Chapter 66

Sakura mengawali hari itu dengan perasaan luar biasa riang. Wajahnya tampak cerah ketika ia memandangi bayangan dirinya dalam cermin pagi itu. Sepertinya kejadian menyenangkan hari sebelumnya telah memberinya energi tambahan untuk menghadapi hari ini. Oh, Sakura merasa bersemangat sekali. Rasanya tidak sabar sampai di sekolah dan bertemu teman-teman dan para guru.

Gadis itu mengadip pada bayangannya sendiri dalam cermin sebelum berpaling untuk mengambil mantelnya, memakainya di atas sweter merah muda pemberian Kakashi saat ulang tahunnya yang keenambelas tahun lalu, kemudian menyambar tas sekolahnya. Ah, dan novel pemberian Neji yang sudah ia baca beberapa halaman semalam.

"Ceria sekali anak Ibu," sapa Azami begitu Sakura turun ke dapur untuk sarapan. Bubur hangat sudah tersedian di atas meja bersama segelas susu dan telur.

"Selamat pagi," Sakura mencium pipi ibunya, lalu duduk. "Sudah tidak sabar sampai di sekolah," ujarnya sambil mengambil gelas susunya dan menyeruputnya sedikit.

Azami tersenyum, kemudian duduk di bangku di depan Sakura. "Kau kan baru kemarin sore bertemu Neji," godanya, serta merta membuat pipi anak gadisnya merona merah karena malu.

"Ah, Ibu ini…" protesnya. Azami terkekeh.

Tepat setelah mangkuk bubur dan gelas susu Sakura tandas, terdengar suara klakson dari depan rumah.

"Mungkin itu pamanmu. Dia bilang mau menjemputmu hari ini," beritahu Azami. Ia beranjak dari bangkunya dan mengintip di jendela. Di depan rumah, tampak mobil sedang perak keluaran lama—mobil Kakashi. "Ah, benar. Itu dia."

"Paman menjemputku? Tumben…" Sakura mengelap sisa susu di sudut bibirnya dengan serbet seraya menjulurkan leher ke arah jendela untuk melihat ke luar.

"Sebaiknya kau bergegas, Sayang," kata Azami.

"Hmm.." Sakura meletakkan serbetnya di atas meja dan bergegas meninggalkan dapur untuk memakai sepatunya. Ibunya menyusul kemudian dengan membawakan tasnya yang tertinggal di dapur—saking bersemangatnya sampai-sampai terlupa barang yang benar-benar penting. Ia juga nyaris tergelincir di tangga dengan alasan yang sama.

"Hati-hati, Sakura!" seru ibunya sambil tertawa melihat anaknya begitu terpeleset-peleset di halaman yang licin karena es menuju mobil pamannya.

"Selamat pagi!" sapa Sakura sedikit terengah ketika akhirnya ia berhasil melompat masuk ke bangku depan mobil Kakashi tanpa cedera.

"Pagi, Little Red Ridding Hood," sapa Kakashi, merajuk pada mantel bertudung sepanjang lutut berwarna merah menyala yang dikenakan keponakannya itu. Sakura hanya nyengir, kemudian menutup pintu mobil sebelum mereka meluncur perlahan meninggalkan Blossoms' Street.

Obrolan seru segera saja terjadi antara paman dan keponakan itu. Meskipun obrolan lebih didominasi Sakura sementara Kakashi hanya menanggapi beberapa kali sambil tertawa, namun Kakashi sangat menikmatinya. Dibiarkannya saja keponakannya itu mengoceh, mengomentari ini itu, seakan obrolan keduanya hari sebelumnya belum cukup. Bahkan ia tidak keberatan ketika Sakura mulai menggoda hubungannya dengan Rin.

Pemandangan serba putih mendominasi di sepanjang jalan menuju Konoha High. Tumpukan salju menutupi hampir setiap sudut jalan. Sebuah truk pengeruk salju tampak sedang membersihkan jalanan di Crimson Drive ketika mereka melintas di sana.

Sakura membuka jendela mobil ketika mereka melewati rumah nomor 9. Seorang remaja laki-laki berambut hitam mencuat di bagian belakangnya baru saja keluar dari dalam rumah, terbalut mantel hitam yang kancingnya dibiarkan terbuka, menampakkan kaus abu-abu di baliknya. Bagian bawah jeans-nya yang sudah terlihat agak belel dibiarkan sedikit terinjak sol sneakers-nya. Tas punggung tersampir di bahunya yang bidang.

"Sasuke!" sapa Sakura riang sambil melambai.

Sasuke menoleh ke sumber suara, terlihat agak terkejut melihat Sakura. Namun ia tetap melambaikan tangannya sekilas untuk menjawab sapaan temannya.

"Boleh mengajak Sasuke juga?" Sakura bertanya penuh harap pada pamannya.

"Tentu," sahut Kakashi sambil tersenyum. Ia menepikan mobilnya sementara Sakura kembali melongok ke jendela yang terbuka untuk memanggil Sasuke.

Beberapa saat kemudian mereka kembali melanjutkan perjalanan dengan Sasuke duduk di bangku belakang, terlihat agak canggung. Sakura menoleh ke belakang, ke tempatnya duduk, tersenyum padanya. "Wow, akhirnya kita bisa sama-sama lagi di sekolah, ya!" ujarnya ceria.

"Aa.." Sasuke menyahut kaku sebelum memalingkan wajahnya ke arah jendela, memandang ke deretan rumah-rumah yang mereka lewati tanpa benar-benar menatapnya.

"Bagaimana kabar Itachi, Sasuke?" Kakashi bertanya kemudian, menatap muridnya melalui kaca spion.

Sasuke berpaling dari jendela. "Kakak baik," jawabnya dengan nada datarnya yang biasa.

Kakashi tersenyum tipis. "Sibuk seperti biasa kukira?"

"Ya."

"Oh, aku ingin ketemu Kak Itachi!" timbrung Sakura, kembali menoleh ke bangku belakang. "Aku belum berterimakasih padanya soal yang waktu itu."

Sasuke memandang Sakura yang tersenyum dengan ekspresi tak terbaca di wajahnya, seperti ada sesuatu yang membebani pikirannya saat itu. Namun sepertinya Sakura tidak begitu memperhatikannya, karena saat berikutnya gadis itu sudah berpaling untuk mengganti siaran di radio mobilnya. Alunan riang musik pop langsung terdengar dari pengeras suara.

"Ooh, I got a crush on you
I hope you feel the way that i do
I get a rush when I'm with you
Ooh, I've got a crush on you
A crush on you"

Sakura turut bernyanyi riang bersama penyanyi di radio itu. Kakashi tertawa kecil di sampingnya, mengulurkan tangan untuk mengacak rambut merah muda Sakura yang dikepang dua. Gadis itu menjerit memprotes sebelum tawanya pecah. Di bangku belakang, Sasuke tidak bisa menahan senyumnya, yang kemudian buru-buru ditutupinya dengan memalingkan wajahnya kembali ke jendela.

