Beberapa hari telah berlalu sejak akhir pekan dan situasi diantara empat sahabat itu tidak mengalami banyak perubahan. Justru kerenggangan itu kian terasa. Bukan hanya karena kesibukan masing-masing yang membuat mereka jarang melewatkan waktu bersama seperti sebelumnya, namun juga konflik yang tidak kunjung terselesaikan. Tepatnya, tak ada satu pun dari mereka yang mau berbesar hati untuk memulai percakapan terlebih dahulu.
Dan Naruto belum pernah merasa sekecewa ini pada Sasuke. Padahal sejak pembicaraannya dengan Sasuke dan melihat betapa menyesal sepertinya ia, Naruto berharap sahabatnya itu mau sedikit mengalah kali ini. Tidak hanya terhadap Sakura, tapi juga terhadap Sai.
Tapi ternyata tidak sesederhana itu. Entah apa yang membuat Sasuke begitu keras kepala.
Sikap Sakura tidak membuat segalanya lebih baik. Gadis itu selalu berlaku ketus, dingin dan mencemooh setiap kali ada Sasuke, seakan ingin menunjukkan bahwa ia belum lupa dengan sakit hatinya atas perkataan Sasuke tentang Neji beberapa hari sebelumnya. Ya, itu memang salah Sasuke, pikir Naruto. Tapi Sakura tidak seharusnya melakukan itu. Naruto mendapat kesan Sakura ingin membalas sakit hatinya.
Dan celakanya sepertinya itu berhasil –ah, sepertinya memang itulah alasan mengapa Sasuke berubah pikiran dan enggan mengalah. Cowok itu sudah terlanjur tersinggung juga.
Sai lain lagi. Sejak awal ia memang melancarkan perang dingin terhadap siapa pun yang menentang hubungan gelap-nya dengan Ino, terutama Sasuke yang paling menentangnya, juga Naruto kalau ia sudah mulai mengungkit-ungkit masalah itu. Cowok itu juga punya kebiasaan menghilang setiap jam istirahat, membuatnya menjadi sulit didekati –bahkan Sakura tidak tahu apa-apa sekali pun.
Naruto, yang notabene tidak punya masalah apa pun dengan siapa pun, merasa dirinya terjebak dalam situasi yang tidak mengenakkan. Cowok itu tidak tahu harus memihak pada siapa, dan tentu saja, sibuk memutar otak untuk memikirkan bagaimana caranya mendamaikan ketiga sahabatnya seperti sebelumnya sementara ia disibukkan dengan kewajibannya yang lain di sekolah.
Sejauh ini, belum ada satu pun usahanya yang berhasil. Tidak peduli mulutnya sudah berbusa-busa berusaha memancing obrolan, membuat lelucon, sampai memohon supaya mereka bisa sekedar duduk bersama di kantin dan menemaninya makan ramen, tetap saja tidak bisa. Ujung-ujungnya ia hanya bisa duduk berdua dengan Sasuke yang selalu tampang cemberut yang sama sekali tidak enak dipandang.
Bel pertanda jam istirahat makan siang berbunyi nyaring siang itu dan kelas yang tadinya hening itu mendadak riuh. Guru mereka beranjak meninggalkan kelas setelah mengumumkan tugas rumah yang harus dikerjakan. Tak lama para murid menyusulnya, membanjir di koridor yang semula sepi seraya mengobrol dan tertawa riang. Namun seperti yang sudah kerap terjadi beberapa hari belakangan, tak ada keriangan di sudut belakang ruang kelas tempat empat sahabat itu duduk.
Sasuke duduk menopang dagunya dengan tangan sementara wajahnya tertoleh ke arah jendela, tampak bosan. Sementara dari sudut matanya, ia mengawasi gadis berambut merah muda yang duduk di bangku tepat di depannya membereskan barang-barangnya sebelum meninggalkan kelas. Dan Sai, yang duduk di sebelah bangku si gadis, sudah mencangklengkan tasnya ke bahu. Tapi Naruto tidak akan membiarkannya kabur kali ini.
Pokoknya kali ini, tidak mau tahu apa yang bakal terjadi, Naruto sudah bertekad membuat ketiga sahabatnya saling bicara!
"Tunggu, Sai!" Naruto menyambar lengan Sai, menahannya. "Untuk kali ini saja, tahan bokongmu tetap di bangku itu."
"Aku ada urusan," Sai tampak tidak senang.
"Ini tidak akan lama," kata Naruto, berusaha menahan nada tak sabar dalam suaranya.
Sai menghela napas, lalu kembali menurunkan tasnya ke meja. "Baiklah. Tidak lama." Ia pun kembali menghenyakkan diri di bangkunya dengan tidak puas.
Naruto memberinya senyum samar sebelum ganti memandang Sakura yang sedang memasukkan alat tulisnya ke kotak pensil kecil. "Sakura tinggallah sebentar, please…"
Gadis itu mendongak dengan kedua alis terangkat. Mata hijaunya sejenak memandang Sai, lalu Sasuke yang buru-buru mengalihkan pandangan sebelum si pemilik mata memergokinya dengan menatap ke arahnya. Sakura tidak menjawab, hanya mengangkat bahu dengan sikap bosan.
Naruto kemudian berpaling pada Sasuke yang masih belum mengubah posisi duduknya sejak tadi, sama sekali tidak menampakkan tanda-tanda hendak pergi dalam waktu dekat jika melihat buku dan alat tulisnya yang masih terserak di meja. Naruto bergegas menutup pintu setelah orang terakhir meninggalkan ruang kelas itu, lalu menghadap teman-temannya.
