Disclaimer sudah diwakili di depan. Bukan saya pokoknya mah. XD
Oke, sekarang keadaannya benar-benar kacau. Setidaknya itulah yang dirasakan Sasuke saat ini. Belum selesai masalahnya dengan Sai, sekarang Sakura ikut-ikutan marah besar padanya. Seakan belum cukup, ia juga harus menerima pukulan telak Naruto di pipinya.
Yah, ia tidak bisa sepenuhnya menyalahkan mereka. Kalau bisa dibilang, di sini ialah yang bersalah.
Dan Sasuke benar-benar menyesal. Bukan hanya karena tindakan sembrononya yang tanpa pikir panjang dan pertimbangan yang matang langsung mengintervensi hubungan Sakura dan Neji, juga karena gara-gara ialah gadis itu menangis.
Sial –Sasuke belum pernah melihat Sakura semarah itu sebelumnya. Bahkan ketika dulu mereka masih dalam masa hukuman bertiga dengan Naruto. Ia masih ingat cara gadis itu menangis, marah-marah dan berteriak padanya di sekolah tadi siang. Mungkin, kalau tidak ada Ino dan Naruto yang mencegahnya, Sakura bisa saja mencakarinya sampai habis. Dan ia juga tidak tahan terhadap tatapan penuh kecewa yang diterimanya dari Naruto.
Sial! Sial! Sial!!
Oh—Ini semua gara-gara Neji.
Ingin sekali rasanya Sasuke bisa berkata seperti itu. Namun setelah ia memikirkannya kembali –setelah ia lebih tenang, tentu saja—hell! Bahkan cowok itu bisa dikatakan tidak tahu apa-apa. Dan belum tentu apa yang didengarnya dari cewek-cewek tukang gosip—yah, Sasuke melupakan fakta yang satu ini, bahwa cewek-cewek kelas tiga itu suka bicara seenaknya—itu benar. Bisa saja mereka berkata seperti itu hanya karena tidak suka ada gadis lain yang dekat dengan cowok yang mereka taksir. Terlebih salah satu gadis itu adalah Yakumo, mantan kekasih Neji.
Tapi… percakapan mereka benar-benar mengganggunya.
"Neji tidak benar-benar menyukai Haruno, aku tahu. Gadis bodoh itu jelas mengiranya begitu."
"Tapi Neji kelihatan menyukainya juga…"
"Kalau begitu kau juga tertipu. Aku sudah mengenalnya lama. Dia memang baik –tapi idiot. Sikapnya itu bisa membuat siapa pun salah paham."
"Ah—Geez, Yakumo, kalau yang kau bilang itu benar, mantanmu itu benar-benar aktor hebat. Dia berbakat jadi playboy—"
Kalau Neji benar-benar berniat mempermainkan Sakura-nya, Sasuke bersumpah akan mematahkan leher cowok kurang ajar itu –dan ia rela melakukan apa pun untuk mencegahnya membuat Sakura menangis. Itulah yang ada dipikirannya saat mendengarnya. Namun kini ia menyesalinya.
Sakura telah menangis, bukan karena Neji, tapi karena ia, Sasuke.
Sasuke sedikit mengernyit ketika dirasakan memar di bawah matanya akibat pukulan Naruto berdenyut menyakitkan. Tangannya meraba-raba bagian itu –sepertinya bengkak. Naruto sial, umpatnya dalam hati. Padahal tidak perlu sampai memukul seperti itu. Sakit sekali…
"Haah.. tidak bisa dipercaya," kata suara Itachi yang baru saja kembali dari dapur, "…baru saja memenangkan pemilihan ketua OSIS, kau sudah berkelahi seperti ini."
Sasuke yang saat itu sedang duduk di sofa depan televisi otomatis menoleh saat sang kakak duduk di sebelahnya, meletakkan dua mangkuk di atas meja. Satu mangkuk berisi es dan satunya lagi berisi cairan merah mencurigakan yang mengepulkan uap panas.
"Aku tidak berkelahi," ia menggerutu, mengawasi saat Itachi mengambil es yang sudah dibalut sapu tangan dan menempelkannya di memarnya dengan beringas. "Ouch! Bisa pelan sedikit tidak, sih!"
Itachi mendengus, lalu membiarkan Sasuke mengambil alih es di tangannya. Kemudian menghela napas. "Adikku memang berbakat jadi berandalan. Kenapa pakai acara berkelahi segala sih? Kau tidak khawatir kemenanganmu bakal dicabut, eh?"
"Sudah kubilang aku tidak berkelahi. Ini hanya salah paham."
Namun sang kakak mengabaikan ini. "Kau berkelahi dengan siapa?"
Sasuke memelototi kakaknya. "Naruto –dan aku tidak berkelahi dengannya, oke?" ia mengulangi dengan geram. "Hanya salah paham. Salah paham yang benar-benar bodoh…" ia menambahkan dalam suara pelan.
Di sebelahnya, Itachi hanya terkekeh saja sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Menggumamkan kata-kata yang kedengarannya seperti 'Dasar anak muda!' seraya meraih remote televisi di meja dan mengganti chanel ke acara berita malam.
"Apa itu?" tanya Sasuke selang beberapa saat, mengendikkan kepala ke arah mangkuk berisi cairan berwarna kemerahan di atas meja di samping mangkuk es.
"Oh—" seru Itachi, tampaknya baru saja teringat sesuatu. Ekspresinya mendadak antusias saat ia mengambil mangkuk itu dari meja. "Sup tomat, favoritmu. Aku membuatnya sendiri khusus untukmu."
Meskipun sedikit terharu karena sang kakak memasakkan makanan favoritnya untuknya, Sasuke tak bisa menahan diri memandang ragu ke arah mangkuk di tangan Itachi, mengingat reputasi kakaknya itu di dapur yang tidak bisa dibilang bagus. "Sup tomat? Ini bisa dimakan?"
"Tidak sopan," sahut Itachi pura-pura tersinggung. Ia lalu menyendokkan cairan di dalam mangkuk bersama bulatan meat ball dan kacang polong, lalu menyorongkannya ke mulut Sasuke. "Hana yang mengajariku dan sup tomat buatannya benar-benar lezat. Sekarang kau coba dulu, baru komentar."
Sasuke nyaris tersedak ketika kakaknya dengan tak berperikemanusiaan menjejalkan sendok itu ke kerongkongannya. Yah, kakak itu memang buka orang yang paling lembut di dunia, tapi sepertinya ia hanya bercanda, karena Sasuke bisa melihat kilatan jahil di mata onyx yang identik dengan miliknya itu. Dipertegas dengan kekehan kecil yang meluncur dari bibir tipis sang kakak.
Kurang ajar…
"Bagaimana?" tanya Itachi.
Sasuke terbatuk kecil. Hmm… lumayan untuk koki amatiran –"Biasa saja."
Meski begitu, seringai puas tergambar di wajah tampan si sulung saat adiknya menaruh esnya lalu mengambil mangkuk dari tangannya dan mulai menyantap sup itu dengan lahap. Jelas sekali Sasuke menyukai masakannya, walaupun ia tidak berkata begitu. Bahkan saat sup di mangkuknya tandas beberapa menit kemudian, tanpa sungkan Sasuke langsung pergi ke dapur untuk mengisi lagi mangkuknya.
"Oi, oi! Sisakan untukku!"
Tapi Sasuke tidak menggubris kata-kata kakaknya. Ia benar-benar kelaparan. Sepertinya apa yang sudah terjadi siang tadi sangat menguras energinya.