Tidak sampai sepuluh menit kemudian akhirnya mereka akhirnya tiba di gedung kampus Konoha High yang beratap merah. Tampak anak-anak mulai berdatangan dari segala penjuru, saling sapa dengan riang dan mengobrol. Guru piket yang sedang berdiri di dekat gerbang utama, Pak Aoba Yamashiro, menyapa mereka saat mobil yang mereka tumpangi memasuki halaman kampus. Melihat sekolahnya lagi setelah beberapa hari absen membuat semangat Sakura semakin terangkat.

"Sepertinya popularitasmu tidak berubah dari sejak kau ke Oto, ya," komentar Sakura terkekeh ketika ia dan Sasuke melewati serombongan anak perempuan yang sedang berkerumun di depan salah satu kelas—mereka langsung mengikik ketika Sasuke lewat—menuju koridor loker. Saat itu mereka sudah berpisah dengan Kakashi yang langsung menuju kantor guru di lantai berikutnya.

Sasuke menyahutnya dengan gerutuan samar, jelas tidak begitu tertarik dengan perhatian gadis-gadis pada dirinya. Hanya satu gadis yang ia inginkan perhatiannya sekarang, hanya saja gadis itu tidak menyadarinya karena matanya terlanjur terpacang pada orang lain. Sasuke mengerling gadis yang berjalan di sebelahnya, yang kini sedang membalas sapaan Sasame Fuuma dengan keriangan yang tampak jelas. Hatinya mendadak bimbang. Ia bertanya-tanya sendiri dalam hati, bagaimana nasibnya bisa begini buruk jatuh hati pada sahabatnya sendiri? Ini benar-benar sulit baginya.

Sebuah tepukan keras yang mendarat mendadak di bahunya membuat lamunannya langsung buyar seketika.

"Selamat pagii!!" sapa Naruto dengan suara begitu keras sampai-sampai membuat telinga siapa pun yang mendengarnya dalam radius tiga meter darinya berdenging.

"Oi! Kau mau membuat telinga orang tuli atau apa?" tukas Sasuke kesal—yang diabaikan Naruto.

"Pagi, Naruto," balas Sakura. Berbeda dengan Sasuke, gadis itu tersenyum lebar pada si cowok pirang pemilik bola mata sebiru langit.

Naruto telah menyelip di antara keduanya, mengalungkan sebelah lengannya di bahu Sasuke dan sebelah lagi merangkul Sakura. "Pagi yang cerah, ya…" komentarnya.

"Hmm…" Sakura menggumam setuju, sementara Sasuke masih tidak menanggapi.

"Dan manusia satu ini masih saja bermuka masam," Naruto mengacak rambut Sasuke. "Sedang PMS kah dirimu, Sa-su-ke?"

"Berisik!" Sasuke menepis tangan Naruto yang tertawa-tawa. Sakura mengikik, memukul Naruto main-main.

"Sakura?" sapa seseorang dari belakang mereka.

Ketiga sahabat itu otomatis menoleh dan mendapati seorang gadis kelas tiga dengan rambut cokelat gelap dicepol dua berdiri di dekat tangga bersama beberapa gadis kelas tiga yang lain. Sepertinya mereka hendak menuju ke kelas mereka. Tenten berpaling pada teman-temannya sejenak, mengatakan sesuatu pada mereka, sebelum berjalan menghampiri Sakura.

"Kalian duluan saja deh," kata Sakura pada Sasuke dan Naruto. Kedua cowok itu mengangguk dan berlalu dari sana sambil mengobrol—tepatnya Naruto yang mengoceh sementara Sasuke mendengar dalam diam.

"Hai," sapa Tenten cerah pada Sakura. Mata cokelatnya berbinar selagi ia tersenyum. "Kau sudah baikan?"

"Yeah…" sahut Sakura, mendadak tak enak sendiri. "Maaf, waktu itu aku bolos latihan."

Tenten menggeleng kecil, masih tersenyum. "Tidak apa-apa, aku mengerti. Lagipula, waktu itu latihannya tidak begitu serius. Kami hanya membicarakan soal properti panggung dan musik latar." Ia mengerling punggung Sasuke yang menjauh. "Kuharap kita tidak merepotkan temanmu, karena banyak sekali properti yang harus dibuat. Properti yang biasa tidak sesuai soalnya."

"Aku yakin Sasuke tidak akan keberatan," sahut Sakura sambil tertawa kecil. Urusan properti panggung untuk drama mereka memang meminta bantuan dari tim logistik panitia festival sekolah, selain dari pihak klub teaternya sendiri.

"Kuharap begitu," kata Tenten seraya membenarkan letak tali tas di bahunya. "Siang ini kita akan kumpul lagi. Kau bisa, kan?"

"Er… tentu," sahut Sakura, sedikit terkejut karena ini bukan jadwalnya yang biasa. Sebetulnya ia sudah menguasai semua dialognya, tetapi sedikit tidak yakin dengan aktingnya karena belum melatihnya lagi sejak beberapa hari belakangan—dan mengingat Kankurou Sabaku, Si Tuan Perfeksionis juga ikut ambil bagian, Sakura menjadi agak khawatir. Dan sepertinya kekhawatiran Sakura itu terpampang di wajahnya, karena saat berikutnya Tenten tertawa kecil.

"Jangan khawatir. Hari ini kita hanya reading saja, dengan Ibu Yuuhi dan Ibu Mitarashi. Kankurou tidak bisa datang, jadi kau tenang saja. Oke?"

"Oh—er… oke!" Sakura tidak bisa menyembunyikan rasa leganya.

"Baiklah. Sampai ketemu nanti siang kalau begitu, Sakura!" Tenten menepuk bahunya sekilas sebelum berbalik pergi menyusul teman-temannya menuju kelasnya yang pertama bersama Lee yang kebetulan baru saja datang.

Sakura menghela napas dengan gembira. Kalau begitu nanti siang bisa bertemu Neji lagi, pikirnya riang, lalu berbalik menyusul Sasuke dan Naruto. Mereka sudah selesai ketika Sakura tiba di lokernya. Sai juga sudah bergabung dengan mereka, pucat seperti biasa, tapi masih tetap penuh senyum.

Waktu seakan berjalan sangat cepat, tiba-tiba saja sudah tiba jam makan siang. Sakura seperti biasa langsung melesat menuju perpustakaan sementara Sasuke, Naruto dan Sai menuju kantin untuk memenuhi dorongan perut—atau lebih tepatnya, Naruto yang kelaparan lah yang menyeret mereka ke sana.

