Chapter 64

"Kau yakin Sakura kemari?" Kakashi menatap tidak yakin ketika ia membawa mobilnya menepi, kemudian berhenti di depan pintu gerbang taman pemakaman umum Konoha. Pintu gerbang besi hitam itu tertutup.

"Aku yakin sekali," kata Azami dengan suara serak. Mata hijaunya juga menatap ke pintu gerbang. "Firasatku mengatakan seperti itu, Kakashi. Sakura pasti menemui ayahnya."

"Tapi kelihatannya tidak ada siapa-siapa," kata Kakashi, menggeleng pelan.

Namun Azami tidak menghiraukannya. Wanita itu segera keluar dari mobil dan berlari mendekati pintu gerbang. Betapa kecewanya ia ketika mendapati pintu itu dikunci dengan rantai dan gembok besar. Meski begitu Azami tetap yakin putrinya ada di sana—setidaknya pernah ada di sana. Dengan putus asa ia menoleh ke sana kemari, mencoba melihat ke arah pemakaman itu, berharap bisa menemukan Sakura di sana. Tapi tempat itu kosong dan gelap.

"Sepertinya Sakura tidak di sini, Azami," ujar Kakashi yang kini sudah berdiri di samping kakak iparnya, ikut melongok ke dalam.

"Tidak—dia ada! Sakura pasti ada! Aku bisa merasakannya!" seru Azami keras kepala. Ia mulai mengguncang-guncang pintu besi yang dingin itu, mencoba membukanya. Tapi pintu itu bergeming di tempatnya. Tidak menyerah, Azami kemudian memukul-mukul besinya dan berteriak putus asa, "SAKURA! KAU ADA DI DALAM, NAK? JAWAB IBU! KAU ADA DI SINI, KAN?!"

"Azami, sudahlah," bujuk Kakashi seraya memegangi kedua lengan Azami yang seperti orang kalap, "Sebaiknya kita lapor polisi saja—"

Azami mengabaikannya. "SAKURA!! SAKURA!!"

"SIAPA ITU?!" tiba-tiba terdengar suara serak seseorang berteriak dari dalam pondok tak jauh dari gerbang utama. Teriakan itu praktis membuat Azami terdiam. Mata hijaunya membeliak ketika melihat sosok gelap keluar dari pondok sambil mengarahkan cahaya senter padanya.

Azami tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia kembali berteriak, "Tuan! Tuan! Apa Anda melihat putri saya? Putri saya datang kemari, kan?!"

Sang penjaga makam berjalan terbongkok mendekati gerbang, tampak tidak terlalu senang dengan gangguan yang datang kedua kalinya malam ini. Ia benar-benar ingin bisa beristirahat dengan tenang malam itu, demi Tuhan!

"Apa Anda sudah gila berteriak-teriak di tempat pemakaman malam-malam begini, Nyonya?!" bentaknya tanpa repot-repot menyembunyikan rasa terganggunya. Matanya yang gelap dan berkantung itu membeliak mengerikan.

"Maafkan kami, Tuan," Kakashi lah yang berbicara. Tangannya diletakkan di bahu kakak iparnya agar ia tenang. "Kami sedang mencari seseorang. Kami kira dia mungkin datang kemari. Dia remaja putri dengan rambut merah muda, memakai mantel merah kotak-kotak, tingginya kira-kira segini," Kakashi membuat isyarat tinggi badan sebawah bahunya. "Apa Anda melihatnya?"

Pria tua itu mengernyit, mengawasi kedua pengganggunya bergantian dengan pandangan menilai. Ia kemudian memandang Azami agak lama. Ia mendengus keras, "Kalau yang kalian maksud anak perempuan gila yang hobinya menangis dan berteriak-teriak, dia sudah pergi."

Kakashi tampak kaget, tapi Azami lebih cepat darinya.

"Kalau begitu dia tadi kemari!" teriaknya. "Tuan, Tuan, bisakah Anda memberitahu saya kemana anak perempuan itu pergi?"

"Mana saya tahu!" tukas pria itu kasar. "Dia lari ke sana setelah saya suruh pergi." Ia menunjuk ke arah Sakura tadi berlari.

Azami dan Kakashi turut menoleh ke arah yang ditunjuk sang penjaga makam. Ujung jalan itu gelap, nyaris tak terlihat apa pun di tengah badai salju seperti ini. Dan itu membuat kedua orang itu bertambah cemas.

"Apa dia pergi sudah lama?" Kakashi bertanya lagi.

"Belum lama," gerutu pria tua itu, "Kira-kira sepuluh menit yang lalu. Dan jangan tanya-tanya lagi, saya mau istirahat." Dan ia pun berbalik, terbongkok kembali ke pondoknya seraya menggerundel jengkel tentang kelakuan anak-anak jaman sekarang yang menyebalkan dan tak masuk akal. Kemudian membanting pintu pondok menutup di belakangnya.

Sementara itu, Azami manatap Kakashi dengan sorot mata penuh harap. "Dia pergi belum lama, Kakashi!" serunya. "Sakura pasti masih berada di sekitar sini. Ayo, kita harus cepat mencarinya!" Dan sebelum Kakashi sempat berkata-kata, wanita itu sudah menarik tangannya kembali ke mobil.

Mereka kemudian mulai menyusuri jalanan itu perlahan dengan mobil, dengan harap-harap cemas bisa segera menemukan Sakura yang barangkali—Azami sangat cemas memikirkan ini—sedang menangis seorang diri di suatu tempat dan kedinginan. Seraya terus mencari, Azami tak hentinya berdoa dalam hati semoga tidak ada hal buruk yang menimpa putri semata wayangnya itu.

Semoga…

Sementara itu di perempatan jalan, sebuah sedan hitam melesat melewati mereka menuju ke pusat kota.

-

-

Untunglah jalanan di Konoha saat itu sedang sangat lengang sehingga tidak perlu waktu terlalu lama sampai akhirnya kedua Uchiha itu tiba di Rumah Sakit Pusat Konoha. BMW hitam itu memasuki halaman rumah sakit yang luas langsung menuju jalur Emergency. Itachi memberhentikan mobilnya tepat di depan pintu masuk Emergency Unit.

"Aku akan parkirkan mobil dulu. Kau temani Sakura saja, nanti aku menyusulmu," kata Itachi pada adiknya.

Sasuke mengangguk. Tampa berlama-lama lagi, ia segera turun dari mobil dengan menggendong Sakura yang masih lemah. Kepala gadis itu terkulai ke bahunya. Sasuke masih bisa merasakan tubuh itu menggigil dalam gendongannya.

Seorang paramedis yang sedang berjaga segera menyambut mereka dengan sebuah brankar. Sasuke bergegas membaringkan gadis itu di atasnya, dan paramedis itu langsung membawanya untuk segera mendapat penanganan. Sasuke mengikuti mereka, masih tidak melepaskan genggamannya pada tangan dingin Sakura, sampai akhirnya mereka sampai di depan pintu ruang Emergency Unit.

Seorang wanita muda berseragam Emergency Service bergegas mendekati mereka. Mata cokelatnya sejenak melebar, tampak terkejut melihat pasien yang baru datang—dan pengantarnya. Sasuke langsung mengenalinya sebagai dokter yang mengoperasinya saat ia usus buntu beberapa waktu silam, dokter Rin.

"Dokter, tolong teman saya," kata Sasuke dengan suara parau saking cemasnya pada Sakura.

"Aku tahu. Kau tunggu di sini," sahut sang dokter sambil melempar senyum singkat, kemudian menghilang di balik pintu bersama para perawat dan brankar yang membawa Sakura.

Sasuke tidak pernah merasa segelisah ini sebelumnya. Tak hentinya ia mondar-mandir di depan pintu ruang pemeriksaan. Perasaannya benar-benar kacau, membuat dadanya terasa sesak sementara bayangan-bayangan mengerikan terus saja berkelebat di benaknya.

Bagaimana kalau terjadi apa-apa dengan Sakura? Bagaimana kalau dia sampai seka—

Tidak! Sakura hanya kedinginan. Tidak akan parah—tidak akan parah… aku yakin dia akan baik-baik saja!

Tapi kau menabraknya, Idiot! Dia bisa mat—

Tidak akan! Dia akan baik-baik saja! Mereka akan menyelamatkannya! Pasti!

"Sasuke?"

Sasuke nyaris terlonjak. Langkah gelisahnya langsung terhenti saat ia melihat kakaknya mendekat dengan mantel dan tas Sakura, juga jaket Sasuke di tangannya. Sasuke hampir lupa ia tidak memakai jaket, hanya kaus hitam berlengan pendek—pantas saja dari tadi ia merasa kedinginan.

"Trims, Kak," ucap Sasuke, menerima jaket dari Itachi dan segera memakainya. Meski begitu tubuhnya tetap menggigil.

