Chapter 67

"Jadi pelayan tidak masuk dalam rencana!" desis Sasuke jengkel keesokan harinya. Naruto baru saja memberitahunya dan Sai tahap kedua rencana mereka—lebih tepatnya, rencananya sendiri—dimana mereka akan membantu menjadi pelayan di restoran Sakura. Pagi itu mereka sudah berkumpul di lapangan parkir Blossoms' Café yang belum buka. Sai sedang bersandar santai pada Porsche merahnya, menonton pertengkaran kecil kedua temannya dengan kedua lengan terlipat di depan dada.

Naruto hanya nyengir tanpa dosa. "Well, ya.. sori. Tapi menurutku tampang kalian berdua lumayan untuk menarik pengunjung—"

"Kau pikir kami patung selamat datang?"

Naruto mengabaikannya, dan melanjutkan, "…terutama untuk menarik para gadis. Ouw! Apa itu maksudnya?!" Mata birunya memelototi Sasuke yang baru saja mendaratkan jitakan telak di kepala pirangnya sementara tangannya mengusap-usap kepalanya—yang sepertinya akan benjol dalam beberapa detik.

"Kau pantas mendapatkannya!" dengus Sasuke. "Idiot! Kenapa tidak bilang sebelumnya?"

"Bilang atau tidak bilang tidak akan ada bedanya, kan?" Naruto bersungut-sungut, masih mengusap-usap kepalanya. "Jadi kau mau melakukannya atau tidak?"

Sasuke melempar pandangannya berkeliling lapangan parkir yang kosong itu sementara ia mempertimbangkan lagi. Selama ini tidak pernah terpikirikan olehnya akan melakukan hal seperti ini—maksudnya menjadi pelayan restoran. Mengenakan seragam, tersenyum dan bicara ramah sepanjang waktu untuk melayani pelanggan. Oke, bukannya ia tidak suka bersikap ramah, ia hanya tidak terbiasa. Belum lagi… Euh… Menarik para gadis, huh? Hanya dengan memikirkannya saja sudah membuat Sasuke merinding. Ia bukannya tidak suka pada mereka, tapi entah mengapa ia seringkali mereka ia memiliki sesuatu yang membuat cewek-cewek itu berubah menjadi monster—bukan dalam artian yang sebenarnya, tentu saja—yang siap menelannya bulat-bulat.

Tapi… ini untuk Sakura, kan? Lagipula ini tidak akan selamanya. Untuk membantu Sakura, tidak ada salahnya sesekali tidak mementingkan ego sendiri, bukan? Memasang tampang ramah, bicara sopan dan menghadapi para monster.. er… maksudnya mereka… Sepertinya itu bukan hal besar, eh? Dibandingkan dengan…

Dengan.. um…

Sasuke merasakan suhu di wajahnya menghangat di udara yang dingin menggigit. Ia menggelengkan kepalanya cepat-cepat, lalu menoleh pada Naruto dan Sai yang menunggu jawabannya. Dengan helaan napas panjang, ia akhirnya menjawab,

"Baiklah. Aku ikut."

Naruto nyengir puas, lalu ganti memandang Sai. "Sai?"

"Tentu saja. Kenapa tidak? Ini kan untuk membantu teman," sahut cowok itu sambil tersenyum.

"Bagus… Aw…" Naruto mengernyit, mengusap-usap kepalanya. Mata birunya berair. "Damn! Sasuke. Kau pernah ikutan bela diri, ya? Kepalaku jadi pusing, tahu!"

Sasuke mengangkat bahu dengan cuek. "Taekwondo?"

Naruto memelototinya, kemudian mengumpat pelan. Sai tertawa kecil.

Tak lama kemudian, pintu depan restoran itu membuka dan salah seorang pegawainya, Kotetsu, muncul. Pria berambut gelap itu memberi isyarat pada ketiga remaja itu untuk masuk.

Yamato, Izumo, Kotetsu, Isaribi, Iwashi, Ayame dan Paman Teuchi sudah berada di sana saat mereka melangkahkan kaki masuk. Paman Teuchi, yang bisa dibilang wakil ibu Sakura di sana, terlihat sangat senang dengan niat baik ketiga sahabat Sakura itu. Mereka kemudian membicarakan apa rencana mereka setelah ini.

Izumo dan Kotetsu telah mempersiapkan panggung kecil yang biasa dipakai oleh mendiang Hiroyuki Haruno untuk menghibur pengunjung restorannya atas permintaan Naruto—"Kupikir aku ingin melakukan sedikit pertunjukan di sini." Naruto mengetuk kotak gitarnya sambil nyengir lebar.

Sasuke juga sudah memperbaharui selebaran yang kemarin—ia mengerjakannya semalam suntuk dibantu sang kakak—untuk disebarkan sekali lagi. Ia juga telah membuat kopiannya dua kali lebih banyak dari yang kemarin.

"Biar kami saja yang melakukannya," kata Izumo antusias seraya menunjuk dirinya sendiri dan Kotetsu.

"Yeah. Kami paling ahli membujuk orang," timpal Kotetsu nyengir.

"Ya, ya.. Merayu lebih tepatnya," Isaribi tertawa mengejek.

"Oh, ha ha ha… Lucu sekali, Isaribi," balas Kotetsu, "Hanya karena kau tidak pandai merayu Izu—umph!"

Isaribi yang wajahnya sudah merah padam langsung membekap mulut usil rekannya itu. "Shut up!" desisnya.

Di belakang konter, Ayame mengikik tertahan. Sementara Izumo yang berpura-pura tidak mendengar, telah menyibukkan diri membaca selebaran, seakan apa yang tertulis di sana sangat menarik perhatiannya. Semburat kemerahan samar menghiasi pipinya yang pucat.

"Hei, sudah hentikan kalian berdua!" tegur Teuchi dengan ekspresi geli di wajahnya.

"Sebelum itu, kurasa kalian membutuhkan ini, kan?" Yamato yang baru saja kembali dari ruang loker karyawan, mengangsurkan tiga tumpuk kaus seragam Blocaf untuk musim dingin—kaus lengan panjang berbahan lebih lebal berwarna merah marun dengan logo restoran, dan celemek putih yang diikat di pinggang.

"Keren.." komentar Naruto antusias seraya mengambil seragam itu dari Yamato, "Trims."

"Kalian bisa memakai ruang ganti karyawan di pintu yang ada di sana," kata Ayame sembari menunjuk pintu yang mengarah ke bagian belakang restoran di sudut. 'Selain karyawan dilarang masuk!' tertera di pintunya.

"Mari kuantar," tawar Yamato. Ketiga remaja itu kemudian bergegas mengikutinya ke ruangan itu untuk berganti pakaian. "Dengar, aku sudah mengenal Sakura seperti adikku sendiri," ujarnya setelah mereka sudah berada di sana. Ditatapnya ketiga sahabat Sakura itu dengan tatapan penuh terimakasih. "Aku tidak ragu mengatakan dia pasti akan sangat berterimakasih kalau dia tahu kalian melakukan ini semua untuknya."

Naruto tertawa gugup, menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. "Ini tidak seberapa sebenarnya."

"Tapi pasti sangat berarti baginya," kata Yamato.

"Yah, karena dia sahabat kami," imbuh Sai.

"Kami hanya mencoba membantu," kata Sasuke.

"Karena kami peduli padanya," Naruto menambahkan mantap.

Yamato menganggukkan kepalanya dengan ekspresi puas di wajahnya. "Kalau begitu Sakura sangat beruntung memiliki sahabat seperti kalian." Dan ia berbalik meninggalkan ruangan itu.

