Disclaimer : Naruto, 'Crazy For This Girl' dan 'Angels' bukan milik saya.

Warning : 12.641 only story. Romance. Full dialog.

Catatan : Ada perubahan sedikit di chapter 69. Dikit aja, mungkin gak ada yang nyadar. ^^


Malam tahun baru kali ini benar-benar asyik –setidaknya bagi Sakura. Bukan bererarti ia tidak pernah merayakan malam tahun baru semalam suntuk bersama teman-temannya. Tahun lalu misalnya, ia bersama Ino dan beberapa gadis teman mereka mengadakan pajamas party di rumah Ino. Tapi berhubung Ino sekarang sudah ada Idate dan mereka berencana menghabiskan malam pergantian tahun bersama-sama –dan mereka baru saja pergi beberapa saat yang lalu, sepertinya tahun ini ia tidak bisa merayakannya bersama sobat kentalnya itu.

Tapi itu tidak masalah. Karena ada Sasuke, Naruto dan Sai –dan, ah! Kau melupakan Neji! Bukankah cowok itu sudah janji akan datang dan mengajaknya keluar? Tepatnya, itulah yang membuat malam tahun barunya lebih istimewa tahun ini. Sakura akan melewatkannya dengan cowok yang sudah ditaksirnya sejak lama!

Seperti yang dijanjikannya, Neji datang ke Blossom Café pukul delapan malam.

Sasuke hanya bisa membalas sapaan rivalnya –tepatnya, rival sepihak—itu datar dan menatap dengan mata dipicingkan saat Neji berbincang-bincang dengan Azami di konter sementara menunggu Sakura yang berganti pakaian di kamar ganti. Melihat keakraban Neji dengan ibu Sakura mau tidak mau membuat Sasuke sedikit gusar. Cowok itu mendengus keras untuk melampiaskan perasaannya dan mengelap meja agak terlalu bersemangat sampai menabrak jatuh botol garam. Mengumpat pelan, Sasuke membungkuk untuk mengambil botol kecil yang menggelinding ke bawah meja.

Naruto, yang kebetulan sedang melintas di dekatnya mengekeh kecil seraya bersenandung, "Ada yang cemburu~~"

"Shut up!" Sasuke yang baru saja muncul dari bawah meja mendesis pelan ke arah Naruto yang meringis menggodanya, lalu meletakkan kembali botol garam di tempatnya semula di atas meja.

"Sudah mau berangkat, Sakura?" Mereka mendengar Sai berkata.

Sakura baru saja keluar dari ruang ganti, sudah menanggalkan kaus Blocafnya dan tampak manis dalam balutan sweter pink pucat berkerah tinggi dan mantel barunya. Gadis itu tersenyum manis pada Sai yang sedang membawa nampan berisi dua mangkuk ramen mengepul. "Ya, Sai. Maaf ya, aku duluan."

Sai membalas senyumnya. "Tidak apa. Selamat bersenang-senang."

"Thanks!" Sakura berkata ceria, kemudian berpaling pada Sasuke dan Naruto, "Aku duluan ya, teman-teman!"

"Dia kelihatannya senang sekali," Naruto berkomentar pelan –sangat pelan sehingga hanya Sasuke dan Sai saja yang bisa mendengarnya—seraya memperhatikan Sakura menghampiri Neji di konter. Mereka sempat mendengar cowok berambut cokelat kopi itu berpamitan pada Azami dan berjanji akan mengantar Sakura pulang setelah acara kembang api, sebelum ia dan Sakura meninggalkan restoran. Neji membukakan pintu bagi Sakura, dan gadis itu menggumamkan terimakasih dengan wajah bersemu.

"Sekarang aku mengerti mengapa Sakura sangat menyukai Hyuuga," kata Sai, "Cowok itu sangat gentleman dan aku pernah baca di majalah kalau gadis-gadis menyukai laki-laki yang seperti itu."

"Yeah, itu masuk akal," timpal Naruto. Diliriknya Sasuke yang masih memandangi Sakura dan Neji yang sedang berjalan melintasi halaman parkir menuju mobil Neji dari jendela. "Tidak seperti orang ini," tambahnya, menyeringai. Untung saja pikiran Sasuke sedang tidak ada di sana saat itu, sehingga ia tidak mendengarnya. Naruto terkekeh kecil. "Tenang saja," ujarnya sambil menyenggol lengan Sasuke, mengalihkan perhatian cowok itu dari lapangan parkir.

"Apa?" sentak Sasuke judes.

"Setelah ini kita akan menyusul mereka dan kau bisa mengawasi mereka." Naruto nyengir dan buru-buru kabur dari sana sebelum Sasuke sempat bereaksi.

Sasuke menggeram. "Memangnya aku ayahnya pakai acara mengawasinya segala?" gerutunya, kemudian berbalik untuk membawa tumpukan piring kotor dari meja yang dibersihkannya barusan ke dapur. Ia bisa mendengar Naruto terkekeh.

Pengunjung yang datang lebih sedikit malam itu. Barangkali mereka lebih memilih menghabiskan waktu di tempat yang lebih ramai daripada di restoran kecil di pinggiran Konoha untuk melewatkan malam tahun baru. Maka Azami memutuskan untuk menutup Blossoms Café lebih cepat. Setelah semua bangku sudah diangkat ke atas meja, semua piring dan peralatan dapur sudah bersih, dan lampu-lampu sudah dimatikan, mereka meninggalkan restoran.

Azami langsung pulang ke rumahnya, sementara para pegawainya –minus Paman Teuchi—memutuskan untuk melewatkan malam tahun baru bersama-sama dengan jalan-jalan ke Konoha City Square, melihat kembang api.

Tempat itu sudah sangat ramai ketika mereka sampai di sana. Di sana sini, didirikan tenda-tenda yang menyediakan macam-macam, mulai dari makanan, barang-barang murah sampai permainan tradisional yang biasa mereka jumpai saat festival musim semi atau musim panas. Lampion kertas warna-warni menghiasi sepanjang jalan itu sampai ke Konoha Central Park. Di sebuah lapangan terbuka yang dulu dipakai untuk festival band, kini berdiri sebuah panggung yang kerumuni orang-orang yang riuh rendah. Musik yang dimainkan sekelompok anak muda di atas panggung terdengar berdentum-dentum memenuhi udara malam yang dingin.

Naruto dan sedua karibnya memisahkan diri dari rombongan Kotetsu dan yang lain di persimpangan menuju Konoha Central Park. Mereka bertemu banyak anak-anak Konoha High selama berkeliling tempat itu, termasuk sekelompok cewek yang langsung histeris melihat Sasuke –atau Sai? Perlu satu jam penuh bagi mereka sampai akhirnya berhasil meloloskan diri dari cengkeraman cewek-cewek itu, setelah diseret kesana kemari tentu saja. Naruto yang sedari tadi hanya mengekor saja, terbahak menertawakan kedua temannya.

"Memang enak jadi cowok populer," kekehnya meledek.

Mereka juga sempat melihat Ino yang sedang bergandengan tangan mesra dengan Idate sambil menikmati dango di salah satu stand yang menjual makanan. Ino terlihat tertawa-tawa sambil menyuapkan setusuk dango dengan saus yang menetes-netes pada pacarnya itu. Melihat tampang Sai, Naruto buru-buru menyeretnya menjauh dari sana sebelum Ino melihat mereka.

"Sebaiknya kita ke lapangan saja, nonton band," usul Naruto kemudian.

Saat itu empat puluh lima menit menjelang tengah malam dan ketiga cowok itu sudah agak lelah berkeliling dan harus menghadapi kekecewaan karena tidak menemukan Sakura dan Neji di mana pun. Bahkan Sasuke sudah mulai dikuasai pikiran yang tidak-tidak soal dua orang itu. Bukan tidak mungkin mereka sedang berduaan di suatu tempat yang sepi dan…

Akh! Cukup!

"Yeah. Kita nonton band saja," gumam Sasuke setuju, dan ketiganya bergegas kembali ke lapangan tempat panggung musik berada.

Namun sebelum mereka mencapai tempat itu, Sasuke melihat punggung yang amat dikenalnya sedang duduk di salah satu bangku di dekat bundaran KCS bersama pacarnya, sang dokter hewan, Hana Inuzuka dan beberapa orang yang tidak dikenal Sasuke. Barangkali adalah teman sekantor kakaknya.

"Kak Itachi!" panggil Sasuke.

Itachi tampaknya tidak mendengarnya di antara suara bising di sekelilingnya. Salah satu temannya lah yang melihat saat Sasuke dan dua yang lain mendekat. Orang itu menyenggol Itachi dan mengendikkan kepalanya ke arah Sasuke. Itachi ikut menoleh, tersenyum lebar melihat adik laki-lakinya.

"Ah, Sasuke! Kau kemari juga?!" sapanya. "Bersama Naruto dan Sai juga?" Itachi menyunggingkan senyum pada kedua kawan Sasuke.

Terdengar salakan anjing. Rufus. Retriever jantan berbulu cokelat keemasan yang sejak tadi bermain bersama seekor husky abu-abu milik Hana, melompat ke arah Sasuke, menyambutnya. Sasuke dengan senang membungkuk dan menggaruk leher anjingnya. "Sudah tidak marah lagi padaku, Ruf?"

"Woof!!" Rufus menyalak riang. Melompat hendak menjilati telinga tuannya.

"Bertiga saja?" tanya Itachi. Mata hitamnya menjelajahi wajah-wajah lelah ketiga remaja itu ketika mereka sudah duduk di bangku semen yang mengelilingi sebuah pohon maple yang hampir botak. Ia menyeringai. "Kenapa kalian bertampang seperti itu, eh? Ini kan tahun baru. Nikmati sedikit, dong…"

"Berisik, ah," gerutu Sasuke sambil yang duduk di sebelah Itachi. Dengan seenaknya, ia mengambil cangkir kertas berisi kopi krim di tangan sang kakak dan menenggaknya, sama sekali tidak menghiraukan protes Itachi. Naruto dan Sai sedang ditawari makanan kecil oleh Hana.

"Aku tadi melihat Neji dan Sakura," beritahu Itachi pada Sasuke, "Mereka berkencan, ya?"

Sasuke hanya menggendikkan bahunya, berlagak tidak peduli, lalu menghirup sisa kopi krim di cangkirnya hingga tandas.

"Kak Itachi lihat Sakura?" timbrung Naruto yang ternyata mendengarkan. "Di mana?"

"Tadi sih mereka sedang menonton musik di sana," Itachi menunjuk ke arah panggung di lapangan tak jauh dari tempat mereka sekarang. Cahaya lampu laser juga terlihat bersilangan di langit malam dari arah sana.

Sasuke meremas cangkir kertasnya dan melemparnya ke tempat sampah terdekat. "Ayo kita ke sana!" Ia beranjak dari duduknya. Tanpa menunggu tanggapan dari teman-temannya, Sasuke langsung ngeloyor pergi.

"Hei, tunggu dulu, Sasuke! Haah… Dasar!"

Naruto dan Sai kemudian bergegas menyusulnya.

"Adikmu kenapa, Itachi?" tanya Hana pada Itachi, seraya menggeser duduknya mendekat pada kekasihnya itu, menawarinya sekaleng minuman ringan.

"Terimakasih," Itachi mengambil minuman yang ditawarkan Hana dan membukanya. Diliriknya wanita di sebelahnya seraya menyeringai nakal. "Biasalah… Sedang panas. Sama seperti orang yang suka ngambek sampai hidungnya berasap setiap kali aku didekati wanita la—ouch!"

"Itachii…" Hana mencubitnya gemas tepat di pinggangnya. Wajahnya merona. "Siapa yang ngambek sampai hidungnya berasap?!"

"Eeh… Masih tidak mau ngaku, ya?" Itachi balas mencubit ujung hidung wanita berambut cokelat itu sambil tertawa, lalu merangkul bahunya.

"Hei, hei, hei! Tolong ya, jangan mesra-mesraan di sini. Hargai yang sedang jomblo dong!"

"Woof!!"

Si husky dan retriever di sebelah mereka menyalak riang, seakan ikut menggodai kedua tuan mereka.

Sai dan Naruto akhirnya berhasil menyusul Sasuke dan ketiganya kini bergabung bersama orang-orang yang sedang menikmati alunan musik di dekat panggung berukuran sedang itu. Tampak orang berkerumun di dekat bibir panggung, berjingkrak-jingkrak heboh mengikuti alunan musik, sementara yang lain memilih menonton dari kejauhan sambil duduk-duduk santai. Berdua dengan pasangan atau berkelompok dengan teman-teman segeng –mereka sempat melihat rombongan Yamato dan teman-teman pegawai Blocaf berkumpul di sana juga, sudah memegang terompet masing-masing dan sedang tertawa-tawa melahap jagung bakar dan soda.

Sasuke menjulurkan lehernya dan menoleh ke sana kemari, berharap menemukan kepala merah muda di antara orang-orang. Namun ia tidak bisa menemukan orang yang dicarinya di mana pun, setidaknya sampai Sai menarik lengannya dan menunjuk ke satu arah.

"Itu Sakura!" serunya mengatasi suara bising di sekeliling mereka.

Sasuke menoleh ke arah yang ditunjuk Sai, begitu juga dengan Naruto yang malah melompat supaya bisa melihat lebih jelas. Sasuke seharusnya sudah bisa mengantisipasinya, tapi ia tidak bisa menahan rasa panas yang mendadak menyerangnya saat melihat Sakura di sana. Bersama Neji.

