah semua orang—atau setidaknya, mereka yang menyenangi musik—akan penasaran band beruntung mana yang mendapatkan penghormatan sebagai band terbaik, diluar penghargaan lain yang diberikan berdasarkan penilaian individu oleh juri. Selain itu, tentu saja karena daya tarik band dan penyanyi ibu kota yang diundang datang untuk menjadi bintang tamu.
Sakura bersama serombongan besar anak-anak Konoha High lain berdiri di salah satu sisi lapangan yang luas itu, bersorak sorai riuh menyemangati setiap kali band perwakilan sekolah mereka tampil. Mereka berteriak-teriak sampai serak, tidak memedulikan gengsi lagi. Bahkan Hinata Hyuuga yang biasanya begitu santun dan kalem itu pun ikut bersorak bersama yang lain—yah, meskipun tidak benar-benar berjingkrak-jingkrak seperti orang gila seperti yang dilakukan sebagian besar teman-temannya.
Namun sayang sekali Ino tidak bisa menggabungkan diri bersama kemeriahan di tengah-tengah teman-temannya, karena saat itu ia lebih memilih menonton bersama Idate dan teman-teman kampusnya di sisi lain lapangan itu. Sejak insiden permintaan maaf dari Idate yang romantis dan sempat menimbulkan kehebohan di Konoha High—yang sayangnya terpaksa diakhiri dengan sangat tidak romantis dengan ditendang-keluarnya Idate secara tidak hormat oleh Asuma Sarutobi karena dianggap menimbulkan kerusuhan di sekolah yang seharusnya adalah tempat yang tenang untuk belajar—Ino memang menjadi sangat lengket pada pacarnya itu lagi.
Dan sejak itu sepertinya mulut Ino tidak pernah berhenti mengoceh tentang Idate. Yah, kadang-kadang memang agak membosankan—dan Sakura juga meraka sedikit tersisih—tapi siapa yang peduli? Yang penting gadis itu tidak lagi murung dan bermuka masam, melainkan menjadi superceria, supermenyenangkan, superbawel dan tak hentinya mengumbar cengiran kemana-mana. Pokoknya Ino sudah kembali menjadi Ino yang ceria seperti sedia kala.
Tetapi tidak ada yang menyadari kalau keceriaan yang diusung gadis itu kemana-mana membuat hati salah satu temannya menjadi tidak menentu.
Sai. Ia tidak mengerti mengapa semua kehebohan itu berdampak pada tubuhnya. Bukan hanya jantungnya yang berdegup sangat kencang sampai-sampai terasa sangat menyakitkan, tetapi juga seperti ada sesuatu yang mencakari organ-organ dalamnya tanpa ampun. Juga perasaan ingin marah yang mendadak timbul sementara ia tidak tahu apa penyebabnya, yang ia tahan sejadi-jadinya. Dan tersenyum dan berkonsentrasi tiba-tiba saja menjadi hal yang sangat sulit dilakukan.
Naruto, yang kemudian menyadari perubahan itu mulai curiga ada sesuatu yang sedang disembunyikan sahabatnya. Tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa karena Sai selalu saja meyakinkannya kalau semuanya baik-baik saja setiap kali ditanya. Naruto hanya bisa mengingatkan sahabatnya itu, "Apapun masalahmu, Sai, cobalah berkonsentrasi pada penampilan terakhir kita hari ini, oke?" Naruto mendaratkan tepukan hangat di bahu Sai sebelum mereka naik panggung. "Setelah itu kau bisa cerita apa pun padaku atau Sakura. Kau bisa percaya kami."
Sai membalasnya dengan anggukan. Dukungan Naruto membuatnya merasa lebih baik, dan ia bertekad untuk tidak mengecewakan teman-temannya dengan bermain sebaik mungkin hari ini. Dan itu terbayar dengan penampilan mereka yang luar biasa—setidaknya itu menurut anak-anak Konoha High yang menonton sekarang. Sorakan yang bergemuruh dari penonton menjadi pembuktian atas kerja keras mereka.
Volatile baru saja menyelesaikan lagu kedua mereka dan sedang jeda sebelum memainkan lagu terakhir. Naruto, yang wajahnya memerah setelah mengerahkan kemampuan pita suaranya selama dua lagu pertama dan kegairahan yang mencapai tingkat tertinggi, berdiri paling depan di depan tiang mike. Cowok pemilik mata biru langit itu tersenyum lebar menatap para penontonnya, terutama di sisi kanan lapangan, tempat teman-temannya berkumpul menonton.
"Lagu ketiga," ucapnya lewat mike sambil menatap titik merah muda di antara kerumunan anak-anak Konoha High, "Kami persembahkan untuk sahabat kami tersayang." Jeda lagi sementara cowok yang rambut pirangnya kini di-mohawk dengan gel rambut itu tersenyum lembut pada gadis yang dimaksud. "Lagu ini punya kenangan tersendiri untukku, dan untuk sahabat kami itu juga, tentunya." Naruto mengambil napas sejenak. "Sakura, aku harap kau menyukainya."
Terdengar sorakan heboh dari rombongan anak-anak Konoha High. Sakura, yang wajahnya sudah memerah karena terharu mendengar lagu terakhir dipersembahkan untuknya, menjadi pusat perhatian anak-anak yang ramai bersuit-suit menggoda. Gadis itu hanya tertawa, menyuruh orang-orang yang menggodanya agar diam dan kembali melihat ke panggung sambil memeluk lengan Hinata yang berdiri di sebelahnya.
"Jangan dianggap serius ya, Hinata," Sakura membisiki temannya itu, cemas kalau-kalau Hinata berpikiran lain soal hubungannya dengan Naruto. "Kami cuma teman, kok."
Yang dibisiki hanya tertawa lembut. Wajahnya bersemu. Tidak diberitahu pun Hinata sudah tahu kalau mereka berteman sangat baik dan Sakura adalah gadis yang istimewa bagi Naruto. Ia sama sekali tidak keberatan dengan itu; Naruto bebas menyukai siapa saja, bersahabat dengan siapa saja dan menganggap istimewa siapa saja yang ia mau. Hinata menghargainya, sama sekali tidak cemas apalagi merasa terancam dengan satu lagu kenangan di antara dua sahabat itu.
Kedua gadis itu pun bertukar senyum.