"Mukamu pucat, Sasuke," kata Itachi seraya mengawasi adiknya, "Kau baik-baik saja?"

"Hn, aku tidak apa-apa," Sasuke menelan ludahnya, tanpa sadar mengambil mantel dan tas Sakura dari tangan Itachi lalu memeluknya di dada. "Aku hanya…"

"Cemas. Aku mengerti." Itachi mengangguk. Kemudian ia meletakkan tangannya di punggung Sasuke, mendesak adiknya yang tengah gelisah itu dengan lembut menuju ruang tunggu. "Sebaiknya duduk dulu."

Setelah duduk pun Sasuke belum bisa tenang. Lututnya tak hentinya bergerak dengan sikap gelisah sementara kedua tangannya terkatup di depan mulutnya, seakan sedang berdoa. Ia juga tidak melepaskan mantel dan tas Sakura—ia meletakkannya di pangkuan. Itachi yang paham apa yang sedang dirasakan adiknya, meletakkan tangan di pundaknya, menepuk-nepuknya pelan.

"Sakura akan baik-baik saja," ujarnya.

"Aku tahu," gumam Sasuke. Ia memejamkan matanya.

Kedua kakak beradik itu lantas terdiam.

"Kak?" Sasuke memecah keheningan.

Itachi yang sedang mengutak-atik ponselnya menoleh. "Hn?"

"Apa… aku tadi—menabraknya?" Sasuke akhirnya menyuarakan kegelisahan yang ditahannya sejak tadi.

Itachi bisa melihat kilatan rasa bersalah di mata Sasuke saat ia menatapnya. Pria muda itu lantas melempar senyum menenangkan pada adiknya. "Kurasa tidak. Kalau kita menabraknya, kita akan tahu. Tapi Sakura sepertinya tidak cedera, jadi kau tenang saja, oke?"

Sasuke mengangguk samar. Mudah-mudahan yang dikatakan Itachi memang benar, pikirnya. Ia merasa tidak akan tahan kalau Sakura sampai cedera parah gara-gara dia.

"Ah!" seru Itachi beberapa saat kemudian, seakan baru saja teringat sesuatu yang penting yang sejak tadi terlupakan. "Kita belum menghubungi keluarga Sakura. Sebaiknya hubungi mereka. Mereka mungkin khawatir dan mencarinya."

"Hn," Sasuke yang jelas sejak tadi tidak memikirkan itu langsung mengangguk setuju. Ia buru-buru mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Jemarinya yang panjang menekan-nekan keypad, mencari nomor rumah Haruno dalam phonebook-nya. Beberapa kali nada panggil terdengar, tetapi tidak kunjung ada yang mengangkat sampai akhirnya sambungan terputus. Tidak menyerah, Sasuke mencoba menghubungi beberapa kali lagi. Tapi tetap tidak ada yang menjawab.

"Tidak ada yang menjawab," beritahunya pada Itachi. "Mungkin tidak ada orang di rumahnya."

Itachi menghela napas berat. "Sepertinya mereka keluar mencarinya. Kalau begitu coba hubungi ponsel ibunya. Kau punya, kan?"

"Tidak punya," sahut Sasuke muram. Selama ini ia beranggapan kurang kerjaan menyimpan nomor ponsel pribadi orangtua temanmu. Baru sekarang terpikir kalau itu mungkin perlu—dalam keadaan darurat seperti ini, misalnya.

"Mungkin di ponsel Sakura ada." Itachi menunjuk tas Sakura di pangkuan adiknya.

Tanpa berlama-lama, Sasuke segera merogoh tas Sakura. Tas itu hampir penuh terisi buku—tipikal Sakura, pikirnya. Sasuke akhirnya menemukan ponsel Sakura terselip di antara diktat Aljabar yang nyaris penuh dengan coretan tangannya dan buku catatannya. Ponsel itu dalam keadaan mati—sepertinya Sakura sengaja mematikan ponselnya karena saat Sasuke mencoba menyalakannya, batrainya ternyata masih penuh.

Belum sempat Sasuke memeriksa phonebook-nya, tiba-tiba saja ponsel berhiaskan gantungan Hello Kitty itu bergetar dan nada deringnya segera saja memenuhi ruang tunggu rumah sakit yang senyap itu.

34 new messages

Seakan itu belum cukup, ponsel itu berdering lagi. Ada telepon masuk. Nama Naruto tertera di layarnya yang berkedip-kedip.

-

-

"Sakura… Kau dimana sih…??" gumam Naruto entah untuk keberapa kalinya sejak ia dan ayah angkatnya pergi untuk mencari Sakura.

Mata birunya menjelajahi setiap jengkal jalanan bersalju yang dilewatinya, berharap menemukan gadis yang sedang dicarinya di sana. Sementara itu tangannya terus menggenggam ponselnya. Ia juga tidak menyerah terus mencoba menghubungi ponsel gadis itu, berharap—walaupun kemungkinannya sangat kecil mengingat gadis itu sangat keras kepala—Sakura akan mengaktifkan kembali ponselnya.

"Mungkin orangtuanya sudah menemukannya," kata Iruka ketika mereka berbelok meninggalkan kawasan yang menurut Naruto tempat yang sering dikunjungi Sakura saat senggang—ia tidak ada di sana juga—"Sebaiknya kau tanya mereka."

Naruto menepuk keningnya keras, mengutuki kebodohannya sendiri. "Aku tidak tahu nomor ponsel Bibi Azami maupun Pak Hatake. Sial! Bodoh! Bodoh! Bodoh!!"

Iruka menghela napas sambil menggelengkan kepala. Salah satu penyakit Naruto; tidak berpikir panjang dulu sebelum bertindak. Ceroboh sekali. "Kalau begitu sebaiknya kita coba ke rumah Sakura," usulnya kemudian. "Rumahnya masih yang dulu, kan?"

"Ya, ya…" sahut Naruto lemas, "Masih yang dulu. Pap benar, sebaiknya kita coba ke sana."

Iruka mengerling putranya yang terlihat sangat mengkhawatirkan temannya. Ia lantas melempar senyum menenangkan. "Berdoa saja supaya tidak terjadi sesuatu yang buruk pada Sakura."

Sayangnya rumah Sakura dalam keadaan kosong saat mereka sampai di sana. Sepertinya keluarga Sakura juga belum berhasil menemukan gadis itu, dan ini benar-benar membuat Naruto uring-uringan, cemas sangat.

"Tidak ada yang bisa kita lakukan lagi, Naruto," ujar Iruka, menepuk bahu putranya pelan seraya melempar senyum menyesal. "Sebaiknya kita pulang dan tunggu kabar dari keluarganya." Ia baru saja berbalik untuk kembali ke mobilnya, namun langsung berhenti begitu menyadari Naruto tidak mengikutinya. Putranya itu masih bergeming di tempatnya, berdiri di beranda depan rumah Sakura.

"Naruto?" tegurnya.

Sejenak, Naruto tampak seperti sedang melamun. Tatapannya kosong, sebelum kemudian buru-buru merogoh mantelnya dan mengambil ponsel. Ia pun tidak mengerti apa yang mendorongnya berbuat itu, ia tahu barangkali itu akan percuma saja seperti sebelumnya. Tapi perasaannya mengatakan itu hal yang benar untuk dilakukan. Naruto menghubungi nomor Sakura, sekali lagi.

Ia nyaris melonjak girang ketika mendengar nada tunggu. Ponsel Sakura aktif! Akhirnya…

Terdengar suara klik pelan, tanda ada yang mengangkat. Tanpa menunggu sang pemilik nomor menyapanya terlebih dulu, Naruto langsung menyambar dengan nada cemas,

"SAKURA, ASTAGA!! KAU MENGHILANG KEMANA SIH? KAMI MENCEMASKANMU SETENGAH MATI TA—"

"Hn, Naruto. Bisa kecilkan suaramu tidak sih? Berisik!"

Suara dalam yang jelas-jelas milik seorang cowok yang menjawabnya nyaris saja membuat ponsel Naruto tergelincir jatuh dari tangannya. Naruto mengenali suara, sangat mengenal malah—dan itu malah membuatnya seakan kehilangan suara untuk beberapa saat saking terkejutnya. Itu bukan suara Sakura—tentu saja bukan, melainkan suara…

-

-

"SASUKE?!!"

Sekali lagi Sasuke refleks menjauhkan ponsel Sakura dari telinganya, mencegah telinganya terancam tuli karena mendengar teriakan yang sepertinya dilontarkan dengan segenap kekuatan pita suara lawan bicaranya itu. Bahkan dari jarak yang agak jauh itu pun Sasuke masih bisa mendengar Naruto berteriak kencang.

"SASUKE! KENAPA KAU YANG MENGANGKAT?! INI PONSEL SAKURA, KAN?"

"Naruto, geez, pelankan suaramu bisa tidak sih? Aku tidak tuli," sahut Sasuke agak jengkel. Di sebelahnya, Itachi terlihat setengah mati menahan geli—Sasuke mengabaikannya. "Ya, ini ponsel Sakura."

