Fiuh… akhirnya selesai juga kuedit chapter ini… Ada sedikit perubahan, ada yang dipotong dan ada yang ditambah. Yang jelas, aku menyisipkan Sasuke di versi yang ini. Hihihi… Yang udah mereview yang sebelumnya, Antlia, Hakara Sin, Mayu… Aku bener-bener minta maaf, ya…-berasa jahat tiba2 menghapus chapter yang udah aplod- Mudah-mudahan kalian suka dengan versi yang ini, meskipun masih banyak kekurangan di sana-sini. Makasih juga buat Myuuga Arai-chan dan M4yura-chan yang udah kasih support waktu aku sempat down banget kemarin. *peluk-peluk*
Yah, pokoknya… selamat membaca!
Chapter 62
Sakura menghela napas berat entah sudah keberapa kalinya pagi itu. Suasana hatinya sangat kacau semenjak semalam, semenjak ia melihat pemandangan yang tidak ingin ia lihat. Bayangan tentang ibunya dan Kakashi bersama-sama terus-menerus berkelebat dalam kepalanya, membuatnya tak bisa tidur. Ia sama sekali tidak percaya pamannya tega melakukan ini padanya.
'Tapi Kakashi bukan pamanku—ia bukan paman kandungku,' Sakura mengingatkan dirinya sendiri dalam hati.
Dan kenyataan itu seperti pukulan telak baginya—membuatnya semakin takut. Kenyataan bahwa sebenarnya Kakashi sama sekali tidak memiliki hubungan darah dengannya maupun ibunya. Kakashi menjadi bagian dari keluarganya karena ia menikahi adik kandung ibunya—bibi Ayashi. Dan ia menjadi semakin dekat dengan mereka setelah Ayashi meninggal beberapa tahun silam saat melahirkan anak pertama mereka.
'Terutama dengan ibu,' pikir Sakura getir.
Mengapa ia tidak pernah menyadarinya sebelum ini?
Semenjak ayahnya meninggal beberapa bulan lalu hubungan ibunya dan Kakashi kian dekat. Sakura tahu Kakashi sering menemui ibunya di rumah maupun di restoran. Selama ini ia hanya mengira Kakashi datang dengan perannya sebagai seorang adik yang menghibur kakaknya yang sedang berduka. Gadis itu sama sekali tidak pernah berpikir bahwa cinta bisa saja tumbuh di sana. Di antara ibunya dan Kakashi.
Memikirkan ibunya dan Kakashi bersama-sama membuatnya tidak tahan. Ia tidak bisa menerima itu. Tidak mau menerima, lebih tepatnya. Baginya itu sama saja dengan pengkhianatan atas kenangan mendiang ayah yang sangat dikasihinya.
'Ya. Pengkhianatan… Ibu sudah mengkhianati ayah. Kakashi juga. Mereka berdua.'
Dan segalanya semakin diperburuk dengan pertengkarannya dengan Sang ibu tadi pagi saat sarapan. Sungguh, Sakura tidak pernah bertengkar sehebat itu dengan ibunya selama ini. Ini membuatnya sedikit terguncang.
"Ibu kemana saja semalam?" Sakura tidak bisa menahan nada dingin dalam suaranya saat itu.
Azami yang sedang menuang kopi paginya ke dalam cangkir tidak langsung menjawab. Sakura memperhatikan gerakan ibunya terhenti sejenak dan matanya yang memandang ke arah lain dengan sikap gugup sebelum mengangkat wajahnya, tersenyum, "Ibu keluar cari angin. Belakangan ini Ibu merasa agak kurang enak badan."
"Kalau tidak enak badan, kenapa malah keluar dan bukannya istirahat saja di rumah?" Sakura menukas seraya menatap ibunya dengan mata disipitkan. "Atau barangkali menurut Ibu menghabiskan malam di luar—di udara yang dingin—bisa membuat 'tidak enak badan' Ibu menjadi lebih baik? Maksudku, dengan mencari kehangatan yang tidak Ibu dapatkan di rumah. Iya, kan?"
Azami tampak terkejut dengan kata-kata Sakura. "Apa maksudmu berkata begitu, Nak?"
"Aku yakin Ibu cukup paham kata-kataku," Sakura mendengus sinis. "Jadi kapan Ibu mau memperkenalkan calon ayahku, eh?"
Senyap. Azami seakan kehilangan kata-katanya saat itu sementara Sakura menatapnya dengan sorot mata terluka yang tidak berusaha ditutup-tutupi. Janda Hiroyuki itu menatap sang putri selama beberapa saat lagi sebelum akhirnya berkata pelan, "Kau pasti salah paham, Saya—"
"Oh, ya, tentu saja aku salah paham!" Gadis itu mengeluarkan tawa dingin. "Kurasa yang kusaksikan semalam sudah cukup, Bu. Dan setelah semua yang sudah terjadi semenjak ayah meninggal, semuanya menjadi masuk akal! Kau… dan Kakashi!"
"Tidak, Sakura. Aku dan pamanmu hanya—"
"DIA BUKAN PAMANKU!" Sakura menjerit, seperti sudah kehilangan akal sehatnya. Gadis itu melompat bangun dari bangkunya, membuat kursi itu terguling, tapi Sakura mengabaikannya. Ia terlalu marah untuk mengabaikan apa pun di sekelilingnya. "DIA BAHKAN TIDAK PUNYA HUBUNGAN DARAH SAMA SEKALI DENGAN KITA!" Tangannya yang terkepal gemetar di sisi tubuhnya. "DIA CUMA PENYUSUP YANG AKAN MEREBUT IBU DARI AYAH!"
"SAKURA, JAGA MULUTMU!" bentak Azami. Wanita itu juga telah berdiri dari bangkunya dan ia menatap sang putri dengan tatapan marah. Ditudingnya gadis di depannya itu, dan ketika ia berbicara, suaranya bergetar, "Jangan sekali-sekali… kau menyebut pamanmu seperti itu. Kakashi tidak seperti kau tuduhkan!"
"OH YA, TENTU SAJA DIA SEPERTI ITU!" teriak Sakura lagi. Giginya gemeletukkan. "Berpura-pura baik di depan kita—di depan ayah! Kemudian mendekati keluarga kita dan memikat Ibu—"
"Sakura, demi Tuhan, Kakashi itu suami bibimu! Suami adik Ibu kalau kau belum lupa…" kata Azami dengan nada memohon.
"Tapi Bibi Aya sudah meninggal, Bu!" Sakura berteriak, masih keras kepala. "Dan sekarang ayah juga sudah meninggal! Kalian berdua sudah tidak ada halangan lagi, kan—"
"TIDAK! DENGARKAN IBU DULU—"
"—DAN KALIAN BERDUA BISA BERSENANG-SENANG DENGAN BEBAS SEKARANG—"
Kejadiannya begitu cepat. Beberapa detik kemudian Sakura sudah merasakan sakit yang panas di sisi wajahnya, tapi itu tidak seberapa dibandingkan dengan rasa sakit yang kini mendera hatinya. Ibunya tidak pernah memukulnya sebelum ini—tidak bahkan ketika Sakura bersikap keterlaluan sekali pun. Tapi sekarang, hanya demi membela pria brengsek yang selama ini mengaku sebagai pamannya… Azami telah menamparnya.
Sakura tidak percaya. Satu, dua tetes air mata mulai turun dari sudut-sudut matanya, merefleksikan perasaan sakit hati yang dirasakannya saat itu.
Sementara itu Azami pun terlihat terguncang dengan apa yang baru saja dilakukannya. Ia mengulurkan tangannya yang gemetaran ke arah Sakura. "S-Sakura… Maafkan—"
Tetapi Sakura menepisnya kasar. Napasnya memburu dipenuhi amarah. Ia bahkan tidak peduli melihat ibunya mulai menangis.
"Ibu bisa menjelaskan semuanya, Sayang. Tolong, dengarkan Ibu…" wanita itu mengiba.
Sakura sudah muak.
"IBU YANG DENGARKAN AKU!" teriak Sakura lepas kendali. "SAMPAI KAPAN PUN AKU TIDAK AKAN MENERIMA KAKASHI MENJADI PENGGANTI AYAH! TIDAK AKAN!"
Tanpa memedulikan lagi teriakan ibunya yang memanggilnya, memohon supaya Sakura mau mendengarkan, gadis itu menyambar tas dan mantelnya, kemudian berlari meninggalkan dapur.
