Beware of OoC-ness!! =_=
Chapter 68
Badai salju terparah sepanjang tahun yang menerpa Konoha membuat kota kecil itu hampir seluruhnya tertutup salju. Suhu udara menurun drastis dan wabah flu musim dingin mendadak menyebar dan menjangkiti orang-orang yang tidak waspada. Tidak terkecuali siswa-siswa dan bahkan beberapa guru Konoha High. Bisa diperkirakan pagi itu suasana di sekolah lebih lengang dari biasanya. Bangku-bangku banyak yang kosong, bahkan ada beberapa mata pelajaran yang terpaksa dibatalkan karena guru yang mengajar tidak masuk. Sakit atau terjebak badai dan tidak bisa keluar rumah menjadi alasan.
Tapi itu sama sekali tidak memengaruhi guru Sejarah mereka untuk tetap mengajar. Meskipun terlambat hampir satu jam dan masuk kelas dengan memakai masker yang menutupi hidung dan mulutnya, pria dengan bekas luka bakar di wajah—yang seksi, menurut pendapat beberapa murid perempuannya—itu tetap melakukan tugasnya. Dan satu jam berikutnya mereka habiskan dengan mendengarkan suaranya yang sengau akibat flu.
"Dari dulu aku sudah menyangka Pak Namiashi itu pria tangguh," komentar Naruto setengah bergurau setelah kelas bubar. "Tidak pantang menyerah meskipun virus-virus influenza menghadang di depannya." Ia terkekeh sambil memasukkan bukunya ke dalam tas.
"Yeah, itu kan karena ia peduli pada pendidikan kita," kata Sakura. Gadis itu memutar tubuhnya ke belakang, ke bangku Sasuke yang kini ditempati Naruto karena yang bersangkutan sedang terkapar sakit di rumahnya. "Bilang saja kau ingin pembatalan pelajaran lagi supaya kau bisa pulang."
Naruto nyengir, seraya menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. "Habis aku cemas sekali. Adik-adikku di panti asuhan banyak yang kena wabah flu. Semalaman Pap menginap di panti untuk merawat mereka."
"Kurasa ini musim dingin terparah yang pernah kualami seumur hidup," Sakura berkata seraya menghela napasnya. "Halaman rumahku tertimbun salju sampai di atas mata kaki."
"Dan wabah flu ini juga parah. Sasuke juga sampai kena," ujar Naruto muram.
"Sepertinya itu gara-gara kalian pergi saat badai salju," Sai yang sedang setengah jalan mengancing tasnya ikut bersuara. "Sasuke sepertinya sudah demam saat itu. Wajahnya merah sepanjang waktu." Cowok itu mengangkat bahunya.
Entah apa yang membuat cengiran justru muncul di wajah Naruto saat Sai mengatakan itu, wajahnya merah sepanjang waktu. Ia tidak yakin kalau wajah Sasuke yang merah waktu itu sepenuhnya karena demam. Waktu itu ia memaksa Sasuke dan Sai melihat latihan drama klub teater—mereka berlatih di gymnasium. Selain memang ingin melihat mereka, Naruto juga ingin membuktikan teorinya—Yah, meskipun sebenarnya ia sangat berharap teorinya itu salah—bahwa ada rasa lain yang sudah muncul di hati Sasuke terhadap Sakura.
Tampang Sasuke memang datar-datar saja sepanjang mereka menonton. Tapi Naruto memperhatikan rona merah di wajah sobatnya itu semakin lama semakin menggelap setelah beberapa waktu menonton, dan ia nyaris bisa merasakan panas yang menguar dari tubuh Sasuke. Entah itu karena demam atau ada alasan lain—teorinya.
"Kalian pergi saat badai salju?" tanya Sakura dengan ekspresi terkejut. "Setelah kalian menonton latihan kami?"
"Er… yeah…" sahut Naruto, meringis.
"Ngapain?"
"Mereka bilang mau cari tempat penyewaan perlengkapan. Katanya yang terakhir itu terlalu mahal," Sai lah yang menjawabnya.
Dahi Sakura berkerut. "Kan bisa dicari lain waktu," ujarnya tak habis pikir. Gadis itu melempar tatapan mencela pada Naruto. "Hah.. dasar cowok suka cari penyakit. Pantas saja Sasuke jadi sakit begitu. Tadi pagi waktu aku meneleponnya dia nyaris tidak bisa ngomong!"
Oh, yeah… berarti yang kemarin dia benar-benar demam. Hmm…
"Tapi aku tidak sakit," kata Naruto berkilah.
"Itu karena daya tahah tubuhmu sangat bagus," Sakura menghela napasnya, lalu menjejalkan kotak pensilnya dan mengancing tasnya. Yang dikatakannya memang masuk akal. Entah bagaimana caranya Naruto selalu saja bisa lolos dari berbagai macam wabah yang pernah terjadi di sekolah itu. Ia masih belum lupa dengan wabah cacar air saat mereka kelas satu, dan flu setiap musim gugur. Naruto berhasil lolos dari kedua-duanya. Dan sekarang juga begitu.
Ketiganya kemudian meninggalkan kelas yang sudah lengang itu. Naruto dan Sai menuju kantin untuk makan siang seperti biasa sementara Sakura pergi ke kamar kecil. Ia bertemu Ino di sana, sedang bersama Karin dan yang lain.
Dan seperti biasa setiap kali ia bertemu dengan rombongan itu, mereka mencecarnya soal Sasuke. Dan ketidakmunculannya di sekolah hari menimbulkan spekulasi yang macam-macam. Mulai dari isu kalau ia kembali lagi ke Oto karena tidak tahan dengan tekanan dari pihak OSIS yang katanya memaksanya untuk jadi panitia, sampai kabar-kabari kalau Sasuke kecelakaan saat terjadi badai kemarin.
"Sasuke tidak apa-apa," jawab Sakura bosan. "Dia cuma kena flu dan akan kembali masuk kalau sudah sehat."
Tapi gadis-gadis itu sepertinya kurang puas dengan jawaban yang diberikan Sakura dan terus saja mencecarnya dengan pertanyaan. Ah, memang merepotkan kalau kau akrab dengan salah satu cowok paling populer di sekolah, Sakura membatin jengkel. Bukannya ia tidak suka akrab dengan Sasuke, hanya saja di saat-saat seperti ini… benar-benar menyebalkan! Ia kan bukan ibunya yang harus tahu segala macam tentang Sasuke.
"Sudahlah, gals," Ino akhirnya menengahi. Wajahnya seperti menahan geli melihat tampang Sakura. "Kalian tidak lihat dia? Sakura sudah kebelet."
Mereka baru melepaskannya saat itu dan membiarkannya menyelesaikan urusannya di bilik toilet. Selagi di dalam, ia bisa mendengar Ino meminta mereka agar tidak mengganggunya soal Sasuke. "Kalau begitu mau tahu soal dia, kenapa tidak cari tahu sendiri? Menelepon dia apa susahnya, sih?"
Dan gadis-gadis itu langsung berkeluh kesah kalau Sasuke tidak pernah mengangkat telepon atau membalas pesan dan email dari mereka.
Dasar Sasuke! Masih saja bersikap dingin pada gadis-gadis, tidak seperti Sai—meskipun ia pernah mengeluhkan banyaknya nomor tak dikenal yang masuk ke ponselnya, setidaknya Sai masih menanggapi mereka walau sangat enggan.
"Jadi es batu itu betulan sakit?" ganti Ino yang menanyainya setelah Sakura keluar dari bilik. Gadis-gadis tadi sudah pergi.
"Jadi kau sekarang sudah jadi salah satu fans-nya, ya?" Sakura balik bertanya, menyeringai dari depan cermin wastafel tempat ia sedang mencuci tangan.
Ino terkekeh. "Aku kan hanya bertanya. Tidak menyangka orang seangkuh itu bisa kena flu juga. Kukira virus flu pun takut padanya."
Sakura memutar matanya. Yang benar saja, Ino! "Sasuke itu manusia juga, Ino. Tentu saja dia bisa sakit."
Lagi-lagi Ino mengekeh. Disibakkannya poni pirangnya yang terjatuh ke matanya yang biru, lalu menghela napas. Ino duduk bersandar di dinding marmer di belakang Sakura, mengawasi gadis itu merapikan ikatan rambut panjangnya. Ekspresinya berubah agak muram dan Sakura melihatnya.