Sasuke baru saja menghabiskan mangkuk ketiganya saat mendengar bel pintu depan berbunyi. Seperti yang sudah biasa terjadi, retriever-nya, Rufus, langsung melesat ke pintu dan mulai menyalak ribut.
"Sasuke, kau yang buka pintu!" seru Itachi.
Mengeluh pelan, Sasuke menaruh mangkuknya yang sudah kosong ke wastafel, menenggak air langsung dari botolnya sebelum bergegas menyusul Rufus untuk membukakan pintu. "Iya, tunggu sebentar…" ujarnya sambil membuka gerendel pintu. Ia sedikit terkejut saat mendapati siapa yang sedang berdiri di ambang pintu rumahnya.
Dalam balutan jaket tebal dan lilitan syal yang menahan udara dingin, Naruto melambaikan tangannya, nyengir lebar seakan tidak pernah terjadi sesuatu di antara mereka beberapa jam sebelumnya. "Haloo…"
"Tch! Kau rupanya…" Sasuke membuka pintu lebih lebar, membiarkan Rufus menyambut tamu mereka sambil menggoyang ekornya. Naruto dengan riang menggaruk belakang telinga si anjing. "Mau apa kau kemari? Belum puas memukulku, eh?"
Naruto mengangkat kepalanya memandang Sasuke, meringis. "Kau masih marah soal yang tadi, ya?"
"Siapa, Sasuke?!" teriak Itachi dari dalam rumah.
"Naruto!" Sasuke menjawab sang kakak.
Cowok berambut pirang berantakan itu mengawasi saat sahabatnya berjalan ke arah bangku di teras dan duduk di sana, melipat kedua lengannya di depan dada. Sasuke tidak memandangnya, melainkan memandang ke arah jalan. Jelas sekali Sasuke masih tersinggung dengan peristiwa tadi siang sampai-sampai enggan mengundangnya masuk seperti yang biasa dilakukannya kalau Naruto menyambangi rumahnya.
Naruto menghela napasnya, membuat uap hangat menguar dari mulutnya di udara dingin. Ia kemudian menyusul Sasuke, duduk di bangku sebelahnya. Jeda beberapa saat sementara Naruto memandang sahabatnya ragu.
"Dengar," ujarnya setelah beberapa saat mereka terdiam, "Aku benar-benar minta maaf soal tadi. Sudah tidak sakit lagi, kan?" Matanya sejenak mengamati memar di bawah mata hitam Sasuke, merasa bersalah. Sasuke tidak menjawabnya, maka ia melanjutkan, "Melihat Sakura kalap seperti tadi membuatku panik, kau tahu? Aku jadi tidak bisa berpikir. Bisa dimengerti kalau kau marah padaku –tapi yang kau lakukan juga tidak bisa dibilang benar, teman. Ino sudah memberitahuku apa yang terjadi antara kau dan Sakura."
Sasuke mendengus. Kesal –tapi tidak tahu harus kesal pada siapa. "Aku tahu," gerutunya.
"Ada apa sebenarnya, eh?" tanya Naruto. Nadanya berubah tidak sabar. "Selama ini kau baik-baik saja dengan Neji. Kenapa sekarang malah berkata seperti itu pada Sakura?"
Sunyi. Sasuke tidak tahu harus berkata apa pada Naruto.
"Kau…" Mata biru Naruto menatap sang sahabat tajam, "…menginginkan Sakura?"
"Bukan itu!" Sasuke membantahnya. Ia kini balas menatap Naruto. Wajahnya sedikit memerah. "Iya, aku suka padanya. Tapi bukan itu maksudku –kau tidak tahu!"
"Kalau begitu beritahu aku apa yang terjadi, teman. Astaga… kenapa kau jadi kehilangan kendali seperti ini, sih?"
Sasuke menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan dirinya kembali sebelum menjelaskan apa yang sudah didengarnya –alasan yang membuatnya tanpa pikir panjang langsung meminta Sakura menjauhi Neji—sementara Naruto mendengarkan tanpa interupsi. Dan semakin lama Sasuke bertutur, semakin tinggi alis Naruto terangkat.
"…aku melakukannya karena aku tidak ingin dia terluka."
"Dan kau percaya yang mereka katakan?" Naruto menahan seringai.
Sasuke menatap Naruto tajam. "Sekarang kau mau mengataiku tolol karena percaya begitu saja, hah?" semprotnya.
"Aku tidak berkata seperti itu," bantah Naruto otomatis, "Tapi yah… itu memang sedikit kurang pertimbangan. Apa kau tidak memikirkan kemungkinan itu hanya omong kosong. Kau tahu cewek kalau sedang cemburu bisa berbuat apa saja, kan? –setidaknya yang kulihat di televisi begitu."
Sasuke memalingkan wajahnya, tidak berkata apa-apa. Semakin ia disadarkan akan kebodohannya, semakin jengkellah ia. Di sampingnya, Naruto menghela napas lagi.
"Aku tidak pernah melihat Sakura semarah itu, Sasuke. Padahal aku sudah bersamanya lama sekali."
"Hn."
"Kau tahu kan, Sakura itu sangat menyukai Neji sejak dulu. Neji bagi Sakura, ibaratnya seperti pangeran berkuda putih yang selalu diimpi-impikan setiap gadis sejak kecil."
Sasuke mendengus. Mengetahui fakta bahwa Sakura naksir berat Neji saja sudah membuatnya panas, apalagi mendengar omong kosong soal pangeran-berkuda-putih itu? Benar-benar konyol.
Seakan mengerti apa yang dirasakan sahabatnya itu, Naruto memandangnya sambil tersenyum. "Dan kau, bagi Sakura, adalah salah satu orang terdekatnya. Sahabat baiknya. Aku tidak ragu mengatakan bahwa dia menyayangimu, Sasuke."
Sasuke tertegun. Tatapannya sedikit melunak. Ya, aku juga tahu itu…
"Aku tidak ingin menghakimi, tapi kau memang sudah bertindak gegabah dan melukai hatinya. Kau pernah mendengar ini, bahwa seseorang yang dekat dengan kita dan kita sayangi adalah orang yang memiliki kekuatan terbesar untuk menyakiti hati kita. Itu alasan mengapa dia menangis seperti itu, padahal saat dengan Yakumo, dia tidak sampai seperti itu."
—"Diam! Diam! Diaaam!! Aku tidak mau dengar lagi, Sasuke!"
"Aku tahu," sahut Sasuke gusar. Tangannya saling remas dengan gelisah, teringat air mata dan tatapan kekecewaan di mata hijau gadis itu tadi siang. Ia menelan ludahnya susah payah. "Sekarang bagaimana? Apakah persahabatan kami sudah berakhir?"
"Well, um… aku tidak tahu," sahut Naruto jujur, "Yang pasti sekarang Sakura sedang dalam fase kecewa berat padamu, kau tahu? Tadi sore aku sempat mampir ke restorannya untuk membujuknya, tapi dia malah marah padaku juga. Astaga, kalau kau lihat caranya marah-marah padaku, kau akan mengira aku baru saja membunuh Neji." Ia terkekeh, tapi langsung berhenti ketika melihat tampang Sasuke. "Er… Kupikir kau harus memberinya waktu sampai dia lebih tenang."
'Waktu sampai kapan? Selamanya?' Pikir Sasuke miris.
Lama keduanya terdiam.
"Kau tenang saja. Aku yakin semuanya akan kembali seperti dulu antara kau dan Sakura." Naruto menepuk pundak Sasuke, menguatkan. "Kalau perlu aku dan Sai akan membantumu."