Tidak sampai sepuluh menit kemudian mereka keluar dengan penampilan baru mereka—mantel dan pakaian yang mereka kenakan sebelumnya disimpan di salah satu loker kosong di sana.

"Wow! Kita kelihatan keren!" seru Naruto gembira.

"Yeah, lumayan," ujar Sai seraya merapikan celemeknya, "Tidak jelek kan, Sasuke?"

"Hn."

"Kalian kelihatan cakep," komentar Ayame sambil tersenyum. Gadis itu sudah mulai mengelap cangkir dan gelas-gelas di konter. Teuchi, Iwashi dan Yamato sudah berada di dapur untuk beres-beres sementara Kotetsu dan Isaribi sudah mulai menurunkan bangku-bangku.

"Pekerjaan pertama kalian!" seru Izumo yang baru kembali dari ruang peralatan. Ia membawa tongkat pel, dua lembar lap dan penyemprot air di tangannya. "Kita akan bersih-bersih dulu sebelum buka!" Disorongkannya tongkat pel pada Sasuke, lap dan penyemprot air pada Sai dan Naruto. "Ember dan airnya ada di belakang, Sasuke," tambahnya sambil nyengir pada Sasuke.

Sasuke menggerutu rendah, kemudian bergegas pergi ke belakang untuk mengambil ember dan air. Well, setidaknya ia juga pernah mengepel rumah bergantian dengan Itachi sekali seminggu, jadi ia sudah terbiasa. Sementara itu, Naruto dan Sai juga sudah mulai bergerak membersihkan meja-meja dan kaca jendela. Sai, yang tidak terbiasa mengerjakan pekerjaan seperti ini masih agak canggung. Alih-alih membuatnya bersih, Sai beberapa kali malah membuat kaca jendela menjadi buram. Tapi itu sebelum Isaribi mengajarinya cara yang benar.

"He's so cute!" bisik gadis itu berseri-seri pada Ayame yang hanya tertawa kecil sambil geleng-geleng kepala. Diam-diam, Izumo membelalak pada kedua gadis itu.

Pukul sembilan lewat, saat mereka akhirnya selesai beres-beres dan siap buka, seorang lagi pegawai mereka datang dengan tergesa.

"Maaf terlambat, teman-teman. Sesame demam, aku tidak bisa meninggalkannya sebelum…" pria muda berambut terang itu terdiam seketika saat melihat tiga remaja dalam balutan seragam Blocaf ada di sana, alisnya terangkat, "Ow… karyawan baru?"

"Bukan," sahut Isaribi sambil mengibas-ngibaskan tangannya, "Mereka teman Sakura yang mau membantu di sini, Arashi."

"Oh!" Pria bernama Arashi itu terlihat terkejut, sekaligus terkesan. "Waw…"

"Oi! Jangan bengong saja di sana. Cepat ganti seragammu dan bantu kami di sini!" seru Kotetsu, melambai-lambaikan selebaran di tangannya. Mereka hendak berangkat untuk menyebarkan selebaran itu.

Arashi melempar pandang bingung pada mereka, tapi tidak mengatakan apa-apa lagi dan bergegas ke ruang ganti untuk menyimpan tas dan mantelnya. Tak lama kemudian ketiga pria itu pergi dengan sepeda ke arah yang berbeda untuk menyebarkan selebaran.

"Kalian sudah siap?" Isaribi bertanya pada Naruto, Sasuke dan Sai. "Kita akan buka sekarang."

"Tungu dulu!" Sai menyela tiba-tiba saat Isaribi hendak memutar tanda 'buka' di pintu masuk utama. Gadis itu berbalik dan melempar pandang bertanya pada Sai. "Um… sebelumnya, bisakah kau menghajari kami bagaimana melayani pelanggan dengan baik?"

Di sebelahnya, Sasuke dan Naruto mengangguk setuju. Isaribi menoleh pada Ayame yang juga mengangguk.

"Ajari saja mereka sebentar. Kurasa tidak apa kita buka sedikit terlambat," gadis itu mengatakannya dengan nada agak muram, "Dan Bibi Azami dan Sakura juga tidak akan datang setidaknya sampai siang atau sore. Jadi tidak masalah."

"Sakura tidak akan datang sampai siang?" sambar Sasuke terkejut.

"Ya. Dia mau menemani ibunya terapi, dan biasanya itu memakan waktu agak lama juga," sahut Ayame.

"Oke. Baiklah!" Isaribi menepuk kedua tangannya. Saat berikutnya ia mulai mengoceh panjang lebar mengenai bagaimana bersikap pada pelanggan, mulai dari bagaimana mereka akan menyambut, mengantarkan ke meja, memberi buku menu, menawarkan saran-saran tentang menu yang ada di sana—dan dengan sedikit membujuk, tentu saja—dan seterusnya sampai pelanggan itu pulang. "Intinya adalah bagaimana kita membuat mereka puas dengan pelayanan kita!"

Kemudian disambung dengan praktek singkat, dimana Isaribi berpura-pura menjadi pelanggan. Bagian ini diwarnai banyak tawa karena sikap kocak Naruto yang selalu menyelipkan gurauan kecil, sikap kaku Sasuke yang malah memberi pelanggannya seringaian alih-alih senyuman, dan Sai yang terlampau manis sampai-sampai membuat Isaribi bersemu merah.

"Kalau kau melakukannya seperti itu, kau akan membuat para pelanggan jatuh cinta padamu, Sai," gurau Naruto tergelak.

-

-

Sakura duduk di ruang tunggu rumah sakit sembari bersenandung kecil mengikuti irama musik dari earphone yang tersumpal di kedua telinganya. Matanya sesekali mengawasi orang-orang yang berseliweran di sana; dokter, perawat, paramedis, dan para pengunjung rumah sakit. Tapi ia lebih sering menerawang sambil senyum-senyum sendiri mengenang latihan drama terakhirnya. Ini tentang Neji tentu saja.

Padahal saat itu bukanlah latihan pertamanya. Tapi cara cowok itu menatapnya saat mereka melakukan adegan membuatnya nyaris percaya bahwa cowok itu benar-benar menaruh hati padanya, membuatnya berdebar-debar. Ia benar-benar merasakan chemistry yang pas dengan Neji—dan Tenten juga sangat puas dengan penghayatan mereka, begitu juga dengan guru pembimbing mereka. Hanya Yakumo yang tampaknya tidak begitu suka. Tapi siapa yang peduli dengan cewek itu. Ia barangkali hanya cemburu. Semua orang di Konoha High tahu bahwa ia adalah mantan kekasih Neji dan sekarang tentu saja tidak ada hubungan apa-apa. Iya, kan?

Sakura mengikik kecil saat teringat kencan-nya dengan Neji. Ia bisa melihat betapa gentleman-nya cowok itu. Caranya memperlakukannya, gesturnya, senyumnya, semuanya… Sakura bahkan masih mengingat dengan jelas hangatnya punggung Neji saat ia menggendongnya.

Kikikan kecil meluncur tanpa sadar dari bibirnya, membuat orang-orang di sekitarnya menoleh dan memberinya tatapan aneh. Sakura langsung merasakan wajahnya memanas karena malu, tapi itu tidak sebanding dengan perasaan melayang yang dirasakannya saat ia mengingat Neji. Gadis itu merasa benar-benar tidak bisa berhenti tersenyum.