BRAK!!
"Sakura?"
Sakura tersentak kaget. Serta merta gadis itu menoleh dan mendapati seraut wajah dengan sepasang mata biru cerah memandangnya dengan sorot khawatir. Sekonyong-konyong gaung suara ibunya yang memanggil-manggil namanya menghilang, digantikan suasana koridor loker sekolah yang hiruk pikuk oleh anak-anak yang baru saja tiba. Dari atas bahu Naruto, Sakura bisa melihat Kiba menyumpah-nyumpah sambil melompat-lompat memegangi kakinya beberapa meter dari tempatnya berdiri, sementara beberapa anak menertawakannya. Sepertinya ia baru saja menendang lokernya yang lagi-lagi macet.
"Kau oke?"
Suara Naruto membuat perhatian gadis itu kembali padanya.
"Eh—apa?" Sakura bertanya gugup sambil berpaling lagi sebelum cairan hangat yang entah sejak kapan menggenang di pelupuk matanya terjatuh. Ia buru-buru menyekanya dengan lengan sweter-wollnya.
"Aku tanya apakah kau baik-baik saja, Sakura?" ulang Naruto, masih mengawasi Sakura sementara gadis itu telah kembali berkutat dengan isi lokernya. "Mukamu agak pucat. Kau sakit?"
"Aku tidak apa-apa…" Sakura berdeham, suaranya masih agak serak, "…hanya sedikit sakit tenggorokan, kau tahu kan, adaptasi dengan udara dingin, kadang-kadang orang bisa kena flu."
"Benarkah?" Naruto memberinya tatapan curiga. Dahinya berkerut samar.
"Tentu saja," Sakura tersenyum meyakinkan. "Nanti juga sembuh sendiri."
Naruto masih tampak tidak yakin. "Kelihatannya tidak begitu," katanya sambil meletakkan tangan di kening Sakura, merasakan suhu tubuhnya. Tetapi gadis itu dengan cepat menepis tangannya.
"Sudah kubilang aku baik-baik saja!" Sakura menukas dengan nada meninggi, membuat temannya itu terkejut, mata biru langitnya membulat. Menyadari apa yang baru saja dilakukannya, mendadak Sakura menjadi merasa bersalah. Seharusnya ia tidak membentak Naruto seperti itu. Cowok itu hanya mengkhawatirkannya, seharusnya ia berterimakasih. Gadis itu buru-buru berkata dengan suara pelan, "M-Maafkan aku, Naruto…"
"Oh, oke!" kata Naruto selang beberapa lama sambil meringis canggung. "Tidak apa-apa. Aku cuma… mengkhawatirkanmu.."
Naruto tidak mendesaknya lagi, meskipun ia masih tidak mengerti dengan sikap Sakura yang menurutnya agak ganjil. Gadis itu tampak murung sejak ia datang tadi, berkali-kali menghela napas berat dan matanya agak merah dan bengkak. Apa dia habis menangis? Tapi kenapa?Bukankah semalam ia baru saja keluar dengan Neji—cowok yang ditaksirnya sejak lama? Harusnya Sakura gembira, tetapi yang diperlihatkannya sejak tiba di sekolah tadi malah sebaliknya.
Atau mungkin… kencannya tidak berjalan lancar dan terjadi sesuatu yang membuat gadis itu bersedih? Ingin sekali Naruto bertanya, tetapi ia tidak berani. Sakura kelihatannya masih kepikiran—apa pun itu—meskipun sekarang gadis itu tetap membalas senyumannya. Manis, seperti biasa. Ah, bukannya Sakura memang pandai berakting?
Sakura memberinya senyum lemah, sebelum berpaling lagi untuk memasukkan buku terakhir ke dalam tasnya dan menutup pintu lokernya. Namun gerakannya terhenti begitu melihat secarik kertas yang ia tempelkan tepat di bawah fotonya bersama Naruto dan Sasuke yang diambil beberapa bulan lalu, juga fotonya berdua dengan Sai saat mereka berdua makan di kedai nasi daging panggang Korea di dekat KAA; jadwal pelajarannya.
Hari Senin, jam pertama, Aljabar 3, dengan nama Kakashi Hatake yang diberi emoticon smile warna merah muda cerah.
Hatinya mencelos. Sakura tahu kalau hari itu ada pelajaran Aljabar, tetapi sama sekali lupa kalau yang mengajar adalah dia—sampai ia melihat jadwalnya. Ia sama sekali tidak menyangka akan bertemu Kakashi secepat ini.
'Aku tidak ingin bertemu dengannya!' Sakura menggigit bibirnya dengan sikap gelisah.
"Eh—Sakura! Kau mau kemana?!" seru Naruto terkejut karena Sakura tiba-tiba saja kabur dari sana. "Kita akan masuk sebentar lagi—OI!"
Tetapi Sakura nampaknya sama sekali tidak mendengarnya, gadis itu sudah keburu menghilang di antara kerumunan anak kelas tiga yang akan menuju lantai berikutnya. Ia bahkan meninggalkan lokernya dalam keadaan terbuka begitu saja.
Sakura terus berlari tanpa benar-benar memperhatikan tujuannya, menerobos serombongan anak-anak kelas satu yang mengantri di depan lab, menabrak cewek-cewek kelas tiga yang baru saja keluar dari toilet, tidak menghiraukan panggilan Tenten yang mengingatkannya untuk latihan drama nanti siang ketika melewati lab bahasa, bahkan ia sama sekali tidak menggubris Neji saat berpapasan dengannya di depan kelas Science. Sampai akhirnya ia sampai di tangga paling atas menuju atap sekolah, napasnya terengah-engah.
Sakit hati yang dirasakannya sejak semalam kembali lagi seiring dengan terpaan udara musim dingin yang membekukan setelah ia mendorong pintu tebal itu terbuka. Ia menutup pintu itu di belakangnya, lalu berjalan gontai menuju pagar kawat pembatas. Sejenak Sakura memandangi anak-anak yang baru datang, semuanya terbungkus mantel dan syal, sampai ia melihat mobil putih itu memasuki halaman parkir guru. Mobil yang sama dengan yang membawa ibunya semalam.
Sakura berpaling. Melihat orang itu membuatnya muak.
Lamat-lamat ia bisa mendengar suara bel tanda jam pertama akan segera dimulai berdering. Tetapi Sakura mengabaikannya kali ini. Gadis itu malah merosot duduk di pinggir pagar pembatas, sama sekali tidak memedulikan salju yang bisa membasahi pakaiannya. Ia duduk dengan memeluk lututnya, kemudian ia membenamkan wajahnya di sana, dan mulai mengisak.
-
-
Suasana kelas Aljabar satu jam pertama dipenuhi dengung obrolan anak-anak sementara menunggu guru mereka yang memang punya kebiasaan telat itu. Hanya beberapa anak termasuk Shino dan Hinata yang memilih belajar sendiri. Shikamaru malah sudah tidur nyenyak di mejanya, sama sekali tidak terpengaruh oleh suara bising teman-temannya. Tak seorang pun tampaknya menyadari—bahkan tidak peduli—ada yang berbeda kali itu kecuali Naruto yang punya kebiasaan rahasia menghitung waktu telat guru aljabarnya.
Kakashi Hatake memang punya kebiasaan terlambat masuk kelas, tetapi belum pernah selama ini. Empat puluh lima menit adalah rekor terlama Kakashi masuk kelas menurut perhitungan—yang kurang kerjaan—Naruto. Tapi kali ini… sudah hampir satu jam tapi guru mereka satu itu belum juga menampakkan batang hidungnya di kelas. Biasanya, semakin terlambat maka peluang untuk ujian mendadak akan semakin besar, seperti saat pemecahan rekor empat puluh lima menit itu, Kakashi langsung memberi mereka ujian Logaritma supersulit sebanyak dua puluh soal yang harus diselesaikan dalam waktu satu jam. Naruto tidak pernah mendapatkan nilai sejeblok itu sebelumnya—hanya Sakura, Shikamaru, Shino dan Sasuke (waktu itu Sasuke masih di Konoha) yang berhasil mendapatkan poin di atas C dan anak-anak langsung menjuluki mereka S club 4 (bukan S club 7 yang nama grup vokal).
