Warning!! OoC alert!


Chapter 69

Bulan Desember seakan berlalu dengan cepat, tahu-tahu mereka sudah berada di penghujung tahun. Wabah flu yang melanda Konoha juga sudah mulai mereda—barangkali karena orang-orang mulai beradaptasi dengan cuaca dingin atau karena semangat menjelang tahun baru, entahlah. Yang jelas sekolah juga sudah mulai ramai lagi.

Hari itu adalah hari terakhir menjelang liburan tahun baru. Naruto, Sakura dan Sai sedang menghabiskan waktu istirahat makan siang mereka di studio musik yang kosong. Hari itu Sakura sengaja membawakan bekal makan siang untuk mereka supaya mereka tidak perlu mengantre di kantin yang penuh dan bising—juga supaya Sakura bisa menyeret teman-temannya membantunya melatih dialog untuk dramanya. Neji sedang tidak bisa karena harus mengerjakan proyek science dengan kelompok belajarnya untuk tugas akhirnya.

"Wew.. ini scene yang romantis," komentar Naruto setelah mereka menyelesaikan satu babak dengan ia membaca dialog Alfredo untuk Sakura. Cowok itu lalu melempar pandang heran Sakura. "Aku tidak mengerti, padahal kurasa aktingmu sudah bagus dan kau juga sudah hafal seluruh dialognya. Kenapa masih saja berkeras ingin melatihnya terus?"

Sakura melempar pandang tidak setuju. "Apanya yang bagus?" gerutunya. "Kankurou selalu saja bilang aktingku kurang 'masuk' dan masih datar."

Naruto mengerang sambil mengibaskan tangannya. "Ah, dia itu cuma cowok cerewet yang banyak maunya."

"Masalahnya aku juga merasa yang dikatakannya benar," keluh Sakura. Gadis itu mengambil naskah dari tangan Naruto kemudian menghenyakkan diri di salah satu bangku yang sudah reot di dekat jendela. Sejenak ia menatap salju yang berputar-putar menerpa kaca jendela sebelum berpaling pada Sai yang tengah melatih permainan gitarnya di bangku di seberangnya. Sudah mulai lancar dia sekarang. Pachelbel Canon in D yang dimainkannya terdengar indah di telinga. "Permainanmu sudah bagus sekali, Sai."

Sai menghentikan permainannya, mengangkat kepalanya dan tersenyum pada Sakura. "Terimakasih."

"Siapa dulu yang mengajari," umbar Naruto berbangga diri.

"Huu… maunya!" kekeh Sakura.

Mereka bertiga kemudian tertawa.

"Omong-omong, kemana perginya Sasuke, ya?" tanya Naruto kemudian sambil mengambil nasi kepal dari kotak makan siang yang dibawa Sakura, lalu berjalan ke arah jendela dan bersandar di sana. "Lama sekali dia."

Sasuke juga sudah kembali masuk sekolah setelah flunya sembuh.

"Katanya dia ke perpustakaan, mau pinjam buku," jawab Sai. Jemarinya memain-mainkan senar gitar di pangkuannya.

"Tumben," kata Naruto nyengir. Mata biru langitnya melirik Sakura yang sudah kembali membaca-baca naskah dramanya. "Biasanya kan Sakura yang mendekam di sana."

Mendengar komentar sahabatnya itu, Sakura hanya tersenyum simpul. "Kau juga kapan-kapan perlu mendekam di sana juga, Naruto. Supaya otak kanan dan kirimu seimbang."

Naruto terkekeh. "Jadi menurutmu otakku miring ke kanan atau ke kiri?" tanyanya bergurau, membuat Sakura tertawa lagi. "Omong-omong lagi," kata Naruto setelah tawa mereka mereda dan ia juga telah menelan potongan nasi kepalnya yang pertama, "Apa kalian punya buku bacaan yang sudah tidak terpakai?"

"Untuk apa?" tanya Sai penasaran. Ia sudah berhenti memainkan gitarnya dan mengambil nasi kepal juga.

"Untuk anak-anak panti," jawab Naruto, menggigit potongan lain nasi kepalnya. Cowok berambut pirang itu menghela napas berat, matanya menerawang memandang sarang labah-labah di sudut langit-langit studio. "Aku sih kepinginnya memberi mereka beberapa buku yang bisa diwarnai juga. Lama-lama kasihan juga kalau melihat mereka menggunakan koran bekas untuk diwarnai. Adik-adik yang sudah sekolah juga butuh buku baru. Kalau saja aku punya uang lebih…" ujarnya dengan suara pelan.

Sunyi beberapa saat.

"Kalau tidak salah, aku punya beberapa," kata Sakura kemudian setelah mengingat-ingat. Gadis itu melempar senyum manis pada Naruto, "Nanti akan kucari di rumah."

Naruto balas nyengir. "Trims." Ia kemudian melirik Sai penuh harap.

Namun sebelum Sai sempat membuka mulutnya untuk menjawab, perhatian mereka langsung teralih dengan kedatangan seseorang yang langsung menerobos masuk tanpa ketuk pintu dulu, sosok gadis berambut pirang panjang.

"Ino!"

"Hai!" sapa Ino dengan senyum lebar. "Sudah kuduga kalian sedang ada di sini—lagi." Hari sebelumnya juga begitu. Gadis itu lantas menutup pintu di belakangnya. "Tidak keberatan kan aku bergabung?"

"Tentu saja tidak."

Sai lah yang menyahutnya, lengkap dengan senyum ramah, membuat Sakura dan Naruto bertukar pandang. Sejak beberapa hari belakangan ini, Sai memang tidak terlalu canggung lagi di depan Ino, malah keduanya tampak akrab. Perubahan itu tentu saja mengherankan teman-temannya yang lain, membuat mereka bertanya-tanya apa yang sudah terjadi antara Ino dan Sai yang membuat mereka akrab seperti itu.

"Thanks, Sai…" Ino membalas senyumnya, kemudian langsung menghenyakkan diri duduk di bangku sebelah Sai. Mata birunya menangkap gitar milik klub musik yang tersandar di dekat kaki Sai. "Oh, kau juga belajar gitar?" tanyanya antusias.

"Ya," jawab Sai malu-malu.

"Wow! Dengan permainan pianomu yang indah itu, sekarang kau juga belajar instrument lain?" Ino menatap kagum. "Keren banget. Belum lagi kau jago melukis, kan? Bikin iri deh.."

"Kurasa tidak sehebat itu," ujar Sai merendah. Segera saja Sakura dan Naruto terlupakan.

"Ehem!" kata Naruto. Perhatian kedua orang itu teralih padanya. "Kalau kau cuma mau mengajak Sai ngobrol, bawa saja dia keluar supaya aku bisa berduaan dengan Sakura," guraunya sambil nyengir, yang langsung disambut dengan sambitan gulungan naskah oleh Sakura.

Ino terkekeh-kekeh, sementara di sebelahnya, Sai tersenyum simpul.

"Eh…" Ino mengedarkan pandangannya, seakan baru saja teringat sesuatu. "Rasanya ada yang kurang di sini… Kemana Sasuke?"

"Di perpustakaan," sahut Sakura, mendahului Sai.

"Oh! Tumben… Biasanya Sakura," komentar Ino, nyengir.

Naruto mengangguk-angguk setuju. Sai tertawa kecil. Sakura merasa déjà vu—gadis itu memutar bola mata hijaunya.

"Aku sudah dengar itu tadi," ia menggerutu. "Apa aku ini begitu identik dengan perpustakaan, ya?"

Ino mengikik.

"Ngapain kau mencari Sasuke?" Naruto menanyai Ino. Mata birunya melebar sedikit dan cowok itu melempar cengiran jahil. "Jangan-jangan kau sudah menjadi bagian dari barisan fans club-nya, ya?"

Ino mencibirnya. "Sembarangan. Maaf saja ya, aku sudah punya cowok tidak kalah cakep dari Sasuke,"—di sampingnya, senyum Sai sedikit memudar—"Aku ada perlu sedikit dengannya. Tentang dana untuk properti panggung drama."

"Kalau begitu bicarakan saja denganku," kata Naruto yang juga salah satu panitia bagian logistik bersama Sasuke.

Ino tampak menimbang-nimbang sejenak. "Oke. Jadi kapan kalian berencana membeli peralatannya?"

"Secepatnya—Sasuke yang bilang begitu," sahut Naruto. "Mungkin sebelum tahun baru—sebelum toko-toko bahan bangunan pada libur."

Ino mengangguk-angguk. "Baiklah. Kau punya daftar harga barang-barang yang akan kalian beli?" tanyanya sambil menjulurkan tangan seperti hendak meminta sesuatu pada Naruto.

