Hujan salju kembali menerjang Konoha semalaman, membuat suhu udara di kota itu kembali menurun. Salju yang tadinya sudah mulai menipis dan mencair kembali menebal di jalan-jalan, yang berarti pekerjaan ekstra bagi para petugas pembersih salju di akhir pekan itu. Tetapi tampaknya tidak ada yang mengeluhkan keadaan itu, karena pagi harinya langit amat bersih, tak ada segumpal awan pun yang menghalangi sinar matahari. Cahayanya yang hangat memantul di salju-salju itu, membuatnya tampak berkilauan.

Di mana-mana anak-anak terlihat sangat antusias, memanfaatkan akhir pekan sekolah mereka dengan bermain-main dengan salju. Tidak terkecuali di kompleks perumahan tempat Uchiha bersaudara tinggal. Di luar jendela kamarnya, Sasuke bisa mendengar anak-anak para tetangganya berteriak, tertawa, menjerit-jerit kesenangan sementara mereka bermain. Ia juga bisa mendengar suara salakan anjingnya, Rufus, meningkahi suara berisik bocah-bocah itu. Nampaknya si retriever itu tidak mau ketinggalan dalam antusiasme itu.

"Aah!! Awas kau! Akan kubalas!!"

"Hahaha… tidak kena! Wee!!"

"Kak Itachi, ikutan main, yuk!!"

"Kak, bikinin orang-orangan salju yang kaya waktu itu, dong!"

"Haha.. Lain kali saja ya, adik-adik…" –yah, Itachi memang cukup populer di kalangan anak-anak kecil di lingkungan itu.

"Kyaaa!! Kak Itachi, Rufusnya nakal!!"

"Kakak Sasukenya mana, Kak?"

Tapi suara-suara penuh semangat itu tidak lantas membuat Sasuke tergerak untuk meninggalkan ranjangnya yang nyaman dan bergabung dalam antusiasme akhir pekan yang menggebu-gebu seperti halnya Itachi yang pagi-pagi buta sudah menggerecokinya dan mengajaknya joging –Joging? Kakaknya itu sebenarnya sudah gila atau tidak waras mengajaknya lari-lari di tengah cuaca dingin seperti itu?

Bukannya apa-apa, hanya saja Sasuke merasa amat lelah. Semalaman tidurnya amat gelisah. Ia membuatnya mudah terbangun oleh suara sekecil apa pun dan sulit terlelap kembali. Praktis ia tidak tidur semalam suntuk.

Bayangan akan peristiwa yang terjadi beberapa hari belakangan ini terus-menerus berputar dalam kepalanya, memenuhi dirinya dengan perasaan yang membuat dadanya terasa sesak seperti mau meledak. Bukan. Bukan karena pemilihan OSIS, atau persiapan untuk festival sekolah yang memang sangat menguras tenaganya. Konyol memang—tapi itu semua hanya karena seorang gadis merepotkan.

Seorang gadis yang membuat Sasuke merasa dirinya terombang-ambing dalam perasaan tak menentu. Dan sekarang… menyiksanya dalam perasaan bersalah.

Oh, Tuhan… Sasuke mengacak-acak rambutnya dengan frustasi, kemudian membenamkan wajahnya di bantal, menggeram. Kalau bisa ia ingin melupakan saja semuanya, tapi tidak bisa. Ini benar-benar membuatnya lelah –tidak hanya tubuhnya, tapi juga batinnya.

Dan yang diinginkannya sekarang hanyalah beristirahat. Istirahat yang lama dan tenang tanpa gangguan.

Sasuke sudah hampir terlelap ketika suara ketukan yang cukup keras terdengar dari arah pintu menyentakannya kembali ke alam sadar, disusul suara yang sudah akrab di telinga,

"Sasuke?"

Itachi.

Yang dipanggil menggerundel jengkel. Ditariknya bantal dari bawah kepalanya kemudian dibekapkan ke telinganya, memblokir suara Itachi yang mengganggunya. Namun percuma saja, suara itu masih terdengar.

"Sasuke, kau masih tidur?"

Lagi-lagi Sasuke mengabaikannya, berharap dengan begitu sang kakak akan menyerah dan berhenti menggerecokinya. Ia benar-benar butuh istirahat. Tapi rupanya harapannya tidak terkabul semudah itu, karena beberapa saat berselang ia mendengar pintu kamarnya berderit membuka.

'Sial! Aku lupa mengunci pintu!'

"Oi! Kau mau tidur sampai kapan, Sasuke? Matahari sudah tinggi, tuh!"

Suara sang kakak terdengar mendekat, kemudian disusul suara tirai yang ditarik. Itachi telah membuka jendela kamarnya lebar-lebar. Sasuke sedikit bergidik saat hembusan udara dingin dari luar menerobos masuk, menembus dari sela-sela selimutnya. Suara anak-anak terdengar semakin jelas tanpa penghalang.

"Tutup jendelanya," suara Sasuke sedikit teredam di balik bantal.

"Haah.. kau ini. Kamarmu ini sudah sangat sumpek, butuh pasokan udara segar." Itachi menarik napas dalam-dalam, tersenyum pada pemandangan anak-anak yang sedang bermain salju di luar jendela. Ia kemudian berbalik, memandang sang adik –tepatnya, kepalanya yang ditutupi bantal. "Ayolah, jangan jadi seperti beruang yang hibernasi di musim dingin begitu dong. Bersemangatlah sedikit. Hei…" Itachi berjalan menghampiri sisi ranjang Sasuke, menarik bantal yang menutupi kepalanya.

Sasuke mengerang memprotes begitu sinar matahari dari luar menerpa matanya yang belum beradaptasi dengan cahaya. Sebagai gantinya, ia menarik bed cover sampai menutupi kepalanya, hingga hanya rambut hitam berantakannya saja yang menyembul keluar. "Tidak menggangguku sekali saja bisa tidak, sih?!"

Mendengar jawaban Sasuke yang terkesan tidak menyenangkan membuat senyum di wajah tampan Uchiha sulung itu sedikit memudar. Sejak kemarin sore, suasana hati adiknya itu memang tidak begitu bagus. Awalnya Itachi mengira Sasuke hanya sedang senewen menghadapi pemilihan ketua OSIS hari Senin nanti, namun sepertinya bukan itu. Ia sempat terkejut saat Sasuke menolak telepon dari Sakura, dan lebih terkejut lagi saat adiknya itu mengatakan tidak ingin bertemu dulu dengan gadis berambut merah muda itu.

Entah apa yang sudah terjadi antara adik dan sahabatnya—sekaligus gadis yang sedang ditaksirnya. Apa pun itu, sepertinya bukan hal baik. Entahlah, pikirnya. Karena Sasuke tidak berkata apa-apa lagi setelah itu, dan Itachi cukup bijaksana untuk tidak mendesaknya. Ia tidak ingin cari ribut dengan adiknya yang sedang bad mood. Lagipula, semalam Sasuke kelihatannya memang butuh sendirian.

"Barusan Sakura menelepon lagi, waktu kau masih tidur," Itachi memberitahunya kemudian seraya duduk di tepi ranjang adiknya, masih memegang bantal di tangannya. Tidak ada reaksi dari Sasuke, maka ia melanjutkan, "Dia tanya kenapa kau tidak mengangkat teleponnya, Sasuke. Jadi kubilang saja kau sedang tidak enak badan. Dia kedengarannya khawatir."

Di bawah selimut, Sasuke malah membalikkan tubuhnya memunggungi kakaknya. Kedua alis Itachi terangkat tinggi.

"Sedang ada masalah dengan Sakura, hm?"

Sasuke masih tidak menggubrisnya. Itachi menghela napas.

