Chapter 65

---

-

When I'm lost in the rain
In your eyes I know I'll find the light
To light my way, when I'm scared losing ground
When my world is going crazy you can turn it all around
And when I'm down you're there pushing me to the top
You're always there giving me all you've got

-

-

Naruto © Kishimoto Masashi

'I Turn to You' © Diane Warren

-

-

Sakura terbangun keesokan paginya dengan perasaan tidak karuan, seakan ia baru saja mengalami mimpi buruk—yang benar-benar buruk. Kedua matanya masih terasa pedih karena air mata, dan tatkala ia teringat apa yang terjadi semalam, apa yang dikatakan Yamato padanya, itu sama sekali tidak membuatnya merasa lebih baik. Sebaliknya, perasaan bersalah menyerangnya lagi, menusuk-nusuk hatinya seperti belati tajam tak kelihatan. Menyakitkan.

Butuh beberapa menit lagi bagi Sakura sampai ia berhasil menguasai diri. Gadis itu menatap ke arah jendela yang gordennya telah dibuka—pasti oleh ibunya—menampakkan pemandangan putih di luar. Salju sedang turun saat itu. Sementara matanya menerawang menatap butiran-butiran salju yang berputar dipermainkan angin di luar sana, pikirannya kembali dipenuhi kejadian dua hari belakangan.

Aku benar-benar jahat pada mereka, Sakura membatin resah. Ia telah bersikap sangat egois dan keras kepala dengan tidak mau mendengarkan penjelasan ibu dan pamannya. Kalau saja ia tidak bersikap seperti anak kecil dan mau mendengarkan mereka, tidak ada perlu tersakiti seperti ini. Tapi semuanya sudah terlanjur terjadi. Ia sudah terlanjur melukai semuanya, termasuk dirinya sendiri.

Apakah ibu dan pamannya masih mau memaafkannya setelah semua yang diperbuatnya pada mereka? Sakura tidak tahu. Ia masih mengingat tatapan Kakashi yang terluka saat di sekolah, juga di rumah sakit hari sebelumnya. Ia juga tidak bisa melupakan tangisan ibunya saat ia menolaknya.

Tuhan… Rasanya Sakura ingin sekali menampar dirinya sendiri.

Sakura beranjak dari ranjangnya, memakai sweter longgar di atas gaun tidurnya sembari memandangi pantulan wajahnya yang berantakan dalam cermin. Untuk kali itu, Sakura tidak memedulikan bagaimana tampangnya. Ia mengikat rambut panjangnya asal saja sebelum turun.

Azami berada dalam posisi menghadap ke kompor ketika Sakura tiba di dapur, menuang sesuatu seperti bubur yang masih mengepul ke dalam mangkuk. Rambutnya yang merah digelung asal saja di belakang kepalanya, dan—Sakura baru menyadarinya sekarang, selama ini ia tidak begitu memperhatikan—tubuhnya terlihat jauh lebih kurus.

Hati Sakura kembali berdecit sakit dan ia tidak bisa menahan emosinya lagi. Gadis itu berlari ke belakang ibunya, dan sebelum Azami menyadari keberadaan putrinya itu, Sakura sudah mengulurkan kedua tangannya, memeluk pinggang ibunya erat-erat dari belakang.

"S-Sakura?" Azami berkata terkejut. Gerakannya menuang bubur terhenti.

Sakura terisak ke bahu ibunya. "Ibu… maafkan aku, Bu… Maafkan aku…" bisiknya miris.

"Sayang…" suara Azami terdengar parau.

"Seharusnya aku mendengarkanmu. Maafkan aku…" Sakura menenggelamkan wajahnya ke bahu ibunya, menangis.

Azami meletakkan mangkuk bubur di tangannya ke meja, lalu berbalik dan balas memeluk putrinya erat-erat dengan penuh rasa syukur. Di sana, ibu dan anak itu menangis bersama.

Dan untuk pertama kalinya untuk sekian lama, Sakura dan ibunya bicara dari hati ke hati tentang apa yang telah terjadi beberapa waktu belakangan. Azami menceritakan segalanya padanya dengan suaranya yang serak—karena terlalu sering menangis, dan itu karena aku, pikir Sakura pedih—tentang penyakitnya, tentang masalah di restoran dan betapa ia ingin melindungi putrinya tercinta. Meskipun Sakura telah mendengarnya dari Yamato, tetap saja semua itu menimbulkan gelombang emosi yang cukup hebat ketika ibunya mengungkapkan semuanya sekali lagi padanya. Ia menyadari bahwa selama ini ia tidak cukup memperhatikan ibunya, membuatnya merasa seakan kata maaf saja tidak cukup untuk menyembuhkan luka yang telah ia torehkan di hati Azami.

Padahal selama ini ibunya selalu ada untuknya, Sakura membatin. Di saat-saat senang, maupun di saat-saat sulit. Sakura masih ingat bagaimana ibunya selalu ada di sisinya saat ia merasa hancur ketika ayahnya meninggal, dan ia tidak pernah lupa bagaimana Azami terlihat sangat antusias saat Sakura menceritakan padanya tentang drama yang akan dimainkannya dengan pemuda yang sudah lama disukainya. Sementara ia? Apa yang telah dilakukannya untuk sang ibu?

Tidak ada, Sakura menyadari. Segalanya pasti hanyalah tetang dirinya, tentang Sakura, dan untuk kebahagiaannya.

"Ibu kenapa tidak pernah cerita padaku soal ini?" tanya Sakura putus asa, meskipun ia sudah tahu jawabannya.

"Maafkan ibu, Nak…" ujar Azami, "Seharusnya ibu tidak menyembunyikan ini darimu. Ibu tidak akan menyalahkanmu kalau kau marah pada ibu, Nak."

Sakura menggeleng. Gadis itu mengulurkan kedua tangannya untuk menyeka air mata yang membasahi wajah teduh itu, lalu membingkainya dengan tangannya yang pucat. "Kalau Ibu melakukannya hanya karena Ibu sayang padaku, bagaimana aku boleh marah?" ujarnya. "Tapi jangan lakukan itu lagi ya, Ibu…"

Azami tersenyum, lalu mengangguk. "Ibu janji."

