Warning : Alternate Universe, Out of Character, gaje, abal, boring, dll, dsb…

Don't like, don't read!!


"Yang berikutnya, Sasuke Uchiha dan Suigetsu Hozuki!"

Keesokan harinya, di kelas olahraga. Gai Maito menyuruh murid-muridnya bertanding basket satu lawan satu. Gymnasium itu langsung bergemuruh dengan suara sorak-sorai –yang sebagian besar terdengar dari para siswa putri—saat kedua orang yang disebut namanya maju ke lapangan.

"SASUKE!! SASUKE!!"

Tapi tampaknya Sakura tidak begitu tertarik. Tepatnya, ia tidak memperhatikan. Mata hijaunya nampak asyik memandang kosong ke arah tribun di depannya sementara pikirannya berkelana entah kemana. Tapi yang jelas, apa pun yang sedang dipikirkannya saat itu, bukan sesuatu yang menyenangkan. Lihat saja wajah masamnya itu.

Gadis itu tiba-tiba mengerang pelan seperti orang frustasi, membenamkan wajah di antara lututnya yang ditekuk di depan dada. Tidak ada seorang pun yang memperhatikan. Teman-temannya terlalu sibuk menyoraki dua cowok yang sedang beraksi di lapangan, memperebutkan benda bulat berwarna oranye.

Yah, mau diperhatikan atau pun tidak, tidak akan banyak membantu.

Sejak pembicaraannya dengan Yakumo Kurama hari sebelumnya, suasana hati Sakura menjadi benar-benar buruk. Perkataan Yakumo yang benar-benar tak terduga itu membuat Sakura terkejut dan gusar –juga yah, marah. Kalau saja Yakumo bukan seniornya di sekolah dan Sakura tidak punya kesalutan apa pun terhadapnya, ia bisa saja mencakar wajah gadis itu kemarin.

Tapi kenyataannya, Yakumo adalah aktris terkeren di klub teater dan Sakura amat mengaguminya. Dan gadis itu pun sangat baik sebetulnya.

Hanya saja, siapa sih yang bisa menahan perasaan saat melihat cowok yang disukai –dan pernah memiliki arti lebih dalam kehidupannya—tiba-tiba dekat dengan gadis lain? Siapa pun bisa jadi kejam kalau sedang cemburu, tidak terkecuali Yakumo. Barangkali itu yang dirasakannya sekarang. Dan Sakura mencoba untuk memahami situasinya, meskipun itu sangat menyebalkan.

Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku sangat menyukai Neji, tapi aku juga tidak ingin berselisih dengan siapa pun gara-gara cowok! Kenapa tidak bisa bersaing secara fair saja? Itu akan membuat segalanya lebih mudah.

Namun menyesali keadaan pun tidak akan ada gunanya.

"Kau ini kenapa, sih?"

Suara yang datang dari seseorang yang duduk tepat di sampingnya membuat Sakura mengangkat kepalanya dan menoleh. Sepasang mata biru sapphire balas menatapnya dengan tatapan bertanya.

"Dari tadi kuperhatikan, kau menghela napas melulu seperti nenek-nenek, Sakura," lanjutnya setengah bergurau.

"Tidak ada apa-apa," sahut Sakura berdusta. Ia belum siap membagi masalah ini dengan siapa pun, termasuk Ino. "Aku cuma sedikit capek."

Ino mengangkat alisnya tinggi. "Capek? Yang benar saja. Belum seminggu masuk sekolah, kau sudah capek saja. Dasar nenek-nenek…" Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, terkekeh. "Coba kalau Lee jadi pacarmu, pasti ceritanya bakal lain. Semangat masa muda! Yeah!!" serunya menirukan jargon maskot kelas tiga, Rock Lee, sambil meninju udara.

Mau tak mau Sakura ikut tertawa. Dengan gemas, didorongnya sisi kepala Ino main-main. "Huu… Enak saja bicara."

Ino tertawa, sama sekali tidak tampak tersinggung –itu sudah biasa di antara mereka kalau sedang bergurau. "Nah, begitu dong, tertawa. Dari pada ditekuk terus mukanya –yang melihat juga jadi capek—lebih baik kau tonton tuh suami keduamu beraksi. Bisa-bisa dia ngambek kalau kau mengacuhkannya," katanya sambil mengendikkan kepala ke arah Sasuke.

"Tcah!" Sakura mendengus, sekali lagi tawanya pecah. Benar juga, pikirnya. Menyoraki Sasuke bersama yang lain tampaknya lebih menyenangkan daripada pusing memikirkan Yakumo. Sebentar saja, Sakura ingin melupakan perseteruan kecilnya dengan kakak kelasnya itu.

"Ayo, Sasuke! Masukkan bolanya!!" Sakura lantas berseru menyemangati Sasuke. Suaranya nyaris tenggelam di antara sorakan gadis-gadis lain.

Di sebelahnya, Ino sudah meluruskan kakinya yang jenjang, melemaskannya. Mata birunya sekilas menatap ke arah serombongan anak-anak cowok yang duduk di seberang mereka di sisi lain gymnasium itu sebelum beralih pada Sasuke dan Suigetsu yang masih bertanding one-on-one di tengah lapangan. Ada senyum tipis terulas di bibirnya.