"Baiklah…" Itachi meletakkan bantal ke kepala tempat tidur Sasuke dan beranjak. "Tidak mau cerita juga tidak apa-apa. Tapi jangan lupa hari ini giliranmu menggambil cucian di laun—"

"Kak…" Sasuke menyelanya. Suaranya yang teredam terdengar agak serak.

"Hn?"

"Apa aku ini teman yang benar-benar tidak berguna?"

Itachi memandang bingung, tidak paham apa yang sedang dibicarakan adiknya. Namun ia tidak menyela saat Sasuke kembali melanjutkan,

"Akhir-akhir ini aku selalu melihat dia bersedih. Masalah cowok—kalau kau mengerti maksudku. Entahlah kak, aku tidak suka melihatnya begitu. Aku ingin membantunya tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Itu sangat menyakitkanku."

Sasuke merasakan ranjangnya bergerak ketika kakaknya kembali duduk, mendengarkan. Kemudian ia melanjutkan,

"Dan yang paling membuatku sakit –dan bingung—adalah saat aku sadar kalau aku… senang karena situasi yang dialaminya. Damn—egois, kan?"

"Sasuke—"

"Kemarin aku melihat dia bersama Neji," suara Sasuke tedengar lebih getir kali ini, seakan ia sedang menahan dirinya agar tidak meledak, "Saat itu aku melihatnya tersenyum lagi seakan situasi itu tidak pernah terjadi. Seharusnya aku senang, kan? Tapi tidak, Kak—Aku sama sekali tidak senang. Aku ingin aku yang ada di sana, membuatnya gembira lagi. Aku tidak suka orang lain yang melakukannya—aku benci Neji yang melakukannya, bukan aku!"

Jeda beberapa saat. Itachi memandang gundukan selimut di sampingnya itu dengan tatapan prihatin.

"Teman macam apa aku ini, huh?—Sahabat macam apa yang tidak senang melihat sahabatnya gembira?" Sasuke menelan ludah dengan susah payah. "Hanya orang egois macam aku, Kak... Padahal aku sudah memutuskan untuk merelakannya, tapi tidak bisa. Aku tidak bisa melepaskan tanganku. Aku… ingin menjaganya."

Itachi tertegun. Tampaknya perasaan adiknya itu terhadap Sakura sudah jauh berkembang dari yang diperkirakannya sebelumnya. Sakura bukan hanya sekedar seorang sahabat yang sudah mengubah Sasuke, tapi juga gadis yang entah bagaimana caranya sudah berhasil menguasai hati adiknya yang angkuh itu. Bahkan Hinata dahulu tidak sampai membuat Sasuke menjadi seperti ini. Sasuke yang tidak hanya mementingkan perasaannya sendiri.

"Aku mengerti," ujar Itachi kemudian, "Cemburu memang perasaan yang terkadang sulit dipahami, Sasuke. Bukan hal aneh kalau orang bisa menjadi sangat egois. Tapi setidaknya, kau masih memikirkan perasaannya. Jadi jangan menyalahkan dirimu sendiri."

Sasuke tidak menyahut.

Tersenyum paham, Itachi menepuk bahu adiknya itu. "Ya sudah. Sepertinya semua kekacauan itu membuatmu lelah. Kau istirahat saja hari ini." Pria itu lantas beranjak dari tempat tidur Sasuke. Matanya sejenak tertuju pada dompet Sasuke yang tergeletak terbuka di atas meja buffet. Ia tak bisa menahan cengirannya saat melihat secarik foto berukuran kecil terselip di sana –Sasuke, bersama seorang gadis berambut merah muda.

"Aku mau keluar, Sasuke. Mungkin baru pulang saat makan malam," beritahu Itachi sambil menutup kembali jendela, tapi membiarkan tirainya tetap dalam keadaan terbuka supaya cahaya matahari bisa masuk. "Kalau kau lapar, ada pasta dan ramen beku di kulkas. Tinggal hangatkan saja. Ah—Aku tinggalkan Rufus bersamamu, ya. Kalau kau ada apa-apa, dia bisa lari memanggilkan Sakura untukmu seperti waktu itu," ia menambahkan sambil menyeringai.

"Berisik!" gerutu Sasuke seraya menurunkan sedikit selimutnya, melempar tatapan jengkel pada Itachi. Ia benci kalau kakaknya sudah menggodanya soal kejadian yang dulu. Baginya, itu agak memalukan –tapi tak bisa dilupakan juga.

Tapi Itachi adalah satu dari segelintir orang yang tidak mempan terhadap death glare Sasuke. Ia hanya terkekeh-kekeh, lalu mengulurkan tangan mengacak rambut Sasuke dengan gemas. "Ah, adikku sudah dewasa rupanya, eh?"

"Kak—"

"Jangan terlalu dipikirkan," Itachi menyelanya dengan nada lebih lembut. Ia tersenyum. "Sekarang tenangkan saja dirimu dulu supaya besok kau bisa bertemu lagi dengan Sakura. Lagipula besok pemilihan ketua OSIS, kan? Kau juga harus bisa menentukan priorotasmu. Ah, lihat, sudah jam berapa ini!" serunya saat melihat jam yang tergantung di sisi dinding kamar. "Gawat. Kalau terlambat, Hana bisa mengomel lagi. Aku pergi dulu!"

Itachi memberinya tepukan terakhir di pundaknya sebelum melesat keluar, meninggalkan kamar dalam keadaan pintu yang masih terbuka –kebiasaan. Sasuke menggeram lagi, membenamkan wajahnya ke bantal dengan frustasi.

Yang dikatakan Itachi benar, pikirnya. Tapi tetap saja. Bukan hal yang mudah untuk tidak memikirkan gadis itu, terlebih sekarang-sekarang ini…

Tak lama kemudian, Rufus berlari-lari masuk. Retriever tampan berbulu cokelat keemasan itu melompat ke atas ranjangnya dan bergelung menindih kaki tuannya yang tertutup selimut. Hangat. Maka Sasuke membiarkan saja anjing kesayangannya itu berbaring di sana, mengabaikan noda salju bercampur tanah yang menempel dari kaki Rufus, mengotori selimutnya. Nanti bisa dibersihkan.

"Sasuke, hari ini giliranmu membersihkan kandang Rufus!" terdengar teriakan Itachi dari lantai bawah. "Nanti sore juga jangan lupa ambil cucian di laundry, ya!"

Sasuke menggerundel dan semakin merapatkan selimutnya. Tak lama, samar-samar ia bisa mendengar pintu depan ditutup. Dan suara mobil yang meninggalkan halaman depan menyusul beberapa saat setelahnya.

Rasanya baru beberapa menit Sasuke memejamkan mata, terdengar bel pintu depan berbunyi. Satu kali, dua kali, tiga kali… Sasuke membiarkannya saja. Sementara Rufus sudah melompat dari tempat tidur dan berlari ke bawah untuk menyambut tamu-entah-siapa-itu, menyalak ribut.

Rentetan suara bel dan salakan si anjing masih berlanjut. Sasuke menggeram jengkel. Digambilnya bantal, lalu menggunakannya untuk menutupi telinganya, berusaha memblokir semua keributan yang mengganggu itu. Namun sia-sia saja. Suara bel itu semakin lama justru terdengar semakin kerap, dan ia juga mendengar suara lain yang sangat ia kenal.

"SASUKE, OI!! BUKA PINTUNYA!!"

Naruto… Tch!

Sambil menggerutu sebal karena istirahatnya lagi-lagi diinterupsi, Sasuke melempar minggir selimutnya dan turun dari ranjang. Ia menyambar jaketnya, memakainya di atas kaus oblong abu-abu longgar yang dipakainya sebagai kostum tidur sebelum turun dengan malas-malasan untuk membukakan pintu bagi tamunya yang tak sabaran itu. "Iya, iya… Sebentar…"

Rufus yang ribut menyalak dan menggaruk-garuk pintu seakan sedang mencoba membukanya, langsung melompat begitu Sasuke membuka pintunya. Ternyata bukan hanya Naruto. Sai juga ada di sana, berdiri di depan pintu rumahnya.

