Chapter 70

Matahari belum terbit sepenuhnya ketika Sai melangkah keluar dari kamarnya pagi itu. Tidak biasanya ia bangun sepagi itu di akhir pekan—atau saat liburan seperti ini. Paling tidak ia akan bangun saat matahari sudah mulai naik. Tapi sekarang, ia bahkan mendahului para pelayannya yang biasanya bangun paling pagi di rumah itu.

Yah, tidak terlalu mengherankan mengingat semalam ia tidur lebih awal saking lelahnya setelah menemani kakeknya ke acara pengumpulan dana Konoha Art Academy hampir seharian. Padahal ia tidak harus wara-wiri seperti beberapa siswa KAA yang menjadi panitia atau pengisi acara, melainkan hanya berdiri saja mengekor sang kakek dan diperkenalkan pada orang-orang penting di sana. Barangkali ia sudah mati bosan kalau saja tidak ada Gaara yang datang sebagai pengisi acara dan Hinata yang keluarganya ternyata pemberi sumbangan tetap di sekolah itu. Setidaknya ia jadi ada teman bicara.

"S-selamat pagi, Tuan Muda…" sapa seorang gadis pelayan gugup sambil membungkuk sopan saat Sai masuk ke dapur rumahnya yang luas. Gadis itu belum mengenakan seragam pelayannya dan tampak terkejut melihat sang tuan muda tiba-tiba muncul di dapur sepagi itu. Wajahnya merona merah.

"Aa.. Paa—pagi…" kuap Sai, meregangkan sedikit lengannya yang masih kaku. Ia berjalan melewati pelayannya menuju rak untuk mengambil mug. "Ada kopi?"

"I—Iya," gadis pelayan itu dengan kikuk buru-buru melesat untuk mengambil teko kaca yang telah diisinya sebelumnya dengan kopi dari mesin pembuat ekspreso.

"Terimakasih," ucap Sai. Tanpa mengucapkan apa-apa lagi, cowok itu berlalu meninggalkan dapur dengan mug berisi kopi yang mengepul di tangannya, sesekali menguap. Sama sekali tidak menyadari tatapan penuh damba dari sang pelayan yang terus mengikutinya sampai punggungnya menghilang di ujung koridor.

Awalnya ia hendak kembali ke kamarnya, tapi mengurungkan niatnya saat teringat sesuatu. Seulas senyum muncul di wajahnya yang pucat saat ia berbalik menuju studio lukis. Ruangan itu masih gelap ketika ia tiba di sana. Jendela tinggi yang biasanya menjadi sumber pencahayaan di siang hari masih tertutup tirai.

Sai meletakan mug kopinya di atas meja sebelum membuka tirai-tirai itu. Pemandangan taman yang tertutup salju yang berkilauan tertimpa semburat kemerahan matahari yang baru saja terbit langsung menyapa penglihatannya begitu tirai itu tersingkap. Indah sekali. Sejenak Sai hanya berdiri di sana, menikmati cahaya pertama matahari yang mengawali hari itu. Kemudian ia berpaling, tersenyum lembut pada salah satu kanvas yang telah terisi goresan tangannya. Masih berupa sketsa kasar, namun ia sudah bisa membayangkan apa yang akan terlukis di sana; seraut wajah cantik seorang gadis yang belakangan ini selalu memenuhi pikirannya.

"Selamat pagi, Nona Cantik…" bisiknya lembut.

Sekelumit perasaan bersalah muncul di hatinya ketika ia teringat peringatan yang diberikan sahabat-sahabatnya. Naruto pernah bilang padanya untuk melupakannya saja. Sakura juga pernah mengatakan hal yang sama padanya, bahwa ia tidak boleh banyak berharap. Karena Ino sudah menjadi milik orang lain. Oh, ia memahami betul kalau perkataan teman-temannya benar dan mereka bilang begitu supaya ia tidak terluka.

Namun sepertinya perasaannya sudah terlanjur mendalam terhadap gadis itu, dan seperti yang dikatakan Naruto padanya, akan lebih sulit untuk melupakannya. Dan sekarang ia sudah tidak bisa menahan dirinya lagi lebih lama. Ia tidak sanggup terus-terusan melawannya dan sekarang ia memutuskan untuk mengikuti kata hatinya saja. Lagipula, memendam perasaan dalam hati bukan sesuatu yang salah, bukan? Ia juga ingin merasakan perasaan menyenangkan seperti yang dirasakan kakaknya terhadap 'Sang Bidadari'.

Kakak… sekarang aku juga sudah menemukan Bidadari-ku sendiri…

Sai menyeruput kopi hangatnya, sebelum kemudian mulai menyiapkan cat minyak di atas palette-nya. Selembar foto sang gadis yang ia ambil diam-diam di kelas tersemat di bagian atas kanvas.

Pagi yang cerah itu ia lewatkan dengan menyelesaikan lukisannya. Ia merasa sangat bersemangat. Sekarang ia paham mengapa Shin dulu begitu mudahnya mendapatkan inspirasi dan menuangkannya dalam bentuk lukisan yang benar-benar indah dan hidup. Ternyata seperti ini…

-

-

"Kau ini kemarin kenapa, eh?" tanya Naruto seraya melempar pandang kesal pada Sasuke yang duduk di belakang roda kemudi. "Tiba-tiba menghilang begitu saja. Bikin orang cemas saja. Sakura sampai kebingungan mencarimu, tahu!"

"Hn." Yang diajak bicara terlihat cuek dan tetap memandang ke jalanan di depannya.

"Kenapa kemarin ponselmu tidak aktif?"

"Low batt," sahut Sasuke datar.

"Kenapa meninggalkan Rufus?"

"Lupa."

"Lupa?!" Naruto berseru kaget. Mata biru langitnya menatap sahabatnya dengan heran, karena setahunya Sasuke sangat sayang pada anjingnya itu. "Kau melupakan anjingmu? Yang benar saja!"

"Hn." Sasuke mengatupkan bibirnya, agak merasa bersalah juga telah meninggalkan Rufus begitu saja bersama Sakura hari sebelumnya. Pikirannya sedang sangat kacau saat itu sehingga ia tidak memikirkan yang lain-lain lagi. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi pada anjing kesayangannya kalau saja Sakura tidak mengantarkannya ke rumah malam harinya. Gadis itu pun sempat marah-marah padanya—dan Sasuke sama sekali tidak menyalahkannya.

"Pantas saja Rufus tidak mau ikut kau hari ini," kata Naruto sambil berdecak dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Kak Itachi sedang membawanya ke klinik Kak Hana untuk divaksin," sahut Sasuke.

"Oh… Kukira dia tidak mau main lagi denganmu."

Sasuke menghela napasnya. Rufus memang sempat menghindarinya semalam. Anjing itu langsung melesat ke kamar Itachi setelah Sakura mengantarnya pulang dan tidak mau keluar sampai tadi pagi. Itachi, yang kebetulan sedang keluar saat Rufus pulang, kebingungan dengan tingkah anjingnya dan mengira ia sakit. Tentu saja Sasuke tidak begitu bodoh sampai memberitahu kakaknya ia meninggalkan anjing itu di White Hills, bisa-bisa nanti Itachi juga marah padanya.