"Aaah.. kenyangnya…"

Naruto mengusap-usap perutnya yang penuh setelah mangkuk kedua ramennya sudah tandas dalam waktu singkat. "Aku tadi tidak sarapan, kehabisan roti," ujarnya entah pada siapa, karena baik Sasuke maupun Sai tidak tertarik untuk mengetahui alasannya makan begini banyak. Sasuke melempar pandang jijik ketika Naruto bersendawa keras.

"Ups! Sori," kekeh Naruto sebelum mengusap mulutnya dengan punggung tangan.

"Sakura lama sekali ke perpustakaannya," kata Sasuke seraya menoleh ke arah pintu kantin. Sakura belum juga muncul.

"Barangkali dia bertemu Neji," sahut Sai sambil mengangkat bahu. Ia menyeruput kotak sari jeruknya. "Mereka kan memang sering ketemuan di sana."

"Oh…" kata Sasuke dingin, meskipun sebenarnya darahnya sudah seperti mendidih membayangkan dua orang itu bercengkerama berdua di perpustakaan, barangkali di sudut-sudut yang sepi.

Naruto melempar pandang padanya sekilas sebelum berkata, "Mereka kan pasangan di drama sekolah nanti. Wajarlah kalau mereka sering menghabiskan waktu bersama-sama. Membangun chemistry, tahu, kan?"

"Yeah, pastinya," sahut Sasuke masam, berlagak tidak peduli. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dan menghela napas. Matanya memandang kosong di kejauhan sementara makan siangnya tergeletak terlupakan di atas meja, sama sekali tidak menyadari telah membuat merah padam seorang gadis karena mengira Sasuke sedang menatapnya.

Naruto memandang kedua sahabatnya bergantian. Sai yang sejak tadi menunduk terus membaca bukunya dan Sasuke yang entah mengapa seharian ini melamun terus seperti orang bego, berkali-kali menghela napas berat seperti kakek-kakek, sepertinya memang ada yang mengganggu pikirannya. Naruto punya dugaan soal itu, meskipun ia belum seratus persen yakin. Dan ia berharap itu hanya sebatas dugaannya saja. Semoga.

Dan lama-lama berada di sana membuatnya agak bosan. Sudah beberapa kali ia memancing percakapan dengan kedua cowok itu, namun keduanya hanya menanggapi dingin saja. Benar-benar tidak asyik. Terlebih sekarang, setelah sesosok gadis pirang bermata biru baru saja memasuki kantin bersama teman-temannya, minus Sakura, dan mengambil tempat duduk tidak jauh dari tempat mereka. Naruto memutar matanya ketika melihat Sai tak hentinya mengerling ke meja gadis-gadis yang sekarang ribut cekikikan itu, ekspresinya seperti orang merana saja.

Mau tak mau Naruto kasihan juga pada sobatnya yang satu itu. Mereka telah membicarakan ini beberapa kali. Sai tahu ia tidak boleh berharap, dan jelas ia tidak punya kesempatan, tapi ia tidak bisa mencegahnya. Rasa itu tidak bisa hilang begitu saja, betapa pun ia menginginkannya. Ada sesuatu pada diri Ino yang begitu menariknya seperti magnet yang amat kuat.

Menghela napas bosan, Naruto kemudian beranjak dari bangkunya. Suara bangku yang berderit mengalihkan perhatian Sasuke.

"Kau mau ke mana?" tanyanya.

"Kamar kecil," sahut Naruto singkat. Ia mengerling nampan Sasuke dan Sai yang dua-duanya belum habis. "Kalian selesaikan saja dulu makan siangnya. Nanti aku kembali lagi. Jangan terlalu khawatir begitu, ah. Aku tidak akan kabur kemana-mana, kok. Okeh?" Cengiran iseng muncul di wajah cowok pirang itu.

"Ha ha ha.. lucu sekali," tukas Sasuke mencibirnya. "Minggat saja sana!"

Tertawa-tawa, Naruto melenggang meninggalkan kantin. Sementara Sasuke dan Sai melanjutkan makan siangnya yang belum selesai dalam keheningan. Hening di meja mereka, tapi di sekelilingnya suasana benar-benar berisik. Terlebih suara tawa nyaring dibuat-buat yang berasal dari meja gadis-gadis populer. Benar-benar membuat tidak nyaman, terutama bagi Sasuke yang lebih menyukai suasana tenang.

"Mau ke mana, Sasuke?" tanya Sai ketika Sasuke tiba-tiba saja mengambil tasnya dan beranjak dari bangkunya, meninggalkan makan siangnya yang masih tersisa.

"Perpus," gerutu Sasuke singkat, lalu berbalik dan berjalan menuju pintu keluar.

Baru saja Sai hendak menyusul Sasuke, sebuah suara—yang membuat hatinya langsung mencelos saat mendengarnya—memanggil namanya. Di seberangnya, tampak Ino sedang melambaikan tangan sambil tersenyum padanya. Sai terpaku di tempatnya beberapa saat, bimbang, tercabik antara ingin membalas atau bergegas kabur dari sana. Sebelum ia memutuskan untuk mengacuhkan panggilan gadis itu dan bergegas menyusul Sasuke.

Sesaat kemudian ia menyesalinya. Tapi sudah terlambat untuk kembali ke kantin, bukan?

Sai menggeram pelan, merutuki kebodohannya sendiri.

-

-

"Haah.. dasar, mereka berdua itu. Tidak bisa ceria sedikit, apa?" Naruto menggerutu sendiri sembari mencuci tangannya di wastafel toilet siswa, mengeluhkan sikap dingin kedua sahabatnya, lalu menghela napas panjang.

"Ngomong sendiri, nanti kau bisa disangka sudah gila, Naruto," kata seseorang di belakangnya.

Dari balik cermin, Naruto melihat Kiba baru saja keluar dari salah satu bilik dan berjalan ke wastafel di sebelahnya. "Kalau kau jadi aku, kau pasti akan mengomel juga, Kiba," ujarnya sambil menggelengkan kepala. "Sasuke dan Sai itu…"

Sebelum Naruto menyelesaikan kata-katanya, Kiba terbahak. "Bisa kubayangkan orang sepertimu terjebak di antara dua es batu."

Naruto terkekeh. "Dua es batu, eh?" Ia menyudahi acara cuci tangannya, menutup keran, lalu bersandar di meja wastafel seraya melipat dua tangannya di dada. "Mereka sebenarnya tidak sedingin itu," ujarnya membela kedua sahabatnya. "Mereka bisa menyenangkan kalau mereka mau—Sasuke dan Sai itu."

"Sasuke?" Kiba terkekeh lagi. "Kalau Sai sih aku masih percaya—karena aku cukup sering bersamanya di klub jurnal. Tapi Sasuke? Dia itu seperti robot saja, kaku, angkuh dan dingin. Kadang-kadang aku masih tidak percaya kalau dia itu adiknya Itachi. Berbeda sekali soalnya. Itachi orangnya lumayan ramah dan er… romantis—setidaknya pada Kak Hana," ia menambahkan dalam suara pelan.