"Whoa! Rufus!" seru Naruto saat Rufus menerjangnya, nyaris membuatnya terjengkang ke undakan. Cowok pirang itu tertawa seraya menggaruk-garuk leher si anjing yang berbulu lembut. "Apa kabar, eh, anjing pintar? Sas—" kata-katanya langsung terhenti begitu melihat tampang Sasuke yang sedang bersandar di kusen pintu, melipat kedua lengannya di dada. Naruto mengangkat alisnya. "Kenapa mukamu kusut begitu? Seperti baru bangun tidur."

"Jelas sekali kau baru bangun tidur," timpal Sai santai. Kedua tangannya tenggelam di dalam saku mantel hitamnya, senyum tersungging di bibirnya.

Sasuke memutar matanya. "Tepatnya, kalian berdua yang membangunkanku!" ia menukas, tidak berusaha menyembunyikan kejengkelannya.

"Serius baru bangun?" Si pirang jabrik nyengir. Diliriknya jam tangan digital yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. "Ini sudah tengah hari! Kau ini calon ketua OSIS atau kerbau, sih?"

"Berisik!" geram Sasuke tak sabar. "Kalau kedatangan kalian hanya untuk mencemoohku, sebaiknya kalian pulang saja. Masuk, Rufus!" Ia hendak menutup kembali pintu rumahnya, tapi Naruto menahannya dengan tangannya.

"Oke, oke. Sori," ujarnya, meringis minta maaf. "Geez… Kau ini kenapa sih, Sasuke?"

Sasuke hanya menatap si pirang dengan malas-malasan.

"Sakit?" celetuk Sai, "Sakit cinta?"

"Ha ha… lucu sekali, Sai," cemooh Sasuke, memelototi Sai. Wajahnya menghangat.

Menahan tawa, Naruto mendorong pintu itu lebih lebar. "Jangan dengarkan dia. Jadi, apa kau mau membiarkan tamumu ini berdiri kedinginan di luar sini, teman?"

Dengan enggan, Sasuke melepaskan tangannya yang menahan pintu supaya kedua karibnya itu bisa masuk. Rufus menyalak gembira saat Naruto melangkah masuk, membuat cowok itu tertawa-tawa.

"Hei, kurasa Rufus suka padaku!"

"Maaf soal yang tadi," kata Sai saat ia berjalan melewati Sasuke, "Aku hanya bergurau."

"Hn. Gurauan yang lucu," gerutu Sasuke sambil menutup pintu. Dan tepat sasaran.

"Kau dari semalam kemana saja, Sasuke?" tanya Naruto dari ruang tengah saat Sasuke sedang menuju dapur untuk mengambilkan minuman. "Tidak ikut pesta perpisahannya Yamato, lalu hari ini juga tidak datang ke bandara…"

Sasuke menghela napasnya dengan malas. Pertanyaan yang sudah diduganya. "Yamato sudah berangkat ke Kiri kalau begitu?" Ia balik bertanya, seraya memelototi catatan yang ditempelkan Itachi dengan hiasan magnet di pintu kulkas –'Sasuke : bersihkan kandang Rufus, ambil cucian, belanja (kalau sempat)—Geez… Kakak. Dia pikir ingatanku bermasalah?

"Ya, dia berangkat satu jam yang lalu," sahut Naruto. "Seharusnya dia berangkat tadi pagi, tapi dipending beberapa jam."

Sasuke sedang mengambil tiga kaleng minuman dari lemari pendingin itu ketika Rufus berlari masuk, mengendus-endus penuh harap pada lemari bawah tempat Itachi biasa menyimpan makanannya. Ekornya mengibas-ibas.

"Kau lapar?" Sasuke meletakkan kaleng-kaleng itu di atas meja konter, lalu mengambil makanan anjingnya dari dalam lemari. Terdengar suara televisi dinyalakan dari arah ruang tengah ketika Sasuke sedang menuangkan makanan anjing di wadah makan Rufus. Retriever itu langsung menyerbunya dengan lahap. "Aah…"

Naruto dan Sai sudah duduk santai di sofanya di ruang tengah ketika Sasuke kembali dari dapur. Diletakkannya dua kaleng minuman yang dibawanya di atas meja, lalu menghenyakkan diri di sebelah Naruto. Sai yang duduk di sisi lain Naruto tampak asyik membuka-buka majalah bisnis milik Itachi. Sasuke membuka kaleng minumannya, menyeruputnya perlahan sementara matanya terpacang ke layar televisi yang sedang menyiarkan acara komedi situasi.

"Hei, Sasuke. Memangnya dari kemarin kau kemana saja, eh? Dihubungi susah sekali."

"Tidak kemana-mana," sahut Sasuke, terdengar nyaris ogah-ogahan.

"Sakura mencarimu, tahu."

"Aku tahu." Lagi-lagi Sasuke menyahut datar.

Naruto mengerjap. Kedua alisnya terangkat tinggi, lalu bertukar pandang bingung dengan Sai yang juga sudah berpaling dari majalahnya. Sasuke pura-pura mengabaikan mereka, menghirup minumannya lagi.

"Kau sedang ada masalah?" Perhatian Naruto sudah teralih sepenuhnya dari televisi dan sekarang ia memandang Sasuke penuh selidik.

"Tidak."

"Apa kau sedang menghindari Sakura?"

"Tidak," dusta Sasuke.

Hening. Yang terdengar hanyalah suara televisi sementara Naruto dan Sai menatap Sasuke sangsi –karena tidak biasanya Sasuke seperti ini. Maksudnya, bukankah hari sebelumnya Sasuke lah yang mengajak mereka pergi ke pesta perpisahannya Yamato? Tapi nyatanya dia sendiri yang tidak datang, dan mendadak sangat susah dihubungi.

Tidak tahan ditatap seperti itu oleh kedua temannya, Sasuke akhirnya menyerah. Ia menggeram rendah, "—Ya. Aku memang sedang… tidak ingin bertemu dengannya dulu."

"Benar, kan yang kubilang?" kekeh Naruto seraya menyenggol Sai yang duduk di sebelahnya. "Pasti gara-gara yang kemarin lagi."

"Diamlah…"

Sai tidak tertawa, hanya tersenyum simpul. Cowok itu kembali menunduk, membalik majalah di pangkuannya. "Sakura sangat mengkhawatirkanmu," ujarnya tenang tanpa memandang Sasuke. "Dia mengira kau sedang marah padanya atau apa."

"Yeah, betul," timpal Naruto, "Tadinya malah dia mau kemari kalau saja dia tidak sedang menemani ibunya belanja."

Sasuke mendengus pelan, "Jangan bercanda. Untuk apa dia segitunya mengkhawatirkanku? Toh aku hanya temannya kan? –tidak seperti Neji," ia menambahkan dalam gumaman pelan sehingga baik Naruto dan Sai tidak mendengarnya.

"Justru karena kau temannya," kata Naruto, "Dia bilang kemarin kau mau datang, tapi ternyata tidak datang tanpa memberitahunya. Dihubungi pun tidak bisa. Pikirkan bagaimana dia bisa tidak khawatir, coba? Terlebih setelah kejadian yang dulu –ingat, saat kau tidak muncul seharian dan kemudian dia menemukanmu sedang sakit? Kalau bukan karena Sakura yang meminta, aku dan Sai mungkin tidak akan kemari. Dia cemas kau kenapa-kenapa."

Inilah salah satu alasan yang membuat Sasuke semakin sulit tidak jatuh hati pada gadis itu.

"Mungkin kalau kau memberitahu alasanmu tidak datang semalam, dia tidak akan secemas ini."