Keduanya terdiam beberapa waktu sementara Station Wagon berwarna cokelat milik ayah angkat Naruto itu melaju mulus memasuki pusat kota dan berhenti di lampu merah. Saat itu mereka hendak pergi menuju toko tempat mereka memesan kain kanvas untuk keperluan properti panggung drama. Menurut perjanjian, hari itu kanvas yang mereka pesan sudah datang dan siap diambil hari ini. Seharusnya bisa setelah tahun baru, tetapi Sasuke sengaja memesan cepat supaya bisa langsung dikerjakan. Mereka tidak ingin keteteran karena bulan Januari pasti akan sangat sibuk. Banyak yang harus diurus, belum lagi ujian semester yang semakin mendekat.

Naruto mengawasi sobatnya itu dari sudut matana. Tampang Sasuke tampak muram—lebih muram dari biasanya, seperti ada yang sesuatu yang serius yang mengganggu pikirannya. "Ada yang sedang kau pikirkan, teman?"

"Tidak juga," Sasuke menggumam pelan.

"Tapi kau kelihatan sedang banyak pikiran," kata Naruto berkeras seraya menatap Sasuke lurus-lurus. Dahinya berkerut. "Kau masih memikirkan pencalonanmu jadi ketua OSIS?"

Sudut bibir Sasuke berkedut sedikit. "Tidak."

Ekspresi Naruto yang tadinya tegang menjadi sedikit lebih santai. "Bagus deh. Kukira kau masih memikirkannya," ujarnya sambil nyengir. "Lalu apa?"

"Bukan apa-apa," sahut Sasuke.

"Ayolah, Sasuke. Cerita saja. Mukamu itu tidak enak dilihat kalau ditekuk terus begitu." Naruto mengulurkan tangannya menepuk bahu Sasuke. "Kau bisa percaya padaku. Kau tahu, kan?"

Sasuke mengalihkan perhatiannya dari jalan dan menoleh memandang Naruto agak lama, sementara ia mempertimbangkan apakah ia akan mengungkapkan apa yang sedang dipikirkannyapada Naruto atau tidak. Hatinya diliputi keraguan. Di satu sisi ia merasa bisa mempercayai Naruto, tapi di sisi lain ia mencemaskan reaksi sahabatnya itu kalau ia memberitahunya soal perasaannya terhadap Sakura. Ia tidak ingin mengecewakan sahabatnya itu, setidaknya, tidak di saat ia belum lama kembali ke Konoha. Sasuke belum siap dengan perdebatan yang mungkin akan terjadi nantinya. Tapi kalau ia tidak menceritakannya, Naruto pasti akan mendesaknya terus. Dan Sasuke tidak suka didesak.

"Kenapa malah menatapku seperti itu?" tanya Naruto kemudian. Dahinya kembali berkerut. "Oh—tunggu dulu! Kau tidak akan bilang kalau suka padaku, kan?"

Sasuke melempar tatapan jijik pada Naruto yang mulai terbahak menertawakan tampang kagetnya. "Sama sekali tidak lucu, Naruto!" gerutunya.

Naruto masih tergelak-gelak lagu untuk beberapa saat sambil memegangi sisi perutnya yang nyeri akibat terlalu banyak tertawa. "Eew.. Aku kan hanya bergurau, Sasuke. Tenang saja, aku masih suka cewek," ujarnya agak terengah. Wajahnya merah padam. Tubuhnya masih berguncang menahan tawa.

"Diamlah," tukas Sasuke mulai jengkel.

"Oke…" kata Naruto setelah ia berhasil mengendalikan dirinya lagi. "Jadi apa?"

Sasuke mengambil napas panjang sebelum berkata dengan sedikit ragu, "Ini… soal Neji… dan Sakura."

Naruto menatap sahabatnya itu dengan alis terangkat. Hatinya sedikit mencelos. Sepertinya yang ditakutkannya memang terjadi; bahwa Sasuke telah jatuh suka pada Sakura—seperti dirinya dulu.

"Kemarin aku tanya Neji, apakah dia menyukai Sakura atau tidak," ujar Sasuke dengan suara yang dipaksakan terdengar datar dan biasa.

"Lalu apa katanya?" sambar Naruto ingin tahu.

"Dia bilang, dia suka pada Sakura."

Naruto tersenyum tipis. "Baguslah. Kalau begitu perasaan Sakura terbalas."

Sasuke mengabaikannya. "Tapi tidak tahu kenapa aku meragukannya—apakah Neji sungguh-sungguh menyukai Sakura atau tidak."

"Kau mengkhawatirkan Sakura?"

"Tentu saja aku mengkhawatirkannya!" Sasuke menukas tak sabar. "Bagaimana kalau Neji hanya main-main dengannya?"

"Bukan karena kau cemburu pada Neji?"

"Aku—APA?!" Sasuke menatapnya terkejut. Mata hitamnya membeliak menatap Naruto.

Suara klakson dari belakang mereka segera mengalihkan perhatiannya. Rupanya lampu lalu lintas sudah kembali hijau. Sasuke buru-buru menjalankan mobil itu lagi, dan keduanya terdiam selama beberapa saat. Sasuke terlalu terkejut untuk kembali bersuara. Perasaannya tidak karuan.

"Jadi benar, ya?" tanya Naruto kemudian sambil nyengir jahil. "Kau suka pada Sakura?"

Sasuke menelan ludahnya dengan susah payah. "Aku tidak bilang begitu," gumamnya. Dan ia segera menyadari tidak ada gunanya lagi menghindar. Naruto sudah menyadarinya sebelum ini dan ia terus mendesaknya untuk mengaku. Pegangannya pada roda kemudi mengencang sesaat sebelum ia menganggukkan kepala dengan pasrah. "Aah.."

"Sudah kuduga," kekeh Naruto sambil tersenyum puas.

"Kau tidak keberatan?" Sasuke tak bisa menahan dirinya bertanya.

Naruto mengeluarkan tawa ringan. "Awalnya, sih… Tapi setelah kupikir lagi, untuk apa pakai keberatan segala? Itu kan hatimu, aku tidak punya hak untuk keberatan—sama seperti aku tidak bisa melarang Sai naksir Ino yang sudah punya cowok. Kau bebas menyukai siapa pun yang kau mau, termasuk Sakura. Lagipula…" Naruto diam sejenak, "…siapa sih yang bisa mencegahnya? Maksudku, bukan maumu kan suka pada Sakura?"

"Yeah…" Sasuke mengangguk setuju. Tidak pernah terpikir sebelumnya kalau ia akan merasakan perasaan seperti ini pada gadis yang adalah sahabat baiknya. Kalau saja ada cara untuk mencegahnya, ia akan melakukannya. Tapi tidak. Perasaan itu tetap hadir di sana tanpa bisa ia antisipasi.

"Aku paham…" Mata biru Naruto melirik ke arah Sasuke, menatapnya ingin tahu. "Jadi… sejak kapan?"

Sasuke menghela napasnya. "Aku tidak tahu dan kurasa itu tidak begitu penting. Bagaimana dengan Neji?"