Sepertinya jatuh cinta membuatnya terlihat seperti orang tidak waras, kan? Tapi Sakura tak ambil peduli.

"Higher than the sky above you
Clearer than blue
Brighter than the rays of sunshine
Warmer than what you feel
More than all the wonders you see
It's the most wonderful thing"

Bibirnya melantunkan lirik dari lagu yang tengah terputar di ipod­-nya. Sejak malam itu, lagu itu menjadi lagu favoritnya.

Sakura menghembuskan napas dengan wajah berseri-seri. Sepertinya suasana hatinya terlampau ceria untuk merasa bosan menunggui ibunya terapi seorang diri di sana. Dan ia juga sudah melakukan persiapan. Ia membuka tas selempang yang dibawanya, kemudian merogohnya. Selain ponsel dan dompet, ada dua buah buku di sana. Keduanya adalah novel favoritnya; yang satu "Love Story" pemberian Sasuke saat ia akan berangkat ke Oto dulu, dan yang satu lagi tentu saja pemberian Neji beberapa hari yang lalu. Dan ia mengambil novel yang kedua, yang belum selesai ia baca.

"Sakura?"

Suara lembut seorang wanita yang menyapanya mengalihkan perhatian gadis berambut merah muda itu dari novel yang tengah ia baca. Sakura menoleh dan mendapati wanita yang ia kenal sedang berdiri di dekat koridor menuju lobi. Wanita itu sudah tidak memakai seragam dokternya, melainkan mantel panjang lengkap dengan syal yang dibiarkan menggantung di lehernya.

"Dokter Rin!" seru Sakura ceria, kemudian bergegas menghampiri wanita berambut cokelat keunguan itu.

"Kau pasti sedang menunggui ibumu," tebak Rin sambil tersenyum.

Sakura mengangguk. "Dokter—ah, maksudku, Bibi sudah mau pulang?"

Rona kemerahan tipis muncul di wajah dokter muda itu saat Sakura memanggilnya dengan sebutan 'Bibi', dan ia tampak sedikit terkejut. Namun dengan cepat menguasai diri. "Ya. Jam dinasku sudah selesai sejak tadi sebenarnya. Tapi aku ketiduran di ruanganku," ia menambahkan sambil tertawa kecil.

"Pasti melelahkan dinas malam," komentar Sakura.

"Tidak juga. Bekerja menolong orang itu sangat menyenangkan, Sakura."

Sakura tertawa kecil, lalu mengangguk tanda persetujuannya, menatap calon Bibinya itu penuh kekaguman.

"Ah! Apa Bibi mau ke restoran kami malam ini?—dengan Kakashi, tentu saja.."

"Pasti sangat menyenangkan."

Sakura langsung berseri-seri. Kemudian Rin pamit dan berbalik menuju lobi untuk pulang. Barangkali melewatkan sepanjang siang untuk beristirahat di rumahnya.

Menjelang tengah hari, akhirnya Azami keluar dari ruangan terapi bersama beberapa orang yang juga mengikuti terapi kelompok itu. Wajah wanita paruh baya itu terlihat lebih cerah dibanding yang pernah dilihat Sakura selama beberapa minggu belakangan, dan ia terlihat sedang bicara dengan seorang dokter berambut keperakan dan berkacamata di depan pintu.

"Ibu!"

Azami menoleh ke arahnya datang, begitu juga dengan dokter itu. Sakura langsung mengenalinya. Dokter Yakushi.

"Selamat siang," gadis itu menyapa ramah pada sang dokter yang membalasnya dengan hangat.

"Ah, Nona Sakura Haruno. Selamat siang."

"Anda sudah mengenal putri saya?" Azami bertanya agak heran.

Dokter Yakushi tersenyum. "Kebetulan kami pernah bertemu sebelum ini."

"Dokter Yakushi yang dulu merawat Sai, Bu," beritahu Sakura yang diangguki oleh dokter muda itu.

"Kalau begitu saya permisi dulu, Nyonya Haruno, Sakura." Dokter itu mengangguk sopan, lalu berbalik pergi dan masuk ke dalam lift bersama seorang dokter paruh baya dan beberapa perawat.

Sakura kembali berpaling pada ibunya, melihat secarik kertas resep di tangannya. "Menebus obat dulu?"

"Oh, ya…" Azami mengangkat kertas resepnya, tersenyum. Kemudian ibu dan anak itu bergegas menuju apotek untuk menebus obat Azami. "Seharusnya kau tidak perlu memaksakan diri kalau kau bosan, Sakura."

"Siapa bilang aku bosan?" sahut Sakura ceria. "Aku sudah melakukan persiapan, Bu! Lihat!" Ia menunjuk novel di tangannya dan sebungkus cokelat yang sudah setengah dimakan di tangan yang lain. Gadis itu meringis. "Bu, bagaimana kalau kita makan siang di luar? Sudah lama kan kita tidak makan di luar—selain di Blocaf, maksudku."

"Tentu. Kedengarannya menyenangkan. Kau yang tentukan tempatnya."

"Oke! Aku tahu tempat makan yang enak!"

-

-

"Sepertinya dia sangat menikmatinya," Sasuke mengendikkan kepala dengan bosan ke arah Sai yang sedang melayani pelanggan—sebuah keluarga kecil dengan dua anak kembar yang sangat berisik—di sisi lain ruangan itu. Ia menyanggakan dagunya ke tangannya dan menghela napas.

Saat itu mereka sedang duduk-duduk di konter. Menganggur.

Naruto ikut menoleh ke arah Sai. "Yeah, sepertinya," ujarnya sambil tersenyum simpul. Ia juga tampaknya sudah mulai bosan. Sudah sesiang itu tapi pengunjung restoran itu masih saja sepi, membuatnya bertanya-tanya apakah selebaran mereka tidak berhasil? Tapi kan ia juga sudah berpromosi di sekolah—sampai mempromosikan Sasuke dan Sai segala—dan sampai sekarang ia belum melihat seekor pun anak Konoha High yang menampakkan batang hidung mereka. Keterlaluan sekali!

"Apa ini tidak berhasil?" tanyanya.

Sasuke mengangkat bahunya. "Mudah-mudahan tidak."

Naruto menghembuskan napasnya keras, menggembungkan pipinya sambil melempar pandang berkeliling dengan muram, berusaha mencari ide lain. Tempat itu suram sekali, pikirnya. Dan pilihan lagu yang diputar lewat pengeras suara tidak membuat suasananya lebih menyenangkan. Kelewat lawas dan kelewat slow. Benar-benar membuat mengantuk.

"Apa tidak ada lagu yang lebih ceria sedikit?" Naruto menanyai Ayame.

Ayame mengangkat bahu. "Mereka—Izumo dan Kotetsu beranggapan lagu-lagu seperti ini yang cocok. Ini juga lagu-lagu kegemaran Paman Hiro."

Naruto mengernyit. "Kau tahu? Kalian membutuhkan suasana yang lebih ceria. Bagaimana kalau kalian ganti lagunya?"

"Izumo dan Kotetsu yang memegang CD-nya, dan sampai sekarang mereka belum kembali, kan?"

Naruto mengheluh pelan.

"Bagaimana kalau kau yang menyanyi saja? Katamu kau mau membuat pertunjukan kecil, eh?" usul Sasuke.

"Kalau pengunjungnya sesepi ini aku jadi tidak semangat," sahut Naruto muram. "Ah!" mendadak ia mendapatkan ide. Ia melompat turun dari bangkunya. "SAI!"