Masalahnya Sasuke tidak bisa memberitahunya alasannya tidak datang.

"Kau mau tahu pendapatku? Kurasa sebaiknya kau katakan saja perasaanmu padanya. Setidaknya dengan begitu, kau akan merasa lebih baik," usul Sai.

Sasuke memandangnya, mengernyit, "Ya, aku mungkin akan merasa lebih baik, tapi tidak dengan Sakura. Kau ingat saat kejadian dengan Naruto dulu—"

Yang disebut namanya menoleh cepat, membelalak. Wajahnya memerah teringat kejadian dulu. "Hei! Kenapa aku dibawa-bawa?" protesnya.

Namun Sasuke mengabaikannya. Entah bagaimana mulainya, tiba-tiba saja ia menjadi sangat marah. "—apa kau tidak mengerti bagaimana perasaan Sakura saat itu, huh? Bagaimana menurutmu kalau aku bilang aku suka padanya? Aku tidak bisa membuatnya seperti itu, Sai. Aku tidak sepertimu yang hanya memikirkan bagaimana perasaanmu sendiri."

Sai menutup majalahnya. "Apa maksudmu?"

"Oh, aku yakin kau mengerti maksudku. Kau tidak bodoh, Sai."

"Kalau yang kau maksud tentang aku dan Ino, dia menerimaku, asal kau tahu saja."

"Oh, yeah? Dengan mengabaikan kenyataan bahwa dia sudah punya yang lain—"

"Aku tidak peduli," desis Sai. Wajahnya yang pucat mulai memerah.

"Kau tidak peduli. Ya, jelas sekali kau tidak memikirkan bagaimana perasaan Ino yang sesungguhnya—"

"Sasuke, hentikan…" Naruto yang sudah mencium gelagat yang tidak enak dari kedua sahabatnya itu buru-buru memperingatkan. Tapi lagi-lagi ia diabaikan.

"Dia bilang dia suka padaku, dan bagiku itu cukup."

Sasuke mendengus. "Kau terlalu naïf, Sai. Bisa saja dia bilang begitu untuk menjaga perasaanmu, kan?"

Hening sejenak. Mata hitam Sai menatap Sasuke marah. "Itu bukan urusanmu!" geramnya.

"Terserah. Aku hanya mengingatkanmu, Ino sudah memiliki kekasih dan kau tidak punya hak masuk di antara mereka—"

Sai melompat berdiri. Wajahnya sudah benar-benar merah padam sekarang. Napasnya memburu. Cowok itu barangkali sudah memukul Sasuke kalau saja Naruto tidak cepat melempar dirinya ke dapan Sai, menahannya.

"Sai, tahan dirimu!" teriak Naruto, lalu berpaling untuk memelototi Sasuke, "Sasuke, bukankah kita sudah sepakat tidak akan mencampuri urusan masing-masing?!"

"Cih!" Sasuke membuang muka.

"Sebaiknya aku pergi dari sini," desis Sai, kemudian berbalik menuju pintu keluar.

"SAI—OI!"

Sai mengacuhkan panggilan Naruto. Rufus menyalak keras ketika pintu depan terbanting keras. Naruto kembali memandang Sasuke, tampak tak puas.

"Sudah puas?" tanyanya dingin.

Sasuke masih terlalu marah untuk menjawabnya. Rahangnya berkedut.

"Lain kali kalau kau butuh pelampiasan rasa kesalmu, jangan gunakan sahabatmu. Kau tahu Sai sangat sensitif dengan masalah ini, kan? Kalau kau tidak setuju dengan apa yang dilakukannya, sebaiknya TUTUP MULUTMU!"

Dengan pandangan marah terakhir, Naruto berbalik dan bergegas menyusul Sai. Sasuke mengacak rambutnya frustasi ketika pintu sekali lagi terbanting menutup.

-

Dan malam berikutnya, lagi-lagi Sasuke tidak bisa tidur. Untuk alasan yang berbeda kali ini.

-

Hari pemilihan ketua organisasi sekolah bisa dibilang adalah hari yang istimewa bagi para pelajar Konoha High. Pihak sekolah akan memberikan mereka jam bebas seharian untuk melakukan apa yang para guru sebut sebagai pembelajaran demokrasi. Seperti halnya pemilihan pemimpin negara, mereka akan menentukan siapa yang akan menjadi pemimpin para siswa selama satu tahun ke depan melalui pemilihan langsung. Aula sekolah juga telah disulap selayaknya tempat pemilihan –lengkap dengan bilik, kotak suara dan sebagainya. Sementara spanduk, poster, pamphlet dan segala atribut kampanye selama seminggu sebelumnya sudah dibersihkan dari lingkungan sekolah.

Para siswa terlihat sangat antusias. Di mana-mana terdengar mereka berdiskusi tentang siapa yang akan terpilih menjabat sebagai ketua nantinya, bahkan para guru pun tidak mau ketinggalan. Mereka punya jagoan sendiri-sendiri; Shiho yang disiplin, Kinuta yang penuh percaya diri dan Sasuke yang walaupun terhitung siswa baru, tapi sudah menarik perhatian dengan kemampuannya berkoordinasi di kepanitiaan festival sekolah.

Berbeda dengan para siswa dan guru yang antusias, para calon justru terlihat tegang. Shiho sejak tiba di sekolah pagi-pagi sekali, terus saja mendekam di ruang jurnal dan belum sekalipun meninggalkan ruangan itu, tidak peduli teman-temannya berusaha membujuknya. Kinuta yang berwajah galak, tampak jauh lebih sangar dari sebelumnya –barangkali itu caranya memperlihatkan ketegangannya. Dan Sasuke, dia…

"Terlambat…"

Gadis mermata hijau cemerlang itu berjalan mondar-mandir di depan pintu utama gedung sekolahnya, sesekali menjulurkan kepala ke arah gerbang, berharap melihat orang yang sedang ia –mereka—tunggu menampakkan batang hidungnya. Namun yang ditunggu sepertinya belum menampakkan tanda-tanda akan segera muncul dalam waktu dekat.

"Astaga… Apa sebenarnya yang sedang dia lakukan?" Sakura bertanya gusar pada kedua sahabatnya yang sedang duduk di undakan pelataran depan.

"Mungkin dia kesiangan?" usul Naruto sambil mengangkat bahunya. Berbeda dengan Sakura yang panik, ia dan Sai terlihat santai-santai saja, malah terkesan cuek. Agaknya mereka masih belum melupakan kejadian hari sebelumnya.

"Kesiangan? Di hari sepenting ini—Oh, itu ide bagus!" pekik Sakura. Tangannya dengan cepat merogoh saku jaketnya, mengeluarkan ponsel dari sana. Jemarinya lincah menekan keypad bernomor lima –speed dial ke nomor Sasuke. Gadis itu menggeram jengkel saat lagi-lagi suara mailbox yang menjawabnya. "Jangan-jangan dia masih sakit—"

"Dia tidak sakit," sela Sai dengan nada bosan. Matanya tak lepas dari layar ponsel yang sedang dimainkannya. "Nanti juga dia datang."

"Tapi mereka sudah hampir memulai briefing-nya! Menma tadi tanya Sasuke sudah datang belum! Setidaknya kan Sasuke bisa kasih kabar dulu atau apa."

Setelah Sakura berkata seperti itu, sebuah BMW hitam yang sudah sangat mereka kenali berhenti tepat di depan gerbang sekolah. Sesosok cowok jangkung bermantel dan berambut hitam turun dari pintu depannya.

"Itu dia datang," kata Naruto.

"Ah, syukurlah…" Sakura terlihat lega.

