Chapter 60

Sai berguling dengan gelisah di atas ranjangnya, mencoba mencari posisi yang paling nyaman untuknya tidur. Namun rasa kantuk itu belum kunjung datang, padahal saat itu waktu sudah menunjukkan lewat tengah malam. Entah sudah berapa lama sejak terakhir kali suara-suara para pelayannya yang berseliweran di luar kamar—sekarang suasana sudah sama sekali hening. Hanya suara dentang jam besar di ruang keluarga yang sesekali terdengar bergaung menyeramkan di penjuru rumah besar itu.

'Sebenarnya apa yang sedang terjadi dengan diriku?' Itulah yang selalu terlintas dalam benaknya setiap kali kegelisahan yang tak biasa itu hinggap dalam hatinya, membuatnya tak menentu. Ia sama sekali tak mengerti, mengapa bayangan gadis itu selalu saja masuk ke dalam pikirannya, mengusiknya tanpa ampun? Seakan itu belum cukup menyiksa, sekarang sosok itu juga membuatnya tidak bisa tidur.

Sekali lagi Sai berguling, kali ini berbaring miring menghadap ke arah jendela yang ditutupi tirai. Mata eboninya menatap kosong pada bayangan pohon yang bergoyang menyeramkan ditiup angin malam. Ia menggigit bibirnya sementara pikirannya kembali pada sosok itu lagi.

Ino… Yamanaka…

Sejak awal bertemu pun gadis itu sudah mencuri perhatiannya. Kemiripannya dengan 'Sang Bidadari', tentu saja, yang paling membuatnya penasaran. Sebagian dirinya meyakini bahwa gadis itu memang 'Sang Bidadari' meskipun ia belum mendapatkan fakta yang mendukung ke arah sana selain kemiripan yang luar biasa itu. Ino sama sekali tidak mengenal Shin, itulah yang membuatnya ragu. seiring berjalannya waktu, ia mulai melupakan 'Sang Bidadari' dan berteman dengan Ino sebagaimana dengan anak-anak lainnya di sekolah.

Otaknya kembali memutar kembali saat-saat ia banyak menghabiskan waktu dengan gadis itu saat Naruto dan Sakura saling mendiamkan tempo hari, mendengarkannya mengoceh dan tertawa, melihat matanya yang berbinar setiap kali mereka membicarakan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya, senyumnya saat akhirnya Naruto dan Sakura berbaikan. Satu hal yang bisa ia simpulkan saat itu, bahwa Ino adalah teman yang sangat menyenangkan sebagaimana Sakura dan Naruto—dan Sasuke, dan Sai menyukai saat-saat yang ia lewatkan bersamanya.

Hanya saja entah bagaimana perasaan itu mulai bergeser. Ada perasaan lain yang membuatnya ingin tetap mempertahankan kebersamaan itu selama mungkin, perasaan yang kemudian tanpa ia sadari mendorongnya untuk bergabung dalam band—hanya untuk bisa menghabiskan lebih banyak waktu dengan gadis itu dan membuatnya terkesan. Perasaan yang tanpa sadar membuatnya berharap gadis dalam lukisan kakaknya bukanlah Ino. Ia tetap tidak menyadarinya sampai malam itu, saat ia meloloskan Ino dari serempetan mobil. Detik itu juga Sai menyadari ada yang tidak beres dengan apa yang dirasakannya terhadap gadis itu. Tidak normal. Dan itu membuatnya gelisah.

Awalnya ia mengira semuanya akan berjalan baik-baik saja dan ia akan segera terbiasa, tapi ia salah. Semua itu justru membawanya ke perasaan asing lain yang lebih kuat, dan itu terjadi setiap kali melihat—atau membayangkan—Ino bersama pemuda lain. Perasaan yang jauh lebih sulit ditahan. Ini sangat menyiksanya.

Sai menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan-lahan seraya memejamkan mata, berusaha menenangkan diri.

-

-

Sai terbangun dengan terkejut. Entah sudah berapa lama ia jatuh tertidur. Kepalanya terasa pusing dan berat—barangkali akibat kurang tidur selama beberapa hari ini.

Sebuah sentuhan ringan di bahunya membuatnya terlonjak kaget. Serta merta ia menoleh dan luar biasa terkejut begitu mendapati sosok orang yang sudah sangat dikenalnya—yang juga tidak seharusnya ada di sana—sedang berlutut di tepi ranjangnya. Atau yang semula ia kira begitu, karena kemudian ia menyadari ia sedang tidak berada di kamarnya.

Shin.

Sai masih mengenali raut wajah ramah itu, yang dibingkai rambut pucat kebiruan. Mata hitam itu juga masih sama. Ia mengenakan pakaian serbaputih—celana panjang putih dan kemeja senada yang dua kancing paling atasnya dibiarkan terbuka. Dan ia sedang tersenyum lembut, sebagaimana senyum yang biasa ia berikan pada adiknya.

"Kakak?" tanya Sai terheran seraya mendorong dirinya bangun.

Shin tidak menjawabnya, hanya mengangguk. Ia berdiri dari posisi berlututnya. Posisi mereka sejajar sekarang.

Sai mengusap matanya, masih tak percaya Shin sedang berada di hadapannya sekarang. "Kau nyata?" tanyanya dengan suara tercekat.

Shin hanya tersenyum, tidak berkata apa-apa. Tidak menggeleng, juga tidak mengangguk.

Sebelum Sai sempat membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, keanehan terjadi di sekelilingnya. Segalanya tampak mengabur kecuali Shin yang masih tampak solid di depannya. Ranjangnya menghilang dan suasana berubah menjadi serbaputih sebelum kemudian menampakkan sebuah lingkungan yang terasa familier dengan banyak orang berlalu lalang—hanya saja orang-orang itu tampak mengabur seperti hanya bayangan saja.