"Kenapa ponsel Sakura ada padamu?" tuntut Naruto—setidaknya sekarang ia sudah tidak berteriak lagi—"Oh—Jangan bilang Sakura kabur ke Oto!"

"Tidak. Sakura sedang di rumah sakit," gumam Sasuke.

"Rumah Sakit?!" suara Naruto terdengar melengking kaget. "Dia di Rumah Sakit Oto?"

Sasuke menggeram tak sabar. Apa Naruto tidak menyimak kata-katanya barusan? "Tidak, Idiot. Dia di Konoha, Rumah Sakit Konoha."

"Oh—" Naruto terdiam sejenak, "APA?! KENAPA SAKURA BISA DI RUMAH SAKIT?! DIA KENAPA, SASUKE?!! DIA BAIK-BAIK SAJA, KAN? JAWAB AKU!!!"

Telinga Sasuke serasa berdenging mendengar teriakan Naruto yang bahkan lebih kencang dari yang pertama. Belum sempat ia membuka mulutnya untuk membalasnya, Naruto sudah berteriak lagi,

"DAN NGAPAIN KAU ADA DI KONOHA? BUKANNYA KAU DI OTOOOO??!!"

"Idiot! Bisa tidak sih, tidak pakai teriak-teriak segala?!" Sasuke mendesis jengkel. Tepat saat itu, ia melihat dokter Rin keluar dari ruangan sambil memegang sesuatu seperti ponsel di tangannya. "Nanti saja tanya-tanyanya. Pokoknya sekarang kau datang saja kemari, Naruto," Sasuke berkata cepat-cepat sebelum memutuskan sambungan dan bergegas menghampiri dokter muda itu bersama Itachi.

Dokter Rin berpaling dari ponselnya begitu melihat Sasuke dan Itachi mendekat.

"Kalian yang mengantar Sakura?" tanyanya sopan.

"Ya—" sahut Itachi.

"Bagaimana teman saya, Dok? Dia tidak apa-apa, kan?" cecar Sasuke menyela kakaknya.

Dokter Rin tersenyum padanya. "Dia baik-baik saja. Untung kalian cepat membawanya kemari."

Itachi menghela napas lega, tapi Sasuke masih terlihat cemas. "Dokter yakin dia tidak terluka?" tanyanya.

Wanita yang rambut cokelat keunguannya itu dikucir rapi di belakang tengkuknya itu menggeleng pelan. "Tidak, sakura tidak terluka sama sekali. Dia hanya kelelahan—dan hipotermia, tapi kalian tidak perlu khawatir," tambahnya cepat, "Kondisinya sudah stabil sekarang. Dia hanya perlu beristirahat. Kami akan segera membawanya ke ruang rawat."

"Tapi kami belum memberitahu keluarganya," kata Itachi.

"Kebetulan saya mengenal keluarga Sakura. Biar saya yang menghubungi mereka," kata dokter muda itu sambil melempar senyum menenangkan.

"Ah, syukurlah kalau begitu. Terimakasih banyak, Dok," ucap Itachi dengan nada lega. Ia menepuk-nepuk bahu adiknya yang juga sudah terlihat lebih tenang sekarang.

Beberapa waktu kemudian para petugas medis membawa Sakura ke ruang rawatnya di lantai dua rumah sakit itu. Ruang itu cukup nyaman dan bersuhu hangat dengan dua buah bed—yang satu lagi kosong—dan sofa untuk pengunjung. Seorang perawat memastikan keadaan Sakura untuk terakhir kalinya sebelum meninggalkan ruangan, membiarkan kedua Uchiha bersaudara itu menunggui sang pasien.

Sasuke beringsut mendekati ranjang tempat Sakura terbaring, mengamati wajahnya yang kini sudah mulai berwarna lagi, kedua matanya terpejam. Ia sama sekali tak habis pikir bagaimana Sakura yang selama ini dikenalnya sebagai gadis yang cerdas dan selalu memikirkan segala tindakannya itu bisa sampai bertindak nekat begini? Tentunya ia sudah tahu kalau keluar dalam keadaan badai salju seperti sekarang sangat riskan, bukan? Bagaimana kalau terjadi sesuatu yang lebih parah dari ini? Bagaimana kalau…

Akh, Sasuke tidak sanggup memikirkannya. Melihat Sakura seperti ini saja sudah cukup membuat jantungnya hampir copot saking cemasnya.

"Bodoh," Sasuke berbisik dengan suara seperti tercekat. Tangannya bergerak menyentuh tangan Sakura yang tergeletak di sisi tubuhnya, tangan yang bebas IV-line. Tangan itu sudah tidak sedingin dan sekaku sebelumnya, melainkan hangat—dan terasa lembut.

Sasuke mengerjap ketika tiba-tiba saja tangan Sakura dalam genggamannya bergerak.

"Sakura?" celetuk Sasuke otomatis seraya bergerak lebih dekat ke sisi tempat tidur, berlutut agar wajah mereka sejajar. Digenggamnya tangan Sakura lebih mantap.

Kelopak mata gadis itu perlahan membuka, tidak seutuhnya, tetapi cukup untuk mengenali wajah di depannya. Senyum lemah tersungging di bibir Sakura. "Sasuke…" bisiknya pelan. "Kupikir aku tadi bermimpi bertemu denganmu."

Sasuke tidak berkata apa-apa, hanya meremas tangan gadis itu lembut untuk meyakinkannya kalau ia benar-benar ada di sana, bukan hanya mimpi.

"Ternyata benar-benar kamu, ya?" Sepasang mata hijaunya menatap Sasuke beberapa saat lagi sebelum ia menggerakkan tubuhnya sedikit, seakan ingin mencari posisi yang benar-benar nyaman, lalu menghela napas panjang. "Badanku capek sekali, Sasuke…" keluhnya.

"Kalau begitu tidur saja," ujar Sasuke. Dilepaskannya tangan Sakura dan dimasukkannya ke bawah selimut sebelum menaikkan selimutnya sampai ke bawah dagu gadis itu.

Sakura menolehkan kepalanya ke arah lain dan saat berikutnya ia sudah tertidur lelap. Dadanya naik turun seiring dengan napasnya yang dalam dan teratur. Sasuke mengulurkan tangannya untuk menyibak sedikit rambut merah muda yang terjatuh ke mata Sakura. Jelas sekali ia tidak menyadari tatapan penuh arti yang datang dari kakaknya yang sedari tadi mengawasinya dalam diam sampai akhirnya ia menoleh ke arah Itachi.

"Apa?" tanya Sasuke ketus ketika melihat kakaknya itu senyum-senyum sendiri. Ia merasakan wajahnya menghangat—pasti karena pengaruh suhu dalam kamar itu, pikirnya.

"Tidak ada apa-apa," sahut Itachi buru-buru sambil mengulum senyum. Ia berpaling dan bergerak ke arah jendela rumah sakit yang tirainya tertutup, lalu mengintip ke luar, ke langit malam Konoha yang masih dihujani salju. "Malam ini rasanya hangat, ya…"

Sasuke pura-pura tidak mendengar kata-kata kakaknya.

Naruto tiba di sana beberapa menit kemudian. Ekspresi di wajahnya campur aduk—tercabik antara cemas luar biasa dengan keadaan Sakura dan senang bukan kepalang karena bisa melihat sobat karibnya lagi di depannya—sehingga kelihatannya seperti orang linglung.

"Aaah… Sasuke!! Sakura!! Ya ampun…!!!" serunya bingung sendiri ketika tiba di kamar Sakura. Sampai akhirnya ia memutuskan untuk menyambar Sasuke lebih dulu. Dipeluknya kawan baiknya itu erat-erat, membuatnya tercekik. "Damn! Sasuke-sial balik lagi ke Konoha! Aku pasti bakal ketiban sial lagi!"

"Kurang ajar!" umpat Sasuke pelan. Meski begitu ia tidak bisa menahan seringainya dan balas memeluk Naruto. Dan begitu Naruto melepaskannya, Sasuke segera mendaratkan jitakan keras di kepala pirang karibnya itu.

"What the hell—Apa itu maksudnya?!" Naruto memprotes. Sasuke hanya membalasnya dengan seringai sadis. Naruto lalu mengibaskan tangannya, memutuskan untuk menghiraukan Sasuke dan berpaling pada Sakura yang tertidur, mulai mencemaskannya lagi.

"Dia tidak apa-apa," beritahu Sasuke, "Dia sedang tidur. Kata dokter Sakura butuh istirahat."

