The longest chappie… Enjoy! ^_^


Chapter 61

Mereka sedang setengah jalan menikmati hidangan pisang cokelat beku dan lemonade hangat sambil menonton acara kartun televisi di aula ketika Sai tiba di sana. Awalnya Sai merasa agak canggung karena ini pertama kali baginya benar-benar bebaur dengan bocah-bocah kecil itu. Memang sebelumnya ia pernah ke tempat itu, hanya saja tidak benar-benar bergabung dengan mereka, hanya melihat dari jauh. Tapi seperti biasa, Naruto selalu bisa membuatnya merasa diterima. Juga sambutan hangat Hinata yang sepertinya memang selalu senang bertemu dengan siapa saja.

"Terimakasih, Hinata," ucap Sai ketika Hinata mengulurkan setusuk pisang cokelat beku berlumur kacang dan lemonade hangat dalam cangkir mungil bermotif boneka.

"J-Jangan sungkan. Masih banyak di d-dapur kalau kau mau lagi," kata Hinata sebelum ia berbalik untuk bergabung lagi bersama anak-anak.

Dari bangku mungil tempat mereka duduk agak jauh dari anak-anak, Sai bisa melihat seorang anak laki-laki kecil merangkak naik ke pangkuan Hinata begitu ia duduk di barisan paling belakang anak-anak di depan televisi.

"Jadi…" suara Naruto yang duduk di sebelahnya mengalihkan perhatian Sai dari anak-anak yang sedang tergelak menyaksikan kartun. Naruto mengambil waktu untuk menelan potongan pisangnya sebelum melanjutkan, "Kau sudah mau memberitahuku masalahmu?"

Tidak paham apa yang sedang dikatakan kawannya itu, Sai melempar pandang bertanya padanya.

"Itu kan alasanmu menemuiku sekarang? Untuk membicarakan yang kemarin itu?"

Sai tidak langsung menjawab, melainkan menggigit pisang bekunya, mengunyahnya perlahan-lahan. Kemudian menjawab dengan nada biasa, "Tidak juga. Aku menemuimu karena memang ingin menemuimu." Sai mengangkat bahunya dan tersenyum. "Tidak ada hal yang khusus."

Naruto menatapnya selama beberapa waktu sebelum berpaling. Kekecewaan samar tersirat dalam suaranya ketika ia berkata pelan, "Begitu…" Sepertinya Sai belum sepenuhnya mempercayainya, pikirnya. Ia menghela napas panjang sebelum memasukkan potongan terakhir pisangnya ke dalam mulut. "Kupikir ada yang ingin kau bicarakan denganku, Sai," ujarnya selang beberapa saat sambil kembali memandang sahabatnya. "Bukannya apa-apa, tapi akhir-akhir ini kau jadi sangat pendiam. Kami pikir pastilah terjadi sesuatu denganmu. Aku dan Sakura mengkhawatirkanmu."

Sai menunduk, merasa tidak enak. "Aku tahu. Maafkan aku," sahutnya muram.

Mereka terdiam cukup lama. Naruto tidak berkata apa-apa lagi. Ia menyilangkan kaki dan menyandarkan punggung ke sandaran kursi yang mungil itu sambil mengawasi adik-adiknya. Sesekali melirik Sai yang sedang menghabiskan pisangnya, masih menunggu kalau-kalau kawan baiknya itu hendak mengatakan sesuatu. Tapi tak ada satu kata pun meluncur dari bibir Sai, meskipun sebenarnya hatinya tercabik ingin menceritakan perasaan tersiksa yang melandanya pada Naruto. Tapi ia terlalu cemas Naruto akan menganggapnya aneh, sinting.

Sampai akhirnya ia merasa tidak tahan lagi. Dianggap tidak normal urusan belakangan.

Ia meletakkan cangkir dan tusukan pisangannya ke bangku kosong di sampingnya dan berdeham. "Um… Naruto?"

"Apa?" Naruto mengalihkan pandangan dari adik-adiknya dan memandang Sai.

Sai menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan sebelum menuturkan semuanya pada sahabatnya itu. Semua perasaan yang mengganggunya belakangan ini, mulai dari debaran-debaran aneh yang membuatnya resah bukan kepalang, pikirannya yang mendadak tidak bisa fokus, sampai kemarahan yang tak bisa dijelaskan yang mendadak muncul. Semuanya… Dan Naruto mendengarkannya tanpa menginterupsi.

"…Aku benar-benar tidak mengerti, Naruto," ujarnya setelah mengakhiri penuturannya. Tampangnya resah. "Apakah itu normal? Maksudku… apa kau juga pernah merasakan emosi yang campur aduk seperti itu, Naruto?"

Naruto nyengir memandang Sai. Sepertinya kecurigaannya dan Sakura memang benar, dan seperti yang diperkirakannya, Sai tidak memahami dirinya sendiri. "Well, ya…" Ia tertawa kecil melihat Sai tampak terkejut. "Jangan memandang heran seperti itu, Sai. Yang kau rasakan itu normal kok. Biasanya kalau sedang jatuh cinta memang begitu rasanya."

Sai tercenung. 'Jatuh cinta? Aku sedang jatuh cinta?'

"Lebih baik—Jauh lebih menyenangkan dari membuat sebuah masterpiece," Sai teringat kata-kata Shin, kata-kata yang sama yang muncul dalam mimpinya yang samar-samar. "Kau akan tahu kalau sudah merasakannya sendiri..."

Tapi ini sama sekali tidak menyenangkan bagi Sai.

"Dulu almarhum kakakku juga pernah jatuh cinta, dan dia tersenyum sepanjang hari, menjadi penuh semangat dan mudah sekali mendapatkan inspirasi..." ujar Sai menerawang, mengingat bagaimana penuh gairahnya Shin saat itu, "Katanya, perasaan itu sangat menyenangkan. Tapi mengapa yang kurasakan malah sebaliknya?" tuntutnya.

Naruto menghela napas sebelum menjawab. "Rasanya memang tidak selamanya menyenangkan. Apalagi kalau kau melihat kesempatanmu hampir tidak ada untuk itu dan kalau melihat gadis yang kau sukai dekat dengan cowok lain. Rasanya ingin sekali menghancurkan sesuatu..."

Seperti itulah tepatnya yang dirasakan Sai. Ingin menghancurkan sesuatu.

"Kau juga begitu?" tanyanya terheran.

"Yah... dulu, waktu aku masih naksir Sakura dan tahu dia menyukai orang lain..." Naruto mengeluarkan tawa kecil yang terdengar agak getir, lalu mengangkat bahunya, "Rasanya memang sangat menyebalkan."

"Kau pernah jatuh cinta pada Sakura?"

Kali ini Naruto yang memandang heran pada temannya. Semua orang di Konoha High, termasuk para guru,tahu kalau dari dulu ia naksir Sakura—yah, kecuali orang ini. Ia lantas tertawa lagi. "Yaa.. Tapi itu dulu," ia buru-buru menambahkan. "Kau ingat saat aku dan Sakura saling diam? Itu bisa dibilang... er... konflik cinta."

"Bagaimana kalian mengatasinya?" tanya Sai penasaran, membuat Naruto terkekeh lagi.

"Kau ini bagaimana, sih? Kan kau dan Ino juga membantu kami menyelesaikannya." Naruto memutar matanya.

Sai tercengang. Ah, mungkin yang pernah dibilang Sasuke 'Naruto sangat menyukai Sakura lebih dari sahabat' maksudnya adalah 'Naruto mencintai Sakura', pikir Sai. Semakin dipikirkan, Sai semakin menyadari betapa dungunya ia tentang hal-hal semacam ini. Dan ini tidak membuatnya merasa lebih baik.

"Persahabatan kami lebih berharga dari perasaan yang bertepuk sebelah tangan," lanjut Naruto dengan senyum lembut di wajahnya. "Aku telah memilih untuk melepaskan tanganku dan membiarkannya meraih kebahagiaannya sendiri. Tapi bukan berarti aku sudah tidak menyayanginya lagi." Naruto menyeruput lemonade-nya. "Aku menyayanginya sebagai sahabatku."

Keduanya terdiam lagi sementara Sai memikirkan kata-kata Naruto.

"Kalau aku jadi kau," ujar Naruto kemudian, "Aku akan melupakkannya saja." Ia menatap Sai sungguh-sungguh. "Bukannya apa-apa, Sai... Tapi dia sudah memiliki orang lain. Status mereka sudah jelas. Dan Ino adalah tipikal gadis yang setia pada pacarnya."

Sai terperangah. Sepertinya sejak tadi ia tidak menyebutkan nama Ino.

"Aku paham ini mungkin akan menyakitkanmu. Tapi lebih baik melupakannya sekarang dari pada perasaanmu semakin mendalam—itu akan jauh lebih sulit melupakannya, dan jauh lebih menyakitkan lagi. Kurasa Sakura akan setuju denganku. Lagipula, gadis di dunia ini bukan hanya Ino."

Sai bisa merasakan kesungguhan saat Naruto mengatakan itu. Jelas baginya bahwa Naruto sudah memahami situasinya jauh lebih baik dibanding dirinya sendiri.

"Tapi keputusannya ada padamu, Sai. Sebagai teman, aku hanya bisa mengingatkan saja." Naruto menepuk bahu Sai mantap seraya melempar senyum menguatkan. Ia lalu menyandarkan kepalanya ke dinding dan mendesah, "Haah... Cinta itu benar-benar tidak sopan, ya? Datang dan pergi seenak jidatnya saja, tidak lihat-lihat... tidak pilih-pilih..."

Ya, Naruto benar. Dari milyaran gadis di dunia, mengapa juga Sai harus jatuh cinta pada gadis yang sudah dimiliki orang lain? Benar-benar tidak sopan...

"Kakak Sai!" Salah satu gadis kecil yang tadi berkerumun di depan televisi mendatangi mereka. Ia membawa sebuah buku gambar yang sudah agak kumal dan beberapa batang krayon yang tinggal separuh. Si gadis kecil berambut pirang ikal itu bergoyang-goyang pada kakinya, tampak malu-malu menatap pada Sai.