Sekilas ia bisa melihat simbol daun maple di salah satu bangunan sebelum perhatiannya teralih. Shin menepuk bahunya dan menunjuk ke satu arah. Sesosok bayangan lain mendekat. Sai tidak bisa melihatnya dengan jelas. Wajahnya mengabur dan ia hanya bisa melihat sekelebatan rambut berwarna pirang. Sosok itu mengulurkan setangkai mawar merah yang tampak mencolok di antara bayangan buram lain, namun sebelum Sai meraih mawar itu, bayangan itu memudar dan semuanya berubah menjadi putih.

Sai memutar tubuhnya, terkejut melihat lukisan Sang Bidadari terpampang di hadapannya. Lukisan itu seperti hidup, tersenyum lembut padanya dari balik kanvas. Kemudian pemandangan berganti lagi dengan cepat. Kali ini Sai bisa mengenali studio lukis dimana ia dan Shin sering menghabiskan waktu bersama dulu, tapi satu hal yang membuatnya tercengang; ia melihat dirinya sendiri dalam versi yang lebih muda, dan Shin yang lain selain yang kini sedang berdiri di sampingnya.

Shin sedang melukis sementara dirinya—Sai yang lebih muda—duduk mengawasinya. Sai bisa melihat antusiasme di wajahnya sendiri.

"Jatuh cinta itu... bagaimana rasanya?" Sai mendengar dirinya sendiri bertanya. Suaranya bergaung seakan berasal dari tempat yang jauh.

Shin menghentikan gerakannya menggoreskan kuas ke kanvas dan menoleh pada Sai. "Lebih baik—Jauh lebih menyenangkan dari membuat sebuah masterpiece," jawabnya dengan senyum penuh arti. "Kau akan tahu kalau sudah merasakannya sendiri..."

Ia melihat dirinya sendiri dan Shin mengabur lagi dan segalanya mulai berputar dengan cepat sebelum akhirnya berhenti. Shin berdiri di hadapannya sekarang, tangannya terjulur ke arah Sai, menyentuh dadanya tepat di mana jantungnya berada.

"Kau akan tahu kalau sudah merasakannya sendiri..."

Kata-kata Shin bergaung di sekelilingnya, terus menerus... sampai akhirnya bayangan Shin turut memudar bersamaan dengan memudarnya gaung suaranya.

"Kakak!" Sai mencoba meraih Shin, tetapi gagal. Tangannya hanya menembus udara kosong. "Kakak, tunggu! Apa maksudnya ini?! Kakak! KAKAK!!"

Kemudian segalanya berubah gelap.

-

-

"KAKAK!!"

Sai membuka matanya dengan terkejut, hanya untuk menyadari yang dilihatnya barusan hanyalah mimpi. Napasnya masih terengah dan peluh membasahi sekujur tubuhnya. Perlahan, ia menurunkan tangannya yang terjulur ke udara, meletakkannya ke keningnya yang lembab oleh keringat, mendorong rambut yang menempel di sana ke belakang.

"Shin..." bisiknya, mencoba mengatur napasnya kembali. Ini adalah kali pertama Shin muncul dalam mimpinya sejak kakaknya itu meninggal hampir setahun yang lalu. Ini sangat aneh, pikir Sai ketika mengingat kembali mimpinya yang samar-samar. Shin seperti hendak menyampaikan sesuatu padanya. Entah apa itu.

Sai menggapai ke meja samping ranjang untuk meraih jam bekernya. Masih pukul tiga pagi, berarti belum lama ia jatuh tertidur. Kepalanya masih sedikit pusing, tapi ia sama sekali tidak mengantuk, hanya saja kerongkongannya terasa kering, haus sekali. Ia lantas menarik dirinya beranjak dari ranjangnya untuk mengambil air yang biasa disediakan pelayannya di atas meja kerjanya. Belum sempat ia mencapai meja, telinganya mendengar sesuatu terjatuh dari arah rak buku di sudut ruangan.

Sebuah sketch book bersampul kulit tergeletak terbuka di atas karpet. Milik Shin.

-

-

"Jangan berpikir yang tidak-tidak dulu, Sakura," nasihat Ino pagi harinya. Sakura baru saja menceritakan pada sahabatnya itu apa yang didengarnya saat menelepon Azami semalam, alasan yang membuatnya tidak bisa tidur dan gelisah semalaman. "Menurutku itu belum tentu 'laki-laki lain' seperti yang kau katakan barusan. Maksudku, bisa saja kan itu Paman Teuchi atau siapa saja di restoran—Yamato atau Izumo atau Kotetsu atau Arashi."

"Tapi kau tidak mendengarnya, Ino," kata Sakura keras kepala sambil mengawasi Ino yang sedang sibuk menyisiri rambut pirangnya yang panjang dan menggulungnya di belakang kepalanya. "Cara ngomongnya terdengar seperti gugup—seperti sedang menyimpan sesuatu—dan suara cowok itu tidak seperti Yamato atau siapa pun di restoran."

"Barangkali ibumu sedang bicara dengan salah satu pengunjung restoran?" usul Ino, mengangkat bahu.

"Mereka kedengarannya tidak seperti berada di restoran!" sanggah Sakura lagi, nadanya meninggi.

Ino menghela napas keras, lalu menatap pantulan bayangan Sakura dari dalam cermin. "Astaga, Sakura. Menurutku kau terlalu mencurigai ibumu. Memangnya kenapa kalau ia sedang bersama seorang pria? Ibumu single sekarang, apa kau sadar itu?"

"Memangnya kenapa—memangnya—aku hanya—" Sakura menggerak-gerakkan tangannya, tampak terlalu gusar untuk menemukan kata-kata yang tepat untuk menggambarkan perasaannya saat itu. "Aku—"

"Sakura, dengarkan aku," sela Ino tak sabar. Gadis itu telah memutar tubuhnya dan kini berdiri menatap Sakura tajam. "Aku menenal Bibi Azami cukup baik dan aku tidak percaya dia melakukan apa yang kau curigakan, Sakura," ujarnya tegas. "Kalaupun ada yang disembunyikannya, itu pasti ada alasan. DAN YANG HARUS KAU LAKUKAN—" Ino lebih menekankan nada suaranya begitu melihat tanda-tanda Sakura hendak menyelanya, "—hanyalah mempercayainya dan membicarakannya baik-baik dengannya. Oke?"