Sakura membalas senyumnya sebelum kemudian mengulurkan kedua lengannya untuk memeluk ibundanya sekali lagi. "Aku sayang padamu…"

"Ibu juga sayang padamu."

Separuh beban di hatinya terangkat begitu ia mendengar Azami berbisik padanya. Senyumnya melebar dan Sakura mempererat pelukannya, sebelum akhirnya melepaskannya.

"Aku ingin bertemu Kakashi," ujarnya kemudian.

Azami tampak berseri-seri. "Kalau begitu ibu akan menelepon—"

"Tidak, Bu," Sakura menahan tangan Azami saat ibunya itu hendak meraih gagang telepon di atas meja di samping sofa yang mereka duduki sekarang. Azami melempar pandang bertanya padanya. "Nanti, biar aku yang datang dan bicara pada paman. Ibu jangan mengatakan apa-apa dulu padanya, ya. Please…"

Azami menatapnya beberapa saat lagi sebelum mengangguk. "Kalau itu yang kau inginkan, Sayang." Ia mengulurkan tangannya, merapikan anak rambut Sakura yang terurai ke belakang telinga, tersenyum lembut. "Pamanmu itu sangat menyayangimu. Kau tahu itu?"

"Aku tahu." Sakura tertawa kecil. "Dia kan cowok pertama selain ayah yang mengatakan kalau aku sangat cantik."

Mereka berdua tertawa.

Hari itu mereka lewatkan dalam suasana hati yang benar-benar berbeda dari hari-hari sebelumnya. Benar-benar menyenangkan. Rasanya sudah lama sekali semenjak terakhir kali Sakura menghabiskan waktu berdua saja bersama ibunya. Gadis itu tidak bisa menahan diri berceloteh tentang segala hal—seperti dulu—terutama tentang Neji sementara ia menemani ibunya minum teh, menonton televisi dan memasak untuk makan siang. Dengan menggebu-gebu, Sakura bercerita bagaimana acara kencan-nya dengan cowok itu beberapa malam yang lalu, berusaha tidak melewatkan satu momen pun.

"Anak nakal," komentar Azami sambil terkekeh. Saat itu Sakura baru saja bercerita tentang Neji yang menggendongnya ke mobil setelah makan malam. "Kapan-kapan ibu harus meminta maaf padanya karena anak gadisku yang nakal ini sudah membuatnya repot."

Sakura pura-pura cemberut, tapi tidak lama kemudian ia mengikik. Wajahnya merona kemerahan sementara ia membantu ibunya menuangkan wortel cincang ke dalam kuah kaldu.

Azami tersenyum penuh arti melihatnya. "Kau benar-benar menyukainya, ya?"

Sakura menggigit bibir untuk menahan cengiran, kemudian mengangguk.

"Sepertinya dia memang pemuda baik."

"Pelajar teladan di sekolah. Mana mungkin bukan pemuda baik," timpal Sakura tersipu-sipu.

Azami juga menceritakan padanya tentang Kakashi—dan ini benar-benar membuat Sakura terkejut, sekaligus senang dan sebal dalam waktu bersamaan. Membuatnya semakin tidak sabar untuk segera menemui pamannya itu.

Segalanya terasa semakin lengkap ketika menjelang sore harinya sahabat-sahabatnya datang menjenguk, seperti yang sudah mereka janjikan hari sebelumnya. Saat itu Sakura baru saja selesai mandi dan sedang mengeringkan rambutnya yang panjang dengan handuk ketika pintu kamarnya diketuk.

"Sayang, ini ada teman-temanmu datang," kata suara ibunya dari luar.

"Iya, Bu. Sebentar lagi!" Sakura melempar handuknya ke punggung kursi belajarnya lalu menyikat rambutnya yang masih basah asal saja sebelum meninggalkan kamar.

Di bawah, Sakura mendapati ibunya tengah mempersilakan tiga orang cowok yang sudah sangat di kenalnya duduk. Sakura memang sudah bertemu dengan cowok berambut hitam kebiruan berjaket biru dongker yang berdiri paling dengannya sebelum ini, tapi tetap saja gadis itu tidak bisa menahan dirinya memekik senang.

"SASUKE!!"

Sasuke menoleh, begitu juga dua cowok yang lain, juga ibunya. Sakura tertawa gembira dan serta merta berlari ke arahnya dan melempar kedua lengannya memeluk Sasuke erat-erat, membuat cowok itu nyaris terjengkang ke sofa.

"Oh—Sasuke!! Aku kangen sekali padamu!!" pekiknya.

"Ugh.. Sakura… kau mencekikku…" engah Sasuke. Sekilas, ia tidak bisa menahan diri menyeringai senang, tapi buru-buru mengatur wajahnya kembali datar begitu Sakura melepaskan pelukannya dan melangkah mundur. Gadis itu tersenyum superlebar padanya, menatapnya lekat-lekat dengan tatapan yang membuat Sasuke gugup—yang tentu saja tidak ia perlihatkan terang-terangan.

"Ya, Tuhan… Aku senang sekali melihatmu lagi, Sasuke!" gadis itu berkata ceria sembari masih memegangi kedua tangan Sasuke. "Wow, kau tidak berubah. Masih cakep seperti dulu!" ia terkekeh. Sasuke mengangkat sebelah alisnya, menahan dirinya agar tidak tampak terlalu berpuas diri mendengar kata-kata Sakura.

"Hn."

"Kalau kami, masih cakep juga tidak?" celetuk seseorang di belakang Sasuke.

Sakura berpaling pada cowok berambut pirang dan bermata biru yang sedang menyeringai lebar padanya. Ia balas nyengir.

"Kalian juga," sahutnya tertawa sambil melepaskan tangan Sasuke. "Eh? Ino tidak bersama kalian?" Sakura tidak bisa menahan rasa kecewanya saat menyadari sahabatnya yang satu lagi itu tidak ada di sana.

"Ino titip salam. Katanya tidak bisa datang." Sekilas Naruto mengerling Sai yang entah mengapa berubah agak muram, sebelum kembali memandang Sakura. "Biasalah, sibuk dengan Idate. Tapi katanya besok dia mau datang," Naruto menambahkan sambil tersenyum.