Tidak sampai lima menit sejak Naruto dan Iruka tiba, Kakashi bersama ibu Sakura juga datang. Azami yang sebelumnya sempat histeris saat pertama kali mendengar putrinya masuk rumah sakit, langsung menghambur ke sisi ranjang Sakura dengan air mata membanjir di wajahnya—Sasuke dan Naruto langsung menyingkir begitu Azami datang—Ia mengusap rambut dan mengecup kepala putrinya penuh kelegaan, membuat Sakura bergerak tak nyaman dalam tidurnya, tapi tidak terbangun.

Ruangan itu mendadak menjadi terlalu penuh sesak untuk mereka bertujuh, sehingga Iruka, Itachi, Naruto dan Sasuke memutuskan untuk meninggalkan ruangan supaya hanya keluarga Sakura saja yang menemaninya di dalam—setelah sebelumnya pamit pada mereka berdua, tentu saja. Asal ada keluarganya, mereka—setidaknya Sasuke dan Naruto—bisa tenang meninggalkan Sakura.

"Terimakasih banyak," ucap Kakashi pada keempat orang itu sebelum mereka meninggalkan ruangan.

"Sakura, maafkan ibu, Sayang… Ini semua salah ibu kau jadi begini…" isak Azami menyalahkan dirinya sendiri. Tangannya yang gemetaran masih mengusap-usap rambut merah muda Sakura yang sedikit berantakan.

Kakashi menatapnya dengan pandangan miris. Hatinya ikut sakit karena perasaan bersalah. Sedikit banyak, ia juga ikut andil membuat Sakura menjadi seperti ini—meskipun ia tahu sebenarnya itu bukan salahnya. Tapi tetap saja, kan? Selama ini ia sangat menyayangi keponakannya itu, sudah menganggapnya seperti putrinya sendiri yang tidak pernah ia miliki. Dan sekarang putri kecil kesayangannya itu membencinya. Bagaimana itu tidak membuat hatinya terluka?

"Sudahlah, Azami… Yang penting Sakura sudah ketemu dan dia baik-baik saja…" ujar Kakashi menenangkan—lebih kepada dirinya sendiri, sebetulnya.

-

-

"Ah, kau benar-benar sialan, Sasuke!" gerutu Naruto—tapi sambil nyengir—ketika mereka sedang berjalan menyusuri koridor rumah sakit untuk pulang. Itachi dan Iruka berjalan di depan mereka—Itachi sedang menceritakan soal bagaimana mereka menemukan Sakura pada Iruka—"Kenapa tidak memberitahu dulu kalau kau mau kembali ke Konoha, eh?"

"Tadinya aku mau bikin kejutan," Sasuke menggerutu. Kedua tangannya tenggelam di saku jaketnya.

"Yeah, aku memang sangat terkejut," sahut Naruto.

Sasuke mengabaikannya, dan melanjutkan, "Tapi malah aku yang terkejut. Bagaimana Sakura bisa sampai kabur begitu, sih?"

Ekspresi di wajah Naruto sejurus kemudian berubah muram lagi. "Suasana hati Sakura sepertinya memang sudah sangat buruk sejak pagi," ujarnya, mengangkat bahu, "Dia absen kelas Aljabar, bertengkar dengan Pak Hatake, aku sudah memberitahumu soal itu, kan?" Naruto menghela napas berat. "Padahal kupikir suasana hatinya setidaknya sudah agak membaik saat kami jalan-jalan tadi. Tapi…"

Naruto membiarkan kata-katanya menggantung. Sasuke sudah paham betul apa yang dimaksudkan sahabatnya itu; suasana hati Sakura yang tidak menentu karena masalah yang sedang dihadapinya, atau yang dikiranya begitu. Sasuke masih tidak percaya ibu Sakura memiliki hubungan dengan guru Aljabarnya seperti yang dipikirkan Sakura.

"Yah… Setidaknya sekarang Sakura sudah tidak apa-apa. Itu yang paling penting," ujar Naruto kemudian.

"Hn." Sasuke mengangguk tanda setuju.

"Sampai ketemu besok di sekolah, kalau begitu, Sasuke!" ucap Naruto begitu mereka sampai di pelataran depan Rumah Sakit Konoha yang luas. Mereka akan berpisah jalan dari sana. Iruka telah memarkir mobil mereka di dekat pintu gerbang utama sementara Itachi di sisi lain yang lebih dekat ke Emergency Unit. Seringai lebar menghiasi wajah si pirang sebelum ia beranjak mengikuti ayahnya. "Tidak sabar melihat bagaimana reaksi anak-anak saat melihatmu besok. Terutama cewek-cewek itu! Kau belum lupa dengan Fans Club-mu, kan?" kekehnya.

Sasuke memutar bola matanya. Tentu saja ia masih ingat pada cewek-cewek agresif mengerikan yang dulu kerap membuatnya tidak nyaman. Tidak seperti di Oto, di mana ia terlindungi dari serangan para fan-girls-nya oleh aura intimidasi dari gengnya—walaupun ada juga yang masih nekat—di Konoha, teman-temannya lebih terbuka. Sakura dan Naruto bahkan kerap terang-terangan menertawakannya soal itu. Namun entah mengapa Sasuke lebih menyukai yang kedua, membuatnya lebih berbaur dengan yang lain dan diterima sebagaimana dirinya sendiri, bukan karena kesuperiorannya sebagai putra pengusaha sukses yang memiliki perusahaan di mana-mana.

Ah, bukankan untuk mendapatkan apa yang kau inginkan, dalam hal ini Sasuke yang ingin selalu berdekatan dengan orang-orang yang membuatnya merasa benar-benar berharga sebagai dirinya sendiri—sahabat-sahabatnya—selalu ada resiko yang harus ditanggung? Ya, Sasuke sudah memutuskan untuk menghadapinya. Selama ada ketiga sahabatnya, itu bukan masalah besar untuknya.

"Aku senang kau kembali ke Konoha, Teman." Naruto menepuk lengan Sasuke mantap. Bola mata birunya bersinar hangat menatap karibnya.

Seulas senyum supertipis-yang-nyaris-tak-terlihat muncul di wajah Sasuke. "Aku juga."

-

-

Sasuke datang ke Konoha High pagi-pagi sekali keesokan harinya. Ia diberitahu bahwa Nona Tsunade—Sasuke tidak mengerti mengapa semua orang memanggilnya seperti itu, padahal wanita itu sudah cukup berumur—Sang Kepala Sekolah, memintanya menghadap ke kantornya sebelum jam pelajaran dimulai. Entah ada urusan apa, setahunya semua surat-surat, dokumen, transkrip nilai dan segala tetek bengek kepindahannya ke salah satu sekolah umum terbaik di Konoha itu, semuanya sudah diurus oleh kakaknya.

Rupanya wanita berumur pemilik mata sewarna madu yang masih kelihatan awet muda itu hanya ingin mengobrol dengannya tentang Orochimaru, kepala sekolah sekolahnya di Oto. Ternyata mereka adalah teman lama. Tsunade bertanya apakah tua bangka itu masih sehat—pertanyaan-pertanyaan semacam itu—dan menertawakan ketidakberuntungannya harus kehilangan sekali lagi salah satu murid terbaiknya yang memilih pindah ke sekolah saingannya di Konoha.

Benar-benar buang-buang waktu, pikir Sasuke. Padahal Naruto sudah menunggunya di bawah, dan barangkali Sai sudah datang juga dan siap dibuat mangap seperti yang lain saat melihatnya nanti.

Setelah itu, Sasuke masih harus ke kantor guru untuk mengambil kunci loker dan jadwal pelajarannya pada guru penanggung jawab, Kakashi Hatake. Cowok itu berjalan secepat mungkin ke ruangan yang letaknya satu lantai di bawah ruang Kepala Sekolah, yang praktis membuatnya harus melewati kelas-kelas yang digunakan anak-anak kelas tiga. Dan itu berarti ia terpaksa harus berpapasan dengan serombongan besar gadis-gadis seniornya yang terus-terusan menatapnya seakan mereka ingin menelannya hidup-hidup—Sasuke lebih memilih menghadapi gadis kelas satu atau dua dari pada anak kelas tiga. Mereka menakutkan.

"Selamat datang kembali di Konoha High, Uchiha," sambut Kakashi dengan nada nyaris terdengar ogah-ogahan. Wajahnya terlihat agak pucat dan terkesan muram, bahkan rambut keperakannya yang biasanya melawan grafitasi itu lemas dan terjatuh di keningnya, membuatnya tampak jauh lebih tua. "Nah, ini kunci lokermu yang lama dan ini jadwalmu." Kakashi mengangsurkan secarik kertas jadwal pelajaran dan kunci loker—rupanya ia masih menempati lokernya yang lama di sebelah loker Sakura. "Kau boleh pergi sekarang."

"Terimakasih," ucap Sasuke, mencoba sopan.

"Ah, Uchiha, tunggu dulu," panggil Kakashi tiba-tiba sebelum Sasuke sempat berbalik pergi. Mata kelabunya menatap sang murid pindahan. "Ada yang memberitahuku kalau kau dan kakakmu yang membawa Sakura ke rumah sakit semalam. Benar?"