Sementara itu di panggung, Naruto menoleh ke arah Shikamaru dan teman-teman Volatile-nya yang kemudian mengangguk tanda siap. Dan saat berikutnya Shikamaru mulai memainkan nada-nada pembuka dengan gitarnya.
Sakura yang mengenali intro itu, hatinya langsung mencelos. Bayangan tentang saat-saat ia berkumpul dengan Naruto dan Sasuke untuk pertama kalinya di restoran keluarganya langsung melintas kembali dalam benaknya. Masa itu mungkin tidak begitu istimewa kalau saja Hiroyuki Haruno, mendiang ayah Sakura tidak ada di sana untuk menyanyikan lagu ini berduet dengan Naruto.
Ayah…
"To really love a woman
To understand her
You gotta know it deep inside
Hear every thought, see every dream
N' give her wings, when she want's to fly
Then when you find yourself lyin' helpless in her arms
You know you really love a woman…"
Air mata mengalir jatuh penuh haru dari mata hijau zamrud milik Sakura. Disekanya basah itu dan ia pun melambaikan tangannya ke arah panggung, ke arah sahabatnya menyanyikan lagu penuh kenangan itu untuknya. "NARUTO!!"
Seakan bisa mendengar teriakan sahabatnya, Naruto tersenyum dan bernyanyi semakin semangat, diiringi suara Shikamaru yang menjadi backing-nya.
"When you love a woman you tell her that she's really wanted
When you love a woman tell her that she's the one
She needs somebody to tell her
That it's gonna last forever
So tell me have you ever really
Really really ever loved a woman?"
-
-
Uchiha Mansion – Oto-city
"Sudah semuanya?" Mikoto memastikan sementara para pelayan sibuk memasukkan barang-barang Sasuke ke bagasi mobil Itachi.
"Ini sudah semuanya, Nyonya," balas Paman Hayato yang baru saja memasukkan koper terakhir. "Apa tas itu mau dimasukkan ke bagasi juga, Tuan Muda?" tanyanya pada Sasuke yang baru saja keluar dari rumah bersama ayah dan kakaknya, membawa tas ransel yang disampirkan di bahunya.
"Tidak, Paman. Yang ini kubawa saja," sahut Sasuke.
"Yakin barang-barangmu hanya ini saja, Sasuke?" tanya Mikoto pada putra bungsunya. Ia agak terheran dengan barang-barang yang dibawa Sasuke yang menurutnya terlalu sedikit; hanya dua koper berukuran sedang berisi pakaian dan semua keperluannya, juga tas berisi dokumen penting dan notebook.
"Ya, Bu," Sasuke mengangguk yakin, menaikkan posisi tas di bahunya supaya lebih nyaman. "Masih ada barang-barangku di rumah Konoha, jadi—"
"Eh, tunggu sebentar," sela Itachi tiba-tiba. Ditatapnya sang adik dengan tatapan serius. "Rasanya aku sudah menjual baju-bajumu yang tertinggal di tukang loak."
"Apa?!" pekik Sasuke kaget. Ekspresi kagetnya dengan cepat berubah berang. "Seenaknya saja kau—"
"Hanya bercanda," sela Itachi lagi, kali ini dengan memasang cengiran innocent.
Baik Fugaku maupun Mikoto tertawa mendengar gurauan Itachi, tetapi tidak dengan Sasuke. Ia melempar pandang tidak senang pada kakaknya. Sebal karena lagi-lagi kena dikerjai. Itachi selalu saja tidak melewatkan kesempatan untuk membuatnya kesal, pikirnya jengkel. Menggerutu, Sasuke berjalan melewati orangtuanya dan Itachi menuju mobil, membuka pintu dan melempar tasnya ke bangku belakang.
"Jangan menggodai adikmu terus begitu, Itachi…" tegur Mikoto sambil menahan tawanya.
"Habis tampang sok cool-nya itu benar-benar bikin gatal," kilah Itachi, nyengir.
Seperti sendirinya tidak saja, pikir Sasuke. Ia sudah tahu bagaimana sikap Itachi di luar sana. Selalu sok tenang dan kalem, berpura-pura tidak tahu kalau sederet wanita memujanya di belakangnya karena ke-sok-cool-annya itu, padahal kalau di rumah—apa lagi kalau hanya berdua saja dengan adiknya tersayang—sikapnya itu bisa berubah seratus delapan puluh derajat, bisa menjadi sangat cerewet, usil dan jauh lebih menyebalkan dari bisul yang tumbuh di pantat. Meski begitu, Sasuke tahu kalau kakaknya itu teramat sayang padanya. Lebih dari perasaan sayang seorang kakak pada umumnya.
Barangkali karena usia mereka yang terpaut agak jauh, hampir enam tahun, pikirnya. Atau mungkin karena hal lain.
Sebelum Sasuke, Itachi sempat memiliki seorang adik perempuan, dan ia sangat mencintai Atsuko—nama adik perempuannya itu. Sayangnya, Atsuko mengidap kelainan jantung parah dan hidupnya hanya bertahan beberapa bulan saja sebelum akhirnya meninggal. Itachi mengalami kekecewaan yang berat saat itu, terlebih di usianya yang masih sangat belia. Dan saat Sasuke lahir, ia benar-benar menjadi sangat protektif pada adiknya itu. Seluruh kasih sayang dan perhatiannya ia curahkan pada Sasuke. Meskipun kadangkala cara penyampaian kasih sayangnya itu agak aneh dengan melulu menjahilinya dan membuatnya kesal. Yah, kecuali kalau Sasuke sudah bertindak kelewat batas—seperti saat ia kabur dari rumah beberapa bulan silam—Itachi bisa saja bersikap galak dan tegas.
Sasuke memutar tubuhnya dan melihat kakak dan ayahnya sudah turun dari pelataran depan rumah menuju tempatnya berdiri di sisi mobil, begitu juga dengan ibunya. Paman Hayato sudah menutup dan mengunci bagasi dan sedang memberikan kuncinya pada Itachi.
"Terimakasih, Paman," ucap Itachi.
Sang kepala pelayan berwajah ramah itu membungkukkan badannya sopan sambil tersenyum. "Tuan Muda berdua hati-hati di jalan." Ia kemudian bergabung dengan sederet pelayan yang lain dan supir pribadi Fugaku berdiri di pelataran depan pintu utama.