Mereka tidak terlalu jauh dari panggung, tapi juga tidak begitu dekat dan ikut berkerumun bersama orang-orang yang berjingkrakan di bibir panggung. Tapi jelas mereka juga tengah menikmati alunan musik. Sakura terlihat begitu gembira. Gadis itu bertepuk tangan dan tertawa. Sesekali ia menoleh pada Neji yang berdiri di sebelahnya, mengatakan sesuatu entah apa padanya, lalu keduanya tertawa. Bahkan Neji tampak sangat menikmati kebersamaannya dengan gadis bermata hijau itu, tidak keberatan saat Sakura meraih tangannya dan mengajaknya bergoyang.

"Menurutku sebaiknya kita jangan menggangunya!" kata Naruto.

Sasuke menggeram kecil. "Yeah, betul," gerutunya sambil berpaling. Tidak tahan kalau harus melihat lebih lama.

Melihat tampang sahabatnya itu, Naruto mengulurkan lengannya merangkul pundak Sasuke. "Jangan muram begitu, Teman! Lagi pula kan masih ada aku dan Sai. Masa kau mau mengacuhkan kami…"

"Yeah," timpal Sai sambil menyunggingkan senyumnya yang biasa, "Memangnya yang punya pasangan saja yang boleh bersenang-senang?"

Sudut bibir Sasuke terangkat sedikit, membentuk senyuman tertahan. Ia mendengus tertawa. "Oke. Ayo bersenang-senang!!"

Ketiga cowok itu lantas berlari menggabungkan diri dalam kerumunan yang sedang berjingkrakan di depan panggung, ikut melompat-lompat bersama mereka sambil tertawa-tawa. Melepaskan segala title sebagai cowok dingin dan bersikap layaknya remaja pada umumnya. Mereka bahkan tidak malu ikut bernyanyi bersama yang lain saat para pemain band itu menyanyikan bagian refrain,

"Would you look at her
She looks at me
She's got me thinking about her constantly
But she don't know how I feel
And as she carries on without a doubt
I wonder if she's figured out
I'm crazy for this girl"

"I'm crazy for this girl!!!" teriak Sasuke, Sai dan Naruto bersamaan, kemudian ketiganya meledak dalam tawa kembali sembari saling berangkulan.

Band di atas panggung mengakhiri lagu mereka dan lapangan itu bergemuruh dalam sorak sorai dan tepuk tangan meriah. Sasuke bahkan sampai terbatuk-batuk saking seringnya ia berteriak-teriak. Wajah Naruto merah padam dan Sai tampak kepayahan mengatur napasnya. Meski begitu ketiganya terlihat –setidaknya, berusaha—menikmati saat-saat itu.

Tiba-tiba Sasuke merasakan ada yang menepuk bahunya dari belakang, disusul suara anak perempuan yang sudah amat dikenalnya, "Butuh minum?"

Dengan hati mencelos karena terkejut, Sasuke berbalik dan langsung bertemu pandang dengan sepasang mata hijau zamrud yang tampak berkilau memantulkan cahaya lampu. Sakura tersenyum lebar padanya, menawarkan sebotol air mineral. "Halo, Sasuke!"

"Kau!" Mata hitam Sasuke melebar. "Ngapain—" kata-katanya terhenti dan untuk beberapa saat ia hanya menatap gadis di depannya yang balas menatapnya dengan alis terangkat, "Oh, sudahlah. Thanks." Diambilnya botol air yang diulurkan Sakura padanya, lalu menenggaknya banyak-banyak.

"SAKURA!!" Naruto berseru. Ia juga sudah melihat Sakura, begitu juga Sai.

"Hai, Naruto, Sai. Kalian kelihatannya bersenang-senang tanpaku, huh?"

"Kami kira kau juga sedang bersenang-senang," sahut Naruto sambil nyengir. Sakura membalasnya dengan wajah tersipu. "Neji mana?"

"Dia sedang terima telepon," sahut Sakura, menunjuk ke belakangnya dengan ibu jari. "Kukira kalian bertiga tidak jadi datang."

"Tentu saja kami datang," seru Naruto sambil tertawa, "Mana mungkin kami ketinggalan yang seperti ini."

Sakura terkikik. "Aku tadi lihat kalian bertiga," ujarnya setelah kikikannya mereda. Mata hijaunya menyapu ke arah Sai dan Sasuke, tersenyum pada mereka. "Whoa… benar-benar pengalaman langka melihat kalian berdua seperti tadi! Sasuke bernyanyi! Omigod!"

Sasuke memutar bola matanya, berlagak cuek.

"Sebenarnya dia tidak bernyanyi. Lebih tepatnya berteriak," kata Sai.

"Terimakasih, Sai," gerutu Sasuke.

Naruto dan Sakura tertawa.

Tepat saat itu, Neji menyeruak muncul dari kerumunan di belakang Sakura. Ponsel masih tergenggam dalam tangannya. Cowok itu menghampiri Sakura. "Maaf lama," ucapnya pelan, namun cukup keras untuk didengar gadis itu dalam suasana riuh rendah tempat itu.

Sakura yang tidak mengetahui kedatangan Neji sedikit terlonjak kaget saat tiba-tiba cowok itu sudah memegang bahunya. Wajahnya memerah. "Oh—Oke."

Neji kemudian berpaling pada tiga yang lain, menyapa mereka semua dengan ramah. Naruto dan Sai membalas sapaannya santai, sementara Sasuke terihat agak kaku. Giginya terkatup rapat dan hanya gerutuan tidak jelas yang keluar dari bibirnya. Namun Neji sepertinya tidak begitu memperhatikan, karena saat itu MC sedang mengumumkan mereka akan segera melakukan hitung mundur.

Sebuah billboard elektronik berukuran raksasa yang memang terpasang di salah satu sisi lapangan Konoha City Square itu menampilkan sebuah jam digital yang bergerak mundur menghitung waktu yang tersisa di tahun ini. Semua orang mulai menghitung mundur, dipandu dengan sang MC di atas panggung.

"Sepuluh… Sembilan… Delapan…"

"Aaah… Sial! Kita tidak punya terompet!"

"Aku ada! Aku ada!" Sakura buru-buru mengeluarkan terompel kertas berukuran kecil dari balik mantelnya, mengulurkannya pada Naruto. "Kau saja yang tiup."

"Lima… Empat… Tiga… Dua…"

Pssiuuu… TAR! TAR!

"HAPPY NEW YEAR!!"

Lapangan itu langsung meledak oleh sorakan dan suara terompet yang dibunyikan bersahut-sahutan. Juga suara kembang api yang meletus di udara, membuat langit malam yang hitam dipenuhi percikan api berbagai warna dan formasi. Orang-orang saling mengucapkan selamat tahun baru di bawah siraman cahaya kembang api. Suasana benar-benar riuh rendah.

"Selamat tahun baru, Neji," ucap Sakura pada cowok bermata lavender di sebelahnya. Awalnya ia sempat ragu, namun kemudian memutuskan untuk nekat saja menyentuh tangan cowok itu.

Neji menoleh padanya dan mata keduanya bertemu. Sakura bisa melihat pantulan cahaya kembang api di bola mata lavender yang bening itu. Hatinya seakan meledak dalam kebahagiaan saat merasakan tangan Neji balas menggenggam tangannya lembut.

"Selamat tahun baru, Sakura."

Keduanya lantas bertukar senyum, sama sekali tidak menyadari sepasang mata yang memandang mereka dengan tatapan… terluka.

"SELAMAT TAHUN BARU!!!" seruan Naruto seketika membuyarkan momen itu. Ia meniup terompetnya keras-keras.

Sakura tertawa dan berpaling untuk mengucapkan selamat tahun baru pada ketiga sahabatnya.

"Misi pertama untuk tahun ini; membawa Sasuke Uchiha ke puncak tahta ketua organisasi sekolah di Konoha High School!! YEAAAH!!!"

"Berisik, Naruto!!"

Tapi tak ada yang menghiraukan protes Sasuke. Sakura dan Sai ikut bersorak mendukung. Bahkan Neji ikut menyerukan dukungannya.

Sasuke tidak tahu apakah harus senang atau sebal dengan ini semua.

-

-

Beberapa saat setelah acara kembang api selesai, Neji mengantar Sakura pulang sesuai janjinya. Mereka berjalan ke lapangan parkir tempat mobil Neji diparkir sambil bergandengan tangan.

"Sejak kapan mereka jadi mesra begitu?"

Naruto dan Sai memutar-mutar bola mata mereka, lalu tertawa.

-

-

Suara musik instrumen Bounce milik Timbaland terdengar memenuhi kamar luas beratap tinggi itu. Sosok berambut gelap berantakan yang sejak tadi terbaring tengkurap di bawah selimutnya yang hangat mulai bergerak. Kerutan samar muncul di antara kedua alisnya sementara matanya masih terpejam, jelas sangat terganggu dengan bunyi-bunyian yang masih terus berlanjut itu. Semakin lama semakin kencang.

Sai –sosok itu—mengeluarkan suara erangan pelan yang teredam bantal. Tanpa membuka matanya, ia mengulurkan tangannya, menggapai-gapai ke arah meja di samping ranjang. Matanya yang terkatup perlahan membuka saat tangannya menemukan ponsel di atas meja.

'Siapa sih yang menelepon pagi-pagi buta begini?' pikirnya jengkel seraya membawa ponselnya ke depan wajahnya yang mengantuk.

Mata sayu itu melebar. Rupanya sekarang bukan pagi lagi, melainkan sudah tengah hari dan bukan orang yang menelepon yang menyebabkan ponselnya meraung nyaring, melainkan bertumpuk email yang baru masuk ke mailbox ponselnya.

Malas-malasan, Sai mulai memeriksa satu per satu email-email itu. Berderet ucapan selamat tahun baru dari nomor yang ia tidak kenal, dari kakeknya yang sedang berada di luar kota, dari Gaara dan beberapa teman dari KAA, dari Sakura dan… Sai menegakkan dirinya begitu mendadak saat membaca nama kontak yang tertera di salah satu pesan di sana; Nona Cantik.

Ino…

"SELAMAT TAHUN BARU, SAI!! Semoga tahun ini jauh lebih baik dari yang kemarin. SEMANGAT!! Btw, semalam kau tahun baruan di mana? Semalam KCS meriah sekali. Bazar dan pesta kembang apinya benar-benar spektakuler. Sayang sekali kita tidak bisa merayakannya bersama, ya…"

Ino menyertakan foto kembang api hasil jepretan kamera ponsel di email -nya.

Sai tersenyum lebar –sangat lebar sampai akhirnya ia tertawa. Email singkat itu membuat hatinya melambung tinggi sampai-sampai tidak memedulikan fakta bahwa Ino sudah dimiliki oleh pemuda lain. Sepertinya ungkapan 'cinta itu buta' benar adanya.

Tanpa berlama-lama, Sai segera membalas pesan singkat itu.

"Selamat tahun baru juga, Nona Cantik... Bisakah kita bertemu sore ini?"

-

-

Cuaca hari pertama di tahun ini terbilang sangat cerah. Langit bersih tanpa segumpal awan pun yang menghalangi cahaya matahari yang hangat sampai ke bumi. Hari terhangat sepanjang musim dingin ini, pikir Sakura.

Gadis itu duduk di sisi jendela kamarnya, menatap anak-anak kecil yang sedang bermain dengan sisa salju di luar. Tangannya memegangi ponsel di telinganya dan bibirnya sibuk mengoceh penuh semangat pada lawan bicaranya di seberang. Semua yang dialaminya semalam kembali diputar dalam sesi obrolan panjang sesama gadis yang diselingi banyak tawa sepanjang pagi itu. Setelah mendengarkan cerita Ino tentang kencannya semalam, kini tiba giliran gadis berambut merah muda itu.

Sakura berusaha tidak melewatkan apa pun. Gadis itu menceritakan semuanya, bahkan sampai detil-detil terkecil sekali pun. Dan pendengar yang begitu antusias membuatnya semakin bersemangat.

"…dan akhirnya dia mengantarku pulang. Dan kau tahu, Ino, DIA MENGGANDENG TANGANKU SAAT MEMBAWAKU KE MOBILNYA!!"

Terdengar suara pekikan girang dari seberang. "Terus, terus? Apa dia mengatakan dia menyukaimu setelah itu? Atau mungkin kalian malah… kissing?"

"Hell no!! Ino, tidak sejauh itu!" bantah Sakura segera, setengah tertawa. Wajahnya merah padam. "Dia hanya mengantarku pulang. Kami mengobrol sedikit tentang pesta kembang api selama perjalanan dan dia memberitahuku kalau dia sangat senang."

Ino mengeluarkan suara kecewa. "Kukira lebih dari itu –maksudku, setelah kalian berdua bergandengan tangan, masa sih tidak ada apa-apa lagi? Setidaknya 'aku suka padamu' pasti akan terucap, kan?"

Sakura tertawa kecil. "Kau tahu, Ino. Seharusnya yang kecewa di sini adalah aku, bukan kau."

"Yeah, yeah…" Sakura membayangkan Ino memutar bola matanya di seberang. "Kau terlalu cepat puas, Sakura."

Sakura menghela napasnya perlahan. Jemarinya memainkan ujung-ujung rambutnya yang digerai lepas. "Entahlah, Ino. Aku merasa ini bukan saatnya. Seperti ada ganjalan."

"Ganjalan apa lagi, sih? Jelas-jelas jalan kalian begitu mulus seperti jalan bebas hambatan! Suami-suamimu juga sudah mendukung, kan?"

"Kurasa begitu…" Sakura menjawab agak ragu. Naruto dan Sai memang mendukungnya, tapi Sasuke... Sebenarnya Sakura tidak ingin terlalu memikirkannya, tapi mau tidak mau ini sedikit mengganggunya juga dan membuatnya bingung kadang-kadang. Sakura merasa sikap Sasuke agak lain setiap kali mereka menyinggung soal Neji atau bertemu muka dengannya. Sinis, ketus, pokoknya tidak menyenangkan. Sakura tidak mengerti apakah ada masalah antara dua cowok itu atau bagaimana, tapi sejauh ini sikap Neji biasa saja terhadap Sasuke, bahkan cenderung ramah.