"Ada apa?" tanyanya heran. "Bertengkar lagi dengan Idate?"
"Tidak," Ino mendesah, nyaris terdengar bosan. "Kami baik-baik saja."
"Lalu kenapa bermuka masam begitu?"
Ino tidak langsung menjawabnya, seakan sedang memikirkan apa yang akan dikatakannya setelah itu. "Sai…" ujarnya setelah beberapa saat. Dahinya berkerut, tampak agak gusar. "Dia… apa dia tidak suka padaku atau bagaimana, sih?"
"Tentu saja dia tidak benci padamu, Ino," sahut Sakura langsung. Ia sudah menyangka Ino bisa merasakan ada yang tidak beres dengan sikap Sai padanya belakangan ini.
Ino memutar bola matanya dan saat ia berbicara setelahnya nadanya terdengar dingin. "Tentu saja kau akan membelanya, Sakura."
"Aku tidak membelanya. Dia memang tidak membencimu, kok," sahut Sakura mulai gusar, "Kenapa kau tiba-tiba ngomong begitu?" Sebenarnya ia sudah tahu jawabannya.
"Kau ingat saat pertama-tama dulu, waktu aku baru kembali dari kompetisi di Ame? Dia juga bersikap seperti ini—maksudku, dia menghindariku seakan aku ini…" gadis itu tampaknya tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk mendeskripsikannya, "…Oh, entahlah, Sakura. Aku merasa Sai tidak menyukaiku. Padahal aku sangat menyukainya—"
Sakura sempat terkejut di bagian ini. Serta merta ia membalik badannya membelakangi wastafel dan menghadap Ino.
"—maksudku, dia orangnya baik. Atau yang awalnya kukira begitu. Dia teman yang sangat menyenangkan…"
"Sai memang teman yang menyenangkan," Sakura mengangguk, lega. Ternyata bukan seperti yang ia kira sebelumnya.
"Yeah. Tapi sekarang tidak lagi. Dia menyenangkan dengan orang lain, tidak denganku. Apa aku telah berbuat salah padanya atau bagaimana?"
Sakura hanya mengulum senyum maklum melihat kejengkelan sahabatnya. Memang tidak menyenangkan rasanya kalau kau menyukai seseorang tapi orang itu malah bersikap tidak seperti yang kau harapkan. Ino menyukai Sai, tentu saja. Tapi perasaannya tidak sama seperti perasaan Sai terhadapnya. Sakura sendiri tidak tahu harus menjelaskan bagaimana pada Ino soal itu, alasan Sai selalu menghindarinya.
"Masalahnya ada padanya, Ino, bukan padamu."
-
-
"Tidak ada ramen!" keluh Naruto saat ia dan Sai sudah duduk di salah satu bangku di kantin yang juga sedang lengang. Ia memandang nampan makan siangnya yang berisi cheese burger, kentang goreng dan air mineral. "Padahal aku ingin yang hangat-hangat."
"Tadi sepertinya ada sup pasta dan roti," kata Sai yang duduk di bangku seberangnya. Ia juga mengambil menu yang sama dengan Naruto.
"Ada sayurnya," gerutu Naruto seraya mengambil burgernya. "Aku tidak suka sayur." Ia mengigit roti itu dalam gigitan besar, membuat saus mustard tumpah ke dagunya. Buru-buru ia mengambil tissue dari nampan dan menyeka noda itu, lalu nyengir pada Sai yang meringis memandangnya. "Sori. Lapar banget."
"Hn." Sai memberinya cengiran sekilas sebelum mengambil burgernya sendiri dan mulai makan. Sesekali melempar pandang ke luar jendela. Di luar salju sedang turun lagi, tapi sudah tidak selebat semalam. Suara obrolan di kantin hanya terdengar selewat saja di telinganya sementara ia menikmati pemandangan serbaputih di luar. Dulu Shin juga sangat menyukai salju, menyukai warnanya yang putih lembut, juga bentuk kristalnya yang sangat indah.
Kristal salju… Seperti bentuk liontin yang dipakai Sang Bidadari dalam lukisan Shin. Liontin yang sama seperti yang pernah diperlihatkannya pada Sai.
"Aku dapat ini waktu ikut kakek mengunjungi Ame. Cantik, ya… Warnanya biru, persis warna matanya…"
"Hei!"
Suara anak perempuan membuyarkan lamunannya. Sai berpaling dan melihat Sakura baru saja datang dengan membawa nampan makan siang—sup pasta sayuran dan roti.
"Kau sedang melamunkan apa sih?" gadis itu bertanya basa-basi pada Sai, lalu menoleh pada Naruto, nyengir melihat menu makan siangnya. "No ramen, Naruto?"
Naruto membalasnya dengan gerutuan tak jelas yang keluar dari mulutnya yang penuh.
"Ew.. telan dulu baru bicara," tegur Sakura jijik.
"Mereka tidak jual hari ini," ulang Naruto setelah menelan makanannya.
Sakura tertawa kecil, sekali lagi menoleh pada Sai, menatapnya beberapa saat. Dan Sai menyadari tatapan itu.
"Ada apa?"
"Ah, tidak ada apa-apa," sahut Sakura cepat-cepat, lalu mulai menyantap makan siangnya sambil membuka-buka diktat science.
Tepat saat itu, rombongan anak-anak jurnal masuk. Hinata Hyuuga termasuk di antara mereka, terlihat manis dengan rambut dikepang dua. Adik sepupu Neji itu melempar senyum malu-malu saat melewati meja yang ditempati Naruto, Sakura dan Sai, yang dibalas Naruto dan Sai—Sakura yang terlalu asyik dengan bacaannya tidak menyadari kehadiran Hinata, sampai gadis itu menyapanya.
"H-Halo, Sakura."
Sakura mengangkat wajahnya, balas tersenyum. "Oh, Hai, Hinata!" balasnya cerah. Ia juga sudah melihat rombongan teman-teman klub Hinata. "Habis kumpul Jurnal?"
"Um… t-tidak juga," sahutnya sambil tersenyum maklum. Anak-anak klub jurnal memang kerap terlihat bersama-sama—Sai pengecualian. "Permisi…" Hinata baru akan berbalik untuk menyusul teman-temannya ke konter untuk mengambil makan siang, saat Naruto menahannya.
"Hinata," Naruto menangkap pergelangan tangannya, membuat gadis itu tersentak kaget. Wajahnya langsung merah padam.
"I-Iya?"
"Adik-adik di panti banyak yang sakit," beritahu Naruto, "Siang ini aku mau ke sana menjenguk mereka. Kau mau ikut bersamaku?"
Gadis bermata lavender itu mengerjap, seakan tidak percaya akan apa yang baru didengarnya dari mulut Naruto. Ia baru saja mengajaknya kelu—ah, tidak. Hinata merasa tidak tepat kalau harus merasa gembira sekarang. Seperti yang dikatakan Naruto barusan, adik-adiknya sedang sakit.
"T-Tentu. Si-siang ini?"
Naruto mengangguk, lalu melepaskan tangan Hinata. "Hmm…"
"Oke—Ah, a-aku harus pergi. P-permisi…" Dan gadis itu pun berlalu dari sana dengan wajah bersemu merah.
"Jadi…" Sakura telah menutup diktatnya dan memandang Naruto dengan senyum nakal di wajahnya, "Kau hanya mengajak Hinata ke panti asuhanmu?"
Naruto terlihat terkejut. "Bukannya begitu, Sakura. Kau juga boleh ikut kalau kau mau. Sai juga!" ia menoleh pada Sai.
"Aku khawatir tidak bisa siang ini," sahut Sai dengan senyum santainya yang biasa, "Aku harus mengerjakan sketsa untuk properti drama. Sasuke yang memintaku," ujarnya menambahkan, lalu menggigit kentang gorengnya.
"Oh, oke." Naruto kembali memandang Sakura.
"Aku berencana menjenguk Sasuke siang ini," sahut Sakura sambil lalu. "Tapi kau benar-benar jahat tidak langsung mengajak kami malah mengajak Hinata duluan," Sakura pura-pura cemberut, tapi tidak lama, karena beberapa saat setelahnya gadis itu mengikik.
Naruto tidak mengerti mengapa pipinya mendadak menghangat. Tapi ia berusaha mengabaikannya, dan tersenyum memandang Hinata di kejauhan. Melihat sosok anggun itu entah mengapa membuat hatinya tentram.