Naruto meringis. "Daftarnya ada pada Sasuke."

"Maka dari itu aku perlu bicara dengannya yang jadi koordinator," kata Ino, memutar matanya, lalu melirik Sai, "Kudengar kau yang akan melukis latarnya nanti?"

"Ya," jawab Sai, senyumnya melebar lagi. Ada nada berpuas diri dalam suaranya.

"Pasti bakal keren," kata Ino.

"Biasa saja," ujar Sai merendah sambil mengeluarkan tawa kecil. Mereka bertukar senyum.

Sakura memandang kedua temannya itu dengan perasaan was-was. Bukannya ia tidak suka Ino dan Sai akrab, ia sama sekali tidak keberatan sebagai teman. Tapi ia merasa tatapan Sai agak berbeda—dan ia tahu Sai barangkali tidak bisa mencegah perasaan itu, sama seperti ia sendiri yang tidak bisa mencegah perasaannya terhadap Neji. Cowok itu seperti kembali menaruh harapan pada Ino. Dan Sakura tidak ingin Sai terluka gara-gara itu, terlebih Ino sudah memiliki orang lain. Ah, ini benar-benar membuatnya serba salah.

"Hei, katanya hari ini mereka akan mengumumkan bakal calon ketua OSIS, kan?" Sakura buru-buru mengalihkan perhatian mereka.

"Oh, ya!" Naruto mendadak menjadi sangat bersemangat. Cowok pirang itu tertawa-tawa, mengundang pandangan heran tiga yang lain. "Aku jadi penasaran…"

-

-

Sementara itu di perpustakaan yang suasananya berbanding terbalik dengan kantin yang penuh dan bising, Sasuke sibuk berkutat di deretan rak yang menjulang, mencari buku-buku reverensi yang diperlukannya. Cowok bermata tajam itu sama sekali tidak menghiraukan tatapan anak-anak perempuan yang terus mengikutinya sejak tadi, menatapnya penuh minat. Yah, ia memang sudah terbiasa dengan yang seperti itu dan ia memilih mengacuhkannya saja.

Tapi tidak yang satu ini.

"Sasuke?" suara lembut anak perempuan memanggilnya ketika ia melewati deretan rak buku-buku sastra.

Sasuke menoleh, dan mendapati Hinata berdiri di sana menghadap rak. "Hai," Sasuke membalas sapaannya sambil memamerkan senyumnya yang langka.

Mata lavender Hinata yang lebar melirik pada tumpukan buku yang dibawa Sasuke. "B-Banyak sekali bukunya. Kau m-mau pinjam semua?"

Sasuke menghampirinya. "Yeah. Sepertinya aku ketinggalan banyak setelah pindah. Jadi…" ia membiarkan kalimatnya menggantung dan menggantinya dengan melempar pandang ke tumpukan buku-bukunya. "Aku tidak mau kalah dari Sakura."

Hinata mengeluarkan tawa kecil. "Kau masih k-kompetitif seperti dulu rupanya, S-Sasuke," komentarnya, teringat kebiasaan teman sejak kecilnya itu yang selalu tidak mau kalah dari siapa pun sekalipun itu hanya permainan. "Kali ini sainganmu agak berat. Sakura itu siswa paling cemerlang di kelas dua. Dia itu rajin dan mudah menyerap pelajaran. Ingatannya juga sangat kuat."

"Aku tahu," dengus Sasuke. "Dia juga suka sok, keras kepala dan agak menyebalkan kadang-kadang." Ia menyunggingkan seulas senyum lembut ketika mengatakan itu.

"Kau seperti s-sedang bicara tentang dirimu sendiri, Sasuke," gadis berambut panjang itu terkekeh lembut.

Sasuke mengatupkan bibirnya. Maksudnya aku juga sok, keras kepala dan menyebalkan, ya?

"T-Tapi kulihat kalian sangat akrab," tambah Hinata sambil tersenyum.

Mau tak mau Sasuke tersenyum lagi. "Yeah. Sedikit."

Beberapa anak perempuan yang kebetulan lewat di sana melempar pandang dengki pada Hinata. Jarang-jarang Sasuke mau mengakrabkan diri dengan anak perempuan. Sungguh pemandangan langka melihatnya bisa tersenyum. Dan Hinata Hyuuga adalah salah satu dari segelintir gadis yang beruntung bisa bicara selancar itu dengan si Mr-Ice-Cube.

"Oh, ya," Hinata seperti baru teringat sesuatu. "Um… b-bisa tolong ambilkan b-buku yang di a-atas saja, Sasuke?" gadis itu menunjuk salah satu buku sastra di rak paling atas. "Aku t-tidak sampai."

Sasuke yang bertubuh jangkung, hanya dengan menjulurkan tangannya saja sudah dengan mudah mencapai rak tertinggi. Ia kemudian mengambilkan buku yang ditunjuk Hinata.

"T-Terimakasih," ucap Hinata sambil menerima buku yang diinginkannya. Buku itu sudah agak lusuh dan berdebu, sepertinya sudah bertahun-tahun tidak bergerak dari raknya. Hinata mengusap debu di bagian atas sampulnya.

"Kau masih tertarik dengan sastra, ya?" Sasuke mengerling buku itu tertarik.

"Hmm…" Hinata mengangguk. "Ini subjek favoritku."

"Masih melanjutkan menulis novel yang dulu, kalau begitu?"

"Tentu saja. M-meski aku sering kehabisan ide."

"Kalau begitu beritahu aku kalau novelmu sudah jadi."

Hinata memberinya senyum lembut, lalu mengangguk. "T-temanku yang pertama."

Keduanya kemudian menuju meja pustakawan untuk mencatat buku-buku yang hendak mereka pinjam. Butuh waktu agak lama karena Sasuke meminjam maksimal jumlah buku yang boleh dipinjam. Beberapa saat berselang mereka meninggalkan perpustakaan sambil sesekali mengobrol dan tentu saja mengundang tatapan iri dari gadis-gadis yang melihat.

"Bisa kau ikut aku sebentar ke lokerku?" tanya Sasuke ketika Hinata hendak berbelok menuju ruang jurnal. "Aku ada sesuatu untukmu."

"Eh? Apa?" Hinata menatapnya bingung.

"Nanti kau akan tahu sendiri," jawab Sasuke sok misterius.

Meskipun masih bingung, toh Hinata tetap mengikutinya sampai ke koridor loker. Setelah sampai di sana dan Sasuke telah meletakkan buku-bukunya di dalam loker, cowok itu mengeluarkan sesuatu; sebuah bungkusan yang agak berat dalam balutan kertas kado sederhana.

"Happy birthday," ucap Sasuke sambil mengulurkan bungkusan itu pada Hinata.

Hinata tampak terkejut sekaligus senang. "Kau m-masih ingat?"

"Tentu saja masih," sahut Sasuke memutar matanya. Bagaimana ia bisa lupa kalau di tahun-tahun sebelumnya ia kerap menandai tanggal lahir Hinata di kalendernya? "Ini untukmu."

"Trims." Hinata menerimanya meskipun agak sungkan. "S-seharusnya kau tidak perlu repot-repot begini."

Sasuke mengibaskan tangannya. "Tidak repot. Bukalah."

Sasuke membantu membawakan buku Hinata sementara gadis itu membuka selotip yang terpasang di kado di tangannya dengan hati-hati. Matanya membulat saat melihat apa yang ada di dalamnya; sebuah novel romance-science fiction yang sudah lama diinginkannya. "Oh, Sasuke… Ini… benar-benar.." gadis itu tampaknya tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat saking senangnya. "Thanks."

"Hn. Karena kau tidak mau menerima novel yang waktu itu, kupikir kau pasti akan menyukai yang ini," ujar Sasuke. Namun setelah menyadari tatapan Hinata, ia buru-buru menambahkan, "Aku hanya bergurau. Jangan dipikirkan. Ini hanya hadiah ulang tahun biasa."

Hinata memberinya senyum lemah. Gadis itu menunduk memandang novelnya, menimbang-nimbang buku tebal yang agak berat itu di tangannya. "M-Maaf, ya, Sasuke…"

"Sudahlah. Itu kan masa lalu," Sasuke mengibaskan tangannya lagi, agak menyesal telah menyebut-nyebut itu. Sekarang ia malah merasa agak canggung.

Mereka terdiam sejenak.

"Jadi… apa Sasuke sudah menemukan seseorang yang hendak kau beri buku itu?" tanya Hinata kemudian sambil melempar tatapan ingin tahu.