"Sai? Yang benar saja. Kami masih tidak saling bicara kalau kau belum lupa, Naruto."
"Ah—" Naruto menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal, nyengir, "Aku hampir lupa. Astaga… sepertinya masalah sedang senang menempel padamu, mate."
Sasuke memutar matanya.
"Haah… kalau masalah Sai… agak susah juga sih, karena Sai sangat keras kepala soal Ino. Aku harap kau bisa memakluminya, dia sedang senang-senangnya menjalin hubungan dengan cewek. Tahu kan, seperti terobsesi." Naruto membuat tanda kutip di udara dengan tangannya.
"Hn."
"Aku jadi ngeri membayangkan jika si Morino itu sampai tahu tentang mereka," lanjut Naruto, bergidik sendiri.
Belum sempat Sasuke membuka mulutnya untuk berkomentar, pintu depan mendadak membuka dan sosok jangkung Itachi muncul. Senyum ramah terulas di wajahnya. "Kuharap aku tidak menganggu pembicaraan serius antarpria," katanya sambil melangkah keluar. Di tangannya, ia membawa dua mug berisi minuman hangat mengepul. "Mau teh?" tawarnya pada Naruto.
"Trims, Kak Itachi," kata Naruto seraya mengambil mug yang diangsurkan kakak Sasuke padanya, lalu menghirupnya perlahan.
"Punyaku mana?" tagih Sasuke.
"Buat saja sendiri," sahut Itachi, disusul kekehan tertahan saat melihat tampang Sasuke yang tampak tidak senang. "Iya, ini… Begitu saja ngambek." Dijejalkannya mug yang satu lagi ke tangan Sasuke.
"Dia sedang sensitif, Kak," timpal Naruto, nyengir.
"Tch! Tutup mulut kalian berdua!" bentak Sasuke.
"Eeh… Omong-omong, kalian sudah baikan lagi?" tanya Itachi pada Naruto setelah tawanya mereda. Ia menenggelamkan kedua tangannya pada saku celana. "Kudengar kalian berkelahi lagi tadi siang."
"Ck. Sudah kubilang kami tidak berkelahi!" sela Sasuke jengkel.
"Hanya salah paham, Kak." Naruto nyengir, memandang Sasuke di sebelahnya. "Kami tidak berkelahi. Aku tidak bermaksud seperti itu. Sori ya, Sas-ke."
"Ooh… Tapi wajar saja kalau remaja laki-laki suka berkelahi. Aku juga dulu seperti itu—"
"Karena kau dan geng konyolmu itu memang berandalan tukang berkelahi dan bikin onar!" sambung Sasuke dengan tampang puas. "Semua orang di Oto juga sudah tahu itu."
Itachi baru saja akan membalasnya ketika terdengar dering telepon dari dalam rumah. "Tch! Setelah ini aku akan membuat perhitungan denganmu, anak kecil…" desisnya sambil menuding Sasuke yang mencibirnya sebelum melesat masuk ke dalam rumah.
Naruto tergelak. "Whoa… Kau dan kakakmu sering seperti ini, ya?"
"Itachi itu tidak pernah puas kalau tidak membuatku jengkel."
"Vice versa," kekeh Naruto.
"Hn." Sasuke menghirup tehnya perlahan.
"Omong-omong, apa besok kau ada waktu?"
"Hn?"
"Bagaimana kalau kau ikut aku ke panti asuhan –masih ingat, kan?"
Sasuke mengangkat cangkirnya sekali lagi ke bibir, mempertimbangkan.
"Sakura tidak ikut. Dia sudah terlanjur buat janji dengan Ino –kau tahu, kan, acara cewek? Kalau Sai, dia ada acara dengan kakeknya." Naruto mengendikkan kepalanya ke arah wagon milik Iruka yang terparkir di depan halaman. "Aku baru saja menemaninya memilih buku mewarnai dan krayon untuk anak-anak. Sekalian mau mengantarnya besok, sekalian dengan buku cerita dari Sakura. Tertarik ikut? –Ah, kurasa kita tidak hanya berdua saja. Hinata memberitahuku kalau dia akan datang bersama Shiho."
"Apa Neji juga akan datang?" sambar Sasuke.
"Eh—" Naruto meringis, "Aku tidak tahu. Tapi kurasa tidak. Neji jarang datang ke panti soalnya," ia menambahkan cepat-cepat.
"Hn. Akan kupertimbangkan."
Mereka terdiam lagi. Dari sudut mata biru langitnya, Naruto mengamati Sasuke. Wajahnya terlihat agak pucat dan lelah. Ia sudah terlalu banyak menahan diri selama ini, pikir Naruto sambil tersenyum miris. Ia tahu betul bagaimana rasanya, karena ia sendiri pernah mengalaminya –sampai akhirnya ia menyerah dan lebih memilih persahabatan yang nyatanya memang jauh lebih indah baginya.
Apa kau juga akan menyerah pada akhirnya sepertiku, Sasuke? Ataukah akan bertahan sampai dia menyambut hatimu?
Ah, aku hanya bisa mengharapkan yang terbaik untuk kalian berdua…
-
"Hari ini aku akan mengajaknya jalan-jalan. Kuharap itu bisa membuatnya merasa lebih baik, walaupun sedikit," gadis berambut pirang itu berkata pada ponsel yang terkepit antara telinga dan bahunya sementara ia memasang jepit di rambut pirangnya yang panjang.
"Aku juga berharap begitu. Sasuke memang keterlaluan."
Ino tersenyum pada bayangannya sendiri di dalam cermin. "Jangan bilang begitu, Sai. Itu karena Sasuke menyukai Sakura, kita tidak bisa menyalahkannya."
Terdengar helaan napas dari seberang. "Kau benar."
"Tentu saja aku benar," Ino terkekeh. Ia mengerling jam di dinding kamarnya dan terkejut. "Astaga. Aku hampir terlambat. Sudah dulu ya, Sai."
"Hn. Sampai ketemu, Nona Cantik…"
Rona merah terlukis di pipi putih Ino. Padahal Sai cukup sering mengatakan itu, namun ia masih juga belum terbiasa mendengar panggilan sayang cowok itu untuknya. Rasanya ganjil –menyenangkan, tapi terasa aneh. Seperti ada beban. Senyumnya pun terasa dipaksakan. Ino menelan ludahnya.
"Sampai ketemu."
Sambungan terputus. Gadis itu terhenyak beberapa saat, gelisah. Perasaan yang sama yang selalu dirasakannya setiap kali berinteraksi dengan Sai. Bukan berarti Ino tidak menyukainya –ia sangat suka malah. Sai benar-benar telah membuatnya jatuh cinta—tapi semua yang telah mereka jalani terasa salah. Dan ini cukup membuatnya terbebani.
Menghela napas panjang, Ino mencoba untuk menepiskan perasaan itu dari dadanya. Ia sudah memutuskan dan ia tahu resiko atas apa yang dipilihnya itu.
Lagipula sekarang bukan saatnya memikirkan itu. Sakura sudah menunggunya.
-
"Selamat pa—Astaga! Matamu kenapa?!" pekik Ino kaget.
Saat itu ia sudah berdiri di depan pintu kediaman Haruno dan sangat terperanjat melihat tampang sahabatnya yang kusut. Mata hijau zamrudnya yang biasanya berbinar-binar, kini merah dan bengkak. Penampilannya yang sudah rapi sama sekali tidak menutupi fakta tentang perasaannya yang sedang kacau balau –terimakasih pada Sasuke untuk ini.