Tak lama kemudian, sorakan riuh meledak nyaris menggetarkan seluruh lapangan in-door itu ketika guru olahraga mereka meniup peluitnya tepat di saat Sasuke baru saja meloloskan satu tembakan jitu ke arah ring, menutup pertandingan itu dengan kemenangan tipis cowok itu atas lawannya. Anak-anak perempuan berteriak-teriak sampai serak dan bertepuk riuh seakan mereka sedang menonton pertandingan NBA sungguhan.

Di tengah lapangan, Sasuke tampaknya tidak terlalu terpengaruh oleh segala perhatian itu. Ekspresinya tetap datar saat menyalami Suigetsu yang nampak tidak puas. Cowok itu mengarahkan tatapan tajamnya sekilas ke arah gadis-gadis itu sebelum berpaling untuk bergabung bersama Naruto dan cowok-cowok lain di sisi lain lapangan.

"Kerja bagus, Buddy!" seru Naruto seraya menepuk keras bahu Sasuke.

"Hn."

Di sisi lain Naruto, Sai tidak tampak terlalu antusias. Dia hanya tersenyum simpul. Sepertinya pikirannya sedang tidak berada di sana saat itu.

"Yang berikutnya Hinata Hyuuga dan Hokuto!" Pak Maito memanggil siswa berikutnya yang langsung beranjak dari tempat masing-masing menuju ke tengah lapangan. Sorakan yang mengikuti kali ini tidak seheboh sebelumnya.

Pak Maito melemparkan bola pada mereka, dan langsung lolos melewati kaki Hinata yang seharusnya menangkapnya. Dengan wajah merona merah, gadis pemalu itu buru-buru mengejar bola yang menggelinding sampai ke ujung lapangan.

"Sasuke jago juga main basket," komentar Ino, berpaling dari lapangan dan menoleh pada gadis di sebelahnya.

"Dia memang jago olahraga," timpal Sakura, memandang Sasuke yang sedang menonton pertandingan Hinata dan Hokuto yang baru saja dimulai. Di sebelahnya, Naruto heboh menyemangati Hinata. Sakura tersenyum, "Sasuke dulunya kapten tim sepak bola sekolahnya di Oto."

"Wow… Kenapa dia tidak bergabung dengan tim sepak bola saja?"

Sakura menyeringai, teringat saat ia mengomentari latihan klub sepakbola Naruto beberapa bulan yang lalu. "Katanya sih malas."

Ino menatap Sakura tak percaya. "Malas? Padahal kalau dia sampai masuk ke klub olahraga yang cukup populer seperti basket atau sepakbola, reputasinya bakal melonjak," ujarnya seraya mengerling Sasuke. "Dan itu bagus untuk kampanyenya."

"Wah, entahlah…" Sakura mengangkat bahunya. "Sasuke sudah cukup populer tanpa harus bergabung dengan tim olahraga manapun."

Itu memang benar. Di sekolah Sasuke memang sangat populer, padahal belum satu tahun ia pindah ke Konoha –dan bahkan sempat diselang pindah lagi ke Oto sebelum akhirnya kembali lagi—Terutama di kalangan anak-anak perempuan, tentu saja. Juga para guru, mengingat kemampuan otak cowok itu juga di atas rata-rata. Dan setelah ia bergabung di kepanitiaan festival sekolah dan melihat kinerjanya, anak-anak kelas tiga nampaknya jadi menyukainya juga. Jelas sekali, kans Sasuke untuk menjadi ketua organisasi sekolah sangat besar.

Di sisi lain ruang itu, mendadak Sasuke bersin hebat.

"A—ACHO!!"

"Kau kenapa, Sasuke? Sakit?"

"Sepertinya ada yang sedang membicarakanku," gerutu Sasuke, menggosok hidungnya yang gatal.

Naruto mengekeh, menepuk-nepuk punggung sobat kentalnya itu. "Kalau begitu kau harus bersiap-siap, soalnya sebentar lagi kau akan jadi bahan pembicaraan di seluruh sekolah, Pak Ketua OSIS!"

"Tch! Tutup mulutmu, Naruto!"

-

-

Kalau saja ada sesuatu yang bisa dilakukannya untuk melupakan saja bahwa Yakumo telah menyuruhnya menjauhi Neji, Sakura akan melakukannya dengan senang hati. Tapi kenyataannya tidak ada. Tidak peduli ia sudah jungkir balik menyibukkan otaknya dengan setumpuk tugas sekolah, membantu Sasuke dengan kampanyenya dan segala macam yang terpikirkan, selalu saja ada jeda kosong yang membuatnya kembali teringat.

"Jauhi dia… Bisa, kan?"

"Jauhi dia…"

"Jauhi Neji…"

Aaargh!!

Ini benar-benar membuatnya frustasi. Dan ia membutuhkan seseorang untuk bisa menumpahkan unek-uneknya.

"APA?!"

Suara nyaring Ino menggema di dinding-dinding toilet anak perempuan suatu siang. Sakura harus buru-buru memekapkan tangannya ke mulut sahabatnya itu untuk mencegahnya berteriak lagi. Seorang gadis kelas tiga yang baru keluar dari salah satu bilik toilet melempar tatapan mencela pada mereka sebelum meninggalkan tempat itu.

"Bisa pelankan suaramu sedikit tidak, sih?" desis Sakura.

