Chapter 63

Azami berjalan mondar-mandir di ruang duduk. Berkali-kali ia melongokkan kepala ke jendela yang mengarah ke jalan dengan sikap gelisah, seakan sedang menunggu sesuatu atau seseorang yang rupanya tak kunjung datang. Sementara itu, Kakashi yang duduk di sofa berusaha bersikap setenang mungkin, meskipun sebenarnya hatinya tak kalah risaunya dengan sang kakak ipar.

"Azami, tenanglah…" Kakashi mencoba membujuk Azami.

"Bagaimana aku bisa tenang?! Anakku belum pulang!" pekik Azami dengan nada cemas. Wanita berambut kemerahan itu mulai menggerigiti ujung ibu jarinya dengan sikap gelisah.

"Ini masih sore," kata Kakashi lagi, mencoba berpikir rasional. "Bukankah katamu Sakura biasa pulang setelah pukul tujuh? Lagipula Sakura pergi bersama Naruto, seharusnya kita tidak perlu cemas."

Azami tidak menjawabnya. Ia tahu Kakashi benar, tetapi ia terlalu mencemaskan putrinya saat ini.

"Kakashi benar," kata seorang wanita berambut cokelat keunguan sebahu yang baru saja memasuki ruangan dari arah dapur sambil membawa dua buah mug berisi teh herbal yang masih mengepul di kedua tangannya. Ia mengangsurkan satu mug pada Kakashi—"Trims, Rin,"—dan meletakkan mug satunya di atas meja, lalu menghampiri Azami. "Tidak usah terlalu cemas, Sakura pasti akan pulang. Tunggulah sebentar lagi, Azami."

"Tapi… tapi bagaimana kalau Sakura melakukan sesuatu yang nekat?" kata Azami dengan suara bergetar, matanya mulai berkaca-kaca. "B-bagaimana… bagaimana kalau anakku—anakku satu-satunya—mencoba bunuh diri?"

Kakashi terkesiap, mata kelabunya membelalak menatap kakak iparnya. "Azami! Jangan bicara seperti itu! Sakura tidak akan melakukan hal bodoh seperti yang kau katakan. Aku mengenal anak itu, dia tidak akan begitu!" katanya dengan nada meninggi.

Tapi Azami seperti tidak mendengarkannya, ia mulai menangis. Di sebelahnya, Rin melempar pandang menegur pada Kakashi sebelum merengkuh bahu Azami yang gemetaran, mencoba menenangkannya. "Kau terlalu tegang, Azami, sehingga berpikir yang tidak-tidak seperti itu. Semuanya akan baik-baik saja, oke?"

Azami masih menangis saat Rin mendesaknya agar duduk di sebelah Kakashi, kemudian ia sendiri duduk di sisi lainnya, masih membelai-belai lengan Azami dengan lembut.

"Ini semua salahku," bisik wanita pemilik mata hijau zamrud yang identik dengan mata putrinya itu di antara isak tangisnya, "Seharusnya aku lebih terbuka padanya sejak awal…" Ia menarik napas, menghapus air matanya dengan jari. "Kalau saja aku mendengarkan kalian…"

"Sshh… sudahlah…"

Azami menoleh pada Kakashi yang duduk di sebelahnya, meletakkan tangannya di atas lengan pria itu, menatapnya dengan matanya yang merah dan bengkak karena air mata, "Aku benar-benar minta maaf padamu, Kakashi. Kalau bukan karena kebodohanku, kau tidak akan terlibat dalam kekacauan ini. Sakura jadi berpikir yang tidak benar tentangmu. Maafkan aku…"

"Tidak apa," Kakashi melempar senyum tipis menenangkan pada kakak iparnya sambil menggenggam tangan Azami yang diletakkan di lengannya. "Yang penting sekarang adalah kita harus segera meluruskan kesalahpahaman ini dengan kepala dingin." Ia lantas menawarkan teh herbalnya yang masih utuh pada Azami, meletakkan mug hangat itu di antara kedua tangannya yang dingin, berharap rasa hangatnya bisa menenangkan saraf-sarafnya yang tegang.

Setelah Azami terlihat lebih tenang, Kakashi berpaling pada Rin. "Rin, bukankah seharusnya kau dinas malam ini? Kau tidak ke rumah sakit?"

Rin mengerling arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, lalu melempar senyum pada Kakashi. "Tidak apa, masih dua jam lagi. Aku ingin di sini menemani kalian."

"Maaf merepotkanmu," kata Kakashi tidak enak hati. Rin hanya membalasnya dengan senyum kecil.

Sementara itu, di luar, salju mulai turun.

-

-

"Aku pulang!!" Naruto berseru sesampainya ia di Fox Street No. 10. Ia melempar sepatunya ke rak dan bergegas masuk sambil mengibas-ibaskan serpihan salju yang menempel di bagian bahu jaketnya seperti ketombe.

"Pulang telat lagi?" tegur Iruka saat Naruto melewati dapur. Ayah angkatnya itu tampak sedang memanaskan sesuatu di atas kompor.

Naruto nyengir. "Sori, Pap. Tadi ada sedikit masalah," katanya sambil berlalu ke kamarnya.

"Aku buat sup ayam, nanti kau makan, ya!" Naruto bisa mendengar ayahnya itu berseru dari arah dapur sementara ia menanggalkan jaketnya di kamar, kemudian melemparnya ke keranjang pakaian kotor.

"Iya, Pap!" sahutnya.