Selama ini Sakura berpura-pura tidak memperhatikannya dan tidak pernah menyinggungnya di depan Sasuke. Ia sangat mengenal cowok itu. Disinggung pun Sasuke pasti akan mengelak, jadi tidak akan ada gunanya bertanya langsung. Bisa-bisa Sasuke malah marah dan Sakura tidak ingin memulai pertengkaran yang tidak perlu. Gadis itu hanya berharap sikap Sasuke itu hanya sementara saja, dan kalau memang ada masalah antara Neji dan Sasuke, mudah-mudahan masalah itu cepat selesai. Sangat tidak mengenakkan rasanya kalau cowok yang kita taksir bermusuhan dengan sahabat karib sendiri, kan?

Dan bukan hanya itu saja yang membuatnya ragu.

Mantan kekasih Neji, Yakumo Kurama, yang juga seniornya di klub teater, tampaknya semakin lama semakin memacangkan matanya pada dirinya, membuatnya jengah dan tidak enak. Sakura setengah yakin gadis itu masih ada hati pada Neji dan tidak rela ada gadis lain yang dekat dengan cowok itu.

Dan Neji... Sejujurnya Sakura masih ragu dengan perasaan Neji terhadapnya. Kadang ia merasa yakin kalau Neji juga merasakan hal yang sama terhadapnya, dengan perlakuan cowok itu padanya, membuat Sakura merasa istimewa. Tapi di lain waktu perasaan itu justru terasa mengambang dan Neji tidak pernah sekali pun mengungkit-ungkit soal apa yang dirasakannya terhadap Sakura, termasuk saat cowok itu menggandeng tangannya tadi malam. Setiap kali berada di dekat Neji, Sakura merasa terombang-ambing dalam ketidakpastian. Tidak jelas ke mana arahnya hubungan mereka.

Intinya… jalannya tidak semulus yang Ino kira.

"Sakura… Kita berangkat sekarang, Sayang!" terdengar suara Azami dari luar pintu kamar.

"Iya, Bu… Sebentar lagi!" sahut Sakura. Gadis itu beranjak dari posisi duduknya. "Ino, sudah dulu, ya. Aku harus pergi sekarang. Biasa, aku dan ibuku akan ziarah ke makam ayah dan kakak. Setelah itu kami ke restoran. Kau mau ke sana juga?"

"Oh, kurasa hari ini tidak. Aku ada janji dengan Sai nanti sore."

Gerakan Sakura yang hendak mengambil sikat rambut di meja rias serta merta terhenti. Alisnya naik. "Janji dengan Sai?" tanyanya seakan tidak yakin dengan apa yang baru didengarnya tadi.

"Er… ya…" Hanya perasaannya saja ataukah suara Ino memang terdengar salah tingkah? "Ah, ibuku memanggil! Aku harus pergi, Sakura. Daah…"

"Tunggu dulu, I—" Tapi Ino sudah keburu memutuskan sambungan. "—no…"

Sakura menurunkan ponselnya, menghela napas perlahan. Digigitnya bibir bawahnya. Entah mengapa kedekatan Ino dan Sai membuat hatinya tidak tenang, tidak peduli Ino selalu meyakinkannya kalau mereka hanya berteman. Mungkin ia tidak akan merasa segusar itu andai saja Sai tidak menyimpan perasaan yang lebih mendalam dibanding sekedar pertemanan terhadap Ino. Tapi kenyataannya tidak, kan? Sai bahkan sudah mengakui kalau ia menyukai Ino, yang notabene sudah memiliki cowok lain yang menjadi kekasihnya. Dan siapa yang bisa menjamin pendirian Ino-yang-hanya-ingin-berteman-dengan-Sai tidak akan berubah?

Bagaimana kalau terjadi apa-apa? Bagaimana kalau Idate sampai tahu? –Ino pernah memberitahunya kalau Idate sangat pencemburu dan ia juga belum lupa mereka pernah bertengkar hebat gara-gara Ino terlalu kerap dikelilingi cowok-cowok di band, yang kemudian berakhir dengan pengunduran diri Ino dari band itu.

Oh, tidak… Mudah-mudahan mereka tidak nekat bermain api…

"Sakura!"

Suara Azami yang memanggilnya membuyarkan lamunan gadis itu.

"Aku segera turun, Bu!"

Sakura buru-buru menjejalkan ponsel ke dalam saku jeans-nya, memeriksa bayangannya sekilas di dalam cermin rias sebelum menyambar mantel dan tasnya dari atas tempat tidur, dan kemudian bergegas turun menyusul ibunya.

-

-

Sai mengira semuanya akan berjalan sempurna hari ini. Ino sudah setuju untuk bertemu dengannya siang ini di Green Leaves Coffee, dan ia membayangkan akan melewatkan hari pertama tahun ini dengan gadis itu, mungkin juga... mengungkapkan perasaan yang selama ini dipendamnya, membuatnya gelisah, tidak enak makan, tidak bisa tidur, yang anehnya malah membawa segudang inspirasi untuknya.

Sekali lagi, Sai tidak peduli Ino sudah memiliki kekasih. Ia benar-benar tidak peduli pada Idate.

Masa bodoh.

Tapi... ia benar-benar tidak bisa mengabaikan yang ini.

Seketika khayalan indahnya buyar, hancur berantakan. Dadanya sesak luar biasa, lebih sesak daripada saat menyadari bahwa perasaannya terhadap Ino nyaris tidak mungkin.

Siang itu Sai sedang berada di studionya, melepas kain kanvas salah satu lukisannya yang baru diselesaikannya beberapa hari yang lalu dari penahannya. Lukisan seorang gadis cantik berambut pirang. Sore ini ia berencana akan menghadiahkannya pada sang model, berharap ia akan senang menerimanya.

Tentu saja ia akan senang, pikir Sai. Selama ini Ino selalu berkata ia sangat menyukai gambar-gambar yang dibuatnya dan berharap Sai bisa melukisnya kapan-kapan. Membayangkan reaksi gadis itu membuatnya tidak bisa menahan senyumnya.

Sembari bersenandung kecil, Sai mulai menggulung kanvasnya dengan hati-hati dan membungkusnya.

Setelah mengikatkan tali pembungkusnya, Sai meletakkan gulungan itu di atas meja di sebelah notebook -nya yang belum diambilnya sejak mengerjakan desain untuk panggung drama bersama Sasuke dan Naruto beberapa hari yang lalu. Awalnya ia berencana membuat desain lagi untuk poster kampanye Sasuke sementara menunggu sore, namun kotak di sudut itu menarik perhatiannya. Kotak barang-barang milik mendiang kakaknya.

Sai sudah melihat kotak yang satunya, yang berisi lukisan-lukisannya. Tapi yang itu... Sai sama sekali belum menyentuhnya. Mau tak mau, ia penasaran juga.

Tidak seperti kotak –atau bisa dibilang, peti—yang satunya yang terbuka di bagian atas, kotaknya tertutup, lengkap dengan gerendel yang menahan setiap sisi tutupnya. Meski begitu, kotak itu tidak terkunci. Dibukanya satu per satu gerendelnya, kemudian membukanya perlahan, mengintip isinya dengan penasaran.

Di dalamnya ada bermacam-macam barang. Pigura-pigura foto, piala, piagam penghargaan, buku-buku, termasuk beberapa buku sketsa lama dan beberapa set peralatan melukis lengkap yang sepertinya sudah berkali-kali dipakai, semuanya campur aduk di dalamnya. Semuanya terlihat seperti barang-barang biasa kecuali satu. Sai barangkali tidak akan memperhatikannya juga kalau saja bentuknya tidak menarik. Sebuah kotak kayu berpelitur dengan ukiran bunga lili yang cantik, seperti sebuah kotak musik di cerita-cerita klasik yang pernah dibacanya. Tapi ini sama sekali bukan kotak musik. Tidak ada alunan alunan musik dan boneka balerina yang berputar-putar saat ia membuka kotak yang cukup berat itu. Hanya ada beberapa lembar kertas pesan, foto-foto lama, sebuah kotak beludru biru dan sebuah buku jurnal bersampul kulit berwarna cokelat tua.

Sai mengambil foto-fotonya terlebih dulu. Ia tak bisa menahan senyum melihat foto-foto lama itu. Beberapa lembar menampilkan dirinya yang masih kecil bersama Shin, kemudian foto mereka dalam balutan seragam KAA yang diambil di depan gedung sekolah seni itu. Ada juga foto-foto Shin bersama teman-temannya di sekolah, foto-fotonya di festival yang kerap ia didatangi, foto saat showcase, bahkan ada juga foto pelayan-pelayan mereka yang sedang makan di dapur –tampang mereka yang panik benar-benar terlihat lucu. Sampai akhirnya Sai menemukan satu foto terakhir. Dahinya berkerut tipis. Ia mengenali latar foto itu.

Lapangan samping Konoha High, tempatnya bersekolah sekarang. Tampak dalam foto itu, sekelompok anak-anak berseragam klub cheerleader yang sedang berlatih.

Ah, Sai baru saja teringat. Bukankah Sang Bidadari Shin itu juga bersekolah di sekolah yang sama dengannya sekarang? Didekatkannya foto itu di depan matanya untuk melihat lebih jelas. Siapa tahu ia mendapatkan petunjuk lain soal gadis misterius itu. Tapi wajah-wajah di sana tampak blur, tidak jelas karena terlalu jauh. Ada beberapa sosok dengan rambut pirang di sana. Tapi dengan gambar buram seperti itu, Sai tidak bisa menebak yang mana gadis itu.

Menghela napas tak puar, ia lalu meletakkan kembali tumpukan foto itu di tempatnya semula dan mengambil kotak beludru biru. Napasnya seakan tercekat saat melihat apa yang terdapat di dalamnya; seuntai kalung yang terbuat dari emas putih, dengan liontin berbentuk kristal salju terbuat dari batu saphire yang berkilauan menggantung di rantai itu. Indah sekali...

Itu... kalung yang sama seperti yang ada di lukisan Sang Bidadari.

Matanya kini tertumbuk pada buku jurnal Shin. Entah mengapa jantungnya berdegup kian kencang saat tangannya meraih buku itu. Tangannya mulai berkeringat. Dibukanya lembar demi lembar buku lama itu. Tintanya sudah agak mengabur. Shin pasti sudah lama sekali menulis di buku ini, pikirnya. Awalnya hanya catatan harian biasa, daftar PR, janji dengan dokter dan semacamnya. Sampai ia mencapai bagian tengah buku itu.

Setangkai mawar yang sudah mengering terselip di sela-sela halamannya. Sai menggeser tangkai rapuh itu supaya bisa membaca tulisan di bawahnya.

"... February 14 XXXX,

...Alamanda Avenue... Di bawah siraman cahaya matahari yang cerah, di antara kerumunan orang-orang, parade merah muda, aku melihatnya. Setangkai mawar putih ia tawarkan sebagai permintaan maaf. Tapi bagiku, itu adalah sebuah pertanda..."

Mawar putih... Alamanda Avenue...

Ini pastilah saat-saat Shin pertama kali bertemu dengan sang gadis misterius, pikir Sai. Dibukanya lagi halaman-halaman lain. Dan ia menemukan catatan yang lain.

"...Bertemu lagi. Kali ini sosoknya tampak berkilau di atas panggung mungil, membuat yang lain tampak tak berarti. Mengapa aku tidak bisa berhenti tersenyum mendengar jernih suaranya? Jariku tidak bisa diam..."

"...Sosoknya identik dengan bunga. Cantik..."

"...Siapa namamu, wahai pemilik mata sebiru batu saphire? Bisakah aku menyentuh tanganmu sekali saja? Bukan hanya memandang dari kejauhan seperti orang tolol..."

"...Kau bilang permainanku sangat indah. Tahukah kau kalau melodi itu mewakili perasaanku padamu?"

"...Penantian... Sepertinya aku hanya bisa menanti selamanya... Aku tidak terima! Benar-benar tidak terima!! Aku ingin hidup seribu tahun lagi, bukan hanya sebulan..."

"...Jangan tanya siapa aku dan jangan lihat aku, Nona. Aku hanyalah orang yang sebentar lagi akan mati. Jangan membuatku semakin marah pada Tuhan..."

Kemudian halaman berikutnya... hanya berisi satu baris yang benar-benar pendek, namun berdampak sangat besar bagi Sai saat ia membacanya. Hatinya mencelos.

"Aku mencintaimu, Ino Yamanaka... Maafkan aku..."

Buku itu nyaris tergelincir jatuh dari tangannya yang gemetar. Sai menghenyakkan dirinya di kursi berlengan sementara perasaannya kacau bukan main, dibiarkannya saja buku itu tergeletak terbuka di pangkuannya. Sai memekapkan tangan ke wajahnya, berusaha menahan rasa sakit yang tak bisa dijelaskan yang mendadak menyerangnya. Dadanya sesak. Sesak sekali...

Ino...

'Bagaimana ini? Ternyata Sang Bidadari adalah Ino. Dari sekian banyak gadis... mengapa harus dia? Apa yang harus aku lakukan sekarang? Bagaimana bisa aku dan kakak jatuh cinta pada gadis yang sama?'

Buku itu akhirnya merosot jatuh ke lantai, terbuka pada halaman terakhir, dimana tanggalnya adalah dua hari sebelum Shin menghembuskan napasnya yang terakhir...

'Kalau saja masih ada waktu yang tersisa untukku, aku ingin mengatakan semuanya padanya. Mengapa penyesalan harus selalu datang belakangan?

Ino... Ini aku, Shin. Dan aku sangat mencintaimu...'