Ino mengabaikannya. "Kenapa baru memberitahuku sekarang, sih?" ia memandang Sakura gusar.

Reaksi sahabatnya yang di luar dugaan ini membuat Sakura terkejut pada mulanya. Ia tidak menyangka Ino akan seemosi ini saat ia memberi tahu semua tentang pembicaraannya dengan Yakumo tempo hari padanya –bahkan Ino terlihat lebih marah dari dirinya sendiri.

"Aku ingin memberitahumu, tapi kau selalu saja tidak ada saat aku ingin bicara," gerutu Sakura, tak kalah gusarnya. Itu memang benar, Ino selalu menghilang secara misterius setiap jam istirahat makan siang akhir-akhir ini. Dan menjadi sangat susah dihubungi jika mereka sudah pulang. "Dan apa-apaan itu ponselmu yang sibuk terus?"

Wajah Ino kontan memerah, entah apa sebabnya. "I—Itu tidak penting," ujarnya buru-buru, tampak gugup. Lalu ia cepat-cepat beralih ke topik semula. "Lalu kau bagaimana?"

Sakura menghela napas berat, menyandarkan diri ke wastafel. "Itulah kenapa aku cerita padamu, Ino. Aku tidak tahu."

"Jangan dengarkan," kata Ino tegas, "Cewek itu cuma iri padamu. Yang benar saja. Salahnya sendiri mencampakkan Neji. Sekarang cowok itu dekat dengan cewek lain dia malah tidak rela dan menyuruhmu menjauhi Neji. Dasar egois! Memangnya apa haknya melakukan itu?"

Omelan Ino justru membuat perasaan Sakura semakin tak karuan.

"Kau harus tegas padanya, Sakura. Jangan hanya karena kau mengidolakannya lantas kau jadi lembek begitu. Bilang padanya kalau kau tidak akan mundur, supaya dia tahu kalau kau tidak main-main dengan Neji!"

"Tapi—Ah!" Sakura terkejut ketika Ino tiba-tiba menarik pergelangan tangannya, "I—Ino! Kau mau apa?"

"Bicara pada Yakumo."

"Ino!"

Tapi sahabatnya itu mengabaikan protesnya, sampai akhirnya Sakura hanya bisa pasrah saat Ino membawanya ke tempat di mana Yakumo dan teman-temannya biasa berkumpul –perpustakaan.

Entah keberuntungan atau kesialan bagi Sakura, Yakumo memang sedang berada di sana. Kepala gadis-gadis kelas tiga itu langsung menoleh saat Sakura dan Ino masuk ke bilik baca tempat mereka berkumpul. Sakura sekuat tenaga menahan dirinya untuk tidak menyembunyikan diri di belakang punggung Ino. Ino benar, ini adalah hal yang perlu untuk dilakukan, pikirnya. Kalau tidak, perasaannya tidak akan tenang selamanya.

"Kalian mau apa?" tanya salah seorang teman Yakumo yang duduk paling dekat pintu, tidak berusaha menutupi rasa terganggunya oleh kedatangan dua gadis kelas dua itu.

"Kami—maksudku, Sakura, mau bicara dengan Yakumo," sahut Ino berani seraya memandang gadis berambut cokelat panjang yang duduk di sudut. Tenten yang duduk di sebelah gadis itu langsung menoleh, melempar pandang bertanya pada temannya itu.

Tapi Yakumo terlihat sangat tenang, seakan ia sudah mengira hal seperti ini akan terjadi. Diletakkannya bolpoint yang dipegangnya ke atas meja dan beranjak. "Yuk, kita bicara di tempat lain saja."

Ino menunggu di luar sementara Sakura dan Yakumo bicara di salah satu bilik kosong di sudut perpustakaan.

Sunyi. Untuk beberapa saat, tak seorang pun dari mereka bersuara. Sakura bingung harus memulai dari mana sementara Yakumo menatapnya tenang, menunggunya mengatakan sesuatu.

"Tentang yang waktu itu," Sakura akhirnya buka suara. Ia berhenti sejenak, berusaha menenangkan kegugupannya sebelum melanjutkan, "Aku tidak akan menuruti keinginanmu untuk menjauhi Neji—" Dan saat ia mulai berbicara, semuanya seakan keluar begitu saja dari bibirnya, "Lagi pula kau sudah bukan kekasihnya lagi, kan? Hatinya sekarang bebas dan kau sudah tidak bisa mengikatnya lagi semaumu. Aku benar-benar menyukai Neji dan aku tidak akan menyerah hanya karena kau melarangku."

Tanpa diduga, Yakumo malah tersenyum. Senyum sedih. "Kau benar-benar menyukai Neji?"

"Tentu saja," sahut Sakura tegas.

"Kau mencintainya?"

Sakura tersentak. Wajahnya memanas seketika. "A-Aku… I-Iya! Aku mencintainya!"

"Apa kau cukup mencintainya seperti Violetta mencintai Alfredo?"

"Eh?"

Yakumo menunduk, menghela napasnya perlahan. "Violetta yang dengan rela melepaskan Alfredo untuk membuktikan bahwa ia benar-benar mencintai pria itu," gumamnya pelan, seakan sedang berbicara pada dirinya sendiri. Gadis itu kemudian mengangkat wajahnya, senyum sedih itu kembali terlihat. "Yah, kau benar. Aku sudah tidak bisa mengikatnya lagi dan aku juga tak punya hak untuk melarangmu." Ia terdiam lagi. "Aku hanya tidak ingin ada lagi yang terluka."