"Kalian berdua tidak apa-apa bermobil berdua saja? Tidak butuh supir, Nak?" Mikoto menatap putra sulungnya khawatir.
Itachi melempar senyum menenangkan pada sang ibu. "Tidak perlu, Bu. Kami bisa gantian menyetir. Lagipula aku kan sudah biasa pulang pergi Oto-Konoha naik mobil saja."
"Yeah, karena Kakak sering mabuk kalau naik pesawat," gerutu Sasuke pedas. Ia rupanya masih kesal setelah dijahili terus oleh Itachi. Dua gadis pelayan mengikik di balik tangan mereka, dan kemudian langsung terdiam begitu mendapat tatapan tajam menegur dari Hayato. Sementara itu Itachi mengabaikan mereka.
"Terimakasih atas informasinya, Sasuke," ujarnya dengan senyum santai, membuat Sasuke ingin sekali menjitaknya. Gemas. Itachi mengerling arloji di pergelangan tangan kirinya. "Kalau perhitunganku tidak salah, kami akan sampai di Konoha besok siang atau sore."
Mikoto tampak kurang setuju dengan rencana itu. "Itu berarti kalian tidak berencana menginap?"
Sasuke yang melihat kesempatan untuk membalas kakaknya langsung menyambar, "Oh, Ibu tidak perlu khawatir. Kakak sudah terbiasa tidak tidur semalaman. Dan kalau ada yang mencegat kami di jalanan…" Sasuke melirik Itachi, menyeringai tipis, "…kita akan tahu apakah ban hitam karate yang digembar-gemborkannya asli atau tidak."
Mikoto tampak kaget sekaligus cemas. "Sasuke, itu tidak lucu, Sayang."
"Tidak apa, Bu," Itachi membalas sama santainya seperti tadi, dengan ditambahi tawa ringan. "Karateku, ditambah Sumo Sasuke, semuanya pasti aman."
Sasuke membeliak lagi pada Itachi. Kikikan terdengar sama dari arah para pelayan yang wajahnya sudah memerah karena menahan tawa. Bahkan Paman Hayato dan Fugaku pun tersenyum tertahan. Hanya Mikoto yang sama sekali tidak melihat kelucuan dalam situasi itu.
"Ooh.. tidakkah sebaiknya kalian diantar supir saja?" Ditatapnya kedua putra tersayangnya bergantian. Kekhawatiran jelas terpancar dalam mata hitamnya yang lebar. Pandangannya beralih pada suaminya yang tampak lebih tenang dan santai. "Atau sebaiknya kita pesankan saja tiket pesawat ke Konoha untuk malam ini, Fugaku?"
"Sudahlah, Mikoto," Fugaku menepuk pundak istrinya lembut, "Biarkan saja mereka melakukan apa yang mereka mau. Toh mereka sudah sama-sama besar, bisa jaga diri."
"Ayah dan Ibu tenang saja," kata Itachi sambil menyambar leher Sasuke, mengalungkan sebelah lengan ke pundak adiknya. "Kami akan baik-baik saja. Iya kan, Sasuke?"
"Hn," Sasuke meringis, agak menyesal juga telah menyebut 'mencegat kami di jalanan'. Membuat khawatir ibunya adalah hal terakhir yang ia inginkan sekarang. "Jangan khawatir. Kami akan saling jaga!" Tangannya bergerak ke pundak sang kakak, balas merangkulnya.
"Nah, kalau akur begitu kan bagus kelihatannya," kekeh Fugaku. Ia melempar senyum puas pada kedua putranya yang kompak mengeluarkan cengiran yang persis. "Kau dengar mereka, kan, Mikoto. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Lagipula dulu mereka juga bermobil berdua saja ke Konoha tidak apa-apa."
Mikoto masih memandang tidak yakin selama beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk, mengalah. "Kalau kalian sudah bilang begitu, Ibu tidak bisa berbuat apa-apa. Yang penting kalian hati-hati."
"Pasti," sahut Itachi sambil mengangguk dan melepaskan rangkulannya dari Sasuke. "Kami pergi dulu kalau begitu, Ibu, Ayah."
"Langsung telepon rumah begitu kalian sampai, ya…" ucap Mikoto sambil memberikan pelukan hangat pada putra tertuanya, disambung dengan kecupan di kedua pipi.
"Baik, Bu.." balas Itachi, kemudian beralih pada ayahnya untuk pamitan sementara Mikoto menarik Sasuke dalam dekapan erat yang agak lama.
"Sasuke, Sayang. Oh, rumah pasti sangat sepi tanpamu. Kau jaga diri baik-baik, ya. Jangan sampai sakit lagi, dan belajar yang rajin…" perlu lima menit penuh bagi Mikoto untuk memeluk si bungsu dan memberikan wejangan perpisahan padanya sebelum akhirnya melepaskannya dan mendaratkan ciuman amat basah di kedua pipi dan kening Sasuke.
Sasuke kemudian beralih pada ayahnya. Fugaku memeluknya juga. "Baik-baik di Konoha, Nak," pesannya seraya menepuk punggung putra bungsunya mantap.
"Thanks, Yah…" balas Sasuke.
Berbeda dengan saat kepergian pertama Sasuke ke Konoha beberapa bulan yang lalu, yang diwarnai dengan situasi tegang dan tidak menyenangkan, kali ini keluarga itu melepas kepergian anak-anak mereka dengan kehangatan. Tidak ada rasa marah dan sakit hati seperti dulu. Yang ada hanyalah pelukan hangat dan ucapan selamat jalan penuh keakraban. Dan ketika Sasuke melangkah masuk ke dalam mobil, menoleh menatap ayah dan ibunya yang masih berdiri di beranda bersama para pelayan yang sedang melambaikan tangan pada mereka, ia merasa akan segera merindukan mereka.
"Sudah siap?" tanya Itachi yang duduk di belakang roda kemudi pada adiknya.
"Sudah," sahut Sasuke sambil memasang sabuk pengamannya, kemudian membuka kaca jendela.
"Hati-hati kalian berdua," pesan Mikoto dengan wajah bersimbah air mata—tapi tetap tersenyum—sambil melambaikan tangannya. Tangan Fugaku berada di pundaknya. "Itachi, nyetirnya jangan ngebut-ngebut, Nak. Jaga adikmu."