Selembar foto yang terselip di halaman itu terlepas, menampakkan seraut wajah penuh tawa seorang gadis cantik berambut pirang terang yang tengah memegang pom-pom berwarna biru. Dia Ino.

-

-

Sakura merapatkan mantelnya saat melangkahkan kaki ke taman pemakaman di pinggiran kota Konoha itu. Udaranya terasa lebih dingin di sana. Gadis itu berhenti sejenak, menjelajahi setiap sudut taman yang luas itu dengan mata zamrudnya, sejenak memperhatikan beberapa orang yang sedang menziarahi makam kerabat mereka. Gadis itu berjengit kaget ketika ia menoleh ke arah lain dan melihat sosok bongkok di dekat pondok penjaga makam menatapnya galak.

Lebih kaget lagi ketika melihat pria tua itu menyeringai padanya, menampakkan gigi-giginya yang kuning, sebelum berbalik dan masuk ke pondoknya. Tampaknya si penjaga makam tua itu belum lupa dengan insiden tempo hari di makam itu, dan Sakura juga jelas tidak lupa. Bergidik, Sakura lalu buru-buru menyusul ibunya yang sudah masuk terlebih dahulu.

Sakura berhenti di sebuah pusara batu di dekat patung malaikat –yang paling dekat dengan pintu gerbang. Azami sudah duduk bersimpuh di depan nisan batu berukirkan nama Himeko Haruno, putri pertamanya, dengan kedua tangan saling mengatup di depan dada dan mata terpejam. Pusara yang sudah agak lama itu terlihat bersih dan ada bunga lain selain lili putih yang dibawa Azami di sana, setangkai mawar merah yang masih segar. Sepertinya sudah ada yang mendahului mereka menunjungi makam itu.

Pasti Yamato, pikir Sakura sambil ikut berlutut di sebelah ibunya. Gadis itu mengatupkan kedua tangannya di depan dada dan mulai berdoa untuk mendiang kakak perempuannya setelah sebelumnya meletakkan dua tangkai anyelir putih yang dibawanya di sebelah bunga-bunga lain.

Tak lama, keduanya beranjak dari sana, menuju makam Hiroyuki Haruno yang letaknya lebih ke dalam.

"Ayah, ini Sakura dan Ibu datang," ucap Sakura perlahan di depan nisan batu ayahnya. Seperti di makam Himeko, beberapa tangkai bunga sudah diletakkan di depan pusara itu.

"Selamat tahun baru, Hiro..." Sakura mendengar ibunya berkata lirih seraya mengusap lembut ukiran nama suaminya. Suara wanita paruh baya itu sedikit tercekat saat ia melanjutkan, "Ini tahun baru pertama kami tanpa dirimu. Kami sangat merindukanmu..."

Dari sudut matanya, Sakura bisa melihat wajah ibunya sudah basah oleh bening yang mengalir dari bola mata zamrudnya. Gadis itu mengulurkan tangannya, merengkuh bahu ibunya lembut dan menggosok-gosok lengannya.

"Sakura juga sangat merindukan Ayah..."

Kedua wanita itu berada di sana agak lama, memanjatkan doa dengan khusyuk untuk arwah suami dan ayah mereka. Semilir angin musim dingin berhembus perlahan sementara mereka berdoa, membawa aroma dupa entah dari mana. Aroma harum itu membawa Sakura kembali ke masa ketika mereka memakamkan sang ayah. Air mata mengalir perlahan di wajahnya. Rasanya baru kemarin sejak Hiroyuki berkumpul dan tertawa bersama mereka, kini pria gagah itu sudah tenang dalam tidurnya yang abadi.

Sakura mengusap wajahnya yang basah dengan sarung tangannya ketika mereka selesai berdoa.

"Kita pulang sekarang, Bu?"

Azami mengangguk, membiarkan putri tunggalnya itu menuntunnya berdiri dan meninggalkan tempat itu.

Mereka sudah hampir mencapai pintu gerbang taman pemakaman itu ketika mata Sakura tidak sengaja menangkap sosok yang rasanya tidak asing. Gadis itu menoleh dan memicingkan matanya untuk melihat lebih jelas. Sosok jangkung berbalut mantel hitam sedang duduk bergeming di depan salah satu makam di dekat patung malaikat, makam tepat di depan makam Himeko. Wajahnya terbenam di antara lutut sementara tangannya mencengkeram rambutnya yang hitam.

"Sai?" celetuk Sakura.

"Ada apa, Sakura?" tanya Azami ketika tiba-tiba saja Sakura berhenti.

"Ah, tidak apa-apa, Bu. Ibu duluan saja. Sakura mau menemui teman dulu," Sakura melambaikan sekilas tangannya ke arah Sai. "Nanti Sakura menyusul ke restoran."

Sejenak, Azami menatap Sai di kejauhan, lalu kembali memandang putrinya. "Baiklah. Ibu duluan, Sayang."

Sakura bergegas menghampiri Sai setelah Azami pergi. Cowok itu masih bergeming di tempatnya, sama sekali tidak mengangkat kepalanya bahkan ketika Sakura sudah berada tepat di depannya.

"Sai?" panggil Sakura hati-hati.

Sai masih tidak mengangkat wajahnya dan Sakura bisa melihat bahunya sedikit bergetar. Seperti sedang menangis, tapi tidak ada suara yang keluar. Sakura memandangnya cemas, kemudian berlutut di depannya, mengulurkan tangan menyentuh bahu cowok itu.

"Sai?" panggilnya lagi, mengguncang bahunya lembut.

Perlahan cowok itu mengangkat wajahnya, menatap kosong kedua mata Sakura dengan matanya yang hitam. Sakura balas memandangnya terkejut. Kedua mata itu tampak basah dan wajahnya yang biasanya pucat itu memerah. Rambutnya yang biasanya tersisir rapi juga terlihat berantakan di atas dahinya.

"Sakura," cowok itu membalas dengan suara parau. Sudut bibirnya terangkat sedikit, memaksakan senyum yang tak mencapai matanya. Seakan tidak sanggup tersenyum lebih lama, Sai lantas mengusapkan tangannya yang pucat ke wajahnya. "Maaf..." bisiknya.

Sakura memandangnya khawatir. "Apa yang terjadi? Kau kenapa, Sai?"

Sai tidak langsung menjawabnya. Sekali lagi ia mengangkat wajahnya, menarik napas panjang dan menghelanya perlahan-lahan, berusaha menenangkan dirinya terlebih dahulu sebelum berkata serak, "Aku baru menjenguk kakakku, aku teringat padanya." Sai kembali memaksakan senyum. "Kau sendiri, apa yang kau lakukan di sini?"

"Sama sepertimu," sahut Sakura, "Aku baru menjenguk kakak dan ayahku."

"Begitu..."

Keduanya terdiam. Sakura telah menempatkan dirinya duduk di sebelah Sai, masih memandangnya cemas. Gadis itu merasa Sai tengah menyembunyikan sesuatu. Ia tahu bagaimana Sai. Cowok itu tidak akan seperti ini hanya karena teringat kakaknya. Biasanya Sai sangat tenang. Sakura nyaris tidak pernah melihatnya kehilangan kendali diri seperti sekarang.

"Sebenarnya ada apa?" Sakura bertanya hati-hati. "Kau bukan cuma teringat kakakmu, kan?"

Sai mendengus kecil, menoleh pada gadis di sebelahnya. "Sepertinya tidak ada yang luput dari pengamatanmu, ya?"

Sakura tidak membalasnya, hanya tersenyum tipis. Ia menunggu Sai mengatakan sesuatu.

"Kau ingat aku pernah memberitahumu tentang 'Sang Bidadari'?" ujar Sai setelah beberapa saat mereka kembali terdiam. Mata kelamnya menerawang. "Lukisan ciptaan Shin yang dipajang di geleri KAA, kau pernah melihatnya dulu. Kau ingat?"

Dan ingatan tentang sebuah lukisan sesosok perempuan cantik yang dilihatnya saat mengunjungi sekolah seni itu kembali di otaknya. Lukisan yang katanya adalah gambaran dari gadis yang sangat dicintai kakak Sai, juga yang menjadi alasan Sai pindah ke Konoha High.

"Ya," jawab Sakura, bertanya-tanya kemana arah pembicaraan mereka ini.

"Aku sudah menemukan gadis itu."

Bola mata Sakura melebar. "Benarkah? Di mana?"

Sai kembali menoleh ke arahnya. "Selama ini dia tidak pernah jauh dariku, Sakura. Dia sudah sedemikian dekat, tapi aku tidak menyadarinya –Tidak. Aku memang menyadari kemiripan mereka, tapi aku menyangkalnya selama ini." Ia terdiam sejenak. "Dia... Ino Yamanaka."

"Ino?"

Sai mengangguk. "Dia..."

Ingatan itu kembali berputar dalam kepala Sakura sekali lagi. Tentang cowok misterius yang kerap mereka sebut sebagai secret admirer Ino, yang juga cowok yang membuatnya jatuh hati beberapa waktu silam. Cowok yang sama, yang juga telah mematahkan hatinya dengan tiba-tiba menghilang begitu saja. Tidak pernah menampakkan dirinya lagi, padahal Ino sudah menaruh harapan besar padanya.

"Jadi cowok itu... kakakmu?"

Sai merogoh ke bagian dalam mantelnya, mengeluarkan sebuah buku jurnal bersampul kulit. Diulurkannya buku itu dan Sakura meraihnya. "Semuanya ada di sana," ujarnya sementara Sakura mulai membuka lembar demi lembar buku lama itu.

"Sai... ini..." Sakura tidak tahu harus berkata apa. Isi buku itu benar-benar cocok dengan apa yang terjadi beberapa waktu lalu pada Ino dan cowok misterius yang ternyata adalah kakak Sai.

"Sekarang aku harus bagaimana, Sakura?" tanya Sai, terdengar mulai putus asa.

Sakura menghela napasnya. Ditatapnya Sai dalam-dalam, tidak yakin apa yang dirasakannya sekarang. Ia juga bingung dan tidak habis pikir. Menurutnya ini tidak akan mengubah apa pun, karena Ino sudah memilih pemuda lain. Bagaimana mungkin ia mengabaikan Idate, sementara Shin yang sudah meninggal...?

Kalau saja ia bisa bersikap jujur, Sakura membatin. Tapi ia tidak tega pada Sai. Setidaknya sekarang, gadis itu benar-benar tidak sampai hati mengatakan itu.

-

-

Gadis itu sudah di sana ketika ia tiba di sana. Duduk di meja yang sama seperti yang selalu mereka tempati setiap kali bertemu diam-diam di tempat itu. Satu tangannya memainkan cangkir cokelat panas yang sudah separuh diminum di atas meja, sementara yang sebelah lagi menopang dagunya. Mata birunya memandang kosong grand piano tidak jauh dari mejanya, tampak agak bosan.

Sai menatapnya dari kejauhan, dari balik pintu kaca coffee shop itu. Lama ia hanya berdiri di sana, ragu untuk melangkah ke dalam. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukannya –atau dikatakannya—saat berhadapan dengan gadis itu.

Apa ia harus mengatakan segalanya tentang Shin? Menyampaikan perasaan mendiang kakaknya itu pada gadis yang dicintainya. Sementara sebagian dirinya yang lain tidak ingin mengatakannya. Itu sudah menjadi masa lalu mereka, dan tidak ada artinya diungkit-ungkit lagi. Jadi biarkan saja kenangan itu terkubur bersama jasad Shin.

Tapi bagaimana dengan kakaknya itu?

Semakin dipikirkan, semakin Sai merasa bersalah pada Shin.

Apa aku adik yang tidak tahu diri, Kak? Menginginkan dia… dan menghiraukanmu?

"Tuan?" seorang pelayan menegurnya, membuat perhatiannya teralih. "Anda mau masuk atau—"

"Ya," sahut Sai agak bingung, "Maaf."

Dengan perasaan yang masih tidak karuan, Sai melangkah masuk melewati pintu yang dibukakan oleh pelayan itu. Aroma kopi yang sudah sangat familier dan alunan musik jazz langsung menyambutnya. Sai berusaha menenangkan dirinya, memaksakan seulas senyum saat mendekati meja tempatnya duduk.

"Hai," ia menyapa gadis itu.

Ino menoleh padanya, memasang tampang cemberut. "Kau terlambat, Sai," katanya mencela.

"Maaf…"

Gadis itu mengerutkan keningnya, merasa cowok di depannya itu agak berbeda dengan Sai yang biasanya. Kemana senyumnya yang biasa? Yang selalu terlihat sangat menyenangkan jika dipandang? Mengapa ia bertampang seperti itu? Seperti baru saja mendatangi pemakaman seseorang…

"Kau kenapa, sih?" Ino menanyainya. Matanya menjelajahi rambut hitam Sai yang awut-awutan, lalu kemejanya di balik mantelnya yang tidak rapi. Gadis itu kemudian beranjak, mulai membantunya merapikan kerah kemejanya yang berdiri. "Kenapa berantakan seperti ini, sih? Ganti style,hm? Tapi aku suka rambutmu seperti itu," tambahnya sambil tersenyum. "Kelihatan lebih urakan. Macho."

Sai hanya menatapnya beberapa saat, kemudian mengulurkan setangkai mawar putih yang disembunyikannya di balik punggung pada Ino. Gadis itu mengangkat alisnya, bingung. Kendati demikian, ia tetap mengambil mawar yang diulurkan padanya.

"Maafkan aku," ucap Sai.

"Eh?"

Mata Ino membulat terkejut saat tiba-tiba saja Sai menariknya dan memeluknya.

"Maafkan aku," cowok itu mengulangi dalam bisikan.