Perkataan Yakumo kali ini benar-benar membuat Sakura bingung. Apa maksudnya?

"Maafkan aku, Sakura. Tapi sekali lagi aku terpaksa harus memohon padamu untuk melupakan saja perasaanmu pada Neji. Aku juga tidak akan menyerah mendapatkannya kembali." Setelah berkata begitu, Yakumo melenggang pergi meninggalkan bilik itu, juga Sakura yang benar-benar terkejut.

Apa ini artinya perang terbuka?

-

-

Maaf ya, Sakura…

-

-

"Nah, ini dia para cewek baru datang!" seru Naruto saat Sakura dan Ino tiba di kantin sekolah. Hari itu Sakura memang tidak membawakan bekal seperti yang biasa dilakukannya beberapa minggu terakhir, maka mereka kembali ke kebiasaan lama dengan makan di kantin yang penuh sesak.

Baik Sakura maupun Ino tidak ada yang menggubrisnya. Tampang keduanya sama-sama kusut, meski tentu saja dengan alasan yang berbeda. Sakura, yang ekspresi wajahnya seperti orang yang mau menangis, menghenyakkan diri di bangku kosong di sebelah Sasuke. Sementara Ino yang tampangnya seperti siap mengamuk, menarik bangku dengan kasar ke sebelah Sai dan menghempaskan bokongnya di sana.

Kontan saja ketiga cowok itu kebingungan melihat tingkah mereka. Naruto sampai melupakan ramennya sejenak.

"Kalian kenapa, sih?"

Sekali lagi, tak seorang pun dari mereka menjawab. Air mata malah sudah terjatuh dari sudut mata Sakura –yang dihapusnya segera sebelum disusul bulir-bulir yang lain.

Sai memandang bertanya ke arah Sasuke yang duduk di sebelah Sakura, yang kemudian dijawab dengan bahu yang terangkat. Sasuke sendiri tidak mengerti. Ia hanya bisa memandang bingung saat Sakura menangkupkan wajahnya di atas tangannya yang dilipat di atas meja. Naruto lah yang pertama bertindak. Si rambut kuning itu mengulurkan tangannya, menyentuh lengan Sakura.

"Hei, ada apa, Sakura?" ia bertanya lembut.

Sakura menjawab dengan gelengan kepala. Saat ia akhirnya mengangkat wajahnya, wajah itu sudah merah padam. Tapi ia tetap tidak mengatakan apa-apa, hanya menunduk. Pandangannya kosong. Perasaannya masih sangat kacau untuk menjelaskan apa pun saat itu. Maka ia membiarkan saja Ino yang menceritakan apa yang telah terjadi untuknya.

"Astaga…" komentar Naruto setelah Ino mengakhiri ceritanya dengan penuh emosi. "Aku nggak ngerti cewek."

Sasuke pun sama tidak mengertinya seperti Naruto. Tapi ia memilih tidak berkomentar apa-apa, hanya memandang gadis berambut merah muda itu dengan perasaan tak karuan, kesal pada dirinya sendiri saat menyadari tak ada yang bisa ia lakukan untuk membantu Sakura kali ini. Persaingan antara dua orang gadis seperti ini, jelas bukan masalah yang bisa dicampuri seenaknya. Yang ada malah akan semakin memperkeruh keadaan. Naruto dan Sai pun sepertinya sepakat akan hal itu.

Pada akhirnya yang terpikirkan hanyalah bagaimana membuat gadis –yang diam-diam disayanginya ini—merasa lebih baik.

Diangsurkannya kotak sari jeruk miliknya ke dekat Sakura. "Minumlah dulu."

Senyum tipis. "Trims, Sasuke."

-

-

Nyatanya suasana hatinya tidak kunjung membaik sampai akhir minggu. Kalau tidak murung terus, ia pasti uring-uringan atau marah tanpa alasan jelas. Untungnya ketiga sahabatnya, juga Ino memahami situasi yang dihadapinya sehingga mereka tidak protes. Malah, Naruto semakin getol mengeluarkan simpanan joke-joke segar andalannya hanya untuk membuat Sakura sedikit menaikkan sudut bibirnya. Walaupun kadang-kadang garing dan sama sekali tidak lucu.

Sakura tidak tahu apa yang akan terjadi seandainya tidak ada mereka. Mungkin saja ia sudah melakukan hal yang gila seperti mengkonfrontasi Yakumo –yah, sejak pembicaraan mereka di perpustakaan tempo hari, keinginan liar itu memang kerap melintas di kepalanya. Terlebih saat melihat gadis itu sedang bersama Neji. Tapi ia tidak bisa melakukan semua itu, tentu saja. Ia bisa dapat masalah dan terutama, apa yang akan dipikirkan Neji tentang dirinya nanti?

Bahkan latihan drama yang biasanya membuatnya bersemangat tidak lagi menyenangkan. Justru sebaliknya, latihan itu seakan sudah berubah menjadi lahan penyiksaan batin baginya. Ia akan merasakan tatapan Yakumo yang menusuk, mengikutinya sepanjang latihan berlangsung, membuatnya sulit berkonsentrasi pada dialog dan aktingnya. Terlebih saat ia diharuskan beradegan agak mesra dngan Neji. Dan bisa ditebak, komentar pedas dari Kankurou yang tampaknya semakin rajin menyambangi latihan mereka akan langsung berkumandang memerahkan telinga.