Naruto mengalihkan pandangannya ke luar jendela, menatap deretan bangunan yang mereka lewati. "Neji, ya…" ucapnya lambat-lambat, "Dia itu cowok yang sudah ditaksir Sakura sejak di bangku sekolah menengah pertama—cowok beruntung. Tadinya aku tidak begitu mengerti mengapa dia bisa begitu menarik di mata Sakura." Ia berhenti, menghela napasnya. "Tapi melihat dia sekarang yang selalu memperlakukan Sakura dengan sangat baik, kurasa aku bisa lebih paham mengapa Sakura sangat menyukainya. Meskipun agak menyebalkan juga, sih awalnya… Aku juga tidak pasti bagaimana perasaan Neji pada Sakura dan ya, aku juga sama sepertimu, agak khawatir tentang itu."

Keduanya terdiam agak lama. Yang terdengar hanyalah deru halus mesin mobil dan suara-suara lalu lintas di luar.

"Kau pasti bisa melihat juga kalau Sakura sangat gembira setiap kali bersamanya, iya, kan? Jadi aku mencoba untuk tidak terlalu memikirkannya. Katakan saja Neji memang tidak serius dengan Sakura, memangnya kita bisa apa? Melarang Sakura berdekatan dengannya lagi—dengan resiko membuatnya sedih? Kalau aku, aku tidak akan sanggup melakukannya."

"Tapi bagaimana kalau dengan membiarkannya hanya akan melukainya lebih dalam?" tanya Sasuke pelan.

"Entahlah…" Naruto menghela napas sekali lagi, lalu melirik Sasuke. "Pertanyaanmu itu susah sekali, sih? Sudahlah… Sakura itu bukan gadis kecil lagi yang harus kita cemaskan terus-terusan. Dia pasti bisa menentukan mana yang terbaik untuk dirinya sendiri. Dan kalau Neji seperti yang kau katakan—hanya mempermainkannya—maka yang tidak beruntung adalah Neji."

"Aa.."

Mereka berhenti di depan sebuah toko yang menjual berbagai jenis kain beberapa menit kemudian. Seorang penjaga toko berwajah bulat menyambut mereka dan langsung mengambilkan beberapa lembar kain kanvas ukuran besar begitu Sasuke memperlihatkan bon pemesanan. Setelah melakukan pembayaran, dengan dibantu beberapa pegawai toko bertubuh kekar, mereka menjejalkan gulungan kain-kain itu ke dalam mobil.

"Serius Sai sendirian yang akan melukisnya nanti?" tanya Naruto sangsi sambil menutup bagian belakang mobil ayahnya.

"Tentu saja tidak, bodoh! Anak-anak yang lain akan membantunya juga," kata Sasuke. Diulurkannya kunci mobil di tangannya pada Naruto. "Gantian kau yang menyetir."

"Apa? No way!" Naruto serta merta menolak, memelototi sahabatnya. "Setelah kau membangunkanku pagi-pagi dengan muncul begitu saja di pintu rumahku? Tidak, Sasuke. Kau yang menyetir." Lalu dengan gaya cuek, ia mengitari mobil, membuka pintu penumpang dan masuk.

Menggeram sebal, Sasuke segera menyusulnya masuk dan kembali duduk di belakang roda kemudi. Yeah, ia tidak bisa memaksa Naruto karena itu memang salahnya. Ia datang jauh lebih pagi dari jam yang sudah mereka sepakati sebelumnya. Meskipun Naruto sebenarnya saat itu sudah bangun, tapi tetap saja ia tidak senang ada yang mengganggu jadwal latihan paginya. Dan sebagai gantinya, Naruto menyuruh Sasuke yang menyetir.

Perjalanan menuju sekolah berlangsung dalam keheningan. Yah, tidak benar-benar hening, sih, karena Naruto menyalakan musik dari tape mobil dengan volume cukup keras dan bersenandung sendiri, memberikan kesempatan bagi Sasuke untuk merenungi pembicaraan mereka sebelumnya.

Naruto benar, pikirnya. Ia tidak bisa berbuat apa-apa. Memangnya apa haknya melarang-larang Sakura menyukai Neji? Hanya akan membuatnya kehilangan persahabatannya dengan gadis itu saja, dan ia tidak mau hal itu sampai terjadi. Lagipula Sakura begitu gembira dengan cowok itu, membuat Sasuke semakin tidak tega—dan tidak rela.

Apakah ini berarti… ia harus melepaskan tangannya sekali lagi?

Sasuke menyapu rambutnya ke belakang dengan gusar. Apa pun… Yang diinginkannya saat itu hanyalah melindungi sahabatnya.

Nyaris tak ada seorang pun di sekolah ketika akhirnya mereka sampai di sana, hanya ada petugas security yang menjaga di pintu gerbang. Sasuke memarkirkan mobil di halaman parkir, kemudian bergotongan dengan Naruto mengangkut gulungan kanvas yang lumayan berat itu ke dalam gymnasium yang sudah dibukakan sebelumnya oleh petugas security.

"Fiuh… berat juga, ya…" keluh Naruto sambil menghenyakkan diri di bangku tribun, menurunkan ritsleting jaketnya.

"Belum ada yang datang," Sasuke menggerutu seraya melirik jam tangan digital yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.

Naruto terkekeh. "Yeah, maklum sajalah, Sasuke," ujarnya. "Sekarang kan sedang liburan akhir tahun. Dan liburan, artinya waktunya bermalas-malasan. Apalagi musim dingin begini, paling enak meringkuk di bawah selimut seharian."

"Kedengarannya seperti dirimu," cemooh Sasuke, menyeringai tipis.

Naruto mengangkat bahunya. "Kalau aku lebih suka main futsal bareng anak-anak. Tapi tidak ada futsal…" cowok itu bangkit dari duduknya, melepas jaketnya yang kemudian dilemparnya asal saja ke bangku, menampakkan kaus hitam lengan panjang yang agak pas badan di baliknya, "…basket pun jadi." Dengan berkata seperti itu, Naruto berlari melintasi lapangan indoor itu, mengambil bola basket yang sepertinya ditinggalkan seseorang di bawah ring basket.

Mula-mula Naruto hanya memain-mainkan bola itu di tangannya, kemudian mendribblenya, menimbulkan suara bola memantul yang menggema di lapangan indoor yang cukup luas itu, lalu melakukan shooting ke arah ring. Bola oranye itu menerobos mulut ring dengan mulus sebelum memantul lagi di lantai kayu.

Untuk beberapa saat, Sasuke hanya mengawasi Naruto menunjukkan kebolehannya mendribel dan memainkan bola itu dari pinggir lapangan, diam-diam mengagumi kemampuan sahabatnya itu dalam aktivitas fisik seperti ini. Meskipun biasa-biasa saja di bidang akademis, Naruto adalah bintang di mata pelajaran olahraga. Nyaris segala jenis olah raga Naruto bisa melakukannya dengan baik dan Sasuke berani bertaruh Naruto akan terpilih menjadi kapten tim sepak bola sekolah untuk kejuaraan musim semi nanti. Belum lagi bakatnya di bidang musik—tidak seperti dirinya yang bisa dibilang buta nada.