Sai yang sedang memberikan kertas pesanan ke dapur menoleh, mengangkat alisnya tinggi melihat Naruto berjalan menghampirinya. "Apa?"

"Pinjam CD di mobilmu dong!" Naruto mengulurkan tangannya. "Untuk diputar di sini. Kita butuh lagu yang lebih ceria di sini," tambahnya saat dilihatnya Sai tampak tidak paham.

"Oh, oke. Ambil saja. Ada beberapa di sana." Sai merogoh saku jeans-nya dan mengeluarkan kunci Porsche-nya, memberikannya pada Naruto.

"Thanks, Bro!" Naruto memberinya cengiran lebar sebelum berbalik dan melesat keluar.

Udara menggigit langsung menyambutnya begitu Naruto melangkahkan kaki di luar pintu, sangat kontras dengan udara hangat di dalam—Mereka menggunakan penghangat ruangan. Naruto menggosok-gosokkan kedua tangannya supaya lebih hangat sembari melangkah ke lapangan parkir.

"Hei, Naruto!" panggil seseorang dari arah jalan.

Naruto yang sedang membuka pintu mobil Sai mendongak. Kedua alisnya berkerut saat melihat seorang gadis berlari-lari kecil dari ujung jalan. Kepalanya tertutup tudung mantelnya yang berwarna biru cerah dan wajahnya setengah tertutup syalnya yang berwarna senada. Baru ketika mereka sudah berjarak sekitar tiga meter, Naruto bisa mengenalinya.

"Halo, Ino!" sapanya sambil tersenyum lebar. "Kukira teroris dari mana."

Ino pura-pura mencibirnya, lalu tertawa. "Dasar! Memangnya aku terlihat seperti teroris?"

"Memang," Naruto terkekeh—yang langsung terhenti begitu Ino menyerangnya dengan cubitan maut di lengannya. "Adududuh… Sakit, tahu!"

"Biar saja!" Ino menjulurkan lidah padanya.

"Kekerasan dalam rumah tetangga, nih! Tadi Sasuke, sekarang kau! Kenapa orang-orang senang sekali membuatku kesakitan?" Naruto bersungut-sungut, berpura-pura sebal. Ino mengikik geli sebelum menambahinya dengan pukulan gemas. Naruto mengaduh lagi. "Jadi ngapain kau kemari?" tanyanya kemudian sambil mengusap-usap lengannya yang sepertinya akan lebam-lebam dalam waktu dekat.

"Pakai tanya segala. Tentu saja aku juga mau bantu. Memangnya hanya kalian saja yang peduli dengan Sakura, eh?" Ino menukas cemberut sambil berkacak pinggang.

"Kenapa tidak datang dari pagi?"

"Yeah. Aku kan punya toko sendiri yang harus diurus, tentu saja aku membantu orang tuaku dulu di toko," Ino menyahut sambil memutar bola matanya.

"Oh…" Naruto kemudian berbalik untuk membuka pintu mobil Sai dan mulai mencari-cari koleksi CD milik Sai. "Kukira kau kencan dengan cowokmu dulu."

"Kenapa bicaramu jadi sinis begitu, sih?" tukas Ino sambil menendang Naruto, membuat cowok itu tersungkur ke jok mobil—dan sekali lagi mengaduh keras dan mengumpat-umpat. Ino tampak tidak peduli. "Kami tidak kencan setiap hari, asal kau tahu saja."

Naruto membuat wajah sebal yang tidak bisa dilihat Ino. "Ya sudah. Kau masuk saja. Sasuke dan Sai ada di dalam."

"Ya sudah…"

Naruto bisa mendengar suara langkah kaki Ino menjauhinya. Selang beberapa detik ia langsung teringat sesuatu. Sai juga ada di dalam! Ia menegakkan tubuh terlalu cepat dan sepertinya lupa kalau kepalanya sedang berada di dalam mobil. Seluruh badan mobil bergetar ketika kepalanya membentur atap mobil dengan keras dan alarm mobil itu langsung meraung-raung memekakkan telinga. Naruto menyumpah-nyumpah. Matanya mulai berair lagi.

"Aow… sial!"

Tangannya gelagapan mencari-cari tombol untuk mematikan alarm mobil sementara kepalanya berdenyut-denyut menyakitkan.

"Ck! Si Naruto sepertinya bikin masalah lagi." Sasuke yang mendapat giliran membersihkan meja yang baru saja ditinggalkan salah satu tamu restoran melongok ke luar jendela. "Sai. Itu—"

"Tidak apa," sahut Sai santai sambil mengibaskan tangannya, wajahnya tampak geli. Sedetik kemudian alarm berisik itu tidak terdengar lagi. "Benar, kan?"

Sasuke mendengus. "Kau ini terlalu santai. Mobilmu itu bukan jenis mobil murah. Bagaimana kalau sampai rusak?"

"Tinggal diperbaiki," sahut Sai sambil mengangkat bahu, "Atau beli yang baru."

Sasuke memutar matanya, kemudian kembali melanjutkan kegiatannya mengelap meja, sebelum pergi ke dapur untuk membawa piring dan gelas kotor untuk dicuci. Tepat saat punggung Sasuke baru saja menghilang, pintu depan membuka dan sosok jangkung seorang gadis yang dibalut mantel biru cerah melangkah masuk.

Sai yang kebetulan sedang berada di dekat pintu tentu saja langsung menyambutnya. "Selamat siang—Ah…" kata-katanya seperti tertahan di tenggorokan saat menyadari siapa yang baru datang. "I-Ino?"

Yang disapa membalasnya dengan senyum cemerlang, yang dengan sukses membuat cowok di depannya itu gugup. "Hai!" Mata biru Ino mengawasi Sai dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Wow… kau kelihatan… Um, seragam itu pas sekali untukmu. Ah—maksudku, tentu saja bukan berarti kau cocok jadi pelayan," gadis itu buru-buru menambahkan sambil meringis.

"Benarkah?" tanya Sai tak jelas sambil menatap gadis itu—sepertinya ia tidak menyadari apa yang dilakukannya.

Ino mengangkat alisnya. "Um… yeah…" Entah mengapa ia jadi gugup juga ditatap seperti itu. Ino buru-buru melempar pandangan ke arah lain seraya menurunkan tudung mantelnya dan menyibak rambut yang jatuh ke matanya. "Aku datang untuk ikut membantu juga." Ino kembali menoleh pada Sai, tersenyum padanya. Tanpa menunggu balasan dari cowok itu, Ino langsung melesat ke konter.

"Kau sudah datang, Ino?" sapa Ayame cerah. Gadis berambut cokelat itu merogoh ke bawah meja konter.

"Seragamku sudah ada, kan?" Ino menanyainya.

Ayame mengeluarkan sesuatu yang baru saja diambilnya dari bawah meja; kaus seragam Blocaf dan celemeknya yang dibungkus plastik transparan. "Sudah kusiapkan untukmu."

"Thanks!" Ino mengambilnya dan langsung melesat ke ruang ganti, kemudian berpapasan dengan Sasuke yang baru keluar dari dapur. "Halo, tampan!" Ino menyapanya nakal, sebelum menghilang di pintu ruang ganti karyawan sambil mengikik.

"Apa yang dia dilakukan di sini?" tuntut Sasuke pada Sai, tampak risih disapa 'tampan' dengan tatapan nakal seperti itu. Ia tahu Ino hanya bergurau—dan gadis itu sering melakukan itu di sekolah untuk menggodanya—tapi tetap saja, kan?