"Kalian bertiga pasti tahu mengapa aku melakukan ini," ujarnya seraya berjalan kembali ke mejanya, menggeser kursinya sedikit dan duduk. Ia mengambil napas dalam-dalam lalu berkata, "Kurasa sekarang kita perlu bicara soal apa yang sudah terjadi beberapa hari ini. Dengar, aku tidak tahu apa pendapat kalian, tapi aku sudah benar-benar tidak tahan dengan situasi sekarang."
Cowok itu kemudian diam, memandang ketiga sahabatnya yang masih tidak saling pandang itu bergantian, seakan menunggu salah satu dari mereka buka suara untuk menanggapinya. Namun sampai beberapa saat tak ada seorang pun dari mereka yang bicara. Yang terdengar hanya suara ribut anak-anak yang berada di koridor di luar kelas.
"Ayolah…" lanjut Naruto memohon. "Biasakah kita bicara baik-baik dan mengakhiri semuanya? Tidak bisakah kita berempat kembali seperti dulu?—Maksudku…"
"Aku juga tidak suka seperti ini, Naruto," sela Sakura. Mata hijaunya menatap tajam Sasuke yang masih memacangkan pandangannya ke luar jendela. "Kalau bisa aku juga tidak ingin. Tapi ada orang yang memulai ini semua duluan dan orang itu bahkan tidak menampakkan tanda-tanda menyesal sama sekali."
"Oh, aku yakin Sasuke menyesal. Benar, kan?" Naruto memandang Sasuke, berharap sahabatnya itu mengatakan 'ya' dan berharap dengan satu kata sederhana itu hati Sakura akan melunak.
Namun harapannya itu tidak terlaksana secepat itu, karena Sasuke sama sekali mengabaikannya. Cowok berambut hitam itu malah balas memandang Sakura menantang. "Kau berharap aku menyesalkan apa, Sakura?"
Sakura mengatupkan bibirnya, lalu berkata ketus. "Kau memfitnah Neji, tahu!"
"Fitnah yang mana? Kau tidak punya bukti bahwa semua yang kukatakan itu salah."
Wajah Sakura memerah, hampir menyerupai warna bandana yang sedang dipakainya. "Neji tidak mempermainkanku!" tukasnya. "Dan aku juga bisa mengatakan hal yang sama padamu, Sasuke. Kau juga tidak punya bukti bahwa semua yang katakana itu benar—yah, kecuali kalau sekarang kau sudah menjadi cowok tukang gosip yang hanya mendengarkan kabar burung yang tidak jelas. Oh, atau kau cuma iri pada Neji. Iya, kan?"
Sekarang ganti wajah Sasuke yang berubah merah. "Aku tidak iri pada Neji!" bantahnya—hanya cemburu, gelap mata, kesal, jengkel, marah, dan semua hal lain yang membuatnya ingin mencabik-cabik seniornya itu—dan tentu saja tidak akan pernah ia akui di depan Sakura. "Tidak akan pernah."
"Lalu kenapa?"
"Aku tidak mempercayainya."
"Itu bukan alasan untuk kau seenaknya bisa menghakiminya!" Sakura melompat bangun dari kursinya, tampak berang. "Dan kau juga tidak punya hak untuk mengatur dengan siapa aku boleh dekat!"
Sasuke menatap mata hijau yang kini posisinya lebih tinggi darinya itu, menahan dirinya agar tetap tenang. Meledak di depan gadis itu hanya akan memperburuk keadaan yang memang sudah buruk. Dan Naruto, yang seakan mengerti apa yang sedang dipikirkan sahabatnya itu kemudian berkata pada Sakura,
"Er… Sakura, sebenarnya Sasuke hanya mengkhawatirkanmu. Dia tidak ingin kau terluka."
Sakura menoleh cepat pada Naruto, mendadak panas terhadapnya juga. "Ooh… terus saja kau bela dia, Naruto! Sejak awal kau memang memihak Sasuke, kan? Kau juga tidak senang aku dekat dengan Neji, kan?" Gadis itu nyaris menangis.
Naruto mengerjap, terkejut dengan tuduhan yang mendadak diarahkan padanya. "Bukan begitu, Sakura—"
"Tidak perlu menyangkalnya lagi, Naruto," kata Sasuke tajam, "Bukankah katamu diantara sahabat itu tidak perlu ada yang disembunyikan? Kau juga sama sepertiku, kan—tidak mempercayai Neji?"
"Jangan bicara sembarangan, Sasuke!"
Seakan tidak mendengarkannya, Sasuke melanjutkan, "Kau juga ingin Neji menjauh dari Sakura, Naruto."
"Aku tidak pernah bilang begitu!" bantah Naruto gusar, lalu menoleh cemas pada Sakura. "Sakura, jangan dengarkan dia. Itu sama sekali benar."
Sasuke mendengus mencemooh, mengabaikan Naruto yang sekarang benar-benar jengkel padanya. Dasar pengkhianat. Kenapa malah memojokkanku di depan Sakura, sih?!
"Sudah ketahuan bukan, siapa di sini yang menjadi sumber masalah?" Sai, yang sejak tadi hanya menjadi penonton akhirnya buka suara dan semua orang menoleh padanya. Namun mata Sai hanya tertuju pada Sasuke, menatapnya lurus-lurus dengan tatapan yang mendirikan bulu kuduk. "Yang selalu bicara seenaknya, merasa dirinya paling benar. Orang brengsek—"
"Oh yeah?" Kesabaran Sasuke kian menipis, terlebih dipojokkan dua orang begini—dua orang yang adalah sahabat baiknya. Ia bangkit berdiri. "Jadi menurutmu benar tindakanmu yang mengencani gadis orang lain, eh? Menjadi pihak ketiga, merusak hubungan orang lain—Siapa sebenarnya yang brengsek di sini?" desisnya.