Sakura menatap Ino, cemberut. "Cara bicaramu seperti kau lebih mengenal ibuku dari pada aku," gerutunya.

Ino memutar matanya, lalu kembali menghadap cermin, melanjutkan acara merapikan rambutnya. "Aku hanya berusaha berpikir realistis. Bibi Azami bukan orang yang seperti itu. Aku yakin."

"Aku harap kau benar," gumam Sakura, diakhiri dengan helaan napas panjang. Ia mengambil boneka beruang raksasa milik Ino, memeluknya. Aku harap ibu tidak akan mengkhianati ayah...

"Dari pada kau terus memikirkan hal yang belum tentu benar, Sakura," kata Ino sambil melempar sikat rambutnya ke meja setelah keduanya terdiam lama. "Lebih baik kau memikirkan kencanmu nanti malam. Bagaimana kau bisa tampil sempurna kalau kau memikirkan hal-hal lain?"

Sakura mengangkat kedua alisnya, tampangnya bingung. Sepertinya ia tidak menyimak apa yang dikatakan temannya. "Apa?"

"Neji, Sakura. NEJI!!" Ino membelalak galak padanya. "Apa kau lupa nanti malam kalian akan pergi bersama?"

Mulai menangkap apa yang dimaksudkan Ino, Sakura meringis salah tingkah, "Oh, yeah..."

"Jangan ngomong 'Oh, yeah' dengan tampang seperti itu, Sakura," kata Ino galak sambil menarik Sakura agar berdiri dari ranjang, "Masih ada yang harus kita lakukan. Kita harus melakukan sesuatu dengan rambutmu itu. Astaga... sudah seperti sapu ijuk..."

"Rambutku tidak seperti sapu ijuk!" tukas Sakura tersinggung seraya membenahi rambutnya sendiri yang berantakan dan kaku. Gadis itu mengeluh sendiri begitu menyadari yang dikatakan Ino benar; rambutnya sudah sekaku sapu ijuk. Entah sudah berapa lama semenjak terakhir kali ia creambath.

"Kita harus ke salon," tandas Ino, memandang prihatin rambut Sakura di cermin.

"Yeah, kurasa kau benar..."

-

-

Suasana pagi akhir pekan di Alamanda Avenue sama seperti tempat-tempat lain di penjuru Konoha. Mobil-mobil yang berlalu lalang tidak sebanyak biasanya, dan sebagai gantinya, orang-orang yang memakai setelan olahraga tebal dan syal tebal yang melilit di leher masing-masing terlihat berjoging di jalanannya yang lengang. Beberapa berlari sendirian dengan earphone tersumpal di telinga mereka, beberapa bersama anjing kesayangan dan tidak sedikit yang berlari bergerombol dengan teman, tertawa-tawa menikmati udara sejuk awal musim dingin. Termasuk sepasang suami istri berambut pirang yang baru saja berbelok dari arah Konoha Central Park.

Dengan ramah, keduanya menyapa para tetangga mereka, termasuk seorang pria tua beruban dan berwajah ramah pemilik Green Leaves Coffee yang baru saja membuka tokonya bersama beberapa karyawannya.

"Selamat pagi, Gennoe!" sapa Inoichi Yamanaka, ramah. "Baru membuka toko?"

"Ah, selamat pagi Tuan dan Nyonya Yamanaka," balas pria tua itu sambil tersenyum lebar. "Yah, seperti yang kau lihat, semakin pagi semakin baik, kan? Apalagi di akhir pekan." Ia melambai ke arah tokonya. Seorang pegawainya, cowok berpostur tinggi ceking dengan rambut keriting, tampak sedang mengelap meja-meja di bagian outdoor. "Bagaimana kalau kalian mampir sebentar untuk mencoba secangkir espresso kami?" tawarnya.

Inoichi Yamanaka memandang istrinya yang kemudian membalas dengan gelengan kepala.

"Dokter belum mengizinkanmu minum kopi lagi, Sayang. Kau ingat?" bisik wanita berambut pirang ikal itu pada suaminya, lalu menoleh pada Gennoe, "Terimakasih banyak, Gennoe," ucapnya dengan senyum menyesal pada si pemilik kedai, "Mungkin lain kali..."

"Ah, sayang sekali," sahut pria tua itu. Meski begitu, ia tidak tampak kecewa. Dengan anggukan sopan terakhir, ia berbalik masuk ke dalam kedai kopinya untuk mengawasi para barista-nya yang sedang menyiapkan persediaan kopi untuk hari ini.

Suami istri Yamanaka lantas melanjutkan perjalanan menuju toko bunga mereka dan segera disambut oleh anak gadis mereka yang cantik, yang baru saja keluar dari toko membawa sekeranjang bunga segar untuk diantarkan ke kedai kopi sebelah. Setiap akhir pekan, memang tugas Ino lah untuk mengantar bunga-bunga itu sementara pegawai yang lain membuka tokonya.

"Mama, Papa, nanti Ino mau pergi dengan Sakura, ya!" beritahu Ino riang pada kedua orangtuanya begitu mereka berpapasan di pintu. "Kami mau ke salon," ia menambahkan sambil nyengir.

"Lihat, anakmu itu lama-lama sudah seperti ibunya," gurau Inoichi, terkekeh. "Senang bersolek." Pria pirang itu mendapatkan cubitan main-main di pinggangnya dari istrinya atas ucapannya itu. Tapi tentu saja wanita itu tidak benar-benar marah, karena saat berikutnya ia juga tertawa.