Tetapi kali ini bukan soal kemungkinan ujian mendadak yang menggelisahkan cowok bermata biru jernih itu. Melainkan bangku di depan mejanya yang masih juga kosong. Tidak biasanya Sakura terlambat seperti ini.
"Sakura belum datang juga?" tanya Sai yang duduk di sebelah meja Sakura. Cowok itu sudah berpaling dari bukunya yang penuh dengan coretan-pembunuh-rasa-bosannya dan menatap Naruto. "Kau tahu kemana kira-kira dia pergi? Tidak biasanya dia absen seperti ini, kan?"
"Tidak," sahut Naruto dengan raut cemas sambil menekan-nekan keypad ponsel di tangannya, berusaha menghubungi Sakura. "Dia kelihatan aneh pagi ini. Katanya dia sedikit tidak enak badan, tapi sepertinya…" Ia menghela napas. "…entahlah. Mungkin sedang banyak pikiran. Sial! Ponselnya juga tidak aktif!" umpatnya.
Sai tidak berkata apa-apa lagi setelahnya. Cowok berambut eboni pendek itu hanya memandang bangku kosong di sebelahnya, bertanya-tanya dalam hati kemana perginya sang pemilik bangku yang biasa menggerecokinya, menjulurkan leher dengan penasaran dan menarik-narik lengannya setiap kali ia asyik menggambar di bukunya.
"Aku akan mencarinya," kata Naruto kemudian.
Namun sebelum Naruto sempat bergerak dari bangkunya, pintu kelas mendadak terbuka dan guru Aljabar mereka yang berambut keperakan melangkah masuk, membuat cowok itu mengurungkan niatnya. Keributan di kelas langsung surut dan beberapa anak yang sudah kelayapan kemana-mana buru-buru kembali ke bangku masing-masing. Kakashi berhenti di depan pintu, memandang berkeliling kelas. Tatapannya sejenak terhenti di bangku Sakura yang kosong. Pria itu menghela napasnya dan berdeham, menggumamkan selamat pagi nyaris ogah-ogahan yang membuat seluruh kelas keheranan. Walaupun wajahnya terkesan mengantuk, tetapi Kakashi adalah tipe guru yang penuh semangat dan tidak sungkan bergurau dengan murid-muridnya—setidaknya selama ini begitu kesan yang mereka tangkap.
Sepertinya mood guru mereka itu sedang tidak baik.
Kakashi berjalan menuju mejanya, lalu meletakkan diktatnya di atas meja. "Ada yang bisa memberitahuku di mana Nona Haruno sekarang?"
Gumaman langsung terdengar dari seluruh penjuru kelas sementara mereka mulai menoleh dan menjulurkan leher untuk mencari sosok yang ditanyai guru mereka. Mereka jelas baru menyadari ketidakhadiran gadis itu di kelas. Di barisan belakang, Naruto dan Sai bertukar pandang.
"Uzumaki, kau tahu di mana Haruno?" Kakashi menanyai Naruto.
Kelas langsung senyap dan kepala semua anak menoleh ke arah cowok pirang itu, menunggu jawabannya.
"Um… dia…" Naruto memandang Sai, minta petunjuk. Tapi Sai hanya mengangkat bahunya. Naruto kembali memandang gurunya, bedeham, "Katanya dia tidak enak badan. Mungkin sedang istirahat di ruang kesehatan."
"Begitu.." Kakashi menghela napas lagi. Ia terdiam beberapa saat, seperti sedang memikirkan sesuatu sebelum akhirnya berkata pada kelasnya, "Baiklah. Kalau begitu kita mulai saja pelajaran hari ini. Sebelumnya review dulu untuk pertemuan sebelumnya. Buka halaman dua ratus sepuluh. Uzumaki, kerjakan soal nomor satu di papan! Karin, nomor tiga! Hyuuga, nomor lima! Nara, nomor tujuh!"
"Damn! Kenapa aku selalu kena, sih?" gerundel Naruto dalam bisikan pelan, sebelum menyeret kakinya ke depan kelas.
-
-
Menjelang bel tanda istirahat makan siang berbunyi, Sakura memutuskan untuk turun. Perasaannya sedikit lega setelah menangis sepuasnya barusan, meskipun tidak sepenuhnya bertambah baik. Langkahnya terhenti ketika samar-samar ia mendengar suara Kakashi di koridor kelas Aljabar. Rupanya tanpa sadar ia telah berjalan menuju kelasnya sendiri. Nada suara Kakashi terdengar agak tinggi, berbeda dengan nada suara yang biasa digunakannya di kelas. Sepertinya ada yang membuat kekacauan di kelasnya yang membuat guru Aljabar itu emosi—tapi Sakura sama sekali tidak tertarik dan tidak peduli. Yang dipedulikannya hanyalah bagaimana caranya agar jauh-jauh dari orang itu. Gadis itu lantas cepat-cepat berputar balik.
Bel berdering tepat ketika Sakura tiba di depan toilet anak perempuan di lantai satu. Koridor yang tadinya kosong serta merta tumpah ruah oleh anak-anak yang berbondong-bondong keluar dari kelas. Sakura bergegas mendorong pintu toilet dan masuk, tidak ingin siapa pun menemukannya dengan tampang kusut seperti itu.
Untunglah toilet itu dalam keadaan kosong. Aroma lemon segar dari pewangi ruangan otomatis tercium di penjuru ruangan mungil itu, menutupi aroma tidak sedap khas toilet siswa. Toilet di sekolah itu memang tergolong bersih dan cukup nyaman. Mereka menyediakan tempat duduk untuk mengantre dan pengatur suhu ruangan segala. Tidak heran para gadis kerap suka berlama-lama tinggal di sana, selain untuk buang hajat, juga untuk bergosip.
Sakura melepas mantelnya dan melemparnya ke bangku bersama tasnya, sebelum kemudian membasuh wajahnya di wastafel. Airnya terasa hangat di wajahnya yang cukup lama diterpa udara dingin, menyapu sisa-sisa air mata yang mengering di pipinya yang kemerahan akibat cuaca dingin—juga akibat menangis. Tetapi tidak bisa menyembunyikan matanya yang terlihat sembab.
Ia terlihat kacau, benar-benar mencerminkan perasaannya saat itu.
Pintu menjeblak terbuka dan serombongan gadis masuk sambil mengomel. Dari cermin, Sakura bisa melihat Karin dan teman-temannya.
"Sialan! Aku tidak pernah dipermalukan seperti itu di depan kelas!" gadis berkacamata itu tampak amat murka. Wajahnya sudah hampir semerah rambutnya ketika ia memelototi bayangannya sendiri di cermin besar di depan wastafel.
"Bukan cuma kau, Karin. Aku juga kena semprot, bahkan lebih parah dibanding kau!" gerutu gadis lain, yang bertubuh kurus dan berambut pirang keperakan pendek. Ia telah mengeluarkan lipstick dari dalam tasnya, tampaknya tidak begitu ambil peduli.
"Heran. Tidak biasanya Si Hatake segalak itu pada kita, kan?" kata gadis ketiga—yang paling pendek antara kelima gadis itu, tapi tetap sama cantiknya dengan teman-temannya. Ia menghenyakkan diri di bangku di sebelah mantel dan tas Sakura disampirkan. "Bahkan si Nara juga kena marah, padahal cowok itu kan anak emasnya!"
"Anak emas Kakashi bukan Nara, tapi Haruno," Karin menanggapi sambil mengerling Sakura yang masih bergeming di tempatnya semula. Tampaknya mereka baru menyadari kehadiran gadis itu di sana. "Sepertinya aku tadi tidak melihatmu di kelas, Sakura?"
Sebelum Sakura sempat menjawab, si pirang kurus sudah menyelanya, "Tadi Si Uzumaki bego itu bilang kalau dia sedang tidak enak badan dan istirahat di ruang kesehatan."
Karin kembali menatap gadis berambut merah muda di sebelahnya dengan alis terangkat, mengamatinya. "Kau sakit?"
Sakura memaksakan senyum, memutuskan untuk mengikuti sandiwara Naruto—kalau yang dikatakan gadis pirang itu memang benar—"Sudah tidak apa-apa."
"Haah~~ kau beruntung sekali bisa lolos dari orang itu, Sakura," Karin menggelengkan kepalanya, membuat rambut merahnya yang dikucir bergoyang di belakang kepalanya. "Kalau saja aku juga bisa sakit di saat yang tepat, aku tidak akan ketiban sial diomeli guru sial itu," keluhnya lagi sambil menghembuskan napas dengan dramatis, lalu berjalan ke salah satu bilik dan masuk.