Kemudian BMW hitam kebanggaan Itachi mulai bergerak perlahan meninggalkan halaman depan mansion Uchiha. Sasuke kembali menutup jendela, menahan udara dingin yang masuk. Dari kaca spion ia masih bisa melihat kedua orang tuanya masih berdiri di sana, melambai pada mereka, sampai akhirnya bayangan mereka menghilang begitu mobil melewati gerbang utama dan meluncur mulus di jalanan Oto City. Tidak butuh waktu lama sampai mereka bergabung dalam antrian kemacetan di kota yang padat itu. Sasuke menghela napas, menyandarkan kepalanya menatap antrian kendaraan dari jendela.
"Kenapa, hm? Sudah kangen?" ledek sang kakak tanpa mengalihkan pandang dari jalan di depan mereka.
"Hmph," Sasuke menggerutu tidak jelas sebagai jawaban. Lagi-lagi Itachi bisa menebak isi hatinya dengan tepat, Sasuke membatin jengkel. Tetapi tekadnya untuk kembali ke Konoha sudah bulat. Di sanalah tempatnya yang sesungguhnya, bersama dengan sahabat-sahabat yang sudah mengubah hidupnya.
Itachi melirik adiknya dari sudut matanya. "Kau tidak berencana menghubungi teman-temanmu, Sasuke? Memberitahu mereka kalau kau akan kembali ke Konoha?"
"Tidak," Sasuke menyahut datar. "Aku berencana bikin kejutan."
"Wow!" komentar Itachi, tertawa kecil. "Adikku yang kaku ini bisa bikin kejutan juga rupanya, eh?"
"Diamlah, Kak…" Sasuke berpaling, menyembunyikan senyumannya. Membayangkan wajah kaget teman-temannya entah mengapa terasa sangat menyenangkan. Sakura yang seringkali bersikap spontan itu barangkali akan langsung memeluknya.
Hah… aku memikirkan apa, sih?
"Istirahat saja dulu. Setelah ini gantian kau yang nyetir," kata Itachi ketika mobil mereka memasuki jalanan yang lebih lengang, pertanda mereka sudah mulai meninggalkan Oto-city.
"Hn." Sasuke mengambil ipod-nya dan menyumpalkan earphope ke telinganya. Alunan intro lagu yang sudah menjadi lagu favoritnya sejak ia mendengarnya untuk pertama kali beberapa bulan yang lalu langsung terdengar pelan. Dipenjamkannya matanya, menikmati melodi penuh kenangan itu…
"To really love a woman
To understand her
You gotta know it deep inside
Hear every thought, see every dream
N' give her wings, when she want's to fly
Then when you find yourself lyin' helpless in her arms
You know you really love a woman…"
Sasuke tersenyum dalam hati. Teman-teman, tunggu aku datang…
-
-
"SELAMAT, CHOUJI!!!"
Denting botol coke yang saling beradu mengiringi derai tawa dan seruan selamat pada salah satu personil band Volatile, Chouji Akimichi,yang baru saja memenangi penghargaan The best bassist di ajang festival band tahunan Konoha yang baru saja resmi ditutup. Udara sore awal musim dingin yang mengigit saat itu tidak lantas menyurutkan kegairahan yang sedang menyelimuti Naruto beserta teman-temannya untuk merayakan keberhasilan teman mereka di salah satu café pinggir jalan di dekat Konoha Central Park.
Yah, walaupun pada akhirnya hanya satu orang yang mendapatkan penghargaan, setidaknya tahun ini mereka mengalami banyak kemajuan dengan masuk beberapa nominasi yang bahkan di tahun sebelumnya mereka tidak berhasil masuk; Naruto di the best male vocalist, Shikamaru di the best guitarist, duo vocalist The Glossy di the best duet, Alpha Band di the best arrangement dan beberapa lagi termasuk the best band untuk Volatile. Tidak ada yang heran saat band dari Konoha Art Academy lagi-lagi keluar sebagai juara umum sekaligus band terbaik. Dan teman Sai dari Suna, Gaara Sabaku, bahkan berhasil menyabet penghargaan the best performance di penampilan perdananya. Mereka tadi sempat melihat serombongan besar anak-anak KAA yang juga sedang merayakan keberhasilan tim sekolah seni itu tak jauh dari café tempat mereka berada sekarang.
"Jadi, Chouji…" Zaku berkata sambil merangkul pundak tebal Chouji, nyengir, "Mau kau apakan uang hadiahnya?"
"Yang jelas tidak akan diberikan padamu, bego!" seru Naruto diiringi derai tawa yang lain. Zaku langsung mencibirnya.
"Separuhnya jelas akan masuk ke kantung pribadi Chouji," kata Shikamaru santai, memandang sahabatnya dengan tatapan bangga, "Separuh lagi…" ia membiarkan kalimatnya menggantung. Dan saat berikutnya Chouji sudah diserang tatapan mata memohon dari teman-temannya.
Chouji tertawa ringan. "Separuh lagi tentu saja akan aku simpan di kas klub kita. Kan bisa dipakai untuk kepentingan bers—"
Ucapannya langsung terpotong oleh suara-suara mengeluh dari teman-temannya yang terlanjur mengharapkan sesuatu yang lain.
"Kurasa anak-anak ingin kau mentraktir mereka, Chouji," ujar Sai terus terang, disambut sorakan setuju dari yang lain.
"Aah… kalian makan saja yang dipikirkan!!" kekeh Chouji seakan-akan dirinya tidak saja.
Sementara itu Ino lagi-lagi absen. Setelah hubungannya yang sempat memanas dengan sang pacar, tentu saja gadis itu ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan Idate setelah berbaikan, kan? Tetapi itu tidak lantas membuatnya lupa pada teman-temannya karena selang beberapa waktu kemudian ia datang—berdua dengan Idate, tentu saja, untuk bergabung dalam perayaan itu.
Dengan wajah ceria, Ino menghampiri Chouji, memberikannya selamat sambil memeluknya erat. Mengundang seruan menggoda dari yang lainnya, yang tidak digubris Ino. Sakura yang kebetulan duduk di dekat mereka sempat melihat mata Idate berkedut sedikit sebelum memaksakan senyum lalu maju untuk menyalami Chouji juga. Sakura mendengus, yang kemudian ditutupinya dengan mengangkat cangkir cokelat panasnya ke bibir.