Seakan itu belum cukup membuatnya frustasi, Tenten ikut-ikutan menegurnya juga selepas latihan.

"Kalau kau ada masalah, bisa kan tidak membawanya sampai ke panggung? Yah, kita memang belum jadi profesional, tapi setidaknya kita harus memberikan yang terbaik untuk penonton. Aku tahu kau bisa melakukannya, Sakura." Tenten mengatakannya dengan nada begitu lembut. Tapi tetap saja kekecewaan yang tersirat di mata cokelat cemerlangnya saat ia memandang Sakura membuat gadis itu merasa amat buruk.

"Maaf. Aku akan berusaha lebih keras lagi," gumamnya sambil menunduk.

Gadis bercepol itu lantas tersenyum dan mengangguk. "Sebaiknya begitu," ujarnya seraya menepuk lengan Sakura. Setelah mengatakan itu, ia lantas pergi meninggalkan ruangan teater yang sudah kosong, menyusul Yakumo dan Kankurou yang sudah pergi lebih dulu. Mereka akan makan malam di luar bertiga, katanya.

Sakura tidak peduli.

"Payah! Payah! Payah!" rutuk Sakura setelah Tenten menghilang di balik pintu. Ia lalu menghenyakkan diri di bangku terdekat yang bisa dicapainya, memijat-mijat pelipisnya. Matanya terpejam.

Latihan yang benar-benar kacau, ia membatin, kesal pada dirinya sendiri. Tenten benar. Tidak seharusnya ia membawa-bawa masalah pribadinya saat sedang berakting. Di atas panggung, dia Violetta Valery, bukan Sakura Haruno. Bagaimana bisa berakting dengan baik kalau mudah terpengaruh dengan hal-hal seperti ini terus-terusan? Sementara bulan Februari semakin mendekat saja.

Tidak tahan, Sakura membiarkan cairan hangat yang ditahannya sejak Kankurou mengomelinya di depan anak-anak lain beberapa waktu yang lalu tumpah di wajahnya yang pucat. Ia menjatuhkan kepalanya di atas tangannya yang bertumpu pada sandaran kursi, berusaha menenangkan diri sebelum pulang. Ia tidak ingin ibunya melihatnya kacau begini.

"Sakura?"

Sakura tersentak mendengar suara dalam yang sudah sangat dikenalinya itu. Dengan cepat ia mengangkat kepalanya dan menoleh, mendapati cowok berambut cokelat gelap dan bermata pucat sedang berdiri di ambang pintu.

"N-Neji?!"

Sakura cepat-cepat berpaling lagi dan menyeka basah di wajahnya, berharap Neji tidak sempat melihat air matanya tadi. Ia lalu membungkuk, mengambil tasnya yang digeletakkan di bawah kursi dan pura-pura menyibukkan diri dengannya. Jantungnya mulai berdegup tak karuan lagi saat mendengar suara langkah kakinya memasuki ruangan. Cowok itu mendekat.

Bagaimana ini? Neji tidak bisa menemukanku dalam keadaan seperti ini. Tidak bisa!

"Aku mau ambil barangku yang ketinggalan. Ah, ini dia!"

Sebuah lengan berbalut kaus polo berwarna khaki terulur ke bangku di sebelah Sakura, mengambil sebuah map hijau yang tergeletak di sana –Sakura sama sekali tidak menyadari keberadaan map itu sejak tadi. Sakura menahan napasnya, merasakan aroma bersih yang amat disukainya itu begitu dekat.

"Untung tidak hilang. Bisa gawat."

Kali ini Sakura tidak bisa menahan dirinya untuk menoleh –dan langsung bersitatap dengan sepadang mata lavender yang tajam. Ekspresi di wajah Neji seketika berubah, dan Sakura tahu kenapa. Maka gadis itu kembali memalingkan wajahnya yang masih sembab habis menangis.

"Kau… habis menangis?"

Sakura menggeleng cepat-cepat. Ia tahu percuma saja mengelak lagi, toh Neji sudah melihatnya sendiri. Tapi ia tetap nekat. "T-Tidak," suaranya parau, "Mataku kemasukan debu."

Great. Orang paling bodoh sekali pun akan langsung tahu kalau itu adalah bohong besar –dan Neji bukan orang bodoh, sebaliknya, cowok itu adalah yang terpintar di kelas tiga. Sakura merasakan tangan hangat menyentuh pundaknya, dan sesaat kemudian Neji sudah duduk di sampingnya, map di pangkuan.

"Masih memikirkan yang tadi?" Suaranya terdengar khawatir.

Sakura memaksakan senyum hambar. "Sepertinya hari ini tidak begitu mulus, ya?"

"Seminggu ini memang bukan yang terbaik dari latihan kita," ujarnya mengakui.