"S-Sai…?" Ino hendak melepaskan diri, tapi cowok itu semakin mempererat pelukannya. Sama sekali tidak menghiraukan padangan orang-orang yang ada di sana, juga bisik-bisik dan kikikan yang mulai terdengar. Gadis itu merasakan wajahnya mulai memanas dan jantungnya berdebar-debar tak karuan.

Agak lama mereka dalam posisi seperti itu.

"Maaf… karena aku datang terlambat…"

Kakak… sesekali egois, tidak apa-apa, kan?

-

-

'…Setangkai mawar putih dia tawarkan sebagai permintaan maaf. Tapi bagiku, itu adalah sebuah pertanda…'

-

-

"SASUKE!!" Telunjuk gadis berambut merah muda itu menuding ke arah seorang cowok berambut gelap-mencuat-di-bagian-belakang saat si cowok menampakkan dirinya di depan Blossoms Café sore itu.

"Cih! Berisik!" dengus Sasuke sambil memutar bola matanya. Ia melangkah masuk, membalas sapaan Isaribi yang lewat membawa senampan ramen. "Pelangganmu akan kabur kalau kau menyapa mereka seperti itu, pinky!"

Sakura mengerutkan dahinya. "Sejak kapan kau memanggilku 'pinky'?"

Sasuke tidak menggubrisnya. "Naruto kemari, tidak?" tanyanya seraya mengedarkan pandangan ke segala jurusan, barangkali berharap menemukan kepala pirang jabrik itu di antara pengunjung –atau pelayan.

"Tidak," Sakura menukas, cemberut, "Dia bilang, dia ada perlu di tempat Shikamaru. Lagipula ngapain kau mencari Naruto di sini? Kau kan bisa langsung meneleponnya!"

"A-Aku…" Semburat kemerahan samar muncul di wajah tampan Uchiha muda itu. Hanya sekilas, sebelum kembali pucat dan dingin. "Aku ingin makan ramen miso," lanjutnya tidak nyambung. Menghindari tatapan bingung Sakura, cowok itu buru-buru melengos menuju salah satu meja kosong di dekat jendela.

Sakura mendengus tertawa. "Dasar… Ah, Kak Arashi, tolong ramen miso dua dong. Ke meja lima, ya…"

Arashi Fuuma yang baru akan ke dapur untuk mengantar catatan pesanan, menyahut, "Oke!"

Sakura lantas bergegas menyusul Sasuke. "Kukira kau tidak akan kemari," katanya sambil duduk di bangku seberang Sasuke. "Tadi pagi aku menelepon ke rumahmu, tapi Kak Itachi bilang kau masih tidur dan katanya mungkin kau tidak akan bangun seharian." Tampangnya geli. "Katanya tidurmu seperti kena kutukan tidur seribu tahun." Gadis itu mengikik. "Kakakmu lucu sekali ya orangnya."

"Yeah. Benar-benar kocak sampai membuat perutku sakit," sahut Sasuke judes.

"Jangan bicara begitu. Kak Itachi kan baik dan sayang padamu. Dia juga cakep," kata Sakura ceria.

"Hn." Sasuke menghela napas bosan. "Masalahnya aku kemari bukan untuk membicarakan orang itu."

"Lalu?" Sakura mengangkat alisnya.

"Aku mencari Naruto."

Alis Sakura semakin tinggi, sampai-sampai menghilang di bawah poninya. Lalu gadis itu mendengus, "Kau ini bagaimana sih? Yang benar yang mana? Mencari Naruto atau makan ramen?"

"Tch!" Sasuke membuang muka. Dalam hati mengutuki kebodohannya sendiri. Mengapa setiap kali berhadapan dengan gadis ini, ia memiliki kecenderungan bersikap seperti orang tolol seperti ini, sih? "Oke. Aku kemari mencarimu. Puas?"

"Oh ya? Wah, ternyata cowok paling populer seantero sekolah ini mencariku. Aku benar-benar terharu," kata Sakura sambil nyengir. "Memangnya ada perlu apa?"

Kali ini Sasuke benar-benar kelabakan. Ia buru-buru memutar otak, berusaha mencari alasan yang cukup logis yang membuatnya tiba-tiba menampakkan batang hidungnya di depan gadis itu.

"Jadi kau sudah lupa, eh?" kata Sasuke dengan nada agak terlalu tinggi, membuat Sakura melebarkan mata karena terkejut, "Kau, dan Naruto, dan Sai. Kalian bertiga! Katanya kalian akan menjadi tim suksesku di pemilihan ketua OSIS nanti. Tapi sampai sekarang kalian masih belum bergerak juga! Apanya yang tim sukses? Besok kita sudah mulai masuk, tahu!"

Sakura menatapnya, tercengang Sasuke bisa mengomel panjang lebar seperti itu.

"Naruto sibuk terus dengan urusannya sendiri. Sai tidak bisa dihubungi. Dan kau…" Sasuke menelan ludahnya, dan tanpa bisa menahan diri lagi, ia berteriak, "…sibuk pacaran dengan Si Hyuuga itu!"

Wajah Sakura kontan merah padam. "Aku tidak pacaran dengan Neji!" bantahnya. "Oke, sori kalau kami mengabaikanmu. Tapi tidak perlu pakai acara marah-marah begitu dong! Geez… Orang-orang jadi melihat ke arah kita!" ia menambahkan dalam desisan sebal.

Sasuke mengedarkan pandangannya dan benar saja, orang-orang sedang memandangi mereka. Ia merutuk pelan, ingin sekali rasanya membentur-benturkan kepalanya ke atas meja kayu itu. Bukan hanya karena malu, tapi ia juga berbohong soal Naruto dan Sai. Dua hari yang lalu mereka berdua sudah membantunya membuat pamphlet berisi 'apa yang akan kulakukan kalau aku terpilih' untuk kampanye sembari membuat latar panggung drama. Entah apa reaksi dua cowok itu kalau tahu Sasuke berkata begitu di depan Sakura.

Tapi sepertinya wajah kusut Sasuke diartikan lain oleh Sakura. Gadis itu melempar tatapan minta maaf padanya.

"Baiklah, Sasuke. Aku benar-benar minta maaf, oke? Sekarang apa yang bisa kubantu—er… bagaimana kalau membuat visi misi? Program-program?"

Itu juga sudah termasuk di dalamnya.

"Aku sudah memikirkannya," gerutunya.

"Oke…" Sakura tampak berpikir, meletakkan jari di dagunya dan keningnya berkerut. "Bagaimana kalau kita mulai buat pamphlet? Um… Aku tahu tempat yang bagus untuk membuat yang seperti itu di kota. Kau punya foto, kan?"

Sasuke ragu-ragu sejenak. Sudah kepalang basah, pikirnya. Ia lantas mengeluarkan dompetnya dan mengambil pas foto dari dalamnya. Sakura mengambil foto itu, dan tanpa diduga gadis itu malah mengikik.

"Ada yang lucu?" tukas Sasuke tersinggung.

Sakura menutup mulutnya dengan tangan untuk menahan kikikannya. "Ada foto yang lain tidak?"

"Cuma ini. Semua fotoku ada di Oto."

Sakura memutar bola matanya. "Tapi foto ini terlalu… apa, ya? Mukamu itu terlalu judes, tahu. Lihat! Mana ada anak yang memilihmu kalau kau bertampang masam begini?" katanya sambil menunjuk foto Sasuke yang tengah cemberut.

Oh, yeah… Kalau tidak salah Naruto juga sempat berkomentar seperti itu juga.

"Begini saja, deh. Kau foto ulang saja sekarang. Setelah itu kita buat pamphlet-nya. Bagaimana?"

"Ide bagus." Sekarang Sasuke benar-benar merasa tidak enak, tapi ia juga tidak mungkin mengakui kalau ia berbohong, kan?

"Baiklah. Itu tidak akan sulit," kata Sakura berseri-seri.

Tepat saat itu, Arashi datang ke meja mereka membawa dua mangkuk ramen miso yang mengepulkan uap hangat.

"Sekarang kita makan dulu!"

-

-

Satu jam kemudian mereka sudah berada di kota, tepatnya mereka sedang berada di depan sebuah photobox. Terjadi perdebatan kecil di antara mereka saat itu. Sakura kesal karena sudah beberapa kali mengambil foto, tapi hasilnya tidak seperti yang diharapkannya.

"Senyum sedikit kenapa sih, Sasuke?!" omelnya tak puas ketika melihat hasil-foto-entah-keberapa Sasuke tidak juga memuaskannya. "Foto lagi, sana!"

"Hell! Ini sudah ketujuh kalinya, Sakura!" Sasuke menukas jengkel. "Pakai yang itu saja kenapa, sih?"

"Ini jelek! Kau harus tersenyum, Sasuke. Ceria sedikit bisa, kan? Atau kau tidak tahu caranya tersenyum?"

"Ck!"

Sakura lalu mendorongnya masuk kembali ke dalam mesin photobox. Kali ini ia ikut masuk juga, memastikan sendiri Sasuke tersenyum dengan benar, bahkan mencontohkannya. Tercabik antara geram dan geli, Sakura menyuruh Sasuke mengeluarkan senyumannya yang paling menawan. Bahkan sampai mencubit pipinya supaya cowok itu mau mengangkat ujung bibirnya sedikit.

Tiba-tiba saja cahaya lampu blitz dari mesin itu menyala, membuat keduanya terlonjak kaget.

"Aaah… kepencet!" pekik Sakura.

-

-

"Akhirnya dapat juga foto yang bagus!"

Sakura memandang puas pada secarik foto di tangannya. Saat itu senja sudah turun, bersamaan dengan turunnya salju –tidak selebat hari-hari sebelumnya, tentu—dan kedua remaja itu sedang dalam perjalanan melintasi trotoar menuju toko pembuatan pamphlet.

"Yang ini sangat tampan," komentar gadis itu ceria seraya mengulurkan foto itu ke depan hidung Sasuke. "Lihat!"

Sasuke hanya memutar matanya. Terserahlah, pikirnya. Di sakunya, ia sudah mengantongi berlembar-lembar fotonya sendiri. Dan… —Sasuke menyeringai tipis saat Sakura sudah berbalik dan berjalan di depannya—ada fotonya berdua dengan Sakura. Pose mereka benar-benar kacau, tapi setidaknya mereka berdua di sana. Foto berdua mereka yang pertama.

"Sasuke?"

Sasuke yang saat itu sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri, perhatiannya serta merta teralih begitu mendengar suara Sakura memanggilnya. Gadis itu menoleh ke arahnya dan perubahan ekspresi di wajahnya membuat Sasuke mengerutkan kening. Mendadak saja Sakura terlihat agak muram.

"Ada apa?"

Sakura tampak menimbang-nimbangnya sejenak, sebelum bertanya, "Kalau seandainya kau suka pada gadis yang dicintai kakakmu, kau akan bagaimana?"

Sasuke mengangkat alisnya, memandang Sakura keheranan. "Itachi barangkali akan membunuhku kalau aku berani menaruh hati pada Kak Hana."

"Aku tidak bercanda!" tukas Sakura, mengerucutkan bibirnya.

"Aku juga sedang tidak bergurau, Sakura," sahut Sasuke datar.

Sakura mendecakkan lidah tidak sabar. Beberapa saat berselang mereka hanya berjalan dalam diam, dan Sasuke benar-benar tidak nyaman dengan perubahan mendadak ini. Diliriknya gadis yang sedang berjalan di sebelahnya itu. Sakura tampak sedang memikirkan sesuatu.

"Sebenarnya siapa yang sedang kau bicarakan ini?" tanya Sasuke kemudian.

Sakura menghela napasnya. Tangannya menyapu poninya yang merah muda ke samping, menyelipkan ujungnya ke belakang telinga. "Sai."

"Sai?"

Gadis itu mengangguk. Saat berikutnya ia sudah menceritakan segalanya pada Sasuke tentang Sai; tentang mendiang kakaknya dan hubungannya dengan masa lalu Ino. Juga tentang perasaan Sai pada Ino. Semuanya. Sementara Sasuke hanya mendengarkan dalam diam, dengan kedua tangan tenggelam dalam saku mantelnya.

"Well, itu sangat rumit," komentar Sasuke setelah Sakura menyudahi ceritanya.

"Benar, kan?" Sakura menghela napas lagi, membuat gumpalan-gumpalan uap hangat mengepul dari mulutnya. "Sai yang malang. Maksudku, dari awal juga dia sudah tidak punya kesempatan, kan? Tapi kelihatannya Sai tidak menghiraukan Idate, yang membuatnya berat justru kakaknya."

"Menurutku sebaiknya kau tidak terlalu campur," kata Sasuke.

Sakura menoleh cepat ke arahnya, keningnya berkerut. "Tidak ikut campur bagaimana? Mereka berdua teman-temanku dan aku tidak ingin ada di antara mereka yang sampai terluka."

"Dengan menyarankannya menjauhi Ino dan memakai mendiang kakaknya sebagai alasan? Dengan tahu kalau kakaknya juga menyukai gadis yang sama sudah begitu melukainya, ditambah harus menjauhi Ino. Kau pikir bagaimana perasaannya?"

Sakura terdiam, memikirkan kata-kata Sasuke. "Tapi… Tapi Ino sudah punya Idate. Kalau Idate tahu semuanya bakal lebih kacau."

"Makanya aku bilang kita jangan terlalu ikut campur, kan? Yang penting kau dan Naruto sudah memperingatkannya. Itu sudah cukup. Sai sudah bukan anak kecil lagi yang harus dituntun setiap saat, Sakura. Kurasa dia sudah cukup dewasa untuk bisa memutuskan mana yang baik untuk dirinya sendiri. Naruto pasti juga setuju denganku."

"Tapi bagaimana kalau dia tetap nekat?" Sakura berhenti dan sekarang ia benar-benar menatap Sasuke. Mata hijau itu menampakkan kegusaran. "Bagaimana kalau yang dia pilih salah?"