"Hn?" Sasuke pura-pura tidak dengar. Mendadak merasa salah tingkah. Ia belum pernah mengungkit-ungkit lagi soal buku itu pada Hinata semenjak ia memutuskan untuk melepaskannya, termasuk soal ia yang telah memberikannya pada seseorang. Yah, karena pada awalnya ia memang tidak begitu yakin.

"Sudah menemukan orang itu?" ulang Hinata.

"Um… sebenarnya sudah," sahut Sasuke setelah menimbang-nimbang beberapa saat.

Mata lavender Hinata membulat lagi. Ia tersenyum berseri-seri. "Benarkah? Siapa?" tanyanya penasaran.

"Rahasia."

Mendengar jawaban dari teman masa kecilnya itu membuatnya mengerucutkan bibir, pura-pura cemberut. Tapi kemudian ia tertawa kecil. "Baiklah… k-kurasa aku tidak bisa memaksamu, kan?"

"Si Naruto itu, apa dia sudah mengucapkan selamat padamu?" Sasuke buru-buru mengalihkan topik pembicaraan.

Wajah Hinata seketika merona merah. Dengan tersenyum tipis gadis itu menggeleng perlahan.

Sasuke memandangnya tak habis pikir. "Apa? Jadi si Bodoh itu—"

"Sepertinya dia tidak tahu, tidak apa-apa," sela Hinata. "Lagipula ini tidak terlalu penting kok," ia menambahkan dengan nada ringan. "Ya sudah kalau begitu, aku mau kembali ke ruang jurnal dulu, Sasuke. Trims novelnya."

Sasuke menghela napas begitu Hinata pergi. Sepertinya ia harus bicara sendiri pada si bodoh itu. Benar-benar tidak peka, pikirnya. Padahal ia mengira Naruto sudah menaruh perhatian lebih pada Hinata. Setelah mengunci kembali lokernya, Sasuke bergegas menuju studio klub musik di lantai paling atas gedung itu, tempat teman-temannya sudah menunggunya.

Naruto menyambutnya kelewat bersemangat saat Sasuke tiba di sana—entah apa yang membuatnya girang begitu—Namun Sasuke mengabaikannya seperti biasa dan memilih menyambar nasi kepal yang masih tersisa di kotak makan siang Sakura saking laparnya dan menghenyakkan diri di sebelah gadis berambut merah muda itu.

"Lapar ya?" goda Sakura sambil terkekeh.

Sasuke tidak menanggapinya dan memilih menghabiskan nasi kepalnya—nasi kepal Sakura, sebelum kemudian perhatiannya teralih ketika Ino mulai menanyakannya soal dana properti. Gadis yang menjadi koordinator bidang dana usaha itu dibuat tercengang melihat jumlah yang dibutuhkan Sasuke lebih kecil dari yang diperkirakannya sebelumnya.

"Kukiran peralatan itu pasti lumayan mahal, kan?" tanya Ino heran.

"Sasuke jago menawar," kata Naruto. "Tipikal cowok pelit."

Sasuke mengabaikan komentar itu, dan berkata datar, "Kita harus mengefisiensikan dana, Yamanaka."

"Maksudnya, tidak perlu buang-buang uang untuk peralatan yang sudah kita punya seperti alat-alat tukang dan sebangsanya—kami bisa meminjamnya dari anak-anak lain," jelas Sai yang juga ambil bagian dalam penyiapan properti drama, "Kami sudah mencari yang bisa dipakai di gudang sekolah. Jadi kami hanya akan membeli yang benar-benar perlu saja. Benar kan, Sasuke?"

"Hn." Sasuke mengangguk, menyambar botol air mineral yang sedang dipegang Sakura dan menenggak isinya—"Hei! Itu minumku!" protes gadis itu seraya mendorong bahu Sasuke yang tidak merasa, hanya menyeringai kecil.

"Jadi nanti sisanya bisa untuk makan-makan!" sambung Naruto gembira.

Ino melempar gulungan plastik bekas makanan pada Naruto, terkekeh. "Huu… Makan terus pikiranmu itu, Naruto!" Gadis itu kemudian berpaling pada Sasuke. "Oke. Kalau begitu akan lebih mudah. Asal kau tidak lupa meminta nota pembayarannya saja sebagai tanda bukti."

"Aku tidak akan membiarkannya korupsi, kau tenang saja, Ino," kata Naruto, yang lagi-lagi diabaikan Sasuke.

Sakura mengikik kecil di sebelah Sasuke, menertawakan Naruto yang dari tadi dicueki.

"Dan kau jangan lupa umumkan pada anak-anak untuk kumpul siang ini. Kita akan bagi-bagi tugas," katanya pada Naruto, seakan baru mengakui keberadaan cowok pirang itu di sana.

"Beres deh," sahut Naruto riang. "Sebelum kau beritahu juga sudah kulakukan."

"Hn."

"Kau tahu, Sasuke? Kau berbakat jadi pemimpin yang oke," puji Sakura tulus.

"Baru tahu?" Sasuke memandangnya dingin.

Respek Sakura terhadapnya langsung berkurang drastis. Gadis itu mencibir. "Dan berbakat menjadi juara orang paling sok."

"Hn," tanggap Sasuke datar, lalu berpaling pada Sai untuk menanyainya soal rancangan properti yang sudah dibuatnya.

Diskusi mereka langsung terhenti begitu pengeras suara yang terpasang di seluruh penjuru sekolah berbunyi nyaring. Kemudian terdengar suara ketua OSIS mereka, Menma.

"Sstt.. dengarkan! dengarkan!" desis Naruto pada teman-temannya. Wajahnya bergairah.

"Selamat siang rekan-rekan pelajar Konoha High School. Kami mohon waktunya beberapa menit untuk mengumumkan nama-nama bakal calon ketua OSIS periode berikutnya yang sudah masuk. Nama-nama ini sudah diseleksi dan disetujui oleh pengurus OSIS dan dewan guru. Yang pertama, atas nama Dosu Kinuta—"

"WHAT?!" dengking Naruto. "Ngapain orang aneh itu ikut-ikut?"

"Naruto!" tegur Sakura mencela.

Lamat-lamat mereka bisa mendengar suara-suara ribut dari bawah—entah itu sorakan mendukung, mencemooh atau gabungan dari keduanya.

"Yang kedua atas nama Saudari Shiho, perwakilan klub jurnal—"

Hal yang sama terjadi lagi, meskipun tidak seheboh yang pertama.

"Dan calon yang terakhir atas nama Sasuke Uchiha—"

Seakan terjadi ledakan di bawah mereka yang nyaris menggetarkan kaca-kaca jendela. Jeritan dan sorakan anak-anak perempuan terdengar bergemuruh di seluruh penjuru sekolah mendengar nama cowok favorit mereka disebut. Namun berbanding terbalik dengan suasana di luar, di studio klub musik di mana Sasuke sedang berada saat itu langsung senyap.

Semua kepala tertoleh ke arah Sasuke yang tampak luar biasa kaget, dengan ekspresi yang identik di wajah masing-masing, tercengang—kecuali Naruto yang malah nyengir lebar.

"Kau… mencalonkan diri?" Sakura lah yang pertama kali menemukan kembali suaranya. Mata hijaunya menatap Sasuke tidak percaya. "Katamu kau tidak berminat," ujarnya tanpa bisa menahan nada menuduh dalam suaranya.

"Aku tidak—" Sasuke menggelengkan kepalanya, tampak luar biasa gusar. Wajahnya yang biasanya pucat mulai memerah.

"Kau tidak pernah bilang mau mencalonkan diri," Sai mengernyit padanya.

"Aku memang tidak pernah mencalonkan diri!" Sasuke menukas. Ia melompat berdiri dari bangkunya. "Pasti ada yang iseng memasukkan namaku," desisnya. Entah mengapa pandangannya jatuh pada Naruto yang sedari tadi tidak bersuara.

"Kenapa menatapku?" tantang Naruto dengan wajah yang dipaksakan tetap datar—meskipun wajahnya sudah merah padam dan urat-urat di kepalanya bertonjolan saking kuatnya ia menahan tawanya agar tidak meledak.

Kini mata semua orang ganti menatapnya, memandang curiga—sekaligus geli.

"Naruto iseng banget sih…" kata Ino, mengikik.

"Naruto…" Sakura tampak geli.

Sai hanya mendesah sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Napas Sasuke mulai memburu dan kedua tangannya terkepal di sisi tubuhnya.

"Kami ucapkan selamat untuk ketiga kandidat. Masa kampanye akan dilaksanakan setelah liburan tahun baru selama sepuluh hari. Para kandidat dipersilakan mempersiapkan diri bersama tim suksesnya masing-masing—"

"NARUTOOO!!"