Sai melompat berdiri. Kedua tangannya yang terkepal di sisi tubuhnya gemetar menahan amarah. "Tutup mulutmu, Uchiha!" ia balas mendesis.
Sementara itu Naruto sudah melompat di antara dua cowok yang sekarang saling membelalak, mengantisipasi kemungkinan terburuk—saling serang secara fisik. "Sasuke… Sai…" ujarnya memperingatkan.
Di dekat mereka, Sakura berdiri dengan mulut sedikit terbuka. Gadis itu jelas terkejut dengan informasi terbaru yang didengarnya beberapa detik yang lalu. Ia memandang Sai dan Sasuke bergantian. "Apa maksudnya—"
Namun tidak ada yang mendengarkannya.
"Kaulah yang seharusnya tutup mulut dan mendengarkan teman-temanmu, Sai!" desis Sasuke seraya melangkah maju, tangannya berusaha mendorong Naruto agar menyingkir. "Seharusnya kau bisa melihat siapa yang benar-benar peduli padamu."
"Che! Caramu menunjukkan kepedulianmu sangat aneh kalau begitu." Sai menggertakkan giginya.
"Guys… Guys… Sudah cukup," desak Naruto tak sabar, mencoba menjauhkan kedua temannya yang masih saling melempar tatapan membunuh satu sama lain, sampai akhirnya ia berhasil mendorong Sasuke mundur. "Aku tidak berkumpul di sini untuk berkelahi, tahu!" ucapnya sambil memandang sebal Sasuke dan Sai.
Ruangan itu hening beberapa saat.
Sakura masih memandang tak mengerti pada ketiga cowok di depannya. Ada sesuatu yang mereka sembunyikan darinya, pikir gadis itu resah. Sesuatu tentang Sai—ia memandang Sai yang wajah pucatnya kini memerah karena emosi—dan mungkin juga alasan yang membuatnya menjauh dari yang lain.
…mengencani gadis orang lain… menjadi pihak ketiga…
Sebelum Sakura sempat membuka mulutnya untuk mengkonfirmasikan apa yang melintas di kepalanya, Sai sudah menyelanya terlebih dulu,
"Kau yang sudah membuat situasi ini sulit, Sasuke, kau tahu itu?" ujarnya pelan sekali, nyaris berbisik, tapi cukup keras untuk bisa didengar tiga yang lain. "Sebelum kau kembali kami baik-baik saja di sini. Kalau tahu bakal begini, lebih baik kau kembali saja ke Oto dan jangan pernah pedulikan kami lagi."
Sakura dan Naruto menahan napas.
"Sai, itu sudah keterlaluan—"
Tapi Sai mengabaikan Naruto. Ia menyambar tas dari atas mejanya dan berbalik pergi, membanting pintu kelas di belakangnya.
Wajah Sasuke yang tadinya merah berubah pucat pasi, tangannya yang terkepal bergetar. Kemudian ia memandang Sakura dengan marah, seakan gadis itu telah mengambil sesuatu yang berharga darinya. "Apa kau juga ingin mengatakan sebaiknya aku pergi saja ke Oto, Sakura?"
"A—aku—" Sakura tampak bingung.
"Bilang saja kalau kau juga ingin aku pergi!" bentak Sasuke, membuat gadis merah muda itu terlonjak.
Mata hijau Sakura menatap tersinggung. "Lakukan saja kalau kau memang menginginkannya! Aku tidak peduli!" Dan gadis itu pun menyusul Sai meninggalkan ruang kelas.
Sepeninggal Sakura, Sasuke berteriak seraya menendang kaki mejanya keras-keras untuk melampiaskan kekesalannya. Jantungnya masih berdentum-dentum kencang di dadanya, napasnya memburu. Ada sesuatu di dalam dirinya yang seolah mencakari organ-organnya tanpa ampun. Sakit. Sakit sekali.
…seseorang yang dekat dengan kita dan kita sayangi adalah orang yang memiliki kekuatan terbesar untuk menyakiti hati kita…
Agaknya kata-kata Naruto beberapa hari yang lalu kini terjadi pada dirinya. Sasuke tidak mengerti, padahal selama ini ia tidak pernah mengambil pusing apa yang dikatakan orang-orang terhadapnya. Tapi kali ini…
Apakah salah kalau aku mengkhawatirkan mereka? Mereka temanku, kan?
Sasuke menghenyakkan dirinya di bangkunya, mencengkeram rambutnya dengan frustasi.
"Sai tidak bermaksud mengatakan itu, Sasuke…" Naruto meletakkan tangannya di atas pundak Sasuke, berusaha membesarkan hatinya. "Dia sedang emosi. Sakura juga. Er… kau juga. Kita semua, kurasa…"
"Aku akan pergi," kata Sasuke tiba-tiba.
"Apa?" Naruto terkejut.
"Aku akan bicara dengan kakakku dan seperti yang kalian mau, aku akan kembali ke Oto." Sasuke mengangkat wajahnya. Nadanya cukup tenang saat mengatakan itu, tapi Naruto tahu sahabatnya itu masih sangat dikuasai emosi. Lihat saja telinganya yang merah itu.
"Tidak. Kau tidak akan pergi kemana-mana, Sobat."