"Ya."

Kakashi menyunggingkan senyum samar padanya. "Kalau begitu terimakasih banyak."

Sasuke tidak membalasnya. Apa Kakashi akan tetap berterimakasih padanya kalau ia tahu Sasuke nyaris menabrak Sakura semalam? Selain itu, ada sesuatu yang lebih mengganggunya. "Bagaimana keadaan Sakura sekarang?" tanyanya berani.

Kakashi menghela napas berat dan Sasuke bisa melihat sekilas wajah gurunya itu berubah murung lagi—entah karena apa, karena yang dikatakannya berikutnya sama sekali berbalik dengan ekspresinya. "Sakura semakin baik. Siang ini dia sudah boleh pulang."

"Secepat itu?" Kening Sasuke berkerut dalam.

"Sakura tidak betah di rumah sakit, Nak," ujar Kakashi datar. "Sekarang kau boleh pergi."

-

-

"Sakura masuk rumah sakit?" Sai menatap Naruto terkejut. Naruto baru saja memberitahunya tentang kejadian semalam yang menimpa Sakura. "Kenapa tidak ada yang memberitahuku sebelumnya?" Sai tampak gusar.

"Yah, karena kami semua panik, jadi tidak kepikiran memberitahumu. Sori, teman…" Naruto menepuk-nepuk lengan cowok berambut hitam legam itu, nyengir. "Aku tahu rasanya. Dulu waktu kalian menyelamatkan Sasuke tanpa mengajakku juga…"

Mau tak mau Sai menyunggingkan senyum kalau teringat betapa gusarnya Naruto waktu itu—bahkan mungkin lebih gusar dari yang dirasakannya sekarang. Ia membuka lokernya dan mulai membereskan barang-barangnya. "Tapi Sakura tidak apa-apa, kan?"

"Yeah…" Naruto menyandarkan punggungnya ke pintu loker Ino yang letaknya di sebelah loker Sai. "Setidaknya Sakura sudah aman sekarang. Mudah-mudahan saja masalahnya cepat selesai. Aku tidak suka melihatnya murung."

Gerakan Sai terhenti sejenak, teringat bagaimana buruknya suasana hati Sakura hari sebelumnya dan entah bagaimana membuatnya merasa buruk juga. Ia juga tidak menyukainya, pikirnya. "Kau benar. Mudah-mudahan cepat selesai," desahnya kemudian, melanjutkan kembali kegiatannya, lalu menoleh pada Naruto, "Aku ingin menjenguknya. Dia masih di rumah sakit?"

"Sepertinya begitu," kata Naruto, "Kita akan menjenguknya bersama-sama nanti—Ah! Pagi, Ino!" sapanya cerah pada gadis yang baru saja datang.

"Pagi," balas Ino sambil menyibak rambut panjangnya yang masih lembab dari matanya, "Pagi, Sai!" sapanya ringan pada tetangga lokernya.

Sai membalasnya agak tergagap, tetapi sepertinya Ino tidak terlalu memperhatikannya.

"Semalam Bibi Azami meneleponku," gadis itu memberitahu mereka. Ditatapnya Naruto tajam, keningnya berkerut. "Dia mencari-cari Sakura. Apa kau membawanya ke tempat lain sampai larut malam, Naruto?"

"Apa?! Enak saja bicara!" dengking Naruto tersinggung. Ia kemudian menceritakan apa yang terjadi pada Sakura semalam—tanpa menyebut-nyebut nama Sasuke, tentu saja.

"Hah! Sakura… kenapa dia jadi nekat begitu sih?" seru Ino gusar, namun sorot matanya tampak khawatir, "Untung ada orang baik hati yang mengantarnya ke rumah sakit. Kalau tidak?" Gadis itu bergidik ngeri. "Aku tidak ingin membayangkannya. Semalam kan dinginnya seperti di kutub!"

Ino kemudian berpaling untuk membuka pintu lokernya, namun sebelum tangannya yang memegang kunci mencapai loker, gerakannya terhenti. Mata sapphire-nya terbelalak melihat sesuatu—atau seseorang—yang datang dari arah tangga, mulutnya terbuka. Untuk beberapa saat, tampaknya gadis itu tidak bisa berkata-kata, sebelum akhirnya…

"OMIGOD!! SASUKE UCHIHA!!" teriaknya memenuhi koridor yang ramai itu. Jarinya menuding ke arah cowok jangkung berambut hitam itu, menarik perhatian semua anak padanya juga.

Di sebelahnya, Sai melongo dengan mulut sedikit terbuka saking terkejutnya, sementara Naruto nyengir lebar melihat reaksi teman-temannya melihat Sasuke muncul. Mereka bahkan mendengar seorang anak perempuan memekik.

"Hn. Aku tahu namaku, terimakasih banyak, Yamanaka," ujar Sasuke dengan nada bosan ketika ia melewati Ino yang masih mambelalak padanya.

Gadis itu mendengus. "Haah… ternyata kau masih menyebalkan seperti dulu, ya," komentarnya sambil memutar bola matanya yang besar, "Dan masih tampan juga…" Ino mengikik, lalu berpaling untuk mengangkat ponselnya yang baru saja berdering—rupanya Idate. Kemudian ia mulai mengobrol mesra dengan pacarnya itu tanpa memedulikan cowok-cowok itu lagi.

Sasuke mencibirnya, lalu berpaling pada Sai yang masih terbengong saking terkejutnya melihatnya. "Apa kabar, Sai?"

Sai mengerjap. "Aa—Baik. Kau…" cowok itu tergagap-gagap, tidak tahu harus berkata apa saking terkejutnya. "Wow... Er… maksudku… Ini sangat menyenangkan." Ia lantas mengulurkan tangannya pada Sasuke, tersenyum lebar padanya, "Selamat datang kembali di Konoha kalau begitu, Sasuke."

Sasuke menyambutnya seraya memberinya senyum tipis. Sai masih kaku dan formal seperti yang diingatnya terakhir kali.

Tetapi senyum itu langsung lenyap begitu ia melihat sosok yang sudah amat dikenalnya mendekat dari arah pintu utama—sepertinya ia baru datang—bersama seorang gadis berambut indigo panjang.

"Hinata!" sambut Naruto antusias sambil melambaikan tangan pada kedua Hyuuga yang baru datang, membuat si gadis bersemu kemerahan. "Pagi, Neji," ia kemudian menyapa kakak sepupu Hinata.

"Selamat pagi," balas Neji sementara Hinata menggumamkan kata-kata yang sama pada mereka. Sama seperti anak-anak lain, kedua Hyuuga itu tampak terkejut melihat Sasuke, meskipun tentu saja tidak pakai acara berteriak dan membelalak norak. "Sasuke. Kau di sini?"

"Hn." Suara Sasuke terdengar dingin dan tidak bersahabat.

"Sasuke pindah lagi kemari," beritahu Naruto ceria—jelas sekali tidak memperhatikan perubahan nada bicara Sasuke. "Menyenangkan, eh, Neji? Hinata?"

"T-tentu saja menyenangkan…" sahut Hinata sambil melempar senyum pada Sasuke—yang diabaikan cowok itu, karena ia terlalu sibuk melempar pandang dingin pada Neji.

"Senang melihatmu lagi di Konoha, Sasuke," kata Neji sambil mengulurkan tangan hendak menjabat tangan bungsu Uchiha itu.

"Hn," gerutunya lagi tanpa mengindahkan tangan Neji yang terulur padanya.

Neji tampak tersinggung, tapi kemudian memutuskan untuk tidak memperpanjangnya. Ia sudah mengenal Sasuke cukup lama dan tahu betul bagaimana sifatnya. Barangkali Sasuke sedang bad mood, pikirnya. Neji kemudian berpaling pada yang lain. "Apa Sakura sudah datang?"

"Oh, dia…"

"Sakura sedang sakit, Neji," sambar Ino tiba-tiba, menyela Naruto. Rupanya gadis itu sudah selesai menelepon.

Neji menoleh ke arahnya, mengernyit. "Sakit? Sakit apa?"

"Oh, entahlah," gadis pirang itu menyahut sambil menghela napas dramatis, "Dia pingsan—kudengar begitu—dan mereka membawanya ke rumah sakit semalam."

"Yah, semalam Sakura memang dibawa ke rumah sakit," timpal Naruto ketika Neji ganti memandangnya untuk memastikan. "Iya, kan, Sasuke?"

Sasuke menyahutnya dengan gerutuan tak jelas.

"Benarkah?" tanya Neji lagi yang segera dibalas Ino dengan anggukan cepat dan sorot mata penuh khawatir. Air muka Neji berubah, cowok bermata lavender itu tampak cemas. Bagaimana pun Sakura adalah partnernya, dan ia peduli pada gadis itu.