Di seberang mereka, Sasuke menutup pintu mobil sebelum BMW itu melaju perlahan meninggalkan gerbang. Cowok itu menoleh ke arah gedung utama sekolahnya, mendapati Sakura sudah menunggunya di sana, bersama Sai dan Naruto. Sasuke mengatupkan bibirnya, kejengkelannya hari sebelumnya masih belum hilang sepenuhnya.

"Sasuke!" Gadis berambut merah muda itu berlari-lari kecil menyongsongnya. "Astaga.. Kukira kau masih sakit."

"Aku tidak…" kata-kata Sasuke terhenti. Di undakan, Sai sudah beranjak dari duduknya. Mata keduanya yang sama-sama kelam bertemu, sekilas saja, tapi cukup bagi Sasuke untuk mengetahui bahwa Sai masih belum melupakan kejadian kemarin seperti halnya dirinya.

Dengan cepat Sai berpaling dan berbalik masuk ke dalam kampus.

"Kau datang juga," suara Naruto terdengar agak kaku.

Sasuke menoleh ke arahnya dan Naruto memberinya seringaian yang tidak mencapai matanya yang berwarna biru langit.

"Hn."

"Sebaiknya kau bergegas, Sasuke. Para kandidat disuruh berkumpul briefing dengan OSIS," kata Naruto, mengendikkan kepala ke arah belakangnya.

"Yeah, benar. Ayo cepat!" Sakura yang tidak menyadari kekakuan yang tak biasa itu, segera mengamit lengan Sasuke, menyeret cowok itu masuk melewati Naruto yang kemudian menyusul mereka di belakang. Kemudian mereka berpisah di dekat tangga menuju ruang rapat OSIS di lantai tiga. Sakura mengantar Sasuke sementara Naruto menuju ke aula, menunggu mereka di sana bersama Sai.

"Ah, akhirnya kau datang juga, Sasuke!" Mereka bertemu Ino di depan ruang rapat. Ino yang juga menjadi salah satu panitia pemilihan, baru saja keluar dari sana. "Cepatlah, briefing-nya sudah mulai!"

Seisi ruang rapat langsung senyap begitu pintu itu berayun terbuka dan Sasuke melangkah masuk. Menma yang sedang bicara, berhenti saat melihat sang kandidat ketiga memasuki ruangan. Cowok berambut terang itu tersenyum ramah padanya.

"Maaf terlambat," ujar Sasuke berbasa-basi.

Menma mengangguk. "Silakan duduk, Uchiha," ujarnya sambil menunjuk bangku kosong di sebelah Kinuta Dosu.

Sasuke lantas berjalan menuju bangku itu, diikuti pandangan mencela dari beberapa anak –tapi seperti biasa, ia mengabaikan mereka. Briefing pun dilanjutkan kembali.

"Kukira suamimu itu tidak akan datang," kata Ino setelah menutup pintu.

Gadis bermata hijau di sebelahnya mendengus tertawa, "Kau ini masih saja senang menyebutnya dengan 'suamimu'. Sasuke bukan suamiku."

"Ah, ya, ya. Tentu saja," Ino tertawa kecil, memandang penuh arti pada Sakura. "Karena sebentar lagi ada cowok lain yang bakal jadi suami resmimu, kan? Jadi kapan kau berencana mengatakan perasaanmu pada si Hyuuga tampan itu, hm?"

"Ino…" Wajah Sakura merona merah. Ia tersipu-sipu.

Ino tertawa-tawa lagi. Sakura yang sedang tersipu benar-benar lucu. "Tapi tidak tahu kenapa aku lebih suka melihatmu bersama Sasuke dari pada Neji, Sakura," kata Ino kemudian, saat mereka sedang menyusuri koridor menuju aula tempat diadakannya pemilihan.

"Eh? Kenapa memangnya?" Sakura memandangnya heran.

Ino meletakkan jarinya di dagu, berpikir. "Um… Kalian lebih serasi soalnya. Dan Sasuke, walaupun angkuh-angkuh menyebalkan begitu, kelihatannya perhatian sekali padamu."

Sakura mendengus tertawa, mengibaskan tangannya. "Tentu saja. Kami kan berteman. Sasuke juga perhatian dengan Naruto dan Sai juga."

Tapi Sakura tahu itu tidak sepenuhnya benar. Seorang gadis biasanya bisa merasakan kalau ada seseorang yang memiliki perasaan khusus terhadapnya, begitu pula dengan Sakura. Dan dari sikap Sasuke terhadapnya, caranya menatap yang berbeda dari yang dulu, Sakura tahu… namun ia berusaha menepis pikiran itu dari kepalanya. Salah satu alasannya, tentu saja, karena Neji. Tapi bukan berarti ia tidak menyukai Sasuke. Sebagai sahabat yang banyak melewatkan waktu bersama, tentu saja Sakura menyayangi cowok itu juga. Dan persahabatan mereka terlalu berharga untuk terusik dengan sesuatu yang dinamakan cinta sepihak. Itulah mengapa Sakura kerap menyebut-nyebut soal Neji di depan Sasuke, berharap Sasuke akan menyerah dan melupakan perasaannya.

"Sakura," kata Ino setelah beberapa lama mereka berjalan dalam diam di koridor yang sepi –hampir semua anak sudah turun ke aula untuk menunggu giliran mereka memilih. Hanya beberapa saja yang masih terlihat tinggal di kelas sambil mengobrol. Kebanyakan para gadis.

Sakura menoleh. Sebelah alisnya terangkat saat Ino tiba-tiba berhenti. "Hm? Ada apa, Ino?"

Mata biru itu balas menatapnya, tampak ragu. Ia menggigit bibirnya dengan sikap gelisah. "Sakura, sebenarnya…" kata-katanya terhenti. Ino terlihat gugup.

"Kau ingin mengatakan sesuatu?" tanya Sakura sambil memandang sahabatnya itu bingung.

Lama sampai akhirnya Ino menjawab, "Tidak—" nadanya terdengar nyaris seperti mengeluh, "Tidak jadi. Lain kali saja."

Tapi Sakura sudah terlanjur penasaran. "Kau mau bicara apa, sih?"

Ino meringis padanya. "Tidak ada. Bukan hal yang penting. Lupakan saja. Oke?"

"Aa—Ino! Kau membuatku penasaran!!"

-

Mereka duduk di ruang kelas kosong di dekat aula bersama beberapa anak lain yang sedang menunggu giliran mereka memilih. Sai, dengan kaki disilangkan dan punggung bersandar di punggung kursi, memandang ke luar jendela. Ekspresinya masam. Sementara di bangku di seberangnya, Naruto duduk dengan sikap tidak sabaran.

Percuma saja, pikir Naruto sambil menatap Sai jengkel. Sudah sejak hari sebelumnya ia berusaha membujuk Sai untuk tidak mengambil hati kata-kata Sasuke, tapi sampai sekarang belum membuahkan hasil apa-apa. Sai masih terlalu keras kepala –dan hatinya pun masih terlalu panas untuk bisa dibujuk.

"Apa kau tidak bisa memaklumi dia—"

"Tidak."

"Situasinya juga hampir sama—"

"Tidak."

"Dia bicara seperti itu karena dia sedang emosi, Sai."

Sai mengabaikannya. Ia mengambil earphone yang tersambung dengan ponselnya, menjejalkannya ke lubang telinganya. Lalu mengeraskan volume musik sehingga suara dari luar benar-benar terblokir.

Naruto menggeram pelan. "Terserah lah!" ia akhirnya menyerah, mengibaskan tangannya dengan tak sabar. "Sasuke juga, tidak bisa menahan diri," ia menggerutu sendiri, mengacak-acak rambut pirangnya yang memang sudah berantakan dari sananya. "Jadi kacau semuanya!"