"Ya?" tanya Sai ramah.

"Kata Kakak Hinata, Kakak pintar gambar, ya?" tanyanya malu-malu.

"Banget!" Naruto lah yang menyahut, sementara Sai terbengong-bengong, "Kakak Sai ahli menggambar!"

"Kalau gitu, Kakak mau ajarin aku nggak?" Gadis kecil itu menyodorkan buku gambar dan krayonnya pada Sai, menatapnya penuh harap.

"Baiklah," kata Sai sambil tersenyum, mengambil buku gambar dan krayon yang disodorkan padanya. Bocah itu langsung berseri-seri. "Mau gambar apa?"

"Boneka!"

"Um..." Sai membuka-buka buku gambar yang sudah nyaris penuh itu, mencari-cari tempat yang masih tersisa dari coretan-coretan krayon yang sebagian besar menggambarkan anak-anak yang sedang digandeng orangtuanya. Akhirnya ia menemukan tempat kosong di bagian tengah. "Yang mudah dulu saja, ya. Kamu tahu lagu ini, kan? Lingkaran kecil, lingkaran kecil.. lingkaran besaar.. Dikasih pisang, dikasih pisang... Lalu dimakan..."

"Kalau Kakak Sai mau pisangnya lagi, masih banyak di dapur kok!" seru bocah lain yang baru saja bergabung dengan mereka, nyengir polos. "Aku tadi bikin yang banyak kacangnya, lho!"

Naruto meledak tertawa sementara Sai hanya tersenyum geli. Dan saat berikutnya, televisi langsung terlupakan ketika anak-anak mulai mengerubuti Sai seperti semut mengerubuti gula, menonton Kakak-yang-agak-mirip-Kak-Sasuke memperlihatkan kebolehannya menggambar. Beberapa malah sudah membawa buku gambar dan krayon masing-masing.

"Hei, Sobat! Bagaimana kalau kapan-kapan kau memberi les menggambar di sini, eh?" usul Naruto yang langsung disambut meriah adik-adiknya. Hinata mengangguk setuju sementara Sai—sekali lagi—hanya bisa melongo.

-

-

"Berapa lama mereka akan memperbaiki mobilnya?" tanya Sasuke ketus pada kakaknya yang baru saja kembali dari berbicara dengan petugas bengkel tempat mereka memperbaiki mobil di sebuah kota kecil yang letaknya masih agak jauh dari Konoha.

Itachi mendudukkan diri di bangku kosong di sebelah Sasuke, mendesah keras sebelum menjawab, "Mereka bilang baru besok bisa selesai."

"Besok?!" dengking Sasuke sambil melotot. "Apa tidak bisa dipercepat lagi?"

Itachi menggeleng, geli sendiri melihat tampang gusar adiknya. "Mereka bilang baru bisa mendapatkan onderdil aslinya nanti malam dari Konoha dan baru bisa dikerjakan besok. Harusnya makan waktu dua hari, tapi mereka bersedia kerja cepat dan janji besok sore bisa selesai," ia menjelaskan.

Tapi sepertinya Sasuke tidak mau tahu soal begituan. Yang ada di kepalanya adalah bagaimana bisa cepat sampai di Konoha sebelum Senin.

"Tidak usah terburu-buru begitu, Sasuke," kata Itachi menenangkan, "Konoha tidak akan pergi kemana-mana kok." Setengah mati ia menahan tawa.

"Seharusnya kau periksa dulu kondisi mobil bututmu sebelum dipakai," gerutu Sasuke menyalahkan kakaknya.

Itachi memutar bola matanya dan menghela napas. "Iya, iya... salahku. Aku minta maaf sudah membuatmu menunda waktu untuk bertemu Sakura..." ia menambahkan dengan suara amat sangat pelan, nyengir sendiri. Sasuke terlalu sibuk bersungut-sungut sehingga tidak mendengarnya. Ia lalu menepuk bahu Sasuke dan beranjak. "Dari pada menggerutu terus seperti itu, lebih baik sekarang kita cari penginapan untuk tidur nanti malam. Atau kau lebih suka tidur di bengkel?"

Sasuke melempar pandang jengkel pada Itachi sebelum beranjak mengikuti kakaknya mengambil barang-barang mereka dari mobil dan pergi mencari hotel. Kota itu—kalau bisa disebut kota—adalah daerah kecil yang dikelilingi hutan dan padang rumput, jauh dari kota-kota lain yang lebih modern dan letaknya agak terpencil. Penduduknya juga tidak terlalu padat seperti di kota pada umumnya. Tidak heran kalau mereka kesulitan mencari penginapan yang benar-benar layak. Rasanya sudah sepanjang hari kedua kakak beradik itu berkeliling kota, sampai akhirnya menjelang sore dan udara sudah benar-benar dingin, mereka menemukan sebuah penginapan sederhana di sudut kota. Agak jauh dari bengkel, tapi yang penting cukup nyaman untuk mereka bermalam.

-

-

"Sepertinya malam ini bakal turun salju," Ino menghela napas sambil melihat ke luar jendela, memandang ke langit Konoha yang mulai gelap sebelum waktunya. Dari jendela kamar Sakura, ia bisa melihat anak-anak yang baru pulang bermain dalam balutan jaket tebal dan syal berlari-lari kecil menuju rumah masing-masing sementara orangtua mereka sudah menunggu di pintu rumah. Ino berpaling dari jendela dan memandang Sakura yang sedang mematut diri di depan cermin. "Jam berapa katanya Neji mau menjemput?"

"Setengah tujuh," sahut Sakura tanpa memalingkan wajahnya dari cermin, merapikan polesan lipgloss-nya.

Ino mengerling jam dinding. "Masih ada setengah jam lagi." Ia kemudian beranjak dari jendela untuk membantu Sakura berias.

"Aku benar-benar gugup, Ino..." desah Sakura kemudian selagi Ino membantu merapikan rambutnya yang dibiarkan tergerai lepas sampai punggungnya. Hanya saja rambutnya tidak sepenuhnya lurus sekarang, melainkan dihiasi ikal manis di bagian ujungnya, membuatnya terlihat lebih feminin. "Rasanya seperti naik panggung untuk pertama kalinya."

Ino tersenyum paham pada sahabatnya. "Aku tahu. Aku juga begitu saat ada cowok yang mengajakku keluar untuk pertama kalinya. Tapi santai saja, tidak usah terlalu gugup. Nikmati saja dan semuanya akan berjalan baik. Aku yakin Neji akan memperlakukanmu dengan baik. Dia cowok yang oke, kau tahu, kan?"

"Yeah, benar..." Sakura membalas senyumnya, sudah merasa lebih tenang.

Kedua gadis itu menoleh begitu terdengar pintu kamar diketuk, diiringi suara lembut Azami.

"Ya, Bu... Masuk saja," sahut Sakura.

Pintu membuka perlahan dan Azami yang sudah mengenakan pakaian rumahnya muncul dari ambang pintu. Wanita berambut kemerahan itu sejenak terpaku menatap putrinya yang terlihat berbeda—membuat kemiripannya dengan mendiang putri sulungnya, Himeko, kakak Sakura, menjadi sangat jelas. "Hime—Ah, Sakura! Astaga... Ibu sampai pangling!"

Sakura nyengir melihat keterkejutan di wajah sang ibu. Gadis itu jelas sudah melupakan soal telepon semalam ketika ia bertanya riang pada Azami, "Apa aku kelihatan oke, Bu?" Ia memutar tubuhnya di tempat.

Azami melangkah memasuki kamar putrinya yang didominasi warna merah muda lembut, menghampiri Sakura dengan senyum terpahat di wajahnya yang sudah mulai dihiasi kerut halus. Diamatinya anak gadis sematawayangnya itu baik-baik. "Kau.. cantik sekali. Tadinya kukira kau kakakmu..."

Sakura cemberut. "Maksud Ibu aku tidak cantik seperti kakak?"

Azami tertawa kecil. "Bukannya begitu, Sayang. Kau juga cantik dengan caramu sendiri. Hanya saja sekarang kau kelihatan lain. Kau mau keluar?"

"Sakura mau pergi kencan, Bi," sahut Ino langsung, mengabaikan belalakan Sakura. Gadis itu nyengir ceria.

"Tidak. Jangan dengarkan Ino, Bu!" kata Sakura buru-buru, wajahnya merona merah. "Kami hanya keluar menonton pertunjukan opera. Er... untuk cari referensi—Ibu tahu kan, dramaku nanti diangkat dari pertunjukan opera?"

Azami memandang Sakura dengan alis terangkat. Meski begitu ia kelihatannya tidak terlalu keberatan putrinya memang pergi berkencan. "Ah, siapa pemuda beruntung yang berhasil mengajak putri cantikku ini keluar?" tanyanya menggoda, membuat Sakura bertambah merah.

"Kakak kelas," sekali lagi Ino lah yang menjawabnya dengan nada riang. "Seorang pemuda tampan dari keluarga Hyuuga."

"Ah," Azami tersenyum nakal pada putrinya, "Apakah ini Neji Hyuuga yang sering disebut-sebut Kakashi? Pemuda yang kau sukai kan, Sayang?"

"Ibu..." Sakura tersipu. Meskipun sangat malu, gadis itu tak bisa menahan senyumannya.

Azami terkekeh, menepuk lengan Sakura. "Tidak perlu malu pada Ibu. Kakakmu dulu juga begitu saat Yamato mengajaknya keluar untuk pertamakali."

Sakura tertawa kecil. Ia juga ingat bagaimana merahnya wajah Himeko saat mereka bertiga—ia, Azami dan mendiang Hiroyuki—menggodainya sebelum Yamato datang menjemput.