Sasuke ikut berhenti, menghela napas. "Itu resiko dia. Lagipula, tidak ada jalan yang benar-benar lurus dan tidak ada manusia yang benar-benar sempurna. Kadang-kadang, kita perlu melakukan kesalahan supaya bisa belajar. Sai juga seperti itu."

Sakura menggigit bibir bawahnya, melempar pandang kosong ke arah sebuah station wagon berwarna silver yang baru saja melintas di jalan. Sebagian dirinya setuju dengan kata-kata Sasuke, tapi sebagian yang lain sangat ingin melindungi sahabat-sahabatnya.

"Aku tahu kau sangat peduli pada Sai dan Ino, Sakura. Aku juga, Naruto juga. Tapi kita memang tidak bisa berbuat apa-apa, kan? Kita tidak punya hak mengatur kehidupan mereka."

"Yeah… Mungkin kau benar," Sakura menyahut sembari kembali memandang Sasuke. Gadis itu menyunggingkan senyum manis. "Kau tahu, Sasuke? Kau tidak seperti Sasuke yang biasanya. Bicaramu lain sekali, seperti orang dewasa. Kau jadi kelihatan sangat keren."

Sasuke merasakan panas menyebar di wajahnya begitu cepat sampai-sampai tidak bisa dicegahnya, ia tidak akan heran kalau sekarang wajahnya sudah merah padam. Dengan sok angkuh –untuk menutupi rasa malunya—Sasuke segera berpaling ke arah lain. "Jangan bicara sembarangan!"

Suara kikikan terdengar dari arah Sakura. "Huu… baru dipuji begitu langsung ge-er. Lihat tuh, mukanya sampai merah!" godanya.

"Berisik!" Sasuke bergegas berjalan mendahuluinya. Wajahnya masih panas.

Suara kikikan Sakura mengikutinya. "Sasukeee!!"

Cowok itu tidak menggubrisnya dan terus saja berjalan dengn hidung terangkat.

"Sasuke Uchiha!!" sekarang diiringi suara derap langkah Sakura yang mengejarnya. Keras kepala, Sasuke mengacuhkannya, sampai ia merasakan tangan gadis itu menangkap lengannya dan menahannya.

"Kalau kau menggodaku terus—Apa?" Sasuke menukas jengkel ketika dilihatnya Sakura malah tertawa.

"Tokonya di sana, Sasuke!" Dengan tampang geli, Sakura menunjuk salah satu toko yang baru saja mereka lewati. "Kau mau kemana?"

Sasuke pasrah saja saat Sakura mengambil tangannya dan menariknya ke toko itu. Ia sebisanya menahan diri untuk tidak meremas tangan Sakura yang menggenggam tangannya saking gemasnya –atau saking sayangnya?

-

-

Hari pertama masuk sekolah setelah liburan seminggu penuh, suasananya benar-benar ramai. Sejak pagi, anak-anak sudah ribut saling sapa, berceloteh seru membicarakan acara liburan mereka dan tentu saja, kemana, bagaimana dan dengan siapa mereka menghabiskan malam tahun baru. Saat itu juga menjadi ajang pamer model rambut baru, baju baru, sepatu baru, gadget baru, pacar baru…

Sakura Haruno hanya tertawa sambil memutar-mutar bola matanya ketika melewati sekelompok cewek kelas satu yang sedang mengobrol seru tentang cowok keren yang mereka temui saat malam tahun baru, lalu berseru riang untuk menyapa guru sekaligus pamannya, Kakashi Hatake, yang baru saja melintasi koridor. Gadis itu berbalik dan menemukan selebaran dengan gambar wajah Kinuta Dosu yang cemberut tertempel di pintu lokernya.

Ah, suasana kampanye pemilihan ketua OSIS juga sudah terasa rupanya. Tadi juga ia sudah melihat salah satu anak jurnal yang membawa selebaran milik Shiho. Hanya selebaran Sasuke yang belum terlihat.

Nyengir lebar, Sakura menarik satu selebaran Sasuke yang dibawanya dan menempelkannya tepat menimpa selebaran Kinuta sebelum membuka kombinasi kunci lokernya untuk menyimpan buku-bukunya.

"Pagi, Sakura!"

Yang dipanggil langsung menoleh dan agak terkejut –heran, tepatnya—saat mendapati seorang gadis berambut merah menyala berdiri di belakangnya. Meski begitu, Sakura tetap menyunggingkan senyum cerah untuk membalasnya. "Pagi, Karin? Rambut baru?"

Karin menyibak rambut merahnya yang baru dipotong ke belakang bahunya. "Keren kan? Kacamataku juga baru, lho…" Sekarang jemarinya yang dikuteks mendorong gagang kacamatanya yang baru ke atas hidungnya.

Sakura mengeluarkan tawa kecil. "Yeah. Cool…" Gadis itu kembali berbalik untuk melanjutkan kegiatannya.

Di belakangnya, Karin mengalihkan pandangan ke loker di sebelah loker Sakura. "Sasuke belum datang?"

Sakura melirik ke arah yang sama sekilas. "Sepertinya belum. Kadang-kadang dia memang datang agak siang."

"Oh…" Karin mengangguk-anggukkan kepalanya, memainkan ujung rambutnya. "Kau tahu, Kinuta dan Shiho sudah mulai menyebarkan selebaran. Tapi aku belum menemukan selembar pun selebaran Sasuke."

Selesai menaruh buku-bukunya, Sakura menutup pintu lokernya, menguncinya dan berbalik. "Aku baru saja mau menyebarkannya," katanya sambil mengacungkan setumpuk selebaran yang dibuatnya bersama Sasuke semalam, mengangsurkan selembar pada si gadis merah. "Separuhnya lagi masih ada pada Sasuke."

"Keren…" desah Karin, memandangi selebaran itu. "Kalau tidak keberatan, aku mau membantumu menyebarkan selebarannya, Sakura. Masuk tim sukses juga tidak apa!"

Sakura tertawa kecil. "Kalau begitu kau harus tanya Naruto. Dia ketuanya."

"Tanya aku apa, sih?" Sesosok cowok berambut pirang tiba-tiba muncul dari belakang Karin dengan senyum superlebarnya yang biasa. Sebelah tangannya yang tidak memeluk map merangkul pundak Karin, membuat gadis itu menjerit jijik.

"Eeww! Lepas, tidak?!" Disentaknya tangan Naruto dari pundaknya, lalu memelototi cowok itu.

Naruto terkekeh-kekeh. "Sori deh, Karin. Kukira kau naksir aku," godanya.

"Tak usah ya!" Karin menukas galak.

"Iya, deh… Kau kan naksirnya dengan Sasuke… Eh… Suigetsu juga," dengan tampang innocent, Naruto berpura-pura menghitung dengan jarinya, "Temujin… Neji… Sai… Astaga, kau sebenarnya naksir berapa cowok, sih? Ck ck ck…"

Wajah Karin kontan merah padam. Gadis itu lalu menginjak kaki Naruto dengan geram dengan bagian tumit high heels-nya, membuat cowok itu melompat-lompat sambil memekik kesakitan. Mata birunya berair.

"Rasakan! Kurang ajar, sih!"

Menyaksikan kelakuan kedua temannya yang kekanak-kanakan itu, Sakura tak bisa menahan tawanya. Naruto memang senang menggodai gadis-gadis populer, terutama Karin yang memang sangat ekspresif dan gampang marah. Membuat mereka kesal memang caranya bersenang-senang sejak dulu. Hanya untuk bercanda tentu saja.

"Sudah, sudah…" kekeh Sakura. "Kau juga sih, Naruto. Usil banget…" Gadis itu mengikik lagi. "Karin katanya mau ikutan jadi tim suksesnya Sasuke. Aku bilang harus tanya kau dulu," beritahunya pada Naruto yang masih meringis kesakitan memegangi sebelah kakinya sembari bersandar pada pintu lokernya.

"Apa? Cewek galak ini mau jadi tim sukses Sasuke?" Naruto kemudian memandang Karin dari kepala ke kaki, lalu kembali ke kepala lagi dengan mata dipicingkan. Tangannya di dagu, berlagak berpikir. "Hmm…"

Dipandangi seperti itu tampaknya membuat Karin semakin jengkel. "Ya sudah. Kalau tidak mau berarti kau yang rugi!" tukasnya, lalu berbalik.

"Eeh.. tunggu!" Dengan cepat, Naruto menyambar lengan gadis itu. Karin berbalik dan menyentak tangan Naruto lepas, masih memasang tampang cemberut. Naruto terkekeh. "Iya deh, begitu saja marah. Ini…" Naruto mengambil sesuatu dari dalam mapnya dan mengulurkannya pada Karin. "Tolong, ya…"

Sejenak, gadis berkacamata itu menatap bingung, sebelum akhirnya menyambar beberapa lembar selebaran yang diulurkan Naruto dan berlalu dari sana untuk bergabung dengan teman-temannya yang baru saja tiba.

"Apa itu, Naruto?" tanya Sakura seraya menunjuk penasaran pada map di tangan Naruto.

"Oh, ini…" Naruto mengulurkan map yang dibawanya pada Sakura. "Selebaran untuk kampanye Sasuke. Keren, kan?"

"Huh?" Semakin bingung, Sakura kemudian mengambil map itu dan membukanya. Matanya melebar melihat isinya; setumpuk selebaran kampanye dengan foto Sasuke. "Ini… selebaran Sasuke?"

Naruto tertawa. "Ya iyalah. Masa selebarannya Kiba? Keren, kan?"

"Sasuke bilang kalian belum buat apa-apa?" tuntut Sakura.

"Huh?" Naruto menatap Sakura bingung. "Kami sudah mulai mengerjakan ini jauh-jauh hari, Sakura…"

"Tapi Sasuke bilang kalian belum buat, jadi kami semalam membuatnya. Lihat!" Sakura menyorongkan selebaran yang dibawanya.

Sekarang gantian Naruto yang melongo. Diambilnya selebaran itu dari tangan Sakura. Diamatinya selebaran itu dengan dahi berkerut, seakan sedang memikirkan sesuatu. Sesaat kemudian, pandangannya beralih pada Sakura yang terlihat gusar. "Kalian membuat ini… semalam?"

Sebelum gadis itu sempat menjawab, Sai datang menyela mereka. "Selamat pagi," sapanya cerah sambil berjalan menuju lokernya sendiri. "Hari ini ramai, ya? Kulihat anak-anak sudah mulai menyebarkan selebaran kampanye."

"Lihat ini, Sai," Naruto menghampirinya dan memberikan selebaran Sakura padanya.

"Apa ini?" Sai mengambil selebaran itu. Alisnya terangkat. Ditatapnya Naruto dan Sakura dengan tatapan bingung.

"Dia buat lagi."

"Dia mengerjaiku," kata Sakura. Gadis itu mengerutkan dahi dan menggembungkan pipinya sebal. "Gara-gara aku tidak ambil bagian. Dia bilang kalian belum bikin…"

"Oh, pasti bukan begitu," kata Naruto cepat-cepat.

"Bagaimana kalau kita tanya saja langsung pada orangnya?"

Sai mengendikkan kepala ke atas bahu Naruto dan Sakura. Sasuke baru saja muncul di ujung koridor dan sedang berjalan ke arah mereka. Namun sebelum cowok itu sampai, Sakura sudah berbalik pergi meninggalkan tempat itu menuju kelas pertamanya. Hidungnya terangkat tinggi.

"Sepertinya ada yang baru saja dapat masalah…" gumam Naruto sambil geleng-geleng kepala.

-

-

"Oh, great…" gerutu Sasuke seraya membelalak pada punggung Sakura yang baru saja menghilang di balik pintu. Saat itu kelas mereka sebelum makan siang baru saja usai dan anak-anak –termasuk Sakura—mulai meninggalkan kelas. Sejak pagi sampai sepanjang pelajaran tadi, Sakura terus saja mengacuhkannya. Sasuke sudah bisa menduga reaksi Sakura akan seperti ini dan ia tidak bisa menyalahkan gadis itu kalau ia marah. Tapi tetap saja ini membuatnya uring-uringan juga.

"Kau sih…" cela Naruto yang sedang menjejalkan buku diktatnya ke dalam tas, tersenyum mengejek pada Sasuke yang duduk di bangku sebelahnya. "Pakai acara bohong segala. Ada yang ngambek deh…"

"Aku keceplosan," gumam Sasuke, menghindari tatapan Naruto.

Naruto mendengus. "Keceplosan atau cari-cari alasan supaya bisa berduaan dengan Sakura? Huu… dasar kau ini!" kekehnya sambil menyambit kepala Sasuke dengan salah satu buku catatannya yang amat tipis.

"Cih! Berisik!" Sasuke memelototi Naruto yang masih tertawa-tawa mengejeknya.

Di seberang ruangan, Hinata Hyuuga baru saja beranjak dari bangkunya setelah membereskan buku-bukunya. Adik sepupu Neji itu menoleh ke arah mereka dan melempar senyum kecil melihat Naruto yang terbahak, sebelum berpaling dan bergabung bersama Shino meninggalkan kelas.

"Dari pada menertawakanku terus," kata Sasuke yang sempat melihat Hinata barusan, "Bagaimana dengan kadomu untuk Hinata, eh? Katamu mau menyerahkannya hari ini?"

"Aaah… iya, iya, hampir saja lupa! Mana dia?" Naruto celingukan mencari-cari sosok gadis manis berambut panjang itu di seluruh penjuru kelas.

"Dia baru saja pergi." Sasuke mengendikkan kepala ke arah pintu.

Naruto cepat-cepat menyambar tasnya.

"Dia mungkin di ruang jurnal, Naruto!" seru Sai memberitahunya ketika Naruto sampai di pintu.