"Oh! Kau kenal Kak Itachi juga?" Naruto menatap Kiba agak terkejut.

Kiba mengangkat bahunya. "Yeah, bagaimana tidak kalau dia mengencani kakak perempuanku dan datang ke rumah setidaknya sekali seminggu?"

"Wow, kalau begitu kalian calon saudara ipar dong?" kekeh Naruto.

Sekali lagi Kiba mengangkat bahu. "Kalau Itachi memang serius dengan kakakku," gumamnya. "Kalau dia berani membuat kakakku menangis lagi seperti waktu itu, aku bersumpah akan menyuruh Akamaru menggigit bokongnya."

Naruto memutar matanya. "Sister complex," komentarnya dalam suara rendah sehingga Kiba tidak mendengarnya di antara suara air yang mengalir deras dari keran. "Ya sudah, aku duluan, Kiba!" Ditepuknya bahu cowok berambut cokelat jabrik itu sekilas, lalu berlalu meninggalkan toilet.

Naruto baru saja akan kembali ke kantin ketika ia tidak sengaja melihat seseorang yang seharusnya tidak berada di sana baru saja turun dari lantai dua. Cowok itu mengenakan jaket di atas seragamnya dan rambutnya yang jabrik ditutupi kupluk, tapi Naruto masih bisa mengenalinya dengan baik sebagai salah satu pegawai di restoran keluarga Sakura.

"Kotetsu?" celetuk Naruto.

Kotetsu Hagane menoleh mendengar namanya dipanggil. "N—Naruto?" sapanya terkejut—gugup lebih tepatnya. Cengiran salah tingkah muncul di wajahnya ketika Naruto bergegas menghampirinya, melempar pandang heran padanya.

"Ngapain kau di sini?" tanyanya sebelum kemudian ekspresi herannya berubah. Ia nyengir lebar. "Ah! Biar kutebak… Suster Airi?"

Rona kemerahan tipis muncul di wajah Kotetsu. "Aku hanya mengantar pesanannya," ujarnya membela diri sambil mengangkat kotak pesanan yang sudah kosong.

"Boo… Masih saja mau menyangkal," goda Naruto sambil tertawa. "Mengantar pesanan atau mengantar pesanan?"

Kotetsu meringis sambil menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tak gatal. Tidak ada gunanya lagi mengelak lagi dari anak muda ini, pikirnya. Lagi pula Naruto memang sudah pernah melihatnya bersama Airi di restoran. "Yeah, yeah… aku memang menemuinya," ujarnya mengakui. "Tidak ada yang salah dengan mengunjungi pacar sendiri di tempat kerjanya, kan?"

"Tidak sih…" kata Naruto, "Tapi memangnya restoran sedang tidak ramai jam makan siang begini?"

Cengiran di wajah Kotetsu agak memudar. Ia menggeleng, dan Naruto mengerti apa maksudnya. Sakura sudah menceritakan tentang masalah yang dialami restoran keluarganya padanya dua hari yang lalu.

"Kalau begitu aku pergi dulu, Naruto. Tidak boleh meninggalkan restoran lama-lama. Isaribi bawel itu bakal ngomel-ngomel nanti," pamit Kotetsu. Ia melempar senyum sekilas sebelum berbalik ke arah koridor yang menuju pintu utama gedung itu.

Kemudian pikiran itu tiba-tiba melintas begitu saja di kepala Naruto sementara ia memandang punggung Kotetsu yang semakin menjauh di antara kerumunan anak-anak.

"Kotetsu! Tunggu dulu!"

-

-

Entah apa yang mendorong Sasuke menyeret kakinya ke perpustakaan saat itu. Padahal ia sedang tidak ingin meminjam ataupun membaca buku. Yang ia tahu, ia hanya ingin pergi ke sana. Dan di sanalah ia sekarang, di depan pintu perpustakaan. Beberapa anak yang baru saja keluar dari perpus menoleh saat berpapasan dengannya. Beberapa tidak peduli, beberapa—seperti yang kerap ia lihat—memandang terpesona. Sasuke mengabaikan mereka dan melangkah masuk.

Ruangan itu lengang seperti setiap kali Sasuke datang ke sana. Anak-anak kelas tiga mendominasi. Mereka duduk sendiri-sendiri atau berkelompok di meja baca, mendiskusikan entah apa dalam suara rendah. Beberapa terlihat sedang sibuk mencari buku di deretan rak-rak atau langsung mencari di daftar buku di komputer pustakawan berwajah galak di sudut.

Sasuke mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan yang cukup luas itu, seakan berharap menemukan seseorang di antara anak-anak. Perhatiannya sejenak teralih saat seseorang menepuk bahunya. Sai.

"Kenapa berdiri saja di sini?"

"Tidak kenapa-kenapa," gumam Sasuke, lalu ia melangkah masuk setelah menyimpan tasnya di loker pengunjung. Sai mengikutinya masuk, mendahuluinya menuju deretan rak yang memajang buku-buku umum.

Sementara itu, mata Sasuke masih menjelajahi setiap sudut perpustakaan. Ia melihat Hinata dan Shiho, anak kelas dua yang memakai kacamata supertebal yang juga salah satu temannya di klub jurnal, sedang belajar bersama di salah satu meja baca. Juugo di meja yang lain sibuk menulis sementara setumpuk tinggi buku menutupi wajahnya dari pandangan. Suigetsu yang duduk di sampingnya tampak bosan dan mengantuk, membalik-balik buku yang dibacanya tanpa minat. Tapi ia tidak melihat Sakura di sana.

Ia kemudian melangkah ke deretan rak-rak buku Ilmu Alam, menyusuri setiap judul buku dengan tangannya tanpa benar-benar memperhatikan. Sampai akhirnya ia melihatnya di sana. Sosok gadis berambut merah muda itu duduk di salah satu meja baca yang ada di sudut. Sasuke baru saja akan menghampirinya ketika menyadari Sakura tidak sendirian di sana. Gerakannya terhenti saat ia mengenali punggung Neji. Tatapannya mendadak hampa.

Mereka berdua—Neji dan Sakura duduk di meja yang sama, berdekatan dan berbicara dalam suara pelan. Entah apa yang mereka bicarakan. Drama? Pelajaran? Atau sesuatu yang lebih pribadi, Sasuke bertanya-tanya dalam hati. Ingin sekali rasanya ia tidak memedulikan itu, tapi tidak bisa.

Otaknya memerintahkannya untuk segera pergi dari sana, tetapi tubuhnya seakan tidak mau menurut, dengan bandelnya masih berkeras berdiri di sana. Memandangi punggung mereka, dan lengan mereka yang beberapa kali tidak sengaja bersentuhan membuat dadanya seperti dicabik-cabik dari dalam, panas. Namun Sasuke berusaha untuk tetap tenang. Ia menyambar salah satu buku asal saja dari rak dan berjalan menuju meja yang letaknya dua meja dari meja yang ditempati Sakura dan Neji, menarik kursinya agak kasar sehingga menimbulkan bunyi derit keras—yang disusul desisan dari segala arah yang menyuruhnya diam—lalu duduk dan mulai membaca. Meskipun matanya sama sekali tidak bergerak.