"Idate sepertinya agak cemburuan, ya?" bisiknya pada Sai yang duduk di sebelahnya setelah menurunkan cangkirnya. Ino dan Idate sudah menemukan bangku kosong untuk mereka berdua agak jauh dari mereka. "Kau lihat ekspresinya tadi waktu Ino meme—Sai? Hei, aku bicara padamu!"
Sakura menepuk lengan Sai tak sabar. Entah apa yang sedang dilamunkan cowok itu; pandangannya menerawang dan ekspresinya hampa. Dan jelas ia sama sekali tidak memperhatikan apa yang dikatakan Sakura sejak tadi.
Sai mengerjap kaget dan menoleh pada gadis di sebelahnya. "Eh, kau bilang apa tadi?"
"Ck!" Sakura pasang tampang cemberut, sebal karena merasa diacuhkan. "Kau dari tadi melamun apa sih? Tingkahmu aneh sejak kemarin, tahu tidak?"
Sai memaksakan senyum. "Maafkan aku," gumamnya, kemudian beranjak.
"Kau mau kemana?" tanya Sakura terkejut.
"Aku merasa sedikit… er… tidak enak badan," Sai mengarang alasan. "Um.. kurasa aku mau pulang dan istirahat saja." Ia mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalam dompetnya dan meletakkannya di atas meja. "Sampai ketemu."
Sebelum Sakura membuka mulut untuk mengatakan sesuatu, Sai sudah keburu melesat pergi meninggalkan tempat itu. 'Ada apa dengannya?' Sakura membatin heran.
"Sai mau pergi ke mana tuh?" tanya Naruto yang baru saja duduk di bangku yang baru ditinggalkan Sai. Pandangannya mengarah pada tempat di mana Sai menghilang barusan.
Sakura mengangkat bahu. "Katanya sih tidak enak badan," sahutnya sambil mencomot potongan pai apel dari piring dan menggigitnya. "Dia memang kelihatan tidak sehat," tambahnya setelah menelan potongan painya, "—dan kelihatan agak murung."
"Kau benar. Dia memang kelihatan tidak begitu oke belakangan ini." Naruto menghela napas, ikut mencomot pai. Selagi mengunyah makanannya, kerutan samar muncul di kedua alisnya dan pandangannya sedikit menerawang, seakan sedang memikirkan sesuatu. "Sebenarnya aku curiga sesuatu sedang terjadi dengannya…" ucapnya.
Sakura sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Naruto, berkata dengan suara pelan, "Kau juga merasa begitu?"
Naruto mengangguk. "Kau ingat waktu Sai tiba-tiba menghilang sebelum latihan band?"
"Ya.." sahut Sakura lambat-lambat, mulai penasaran apakah kecurigaannya sama dengan Naruto.
"Nah, dia muncul di studio setelah kami latihan setengah jalan tanpa dia—buset deh, si Zaku ngomelnya melebihi Ino—mukanya kusut dan dia kelihatan kacau sekali. Bukan hanya kelihatannya sih, mainnya juga sangat buruk. Sepertinya ada yang mengganggu pikirannya…"
"Kau sudah menanyainya?"
Naruto menghela napas, lalu memasukkan sisa painya bulat-bulat ke mulut. Perlu beberapa waktu baginya untuk mengunyah dan menelan makanannya sebelum menjawab Sakura, "Masalahnya Sai selalu bilang tidak ada apa-apa. Sekali dia pernah berkata kalau dia merasa aneh, tapi dia tidak menjelaskan lebih lanjut apanya yang aneh. Kau tahu anak itu kan. Kadang-kadang aku merasa Sai tidak memahami dirinya sendiri. Hanya saja…"
"Hanya saja?" Sakura membulatkan mata hijaunya.
"Well, ini hanya kecurigaanku saja sih.." cengiran penuh arti muncul di wajah cowok bermata biru itu, "Menurutku dia sedang.. er... suka—" Naruto mengangkat kedua tangannya, membuat tanda petik di udara, "—dengan seseorang. Maksudku, belakangan ini kan dia banyak diperhatikan cewek-cewek di sekolah. Bukan tidak mungkin kan, ada salah satu yang nyantol?"
Sakura tidak terlalu kaget mendengar pernyataan Naruto, karena itu juga yang tepatnya sedang ia curigai sekarang. Meskipun belakangan ini ia jarang menghabiskan waktu bersama Sai seperti dulu, tetapi sebagai teman ia pasti menyadari ada yang berubah. Beberapa kali Sakura memergoki Sai melamun di kelas, tanpa sadar tersenyum sendiri saat orang lain tidak melihat dan yang paling membuatnya curiga adalah… caranya menatap gadis itu berbeda dengan caranya menatap orang lain. Yah, kalau yang itu sih memang sudah agak lama, bahkan dari awal keduanya bertemu. Dalam, intens, penuh rasa penasaran, seakan ada sesuatu yang dilihatnya dari gadis itu yang tidak dilihat orang lain.
"Mungkin saja," ujar Sakura lambat-lambat. Tiba-tiba ia menarik napas dengan cepat, matanya membulat lagi. "Kalau itu memang benar, dan dicocokkan dengan 'tidak enak badan'-nya yang sekarang…" berarti kecurigaannya selama ini memang benar, "…Oh, tidak…"
"Oh, ya…" Naruto mengangguk-anggukkan kepalanya dengan yakin, masih nyengir, "Kurasa pikiran kita sama, Sakura. Sai sedang suka pada…"
"Hei, kalian ngobrol apa, sih? Kelihatannya asyik sekali.." Ino tiba-tiba sudah berada di samping meja mereka, memandang keduanya bergantian dengan ekspresi tertarik sambil menarik kursi kosong dan duduk.
"Bukan apa-apa!" sahut Naruto cepat-cepat, tampak salah tingkah.
"Kau mengagetkan kami saja, Ino!" tukas Sakura mencela. Gadis itu sempat melompat kaget dari bangkunya saat Ino tiba-tiba menepuk bahunya keras tadi. Ino hanya tertawa-tawa saja, mengabaikan protes sahabatnya.
"Lho? Idate kemana?" tanya Naruto sambil celingak-celinguk, mencari sosok pacar Ino, tapi cowok itu tidak tampak dimana pun.