"Tentu saja aku bisa!" Sasuke menyambar tasnya, menjejalkan buku-buku dan alat tulisnya asal saja ke dalamnya.
"Tidak, kau tidak bisa pergi. Aku tidak bisa membiarkanmu."
Sasuke mengabaikannya. Ia menyampirkan tasnya ke bahu dan pergi. Naruto mengekornya.
"Sasuke, kau mau kemana? Setelah ini kita masih ada kelas!" seru Naruto mengatasi suara ribut di koridor ketika Sasuke berbelok menuju pintu utama gedung sekolah mereka. "Hei—"
"Sasuke Uchiha?" suara seseorang-yang-jelas-bukan-suara-Naruto memanggilnya sebelum Sasuke mencapai pintu. Sasuke berhenti dan menoleh, mendapati seorang anak kelas tiga berambut terang baru saja keluar dari salah satu ruang kelas di sana dan bergegas menghampirinya. Menma, ketua OSIS. "Haah… untunglah kita bertemu di sini. Kebetulan aku ingin menemuimu."
"Ada apa?" Sasuke mengerutkan dahi.
Cowok berwajah lembut di depannya tersenyum, melambaikan sebuah map berkas berwarna biru muda. "Ini daftar anak-anak yang sudah mendaftar di open recruitment OSIS yang kemarin. Kurasa kau sudah bisa memulai seleksi secepatnya." Menma tertawa kecil. "Aku sangat terkejut. Tahun ini banyak sekali peminatnya. Kau seperti magnet saja, Sasuke."
"Aah—" Sasuke menerima map yang disodorkan Menma, tidak tahu harus berkata apa.
"Baiklah. Kalau perlu bantuan, jangan sungkan menghubungiku." Menma menepuk lengan Sasuke sebelum berbalik pergi, bergabung dengan teman-temannya.
"OSIS…" Sasuke menghela napas, menimbang-nimbang berkas di tangannya. Bagaimana ia bisa sampai lupa dengan urusan organisasi sekolah ini?
"Sudah kubilang kan?" kata Naruto dengan seringai penuh kemenangan. "Kau tidak bisa meninggalkan Konoha."
Sasuke mengumpat pelan.
"Kau terlambat," ucap suara anak perempuan yang sudah sejak limabelas menit yang lalu duduk di undakan semen di atap sekolah. Mata birunya baru saja menangkap sosok cowok jangkung berambut hitam muncul di balik pintu besi.
"Maaf," ujar si cowok—Sai—sambil berjalan mendekat, kemudian menghenyakkan diri di samping gadisnya.
Mata biru milik si gadis yang awas rupaya menangkap ada yang berbeda dari kekasihnya itu. Wajah yang biasanya dipenuhi senyum setiap kali mereka bertemu itu tampak muram—kalau tidak ingin dibilang kacau.
"Hei, ada apa?" Ino menggeser duduknya lebih dekat, mencondongkan tubuhnya sedikit agar bisa memandang wajah Sai lebih jelas. Dahinya berkerut. "Ada yang mengganggumu?"
Sai memaksakan senyum. "Ada sedikit masalah, tapi tidak apa-apa," sahutnya. "Kau sudah lama?"
"Nng…" Ino menggeleng. Ia masih tampak khawatir. "Kau yakin tidak apa-apa? Rasanya masalah yang kau maksudkan di sini tidak sedikit." Tangan gadis itu berpindah, kini melingkar ke lengan Sai sementara ia meletakkan dagunya di bahu cowok itu. "Kau bisa cerita padaku kalau kau mau, Sai. Bagaimana, hm? Supaya sedikit lebih lega…"
Ketika Sai menoleh, wajah mereka jadi sangat dekat. Ino tersenyum nakal dan menjauhkan kepalanya saat Sai menampakkan tanda-tanda ingin menciumnya. Gadis pirang itu berhenti mengikik saat dilihatnya Sai sama sekali tidak tertawa—tersenyum pun tidak.
"Ada apa, sih?" kali ini Ino benar-benar khawatir.
Sai kemudian berpaling. Ia mengambil waktu untuk menghela napasnya sebelum berkata lirih, "Terjadi keributan kecil antara aku dan Sasuke sebelum aku kemari." Ia merasakan Ino sedang menatapnya. Gadis itu tidak berkata apa-apa, menunggunya melanjutkan. "Dia tidak menyukai hubungan kita."
Ino tersenyum miris. "Itu menjelaskan segalanya," ujarnya pelan. Sai menoleh lagi padanya, tampak tidak paham. Ino mengangkat bahunya. "Sekarang aku mengerti kenapa sikap Sasuke jadi dingin padaku—maksudku, lebih dingin dari biasanya."
"Ah," Sai mengangguk paham.
Keduanya kemudian terdiam. Sai kembali menunduk, memain-mainkan ritsleting tasnya sementara pikirannya membawanya mengulang kembali kejadian tidak mengenakkan yang baru saja terjadi beberapa waktu yang lalu. Betapa pun ia berusaha keras untuk tidak memedulikan kata-kata Sasuke selama ini, toh pada akhirnya itu selalu mengganggunya. Seperti yang terjadi sekarang.
Sai menghela napasnya panjang.
Tidak, pikirnya. Dia hanya iri karena tidak punya kekasih sementara aku punya. Ya, pasti begitu…
"Sai…"
"Hm?" cowok itu menoleh, mendapati Ino sedang menyodorkan potongan tempura yang ditusuk dengan garpu mungil ke mulutnya. Kotak makan siang terbuka di pangkuannya.
"Makan siang! Aa~"
Kali ini Sai benar-benar tersenyum.