Naruto mengintip ke arah jendela. Salju yang turun kali ini lebih lebat dari hari sebelumnya dan kemungkinan besok pagi seluruh permukaan tanah akan dilapisi es. Ini bakal asyik, pikirnya riang. Kalau salju sudah tebal, ia bisa mengajak teman-temannya main seluncur es di bukit dekat White Hills. Tempat itu adalah tempat paling asyik di Konoha untuk main seluncur, dengan pemandangan bagus dan tanjakan-tanjakan yang menantang untuk diseluncuri. Dan yang paling penting; gratis.

Sepuluh menit kemudian, Naruto keluar dari kamarnya dalam keadaan segar dengan rambut lemas setelah diguyur air hangat dari pancuran. Saat cuaca dingin seperti ini, memang paling nyaman mandi air panas—sayang sekai di rumahnya tidak punya bathtub untuk berendam—lalu makan sesuatu yang hangat-hangat seperti sup ayam buatan ayahnya yang lezat. Yah, memang sebelumnya ia sudah makan, tetapi selalu ada tempat di perutnya untuk makanan resep dari mendiang ibu angkatnya.

"Bagaimana sekolahmu?" tanya Iruka ketika Naruto bergabung dengannya di ruang tengah. Pria berambut cokelat gelap itu tengah memeriksa buku ulangan murid-murid sekolah dasarnya di meja depan televisi sambil menyesap teh hijau.

Naruto menghenyakkan diri di sofa sebelah ayahnya. Sebelah tangannya yang bebas mangkuk-sup-ayam meraih remote televisi, lalu menekan tombolnya. Layar di depannya langsung menayangkan berita tentang badai salju di Ame. "Oke juga," sahut Naruto sambil mengganti chanel, "Yeah, tapi tidak termasuk saat Pak Hatake memarahiku habis-habisan di kelas Aljabar," tambahnya sambil nyengir.

Iruka mengangkat alisnya. "Kenapa? Kau bikin masalah lagi?"

Naruto menatap ayahnya dengan bibir dikerucutkan, pura-pura sebal. "Memangnya anakmu ini kelihatan seperti tukang bikin masalah, ya?"

Iruka hanya tertawa ringan, lalu melanjutkan memeriksa buku kesekian.

"Tidak lah, Pap. Pak Hatake lagi PMS kali…" lanjut Naruto bergurau. "Aku cuma tidak bisa mengerjakan soal kok," imbuhnya. Ia lalu menyendok supnya banyak-banyak dan memasukkannya ke dalam mulut—detik berikutnya ia megap-megap kepanasan. Matanya berair. "Puanaaas…"

"Makannya pelan-pelan saja," tegur sang ayah dengan tampang geli.

"Heya…" ucap Naruto tidak jelas sambil menjulurkan lidah kemudian mengipasinya dengan tangan.

Agak lama sepasang ayah dan anak itu tenggelam dalam kegiatannya masing-masing. Di meja, tumpukan buku ulangan yang sedang diperiksa, semakin lama semakin menipis dan berpindah ke sisi lain meja. Sementara itu mangkuk sup ayam Naruto telah tandas tanpa sisa dan pemiliknya kini tampak bosan mengganti-ganti chanel; berita, acara masak, opera sabun… tidak ada yang menarik.

Naruto menghela napasnya panjang seraya menyandarkan punggungnya di punggung sofa yang nyaman. Sejenak, ia mengawasi ayahnya bekerja, terlihat serius memeriksa pekerjaan bocah-bocah sekolah dasar yang bandel itu, sebelum mata birunya terjatuh pada foto berpigura besar di lemari televisi. Foto yang menampilkan ayah angkatnya yang sedang merangkul hangat seorang wanita mungil berparas manis dengan rambut pirang seatas bahu dan sepasang bola mata biru jernih yang besar. Wanita itu sedang tersenyum, membuat lesung pipit di kedua pipinya terlihat jelas. Naruto yang masih balita duduk gembira di pangkuannya.

Itu adalah mendiang ibu angkatnya, wanita yang telah mengambilnya dari panti asuhan, merawat dan menyayanginya seperti anak kandungnya sendiri. Membuatnya bisa merasakan bagaimana rasanya mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu.

Mam… yang kini sudah beristirahat dengan tenang selamanya di tempatnya yang abadi di sisi Tuhan. Seperti halnya ayah Sakura…

Sudut-sudut bibir Naruto terangkat membentuk seulas senyum getir.

"Pap…"

"Hm?" Iruka tidak mengalihkan pandangannya dari buku terakhir yang sedang diperiksanya.

"Mam… sangat cantik, ya?" tanya Naruto.

Iruka berpaling dari pekerjaannya dan menoleh menatap putranya agak heran. "Ya…"

"Kau pasti sangat mencintainya, bukan, Pap?"

"Tentu saja," jawabnya sambil tersenyum lembut.

"Dan dia juga sangat mencintaimu, kan? Kelihatan dari matanya," ujar Naruto lembut, tersenyum memandang wajah cerah ibunya dalam foto, juga matanya yang berbinar.

Iruka mengeluarkan tawa kecil. "Kalau dia tidak mencintaiku, dia tidak akan menerima saat aku melamarnya, Naruto."

"Benar juga…" Naruto terkekeh.

"Ada apa tiba-tiba bertanya tentang ibumu, hm?" tanya Iruka penasaran. Mata gelapnya menatap Naruto penuh selidik.

Naruto menghembuskan napas panjang, mata birunya menerawang. "Aku hanya sedang kangen pada Mam."

Seulas senyum lembut membayang di wajah ramah Iruka. "Kita berdua merindukannya, Nak," ujarnya seraya mengulurkan tangannya, menepuk lengan Naruto yang membalas tersenyum dan mengangguk.