"Idate sudah pulang, tidak bisa lama-lama," sahut Ino, "Katanya dia besok harus keluar kota pagi-pagi sekali dengan kakaknya. Biasa, urusan keluarga." Ia kemudian berpaling pada Sakura, melempar senyum nakal. "Besok jadi, kan?"
Wajah Sakura langsung bersemu kemerahan. Ingatan diskusinya dengan Naruto tentang siapa gadis yang tengah disukai Sai langsung buyar seketika begitu Ino mengingatkannya soal janji keluar bersama Neji besok malam. Sakura mengangguk kecil sambil mengangkat cangir cokelat panasnya lagi ke bibir untuk menutupi kegugupan yang datang tanpa diundang. "I-Iya…" ia kedengarannya seperti Hinata.
"Jadi apa, sih?" tanya Naruto penasaran, menatap curiga pada Ino dan Sakura bergantian, mengira ada konspirasi terselubung-entah-apa antara kedua gadis itu.
"Besok malam kan Sakura ada kencan dengan Neji," jawab Ino ceria, tanpa memedulikan wajah sahabatnya yang sudah semerah tomat.
Naruto mengerjap, tampak terkejut. Cowok itu menatap Sakura seakan tidak mempercayai apa yang baru saja didengarnya dari Ino. Selama ini ia belum tahu rencana ini. "Kau mau kenc—"
"Oh, itu bukan kencan!" sela Sakura sambil melempar tatapan galak pada Ino, "Kami hanya er… keluar mencari um… referensi untuk drama." Ia mendadak salah tingkah.
"Berdua saja?" Naruto mengacungkan jari tengah dan telunjuknya.
"Tentu saja hanya berdua.." kekeh Ino sambil memutar bola matanya. "Menonton opera di Konoha City Hall, tempat kencan paling romantis yang bisa ditemukan di Konoha. Keren, kan? Aku juga kepingin kalau begitu, sih."
Tidak tahu lagi harus berkomentar apa, Naruto hanya berkata, "Wow," pelan sebelum menyeruput minumannya perlahan. Sebenarnya ia tidak begitu yakin dengan perasaannya saat mendengar Sakura akan keluar bersama Neji. Di satu sisi, sejujurnya masih ada setitik rasa khawatir dan cemburu dalam hatinya. Tetapi di sisi lain, Sakura kelihatannya sangat gembira bisa keluar dengan cowok yang sudah lama ditaksirnya itu. Dan bagi Naruto sekarang, senyum dan kebahagiaan Sakura adalah yang terpenting. Ia harus mendukungnya.
Bagaimana pun, Naruto sangat menyayangi gadis itu. Barangkali sudah bukan lagi sebagai laki-laki terhadap perempuan, tetapi perlahan sudah bertransformasi menjadi perasaan sayang antar sahabat. Perasaan sayang seorang kakak pada adiknya.
"Sepertinya bakal menyenangkan," ucap Naruto lembut.
Mata zamrud milik Sakura sejenak menatap wajah tersenyum Naruto. Hatinya mendadak menghangat melihat ketulusan dalam sorot mata biru milik cowok itu. Akhirnya gadis itu bisa merasa lega juga. "Trims, Naruto," balasnya sambil tersenyum.
-
-
Langit sudah mulai gelap begitu mereka menyudahi perayaan itu. Lagipula para personil band yang sudah latihan mati-matian selama beberapa hari benar-benar butuh istirahat lebih awal di ranjang masing-masing. Tetapi Sakura masih terlalu bersemangat untuk segera pulang ke rumah. Akhirnya ia ikut Ino ke rumahnya, melanjutkan obrolan mereka soal rencana kencan-nya dengan Neji besok.
Sakura mulai mencemaskan lagi apa yang kira-kira akan dikenakannya besok. Berhubung ia bukanlah tipe gadis yang tergila-gila dengan fashion sebagaimana gadis remaja pada umumnya dan hanya memakai yang menurutnya nyaman, Sakura jadi tidak memiliki stok gaun musim dingin yang benar-benar pantas dikenakannya untuk pergi ke tempat seperti Konoha City Hall di dalam lemarinya. Hanya tumpukan sweter rajutan, jaket, celana panjang dan mantel biasa.
"Kalau untuk urusan itu, serahkan saja padaku," kata Ino riang ketika kedua gadis itu sudah berada dalam kamar Ino yang luas dan hangat. "Aku tahu yang pantas untukmu!"
Gadis itu menggantung mantel dan syalnya ke gantungan mantel bersama milik Sakura sebelum melenggang anggun ke lemari pakaiannya yang menyatu dengan dinding. Lemari itu sangat besar, memuat sekali koleksi pakaian Ino, mulai dari gaun malam sampai seragam cheers-nya yang lama. Ada juga lemari khusus untuk sepatu-sepatunya.
Sakura menjatuhkan diri duduk di ranjang Ino yang empuk dan nyaman sementara sang tuan rumah mengaduk-aduk isi lemarinya. "Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan seandainya tidak ada kau, Ino. Trims," ucapnya.
Kepala Ino nongol dari daun lemari. "Tidak masalah, dear. Kita kan bersahabat sejak kecil. Sudah sepantasnya aku membantu kencan pertamamu."
"Tidak benar-benar kencan," ralat Sakura, tersipu.
Ino nyengir senang. "Tidak usah sungkan, oke?" ia mengedipkan mata sapphire-nya sebelum sekali lagi menghilang di balik daun pintu lemarinya.
Tidak tahu harus berkata apa, Sakura hanya tersenyum. Ia menarik napas dalam-dalam dan mengedarkan pandangannya.
Sakura selalu menyukai kamar Ino. Ada sesuatu di kamar itu yang membuatnya nyaman. Barangkali karena dominasi warna-warna cerah khas musim semi yang memanjakan mata, atau wangi segar lemon yang selalu tercium setiap kali kau melangkahkan kaki masuk ke kamar itu, atau… ah, entahlah. Yang jelas setiap kali Sakura menyambangi kamar itu, matanya tidak pernah puas menjelajahi setiap sudut ruangan—kadang-kadang ia menemukan banyak hal menarik, misalnya saja tumpukan surat cinta atau bunga-bunga yang dikirimkan cowok-cowok pengagum Ino—atau sekedar mengagumi setiap detil cantik yang dibuat Tuan Inoichi Yamanaka, ayah Ino, yang memang bekerja di bidang design interior itu.