"Begitu…" gumam Sakura, menghela napas.

"Jadi, bagaimana kabarmu?" adalah pertanyaan pertama yang diajukan Naruto setelah mereka duduk nyaman di sofa—Sasuke, Sai dan Naruto yang duduk di sofa, sementara Sakura duduk di kursi berlengan sambil memeluk bantal sandaran kursi. Azami sudah pergi ke dapur untuk mengambilkan minuman bagi mereka.

"Lumayan," sahut Sakura sambil tersenyum. "Masih suka pusing kadang-kadang, tapi keseluruhan sih oke. Mereka bilang aku hanya butuh istirahat, setelah itu pasti sembuh."

"Wajahmu memang masih kelihatan agak pucat," komentar Sai yang sedari tadi tidak bersuara.

Naruto yang duduk di sebelahnya mendengus tertawa. "Seperti sendirinya tidak pucat saja. Kau ini kelihatan seperti vampir—aku pasti akan mengira begitu kalau kau punya taring," guraunya, nyengir.

Sakura terkikik, sementara Sai hanya tersenyum saja seperti biasa. Sasuke tidak berkomentar apa-apa. Mata onyx-nya sedari tadi mengawasi Sakura yang sama sekali tidak menyadarinya. Seperti kata Sai, wajahnya memang terlihat sedikit pucat. Sakura belum sehat betul, pikir Sasuke, tapi caranya tersenyum ceria itu membuat kondisi tubuhnya yang sebenarnya tidak begitu kelihatan.

"Oh ya, Sasuke," suara Sakura membuat Sasuke mengerjap. Gadis itu sedang tersenyum padanya. "Dokter Rin memberitahuku kalau kau dan kak Itachi yang membawaku ke rumah sakit kemarin malam," ujarnya. "Terimakasih banyak, ya."

Sesaat Sasuke tampak bingung.

"Aneh sekali, ya," lanjut Sakura, pandangannya menerawang ke arah jendela, seakan ia sedang berusaha mengingat sesuatu, "Aku sama sekali tidak ingat apa-apa malam itu. Aku hanya ingat aku berlari menembus hujan salju dan segalanya menjadi buram. Saat aku tersadar, aku sudah ada di rumah sakit. Tapi aku ingat melihatmu di sana, Sasuke," ia menambahkan pada Sasuke.

Ternyata Sakura benar-benar tidak ingat, pikir Sasuke. Ia tidak tahu harus merasa lega atau sedih mendengarnya. Lega karena Sakura tidak ingat Sasuke nyaris menabraknya malam itu, dan sedih karena… ia tidak mengingat saat Sasuke memeluknya.

Akh! Sasuke ingin sekali memukul kepalanya sendiri karena punya pikiran seperti itu. Memangnya kenapa kalau Sakura ingat? Toh tidak akan mengubah apa pun, kan?

"Sayangnya Sakura sudah tidur waktu aku datang," keluh Naruto.

Pembicaraan kemudian beralih ke sekolah. Mereka, kecuali Sasuke, tertawa-tawa saat Naruto menceritakan bagaimana serunya rapat pertama mereka sebagai bagian dari panitia festival sekolah hari sebelumnya. Bagaimana Sasuke jengkel luar biasa saat cewek-cewek yang jadi panitia lebih memperhatikan dirinya alih-alih apa yang dikatakannya. Naruto menirukan dengan persis cara Sasuke menggebrak meja, marah-marah di depan anak-anak yang tercengang.

"Tapi anehnya, Menma sepertinya tidak keberatan," kata Naruto dengan nada heran, "Dia malah kelihatan setuju dengan cara Sasuke. Iya, kan, Sasuke?"

Sasuke hanya mengangkat bahu, tidak peduli. Ia sendiri sempat sebal dengan sang ketua OSIS yang menurutnya kurang tegas itu. Pantas saja kinerja anak buahnya menyedihkan, pikirnya.

Sakura merasa amat bersalah ketika Sai memberitahunya Kakashi ditegur kepala sekolah karena kejadian dua hari yang lalu—saat Sakura meneriakinya di koridor. Sai tidak sengaja mendengar beberapa guru mereka membicarakan ini saat Sai mengantarkan laporan praktikum Kimia-nya untuk Pak Shiranui di kantor guru.

"Tidak usah khawatir," kata Sai saat melihat Sakura yang gelisah, "Kurasa mereka tidak akan memecatnya. Itu hanya salah paham saja, kan? Maksudku, tidak benar-benar skan—"

Kata-kata Sai terhenti ketika Naruto menyikut lengannya dan memberinya isyarat dengan gendikan kepala. Azami telah kembali dari dapur dengan membawa beberapa cangkir minuman hangat mengepul di atas nampan. Ia sudah mengenakan mantel bepergian dan syal. Sakura bergegas bangkit untuk membantunya menaruh cangkir-cangkir itu di atas meja. Suasana mendadak sangat canggung—terutama bagi Naruto dan Sai yang cemas kalau-kalau ibu Sakura mendengar apa yang mereka bicarakan barusan. Sementara Sasuke yang belum tahu detil kejadian sebenarnya tidak bereaksi apa-apa.

"Ibu mau pergi ke restoran sebentar," Azami memberitahu Sakura. "Kau tidak apa-apa di rumah, kan?"

Sakura menggeleng. "Tidak apa. Lagipula kan ada mereka," gadis itu mengerling teman-temannya yang—kecuali Sasuke yang tetap kalem—cengar-cengir salah tingkah.

"Kalau begitu Bibi titip Sakura pada kalian, ya?" kata Azami dengan nada ramah pada mereka.

"Ibu…" protes Sakura, pura-pura cemberut. "Memangnya aku anak kecil pakai dititip-titip segala?"

"Serahkan saja pada kami, Bibi!" cetus Naruto, nyengir lebar.

Azami tertawa kecil. "Ya, sudah. Ibu berangkat sekarang. Kau baik-baiklah di rumah." Ia maju untuk memberikan kecupan kecil di kedua pipi Sakura sebelum berbalik untuk mengambil kunci mobilnya di lemari buffet dan pergi.