"Dia itu seperti punya ikatan dengan adik-adik di panti asuhan. Melihatnya aku langsung teringat mereka," ujarnya dengan mata melembut. "Hinata itu mirip seperti ibuku, sangat menyayangi anak-anak."
"Dan dia sangat manis, kan?" goda Sakura, terkekeh.
"Ya," Naruto menyahut tanpa berpikir. Seulas senyum tipis membayang sesaat di bibirnya sebelum ia melahap makan siangnya lagi. Sesekali ia mengerling ke meja tempat Hinata dan teman-temannya duduk. Gadis itu duduk memunggunginya, tampak sedang bicara dengan Shiho yang duduk di depannya.
Shiho kemudian tak sengaja mengarahkan pandangannya pada Naruto yang sedang melihat ke arah mereka. Gadis berkacamata bulat itu nyengir, lalu menyenggol Hinata dan mengendikkan kepala ke arah Naruto. Hinata menoleh dan pandangan mereka bertemu sesaat sebelum gadis itu berpaling lagi dengan wajah bersemu merah. Shiho mengikik.
Sakura benar. Hinata memang sangat manis…
Sakura yang kemudian menyadari arah pandang sobat pirangnya itu tertawa kecil. Suara tawanya menyadarkan Naruto. Cowok bermata biru itu memandangnya.
"Ada apa?" tanyanya bingung.
"Tidak ada," sahut Sakura sambil melempar senyum penuh arti, kemudian menyendok supnya. "Waw, supnya enak, lho…"
-
-
Pelajaran Science setelah jam istirahat dibatalkan, karena guru yang seharusnya mengajar mereka tidak masuk. Akhirnya mereka diperbolehkan belajar sendiri dan anak-anak dengan gembira meninggalkan kelas untuk pulang. Sakura tentu saja tidak termasuk mereka yang gembira. Ia terpaksa menahan rasa kecewanya karena harus melewatkan salah satu kelas favoritnya itu. Dan ia juga harus membatalkan rencananya menghabiskan waktu di perpustakaan sampai jam pulang karena tempat itu juga tutup lebih awal.
Cemberut, Sakura akhirnya memutuskan untuk pulang saja.
Blossoms Café sedang ramai ketika Sakura tiba di sana. Tidak mengherankan karena saat itu masih masuk jam makan siang, dan tidak lupa berkat bantuan Naruto, Sasuke dan Sai yang mempromosikan restoran mereka sampai ke mana-mana—Kadang-kadang Sakura melihat selebaran yang mereka buat tertempel di papan pengumuman umum di kota.
"Pulang cepat, Sakura?" Kotetsu lah yang menyambutnya. Ia sedang membereskan meja yang baru saja ditinggalkan pengunjung.
"Iya," sahut Sakura sambil melangkah masuk, menurunkan tudung mantelnya. "Hai, Bu!" ia menyapa ibunya yang sedang menuang kopi ke dalam cangkir di belakang konter dengan Ayame.
"Kau mau makan sesuatu?" Ibunya menawarinya.
"Aku sudah makan tadi di sekolah, Bu," tolak Sakura, berjalan ke belakang konter tempat ibunya berada.
"Sedang terburu-buru?" tanya Azami saat Sakura sedang melepas mantel dan tasnya dan menyampirkannya di salah satu kursi yang menganggur.
Anak gadisnya itu menoleh. "Tidak juga, Bu. Ah, aku nanti mau ke rumah Sasuke, boleh kah?"
"Tentu saja," sahut Azami sambil tersenyum. "Mau belajar kelompok?"
"Um… tidak juga. Dia sedang sakit, aku mau menjenguknya." Setelah berkata begitu, Sakura berbalik dan bergegas menuju pintu dapur lalu menghilang di baliknya. Ia langsung dihadapkan dengan pemandangan dapur yang khas dengan aroma lezat kuah ramen yang menguar di udara. Aroma yang membuatnya mendadak lapar. Gadis itu melempar pandang berkeliling. Ia melihat Iwashi dan Gantetsu sedang bekerja di sisi lain dapur yang lumayan luas itu sebelum mendapati Yamato baru saja keluar dari tempat penyimpanan bahan-bahan, membawa setumpuk jamur dalam wadah. Senyuman lebar muncul di wajah gadis itu. "Yama!"
Pria berambut cokelat gelap itu menoleh dan membalas senyumnya. "Sakura. Sudah pulang?"
"Hmm…" Sakura mengangguk, lalu menyusul kakaknya menuju meja untuk mulai mengolah sayur-sayur itu. Matanya melirik sup mendidih di panci besar di atas kompor. "Baunya enak sekali. Apa ini sup untuk menu ramen yang baru?" gadis itu menanyai Teuchi yang sedang membuat mie tak jauh dari sana.
"Itu baru percobaan." Teuchi memberinya senyum kebapaan sebelum kembali berkonsentrasi dengan gumpalan besar adonan mie yang sedang dibuatnya. Sakura selalu dibuat takjub dengan cara pria paruh baya itu mencampur tepung, telur dan air, lalu membantingnya, memutarnya sedemikian rupa sehingga gumpalan yang tadinya tak berbentuk itu menjadi lembaran-lembaran mie yang kenyal—tanpa alat bantu!
"Bagaimana Paman melakukan itu?" desah Sakura kagum entah untuk yang keberapa kalinya—sepertinya berapa kalipun Sakura melihat aksi itu, ia tidak akan pernah terbiasa.
Teuchi hanya tertawa kecil. "Aku melakukannya seperti biasa, Nak," ujarnya sambil memasukkan mie yang sudah siap masak itu ke dalam wadah.
"Paman selalu ngomong begitu," Sakura memajukan bibirnya sedikit, "Ah, Paman Teuchi, boleh aku cicip kuah kaldunya?" Ia menunjuk panci berisi sup yang tadi.
"Boleh," sahut Teuchi yang mulai mengolah ramen untuk dua porsi.
Berseri-seri, Sakura bergegas mengambil mangkuk kecil dari tumpukan peralatan makan bersih yang ada di rak dan menuang secanting cairan sup mendidih itu ke dalamnya. Sup itu sedikit kental, dengan berbagai macam sayuran yang tidak dipotong dan tulang sapi di dalamnya. Sakura meniup-niupnya agar tidak terlalu panas sebelum mencicipinya.
"Wuaah.. enaknya.." gadis itu berseru. "Paman, boleh aku minta sedikit? Aku ingin membuat sesuatu untuk temanku."
"Tentu saja, Sakura."
Gadis itu memekik senang. "Um… sebaiknya aku membuat apa, ya? Bubur? Sup ayam? Hmm…" Ia meletakkan telunjuknya di dagu sementara berpikir. "Yamato, enaknya makan apa ya kalau kita sedang flu?"
"Sedang flu, ya?" Yamato yang sedang mengiris-iris jamur ikut-ikutan berpikir. "Yang pasti enaknya makan yang lembut dan hangat—karena kalau sedang flu, biasanya juga sakit tenggorokan. Seperti bubur dengan sup yang kubawakan untukmu waktu itu."
"Ah, betul! Kalau begitu itu saja!"
-
-
Sai langsung menuju studionya setibanya di rumah. Mood-nya sedang bagus untuk menggambar saat itu dan ia sangat bersemangat. Barangkali ia ingin melukis satu atau dua setelah menyelesaikan sketsa untuk properti drama nanti.
Dilemparnya tasnya dan mantelnya ke bangku, lalu mengambil sketch book-nya dari rak. Buku itu sudah setengah terisi sketsa-sketsa buatannya. Sai membalik-balik halamannya. Setelah mendapatkan halaman kosong, ia menghenyakan dirinya di spot favoritnya di ruangan itu, di dekat jendela tinggi yang menghadap ke taman. Tempat ia bisa melihat pemandangan salju yang sedang turun di luar dengan jelas.
Sai menarik napasnya dalam-dalam, kemudian mulai menggoreskan pensil berujung lunaknya ke lembaran putih di pangkuannya. Rasanya begitu mudah, seakan ia bisa membayangkan properti seperti apa yang akan dibuatnya nanti. Mereka akan membuatnya jauh lebih sederhana dari gambar yang ada dalam buku milik Neji yang diperlihatkan Sakura padanya—tentu saja, karena dana dari sekolah tidak sebesar kalau kau ada di bisnis pertunjukan professional—tapi tentunya tidak kehilangan keindahannya. Ruang pesta bergaya Eropa klasik, rumah Alfredo di pinggiran kota Paris dengan banyak kebun bunga, kemudian kamar Violetta untuk final scene.