"Mungkin saja suasana hatinya sedang buruk," timpal gadis keempat, yang mengenakan sweter Kashmir merah menyala, dengan lagak berpikir serius. "Mungkin sedang bertengkar dengan pacarnya."
Teman-temannya langsung menyambar dengan penuh semangat topik ini, menerka-nerka dengan penasaran siapa gerangan cewek beruntungyang menjadi kekasih guru Aljabar yang memang sudah menduda beberapa tahun itu. Yah, walaupun Kakashi baru saja mengomeli seisi kelasnya beberapa menit yang lalu, tetap saja reputasinya sebagai salah satu guru terkeren di sekolah itu tidak luntur. Bahkan bertahun-tahun yang lalu saat Kakashi masih menjadi guru baru di sana, konon ada salah seorang muridnya yang jatuh cinta setengah mati padanya dan selalu menaruh vas berisi mawar merah segar di mejanya setiap ia mengikuti kelas Aljabar. Dan masih menurut cerita turun temurun dari angkatan sebelumnya, gadis malang itu patah hati saat Kakashi memutuskan menikahi perawat sekolah saat itu, sampai-sampai ia memutuskan pindah sekolah saking tidak tahannya.
"Suster Airi, mungkin? Kudengar dia naksir Kakashi!"
"Yah… bisa jadi… Mereka lumayan dekat juga, kan?"
"Hi hi hi… kalau beneran dengan Suster Airi, berarti sejarah terulang lagi dong. Almarhum istrinya kan mantan perawat sekolah ini juga…"
'Tidak… Kalian salah. Kekasih Kakashi adalah orang lain—ibuku,' pikir Sakura getir sementara gadis-gadis itu terus mengoceh tanpa henti.
Merasa tidak akan tahan kalau harus mendengar lebih banyak tentang orang itu lagi, Sakura memutuskan untuk pergi dari sana. Ia mengambil mantel dan tasnya dari bangku dan berjalan menuju pintu. Barangkali ia mau mencari Ino saja untuk curhat. Tetapi setelah ia menemukan sahabatnya itu sepertinya sedang sibuk rapat dengan serombongan anak buahnya di tim danus festival sekolah, Sakura mengurungkan niatnya. Ia tidak ingin mengganggu.
Akhirnya Sakura memutuskan untuk pergi ke kelasnya yang berikutnya, kelas Sejarah. Ia tahu jam istirahat baru dimulai dan kelas itu pastilah masih kosong melompong. Anak-anak lebih tertarik pergi ke kantin, atau ke perpus, atau duduk-duduk di halaman dibandingkan menghabiskan waktu di kelas yang sama sekali tidak menarik, tapi Sakura tidak peduli. Itulah tepatnya yang ia butuhkan sekarang—sendirian. Setidaknya ia mengira begitu.
"Sakura?"
Gadis itu menoleh untuk melihat siapa yang memanggilnya. Sai baru saja muncul dari arah koridor perpustakaan, membawa beberapa buku diktat sastra di tangannya—pastilah untuk tugas Kebudayaan. Senyum mengembang di wajah cowok pemilik mata onyx yang dalam itu, seakan ia senang menemukan Sakura di sana.
"Akhirnya ketemu juga," ujarnya cerah setelah mendekat, "Naruto mencarimu sejak tadi. Dia benar-benar mencemaskanmu sepertinya. Um… aku juga." Ia masih tersenyum. "Aku harap tidak terjadi sesuatu yang serius. Kau baik-baik saja, kan?"
Mendengar nada bicara Sai yang terdengar tulus mencemaskannya membuat Sakura tidak enak hati. Dibalasnya senyuman sahabatnya itu.
"Aku baik-baik saja. Jangan khawatir, Sai."
Sai mengamati wajah Sakura lekat-lekat—tatapannya yang intens tanpa sadar membuat gadis di depannya itu agak gugup juga. "Tapi mukamu kelihatan agak… kacau. Matamu kenapa merah begitu?"
"Ah…" Sakura otomatis mengusapkan tangan ke matanya yang memang masih agak pedih akibat terlalu banyak menangis. "Tadi kemasukan sesuatu, tapi sudah tidak apa-apa," dustanya. Ia berdeham. "Aku mau ke kelas dulu." Gadis itu berjalan melewati Sai, menuju ruang kelas Sejarah yang letaknya di ujung koridor itu. Tatapan Sai mengikutinya.
Entah sudah berapa lama waktu berlalu sejak Sakura menghenyakkan diri di bangku belakang kelas kosong itu, membenamkan wajah ke lengannya yang terlipat di atas meja, berusaha melupakan pertengkarannya dengan sang ibu, juga melupakan Kakashi—melupakan orang-orang yang telah menyakitinya—sampai tiba-tiba pintu kelas membuka dan terdengar suara langkah kaki orang memasuki ruangan itu. Sakura tidak mengangkat wajahnya.
"Sepertinya memang ada yang tidak beres dengan Sakura," bisik salah satu dari mereka pada yang lainnya.
Mata biru langit temannya memandang gundukan merah muda di meja belakang itu dengan tatapan penuh khawatir. Naruto menghela napas dan menganggukkan kepala, setuju dengan kata-kata Sai. Sementara Sai menutup pintu di belakang mereka, Naruto berjalan menghampiri gadis itu, menarik bangku kosong ke dekatnya.
"Hei…" Dengan lembut Naruto meletakkan tangannya di punggung Sakura.
Gadis itu menoleh tanpa mengangkat kepalanya dari meja dan memandang Naruto yang tersenyum hangat. "Naruto?" bisiknya. "Sai?" Ia juga telah melihat Sai yang baru saja menarik bangku kosong ke sisi Naruto. Sakura membalas tersenyum lemah. "Kalian…"
Sejenak mereka terdiam. Sakura menatap lipatan lengannya sendiri dengan pandangan kosong sementara kedua temannya bertukar pandang dengan gelisah, terlalu khawatir untuk bertanya ini itu.
Akhirnya Naruto memberanikan diri. Ia menelan ludah dan berkata hati-hati, "Sakura, kalau ada yang mengganggu pikiranmu, kau bisa cerita pada kami berdua." Di sampingnya, Sai mengangguk setuju. "Tapi kami tidak memaksa kok," Naruto cepat-cepat menambahkan, "Kami hanya ingin membantu—yeah, walaupun tidak benar-benar bisa membantumu, setidaknya kami bisa mendengarkanmu. Supaya lebih enakan?"
Akhirnya Sakura mengangkat kepalanya dari meja, mengusap bagian depan rambut merah mudanya yang terlepas dari kucirannya, lalu menatap Naruto dan Sai dengan senyum lemah di wajahnya. "Kalian berdua benar-benar baik. Tapi aku sedang tidak ingin membicarakannya—tidak sekarang."
Naruto mengangguk paham. "Baiklah, kami bisa menunggu. Kuping kami tidak akan pergi kemana-mana," ujarnya sambil nyengir. Sai mendengus, mengeluarkan tawa kecil tertahan. Sakura tersenyum. "Jadi kalau kau sudah siap untuk cerita, kau tinggal bilang, oke?" lanjut Naruto seraya mengedipkan sebelah matanya. "Dan kalau kau ingin menangis, kau bisa pakai bahuku. Yah, tidak seempuk bahu Chouji sih, tapi lumayan lah, dari pada bahu Sai. Keras."
Sakura tidak tahan tidak tertawa sementara Sai mengangkat alisnya tinggi-tinggi sambil menatap Naruto yang menyeringai lebar. Dengan tampang polos, Sai menyentuh bahunya sendiri, seakan ingin memastikan apakah bahunya benar-benar keras atau tidak.
"Maksudnya kau terlalu kurus, Sai," kekeh Sakura, nyengir pada Sai.
"Tapi makanku banyak kok! Betul!" kata Sai membela diri, sekali lagi dengan ekspresi lugu yang membuat kedua sahabatnya terkekeh-kekeh. Dan saat berikutnya mereka mulai meributkan soal bobot Sai—sungguh tidak penting, tapi yang jelas berhasil membuat suasana hati Sakura membaik, walaupun tidak sepenuhnya juga.