Kalau saja dia tidak terlalu sering bertingkah seperti orang bodoh di depan anak-anak lain, Sasuke cukup yakin Naruto akan jadi idola di sekolah. Sekarang saja anak-anak perempuan sudah mulai meliriknya sejak ia tampil keren sebagai vocalist band di ajang festival tahunan beberapa waktu yang lalu.

"Hei, jangan berdiri saja di sana, Sas-ke!" seru Naruto membuyarkan lamunan Sasuke. Ia melakukan pass yang cukup keraske arah Sasuke yang kemudian menangkapnya dengan tangkas. "Ayo, main!"

Sasuke menyeringai tipis. Ia juga melepas jaketnya, lalu mendribble bola itu mendekati ring, dengan mudah berkelit dari Naruto yang berusaha membloknya, lalu melakukan lay up. Naruto mengerang ketika bola itu dengan mulus masuk ke dalam ring, kemudian menangkapnya dari bawah.

"Sial. Ternyata kau tidak hanya jago sepak bola, eh?"

Sasuke menyeringai padanya. "Memangnya kau saja yang bisa main basket?"

Naruto mendengus. "Oke. Kalau begitu, coba blok yang ini!"

Dan lima belas menit berikutnya mereka lewatkan dengan bermain one-on-one dengan menggunakan setengah lapangan itu. Walau hanya berdua saja, tapi cukup menyenangkan, setidaknya untuk membunuh rasa bosan. Mereka baru berhenti bermain saat anak-anak mulai berdatangan, membawa peralatan masing-masing yang dibutuhkan. Beberapa anak laki-laki juga sudah mengambil beberapa balok kayu yang mereka pesan dari toko bahan bangunan.

-

-

Mereka baru bubar setelah lewat tengah hari.

Setelah mengembalikan kunci gymnasium pada petugas security, Sasuke dan Naruto meninggalkan sekolah. Mereka berencana pergi ke rumah Sai setelah itu. Tapi sebelumnya mereka mampir di restoran cepat saji di dekat sekolah untuk makan siang.

"Ini rumahnya?" tanya Naruto takjub ketika mereka sampai di depan sebuah rumah megah di Root Hills.

"Seharusnya begitu," sahut Sasuke, memastikan lagi alamat yang pernah diberikan Sai padanya beberapa hari yang lalu.

Naruto bersiul kecil.

"Sebaiknya kita tanya saja." Sasuke kemudian turun dari mobil untuk bertanya pada satpam yang menjaga pintu gerbang rumah itu. Setelah memastikan kalau alamatnya tidak salah, ia kembali ke mobil. "Benar, ini rumah Tuan Muda Sai," beritahunya pada Naruto yang terkekeh.

"Tuan Muda? Kenapa tidak Putra Mahkota Kerajaan KAA saja?"

Sasuke memilih mengabaikan komentar Naruto dan membuat catatan virtual dalam kepalanya untuk tidak akan memberitahunya kalau ia juga dipanggil 'Tuan Muda' di rumahnya di Oto. Bisa-bisa Naruto mengoloknya habis-habisan. Ia kemudian mulai menjalankan mobil Naruto masuk ke pintu gerbang yang telah dibukakan sang satpam untuk mereka.

Seorang gadis pelayan menyambut mereka di pintu depan.

"Tuan Muda sedang ada di studionya," beritahunya sopan seraya mempersilahkan kedua tamunya masuk.

Lagi-lagi Naruto bersiul kecil. Mata birunya menjelajah ke sekeliling ruangan beratap tinggi itu, menatap sejenak pigura foto berukuran besar di salah satu dindingnya; foto Sai bersama seorang pria tua bertongkat dan seorang cowok berambut terang.

"Sasuke? Naruto?"

Suara Sai mengalihkan perhatian keduanya. Cowok berkulit pucat itu baru saja muncul dari puncak tangga megah yang menuju ke lantai dua. Sai terlihat agak berantakan; rambut hitamnya tak tersisir dan kaus kutung abu-abu tanpa lengannya belepotan cat minyak, begitu juga di beberapa bagian tangan dan wajahnya. Namun ia tetap tersenyum senang menyambut kedua sahabatnya dan bergegas turun untuk menghampiri mereka.

"Kau boleh pergi," katanya pada si gadis pelayan yang langsung menunduk sopan dan berlalu dari sana. Sai berpaling pada kedua temannya. "Kenapa tidak telepon dulu sebelum kemari?"

"Kita sudah janjian sebelum liburan, Sai," kata Sasuke mengingatkannya.

"Oh, ya? Aku lupa," Sai menyeringai minta maaf seraya menggaruk belakang kepalanya, membuat cat yang masih agak basah di tangannya menempel di sana juga. Sasuke memutar bola matanya.

"Kau habis ngapain sih? Mandi cat?" tanya Naruto. Matanya memperhatikan noda-noda cat di sekujur tubuh Sai.

"Oh, ini…" Sai menunjuk noda di kausnya, tertawa kecil. "Tadi habis kerja di studio-ku. Baru mau bersih-bersih. Kalian mau menunggu sebentar—ah, atau mau melihat-lihat studioku?"

"Kami mau—"

"Melihat-lihat studio!" Naruto menyambung kata-kata Sasuke dengan antusias.

"Kalau tidak keberatan, aku juga ingin melihat sketsa yang sudah kau buat untuk dekorasi," imbuh Sasuke.

Sai melempar senyumnya yang biasa pada mereka. "Oke. Sudah kubuat jadi gambar utuh. Ada di studioku. Mari…" Ia lalu membawa Sasuke dan Naruto menuju studionya. Langkah mereka menggema di sepanjang koridor kosong yang luas itu. Rumah itu walaupun besar terlihat sangat sepi dan dingin. "Kakekku pergi ke luar kota tadi pagi," beritahu Sai kemudian, "Sayang sekali. Padahal dia ingin bertemu kalian."

"Kakekmu orang sibuk, eh?" komentar Sasuke, mendiang kakeknya yang juga sering pergi-pergi dalam rangka urusan bisnis.

"Yeah, begitulah."

"Dia kelihatannya galak," kata Naruto. Cowok pirang itu mengaduh kecil ketika Sasuke menyikut rusuknya agak keras. Tapi tampaknya Sai tidak begitu keberatan.

"Kelihatan, ya?" Ia terkekeh.

Mereka berhenti di sebuah pintu ganda yang terbuat dari kayu berpelitur. Sai mendorongnya membuka dan ketiganya melangkah masuk.

"Ini studioku," kata Sai sementara kedua temannya memandang berkeliling ruangan itu. Bau cat yang berasal dari beberapa kanvas di ujung ruangan masih menguar memenuhi udara.

Naruto menatap deretan lukisan-lukisan itu dengan takjub. Meskipun ia tidak mengerti lukisan, ia tetap mengagumi keterampilan tangan Sai. "Kau yang membuat semua ini?"

"Um.. tidak semuanya," sahut Sai sambil tersenyum tipis. "Beberapa hasil karya Shin—kakakku."

"Oh…"

"Di mana gambarnya?" tanya Sasuke. Ia tampak tidak seantusias Naruto yang kini sudah mulai berjalan berkeliling untuk melihat-lihat.