Derit pintu studio yang dibuka membuat Sai mengalihkan perhatiannya dari gambar yang sedang dikerjakannya. Empat orang pelayan masuk, menggotong dua kotak berukuran besar. Yang satu entah berisi apa karena tertutup dan sepertinya juga berat. Perhatian Sai terjatuh pada kotak yang satu lagi, yang berisi gulungan-gulungan kanvas.
"Ah, maaf, Tuan Muda. Kami tidak melihat Anda di sini," kata salah satu dari mereka takut-takut.
Sai mengabaikannya. "Apa itu?"
"Ini um… barang-barang milik Tuan Muda Shin," jawab yang lain. "Kami baru saja membereskan kamarnya dan Nona Yuugao menyuruh kami menyimpannya sementara di sini."
Mereka menggotong kotak-kotak itu ke dalam ruangan, kemudian menurunkannya di sudut.
"Kalian boleh keluar," kata Sai pada pelayan-pelayannya, "Lain kali ketuk pintu dulu sebelum masuk. Aku tidak suka diganggu seperti tadi."
Keempatnya berubah merah. "M-Maafkan kami, Tuan Muda…" mereka membungkuk sebelum kemudian meminta diri dan meninggalkan studio berukuran luas itu.
Pandangan Sai kembali pada kotak berisi gulungan di sudut. Penasaran, ia lantas beranjak dari duduknya, menaruh pensil dan sketch book-nya di bangku, dan berjalan menuju kotak itu. Diambilnya satu, kemudian dibukanya. Ternyata lukisan. Diambilnya yang lain. Sama, lukisan. Rupanya itu semua lukisan koleksi Shin—ada tanda tangannya di sudut kanan bawah setiap lukisan—yang belum pernah ia lihat sebelumnya dan belum pernah dipamerkan di galeri KAA.
Sai masih bisa mengenali lukisan mendiang kakaknya dengan baik, garis-garisnya yang halus, sapuan dan kombinasi warnanya yang—menurutnya—sempurna. Meskipun Shin sudah tidak ada, tetap saja Sai iri padanya—pada lukisan-lukisannya. Buatannya sendiri belum tentu bisa sebagus itu.
Sai mengambil salah satu lukisan Shin yang menarik perhatiannya. Digelarnya lukisan itu di atas meja. Ia langsung mengenalinya sebagai kedai kopi tempat Shin sering menghabiskan waktu. Berbeda dengan yang dilihatnya di sketch book milik Shin, lukisan itu sudah sempurna dengan sapuan cat minyak. Ia juga mengenali kakek pemilik kedai, kakek Gennoe, yang sedang berdiri dengan tongkat berjalannya, tersenyum pada pelanggannya. Sai nyaris bisa merasakan suasannya seakan ia sedang berada di sana; wangi kopi yang menguar berpadu dengan bau manis kue-kue yang juga dijual di sana, lalu musik jazz yang mengalun memanjakan telinga.
Ah, tiba-tiba saja Sai ingin pergi ke sana. Bukankan Shin juga dulu sering menggambar di sana?
Ia baru saja akan menggulung lukisan itu saat melihat tulisan kecil di bagian atasnya—di luar lukisan.
Untuk kakek Gennoe. Terimakasih atas bantuan dan kopinya yang benar-benar enak. Semoga aku masih sempat memberikan lukisan ini padamu… Shin.
Dan tanggal di bawah tulisan tangan Shin itu adalah seminggu sebelum ia meninggal.
Sai terhenyak. Ini adalah lukisan Shin yang terakhir sebelum ia dibawa ke rumah sakit. Hadiah untuk seseorang, dan kakaknya itu tidak sempat memberikannya.
Kakek Gennoe…
-
-
Sebuah bus menepi di halte dan dua orang remaja turun. Remaja yang pertama, yang bermantel hitam dan syal oranye-hitam yang membuatnya terlihat seperti lebah menggosok-gosokan kedua tangannya yang telanjang agar hangat. Kupluknya ditarik sampai menutupi telinganya, hanya seujung rambut pirang di tengkuknya saja yang terlihat.
"Dingin sekali ya, Hinata!" ujarnya basa-basi pada temannya, nyengir.
Remaja kedua, sosok gadis yang terbungkus mantel berwarna indigo dan syal putih gading, hanya mengulum senyum. Topi woll tebal yang senada dengan syalnya menutupi rambut gelapnya yang dikepang panjang. Tidak seperti temannya, tangan Hinata tetap hangat dalam balutan sarung tangan tebal.
"Yuk," ajak Naruto setelah bus menderu pergi meninggalkan halte.
Mereka kemudian menyeberangi jalan, membelok ke jalan menuju kompleks perumahan asri—hanya saja sekarang menjadi serba putih karena tertutup salju. Panti asuhan yang mereka tuju ada di ujung jalan sana. Keduanya lantas menyusuri jalanan itu. Di sebuah taman yang mereka lewati, sekelompok anak sedang bermain lempar bola salju. Bola-bola putih dingin itu terlontar ke sana kemari, sesekali mengenai sasaran, meskipun lebih banyak melesetnya. Mereka menjerit tertawa, terlihat sangat gembira.
Bahkan Naruto pun berhenti sejenak untuk menonton mereka.
"Jadi teringat masa lalu," komentarnya pada Hinata yang juga berhenti di sampingnya. Ia terkekeh. "Dulu waktu kita masih sekolah dasar sering main lempar bola salju di halaman sekolah. Aku pernah melempar terlalu keras sampai memecahkan kaca jendela sekolah. Ingat?"
"Hmm.." Hinata tertawa kecil, ikut memperhatikan anak-anak itu.
"Ah, tentu saja ingat." Naruto memandang Hinata, nyengir. "Karena kau ada di kelas yang jendelanya kupecahkan itu. Waktu itu kau menangis dan Pap menyuruhku minta maaf padamu."
"Waktu itu aku hanya kaget," kata Hinata dengan wajah merah, teringat waktu sekolah dasar dulu ia sangat mudah menangis.
Naruto terkekeh. "Yeah. Dulu aku menganggapmu aneh, gampang sekali menangis."
"Semua orang menganggapku aneh, aku tahu." Hinata menunduk, wajahnya agak muram. "Temanku juga tidak terlalu banyak."
"Siapa bilang?" Naruto mengangkat alisnya. "Kau tidak begitu, mereka hanya tidak tahu." Gadis itu mendongak menatapnya dengan mata melebar, terkejut. Naruto tersenyum padanya. "Sakura pernah memberitahuku dia selalu mengagumi tulisan-tulisanmu, Sai juga begitu. Sasuke bahkan senang bicara denganmu, kan? Padahal dia nyaris tidak pernah bicara pada gadis-gadis selain Sakura atau Ino. Dan kurasa aku juga menyukaimu. Kau sangat baik. Kau hanya er… terlalu pemalu dan tidak banyak bicara. Orang-orang jadi sungkan."
Naruto mengulurkan tangannya, meraih tangan gadis itu.
"Meski begitu, aku tetap senang berteman denganmu," ujarnya seraya melempar cengiran lima jarinya. "Kau sangat mengingatkan pada ibuku. Dia juga pemalu sepertimu, tapi pintar masak dan sayang anak kecil."
Tentu saja Hinata juga ingat mendiang ibu angkat Naruto yang juga gurunya di taman kanak-kanak dulu. Wanita baik yang selalu menjadi ibu guru kesayangannya dan murid-muridnya yang lain. Dibandingkan dengannya tentu saja Hinata merasa tersanjung. Bibirnya menyunggingkan seulas senyum.
Tiba-tiba saja sebuah bola saljut terlontar ke arah mereka. Bola itu barangkali akan menghantam sisi kepala Hinata kalau saja Naruto tidak cepat bertindak dengan menangkis bola itu dan melindungi temannya dengan tangannya. Hinata memekik kaget.
"Oi! Hati-hati kalau melempar!" seru Naruto pada anak yang melempar bola salju.
"Maaf, Kak! Tidak sengaja!" anak itu balas berseru sambil nyengir minta maaf.
Naruto menggeleng-gelengkan kepalanya. "Sebaiknya kita cepat pergi dari sini sebelum ada malapetaka lain," ujarnya sambil menarik tangan Hinata, membawanya menjauh dari sana. "Anak itu kelihatannya seperti aku waktu masih kecil."