Yah, setidaknya ia bisa tertawa sekarang. Sayangnya itu tidak berlangsung lama.
"Hei, Sakura. Tadi aku bertemu Suster Airi. Katanya Pak Hatake mencarimu."
Senyum langsung merosot dari wajah gadis itu. Ia mendengus. "Humph!"
-
-
Setelah jam pelajaran terakhir selesai, ketika Sakura dan Naruto sudah bergabung dengan anak-anak yang bersiap pulang—Sai sudah diseret Shino ke ruang Jurnal untuk rapat Pubdok; mendiskusikan tentang rencana publikasi, desain poster, pamflet dan sejenisnya untuk festival sekolah nanti—mereka bertemu Kakashi. Naruto yang tidak tahu apa-apa tentu saja menyapa gurunya itu dengan riang saat pria pemilik mata kelabu itu bergegas menghampiri mereka, tampaknya ia juga sudah melupakan telah diomeli habis-habisan oleh Kakashi tadi pagi. Tapi tidak begitu dengan Sakura. Gadis itu bergeming di tempatnya, menatap Kakashi dengan tatapan benci.
"Sakura, bisa ikut aku? Ada sesuatu yang harus kita bicarakan sekarang," ujar Kakashi pada Sakura setelah ia mendekat.
Dengan keras kepala Sakura tidak mau beranjak dari tempatnya. "Aku tidak mau bicara denganmu," desisnya.
Naruto menatap kedua orang itu bergantian, jelas bingung dengan sikap Sakura yang terkesan dingin dengan pamannya sendiri. Tidak seorang pun dari keduanya yang menghiraukannya.
Kakashi menghela napas lelah. "Ibumu sudah memberitahuku apa yang terjadi. Aku ingin meluruskan kesalahpahaman ini."
"Kesalahpahaman?" dengus Sakura sinis seraya menatap Kakashi dengan mata dipicingkan. "Jangan bikin aku tertawa, Kakashi. Aku jelas-jelas melihat kalian—"
"Yang kau lihat tidak seperti apa yang kau pikirkan, Sakura," sela Kakashi gusar. "Aku bisa menjelaskannya—"
"Aku tidak mau dengar!" bentak Sakura. "Yang kulihat sudah jelas dan aku tidak mau mendengakan apa-apa lagi dari pengkhianat macam KAU!"
Mata kelabu Kakashi membulat. Ia tampak terguncang, tetapi dengan cepat mengambil alih lagi kendali dirinya. "Tidak, Sakura. Aku tidak seperti yang kau pikirkan. Kita bicara di tempat lain saja, ya…" Ia meraih lengan Sakura, hendak menariknya menjauhi koridor yang penuh anak-anak yang mulai memandang mereka penasaran. "Tidak enak dilihat teman-temanmu."
"Kenapa?" tanya Sakura dengan nada menantang. Mata hijaunya melotot menatap sang paman. "Takut reputasimu tercoreng, eh? Takut mereka tahu orang macam apa kau sebenarnya, iya, kan?"
"Sakura, tolonglah…" Kakashi mendesaknya, cengkeramannya di lengan Sakura tanpa sadar mengerat.
"TIDAK MAU!!" Sakura menjerit, menyentakkan lengannya lepas dari cengkeraman Kakashi, mengundang tatapan anak-anak lebih banyak lagi. Mereka mulai berbisik-bisik, tapi Sakura tidak memedulikannya. Ia terlalu marah untuk memedulikan apa pun saat itu. Mata hijaunya membelalak, dan segala kemarahan, kekecewaan pada orang yang selama ini dikasihinya seperti paman kandungnya sendiri itu seakan tumpah seiring dengan kata-katanya—ada keinginan liar yang mendadak muncul dalam hatinya, keinginan untuk balas menyakiti orang ini sedalam mungkin—"Aku tidak mau bicara lagi dengan orang brengsek yang sudah mengkhianati ayahku! Menusuk dari belakang. Kau sudah merencanakan ini sejak lama, kan?"
Air mata Sakura tumpah tanpa bisa dibendung, suaranya mulai bergetar. Meski begitu mata hijaunya masih menyala-nyala marah.
"Mendekati keluargaku… Berusaha merebut hati kami… Kau pasti senang ayah meninggal, kan?" Sakura berkata kejam. "Dengan begitu tidak ada halangan lagi untuk mendekati ibuku. Tapi tidak, Kakashi, aku tidak akan membiarkan siapa pun mengambil posisi ayahku! JADI JANGAN COBA-COBA LAGI MENYENTUH IBUKU!!"
Beberapa pasang mata yang menonton mulai terbelalak kaget mengengar kata-kata yang baru saja diteriakkan Sakura, diiringi dengan dengungan bisik-bisik yang semakin keras.
Kakashi tampak terpukul mendengar kata-kata keponakannya. "Sakura, bukan begitu. Aku hanya—"
"DIAM!! DIAM!!" teriak Sakura lepas kendali. Kepalanya menggeleng-geleng liar sementara kedua tangannya menutupi telinganya rapat-rapat, seakan ingin memblokir suara Kakashi. "AKU TIDAK MAU DENGAR!! AKU BENCI PADAMU!!" Gadis itu berbalik, kemudian berlari menerobos anak-anak yang entah sejak kapan sudah berkerumun di sana untuk menonton.
Naruto yang sejak tadi hanya bisa tercengang langsung tersentak. "Sakura!" Ia bergegas menyusul gadis itu.
Butuh waktu beberapa detik lebih lama bagi Kakashi sampai ia menyadari apa yang terjadi. Kata-kata keponakannya yang begitu menusuk hatinya seakan membuatnya lumpuh untuk beberapa saat.
'AKU BENCI PADAMU!! AKU BENCI PADAMU!!'
"SAKURA!!"
Pria itu segera berlari mengejar sang keponakan, menerobos kerumunan siswa, mengabaikan panggilan kolega-koleganya yang terkejut, melompati undakan depan. Ia melihat Sakura dan Naruto baru saja menghilang di gerbang utama ketika suara lain memanggil namanya. Awalnya ia mengabaikannya seperti ia mengabaikan panggilan Asuma dan Anko, tetapi kemudian sepasang tangan menangkap lengannya, menahannya.
"Kakashi, hentikan!"
"Tidak! Aku harus bicara padanya!" teriak Kakashi, berusaha melepaskan cengkeraman tangan itu. Tetapi cengkeramannya tidak mau lepas.
"Sudah cukup! Tidak akan berhasil!" desak sang pemilik tangan. "Sakura masih terguncang. Biarkan dia menenangkan diri dulu, Kakashi. Dan kau juga perlu menenangkan dirimu."
Kakashi berhenti memberontak. Sebagai gantinya, tubuhnya mulai bergetar menahan emosi yang sebisa mungkin ditahannya. Mata kelabunya basah. "Mengapa bisa jadi begini…?" bisiknya dengan suara tercekat. "Oh, Tuhan…" Ia memekapkan sebelah tangannya di depan mulutnya.
Sepasang lengan mungil memeluk pinggangnya, seakan ingin meringankan bebannya. Kakashi balas merangkulkan lengannya ke bahu orang itu, mencari sandaran sementara ia berusaha mengendalikan dirinya.
"Sakura benar-benar membenciku sekarang…" bisik Kakashi di rambut cokelat keunguan orang—tepatnya, wanita—yang memeluknya. Ia merasakan tangan orang itu menepuk-nepuk punggungnya lembut, menenangkannya.
"Sshh… jangan bicara begitu," ujar wanita itu lembut, "Dia tidak membencimu, dia hanya kaget, itu saja. Semuanya pasti akan baik-baik saja, oke? Aku akan berusaha membantu sebisaku, jadi kau tenang saja."
"Terimakasih… Rin…"
Sementara itu Sakura terus berlari menjauhi kampus Konoha High seperti orang kalap dengan Naruto yang tidak menyerah terus mengejar di belakangnya. Gadis itu tidak benar-benar memperhatikan tujuannya. Matanya buram oleh air mata yang kini membanjir di wajahnya.
"Sakura, tunggu aku!!" teriak Naruto untuk kesekian kalinya, tapi untuk kesekian kalinya juga Sakura tidak menghiraukannya. Sampai akhirnya gadis itu sampai di penyeberangan jalan. Jelas Sakura sama sekali tidak memperhatikan rambu untuk pejalan kaki yang menyala merah karena ia terus berlari. Barangkali ia akan tertabrak sebuah minivan yang melintas kalau saja Naruto tidak cepat-cepat mendorongnya ke tepi jalan.