"Pap, apa kau pernah memikirkan untuk mencari pengganti Mam?" tanya Naruto tiba-tiba setelah beberapa lama. Iruka yang akhirnya menyelesaikan buku terakhirnya, meletakkan pekerjaannya di tumpukan paling atas, sebelum kemudian menatap Naruto dengan kedua alis terangkat tinggi. "Maksudku… kau tahu kan—menikah lagi?" lanjut Naruto memandang ayah angkatnya ragu-ragu. Mendadak ia menyesal menanyakan hal itu karena barangkali itu adalah topik sensitif bagi ayahnya, namun betapa leganya ketika ia melihat Iruka menanggapinya dengan tawa ringan.

"Kenapa?" Iruka malah balik bertanya. "Kau ingin punya ibu baru?"

Naruto nyengir lebar dan menggaruk belakang kepalanya. "Ya, tidak juga sih. Aku hanya penasaran. Apa Pap tidak kesepian? Maksudku, sudah hampir delapan tahun, kan?"

"Bagaimana aku bisa kesepian kalau ada kau yang selalu berisik, Naruto, hm?" Iruka tertawa kecil sementara putranya hanya meringis saja. "Sebenarnya aku belum pernah kepikiran ke arah sana—mencari pengganti ibumu…" ujarnya kemudian seraya menatap lembut pada foto mendiang istrinya yang sedang tersenyum. "Lagipula, apa kau tidak keberatan kalau tempat ibumu digantikan orang lain?"

Naruto tertegun. Membayangkan posisi ibundanya tercinta digantikan sosok wanita lain, ia belum pernah benar-benar memikirkannya. Selama ini ia sudah terbiasa hidup berdua saja dengan ayahnya, dengan membayangkan ibunya ada di sana bersama mereka. Tidak kelihatan, tetapi selalu mengawasi mereka. Tapi bagaimana jika tiba-tiba ada sosok wanita lain yang hadir di sana? Tidak hanya fisiknya, tetapi juga di hati ayahnya?—Apakah ia rela?

Barangkali seperti inilah yang dirasakan Sakura… pikir Naruto.

Tapi…

Naruto memandang Iruka yang sedang merapikan tumpukan buku di atas meja dari sudut matanya. Ia tidak pernah melihat ayahnya itu benar-benar bahagia semenjak ibunya meninggal. Iruka banyak tersenyum, memang, tapi tidak sama seperti saat istrinya masih ada bersama-sama mereka. Seperti ada yang hilang—dan Naruto benar-benar merindukan senyum ayahnya yang dulu.

Kalau kehadiran wanita lain memang bisa membawakan kebahagiaan sejati untuk orang yang dikasihinya itu, mengapa ia harus keberatan?

"Aku mau simpan ini di kamar dulu. Kau cuci piringnya, ya," kata Iruka sambil beranjak, membawa tumpukan buku tugas murid-muridnya yang sudah selesai diperiksa ke kamarnya.

"Pap!" seru Naruto tanpa berpikir sebelum Iruka mencapai tangga. Ayahnya itu menoleh dengan alis terangkat. "Aku tidak keberatan kalau Pap benar-benar mengencani Ibu Mitarashi—seperti kata orang-orang! He he…"

"Ha?" Iruka mengerjap kaget, seolah tidak mempercayai apa yang baru saja didengarnya.

Naruto nyengir lebar, kemudian buru-buru kabur ke dapur. Mengikik sendiri.

-

-

Malam sudah semakin larut, namun Sakura belum juga tiba di rumah. Ini benar-benar membuat Azami dan dua orang lain yang sedang menunggunya cemas, terlebih hujan salju di luar semakin deras dan tidak menunjukkan akan segera berhenti dalam waktu dekat. Mereka sudah berkali-kali mencoba menghubungi ponsel gadis itu, tapi tidak aktif. Menelepon pada beberapa teman Sakura yang mereka tahu dan bertanya apakah Sakura ada bersama mereka, tapi hasilnya nihil.

"Kau yakin Sakura tidak sedang bersamamu, Ino?" Azami menahan suaranya agar tidak terdengar bergetar seperti gagang telepon yang sedang digenggamnya.

"Tidak, Bi. Tapi kami memang ketemu di KCS, tapi kami berpisah. Kukira dia sudah pulang dengan Naruto…" suara Ino menjawab dari seberang. Lagi-lagi Azami harus menelan kekecewaan. "Memangnya Sakura belum sampai di rumah ya, Bi?"

Tidak ingin membuat sahabat putrinya itu cemas, Azami memilih tidak menjawabnya dan memutuskan sambungan.

'Sakura… di mana kamu, Nak…??'

Air mata bergulir dari sudut mata hijau yang kini seperti telah kehilangan cahayanya itu. Azami buru-buru menghapusnya, tidak ada waktu untuk menangis sekarang. Yang terpenting adalah menemukan Sakura. Ia kemudian berpaling pada Kakashi dan Rin yang sedang mencari nomor telepon Naruto di buku kuning—Sakura belum memasukkan nomor teleponnya di phonebook rumah.

"Sudah ketemu?"

"Umino… Umino… Umino…" Rin bergumam sementara jemarinya menelusuri jajaran nama Umino di halaman buku kuning supertebal yang tergeletak di pangkuannya. "Ada banyak nama Umino di sini… Umino, Gurio… Hm… Siapa nama depannya, Kakashi?"

"Iruka," sahut Kakashi. "Yang ini, Iruka Umino. Mudah-mudahan benar yang ini. Biar aku yang menelepon, Azami…"

Ia lantas mengambil gagang telepon yang diulurkan kakak iparnya dan mulai menekan-nekan nomor telepon kediamana Iruka Umino. Terdengar nada tunggu beberapa kali sebelum akhirnya seseorang mengangkat.