"Maafkan aku." Sakura menundukkan kepalanya. Malu. Tiba-tiba saja ia merasa tidak pantas mendapatkan peran utama ini sejak semula. Berakting saja tidak becus. Ia tersenyum kecut. "Aku sudah mengacaukan segalanya. Kankurou benar, aku tidak pantas mendapatkan peran utama. Terlalu mudah terpengaruh suasana hati, tidak bisa akting. Kau seharusnya melihat bagaimana Tenten menatapku tadi. Aku sudah mengecewakannya. Seharusnya sejak awal Yakumo lah yang mendapatkan peran ini, kan? Aku pernah mendengar Tenten sendiri yang bilang begitu."

Entah mendapat keberanian dari mana sampai ia berani berkata sebanyak itu pada Neji.

"Yakumo juga sepertinya tidak terlalu menyukaiku," ia menambahkan dengan suara tercekat.

"Kau lupa, ya?" kata Neji kemudian, "Justru Yakumo lah yang pertama kali menemukanmu. Tidak mungkin dia tidak suka padamu."

Sakura menatap cowok itu nanar. Kamu tidak tahu, Neji, alasan Yakumo tidak menyukaiku. Bukan karena aktingku yang payah, tapi karena kamu. Kamu… Dia masih amat menginginkan kamu dan membenciku karena dekat denganmu.

"Jangan putus asa begitu," Neji menyunggingkan senyum tipisnya yang menawan, "Tenten memilihmu karena dia percaya kau yang terbaik, dan aku sudah pernah melihatmu bermain sangat bagus sebelum ini. Kau pasti bisa. Bersemangatlah. Besok pasti lebih baik dari yang sekarang."

Mau tidak mau Sakura membalas senyumnya. "Kau kedengarannya seperti Lee."

Neji mendengus. "Menghabiskan banyak waktu dengannya, sangat sulit untuk tidak terpengaruh."

Sakura tertawa kecil –tawa pertama yang keluar dari mulutnya sepanjang hari ini. "Benar juga."

"Hinata pernah bilang padaku, seseorang terlihat paling menarik jika sedang tersenyum…"

"Eh?" Oh, Tuhan… Apa dia bermaksud mengatakan bahwa aku menarik?

"Senyum itu obat hati. Kalau kau sedang sedih, tersenyum saja, maka kau akan baik-baik saja. Begitu katanya." Cowok Hyuuga itu mengekeh pelan. "Kurasa itu sebabnya dia sangat menyukai si Uzumaki, karena dia banyak tersenyum. Atau… itu caranya membujukku supanya lebih banyak tersenyum. Menurutnya aku terlalu jutek."

Sakura tertawa lagi. "Kau tidak jutek."

Beberapa saat berlalu, tawa mereka mereda. Keheningan yang nyaman menyusup. Sakura merasa hangat, merasa jauh lebih baik dari hari-hari sebelumnya yang benar-benar kacau, hanya karena keberadaan Neji di sampingnya. Dan saat itu juga Sakura merasakan perasaannya semakin mendalam terhadap kakak sepupu Hinata itu. Ia tidak bisa mencegah dirinya untuk tidak menatapnya dalam-dalam, berharap Neji bisa melihat apa yang dirasakannya lewat matanya.

Aku cinta kamu…

"Terimakasih."

"Hn," Neji menyahut, "Oh ya, kenapa kau tidak melihat debat Sasuke?"

"Eh?"

Neji mengangkat alisnya tinggi. "Hari ini ada debat kandidat ketua OSIS di aula. Kau tidak lupa, kan?"

Kenyataannya Sakura benar-benar lupa. Masalah dengan Yakumo ini nampaknya benar-benar menyita pikirannya sampai-sampai melupakah hal-hal lain termasuk soal Sasuke.

"Ya, ampun. Aku lupa!"

-

-

Aula nyaris penuh ketika Neji dan Sakura tiba di sana. Sakura tidak ingat debat kandidat tahun sebelumnya seramai ini. Biasanya hanya anggota OSIS lama dan para guru saja yang datang melihat, tapi sekarang –aula itu penuh sesak dengan anak-anak yang penasaran. Moderator yang bertugas juga tampak kewalahan mengatur jalannya debat saking ramainya tempat itu, berkali-kali meminta penonton agar tetap tenang dan menyimak jalannya debat –bukan hanya berteriak 'Kyaaa! Sasuke kereen!' dan semacamnya.

Sakura mengedarkan pandanganya berkeliling ruangan itu. Serombongan anak-anak jurnal yang menjadi pendukung Shiho –minus Sai—duduk di sisi kiri aula. Di bagian tengah, dekat dengan tempat duduk para guru, berjejer pendukung Kinuta Dosu yang bisa dihitung dengan jari. Sementara sisanya, yang bertanggung jawab atas sebagian besar keributan yang terjadi di ruangan itu, adalah pendukung Sasuke.

Sayangnya, saat itu sudah memasuki sesi akhir. Baru lima menit Sakura berada di sana, sang moderator sudah mengakhiri acara itu yang kemudian disambut tepuk riuh penonton. Ia bahkan tidak sempat mendengar Sasuke berbicara sepatah kata pun. Tapi dari komentar-komentar yang didengarnya dari anak-anak lain, sepertinya Sasuke tampil bagus.

"Sepertinya kita terlambat," ujar Sakura pada cowok di sebelahnya.

"Sayang sekali," Neji menyahut, menyunggingkan senyum menyesal. "Tadi aku sempat melihat bagian awalnya. Program kerjanya menarik juga. Cara bicaranya juga lugas. Tidak disangka Sasuke yang dulu manja itu bisa seperti itu," tambahnya sambil mengekeh.