"Ada di meja," Sai menunjuk salah satu meja di dekat jendela. Di atasnya, tergeletak buku sketsa milik Sai di antara botol-botol cat minyak, beberapa set pensil dan peralatan melukis lain. "Kalian tunggulah di sini dulu sementara aku bersih-bersih." Sai kemudian meninggalkan ruangan, membiarkan pintu dalam keadaan terbuka.

Sasuke menghela napasnya, sekali lagi memandang berkeliling sebelum berjalan menuju meja yang tadi ditunjuk Sai. Diambilnya buku bersampul kulit berwarna hitam berkancing di atasnya, lalu dibuka-bukanya. Ada beberapa lembar yang terlepas, berisi gambar-gambar yang dikenalinya sebagai sketsa yang pernah diperlihatkan Sai padanya beberapa hari yang lalu, hanya saja sekarang gambar itu sudah berbentuk gambar jadi, juga sudah diberi warna dengan pensil warna. Sai sudah memberi judul di lembar-lembar itu; Babak 1, Babak 2 scene 1, Babak 2 scene 2 dan Babak 3. Semuanya digambar dengan detil-detil rumit.

"Hei, Sasuke," suara Naruto mengalihkan perhatiannya. Sasuke menoleh dan melihat Naruto sedang memandangi salah satu lukisan di ujung ruangan. "Coba lihat ini…"

Sasuke meletakkan buku yang dipegangnya kembali ke meja dan berjalan ke samping Naruto untuk melihat lukisan yang sudah menarik perhatiannya. Lukisan itu masih baru, catnya yang didominasi warna-warna cerah masih terlihat basah. Tapi bukan itu yang membuatnya menarik, melainkan objek yang terlukis di dalamnya. Wajah yang mereka kenal; dengan tangan yang menopang dagunya, gadis itu tersenyum entah pada siapa. Poninya yang pirang terjatuh sedikit menutupi matanya yang berwarna biru sapphire.

"Ino Yamanaka," gumam Sasuke seraya menunjuk ke secarik foto yang tertempel di sudut kanvas. "Lumayan juga."

Naruto mendengus geli. "Dasar paparazzi…" kekehnya, lalu menghela napas, "Damn! Sai pasti sudah sangat jatuh hati pada cewek ini, sampai-sampai bisa melukisnya seperti ini." Naruto menggeleng-gelengkan kepalanya. "Lukisannya bahkan lebih cantik dari aslinya."

"Kurasa bukan hanya itu," kata Sasuke. Ia mengambil buku sketsa yang dilihat-lihatnya tadi dan menyerahkannya pada Naruto.

Naruto yang terlihat bingung, mengambilnya dari tangan Sasuke. Mata birunya melebar. Bukan hanya gambar untuk latar panggung saja yang ada di sana, tapi juga sketsa wajah gadis yang sama memenuhi beberapa halamannya dengan berbagai pose dan latar.

Sejenak, Naruto tampaknya tak bisa berkata-kata.

"Wow…" komentarnya kemudian, menyeringai, "Sepertinya ini di luar perkiraanku."

"Hn." Sasuke mengangguk setuju, lalu berpaling. Pandangannya tertumbuk pada salah satu lukisan di dekat lukisan wajah Ino. Lukisan wajah lain, hanya saja belum selesai. Tapi ia bisa mengenali wajahnya sendiri, bersama Sakura dan Naruto. Sasuke tak bisa menahan senyumnya. Ia tertarik untuk melihat-lihat yang lain. Sebagian besar abstrak, hanya beberapa yang realis termasuk gambar-gambar tadi, juga gambar Sakura yang sedang kepayahan menggendong setumpuk tinggi buku—Sasuke tertawa kecil melihatnya—dan gambar Naruto yang sedang memainkan gitarnya. Wajahnya tertunduk, tapi Sasuke cukup yakin itu Naruto karena rambut pirangnya yang berdiri, juga jaket hitam-oranye yang sudah menjadi ciri khasnya.

Kemudian pandangannya beralih pada sebuah lukisan yang disandarkan ke dinding di seberang meja. Lukisan itu berukuran sedang dan sudah diberi bingkai. Sepertinya itu juga dilukis dari foto. Tampak beberapa orang yang dikenalnya di sana, duduk bersama dalam tiga barisan—seperti kalau kau berfoto studio dengan banyak orang di dalamnya. Sosok gadis berambut hitam kebiruan panjang dan bermata lavender duduk di tengah-tengah di antara teman-teman klub jurnalnya, tersenyum manis. Di bagian bawahnya tertulis dengan cat hitam tipis,

December 27

Happy Birthday, Hinata!

Lalu simbol 'S' yang melingkar di bawahnya. Sasuke mengira itu pasti simbol nama Sai, pengganti tanda tangannya.

"Hinata ulang tahun 27 Desember kemarin?" seru Naruto keras, membuat Sasuke terlonjak kaget. Sasuke menoleh dan mendapati Naruto sudah berdiri di belakangnya—entah sejak kapan ia berdiri di sana. Mata birunya menatap ke lukisan berpigura itu. "Ya ampun… Aku tidak tahu…" Nada bicaranya terdengar agak menyesal.

Yeah, dan Sasuke juga lupa memberitahunya. Pikirannya dipenuhi hal-hal lain belakangan ini.

Sasuke beranjak menuju bangku di dekat meja sebelumnya, menghenyakkan diri di sana. Sejenak ia mengawasi Naruto yang masih menatap ke dalam lukisan Hinata, seakan sedang memikirkan sesuatu. Sasuke menyeringai tipis, lalu berpaling memandang ke luar jendela. Tampak ranting-ranting pohon sakura menyembul dari bawah jendela, tumpukan salju tersangkut di atasnya. Di bawahnya, sepetak taman mawar yang cukup lebar juga tampak putih dengan salju.

Pemandangan yang cantik, tapi sangat dingin dengan warna putih yang mendominasi. Tepat seperti apa yang dirasakannya saat itu.

Gadis pelayan yang tadi menyambut mereka muncul dari pintu, membawa nampan berisi dua cangkir berisi teh chamomile yang mengepul. Ia berjalan menuju meja di dekat Sasuke dan menaruh cangkir-cangkir itu di atasnya.

"Silakan," ujar gadis itu sopan pada kedua tamu tuannya.

"Hn. Terimakasih." Sasuke mengangguk padanya.

"Terimakasih banyak, Nona!" seru Naruto. Dan gadis pelayan itu pun berlalu meninggalkan ruangan dengan wajah merona merah.

Tak lama setelah pelayan itu pergi, Sai muncul. Ia sudah tampak lebih bersih sekarang. Kaus kutungnya yang belepotan cat sudah digantikan kemeja yang dilapisi sweter biru gelap. Rambut hitamnya yang pendek dan terlihat basah tersisir rapi. Dan aroma bersih sabun mandi menguar dari tubuhnya. Ia membawa notebook di tangannya.

"Kalian lama menunggu?" tanyanya sambil tersenyum.