Yang ditanya malah meringis tanpa berkomentar apa pun. "Tunggu Naruto sebentar, ya. Dia mau datang mengambil buku…" Sakura menunjuk tumpukan buku cerita anak yang sudah diikat rapi di sudut dekat pintu.
Ino mengangguk, lalu memandang sahabatnya khawatir. "Yakin tidak apa-apa?"
"Tidak apa-apa. Hanya butuh refreshing. Kau tahu, kan?"
Sekali lagi gadis pirang itu mengangguk paham. "Sasuke tidak seharusnya mengatakan hal seperti itu pada—"
"Tolong jangan dibahas sekarang, Ino," Sakura menyelanya. Nadanya memohon.
"Oh, oke. Sori."
Sakura lalu berjalan ke arah undak-undakan di depan teras, duduk di sana sambil bertopang dagu. Ino menyusulnya kemudian, duduk di sebelahnya.
"Bibi Azami sudah berangkat ke restoran?" tanya Ino basa-basi.
"Hmm…" Sakura mengangguk. Ia menghela napas berat.
Getaran dari ponsel yang ditaruh di tasnya mengalihkan perhatian Ino. Rupanya Idate menelepon.
"Ya, Idate? Hmm… Aku sedang di tempat Sakura. Kami mau keluar. Ya? Mau datang ke rumah sore ini? Hmm… baiklah. Kau hati-hati, ya.. Aah, love you too…"
"Kalian selalu mesra, ya?" komentar Sakura ketika Ino sudah memutuskan sambungan dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. "Iri deh…"
Ino tidak tahu apakah ia harus merasa senang atau miris mendengar komentar sahabatnya. Maka ia hanya meringis. "Sebenarnya kami sudah agak merenggang akhir-akhir ini," ujarnya selang beberapa saat. Ino memain-mainkan ujung kucirnya dengan gelisah. "Tidak melewatkan waktu bersama sesering dulu. Dia sibuk dengan kuliahnya, aku juga begitu –sibuk dengan semua kegiatan yang menyita waktu itu." Ia menunduk, tampak sedang memikirkan sesuatu, sebelum kembali memandang Sakura. "Sebenarnya aku—"
Namun pada saat yang bersamaan, Sakura berkata padanya, "Tapi kulihat kau sangat setia padanya, Ino. Idate beruntung sekali."
"Sakura…" Ino menggigit bagian dalam pipinya. Mendadak merasa sangat bersalah karena tidak jujur pada Sakura tentang affair yang sudah dilakukannya dengan Sai. Ingin sekali ia memberitahu Sakura, tapi ia tidak berani. Sakura sudah cukup dikecewakan dengan Sasuke saat ini, dan Ino tidak ingin menambah kekecewaan itu dengan memberitahukan kenyataan bahwa dirinya tidak sebaik yang Sakura kira selama ini.
Mata hijau itu menerawang memandang ke seberang jalan. Sepasang muda-mudi tetangganya baru saja melintas di sana, bergandengan tangan sambil tertawa-tawa. Sakura tersenyum. "Kalau saja aku dan Neji bisa seperti itu. Tapi rasanya penghalangnya semakin banyak saja," ujarnya dengan nada pahit.
Mendengar itu, Ino mengulurkan tangannya merangkul pundak sahabatnya dan membiarkan gadis itu bersandar padanya. Ia bisa mendengar Sakura membisikkan nama Sasuke pelan. Tangannya terkepal di pangkuannya.
Tak lama berselang, sebuah station wagon menepi di depan halaman kediaman Haruno. Ino melepaskan rangkulannya dan kedua gadis itu beranjak saat seorang remaja berambut pirang terang mencuat turun dari mobil, berlari-lari kecil ke arah mereka.
"Hai," Naruto menyapa mereka dengan wajah cerahnya yang biasa. Ia memandang Sakura. "Bagaimana kabarmu, Sakura? Oke, kan?"
"Hmm…" Sakura mengangguk, membalas senyumnya. "Sori yang semalam, Naruto. Aku tidak seharusnya marah padamu."
"Oh, tidak masalah. Aku sudah terbiasa. Hahaha…" Naruto menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal, nyengir lebar. Kemudian berpaling pada Ino. "Kau kelihatan cantik seperti biasa."
"Che! Jangan coba merayuku, tidak mempan!" dengus Ino.
Naruto tertawa.
"Bukunya sudah ada di dalam, Naruto." Sakura menunjuk ke arah rumahnya. Mereka lantas kembali ke rumah untuk mengambil buku yang dimaksudkan Sakura.
"Mereka pasti menyukai ini, Sakura. Trims, ya…" ucap Naruto setelah ia memasukkan tumpukan buku itu ke dalam mobilnya bersama dus berisi barang-barang sumbangan dari Sai.
"Tidak masalah. Senang bisa membantu. Lagipula aku kan sudah janji."
Naruto menutup pintu belakang mobilnya, lalu tersenyum pada Sakura. "Kau bersenang-senanglah, Sakura. Hari Senin nanti kau harus sudah kembali ceria seperti biasa, oke? Ino—" ia berpaling pada gadis pirang di samping Sakura, "Aku mengandalkanmu!"
"Iya… aku tahu," sahut Ino.
"Jangan tiba-tiba kabur dan pacaran—Ouch! Iya, iya, ampuuun…" ringis Naruto ketika Ino membombardirnya dengan cubitan di lengannya. Sakura tertawa.
"Bawel. Minggat, sana!" Ino memberinya pukulan terakhir di lengan cowok itu sebelum Naruto melompat masuk ke dalam mobilnya.
Kedua gadis itu masih berdiri di sana, mengawasi mobil Naruto melaju perlahan meninggalkan Blossom Street dan menghilang di ujung jalan menuju Crimson Drive, arah rumah Sasuke. Sakura menarik napas panjang seraya menggosok-gosok lengannya yang terbalut sweter tebal. Tiba-tiba saja ia merasa sedikit kesepian. Pertengkarannya dengan Sasuke, entah mengapa membuatnya sedikit mengambil jarak juga pada Naruto –padahal ini bukan salahnya.
"Hei," Ino yang tiba-tiba merangkul lengannya membuat gadis itu terkaget, "Sudah siap berangkat?"
Sakura mengangguk. "Oke…"
-
Sasuke sedang duduk di undakan depan rumahnya dengan earphone tersumpal di kedua telinganya saat Naruto sampai. Cowok berambut gelap itu segera beranjak dari duduknya dan berjalan menuju pintu depan mobil sahabatnya sebelum kemudian masuk.
"Sudah lama menungguku?" tanya Naruto basa-basi seraya menjalankan lagi mobilnya.
"Hn."
Naruto meringis mendengar jawaban singkat sahabatnya.
"Aku tadi ke tempat Sakura," beritahunya. "Kelihatannya dia cukup oke, meskipun masih murung."
Sasuke tidak menanggapi. Ia melempar pandang ke luar jendela dengan muram. Naruto tidak mendesaknya.
Setengah perjalanan itu mereka lewati dalam diam. Setidaknya sampai mereka melintasi jalanan panjang nan sepi yang sangat dikenali Sasuke. Beberapa bulan yang lalu ia juga pernah melewati jalan ini. Hanya saja saat itu suasananya lain. Saat itu pepohonan tua yang tumbuh di kiri kanan jalan sedang menggugurkan dedaunannya, menyelimuti jalan beraspal itu dengan daun-daunnya yang berwarna cokelat keemasan. Suasana yang hangat, yang pernah dinikmatinya berdua saja bersama seorang gadis berambut merah muda yang penuh senyum.