Perhatian ketiga wanita itu langsung teralih begitu mendengar suara mobil berhenti di depan halaman rumah. Ino bergegas melongok ke jendela untuk melihat siapa yang datang. Gadis itu memekik begitu melihat sosok cowok jangkung berambut cokelat yang dikenalnya keluar dari Jaguar silver di depan rumah dan sedang berjalan ke arah rumah.

"Dia datang!" Ino mengumumkan.

Sakura langsung panik. Ia belum selesai memasang scraft-nya.

Tidak sampai semenit kemudian, terdengar bel pintu masuk berbunyi.

"Biar Ibu yang bukakan," kata Azami yang langsung melesat ke bawah untuk membukakan pintu bagi Neji. Sementara itu, Ino langsung bergegas membantu Sakura menambahkan sentuhan terakhir penampilannya.

"Astaga... Rupanya rumor yang mengatakan ia sangat tepat waktu itu benar, ya?" Ino geleng-geleng kepala seraya menyambar mantel dari gantungan. "Dia bahkan datang lebih cepat!"

Sakura tidak berkomentar. Ia terlalu sibuk dengan sepatunya yang entah mengapa mendadak menjadi sulit dipakai—barangkali karena ia terlalu gugup sampai gemetaran begitu. Butuh waktu beberapa menit sampai ahirnya Sakura siap.

"Bagaimana?" gadis itu bertanya gugup.

"Perfect!" seru Ino dengan senyum cerah. "Oh, ya ampun.. tidak bisa dipercaya akhirnya kau pergi keluar dengan Neji!" Ino memeluk Sakura erat, turut senang melihat sahabatnya itu akhirnya bisa bersama-sama dengan cowok yang sudah lama sekali ia taksir. "Ini seperti.. impian yang jadi kenyataan kan?"

Ino bisa merasakan Sakura mengangguk di bahunya. Mereka kemudian saling melepaskan diri dan bertukar cengiran.

"Trims, Ino... Kau memang sahabatku!" Sakura menggenggam tangan sahabatnya dengan kedua tangannya yang dingin.

"Sama-sama. Semoga beruntung! Dan jangan lupa, aku menginginkan laporan lengkapnya besok!" Ino menggiring Sakura meninggalkan kamarnya. "Ayo sana temui pangeranmu!"

Dengan gugup Sakura menuruni tangga, berhati-hati supaya tidak tersandung kakinya sendiri. Ia menoleh ke belakang dan melihat Ino masih berdiri di ujung tangga. Bibir gadis pirang itu bergerak tanpa suara, "Relax. Oke?" Sakura membalasnya dengan anggukan kepala sebelum melempar senyum manis terakhir pada karibnya itu. Sakura menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan-lahan sebelum kembali melangkahkan kaki.

Jantungnya berdebar-debar tak karuan begitu ia melihat Neji sedang duduk di ruang tamu bersama Azami, mengobrolkan entah apa sementara menunggu Sakura turun dari kamarnya. Keduanya menoleh begitu Sakura memasuki ruangan.

"Ah, Sakura!" Azami beranjak dari sofa dan menghampiri putrinya.

Sakura melempar senyum pada Azami sebelum berpaling pada Neji yang juga sudah berdiri dari sofa. "Um... maaf membuatmu menunggu, N-Neji."

Neji terlihat amat tampan dengan setelan kemeja putih yang ditutupi jumper rajutan berwarna cokelat muda dipadu jeans hitam berpotongan bagus. Sebuah mantel berwarna senada tersampir di lengannya. di Sederhana memang, tapi tetap sama amat tampan. Rambut cokelat kopinya yang agak panjang itu juga diikat rapi di belakang tengkuknya, menyisakan anak rambut yang membingkai wajahnya yang sempurna. Dan melengkapi segala keindahan itu, Neji melempar seulas senyum tipis padanya.

"Tidak apa," katanya dengan suaranya yang dalam, dewasa. "Aku juga datang terlalu cepat." Mata lavender itu sejenak mengamati Sakura. "Kau... um... cantik."

Sakura nyaris pingsan. "Trims..." gumamnya sambil tersenyum gugup.

"Kita berangkat sekarang?"

"Y-ya.."

Azami mengantar Neji dan Sakura sampai ke pintu depan.

"Ibu, aku pergi dulu," pamit Sakura sambil mencium pipi ibunya.

"Saya akan mengatar Sakura sebelum jam sebelas malam, Bibi Haruno," kata Neji sopan.

Azami mengangguk, lalu tersenyum pada mereka berdua. "Kalian bersenang-senang saja. Nikmati pertunjukkannya."

Setelah berpamitan dengan ibunya, Sakura mengikuti Neji menuju Jaguar silver yang terparkir di depan rumah. Sakura merasa tersanjung ketika Neji membukakan pintu baginya. Dari jendela mobil, Sakura bisa melihat ibunya yang masih berdiri di beranda, juga Ino yang mengintip dari jendela kamarnya—ia bahkan bisa melihat Ino sedang mengikik dari sana. Perhatiannya langsung teralih begitu pintu sebelah membuka dan Neji masuk.

"Seat belt?" ia mengingatkan.

"Oh, ya..." Sakura buru-buru memasang sabuk pengamannya dengan dibantu Neji, agak tersentak saat tangannya tidak sengaja bersentuhan dengan tangan cowok itu. Tapi Neji tampaknya tidak menyadarinya.

Keheningan menyusup di antara keduanya sementara Jaguar itu melaju mulus meninggalkan Blossoms Street. Sesekali Sakura mengerling cowok di sebelahnya, masih belum bisa mempercayai nasib baiknya bisa duduk berdua saja dalam satu mobil bersama Neji, keluar bersamanya. Dulu ia pasti beranggapan kalau hal seperti ini tidak mungkin terjadi, kalaupun terjadi, pastilah ia sedang berkhayal. Tapi sekarang...? Dengan mereka menjadi partner dalam drama, yang berarti mengharuskan mereka melewatkan banyak waktu bersama, kemungkinan apa pun bisa terjadi.

Sakura merasakan harapannya terus bertumbuh. Ia tak bisa mencegahnya.

-

-

Ino menatap Jaguar silver itu bergerak menjauh sampai akhirnya menghilang di ujung jalan, sebelum ia menutup jendela kamar Sakura. Senyuman tak lepas dari bibirnya. Sakura pasti sangat bahagia, pikirnya riang.

Urusannya sudah selesai dan ia harus segera pulang. Dikenakannya kembali mantel dan syalnya yang disampirkan ke ranjang Sakura sebelum turun meninggalkan kamar. Gadis itu mendapati Azami sedang berada di ruang keluarga ketika ia mencari ibu Sakura itu untuk berpamitan. Tetapi yang dilihatnya membuatnya sedikit terkejut.

Senyum dan keceriaan yang diperlihatkan wanita paruh baya itu saat sebelumnya seakan tidak pernah ada. Tatapannya kosong sementara ia duduk di sofanya. Ekspresinya juga seperti sedang menahan beban yang teramat berat. Seperti orang yang sedang depresi berat—setidaknya itu pendapat Ino.

"Bibi?"

Azami terlonjak saat Ino menepuk bahunya lembut. Ia tampak terkejut melihat Ino masih di sana. "I-Ino? Kau belum pulang?"

"Saya baru mau pulang," sahut Ino sambil duduk di sisi Azami, menatap wanita itu dengan tatapan khawatir. "Bibi baik-baik saja?"

Azami terlihat memaksakan senyum. Ia mengangguk. "Bibi baik-baik saja, jangan khawatir, Nak."

"Bibi yakin baik-baik saja?" desak Ino. Dan ketika Azami menjawabnya dengan anggukan mantap, Ino tahu ia tidak bisa mendesaknya lebih jauh. Azami sama keras kepalanya seperti putrinya. Ino pun menghela napas. "Kalau Bibi membutuhkan sesuatu, Bibi bisa bilang padaku," ujarnya lebut.

"Terimakasih, Nak. Tapi Bibi baik-baik saja."

Ino mengangguk. "Kalau begitu aku pulang dulu, Bi..." Ia beranjak dari duduknya. Azami mengantarnya sampai ke pintu.

"Sampaikan salam Bibi untuk ayah dan ibumu, Ino.."

Azami masih berdiri di pintu, mengawasi sampai punggung Ino menghilang di ujung jalan menuju halte bus sebelum akhirnya menutup pintu rumahnya perlahan. Disandarkannya punggungnya ke pintu sementara deraan rasa bersalah karena sekali lagi kehilangan kesempatan untuk berbicara dengan putrinya menyerangnya lagi. Seakan semua beban dan luka hati yang harus dialaminya belum cukup berat untuk disokong tubuhnya yang sudah tidak muda lagi itu.

'Mereka benar. Seharusnya aku lebih terbuka pada putriku...'

Kepalanya mendadak terasa seperti berputar, pandangannya mengabur. Azami terhuyung mencengkeram lemari sepatu. Berusaha tetap tegak, wanita paruh baya itu berjalan seraya berpegangan pada dinding untuk mencapai kotak obat di bufet di ruang keluarga. Namun sebelum ia berhasil mencapainya, tiba-tiba telepon berdering.

Kakashi...

-

-

"Masih marah?" Itachi memandang adiknya yang duduk di seberang meja. Saat itu keduanya baru saja menikmati makan malam sederhana dan sedang duduk-duduk di coffeeshop penginapan. Sejak menginjakkan kaki di penginapan, Sasuke belum sekalipun mengeluarkan suara dan terus-terusan memasang tampang masam. Dan seperti sebelumnya, kali itu Sasuke hanya mendengus menanggapi sang kakak sambil memutar-mutar cangkir cokelat panasnya tanpa minat.

Itachi menghela napas—entah untuk keberapa kalinya hari itu menghadapi sikap adiknya yang kadang bisa sangat menjengkelkan. "Ayolah, Sasuke..." katanya tak sabar. "Jangan ngambek begitu seperti perempuan dong. Kelakuanmu mengingatkanku pada Hana kalau dia sedang PMS."