"Geez! Sakura, yang itu bahaya sekali. Kau bisa cela—" kata-katanya terputus begitu dilihatnya gadis itu menangis sejadi-jadinya tanpa berusaha menutup-nutupinya. Wajahnya yang merah padam berkilau oleh air mata. Naruto tidak pernah melihatnya menangis seperti itu. Dan ini sangat menyesakkan hatinya.
"Sakura…" Naruto mengulurkan kedua tangannya, berusaha menyeka air mata yang terus menderas di wajah Sakura. Tetapi gadis itu terus saja terisak. Tidak tega, Naruto lantas menarik Sakura ke dalam pelukannya, membiarkannya menangis di bahunya, sama sekali tidak memedulikan mantelnya yang mulai basah. Dilingkarkannya lengan ke sekeliling tubuh gemetar Sakura, berharap itu bisa membuatnya lebih tenang. "Menangislah kalau itu bisa membuatmu lebih tenang. Tidak apa-apa…"
Sakura tidak berkata apa-apa, hanya mengisak, membenamkan wajahnya ke bahu sahabatnya yang hangat, penuh perlindungan dan juga penghiburan.
-
-
Butuh waktu beberapa lama sampai Sakura bisa menguasai diri. Naruto telah membawanya duduk di bangku taman dekat sana dan membiarkan gadis itu menyandarkan kepala di bahunya sementara mereka duduk dalam keheningan. Naruto memutuskan untuk tidak mengungkit-ungkit dulu tentang peristiwa di sekolah beberapa waktu yang lalu, dan ia yakin Sakura juga tidak ingin mengungikitnya. Yang ingin dilakukannya sekarang adalah tetap berada di dekatnya, menjadi tempatnya bersandar. Sakura membutuhkannya, pikirnya.
"Sudah lebih baik?" Naruto bertanya pelan. Dirasakannya kepala Sakura bergerak di bahunya ketika gadis itu mengangguk.
"Ya, trims, Naruto." Sakura mengangkat kepalanya dari pundak Naruto, tersenyum lemah padanya. Kemudian ia berpaling, matanya menatap kosong ke arah jalan.
Sunyi lagi. Dari sudut matanya, Naruto mengawasi Sakura. Ia menghela napas perlahan, menciptakan gumpalan uap hangat di depan hidungnya sementara ia memikirkan apa yang terlah terjadi. Naruto sama sekali tidak menyangka masalah Sakura bisa serumit itu. Sama sekali bukan masalah sepele tentang kencan yang gagal seperti yang ia kira sebelumnya.
Kakashi Hatake… dengan ibu Sakura… rasanya sulit dipercaya…
"Naruto?" panggil Sakura tiba-tiba tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan, suaranya terdengar lirih.
"Ya?"
"Kalau tiba-tiba ayahmu ingin menikah lagi, kau bagaimana?"
Naruto menarik napas. Sejenak ia memikirkan jawabannya. "Yah, sejujurnya aku belum pernah benar-benar memikirkan soal itu," sahutnya sambil mengangkat bahu. "Kurasa aku akan sedikit terkejut, tapi… entahlah." Ia langsung teringat gosip yang pernah didengarnya soal Iruka dan Anko Mitarashi, salah satu gurunya di sekolah. Memikirkan dua orang yang sifatnya amat kontras itu bersama-sama malah membuatnya ingin tertawa. Naruto berdeham kecil untuk menyembunyikan kekehannya.
"Apakah kau akan memikirkan almarhum ibumu?"
"Tentu saja. Aku memikirkannya setiap hari." Senyum tipis mengembang di wajah Naruto tatkala ia mengenang kembali sosok wanita mungil penuh senyum yang amat dikasihinya itu.
"Maksudku, apa kau memikirkan bagaimana perasaannya kalau…" jeda sejenak. Sakura menoleh untuk menatap cowok di sebelahnya. "…kau mengerti, kan?"
Tentu saja Naruto memahami maksud pertanyaan itu, meskipun ia bingung mau menjawab bagaimana. Menghembuskan napas dengan keras, Naruto mengangkat sebelah tangannya, menggaruk bagian belakang kepalanya yang tak gatal. "Aku tidak tahu," sahutnya. "Haah… Sakura, pertanyaanmu benar-benar sulit. Mana kutahu bagaimana perasaan orang yang sudah meninggal."
"Begitu, ya?" Sakura berpaling lagi, menunduk. Wajahnya tampak sedih, entah mengapa ini membuat Naruto merasa bersalah.
"Maaf…"
Sakura mengabaikannya.
"Sudah mau pulang?" tanya Naruto ketika Sakura telah beranjak dari duduknya.
Sakura menggeleng lemah. Matanya terlihat merah dan bengkak. "Aku tidak ingin pulang. Temani aku jalan-jalan sebentar. Kau mau, kan?"
Naruto memberinya cengiran lebarnya yang khas. "Oke. Kau mau kemana akan kutemani!"
Mau tak mau Sakura membalas tersenyum. "Tapi sebelum itu, aku mau ke kamar kecil dulu," gadis itu menunjuk toilet umum tak jauh dari sana, "Aku tak mau orang-orang menatapku dengan muka seperti ini."
"Ide bagus," komentar Naruto sambil nyengir.
Setelah Sakura pergi, cengiran di wajah Naruto meluntur. Cowok itu benar-benar mengkhawatirkan keadaan sahabatnya dan merasa menyesal tidak bisa membantunya lebih banyak. Ini adalah masalah keluarga, ia tidak bisa sembarangan ikut campur. Tapi bagaimana kalau Sakura bertindak nekat karena itu?—Meneriaki guru mereka di depan seluruh sekolah tadi juga sudah termasuk tindakan nekat, bisa-bisa Sakura kena skorsing. Naruto tidak ingin Sakura melakukan sesuatu yang lebih gawat lagi.
'Aaargh… apa yang harus aku lakukan..??' rutuk Naruto menyesali diri sambil mengacak rambut pirangnya, membuatnya semakin berantakan.
Di tengah kebingungannya, Naruto lantas mengeluarkan ponselnya, berharap manusia satu itu bisa membantunya…
-
-
"Terimakasih. Silakan kembaliannya…"
"Hn."
Sasuke menerima beberapa koin dan uang kertas kembalian yang diangsurkan seorang gadis penjaga kasir. Saat itu ia baru saja membeli dua gelas karton kopi hangat yang masih mengepul dan beberapa makanan kecil untuknya dan Itachi di sebuah mini market tua dekat bengkel tempat mobil mereka diservis. Setelah memasukkan uangnya ke dalam dompet dan menjejalkannya ke saku belakang jeans-nya, Sasuke mengambil belanjaannya dari meja kasir dan bergegas pergi dari sana. Jelas risih dengan tatapan orang-orang di sana—terutama para gadis penjaga toko yang tak hentinya curi-curi pandang sambil berbisik dan saling senggol satu sama lain.
Ia bahkan bisa mendengar suara pekikan gadis-gadis itu setelah keluar dari toko,
"Kyaa! Cowok itu ganteng banget, ya…"
"Tapi kelihatannya bukan orang sini…"
"Kalau dia orang sini, aku rela deh ninggalin Si Masahiro!"
"Gila, kamu! Cowok itu kelihatannya lebih muda darimu, tahu!"
"Masa bodoh! Ha ha ha…"
Sasuke memutar bola matanya. Gadis-gadis itu benar-benar makhluk menakutkan. Lama-lama di sana, bisa-bisa ia diterkam.
"Lama sekali, sih," protes Itachi begitu Sasuke sampai di bengkel tempat kakaknya sedang menunggu mobil mereka selesai diservis.
"Salahkan penjaga tokonya," gerutu Sasuke sambil menyerahnya satu cangkir kopi dan bungkusan snack pada kakaknya. "Mereka berkali-kali menjatuhkan kopinya."
"Oh, ya? Bukannya kau yang sengaja berlama-lama tinggal di sana, ya?" Itachi memberinya tatapan menggoda. "Apa penjaganya cantik, eh, Sasuke?"