Beberapa bulan yang lalu… Sasuke melewati jalan yang sama bersama Sakura. Duduk berdua di dalam bus menuju panti asuhan tempat Naruto sering menghabiskan waktunya, demi untuk merayakan ulang tahun ketujuhbelas sahabatnya itu.
Sasuke ingat betul saat itu seakan kejadiannya baru kemarin. Bagaimana mereka untuk pertamakalinya Sasuke membuka dirinya pada orang lain selain keluarganya. Saat Sasuke masih berkeluh kesah tentang Hinata dan Naruto, dan bagaimana saat itu Sakura dengan senyumnya mengatakan bahwa suatu saat ia akan menemukan jawaban atas semua permasalahannya. Rasanya begitu nyaman, menyenangkan sekali berbicara dengannya saat itu.
"Oh, aku suka sekali setiap kali lewat jalan ini!" kata Sakura saat itu sambil memandang kagum pemandangan di luar jendela. "Pemandangannya bikin hati damai. Apalagi kalau musim semi. Lihat itu!" ia menunjuk ke arah jendela di sampingnya, ketika bus yang mereka tumpangi sedang melewati sebuah lapangan yang cukup luas di dekat danau berwarna biru kehijauan yang dilatarbelakangi hutan keemasan. Ada dermaga kecil dan perahu yang sepertinya sudah tak terpakai juga di sana. "Kalau musim semi lapangan itu dipenuhi bunga dandelion. Indah sekali..."
Tanpa sadar Sasuke tersenyum mengenang memori itu.
"Kenapa kau, senyum-senyum sendiri begitu?"
Suara bernada geli milik Naruto segera saja membuyarkan lamunannya. Senyumnya lenyap dalam sekejap. Ia menoleh. "Tch! Siapa yang senyum-senyum sendiri? Seperti orang gila saja."
Naruto tergelak. "Ayolah… ngaku saja. Aku tahu betul senyum itu."
"Aku tidak akan mengakui apa pun," Sasuke menukas, kembali membuang pandangnya ke luar jendela. Kenyataannya, ia enggan membagi memori itu dengan siapa pun termasuk Naruto. Karena saat itulah, ia merasa, pertama kalinya hatinya terikat pada Sakura –walaupun saat itu ia tidak menyadarinya.
Naruto mencibirnya, tapi ia tidak memaksa.
Sunyi lagi.
"Naruto."
"Ng—Apa?"
"Kau sepertinya sangat memahami Sakura, ya?" ujar Sasuke pelan tanpa memandang lawan bicaranya.
"Eh? Um… itu…" Wajah Naruto sedikit merona. "Tentu saja aku memahaminya. Aku sudah mengenalnya sejak kecil dan selalu memperhatikan dia. Bodoh sekali kalau aku tidak mengerti dia."
Diam lagi.
"Apa sejujurnya kau masih menyukainya sampai sekarang?"
Butuh waktu beberapa saat bagi Naruto untuk memikirkan jawabannya. "Tentu saja aku menyukainya. Tapi kurasa itu sudah sedikit berubah," ia menambahkan, tidak ingin Sasuke salah paham terhadap jawabannya, "Bukan lagi ketertarikan pribadi, kalau kau tahu maksudku, lebih ke platonik. Um… dia sudah seperti seorang adik yang ingin kulindungi *). Tidak lebih."
"Hn…" Sasuke menoleh memandang Naruto. "Apa karena ada orang lain?"
"Apa?! –tentu saja tidak. Perasaan itu berubah dengan sendirinya, bukan karena ada orang lain—Oh, jangan bilang kau berpikir mau melupakan perasaanmu pada Sakura dengan mengencani gadis lain, Sasuke. Karena itu sama saja dengan mempermainkan pera—"
"Aku tahu itu! Geez… kau terlalu banyak nonton opera sabun di televisi, Naruto!" tukas Sasuke.
Naruto nyengir. "Sori. Habis pertanyaanmu menjurus, sih…"
Sasuke memutar bola matanya. "Yang benar saja."
Kembali, sunyi.
"Bagaimana dengan Hinata?"
Wajah Naruto memerah lagi. "Dia hanya teman—" bantahnya. Nadanya terdengar kurang yakin, "…entahlah. Aku senang melewatkan waktu dengannya. Akh… tidak jelas. Pokoknya kami berteman lah…" Naruto mengulurkan tangannya ke arah radio mobil dan menyetel musik keras-keras –barangkali untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan Sasuke yang membuatnya canggung. Ah, bodoh juga. Entah mengapa, mengungkit-ungkit tentang gadis Hyuuga itu membuatnya agak gugup, padahal sebelumnya tidak begitu.
Tidak sampai sepuluh menit, akhirnya mereka memasuki gerbang panti asuhan. Naruto sedang memarkirkan mobilnya di samping sedan milik Genma Shiranui ketika seorang bocah laki-laki kecil berambur kemerahan berlari keluar dari pintu utama. Kemeja lusuhnya yang tampak kedodoran sehingga menyerupai gaun sampai sebatas lututnya berkibar-kibar sementara ia berlari. Sedetik kemudian, seorang gadis remaja berambut biru indigo gelap muncul mengejarnya sambil meneriakkan nama si pemuda kecil itu.
"Kei… Jangan lari-lari begitu!" seru Hinata terengah.
Kei menjerit kesenangan menghindari kejaran gadis malang itu, lalu menghambur saat dilihatnya kakak favoritnya baru saja melompat turun dari mobil. "Kakak Narutooo!!" jeritnya sambil menghambur ke arah Naruto.
"Kei!!" Naruto membungkukkan tubuhnya, bersiap menyambut tubuh mungil Kei yang menubruknya. Tertawa-tawa, Naruto mengangkat bocah lelaki itu ke dalam gendongannya. "Apa kabar, huh? Whoa… kenapa kau belepotan begini?" Naruto menyeka noda lengket berwarna cokelat di wajah adiknya itu.
Perhatiannya kemudian teralih saat Hinata berhenti di depannya, terengah-engah. Senyum mengembang di wajahnya. "Hei… Kukira kau datang lebih siang."
"N-Naruto…" Hinata berusaha mengatur napasnya.
Dan saat itu Naruto melihatnya, noda yang sama juga mengotori wajah putih sepupu Neji itu. Tidak hanya di wajahnya, tapi juga di blus yang dikenakannya. "Kenapa kalian belepotan begini? Kei… baju siapa yang kau pakai ini?"
Yang ditanya malah melingkarkan lengan ke leher Naruto, menyembunyikan wajahnya ke leher cowok itu. Naruto melempar pandang bertanya pada Hinata.
"K-Kami sedang melukis dengan adonan puding cokelat," jelas Hinata, "Tapi Kei malah kabur saat yang lain melukis di dalam."
Naruto terkekeh. "Dia hanya ingin menggodamu," ujarnya, "Karena Kei suka padamu. Benar tidak, Kei?"
Wajah Hinata memerah. "N-Naruto… Eh, Sasuke?"
Sasuke yang baru saja keluar dari mobil, melempar senyum simpul. "Hai."
"Hai," balas Hinata riang. "Senang melihatmu di sini."