"A-apa sebaiknya kita menjenguknya di rumah sakit nanti, Kak?" usul Hinata kemudian. Ino diam-diam melempar senyum senang padanya. Hinata juga mendukung!

"Mungkin sebaiknya begitu," sahut Neji mempertimbangkan. Hinata mengangguk.

"Pak Hatake memberitahuku Sakura sudah boleh pulang ke rumah siang ini," kata Sasuke setelah Neji dan Hinata pergi, setengah mati menahan seringai penuh kemenangan di wajahnya. Menjenguk saja ke rumah sakit sana! Ha ha…

"Apa? Yang benar?" Ino membelalak padanya. "Kenapa tidak kasih tahu dari tadi, sih?" tuntutnya.

Sasuke pura-pura tidak mendengar dan berpaling menuju lokernya. Ia baru saja membuka lokernya yang masih kosong untuk menaruh buku-buku yang tidak diperlukannya saat ia mendangar Sai berkata,

"Lebih baik cepat beritahu Neji dan Hinata."

Apa?

"Kau benar. Aku akan memberitahu mereka." Sasuke bisa mendengar Naruto menimpali.

Apa—Tunggu dulu, Naruto! Bukannya kau tidak suka Sakura dekat-dekat dengan Neji?

"Lho? Naruto, bukannya kau tidak suka Sakura dekat-dekat dengan Neji?" Ino menanyakan pertanyaan yang sama seperti yang ada dalam kepala Sasuke.

"Tadinya sih… Tapi kurasa sekarang ini Neji-lah yang paling bisa membuat Sakura gembira. God! Sakura benar-benar menyukainya, kan?"

Sasuke bisa mendengar langkah Naruto yang menjauh sementara ia masih membeku di tempatnya. Buku-buku jarinya yang mencengkeram sisi pintu sampai memutih.

"Sakura bukan hanya menyukai Neji," ia mendengar Ino berkata sambil tertawa lembut—sepertinya pada Sai—"Tapi dia benar-benar sudah jatuh cinta padanya! Benar kan, Sai?"

"Er… mungkin…"

BRAK!

Sasuke membanting pintu lokernya menutup, membuat orang-orang di dekatnya terlonjak kaget. Tanpa mengindahkan pandangan heran Ino dan Sai, Sasuke pergi begitu saja menuju kelas pertamanya.

"Kenapa sih dia?"

-

-

Sakura mengurung dirinya di kamar sejak pulang dari rumah sakit beberapa jam yang lalu, bergelung di bawah selimutnya yang tebal. Tubuhnya masih terasa lelah dan lemah, tapi bukan itu alasannya menarik diri. Sakura masih menolak diajak bicara tentang masalah ibunya dan Kakashi dan marah setiap kali Azami mencoba mengungkit-ungkitnya.

"Sudahlah, Bu! Aku tidak ingin membicarakannya sekarang!" bentak Sakura siang itu. Azami terlihat sangat terpukul, tapi Sakura tidak peduli. Gadis itu berguling memunggungi ibunya dan menarik selimutnya sampai menutupi kepalanya, menutupi kenyataan bahwa saat itu ia menangis lagi.

Sakura belum siap. Sama sekali belum siap menerima penjelasan apa pun dari ibunya. Ia terlampau takut akan apa yang mungkin meluncur dari bibir Azami; bahwa Kakashi akan segera menggantikan posisi ayahnya di rumah itu. Ia tidak mau mendengar itu.

"Sayang…" bujuk suara Azami. Sakura bisa merasakan tangan ibunya yang menyentuh bahunya gemetar. "Ibu hanya…"

"…aku capek, Bu…" sela Sakura, memotong kata-kata ibunya. "Bisa tinggalkan aku, kan? Aku mau tidur," gadis itu berkata parau dari bawah selimutnya.

Azami menatap putrinya yang bergelung di bawah selimut dengan pandangan sedih selama beberapa saat, kemudian menghela napas berat. "Ya sudah," ujarnya serak, "Kau istirahat saja. Tapi buburnya dimakan, ya…"

"Nng…" Sakura membalas dengan gerutuan rendah. Ia merasakan tempat tidurnya sedikit bergerak begitu Azami sudah beranjak dari duduknya di tepi kasur. Dan saat ia mendengar pintu ditutup, Sakura baru menurunkan selimutnya sedikit, menampakkan wajahnya yang basah dan memerah. Sejenak ia mengerling mangkuk bubur yang dibawa ibunya di meja samping ranjangnya, tapi ia sama sekali tidak merasa lapar, jadi ia berpaling untuk memandang jendela yang sisi-sisinya sudah ditumpuki salju.

Langit hari itu secerah yang bisa diharapkannya dalam musim dingin seperti ini. Samar-samar ia bisa mendengar suara anak-anak tetangga yang sedang bermain di luar. Suara-suara itu terdengar ceria, tanpa beban, mengingatkannya saat ia masih kecil dulu. Saat ia dan Himeko sering bermain di salju setiap musim dingin seperti ini ditemani ayah dan ibu mereka. Saat itu keluarganya masih lengkap.

Ayah… Kakak…

Sakura benar-benar merindukan mereka. Kalau saja waktu bisa berjalan mundur dan membawa mereka yang dicintainya kembali ke sisinya. Dengan begitu orang luar tidak akan bisa masuk ke kehidupan mereka yang bahagia.

Tapi semuanya sudah terjadi, pikir Sakura pedih. Kakak dan ayah sudah tidak ada lagi di sini… Dan Kakashi…

Bulir-bulir bening meluncur jatuh dari sudut-sudut matanya yang hijau. Sakura sebenarnya sangat menyayangi pamannya itu, sangat, sangat sayang padanya. Tapi Kakashi telah menyakitinya. Dan bukankah orang yang paling kita sayangi adalah orang yang memiliki kekuatan terbesar untuk menyakiti hati kita?

Sakura benar-benar tidak bisa memaafkannya karena itu.

Siang itu dilewatkannya dengan menangis sepuasnya di bawah selimut.

Tidak sepanjang siang, sih… setidaknya ia berhenti menangis ketika Sasuke, Naruto dan Sai meneleponnya saat jam istirahat makan siang di sekolah. Sakura tidak bisa menahan diri untuk tersenyum mendengar suara bernada cemas ketiga suami-nya itu—meminjam istilah Ino—ketika menanyakan kabarnya.

"Sudah lebih baik sekarang," ujarnya seraya mengusap sisa air mata di wajahnya. "Bagaimana hari pertama Sasuke di sekolah?"

Dengan nada ceria, Naruto mulai menceritakan apa yang terjadi di sekolah. Rupanya mereka sangat sibuk hari itu, terutama untuk persiapan festival sekolah nanti. Naruto ditarik masuk dalam kepanitiaan untuk bergabung di tim logistik oleh OSIS dan ia memaksa Sasuke untuk bergabung juga.

"Dan kau tahu, saat kami kumpul tadi, Sakura?" suara Naruto terdengar antusias. "Anak-anak sepakat untuk menunjuk Sasuke sebagai ketua koordinator bidang logistik menggantikan cowok kelas tiga—aku lupa namanya—dan Menma sudah setuju!" Naruto tertawa puas sementara Sasuke mendesis tidak senang di dekatnya. "Dan siang ini kami harus rapat koordinasi dengan bidang lain, karena tim logistik progress-nya yang paling nol besar—ya, ampun… Apa sebenarnya yang mereka lakukan?—Ha ha… bisa dibayangkan Sasuke bakal sibuk mengurusi semua hal yang merepotkan itu dari awal lagi…"

"Diamlah, Naruto…" desis Sasuke.

Naruto mengabaikannya.

"Dan anggota kami yang cewek-cewek mendadak ingin ikut rapat semua!"

"Itu bagus, kan? Semuanya jadi mau kerjasama," kata suara Sai.

"Tapi kami jadi tidak bisa menjengukmu sepulang sekolah, Sakura," kata Naruto. Nada bicaranya berubah lesu.

"Tidak apa-apa," sahut Sakura, tersenyum, meskipun sebenarnya ia agak kecewa juga. Sasuke sudah kembali ke Konoha dan mereka belum sempat mengobrol banyak semalam. Ia juga belum sempat berterimakasih padanya. "Menjenguk bisa besok atau lain kali, kok."

"Tapi Sasuke sepertinya ingin sekali pergi," kata Naruto terkekeh, membuat Sakura tertawa kecil. Ia bisa mendengar Sasuke mendesis menyuruhnya diam.

"Aku juga kepingin sekali ketemu Sasuke," ujar Sakura. "Tadi malam aku terlalu capek, sih…"

"Kalau begitu besok kami bisa ke rumahmu," kata Sai. "Kami tidak ada jadwal kumpul besok."

"Yeah…" suara Naruto menimpali. "Omong-omong, kapan kau masuk sekolah lagi, Sakura? Neji mencarimu tuh."