Dalam situasi biasa, Sakura pastilah sudah sangat malu karena dicium oleh ibunya di depan teman-temannya. Tapi kali ini, ia terlalu mencemaskan pamannya sehingga tidak memikirkan hal remeh-temeh seperti itu. Sakura menggigit bibirnya, sementara pikirannya melayang ke pamannya yang entah sedang apa sekarang, membuatnya semakin ingin segera menemuinya. Bicara padanya. Minta maaf atas segala tuduhan kejam tidak berdasar yang pernah ia lontarkan padanya.

"Jadi kau sudah baikan dengan ibumu?" tanya Naruto.

"Huh?" Sakura jelas tidak begitu memperhatikannya. Ia mengerjap. "Oh, itu…" diawali dengan helaan napas panjang, Sakura mulai menceritakan semuanya; kesalahpahaman antara ia, ibu dan pamannya; dan semua yang diceritakan Yamato padanya malam sebelumnya. "Aku merasa sangat buruk…" ujarnya nyaris berbisik setelah ia menyudahi penuturan panjangnya. Gadis itu menunduk, menghindari tatapan teman-temannya.

"Tapi semuanya sudah selesai, kan?" tanya Naruto ragu.

Sakura mengangguk kecil. "Hanya saja aku belum bertemu dengan Kakashi," ujarnya.

"Kalau begitu temui dia," kata Sasuke tanpa diduga. Sejak Sakura mulai bicara tentang masalah keluarganya, Sasuke sama sekali tidak bersuara.

"Sasuke benar," timpal Sai. "Semakin cepat semakin baik, kan?"

"Tunggu apa lagi," kata Naruto penuh semangat. "Ayo kita pergi ke rumahnya—ah, tapi apa Sakura tidak apa-apa keluar? Hei!" panggilnya pada Sakura yang sudah keburu melesat menuju kamarnya. "Apa tidak apa-apa?" Naruto menatap kedua sobatnya bergantian, "Udara di luar dingin dan Sakura belum sehat betul. Dan kita tidak punya mobil!"

"Apa taksi tidak termasuk kategori mobil?" tukas Sasuke, otomatis membuat Naruto nyengir sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. Sasuke memutar matanya, tak sabar dengan kebodohan sahabatnya itu.

Sementara Sakura mengambil mantel, sarung tangan, topi woll dan syalnya di kamar, mereka memanggil taksi, memastikan mereka memiliki pemanas udara di unitnya. Tidak sampai lima menit berselang, Sakura akhirnya turun, sudah berbalut kostum hangatnya.

"Syalmu, Naruto. Hampir saja lupa." Sakura mengulurkan syal woll hitam yang dipinjamkan Naruto padanya dua hari yang lalu sebelum melesat lagi untuk membuat catatan pesan untuk ibunya yang kemudian ditempel dengan magnet mainan di pintu lemari pendingin.

Beberapa saat kemudian, keempatnya sudah duduk di dalam taksi yang nyaman. Sakura di bangku belakang, duduk diapit Sasuke dan Sai sementara Naruto duduk di depan. Mereka meluncur ke kediaman Kakashi.

-

-

Kakashi duduk di belakang meja kerjanya di rumah. Lembar-lembar tugas Aljabar Tingkat Lanjut untuk kelas tiga yang harus diperiksanya terserak begitu saja di atas meja tanpa mendapatkan perhatian berarti darinya. Penanya menggantung begitu saja di tangannya sementara otaknya menolak diajak berkonsentrasi. Perhatiannya terpecah antara pekerjaan dan masalah yang sedang dialaminya sekarang. Ia tahu seharusnya masalah ini tidak boleh mengganggu kinerjanya sebagai seorang pengajar, bahwa ia harus bisa memilah-milah antara pekerjaan dan masalah pribadi. Beberapa koleganya telah menegurnya karena ini, bahkan kepala sekolah. Dan ia juga mendengar complain dari beberapa muridnya.

Ah, betapa masalah ini telah memengaruhinya begitu besar.

Menyerah, akhirnya Kakashi menurunkan penanya, meletakkannya di atas meja, lalu menghela napas dengan keras seraya menyisir rambut keperakannya asal saja ke belakang, membuatnya berantakan. Tapi ia sama sekali tidak peduli. Mata kelabunya beralih dari tumpukan lembar tugas ke sebuah pigura di pinggir meja kerjanya.

Wajahnya yang sedang tertawa balas memandangnya. Kakashi yang terlihat lebih muda itu tidak sendirian. Ia sedang menggendong seorang anak perempuan kecil berambut merah muda yang dari tampangnya seperti habis menangis, mata hijaunya merah dan bengkak. Sebelah lengan mungilnya memeluk leher Kakashi sementara sebelah lagi dipegangi oleh seorang wanita muda berambut merah muda gelap penuh senyum yang berdiri di sebelah Kakashi, membuat gerakan seperti sedang melambai ea rah kamera. Itu mereka; ia, Sakura dan mendiang istrinya, Ayashi Hatake, yang saat itu masih menjadi kekasihnya. Sebuah bianglala raksasa menjulang di latar belakang.

Seulas senyum muncul di wajah lelah Kakashi tatkala ia teringat bagaimana foto itu diambil. Saat itu Sakura baru berusia sekitar lima atau enam tahun dan baru bertengkar dengan kakaknya, Himeko. Kakashi yang saat itu sedang berkunjung ke rumah calon kakak iparnya bersama Ayashi lantas mengajak Sakura jalan-jalan ke Konoha Land untuk menghiburnya, bertiga saja. Ia ingat meskipun saat itu belum menjadi bagian dari keluarga itu, tapi Sakura sangat dekat dengannya, dan ia sudah menganggap gadis itu seperti putrinya sendiri. Bahkan waktu itu Ayashi bergurau dengan memanggil Kakashi 'Daddy' dan dirinya sendiri 'Mommy' untuk Sakura, dan Sakura benar-benar memanggilnya 'Daddy' saat itu. Mereka benar-benar seperti sepasang orang tua muda dengan putri mereka. Terlebih Sakura memang sangat mirip dengan bibinya.

Tapi sekarang Sakura membencinya. Gadis kecilnya membencinya… Dan itu begitu menyakitkan hatinya.