Di sampingnya, Hinata susah payah menahan kikik. Wajahnya merona saat memandang tangannya yang berada dalam genggaman tangan besar Naruto yang hangat. Bahkan hatinya pun ikut terasa hangat.
Hari ini akan berjalan sempurna, pikirnya sambil tersenyum.
-
-
"Akhirnya selesai juga!!" seru Sakura gembira setelah beberapa waktu berkutat di dapur.
Walaupun tidak sepiawai sang kakak, Himeko, tapi Sakura lumayan bisa memasak. Butuh waktu agak lama untuk membuat bubur yang benar-benar lembut, tapi tidak masalah karena ahli memasak di restoran itu, Yamato, ikut membantunya juga sembari memasak pesanan para tamu. Mereka juga memodifikasi supnya dengan menggunakan tomat yang membuat rasanya lebih segar dan sayuran potong. Selang satu setengah jam setelah ia mulai memasak, setermos bubur gurih dan sup tomat ala Sakura sudah siap.
"Omong-omong," Yamato melirik Sakura yang sedang menutup termos makanan itu dengan hati-hati, "Siapa teman beruntung yang akan kau bawakan makanan ini? Ah, pemuda bernama Neji itu, kah?"
Wajah Sakura kontan memerah. "Bukaaan… Kalau dia yang sakit, pasti ada sederet pelayan yang akan membuatkan makanan yang enak untuknya. Bukan, ini untuk Sasuke. Tahu kan, dia tinggal berdua saja dengan kakak laki-lakinya. Dan dia pernah bercerita padaku, masakannya parah," ia menambahkan sambil nyengir. "Lagipula kata Sasuke, Kak Itachi belakangan ini sibuk di kantor. Jadi aku bawakan saja ini untuknya." Ditepuk-tepuknya bagian atas termos makanan itu.
"Ah, Sasuke ya…" Yamato mengangguk-angguk, tersenyum. "Kau perhatian sekali padanya."
"Karena dia temanku yang baik. Apa salahnya, kan?" ujar Sakura ceria. Gadis itu menghembuskan napas panjang, tersenyum pada dirinya sendiri. "Sasuke, Naruto, Sai dan Ino sudah membantuku dan restoran ini. Yang kulakukan ini hanya hal kecil yang tidak sebanding dengan yang sudah dia—dan mereka—lakukan untukku."
Memang benar, semenjak beberapa minggu belakangan, krisis keuangan yang dihadapi restoran itu berangsur membaik. Jumlah pengunjung meningkat—bahkan bisa dibilang membludak, terutama setiap akhir pekan, dimana akan ada pertunjukan musik live dari Naruto dan kawan-kawannya serta tambahan empat orang maid—dan itu semua tentu saja juga berdampak pada pendapatan restoran. Seluruh pegawai sudah kembali menerima gaji penuh, bahkan Azami juga bisa memberi bonus pada pegawai-pegawainya. Dan itu jelas sangat berarti bagi Sakura.
Yamato mengangguk lagi. "Ya. Kau benar, tentu saja…"
"Dan kakak…" Sakura menatap pria di sebelahnya. "Kau jadi melanjutkan sekolahmu di MCA—Mistland Cuisine Academy—kan?"
"Oh, entahlah," sahut Yamato, tertawa kecil. Ia kembali berpaling untuk mengukus sayuran yang sudah dibumbui. "Aku belum membicarakannya lagi dengan ibumu."
"Sebaiknya cepat bicarakan dengan Ibu, nanti keburu kesempatanmu lewat—eh, belum lewat, kan?" Sakura mendadak cemas.
Pria itu menggeleng sambil tersenyum. "Belum. Chef yang menawariku beasiswa memberi waktu sampai tahun baru nanti."
"Kalau begitu itu tinggal sebentar lagi!" seru Sakura terkejut. Ditariknya lengan kaus Yamato. "Cepatlah bicarakan dengan ibu! Ya, ya, ya?!"
"Tenang saja, adik kecil… Aku berencana membicarakannya lagi dengan Bibi Azami malam ini," kata Yamato setengah tertawa.
"Yay! Yamato kami akan jadi chef professional sebentar lagi!" pekik Sakura gembira sambil memeluk lengan Yamato penuh suka cita. "Kakak pasti sangat bangga padamu!"
Tatapan pria itu melembut terhadap Sakura. "Terimakasih."
"Ah, iya!" Sakura melepaskan pelukannya dan mengerling jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. "Hampir saja lupa. Aku harus pergi sekarang." Disambarnya termos berisi makanan untuk Sasuke. "Terimakasih bantuannya ya, Kak. Paman Teuchi juga!" serunya pada Teuchi yang menyahutnya dengan anggukan beserta senyum kebapakan. Setelah itu ia bergegas meninggalkan dapur.
"Sudah mau pergi sekarang?" tegur Azami saat melihat Sakura mengenakan kembali mantel dan tasnya.
"Iya, Bu. Nanti aku ke sini lagi," kata Sakura sambil mengambil lagi termosnya yang tadi ditaruhnya di meja konter dan memeluknya.
"Mau pakai mobil?"
Sakura menggeleng. "Rumah Sasuke dekat sini kok, Bu. Aku pergi dulu…" dan gadis itu pun bergegas menuju pintu keluar.
Salju yang turun sejak jam istirahat di sekolahnya rupanya belum berhenti juga. Sakura menaikkan tudung mantelnya sebelum melangkah menembus hujan salju sambil memeluk termos hangat yang dibawanya. Ia baru saja beberapa langkah meninggalkan lapangan parkir Blossoms Café ketika ada suara klakson dari belakangnya. Tadinya Sakura tidak menyadari klakson itu ditujukan padanya sampai kemudian si pemilik mobil mini APV itu menepi.
Siapa?
Sakura memandang mobil itu bingung, sampai kaca jendelanya yang gelap perlahan turun. Jantungnya serasa melompat ke leher begitu ia mengenali wajah di belakang roda kemudi itu. Neji Hyuuga. Dan cowok itu sedang tersenyum padanya.
"Hai," sapa Neji hangat.
"H-hai, Neji…" balas Sakura gugup.
"Kau mau kemana?" Neji menanyainya.
"Um… aku mau…" Sakura melempar pandang ke ujung jalan menuju kompleks perumahan tempat Sasuke tinggal, lalu kembali memandang Neji, "…ke rumah Sasuke."
"Ah!"
Hanya itu komentar yang meluncur dari bibir Neji, dan selama beberapa saat cowok itu hanya memandanginya tanpa menyadari apa yang dilakukannya itu membuat Sakura semakin gugup. Dengan canggung Sakura merapikan rambut merah mudanya yang tersapu angin ke pipinya.
"Oke. Masuklah," kata Neji kemudian, mengejutkan Sakura.
"Eh?" Gadis itu mengerjap.
"Rumah Sasuke searah dengan tempat yang kutuju."
"T-Tapi…"
Neji memberinya senyum yang membuat udara di sekitarnya mendadak menghangat. "Tidak apa-apa. Lagipula tidak baik jalan di tengah hujan salju begini. Kau bisa sakit."
Wajah Sakura seketika merona. "Um… oke." Dengan canggung Sakura mendekati mobil, lalu membuka pintunya dan masuk. Tangannya yang memeluk termos sedikit gemetar, yang jelas bukan karena dingin.
Neji menaikkan kembali kaca jendelanya sebelum melajukan mobil itu perlahan memasuki kawasan Crimson Drive—jalannya sedikit licin karena es, jadi harus ekstra hati-hati. Rumah Sasuke masih beberapa blok lagi.
"Ada keperluan apa ke rumah Sasuke?" Neji menanyainya kemudian, tetap memandang lurus ke depan.
"Dia sakit. Aku mau menjenguknya," sahut Sakura, tanpa sadar mengelus termos di pangkuannya.
"Oh.." Neji mengerling termos di pangkuan gadis itu, lalu tersenyum. "Itu untuknya?"
"Um… ya…"
"Dia sangat beruntung," komentar Neji, tertawa kecil.
Sakura menoleh, menatap wajah Neji yang tersenyum beberapa waktu. Kemudian berpaling lagi dengan muka menghangat. Apa maksudnya? "Dia—Sasuke temanku." Ingin sekali Sakura menepuk jidatnya sendiri karena mengatakan itu. Memangnya penting?