Suara air keran yang mengalir memenuhi ruangan toilet siswi yang nyaris kosong itu—hanya ada seorang gadis berambut merah muda yang kini sedang berdiri di depan wastafel. Gadis itu meraup air yang mengalir dengan tangannya dan membasuhkannya ke wajah. Air dingin itu terasa sejuk menyapu kulitnya, meredakan sedikit rasa panas dalam kepalanya. Rasa panas karena pertengkarannya dengan Sasuke beberapa saat yang lalu.
Setelah beberapa bulan berlalu, Sakura nyaris melupakan betapa menyebalkannya cowok itu kalau ia mau. Seperti kembali ke beberapa bulan silam, ketika awal tahun ajaran dan mereka masih sering berkelahi. Tetapi berbeda dengan dulu dimana setiap pertengkaran justru mendekatkan mereka, sekarang mereka malah semakin menjauh saja. Sakura merasa menjadi agak… kesepian.
Gadis itu menegakkan tubuhnya, menatap bayangannya di dalam cermin. Bagian depan rambutnya tampak berantakan dan basah, menempel di dahinya sementara titik-titik air mengalir di sisi wajahnya dan menetes dari dagunya. Sakura menghela napas, merenggut bandana merah yang menahan rambutnya. Bandana yang juga telah basah terkena air itu pun dijejalkannya asal saja ke dalam tas, lalu mulai menyisiri rambut merah mudanya dengan jari.
Setelah cukup mendinginkan kepala, gadis itu lantas mencari Ino—siapa lagi yang bisa diajaknya bicara sekarang? Namun betapa kecewanya ia karena tidak menemukan sahabatnya itu dimana pun. Di kelas, di kantin, perpustakaan, bahkan ruang klub musik pun tidak tampak batang hidungnya. Teman-temannya pun tidak ada yang tahu kemana perginya si gadis pirang itu. Ponselnya pun mati. Sakura kemudian menyadari bahwa belakangan ini ia memang jarang bertemu dengan Ino saat jam istirahat.
Menyerah mencari Ino, Sakura berniat pergi ke kantin saja untuk mengisi perut dengan sesuatu yang hangat. Namun langkahnya terhenti begitu melewati ruangan klub komputer. Suara musik yang tidak asing terdengar dari dalam ruangan yang pintunya tidak tertutup sempurna itu.
Bukankah itu musik pertunjukkan drama tahun lalu? The Sound of the Music—'Sixteen Going On Seventeen'?
Didorong oleh rasa penasaran, Sakura bergerak mendekati pintu, menjulurkan lehernya untuk mengintip ke dalam. Ruangan itu nyaris kosong. Hanya ada satu orang di sana, seorang remaja lelaki berambut cokelat gelap dikucir rapi di belakang tengkuknya sedang duduk membelakangi pintu. Di depannya layar laptop menyala dan dari sana suara musik itu berasal. Cowok itu, ketua klub komputer—Neji Hyuuga.
Tentu saja, pikir Sakura sembari diam-diam tersenyum memperhatikan cowok itu. Siapa lagi anggota klub komputer yang tertarik pada video dokumentasi drama?—ya, video dokumentasi, bukan film asli atau apa. Sakura mengenali musik itu dengan baik karena tahun lalu ia juga ambil bagian. Ah, dan ia juga mengenali suara Neji yang memerankan Rolf menyanyikan lagu itu, duet dengan Yakumo yang berperan menjadi kekasihnya.
Hatinya mendadak seperti tercubit. Sedang apa Neji melihat dokumentasi itu? Mengenang kebersamaannya dengan Yakumo? Melihat betapa mereka dahulu pernah begitu bahagia? Pikiran-pikiran seperti itu terus saja melintas di kepalanya.
"Sakura?"
Si gadis mengerjap terkejut saat melihat Neji sudah berputar di kursinya dan menatap ke arahnya. Wajahnya menghangat. Rupanya ia terlaru larut dalam pikirannya sendiri sehingga tidak sadar telah mendorong pintu lebih lebar dan membuat Neji menyadari kehadirannya.
"Sedang apa berdiri di situ?"
"A-aku… um…" Sakura terbata, menggaruk pipinya dengan jari seperti yang biasa dilakukan Sai setiap kali merasa gugup, "…kebetulan lewat depan sini. Kupikir aku mendengar sesuatu yang kukenal, jadi…"
"Oh," Neji menyahut, tersenyum tipis. "Masuklah. Aku sedang melihat dokumentasi pementasan tahun lalu. Kau mau lihat?"
Awalnya Sakura ragu, tapi kemudian ia tetap melangkah masuk. Neji menggeser sebuah kursi ke dekatnya, memberi isyarat agar Sakura duduk di sana. Keduanya kemudian terdiam sementara perhatian mereka terpusat sepenuhnya pada layar laptop Neji. Ah, tidak sepenuhnya juga, karena perhatian Sakura terbagi oleh cowok yang duduk dekat di sebelahnya itu.
Di layar, tampak Neji yang hampir setahun lebih muda bersama gadis yang waktu itu masih kekasihnya. Suara Yakumo yang merdu mengalun menyanyikan lirik bagiannya sementara mereka bergerak anggun di atas panggung, saling melempar senyum seakan mereka sedang saling jatuh hati saat itu—sesuai dengan peran yang harus mereka mainkan. Neji tertawa kecil saat adegan dimana ia menuntun Yakumo melompati bangku-bangku dan berdansa.
"Kau ingat aku sering membuat Yakumo terjatuh saat latihan dulu?"