"Halo? Selamat malam."

"Malam, benar kediaman Iruka Umino?" tanya Kakashi segera.

"Ya, betul. Saya sendiri," sahut suara ramah pria di seberang.

Kakashi mengangguk pada Azami dan Rin yang kemudian menghela napas lega. Mereka menunggu.

"Ah, syukurlah. Apa saya bisa bicara dengan Naruto Uzumaki? Ini Kakashi Hatake, gurunya di sekolah."

"Ah, Pak Hatake," kata Iruka dengan nada ringan. "Naruto, ya? Tunggu sebentar…"

-

-

"Naruto?"

Naruto yang tengah membilas piring terakhir yang dicucinya menoleh dan mendapati Iruka berdiri di ambang pintu dapur, memegang gagang telepon.

"Pak Hatake ingin bicara denganmu," beritahu Iruka sambil mengangkat gagang teleponnya.

"Eh?" Naruto terheran, karena baru kali ini gurunya itu meneleponnya ke rumah. Entah apa yang diinginkan Kakashi sampai meneleponnya malam-malam begini, barangkali ingin melanjutkan omelan yang tadi pagi, pikir Naruto seraya menaruh piring di atas rak dan mengeringkan tangannya dengan lap bersih.

"Thanks, Pap," ucapnya setelah menerima gagang telepon dari ayahnya. "Halo, er… Pak Hatake?" sapa Naruto ragu.

"Naruto," suara gurunya terdengar agak aneh, seperti sedang buru-buru—atau gelisah? Entahlah. "Apa Sakura ada bersamamu?"

Dahi Naruto berkerut. "Tidak. Memangnya kenapa, Pak?" Ia mulai khawatir.

Di seberang, Kakashi tidak langsung menjawab dan ketika ia berbicara, suaranya terdengar agak muram, "Sakura belum pulang sampai sekarang."

"Apa?!" dengking Naruto terkejut. Mata birunya melebar.

"Ada apa, Naruto?" tanya Iruka dengan pandangan heran karena tiba-tiba Naruto berteriak.

Naruto mengabaikan pertanyaan ayahnya. Jantungnya mulai berdegup tak karuan, dikuasai perasaan cemas. "T-Tapi tadi saya sudah mengantarnya sampai Blossoms Street!" kata Naruto lebih untuk meyakinkan dirinya sendiri kalau ia memang benar-benar telah mengantar Sakura sampai ke rumah—tidak, tidak sampai ke rumah. Hati Naruto mencelos ketika menyadari itu. Sakura pernah bilang padanya kalau ia tidak ingin pulang. Apa dia… minggat?

"Begitu, ya?"

"Saya benar-benar sudah mengantarnya tadi sekitar pukul tujuh..." ulang Naruto gusar. "Tidak mungkin dia belum sampai di rumah."

"Sejak pukul tujuh?"

"Ya!" Naruto nyaris memekik saking cemasnya. Sekarang sudah hampir pukul sembilan malam.

Terdengar suara orang-orang berbicara tidak jelas di seberang—dan sepertinya ada yang menangis. Ibu Sakura, barangkali.

"Ya sudah, Naruto. Terimakasih—"

"Tunggu dulu, Pak Hatake!" sela Naruto cepat. "Saya akan mencarinya."

"Ah, tidak perlu begitu, Naruto," kata Kakashi, terdengar agak kaget. "Biar kami saja. Lagipula sekarang sedang turun salju dan kau harus sekolah besok."

"Tidak, tidak…" sahut Naruto segera. "Saya yang mengantarnya tadi. Kalau ada apa-apa dengan Sakura, ini tanggung jawab saya!"

"Tidak perlu begitu, Naruto. Kau tenang saja, biar kami yang mencarinya."

"Tidak. Saya juga mau bantu cari," tegasnya. Ia langsung memutuskan sambungan. "Pap, aku pinjam mobil!" serunya sambil melesat meninggalkan dapur.

"Kau mau kemana?" tanya Iruka seraya bergegas menyusulnya.

Naruto tidak langsung menjawabnya. Ia mengambil kunci mobil yang disimpan ayahnya di lemari televisi, kemudian melesat untuk mengambil mantel di gantungan di dekat pintu. "Sakura belum pulang ke rumahnya," beritahunya sembari memakai mantel panjangnya. "Aku mau mencarinya."

"Tapi sekarang—"

"Pap! Aku mau mencari temanku!" ulang Naruto bersikeras sambil menatap ayahnya dengan jengkel. "Mungkin dia dalam bahaya di luar sana."

Iruka menghela napas keras, mengalah. Kalau sudah begini, tidak mungkin membujuk putranya yang keras kepala itu. Ia mengambil mantel dan kunci mobil dari tangan Naruto. "Baiklah. Aku akan menemanimu mencarinya. Berbahaya menyetir di tengah hujan salju begini."

-

-

"Aku benar-benar minta maaf tidak bisa membantu kalian mencari Sakura," ujar Rin seraya melempar tatapan menyesal sekaligus khawatir pada Azami yang terlihat pucat seperti kurang sehat. Saat itu mereka sudah berada di depan rumah setelah memutuskan untuk mencari Sakura. "Aku harus ke rumah sakit sekarang."

Kakashi yang sedang membukakan pintu mobil untuk Azami mengangkat wajahnya. "Biar kami mengantarmu dulu," tawarnya.

"Tidak, tidak perlu," tolak Rin sambil tersenyum. Ia menyelipkan anak rambut di belakang telinganya. "Aku bisa naik taksi. Sakura lebih membutuhkan kalian."

Tepat saat itu, sebuah taksi kosong melaju lambat melewati mereka. Rin segera mengulurkan tangannya dan taksi itu menepi.