Ino pura-pura cemberut. "Biarin! Kan Papa juga suka kalau Mama cantik..." gadis itu menjulurkan lidah pada ayahnya.

Inoichi terkekeh lagi, mencubit hidung putrinya dengan gemas. "Iya, iya... Papa suka kalau wanita-wanita Papa cantik semuanya..."

Anak gadisnya meringis, menggosok-gosok hidungnya yang memerah dengan tangannya yang bebas keranjang bunga.

"Ya sudah. Sana kau antarkan dulu bunganya. Kakek Gennoe sudah menunggumu tuh. Setelah itu kita sarapan," kata ibu Ino sambil menggiring suaminya masuk ke dalam toko. Ia kembali menoleh sebelum Ino meninggalkan toko. "Sakura di mana, Sayang?"

"Dia masih di kamar mandi, Ma," sahut anak gadisnya sebelum berbalik dan berlari-lari kecil menuju kedai kopi sebelah.

Ino selalu menyukai kedai kopi milik Kakek Gennoe. Aroma kopi yang menguar di udara setiap kali ia melangkahkan kaki masuk ke bagian dalam kedai itu, suasananya sangat nyaman dan hommy, pilihan musik penggiring yang lembut dan nyaman di telinga, juga sambutan dari para pelayannya yang ramah. Tidak heran kedai itu sangat laris dikunjungi orang-orang, terlebih di setiap akhir pekan seperti sekarang. Tapi bukan hanya itu yang membuat Ino menyukai tempat itu. Tidak banyak yang tahu kalau gadis itu menyimpan kenangan manis di sana, sekaligus kenangan yang ingin dilupakannya.

Kalau bisa...

"Ah, anak manis..." sambut Kakek Gennoe yang yang sedang mengecek kembali mesin-mesin pembuat kopi bersama beberapa pegawainya langsung menoleh begitu mendengar bel di atas pintu bergemerincingan saat Ino masuk.

"Pagi, Kakek," sahut Ino riang pada pria tua yang sudah seperti kakeknya sendiri itu. Seorang gadis pelayan berambut hitam ikal bergegas menghampirinya dan mengambil keranjang bunga yang dibawa Ino.

"Kemana saja kau, hm? Lama kakek tidak melihatmu," kata Gennoe pada Ino setelah pegawainya pergi untuk mengatur bunga-bunga itu, menempatkannya pada vas-vas kristal berisi air.

Ino menempatkan dirinya duduk di bangku tinggi di depan bar, nyengir. Belakangan ini ia memang jarang mengantar bunga lagi ke kedai itu. Festival band dan kesibukan lain benar-benar menyita perhatiannya. "Tapi kan kemarin aku sempat mampir kemari dengan temanku, Kek. Tapi Kakek sedang tidak ada..."

Gennoe terkekeh-kekeh dan saat berikutnya ia mulai bercerita tentang perjalanan serunya mencari resep-resep kopi yang enak di penjuru Konoha selama beberapa hari belakangan—alasan mengapa ia tidak berada di tokonya selama berhari-hari. Ino barangkali akan segera bosan kalau yang menceritakannya orang lain, tetapi ini adalah Kakek Gennoe, pencerita favoritnya. Sejak kecil gadis itu selalu senang duduk di pangkuan kakek tua itu, mendengarkannya bercerita macam-macam, mulai dari dongeng klasik tentang kura-kura dan kancil, sampai cerita sehari-hari yang membuat mereka tertawa terbahak-bahak. Dan itu sudah menjadi kegiatan favoritnya setiap kali senggang. Tapi tentu saja ia sudah tidak duduk di pangkuan Gennoe lagi.

Ino mengedarkan pandangannya berkeliling kedai setelah beberapa waktu setelah Gennoe mengakhiri ceritanya, mengawasi pengunjung yang mulai berdatangan dan memesan kopi. Pandangannya kemudian jatuh pada grand piano putih di sudut ruangan. Piano itu terpajang begitu saja di sana, seakan fungsinya hanya sebagai pajangan saja. Sudah lama sekali semenjak terakhir kali Ino mendengar alunan indah dari piano itu, memainkan lagu favoritnya...

Flying Petals...

Melodi riang yang indah itu terngiang lagi di telingannya, dan segalanya seakan kembali ke masa itu. Saat bangku-bangku di sana nyaris penuh dan kepala hampir semua pengunjung terarah ke sosok pemuda yang tengah memainkan piano di sudut, menikmati musik yang dimainkannya. Mata hitam itu sedikit tertutup rambut terangnya yang terjatuh ke dahinya sementara jemarinya menari lincah di atas tuts. Bibirnya menyunggingkan senyum paling indah yang pernah diingat Ino. Gadis itu masih mengingat desir aneh yang dirasakannya saat pandangan mereka bertemu.

Aneh... Padahal ia sama sekali tidak mengenal pemuda itu. Hanya wajahnya, senyumnya, tatapannya...

'Tidak!' Ino memalingkan wajahnya, 'Aku tidak boleh mengingat-ingatnya lagi. Dia sudah hilang... Dan aku sudah punya Idate...'

"Pasti sedang teringat anak itu, ya?" tanya Gennoe tiba-tiba, seakan ia bisa membaca apa yang sedang dipikirkan Ino. Ia tersenyum melihat ekspresi terkejut di wajah Ino sebelum memandang ke arah piano yang diam di sudut dengan tatapan sedih. Ia mendesah, "Ah, Kakek juga kangen sekali mendengarkan permainannya. Benar-benar anak yang berbakat. Dan dia juga amat tampan, bukan?" imbuhnya sambil melirik Ino.

"Yeah..." Ino mengakuinya.