Ia tidak bisa melupakan saat Sakura serta merta mengusirnya keluar saat di rumah sakit, berteriak kalau ia membencinya dan tidak mau melihat wajahnya lagi. Mata hijau jernih yang biasanya berbinar penuh semangat itu saat itu dipenuhi kebencian. Melihatnya sangat menyakitkannya seperti luka fisik.

Diraihnya foto berpigura itu, dipandanginya lekat-lekat wajah mungil Sakura yang memerah habis menangis, persis seperti wajah yang dilihatnya hari sebelumnya. Hanya saja kali ini, ialah yang menjadi penyebab tangisan itu.

Jemarinya yang panjang gemetar mengusap kaca yang melapisi fotonya. Matanya beralih pada sosok wanita muda yang berdiri di sebelahnya, tersenyum lembut padanya.

'Aya… kalau kamu jadi aku, apa yang akan kamu lakukan? Kamu… yang selalu bisa menghadapi Sakura…'

"Kau tahu, Kakashi, aku selalu cemburu setiap kali kau memandangi foto itu," kata suara seseorang membuat perhatian Kakashi otomatis teralih. Entah sejak kapan Rin sudah berdiri di sebelah mejanya dengan membawa dua buah mug berisi sari jahe hangat untuk mereka berdua. Wanita itu turut memandangi foto di tangan Kakashi, tersenyum kecil. "Istrimu sangat cantik."

"Aa…" Kakashi balas tersenyum, lalu kembali memandang fotonya.

"Sakura mirip sekali dengannya," imbuh Rin, bergerak ke belakang Kakashi supaya bisa melihat lebih jelas, "Hanya saja warna rambut dan matanya berbeda, lebih gelap."

"Banyak yang bilang begitu," kata Kakashi, "Dan Aya memang paling pandai menghadapi Sakura sejak kecil. Setiap kali Sakura menangis pasti akan langsung tenang kalau Aya sudah menggendongnya."

"Ah, ya…" Rin tersenyum, "Aku ingat saat kami masih sama-sama di kampus. Ayashi Hiyama adalah salah satu mahasiswa yang jadi relawan untuk panti asuhan tidak jauh dari kampus kami. Dia sangat menyukai anak-anak, ya, kan? Gadis yang sangat menyenangkan menurutku, walaupun kami berbeda jurusan dan aku tidak begitu mengenalnya. Dan Sakura benar-benar mengingatkanku padanya, setidaknya fisiknya."

Sekali lagi Kakashi menghela napas berat. Diletakkannya foto berpigura itu di tempatnya semula.

"Kakashi…" Rin memandang prihatin saat dilihatnya mata kelabu itu kembali berkabut. Ia kemudian duduk di lengan kursi yang diduduki Kakashi. Dengan lembut ia meletakkan lengannya di pundak pria itu setelah sebelumnya meletakkan mug-mug yang dibawanya di atas meja, kemudian direngkuhnya perlahan sehingga kepala Kakashi rebah di bahunya. "Maafkan aku. Aku tidak bisa membujuk Sakura seperti yang dilakukan Aya."

"Jangan salahkan dirimu, Rin. Kau sudah bantu kami apa yang kau bisa, dan aku sangat menghargai itu. Kurasa Azami juga," ujar Kakashi parau. "Terimakasih sudah berada di sisiku." Ia meraih tangan Rin di bahunya, menggenggamnya penuh terimakasih.

Rin balas meremas tangannya, mengeratkan rengkuhannya. "Aa…"

Lama mereka dalam posisi seperti itu tanpa seorang pun dari mereka berkata-kata. Cukup dengan tangan yang saling menggenggam, menguatkan, Kakashi merasakan sedikit bebannya perlahan terangkat.

Suara bel dari pintu depan lah yang akhirnya membuat keduanya saling melepaskan diri. Entah siapa tamu yang datang menjelang senja seperti ini. Rin kemudian beranjak dari tempatnya.

"Biar aku yang buka pintunya," ujarnya sambil tersenyum yang dibalas Kakashi dengan anggukan, kemudian melesat meninggalkan ruangan.

Sementara Rin membukakan pintu depan, Kakashi kembali mengambil penanya, mencoba berkonsentrasi kembali pada pekerjaannya yang sempat terbengkalai. Sesekali menyesap sari jahe yang dibuatkan Rin untuknya.

Samar-samar, Kakashi bisa mendengar suara orang-orang berbicara dari arah bawah—ruangan kerjanya ada di lantai dua rumahnya. Sepertinya lebih dari seorang, dua orang atau lebih… Siapa? Didorong rasa penasaran, ia kemudian beranjak dari tempatnya. Namun sebelum ia mencapai pintu, Rin muncul. Ekspresinya cerah, mata cokelatnya berbinar-binar.

"Ada yang ingin bertemu denganmu," beritahunya sambil tersenyum lebar.

"Siapa?"

Rin menjawabnya dengan membuka pintu lebih lebar, kemudian menepi sehingga Kakashi bisa melihat ke belakangnya. Jantungnya seakan berhenti berdetak ketika melihat sosok gadis muda yang terus memenuhi pikirannya selama beberapa hari terakhir berdiri di sana. Sakura, dengan rambut merah mudanya yang panjang terjurai di sisi wajahnya yang menampakkan ekspresi gelisah. Tanganya yang pucat meremas-remas topi wollnya.

"Sakura…??"

Mata hijau milik keponakannya menatapnya ragu-ragu. Sakura menggigit bibirnya sekilas sebelum menyunggingkan senyum tertahan. "Paman…" ucapnya ragu.

Kakashi tersenyum, kelegaan serta merta memenuhi hatinya saat itu juga. Ia maju. Namun Sakura lebih cepat, karena detik berikutnya gadis muda itu sudah menghambur ke arahnya, kemudian masuk ke dalam pelukannya. Kakashi bisa merasakan sweternya lembab saat Sakura mulai menangis di dadanya sambil berulang-ulang mengatakan maaf dengan suara teredam. Ia merapatkan pelukannya, menekan dagunya di puncak kepala gadis yang kini terisak tak terkendali di dadanya. Dari atas kepala Sakura, Kakashi bisa melihat Rin tersenyum penuh arti padanya sebelum mengatakan tanpa suara kalau ia akan menunggu di bawah, membiarkan paman dan keponakan itu bicara dari hati ke hati berdua saja.