Wajah Sakura mendadak bersemu merah. Untung saja mereka tidak bisa melihatnya. "Jangan bicara ngaco, Naruto… Um.. aku absen tiga hari. Mungkin baru hari Jumat aku akan masuk."

"Begitu.." Kemudian terdengar suara bel tanda masuk berbunyi. "Ya sudah. Kelas sudah mau mulai, sampai ketemu besok, Sakura. Bersiaplah, mungkin Neji akan menjengukmu juga." Naruto terbahak di seberang. Sai tertawa kecil. Hanya Sasuke yang tidak bersuara.

"Berisik ah, Naruto!" gerutu Sakura malu.

"Bye bye.." seru Naruto, masih terkekeh.

"Sampai ketemu besok," ucap Sai.

"Beristirahatlah, Sakura," kata Sasuke.

Sakura meletakkan ponselnya di atas meja setelah sambungan terputus, di sebelah mangkuk bubur yang sudah dingin, lalu kembali merebahkan kepalanya ke bantal. Ia merasa amat lelah, padahal sejak tadi tidak melakukan apa-apa. Barangkali kondisi tubuhnya memang belum sehat benar, seperti yang dikatakan dokter Rin sebelum ia meninggalkan rumah sakit. Meski begitu, setidaknya suasana hatinya sudah lebih baik sekarang.

Dengan senyum masih tersungging di bibirnya sejak mereka meneleponnya tadi, Sakura jatuh terlelap. Dan baru terbangun lagi beberapa jam kemudian saat langit di luar sudah gelap. Perutnya berbunyi keras sekali. Ia ingat belum makan apa-apa sejak siang. Gadis itu baru saja akan meraih ke meja di sebelah ranjangnya ketika melihat mangkuk buburnya sudah tidak ada di sana. Barangkali ibunya sudah mengambilnya tadi.

Mengeluh pelan, Sakura berusaha menarik tubuhnya berdiri. Namun rasa pusing yang menyerang kepalanya tiba-tiba membuatnya jatuh terduduk ke bantalnya lagi.

"Jangan memaksakan diri," kata seseorang dari arah pintu.

Sakura menoleh dan mendapati seorang pria muda berambut cokelat yang sangat dikenalnya berdiri di sana dengan mantel tersampir di lengannya dan sebuah termos untuk makanan hangat di tangannya yang lain. Senyum gadis itu merekah. "Yamato!"

Yamato bergegas melangkah masuk, meletakkan mantelnya di punggung kursi belajar Sakura dan termosnya di meja, sebelum menghampiri Sakura. Ekspresi di wajahnya menyiratkan kekhawatiran. Tapi belum sempat ia membuka mulut untuk menanyakan keadaannya, Sakura sudah melempar lengannya dan memeluknya erat.

"Aku kangen sekali padamu, Yamato…"

Pria itu tersenyum tipis. "Aku juga," ujarnya lembut sambil membelai belakang kepala Sakura. "Ibumu sudah menceritakan pada kami apa yang terjadi," katanya begitu Sakura melepaskan pelukannya. Mata hitamnya mengawasi wajah pucat gadis itu. "Bagaimana keadaanmu, hm?"

Sakura memalingkan wajahnya, menghela napas dengan muram. "Dia sudah cerita ke semua orang, kan?" ucapnya cemberut.

"Jangan menyalahkannya. Ibumu sangat mengkhawatirkanmu, Sakura. Kami semua juga," kata Yamato sabar. "Jadi… kau sudah baikkan, kan?"

"Lumayan," Sakura mendesah, masih cemberut.

Yamato tertawa kecil. "Hei, jangan cemberut begitu, tidak enak dilihat."

"Biar saja," Sakura pura-pura ngambek.

Masih tertawa, Yamato mengacak rambut merah muda gadis yang sudah dianggapnya seperti adik sendiri itu. "Dari pada ngambek, lebih baik kau makan. Kata ibumu kau belum makan. Kau pasti lapar, kan? Lihat, aku bawa sesuatu untukmu." Yamato mengulurkan tangan mengambil termos makanan dua tumpuk yang dibawanya dari atas meja, kemudian membukanya di pangkuannya. Rupanya isinya bubur yang masih hangat dan menguarkan aroma lezat, juga supnya dengan butir-butir jagung dan irisan daging ayam kecil-kecil. "Ini aku buat dari resep milik kakakmu."

"Resep Kak Hime?" Mata Sakura membulat.

Yamato mengangguk. "Dulu waktu aku kena flu parah, Himeko pernah membuatkannya untukku. Kupikir kau pasti akan menyukainya juga. Rasanya sangat enak, membuat badan nyaman."

"Kelihatannya memang sangat enak." Dengan melihat dan mencium aromanya saja sudah membuat Sakura nyaris meneteskan air liur.

"Sini…" Yamato mengambil sendok dari wadahnya, menyendok sedikit bubur sekaligus supnya, lalu menyuapkannya hati-hati pada Sakura.

Bubur itu terasa lembut di lidahnya, aromanya yang wangi menyebar di mulut bersamaan dengan rasa unik dari bumbu-bumbu racikan khas Blocaf, perpaduan dari gurih, manis dan sedikit pedas. Belum lagi supnya yang—tidak ada kata lain yang bisa menggambarkannya—benar-benar lezat. Dan Yamato benar, rasanya badan terasa hangat dan nyaman begitu makanan lembut itu melewati kerongkongan.

"Bagaimana?"

"Enak banget. Trims, Yama…" Sakura tersenyum padanya, kemudian mengambil alih termos bubur dari tangan Yamato untuk makan sendiri dengan lahap. "Aku benar-benar kelaparan…" katanya, nyengir.

Selama beberapa saat Yamato hanya duduk di sana, memperhatikan adik­-nya menghabiskan bubur buatannya. Sesekali mengulurkan tangan untuk menyeka bubur yang tersangkut di sudut bibir Sakura yang tampak agak pucat dengan tisu, sambil terkekeh geli. "Pelan-pelan saja makannya."

"Omong-omong, kenapa kau kemari?" tanya Sakura kemudian, saat bubur di wadahnya hampir tandas. Ia mengerling jam Hello Kitty di dinding kamarnya. "Bukannya restoran belum tutup jam segini?"

"Memang belum," sahut Yamato, tersenyum, "Sekarang ka nada Gantetsu yang menggantikanku, jadi aku bisa sedikit bersantai."

"Gantetsu?" Sakura mengangkat alisnya mendengar nama yang belum pernah didengarnya sebelumnya itu. "Siapa Gantetsu?"

"Dia koki baru," jawab Yamato.

Sakura tampak kaget. "Koki baru? Ibu tidak pernah memberitahu apa pun padaku soal koki baru."

"Yah, karena dia memang baru bekerja beberapa hari belakangan ini. Sebelumnya aku hanya melatihnya resep-resep khas Blocaf di dapur." Yamato berhenti untuk menarik napas. "Kau harus bertemu dengannya kapan-kapan. Orangnya sangat baik hati dan menyenangkan. Dia suka sangat pandai membuat kue-kue manis—bahkan lebih piawai dariku. Kue buatannya sangat enak."

"Kedengarannya dia sangat hebat," komentar Sakura sambil tersenyum, kemudian menyendok supnya.

Yamato mengangguk. "Tentu saja."

"Tapi kenapa harus ada koki baru? Bukankah di restoran sudah cukup dengan kau, Iwashi dan Paman Teuchi?" tanya Sakura penasaran.

Pria berambut cokelat gelap itu tidak langsung menjawabnya. Ia mengambil waktu sampai bubur dan sup Sakura sudah tandas, merapikan alat makannya dan menaruhnya di atas meja. "Sebenarnya aku kemari untuk memberitahumu sesuatu. Ada kabar baik, dan ada kabar buruk," ujarnya kemudian.

"Eh? Apa itu? Kabar baik apa? Kabar buruk apa?" cecar Sakura penasaran.

"Minum obatmu dulu, Sakura," Yamato mengangsurkan obat dan segelas air yang diambilnya dari meja pada Sakura, memastikan gadis itu meminum obatnya dengan benar.

"Sekarang ceritakan padaku!" todong Sakura tak sabar setelah menelan obatnya. "Jangan membuatku penasaran."

"Baiklah…" Yamato mengembalikan gelas air Sakura ke tempatnya semula, kemudian mengambil napas panjang sebelum memulai. "Kabar baiknya dulu, ya." Sakura mengangguk antusias. "Kemarin dulu, ada seorang chef terkenal yang makan di Blocaf. Dia bilang, dia tertarik dengan keterampilanku memasak dan…" ia berhenti sejenak, senyumnya melebar, "…dia menawariku beasiswa untuk melanjutkan kuliahku di Mistland Cuisine Academy di Kiri!"