Gennoe mencondongkan tubuhnya di atas bar dan berbisik seakan apa yang akan dikatakannya saat berikutnya adalah rahasia besar. "Dulu banyak gadis-gadis yang datang hanya untuk melihatnya bermain. Bisa jadi aset besar kalau saja dia mau jadi pianis tetap di sini, kan? Sayang sekali anak itu menolak." Ia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menghela napas. "Dan sudah lama dia tidak datang kemari lagi..."

"Memangnya dia kemana, Kek?" Ino tidak bisa menahan diri bertanya.

"Kakek juga tidak tahu," jawab Gennoe sambil mengangkat bahunya. "Dia menghilang begitu saja. Barangkali dia sudah menemukan tempat lain yang lebih menarik. Kau tahu kan, anak muda senang berpetualang..." ia menambahkan sambil terkekeh-kekeh.

Ino memaksakan tawa muram. 'Yeah, menghilang begitu saja—dan melanggar janjinya sendiri untuk menemuiku. Tanpa pesan... Bahkan tanpa memberitahukan namanya.. Berpetualang—dia pasti menikmati petualangannya memikat gadis-gadis lalu mencampakkan mereka begitu saja...'

"Kalau begitu aku pergi dulu, Kek. Temanku pasti sudah menunggu," pamit Ino kemudian setelah ia menerima keranjang bunganya yang sudah kosong. Gadis itu buru-buru beranjak dari sana.

"Lain kali main-mainlah kemari lagi, Ino..." seru Gennoe begitu Ino sudah sampai di pintu.

Ino menoleh padanya, memberikan janjinya dengan anggukan dan senyuman manis, sebelum berbalik lagi dan berlari-lari kecil menuju toko bunga Yamanaka. Gadis itu baru saja menghilang di balik pintu masuk toko bunganya ketika sebuah Porsche merah menepi dan memarkirkan diritepat di depan Green Leaves Coffee. Sesosok cowok jangkung berambut hitam agak berantakan keluar dari mobil mungil itu. Ia mengenakan mantel cokelat gelap yang kancingnya dibiarkan terbuka, menampakkan sweter putih gading berkerah tinggi di baliknya. Sejenak matanya yang sekelam warna rambutnya mengawasi kedai kopi itu sebelum menutup pintu mobilnya dan melangkah ke sana. Tangannya memegang sebuah sketch book bersampul kulit.

"Selamat datang," sambut seorang gadis pelayan berambut hitam yang dikucir rapi begitu Sai melangkahkan kaki memasuki kedai.

Sai menganggukkan kepalanya singkat sambil menyunggingkan senyum tipis sebelum kemudian mengedarkan pandangannya berkeliling. Sekarang ia mengerti mengapa tempat ini terasa begitu familiar. Tidak salah lagi, tempat ini adalah tempat yang dilukis Shin di sketch book-nya. Semuanya sama. Bar, susunan meja dan kursi, sofa, kanopi, seragam yang dikenakan pelayannya dan—Sai memandang ke sudut ruangan—piano ...

"Tuan?"

Teguran dari sang pelayan mengembalikan Sai ke dunia nyata. Ia mengerjap, mendapati gadis pelayan itu menatapnya dengan tatapan penuh tanya. Tapi ia mengabaikannya. Sesaat kemudian, seakan kakinya tahu kemana harus melangkah, Sai berjalan ke arah salah satu meja di dekat jendela, dengan bangku sofa yang nyaman. Sekilas, ia bisa melihat toko bunga Yamanaka dengan jelas dari tempatnya duduk sekarang, sebelum kemudian berpaling pada pelayan yang mengikutinya, memesan secangkir cappucino dan menu untuk sarapan.

"Maaf, Nona," kata Sai lagi sebelum gadis itu pergi.

Gadis itu menoleh dan bertanya sopan, "Ada yang bisa saya bantu lagi, Tuan?"

"Hanya ingin bertanya sedikit," Sai terdiam sebentar, "Er... apa kau pernah melihat pemuda yang sering kemari? Sudah cukup lama, sih... Dia tinggi dan kurus, rambutnya kelabu agak biru, matanya hitam dan um—dia selalu membawa-bawa buku seperti ini." Sai menunjukkan bukunya. "Kira-kira setahun lalu katanya dia sering kemari."

"Maaf..." gadis itu menyunggingkan senyum menyesal. "Saya baru bekerja di tempat ini dua minggu yang lalu."

Sai berusaha menyembunyikan kekecewaannya. "Begitu."

Gadis itu mengangguk sopan, lalu meminta diri.

Sai menghela napas dan menyandarkan punggungnya di sofa yang nyaman, sekali lagi memandang berkeliling, seakan ingin memastikan sekali lagi bahwa pemandangan di depannya ini adalah benar-benar yang ada di buku Shin. Bahwa benar di tempat itulah di mana Shin kerap menghilang setelah jam sekolah untuk melukis dan mencari inspirasi. Setidaknya itulah yang kerap dikatakan Shin padanya dulu.

Apa tempat ini berarti sesuatu? Apa yang ingin kau tunjukkan padaku sebenarnya, Kak?

Gadis pelayan itu kembali dengan membawakan pesanannya; secangkir cappucino panas yang masih mengepul dan sepotong croissant yang juga masih hangat, ketika Sai tengah membuka-buka kembali sketch book kakaknya. Goresan-goresan pensil berujung lunak masih terpeta dengan apik, membentuk sketsa di setiap lembarnya. Beberapa masih abstrak, beberapa malah sudah berbentuk gambar jadi.

Ah, Sai selalu mengagumi hasil goresan tangan kakaknya itu. Tidak heran ia selalu menjadi siswa kebanggaan KAA, salah satu yang terbaik di angkatannya.

"Wah, itu bagus sekali..."

Sai tersentak kaget. Ia refleks menutup bukunya dan menoleh cepat, membelalak menatap pria tua beruban sedang berdiri di belakang sofanya. Sepertinya dari tadi ia ikut mengintip dari atas bahu Sai. Pria itu terkekeh.

"Maaf, maaf... Aku mengagetkanmu, ya?"