Sakura memaksakan diri tertawa. Memang benar, Yakumo dulu sering marah pada Neji setiap kali cowok itu membuatnya jatuh dari bangku. Tapi pada saat pementasan, mereka melakukannya dengan sempurna. Bahkan saat adegan itu—yang membuat ruangan itu mendadak canggung; kissing scene antara Neji dan Yakumo.
Sakura menunduk dengan gugup saat suara orang-orang bersorak dan bersuit di laptop terdengar. Neji sendiri terlihat canggung. Ia buru-buru memindahkan ke scene lain yang menampilkan adegan keluarga Von Trapp—termasuk Sakura yang waktu itu mendapatkan peran sebagai salah satu adik Yakumo.
"Kau bermain sangat bagus tahun lalu, Sakura," kata Neji tak lama kemudian.
Pujian itu lantas membuat perhatian Sakura teralih sepenuhnya. Ia menatap cowok di sebelahnya yang juga sedang menoleh ke arahnya. "Trims. Kau juga, Neji."
"Waktu itu aku sangat gugup," Neji mengakui seraya tertawa kecil.
"Oh ya? Sama sekali tidak terlihat kok." Sakura tersenyum padanya.
"Apa kau gugup?"
"Saat itu? Tentu saja. Itu pementasan perdanaku. Meskipun dialogku hanya sedikit, aku gemetaran sekujur badan."
Video di laptop terlupakan sepenuhnya. Neji memutar kursinya lagi sehingga posisinya kini setengah berhadapan dengan Sakura. "Maksudku," ujarnya lagi sambil mencondongkan tubuhnya sedikit, "Apa kau gugup untuk pertunjukkan nanti?"
"Oh!" Wajah Sakura memerah. Tiba-tiba saja adegan-adegan yang harus dilakukannya bersama Neji di pementasan nanti berkelebat di dalam kepalanya. "I-Iya… Siapa pun yang mendapatkan peran utama pasti akan gugup." –terlebih jika harus beradu akting denganmu, Neji.
"Hn. Kau benar," Neji mengangguk setuju. Ia menghela napas, menyandarkan kembali punggungnya ke bangku. Mata pucatnya masih menatap lawan bicaranya. "Kadang-kadang aku juga khawatir membuat kesalahan, kau tahu? Terutama di babak terakhir saat harus banyak memainkan adegan yang emosional." Ia terdiam sesaat, membuang pandangnya ke arah lain. "Kurasa itu jadi kelemahanku. Beberapa kali aku meminta Hinata menemaniku melatih adegan saat Violetta—kau tahu, meninggal—" Sakura menatap agak bingung saat didapatinya Neji malah menyeringai geli, "Dia bilang, saat aku memeluknya—Violetta—terlalu kaku, lalu teriakan Alfredo saat memanggil Violetta di adegan itu kurang emosional, terlalu datar. Kankurou juga bilang begitu beberapa kali. Menurutmu bagaimana?"
"Itu.. um.."
Sakura berusaha mengingat-ingat kembali sesi-sesi latihan yang pernah mereka jalani. Adegan demi adegan yang pernah dilatihnya bersama Neji. Yah, setiap kali cowok itu diharuskan memeluknya memang agak kaku, kadang terasa ragu, tapi di lain waktu malah terlalu erat. Namun Sakura tidak pernah memikirkan ini sebelumnya, gadis itu terlalu menikmati kedekatan fisik dengan Neji saat itu.
"Mungkin… sedikit canggung," sahut Sakura sambil nyengir ragu.
"Begitu, ya..." Sekali lagi Neji menghela napasnya berat. "Kontak fisik dengan lawan main kadang membuatku canggung."
"Kontak fisik, ya?" Sakura kembali memandang layar laptop Neji, tersenyum muram, "Saat kita berakting di KCP waktu itu, aku hampir percaya kau sedang tidak berakting saat memelukku. Dan tahun lalu," ia melambaikan tangannya ke arah laptop, "Saat kau dengan Yakumo… Sama sekali tidak terlihat canggung."
Sakura tidak menyadarinya, nada cemburu dalam suaranya saat ia berbicara. Kala itu, Neji menatapnya. Entah apa yang ia pikirkan.
"Sai?"
Sai mengambil waktu menelan suapan terakhir makan siangnya sebelum menjawab lembut, "Ya?"
"Kau benar-benar menyukaiku?"
Cowok berkulit pucat itu mengangkat alisnya tinggi, heran mendengar pertanyaan yang meluncur dari bibir kekasihnya. Apakah Ino masih ragu? Apakah ungkapan cinta yang diucapkannya setiap hari belum cukup untuk meyakinkannya?
"Tentu saja," Sai menjawab mantap. "Aku menyukaimu. Aku mencintaimu."
Wajah Ino merona. "Kau kedengarannya seperti sedang menggombal," ujarnya seraya menutup kotak makan siang yang sudah kosong, membungkusnya kembali dengan serbet linen bermotif kotak berwarna biru.
Lagi-lagi Sai menampakkan ekspresi terkejut. "Tapi itu betul," ia berusaha meyakinkan Ino, cemas gadis itu tidak mempercayai kata-katanya.