"Jangan samakan aku dengan perempuan!" Sasuke menukas sambil memelototi Itachi.

Akhirnya ia bersuara juga, meskipun tidak menyenangkan, setidaknya ia bersuara. Itachi lantas tertawa membuat Sasuke semakin membeliakkan matanya.

"Kau ini terlalu tegang, Sasuke. Aku kan sudah bilang, tidak usah terburu-buru. Konoha bisa menunggu, teman-temanmu pasti tidak akan keberatan—yah, karena kau memang tidak memberitahu mereka—bolos sekolah sehari kurasa juga tidak masalah. Nikmati saja. Lagipula, kita sudah lama tidak jalan-jalan berdua seperti ini, kan?" kata Itachi, sebelum menyeruput minuman dari mugnya.

Sasuke masih memelototi sang kakak untuk beberapa saat lagi sebelum akhirnya menghela napas. Ia tahu apa yang dikatakan kakaknya benar—mengapa Itachi selalu benar tentang segala hal, sih?!—ia terlalu tegang memikirkan Konoha sampai-sampai tidak menghiraukan hal lain, termasuk sang kakak. Padahal Itachi sudah repot-repot bolak-balik Konoha-Oto hanya untuk mengurusinya. Itachi bisa saja marah dengan kelakuan adiknya, tapi ia tidak.

Ah, mendadak Sasuke merasa bersalah. Sikapnya barangkali agak keterlaluan.

"Hei, penjaga penginapan tadi memberitahuku, katanya ada pasar malam di sekitar sini," beritahu Itachi kemudian, menatap Sasuke antusias, "Katanya ada sirkusnya juga. Bagaimana kalau kita ke sana? Waktu kecil kan kau suka sekali nonton sirkus."

"Oke," sahut Sasuke akhirnya. Untuk pertama kalinya hari itu ia menunjukkan antusiasmenya.

Melihat itu, Itachi tersenyum senang. "Kalau begitu sebaiknya kita ambil mantel dan syal, lalu berangkat. Sepertinya malam ini bakal sangat dingin."

"Hn."

-

-

Sakura turun dengan canggung ketika seorang pria berseragam membukakan pintu mobil baginya. Gadis itu mengangguk sopan sebagai ucapan terimakasih sebelum perhatiannya sepenuhnya tertuju pada bangunan megah di depannya itu, juga orang-orang yang terlihat hilir mudik di pelataran depan gedung teater termegah di Konoha itu. Mereka semua terlihat gemerlap dan sangat mengesankan—membuat gadis pemilik mata hijau cemerlang itu merasa agak gugup. Rasanya seperti datang ke acara resmi yang dihadiri oleh orang-orang penting.

Meski begitu, Sakura tidak bisa berhenti mengagumi betapa indahnya tempat itu. Gedung bergaya Eropa yang supermegah dan gemerlap oleh cahaya keemasan lampu-lampunya. Air mancur raksasa di bagian depan gedung, yang airnya memedarkan cahaya bulan purnama yang bersinar terang di langit malam Konoha. Belum lagi bagian dalamnya; langit-langitnya tinggi yang disangga pilar-pilar batu pualam, lampu-lampu kristal yang gemerlapan, pintu-pintu ganda dan jendela-jendela tinggi berhias ukiran, semuanya. Sakura menyukai segalanya yang berhubungan dengan tempat itu.

"Tempat ini cantik sekali," desahnya kagum setelah Neji membawanya masuk.

Neji yang baru saja memperlihatkan karcisnya pada petugas, menoleh, tersenyum tipis melihat kekaguman di wajah partnernya. "Kau menyukainya?" tanyanya.

Sakura mengangguk bersemangat. "Sangat! Aku belum pernah kemari sebelumnya!" Wajahnya langsung memerah begitu menyadari nada bicaranya yang kelewat antusias, sampai-sampai mengundang kikik orang-orang di dekat mereka. "Maaf..." gumamnya pelan.

Neji tersenyum paham. "Tidak apa. Mari..." Ia mempersilakan Sakura berjalan di depannya, membuat gadis itu tersipu. Neji memang gentleman.

Di lorong menuju tempat pertunjukkan, Sakura melihat beberapa orang yang dikenalnya. Ia melihat cowok berambut merah siswa KAA, teman Sai dari Suna, Gaara Sabaku. Ia sedang berdiri di dekat jendela bersama kakak perempuannya, Temari, dan seorang gadis berperawakan mungil yang juga siswa KAA, Matsuri. Sakura baru saja hendak melambaikan tangan untuk menyapa ketiganya, sesuatu menghentikannya.

Sakura menahan napas, jantungnya berpacu cepat ketika dirasakannya tangan Neji menyentuh tangannya. Awalnya ragu-ragu, sebelum akhirnya jemari Neji bergerak mantap ke sela di antara ibujari dan telapak tangannya, lalu menggenggamnya erat. Rasanya hangat dan melindungi.

"N-Neji—"

"Jangan sampai terpisah. Tempat ini sangat ramai." Neji tidak benar-benar memandangnya ketika mengatakan itu.

Gadis itu tidak tahu apakah Neji benar-benar bermaksud seperti itu ataukah hanya mengarang alasan untuk bisa menggandengnya. Tapi ia tak peduli. Hatinya benar-benar terbang ke langit ketujuh dan saat berikutnya ia tak bisa menahan diri untuk tersenyum lebar. Segalanya tampak jauh lebih menyenangkan setelahnya, termasuk saat ia melihat cowok menyebalkan yang sering memarahinya saat latihan drama.

Kankurou Sabaku.

Cowok itu tidak sendirian. Bersamanya, seorang gadis berambut cokelat gelap yang dikenal Sakura sebagai seniornya di sekolah dan di klub teaternya, Tenten.

"Hei, kalian datang juga!" seru Kankurou menyapa mereka kelewat ceria.

"Hai," balas Neji tidak terlalu antusias.

"Halo," sebaliknya dengan Sakura.

"M-Malam..." Tenten melempar senyum gugup. Sepertinya ia terkejut bertemu Neji dan Sakura di sana.

Meski begitu, ia kelihatan sangat cantik. Berbeda dengan kesan gadis tangguh yang biasa diperlihatkannya di sekolah, kali ini ia kelihatan anggun dengan cheongsam panjang beraksen bunga peach. Rambutnya yang biasanya dicepol, kini tergerai di bahunya, hanya ditahan oleh jepit rambut sederhana berwarna keemasan yang serasi dengan pakaiannya.

"Wow! Kalian berkencan?!" seru Kankurou antusias seraya mengerling tangan Neji dan Sakura yang bertaut.

Sakura menoleh pada Neji yang hanya melempar senyum hambar pada Kankurou, tidak berkata apa-apa.

Kakak kedua Gaara itu terkekeh. "Menyenangkan sekali. Pasangan yang serasi. Iya, kan, Tenten?" ia mengerling pada gadis di sebelahnya.

"Tentu saja," sahut Tenten sambil tersenyum.

Entah Sakura hanya membayangkannya saja, ataukah senyum Tenten tidak mencapai matanya? Ah, barangkali ia memang terlalu terkejut melihat mereka bersama, pikirnya.

"Kami juga berkencan!" cetus Kankurou tiba-tiba seraya merangkul Tenten. Gadis itu tidak menampiknya—malah balas tersenyum manis padanya, mengikik pelan.

Sakura belum pernah mendengar Tenten mengikik seperti itu. Neji mengangkat alisnya tinggi. Untuk beberapa saat, suasana mendadak terasa amat canggung, sebelum akhirnya terdengar pengumuman yang memberitahukan pertunjukkan akan segera dimulai. Mereka berpisah dengan Kankurou dan Tenten yang kemudian bergabung dengan Gaara dan dua gadis yang lain.

Rupanya Neji telah mendapatkan tempat yang bagus untuk mereka berdua—bangku VIP—dimana mereka bisa melihat dengan jelas ke atas panggung berbentuk oval yang masih tertutup tirai beludru merah besar, di dekat tempat untuk bagian orchestra. Sakura memandang berkeliling penuh kekaguman. Ruangan itu sangat luas dengan langit-langit menjulang di atas mereka. Selain ratusan bangku di depan panggung, ada pula berpuluh-puluh bilik penonton berjajar lima tingkat di sepanjang dindingnya yang masing-masing dihiasi lampu-lampu gas yang cantik (Dari bangkunya, Sakura bisa melihat rombongan Kankurou duduk di salah satu biliknya). Sebuah kandil kristal raksasa yang cantik menggantung di langit-langit yang paling tinggi.

Sentuhan di lengannya membuat perhatian gadis itu teralih. Neji mengulurkan padanya sebuah pamflet yang didapatkannya dari penjaga yang berisi tentang segala hal yang berhubungan dengan pertunjukkan itu; sutradara, cast list, konduktor orchestra, orchestra (Konogaku Symphony Orchestra), dan ringkasan cerita setiap babaknya. Keduanya sedikit berbincang tantang pertunjukan itu dalam suara rendah sampai akhirnya layar diangkat.

Semua penonton bertepuk, dan sekali lagi Sakura dibuat terpesona begitu Violetta muncul di atas panggung dan mereka mulai melantunkan Libiamo ne' lieti calici—Drinking song—yang mengawali pertemuan Sang Courtesan dan pemuja rahasianya, Alfredo.

-

-

Kontras dengan suasana di kota yang agak lengang, di pasar malam itu sangat ramai seakan seluruh penduduk kota yang tak seberapa tumpah ruah di sana. Udara yang dingin menggigit rupanya tidak menyurutkan semangat orang-orang mendatangi keramaian itu. Di mana-mana, orang-orang yang terbungkus mantel dan syal terlihat hilir mudik dari satu stand ke stand yang lain, atau berdesakan mengantri di tempat pembelian karcis untuk menonton pertunjukan sirkus.