Perhatiannya serta merta teralih begitu Ino muncul dengan membawa sebuah gaun musim dingin berwarna krem tua lembut. Sederhana, namun sangat indah.
"Kupikir ini akan sangat pas denganmu," kata Ino seraya menyerahkannya pada Sakura yang terpesona.
"Ini bagus sekali…" bisik Sakura, mengamati gaun itu baik-baik sementara Ino kembali lagi ke lemarinya untuk mengambil sesuatu. Sakura langsung menyukai gaun itu. Bahannya terasa halus dan nyaman di kulitnya. "Tapi Ino… ini masih baru," lanjutnya begitu melihat masih ada label merek di bagian punggungnya.
"Tidak apa," sahut Ino dari balik lemari, "Kau pakai saja. Aku masih punya beberapa. Bibiku yang baru pulang dari Paris membawakan banyak pakaian yang bagus-bagus." Ia muncul lagi. Kali ini membawa mantel yang cocok dengan gaunnya, sepasang ankle boots dan tas tangan yang serasi. Ino menjatuhkan semuanya di atas ranjang, nyengir melihat ekspresi terkejut Sakura.
"Tidak apa-apa kau meminjamiku semua ini?" bisik Sakura sambil menatap Ino tak percaya.
"Cobalah dulu, Sakura!" seru Ino semangat. Digiringnya Sakura menuju kamar mandi bersama dengan gaunnya.
Beberapa menit berselang, pintu kamar mandi akhirnya terbuka dan Sakura muncul. Gadis itu melangkah ragu, dengan gugup menyelipkan anak rambut merah mudanya yang panjang ke belakang telinganya.
"Bagaimana? Cocok tidak?"
"Keren banget!" pekik Ino, girang sendiri, seraya melompat berdiri dari posisi tidurannya di atas ranjang. Majalah yang barusan dibuka-bukanya terjatuh terlupakan di atas karpet sementara ia menghampiri Sakura, mengamatinya. Dimintanya Sakura berputar di tempat, lalu menyuruhnya mengenakan boots-nya, melepaskan kucirannya. Sekarang ia tengah merapikan rambut panjang Sakura yang kini terjatuh di bahunya. "Sempurna!" Ino menjauh dari Sakura, mengamati penampilan sahabatnya dengan puas. "Tinggal sedikit sentuhan make up dan rambutmu sedikit ditata, Neji akan terpesona olehmu, Sakura!"
Sakura tertawa tidak yakin. "Masa sampai sehebat itu, sih?"
"Lihat saja sendiri!" Ino menunjuk cermin setinggi badan supaya Sakura bisa melihat bayangannya sendiri.
Dengan canggung, Sakura bergerak ke arah cermin dan terperangah sendiri. Gaun itu bukan hanya terasa nyaman dipakai, tapi juga terlihat amat pas di tubuhnya, menggantung anggun sampai ke lututnya. Dan boots yang dikenakannya membuatnya tampak lebih jangkung. Dan rambut merah mudanya yang dibiarkan tergerai memberi aksen feminine yang lembut di wajahnya yang sebenarnya cukup cantik. Hanya saja rambutnya terlalu lurus dan agak kaku. Kalau saja rambutnya seperti rambut Himeko yang sedikit ikal, ia pastilah terlihat lebih anggun lagi.
"Cantik, kan?"
Sakura tidak bisa berkata apa-apa lagi selain, "Thanks a lot, Ino…"
-
-
Beberapa waktu berselang, gaun itu sudah kembali tergantung di hanger-nya bersama mantel. Sedangkan sepatu dan tas sudah tersimpan rapi di dalam kotaknya. Sementara itu, kedua gadis kini sudah berbaring nyaman di atas ranjang, cekikikan seru mengobrolkan setiap detil yang bisa diobrolkan. Mulai dari yang normal seperti kepanitiaan festival sekolah sampai masalah cowok. Sampai akhirnya mereka sampai di topik favorit Ino; Idate dan segala hal mengenai cowok itu, dari A sampai Z.
"Kau sudah menceritakannya sebanyak seratus kali, Ino," kekeh Sakura sambil memutar-mutar bola matanya ketika Ino baru saja menyelesaikan ceritanya soal kencannya setelah acara baikkan yang dramatis di sekolah.
Ino membulatkan matanya. "Benarkah aku menceritakannya seratus kali? Oh, aku ingin membicarakannya dua ratus, tiga ratus, bahkan kalau bisa seribu kali!!"
Sakura tertawa geli. "Apa kau berencana membuatku mati bosan, Ino?"
Sahabatnya itu hanya nyengir. "Kau juga akan begitu kalau kau jadi aku. Beneran deh, Idate itu orangnya…"
"Ya, ya, ya… Mulai lagi deh…" kekeh Sakura menyela perkataan Ino dan langsung mendapat timpukan bantal dari gadis pirang yang sedang kegirangan itu. Mereka kemudian tertawa.
Melihat Ino begitu gembira, Sakura ikut senang. Tetapi ada sesuatu yang mengganjali hatinya, membuatnya tidak bisa benar-benar lepas ikut gembira bersama sahabatnya itu. Sementara Ino tak bisa berhenti tersenyum, ada satu hati di luar sana yang terluka karena senyum itu. Mengingat Sai, benar-benar membuat Sakura miris. Bagaimana bisa sahabatnya yang lain itu jatuh suka pada gadis yang jelas-jelas hatinya sudah dimiliki orang lain?
Betapa Sakura berharap kecurigaannya dan Naruto tidak benar, bahwa Sai sedang jatuh cinta dengan Ino. Ia berharap Sai bersungguh-sungguh saat mengatakan ia tidak enak badan, bukan sekedar untuk menutupi perasaannya yang sebenarnya. Itu lebih baik dari pada melihatnya patah hati.
"Omong-omong, aku tidak tahu bagaimana rasanya jatuh cinta itu…" Sakura teringat kata-kata Sai saat mereka mengunjungi KAA tempo hari.
'Astaga.. kalau itu benar, berarti Sai sudah patah hati bahkan sebelum ia menyadari kalau ia dengan jatuh cinta. Ini terlalu kejam untuk orang sepolos Sai…'
"Kau melamunkan apa sih?" kata-kata Ino membuatnya mengerjap kaget.
"Eh? Apa?"