"Diamlah!" Sasuke memelototi Itachi yang mengekeh, lalu duduk di bangku ruang tunggu yang berisik itu sambil menyeruput kopinya. Tak lama kemudian seorang pekerja bengkel mendatangi mereka dan meminta Itachi ikut dengannya. Baru saja mereka melangkah keluar dari ruang tunggu, ponsel di saku Sasuke bergetar.
"Naruto… Ngapain dia telepon?" Sasuke menekan tombol jawab. "Ya, Naruto?"
"Oi, Sasuke-orang-paling-sengak-sedunia, apa kabar?" terdengar suara nyaring yang sudah sangat dikenalnya di seberang.
Sasuke menggerutu pelan, "Kalau kau menelepon hanya untuk menghinaku, lebih baik aku tutup teleponnya!"
Terdengar Naruto tertawa. "Haah… kau ini, masih juga gampang tersinggung, ya. Aku kan hanya bergurau. Bergurau, Sasuke… Masa tidak mengerti, sih?"
Sasuke mendengus pelan. "Oke. Jadi kau meneleponku hanya untuk bergurau? Maaf, aku tidak berminat," ujarnya dinging.
"Cih! Kau ini benar-benar membosankan, Sasuke!"
"Hn. Jadi sebenarnya kau mau ngomong apa?"
"I miss you…"
"Idiot!"
Naruto terkekeh lagi. Kalau saja Naruto ada di hadapannya saat itu, Sasuke pastilah sudah menyambit kepalanya dengan gemas. Di antara semua temannya—baik di Oto maupun Konoha—barangkali hanya Naruto saja yang berani bergurau dengannya seperti itu. Meskipun kerap mengesalkannya, Sasuke tidak bisa memungkiri bahwa sisi itulah dari Naruto yang disukainya, sikapnya yang tak pernah dibuat-buat.
"Iya, iya, maaf…" kata Naruto kemudian setelah kekehannya mereda. "Coba tebak, sekarang aku sedang berkencan dengan Sakura—"
Sasuke yang tengah menyeruput lagi kopinya langsung tersedak. Ia terbatuk-batuk, wajahnya memerah. "A—Apa?!"
"Aku sedang kencan dengan Sakura," ulang Naruto enteng.
Sasuke bersyukur Naruto tidak bisa melihat tampangnya saat itu, karena kalau tidak ia pasti sudah curiga melihat ekspresi gusar yang tiba-tiba muncul di wajah Sasuke tanpa bisa ditahan. Sasuke berdeham, berusaha membuat suaranya terdengar biasa, meskipun mendadak timbul keinginan liar untuk mencekik sahabatnya itu.
"Jadi kau sudah berhasil jadian dengan Sakura kalau begitu? Kau bilang kemarin dia keluar dengan… er… Neji?" Pahit sekali bagi Sasuke menyebut nama itu sekarang.
Ia mendengar Naruto mendesah berat. "Bukan kencan yang seperti itu," katanya muram. "Yah, tepatnya sih aku sedang menemaninya jalan-jalan saat ini. Kau tahu, Sakura kelihatan kacau sekali hari ini."
"Kacau kenapa?" sambar Sasuke langsung, punggungnya menegang. Dari nada bicara Naruto yang tiba-tiba berubah, Sasuke merasa ada yang tidak beres. "Apa Neji berbuat sesuatu yang tidak senonoh padanya?"
"Ck! Tidak senonoh apanya? Pikiranmu itu kotor sekali sih, Sasuke?" tukas Naruto. Sasuke nyaris bisa membayangkan ekspresi jijik di wajah sahabatnya itu dan ia langsung menyesal. "Tidak, kurasa bukan karena Neji." Jeda sejenak. "Di sekolah tadi, Sakura bertengkar hebat dengan Pak Hatake di hadapan anak-anak—kacau sekali deh pokoknya!—dan Sakura menangis… Astaga, Sasuke. Kalau saja kau melihatnya tadi, miris banget… Aku tak pernah melihat Sakura menangis seperti itu. Sepertinya ada masalah serius di keluarganya."
"Masalah serius…?" dahi Sasuke berkerut dan ia mulai mencemaskan Sakura.
"Yeah… Sakura tadi bertanya padaku, bagaimana kalau Pap tiba-tiba ingin menikah lagi? Yah, pertanyaan semacam itulah…" Naruto terdengar menghela napasnya. "Kau pasti mengerti apa yang kubicarakan, kan?"
"Hn."
"Aku benar-benar bingung harus berbuat apa. Berhubung ini masalah pribadi keluarganya, aku tidak bisa ngomong macam-macam. Bisa tambah kacau urusannya kalau aku salah bicara, kan?"
"Hn. Sepertinya yang paling baik adalah menemaninya," usul Sasuke, diam-diam menyesal tidak ada di sana saat ini. "Kau membadut saja di depannya seperti biasa supaya perhatiannya teralih."
"Kurang ajar kau!" Naruto tertawa kecil. "Tapi kupikir itu juga ide yang bagus sih. Tapi… seandainya kita bisa berkumpul, pasti akan lebih baik."
Kata-kata Naruto membuat Sasuke merasa semakin tidak nyaman. Ia juga ingin berada di sana saat ini juga. Ah, kalau saja mobil bego itu tidak pakai acara mogok segala… "Bagaimana dengan Sai? Memangnya dia tidak ada?"
"Sai sedang sibuk dengan persiapan festival sekolah. Ino juga…" kata Naruto muram. "Tapi mungkin nanti aku akan menghubunginya. Dia jelas mengkhawatirkan Sakura juga. Aah, Sasuke… Seandainya saja aku bisa melasomu dari sini dan menyeretmu kembali ke Konoha…"
"Kau pikir aku kuda bisa dilaso?"
Naruto mengabaikannya. "Sakura sangat membutuhkan kita sekarang ini, terutama kau…"
Sasuke merasa hatinya mencelos dan wajahnya memanas. "A-apa maksudmu?" suaranya terdengar gugup. Jangan-jangan Sakura…
"Yah, karena kau paling pandai membuatnya jengkel, Sasuke. Dan Sakura membutuhkan seseorang yang bisa dimaki-maki untuk mengalihkan perhatiannya. Kau tahu maksudku, kan?" kata Naruto dengan tawa tertahan.
Sasuke sama sekali tidak menanggapinya. Ia membuat cacatan virtual dalam otaknya untuk menendang Naruto sampai ke luar angkasa kalau ia bertemu dengan bocah itu nanti.
Naruto yang segera menyadari kebisuan Sasuke langsung berdeham, "Sori… Ya ampun, aku hanya bergurau, Sasuke. Bergurau… Kau ini…"
"Yeah. Ha ha ha… lucu sekali," tukas Sasuke sinis.
Tepat saat itu, Itachi tiba-tiba nongol dari arah pintu. "Sasuke, mereka sudah selesai. Kita bisa berangkat sekarang!"
"Naruto, aku harus pergi sekarang," kata Sasuke pada Naruto di seberang.
"Eh—pergi kemana? Kau ada di mana sih? Berisik banget?"
"Sampai ketemu," kata Sasuke tanpa mengindahkan pertanyaan Naruto. Dan sebelum Naruto sempat berkata apa-apa lagi, Sasuke memutuskan sambungan. Ia kemudian bergegas membantu Itachi memasukkan barang-barang mereka ke dalam mobil.
'Aku akan segera sampai di sana, teman-teman… Tunggu aku…'
-
-
Tuut.. tuut.. tuut…
Naruto memandang ponselnya dengan tatapan jengkel. 'Apa-apaan ini? Seenaknya saja memutuskan sambungan!' rutuknya dalam hati. 'Lagipula dia sedang di mana sih? Berisik banget… Biasanya kalau aku menelepon selalu sunyi senyap seperti di kuburan.'
"Naruto…"
Naruto menoleh dan melihat Sakura berjalan mendekat. Wajahnya sudah terlihat lebih segar, meski matanya masih terlihat sedikit sembab.
"Kita bisa pergi sekarang?" gadis itu bertanya.
"Tentu," Naruto memasukkan kembali ponselnya dan beranjak. "Sakura?"
"Hm?" Sakura mengangkat alisnya.
Naruto tersenyum lembut padanya. "Sebentar…" cowok itu mendekat seraya melepas syal yang dikenakannya, lalu melilitkannya di leher Sakura yang terbuka. "Supaya lebih hangat," ujarnya.
Sakura membalas senyumnya. "Thanks."