Ino tersenyum manis padanya. Diulurkannya sekotak jus apel pada Sai. "Aku tahu," ujarnya. Bagaimana ia bisa tidak mempercayai Sai, karena selama ia mengenal cowok itu, apa pun yang dikatakannya, Sai selalu sungguh-sungguh memaksudkannya. Gadis itu mempercayai Sai sepenuhnya. Namun bukan itu yang sebenarnya mengganggu pikirannya. Senyum di wajahnya sedikit memudar. "Hanya saja… setelah mendengar ceritamu tentang Sasuke, dan yang lain juga…"
"Aku tidak peduli," sela Sai tegas sebelum Ino menyelesaikan kalimatnya. "Aku tidak peduli apa yang mereka katakan. Kalau mereka temanku, mereka pasti mengerti. Naruto mengerti, tapi Sasuke tidak. Dan aku tidak peduli padanya, Ino."
"Tapi bagaimana dengan Sakura? Apa dia juga sudah tahu?"
Sai terdiam. Sejujurnya ia ragu. Sasuke memang sempat menyebut-nyebut soal itu di depan Sakura tadi, tapi… "Aku tidak tahu."
Hening sejenak.
"Kau tahu, Sai. Kalau ada orang yang paling ingin kuberitahu tentang kita, itu adalah Sakura." Ino memandang Sai lekat. "Dia sahabatku, sudah seperti saudariku sendiri. Menyembunyikan sesuatu darinya seperti ini ternyata jauh lebih menyakitkan dari yang pernah kupikirkan sebelumnya."
"Apa maksudmu?"
"Aku tahu Sakura. Sama seperti Sasuke, dia pasti tidak akan suka kalau tahu—"
"Tapi yang menjalani ini adalah kita, kan? Bukan Sakura, atau Sasuke, atau siapa pun!" Sai tampak gusar. "Hanya kau dan aku."
"Aku tahu, tapi…"
"Apa kau bermaksud meninggalkanku jika Sakura tidak menyukai hubungan kita?"
Ino terkejut. "Bukan begitu—"
Tangan Sai terulur meraih tubuh gadis pirang di sebelahnya, lalu memeluknya erat-erat di dadanya seakan tidak rela kalau Ino benar-benar pergi. Perasaannya tidak karuan; cemas, takut, khawatir Ino akan meninggalkannya.
"Kalau begitu jangan pikirkan," ujarnya, menekan puncak kepala Ino dengan dagunya. "Pikirkan saja aku. Pikirkan tentang kita."
"Sai…" Untuk kesekian kalinya, kehangatan yang ditawarkan cowok itu membuat Ino bungkam. Ia meleleh dan segalanya menjadi kabur seketika saat Sai menariknya dalam ciuman yang dalam dan lama.
"Kau sering melewatkan waktu di sini saat jam istirahat, ya?" tanya Sakura sambil berjalan berkeliling sementara matanya sibuk meneliti dengan penasaran setiap sudut ruangan klub komputer itu. Ini adalah kali pertama ia menyambangi tempat itu, dan seperti tempat-tempat baru lainnya, semuanya tampak menarik dan membuat penasaran.
Deretan komputer, baik yang masih baru, hasil modifikasi, atau pun yang sudah kelihatan kuno berjejer di meja-meja. Di sisi lain ruangan, terdapat almari berukuran besar tempat tersimpannya tumpukan CPU lama, modem, monitor yang sudah rusak, gulungan kabel dan alat-alat yang Sakura tidak tahu namanya. Dan seperti ruang klub lain yang pernah ia masuki, ada foto-foto berpigura yang terpajang di sepanjang dinding; mulai dari foto ketua klub dari tahun ke tahun sampai foto kegiatan-kegiatan mereka. Juga ada papan pengumuman tempat para anggota menempelkan memo pesan—dari yang penting sampai tidak penting, seperti 'Untuk yang baru jadian, HIROKI dan MOE, TRAKTIRANNYA MANAAA??'. Dan Sakura berhenti sejenak di dekat meja di sudut untuk mengagumi rakitan yang tampak seperti robot anjing setengah jadi.
"Yeah… lumayan," Sakura mendengar Neji menyahut di belakangannya, "Walaupun sedikit berdebu."
Sakura terkekeh kecil. "Well, memang agak berdebu di sini," gadis itu memutar tubuhnya untuk memandang Neji, kemudian kembali mengedarkan pandangannya, "Tapi sangat menarik. Kukira tadinya klub komputer sangat membosankan," ia mengakui dengan agak malu. "Apa ini proyek untuk dipamerkan di festival sekolah nanti?" Sakura menunjuk rakitan robot anjing di belakangnya dengan penasaran.
"Itu produk gagal," sahut Neji sambil berjalan mendekat, lalu berdiri di belakangnya untuk melihat rakitan yang gagal itu. "Proyek yang sudah hampir jadi disimpan di tempat lain. Untuk kejutan."
"Wow, aku penasaran," komentar Sakura ceria. Ia mengangkat rakitan itu dari atas meja dan berbalik sehingga ia dan Neji berdiri berhadapan. "Woof, woof!" ia menirukan suara anjing seraya menggerakkan benda itu main-main di depan Neji, membuat cowok itu terkekeh geli. "Kolaborasi lagi dengan klub Science kah?" tanyanya kemudian.
"Yeah. Setiap tahun seperti itu. Kurasa sudah menjadi semacam tradisi." Neji mengambil rakitan itu dari tangan Sakura dan meletakkannya kembali di tempatnya sementara Sakura berjalan berkeliling lagi untuk melihat-lihat. Sampai kemudian pandangannya jatuh pada meja tempat Neji meletakkan laptopnya yang kini sudah dalam keadaan mati. Di sebelah laptop itu, Sakura baru memperhatikannya, setumpuk buku diktat dan buku catatan yang masih dalam keadaan terbuka dengan sebatang pena di atasnya. Tiba-tiba saja ia merasa tidak enak. "Um… Neji?"
"Hn?"