Kakashi kemudian membimbing Sakura duduk di sofa tua di sebelah rak buku sementara gadis itu masih gemetaran oleh sedu sedan.

"Sshh… Sakura, sudahlah…" dengan lembut, disekanya air mata di wajah keponakannya dengan ibu jarinya.

"Maafkan aku…" Sakura mengisak untuk kesekian kalinya, seakan satu kata saja masih belum bisa memuaskannya. "Aku salah… seharusnya aku mendengarkanmu… seharunya aku tidak menuduhmu… seharusnya…"

"Sudah, sudah…" sela Kakashi, tidak tahan melihat keponakan yang disayanginya teramat dalam itu menyalahkan dirinya sendiri. Direngkuhnya sekali lagi gadis itu sehingga Sakura bersandar di dadanya, lalu menepuk-nepuk lengannya pelan. "Jangan menangis lagi, Nak."

"Paman benar-benar memaafkan aku? Setelah apa yang sudah kulakukan padamu?" tanya Sakura di antara isakannya. Ia mengangkat kepalanya dari dada sang paman, lalu menatap matanya. "Aku benar-benar menyesal."

Kakashi tersenyum, mengusap sisa air mata di pipi Sakura yang memerah akibat menangis. "Aku tahu. Seharusnya kami juga memberitahumu sejak awal. Itu juga salah kami, Dear."

"Yamato memberitahuku semuanya semalam," ujar Sakura, "Aku benar-benar egois, kan?"

"Itu karena kau tidak tahu, Sakura. Jangan bicara seperti itu."

Sakura menatap Kakashi lama. Melihat pamannya yang begitu baik dan langsung memaafkannya semakin membuatnya merasa bersalah. Ia lantas menundukkan wajahnya. "Kudengar Paman ditegur kepala sekolah gara-gara aku…"

Kakashi tampak terkejut, tapi segera menguasai diri. "Jangan khawatirkan itu. Ini tidak ada hubungannya denganmu, Sakura."

"Tapi kalau aku tidak berteriak-teriak seperti orang bego di koridor waktu itu, pasti anak-anak tidak akan membicarakannya dan kau…"

"Sakura, dengarkan aku," sela Kakashi sabar. Tangannya di bahu Sakura. "Anggap saja kejadian waktu itu tidak pernah terjadi, oke? Jangan menyalahkan dirimu karena itu. Itu hanya salah paham, Nak, dan yang penting sekarang kau sudah tahu semuanya."

Sakura mengusap sisa air mata di wajahnya, masih menunduk. "Aku merasa sangat buruk waktu tahu kejadian yang sebenarnya. Tega sekali aku menunduhmu dan ibu yang bukan-bukan."

"Aku mengerti."

"Padahal ibu dan Paman berhak mendapatkan kebahagiaan. Iya, kan?"

Kakashi menatap gadis itu tak mengerti.

"Ibu pasti sangat kesepian semenjak ayah tidak ada," berhenti sejenak, "Aku sempat berpikir kalau Paman benar-benar jadi ayahku…"

"Kau ini bicara apa?" kata Kakashi terkejut. "Tidak ada yang bisa menggantikan posisi ayahmu di hati ibumu, Sakura."

"Aku tahu." Gadis itu mendongak, tersenyum. "Ibu juga sudah memberitahuku kalau Paman sudah bertunangan dengan wanita lain—dokter Rin. Paman tega sekali tidak pernah memberitahuku sebelum ini."

Beberapa saat Kakashi hanya bisa tercengang mendengar kata-kata Sakura. Bukannya ia sengaja tidak memberitahukan ini pada Sakura, hanya saja ia menunggu waktu yang tepat, memberitahunya sebagai kejutan. Tetapi masalah yang menimpa kakak iparnya membuat perhatiannya benar-benar teralih.

"Maaf…" ucapnya kemudian.

Senyum di wajah Sakura melebar. "Aku menyukainya. Apa mulai sekarang aku harus memanggilnya Bibi Rin?"

Kakashi tertawa kecil, lalu mengulurkan tangan mengacak rambut merah muda Sakura. "Kurasa dia tidak akan keberatan."

"Dan aku masih boleh menganggapmu seperti ayahku, kan?"

"Tentu saja."

Sakura langsung berseri-seri, sebelum kemudian mengulurkan kedua tangannya memeluk sang paman erat-erat. "Thanks. I love you, 'Daddy'."

Kakashi balas memeluknya hangat. Hatinya diliputi kelegaan luar biasa saat Sakura memeluknya. Sudah selesai, pikirnya, putri kecilnya telah kembali. Dan Kakashi tidak akan membiarkan kesalahpahaman sekecil apa pun merusak hubungan mereka.

"I love you too."

Sakura tersenyum di bahu Kakashi. Rasanya déjà vu, seperti saat ayahnya sering memeluknya dahulu. Hangat, penuh perlindungan. Dan ia tahu ia selalu bisa mengandalkan pamannya.

Selalu.

-

-

For a shield from the storm, for a friend, for a love
To keep me safe and warm, I turn to you
For the strength to be strong, for the will to carry on
For everything you do, for everything that's true, I turn to you

-

-

Keesokan harinya tidak bisa lebih menyenangkan lagi bagi Sakura. Meskipun ia harus ekstra beristirahat karena kelelahan. Rupanya kegairahan yang ia rasakan malam sebelumnya, saat Kakashi mengajaknya makan malam bersama di Blocaf, dengan Sasuke, Naruto dan Sai juga, membuat energinya terkuras habis.

Seperti yang dikatakan Yamato padanya, restoran keluarganya itu memang terlihat sepi dari pada yang pernah dilihat Sakura sebelum ini. Hanya ada beberapa pengunjung saja saat mereka tiba di sana. Bahkan Yamato tampak menganggur dan hanya duduk-duduk saja di konter, mengobrol dengan Azami, Ayame dan yang lain. Tapi semua itu tampak tidak terlalu berarti saat mereka semua duduk dalam satu meja, makan dan tertawa bersama.