Ia bisa merasakan tatapan Sakura saat gadis itu menoleh ke arahnya. Sasuke mengangkat wajahnya dan pandangan mereka bertemu. Sakura melempar senyum pada Sasuke, namun entah mengapa itu malah membuatnya semakin kesal. Terlebih saat melihat Neji juga menoleh padanya. Pandangan Sasuke langsung terblokir ketika Sai menarik kursi dan duduk di sebelahnya.

"Novel klasik Konoha," kata Sai sambil memperlihatkan bukunya pada Sasuke, "Kelihatannya menarik, eh? Aku belum pernah baca."

"Hn," gerutu Sasuke sambil berpaling kembali pada buku di tangannya.

"Oh, hai Sakura, Hyuuga," Sasuke mendengar Sai menyapa ringan dua orang yang duduk di meja sebelah mereka. Dari suaranya, tampaknya mereka membalas sapaan Sai.

Sementara Sai mulai menenggelamkan diri dalam bacaannya, Sasuke diam-diam menajamkan telinga, ingin tahu apa yang sedang dibicarakan Sakura dan Neji.

Dari sudut matanya, Sasuke bisa melihat Neji menuliskan sesuatu di secarik kertas sementara Sakura memperhatikannya sambil sesekali mengangguk. Rupanya mereka hanya berdiskusi tentang pelajaran—Kimia, dari yang bisa Sasuke tangkap dari pembicaraan mereka. Neji menjelaskan bagian yang Sakura tidak mengerti tentang stoikiometri. Sesederhana itu, tapi tetap saja membuatnya merasa tidak karuan.

Setelah beberapa menit yang menyiksa—bagi Sasuke—akhirnya diskusi mereka berakhir. Neji beranjak dari bangkunya dan pergi setelah Sakura mengucapkan terimakasih dengan nada ceria padanya. Gadis itu menyelipkan kertas yang tadi ditulisi Neji ke dalam bukunya. Wajahnya tampak luar biasa berseri ketika ia menghampiri kedua temannya.

"Hai!" sapa Sakura cerah sambil duduk di sebelah Sasuke. Mata hijaunya mengerling buku yang dibaca Sasuke, dan ia tersenyum. "Kelihatannya sangat menarik ya, Sasuke?"

"Apa?" Sasuke tidak bisa menahan nada dingin dalam suaranya saat memandang wajah cerah Sakura. "Kimia?"

"Hmm…" Sakura menggeleng, lalu menunjuk buku di tangan Sasuke. "Tertarik mendalami?"

Wajah Sasuke memanas saat menyadari buku apa yang dibacanya sejak tadi. Reproduksi Manusia. Namun Sasuke dangan cepat menguasai dirinya. "Oh, yeah. Ini sangat menarik."

"Tadi Neji mengajariku Kimia," beritahu Sakura tanpa diminta, jelas sama sekali tidak menyadari dampaknya bagi Sasuke. "Oh, dia benar-benar jenius! Pantas saja jadi pelajar teladan dengan indeks prestasi tertinggi di kelas tiga!" ujarnya berseri-seri.

"Hn," dengus Sasuke.

"Setahuku indeks prestasimu juga yang tertinggi di kelas dua, Sakura," timbrung Sai sambil melempar senyumnya yang biasa. "Bisa dibilang kau juga jenius."

Sakura membalas senyumnya. Wajahnya merona merah. "Thanks, Sai. Tapi Shikamaru dan orang ini," Sakura mengendikkan kepala pada Sasuke, "mengalahkanku di Aljabar."

Sasuke tidak bisa menahan seringaiannya.

"Tapi tetap saja kau yang memegang nilai komulatif tertinggi, kan?" kata Sai. Sakura berseri-seri.

"Eh, aku kok tidak melihat Naruto?"Gadis itu melempar pandang ke segala arah, mencari-cari sosok cowok pirang pemilik mata biru cerah itu.

"Dia sedang ke belakang," beritahu Sai. Ia ikut menjulurkan leher. "Harusnya dia sudah selesai…"

"Kecuali kalau dia tidak tahu kita ada di sini," kata Sasuke masuk akal.

Naruto memang tidak tahu. Dan ia langsung sewot begitu mereka bertemu di kelas selanjutnya beberapa menit kemudian. Tapi kejengkelannya tidak bertahan lama. Ia punya rencana untuk Sakura dan ia membutuhkan Sasuke dan Sai untuk membantunya juga. Maka setelah pelajaran berakhir dan Sakura sudah pergi bersama teman-teman teaternya untuk latihan mingguan, Naruto segera menahan Sasuke dan Sai agar tetap di kelas.

"Apa?" tukas Sasuke ketus.

Naruto membeliak padanya, tapi kemudian memutuskan untuk mengabaikannya. Sasuke sedang moody, pikirnya, tidak ada gunanya meladeninya sekarang.

"Kalian ingat Sakura cerita soal masalah di restorannya?" Naruto memulai, menatap kedua sahabatnya bergantian.

"Tentu saja," sahut Sai seraya memandang Naruto bingung. "Memangnya kenapa?"

"Menurutku kita harus membantunya," kata Naruto dengan senyum lebar di wajahnya.

Kedua sahabatnya tidak berkata apa-apa selama beberapa saat, hanya bertukar pandang dengan sangsi.

"Membantu bagaimana?" tanya Sai.

"Kau mau meminjaminya uang?" kata Sasuke tidak peka.

"Kau ini jenius atau bego, sih?" geramnya pada Sasuke, "Kau pikir Sakura dan Ibunya akan menerima begitu saja?—lagipula, uang dari mana?"

"Kakekku mungkin bisa meminjamkan," usul Sai sama tidak pekanya seperti Sasuke.

Naruto memutar bola matanya dengan tidak sabar. "Dasar orang kaya. Gampang sekali bicaranya," gerutunya pelan. "Tidak. Bukan bantuan yang seperti itu. Tapi kupikir kita bisa membantu mereka menarik pengunjung." Ia mencondongkan tubuhnya dan memberi isyarat pada Sasuke dan Sai untuk melakukan hal yang sama. "Aku punya rencana," ujarnya dengan suara rendah, "Aku sudah membicarakannya dengan Kotetsu tadi. Dan dia sudah setuju mau membantu."

"Rencana apa?" Sasuke tampak tertarik.