Sai mengerjap, seperti baru terbangun dari lamunannya. "Dia um… katanya mau membantu." Menghindari tatapan Sasuke, Sai cepat-cepat berlalu dari sana menuju kamar kecil. Namun Sasuke sempat melihatnya mencengkeram bagian depan kausnya, tepat dimana jantungnya berada seraya mendesis pelan, "Shut up, damn heart!"

"Haaah…" Sasuke menghela napas sambil geleng-geleng kepala. Tepat saat itu Naruto kembali dengan membawa beberapa keeping CD yang didapatkannya dari mobil Sai.

"Mana Sai?" tanyanya, mengedarkan padangan mencari-cari sosok sobatnya yang satu lagi.

Sasuke mengendikkan kepala ke arah toilet.

"Ino?"

"Hn."

Naruto menghembuskan napas keras. "Sepertinya ia masih belum bisa bersikap santai, eh?" ujarnya sambil menggelengkan kepala, lalu berjalan menuju tempat di mana mereka memutar musik untuk mengganti lagu. Sesaat kemudian lagu oldies yang mengalun langsung digantikan lagu band masa kini. Nyengir, Naruto memberi isyarat tangan metal pada Sasuke yang mengacuhkannya dan memilih membukakan pintu bagi serombongan besar cowok-cowok yang baru datang.

"Yosh! Kami datang, Naruto!! Bisa sediakan tempat untuk er…" Rock Lee mulai menghitung teman-temannya—hampir semua anggota klub sepakbola—"duapuluh satu orang?"

"Yosh!" Naruto membalas girang. Ia langsung melompat maju, ber-high five dengan Sasuke—yang juga menyeringai senang—lalu bergegas mengatur meja untuk mereka semua.

Isaribi, yang saat itu juga berada di dekat pintu tercengang melihat rombongan besar yang baru datang itu.

-

-

"Ibu tidak pernah tahu di sini ada kedai nasi daging panggang yang enak," kata Azami saat ia dan Sakura baru saja selesai makan siang di kedai nasi daging panggang di dekat KAA. Sekarang mereka sedang berjalan menyusuri trotoar lebar di kompleks sekolah seni itu untuk kembali ke mobil mereka yang diparkir tak jauh dari sana.

"Benar, kan?" seru Sakura sambil tersenyum puas. "Sai pernah mentraktirku makan di sana."

"Oh, ya?" Azami melempar pandang menggoda pada putrinya. "Jadi kau juga sudah pernah berkencan dengan Sai ke sana."

Mendengar kata-kata ibunya kontan membuat wajah Sakura bersemu. "Kami tidak berkencan!" bantahnya dengan ekspresi sebal—Azami terkekeh—"Dia hanya mengajakku melihat-lihat KAA, dan pulangnya dia mentraktirku makan. Itu saja. Kami tidak berkencan!" ulangnya.

"Hmm…" Azami mengangguk-angguk, masih tersenyum nakal.

"Ibu tidak percaya padaku," sungut Sakura cemberut.

Ibunya tertawa lagi. "Ibu percaya padamu. Hanya saja melihat kau dikelilingi pemuda-pemuda yang menarik, jadi agak sulit. Kau tahu, kan?"

"Ibu…" Sakura menggembungkan pipinya, pertanda sebal. Lalu berjalan mendahului ibunya.

"Jadi kau hanya berkencan dengan Neji?"

Sakura nyaris saja terjatuh saking kagetnya. Wajahnya bukan hanya merah biasa, tapi benar-benar merah padam, hampir menyamai warna rambut ibunya. "Ibu… aku tidak kencan dengan Neji juga… meskipun aku berharap seperti itu," ia menambahkan dalam bisikan pelan. Digigitnya bibir bawahnya untuk menahan cengiran dan gadis itu melesat berlari meninggalkan Azami di belakang menuju wagon mereka. "Ibu! Biar aku yang menyetir, ya!" serunya.

Azami tertawa saja melihat keceriaan mendadak di wajah putri tunggalnya itu.

Selama perjalanan pulang, Sakura tak hentinya bersenandung riang mengikuti alunan lagu dari radio mobil. Bahkan gadis itu juga memaksanya ikut bernyanyi bersamanya. "Aku pernah mendengar bernyanyi itu bagus untuk terapi, lho…" koarnya gembira.

"Iya.. tapi kau juga hati-hati menyetirnya, Sayang," tegur Azami saat Sakura nyaris saja menerobos lampu lalu lintas.

"Ah, ha ha ha… maaf…"

Meski begitu, gadis yang mewarisi sepasang bola mata ibunya itu masih melanjutkan nyanyiannya, setidaknya sampai mereka melihat seseorang yang mereka kenal—seseorang yang tidak seharusnya ada di sana—membagikan selebaran pada orang-orang lewat.

"Izumo? Ibu, itu Izumo, kan?" Sakura menunjuk pria berjaket kulit di tepi jalan tidak jauh dari Blossoms Café.

Azami mengikuti arah pandang Sakura dan tampak terkejut. "Ah, iya. Itu Izumo. Sedang apa dia di sini?"

Sakura menepikan mobilnya dan menurunkan kaca jendela. "Hei, Izumo!" serunya memanggil pria itu.

Izumo menoleh, tampak kaget melihat mereka. Meski begitu ia tetap mendekat—dengan gugup tentu saja. "Nyonya… um… Hai, Sakura."

"Kau sedang apa di sini?" Azami menanyainya.

"A-Aku… Um… Aku hanya—"

"Selebaran apa itu?" Sakura menyelanya, mengambil selebaran yang masih tersisa dari tangan Izumo, kemudian membacanya. Azami yang penasaran juga ikut melongok. Mata keduanya melebar, jelas terkejut melihat apa yang tertulis di sana.

"Izumo…" Azami menatap pegawainya tak mengerti. "Kita tidak pernah membuat selebaran semacam ini, kan?"

Izumo tertawa gugup seraya menggaruk belakang kepalanya sementara kedua wanita di dalam mobil itu menatapnya. "Yeah… itu memang bukan… er… maksud saya, itu buatan orang lain."

"Izumo?"

"Oh, baiklah, Nyonya…" ujarnya mengalah pada akhirnya. Toh, nanti juga mereka akan tahu, kan? Izumo memberitahu segalanya pada Azami dan Sakura yang terkaget, segalanya tentang Sasuke, Naruto dan Sai, juga semua rencana mereka.

"Oh, astaga… mereka bertiga…" desah Sakura lemas, tak percaya sahabat-sahabatnya akan berbuat sampai sejauh itu untuknya. Matanya sudah digenangi air mata haru. Sementara Azami tampaknya tak bisa berkata-kata saking kagetnya.

Tanpa pikir panjang, Sakura langsung tancap gas menuju restoran keluarganya dan terkejut saat mendapati lapangan parkir di depannya nyaris penuh. Setelah memarkirkan wagonnya di sudut sempit yang tersisa, Sakura bergegas masuk. Azami menyusul di belakangnya. Jika lapangan parkir yang penuh sudah membuatnya terkaget, itu belum seberapa dibanding apa yang dilihatnya di dalam. Wajah-wajah yang sudah sangat dikenalnya menyambut dan menyapanya. Dan ia melihat ketiga—ah, empat, ditambah Ino—melesat kesana kemari dalam balutan seragam restoran melayani tamu.

Hokuto dan teman-teman klub teaternya melambai dari meja di sudut. Ia juga melihat Tenten di sana. Juga Karin dan gadis-gadis cheers, Kiba dan teman-teman dari jurnal kecuali Hinata yang tidak tampak di mana pun, Shikamaru, Chouji dan rombongan anak-anak musik. Melihat teman-temannya ada di sana membuat lututnya lemas.