-

-

"Sasuke, please…"

Gadis berambut merah muda itu melempar pandang memohon pada sahabatnya seraya menarik-narik lengan kaus cowok itu keesokan harinya. Saat itu sudah hampir menjelang siang di Crimson Drive nomor 9 dan Sakura sedang berusaha membujuk sang tuan rumah supaya mau ikut dengannya pergi ke bukit belakang White Hills untuk main seluncur salju. Yah, sebenarnya yang mengajak adalah Naruto. Tapi berhubung sepertinya Sasuke masih marah padanya gara-gara kejadian hari sebelumnya di sekolah, maka tugas Sakura lah untuk membujuknya.

"Main seluncur salju?" Sasuke mendengus. "Seperti anak kecil saja."

Sakura cemberut. "Ini permainan untuk semua umur, tahu! Kami selalu main ke sana setiap tahun. Lagipula sekali-sekali tidak bersikap cool tidak akan membunuhmu. Ayolaaah… Naruto dan Sai juga sudah ada di sana."

"Humph…"

"Kenapa, sih? Niat Naruto kan baik, Sasuke. Masa kau mau mogok bicara padanya terus sih. Seperti anak kecil saja," Sakura membalik kata-kata Sasuke beberapa saat lalu.

"Pintar," cemooh Sasuke.

"Sasukee…" Sakura melancarkan aksi puppy eyes-nya.

"Sudahlah, Sasuke. Kau pergi saja dengan Sakura. Dari pada suntuk terus seharian di rumah," timbrung Itachi yang baru saja muncul di belakang Sasuke. Pria jangkung berwajah tampan itu tersenyum hangat pada Sakura. "Hari ini kan liburan, jadi nikmati saja. Bersenang-senanglah di luar."

Sakura mengangguk bersemangat, menyetujui kata-kata kakak laki-laki Sasuke.

Sakura menanggapinya dengan memutar bola matanya dan menggeram rendah. "Baiklah," ujarnya pada akhirnya, meski dengan sangat enggan. Cowok itu kemudian masuk melewati Itachi untuk mengambil peralatannya—jaket tebal, kupluk, sepatu dan sarung tangan wol.

"Dia memang begitu," kata Itachi pada Sakura.

Gadis berambut merah muda itu nyengir.

"Jadi benar dia terpilih sebagai kandidat ketua OSIS periode nanti?" tanya Itachi ingin tahu.

Sakura mengangguk antusias. "Ya."

"Wow," komentar Itachi terkekeh sambil melipat kedua lengannya dan bersandar di pintu.

"Menurut Kak Itachi, apa Sasuke mampu?" Sakura menanyainya. "Maksudku, menjadi ketua OSIS."

Kakak Sasuke itu tersenyum lagi. "Yah… kurasa dia mampu. Sasuke kan dulu kapten tim klub sepak bola waktu masih di Oto dan pernah menjadi Ketua Murid di sekolah dasar. OSIS sepertinya bukan masalah besar. Dan dia memang suka memerintah-merintah orang," ia menambahkan dalam bisikan.

Sakura mengikik. "Benar juga.." Gadis itu kemudian berpaling untuk mengedarkan pandangannya berkeliling halaman depan rumah Sasuke yang nyaris keseluruhannya tertutup salju sebelum kembali memandang Itachi. "Kak Itachi tidak keluar?"

"Tidak. Mungkin nanti sore," jawab Itachi dengan nada ringan.

Tanpa sadar Sakura menarik-narik ujung kepangnya. Berada berduaan saja dengan pria tampan yang lebih tua mau tak mau membuatnya gugup juga.

"Hei, Sakura," panggil Itachi tiba-tiba, membuat gadis di depannya otomatis mengangkat wajahnya lagi.

"Ya, Kak?"

"Apa Sasuke sudah—"

"Kita berangkat sekarang, Sakura!" potong Sasuke sebelum Itachi sempat menyelesaikan kalimatnya, melempar pandang memperingatkan pada kakaknya—Itachi hanya nyengir—Lalu menarik siku Sakura dan membawanya ke halaman menuju wagon yang terparkir di depan.

"Hei, tidak perlu menarik-narik begitu. Aku bisa jalan sendiri!" Sakura menyentak lepas lengannya dari pegangan Sasuke, dan menggosok-gosok bagian yang tadi dicengkeram cowok itu. "Kau kenapa, sih? Geez…" Gadis itu memutar matanya, lalu menoleh lagi pada Itachi. "Kami pergi dulu, Kak!" serunya sambil melambai.

Di pintu, Itachi balas melambai. Terdengar suara salakan anjing dari dalam rumah dan Rufus menerobos keluar melewati kaki Itachi. "Whops! Rufus!"

Retriever itu tidak mendengarkan panggilan tuannya, lebih memilih mengejar Sasuke, melompat-lompat ingin ikut. Itachi tertawa. "Bawa dia juga, Sasuke!"

Sasuke mengeluh pelan, memelototi anjingnya. "Kenapa kau menempel padaku terus, eh? Tuanmu itu Itachi."

Rufus membalasnya dengan salakan gembira.

"Biar saja kenapa, sih?" kata Sakura sambil merunduk, menggaruk belakang telinga anjing Itachi penuh sayang. "Yuk, ikut dengan kami, Rufus! Anjing pintar—tidak seperti tuannya." Gadis itu melirik Sasuke, nyengir.

Tak lama kemudian mereka sudah berada di dalam mobil, dengan Sakura yang duduk di belakang kemudi dan Sasuke di sebelahnya, memangku Rufus yang menongolkan kepalanya ke jendela. Sakura telah menyalakan radio mobilnya, memperdengarkan lagu-lagu dari stereo di belakang. Rufus melolong mengikuti irama musik.

Sakura tertawa renyah. "Wah, Rufus pandai bernyanyi juga, ya…" dijulurkannya sebelah tangan untuk membelai punggung anjing itu. Sasuke memutar bola matanya.

Rufus memang seperti itu kalau sudah mendengar musik. Di rumah juga, setiap kali Itachi menyalakan stereo dan bernyanyi keras-keras—sampai membuat Sasuke jengkel sekali karena berisik—Rufus juga selalu ikut ambil bagian dalam keributan itu. Lolongannya menenggelamkan suara Itachi. Kakaknya itu menganggapnya sangat lucu sampai-sampai merekamnya dan mengirimnya ke acara tentang hewan-hewan lucu di televisi.

"Hei, Sasuke?" panggil Sakura saat mereka berbelok ke arah White Hills.

Sasuke mengeluarkan gerutuan tak jelas sebagai balasan.

"Jangan marah lagi pada Naruto, ya. Dia kan tidak bermaksud jahat atau mengerjaimu," kata Sakura.

"Aku sudah dengar itu," gumam Sasuke tidak berminat.

Sakura menghela napasnya. "Dia berbuat begitu karena dia melihatmu punya potensi—aku juga sependapat dengannya, kau punya kemampuan itu. Lihat saja tim peralatan yang kau pimpin sekarang progress kerjanya maju terus kan, padahal sebelumnya stuck. Dan anak-anak juga mendengarkan kata-katamu, bahkan Menma."

Sasuke mendengus pelan dan memandang ke luar jendela, tidak membalasnya. Tangannya mengelus-elus punggung Rufus.

"Ayolah, sesekali melakukan sesuatu yang baik untuk sekolah tidak apa-apa, kan? Hm?" Sakura melempar senyum manis membujuk pada sahabatnya itu sekilas sebelum kembali memandang ke depan. "Kau tenang saja. Kami akan selalu mendukung dan membantumu setiap kau butuh," lanjutnya cerah.

Sasuke menoleh pada gadis di sebelahnya. Ia sempat membicarakan ini dengan Itachi semalam—tepatnya ia mengomel tidak puas atas kelancangan Naruto yang seenak jidat mendaftarkan namanya menjadi calon ketua OSIS pada sang kakak—dan kata-kata kakaknya tak jauh berbeda dengan yang dikatakan Sakura barusan, bahwa ia memiliki potensi untuk jabatan itu dan bahwa sahabat baiknya tidak mungkin menjerumuskannya.

"Lihat sisi baiknya saja deh," kata Itachi semalam, "Kalau kau masuk organisasi sekolah, akan lebih mudah bagimu mendapatkan beasiswa untuk universitas. Sekaligus bisa melatihmu kalau kau berminat meneruskan perusahaan keluarga kita. Kau bisa belajar banyak dari pengalaman mengurus organisasi. Dari mana lagi kita bisa belajar lebih baik dari pengalaman, iya kan? Ayah juga pernah memberitahuku kalau dia juga pernah menjadi pengurus organisasi sekolah dan senat mahasiswa saat ia masih lebih muda—dan kau bisa lihat hasilnya sekarang. Fugaku Uchiha, orang paling keren yang pernah menjabat sebagai General Manager sebelum akhirnya menjadi Presiden Direktur. Yah… tapi terserah kau saja, sih.. Keputusannya ada padamu."