"Telepon aku kalau kalian sudah menemukan Sakura," bisik Rin pada Kakashi sebelum memberinya kecupan singkat di pipi, kemudian berpaling untuk memeluk Azami.

"Terimakasih banyak, Rin," ucap Azami padanya.

Wanita yang juga dokter muda di Rumah Sakit Pusat Konoha itu membalasnya dengan senyum tipis dan anggukan. "Jangan terlalu memaksakan dirimu," katanya, membelai lengan Azami lembut sebelum akhirnya masuk ke dalam taksi. Sedan bercat kuning cerah itu meluncur perlahan meninggalkan Blossoms Street.

Azami dan Kakashi menyusulnya kemudian. Sedang tua Kakashi bergerak perlahan sementara dua orang di dalamnya menajamkan mata melihat di sekeliling jalan yang mereka lewati. Jalanan malam itu sangat lengang, trotoar nyaris kosong dan hanya beberapa mobil saja yang tampak berlalu lalang. Orang-orang tentunya tidak mau beku kedinginan di cuaca buruk seperti ini dan memilih berada di dalam rumah mereka yang nyaman dan hangat.

Tetapi tidak begitu dengan Sakura. Entah berada di mana gadis itu sekarang. Azami sudah nyaris putus asa ketika mereka memutuskan turun di KCS yang sepi setelah mencari-cari di semua tempat yang mungkin di datangi Sakura; sekolah, taman di dekat rumah, tempat-tempat favorit gadis itu, bahkan mereka mencari ke Valley End—tempat yang menyimpan banyak kenangan antara Sakura dan ayahnya dan ke rumah Yamanaka. Tetapi Sakura tidak ada di mana pun.

"Mereka tadi kemari, kan?" kata Azami setengah mengisak saat mereka mencari-cari di segala penjuru tempat itu, tidak memedulikan salju dan udara dingin.

"Naruto bilang begitu," sahut Kakashi.

Mereka kemudian mulai memasuki toko-toko, restoran-restoran yang masih buka dan bertanya pada hampir setiap orang yang mereka temui di sana apakah mereka melihat seorang gadis berambut merah muda panjang memakai mantel kotak-kotak merah. Tetapi tak ada seorang pun yang melihatnya.

"Sakura… Kamu di mana, Sayang??" isak Azami, tak bisa lagi membendung air matanya.

Tidak tega melihat kakak iparnya seperti itu—dan ia sendiri juga sangat mencemaskan keponakannya—Kakashi menarik Azami ke dekatnya, memeluknya. "Kita akan cari lagi, pasti ketemu. Sakura tidak akan jauh, Azami," ujarnya, berusaha menutupi rasa putus asanya sendiri.

"Aku Ibu yang buruk, kan, Kakashi?" Azami berkata parau sementara Kakashi memeluknya. "Hiro pasti kecewa sekali padaku… Hiro… Hiro?" Wanita itu melepaskan diri dari Kakashi, ada sinar pengharapan saat ia melempar tatapan pada adik iparnya itu. "Kupikir aku tahu di mana Sakura!"

-

-

Angin bersalju berhembus kencang, membuat pintu gerbang besi tua itu terayun-ayun pada engselnya sehingga menimbulkan suara derit menyeramkan. Sinar remang-remang yang berasal dari lampu jalanan pun tidak banyak membantu, hanya menambah suasana mencekam di tempat itu. Sebuah tanah pemakaman dengan deretan pohon tua yang bergoyang mengerikan ditiup angin, juga patung-patung malaikat dan nisan-nisan yang mulai memutih tertutup salju. Tempat itu barangkali adalah pilihan terakhir untuk dikunjungi malam-malam, terlebih dalam cuaca yang buruk seperti ini.

Tapi tidak bagi seorang gadis berambut merah muda panjang yang kini tengan terduduk di depan sebuah nisan pualam di dekat patung malaikat. Mata hijaunya yang sembab menatap kosong pada nisan di depannya, sementara suara isakan sesekali keluar dari bibirnya yang nyaris beku. Salju tersangkut di rambutnya yang sedikit acak-acakan karena tertiup angin dan tubuhnya gemetaran—bahkan sweter tebal, mantel dan syal Naruto yang melingkar di lehernya tidak mampu menahan udara dingin saat itu. Tapi Sakura tidak peduli.

Cairan hangat itu kembali meluncur dari sudut matanya tatkala jemarinya yang pucat menyentuh nisan dingin itu, meraba dengan lembut nama yang terukir di atasnya.

Rest In Peace

Suami, ayah, kakak, sahabat kami tercinta,

Hiroyuki Haruno

"Ayah…" bisik Sakura serak, "Sakura kangen sama Ayah… Ayah kenapa meninggalkan Sakura secepat itu, Yah…?"

Sesosok tubuh bongkok terlihat keluar dari sebuah pondok kayu tak jauh dari tempatnya. Tubuhnya yang kurus terbungkus mantel tebal dan syal yang sudah usang, rambutnya yang sudah dihiasi uban di sana-sini tertutup topi woll sampai ke telinganya. Tangannya yang berbonggol menggenggam sebuah senter besar yang kemudian di arahkannya ke sana kemari.

Pria tua penjaga makam itu merutuk keras ketika mendapati pintu gerbang yang sedikit terbuka, rantainya terjatuh ke tanah yang nyaris ditutupi salju sepenuhnya. Sambil menggerutu tentang cuaca buruk, ia lantas mendekat untuk menutup pintu yang sejak tadi berderit-derit berisik. Setelah pintu itu akhirnya bergeming di tempatnya, tertahan oleh rantai dan gembok, ia berbalik. Gerakannya terhenti begitu sorot lampu senternya tak sengaja mengarah pada sosok gelap samar yang meringkuk tak jauh dari tempatnya berdiri.