"Oh, Tuhan…" desah Azami di belakangnya. Wanita itu memekapkan tangan di mulutnya.

"Nyonya, Sakura! Akhirnya datang juga…" sambut Isaribi ceria. Gadis itu kemudian menggiring Azami menuju konter sementara Sakura sudah melesat terlebih dahulu, menyambar Sasuke yang paling dekat dengannya.

Sasuke yang sedang mencatatkan pesanan untuk gadis-gadis berisik dengan tampang suntuk nyaris saja menjatuhkan penanya saat Sakura tiba-tiba menariknya. "Oi!" serunya kaget, ditingkahi teriakan kecewa dari gadis-gadis barusan.

"Sori, aku pinjam dia dulu," kata Sakura meminta maaf sambil menarik lengan Sasuke. "Isaribi. Tolong dong…" Sakura menunjuk meja yang baru ditinggalkan Sasuke, lalu menyeret cowok itu ke ruang ganti dan menutup pintunya.

"Tidak pakai tarik-tarik bisa, kan?" Sasuke menukas jengkel sambil membenahi kausnya yang nyaris melorot karena ditarik-tarik, berusaha tidak terlihat terlalu gugup di depan gadis itu.

Sakura mengabaikannya. Mata hijaunya membulat dan tampaknya ia sulit menemukan kata-kata selama beberapa saat. "Jadi…" ia memulai dengan suara bergetar. Sakura menelan ludahnya, berusaha menenangkan dirinya. "Izumo sudah menceritakan semuanya… tentang rencanamu—"

"Rencana kami," Sasuke mengoreksinya jemu.

"Rencana kalian," Sakura mengangguk setuju. Ia mendongak menatap mata cowok jangkung di depannya itu lurus-lurus—membuat wajah Sasuke terasa terbakar. Untung saja penerangan di ruangan itu remang-remang, jadi Sakura tidak melihat wajahnya memerah—"Mengapa kalian tidak memberitahuku?"

"Kurasa itu tidak akan membuat perbedaan," sahut Sasuke—berusaha—tenang.

"Harusnya kalian memberitahuku!" tuntut Sakura, tercabik antara kesal dan terharu.

"Kami ingin membuat kejutan untukmu, Sakura," kata suara seseorang di belakang mereka. Keduanya menoleh dan melihat Naruto dan Sai memasuki ruangan. Keduanya tersenyum. "Kami sangat ingin membantumu. Dan kami tahu kalau kami memberitahumu kemungkinan kau akan menolak. Tidak ingin merepotkan kami. Kami tahu kau seperti apa, Sakura."

"Naruto…" Sakura menatap sahabatnya yang satu itu lemas.

"Hanya ini yang terpikir, tidak seberapa—"

"Oh, tidak. Ini tidak tidak seberapa," Sakura menyela Sai. Pelupuk matanya sudah dipenuhi air mata lagi saat ia menatap ketiga cowok itu satu per satu. "Ini… benar-benar…" Saat berikutnya, gadis itu tampaknya sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Ia menyambar ketiga sahabatnya dan memeluk mereka sekaligus.

"S-Sakura… kau mencekik kami…" cicit Naruto yang terjepit di tengah-tengah.

"Bodoh… bodoh…" isak Sakura di bahu terdekat yang bisa dicapainya—bahu Sasuke. "I love you, three. Really love ya…"

"Oh, oke…" Naruto nyengir. Sai tersenyum dan Sasuke menyeringai tipis seraya menepuk-nepuk punggung Sakura lembut. Mereka berempat berpelukan bersama seperti itu sampai…

"Ehem!"

Keempatnya saling melepaskan diri dan menoleh. Ino berdiri bersandar di pintu. Kedua lengannya terlipat, menatap mereka dengan sorot mata lembut, begitu juga senyum yang tersungging di bibirnya.

"Ino!" seru Sakura seraya menghapus air mata di wajahnya.

"How sweet…" komentar Ino, "Boleh aku bergabung?"

"Tentu…"

Gadis pirang itu langsung berseri-seri, kemudian ikut mendekat, bergabung dalam group hug itu—Sai buru-buru mencari posisi sejauh mungkin dari Ino, menyusup antara Sasuke dan Sakura, tanpa menyadari beliakan Sasuke padanya. Sakura tentu saja tidak keberatan.

"Ehem!" sekali lagi ada yang menyela mereka. Kali ini Kotetsu—sepertinya ia baru saja kembali dari menyebarkan selebaran, karena ia masih mengenakan jaket dan syalnya. "Maaf menyela, tapi di depan sedang banyak tamu yang harus dilayani. Kalau kalian tidak keberatan—"

"Tentu tidak!" Sakura langsung melompat keluar dengan level semangat di tingkat paling tinggi setelah menyambar celemeknya dari loker. Teman-temannya segera menyusulnya.

Suasana di restoran itu semakin sore semakin ramai. Tidak hanya murid-murid Konoha High yang datang kali ini—meskipun mereka masih berdatangan dan beberapa dari mereka malah bertahan di sana sampai senja. Sepertinya selebaran yang mereka sebarkan mulai membuahkan hasil. Itachi, kakak Sasuke juga datang bersama pacarnya. Kemudian Kankurou dan adiknya, Gaara, juga paman mereka yang langsung bergabung dengan Itachi, Sasori. Rin dan Kakashi datang kemudian untuk makan malam. Juga suster Airi yang disambut seruan menggoda dari anak-anak yang tahu kalau ia sedang pacaran dengan salah satu pegawai di sana—membuat gadis itu merona merah. Beberapa kenalan mendiang Hiroyuki juga terlihat datang—mereka mengatakan melihat selebaran yang ditempel di papan pengumumang umum di bandara.

Sementara itu, Naruto juga tampak sangat bersemangat mengisi kembali panggung yang ditinggalkan Hiroyuki. Azami tidak keberatan, justru sangat gembira, terlebih saat Naruto menyanyikan lagu yang pernah dimainkannya bersama Hiroyuki khusus untuknya. Para tamu bersorak dan bertepuk untuknya, membuatnya semakin bersemangat. Ia juga menarik Shikamaru dan Chouji dan mereka bertiga berakustik di panggung. Ino juga turut menyumbang suaranya sesekali. Sai yang baru belajar bergitar juga ditarik main oleh Naruto. Ia juga berusaha menarik Sakura, tapi gadis itu terlalu malu.

Terlebih setelah Neji datang bersama Hinata dan adik perempuannya, Hanabi.

"Naruto! Aku harus melayani pelanggan di sini!" desis Sakura yang sedang mencatatkan pesanan untuk ketiga Hyuuga itu. Wajahnya memerah. Dari atas panggung, Naruto baru saja memintanya untuk naik dan menyanyikan sesuatu untuk para tamu.

"Ayolah, Sakura!" Naruto berseru membujuknya, yang diikuti yang lain.

"Sakura! Sakura! Sakura!"

"T-Tapi…" ia mengerling meja di sampingnya. Sakura benar-benar tidak percaya diri kalau di depan Neji, apalagi suaranya pas-pasan, tidak sebagus Ino.

Hinata tersenyum padanya. "Pasti menyenangkan mendengarmu bernyanyi, Sakura," ujarnya mendukung, "Naruto pernah memberitahuku kalau suaramu bagus."

"Ayo, Kak!" Hanabi ikut-ikutan.