Sasuke yang sedang menyesap tehnya segera menurunkan cangkirnya, tapi Naruto menyelanya lebih dulu, "Tidak juga."

Sai memberinya senyum singkat, sebelum berjalan masuk menuju meja dan meletakkan notebook-nya di sana setelah menyingkirkan alat-alat lukisnya.

Sementara Sai mulai membuka notebook-nya, Naruto berkata, "Omong-omong, lukisan bagus, Sai." Ia mengerling lukisan Ino.

Sai menghentikan gerakannya yang hendak memasukkan password, menoleh menatap Naruto, tersenyum canggung. "Trims."

"Kau benar-benar suka padanya, ya?" tanya Naruto lagi.

Sai berpaling, ikut menatap lukisan yang baru saja diselesaikannya beberapa waktu yang lalu. Sejenak wajahnya terlihat agak muram. "Ya," jawabnya kemudian dengan suara pelan, nyaris berbisik. "Maaf, aku benar-benar tidak bisa menahannya," ia buru-buru menambahkan. Ada penyesalan tersirat di matanya.

Sasuke dan Naruto bertukar pandang. Sasuke menghela napasnya. "Kita senasib," gumamnya, sekali lagi menghirup tehnya.

"Hn?" Sai menatap Sasuke bingung.

"Dia sama sepertimu," Naruto lah yang menyahut, "Naksir cewek yang tidak seharusnya—kalau kau tahu maksudku. Dia suka Sakura," ujarnya menambahkan ketika dilihatnya Sai tampat tidak paham.

Mata onyx Sai membulat. "Oh!" serunya terkejut.

"Jangan bilang padanya!" kata Sasuke buru-buru. "Jangan sekali-sekali kau memberitahunya soal ini. Oke, Sai?"

Sai memberinya senyumnya yang biasa. "Kurasa aku bisa tutup mulut."

"Haah~ ya, ampun… Jomblo-jomblo merana kumpul di sini semua…" desah Naruto dengan nada geli. Ia berkelit dari kaki Sasuke yang tiba-tiba menyapu ke arahnya, terkekeh.

"Kau sudah lihat gambarnya?" Sai menanyai Sasuke kemudian, mengalihkan pembicaraan mereka.

"Hn." Sasuke meletakkan cangkirnya di atas meja, lalu mengambil buku sketsa milik Sai, membuka-bukanya. "Sangat bagus."

"Thanks. Kalian sudah dapatkan kanvasnya?" Sai memasukkan password notebook-nya.

"Aa.. Sudah ada di sekolah."

"Oke. Aku juga sudah membuat… ini." Sai menunjukkan scan gambarnya di layar notebook yang sudah diedit lagi pada dua temannya. "Tinggal diperbanyak saja…"

-

-

Menjelang senja, Naruto akhirnya sampai di rumahnya setelah mengantar Sasuke ke Crimson Drive. Kebetulan saat itu ayahnya juga baru pulang entah dari mana dengan berbalut mantel panjang dan syal. Rambutnya yang cokelat agak berantakan tertiup angin. Tiba-tiba saja Naruto merasa tak enak.

"Pap! Dari mana saja?" tegurnya pada sang ayah saat ia baru saja memasukkan wagon-nya ke garasi.

"Dari panti asuhan," sahut Iruka. "Baru pulang?"

"Yeah…" Naruto menutup pintu garasi lalu menatap ayahnya, "Pap kenapa tidak bilang mau keluar? Kalau begitu aku tidak pinjam mobil!"

Iruka tersenyum maklum. "Tidak apa-apa. Sepertinya kau lebih butuh. Sudah makan malam?"

Mereka bersama-sama menaiki undakan depan dan masuk ke dalam rumah yang hangat. Setelah menyimpan mantel dan jaket, mereka menuju dapur untuk membuat makan malam sambil membicarakan kegiatan masing-masing. Sementara memanggang ikan makarel, Naruto berceloteh tentang apa yang dilakukannya sepanjang hari itu.

"Dan malam ini aku berencana menyicil tugasku lagi," Naruto mengakhiri celotehannya. Ia melirik ayahnya yang sedang mengaduk sup. "Aku pinjam laptop lagi, ya?" Sebenarnya tidak usah minta izin pun, Naruto kerap memakai laptop milik ayah angkatnya itu diam-diam untuk main game.

"Pakai saja," sahut Iruka. Ia mengambil dua buah mangkuk dari rak. "Omong-omong, tadi Hinata datang ke panti dan membawa banyak sekali makanan dan buku baru untuk anak-anak," beritahunya kemudian sambil menuang sup ke dalam salah satu mangkuk. "Dia datang bersama adik dan beberapa sepupunya juga. Katanya dia berulangtahun beberapa hari yang lalu." Iruka menghembuskan napas ringan, tersenyum, "Anak-anak kelihatannya sangat senang."

"Oh, ya?" Naruto ikut tersenyum. Namun tidak lama kemudian senyum itu memudar. Ia menghela napas, teringat lukisan Sai. "Dia ulang tahun tanggal 27 kemarin," gumamnya.

"Oh, kau sudah memberinya selamat kalau begitu?" kata ayahnya, tersenyum lagi. "Apa dia tidak memberitahumu dia akan datang ke panti?"

Naruto menggeleng muram, membalik ikannya. "Aku tidak sempat bicara lagi dengan Hinata. Kami… yah… sebenarnya tidak begitu akrab di sekolah. Dia ada teman sendiri, begitu juga aku."

"Begitu," Iruka mengangguk paham, lalu menuang sup ke mangkuk kedua sebelum meletakkan keduanya di atas meja makan. Keduanya terdiam sementara Naruto menyelesaikan memanggang ikan, dan Iruka menyiapkan dua mangkuk nasi untuk mereka berdua.

Selagi makan, pikiran Naruto terus melayang-layang, menimbang-nimbang apa sebaiknya yang akan diberikannya untuk Hinata sebagai kado ulang tahun—sekaligus rasa terimakasihnya karena gadis itu sudah begitu menyayangi adik-adiknya. Naruto ingin memberikannya sesuatu yang istimewa yang bisa dikenang, tapi ia tidak tahu harus memberikan apa. Ditambah lagi, Naruto tidak tahu apa yang disenangi Hinata. Ia menyadari bahwa setelah bertahun-tahun, ternyata ia belum cukup mengenal baik gadis itu. Hal ini membuatnya semakin merasa tidak enak.

Ia kemudian melirik ayahnya, bertanya-tanya apa sebaiknya ia minta pendapatnya? Namun Naruto buru-buru mengurungkan niatnya. Bisa-bisa Iruka hanya akan menggodanya saja.

Naruto menghela napas berat, mengacak rambut pirangnya dengan frustasi. Ini benar-benar membuatnya pusing.

"Ada apa, Naruto?" tanya Iruka sambil melempar pandang heran pada putra angkatnya.

"Eh?" Naruto nyengir, mengeluarkan tawa garing. "Tidak ada apa-apa," ujarnya, lalu melanjutkan melahap ikan makarel panggangnya.