Matanya yang sudah dihiasi kerut merut itu memicing supaya bisa melihat lebih jelas. Ia kemudian menggerutu keras begitu mengenali sosok anak perempuan yang dilihatnya datang satu jam—mungkin lebih—yang lalu. Ia merapatkan syalnya, lalu berjalan terbungkuk menghampiri sosok itu.

"Nak," tegurnya serak seraya menepuk pundak Sakura agak keras. "Kenapa masih di sini? Kau mau mati beku, eh?"

Sakura menoleh sedikit, tapi tidak benar-benar menatap penegurnya. "Biar saja mati beku," suara paraunya terdengar lemah di antara deru angin, "Lebih baik kalau aku ikut ayahku…"

Pria itu mengangkat alisnya mendengar jawaban yang terkesan putus harapan dari bibir gadis muda di depannya. Mau tidak mau ia merasa kasihan juga. "Menurutku ayahmu tidak akan berpikir seperti itu," dengusnya sinis. "Kecuali kalau dia sama menyedihkannya sepertimu."

"Ayahku tidak menyedihkan!" bentak Sakura berang. Mata hijaunya memelototi sang penjaga makam. "Dan aku juga tidak."

"Kalau begitu jangan bersikap konyol dan menyiksa diri sendiri di tempat ini, Nak. Pulanglah. Orang rumahmu pasti mencemaskanmu," ujar pria itu, nadanya melunak.

"Aku tidak mau pulang," gadis itu menyahut keras kepala. "Aku mau di sini."

Pria itu menggerung jengkel. Ia benci remaja dengan segala kekeraskepalaan mereka yang menjengkelkan. "Pulang!" gerutunya seraya menyambar kasar lengan Sakura, memaksa gadis itu berdiri.

"Tidak mau!!" Sakura berteriak sambil meronta-ronta, mencoba membebaskan diri dari cengkeraman penjaga makam keriputan itu, namun pria itu lebih kuat. Dengan mudah ia menyeret tubuh Sakura yang lebih kecil ke arah gerbang, sama sekali tidak memedulikan teriakan-teriakan marahnya yang mengalahkan deru angin.

"Remaja jaman sekarang memang menyusahkan saja!" geram si penjaga makam sambil berkutat membuka gembok dan rantai pintu dengan satu tangan sementara tangan yang lain masih memegangi lengan Sakura yang meronta-ronta. "Bersikap dramatis seolah mereka adalah orang paling sengsara di dunia. Kau harus berpikir rasional, Nak—kalau tidak mau mati konyol."

Sakura tidak mengindahkannya. Gadis itu masih menjerit-jerit dan memukul-mukul pria itu dengan tangannya yang gemetar kedinginan.

"Lagipula kalau kau mati di sini," kata pria itu setelah melepaskan Sakura di luar gerbang, balas memelototinya, "Polisi akan bertanya yang hal-hal yang mepotkan dan aku bisa susah. Sekarang pulang ke rumahmu!" Dan ia menutup pintu besi itu di depan hidung Sakura yang meraung marah, mengacuhkan makian-makian yang meluncur dari bibir gadis itu, lalu berjalan pergi seakan tidak mendengarkan apa-apa selain deru angin dan lolongan anjing di kejauhan.

Sakura berteriak frustasi dan menendang pintu gerbang dengan berang. Wajahnya yang semua pucat, kini telah merah padam dan berkilau oleh air mata yang sekali lagi membanjir. Melepaskan perasaannya yang kacau balau, Sakura pun menangis sejadi-jadinya, kemudian berlari pergi dari sana, tidak benar-benar memperhatikan kemana kakinya membawanya pergi. Pandangannya mengabur sementara angin bersalju yang membekukan menerpa wajahnya yang basah. Kepalanya mulai pusing dan tangan serta kakinya mulai mati rasa, tapi ia tidak peduli.

Ia terus saja berlari seperti orang kehilangan akal. Sepatu kedsnya memukul-mukul aspal yang dingin sementara ia menerobos jalanan. Beruntung saat itu jalanan sedang kosong. Tetapi keberuntungannya rupanya tidak bertahan terlalu lama, karena saat menyebrang jalan berikutnya—tidak melihat-lihat kanan kiri dulu, tentunya—tiba-tiba muncul sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi dari arah kanannya. Lampunya yang menyilaukan membuat gadis itu tersentak. Matanya membeliak ngeri.

Sakura menjerit sekuat tenaga.

-

-

"The sky has lost it's color
The sun has turned to grey
At least that's how it feels to me
Whenever you're away…"

Suara si kembar identik Evan dan Jaron mengalun pelan dari sound system mobil sementara Sasuke menambah kecepatan—saat itu gilirannya menyetir setelah kakaknya, yang sekarang duduk terkantuk-kantuk di kursi penumpang, menyetir setengah jalan.

Sudah hampir sampai, Sasuke membatin seraya mencengkeram roda kemudi lebih erat. Sudah hampir lima menit yang lalu semenjak mereka memasuki kawasan Konoha. Seharusnya Sasuke bisa lebih santai sekarang, tetapi entah mengapa ia malah gelisah tidak karuan. Perasaannya tidak enak sementara pikirannya terus-menerus melayang ke gadis berambut merah muda yang seharusnya sekarang sedang tidur nyenyak di rumahnya yang hangat dan aman.

Tapi perasaannya mengatakan lain, entah mengapa. Ia kemudian teringat pembicaraannya dengan Naruto di telepon tadi siang, yang benar-benar membuatnya cemas.