"Aah.. bagaimana kalau kita masuk saja?" seru Naruto mengalihkan perhatian Hinata dari Sasuke. "Ayo lanjutkan melukisnya. Aku jadi penasaran… Eh, Sasuke. Tolong kau bawa masuk barang-barang yang di mobil, ya…"
Sasuke membelalak ke punggung Naruto saat sahabatnya itu membawa Hinata dan bocah bernama Kei itu masuk ke dalam, meninggalkannya sendirian di halaman.
Bocah sial satu itu… Jadi aku sekarang jadi tukang angkut-angkut barang, huh?
-
Tapi setidaknya, kini ada sesuatu yang bisa Sasuke kerjakan untuk mengalihkan perhatiannya sementara dari Sakura. Terlebih dengan antusiasme para penggemar ciliknya yang benar-benar menguras perhatiannya. Juga insiden ketika ia meminta Shiho menjadi sekretarisnya di OSIS, yang oleh Shiho disebut sebagai 'lamaran' –yang celakanya terdengar oleh bocah-bocah itu sehingga menimbulkan keributan kecil yang tak ada habisnya.
Tak peduli bagaimana Sasuke menjelaskannya, gosip itu sudah terlanjur tersebar ke seantero panti, bahkan sampai ke telinga guru Kimia mereka, Genma: bahwa Sasuke Uchiha akan segera menikah dengan Shiho.
"Ya ampun…" Shiho yang memang punya selera humor yang bagus menanggapi dengan gelengan kepala dan kekehan kecil, lalu mengedip nakal pada Sasuke, "Bagaimana ini, Sayangku? Bukankah katamu kita menikah diam-diam saja? Sekarang malah sudah bocor deh…"
"Hahaha… Bagaimana, ya?" Sasuke memutar bola matanya sementara Naruto sudah terkapar saking serunya tertawa dan Hinata wajahnya sudah merah padam menahan tawa.
-
Sama halnya seperti Sasuke yang sudah bisa sedikit mengangkat ujung bibirnya, di tempat lain, Sakura pun sudah terlihat lebih ceria. Setelah seharian 'berkencan' dengan Ino, berputar-putar di distrik yang terkenal, window shopping, nonton film komedi di bioskop dan diakhiri dengan makan sebaskom es krim di kedai es krim favorit mereka sampai sakit perut, gadis itu bisa sedikit melupakan masalahnya. Tidak sepenuhnya, namun setidaknya ia sudah bisa tertawa. Terlebih saat Sakura dengan penuh semangat mengulang kembali momen-momen kecil mengesankan yang dilewatinya bersama Neji pada Ino. Dan tak pernah sekali pun ia menyinggung masalah Sasuke.
"Wow… menurutku sebaiknya kalian cepat-cepat meresmikannya, Sakura," kata Ino saat mereka dalam perjalanan kembali ke Blossoms Café dengan bus. "Hubungan tanpa status seperti itu kadang-kadang membuat bingung –mengerti maksudku, kan? Kalau ada yang bertanya kalian ini sebenarnya apa? Kekasih bukan, teman juga bukan… Yang melihatnya juga bingung."
"Yah… Kau benar. Tapi Neji tidak pernah menyinggung apa pun ke arah sana," ujar Sakura, menghela napas. Jemarinya menarik-narik ujung sweternya.
"Kenapa tidak kau saja yang mengambil tindakan duluan?" usul Ino. "Tidak ada salahnya, kan?"
"Um…" gadis berambut merah muda itu menunduk, tampak tersipu, "Iya sih. Tapi aku belum berani. Saatnya tidak tepat. Salah-salah bisa mengacaukan chemistry kami di drama."
Ino tertawa. "Itu sih terserah kau saja. Aku hanya mengusulkan. Keburu dia diambil orang, kan?"
Bus itu kemudian melambat dan akhirnya berhenti di pemberhentian di dekat restoran keluarganya.
"Sudah sampai," Sakura beranjak, "Terimakasih sudah menemaniku hari ini, Ino."
"Oke, tidak masalah. Itu gunanya teman, kan?"
Sakura tersenyum padanya sebelum turun dari bus.
Tak lama pintu bus kembali menutup dan kendaraan umum itu mulai melaju perlahan meninggalkan halte itu. Dari jendela, Ino bisa melihat Sakura melambai padanya dari halte. Ia balas melambai sampai akhirnya Sakura menghilang saat bis berbelok di ujung jalan. Ino lalu menyandarikan punggungnya kembali di sandaran kursi, menghembuskan napas perlahan sambil memandangi mobil-mobil yang melintas di jalan itu.
Matanya kemudian menangkap sebuah mobil sedan mungil berwarna merah menyala melaju cepat mendahului bis. Melihatnya, pikiran gadis itu langsung melompat pada sesosok cowok pemilik mobil yang mirip dengan mobil itu. Sai. Mau tak mau Ino tersenyum saat teringat pertama kalinya ia menumpang mobil Sai. Bagaimana ngerinya ia melihat cara mengemudi Sai yang bisa dibilang agak liar. Siapa yang menyangka ternyata di balik sosoknya yang pendiam dan kalem, ternyata Sai tukang ngebut –tapi menurutnya itu seksi. Sama seperti Idate dengan moge-nya.
Damn…
Ino mengerang pelan, membenturkan kepalanya ke sandaran bangku bus di depannya. Kepalanya mendadak pusing.
Idate. Sai. Idate. Sai…
Bagaimana bisa ia terjebak bersama dua cowok sekaligus seperti ini? Dan parahnya lagi… ia tidak bisa memutuskan siapa yang lebih disukainya.
Sepertinya aku sudah terlanjur bermain api, eh? Dan sekarang aku tidak bisa berhenti…
Setelah bus itu akhirnya tiba di pemberhentian dekat rumahnya, gadis itu pun turun dengan langkah gontai. Entah mengapa perasaannya tiba-tiba saja menjadi tidak enak. Dadanya berdebar-debar, seakan sesuatu yang besar sedang menanti untuk menerkamnya di depan jalan sana. Tidak tahu apa itu.
"Ino?" Suara berat milik seorang lelaki paruh baya terdengar menyapanya ketika ia hampir sampai di rumahnya.
Ino yang sudah mengenal akrab suara itu otomatis menoleh ke arah coffeeshop di samping toko bunga milik keluarganya, tersenyum cerah pada laki-laki tua yang sedang berdiri di depan pintunya. "Kakek Gennoe!" Gadis itu melompat, menghampiri kakek favoritnya itu.
"Baru pulang, Nak? Habis pergi kencan?"
Ino menggeleng, menggelayut di lengan pria tua baik hati itu. "Tadi pergi bersama teman. Hari ini tidak ada kencan, Kek!"
"Hoo?" Gennoe mengekeh hingga mata sipitnya tinggal segaris. "Bagaimana kalau sekarang kau mampir sebentar. Anak-anak baru saja membuat menu kue yang baru. Kau mau coba?"
"Mauu…" sahut Ino gembira.
Para pegawai di sana yang sudah terbiasa, tidak merasa heran lagi melihat keakraban dua orang itu ketika mereka melangkah masuk ke dalam kedai yang ramai itu. Gennoe kemudian membawanya ke salah satu meja kosong di dekat meja bar.
"Cappuccino? Kakek yang traktir."
Gadis itu mengangguk sambil tersenyum. Sementara Gennoe memanggil salah satu pegawainya untuk memesan, Ino mengedarkan pandangannya berkeliling kedai kopi itu. Seperti biasa tatapannya selalu terjatuh pada grand piano putih di sudut, seakan benda itu adalah magnet bagi matanya. Ia buru-buru berpaling, tidak ingin kenangan lama yang ingin dilupakannya itu membuat suasana hatinya memburuk. Memikirkan dua cowok saja sudah cukup membuatnya pusing, tidak perlu ditambahi lagi dengan satu cowok misterius yang sudah pergi entah kemana.