Kemudian ide itu muncul begitu saja di kepalanya. Mungkin ia akan tanya pada Sasuke saja. Sasuke kan cukup akrab dengan Hinata dan resiko digoda lebih kecil—Sasuke bukan tipe orang yang senang menggoda orang seperti dirinya. Maka, setelah menghabiskan makan malam dan melakukan tugasnya bersih-bersih meja makan, Naruto segera melesat ke ruang tengah dan menyambar gagang telepon.

Naruto menjulurkan leher ke arah tangga. Setelah memastikan Iruka benar-benar masuk ke kamar mandi dan tidak akan mendengarkannya, ia cepat-cepat menekan nomor rumah Sasuke. Terdengar nada tunggu lima kali sebelum akhirnya ada yang mengangkat.

-

-

Sasuke sedang berada di kamarnya, sedang berkutat dengan tumpukan buku-buku dan tugas sekolahnya, ketika telepon rumahnya tiba-tiba berdering. Awalnya Sasuke membiarkannya saja, menunggu kakaknya yang mengangkat. Namun kemudian ia ingat Itachi sedang keluar membawa Rufus dan ia sendirian saja di rumah. Dengan enggan, Sasuke meletakkan penanya dan beranjak dari bangkunya menuju telepon yang terpasang di koridor depan kamarnya.

Dan Sasuke langsung mengenali suara Naruto yang tinggi di seberang.

"Ada apa menelepon malam-malam?" Sasuke menukas, kesal karena diganggu.

"Aku cuma mau minta pendapatmu, sebaiknya aku memberikan apa pada Hinata?" kata Naruto to the point. "Kau tahu, kan, untuk ulangtahunnya..."

Kekesalan Sasuke sedikit menguap dan sekarang ia menyeringai tipis. "Kenapa tanya aku? Lagi pula ulang tahunnya sudah lewat…"

"Kau kan akrab dengannya, Sasuke," Naruto terdengar agak jengkel, "Dan masa bodoh sudah lewat atau belum, masih Desember ini… Jadi kau ada ide, tidak?"

"Hinata suka apa pun yang diberikan padanya," sahut Sasuke, mengangkat bahu.

Naruto menggeram rendah di seberang. "Sama sekali tidak membantu. Aku ingin memberinya sesuatu yang benar-benar berkesan. Um… seperti Sai yang memberinya lukisan—masalahnya aku tidak bisa melukis!"

"Kalau begitu beri yang kau bisa saja."

"Apa? Yang aku bisa—Ah!" Naruto berseru keras sekali, membuat Sasuke harus menjauhkan gagang telepon dari telinganya kalau tidak ingin gendang telinganya pecah. "Aku bisa main musik! Mungkin aku bisa bernyanyi untuknya. Tapi…" nada suaranya menurun lagi. "Kalau bernyanyi saja bukan kado namanya."

"Rekam saja," kata Sasuke dengan suara bosan, tapi bibirnya menyunggingkan senyum. Hinata akan menyukai apa pun yang kau berikan untuknya, Naruto… Jadi apa pun tidak masalah.

"Oh! Benar juga! Direkam!" Naruto terdengar puas. "Thanks, Bro!"

"Anytime…"

Sasuke meletakkan kembali gagang telepon itu di tempatnya setelah Naruto memutuskan hubungan. Ia tertawa kecil sambil geleng-geleng kepala. Sepertinya sebentar lagi akan ada yang berbunga-bunga, pikirnya. Dan ia pun kembali ke kamarnya untuk melanjutkan belajar.

-

-

"AH! Naruto! Sasuke! Sai!!" seru Sakura gembira saat ketiga sahabatnya yang tampan muncul di pintu Blossoms Café pagi itu, sehari sebelum tahun baru. Gadis berambut merah muda yang baru saja mengantar pesanan sarapan untuk salah satu tamu langsung bergegas meluncur ke arah pintu, menyambut mereka dengan senyum cerah sambil melambai-lambaikan nampan di tangannya. "Aku senang kalian datang. Kudengar kalian sangat sibuk di sekolah, ya?"

"Begitulah," sahut Naruto, nyengir lebar.

Sakura menatap mereka bertiga dengan tatapan berseri-seri. "Jadi… kalian mau sarapan di sini?"

"Kami sudah sarapan," sahut Sai dengan senyumnya yang biasa. "Kami kemari untuk kerja!"

"Yeah, biasanya sehari menjelang tahun baru sangat ramai, jadi…" Naruto membiarkan kata-katanya menggantung.

Sakura membelalakan matanya ketika ketiga sahabatnya itu mulai membuka ritsleting jaket mereka dan menampakkan kaus seragam Blossoms Café yang berwarna merah marun di baliknya. Gadis itu memekik girang dan nyaris saja membuatnya kehilangan keseimbangan rollerblade-nya kalau saja Sasuke tidak menangkap lengannya dan menahannya.

"Kau ini. Makanya, hati-hati," kata Sasuke dingin seperti biasa.

Sakura meringis padanya.

"Whoa… Rombongan daun muda datang lagi rupanya!" seru Kotetsu yang baru saja melihat mereka.

"Baguslah. Ada bala bantuan," kata Isaribi berseri-seri. Ia sudah membawa beberapa buku menu, notes dan pena, menyodorkannya pada masing-masing mereka.

"Kalau begitu, simpan dulu jaket kalian di loker," kata Sakura ceria, "Dan jangan lupa pakai celemeknya!" Dan gadis itu pun menggiring ketiga sahabatnya menuju ruang ganti pegawai untuk menyimpan jaket dan mengambil celemek untuk mereka.

Sakura dengan senang membantu mereka memasang celemek hitam dengan sedikit bordiran bertuliskan nama restoran itu di bagian depan, mengikatkannya di bagian belakang. Ia bahkan membantu merapikan kerah kaus Sasuke yang tidak rapi, tanpa sadar membuat cowok itu gugup. Suasana hatinya sepertinya sedang sangat bagus.

"Sepertinya kau sedang senang?" tanya Sasuke basa-basi pada gadis itu saat mereka berdua sudah berdiri di depan pintu masuk restoran untuk menyambut tamu. Naruto dan Sai sedang sibuk mencatatkan pesanan.

Sakura mengeluarkan tawa kecil, wajahnya merona merah. "Tentu saja aku senang, Sasuke!"

"Ada kejadian bagus?" Sasuke menebak. Kedua alisnya bertaut, menatap Sakura curiga. Senyum itu… Sasuke mengenali senyum itu…

"Hmm…" Sakura mengangguk seraya menyibak anak rambutnya yang jatuh ke mata. "Coba tebak…" Jeda sejenak sementara gadis itu melebarkan mata hijau zamrudnya dengan dramatis pada Sasuke, "Kemarin waktu aku pergi jalan-jalan mencari buku di kota, aku bertemu seseorang!"

Hati Sasuke langsung mencelos. "Neji?" tebaknya jemu.

Sekali lagi Sakura mengangguk. "Dan kau tahu… dia mengajakku makan siang! Dan malam ini dia sudah janji mau datang!"

Sasuke tidak tahu, apakah ia harus ikut gembira melihat Sakura berseri-seri seperti itu ataukah kecewa. Ya, kecewa karena lagi-lagi yang membuatnya begitu gembira adalah cowok lain, bukan dirinya. Akhirnya ia memilih untuk tidak berkomentar.