"Akan kupikirkan," kata Sasuke akhirnya. Sakura langsung berseri-seri.

"Naruto pasti senang mendengarnya!"

"Hn."

Lima menit kemudian mereka akhirnya sampai di bukit di belakang White Hills—Bukit Putih, orang-orang di Konoha kerap menyebutnya seperti itu. Nama yang sesuai, mengingat setiap musim dingin bukit itu selalu ditutupi salju tebal. Di sana juga merupakan tempat meluncur favorit di Konoha. Bukitnya terjal, penuh tonjolan dan membentang sampai ke sebuah lapangan yang lebar dan kosong di bawahnya. Perjalanan naik ke puncak bukit memang sulit, tapi kalau kau sudah meluncur, kelelahan akibat menanjak benar-benar setimpal dengan keasyikannya.

Bukit itu dipenuhi berpuluh-puluh anak, anak-anak dari segala usia, yang sedang asyik meluncur sambil menjerit-jerit gembira. Mereka menggunakan papan luncur aneka model, dari papan luncur sungguhan sampai kantung plastik sampah.

"Benar, kan? Ini bukan cuma permainan anak kecil! Memangnya anak kecil saja yang boleh bersenang-senang?!" seru Sakura senang sambil menengadahkan kepala, mencari-cari sosok yang dikenalnya di antara orang-orang yang meluncur.

"Hn." Sasuke berjalan mendahuluinya, menyusul Rufus yang sudah berlari-lari riang di antara salju di depan mereka, saling salak dengan anjing-anjing lain yang pasti dibawa oleh tuan masing-masing.

"Tunggu aku, Sasuke!" Sakura bergegas mengikutinya. Ketika hampir menyusulnya, gadis itu tergelincir dan jatuh ke salju.

Sasuke menoleh, menyeringai geli mendapati posisi konyol Sakura di atas salju. "Sedang apa kau di situ?"

"Aku jatuh," Sakura berusaha berdiri, kakinya sedikit tersangkut salju yang tebal.

"Ngapain pakai jatuh segala, eh?" Sasuke tak bisa menahan kekehannya. Sakura menatapnya sebal, bibirnya mengerucut.

Masih terkekeh, Sasuke bergegas maju membantunya berdiri. Namun Sakura ternyata punya ide lain; ditariknya kuat-kuat tangan Sasuke sehingga cowok itu tersungkur ke salju. Sakura langsung menyerbunya dan membenamkan wajahnya ke dalam salju. Sasuke terbatuk-batuk. Tapi cowok itu tak mau kalah. Ia membalas serangan Sakura, melempari gadis itu dengan bola salju. Sakura menjerit tertawa-tawa, kemudian balas melempar. Segera saja mereka kehabisan napas dan berlumur salju.

Kemudian mereka mendengar suara teriakan yang tak asing. Sasuke dan Sakura yang masih terengah-engah setelah pergulatan seru mereka, menengadah ke atas bukit dan melihat Naruto sedang meluncur menggunakan papan kayu—yang bentuknya seperti papan selancar—bersama beberapa anak sambil berteriak-teriak senang. Rombongan itu sampai di lapangan, kemudian terguling ke salju, tergelak-gelak.

"Naruto!" teriak Sakura memanggilnya sambil melambaikan tangan.

Mendengar namanya dipanggil, Naruto menoleh dan langsung tersenyum lebar melihat dua sobatnya mendekat. "Sakura! Sasuke!!"

"Mana Sai?" tanya Sakura setelah mendekat. Gadis itu celingukan mencari cowok yang satu lagi, tapi ia hanya mendapati Kiba, Sora, Sumaru dan Mizura di sana—yang sudah memulai permainan perang salju.

"Dia tidak jadi datang. Katanya ada acara dengan kakeknya. Acara fundriser atau apalah, aku tidak begitu mengerti," sahut Naruto. Ia menyumpah-nyumpah ketika bola salju yang dilempar Sora mengenai samping kepalanya. "Oi!"

"Yah… sayang sekali…" keluh Sakura. Ia memandang berkeliling sekali lagi dan menyadari banyak anak-anak Konoha High di sana. Ia melihat Hokuto, gadis yang satu klub dengannya, berlari-lari kecil dengan susah payah menghampiri cowok-cowok itu. Sakura menyapa gadis itu ceria, yang langsung dibalasnya dengan sama cerahnya.

"Jadi kau sudah tidak ngambek lagi, eh, Sasuke?" Naruto melirik Sasuke sementara Sakura mengobrol dengan Hokuto.

Sasuke menyipitkan matanya, mendengus. "Seharusnya aku menghajarmu kemarin," desisnya.

Naruto meringis. "Aku kan sudah minta maaf. Lagipula aku masih sayang mukaku yang cakep ini." Dielus-elusnya wajahnya sendiri.

Sudut bibir Sasuke berkedut menahan senyum. Cowok itu kemudian berpaling.

Naruto terkekeh. "Jadi kau sudah memaafkanku, kan, teman? Sudah, kan? Hei—jangan senyum-senyum saja. Jawab aku dong," godanya sambil menjawil lengan Sasuke, nyengir.

"Diamlah!" bentak Sasuke, menepis tangan Naruto yang kini meledak tertawa.

"Aku tahu kau tidak akan lama-lama marah pada temanmu, eh, Sasuke?" kekeh Naruto, menyambar leher Sasuke dan merangkulnya. Sasuke tidak menampiknya kali ini. Naruto tahu kemarahan Sasuke hari sebelumnya hanyalah reaksi terkejut yang tidak akan bertahan lama. Pada akhirnya Sasuke akan bisa melihat maksudnya yang sebenarnya. Naruto memahami betul sahabatnya itu.

"Pokoknya, jangan melakukan yang seperti itu lagi," geram Sasuke. Seringai tipis menghiasi wajahnya.

"Um… akan kupertimbangkan," kata Naruto pura-pura berpikir, tapi kemudian tertawa. "Hanya bergurau, teman. Ya ampun…" kekehnya saat melihat tampang Sasuke yang seperti siap mencekiknya.

Tak jauh dari sana, Sakura melempar tatapan lembut pada kedua sahabatnya, tersenyum puas.

"Dan bantu aku," ujar Sasuke kemudian.

"Tentu saja, Sasuke. Tenang saja!" Naruto melepaskan rangkulannya dan mengambil papan luncurnya. "Sebelum itu, bagaimana kalau kita meluncur dulu? Asyik, lho…"

Dan saat berikutnya, cowok itu sudah menarik Sasuke menaiki bukit, menyusul Kiba dan yang lain yang sudah mendaki terlebih dulu.

"Ikut..!!" Sakura juga menyusul mereka bersama Hokuto. Gadis itu terpeleset-peleset dan tergelincir beberapa kali, tapi Sasuke dan Naruto dengan cepat menyambar kanan kiri lengannya untuk mencegahnya jatuh berguling-guling sepanjang bukit.

Satu jam berlangsung menyenangkan. Mereka mendaki dan meluncur beberapa kali bergantian dengan papan luncur; sendirian, berdua-berdua, bahkan berombongan sampai mereka semua terguling ke salju di bawah bukit. Tertawa dan berteriak-teriak sampai serak, bahkan Sasuke sampai lupa bersikap cool seperti biasa.

"Siap meluncur lagi?" teriak Naruto ketika untuk entah keberapa kalinya mereka sudah berada di puncak bukit, siap meluncur lagi. Kali ini mereka akan meluncur bertiga; Naruto, Sakura dan Sasuke.

"Yeah!" seru Sakura yang duduk di tengah, penuh semangat sambil mengacungkan tinjunya ke udara.

Sasuke yang posisinya paling belakang mendorong papan luncur itu dengan kakinya, lalu melompat ke belakang Sakura, berpegangan pada bahunya. Mereka meluncur sambil menjerit-jerit senang. Papan luncur mereka meluncur dengan cepat, menghantam tonjolan keras. Sakura menjerit dan mencengkeram Naruto yang duduk di depannya ketika papan luncur terbang ke udara. Tapi mereka bertahan berhasil di atasnya, terus meluncur sampai di kaki bukit dan baru berhenti saat sudah sampai di tengah lapangan di bawah.

Mereka tertawa. Asyik sekali!—Ah, kalau saja Sai juga ikut…

Semakin siang, anak-anak yang berdatangan semakin banyak dan bukit itu semakin penuh. Sasuke, Sakura dan Naruto memutuskan untuk beristirahat di tepi lapangan, membeli tiga cokelat panas dalam cangkir kertas yang dijual di dekat sana dan menikmatinya sambil duduk-duduk di bangku kayu, mengawasi anak-anak yang sedang bersenang-senang. Anjing Sasuke, Rufus, sedang bermain dengan Akamaru, anjing Kiba, tak jauh dari tempat mereka.