"Kakek dengar dari ibumu, sekarang kau sangat sibuk di sekolah," perkataan Gennoe membuat perhatian gadis itu kembali padanya.
"Hmm…" ia mengangguk, "Persiapan untuk festival sekolah bulan Februari nanti, Kek. Aku dapat tanggungjawab mengumpulkan dana usaha –semacam itulah."
"Kedengarannya sangat menarik," kakek Gennoe berkomentar sambil mengangguk-anggukkan kepalanya yang ditumbuhi uban. "Kakek juga tidak pernah melihat Sai lagi."
Mau tak mau, Ino tersenyum. "Dia juga sangat sibuk di sekolah, Kek."
Gennoe terkekeh lagi. "Ah, kadang-kadang jika melihat kalian berdua sedang bersama-sama, Kakek jadi ingat kau dengan pemuda yang dulu itu. Masih ingat dia, kan? Namanya Shin, yang suka main piano yang melukis di sini."
Senyum Ino sedikit memudar. Jadi namanya Shin… "Aku ingat dia," gumamnya. "Memangnya ada apa dengan dia, Kek?"
"Tidak ada apa-apa. Hanya saja… dulu kalian hampir selalu berkomunikasi dari jauh. Kakek ingat pemuda itu selalu menitipkan mawar dan salam untukmu setiap kali dia datang kemari." Ia berhenti sejenak sementara salah satu pelayan meletakkan dua cangkir cappuccino hangat mengepul dan dua piring kecil kue ke atas meja. "Tidak disangka sekarang kau malah dekat dengan adiknya."
Ino mengerjap, benar-benar tidak mengerti. "Adiknya? Adiknya yang mana, Kek?"
Kini ganti Gennoe yang menatap gadis itu bingung. "Sai, adik laki-laki Shin. Kau tidak tahu? Bukankah mereka sangat mirip?"
Mulut Ino menganga dalam keterkejutannya mendengar informasi baru ini. Jantungnya mulai berdegup kencang saat ia mulai memahami alasan mengapa ia merasa sudah sangat mengenal Sai sebelum ini, seakan ia pernah melihatnya di suatu tempat.
Ternyata dia adiknya. Sai adalah adiknya. Sai adik Shin.
Tidak mungkin!
"Kakek tidak sedang bergurau, kan?" Ino menahan suaranya agar terdengar setenang mungkin, namun suara yang dikeluarkannya tetap terdengar parau. "Sai tidak mungkin adik Shin."
"Kakek tidak bergurau, Nak. Sai sendiri yang memberitahu kakek. Dia yang mengantarkan lukisan Shin…" Gennou melambaikan tangannya ke arah pigura lukisan di salah satu sisi dinding kedai, kemudian kembali memandang Ino yang tampak pucat pasi. "Apa dia tidak pernah memberitahumu?"
Ino menggeleng. Tangannya yang mencengkeram tepi bangku gemetar. Ia menahan napasnya ketika teringat saat pertama ia menemukan Sai di kedai ini –Sai sedang memainkan melodi yang sama seperti yang sering dimainkan Shin setiap kali ia datang kemari dengan grand piano putih itu. Dan…
.
.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Ino kemudian seraya menatap Sai dengan tatapan ingin tahu. "Rasanya wajahmu familier."
Sai menggaruk pipinya dengan jari. "Aku rasa tidak," gumamnya. Ia terdiam sejenak, tampak berpikir. "Tapi mungkin kau pernah bertemu dengan orang yang mirip denganku. Kau kenal cowok bernama Shin?"
.
.
Shin…
Sai pernah menyebutkannya sekali –dan saat itu Ino tidak tahu kalau... cowok itu bernama Shin.
Oh, Tuhan…
"Ino, Nak? Ada apa?" suara Gennoe terdengar khawatir saat melihat Ino tiba-tiba berdiri dari kursinya.
Air mata sudah membayang di matanya saat itu, siap untuk tumpah ke wajahnya. Namun dengan cepat Ino menyekanya. Tanpa menghiraukan panggilan Gennoe, gadis itu berlari keluar. Dengan tangan gemetar –entah karena terlalu sedih atau senang karena akhirnya ia menemukan jejak pemuda itu lagi—Ino meraih ponselnya.
Terdengar nada tunggu beberapa saat setelah Ino menekan nomor ponsel yang sudah sangat dikenalnya. "Ayo cepat diangkat, Sai…" desisnya tak sabar sembari berjalan mondar-mandir dengan gelisah di trotoar itu.
"Halo?" Akhirnya Sai mengangkat ponselnya. Terdengar suara dentang piano di latar belakangnya.
Namun saat itu Ino tidak punya waktu untuk menebak sedang berada di mana cowok itu. "Sai, bisakah kau ke sini –ke rumahku?" tanyanya dengan suara bergetar.
"Sekarang?" Suara Sai terdengar bingung. "Ada apa, Ino? Apa terjadi sesuatu?"
"Tidak. Aku perlu bicara denganmu sekarang, Sai. Bisakah kau datang?"
Sai tidak langsung menjawab. "Um… tapi—"
Kata-katanya langsung terhenti begitu Ino mulai lepas kendali. Gadis itu mulai terisak. "Datang saja. Sekarang. Please…"
"Ino, ada apa?"
"JANGAN TANYA-TANYA LAGI! AKU BUTUH KAU DATANG KEMARI SEKARANG!!" jerit Ino kalap, membuat orang-orang yang kebetulan melintas menoleh padanya. Gadis itu buru-buru berpaling, menghindari tatapan orang-orang sembari mencoba mengatur napasnya lagi. "Please, Sai… Please… Datanglah ke rumahku. Aku menunggumu."
"Oh—Oke, oke. Aku akan segera sampai di sana dalam lima menit. Tunggu…"
Ino memutuskan sambungan. Ia menunggu di sana dengan gelisah –ia bahkan tidak terpikir untuk menunggu di rumah saja, sampai akhirnya Porsche merah itu muncul di ujung jalan dan menepi. Sai muncul, masih mengenakan setelan rapi kemeja dan blazer berwarna gelap. Wajahnya tampak cemas ketika Ino menghampirinya.
"Ada apa?" tanya cowok itu, jelas terkejut melihat basah di wajah Ino.
"Shin kakakmu, kan?"
Sai mengerjap. "Ap—"
"Dia kakakmu, kan? –Tapi mengapa kau tidak pernah memberitahuku, Sai?" tuntut Ino.
"Ino—"
"KAU SUDAH TAHU SEMUANYA, TAPI KENAPA TIDAK PERNAH BICARA APA PUN PADAKU? KENAPA?!" Ino mengguncang-guncang lengan Sai. "Kenapa tidak pernah memberitahuku?"
Sai terdiam. Untuk beberapa saat tampaknya ia tidak sanggup berkata-kata, hanya memandangi gadis yang sedang menangis di depannya.
"Benar…" ujarnya akhirnya dengan suara tercekat, "Shin memang kakakku, dan aku tidak pernah memberitahumu tentang dia. Itu benar. Maafkan aku."
Terisak, Ino menggelengkan kepalanya. Sai mengulurkan tangan hendak memeluknya, tapi Ino menepisnya. Sai tidak memaksa. Ia menghela napas.
"Ino, aku punya alasan untuk tidak memberitahumu. Aku bisa jelaskan semuanya."