Melihat tampang Sasuke yang muram membuat Sakura mengerutkan dahinya. "Kau kenapa sih, Sasuke? Sakit?" Gadis itu mengulurkan tangannya untuk meraba dahi Sasuke. Namun cowok itu menahan tangan Sakura sebelum sempat menyentuh dahinya.

"Aku baik-baik saja," sahutnya dengan suara yang dipaksakan terdengar datar seperti biasanya.

Sakura menatapnya beberapa saat lagi. "Oh, oke. Tapi kalau tidak enak badan, bilang padaku, ya. Mukamu terlihat agak pucat soalnya."

"Hn."

"Ah…" Sakura langsung berpaling begitu ada tamu datang, seorang pria paruh baya berwajah bulat ramah yang sudah biasa sarapan di sana setiap pagi. "Selamat pagi, Paman," sambutnya cerah. "Sarapan yang biasa?"

Sasuke menatap punggung Sakura yang menjauh, mengantar tamu mereka sampai ke meja. Rambut merah mudanya yang dibuntut kuda di belakang kepalanya bergoyang-goyang setiap kali ia bergerak. Bibirnya yang tipis tertarik membentuk senyum manis, membuat mata hijaunya yang lebar sedikit menyipit. Meskipun Sakura bukan gadis tercantik yang pernah dilihatnya, tapi tetap saja… senyum itu membuat hati Sasuke tergetar. Tidak peduli untuk siapa senyum itu ditujukan.

"Dia manis, ya?" bisik seseorang di telinganya.

Tanpa sadar Sasuke menyunggingkan seutas senyum. "Ya…"

Suara tawa kecil yang menyusul membuatnya tersadar. Sasuke menoleh dan mendapati Naruto dan Sai sudah berdiri di dekatnya, cekikikan seperti anak perempuan. Senyumnya seketika lenyap seperti api kecil yang tiba-tiba dibanjur air. Rona merah menjalar sampai telinganya, entah karena malu atau marah. "Diam, kalian berdua!!" desisnya, kemudian cepat-cepat pergi untuk membereskan piring-piring kotor di meja yang baru saja ditinggalkan tamu.

"Aku benar-benar tidak tahu siapa yang tidak beruntung di sini, Sasuke atau Sakura?" kata Naruto dengan suara pelan selang beberapa saat seraya menghela napas. Matanya bergantian menatap Sakura dan Sasuke.

"Kurasa selama mereka masih saling menyayangi sebagai sahabat, mereka berdua sama-sama beruntung," kata Sai sambil tersenyum.

Naruto tertawa kecil. "Yeah, kau benar. Mereka masih beruntung." Cowok pirang itu bergegas pergi ketika ada salah satu tamu restoran yang memanggilnya.

Senyum di wajah Sai sedikit memudar ketika ia berpaling untuk membukakan pintu bagi tamu yang baru datang. Di belakang tamu itu, tepatnya di lapangan parkir, ia melihat seseorang yang dikenalnya baru saja turun dari sebuah motor besar yang dikemudikan seorang cowok berjaket kulit. Ino Yamanaka.

Yang tidak beruntung itu mungkin adalah aku…

"Selamat er… pagi menjelang siang…" sapa Sai hangat saat gadis pirang itu melangkah masuk.

Ino mengeluarkan tawa renyah. "Selamat pagi menjelang siang juga, Sai…" balasnya.

"Idate tidak masuk?" tanya Sai berbasa-basi.

Ino menoleh ke luar sejenak, memandang motor Idate yang baru saja meninggalkan lapangan parkir. Ia masih tersenyum saat kembali memandang Sai. "Tidak. Dia ada keperluan lain. Omong-omong, sudah beberapa hari ini kau tidak main ke Green Leaves, Sai. Aku kangen padamu…"

Eh?

-

-

TBC…

-

-


Abal! Abal! Abal! Abal! Aaargh~~!!! Saya ngerasa cerita ini gak maju-maju. Bener gak sih? *getok kepala sendiri* Alurnya jadi superlambat gini… Tapi janji deh, habis tahun baru (maksudnya tahun baru di fic ini) konfliknya dipadetin lagi. Kayanya kalo dimunculin sekarang kurang pas. Jadi biarkan saja para cowok itu (Sasuke-Naruto-Sai) saling tahu hati masing-masing aja dulu. Dan line yang terakhir itu… euh… sepertinya Ino mulai ngasih harapan. =_=' –Lho? Authornya siapa, yah?-

Maaf juga atas keterlambatan apdetannya. Dan mungkin chapter depan juga bakal molor lagi. Banyak kerjaan n banyak pikiran.. Huhu.. T.T

Buat yang udah review…

evey charen : Aaah~~ baru dibilang apdetnya regular, udah langsung molor. Gomen na, evey-san.. ^^

Uchiha Cesa : Gak suka SasuHina, kah? Hehehe… tenang, di sini SasuHina itu cuma temenan kok. Mereka kan kenal dari kecil, makanya akrab kayak kakak-adik, walaupun tadinya Sasuke emang suka sama Hinata. Tapi sekarang dia dukung NaruHina kok. ^^

Haruno shisly : Makasih sudah baca n review.. ^^ Soal pairing… udah ditentuin sih sebenernya. Cuma aku rasa inti fic ini bukan di pairingnya kok… Romance bukan menu utama. ^^

Kakkoii-chan : Iyah.. novel yang dimaksud itu novel yang dikasihin ke Sakura. Ada something –yang-bisa-ditebak- di balik novel itu. Maksa banget deh. Hahaha… XD

Nana-chan : Iyah, dia gak nyadar dan gak tau Hinata ultah. Sasukenya juga lupa ngasih tau, sih.. Hehehe…

Mayuura : Makasih review dobel-sama-chappie-kemarinnya.. ^^

Dilia-chan : Aw… dilia.. Ternyata ada juga yang ngalamin sindrom tak suka Hinata kaya saya yah. Hohoho… Um.. gomen, belum mereview fic2mu, padahal baca.. *dilempar* Yang SaiIno itu lucu banget. Sampe jungkir bacanya. XDD

KyuubiMeiHime : Waw.. makasih.. Lagi skripsi juga? Sama dong.. Semangat yah!! ^^

Aika-chan : Um.. yang bagian itu kayanya bakal jadi sumber konflik di chapter2 depan Ai.. Udah kepala 7 nih.. ^^

Alegre541 : Huhuhu… pertanyaanmu tar kali yah terjawabnya. Tapi kalo yang masalah sepele2 gitu aku skip aja, kan banyak timeskip di sini. Anggep aja kejadiannya pas timeskip –ngeles banget-

UchiHAruno Sasusaku : Waaaah~~ sampe repot2 review satu-satu. *speechless* Makasih banget yah.. *hug*

Cuiciko : Makasih udah mampir.. Panjang, ya? Hihihi… XD

Minna-san… makasih banget semuanya *peluk2 sekaligus* XDD

Selamat Hari Raya Iedul Adha buat teman-teman yang merayakan… Putz mau mudik dulu nih ke Cirebon. Ada yang orang Cirebon? ^^