Seringai puas muncul di wajah Naruto. "Begini…"

-

-

Keesokan harinya ketiga cowok itu memulai rencana mereka. Mereka juga sudah memberitahu Ino tentang ini dan gadis itu begitu bersemangat ikut ambil bagian dalam rencana. Tugasnya adalah mengalihkan perhatian Sakura sementara yang lain melakukan tugas masing-masing. Naruto—yang memang paling bawel dan cenderung sok akrab dengan anak-anak di Konoha High—bertugas untuk berpromosi langsung—tanpa sepengetahuan Sakura, tentu saja.

Sepanjang jam istirahat makan siang, cowok itu gencar berpromosi pada anak-anak. Mengajak sebanyak mungkin orang yang dikenalnya, mulai dari kelas satu sampai kelas tiga, dari yang populer sampai yang nerd.

"Halo cewek-cewek!" serunya saat menghampiri Karin dan teman-teman cheerleader­-nya di kantin. Naruto telah menarik bangku dan menyusup duduk di antara gadis-gadis populer itu, nyengir lebar.

"Kau mau apa, Naruto?" tanya Karin galak.

"Galak sekali, Nona," Naruto pura-pura cemberut padanya sebelum berpaling pada gadis-gadis yang lain. "Dengar Nona-Nona, kalau kalian senggang akhir pekan ini, kusarankan kalian datang ke Blossoms Café. Tahu kan, yang di dekat Crimson Drive?"

"Ngapain kami harus ke sana?" tanya salah satu gadis ingin tahu.

"Tunggu dulu. Itu kan restoran milik keluarganya Sakura Haruno, kan?" tanya Karin sambil mengernyit. Gadis berambut merah itu memang beberapa kali ke sana untuk mengerjakan tugas kelompok bersama Sakura dan Chouji.

"Ya—"

"Oh, yang itu." Gadis yang lain mendengus. Ia mengibas-ngibaskan tangannya. "Aku sudah pernah ke sana. Enak sih makanannya, hanya saja membosankan."

Kata-katanya praktis membuat yang lain tidak tertarik.

"Tapi kali ini aku jamin tidak akan membosankan," sahut Naruto cepat. "Akhir pekan ini bakal spesial."

"Spesial apanya? Menunya? Kalau membikin gemuk, aku tidak tertarik," kata salah satu dari mereka, yang bertubuh paling ceking.

Naruto menahan diri untuk tidak memutar matanya. Dasar cewek-cewek anoreksia, gemuk saja dipikirkan sampai segitunya, pikirnya tak habis pikir. "Bukan…" ujarnya sambil mengekeh. Kemudian melempar pandang misterius pada gadis-gadis itu. "Kalian tahu Sasuke Uchiha, kan?"

"Tentu saja tahu," sambar Karin, memutar mata marunnya. "Dia kan sangat beken di sini. Siapa yang tidak tahu?"

"Yeah. Dan sangat keren…" timpal gadis yang lain dengan pandangan menerawang.

"Cool dan tampan," desah yang lain. Dan mereka semua mulai mengikik seru.

Naruto harus bersusah payah untuk tidak menjulurkan lidahnya, berlagak muntah di meja. "Yah, pokoknya dia," ujarnya mengangguk, dan ia segera mendapatkan perhatian penuh dari gadis-gadis itu. Naruto mencondongkan tubuhnya di atas meja, gadis-gadis itu otomatis mendekat. "Kalau kalian ingin mendapatkan servis spesial darinya, kusarankan kalian datang."

Mendengar itu, mereka langsung memekik tertahan. Naruto buru-buru meletakkan jarinya di bibir, menyuruh mereka tenang.

"Kau serius, Naruto?" bisik Karin bersemangat.

"Seratus persen," sahut Naruto mengangguk. "Dia akan ada di sana akhir pekan ini. Barangkali malah setiap akhir pekan," ujarnya tanpa dosa, dengan sukses membuat gadis-gadis itu memekik kegirangan lagi. Menyeramkan sekali.

"Apa Sai juga…?" tanya salah satu dari mereka malu-malu.

Naruto mengangkat alisnya, agak terkejut ternyata Sai juga mendapatkan perhatian dari mereka. "Yeah, tentu saja dia akan di sana juga."

Sekali lagi mereka mengikik seperti banshee.

"Kalau begitu kami akan datang. Kapan lagi melihat Sasuke Uchiha dan Sai jadi pelayan?!"

Naruto meringis, membayangkan bagaimana reaksi kedua sobatnya kalau saja mereka ada di sana sekarang. Ia tidak begitu mengkhawatirkan reaksi Sai, karena kemungkinan besar cowok itu tidak akan terlalu ambil peduli. Tapi Sasuke… Naruto berharap Sasuke tidak akan membunuhnya karena ini.

-

-

Sementara itu, Sasuke dan Sai yang kebagian tugas membuat selebaran menghabiskan waktu istirahat makan siang mereka di ruang jurnal untuk meminjam komputer di sana. Kebetulan saat itu Hinata juga ada di sana, mengerjakan sesuatu di laptop-nya—mungkin artikel untuk majalah sekolah edisi mendatang—ditemani dengan sekotak makan siang buatan rumah. Dengan ramah gadis Hyuuga itu menawari Sasuke dan Sai.

"Trims," ucap Sasuke setelah Hinata menawarinya sandwich isi tuna dan sayuran. Ia tersenyum tipis pada gadis itu, teringat masa lalu saat Hinata masih sering membawakannya makan siang.

"Hmm…" gadis itu mengangguk, lalu ganti menawari Sai yang sedang berkutat di komputer. "K-Kalian sedang mengerjakan apa, sih?" Hinata bertanya penasaran, membungkuk untuk melihat dari atas bahu Sai.

"Selebaran," sahut Sai. Ia mundur sementara komputer diambil alih Sasuke, mengambil sandwich yang ditawarkan Hinata. "Terimakasih."

"Blossoms Café," Hinata membaca tulisan di bagian paling atas. "Bukankah itu restoran milik keluarga Sakura?"

"Ya," kata Sai, menggigit sandwich-nya. Ia mengambil waktu mengunyah dan menelan potongan rotinya sebelum berkata, "Katanya belakangan ini mereka mengalami kesulitan, jadi kami ingin membantunya promosi."

"Wah…" Hinata tersenyum, tampak sangat terkesan. Kemudian ia kembali ke bangkunya semula dan mulai berkerja dengan laptop-nya lagi. Sesekali gadis itu mengerling Sasuke dan Sai yang sibuk berdiskusi sambil mengutak-atik desain selebaran di komputer tua klub mereka, tak bisa menahan senyumnya. Sudah banyak sekali perubahan pada diri Sasuke dan Sai sejak mereka pindah ke sekolah itu. Hinata masih sangat mengingat saat-saat awal dulu. Bagaimana Sai, bagaimana Sasuke. Siapa yang menyangka mereka akan bersahabat seperti sekarang? Persis seperti kakak-adik—mengingat rupa mereka yang agak mirip.