Ino menghiraukan kata-katanya, masih terisak di tangannya.
"Dan kau pernah bilang padaku kalau dia hanya masa lalu, kan?" Sai mulai terdengar tak sabar. "Kenapa sekarang kau malah menyalahkanku?"
Kini giliran gadis itu yang terdiam. Sai benar, pikirnya. Bukankah Shin sudah menjadi masa lalu baginya –tapi mengapa? Apakah jauh di dalam hatinya ia masih mengharapkan pemuda dari masa lalunya itu kembali lagi?
Ia akhirnya mengangkat wajahnya. Dengan mata sembab ia menatap mata Sai. "Setidaknya beritahu aku dimana dia, Sai."
Sepasang mata kelam itu tampak kosong. Wajahnya memucat. "Baiklah. Ikut aku. Aku akan mengantarmu padanya." Ia lalu membukakan pintu penumpang mobilnya untuk Ino.
Gadis itu terlihat ragu, namun akhirnya ia tetap masuk.
Mereka tidak berbicara sepatah kata pun sementara Sai membawa mereka entah kemana. Dan ketika Sai akhirnya menepikan mobilnya di depan gerbang sebuah taman pemakaman di pinggiran kota Konoha, Ino merasa tenggorokannya tercekat.
Sai keluar mendahuluinya, mengitari mobil, lalu membukakan pintu penumpang. Tanpa berkata apa-apa, ia menarik tangan Ino supaya gadis itu ikut bersamanya masuk ke area pemakaman dan baru berhenti saat mereka tiba di depan sebuah nisan batu pualam.
Rest In Peace
Our beloved grandson & brother
Shin
"Kak… Aku sudah menemukan Bidadari-mu. Dia ingin bertemu denganmu," ucap Sai lirih, kemudian ia melepaskan tangan Ino.
Sang gadis merasa tubuhnya lemas. Ia terjatuh ke sisi nisan, memandangi nama yang tertera di sana. Air matanya mulai membayang lagi, mengaburkan pandangannya. Dadanya sesak –jauh lebih sesak dari sebelumnya, membuatnya sulit bernapas.
Shin…
Ino memekapkan tangan ke mulutnya, mencoba meredam isak tangisnya yang tak tertahankan. Dan Sai berdiri di sana, mengawasi ketika angin musim dingin memainkan rambut pirang gadis yang sedang terpuruk dalam duka itu.
Air matanya turut meleleh tanpa suara saat itu.
-
"Shin meninggal karena sakit setahun lebih yang lalu," beritahu Sai. Saat itu mereka sudah kembali duduk di dalam mobil. Ia memandangnya, melihat sisa air mata di wajah pucat pasi gadis di sebelahnya. Ino tidak berkata apa-apa, maka ia melanjutkan, "Mereka tidak pernah memberitahuku apa penyakitnya, yang jelas saat itu kondisinya menurun dengan sangat cepat. Satu hari dia masih bisa tertawa dan bicara banyak hal padaku, tapi keesokan harinya ia sudah kritis dan tidak bisa apa-apa."
"Kakakku… pemuda yang sangat bersemangat, artist yang sangat berbakat. Dan kau baginya, adalah inspirasi terbesarnya. Suaramu adalah dentingan pianonya, kecantikanmu adalah lukisan-lukisannya dan banyak puisi yang sudah ditulisnya untukmu. Aku tidak membutuhkan penjelasan lebih lagi untuk melihat betapa kau sangat berarti baginya. Dia sangat mencintaimu, Ino."
Sai terdiam beberapa saat, menatap Ino yang masih tidak mengeluarkan suara apa pun. Hanya memandang kosong ke tangannya yang kini sedang menggenggam seuntai kalung emas putih dengan liontin berbentuk kristal salju yang terbuat dari batu sapphire. Peninggalan Shin yang selalu Sai bawa kemana-mana.
"Kau juga begitu, kan?"
Ino tersenyum tertahan, menyeka basah di wajahnya, lalu mendongak memandang Sai. "Dan selama ini aku menyalahkannya karena mengira dia meninggalkan aku begitu saja," ujarnya parau, "Padahal aku sudah berharap terlalu banyak padanya. Dan aku membencinya karena itu. Aku tidak tahu kalau dia…" Suaranya seperti tersekat. Wajahnya kembali tertunduk. "Maafkan aku…"
"Dia pasti memaafkanmu."
Mendengar ini, Ino semakin menundukkan wajahnya dan menghindari tatapan Sai. Ia merasa dirinya sangat jahat karena sudah berprasangka terhadap Shin selama ini, tanpa mengetahui bahwa pemuda itu juga tengah menderita dengan penyakitnya. Dan Sai…
"Selama ini aku mencarimu demi kakakku, Ino," ia kembali berujar, "Tapi itu sebelum aku menyadari perasaanku sendiri terhadapmu. Saat itu, aku mengejarmu demi diriku sendiri –dengan mengabaikan kenangan akan kakakku. Itulah mengapa aku tidak memberitahumu soal Shin. Aku tidak mau kau terperangkap dalam masa lalumu dengannya."
Sai mengulurkan tangannya, mengangkat dagu Ino sehingga gadis itu kini menatap ke dalam matanya.
"Aku ingin kau hanya melihatku. Karena aku juga mencintaimu, tidak kalah dengan Shin –atau siapa pun."
Ino hendak menundukkan kepalanya lagi, namun Sai menahannya. Cowok itu mencondongkan tubuhnya, menyentuhkan bibirnya sekilas ke bibir si gadis. Ino membelalakan matanya, terkejut dengan tindakan Sai yang tak terduga itu.
Sai tersenyum lembut. "Aku tahu kau juga merasakan hal yang sama denganku."
Bibir Ino gemetar. Ia benar-benar tidak mengerti, ketika tangannya yang menahan dada Sai kini bergerak ke bahunya. Gadis itu tidak menahannya lagi ketika cowok itu kembali mencondongkan tubuhnya. Matanya terpejam kali ini, menyambut ketika bibir itu kembali padanya. Ia membalasnya. Lebih lembut, lebih dalam, lebih intens.
.
.
.
—Dan sepasang mata onyx yang lain mengawasi mereka dari kejauhan. Kemarahan terpancar jelas di sana.
Gadis itu telah lupa, bahwa kekasihnya yang lain juga berjanji akan datang ke rumahnya sore itu.
.
.
.
TBC…
.
.
Huff… akhirnya selesai juga chapter sinetron ini. Tambah lama tambah banyak aja romancenya.. Dan tambah gak jelas, karena authornya gak jago bikin romance. T_T Maafkan juga atas kebegoan para tokoh di sini. Ino, Sai, Sasuke, Sakura, menurutku pada oon semua di sini. Booo… Pake logika dong, dasar anak muda! *disambit. Siapa juga yang bikin mereka jadi superdodol begitu?*
*) Di animanga aslinya Sakura memang lebih tua dari Sasuke dan Naruto, tapi di sini saya bikin Sakura yang paling muda. Jadi urutannya dari yang paling tua: Sasuke-Sai-Naruto-Sakura. Gak apa-apa, kan?
Awalnya aku kepingin masukin kissing-scene SasuSaku di sini, tapi gak jadi, karena kesannya akan maksa banget. XD Gomenne buat yang pernah dapet spoileran tentang itu, karena gak jadi.
Segitu aja deh bacotannya. Makasih buat semua yang udah baca, mereview, mengalert, mengefave. Aku terharuuuu~~