Tampak di antara kerumunan, kedua kakak beradik Uchiha. Dan seperti di tempat lain, mereka selalu saja menarik perhatian orang-orang, terutama para gadis. Kemana pun mereka melangkah, tidak sedikit kepala yang menoleh ke arah mereka, terkadang diiringi dengan bisik-bisik dan kikikan. Namun baik Itachi maupun Sasuke tampaknya tidak begitu ambil peduli atau barangkali tidak menyadari perhatian orang-orang di sekeliling mereka karena terlalu asyik sendiri?

Bahkan Sasuke yang biasanya tidak menyukai keramaian pun terlihat menikmati suasana malam itu. Bernostalgia mengingat masa kecil dulu ketika ia dan kakaknya sering menonton pertunjukan sirkus bersama sepupu-sepupu mereka yang lain, menikmati taruhan kecil bersama Itachi ketika mereka bermain di stand-stand permainan; melempar, memanah, menembak, di mana yang kalah harus menaiki wahana yang diinginkan pemenangnya. Beberapa kali Sasuke harus naik kuda-kudaan di komidi putar atau permainan konyol lain dengan Itachi yang terbahak-bahak menertawakannya dan dipaksa adu panco dengan seorang pria berbadan kekar—tentu saja berakhir dengan kekalahan Sasuke.

Sasuke membalasnya kemudian dengan mengalahkannya di permainan tendang bola, dimana kau harus menendang bola sampai masuk ke dalam gawang kecil yang bergerak. Tentu saja Sasuke yang menang, karena sepakbola adalah keahliannya. Dengan bernafsu, ia menyuruh kakaknya menaiki permainan paling memalukan yang bisa ditemukannya dan tertawa sepuas-puasnya sampai sisi tubuhnya terasa nyeri.

Pokoknya malam itu mereka bersenang-senang, mengalihkan perhatian Sasuke dari kejengkelan atas mogoknya mobil butut Itachi. Sampai akhirnya mereka kolaps di sebuah bangku taman agak jauh dengan pusat keramaian. Wajah keduanya memerah akibat terlalu banyak tertawa. Dan duduk di antara keduanya, sebuah boneka beruang superbesar yang dimenangkan Itachi dari salah satu permainan lempar kunai sementara Sasuke harus puas dengan sebuah bebek karet.

Selama beberapa saat mereka memperdebatkan siapa yang akan membawa boneka itu ke penginapan.

"Jelas kau yang harus bawa," kata Sasuke dengan seringai kemenangan di wajahnya, "Kau kan yang memenangkannya. Jadi kau yang bawa."

"Tapi seingatku terakhir kali kau kalah, kau belum memenuhi taruhanmu, kan? Jadi aku memintamu membawa bonekanya," tandas Itachi tak mau kalah.

Sasuke langsung bersungut-sungut. Tadi ia sempat ngambek karena kalah melulu dan menolak ketika kakaknya menyuruhnya naik gajah-gajahan.

"Boleh buatmu kalau kau mau, Sasuke," Itachi terkekeh, "Lumayan untuk dipeluk-peluk saat tidur, kan?"

Sasuke melempar bebek karet di tangannya ke arah kakaknya yang memantul di bahunya sebelum terjatuh ke tanah. "Sialan, kau! Memangnya aku anak kecil?"

Itachi mendengus tertawa, tapi tidak berkata apa-apa. Ia membungkuk untuk mengambil bebek karet Sasuke yang terjatuh ke bawah bangku. Seringai geli muncul di wajahnya ketika ia memainkan bebek karet itu di antara jemarinya yang panjang, ekspresi di wajahnya seakan sedang teringat sesuatu yang lucu.

"Kau ingat dulu pernah melempari Neji dengan bebek karet seperti ini, Sasuke?" Itachi memencet-mencet bebek berwarna kuning cerah itu, membuatnya mengeluarkan bunyi seperti tercekik.

"Inget banget," sahut Sasuke setengah menggerutu. Bagaimana ia tidak ingat karena saat itu adalah kali pertama ia berkelahi—waktu itu Sasuke baru berusia sekitar empat atau lima tahun—dan dengan alasan yang benar-benar konyol; rebutan mainan. Sasuke bahkan menangis duluan sebelum Neji sempat membalasnya. Sampai sekarang ia masih malu kalau teringat kejadian itu, padahal dia yang duluan memukul Neji dengan bebek karet, tapi ia duluan yang menangis. Untungnya Neji tidak pernah mengungkit-ungkit kejadian itu lagi setelah keduanya lebih besar.

"Untungnya kau tidak menangis waktu menantang Naruto berkelahi dulu, ya," Itachi terkekeh-kekeh.

"Ha ha ha.. Lucu sekali, Kak!" tukas Sasuke ketus.

"Haah.. kau ini dari dulu memang cepat panas, ya, Sasuke?" kata Itachi seraya menghela napas panjang. Ia menyilangkan kaki dan menyandarkan punggung di bangku kayu itu sementara matanya menatap lampu jalan yang bersinar redup. Suara-suara musik dan orang-orang dari pasar malam terdengar sayup-sayup. "Dulu, alasanmu menyerang Naruto karena Hinata, kan?" tanyanya tiba-tiba setelah terdiam cukup lama.

Sasuke mengerling kakaknya sejenak, agak terkejut karena tiba-tiba mengangkat topik ini, kemudian ia berpaling. "Yeah," sahutnya sambil menyeringai tipis.

Itachi mengeluarkan tawa pelan. "Berkelahi karena wanita. Dasar laki-laki!"

"Kakak bicara seperti itu seperti sendirinya tidak pernah berkelahi gara-gara cewek saja," cibir Sasuke, "Siapa yang dulu babak belur berkelahi dengan Kak Pein gara-gara memperebutkan Kak Konan, eh?"

Itachi memukul bahu adiknya main-main, lalu tertawa lagi. "Kau ini. Jangan ungkit-ungkit masa lalu, dong!"

"Sama denganmu, Kak. Jangan ungkit-ungkit masa lalu," Sasuke membalas. Keduanya lantas bertukar seringai.

Meskipun Itachi dan Sasuke bukanlah kakak beradik paling akrab di dunia, tetapi keduanya cukup terbuka satu sama lain. Sasuke menceritakan semuanya yang tak mungkin diceritakan pada orangtua atau teman-temannya, pada kakaknya, termasuk urusan cewek. Begitu pula sebaliknya. Itachi tahu betul bagaimana masa lalu Sasuke dengan Hinata sebagaimana Sasuke tahu kakaknya itu pernah jatuh cinta setengah mati pada Konan, teman sekolahnya dulu.

"Kalau begitu Hinata sekarang sudah menjadi masa lalu, eh, Sasuke?" Itachi melempar senyum menggoda.

Sasuke menjawab dengan mengangkat bahu. "Yang jelas kami masih berteman."

"Yah, berteman terkadang memang lebih baik," timpal sang kakak sambil menghela napas. "Lagipula gadis di dunia ini bukan hanya satu orang saja."

"Betul." Sasuke mengangguk setuju.

"Bagaimana dengan Sakura? Kau menyukainya?"

"Yea—Apa?!"

Sasuke memandang kakaknya dengan terkejut. Selama ini ia belum pernah menyebut-nyebut apa pun tentang Sakura pada Itachi, belum semenjak Sasuke pulang ke Oto sementara kakaknya tinggal di Konoha. Dan Sasuke juga bukan tipe yang senang berlama-lama menelepon sang kakak untuk curhat—lebih nyaman bicara langsung. Tapi bagaimana Itachi bisa berpikir... Sakura?

Melihat keterkejutan di wajah adiknya, Itachi hanya tertawa kecil. "Tidak usah heran begitu, Sasuke," ujarnya, "Aku kan cuma tanya. Habis kalian berdua dekat sekali—iya, tahu, kalian bersahabat baik—tapi..." ia melempar senyum penuh arti pada Sasuke, "Kadang-kadang aku melihat caramu memandangnya berbeda. Dan kau kelihatan tidak senang waktu melihat Sakura dan Neji di video yang kemarin. Dan um... ingat saat kau dirawat di rumah sakit Konoha? Saat itu kau mengigaukan nama Sakura sebelum sadar."

Sasuke merasakan wajahnya menghangat. Ia berpaling sementara kakaknya terkekeh lagi. Sepertinya tidak ada gunanya membatah. Itachi sudah bisa membaca tanda-tandanya sejak awal, bahkan sebelum ia sendiri sadar kalau ia jatuh suka pada gadis galak itu.

"Menurutku Sakura gadis yang menarik," kata Itachi kemudian, "Dia manis, pintar, lucu..."

Sasuke tidak bisa menahan diri untuk tersenyum. "Dan sangat galak," imbuhnya.

Itachi tertawa. "Yeah, aku belum lupa dia pernah memukulmu."

"Tapi cengeng," Sasuke tertawa kecil sambil memandang ke kejauhan, teringat bagaimana gadis itu menangis waktu menemukannya sakit di rumah. "Dia juga teman yang baik. Sangat baik..." Ia tidak pernah lupa bagaimana gadis itu menemaninya saat itu, juga caranya mendukung Naruto saat pertandingan sepakbola.

"Tidak diragukan lagi," timpal Itachi sambil mengangguk.

Mereka terdiam cukup lama, sebelum akhirnya Sasuke menyuarakan isi hatinya untuk pertama kalinya,

"Aku suka padanya, Kak..."

Sasuke mengatakannya dengan senyum getir. Entah bagaimana ia tahu bahwa perasaannya tidak akan berbalas untuk kedua kalinya. Ia menunduk memandang sepatunya seraya menghela napas berat, membuat kepulan uap hangat mengalir dari mulutnya di udara yang dingin. Sasuke kemudian menoleh untuk mendapati sang kakak tersenyum padanya, dan seakan tahu apa yang mengganggu pikiran adiknya itu, Itachi mengulurkan tangan menepuk pundak Sasuke, menentramkannya.

"Maka Sakura adalah gadis paling beruntung," ujarnya lembut.