Sedang asyik menikmati cokelat panasnya, tiba-tiba saja ada yang menutup mata Sakura dari belakang dengan tangan berbalut sarung tangan woll.

"Aaa! Siapa ini?!" pekiknya kaget.

Kedua cowok yang lain langsung menoleh, mendapati seorang gadis dalam balutan jaket biru tebal berdiri di belakang Sakura. Rambut pirangnya yang panjang terjurai dari balik topi ski yang dikenakannya. Gadis itu memberi kode agar mereka dua diam. Tetapi agaknya Naruto terlambat menyadari kode itu.

"Ino?!" seru Naruto otomatis, membongkar identitas orang itu dalam sekejap.

Pegangan tangan Ino pada mata Sakura mengendur, membuat temannya itu dengan mudah menarik tangannya lepas. "INO?!"

"Aaah! Naruto tidak seru!" Ino memprotes, cemberut pada Naruto.

Naruto nyengir, menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. "Ha ha ha.. Sori, deh…"

Ino menggembungkan pipinya tanda sebal, kemudian berjalan mengitari bangku kayu itu dan duduk di ujung sebelah Sakura, tempat yang paling jauh dari Naruto.

"Sendirian saja?" tegur Sakura.

"Tidak juga. Tadi dengan Karin dan yang lain," sahut Ino, menyibak rambut panjangnya ke belakang, "Biasalah, hang out, shooping tidak jelas. Aku bosan, jadi pulang duluan. Aku tadi mampir ke Blocaf dan mereka bilang kau kemari. Jadi, yah… di sinilah aku!" Gadis itu mencondongkan tubuhnya, melirik cowok yang duduk di sebelah Sakura. "Kalau cewek-cewek itu tahu Sasuke ada di sini, mereka pasti akan menyerbu kemari juga. Siapa yang menyangka Sasuke yang cool itu senang main salju?" kikiknya.

"Diamlah," gerutu Sasuke, menghirup kembali cokelat panasnya yang sudah tidak panas lagi.

"Tidak jalan dengan Idate?" tanya Sakura.

Ino menggeleng, mengambil cangkir cokelat Sakura dan menyeruputnya sedikit. "Idate sedang sibuk. Banyak tugas katanya. Akhir-akhir ini kami memang tidak sering jalan. Tapi tak apalah, dari pada lama-lama bosan, kan?"

Sakura mengulum senyum. "Benar juga. Tadi jangan sembarangan ambil minumku dong. Beli saja sendiri sana." Ia menunjuk konter yang menjual makanan hangat.

"Malas ah!" Gadis bermata biru itu malah tertawa cuek dan menenggak lagi cokelat Sakura. Tiba-tiba ia menyikut lengan Sakura dan menunjuk ke satu arah. "Sakura, itu Neji!"

"Mana, mana?!" Sakura menjulurkan lehernya dan benar saja, Neji baru saja muncul dari ujung jalan.

Cowok itu mengenakan jaket putih panjang dan topi yang senada, sedang menggandeng seorang anak perempuan kecil yang kira-kira berusia sekitar empat atau lima tahun. Hanabi, adik Hinata, berjalan di sisinya yang lain, memegang papan luncur berwarna pink cerah. Gadis cilik itu kemudian berlari mendahului kakak sepupunya, bergabung dengan teman-temannya di lapangan.

Sakura tak bisa menahan senyumnya. Matanya terus mengikuti Neji memasuki lapangan, menemani anak perempuan kecil bermata identik dengannya itu bermain-main dengan salju. Awalnya mereka seperti mau membuat orang-orangan salju, tetapi anak perempuan itu sepertinya tertarik pada anak-anak yang meluncur dari bukit. Ia menarik-narik lengan Neji dan menunjuk-nunjuk ke atas. Tampak cowok itu tertawa dari kejauhan, kemudian menggandeng anak itu dan mereka mulai menapaki bukit dengan hati-hati. Terlihat sekali Neji sangat menjaga anak itu agar tidak jatuh, sampai akhirnya ia memutuskan untuk menggendongnya di punggung.

"Aww… manis sekali tidak, sih..?" desah Ino, tertawa kecil.

Sakura mengangguk setuju, senyum masih terukir di bibirnya. Melihat Neji menggendong gadis kecil itu membuatnya teringat saat ia keluar bersama cowok itu tempo hari. Saat itu Neji juga menggendongnya di punggung. Sakura merasakan wajahnya menghangat dan ia tertawa kecil mengingat hangatnya punggung Neji saat itu.

Sakura sama sekali tidak menyadari Sasuke terus memperhatikannya sejak kemunculan Neji tadi.

'Benar, kan? Sakura memang mengeluarkan senyumnya yang paling manis setiap ada Neji,' pikir Sasuke getir. Namun meski begitu, Sasuke merasa tidak bisa tidak menyukai senyum itu. Ia menghela napas pelan, lalu mengalihkan pandangannya—dan tepat saat itu, ia justru bertemu pandang dengan Ino. Gadis itu mengangkat alisnya, menatapnya penuh tanya, dan sekejap kemudian ia mulai tersenyum penuh arti. Sasuke yang merasakan wajahnya mulai memanas buru-buru memalingkan wajahnya.

Bukan Ino yang membuatnya mendadak gugup, melainkan tatapannya itu, seakan gadis itu bisa membaca apa yang ada dalam pikirannya. Kalau ia tahu bisa gawat, pikirnya.

"Sasuke, mau main lagi, tidak?"

Suara Naruto membuatnya terkejut. "Apa?"

Naruto mengendikkan kepala ke arah bukit.

"Tidak. Kau saja," sahutnya.

Naruto mengeluh pelan, lalu beralih pada Sakura dan mengajaknya juga. Gadis itu langsung menjawab dengan anggukan riang, dan saat berikutnya Sasuke sudah ditinggal sendirian di bangku dengan tiga gelas cokelat panas yang sudah kosong. Ia mengawasi Sakura, Naruto dan Ino menjauh, bergabung dengan yang lain untuk bersenang-senang. Sasuke menghela napasnya, mengambil ponsel dari saku celananya dan memasang earphone, menyumpalkannya ke telinga untuk membunuh rasa bosan.

Woof!

Seakan paham kalau tuannya baru saja ditinggalkan, Rufus melompat mendekati Sasuke, meletakkan dua kaki depannya di atas pangkuan cowok itu. Mau tak mau Sasuke tersenyum seraya menggaruk leher anjing kesayangannya itu.

"Kau mau menemaniku, ya?"

Woof!

-

-

"Oke. Sudah siap, Hitomi?" Neji menunduk pada anak perempuan kecil yang duduk di pangkuannya di atas papan luncur Hanabi. Mereka berada di tengah bukit alih-alih di puncak. Neji menahan papan itu dengan kakinya, sementara Hanabi melambaikan tangan di bawah menanti mereka bergabung dengannya.

"Siap, Kak!" Hitomi kecil mengeratkan pegangannya pada Neji.

Neji memeluk tubuh gadis cilik itu dengan satu tangan sementara tangannya yang lain berpegangan pada papan. "Pegangan yang erat, ya… Satu… dua…" dan dalam hitungan yang ketika, ia melepaskan tahanannya dan papan itu meluncur ke kaki bukit dengan cepat. Di pangkuannya, Hitomi berteriak-teriak senang. Sampai akhirnya papan itu membawa mereka ke tengah lapangan.

Hitomi melompat turun. Wajahnya memerah, mata lavendernya berbinar. "Lagi! Lagi!"

Neji tertawa melihat antusiasme adik sepupu—sebenarnya keponakan, karena Hitomi adalah anak salah satu sepupunya yang banyak itu. Tapi ia masih enggan disebut 'Paman'.

"Yuk, sama Kak Hanabi saja!" ajak Hanabi yang baru saja menghampiri mereka. "Kak Neji udah kegedean kalo main luncur-luncuran," lanjutnya. Sebenarnya tidak juga, karena ada orang yang jauh lebih tua dari Neji di sana—mereka meluncur dari tempat yang jauh lebih tinggi dan lebih terjal menggunakan papan ski alih-alih papan luncur—Hanabi hanya ingin meluncur.

"Hito boleh main dengan Kak Hanabi, kan Kak?" Hitomi memandang Neji penuh harap.

Sejenak Neji memandang Hanabi agak ragu, sebelum akhirnya mengangguk. "Boleh. Tapi harus hati-hati, ya," ia menambahkan pada Hanabi.