Sakura juga sudah bertemu dengan Gantetsu, koki baru yang pernah diceritakan Yamato padanya. Pria bertubuh tinggi besar itu bermuka sangar, tetapi sangat ramah dan baik hati. Sakura langsung menyukainya. Ia juga dengan gembira menggodai Kotetsu yang sudah jadian dengan perawat sekolahnya, suster Airi, yang juga sedang berkunjung di sana malam itu. Yah, meskipun restoran keluarganya tengah dirundung masalah keuangan, tapi nampaknya itu tidak menghalangi benih-benih cinta tumbuh di sana. Sakura bisa melihat Isaribi yang mulai dekat dengan Izumo, Ayame yang tidak malu-malu lagi di depan Yamato dan yang paling jelas tentu saja—Kotetsu dan perawat sekolahnya, yang malah mojok sementara yang lain makan.

"Oh, Sasuke, terimakasih banyak, ya!" pekik Sakura senang siang harinya. Saat itu Sasuke, Naruto dan Sai datang menjenguknya lagi dan Sasuke baru saja memberinya salinan catatan pelajaran dan tugas-tugas selama tiga hari Sakura tidak masuk. Tidak selengkap kalau Sakura mencatatnya sendiri, tapi lebih baik dari pada tidak ada sama sekali, kan?

"Hn," sahut Sasuke datar.

"Kami berdua juga bantu bikin, lho…" kata Naruto, menunjuk dirinya dan Sai.

Sakura tersenyum pada mereka berdua. "Kalau begitu terimakasih pada kalian berdua juga."

"Ini ide Sasuke," beritahu Sai dengan senyumnya yang biasa, "Katanya kau bisa uring-uringan dan menyebalkan kalau tertinggal pelajaran."

Sasuke langsung membeliak padanya—yang diabaikan Sai. Sementara Sakura hanya meringis pada Sasuke, tercabik antara senang dan jengkel padanya. Di sebelah Sai, Ino yang kali itu ikut datang bersama mereka terkikik geli.

"Sai jujur sekali," komentarnya terkekeh sambil menjawil Sai dengan lengannya, tanpa menyadari tindakannya barusan membuat cowok itu berjengit seperti tersengat listrik.

Sai bertemu pandang dengan Naruto, kemudian berpaling sambil tertawa gugup. Naruto meringis. Sementara Sasuke sama sekali tidak menyadari perubahan atmosfir di antara kedua temannya karena terlalu sibuk sebal ketika Sakura dan Ino mulai membicarakan topik yang paling sering dibicarakan cewek, apa lagi kalau bukan tentang cowok. Dan dalam hal ini, Neji. Sakura berkali-kali terkikik sambil mencengkeram bantalnya, wajahnya bersemu kemerahan. Cute, tapi tetap saja menyebalkan.

Sasuke memutar bola matanya, lalu berpaling pada Naruto dan Sai yang entah sejak kapan menyingkir ke sudut kamar Sakura, berbicara dengan suara rendah. Sai tampak agak gelisah dan tidak nyaman. Sementara tampang Naruto, seperti berusaha keras menahan cengirannya. Ia menepuk-nepuk pundak Sai. Sasuke menghela napas bosan.

Memang susah kalau naksir gadis yang sudah jadi milik orang, kan? Sama susahnya dengan orang yang jatuh hati pada sahabat sendiri. Damn! Sasuke benar-benar membenci suasana seperti ini.

"Hei, Sasuke!" panggil Sakura sementara Ino turun untuk mengambil minuman di dapur.

"Hn?" Sasuke menatapnya bosan.

Sakura tersenyum malu-malu sebelum menanyakan pertanyaan yang membuat Sasuke ingin sekali menendang sesuatu, "Kau kan pernah bilang kalau kau mengenal Neji sejak kecil, kan? Cerita dong bagaimana dia waktu kecil. Lalu…"

Sasuke tidak begitu mendengarkan sisanya karena telinganya mendadak berdenging tanpa alasan jelas, membuatnya pening. "Biasa saja," sahutnya kemudian dengan nada yang dipaksakan terdengar datar dan biasa.

Sakura cemberut. "Pasti ada kata-kata lain selain 'biasa saja' kan?"

Sasuke memutar matanya dengan lagak bosan. "Aku sudah pernah cerita padamu," ujarnya, "Tapi kalau kau ingin tahu, dia itu sangat menyebalkan dan kami sering berkelahi."

Sakura menatapnya tak percaya. "Masa?—ah, paling kau yang menyebalkan dan menantangnya berkelahi."

"Kau ngomong begitu bukan karena kau sedang ada masalah dengan Neji kan, Sasuke?" tanya Naruto tanpa diduga. Matanya agak menyipit, memandang Sasuke penuh selidik.

"Aku tidak sedang bermasalah dengan Neji," tukas Sasuke kesal.

"Tapi kau kelihatannya tidak terlalu menyukainya," kata Sai sambil mengangkat bahu. Ia tampak lebih santai semenjak Ino meninggalkan ruangan.

Sebelum Sasuke sempat membuka mulut untuk membantahnya, Ino tiba-tiba muncul di pintu, memekik girang, "Sakura! Panjang umur! Dia ada di sini!"

"Huh?" Sakura mengerjap tak mengerti.

"NEJI! Aku melihat mobilnya di depan!"

Ino segera menyeberangi kamar dan mengintip ke jendela. Sakura juga sudah melompat dari tempat tidurnya, penasaran. Naruto juga ikut mengintip. Sasuke membelalak pada mereka, sementara Sai tampak tidak ingin terlalu dekat dengan Ino, jadi dia bertahan di tempatnya semula.

Benar saja. Sebuah jaguar silver terparkir di depan halaman dan sesosok cowok jangkung berambut cokelat yang tampak gagah dalam balutan mantel berwarna cokelat pastel tampak sedang berjalan melintasi halaman. Mereka terpaku di sana sampai kemudian terdengar bel pintu depan berbunyi. Suara ibu Sakura menyahutnya kemudian.