"Oke, thanks!" Cowok bermata biru itu melempar cengiran lebar pada dua sahabatnya sebelum melesat pergi.

"Kalau Sakura, kurasa dia ada di perpustakaan," Sai menambahkan sambil melempar senyum penuh arti pada Sasuke.

"Aku tahu," cowok berambut hitam kebiruan itu menggerutu. Dicangklengkannya tas punggungnya ke bahu dan beranjak meninggalkan kelas. Sai mengikuti di belakangnya.

Mereka langsung disambut pemandangan yang tak biasa begitu meninggalkan kelas. Di mana-mana mereka melihat selebaran tiga kandidat ketua organisasi sekolah, ditempel di papan pengumuman, di loker-loker, di dinding toilet, di tempat sampah –di luarnya maupun di dalam, dalam keadaan sudah teremas—tercecer di lantai –dan membuat Pak Ebisu ngomel-ngomel—bahkan menjadi pembungkus kacang rebus yang dijual di kantin. Mereka juga melihat satu selebaran Sasuke yang ditempel di salah satu papan pengumuman dengan bagian foto sudah digunting, meninggalkan lubang di kertas itu.

"Kudengar akan ada acara debat kandidat akhir minggu ini," kata Sai sementara mereka menyusuri koridor menuju perpustakaan.

"Hn."

"Kau sudah siap?"

"Siap tidak siap, harus siap," sahut Sasuke datar.

"Mudah-mudahan Sakura sudah tidak marah lagi waktu kau debat," kata Sai dengan nada ringan.

"Mudah-mudahan hari ini juga dia sudah berhenti ngambek," timpal Sasuke sambil menoleh pada Sai. "Merepotkan sekali."

Sai mengeluarkan tawa kecil. Sasuke menyeringai. "Kau kelihatannya sedang senang, eh?"

Sai baru akan membuka mulut untuk menyahutnya, tiba-tiba saja ponsel di saku celananya bergetar. Cowok itu buru-buru mengambil ponselnya. Satu pesan baru masuk. Sasuke mengangkat sebelah alisnya keheranan melihat Sai menyunggingkan senyum tertahan saat membaca pesan itu.

"Aku harus pergi," beritahu Sai. "Sampai ketemu di kelas berikutnya, Sasuke." Dan ia pun berbalik, berlalu dari sana entah menuju kemana.

Setelah punggung Sai menghilang di ujung koridor, Sasuke menghela napasnya. Sekarang ia terpaksa sendirian menemui Sakura. Semoga saja cewek merepotkan itu sudah mau bicara padanya, Sasuke membatin.

Namun sepertinya Sasuke kurang beruntung kala itu, karena tepat ketika ia melangkahkan kakinya memasuki perpustakaan yang tenang, justru pemandangan yang tidak diharapkan yang menyambutnya. Sakura sedang sedang duduk di salah satu meja baca. Tidak sendirian. Duduk di sebelahnya, tak lain dan tak bukan adalah Neji Hyuuga. Perasaan panas yang sudah sangat familier seketika menyerangnya.

Sempurna…

Merutuki dirinya sendiri, Sasuke yang tadinya hendak ke tempat Sakura, melengos ke salah satu rak yang memajang buku-buku sejarah, nyaris bertabrakan dengan seorang gadis kelas tiga berambut cokelat panjang. Sasuke menggumamkan maaf, lalu berjalan melewatinya. Sesaat sebelumnya, Sasuke sempat melihat gadis itu sedang mengawasi Sakura dan Neji diam-diam dari balik rak. Sepasang mata cokelatnya dipicingkan.

-

-

"…Jadi hari ini siapa yang ambil majalahnya di percetakan?" Kiba memutar kursinya menghadap dua gadis yang sedang duduk di bangku yang mengelilingi meja bundar tepat di tengah-tengah ruang klub jurnal.

"Bukannya kau, Kiba?" gadis berkacamata, Shiho, balik bertanya. "Sai sudah memberitahuku hari ini dia tidak bisa. Kau tahu kan, urusan latar panggung untuk drama. Kudengar dia yang mengurusnya."

"S-Sepertinya K-Kiba lagi yang harus mengambil ke percetakan," kata Hinata, mengangkat wajahnya sejenak dari laptop yang sedang ditekuninya, melempar senyum pada Kiba. "Tolong, ya…"

Kiba menghela napas keras-keras. "Padahal kukira aku bisa santai…"

"Mana bisa santai bulan sibuk begini?" Shiho menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu membetulkan letak kacamata bulat di atas hidungnya.

"Itu kan kamu yang calon ketua organisasi," kekeh Kiba sambil beranjak dan menghampiri kedua gadis itu. "Oke lah, nanti aku yang akan ambil. Tapi aku dapat komisi, kan?"

"Komisi terus yang dipikirin!" Shiho tertawa. Gadis berambut terang itu melemparkan gulungan kertas selebaran kampanyenya sendiri ke arah Kiba, yang kemudian menangkisnya sambil terkekeh-kekeh.

"Ajak beberapa a-anak kelas satu juga, Kiba," usul Hinata.

Kiba nyengir padanya. "Ide bagus!" ujarnya sambil meregangkan kedua tangannya, lalu merogoh ke dalam saku, mengambil beberapa bungkus permen dan menawarinya pada kedua temannya. "Kau juga jangan lupa tugasmu nanti siang, Hinata."

"Iya…" Hinata mengangguk, menerima permen dari Kiba. "Terimakasih."

"Haah.. Shino itu, hari pertama malah tidak masuk. Merepotkan saja!" Kiba menggerutu keras-keras sambil membuka bungkus permennya, lalu memasukkannya ke dalam mulut.

"Empati sedikit kenapa, sih?" tukas Shiho sambil menatap Kiba mencela, "Ibunya sedang sakit, tahu!"

"Iya, iya…" Cowok itu kemudian menarik salah satu bangku kayu ke dekat Hinata dan duduk di sana, melongok ke layar laptop. Rupanya kedua gadis itu sedang mengutak-atik kembali bahan kampanye milik Shiho. "Yeah… siapa pun yang akan jadi ketua nanti, semoga bisa memasukkan program televisi sekolah kita ke prokernya. Kau juga!" Kiba mendorong bahu Shiho main-main, menyeringai menggodanya. "Kalau tidak, Shikamaru Nara tidak akan melirikmu."

"Apa sih?!" Wajah Shiho langsung merona merah. "Tidak ada hubungannya, tahu!"

Terdengar pintu diketuk dari luar, membuat perhatian ketiga orang itu teralih.

"Masuk saja!" seru Kiba.

Daun pintu itu berkeriut membuka, dan saat berikutnya sesosok cowok berambut pirang yang memakai jaket hitam-oranye yang menjadi ciri khasnya muncul di baliknya. Cowok itu memamerkan cengiran lima jarinya. "Halo. Apa aku mengganggu?"

"N-Naruto?" Hinata tergagap. Jelas terkejut dengan kemunculan si pirang yang tak biasa ke ruang klub itu, sendirian pula. Biasanya kan Naruto hampir selalu bersama teman-temannya.

"Sai tidak ada di sini," sahut Kiba langsung.

"Aku tidak sedang mencari Sai," Naruto menukas Kiba sembari melangkah masuk. "Aku mau ketemu Hinata."

Shiho dan Kiba spontan menoleh memandang Hinata yang sudah merah padam, tampak salah tingkah.

"N-Naruto… mencariku?" tanya Hinata pelan sekali, nyaris berbisik.

Tanpa menunggu jawaban dari Naruto, Shiho langsung beranjak dari bangkunya sambil menarik lengan Kiba yang bertengger di punggung bangku yang diduduki Hinata. "Ayo, Kiba," desisnya pada cowok itu. Kiba tampaknya tidak terlalu senang, tapi ia tidak membantah. Keduanya lantas meninggalkan ruangan dengan pintu setengah terbuka.

"Kau sedang tidak sibuk, kan?" Naruto bertanya ragu-ragu pada Hinata yang masih terpaku di tempatnya.

"Aah.. t-tidak, kok," sahut Hinata, buru-buru men-standby laptopnya. "Ada apa mencariku?"

Naruto berjalan mengitari meja dan duduk di bangku di sebelah Hinata, bangku yang baru saja ditinggalkan Shiho. Ia melepaskan tasnya dan mengambil sesuatu dari dalamnya; sebuah kotak berukuran sedang yang dibungkus kertas kado yang tidak rapi. Mata lavender Hinata melebar.

"I-Ini…?" ditatapnya Naruto tidak yakin.

Cowok itu menyunggingkan seulas senyum lembut. "Selamat ulang tahun, Hinata. Maaf terlambat…" Diulurkannya kotak itu pada Hinata.

"A-Aku… um… terimakasih," ucap Hinata dengan suara sedikit tercekat karena terharu, "Seharusnya N-Naruto tidak perlu repot-repot begini…"

"Sama sekali tidak repot. Kau kan temanku!" Senyum Naruto melebar, membuat kedua matanya membentuk garis lurus.

"Naruto…"

"Sekarang bukalah!" Naruto mengerling kotak yang telah berpindah tangan pada Hinata.

"I-Iya…" Dengan penuh kehati-hatian seakan tidak ingin merobek kertasnya, Hinata membukanya, melepas selotipnya satu demi satu. Sampai akhirnya kotak yang ternyata berisi sebuah CD itu terbuka. Tulisan 'HAPPY B'DAY, HINATA!!' tertulis di bagian sampulnya dengan spidol merah, dilengkapi dengan emoticon smile yang besar. Hinata memandang bingung.

Di sebelahnya, Naruto kembali merogoh-rogoh tasnya dan mengeluarkan CD playernya. "Coba dengarkan di sini," katanya, mengambil kembali kotak CD di tangan Hinata, mengeluarkan isinya dan memasukkannya ke dalam player. Kemudian membantu Hinata memasangkan headphone-nya, membuat gadis itu salah tingkah ketika Naruto menyibak rambut panjang yang menutupi telinganya ke belakang. Susah payah Hinata berusaha untuk tidak menatap wajah Naruto saat ia melakukannya.

"Hai, Hinata!" terdengar suara seorang cowok yang dikenalinya sebagai suara Naruto menyapa dari headphone-nya setelah Naruto menekan tombol play. "Happy sweet seventeen! Sori atas keterlambatannya, ya… Kau tidak marah, kan? Tidak dong… Hinata kan baik…"

Hinata tak bisa menahan tawa kecil yang meluncur begitu saja dari bibirnya mendengar kata-kata Naruto. "Um… maaf…" ucapnya kemudian pada Naruto. Cowok itu mengangguk, nyengir. Hinata buru-buru berpaling dan memusatkan perhatiannya pada suara di headphone-nya. Memandang Naruto hanya akan membuatnya semakin salah tingkah, terlebih mereka hanya berdua saja di ruangan itu. Bisa-bisa ia pingsan!

"Sebelumnya, aku ingin sedikit bercerita tentang seorang gadis. Dia orangnya sangat pemalu, mukanya selalu memerah setiap kali aku melihatnya. Kadang-kadang aku menganggapnya sangat aneh, tapi itu dulu, sebelum aku benar-benar mengenalnya. Ternyata selain pemalu, dia juga sangat manis dan baik hati. Aku menyukai senyumannya, dan mata besarnya yang menyipit setiap kali dia tertawa. Setiap kali melihatnya seperti itu, terutama saat kami sedang melewatkan waktu bersama-sama dengan adik-adik di panti asuhan, aku seperti melihat ibuku lagi, dan itu membuat hatiku hangat. Dia sudah mengajariku banyak hal yang tidak pernah kutahu –misalnya cara mengganti popok yang benar. Ha ha… Yah… pokoknya aku sangat menyukai teman yang satu itu. Menyesal sekali rasanya tidak mengenalnya baik sejak dulu. Karena dia sangat istimewa. Dan dia adalah kau, Hinata.

Terimakasih sudah mau menjadi temanku, ya…

Tapi satu lagi kebodohan yang sudah kubuat. Aku tidak tahu hari ulang tahunmu!! Ya, ampuuun…"

Hinata tertawa lagi, wajahnya merona. Gadis itu terlaru larut, sampai-sampai tidak menyadari Naruto sedari tadi memperhatikannya dengan sorot mata lembut.

"Sebagai gantinya, orang bodoh ini ingin memberikan sesuatu yang istimewa untukmu, sesuatu yang bisa kau kenang dariku. Tapi masalahnya, aku tidak tahu apa yang kau sukai, hobimu… Dan aku juga tidak punya cukup tabungan untuk membelikanmu barang yang mahal. Maaf, ya… Aku hanya bisa memberikan ini, suaraku yang merdu. Ha ha ha… Enggak modal banget, kan?

Yah, walaupun enggak modal, aku harap kau menyukainya, Hinata. Kalau kau tidak suka, salahkan saja Sasuke, karena lagu-lagu ini rekomendasinya. Katanya ini adalah lagu-lagu favoritmu.

Sekedar info, aku merekam ini dibantu teman-temanku; ada Shikamaru, Chouji dan Sai yang membantuku memainkan instrument. Dan Sasuke yang cuma membantu nonton sambil ongkang-ongkang kaki dan minum soda. Ha ha..

Oke, kurasa sudah cukup celotehannya. Sekarang, silakan Nona Hinata Hyuuga menikmati sajian musik dari Naruto Uzumaki and the gank! Whoo hoo!"

Irama petikan gitar menggantikan suara Naruto beberapa saat berselang, mengalunkan intro sebuah lagu yang sudah sangat dikenalnya. Gadis itu memejamkan matanya, meresapi suara pemuda itu melagukan bait demi bait pertama lagu favoritnya…

"I sit and wait
Does an angel contemplate my fate?
And do they know the places where we go
When we're gray and old?
'Cause I've been told
That salvation lets their wings unfold
So when I'm lying in my bed
Thoughts running through my head
And I feel that love is dead
I'm loving angels instead…"

"Kau suka, Hinata?" tanya suara dari sebelahnya.