Sakura menahan napasnya, memekap mulutnya dengan kedua tangan saking terkejutnya—sekaligus senang. Ini benar-benar kabar bagus. Mistland Cuisine Academy adalah sekolah memasak terkenal di Kiri yang sudah melahirkan chef-chef handal di seluruh negeri. Dan itu adalah sekolah yang diimpikan mendiang kakaknya untuk menuntut ilmu! Kalau Yamato mendapatkan beasiswa untuk berkuliah di sana, berarti ia bisa melanjutkan impian Himeko yang tidak kesampaian.

"Ooh.. Yamato, selamaaat…!!" Sakura memeluk kakak-nya erat dengan penuh suka cita. Yamato tertawa senang sambil menepuk-nepuk punggung Sakura. "Jadi, kapan kau berangkat ke Kiri?" tanyanya lagi setelah melepaskan pelukannya.

Senyum di wajah pria muda itu memudar, meskipun tidak sepenuhnya. Ia menggeleng. "Aku mungkin tidak akan pergi—atau setidaknya, menundanya, kalau itu bisa."

Sakura tampak terkejut. "Kenapa? Bukankah itu impianmu dan kakak?"

"Aku tidak bisa meninggalkan restoran dalam keadaan seperti ini, Sakura," ujarnya, membuat hati Sakura mencelos. "Dan ini adalah kabar buruknya."

"Kabar buruk?" Sakura mulai takut. "Apa yang terjadi dengan restoran?"

Yamato menghela napasnya. "Pemasukan restoran mengalami penurunan yang cukup besar beberapa bulan ini, Sakura," ujarnya, "Kami mengalami kesulitan dengan keuangan, belum lagi harga-harga bahan-bahan makanan yang naik semenjak memasuki musim dingin ini. Dan beberapa hari yang lalu, saat ibumu yang ditemani Ayame sedang mengambil uang di bank untuk gaji kami, mereka dirampok."

"Apa? Diramp—Tidak!—ibu tidak pernah cerita apa-apa padaku!"

"Ibumu tidak ingin membuatmu cemas, Sakura. Dan beliau juga melarang kami menceritakan ini padamu. Ayame sendiri sangat shock dengan kejadian itu sampai-sampai tidak bisa bekerja selama beberapa hari. Aku, Paman Teuchi, Ayame, Izumo, Kotetsu dan Isaribi sudah setuju gaji kami dipotong separuh—bahkan Paman Teuchi menolak gajinya sendiri sepenuhnya—sampai masalah keuangan ini terselesaikan, dan hanya karyawan baru saja yang mendapatkan gaji penuh. Tapi ibumu berkeras menggaji kami semua secara penuh. Dia bilang, itu adalah hak kami. Paman Teuchi dan Ayame sebenarnya bisa saja keluar dari restoran dan membuka kedai sendiri, tapi mereka tidak melakukannya. Kami semua berhutang budi pada keluargamu, kami tidak bisa meninggalkan kalian begitu saja."

"Ibu tidak pernah cerita apa-apa padaku…" Sakura mulai terisak sementara perasaan bersalah mencengkeram hatinya seperti cakar besar yang tak kelihatan.

"Terutama ibumu yang telah rela menggunakan hampir seluruh tabungannya untuk menggaji kami dan membiayai semua kebutuhan restoran," lanjut Yamato dengan ekspresi bersimpati. "Padahal ia juga seharusnya memperhatikan kesehatannya sendiri, dan terapi itu tidak murah, kan?"

Sakura terkesiap. "Terapi apa?" sambarnya. "Apa maksudmu—Ibu… apa dia sakit?"

"Aku tidak begitu mengerti," Yamato menggeleng pelan, "Tapi dari yang kudengar dari pamanmu, Kakashi, dan dokter wanita yang sering datang ke restoran, ibumu menunjukkan gejala depresi yang cukup berat semenjak Paman Hiro meninggal. Aku dengar mereka membawanya berkonsultasi ke psikiater—kalau tidak salah namanya dokter Yakushi atau siapa, entahlah, aku tidak begitu ingat. Dan itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Dan sejak perampokan itu, Kakashi-lah yang membiayai pengobatan ibumu, meskipun ibumu menolak pada awalnya."

"Oh, Tuhan… Ibu… depresi? Kenapa tidak ada yang memberitahuku soal ini? Aku kan putrinya…" Air mata mulai menderas di wajah Sakura.

"Karena ibumu ingin melindungimu, Sakura. Melihat kondisimu saat ayahmu meninggal benar-benar membuatnya terluka dan dia tidak mau melihat itu lagi, dia tidak mau membebani pikiranmu. Dia selalu berkata kalau beliau sangat gembira dengan keadaanmu yang sekarang. Putriku sangat bahagia sekarang, dia selalu berkata begitu mengenai dirimu. Tapi dia tidak bisa menipu kami. Kami tahu kondisinya yang sebenarnya. Dia… sangat tertekan. Untung saja selalu ada Kakashi di sampingnya, dia benar-benar menjalani perannya seperti adik yang menjaga kakaknya."

Ya Tuhan… Ya Tuhan… Ya Tuhan… Apa yang sudah kulakukan pada ibuku sendiri? Apa yang sudah kulakukan pada Kakashi…??

Sakura memeluk lututnya, gemetar menangis, sementara dadanya terasa sesak oleh perasaan bersalah. Ternyata selama ini ia telah salah paham terhadap ibu dan pamannya.

"Sebenarnya aku tidak diizinkan mengatakan ini padamu, Sakura. Tapi aku benar-benar tidak tahan melihat wanita yang sudah kuanggap seperti ibuku sendiri menderita seperti ini. Dan kupikir kau memang harus tahu segalanya, terlebih setelah apa yang terjadi antara kau dan Kakashi di sekolah—ya, kami juga tahu tentang itu. Suster Airi yang memberitahu kami. Sekarang dia sedang menjalin hubungan dengan Kotetsu, jadi dia sering datang ke restoran."

Sakura menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. "Aku… sangat jahat. Iya, kan?"

"Tidak. Bukan begitu, Dear…" Yamato berkata cepat-cepat, lalu menarik Sakura ke dalam pelukannya, membiarkan gadis itu menangis di dadanya. "Kau berbuat begitu karena kau tidak tahu situasi yang sebenarnya."

"Aku sudah sangat jahat pada ibu dan paman…" isak Sakura di dada Yamato, suaranya teredam. "Aku melukai mereka…"

"Ssh… jangan bicara seperti itu…" Yamato mempererat rengkuhannya pada tubuh mungil yang gemetaran itu. Hatinya terasa sakit melihat adiknya yang biasanya selalu ceria itu menangis seperti ini—seperti saat Paman Hiro-nya meninggal. Ia bertahan di sana, menemani Sakura menangis sampai akhirnya gadis itu jatuh tertidur karena kelelahan—juga karena pengaruh obat yang baru saja diminumnya.

Dengan lembut, Yamato membaringkan Sakura kembali ke tempat tidurnya, menghapus basah di wajahnya sebelum menutupi tubuhnya dengan selimut. Sebagian dirinya sedikit menyesal telah mengatakan semuanya pada Sakura dan membuatnya menangis seperti itu. Tapi sebagian yang lain merasa bahwa itu adalah hal yang benar untuk dilakukan. Bagaimana pun ia sudah menganggap keluarga Haruno sebagai keluarganya sendiri.

"Maafkan aku, Sakura…" bisiknya sebelum mendaratkan kecupan selamat tidur di kening gadis itu.

-

-

TBC

-

-

7.728 ceritanya saja, dan lebih didominasi dialog. Heu… -garuk-garuk- Menurut kalian gimana? Aneh kah? Maksa kah? –kenapa aku selalu aja gak pe-de?— Mistland Cuisine Academy itu ngarang pisan. Hihihi… Mudah-mudahan gak ada yang keberatan dengan tempat-tempat ngarang yang kubuat, yah.. XD .

Oia, sebenernya chapter ini dibagi dua, tapi akhirnya aku satuin aja. Takutnya nanti malah kebanyakan chapter. Hoho… Bisa sampe chapter berapa nih fanfic? Ceritanya udah kemana-mana gini… Bagian bawah kayanya lebih Sakura-centric, yah? Tapi mudah-mudahan chapter depan bisa menampilkan SasuSakuNaruSai friendship yang lebih lagi. –authornya udah pusing- Ada yang bisa menangkap Sasuke's jelousy di sini? Hehehe… Gimana tuh nanti kalo Sakura udah masuk sekolah dan mereka ngumpul bertiga?

Dan bagian yang bawah, jangan dianggap romance YamaSaku, yah… Meskipun aku fans YamaSaku, tapi di sini mereka lebih kaya kakak adik. Yamato kan pacarnya almarhum kakak Sakura. Romance mereka cukup di Kisah Kita dan APIM saja. Hehehe…

Buat yang udah baca dan review, aku bener speechless dengan hint dan review yang masuk kemarin-kemarin. Maaf banget gak dibalesin satu-satu. –peluk-peluk semuanya-