Ah, Naruto sama sekali tidak menyangka Sai bisa semenyebalkan ini kalau sedang marah. Padahal biasanya cowok itu selalu bersikap tenang dan mudah dibujuk –tapi sekarang. Naruto tidak tahu apa yang mungkin bisa dilakukan oleh Sai. Saat itu ia hanya bisa berharap situasinya tidak akan lebih buruk dari ini.

Menghela napas tidak puas, Naruto lantas melempar pandangnya ke arah pintu, memandang anak-anak yang berseliweran di koridor. Beberapa anak kelas satu yang baru saja selesai memilih melintas dari arah aula, sementara anak-anak kelas dua dan tiga mulai berdatangan menunggu giliran, membuat koridor itu semakin penuh dan bising.

Tak lama kemudian, kepala merah muda itu muncul di pintu, melongok ke dalam. Mata hijaunya menyapu ruangan yang ramai itu sekilas sebelum akhirnya menemukan dua sahabatnya di sudut. "Naruto! Sai!" panggilnya, lalu bergegas masuk menghampiri mereka.

"Sasuke sudah tiba dengan selamat, sehat walafiat di ruang rapat kalau begitu?" Naruto nyengir padanya.

Sakura tertawa kecil. "Kau ini…" ujarnya gemas. Ia menoleh lagi ke arah pintu. "Belum dimulai, ya?"

"Baru giliran anak kelas satu," jawab si pirang seraya menarik satu bangku kosong ke dekatnya, menawarkannya pada Sakura.

Setelah duduk, pandangan Sakura jatuh pada Sai yang tampaknya tidak menyadari kehadirannya. Cowok itu masih memandang ke luar jendela, jemarinya yang panjang mengetuk-ngetuk meja seirama dengan musik yang sedang didengarkannya lewat earphone. Tampaknya ia sedang tenggelam dalam dunianya sendiri, tidak memperhatikan sekelilingnya. Setidaknya itu sebelum Sakura menyentuh lengannya.

"Kelihatannya asyik sekali," Sakura tersenyum padanya.

Sai balas tersenyum, tapi tidak berkata apa-apa. Ia kembali memandang jendela, wajahnya kembali muram.

Sakura, yang merasa sikap Sai itu tidak biasa, melempar pandang bertanya pada Naruto. "Kenapa Sai?"

Yang ditanya malah meringis, menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. "Dia er… Bad mood."

"Bad mood?" Sakura tampak tak paham. Diliriknya kembali Sai –yang kala itu sedang menghela napas berat. "Hei," Sakura sekali lagi menyentuh lengan cowok itu.

"Hn?" Sai menoleh padanya seraya melepas sebelah earphone dari telinganya.

"Sedang ada masalah?"

Sai mengerling Naruto –yang diam-diam menggeleng padanya—lalu kembali memandang Sakura. "Tidak juga," sahutnya sambil tersenyum.

Entah bagaimana, tapi Sakura merasa ada yang sedang disembunyikan kedua temannya darinya. Sebenarnya bukan hanya sekarang ia merasa begitu, di hari-hari yang lalu terkadang ia merasa begitu –terutama Sai yang kerap menghilang secara misterius. Ia lantas menoleh pada Naruto, membuat cowok itu mendadak gugup. Sakura semakin mengernyitkan dahinya.

"Kalian berdua tidak sedang menyembunyikan sesuatu dariku, kan?"

Kedua cowok itu bertukar pandang, lalu dengan kompak menggelengkan kepala. Sakura menatap mereka tidak puas. Pipinya digembungkan.

"Oh, astaga… Kenapa hari ini banyak sekali orang yang bersikap aneh?" gerutunya sebal. "Tadi Ino—"

Prak! Sai tidak sengaja menjatuhkan ponselnya. Cowok itu buru-buru membungkuk untuk mengambilnya di bawah bangku. Rona kemerahan samar terlihat di wajahnya yang pucat. Naruto berdeham dan saat berikutnya ia berusaha mengalihkan perhatian Sakura dengan menanyakan tentang kemajuan latihan dramanya.

"Hari ini kami akan mencoba latihan di gymnasium!" seru Sakura ceria. "Kata Tenten supaya kami terbiasa dengan ruangan itu. Kurasa nanti kalian bisa ikut melihat."

"Cool!"

-

Menjelang jam makan siang, akhirnya semua siswa sudah menggunakan hak pilihnya. Para panitia sibuk melakukan persiapan untuk penghitungan suara di depan para guru sementara beberapa siswa memilih untuk memulangkan diri –kecuali mereka yang masih ada kegiatan klub setelah sekolah. Sisanya, termasuk tim sukses masing-masing kandidat, tetap bertahan untuk melihat siapa kandidat yang mendapatkan suara terbanyak di pemilihan kali ini. Sakura, Naruto dan Sai termasuk di antaranya.

Sasuke juga sudah bergabung bersama mereka di aula. Meski begitu, ia berdiri berjauhan dengan Sai dan tidak bicara padanya. Sai pun tidak repot-repot menyapanya. Naruto yang menjadi penengah di antara mereka berusaha keras memancing obrolan –yang berakhir dengan dirinya yang kesal sendiri karena diacuhkan oleh keduanya.

Untung saja saat itu Sakura sedang disibukkan oleh Ino yang memintanya untuk membantu membersihkan noda tinta yang entah bagaimana bisa mampir ke wajahnya.

"Aargh! Si Inui sial itu sengaja mencipratkan tinta ke mukaku! Kurang ajar!" Ino mengomel-ngomel saat Sakura mengantarnya ke kamar mandi. "Lihat! Blusku juga kena! Ibuku bisa membunuhku kalau dia tahu!" –Ah, bahkan rambut pirang terangnya pun terkena titik tinta hitam kebiruan itu.

"Jadi, kalian masih tidak mau saling bicara?" desis Naruto tak sabar. Ia melirik Sai yang berdiri di sisi kanannya, tampak sedang mengawasi anak-anak panitia yang sedang membuka kotak suara untuk dihitung. Sementara itu, di sisi kiri Naruto, Sasuke bersandar di dinding di belakangnya dengan kedua lengan terlipat di depan dada. Ia membuang muka saat Naruto mengerling penuh harap padanya.

Naruto menghela napas keras-keras. "Ayolah… Jangan begitu. Apa yang akan dikatakan Sakura kalau dia sampai tahu?"

Tidak ada seorang pun yang menanggapi. Naruto semakin bingung, tidak tahu harus berbuat apa supaya kedua temannya itu mau saling bicara lagi. Dan ia juga tidak tahu siapa sebenarnya yang salah dalam hal ini. Di satu sisi, ia sebenarnya setuju dengan kata-kata Sasuke hari sebelumnya. Tapi ia juga tidak enak kalau mau menyalahkan Sai, yang menurutnya, masih terlalu naïf dalam hal yang berhubungan dengan cewek. Bukan salahnya juga kalau ia tersinggung dengan kata-kata Sasuke yang menusuk.

Frustasi sendiri, Naruto mengacak rambut pirangnya dengan geram.

Saat itu, salah satu panitia memanggil Sasuke supaya bergabung dengan kandidat lain. Tanpa berkata apa-apa lagi pada Naruto dan Sai, ia pun dengan senang hati meninggalkan tempat itu, bergabung dengan Shiho dan Kinuta.

"Sai—"

"Jangan buang-buang napasmu, Naruto," Sai menyelanya.

Naruto memutar bola matanya. "Astaga…"

Tak lama, anak-anak yang masih tinggal mulai mendekat. Proses penghitungan sudah dimulai. Sakura bersama Ino berada di barisan paling depan di belakang bangku para guru. Naruto dan Sai di belakang mereka.

"Menurutmu apa Sasuke akan menang?" Sakura menjulurkan lehernya, memandang Sasuke. Cowok itu terlihat santai, nyaris tak peduli. Kontras dengan Shiho dan Kinuta yang terlihat agak tegang.