Neji tidak membalasnya. Mereka kemudian berbelok, memasuki blok kediaman Uchiha bersaudara.
"Neji sendiri mau ke mana?" Sakura memberanikan diri bertanya sambil menatap cowok di sebelahnya itu.
"Ada perlu dengan Lee—dia juga tinggal di sekitar sini. Setelah itu mau menjemput Hinata. Dia pergi ke panti asuhan," jawab Neji dengan nada ringan. Sakura hanya mengangguk canggung. "Nah, sudah sampai," katanya setelah menepikan mobilnya di depan pekarangan sebuah rumah. Nama Uchiha tertera di kotak surat di depannya.
Sakura melempar senyum padanya. "Terimakasih sudah mengantarku."
"Sama-sama," Neji membalas senyumnya. "Salamkan untuk Sasuke."
"Oke." Sakura berpaling untuk membuka pintu dan turun.
Neji kembali menurunkan kaca jendelanya. "Sampai ketemu."
"Yah, sampai ketemu."
Sakura masih berdiri di sana selama beberapa saat sementara Neji juga masih belum pergi. Neji mengangkat alisnya. "Kenapa tidak masuk?"
"Ah—I-iya…" Sakura nyengir canggung, sebelum akhirnya gadis itu berbalik dan berjalan menuju undakan depan rumah Sasuke. Ia masih belum mendengar mobil itu beranjak dari tempatnya, sepertinya Neji masih di sana. Dan memang benar, saat Sakura kembali menoleh ke belakang, Neji sedang mengawasinya. Barangkali memastikannya sampai di pintu dengan selamat. Sakura tidak bisa menahan dirinya tersenyum berseri-seri.
Sakura lalu menekan bel pintu.
Sasuke baru membuka pintu saat bel yang kelima. Tampangnya lebih berantakan dari biasanya. Ia mengenakan celana panjang hitam longgar, kaus kaki woll tebal dan sweter gombrong yang warnanya sudah agak pudar. Rambut hitamnya awut-awutan dan mata onyx-nya terlihat sayu. Hidungnya merah akibat flu yang dideritanya dan suaranya sengau saat berbicara. "Sakura? Apa yang kau lakukan di sini, eh?"
Sakura pura-pura cemberut. "Kau ini masih saja sok dingin padahal sedang flu begitu. Tidak senang kujenguk?"
Namun Sasuke seperti tidak mendengarkannya. Matanya terpacang pada pemandangan di belakang Sakura; ia sudah melihat Neji. Mata Sasuke menyipit. "Ngapain dia kemari?" tanyanya serak.
"Oh—Neji mengantarku!" seru Sakura cerah. Gadis itu menoleh ke arah Neji dan melambaikan tangan padanya. Neji memberinya senyum dan anggukan terakhir sebelum menaikkan kembali kaca jendela mobilnya dan berlalu dari sana. "Dia baik, ya?"
Sasuke mendengus. "Terserah deh…" Cowok itu berbalik dan berjalan gontai masuk kembali ke dalam rumahnya.
Sakura bergegas menyusulnya. Gadis itu melepaskan boots-nya dan meletakkannya di dekat rak sepatu sebelum menyusul Sasuke masuk. Ruang tengah terlihat berantakan. Mangkuk berisi bubur yang belum tersentuh, juga teko air dan gelas tergeletak di atas meja di depan televisi yang menyala. Ada bungkus obat juga di sana. Selimut flannel tersampir berantakan di sofa bersama setumpuk bantal. Sepertinya Sasuke baru saja tidur di sana.
"Kau sudah minum obat?" Sakura menanyai Sasuke yang baru saja menghenyakkan tubuhnya di sofa dengan kepala tersandar di punggung sofa.
"Belum.." sahut Sasuke tak jelas, lalu terbatuk.
Sakura yang khawatir dengan keadaan sobatnya itu berjalan mendekati sofa, kemudian duduk di sampingnya setelah melepaskan mantelnya. Ia menaruh termos yang dibawanya di atas meja lalu menyentuh kening Sasuke yang lembab oleh keringat, merasakan suhu tubuhnya. Cowok itu memejamkan matanya, tampak rileks saat Sakura menyentuhnya.
"Badanmu agak panas," komentar Sakura setelah menurunkan tangannya. Ia mengerling mangkuk bubur yang sudah dingin di atas meja. "Dan kau belum menyentuh makananmu, Sasuke."
"Tidak berselera," gerutu Sasuke letih.
"Kak Itachi—?"
"Dia pergi kerja," cowok itu menyahut sebelum Sakura menyelesaikan pertanyaannya, lalu menghela napas. "Dia sudah membawaku ke dokter semalam."
Sakura tersenyum tipis. "Baguslah. Hei, aku bawa sesuatu untukmu. Kau makan, ya…"
Sasuke menggerutu lagi, "Aku tidak berselera, Sakura."
"Tapi kau harus makan sesuatu, setelah itu minum obat," bujuk Sakura. "Lagipula buburmu sudah dingin. Aku bawakan yang hangat." Tanpa menghiraukan protes Sasuke, diambilnya termos makanan yang tadi dibawanya dari atas meja dan mulai membukanya, memperlihatkan isinya pada Sasuke. "Lihat, ada sup tomatnya juga lho. Kau suka tomat, kan?"
Tapi Sasuke sepertinya tidak tertarik. Cowok itu malah memalingkan wajahnya.
Sakura menghela napasnya. Orang sakit memang rewel, pikirnya. Gadis itu kemudian mengambil sendok dari mangkuk bubur Sasuke yang sudah dingin dan menggunakannya untuk menyendok sup tomat. "Coba dulu nih. Aaa…"
Sasuke menangkap pergelangan tangan Sakura yang terjulur padanya, membelalak pada gadis itu. "Aku bisa makan sendiri, tidak perlu disuapi." Diambilnya wadah makanan dan sendok dari Sakura dan mulai makan. Berbeda dengan bubur buatan Itachi yang hambar dan malah terasa pahit di lidahnya, bubur buatan sahabatnya itu sangat enak, apalagi sup tomatnya yang segar. Mendadak Sasuke menyadari kalau ia sangat lapar.
"Bagaimana?" Sakura menanyainya penasaran.
"Lumayan," sahut Sasuke seraya mengangkat bahunya dan meneruskan makannya.
Sakura mengerucutkan bibirnya. Tapi melihat Sasuke yang begitu lahap, membuatnya tidak jadi sebal. Seulas senyum puas muncul di wajahnya. "Yah… lumayan masih lebih baik dari pada tidak enak. Sepertinya kau benar-benar lapar, ya?"
Sekali lagi Sasuke mengangkat bahunya dengan cuek. Sakura tertawa kecil.
Selagi menunggu Sasuke selesai, mata Sakura beralih ke televisi yang sedang menyiarkan berita tentang badai salju yang menerpa hampir seluruh negeri.
"Boleh kuganti siarannya?"
"Hn."
Sakura meraih remote dari atas meja dan mulai menekan-nekan tombol untuk mengganti channel. Ia berhenti di acara sitcom favoritnya. Suara tawanya yang renyah memenuhi ruangan itu ketika menyaksikan tingkah konyol tokoh-tokoh di acara itu, sesekali melontarkan komentar-komentar yang membuat ujung-ujung bibir Sasuke naik membentuk senyum tertahan. Tanpa sadar Sasuke terus mengawasi gadis itu dari sudut matanya sejak tadi. Mata hijau yang biasanya bulat itu menyipit dan pipinya merona merah.
Sakura terlihat manis kalau ia sedang tertawa, Sasuke membatin. Suara tawanya menggemaskan, membuat jantungnya berdegup lebih kencang—yang seperti biasa berusaha diabaikannya. Sasuke harus sekuat tenaga menahan keinginan untuk menarik dan memeluk gadis itu saat itu juga.
Hanya saja ada satu hal yang baru saja ia sadari, yang membuat hatinya kembali berdecit sakit; Sakura terlihat paling cantik justru saat ada Neji di dekat mereka. Senyumnya yang diberikan Sakura pada Neji berbeda dengan senyumnya yang biasa. Dan sekarang, Sasuke belum lupa siapa yang mengantar Sakura ke rumahnya. Neji Hyuuga. Pasti cowok itu jugalah yang menjadi alasannya begitu ceria dan banyak tertawa.