Hinata membuka matanya dan menoleh, tersenyum manis pada Naruto. Ia menganggukkan kepala. "Suka. Suka sekali… Terimakasih banyak, Naruto…"

Naruto membalas senyumnya, berseri-seri. "Oh ya. Kau sudah makan siang? Mau cinnamon roll?"

---
"And through it all she offers me protection
A lot of love and affection, whether I'm right or wrong
And down the waterfall wherever it may take me
I know that life won't break me
When I come to call she won't forsake me
I'm loving angels instead.."

---

"Pelajaran hari ini cukup sampai di sini saja," Genma Shiranui, guru Kimia mereka mengumumkan pada seluruh kelas menjelang pelajaran berakhir. "Kalian pelajari bab berikutnya di rumah. Sekarang, silakan kumpulkan tugas paper kalian di mejaku."

Tepat saat itu bel tanda pelajaran berakhir berbunyi. Anak-anak mulai bergerak membereskan buku-buku mereka sementara yang lain mulai bergerak ke meja guru untuk mengumpulkan tugas mereka. Tidak seperti biasanya, Sakura termasuk di antara yang paling cepat kali ini. Gadis itu sama sekali tidak memedulikan desisan Sasuke yang memanggilnya sejak bel berbunyi, secepat mungkin membereskan buku-bukunya dan beranjak dari bangku.

"Sakura—Hei!"

Terlambat. Sakura sudah keburu melenggang ke meja guru, meletakkan papernya di atas tumpukan paper tugas anak-anak lain dan bergegas meninggalkan kelas.

Tanpa menunggu Naruto dan Sai lagi, Sasuke bergegas menyusul Sakura. Ia setengah melempar paper tugasnya ke tumpukan, membuat beberapa paper paling atas meluncur jatuh dari meja. Merutuk, Sasuke buru-buru memungutnya dan meletakkannya kembali dengan benar di atas meja. "Maaf, Pak," gumamnya pada sang guru sebelum melesat keluar.

Koridor sudah dipenuhi anak-anak yang baru saja bubar dari kelas masing-masing ketika Sasuke melangkah keluar. Ditolehkannya kepalanya ke sana kemari, mencari-cari sosok berambut merah muda di antara anak-anak yang berlalu lalang. Kemudian ia teringat Sakura pernah memberitahunya ia akan latihan drama lagi hari ini. Tanpa membuang-buang waktu lagi, Sasuke bergegas menuju ruang klub teater.

Akhirnya ia menemukan Sakura di koridor yang menuju ruang klub teater. Gadis itu sedang bersama teman-teman satu klubnya yang juga ambil bagian dalam drama, Hokuto, Suigetsu, Juugo dan beberapa anak kelas tiga, termasuk Neji Hyuuga. Sejenak, Sasuke sempat ragu.

Akh! Masa bodoh dengan Neji!

"Sakura!" panggilnya. Suara kerasnya membuat anak-anak di sana –tidak hanya Sakura—menoleh ke arahnya. Mengabaikan tatapan heran anak-anak itu, Sasuke berjalan menghampiri Sakura, lalu menyambar lengannya, menariknya menjauhi yang lain.

"Sasuke, lepas!" Sakura menyentak lepas tangannya dari pegangan Sasuke setelah mereka jauh dari jangkauan pendengaran anak-anak yang penasaran. Ditatapnya Sasuke galak. "Apa-apaan, sih?"

"Kau yang apa-apaan?" balas cowok bermata onyx itu gusar. "Kau mengacuhkanku sepanjang hari!" Sasuke terdiam sejenak. Bibirnya terkatup rapat, mendadak bingung apa yang harus dikatakannya pada gadis itu. "K—Kenapa?"

Sakura mendengus, tertawa sinis. "Lucu sekali. Masih tanya kenapa, lagi." Dilipatnya kedua tangannya di dada. Dari atas bahu Sasuke, ia melihat teman-temannya sudah masuk ke ruang teater. Neji masuk belakangan. Cowok itu sekilas melempar pandang penasaran ke arah mereka sebelum menghilang juga di balik pintu.

"Oke. Baiklah," kata Sasuke. "Aku minta maaf soal selebaran itu."

Sakura kembali memandang cowok itu, matanya menyipit. "Jadi kau mengakui kalau kau mengerjaiku?"

"Aku tidak mengerjaimu!" bantah Sasuke tak sabar. "Aku hanya—" susah payah ia menelan ludah. Apa yang harus kukatakan? Apa?? –"Aku hanya kesal karena kau tidak membantuku, Sakura! Kau kan sudah janji mau membantuku!"

Gadis bermata hijau itu tercengang. Mendadak saja ia merasa bersalah pada Sasuke. Memang benar ia tidak membantu Sasuke membuat selebaran bersama Naruto dan Sai selama liburan tahun baru. Tapi mereka juga tidak pernah mengajaknya, kan? Dan setiap kali ia menghubungi, mereka selalu bilang sibuk dengan urusan properti panggung itu. Jadi itu bukan sepenuhnya salahnya!

"Kau… Kau juga tidak pernah bilang padaku…" gerutu Sakura. "Tapi kan kau tidak perlu bilang Naruto dan Sai tidak membantumu!" gadis itu kembali menemukan kegalakannya.

Kali ini Sasuke benar-benar tidak bisa mengelak lagi. Mengerang pelan mengutuki dirinya sendiri, Sasuke menatap Sakura. "Itu salahku. Maaf…" Keduanya terdiam. "Dengar. Aku sudah minta maaf, jadi jangan bersikap seperti tadi lagi. Oke?"

Sakura menatapnya dengan sebelah alis terangkat. "Kau ini aneh sekali," ujarnya, "Kenapa begitu panik hanya karena aku tidak bicara padamu, eh?"

"Aku tidak panik," bantah Sasuke, mendadak gugup. Namun ia berusaha menutupinya dengan mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Aku hanya tidak enak padamu. Itu saja."

"Lain kali jangan berbohong padaku lagi."

"Aku tahu," sahut Sasuke, entah mengapa merasa akan sangat sulit melakukan permintaan Sakura yang satu itu.

Bersikap jujur, tanpa membuat persahabatan mereka jadi terasa aneh.

"Tapi sekarang kau jadi punya dua selebaran," kata Sakura dengan tawa tertahan. "Serakah sekali."

"Maaf…"

"Ah, sudahlah. Jangan minta maaf lagi. Kau jadi tidak kelihatan seperti Sasuke," kata Sakura sambil mengibaskan tangannya. Di wajahnya tampak seulas senyum.

Sasuke membalas senyum gadis itu dengan seringai tipis. Lega. "Hn."

-

-

"Akhirnya datang juga!!" seru Naruto ketika Sasuke baru saja tiba di gymnasium. Semua tim logistiknya, ditambah beberapa anak dari klub teater yang mengurus properti panggung sudah berkumpul di sana. Naruto memberi isyarat dengan tangannya agar Sasuke mendekat. Tenten, sutradara sekaligus ketua proyek drama itu juga sudah ada bersamanya.

Mereka kemudian mulai mendiskusikan tentang tata letak panggungnya nanti, di mana mereka akan menaruh lampu, tirai dan lain-lain termasuk bangku-bangku penonton, sementara anak-anak lain mengerjakan kanvas untuk latarnya. Tenten sangat cerewet dalam hal ini. Gadis itu melesat ke sana kemari menjelaskan pada Sasuke apa yang diinginkannya untuk setting panggung. Meski begitu, gadis kelas tiga itu cukup puas dengan desain yang dibuatkan Sai untuk latarnya. Hinata dan seorang cowok kelas satu dari klub jurnal juga datang beberapa saat kemudian dengan membawa kamera. Mereka ke sana untuk melihat sekaligus mendokumentasikan kegiatan itu.

"Aku benar-benar berharap drama tahun ini bakal hebat," kata Tenten cerah setelah ia menyelesaikan ocehan panjang lebarnya tentang tata panggung pada Sasuke yang terlihat sedikit bosan. "Kami beruntung memilikimu dan Sai tahun ini!" tambahnya sambil menoleh pada Sasuke. "Biasanya sulit berkoordinasi dengan panitia festival sekolah yang bukan anak teater. Tahun sebelumnya juga begitu, jadi kami mengurusi sendiri panggungnya. Benar-benar repot. Tapi dengan begini, semuanya jadi lebih mudah. Thanks, ya."

"Hn."

Gadis bercepol itu tertawa kecil. "Sikap cuek-tapi-peduli-mu itu agak mirip Neji, ya…"

Sasuke mendengus pelan, berpaling. Sangat enggan disama-samakan dengan cowok itu.

"Omong-omong, semoga sukses dengan pemilihan ketua OSIS-nya, Sasuke!" ucap Tenten sambil menepuk lengan Sasuke, kemudian berbalik pergi untuk bicara pada temannya yang juga mengurusi soal panggung.

Sasuke kemudian menghampiri Hinata yang kelihatannya sedang asyik menanyai Sai soal latar panggung sementara cowok itu bekerja.

"Dokumentasi, eh, Hinata?" tanya Sasuke, menyela obrolan mereka.

Hinata menoleh, tersenyum cerah saat melihatnya. "B-Begitulah. Aku sedang mewawancarai Sai soal proses pembuatan ini. Ini benar-benar bagus."

"Trims," sahut Sai.

"Naruto… kau sudah ketemu dia?" Sasuke menanyai Hinata. "Sudah kasih kadonya?"

Adik sepupu Neji itu tersenyum dan mengangguk, rona merah menjalar dengan cepat di wajahnya yang agak bulat. Gadis itu menutupinya dengan mengangkat kameranya dan mulai mengambil gambar. Setelah itu, ia pun pergi untuk memotret yang lain.

"Yang dua ini sudah selesai. Tinggal mengecatnya saja," beritahu Sai pada Sasuke setelah Hinata pergi. "Anak-anak di sini banyak yang pintar menggambar rupanya."

"Baguslah," kata Sasuke, mengangguk. Ia menoleh ke sana kemari, mencari sosok temannya yang berambut pirang yang rupanya tidak ada di sana. "Mana Naruto?"

"Katanya mau beli minum di deli," sahut Sai sambil berdiri, menepuk-nepuk kedua tangannya yang tampak sedikit kotor.

"Oke, semuanya! Kita istirahat dulu!" seru Sasuke pada teman-temannya.

Naruto tiba tak lama setelah itu dengan membawa beberapa botol minuman yang kemudian dibaginya untuk dirinya sendiri, Sasuke, Sai dan Hinata. Ia juga mengambil inisiatif untuk meminjam tape pada penjaga sekolah supaya mereka tidak bosan. Segera saja alunan musik beat dari tape itu memenuhi gymnasium, menemani mereka bekerja. Naruto bahkan membuat semua orang tertawa dengan menirukan gaya para cheerleaders di tengah lapangan, menarik salah seorang gadis yang kebetulan juga dari klub cheers ikut berjoget bersamanya menghibur yang lain. Yang berakhir dengan benjol besar bertengger di kepala pirang Naruto.

Waktu berjalan terasa sangat cepat sementara mereka bekerja. Tidak terasa, tahu-tahu senja sudah mulai turun.

Di bagian lain gedung itu, anak-anak teater juga sudah menyelesaikan latihan mereka. Suara tepuk tangan memenuhi ruangan itu setelah Sakura dan Juugo menyelesaikan adegan mereka.

"Oke. Cukup sampai di sini latihannya," ujar Yakumo yang mewakili Tenten, seraya beranjak dari bangkunya. "Kita ketemu dua hari lagi."

Anak-anak mulai bergerak dari bangku masing-masing sembari ribut mengomentari latihan hari ini. Absennya Kankurou sepertinya membuat mereka lebih bersemangat. Bukannya apa-apa, tapi kritikan pedas cowok itu acap kali membuat mereka jengkel. Tapi bukan berarti latihan hari itu juga memuaskan. Entah mengapa, suasana hati Yakumo sepertinya sedang tidak bagus. Ia seringkali tidak berkonsentrasi dan malah menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bertampang masam pada Sakura, terutama ketika gadis berambut merah muda itu dan Neji sedang beradu akting.

Menyadari kemungkinan Yakumo tidak menyukainya –atau bahkan membencinya karena mantan kekasihnya—Sakura memutuskan untuk tidak berlama-lama di dalam ruangan itu. Setelah menjejalkan naskahnya ke dalam tas, ia buru-buru melesat pergi. Namun sepertinya niatnya untuk cepat-cepat kabur dari situasi tidak enak itu tidak tercapai, karena Yakumo menangkapnya lebih cepat.

"Sakura, aku ingin bicara denganmu sebentar," ujarnya dingin ketika Sakura melewatinya di dekat pintu. "Tunggu sampai anak-anak lain pergi."

Meskipun tidak begitu menyukai ide berbicara-empat-mata-dengan-Yakumo-yang-mantan-Neji itu, ia tidak bisa menolaknya. Bagaimana pun Yakumo adalah seniornya dan ia menghormatinya. Mereka menunggu sampai anak terakhir –Hokuto—meninggalkan ruangan. Sakura punya firasat tidak enak mengenai topik yang akan dibicarakan seniornya itu.

"Singkat saja, Sakura," Yakumo memulai seraya menatap tajam lawan bicaranya. "Ini soal kau dan Neji."

Hati Sakura mencelos. Benar, kan? "Saya dan… Neji?" tanyanya mulai cemas.

Gadis berambut cokelat panjang itu mengangguk. Kerutan samar muncul di antara kedua alisnya. "Aku hanya meminta satu hal padamu, Sakura. Jauhi dia… Bisa kan?"

"Eh?"


TBC...