Sai tidak menyahut, hanya tercengang ketika si kakek yang tidak dikenalnya berjalan mengitari sofanya dan kemudian duduk di bangku seberang meja, balas menatapnya dengan pandangan tertarik.

"Aku Gennoe, pemilik tempat ini," kakek itu memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya yang keriput pada Sai, tersenyum hangat, yang kemudian disambut Sai dengan ragu. "Maaf sebelumnya, tapi apakah kita pernah bertemu sebelum ini? Wajahmu sepertinya tidak asing..."

"Saya belum pernah kemari sebelumnya," kata Sai pelan.

Kakek bernama Gennoe itu mengangguk, meskipun ia masih tampak penasaran. Setelah mengamati Sai selama beberapa saat lagi, ia kemudian menggerakkan tangannya sopan ke hidangan di atas meja. Sai, yang mengartikannya sebagai isyarat kakek itu mempersilakannya menikmati makanannya, mengangkat cangkir kopinya dan menyesapnya perlahan.

"Bagaimana?"

Sai kembali meletakkan cangkirnya ke meja, menyunggingkan senyum sopan. "Kopinya lezat. Terimakasih banyak."

Gennoe mengangguk lagi, diikuti dengan ekspresi puas di wajahnya. Sikap hangat Gennoe dengan cepat membuat Sai merasa lebih rileks. Ternyata kakek itu memang senang menyapa tamu-tamunya secara langsung, mengajak berbincang-bincang, menanyakan pendapat mereka mengenai kedai dan kopi buatannya. Ia bahkan memesan kopi hitam untuk dirinya sendiri sementara berbincang-bincang dengan tamunya, membuat Sai tidak merasa sedang bicara dengan orang yang baru dikenalnya. Membuatnya lupa tujuan awalnya ia datang kemari.

"Kau suka melukis, Nak?" tanya Gennoe kemudian. Matanya yang dihiasi kerut merut menatap penasaran pada sketch book di atas meja.

"Ya," sahut Sai, "Saya dulu sempat sekolah di KAA, Departemen Visual Art."

"Ah!" Gennoe mengangguk-anggukkan kepalanya, terkekeh sendiri. "Benar-benar mirip..."

"Mirip?" Sai menatap tak mengerti.

"Pemuda yang dulu sering kemari juga siswa KAA, di departemen yang sama denganmu," kata Gennoe. Mendengar ini, punggung Sai menegak dan wajahnya menegang dalam kegairahan. Gennoe yang tidak memperhatikan perubahan ini, melanjutkan, "Dia kerap menghabiskan waktu lama sekali di sini, menggambar di buku yang sama seperti itu," Ia menunjuk sketch book Shin, "...atau hanya memandang ke luar jendela. Dan bangku yang sedang kau duduki sekarang adalah bangku favoritnya." Ia berhenti sejenak, mengambil napas panjang. Mata sipitnya menerawang dan bibirnya membentuk seulas senyum, seakan ia sedang mengenang masa lalu yang tidak bisa dilupakannya. "Anak baik... Dia juga sering main piano di sini dan selalu senang menerima puding gratis dariku."

Puding? Itu makanan favorit Shin!

"Seperti apa orangnya, Kek?" tanya Sai bersemangat.

Gennoe tertawa lagi. "Ah, yang kuingat darinya adalah ia suka tersenyum dan sorot matanya yang selalu penuh dengan gairah hidup. Hampir semua karyawanku—terutama yang wanita—berkata dia amat tampan."

"Apakah ia memiliki warna rambut terang—kelabu agak biru? Dan bermata hitam sepertiku?"

"Ya!" seru Gennoe antusias, seakan ia baru saja memecahkan teka-teki sulit. "Mungkin itu yang membuatmu sangat familiar, Nak. Mata kalian sangat mirip."

"Dan namanya?" pancing Sai lagi.

Kerut merut di wajah Gennoe semakin dalam sementara ia berpikir keras, mengingat nama pelanggan favoritnya itu. "Si.. Sh.."

"Shin?"

"Ah, itu dia!" Gennoe menepuk tangannya, tertawa. "Benar, namanya Shin. Astaga... aku pasti sudah mulai pikun sampai lupa namanya..."

'Ternyata benar. Kakak sering menghabiskan waktu di sini...'

"Kau kenal dengannya juga, Nak Sai?" tanya Gennoe penasaran.

Sai mengangguk. "Dia kakakku."

"Ah, tidak heran..." pria tua itu menatap Sai sambil tersenyum hangat. "Dimana kakakmu sekarang? Apakah dia sudah jadi pelukis terkenal? Atau pianis?"

Sai menunduk sejenak, sebelum menjawab muram, "Kakak sudah meninggal hampir setahun yang lalu. Sakit."

Senyum di wajah Gennoe praktis memudar, digantikan ekspresi terkejut yang kemudian dengan cepat digantikan raut sedih. Pria tua itu menundukkan wajah, dan ketika ia kembali mendongak untuk memandang tamunya, matanya tampak basah. "Aku menyesal..."

Sai memandang ke luar jendela sejenak, menatap seorang pria berpenampilan rapi baru saja keluar dari toko bunga Yamanaka, membawa sebuket mawar merah yang masih segar. Dengan tampang sumringah, pria itu melenggang ringan menuju parkiran dan masuk ke mobil yang diparkirkan tepat di depan Porsche Sai. Melihat pria itu membuat Sai teringat Idate dan itu membuat perasaannya tidak enak. Maka ia memilih untuk memalingkan wajahnya.

Tepat saat itu, dua sosok lagi keluar dari toko bunga. Kali ini dua orang gadis. Yang satu mengenakan mantel merah hitam bermotif kubus. Rambut merah mudanya yang panjang ditutupi topi pet merah. Ia juga membawa dua kantung besar di tangannya. Gadis di sebelahnya memakai mantel putih gading dengan syal biru yang melilit di lehernya. Rambut pirangnya digelung dan ditahan oleh setangkai tusuk konde yang sewarna dengan mata dan syalnya. Kedua gadis itu berjalan sambil mengobrol riang melintasi depan Green Leaves Coffee, sesekali tawa mereka pecah berderai, menghangatkan suasana awal musim dingin yang menggigit.