Sasuke tidak tahu harus menanggapi apa atas kata-kata kakaknya. Ia hanya tersenyum kecil. Itachi selalu bisa membuatnya merasa lebih baik. Perhatiannya langsung teralih ketika tiba-tiba saja ia merasakan sesuatu yang dingin menyentuh wajahnya.

"Salju," celetuk Itachi.

Sasuke mendongak, untuk melihat butir-butir kristal putih itu turun perlahan-lahan di atas mereka dan jatuh dengan lembut ke rerumputan. Rupanya musim dingin sudah benar-benar dimulai malam itu.

"Sebaiknya kita kembali ke penginapan."

"Hn."

"Kau bawa bonekanya!"

"..."

-

-

Sakura tidak pernah menyangka pertunjukkan opera bisa seindah ini. Akting, musik dan nyanyian para pemainnya benar-benar mengaduk-aduk emosinya. Gadis itu berkali-kali dibuat mencelos, merinding bahkan menitikkan air mata selama pertunjukkan berlangsung. Dan ending-nya yang tragis harus memaksanya menggigit bibir keras-keras untuk mencegahnya mengisak.

"Cessarono gli spasmi del dolore. In inc rinasce m'agita insolito vigore! Ah! io ritorno a vivere!—The spasms from the pain have ceased. I feel reborn with an unusual resurgence of strength! Oh! I will live!"

Violetta yang sedang sekarat berjalan ke depan panggung, seakan tubuhnya yang ringkih akibat penyakit ganas itu mendapatkan kekuatannya lagi setelah Alfredo, kekasihnya, kembali lagi ke dalam pelukannya. Wajahnya menunjukkan rasa syukur dan kebahagiaan, meskipun ia tahu waktunya tidak akan lama lagi. Ia mengangkat kedua tangannya dan berseru atas nama cinta dan kebahagiaannya,

"Oh gioia!—Oh what joy!"

Dan ia pun terjatuh ke dalam pelukan Alfredo, jiwanya sudah pergi diiringi dengan tangis pilu Alfredo. Dalam deraan rasa bersalah atas apa yang diperbuatnya pada wanita yang dicintainya itu, Alfredo memeluk tubuh kekasihnya, menjerit miris memanggil namanya,

"Violetta!"

Tirai merah itu kemudian turun menutupi pandangan penonton dari sepasang kekasih itu. Serta merta mereka semua bertepuk tangan, memberi standing ovation dan berteriak, "Bravo! Bravo!"

Sakura turut berdiri dari bangkunya dan bertepuk keras bersama penonton lain. Neji yang duduk di sebelahnya melakukan hal yang sama. "BRAVO!" Sakura berteriak sementara air mata membanjir di wajahnya yang memerah.

Para pemain juga sang konduktor muncul lagi di panggung untuk memberi salam pada penonton yang langsung menyambut dengan aplaus meriah.

"Benar-benar indah!" seru Sakura antusias pada cowok di sebelahnya setelah mereka sudah berada di pelataran depan Konoha City Hall. "Terimakasih sudah mengajakku, Neji. Aku belajar banyak!"

Namun sepertinya perhatian Neji tidak ada padanya saat itu. Ia memandang di kejauhan, ke arah lapangan parkir gedung itu.

"Neji?"

"Hn?" Cowok itu mengerjap dan buru-buru berpaling pada Sakura. "Maaf, kau bilang apa tadi?"

Sakura tersenyum kecil, lalu mengulangi, "Aku tadi bilang terimakasih karena sudah mengajakku. Aku benar-benar belajar banyak."

Neji membalas senyumnya agak terlalu lebar dari biasanya sehingga terlihat janggal. "Oh, yeah. Sama-sama." Kemudian berpaling lagi.

Sakura merasa Neji sedang memikirkan sesuatu entah apa. Tubuhnya berada di sini, tapi pikirannya seperti melayang entah kemana, dan ini membuat Sakura merasa ada sesuatu yang tidak beres. Didorong rasa penasaran, gadis itu lantas menoleh ke arah Neji barusan memandang, ke arah lapangan parkir. Semuanya tampak normal dan biasa-biasa saja. Hanya ada beberapa mobil mulai bergerak meninggalkan tempat parkirnya semula dan orang-orang yang—

"Hei."

Suara Neji membuatnya berpaling lagi. "Ya?"

"Kau sudah makan?"

Sakura menggeleng.

"Bagaimana kalau kita makan dulu sebelum pulang? Aku tahu tempat makan yang enak di sekitar sini."

"Boleh," sahut Sakura berseri-seri. Dan rasa penasarannya tentang sikap janggal cowok itu langsung menguap lenyap.

"Tidak keberatan berjalan sedikit?"

Berjalan berdua di bawah sinar bulan purnama pasti sangat romantis. Sakura menggeleng lagi. "Aku suka jalan."

Udara semakin lama semakin dingin sementara mereka berjalan berdampingan menyusuri trotoar yang ramai oleh orang-orang yang berlalu lalang. Rupanya tempat yang dikatakan Neji lebih jauh dari yang diperkirakannya sebelumnya. Tapi Sakura sama sekali tidak mengeluh, karena dengan begitu waktu yang dilewatkannya berjalan dengan cowok yang disukainya akan semakin lama. Peduli amat dengan udara dingin, yang penting ia bisa bersama Neji.

"Acchoo!"

Neji menghentikan langkahnya dan menoleh memandang gadis di sebelahnya. "Kedinginan?"

Sakura menggosok hidungnya sekilas, meringis malu. "Tidak juga. Sepertinya ada orang iseng yang sedang membicarakanku," ia mencoba bergurau, padahal wajahnya sudah bersemu merah. Terlebih ketika Neji melempar senyumnya yang menawan dan berkata dengan nada geli,

"Kadang-kadang kau bisa sangat lucu, kau tahu itu?"

Sakura merasakan wajahnya memanas. 'Dia menyebutku lucu! Ya, ampuuun...'

"Kurasa aku mulai terpengaruh Naru—Aduh!" Seorang pria yang tampaknya sedang terburu-buru tidak sengaja menabrak Sakura, membuat gadis itu terhuyung. Sepatu berhak tinggi yang dikenakannya sama sekali tidak membantu. Gadis itu barangkali sudah jatuh terjerembab ke trotoar kalau saja Neji tidak segera menangkapnya dengan kedua tangannya.

"Hei, hati-hati, Pak!" seru Neji pada pria yang menabrak Sakura.

"Maaf, maaf!!" pria itu balas berteriak sambil menoleh sementara ia terus berlari sebelum kemudian menabrak orang lain lagi di depannya.

Neji geleng-geleng kepala. "Kau tidak apa-apa, Sakura?" ia bertanya pada gadis yang masih berada dalam pegangannya.

Sakura tersentak dari posisinya yang setengah memeluk Neji, dan berkata tergagap, "Tidak apa-a—Ouch!" Tumitnya mendadak berdenyut menyakitkan ketika ia mencoba menegakkan diri. Matanya sampai berair saking nyerinya.

"Sepertinya kakimu terkilir," kata Neji, memandang kaki Sakura yang gemetar menahan sakit. "Masih bisa jalan, kan? Kita hampir sampai." Ia menunjuk sebuah cafe dengan kanopi berwarna cokelat di bagian depan beberapa meter dari tempat mereka berdiri.

Neji kemudian memapahnya ke sana. Dengan sebelah lengan cowok itu yang melingkar di pinggangnya dan sebelah lagi memegangi tangannya erat-erat, Sakura tidak bisa mencegah degupan jantungnya yang menggila sampai-sampai ia nyaris bisa mendengarnya. Ia cuma berharap Neji tidak mendengarnya. Semoga, itu bisa sangat memalukan.

Seorang pelayan bertubuh pendek dengan rambut merah keriting menyambut mereka begitu mereka sampai. Wanita awal duapuluhan itu bergegas menunjukkan meja kosong bagi mereka di dekat jendela yang menghadap ke jalan. Neji meminta selembar handuk hangat untuk mengompres kaki Sakura sementara memapah gadis itu ke sana, kemudian membantunya melepas sepatu—"Ah, tidak usah. Aku bisa sendiri..." tapi sepertinya Neji tidak mendengarkannya—dan dengan lembut memijat bagian yang sakit.

Sakura memandang cowok di depannya itu tak percaya. Benarkah ini Neji yang sedang berlutut di depannya? Neji Hyuuga yang itu? Cowok yang telah menyita perhatiannya sejak ia masih duduk di bangku sekolah menengah pertama? Neji... Neji yang pendiam, ketua klub komputer yang terkenal jenius, kebanggaan para guru... Kakak sepupu Hinata? Neji...

Nejinya..??

"Masih sakit?"

Sakura mengerjap, tersentak dari lamunannya. Rasa panas di wajahnya terasa lagi ketika ia menjawab pelan, "Lumayan." Pelayan yang tadi pergi mengambilkan handuk hangat kembali, menyerahkannya pada Neji bersama dengan buku menunya.

"Terimakasih," ucap Neji sopan, "Kami akan panggil lagi kalau sudah mau memesan."

Pelayan itu membungkuk kecil, lalu pergi untuk melayani pengunjung lain, sementara Neji mengusapkan handuk lembab yang hangat itu ke kaki Sakura yang terkilir, kemudian membalutnya. Rasa hangat yang nyaman langsung menyebar, mengurangi rasa nyerinya.

"Sudah lebih baik?" tanya Neji sambil mendongak, menatap Sakura yang posisinya lebih tinggi darinya.

"Ya. Trims, Neji," ucap Sakura, bersemu.

"Baguslah. Biarkan begini dulu," kata Neji sambil berdiri. "Aku ke kamar kecil dulu, ya."