"Hinata juga mampirlah kapan-kapan," undang Sai. "Akhir pekan ini kami mau berkumpul di sana."

"P-Pasti sangat m-menyenangkan," sahut Hinata sambil tersenyum manis.

Suara ketukan terdengar tiga kali sebelum pintu ruang jurnal membuka, menampakan sosok remaja laki-laki berambut pirang menyala dengan cengiran superlebar yang menjadi ciri khasnya, tidak lupa diiringi dengan seruan keras penuh semangat, membuat yang ada menoleh kaget. Hinata nyaris menyenggol jatuh kotak makan siangnya saking terkejutnya dengan kemunculan mendadak Naruto. Wajahnya bersemu kemerahan.

"Berisik, Naruto!" Sasuke menukas.

Yang bersangkutan hanya menyeringai minta maaf. "Kalian sudah selesai?" tanya Naruto sambil melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya. "Hai, Hinata!" sapanya ceria saat melihat Hinata ada di sana juga.

"S-Siang, N-Naruto," balas Hinata terbata-bata. Kepalanya tertunduk saat Naruto berjalan melewatinya dan mendekati komputer tempat Sasuke dan Sai sedang bekerja.

"Tinggal sedikit lagi," Sasuke memberitahu Naruto yang kini sudah mengintip dari atas bahunya.

"Wow. Ini pasti desainnya Sai," komentar Naruto terkekeh. "Artistik."

Sai tersenyum seperti biasa, sementara Sasuke mencibirnya tidak suka. "Kau pikir hanya Sai saja yang bisa mendesain seperti ini?" ia menukas.

Naruto menjulurkan lidahnya mengejek ke arah Sasuke saat Sasuke tidak melihat, lalu tertawa-tawa sendiri.

"Jadi kau sudah mengajak anak-anak lain?" Sasuke menanyainya tanpa memandangnya.

"Sudah. Aku sudah mengajak teman-teman tim bola-ku, anak-anak karate, anak-anak debat, anak-anak cheers…" Naruto mulai menghitung semua klub dengan jarinya. "Sudah semua, tenang saja."

"Kau yakin ini bakal berhasil?" tanya Sai agak sangsi.

Naruto menghenyakkan diri di bangku kosong di sebelah Hinata—tanpa sadar membuat gadis itu bertambah gugup—sebelum menjawab sambil mengangkat bahu, "Semoga. Kita tidak tahu kalau tidak mencoba. Yang penting kan usahanya dulu. Benar kan, Hinata?"

Kaget karena tiba-tiba dimintai pendapat oleh Naruto, Hinata tergagap-gagap, "I-Iya, benar."

Naruto melempar senyum lebar padanya. "Omong-omong, Hinata, kau datanglah ke Blossoms Café kapan-kapan ya. Ajak Neji sekalian."

Sasuke langsung tersedak sandwich yang sedang dikunyahnya.

"I-Iya…" sahut Hinata dengan wajah merona.

"Sebenarnya tadi aku sudah mengajaknya," kata Sai sambil menggebuk punggung Sasuke yang masih terbatuk-batuk.

Naruto hanya mengangkat bahunya. Kini perhatiannya tertuju pada laptop Hinata. "Kau sedang mengerjakan apa, Hinata?" tanyanya penasaran sambil berusaha mengintip.

"Ini… um… a-aku sedang memikirkan artikel apa yang a-akan kami tulis u-untuk edisi tahun baru," jawab Hinata. "K-kami ingin membuat yang s-sedikit istimewa dari edisi biasanya."

"Tentang apa?" tanya Naruto tertarik. "Apa kalian akan membuat the most bla bla bla lagi seperti tahun lalu?"

Gadis itu mengangguk. "I-Itu kemungkinan tetap ada—"

"Kalau begitu masukkan aku ke kategori the most handsome ya.." gurau Naruto sambil nyengir. Sasuke mencibirnya sementara Sai dan Hinata hanya mengulum senyum geli. "Lalu apa lagi?"

"Um…" Hinata tampak berpikir. "K-Kami masih mencari bahan. Pak Hatake sudah mengusulkan supaya kami menulis tentang keluarga—maksudnya, warga sekolah yang m-masih punya hubungan keluarga."

"Kalau begitu, kau bisa menulis tentang dirimu sendiri dan Neji," kata Naruto tersenyum, membuat Hinata tersipu lagi.

"Atau tentang Motoki dan Aika Furuhata," usul Sai. Hinata mengangguk.

"Atau Sakura dan Pak Hatake!" timpal Naruto semangat.

"Atau mereka yang bukan keluarga tetapi sudah seperti keluarga?" usul Sasuke tanpa diduga. Ia sudah berpaling dari komputernya dan menggabungkan diri dalam obrolan. "Hanya mengusulkan. Terlintas begitu saja di kepala," tambahnya sambil mengangkat bahu, lalu berpaling lagi.

"Aaw… so sweet…" komentar Naruto. "Tumben…?"

"Kurasa itu ide yang bagus," timpal Sai. Dahinya sedikit berkerut. "Tapi agak susah mencari narasumbernya."

Hinata menatap ketiga cowok itu selama beberapa saat, melempar senyum penuh arti. Sepertinya gadis itu sudah menemukan apa yang ingin ia tulis nanti.

-

-

Sore harinya, ketika sekolah sudah bubar, Sai, Sasuke dan Naruto langsung meluncur ke Crimson Drive untuk mencetak selebaran yang telah mereka buat sebelumnya, masih tanpa sepengetahuan Sakura, tentu saja. Mereka beralasan akan mengerjakan tugas rumah bersama-sama di rumah Sasuke. Dan karena Sakura sudah berjanji—setidaknya pada dirinya sendiri—untuk lebih banyak menghabiskan waktu bersama ibunya, ia tidak bisa ikut. Tentu saja ketiga cowok itu tidak keberatan.

Sakura kelihatannya sangat menyesal tidak bisa ikut. Tapi mereka meyakinkannya kalau itu bukan masalah besar, dan mereka bisa belajar kelompok lain waktu. Dan mereka juga berjanji akan datang ke restoran besok—karena itu memang bagian dari rencana mereka.

Salju turun lagi ketika ketiga sahabat itu sampai di Crimson Drive nomor sembilan. BMW hitam milik Itachi sudah terparkir di depan rumah. Rupanya kakak Sasuke itu pulang lebih awal—mengingat belakangan ini ia sering lembur karena banyak proyek yang harus dikerjakan sebelum Itachi mendaftar untuk program S2-nya di universitas.

Suara gonggongan Rufus langsung menyapa mereka begitu Sasuke membuka pintu. Retriever itu melompat girang menyambut sang tuan, mencoba menjilati telinganya saat Sasuke menunduk untuk membuka sepatunya. Sasuke menggaruk belakang telinga si anjing sebelum Naruto mengambil alihnya. Rufus yang memang sudah mengenal Naruto ganti menyalak riang padanya.