-

-

Suasana riang juga tampak di sebuah panti asuhan di pinggiran Konoha. Hari itu mereka melakukan kegiatan menyenangkan di dapur untuk menggantikan kegiatan luar ruangan yang biasa mereka lakukan setiap akhir pekan—karena hari itu udara terlampau dingin untuk anak-anak bermain terlalu lama di luar, bisa-bisa mereka kena flu nanti—Mereka akan membuat sesuatu yang bisa dimakan; resep sederhana yang menjadi favorit anak-anak panti setiap kali mereka mengadakan masak bersama seperti ini, pisang cokelat, yaitu sebuah pisang yang ditusuk dengan tusukkan dan dicelupkan ke dalam pasta cokelat dan kemudian digulingkan ke berbagai lapisan (kacang, mesis, remahan biskuit atau permen cokelat warna warni) sebelum dibiarkan membeku. Kali ini Naruto dan Hinata yang bertugas sebagai pengawas menggantikan Shizune yang sedang beristirahat, dibantu beberapa relawan yang kebetulan datang hari itu.

Segera saja mereka kewalahan menghadapi anak-anak yang kelewat antusias mencelupkan pisang-pisang mereka, membuat pasta cokelat yang kental dan lengket berceceran di mana-mana. Belum lagi bahan-bahan lapisan yang cepat sekali habis secara misterius. Rupanya anak-anak itu lebih senang memakannya langsung dari pada menempelkannya pada pisang—atau bahkan menggunakannya untuk main lempar-lemparan. Meski begitu, mereka sangat menikmati saat-saat yang menyenangkan.

Di akhir sesi ketika akhirnya Naruto menggiring adik-adiknya meninggalkan dapur sementara Hinata dibantu beberapa anak perempuan yang sudah lebih besar memasukkan loyang berisi pisang berlumur cokelat ke lemari pendingin, tampang mereka semua sudah benar-benar berantakan belepotan cokelat. Mereka terbahak, saling menertawakan tampang temannya seakan tampang mereka lebih baik.

"Siapa tadi yang melempariku remah biskuit?" tanya Naruto pada adik-adiknya saat mereka sudah berada di aula tempat mereka biasa berkumpul, pura-pura galak. Ia menggoyangkan kepalanya, membuat remah-remah biskuit yang tersangkut di rambut pirangnya berjatuhan ke lantai. Anak-anak mengikik dan saling tunjuk. Mereka menjerit tertawa dan menghambur ke segala jurusan begitu Naruto menerjang ke arah mereka. "Sini kalian! Biar kutangkap!"

Mereka bermain kejar-kejaran beberapa waktu sampai akhirnya Naruto berhasil menangkap Kei. Bocah laki-laki itu berontak, menjerit-jerit tertawa ketika Naruto menyerangnya dengan gelitikan di perut. Anak-anak yang menonton pergulatan seru itu ikut tertawa. Entah bagaimana caranya bocah itu kemudian lolos dari cengkeraman Naruto dan langsung berkelit, berlari ke arah Hinata yang baru saja memasuki ruangan. Naruto mengejarnya.

"Kemari kau anak nakal!"

Keduanya berlarian sambil tertawa-tawa mengitari Hinata yang kebingungan. "K-Kei... N-Naruto..." Kei tergelincir ketika hendak menghindari Naruto. Ia barangkali akan terjatuh kalau saja Hinata tidak memeganginya. "Hati-hati, Kei..." kata Hinata sambil tertawa kecil. Gadis itu berlutut dan mengangkat Kei ke dalam gendongannya.

"Nah, ya. Tertangkap juga akhirnya..." engah Naruto, pura-pura mendelik pada Kei.

Bocah itu menjerit tertawa, lalu menyembunyikan wajahnya ke bahu Hinata seraya mengalungkan lengannya ke leher gadis itu, memeluknya erat-erat seakan dengan begitu ia akan terlindungi. Melihat tingkah manja adiknya itu, Naruto terkekeh. Ia mengulurkan tangan mengacak rambut kemerahan Kei dengan gemas. Kei semakin mempererat pelukannya pada Hinata. "Mama!" jeritnya.

Naruto dan Hinata bertukar pandang, lalu tertawa kecil. Dengan kesabaran seorang ibu, Hinata tetap menggendong bocah tiga tahun itu, menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut. Naruto menatapnya lembut, membuat gadis Hyuuga itu tersipu. Tetapi kemudian mata lavendernya terhenti pada noda cokelat di pipi Naruto.

"N-Naruto, di sini..." Hinata menunjuk pipinya sendiri.

"Huh?"

"A-Ada noda cokelat di pipimu," kata Hinata memperjelas.

Naruto lantas menggosok-gosok pipinya. Bukannya menghilang, noda itu justru melebar. Menahan kikikan, Hinata kemudian mengeluarkan saputangan bersih dari saku celananya.

"S-Sebentar..." Dengan lembut disekanya noda di wajah Naruto, membuat cowok itu terpaku di tempat, tercengang melihat perlakuan Hinata padanya. Mereka sama sekali tidak menyadari kesunyian mendadak di ruangan itu sampai akhirnya noda di wajah Naruto bersih. "Su-sudah selesai, N-Naru—"

"CIEEEE~~" perkataan Hinata langsung tenggelam dalam teriakan anak-anak. Kedua remaja itu menoleh. "KAK NARUTO DAN KAK HINATA PACARAN~~ KAK NARUTO DAN KAK HINATA PACARAN~~" mereka mulai bernyanyi kompak menggodai kedua kakak mereka.