Tapi Sasuke tidak bisa membencinya—Sakura yang ceria karena Neji. Ia menyukainya dan sangat berharap Neji tidak akan menyakiti hati gadis itu dan menghapus senyuman itu dari wajahnya. Semoga saja. Tapi kalau bisa… Sasuke sangat berharap ialah yang menjadi alasan di balik semua senyum yang manis itu. Berkhayal sedikit, tidak apa-apa, kan? Toh tidak akan menyakiti siapa pun.
Damn! Bagaimana bisa aku jadi sangat menyayangi cewek bawel ini, huh?
"Sakura?"
"Hm?" Sakura mengalihkan perhatiannya dari layar televisi dan memandang Sasuke dengan matanya yang hijau besar, alisnya terangkat.
"Naruto dan Sai tidak ikut denganmu?" tanya Sasuke kaku.
"Mereka ada keperluan lain," sahut Sakura sambil tersenyum ringan. "Katanya Sai mau mengerjakan sketsa untuk properti panggung yang kau minta, sedangkan Naruto, dia pergi ke panti asuhan untuk menjenguk adiknya yang sakit…" mata hijau itu melebar sedikit dan saat berikutnya ia sepenuhnya sudah berpaling dari televisi, duduk miring menghadap Sasuke. Dan dari sikapnya, sepertinya ia hendak memberitahukan sesuatu yang penting pada Sasuke. "Tahu tidak, Naruto pergi dengan Hinata!"
Sasuke hanya mengangkat alisnya, tidak tahu harus berkomentar apa.
"Kau tidak apa-apa kan kalau Naruto dengan Hinata? Maksudku, kau—"
"Tidak," sela Sasuke, menangkap apa yang dimaksudkan Sakura, "Itu sudah masa lalu. Baguslah kalau Naruto dengannya sekarang."
"Hinata kelihatannya senang sekali saat mereka pergi bersama tadi," beritahu Sakura berseri-seri. "Mereka kelihatan sangat manis berdua. Iya, kan?"
"Hn." Sasuke menyuapkan sendok terakhir buburnya. Supnya sudah bersih lebih dulu.
"Ah, sebentar. Ada bubur di dagumu, Sasuke!" Sakura dengan gembira mengulurkan tangannya, menyeka noda di dagu Sasuke dengan ibu jarinya.
Sasuke membeku sementara Sakura membersihkan sisa bubur dari dagunya. Kulitnya yang bersentuhan dengan jemari gadis itu serasa terbakar, tapi anehnya, terasa sangat menyenangkan dalam waktu yang bersamaan. Tanpa sadar ia tersenyum samar, matanya tak beralih dari wajah ceria gadis di depannya itu. Dengan lembut diraihnya tangan gadis itu dan digenggamnya. Sakura tampak sedikit terkejut, tapi tidak menampiknya. Ia malah tersenyum.
Sasuke menelan ludahnya ketika Sakura membawa tangannya ke wajahnya sendiri sehingga Sasuke bisa merasakan kelembutan kulit gadis itu dengan tangannya. Sakura memejamkan matanya. Sasuke menganggapnya sebagai izin. Perlahan ia mencondongkan tubuhnya ke arah gadis itu.
Wajah mereka sudah hampir bersentuhan ketika sebuah tepukan yang lumayan keras di lengannya menghempaskannya dengan kejam kembali ke dunia nyata. Sasuke mengerjap kaget. Di depannya, Sakura menatapnya dengan alis terangkat tinggi.
"Kau kenapa menatapku seperti itu?" tanyanya. "Apa ada yang aneh dengan wajahku?" Sakura meraba-raba wajahnya sendiri.
Sasuke mengeluarkan gerutuan tak jelas. Wajahnya bukan main panasnya, dan agaknya itu terlihat dari luar.
"Ya ampun… Kau pasti demam sekali sampai mukamu merah begitu, Sasuke."
Sasuke memalingkan wajahnya, merutuki dirinya sendiri. Apa sih yang kupikirkan, dasar bodoh! Ia tersentak lagi saat Sakura mengambil wadah makanan yang sudah kosong dari tangannya. "Apa?" ucapnya otomatis.
"Kau sudah selesai, kan? Aku cuma mau membereskannya," sahut Sakura seraya melempar pandang heran padanya.
Sasuke menahan dirinya untuk tidak melompat kabur saking malunya. Egonya menahannya tetap tinggal dan tidak menampakkan emosi yang berarti di depan Sakura. "Hn."
"Hei, apa benar tidak ada yang aneh dengan wajahku?" tanya Sakura setelah membereskan peralatan makannya. Rupanya ia masih penasaran dengan yang tadi.
Sasuke mendengus kecil, menyeringai. "Aku baru menyadari kalau jidatmu itu terlalu lebar."
"Eek..?!" Refleks Sakura memegang keningnya, wajahnya berubah cemberut. "Bodoh!" tukasnya setengah jengkel setengah geli karena Sasuke telah menyentuhnya di bagian yang sensitif—keningnya yang lebar. Ia kemudian meraih bantal duduk dan menyambitkannya pada Sasuke yang dengan mudah menangkisnya. "Nyebelin!"
"Hn."
Tapi ekspresi manyun itu langsung berubah begitu Sakura melihat Sasuke tertawa kecil—benar-benar tertawa, bukannya tawa dingin atau sinis atau mengejek yang biasa dilakukannya. Gadis itu ikut tertawa bersamanya. Tidak tahu apa yang membuat Sasuke mengulurkan tangannya kemudian, mengacak rambut merah muda Sakura dengan gemas.
"Hei!" Sakura memprotes, menepis tangan Sasuke. "Dasar!"
Terlalu banyak tertawa membuat Sasuke terbatuk-batuk, kepalanya pusing. Melihat itu, Sakura cepat-cepat mengambil gelas air dari atas meja, sekaligus obatnya, mengangsurkannya pada Sasuke. Tampangnya geli.
"Rasakan! Makanya… menertawaiku, sih…"
-
-
Green Leaves Coffee sedang ramai ketika Sai sampai di sana. Hampir semua pelayan sibuk melayani pelanggan sehingga tidak ada yang menyambutnya seperti dulu. Tapi Sai tidak begitu ambil pusing. Ia mengedarkan pandangannya berkeliling ruangan yang ramai itu. Hampir semua meja terisi, bahkan meja yang ditempatinya dulu. Tapi kemudian Sai melihat satu meja kosong di sudut. Ia pun melenggang ke sana, dengan gulungan lukisan yang sudah terlindungi kertas cokelat di tangannya.
Tak lama kemudian, gadis pelayan berambut hitam dikucir yang ia ingat sebagai pelayan yang sempat melayaninya saat kunjungan pertamanya dulu tergopoh-gopoh mendatangi mejanya. Sebelum gadis itu sempat berkata sesuatu, Sai mendahuluinya,
"Tuan Gennoe ada, Nona?"
Gadis itu mengerjap sesaat. "Oh—Tuan Gennoe. Dia… um… tidak datang hari ini."
Kening Sai berkerut, kecewa. "Kemana?"
"Saya kurang tahu soal itu," jawab pelayan itu dengan senyum minta maaf. "Jadi… Tuan ingin memesan sesuatu?" Ia menyodorkan buku menu pada Sai yang hanya melambaikan tangannya sekilas.
"Cappucino saja, terimakasih."
Pelayan itu mengangguk sopan, menarik buku menunya kembali. "Silakan ditunggu sebentar." Dan ia pun berlalu dari sana.
Setelah pelayan itu pergi, Sai menyandarkan punggungnya ke sandaran kurisnya, menghela napas. Sejenak ia memandangi gulungan lukisan Shin yang diletakkannya di atas meja bertaplak linen itu, kecewa karena tidak bisa memberikannya langsung pada orang yang dituju kakaknya. Kemudian sekali lagi ia melempar pandang ke penjuru ruangan, sebelum pandangannya terjatuh pada grand piano di sudut ruangan.
"...Anak baik... Dia juga sering main piano di sini dan selalu senang menerima puding gratis dariku..."
Kakak… sering main piano di sini…
"Silakan cappuccino-nya, Tuan…" Suara pelayan yang tadi mengagetkannya.
"A.. terimakasih," ucap Sai. "Um.. Nona," panggilnya sebelum pelayan itu berbalik pergi.
"Ya? Ada yang bisa saya bantu lagi?" tanyanya sopan.