"…Sakura kelihatan kacau sekali hari ini…"

"…Aku tidak pernah melihatnya menangis seperti itu…"

"…Sepertinya ada masalah serius di keluarganya…"

Sakura…

"Pelan-pelan saja, Sasuke," tegur Itachi, dengan sukses membuyarkan lamunan adiknya. Mata onyx pria muda berambut gelap panjang itu beralih dari spidometer ke wajah Sasuke yang tegang, memandangnya heran. "Kenapa gelisah begitu, hm? Kau sakit?"

"Tidak," Sasuke menggerutu, kemudian menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan untuk menenangkan dirinya.

Itachi tersenyum. Barangkali Sasuke terlalu antusias sampai di Konoha sampai tegang begitu, pikirnya. "Santai saja, oke?" Ditepuknya bahu sang adik. "Dan jangan ngebut-ngebut. Jarak pandang kita terbatas di hujan salju begini, bisa bahaya…"

"Aku tahu, Kak," gumam Sasuke.

"I can't take the distance
I can't take the miles
I can't take the time until I next see you smile…"

Dan pikirannya kembali ke Sakura lagi.

Damn!

Sasuke berusaha kembali fokus ke jalan yang gelap di depannya. Lampu jalanan sama sekali tidak membantunya. Itachi benar, jarak pandangnya terbatas karena tersaput hujan salju yang lebat. Tapi Sasuke tidak mengurangi kecepatannya. Ia sangat ingin cepat sampai di rumah.

Kejadiannya begitu mendadak sampai-sampai membuat jantungnya seakan berhenti berdetak.

"SASUKE, AWAS!" ia mendengar kakaknya berteriak.

Sasuke juga melihatnya—dan ia juga berteriak ketika sosok gelap itu mendadak muncul di depan mereka tanpa peringatan. Sasuke segera menginjak pedal rem dalam-dalam, membanting setirnya ke kiri. Matanya terpejam rapat, terlalu ngeri untuk melihat apa yang terjadi. Ia hanya bisa mendengar suara decitan mengerikan ketika ban mobilnya bergesekan dengan aspal—juga samar-samar, suara orang menjerit penuh kengerian.

Jantungnya berdegup sangat kencang—seakan mau keluar dari rongga dadanya—ketika akhirnya mobil berhenti bergerak setelah bannya menyentuh bibir trotoar dan sedikit naik ke atasnya. Napasnya terengah-engah dan buku-buku jarinya memutih saking kencangnya mencengkeram roda kemudi. Sesaat yang terdengar hanyanya suara wiper yang terus bergerak di jendela depan. Butuh beberapa saat bagi Sasuke untuk menyadari apa yang terjadi.

"Kau tidak apa-apa, Sasuke?" suara Itachi menyadarkannya.

Sasuke mengerjapkan mata, menelan ludah, kemudian mengangguk. Di sampingnya, Itachi menghela napas lega.

"Apa kita baru saja menabrak orang?" Sasuke akhirnya menemukan suaranya kembali—meskipun terdengar sedikit gemetar.

"Aku tidak tahu," sahut Itachi, tampak cemas lagi. "Sebaiknya kita lihat."

Kedua Uchiha muda itu lantas turun dari mobil untuk melihat apakah mereka menabrak sosok tadi. Sasuke merasakan lututnya masih gemetaran saat kakinya menapak ke jalan. Itachi di sisi lain mobil bergegas mencari sosok itu.

Kemudian mereka melihatnya—sosok gelap itu—tepat di tengah jalan. Sosok itu meringkuk di sana, berjongkok dengan kedua tangan dalam posisi melindungi kepala. Setidaknya ia tidak terkapar di jalanan, bersimbah darah, seperti yang ditakutkan Sasuke sebelumnya.

"Kau baik-baik saja?" Sasuke bisa mendengar Itachi menanyai sosok itu.

Sasuke berjalan mendekati mereka. Hatinya mencelos begitu bisa melihat sosok itu lebih jelas; tangannya gemetaran di atas rambutnya yang… merah muda. Dadanya berdegup kian cepat.

"D-dia terluka?" tanya Sasuke dengan suara seperti tercekat.

Itachi mengangkat bahunya. Sosok itu sama sekali tidak merespon saat ia tanya, hanya gemetaran. Wajahnya masih tersembunyi di antara lututnya dan mereka bisa mendengarnya terisak pelan.

Sasuke kemudian memberanikan diri berlutut di depannya, mengulurkan tangan menepuk bahunya perlahan. "Hei, apa kau terluka?" ia bertanya. Saat sosok di depannya akhirnya mengangkat wajahnya, Sasuke benar-benar terkesiap. Sepasang mata hijau zamrud dari seraut wajah pucat yang belakangan ini memenuhi pikirannya balas menatapnya.

"Sakura?" Itachi lah yang terlebih dulu bersuara. Ia terlihat sama terkejutnya dengan adiknya.

Mata hijau Sakura otomatis beralih pada Itachi, memandangnya sejenak sebelum kembali menatap Sasuke. Gadis itu tampak mengenaskan. Wajah dan rambutnya berantakan, matanya merah dan bengkak dan bibirnya yang sedikit terbuka itu pucat seperti orang kekurangan darah. Napasnya tidak stabil, tubuhnya gemetar hebat. Dan ia seperti tidak mengenali orang di depannya—barangkali ia terlalu shock atau apa.

Sasuke tidak menyangka akan bertemu Sakura secepat ini—dan yang paling tidak ia harapkan, dalam kondisi seperti ini. Hatinya tiba-tiba saja terasa sesak.