Hanabi nyengir senang. "Beres, Kak!" Gadis kecil itu menyambar papan luncurnya dan menggandeng Hitomi menaiki bukit di mana teman-temannya sudah menunggunya. Neji mengawasi mereka dari bawah.

"Halo, Neji!" terdengar suara anak perempuan menyapanya.

Neji otomatis menoleh ke arah sumber suara. "Oh, hai Sakura, Yamanaka," balasnya sopan. "Kalian di sini juga?"

"Yeah," Sakura menyahut sambil tersenyum.

Neji kembali memandang ke arah bukit dengan agak cemas. Hitomi dan Hanabi terlihat kesulitan mendaki, terlebih Hitomi.

"Hinata tidak ikut?" tanya Sakura lagi.

"Tidak," jawab Neji, kembali memandangnya. "Dia ikut ayahnya menghadiri acara pengumpulan dana di KAA."

"Ooh…"

Mereka melewatkan waktu berikutnya dengan mengawasi adik-adik perempuan Neji bermain luncur-luncuran di bukit itu. Neji tampak sedikit lebih santai setelah mereka meluncur beberapa kali, tersenyum melihat Hitomi kecil tertawa-tawa senang. Tak lama gadis kecil itu berlari-lari menghampiri mereka, meninggalkan Hanabi yang masih meneruskan bermain bersama teman-temannya yang lain. Gadis kecil itu kelihatan sudah lelah.

"Kak Neji, Hito capek," keluhnya polos.

Mendengarnya, Neji tertawa kecil sambil menepuk puncak kepalanya yang ditutupi topi salju.

"Wah, lucunya…" kata Ino sambil membungkuk ke arah Hitomi.

"Halo.." sapa Sakura.

Hitomi memandang kedua gadis asing itu dengan tatapan bingung, sebelum menoleh pada Neji.

"Hitomi, ini Kak Sakura dan Kak Ino, teman-temannya Kak Hinata," Neji memperkenalkan mereka. "Hitomi ini anak kakak sepupu kami yang paling tua."

"Wah.. keponakannya Neji, ya? Imutnya…" Ino mengikik.

"Mirip Hinata waktu kecil," komentar Sakura. Gadis itu berlutut di depan Hitomi sampai tinggi mereka sejajar. "Halo, Hitomi. Namaku Sakura, salam kenal.."

Wajah Hitomi merona merah dan dengan malu-malu balas memperkenalkan diri. Benar-benar mirip Hinata.

"Hitomi mau makan sesuatu?" Neji menanyai si gadis kecil yang langsung mengangguk antusias. "Kami mau beli makanan dulu. Kalian mau ikut?" Neji menoleh pada Sakura dan Ino.

Ino hendak membuka mulutnya untuk menjawab, tapi Sakura mendahuluinya. "Kami sudah tadi."

"Oh, oke. Kalau begitu kami duluan." Neji melempar senyum tipis sebelum berbalik menjauh dari sana sambil menggandeng keponakannya.

Cubitan Ino pada pinggangnya membuat perhatian Sakura teralih dari dua orang yang baru saja pergi. "Ino! Apaan, sih?"

"Kau ini," kata Ino dengan ekspresi gemas di wajahnya. "Kenapa melepas kesempatan begitu saja, eh?"

"Kesempatan apa?" Sakura pura-pura tak mengerti, dan gadis itu tidak memberi kesempatan pada Ino untuk mendesaknya. Ia segera mengubah topik. "Omong-omong, sekarang kau dan Sai sudah akur, eh? Kalian sepertinya akrab sekali."

Mendengar itu, Ino hanya tertawa renyah, membuat Sakura terheran. "Aku juga tidak tahu," sahut Ino ringan sambil mengangkat bahu. "Tiba-tiba saja aku merasa sangat dekat dengannya, seakan kami ini teman lama. Aneh, ya? Yang jelas aku sangat senang hubungan kami bisa membaik, meskipun Sai masih enggan memberitahuku mengapa dia menjauhiku kemarin-kemarin setiap kali kutanya."

"Kalian sempat bicara?" tanya Sakura heran. Karena setahunya, Ino tidak pernah terlihat terlibat obrolan serius dengan Sai di sekolah, hanya saling sapa dan bicara seperlunya saja—meski begitu kesan akrab itu terlihat jelas.

"Tentu saja—Ah! Aku belum pernah memberitahumu soal ini, ya?" kata Ino. "Belakangan ini Sai sering sekali mampir ke kedai kopi di sebelah rumahku, dan kami sering mengobrol di sana. Sai banyak cerita tentang hobinya dan senang memperlihatkan gambar-gambarnya padaku. Kadang-kadang dia juga main piano di sana. Dia benar-benar artist berbakat." Jeda sejenak sementara pandangan Ino sedikit menerawang. "Kau tahu, Sakura? Sai… sangat mengingatkanku pada seseorang. Permainan piano mereka mirip, bahkan beberapa kali Sai memainkan lagu yang sering dimainkan oleh orang itu. Dan matanya… mata mereka mirip."

Sakura menatap sahabatnya itu beberapa saat. "Hati-hati, Ino…"

"Huh?" Ino balas menatapnya sambil mengangkat alis, kemudian ia tertawa. "Bicaramu itu seakan-akan aku ada apa-apanya dengan Sai. Kami cuma berteman, jangan khawatir. Aku memang menyukainya, tapi tidak seperti itu. Aku hanya bilang dia mirip seseorang, bukannya aku naksir dia. Aku tidak akan mengkhianati Idate, Sakura."

"Tapi siapa yang tahu ke depannya seperti apa, Ino," kata Sakura tak sabar. "Sekarang kau mungkin masih bisa bicara seperti itu, tapi nanti?"

"Jadi kau tidak suka aku bergaul dengan Sai, eh?" Ino mengernyit. "Ya ampun, Sakura. Santai saja kenapa sih? Aku tidak akan merebut suamimu kalau itu yang kau takutkan, oke?"

"Bukannya begitu…" Sakura tampak putus asa.

"Sudahlah…" sela Ino bosan, mengibaskan tangannya. Ia kemudian menyambar tutup tempat sampah nganggur di dekat mereka. "Dari pada membahas yang tidak-tidak, lebih baik kita main luncur-luncuran sa—Kyaa!" Gadis itu menjerit nyaring ketika Naruto dan Kiba tiba-tiba saja meluncur ke arah mereka, nyaris menabraknya kalau saja Ino tidak buru-buru menghindar. "KIBA!! NARUTO!! AWAS KALIAN, YA!!"

Sakura berdiri di sana, memandang Ino mengejar Kiba dan Naruto. Ia benar-benar berharap bisa mempercayai kata-kata Ino sepenuhnya. Ah, entah mengapa Sakura jadi kehilangan semangat begini. Gadis itu menghela napas berat, lalu meninggalkan tempat itu dan kembali ke tempat Sasuke, meninggalkan Ino bermain bersama Naruto dan yang lain.

"Sudah selesai mainnya?" Sasuke menanyainya.

"Hmm…" Sakura menyahut malas seraya menghenyakkan diri di sebelah cowok itu, menyandarkan punggungnya.

"Kau kenapa?" Sasuke mengernyit heran dengan perubahan mood Sakura. Bukannya tadi dia pergi dengan penuh semangat? Kenapa tiba-tiba lesu seperti ini?

"Tidak kenapa-kenapa," gadis itu menjawab pelan. Ia mendesah. "Hanya sedang berpikir… "

Sasuke tidak tahu apa persisnya yang sedang dipikirkan Sakura karena tepat saat itu Neji datang bersama keponakannya dan duduk di ujung lain bangku, membawa bungkusan kecil berisi beberapa tusuk dango dan teh hangat dalam cangkir kertas. Sakura bergeser mendekat ke Sasuke supaya Hitomi bisa duduk di sebelahnya.

"Mau, Sakura?" Neji menawari Sakura dango.

"Terimakasih," Sakura menolaknya sopan.

"Sasuke?" Neji menawari Sasuke juga.

"Aku tidak makan yang manis."

"Aku mau lagi, Kak," kata Hitomi, mengambil setusuk dango lagi dari tangan Neji. Mulutnya sudah belepotan saus dango, bahkan sampai ke ujung hidungnya.

Melihat itu, Sakura tersenyum kecil. Ia mengambil tisu bersih dari saku celananya, mengambil sehelai dan mulai menyeka noda lengket itu dengan lembut dari wajah si gadis kecil. Wajah Hitomi merona lagi dan dengan malu-malu ia menawari Sakura dangonya. Kali ini Sakura menerimanya.

"Terimakasih…" ucap Sakura.