Sakura mengawasi ketika Neji beranjak dari sana menuju tempat yang seharusnya kamar kecil, di dekat tanaman hias bohongan di dalam pot. Sepertinya Neji sudah sering kemari, pikir Sakura. Ia lalu melempar pandang ke sekelilingnya. Tempat itu tidak terlalu besar, tapi cukup nyaman. Pengunjungnya sebagian besar adalah anak muda—mahasiswa, barangkali—tapi ada juga orang dewasa. Terdapat panggung kecil, seperti di BloCaf, di salah satu sisi ruangan dengan alat-alat band lengkap dengan tulisan The Palace yang terbuat dari kayu yang dipasangi lampu di dinding di belakangnya.

Suara denting bel di pintu masuk mengalihkan perhatian Sakura. Serombongan orang—sebenarnya hanya empat—baru saja masuk. Sakura mengangkat alisnya saat mengenali cowok paling depan. Yang jangkung berambut gelap dan memakai jeans sobek-sobek. Cowok kelas tiga yang juga mendapatkan peran di drama nanti, teman Neji, Motoki Furuhata.

"Oh, tidak..." Sakura cepat-cepat menyembunyikan wajahnya di balik buku menu, menggigit bibirnya, berharap cowok itu tidak melihatnya. Tapi rupanya harapannya tak terkabul, karena saat berikutnya ia mendengar Motoki menyebut namanya dengan jelas dan cukup lantang,

"Sakura Haruno?"

"Damn..." Sakura menurunkan buku menunya, nyengir. "Hai... Motoki..." sapanya kaku. Bukannya apa-apa, hanya saja Motoki adalah salah satu dari anak-anak kelas tiga yang senang sekali meledeknya habis dengan Neji. Kalau cowok itu sampai menemukannya bersama Neji berdua saja... Oh, itu tidak akan bagus.

Cowok itu menyeringai lebar seperti harimau yang baru saja menemukan mangsa lezat. "Rupanya benar Si Violetta," ujarnya sambil berjalan mendekat. "Sendirian saja?" Ia duduk di bangku kosong di seberang meja Sakura sementara tiga orang yang lain langsung menuju panggung—entah untuk apa.

"Aku... er..." Sakura tergagap.

Tepat saat itu, Neji muncul dari kamar kecil dan Motoki langsung melihatnya. "Seharusnya aku tahu," gumamnya sambil nyengir. Ia kemudian mengangkat tangannya dan melambai ke arah Neji, "Oi, teman!"

"Motoki," sahut Neji datar setelah ia sampai di meja. Kedua cowok itu kemudian saling berjabat tangan yang dilanjutkan dengan menyentuhkan tinju masing-masing—sepertinya mereka cukup akrab. Entahlah. Sakura hanya tahu Neji dekat dengan Lee dan beberapa anak klub komputer saja.

"Kalian berkencan?" Motoki bertanya tanpa basa-basi sambil memandang Sakura dan Neji bergantian, membuat wajah Sakura memerah lagi.

Neji mendengus. "Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan," ujarnya dengan nada sebal. "Kami baru saja menonton La Traviata di Konoha City Hall, dan mampir kemari untuk makan."

"Oh, rupanya Alfredo dan Violetta baru saja menonton drama tentang diri mereka sendiri," Motoki terkekeh. Tak seorang pun dari Neji maupun Sakura yang ikut tertawa, maka Motoki segera berhenti. Meski begitu, ia masih nyengir. "Kukira kau akan pergi dengan Yakumo," katanya pada Neji.

"Jangan mulai lagi, Motoki," Neji tampak terganggu.

Motoki tertawa. "Dasar Tuan Angkuh. Masih saja suka mengelak, padahal kemarin dulu aku melihatmu dan Yakumo sedang—"

"Diamlah!" sela Neji, masih dengan nada yang tenang. Meskipun dari wajahnya sepertinya ia sudah gatal ingin menjejalkan serbet yang ada di meja ke mulut temannya itu agar diam.

Dan untunglah ada bantuan lain yang datang menghentikan ocehan Motoki.

"Kakak!"

Gadis berambut hitam panjang menjuntai sampai ke siku yang tadi datang bersama Motoki menghampiri mereka, menepuk bahu cowok itu keras. Sakura yang sedari tadi tidak terlalu memperhatikan kini mengenali adik perempuan Motoki, Aika Furuhata. Anak kelas satu, salah satu anggota klub musik divisi paduan suara yang pernah ditawari Shikamaru bergabung di band mendampingi Sasame Fuuma sebagai second vocalist The Glossy, tapi ia menolaknya dan lebih memilih tim choir-nya.

"Apa, Ai?" Motoki memelototi adiknya.

"Bantuin, dong. Jangan duduk saja!" Gadis itu mengendikkan kepala ke arah panggung, di mana kedua orang lagi—Sakura tidak mengenal mereka—sedang berkutat dengan kabel-kabel.

"Iya, iya, sebentar lagi aku ke sana. Bawel sekali, sih!"

Aika mengerucutkan bibir, lalu berbalik, kembali ke panggung. Motoki kemudian menoleh lagi pada Neji dan Sakura. "Sudah dulu ya, aku harus kerja." Dan ia bergegas menyusul adiknya.

"Motoki kerja di sini?" Sakura langsung menanyai Neji setelah Motoki pergi.

"Ya," sahut Neji sambil duduk di bangku yang baru saja ditinggalkan temannya. "Dia main band di sini setiap akhir pekan—Sabtu dan Minggu—bersama adik dan sepupu-sepupunya." Ia memandang ke arah panggung. "Dulu anak-anak Konoha High banyak yang main band di sini setiap akhir pekan, dan kami sering berkumpul untuk menonton. Tapi sekarang sudah jarang."

"Begitu..." Sakura juga masih ingat waktu ia kelas satu, Motoki Furuhata adalah salah satu anggota band di sekolah juga. Tapi sekarang sudah tidak lagi, mengundurkan diri.

"Sudah pesan makanan?" Neji mulai membuka-buka buku menunya.

Seorang pelayan datang begitu mereka sudah memutuskan akan makan apa—keduanya sama-sama memesan ikan bass dan salad. Dan sementara menunggu pesanan datang, Neji dan Sakura memulai obrolan mengenai pertunjukan opera yang baru saja mereka saksikan beberapa waktu lalu. Perbincangan mereka berlangsung amat menyenangkan. Sakura menyebutkan bagian mana yang paling ia sukai dan yang paling menyentuh di pertunjukan tadi dengan penuh semangat sementara Neji mendengarkan dengan antusias. Sepertinya gadis itu sudah sama sekali lupa akan kakinya yang terkilir, maupun sikap janggal Neji saat di Hall tadi.

Obrolan mereka kemudian terhenti ketika suara musik lembut yang berasal dari pengeras suara berhenti, digantikan oleh suara mikrofon. Rupanya band kecil Motoki sudah akan tampil. Dua duduk di kursi tinggi dengan gitar masing-masing, satu di belakang drum dan satu di belakang keyboard. Aika—yang menjadi vokalis sekaligus memainkan gitar—berdeham kecil, menarik perhatian semua pengunjung. Suara obrolan mendadak berhenti dan semua kepala menoleh ke arah panggung—termasuk yang sedang menikmati hidangan.

"...Saya memiliki seorang sahabat baik. Kami selalu berbagi cerita, apa pun itu," ia memulai. "Suatu ketika ia bercerita kepada saya. Dia bilang dengan penuh semangat, 'Ai, aku sedang jatuh cinta!'. Kemudian saya bertanya, 'Seperti apa sih rasanya jatuh cinta?', dia menjawab, 'Luar biasa, lebih dari yang bisa kau bayangkan. Pokoknya tak terkatakan!' Lalu ia menciptakan sebuah lagu untuk menggambarkan perasaannya. Lagu yang sangat indah, menurut saya." Ia tersenyum pada semua orang yang ada di sana, sebelum melanjutkan, "Dan malam ini saya akan membaginya dengan Anda semua, dengan penuh cinta.. Juga untuk semua yang saat ini hatinya sedang dijatuhi cinta, mudah-mudahan lagu ini bisa merefleksikan perasaan Anda..."

Motoki mulai memainkan intro bernada lembut dengan gitarnya. Dan hanya dengan iringan gitar bermelodi lembut dari kakaknya, gadis itu menyanyikan bait-bait pertamanya dengan penuh penjiwaan,

"Higher than the sky above you
Clearer than blue
Brighter than the rays of sunshine
Warmer than what you feel
More than all the wonders you see
It's the most wonderful thing"

Persis seperti itulah yang dirasakan Sakura terhadap cowok yang sekarang ini duduk di depannya. Dengan senyum lembut, ditatapnya wajah Neji yang rupawan itu. Entah menyadari sedang diperhatikan atau hanya kebetulan, Neji menoleh ke arahnya. Pandangan mereka bertemu. Sakura buru-buru mengalihkan pandangannya kembali ke arah panggung. Jantungnya berdegup cepat.

"Brighter than the living colors of flowers you see
Sweeter than the touch of water
Flowing from the mountain spring
More than all the wonders you see
It's the most wonderful thing

One love...
I love you so
Love is the beautiful one
I love you so
Love is the beautiful one
All we need is love
Real love…"

Dan Sakura mulai yakin bahwa perasaannya terhadap Neji, bukan lagi hanya kekaguman belaka. Tetapi sudah bertransformasi menjadi sesuatu yang lebih dalam, perasaan yang jauh lebih membahagiakan. Ia telah jatuh cinta.

"Ibu, lihat! Salju turun!" seru seorang anak laki-laki kecil yang duduk beberapa meja dari mereka bersama kedua orangtuanya sambil menunjuk ke arah jendela.

Sakura ikut memandang ke luar jendela. Butir-butir salju terlihat turun perlahan-lahan, sesekali melayang-layang tertiup angin sebelum akhirnya jatuh ke bumi di antara orang-orang yang berlalu lalang. Sakura menelengkan kepalanya sambil tersenyum kecil ketika melihat sepasang kekasih yang kebetulan melintas di depan cafe, bergandengan tangan, tampak sangat bahagia. Sang pria menyeka salju yang tersangkut di rambut kekasihnya dengan lembut sementara wanita itu tertawa-tawa. Sungguh pemandangan yang menghangatkan hati di cuaca yang dingin seperti ini.