Jantung Sakura serasa melompat di rongganya dan ia mulai panik. "Oh, tidak… Oh, tidak… Dia datang! Bagaimana ini..??"

Ino mendorong Sakura supaya duduk di ranjangnya. "Kau berbaring saja di sana. Dia kan tahunya kau sedang sakit.."

"Oh, yeah, benar.." Sakura buru-buru menyusup ke dalam selimut. Tidak benar-benar berbaring, hanya bersandar pada kepala ranjang yang sudah dialasi bantal.

"Cih!" dengus Sasuke pelan sekali sehingga tidak ada yang mendengarnya.

Naruto dan Sai hanya bisa melongo memandang kesibukan kedua gadis itu. Benar-benar tidak habis pikir.

Tak lama kemudian Azami muncul di pintu. "Sakura, Sayang. Ini ada Neji datang," beritahunya. Ia kemudian minggir untuk memberi jalan pada cowok jangkung di belakangnya.

Neji melangkah masuk. Mantelnya sudah tersampir ke lengannya yang ditutupi kaus polo putih gading, dan ia membawa sekeranjang kecil buah segar dan tas kecil di tangannya. Cowok itu tidak tampak terkejut melihat mereka semua ada di sana. Setelah mengedarkan pandangan berkeliling, ia lantas memandang Sakura yang duduk di ranjangnya. Neji menyunggingkan senyum kecil padanya—membuat Sakura salah tingkah—sebelum menyapanya, "Sakura."

"H-hai," balas Sakura gugup.

Sasuke menahan diri sekuat tenaga untuk tidak mendelik ketika Neji berjalan melewatinya mendekat ke tempat tidur Sakura.

Ino buru-buru memberi isyarat pada yang lain untuk meninggalkan kamar. Namun Sasuke—seperti tidak mengerti isyarat dari Ino—masih bergeming di tempatnya dengan kedua lengan terlipat di depan dada, sementara Naruto dan Sai sudah lebih dulu meninggalkan kamar.

"Sasuke," desak Ino sambil menarik lengan Sasuke. Meskipun tidak senang, akhirnya Sasuke terpaksa mengikuti desakan Ino untuk keluar kamar dan membiarkan Neji dan Sakura berdua saja—dengan pintu tetap terbuka lebar, tentu saja.

"Bagaimana kabarmu?" tanya Neji setelah Sasuke dan Ino pergi. Ia sudah duduk di tepi tempat tidur Sakura.

"Baik," sahut Sakura seraya menyunggingkan senyumnya yang paling manis, "Besok aku sudah bisa pergi ke sekolah, kok."

Neji membalas senyumnya. "Kalau begitu aku terlambat, ya?"

Sakura buru-buru menggeleng. "Tidak. Aku senang kau datang menjengukku."

"Begitu kah?" Neji tertawa kecil, yang membuat Sakura gugup lagi. Kemudian cowok itu meletakkan keranjang buahnya di meja sebelah tempat tidur Sakura, di sebelah bungkusan obatnya. "Aku bawakan buah," ujarnya. "Dan ini." Ia mengangsurkan tas kecil yang dibawanya.

"Apa ini?" tanya Sakura otomatis saat menerima tasnya.

"Buka saja."

Sakura membuka tasnya dengan penasaran. Gadis itu menarik napas cepat ketika melihat apa yang ada di dalamnya; segala hal yang berhubungan dengan pertunjukan drama yang akan mereka pentaskan nanti, La Traviata. Mulai dari video pertunjukkan, dvd filmnya, buku yang memuat lengkap tentang versi operanya termasuk gambar-gambar setting dan kostum, naskah asli yang sudah diterjemahkan dan novelnya.

"Kupikir kau akan senang mempelajarinya," kata Neji, "Aku bisa meminjamkannya padamu kalau kau mau. Tapi novel itu, kebetulan beberapa hari yang lalu aku melihatnya di toko buku. Itu untukmu."

Untuk beberapa saat tampaknya Sakura tidak bisa berkata apa-apa saking takjubnya. Ia kemudian mengambil buku kecil tebal dari dalam tas. Judul 'Princess of Camelia' tertulis di bagian depan sampulnya. "Ini untukku?" Sakura bertanya ragu.

Neji mengangguk. "Untukmu. Kudengar kau suka baca novel."

"Ya," Sakura menyahut antusias. Senang karena Neji ternyata memperhatikan hobinya di saat senggang. "Terimakasih banyak, Neji."

Neji tersenyum padanya. Tampan sekali. Sakura harus menahan diri sebisa mungkin untuk tidak memeluknya saat itu juga.

Sementara itu, di bawah, Sasuke, Naruto, Sai dan Ino menunggu mereka di ruang keluarga sambil berbincang-bincang dengan ibu Sakura. Sebenarnya yang berbincang dengannya hanya Ino dan Naruto saja, sedangkan Sai dan Sasuke lebih banyak diam. Sai tak hentinya mencuri-curi pandang ke arah Ino.

Bagaimana dengan Sasuke?

Dia seakan tidak bisa menahan diri untuk terus menjulurkan leher ke arah tangga menuju kamar Sakura setidaknya setiap dua menit sekali.

"Kau kenapa, Sasuke? Sakit leher?" Mata Naruto menyipit curiga.

-

-

TBC…

-

-

Gyaaah~~ another chapter aneh. Sedang gak ada mood nih, tapi aku sangat menikmati menulis bagian terakhir—yah, walaupun agak monoton. Tak apa lah.. Yeah, viva la NejiSakuSasu dengan Sasukebe sebagai objek penderita! Mwahahaha… -ketawa setan- Sori juga karena udah bikin OC-self-insert-ku jadian sama Hagane Kotetsu-kun. =_=' Dan bagian KakaSaku, jangan dilihat sebagai romance, please… Di sini mereka itu seperti ayah sama anaknya.

Um… lagu 'I Turn to You' itu aku masukin atas dasar kepingin aja sebenernya. Gak tau nyambung gak sama ceritanya. –jangan ditiru, ya- Habis aku selalu dengeri lagu itu (yang versi Christina Aguilera) pas nulis part pertama chapter ini, dan melototin MV-nya yang emang mengharukan itu.

Um… A/N selanjutnya tar menyusul…