"Tidak tahu. Kuharap begitu…" sahut Ino, masih sibuk menggosok-gosok setitik noda tinta yang membandel di dagunya.

"Jangan digosok terus. Bisa lecet, tahu!"

Ino cemberut. Ia tersentak kaget tatkala seseorang di belakangnya menyentuh tangannya di sisi tubuhnya, lalu merasakan jemari asing itu menyusup di sela-sela jarinya, menggenggamnya lembut. Wajahnya mendadak memanas, tapi ia tidak menarik tangannya.

"Tidak kelihatan, kok," orang itu berbisik, membuat tengkuk gadis itu meremang. "Kamu masih cantik."

Ino menelan ludah, menahan dirinya sekuat tenaga untuk tidak berbalik menghadap orang yang berdiri dekat di belakangnya itu. Yang dilakukannya hanya membalas meremas tangan itu lembut. Senyum samar terulas di wajahnya yang merona.

Naruto yang melihat itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Dehemannya pun tidak membuat kedua orang itu melepaskan tautan tangan mereka. Baru saat Sakura menoleh untuk bicara pada Ino, gadis itu menyentak lepas tangannya.

"Kau kenapa, sih?" Sakura bertanya bingung, "Kenapa mukamu merah begitu? Kepanasan?"

"T—Tidak, kok!" kilah Ino, lalu menunjuk ke papan penghitungan. "Lihat, Sasuke dapat suara lagi. Wah… dia memimpin. Ha ha ha…"

-

Semakin sedikit sisa kertas suara yang dihitung, suasana di aula itu semakin bising. Para pendukung Sasuke yang hadir bersorak-sorai ribut bahkan sebelum kertas-kertas suara itu habis. Sudah terlihat siapa yang mendapatkan suara terbanyak di pemilihan kali itu.

"Ah, gila! Selisihnya jauh banget!" seru Naruto semangat. Di depannya, Sakura tampak berseri-seri.

"KYAAA!! SASUKE MENANG! SASUKE MENANG!!" jerit sekelompok gadis yang berdiri tak jauh dari mereka.

"Suara terakhir…" cowok yang membacakan kertas suara, membuka lipatan kertas terakhir dari tumpukan. Ia bedeham –untuk menimbulkan kesan dramatis, yang sayangnya gagal karena anak-anak sudah ribut. Tidak peduli sudah diperingati oleh para guru—lalu membacanya, "…Shiho!"

Bahkan nama kandidat lain yang disebut tidak bisa meredakan euphoria para pendukung Sasuke. Di depan sana, Sasuke sudah disalami dengan penuh salut oleh dua kandidat lainnya dan ketua OSIS yang masih menjabat, Menma. Kemudian dengan canggung menyambut tepukan dari para pendukungnya. Dibanding tadi, sekarang ia justru terlihat lebih gugup.

"Um… terimakasih."

"Sasuke!!" Sakura keluar dari kerumunan, disusul Naruto, menghampiri sahabat mereka yang tengah disalami oleh beberapa guru –termasuk Kakashi yang menjadi salah satu pembina organisasi sekolah.

Sakura melompat, memberinya pelukan singkat yang dengan sukses membuat cowok itu membeku di tempat. "Selamat ya, Sasuke…" ucapnya berseri-seri.

"Ciee.. yang jadi ketua OSIS," kata Naruto sambil nyengir lebar, "Selamat, Sobat!" ia menjabat erat tangan Sasuke, lalu memeluknya hangat dan memberinya tepukan salut di bahu.

"Terimakasih," ucap Sasuke masih agak canggung.

"Jadi kapan diresmikannya, eh?"

"Um…" Sasuke berusaha keras tidak terlalu banyak memandang Sakura yang masih tersenyum manis padanya, "Open Recruitment dimulai minggu depan. Plenonya setelah festival sekolah."

"Eh? Mana Sai?" Sakura yang baru menyadari absennya teman mereka yang satu itu, celingukan ke segala jurusan.

"Dia sedang ke kamar kecil," sahut Ino yang baru bergabung. Gadis itu tersenyum cerah pada Sasuke. "Hei, cowok cakep, selamat, ya…"

"Hn." Ada kekecewaan samar yang terasa di sana, tapi Sasuke berusaha mengabaikannya. Terlebih, egonya melarangnya untuk mengharapkan ucapan selamat dari Sai.

Tapi toh, Sai mengucapkannya juga, walaupun dengan kekakuan yang tidak ditutup-tutupi. Dan setelah itu semuanya kembali seperti biasa –maksudnya, seperti biasa sebelum Sai mengucapkan selamat, mereka kembali tidak saling bicara. Namun itu tak lantas membuat Sai mengabaikan janjinya untuk membantu Sasuke menyiapkan latar panggung untuk drama. Ia tetap rutin datang untuk menyelesaikan lukisan latarnya.

-

"Hei, Naruto. Ini hanya perasaanku saja, atau memang Sasuke dan Sai tidak saling bicara, ya?" tanya Sakura beberapa hari setelahnya. Saat itu mereka sedang berada di gymnasium. Sakura sedang menunggu latihan dramanya dimulai, sementara Naruto bersama beberapa anak lain –termasuk Sasuke dan Sai—sedang menyelesaikan properti yang belum jadi.

Ekspresi di wajah Naruto terulang sempurna seperti beberapa hari yang lalu –meringis, seraya menggaruk belakang kepalanya dengan sikap gugup. "Er…"

Sakura mengerutkan dahinya. "Jangan mengelak lagi. Sejak hari senin aku tidak melihat mereka saling bicara. Ada apa sih sebenarnya?" Gadis itu memandang gusar pada Sasuke yang sedang memalu sesuatu di sisi lapangan, kemudian Sai yang sedang mengecat kanvas di sisi yang lain.

Naruto mengeluh pelan. Sepertinya ia memang tidak bisa menyembunyikan ini lebih lama lagi dari Sakura. "Ada sedikit masalah di antara mereka sebenarnya," ia memulai, "Ingat saat kau meminta kami menjenguk Sasuke waktu itu?" –Sakura mengangguk—"Saat itu terjadi pertengkaran kecil antara Sasuke dan Sai. Kau tahu kan, Sasuke kalau sedang senewen bicaranya suka kelewatan. Saat itu juga begitu, dan Sai tampaknya tersinggung dengan kata-katanya."

"Memangnya Sasuke bicara apa?" tanya Sakura ingin tahu.

"Itu…" Naruto terlihat ragu. "Bukan sesuatu yang penting sebenarnya. Ha ha…" ia tertawa canggung.

Sakura merengut. "Naruto, serius. Memangnya apa yang mereka bicarakan?"

Lagi-lagi Naruto menggaruk kepalanya yang tak gatal. Tidak mungkin ia memberitahu Sakura masalah ini. Memberitahunya sama halnya dengan melanggar janjinya pada Sai untuk tutup mulut. Terlebih Naruto terlalu ngeri membayangkan apa yang terjadi kalau Sakura sampai tahu. Bukan hanya persahabatannya dengan Sai yang dipertaruhkan, tapi Sakura dan Ino juga pasti akan terlibat.

"Sebenarnya aku juga tidak begitu ingat," ujarnya berdusta, menghindari tatapan Sakura, "Soalnya waktu mereka bertengkar, aku sedang ada di kamar mandi."

Mendengar jawaban Naruto yang tidak memuaskannya, Sakura cemberut. Bahunya turun dan ia bersandar pada bangku tribun di belakangnya.

"Jangan terlalu dipikirkan," kata Naruto menghibur, "Nanti juga baikan sendiri. Aku yakin."

Tapi sepertinya Sakura sendiri tidak yakin. Dan ia tidak suka melihat kedua sahabatnya saling mendiamkan seperti itu.