Sakura terkikik. Ia hampir lupa Neji dan Sasuke sudah saling mengenal sejak kecil.

Tak lama setelah kerumunan penonton mulai membubarkan diri, Hinata muncul dan menghampiri mereka, menggendong sebuah buku –buku sastra, kalau dilihat dari sampulnya—di tangannya. Bersamanya, Shiho, kandidat ketua OSIS nomor satu memeluk setumpuk map. Jas almamater sekolah tersampir di lengannya.

"Sudah mau pulang sekarang?" tegur Neji pada adik sepupunya.

Hinata mengangguk, lalu menoleh pada Shiho. "Shiho, a-aku pulang duluan, ya."

"Oke. Trims bantuannya ya, Hinata."

Hinata berpaling pada Sakura, melempar senyum manis pada gadis itu. "S-Sampai ketemu hari Senin, Sakura," pamitnya seraya mengangguk sopan.

"Sampai ketemu," Sakura membalas senyumnya.

Gadis Hyuuga berambut panjang itu pun berlalu bersama Neji meninggalkan aula. Sakura selalu suka melihat kedua Hyuuga itu bersama-sama, suka melihat mereka begitu akrab. Lebih seperti kakak-adik sungguhan ketimbang saudara sepupu karena mereka memang amat mirip. Terlepas dari kemiripan itu, Neji tampaknya juga amat menyayangi Hinata dan vice versa. Dan Sakura amat menyukai persaudaraan seperti itu.

Mengingatkan ia akan mendiang kakaknya yang juga amat menyayanginya –yang sayangnya tidak sempat ia balas.

"Hei, Sakura."

Sebuah jawilan kecil di lengannya membuatnya berpaling dari pintu, tempat Neji dan Hinata baru saja menghilang. Rupanya Shiho masih ada di sana.

"Temanmu itu," gadis berkacamata itu mengendikkan kepala ke arah Sasuke yang masih dikelilingi anak-anak, nyengir, "Ternyata dia oke juga. Tadinya kukira dia cuma cowok manja yang kebetulan cakep dan punya otak."

Sakura tak bisa menahan tawanya. Di balik penampilannya yang serius, Shiho kadang-kadang sangat lucu dan ceplas-ceplos. Tidak heran ia sering didapuk menjadi penulis forum humor di mading dan majalah sekolah bersama Kiba Inuzuka. "Dia memang agak manja, Shiho."

Shiho mendorong kacamatanya ke atas hidungnya, mengangkat bahu. "Tadinya aku tidak setuju organisasi sekolah kita dipimpin cowok yang terlalu populer. Tapi sekarang, kurasa aku berubah pikiran. Asal dia cukup kompeten, tidak ada yang salah dengan itu."

"Apa itu berarti kau mendukung Sasuke sekarang?"

Sekali lagi gadis itu mengangkat bahunya, lalu menghela napas, sama sekali tidak berkomentar lebih lanjut. "Yah, kalau begitu aku pergi dulu." Kemudian ia melenggang pergi.

Sakura baru saja akan berbalik untuk menghampiri Sasuke saat ada suara lain yang memanggil namanya. Kali ini suara seorang pria dewasa. Gadis itu menoleh, tersenyum melihat Kakashi Hatake mendekat. "Kaka—ah, Pak Hatake!" ia buru-buru meralat, melihat pamannya itu sedang bersama guru-guru lain.

"Mau pulang sekarang, Sakura?" tegur Kakashi sementara para koleganya berjalan mendahuluinya. "Sudah tidak ada kegiatan lagi kan? Sekalian aku mau ke Blocaf, bagaimana kalau sekalian?"

"Mau—ah, tapi…" Sakura mengerling teman-temannya.

Kakashi mengangguk mengerti.

"Aku tidak akan lama!" seru Sakura cepat-cepat.

"Baiklah. Aku tunggu di bawah." Dan Kakashi pun berbalik meninggalkan aula.

Rombongan penggemar Sasuke baru saja pergi ketika Sakura menghampirinya. Kini ia sibuk membereskan barang-barangnya yang masih tercecer, termasuk kertas-kertas bertuliskan program kerja yang dirancangnya kalau ia terpilih nanti. Sasuke terlihat sedikit lelah, tapi masih tampak amat tampan dengan setelah semi-formal yang dikenakannya untuk menghormati kesempatan ini; celana bahan yang disetrika licin, kemeja dan jas almamater sekolah. Tidak heran anak-anak perempuan sampai histeris tadi.

"Sasuke," panggil Sakura.

Cowok itu mendongak, lalu kembali melanjutkan kegiatannya. "Hn."

Sakura tersenyum. Tipikal. "Sukses?" ia bertanya riang.

"Hn. Dari mana saja kau?" gerutunya tanpa repot-repot memandang Sakura.

Sebelah alis Sakura naik. "Kau kan tahu tadi aku ada latihan drama."

"Yeah. Aku tadi lihat anak-anak teater datang jauh sebelum kau," ucap Sasuke dingin seraya merapikan tumpukan kertas-kertas dan memasukkannya ke dalam map. "—dan Neji," ia menambahkan dalam gerutuan pelan sehingga tidak ada yang dengar, termasuk Sakura.