"Kau ingin kemana?" tanya Naruto sementara mereka berjalan meninggalkan taman kecil itu.
"Hmm…" Sakura meletakkan jari di bawah dagunya, tampak berpikir. "Bagaimana kalau ke KCS saja? Aku ingin ke karaoke!"
"Baiklah! Kita akan nyanyi sepuasnya di sana! Let's go!" seru Naruto penuh semangat.
Keduanya lalu naik bus di halte terdekat menuju Konoha City Square, tempat nongkrong anak muda paling populer di seantero Konoha, dan langsung menuju tempat karaoke begitu mereka sampai. Sakura bernyanyi gila-gilaan sementara Naruto lebih banyak menontonnya sambil minum soda, terkadang Sakura menyeretnya berdiri dan mengajaknya duet. Naruto mengikutinya saja dengan pasrah.
Meski Sakura banyak tertawa saat itu, tetap saja Naruto mencemaskannya. Keceriaannya terlihat tidak wajar, seperti dibuat-buat. Ia tertawa terlalu keras, bicara terlalu banyak dan tersenyum terlalu lebar, seakan ingin menyembunyikan keadaan hatinya yang sebenarnya sedang galau. Melihat ini, Naruto benar-benar merasa tidak berdaya.
Senja mulai turun di langit Konoha dan lampu-lampu sudah mulai dinyalakan ketika Sai datang, masih membawa tas sekolahnya. Naruto memang menghubunginya dan Sai langsung menyusul mereka begitu rapat selesai—rapatnya benar-benar makan waktu lama. Shino yang merupakan ketua koordinator pubdok benar-benar gila rapat rupanya—Sakura menyambutnya kelewat antusias.
Mereka lalu meninggalkan tempat karaoke itu untuk berkeliling melihat-lihat toko sampai Sakura merasa bosan, kemudian Sai dengan baik hati menawarkan diri untuk mentraktirnya dan Naruto makan di restoran yang cukup wah untuk ukuran anak sekolah seperti mereka—yang tentunya bukan masalah bagi Sai mengingat isi dompetnya yang jauh lebih tebal dibandingkan remaja seusianya. Pokoknya apa saja dilakukan kedua cowok itu untuk membuat Sakura melupakan masalahnya sejenak.
Bahkan Sai dengan suka rela mengesampingkan perasaannya sendiri dan tidak kabur ketika mereka bertemu anak-anak danus yang sedang menggalang dana dengan cara mengamen di dekat patung simbol Konoha. Ino sebagai ketua koordinator danus tentu saja juga ada di sana. Mereka bernyanyi secara koor heboh sementara seorang cowok, yang juga personil band Alpha, mengiringi dengan gitarnya bersama Ino. Beberapa orang yang kebetulan melintas berhenti untuk sekedar menonton dan kalau mereka cukup baik hati, melemparkan uang pecahan kecil ke kotak kardus bertuliskan 'Danus Festival Sekolah KHS' yang diletakkan di depan anak-anak itu.
Naruto memberi isyarat pada Ino supaya tidak menanya-nanyai Sakura soal kejadian di sekolah ketika gadis pirang itu menunjukkan tanda-tanda akan mencecarnya soal itu. Ino mengangguk mengerti dan sebagai gantinya, Ino mengajak Sakura mengobrol tentang kencan-nya dengan Neji malam sebelumnya. Sepertinya itu cukup efektif juga… Sampai…
"ASTAGA, INO!!" pekik Sakura tiba-tiba. Mata hijaunya membulat lebar.
"Ada apa?" tanya Ino kaget.
"AKU LUPA KALAU HARI INI ADA LATIHAN DRAMA!! AAAH~ BAGAIMANA INI? TENTEN BISA MEMBUNUHKU!!"
Ino hanya tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tenten tidak akan membunuh aktris andalannya, Sakura. Dia pasti mengerti—ah, pokoknya jangan terlalu dipikirkan, oke? Bersenang-senang sajalah sekarang! Iya, kan, Sai?" gadis itu melirik cowok berambut eboni yang berdiri tak jauh dari mereka.
"Eh—ya, t-tentu saja…" Sai menjawab, agak grogi.
Ino memberinya senyum manis, tapi Sai keburu berpaling untuk mengobrol dengan Naruto.
Naruto dan Sakura berpisah dengan Sai, Ino dan yang lain beberapa waktu kemudian. Naruto mengantar Sakura naik bus menuju Blossoms Street sementara Sai memilih naik taksi untuk pulang ke Root Hills. Sedangkan Ino dan beberapa teman yang rumahnya dekat dari sana pulang dengan berjalan kaki.
"Kau senang?" tanya Naruto ketika keduanya sudah duduk di dalam bus.
"Hmm… Lumayan," sahut Sakura, tersenyum. "Seharusnya kau tidak perlu mengantarku, Naruto."
Cowok berambut pirang itu nyengir lebar. "Tidak apa. Aku yang ingin, kok. Lagipula kau dengar Ino tadi, kan? Dia bilang akan membunuhku kalau aku tidak menjagamu."
"Hei! Aku bukan anak kecil yang harus dijaga-jaga!" Sakura memprotes.
Naruto terkekeh. "Aku tahu. Kau bukan anak kecil," jeda sejenak. Ekspresinya melembut sementara ia menatap gadis di sebelahnya, "Tapi kau adalah sahabatku yang aku sayangi, dan aku ingin menjaganya," tandasnya.
Kata-kata Naruto membuat Sakura terharu. Hatinya menghangat. Digenggamnya sekilas tangan Naruto yang tergeletak di atas lututnya. "Thanks…"
Naruto mengangguk dengan senyum lebar terlukis di bibirnya, kemudian ia mengacak lembut rambut Sakura, membuat gadis itu tertawa kecil.
Mereka berpisah saat bus berhenti di halte dekat Blossoms Street tak lama kemudian. Sakura turun lebih dulu sementara Naruto masih terus sampai halte selanjutnya untuk naik bus lain yang putar balik menuju kawasan Fox.
Semakin larut, udara semakin dingin dan angin bertiup semakin kencang. Sepertinya salju akan turun lagi malam ini. Sakura merapatkan mantel dan syalnya untuk menahan udara dingin sementara ia melangkah perlahan menyusuri trotoar yang diterangi lampu jalan yang temaram, juga dari lampu-lampu yang berasal dari rumah-rumah dengan halaman yang asri di kanan kiri jalan. Tumpukan salju sisa semalam masih teronggok di sudut-sudut jalan.
Bibirnya menyenandungkan lagu yang tadi dinyanyikannya bersama Naruto di tempat karaoke tadi. Namun irama riang itu mendadak terhenti begitu ia sampai di belokan menuju rumahnya, begitu juga dengan langkahnya. Tubuhnya seakan membeku tatkala ia melihat sebuah sedan keluaran lama berwarna silver terparkir di depan rumah. Suasana hatinya yang mulai membaik kembali gundah.
-
-
TBC…
-
-
Maaf kalau mengecewakan… Mohon masukkannya… -bowed-
Ingin memasukkan sedikit catatan di sini, yang tentang ada murid yang naksir berat Kakashi pas dia masih jadi guru baru itu sebenernya aku ambil dari cerita turun-temurun di SMA-ku. Dulu, waktu masih belum nikah, salah satu guru Biologi-ku yang emang cakep banget --Kyaa!! Kenapa hampir semua guru Biologi di SMA-ku ganteng-ganteng, sih?--, namanya Pak Aji (ampun, Paaak~) pernah ditaksir muridnya. Cewek itu setiap pelajarannya si Bapak selalu masang taplak meja dan naroh vas bunga di meja guru dan diambil lagi pas ganti pelajaran (intinya cuma buat si Bapak doang), dan dia patah hati waktu Pak Aji nikah, tapi gak sampe pindah sekolah lah... Hihihi...
Tapi emang si Bapak Biologi ini ganteng abis sih. Udah nikah juga tetep ganteng. Udah mana baik, alim, ngajarnya enakeun. Aku aja naksir... -digeplak- ...sama anaknya yang masih kici. Cakep juga kaya Bapaknya -cubit-cubit anaknya Pak Aji- Jadi inget waktu anaknya (aku lupa namanya) tiba-tiba nongol di kelas dan manggil, "Ayaaaaah~~~" Mukyaaa~~~ Langsung pada melting anak-anak cewek sekelas!
Hihi... udah ah, intermezonya... ^^