Ino memutar bola matanya. "Pasti sedang melamunkan besok," terkanya.
Sakura tersenyum simpul, sama sekali tidak membantah. "Hei, aku ingin tanya satu hal padamu," ujarnya kemudian sambil menatap temannya itu tajam.
"Hm?" Ino menaikkan sebelah alisnya. Agak heran dengan perubahan nada bicara Sakura yang mendadak serius.
"Begini," Sakura berdeham, "Kau kan sekarang jadian dengan Idate. Kalau… er… misalnya saja ada cowok di luar sana yang suka padamu, bagaimana?"
"Kenapa tiba-tiba tanya seperti itu?" Ino balik bertanya.
"Hanya ingin tahu saja," sahut Sakura cepat-cepat.
"Well, bukannya itu sudah biasa, ya?" Bukannya mau menyombong, tapi memang banyak cowok di luar sana yang suka pada Ino. Gadis itu tertawa kecil sejenak sebelum mempertimbangkan jawabannya. "Yah, tidak bagaimana-bagaimana. Aku akan bersikap sebagaimana seharusnya aku bersikap lah…"
"Maksudmu?" Sakura tidak paham.
"Dengan tidak mengkhianati Idate," jawab Ino dengan senyum lembut, "Setia padanya. Asalkan masih ada ikatan itu, cowok mana pun tidak akan membuatku berpaling."
"Bagaimana kalau perasaanmu yang mengkhianatimu? Maksudku, bagaimana kalau seandainya kau ternyata juga suka pada cowok itu?"
Kali ini Ino tampak berpikir agak keras. Dahinya berkerut. "Kalau itu agak susah juga—tapi aku tidak sedang suka pada cowok manapun selain Idate!"
"Aku kan bilang 'seandainya'," kata Sakura, menekankan kata 'seandainya'.
Bukannya menjawab, Ino malah menatap Sakura curiga. "Apa seseorang—seseorang yang menyukaiku—menyuruhmu menanyakan ini padaku, Sakura?"
"T-Tidak. Tentu saja tidak!" gadis itu langsung membantah dan buru-buru mengganti topik sebelum ganti Ino yang mencecarnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat jengah. Sampai tertangkap oleh sudut matanya, waktu yang ditunjukkan jam beker di meja samping tempat tidur Ino.
"Ya ampun! Sudah jam segini!" pekiknya kaget. Rupanya mereka sudah keasyikan mengobrol sampai lupa waktu. Sudah terlalu malam bagi Sakura untuk pulang naik bus ke rumahnya.
"Sepertinya kau harus menginap, Sakura," usul Ino sambil nyengir minta maaf.
"Yeah, kau benar. Menginap…" Sakura menyisiri rambut merah mudanya ke belakang sambil menghela napas. "Aku akan telepon ibuku dulu."
"Oke. Aku akan siapkan haduk bersih untukmu, barangkali kau ingin cuci muka atau apa." Ino langsung melesat keluar kamar untuk mengambil handuk bersih.
Sakura mengambil tasnya yang tadi dijatuhkan begitu saja di karpet di kaki tempat tidur Ino, kemudian mengeluarkan ponsel. Tadinya ia berharap akan melihat panggilan tak terjawab dari ibunya, tapi ternyata tidak ada satu telepon pun yang masuk.
'Kenapa ibu tidak mencariku?' Sakura bertanya-tanya sendiri seraya menekan-nekan keypad ponselnya, menghubungi ibunya. Tidak ada yang mengangkat saat Sakura menelepon rumah. Tetapi ibunya mengangkat setelah nada panggil ketika begitu Sakura menghubungi ponsel ibunya.
"Ibu?"
"Ya, Sayang?" suara ibunya terdengar agak janggal. Juga suara-suara di belakangnya. Sepertinya Azami sedang tidak ada di rumah, tapi suaranya juga bukan seperti di restoran.
"Aku mau menginap di rumah Ino malam ini. Boleh, ya?"
"Um… Ya, tentu saja, Sakura. Kau bersenang-senang saja dengan Ino, ya.."
Suara seorang pria yang terdengar di belakang suara ibunya membuat Sakura mengerutkan dahi.
"Ibu sedang bersama sia—" sambungan terputus sebelum Sakura menyelesaikan kalimatnya, "—pa?"
Sakura menurunkan ponselnya. Perasaannya tidak enak. 'Apa yang dilakukan ibu malam-malam begini dengan laki-laki di luar?' batinnya gusar.
-
-
TBC…
-
-
Ohoho.. tumben cepet apdetnya? Padahal kemarin emo banget pas mau ngapdet.. –lirik-lirik seseorang yg sempet jadi tempat pelampiasan. Ampun, Bu.. hihi-
Ada Atsuko! –ditendang krn berisik- OC ini nongol di ff-ku yang satu lagi, Kisah Kita di akun Mrs Shiranui. (Baca itu juga dong. Sepi pengunjung sepertinya… TT_TT) Tapi di sini, dia jadi adiknya Itachi yang udah meninggal, kakaknya Sasuke yang nomer dua kalau dia masih idup. Terus soal Sai yang di chapter kemarin, plis jangan dibayangin Sai yang nangis sesegukan dong. Dia cuma keluar air mata doang dan dia juga gak ngerti kenapa tu air mata bisa keluar. Ya, ya, ya... Um… segitu aja catatanku ttg ceritanya, selebihnya bisa dibaca di atas –dasar males- Kalau ada yang mau nanya, silakan di review. Tapi jangan nanya spoiler lho. Hehe.. XD
Seperti biasa, penghargaan terbesar buat semua yang udah baca dan review; Teh Bella, Furu-chan, Lawra-chan, M4yura, Smiley, kennko-hime, Akabara Hikari, Arai-chan, Aika-chan, kakkoii-chan, Uci-chan, Nana-chan, Reiya Sumeragi, Uchiha Cesa yang reviewnya dobel XD, n Rie_teuk.
Oia, saya teh suka bacain tulisan temen-temen author (dan salah berapanya ada di reviewer-list-ku). Kepingin banget ngereview, tapi gak tau mau komentar apa. Maafkan diriku yang suka speechless ini yah… -sembah sujud- Padahal udah buka page untuk mereview, tapi malah block. Heran ya, mau ngereview pake block segala. Author aneh nih…–sigh-