Namun kata-kata pertamanya saja sudah cukup membuat wajah Sakura memerah. Mata hijaunya menatap Sasuke menyesal. "Maaf, ya... Aku tadi… um… ada sedikit masalah."

"Jangan hiraukan dia, Sakura," timbrung Naruto sambil nyengir. Ia bersama Sai sedang membantu anak-anak OSIS lama membereskan peralatan dan bangku-bangku yang digunakan untuk acara. "Dia masih tegang, makanya jadi jutek begitu."

"Tapi tadi anak-anak bilang kau oke," Sakura memandang Sasuke terkejut.

"Well, Sasuke memang oke banget," Naruto terkekeh, "Cara ngomongnya itu seperti memarah-marahi seisi aula."

"Kukira itu tegas?" Sai mengerutkan alisnya.

Naruto menyeringai. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, menghela napas dengan dramatis. "Kalian seperti tidak tahu saja tegasnya Sasuke seperti apa—"

"Aku dengar itu," gerutu Sasuke, tampak tak senang. Ia mendelik pada Naruto.

Sakura tertawa, lalu menepuk-nepuk lengan Sasuke. "Sudahlah. Yang penting kan sekarang sudah selesai dan kau bisa bersantai sejenak sebelum pemilihan hari Senin nanti."

Sasuke merasa melayang, tapi tentu saja tidak memperlihatkannya terang-terangan. Wajahnya tetap datar. "Hn."

Naruto memutar bola matanya saat Sasuke sedang tidak melihat, masih tertawa-tawa. Kemudian ia pergi dengan menyeret beberapa bangku sekaligus. Sai segera menyusulnya setelah melempar senyum penuh arti pada Sasuke.

"Kau kelihatan keren dengan jas seperti itu, Sasuke," Sakura mengomentari penampilannya sepeninggal Naruto dan Sai.

Tapi Sasuke tidak menggubrisnya. Perhatiannya saat itu tertuju pada hal lain. Senyum Sakura. Bukan. Bukan karena senyum itu sangat menarik dan membuatnya terpesona atau apa, hanya saja rasanya sudah lama sejak ia melihat Sakura tersenyum seperti itu. Juga sorot mata yang berbinar-binar itu…

Kemana perginya raut kusut tak bersemangat yang selalu ia lihat di sana beberapa hari terakhir? Kemana mendung itu berarak?

"Kau…"

"Hm?" Sakura membulatkan mata hijaunya. "Apa, Sasuke?"

Ah… Sasuke mengerti sekarang. "Tidak. Tidak ada apa-apa."

Sakura memandangnya bingung, tapi kemudian memutuskan untuk tidak ambil pusing. "Kalau begitu aku pulang duluan, ya. Kakashi sudah menungguku di bawah. Oh ya, malam ini ada acara spesial di restoran. Kau tahu kan, Yamato akan berangkat ke Kiri melanjutkan studi-nya. Kami berencana memberi pesta perpisahan kecil-kecilan untuknya. Kalau sempat datanglah dengan Naruto dan Sai."

"Hn."

"Sampai ketemu nanti, kalau begitu," pamit Sakura sebelum berbalik. Rambut merah mudanya yang panjang berayun di punggungnya sementara gadis itu berlari-lari kecil menuju pintu keluar aula, menjauh darinya.

Semakin tak terjangkau.

"Kau harus ekstrasabar untuk urusan asmara. Itu tidak mudah, butuh pengorbanan dan kerelaanmu untuk melepaskan sekali lagi. Tapi kalau kau bisa melewati penantian panjang itu, kau akan mendapatkan kebahagiaanmu."

Sasuke tertawa miris.

Melepaskan sekali lagi… Yeah, yeah… Aku tahu itu…

-

-

TBC…

-

-

Chapter. Ini. Sangat. Tidak. Memuaskan!! Damn WB!! –misuh-misuh-

Minna-sama, gomen ne updatenya telat banget, mana gak memuaskan gini lagi hasilnya. Padahal udah dibolak-balik, dibongkar dan tulis ulang beberapa kali, tapi tetep aja. Saya terlalu khawatir me-mary-sue-kan Sakura dan membashing tokoh lain. Apa menurut kalian Sakura mary-sue di sini? Kalo Ino, saya akui emang sengaja saya pasang begitu di awalnya –disepak- XD toh, dia hanya tokoh sampingan saja dan saya udah menyiapkan plot untuk 'menggugurkan' kesan cewek sempurnanya. Lalu gimana dengan Hinata? Toloooong~~ kenapa kesebalan saya pada chara manis ini semakin menjadi-jadi saja?? –setelah melihat dia dimary-sue-kan sedemikian rupa sampe bikin ilfil bacanya (yang merasa, maaf ya…)

Ah~ rasanya cerita ini semakin mendekati akhir saja. Setelah iseng-iseng saya bikin rekap scene apa aja yang pingin saya masukin di setiap chapternya, ternyata tinggal beberapa chapter lagi! Gak sampe 10 chapter lagi da… Um…Tapi itu belum termasuk yang Special Summer-nya (kalo jadi dibikin. –lirik Tobicchi-)

Akhir kata, makasih buat yang udah membaca, mereview, mengefave fic ini. Maaf gak bisa dibalas satu-satu –contoh author males tak patut ditiru- Maafkan kalau ada yang menganggap fic ini hanya nyampah saja... TT_TT