Keheningan menyusul. Yang terdengar hanyalah suara anak-anak yang sedang bekerja. Sesekali Naruto mencuri pandang ke arah gadis di sebelahnya sementara ia mencampur cat di atas bentangan surat kabar bekas.

Tiba-tiba terdengar teriakan kesakitan dari arah Sasuke, disusul suara dentang palu besi yang membentur lantai. Sasuke memuntahkan sederetan kata-kata umpatan yang luar biasa seraya mengibas-ibaskan tangannya yang tampaknya baru saja terkena palu. Keributan itu lantas menyentakkan Sakura.

"Oi! Kenapa kau?!" seru Naruto, yang bukannya bergegas menolong malah tertawa. "Ada guru yang mendengarmu, jabatan ketua OSIS-mu bisa langsung dicabut tuh!" Anak-anak lain yang sebagian besar cowok, ikut tergelak.

"Berisik!"

Tampaknya hanya Sakura yang tergerak menolong saat itu. Yah, mungkin tidak seandainya para gadis dari tim Sasuke yang sebagian besar anak kelas satu tidak terlalu canggung untuk mendekati si cowok dingin itu.

"Tanganmu tak apa?" Sakura menyambar tangan Sasuke dan melihat jari telunjuknya yang terluka. Bagian itu memerah, ada sebagian kecil kulitnya yang terkelupas dan ada bercak gelap di bagian kukunya. Gadis itu meringis. "Sakit, ya?"

"Tidak usah ditanya," gerutu Sasuke. "Ouch! Lembut sedikit bisa tidak, sih?!"

"Ups, sori…" Sakura tertawa kecil. Dengan lembut ia mengambil jari Sasuke yang memar, membersihkan setitik darah yang keluar dengan tissue basah yang dibawanya, lalu meniup-niupnya sambil merekatkan plester di sana.

Sasuke menelan ludah, bukan karena sakit di tangannya, tapi karena sentuhan gadis itu membuat jantungnya berdesir tak karuan. "K-Kau biasa membawa plester kemana-mana?" ia memecah keheningan canggung yang menyusup sementara Sakura mengurusi tangannya yang terluka.

"Aku dulu sering terjatuh dan luka. Makanya ibuku selalu menyediakan plester di tasku. Sudah menjadi kebiasaan sampai sekarang," sahut Sakura sambil nyengir. "Selesai! Sudah lebih baik?"

"Aa.. Trims."

"Tidak masalah," balas Sakura ceria sambil meremas bekas bungkus plesternya dan memasukkannya kembali ke dalam tas selempang yang menggantung di bahunya. "Hei, Sasuke."

"Hn?" Sasuke yang baru saja mengambil kembali palunya dari lantai dan hendak melanjutkan lagi pekerjaannya, menghentikan gerakannya dan menoleh.

"Kau dan Sai sedang bertengkar?"

Pertanyaan Sakura tidak membuatnya terkejut. Ia tahu lambat laun Sakura pasti akan menyadarinya juga. Gadis itu tidak bodoh. Sasuke mengambil waktu untuk menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab, "Kau bisa lihat sendiri, Sakura."

"Ada masalah apa?" Dahi Sakura berkerut. "Memangnya tidak bisa dibicarakan, ya?"

Kalau bisa Sasuke tidak ingin membicarakan ini. Ia tidak tahu harus senang atau kesal, karena tepat saat itu dari arah pintu utama gymnasium, muncul beberapa teman klub teater Sakura, termasuk gadis bercepol yang menjadi sutradara di pementasan drama dan beberapa anak kelas tiga. Neji ada di antara mereka, sedang mengobrol dengan salah satu cowok kelas tiga yang tidak dikenal Sasuke.

"Tidak usah dipikirkan," gerutunya. Diletakkannya kedua tangannya di bahu Sakura, lalu dibalikkannya tubuh gadis itu sehingga ia menghadap ke arah pintu. "Alfredo-mu sudah datang. Jangan membuat dia menunggu."

"Sasuke…" Sakura memprotes. Wajahnya merona manis.

"Sudah sana pergi," Sasuke berlagak mengusirnya dengan mengibas-ibaskan tangannya.

Beberapa saat, Sakura berdiri saja di tempatnya, seakan terkejut dengan tindakan Sasuke. Namun kemudian ia tersenyum, sebelum berbalik untuk bergabung dengan rombongan yang baru datang. Bersama Neji.

"Wow… Kau tidak apa-apa dengan itu?" Naruto yang baru mendekat sambil membawa seember cat dan kuas, mengendikkan kepala ke arah Sakura dan Neji. Lalu menyeringai pada Sasuke.

Sasuke balas menyeringai, lalu berpaling tanpa mengatakan apa-apa. Meskipun ia mengatakan 'tidak apa-apa' atau 'itu bukan urusanku' seperti biasanya, semua itu tidak akan membuatnya merasa lebih baik. Toh pada akhirnya ia akan sakit juga. Ia hanya mencoba untuk membiasakan dirinya.

Ah, lebih tepat kalau disebut 'memaksakan diri untuk terbiasa'. Bagaimana tidak? Karena sampai minggu depan, klub teater akan latihan di tempat yang sama dengannya. Dan itu artinya mau tidak mau Sasuke harus tahan melihat Sakura dan Neji bersama-sama. Terlebih saat mereka diharuskan berakting menjadi sepasang kekasih. Mereka memang tidak selalu latihan akting. Kadang-kadang mereka hanya duduk melingkar, saling sharing tentang latihan yang sudah dijalani dan segala macam. Tapi justru di sanalah Sasuke kadang terpaksa harus melihat keakraban Sakura dan cowok itu. Tak jarang Sakura tidak segan meletakkan tangannya di atas lutut Neji sementara mereka bicara dan tertawa.

Itu menjadi tontonan dan hiburan yang menarik bagi anak-anak lain, tapi tidak bagi Sasuke. Dan usahanya untuk mencoba ikut senang melihat Sakura yang tersenyum tidak banyak mengalami kemajuan.

Malah, mengalami titik balik ketika suatu hari ia melintas di depan sebuah kelas kosong saat jam istirahat makan siang. Saat itu ia baru kembali dari kamar kecil dan tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka. Nama Sakura yang disebut-sebut, membuatnya penasaran. Ia akhirnya berhenti dan mendengarkan.

Dan apa yang ia dengar di sana tidak membuat suasana hatinya menjadi baik. Tidak. Sebaliknya, darahnya seakan terkuras habis dari wajahnya mendengar kata-kata orang itu. Jantungnya berdegup liar dan mendadak ia menjadi sangat marah. Hell—Sasuke tidak pernah merasa lebih marah dibanding saat itu. Kalau saja ia tidak bisa menahan dirinya, barangkali ia akan menyerbu masuk dan menghajar orang itu. Tapi yang ada di kepalanya saat itu hanya satu nama, Sakura.

Sasuke tidak ingat betul bagaimana ia menemukan gadis itu. Yang jelas, saat ia melihatnya baru saja keluar dari laboratorium biologi bersama Ino, Sasuke langsung menyambar pergelangan tangan gadis itu dan menyeretnya ke sudut koridor yang sepi.

"Sasuke, apa-apaan sih kau!" seru gadis itu jengkel seraya menyentakkan tangannya lepas, namun pegangan Sasuke terlalu kuat.

"Sakura!" Ditatapnya mata hijau di depannya itu dalam-dalam, cengkeramannya pada tangan sang gadis mengerat. "Dengarkan aku. Kau harus menjauhi Neji."

-

TBC…

-

Ternyata saya gak bisa hiatus.. =_=a

Heu… ceritanya makin gak jelas gak sih? Gomen ne?

Makasih buat yang udah baca, mereview, mengalert, mengefave –bowed-

Sampe ketemu di chapter berikutnya. ^^

(A/N gak mutu)

_