"Um… bisakah saya… memainkan piano itu?" Sai menunjuk ke sudut ruangan, tempat di mana grand piano berwarna putih itu berada.
"Anda pianis?" tanya pelayan itu otomatis.
"Bisa dibilang begitu," Sai tersenyum. Tanpa menunggu jawaban dari pelayan itu, ia beranjak dari bangkunya. Jemarinya sesaat hanya menyentuh tuts-tuts di sana, menekan beberapa not. Para pengunjung mulai memandang penasaran ke arahnya dan entah sejak kapan musik jazz dari pengeras suara berhenti mengalun.
Sai kemudian duduk di bangkunya, sejenak memandang para pengunjung sebelum memejamkan mata.
Tidak tahu mengapa ia tiba-tiba saja ingin memainkan lagu itu, lagu yang sering dimainkan Shin. Melodi tentang penantian, begitu katanya.
Flowers..
Sementara itu di toko bunga di sebelah kedai kopi itu, seorang gadis sedang termangu sendirian di gerai, mengawasi para pembeli melihat-lihat bunga dengan tatapan jemu. Ia sedang sangat tidak bersemangat hari itu, terlalu malas melakukan apa-apa. Bahkan pekerjaan rumahnya sejak tadi tergeletak terbuka begitu saja di atas gerai, tidak tersentuh.
"Huff…" lagi-lagi Ino menghela napasnya bosan, meletakkan dagunya di atas kedua lengannya yang terlipat.
Sebenarnya ada alasan di balik rasa bosannya itu—atau bisa dibilang mood-nya yang sedang sangat jelek. Tidak tahu kenapa Ino terus saja kepikiran, padahal sebelum ini ia tidak begitu peduli dengan cowok-cowok selain pacarnya. Tapi kali ini…
'Mengapa hanya karena seorang Sai yang baru aku kenal beberapa bulan yang lalu mengacuhkanku membuatku begitu gusar? Sebenarnya ada apa? Apa karena aku menyukainya? Menyukai—hoho.. tunggu dulu… Maksudku bukan yang seperti itu—'
Mendadak Ino mengangkat kepalanya, punggungnya tegak.
'Masa sih?'
Ino menggelengkan kepalanya kuat-kuat, kemudian menertawakan dirinya sendiri karena berpikir yang tidak-tidak.
'Tentu saja bukan begitu. Aku kan sudah punya Idate dan aku gadis setia!'
'Tapi…'
'Akh, sialan! Kenapa juga aku harus memikirkan cowok menyebalkan yang tidak ada hubungannya denganku? Kalau dia tidak mau berteman ya sudah. Kenapa terlalu dipikirkan? Cih!'
"Kau kenapa sih, Ino? Tertawa sendiri… Menakutkan, tahu!" kekeh salah satu pegawai toko bunganya, cowok yang biasanya disuruh-suruh mengantar bunga pesanan.
Ino mengerutkan dahi. "Menakutkan?" Jelas ia tidak menangkap apa maksud cowok itu. "Ah, sial… bosan sekali di sini. Kalau lihat ibuku, bilang aku jalan-jalan sebentar."
"Oke, Bos!" sahut cowok itu, nyengir.
Ino menutup buku tugasnya dan menyimpannya di bawah gerai, lalu memakai mantel di atas sweter Kashmir-nya sebelum meninggalkan toko. 'Barangkali aku mau ke toko CD di ujung jalan saja,' pikir Ino. 'Mudah-mudahan CD yang waktu itu kupesan sudah ada..'
Namun alunan melodi yang terdengar sangat familier di telinganya serta merta membuat langkahnya terhenti. Mata sapphire-nya beralih ke kedai kopi milik kakek Gennoe. Suara itu berasal dari sana, dan jantung Ino serasa berhenti berdetak saat itu juga. Sesak dipenuhi kerinduan. Suara itu seperti memanggilnya.
'Dia… sudah kembali?'
Tidak memikirkan apa-apa lagi, Ino bergegas berlari menuju kedai itu. Mengabaikan sambutan pelayan kedai yang mengenalnya, Ino berjalan masuk. Akhirnya bisa bertemu lagi, pikirnya.
Untuk beberapa saat Ino hanya berdiri di dekat pintu, menatap ke arah yang sama dengan hampir seluruh pengunjung di sana. Meresapi setiap melodi yang sudah lama tidak didengarnya, melodi yang teramat dirindukannya dari orang itu. Dan ia sekarang berada di sana, di balik piano. Ino ingin segera melihatnya lagi, tapi wajah orang itu terhalang.
Para pengunjung bertepuk saat orang itu menyelesaikan lagunya. Ino termasuk di antara mereka. Dan kini jantungnya mulai berdebar-debar tak karuan, menanti orang itu berdiri, supaya ia bisa melihat wajahnya yang tampan itu lagi.
Dan orang itu berdiri.
Ino tersentak, kaget, kecewa saat menyadari ternyata itu bukanlah orang yang diharapkannya.
"Sai?" celetuknya.
Sai menoleh ke arahnya, sama terkejutnya.
"I-Ino?"
-
-
Senja sudah turun ketika Itachi tiba di rumah. Hari yang sibuk sepertinya, tapi tentu saja tidak membuatnya melupakan adik kesayangannya yang tergolek sakit di rumah. Setelah mengunci mobilnya, pria itu bergegas masuk ke dalam rumah.
"Sasuke, aku pulang!" serunya sambil melepaskan sepatunya. Matanya sejenak tertumbuk pada sepasang boots merah di samping rak sepatu. Sepatu siapa?
"Ah, Kak Itachi sudah pulang…"
Itachi terkejut saat mendengar suara anak perempuan lah yang menyahutnya alih-alih suara sengau Sasuke.
"Lho? Sakura?" tegurnya pada gadis berambut merah muda yang baru saja muncul dari ruang tengah.
Sakura tersenyum lebar padanya. "Iya, Kak."
"Sasuke mana?" tanya Itachi, melangkah menuju ruang tengah. Dan pertanyaannya langsung terjawab begitu melihat Sasuke meringkuk di sofa, tertidur pulas dengan selimut flannel menyelimuti tubuhnya sampai dagu. Plester penurun panas terpasang di dahinya.
"Dia langsung tidur setelah minum obat," beritahu Sakura dengan suara rendah.
"Kamu menemaninya dari tadi?" Itachi mengangkat alis pada Sakura.
Gadis itu hanya meringis, lalu mengangguk. "Aku tidak kuat mengangkatnya ke kamar, jadi dia tidur di situ."
Itachi tertawa kecil. "Tidak apa. Sasuke memang biasa tidur di mana saja. Di atap pun dia bisa tidur."
Sakura ikut tertawa. "Iya juga, ya… Ah—Kak, tadi aku sudah menghangatkan bubur untuk Sasuke. Aku tambahi sedikit bahan, tidak apa, ya?"
"Wah, sampai merepotkanmu begitu, Sakura. Terimakasih, ya," ucapnya.
"Tidak masalah. Sasuke kan temanku," sahut Sakura riang. Gadis itu kemudian mengambil termos makanannya yang sudah kosong. "Sudah hampir malam, Kak. Aku harus pulang."
"Perlu kuantar?" tawar Itachi sembari mengantar gadis itu menuju pintu depan.
"Tidak perlu, Kak. Kak Itachi temani Sasuke saja," tolak Sakura sambil tersenyum. Ia menunduk untuk memakai kembali boots-nya. "Malam, Kak," pamitnya kemudian.
Itachi berdiri di sana, di beranda depan rumahnya, mengawasi Sakura berjalan menjauh sampai akhirnya punggung gadis itu menghilang di ujung jalan. Ia lantas kembali ke dalam, ke ruang tengah dimana adiknya tengah tertidur.
Ia kemudian duduk di sisi sofa, mengulurkan tangan untuk menyibak rambut yang terjatuh ke mata adiknya yang terpejam sebelum meletakkan tangan ke dahinya untuk memeriksa suhu tubuhnya. Sudah tidak setinggi saat Itachi meninggalkannya tadi pagi. Keringatnya juga banyak keluar, membasahi kaus di balik sweternya.
Sasuke bergerak dalam tidurnya, tak sengaja menyibak selimut dari tubuhnya. "Nng… Sakura…" ia mengigau.
Itachi tertawa kecil mendengarnya. "Iya… dia baru saja pulang, Sasuke," ujarnya geli sambil membetulkan selimut Sasuke.
-
-
TBC
-
-