'Kapan ya, aku bisa seperti itu?'

"One Love...
I love you so
Love is the beautiful one…"

-

-

Jaguar silver mengurangi kecepatan sebelum akhirnya menepi tepat di depan jalan masuk sebuah rumah di Blossoms Street, kediaman Haruno. Saat itu waktu menunjukkan pukul sepuluh tigapuluh malam, tigapuluh menit lebih awal dari waktu yang dijanjikan Neji pada Azami untuk mengantar putrinya pulang.

Sakura bergeming di tempatnya selama beberapa saat, seakan tidak rela malam menyenangkan itu harus berakhir sekarang. Ia masih ingin menghabiskan waktu beberapa saat lagi dengan Neji, tapi sepertinya waktu memang tidak mengizinkan. Dan ketika ia tersadar dari lamunannya, Neji sudah membukakan pintu mobil baginya.

"Kakimu sudah oke, kan?"

Sakura mengangguk sambil tersenyum. Dan ingatan tentang Neji yang menggendongnya dari restoran ke mobil beberapa waktu yang lalu berkelebat lagi, membuatnya merona kemerahan lagi. Ia masih ingat hangatnya punggung itu, aroma maskulin yang segar itu dan lembutnya rambut cokelat cowok itu yang menempel di pipinya. Rasanya ia akan mengingatnya seumur hidup.

"Perlu kugendong lagi?" tawar Neji sambil menahan senyum.

"Ah, tidak usah. Kurasa aku sudah bisa jalan sendiri..." tolak Sakura cepat-cepat. Ia tidak ingin Neji menganggapnya manja dan terlalu bergantung pada orang lain.

"Hn."

Neji kemudian menawarkan tangannya, membantu Sakura keluar dari dalam mobil. Sakura menenteng sepatu Ino dan turun dengan dipegangi Neji. Aspal yang dingin langsung menyulut telapak kakinya yang telanjang, membuat bulu kuduknya meremang. Tapi rasa dingin menggigit itu menjadi tak berarti jika dibandingkan dengan kehangatan yang dirasakannya dari tangan Neji yang memegangi tangannya. Rasanya nyaman sekali.

Neji mengantar Sakura jalannya masih tertatih-tatih sampai ke depan pintu rumahnya.

"Trims, Neji. Malam ini sangat menyenangkan," ucap Sakura ketika mereka sudah sampai di depan pintu. "Dan um..." gadis itu menunduk sebelum kemudian menengadahkan kepalanya lagi, "...maaf sudah merepotkanmu."

"Tidak apa-apa. Masa aku mau membiarkanmu terpincang-pincang seperti itu?" ujar Neji sambil tertawa kecil. Sakura ikut tertawa, agak malu. "Ya sudah, sampai ketemu besok di sekolah, Sakura. Kau istirahatlah." Neji menepuk lengan Sakura pelan.

Sakura mengangguk. "Kau juga. Hati-hati di jalan."

"Hn. Selamat malam."

"Malam..."

Dan dengan senyum tipis terakhir, Neji berbalik, menuruni undakan dan berjalan menuju mobilnya di antara siraman butiran salju yang melayang-layang lembut. Sakura berdiri di sana, mengawasi sampai Jaguar silver itu menghilang dari pandangan, lalu menghela napas, membuat uap hangat mengepul dari depan hidungnya. Wajahnya berseri-seri. Kalau saja kakinya sedang tidak sakit, ia pastilah sudah melompat-lompat kegirangan seperti orang gila saking bahagianya.

"Ibu, aku pulang!!" seru Sakura penuh semangat setelah masuk ke dalam rumah yang hangat.

Tidak ada jawaban.

Barangkali sudah tidur, pikir Sakura agak kecewa. Padahal kalau ibunya masih bangun, Sakura ingin menceritakan semua yang telah dialaminya malam ini padanya. Oh, ia masih terlalu bersemangat untuk pergi tidur!

Kemudian Sakura bergegas naik ke kamarnya—ia agak kesulitan menaiki tangga. Setelah menanggalkan pakaiannya dan berganti dengan pakaian yang lebih nyaman untuk tidur, Sakura duduk di sisi ranjangnya sambil merendam kakinya yang sakit dengan air hangat dalam baskom.

Ah, nyamannya...

Sakura merebahkan dirinya di atas ranjangnya yang empuk, mengulang sekali saat-saat indah yang dilewatkannya bersama Neji tadi dalam kepalanya. Dengan riang gadis itu menyenandungkan lagu One Love yang didengarnya di cafe tadi—Sakura sudah memutuskan itu menjadi lagunya dan Neji—sambil sesekali mengikik sendiri. Yah, jatuh cinta terkadang memang membuat orang suka bersikap konyol.

Sampai terdengar suara mobil berhenti di depan rumahnya. Sakura bergegas bangkit dari ranjangnya dan mengintip ke jendela, penasaran siapa yang datang malam-malam begini. Kedua alisnya terangkat begitu melihat sebuah sedan putih keluaran lama berhenti di depan halaman.

Kakashi?

Seorang pria jangkung dengan rambut keperakan baru saja turun dari mobil. Ia berjalan mengitari mobilnya untuk membukakan pintu di sisi penumpang. Sakura terkejut melihat seorang wanita berambut kemerahan yang terbungkus mantel bepergian dan syal yang melilit di lehernya keluar dari dalam mobil; Azami. Tadinya ia mengira ibunya sudah tidur.

Sakura beringsut supaya bisa melihat lebih jelas. Dahinya berkerut dalam.

Kakashi terlihat tengah memapah Azami menuju rumah. Tapi mendadak mereka berhenti di jalan setapak menuju undakan depan. Kakashi berbalik menghadap Azami dan keduanya seperti terlibat pembicaraan serius—tapi Sakura tidak bisa mendengarnya dari sana—Azami menggelengkan kepalanya, mengusap wajah dengan tangannya. Ia sedang menangis. Kakashi terlihat sedikit frustasi—ia mengacak rambutnya sebelum kemudian memegangi kedua lengan Azami erat-erat sambil berkata entah apa padanya.

Dan kejadian berikutnya membuat hati Sakura mencelos. Gadis itu menahan napasnya ketika melihat Kakashi mengulurkan tangan mengusap air mata di wajah ibunya. Tidak hanya sampai di situ; kedua tangan kokoh itu bergerak ke punggung ibunya dan...

Sakura menarik dirinya dari jendela sambil menggelengkan kepala, tidak mempercayai apa yang disaksikannya barusan.

Ibu dan Kakashi...

Ibu dan Kakashi...

Ibu dan Kakashi...

Sakura terus menjauh dari jendela seakan dengan begitu ia bisa membatalkan apa yang barusan ia lihat di sana, sampai belakang kakinya membentur kaki tempat tidur dan ia jatuh terduduk di kasurnya. Jantungnya berdegup sangat kencang sampai terasa menyakitkan, sama sekali berbeda dengan degupan yang dirasakannya bersama Neji beberapa saat lalu—namun terasa sudah lama sekali berlalu. Yang tertinggal hanyalah rasa nyeri yang ia rasakan di dadanya.

Dan ketika segalanya berputar kembali dalam kepalanya, semua kejadian yang pernah terjadi... Ibunya yang kerap pulang malam, sikap anehnya yang seperti sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Dan Kakashi... dia pernah bertanya apakah ibunya mengatakan sesuatu?—mengatakan apa? Tentang hubungan mereka?—dan... ia telah melepas cincin kawinnya.

Tidak! Itu tidak mungkin!

Aku tidak mau!!

Tanpa terasa air matanya mulai mengalir dari sudut-sudut matanya tanpa bisa ditahannya lagi. Pengkhianatan ibu terhadap ayahnya benar-benar tidak bisa dimaafkan! Sakura tidak bisa memaafkan ini!

-

TBC...

-

Disclaimer

Naruto (c) Masashi Kishimoto

La Traviata (c) Guiseppe Verdi

One Love (c) Acel Bisa

-


Apa itu? –nunjuk tulisan abal di atas- Aneh banget gak sih? Apalagi yang bagian Naruto ama Sai. Swt deh.. Maafkanlah keabalan diriku, yah... bener-bener sudah kehabisan ide soalnya. Dan banyak banget yang diceritain di chap ini, iya gak sih? Jadi bingung nentuin summary-nya. –sigh-

Oia, mau nanya... NejiSaku-nya norak gak sih? Susah bikin adegan 'kayak gitu' soalnya. Maafin ya kalo norak.. Hiks.. Terus, Itachi-Sasuke-nya juga. Aaargh! –hopeless- Bener-bener gak ada mood bagus di chap ini. –guling-guling- Padahal udah sambil dengerin lagu-lagu yang romantis buat membangun mood membuat adegan romace, tapi tetep aja susah. Apa karena aku habis nonton film horor? Jadi bawaannya horor melulu?

Ya sutralah...

Seperti biasa, special thanks buat yang udah baca, review, masukin ke fave story list... Berarti banget buat author. Hitung-hitung sebagai penambah semangat buat menulis lanjutannya yang kemungkinan besar akan lama apdetnya. Hihi... –dilempar jumroh- XDD

Mika_kurasami, Rye Hikaru, Lawra-chan, cumanumpanglewat, Aika-chan, Violet Mikan Hinata, Uci-chan, Reiya Sumeragi, Uchiha Cesa, Akabara Hikari, M4yura, cumanakecil, Michishige Asuka, Rie_teuk, Kakkoii-chan, kennko-hime, Nana-chan, Cake Factory.

Oke deh. Happy shaum buat teman-teman yang menjalankan! GANBA! GANBA! GANBA!!

PS : Apakah nanti Sasuke akan menimpuk Neji pake bebek karet demi merebut Sakura darinya? Seperti saat dia merebut mainan Neji tapi gak bisa. Wkwkwk... *dichidori* XDD

Just kidding!