"Anjing baik. Kau tidak mirip dengan tuanmu, ya…" kata Naruto sambil menggaruk leher Rufus.

Sekilas, Sasuke melihat ada sepatu wanita tergeletak di dekat rak sepatu sebelum melangkah masuk ke dalam rumah. Sepertinya calon kakak iparnya sedang berkunjung.

"Ayo masuk," ia mengajak Naruto dan Sai agar mengikutinya masuk, "Kak! Aku pulang!" serunya.

Terdengar suara pekikan tertahan dan benda terjatuh dari arah dapur. Beberapa saat kemudian Itachi muncul dari pintu dapur. "Ah, Sasuke, sudah pulang?"

Sasuke mengangkat sebelah alisnya melihat tampang kakak laki-lakinya. Biasa saja sebenarnya, yang tidak biasa hanyalah noda merah seperti bekas lipstick di sudut bibirnya. "Ada noda lipstick di bibirmu," beritahu Sasuke jemu sambil menunjuk bibirnya sendiri.

Itachi buru-buru menyeka noda di bibirnya dengan punggung tangan, lalu nyengir. Sasuke memutar bola matanya. Naruto dan Sai muncul di belakang Sasuke beberapa saat kemudian. Beruntung mereka tidak sempat melihat noda lipstick itu.

"Oh, ada Naruto dan Sai juga," sapa Itachi pada dua teman adiknya.

"Sore, Kak!" balas Naruto ceria. Sai hanya mengangguk sopan.

Sasuke melongok ke dapur dan melihat Hana Inuzuka, kakak perempuan Kiba Inuzuka sekaligus kekasih Itachi, sedang membungkuk di bawah meja konter, mengumpulkan barang-barang yang jatuh. Ketika wanita muda itu menegakkan diri, Sasuke bisa melihatnya mengenakan apron. Beberapa bahan makanan tergeletak di atas wadah di meja.

Hana tersenyum gugup padanya. "Sasuke sudah pulang?"

"Hn. Kalian sedang masak?" tanya Sasuke sambil menyeringai tipis. Bahkan dari jarak yang lumayan jauh, Sasuke bisa melihat wajah Hana memerah.

"Eeh… Ada Kak Hana," sapa Naruto yang juga sudah melihat kakak perempuan Kiba. Hana buru-buru meletakkan spatula yang tadi terjatuh ke meja dan bergegas mendekati mereka.

"Ah, ada Naruto juga, dan…" Hana melempar pandang bertanya pada Sai.

"Sai," Sai menyebutkan namanya, mengangguk sopan, "Salam kenal."

"Ini Kak Hana, pacar kakakku," beritahu Sasuke dengan nada datar seperti biasa. "Kakaknya Kiba."

"Oh!" Sai menganggukkan kepala paham, lalu tersenyum. Pantas saja dari tadi ia merasa wanita di depannya itu mirip seseorang yang ia tidak ingat. Rupanya kakak perempuan teman satu klubnya, Kiba.

Hana balas tersenyum, lalu dengan gugup menyelipkan anak rambut ke belakang telinganya.

"Kami baru saja akan membuat makan malam," kata Itachi kemudian. "Kalian mau makan malam di sini?"

"Kami tidak lama-lama, Kak. Setelah ini mau pergi lagi," sahut Sasuke.

"Oh, oke," sahut Itachi, sudut bibirnya agak berkedut menahan senyum.

Dan Sasuke tahu persis apa yang ada dalam pikiran kakaknya itu; makan malam romantis berdua saja tanpa gangguan tiga bocah berisik. Karena Sasuke tahu persis mereka berdua punya komitmen untuk tidak macam-macam sebelum menikah, maka Sasuke tidak terlalu khawatir meninggalkan kakaknya itu berdua saja dengan pacarnya di rumah.

Sasuke, Naruto dan Sai memang tidak berlama-lama di sana. Setelah mencetak selebaran sederhana itu, mereka pergi lagi untuk mengkopi dan menyebarkannya. Mereka juga membawa Rufus bersama mereka. Anjing itu girang bukan kepalang ketika tahu mau diajak jalan-jalan dan dengan penuh semangat berlarian, membuat Sasuke yang memegangi talinya terseret-seret di belakangnya. Rufus jelas memang butuh jalan-jalan setelah seharian terkurung di rumah yang membosankan.

Mereka sempat melihat Sakura sekilas dari jendela kaca restorannya ketika bus yang mereka tumpangi—Itachi tidak meminjamkan mobilnya karena akan dipakai mengantar Hana pulang setelah makan malam—melintasi Blossoms Café. Halaman parkir restoran itu terlihat jauh lebih lengang dari yang pernah mereka ingat. Tapi tidak setelah malam ini. Mereka berharap usaha mereka tidak akan sia-sia.

Tempat pertama yang terlintas dalam kepala mereka adalah Konoha City Square. Seperti biasa setiap akhir pekan tempat itu selalu ramai dipenuhi anak-anak muda maupun orang tua yang sekedar ingin melepas penat setelah lima hari penuh bekerja. Mereka juga bertemu beberapa orang yang mereka kenal; Ino yang sedang berkencan dengan Idate; Gaara, teman Sai dari Suna, bersama seorang gadis mungil yang mereka ingat bernama Matsuri; juga beberapa anak Konoha High yang langsung menyapa heboh begitu melihat mereka—tiga cowok paling kece di Konoha High. Setidaknya itu menurut Naruto yang memang senang omong besar.

Tidak memerlukan waktu lama sampai selebaran yang mereka bawa habis terbagi. Meskipun agak menjengkelkan juga saat melihat beberapa selebaran malah berakhir di tempat sampah.

Sebelum pulang, mereka memutuskan untuk membeli dumpling goreng di pinggir jalan dan sekaleng soda untuk makan malam. Yah, karena mereka membawa anjing jadi tidak diperbolehkan masuk restoran atau kedai makanan yang tertutup. Tapi tidak mengapa. Mereka cukup puas dan kenyang menikmati makanan sederhana itu dengan duduk-duduk di pelataran dekat air mancur KCS, sambil menikmati pertunjukan musik gratis dari para pemusik jalanan.

"Hei, malam tahun baru nanti, kita kemari, yuk! Dengan Sakura juga. Bagaimana?" ajak Naruto penuh semangat pada dua sahabatnya kemudian.

-

-

TBC

-

-

Em... speechless nih. Enggak tau mau ngomong apaan untuk chapter ini. Yang jelas makasih buat yang sudah membaca dan mereview sejauh ini. Maaf enggak dibalesin satu-satu, takut kepanjangan juga. Hehehe... Oia, makasih juga yang udah mereview di editan 'Memories: A Love Story' sama 'Aishiteru, Sensei!!" ^___^

Yosh! Ganba!!