"Sepertinya dia menyukaimu, Sakura," kata Neji sambil terkekeh.

"Benar?" Sakura membulatkan mata hijaunya main-main pada Hitomi, mencubit pelan pipinya yang gempal. "Habis ini kau mau main dengan Kakak?"

Hitomi memandang Neji untuk meminta persetujuannya dan langsung berseri-seri begitu melihat kakak sepupu—paman—nya itu mengangguk. Sakura menggandengnya pergi setelah Hitomi menghabiskan dangonya. Mereka juga membawa Rufus serta—Hitomi juga tampaknya sangat menyukai anjing.

"Biasanya Hitomi susah akrab dengan orang asing," ujar Neji setelah keheningan yang kaku di bangku itu—Yah, sebenarnya yang kaku itu Sasuke, sementara Neji asyik mengawasi keponakannya bermain dengan Sakura dan Rufus tak jauh dari sana—Ia berpaling untuk memandang Sasuke, tersenyum tipis. "Sepertinya Sakura sudah berhasil memikatnya, kan?"

"Hn." Sasuke menatap Sakura yang sedang tertawa bersama keponakan Neji. Tatapannya melembut. 'Dan dia juga berhasil memikatku, entah bagaimana caranya. Bagaimana denganmu, Neji? Apa kau juga sama seperti aku?'

"Neji?" celetuknya kemudian, menoleh menatap orang yang duduk di sebelahnya—hanya terpisah cangkir-cangkir kosong dan bungkus dango.

"Ya?"

"Sakura… menurutmu dia itu bagaimana?"

Neji memberinya tatapan heran. "Apa itu penting?"

Sasuke mengangkat bahunya. "Aku hanya ingin tahu. Tidak dijawab juga tidak apa-apa."

Untuk beberapa saat Neji tidak berkata apa-apa. Ia mengangkat cangkirnya dan menghirup isinya yang masih mengepulkan uap hangat perlahan-lahan. "Sakura itu gadis yang menarik," ujarnya kemudian, "Dia baik, pintar, penuh semangat. Dia juga manis dan menyenangkan," ia menambahkan sambil tersenyum. "Meskipun kadang-kadang sedikit kaku dan gampang tersinggung."

Sasuke tertawa pelan. "Kau benar. Terutama yang bagian gampang tersinggung. Pemarah, sok tahu, suka seenaknya dan cengeng kalau boleh kutambahi."

"Kau mendeskripsikannya seakan dia orang yang menakutkan, Sasuke," kata Neji geli.

Menakutkan… tentu saja. Dia selalu membuatku merasa terombang-ambing dan itu sangat menakutkanku.

"Kau menyukainya?" tanya Sasuke tanpa berpikir. Dan ia langsung menyesal telah bertanya karena jawaban yang diberikan Neji membuat jantungnya seakan berhenti berdetak.

"Ya."

Sasuke memejamkan matanya, berusaha mengembalikan kendali dirinya lagi. Sepertinya aku benar-benar harus melepaskannya.

"Mau kemana, Sasuke?"

Sasuke yang sudah beranjak dari bangku menjawab tanpa menoleh pada penanyanya. "Beli minum."

Neji menyukai Sakura. Neji menyukai Sakura… kata-kata itu berputar-putar terus dalam kepalanya seperti mantera, membuat hatinya sesak bukan main. Jadi perasaan Sakura berbalas, dan Sasuke menyadari tidak ada tempat untuknya. Kecuali persahabatan.

Tuhan… Mengapa ini begitu sulit?

Sasuke sudah mengenal Neji sekian lama—sejak kecil—dan ia tahu betul kualitas pemuda itu. Dia memiliki otak yang luar biasa encer, kebanggaan keluarganya, memiliki paras memikat, berperangai lembut tapi tegas… segala yang membuat reputasinya sempurna di depan gadis mana pun. Namun segala kesempurnaan itu tidak lantas membuat Sasuke bisa dengan rela melepas Sakura. Tidak. Sasuke tidak tahu kenapa. Rasanya ia tidak bisa mempercayai Neji seperti ia mempercayai Naruto saat melepas Hinata dulu.

Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.

Damn!

-

-

TBC

-

-


Sepertinya saya pernah bilang di A/N tulisanku yang lain kalau fic ini kemungkinan akan apdet lama. Tapi nyatanya saya gak bisa menahan diri untuk terus ngetik. Hohoho… XD Yeah! Nulis fic jalan, skripsi juga maju terus. Semangat!! *walaupun lama-lama saya semakin mirip Gaara—matanya*

Tadinya chapter ini mau diteruskan, tapi rasanya jadi agak aneh kalau disatukan jadi satu chapter—dan pastinya akan sangat kepanjangan. Jadinya saya potong di sini saja yah. Dan WOW! Sudah nyampe chapter 70!! O.o Ada apa dengan fic ini sebetulnya? Perasaan pertama kali ngonsep hanya berhenti di chapter 30an. =_='

Makasih banyak buat temen-temen yang sudah mengikuti cerita ini sampeeee sekarang. Baru nyadar umur fic ini udah lebih dari setahun. Hoho.. Special thanks to..

Ambu (Sama, Ambu… Putz juga kepingin bisa bikin mie kaya gitu. Pan jadi gausa beli mie jadi yang gak tau aman apa enggak. Hehe… *ikut-ikutan terpesona liat Paman Teuchi*)

Uchiha Cesa (Hohoho… yang Sasu mendekatkan wajahnya itu cuma di bayangannya Sasu aja kok, gak kejadian bener)

Evey-san (Aah~~ masa sih? –blush- Justru aku yang kadang suka iri sama tulisanmu, lho.. Gak bisa bikin deskrip indah gitu. Kebanyakan nulis makalah, sih.. –gak ada hubungannya-)

HakAr4 s1N (Haha.. gak apa, kok. SasuSaku? Er… liat aja ntar yah. ^^)

Hehe *??* (Makasih… XD)

Reiya Sumeragi (Blush juga ^^)

Tobicchi (Tobiii~~ -peluk-peluk yang kenceng sangat- Auuuh… speechless speechless speechless speech—disepak- bener-bener mereview semuanya yah.. –hug lagi-)

Alegre541 (Aaah~~ dikau jug abaca 'Love In Summer'?? Jadi malu… fic itu udah hiatus lama banget, padahal tinggal satu chapter lagi, lho. Maksudnya satu chapter nyempil yang susah banget ditulis, padahal dua chapter terakhir udah selesai. XD Makasih udah baca segini banyak, yah.. –bowed-)

Mayuura (Hayo… mana bahasan buat chapie kemaren, nih? Hehe.. Ceritanya pan nagih)

Kakkoii-chan (Ohoho.. Ganbatte na Hinata-sama! Tapi si Naruto masih baka aja tuh. –dirasengan-)

Arai-chan (LANJUTKAN!! Dirimu juga lanjutkan fic2mu yah. ^^ Ngebahas romance, jadi keinget PM-mu yang dulu. Hihi… Menyelipkan romance emang seru!)

Nana-chan (Kakak-kakak yang udah meninggal? Iya juga yah.. Kakaknya Sai, kakaknya Sakura, kakak sepupu dan kakak perempuannya Sasuke, dsb…)

Raikou-san (Baca review kamu… speechless! Hehehe… alur maju dikit-dikit itu kali yah yang membuat fic ini jadi sangat panjang, dan konfliknya emang terkesan biasa yang kita temuin di sekeliling kita sih. ^^ Dan… ah~~ benarkah IC? XD)

Aika-chan (Tak apa kok, Aika-chan.. Makasih udah menyempatkan diri mereview yah…)

Um… kalo ada yang menyadari sesuatu; novel Sasuke disebut-sebut lagi! XD –gak penting banget- Btw, saya lagi kena krisis-Hinata nih. Tiba-tiba saja jadi gak suka sama chara itu karena suatu sebab yang kayaknya gak etis aku paparin di sini, padahal tadinya cinta banget sama chara itu. Mudah-mudahan dengan nulis tentang dia di sini bisa menyembuhkan penyakit yang sumpah childish banget inih! –sebel sama diri sendiri- dan mudah-mudahan ini gak jadi pembashingan terhadap Hinata-chan.

Terakhir, ini lagu yang udah menemani saya nulis chapter ini. Lagu lama milik Ricky Martin, bisi ada yang tau. Mungkin gak ada hubungannya sih… Cuma nyerempet-nyerempet dikit. ^^

"It's the way she makes me feel
It's the only thing that's real
It's the way she understands
She's my lover, she's my friend
And when I look into her eyes
It's the way I feel inside
Like the man I want to be
She's all I ever need…"

Sampe ketemu di chapter depan!! ^^