Sakura melirik Neji—kesalahan besar! Cowok itu sedang menatapnya juga. Tersenyum sambil bertepuk mendukungnya agar naik panggung. "Aku tahu kau bisa nyanyi, Sakura. Ayolah…"

Gadis itu nyaris lemas lagi mendengar kata-katanya. Ia menelan ludahnya. "Baiklah…" gumamnya, lalu mengangsurkan notes dan pena yang dipegangnya pada Isaribi dan berjalan ke arah panggung dengan wajah merah padam. Tepukan para tamu—yang sebagian besar orang-orang yang mengenalnya—mengiringi langkahnya yang gemetaran.

"Kau mau lagu apa, Sakura?" tanya Naruto dengan senyuman puas di wajahnya.

Sebelum Sakura sempat menjawabnya, Ino menyela mereka. "Biar aku saja yang mengiringinya, Naruto!" Gadis itu bergegas naik panggung, mengambil gitar di tangan Naruto. "Kau turun saja istirahat. Memangnya tidak lelah dari tadi nyanyi terus."

Naruto memberinya cengiran lebar. "Tahu saja, Ino." Kemudian ia turun dan bergabung dengan Sasuke yang sejak tadi berdiri di sudut dengan wajah kusut dan tidak puas. "Kenapa kau?" tegur Naruto.

Sasuke tidak menjawabnya kecuali dengan gerutuan kecil yang dianggap Naruto sebagai, 'Diamlah!'

Di panggung, Sakura sudah mengambil gitar tua milik ayahnya dan duduk di kursi tinggi menghadap ke para pengunjung yang menatapnya, menunggu. Dari sana ia bisa melihat wajah orang-orang yang dikenalnya; Kakashi, Rin, Itachi, Gaara, Ibunya, semuanya… terutama Neji. Wajahnya seperti jelas sendiri di antara orang-orang yang berwajah buram, tersenyum padanya, membuatnya semakin gugup saja.

"Santai saja, oke," bisik Ino yang juga sudah duduk di sampingnya. Gadis itu melempar senyum menenangkan. "Kita lakukan seperti biasanya saja."

"Oke," Sakura mengangguk samar, masih tegang.

"Lagu yang itu, kan?" Ino melempar pandangan penuh arti.

Sakura membalas senyumnya. "Ya," sahutnya mantap.

"Oke."

Sakura kembali menatap pada penontonnya kemudian memejamkan mata dan mulai mengatur napasnya. Tenang, Sakura… Nyanyikan saja, dan semuanya akan beres. Gadis itu kembali membuka matanya dan ia merasa lebih percaya diri. Ino memberi aba-aba pelan padanya, sebelum ia memetik nada-nada pembuka. Sakura mengikutinya dengan suaranya dan orang-orang mulai bertepuk untuknya.

"I try but I can't seem to get myself
To think of anything
But you.."

"Oh, oh… sepertinya aku tahu Sakura menyanyikan itu untuk siapa…" kekeh Naruto sambil melirik Sasuke dari sudut matanya. Sasuke mengerutkan dahinya, tidak membalas.

"Wow, suaranya lumayan," komentar Sai yang baru saja bergabung dengan mereka setelah mengantar piring kotor ke dapur.

"Your breath on my face
Your warm gentle kiss I taste the truth
I taste the truth

We know what I came here for
So I won`t ask for more"

Memasuki bagian refrain, Ino turut bernyanyi mengirinya. Kedua gadis itu bertukar senyum di atas panggung, sebelum pandangan Sakura beralih ke penontonnya, menatap langsung ke mata cowok itu seakan ia sedang bernyanyi untuknya.

"I wanna be with you
If only for a night
To be the one whose in your arms
Who holds you tight
I wanna be with you
There`s nothing more to say
There`s nothing else I want more than to feel this way
I wanna be with you, yeah…"

Rupanya ada yang menyadari tatapan itu. Tidak tahan, ia akhirnya memutuskan untuk keluar. Menghirup udara segar. Mata sahabatnya mengikutinya, begitu juga saudaranya.

"Mau kemana Sasuke?" tanya Sai. Ia baru saja hendak menyusulnya tapi Naruto menahannya.

"Biarkan dia sendirian dulu," ujarnya. Sai masih tampak tidak mengerti.

Tanpa dilihat siapa pun—setidaknya ia mengira begitu—Sasuke mendorong terbuka pintu depan dan berjalan keluar, tidak memedulikan udara dingin yang segera menyulut kulitnya yang terbuka. Ia menghirup udara dingin itu dalam-dalam, mencoba memasukkan oksigen sebanyak mungkin ke dalam paru-parunya yang tiba-tiba saja terasa sesak, lalu menyisiri rambutnya dengan jemari asal saja. Saat itu ia benar-benar membenci dirinya sendiri karena telah lancang memiliki perasaan seperti ini pada sahabatnya sendiri. Tapi ia juga merasa tidak berdaya melawannya.

"Brengsek!" ia memaki dirinya sendiri, lalu menghenyakkan diri di anak tangga, mengacak-acak rambutnya dengan frustasi.

"Kau bisa beku kalau duduk di sini, Sasuke," kata suara seseorang di belakangnya.

"Tinggalkan aku sendirian, Kak," geramnya.

Itachi tersenyum memandang punggung adiknya. Alih-alih kembali masuk ke dalam seperti kata adiknya, ia malah mendudukkan diri di sampingnya. "Kau tahu, telingaku ini kadang-kadang sangat sensitif. Kurasa barusan aku mendengar suaramu yang bilang kalau kau butuh ditemani kakakmu ini."

Sasuke mendengus kecil, tapi tidak menoleh. Mata hitamnya memandang kosong ke depan mereka, ke langit malam yang bertabur bintang. Senyum getir tergambar di bibirnya.

Di sampingnya, Itachi menghela napas, membentuk gumpalan-gumpalan uap hangat kecil-kecil di udara, kemudian merangkulkan lengannya di pundak sang adik, menepuk-nepuknya menguatkan. Tanpa Sasuke mengatakan apa pun, ia bisa memahami apa yang dirasakan adiknya itu.

"Dia menyukai orang lain, Kak," ujar Sasuke dalam bisikan pelan, masih memandang kosong ke angkasa. "Dia menyanyikan lagu itu untuknya."

"Hn." Itachi menepuk bahu adiknya lagi.

"Dia sangat menyukainya," ulang Sasuke.

"Aku tahu." Itachi menghela napasnya sekali lagi, ikut memandang ke langit. "Dan suaranya amat bagus."

Sasuke mendengus, setengah menahan tawa. Itachi tersenyum samar. Ia duduk di sana selama beberapa waktu lagi, menemani adiknya, sama sekali tidak berkata apa-apa lagi setelah itu. Ia tahu adiknya tidak membutuhkan nasihatnya. Sasuke sudah cukup dewasa untuk bisa memilih mana yang terbaik—meskipun ia terkadang masih suka lepas kendali. Maka ia diam saja. Duduk di sana, berharap keberadaannya di sana bisa menentramkan hati Sasuke. Setidaknya sedikit.

-

-

"Terimakasih banyak, teman-teman!" ucap Sakura saat restoran sudah tutup dan mereka duduk di satu meja untuk menikmati semangkuk ramen gratis porsi jumbo dari Paman Teuchi. "Hari ini benar-benar luar biasa."

"Tidak hanya hari ini, Sakura," kata Naruto, "Minggu depan kami akan kembali lagi. Iya kan, teman-teman?"