Wajah Hinata langsung merah padam seperti mau pingsan sementara Naruto mendengking keras, "Heeee~~ siapa yang pacaran?!" Wajahnya juga merona.

"KAK NARUTO DAN KAK HINATA PACARAN~~ KAK NARUTO DAN KAK HINATA PACARAN~~" anak-anak itu tidak memedulikan protes kakak mereka, tetap bernyanyi-nyanyi kegirangan sambil menari-nari tidak jelas.

"Eeh~~ berisik, ya!" teriak Naruto dengan sekarang wajahnya sama merahnya dengan Hinata.

"Ayah Genma! Masa Kak Naruto pacaran sama Kak Hinata!!" salah satu dari mereka langsung mengadu girang pada Genma yang baru saja memasuki ruangan untuk melihat keributan apa yang sedang terjadi di dalam.

"Ha?" pria yang juga guru Kimia Naruto dan Hinata di sekolah itu hanya bisa melongo. Ia lalu menatap kedua muridnya dengan kedua alis terangkat.

"Enggak kok!"

Tapi sanggahan Naruto langsung tenggelam oleh teriakan-teriakan adik-adiknya. Dua lawan banyak? Jelas kalah suara... Genma hanya tertawa saja sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Pak, gimana Bunda Shizu?" Naruto buru-buru mengalihkan pembicaraan. "Dia tidak apa-apa, kan?"

"Bunda tidak apa-apa," sahut Genma sambil menggendong salah satu anak perempuan kecil yang mulutnya belepotan cokelat. Dengan lembut dibersihkannya mulut di gadis kecil dengan tangannya. "Bunda cuma kecapean saja. Tidak ada yang harus dikhawatirkan."

"Adik bayinya baik-baik saja, kan?" tanya gadis kecil di gendongannya.

Genma tersenyum padanya. "Adik bayinya baik-baik saja," ujarnya sambil mengangguk. Gadis kecil itu nyengir, memamerkan tiga gigi depannya yang tanggal. Genma kemudian menurunkannya kembali. "Sekarang lebih baik kalian bersih-bersih dulu, setelah itu kita makan. Katanya tadi kalian habis membuat pisang cokelat. Benar?"

"YA~~" sahut anak-anak riang.

"Nah, kalau sudah bersih semuanya, kita makan pisang cokelat bikinan kalian sama-sama. Kakak-kakak yang lain juga sudah membuat lemonade hangat untuk kalian!"

Anak-anak berteriak girang lagi.

"Dan nanti sore, Ayah Iruka mau main kemari!" Genma mengumumkan.

"HOREEE~~"

Anak-anak itu langsung berhamburan ke belakang untuk membersihkan diri. Hinata juga sudah menurunkan Kei yang langsung bergabung dengan teman-temannya. Genma mengikuti mereka untuk membantu.

Suasana mendadak canggung di antara Naruto dan Hinata yang masih tinggal di aula.

"Sori soal yang tadi ya, Hinata. Mereka memang iseng kadang-kadang..." Naruto nyengir, menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

"T-Tidak apa. N-Namanya juga anak-anak," sahut Hinata. Meski begitu, ledekan itu tetap saja membuatnya malu bukan kepalang. Apalagi didengar salah satu guru mereka.

"Ah!" Naruto menunjuk noda cokelat di bagian bahu sweter kashmir Hinata. "Bajumu kena cokelat! Pasti gara-gara Kei!"

"Tidak apa, N-Naruto. Ini hanya baju..." Hinata mengusap noda itu sekilas.

Naruto baru akan membuka mulutnya hendak mengatakan sesuatu ketika ponsel di sakunya tiba-tiba bergetar. Ia buru-buru merogohnya sementara Hinata sudah melesat pergi untuk membantu anak-anak bersih-bersih. Nama Sai tertera di layar.

"Yo, Sai! Hm? Aku ada di panti asuhan... Eh, mau kemari? Boleh... Oke. Aku tunggu, ya..."

-

-

Suasana riang di panti asuhan itu nyatanya berbanding terbalik dengan suasana hati Sasuke siang itu. Cowok itu rupanya sedang sangat jauh dari kata riang. Ia kesal sekali, supermendongkol dan sangat tidak bahagia. Hanya dengan memelototi dan meneriaki kakaknya saja tidak cukup untuk membuatnya merasa lebih baik.

"AAARGH!! ITACHI BEGO, KENAPA MOBILNYA BISA MOGOOOOK~~!!"

Kali ini Sasuke benar-benar frustasi. Itachi hanya meringis saja melihat adiknya uring-uringan.

-

-

TBC...

-

-

Um.. gak kerasa udah sampe kepala enam aja chapternya. Heu... kapan selesai..??

Aaah~~ maafkan daku atas chapter gaje, boring n gak nyambung ini, teman-teman... Maafkan sudah menunda NejiSaku, menunda Sasuke ketemu temen-temennya, dll... Huhuhu... TT_TT Mau disatuin dengan chapter depan, tapi tar jadi kepanjangan dan makin gak nyambung. Chapter ini malah banyak Sai dan Ino-nya, dan aku gak tahan menampilkan sedikit NaruHina (rasanya udah lama sekali...). Bintang tamu chapter ini, Kakek Gennoe! Tahu kan, yang pernah nongol di filler... Aku suka kakek itu, walaupun mau ngebom Konoha, tapi dia baik sama Naruto... –peluk2 kakek Gennoe-

Thanks a lot buat yang udah review, yah… Furu-chan, Laura-chan, Kennko-chan, Dilia-chan (aaaah~~ akhirnya dirimu nongol lagi, Nak… -hugs-), Kakkoii-chan, M4yura, Nana-chan, Aika-chan, Uchiha Cesa, Adek Erri fans-nya Eeteuk, Sakura chibi dan Mae-chan…

Menerima protes dalam bentuk apa pun, termasuk review. Ehehehe… XD