Selembut yang bisa dilakukan tangannya yang tremor, Sasuke meraih kedua lengan Sakura, membimbingnya agar berdiri. Tapi Sakura hanya bisa berdiri beberapa detik saja, dan saat berikutnya gadis itu tiba-tiba jatuh pingsan. Kedua kakak beradik itu cepat-cepat mengulurkan tangan mereka untuk menangkap tubuh Sakura sebelum benar-benar terjatuh ke aspal.

"Kita harus segera membawanya ke rumah sakit," kata Itachi seraya memandang Sakura khawatir. "Dia menggigil hebat."

Sasuke mengangguk setuju sebelum kemudian mengambil alih sepenuhnya tubuh Sakura, membopongnya menuju mobil. Itachi bergegas membuka pintu belakang dan memindahkan boneka beruang raksasa mereka ke bangku depan.

"Kau duduk di belakang dengan Sakura. Biar aku yang menyetir," kata Itachi. Sasuke menurut saja, tetapi kata-kata sang kakak berikutnya membuatnya membeku, "Buka mantelnya, Sasuke, dan kau juga buka jaketmu. Pakai panas tubuhmu untuk menghangatinya."

"APA? Kau ingin aku—apa?"

"Kau mendengarku, Sasuke," kata Itachi tak sabar. "Jangan buang-buang waktu. Lakukan saja."

"T-Tapi—" Sasuke memandang Sakura yang tak sadarkan diri di gendongannya ragu-ragu.

"Astaga, Sasuke. Kau pernah dapat pelajaran kesehatan tidak, sih? Tidak pernah dengar tentang body heat—Atau kau mau aku saja yang melakukannya?"

"Baik, baik! Geez…" tukas Sasuke mulai jengkel.

Ia kemudian masuk ke bangku belakang, membawa Sakura bersamanya. Itachi menutupkan pintu di belakangnya. Dengan hati-hati Sasuke mulai membuka mantel Sakura—Sakura seperti setengah sadar saat itu—dan melepas jaketnya sendiri sebelum kemudian menarik tubuh gadis itu agar bersandar ke tubuhnya dan menyelimutkan mantelnya ke sekeliling bahunya yang gemetar. Sasuke melingkarkan lengannya ke sekeliling tubuh Sakura yang menggigil dengan protektif, memeluknya lebih rapat, berharap itu cukup untuk mentransfer panas tubuhnya. Kening Sakura yang menempel di pipinya terasa seperti es.

"Hnnh…" Sakura bergerak lemah, matanya sedikit membuka sebelum akhirnya menutup lagi.

"Kau bangun?" tanya Sasuke pelan.

Sakura menanggapinya dengan gumaman tidak jelas.

"Tetap sadar, jangan tidur. Kau mengerti?"

Lagi-lagi Sakura hanya menggerutu. Matanya tetap terpejam.

Sasuke mengambil tangannya—tangan itu juga sedingin es—lalu menempelkannya di pipinya yang satu lagi agar hangat.

Itachi yang melihat pemandangan itu dari kaca spion tidak bisa menahan dirinya lebih lama untuk tidak menyeringai. Ia tidak pernah melihat Sasuke selembut itu pada seorang gadis—yah, Hinata mungkin pengecualian. Tapi itu dulu sekali—Untung baginya, Sasuke tidak menyadarinya. Ia lalu menyalakan pemanas sampai maksimal sebelum menjalankan mobilnya menuju Rumah Sakit Konoha.

-

-

TBC…

-

-

Naruto © Kishimoto Masashi

The Distance © Evan & Jaron, a 'Serendipity' Soundtrack

-

-

Chapter ini lebih pendek dan gaje nian. Heu… Habisnya gatel kepingin nemuin Sasuke sama Sakura. Hehehe… Soal scene yang terakhir, mohon untuk gak berpikiran yang macem-macem. (Lagian ini rate T. hihihi…) Itachi nyuruh Sasuke kaya gitu supaya Sakura gak sampe shock karena hipotermia, dan transfer panas tubuh –katanya- adalah yang paling baik. Seperti yang dilakuin Laura ke Sam waktu Sam menggigil kedinginan setelah nyemplung di air sedingin es di film 'The Day After Tomorrow'. Hehehe…

Sakura di chapter ini nyebelin, yah? Mana bandel, nyusahin yang lain pisan. Heuheuheu… -sepak Sakura. Disepak balik-

Er… ada yang nyadar gak kalo mama angkatnya Naruto itu kaya FemNaru kecuali rambutnya yang pendek? Namanya juga Naru, Naru Aizawa namanya waktu masih gadis. Hehehe… Gak terlalu suka FemNaru sih, tapi aku suka nama Naru –soalnya suka sama Naru Osaka-nya Sailor Moon, adiknya, si Naruru Osaka juga kocak abis. Nama cowoknya Naru-chan di SM juga UMINO! Itu lho, cowok pake kacamata aneh yang kalo kacamatanya dilepas jadi ganteng banget. Tehee… -ehm, intermezzo-

Terus, di sini Azami n Kakashi nyari Sakura, Naruto sama Iruka juga… Terus kan Sakura udah dibawa sama Uchiha brother, gimana dengan mereka? Ada di chapter depan. ^__^ Gampang ditebak juga sih sebenernya. Ah, maafkan kalo ceritanya terlalu menyinetron, yah..

Buat yang udah review chapter kemarin, makasih banyak banget banget, yah… Maafkan kalo gak dibales satu-satu. –digiles- Tapi review kalian bener-bener jadi penyemangatku, lho! Yang baca aja juga, makasih…

Nyah~~ akhirnya Sasuke sampe juga di Konoha, bo~~~!!! ^_____^