"Tentu," sahut Sai.

"Hn," gerutu Sasuke.

"Akan kuusahakan," timpal Ino.

"Apa ini tidak merepotkan kalia—"

Perkataan Azami langsung disela orang mereka, bahwa mereka sama sekali tidak keberatan dengan semua ini dan bahwa mereka senang melakukannya.

"Dan Sasuke juga sepertinya senang dikerubuti penggemarnya di sini," gurau Naruto, yang langsung disambut death glare dari yang bersangkutan.

Sedetik kemudian, meja itu langsung dipenuhi gelak tawa. Kalau ada yang mengakhiri hari itu dengan sempurna, itu adalah dengan tawa, bukan? Dan Sakura menatap sahabat-sahabatnya dengan rasa sayang yang semakin besar.

Setelah semua mangkuk bersih dan bangku-bangku sudah dinaikkan, tiba saatnya untuk pulang. Sai akan mengantar Naruto pulang karena rumah mereka searah. Ino dijemput pacarnya, Idate. Sementara Sasuke, ia akan pulang jalan kaki.

"Sasuke ikut aku dan ibu saja," Sakura yang tidak tega melihat cowok itu jalan kaki sendirian malam-malam begini ditengah udara musim dingin yang mengigit, menawarinya.

Sasuke mengerling Azami yang sedang mengunci restoran bersama Yamato, lalu kembali memandang Sakura. "Tidak perlu. Rumahku hanya beberapa blok dari sini."

"Tapi, kan—"

"Aku suka jalan kaki," sela Sasuke. "Jangan menganggapku cowok lemah, Sakura. Aku bisa menjaga diriku."

Sakura cemberut. "Bukannya begitu…"

"Ya sudah. Sudah larut, aku harus pergi sekarang," pamit Sasuke. Ia berbalik dan melambaikan tangannya sekilas. "Sampai ketemu besok."

"Sampai ketemu besok!" balas Sakura, tersenyum. Mata hijaunya mengawasi sampai punggung Sasuke menghilang di ujung jalan.

"Kita pulang, Sakura?" suara Azami mengalihkan perhatiannya.

"Oke, Bu!

-

-

Minggu-minggu berikutnya semuanya berjalan normal di sekolah, kecuali kalau kesibukan untuk persiapan festival bisa dibilang diluar batas kenormalan. Sakura masih dengan kegiatan biasanya, latihan drama dan segala tetek bengeknya termasuk pengukuran kostum dan pemotretan untuk pamflet drama—yang posenya benar-benar bikin canggung dan panas muka, dimana ia dan partnernya, Neji, harus saling berdekatan dan kening mereka bersentuhan satu sama lain.

Sasuke juga sudah mulai disibukkan dengan anak-anak dan klub yang mendaftar untuk pendirian stand, dan ia juga sudah mulai hunting tempat untuk menyewa tenda dan peralatan-peralatan lain bersama Naruto—Naruto yang menjadi penunjuk jalan, karena ia yang lebih tahu Konoha. Ia juga sudah ditarik Tenten untuk membicarakan soal bantuan untuk properti panggung. Awalnya Sasuke agak keberatan karena ia tidak tahu menahu soal properti seperti itu, terlebih saat Sakura memperlihatkan padanya seperti apa desain latar yang mereka butuhkan dari buku pemberian Neji. Rumit sekali. Tapi setelah Sakura memberinya tatapan memelas yang mematikan, Sasuke akhirnya mengalah dan bersedia untuk membantu.

"Sai! Kau juga ikut kami. Kami butuh pelukis!" hardik Sasuke seenaknya pada Sai yang hanya bisa terbengong saja. Tidak memedulikan kesibukan Sai bersama tim pubdok-nya yang harus melesat kesana kemari untuk mempublikasikan acara itu dan mendokumentasikan setiap persiapan yang mereka lakukan. Tapi toh Sai tetap menyanggupinya.

"Semua kesibukan ini membuat moodnya jelek," bisik Naruto pada Sai dan Sakura suatu hari pada jam istirahat makan siang sambil mengendikkan kepala ke arah Sasuke yang berjalan di depan mereka. Mereka sedang dalam perjalanan kembali dari perpustakaan menuju kantin untuk makan siang. "Harusnya kalian lihat tampang anak kelas satu yang tadi mau mendaftarkan stand-nya. Dia ketakutan seperti mau menghadapi monster saja."

"Sasuke memarahinya?" tanya Sakura penasaran.

"Tidak sih," Naruto menjawab sambil meringis. "Hanya memasang tampang jutek." Cowok itu lalu menirukan tampang Sasuke dan dengan sukses membuat Sakura dan Sai tergelak.

"Apa?" Sasuke yang merasa sedang dibicarakan langsung menoleh dan memelototi Naruto.

"Tidak," kata Naruto menahan tawa.

Mereka kemudian melewati selebaran dengan cap OSIS yang tertempel liar di dinding. Selebaran itu mengumumkan tentang pembukaan pendaftaran untuk kandidat ketua OSIS tahun berikutnya.

"Hei, lihat! Pendaftaran ketua OSIS baru!" Naruto mencabut pengumuman liar itu dan memperlihatkan pada ketiga temannya. "'Bagi teman-teman yang berminat, silakan masukan formulir ke dalam kotak yang sudah disediakan di depan ruang guru'—Kenapa di ruang guru? Peraturan yang aneh—'Formulir bisa diminta di sekretariat OSIS'. Ada yang berminat ikut? Sakura?"

"Oh, tidak, terimakasih," sahut Sakura segera, sambil tertawa garing. "Aku hanya ingin fokus di teater saja."

"Sai?"

"Tidak," sahutnya datar. "Aku tidak berbakat yang begituan."

"Sasuke?"

"Kenapa tidak kau saja?" Sasuke malah balik bertanya. Tampangnya bosan. "Aku tidak berminat. Mengurusi satu tim saja sudah menyusahkan, apalagi seluruh sekolah." Tim yang dimaksudkannya tentu saja adalah tim logistik yang dipimpinnya.

"Tapi kau berhasil," ujar Sai. "Semua tim-mu bekerja sekarang, tidak seperti sebelumnya."

"Itu benar!" sahut Naruto gembira.

"Kau tahu, Sasuke? Kau berbakat menjadi pemimpin," kata Sakura sambil tersenyum.

Sasuke berbalik, lalu menatap mereka bertiga dengan dahu berkerut. "Aku tidak berminat!" tegasnya, lalu berbalik lagi.

Di belakangnya, Naruto, Sakura dan Sai bertukar pandang. Sesaat kemudian, seringai jahil muncul di wajah Naruto. Ia cepat-cepat melipat kertas di tangannya dan memasukkannya ke dalam saku. Sakura dan Sai yang masih tidak paham dengan perubahan tingkah Naruto mengangkat alis mereka tinggi-tinggi.

"Ah, aku lapar!" seru Naruto tiba-tiba sambil merangkul Sasuke. "Bagaimana kalau kita makan ramen, eh?"

"Apa yang sedang ia rencanakan?" tanya Sakura pada Sai dalam bisikan.

"Entahlah," sahut Sai sambil mengangkat bahu. "Tapi apa pun itu, aku merasa itu bukan kabar baik untuk Sasuke."

-

-

"I Wanna Be With You" © Mandy Moore

-

-

TBC…

-

-


Penghargaan terbesar untuk yang sudah mengikuti, mereview dan memberi dukungan penuh untuk tulisan ini. Thanks a lot! -bowed- ^_^