Sakura menoleh pada Neji. "Apa tadi kau sedang belajar?"
Mata pucat Neji beralih dari Sakura ke tumpukan bukunya di atas meja. "Hn…" Ia kemudian mengangguk. "Karena dekat-dekat ujian begini perpustakaan selalu penuh, jadi aku memilih belajar di sini. Lebih tenang."
"Oh! Um… sori. Sepertinya aku mengganggumu, ya?" tanya Sakura kikuk, "Er… kalau begitu lebih baik aku pergi saja."
"It's oke," kata Neji saat Sakura hendak mengambil tasnya di kursi, "Tidak apa-apa, sama sekali tidak mengganggu. Justru… aku senang kau datang."
Sakura tidak tahu apakah Neji serius dengan kata-katanya atau hanya basa-basi, tapi yang jelas saat itu ia merasakan wajahnya menghangat. Ia kemudian berpaling, menghindari tatapan Neji, tidak ingin cowok itu melihatnya gugup.
"T-Tapi kau jadi tidak bisa belajar."
"Well, aku memang sedang agak bosan," suara Neji menyahut. Hanya perasaannya saja atau suara itu seperti mendekat? "Belajar, belajar, belajar terus sampai mabuk… Semua buku-buku itu bisa membuatmu muak kalau kau terlalu sering melihatnya."
Sakura tidak tahu harus berkomentar apa, jadi ia diam saja. Jujur saja Sakura terkejut mendengar kata-kata seperti itu meluncur dari mulut orang yang berdisiplin tinggi seperti Neji. Ternyata ia sama saja seperti yang lainnya, bisa bosan, bisa muak. Sangat manusiawi… Tapi tentu saja itu tidak mengurangi kekaguman Sakura akan sosok Neji. Baginya Neji tetap sempurna.
"Ah, lihat. Aku jadi berkeluh kesah lagi." Ia mendengar cowok itu mengekeh kecil—canggung.
"Aku mengerti," ujar Sakura, memberanikan diri memandang Neji lagi—dan cowok itu sedang tersenyum padanya.
"Sindrom siswa tahun terakhir, kau tahu kan?" Neji mendengus pelan seraya mengangkat bahunya, "Saat kau dituntut untuk belajar lebih keras dari tahun-tahun sebelumnya, untuk menghadapi ujian akhir, lalu berkompetisi untuk mendapatkan kursi di universitas, belum lagi tugas-tugas yang semakin menggila."
"Um… kelihatannya memang sangat berat, ya?" komentar Sakura, meringis.
"Hn."
"Wah, aku jadi khawatir," gumam Sakura.
"Ah, maaf… Aku tidak bermaksud menakut-nakutimu," kata Neji, tertawa kecil. "Kalau kau, aku yakin pasti bisa melewatinya dengan oke. Kau gadis yang penuh semangat, optimis, cerdas. Aku sering mendengar Pak Hatake membangga-banggakanmu di depan guru lain."
Wajah Sakura yang sudah merah semakin memerah saja. "Dia bilang begitu pasti karena aku adalah keponakannya."
"Tapi kau memang begitu, kan?" Mata lavendernya melembut saat ia tersenyum. "Selalu penuh semangat dan optimis. Aku bisa merasakannya setiap kali dekat denganmu, kau menulariku."
"Eh—"
"Padahal dengan beban sekolah yang makin berat, ditambah ikut ambil bagian dalam drama, seharusnya itu cukup untuk membuat siapa pun merasa tertekan. Benar, kan?"
"A-aku tidak mengerti, N-Neji…" –Oke, Sakura terdengar seperti Hinata jika didekati Naruto sekarang.
Neji tidak langsung menjawab. Cowok itu malah mengalihkan pandangannya ke arah lain. Entah Sakura hanya membayangkannya saja atau Neji memang terlihat agak gelisah, seperti sedang memikirkan sesuatu yang tidak ia pahami sepenuhnya.
"N-Neji?"
Selang beberapa saat, sebelum Neji berkata, "Entahlah. Aku tidak menyesal mengambil bagian dalam drama itu. Justru aku merasa karena itulah aku bisa bertahan tetap waras—kalau kau tahu maksudku." Ia tertawa gugup.
Sakura memaksa diri ikut tertawa juga. Namun tawa itu segera sirna ketika ia melihat Neji melangkah maju mendekatinya. Degup jantungnya mulai menggila, berdentum-dentum di rongga dadanya begitu kerasnya sehingga ia nyaris bisa mendengarnya. Tanpa sadar, Sakura melangkah mundur, namun tertahan oleh meja di belakangnya. Gadis itu menelan ludah dengan susah payah saat tangan Neji terulur padanya.
Dia mau apa? Dia mau apa? Dia mau apa—Oh, Tuhan…
Sakura nyaris terlonjak saat jemari Neji menyentuh sisi wajahnya. Sentuhan yang membuat sensasi seperti disengat aliran listrik di kulitnya, tubuhnya mulai gemetaran. Dengan gugup ia menghindari tatapan Neji sementara cowok itu membelai wajahnya dengan tangannya yang hangat. Sangat lembut dan hati-hati. Sakura merasa kakinya lemas, seakan berubah menjadi agar-agar. Tangannya kini mencengkeram tepian meja supaya tidak jatuh.
"Kadang-kadang aku berpikir…" Jarak mereka sudah sangat dekat sekarang, "Mungkin… ada sesuatu."
Rasanya ingin sekali Sakura mengangkat wajahnya untuk menatap cowok yang kini hanya berjarak kurang dari setengah meter darinya—tapi ia terlalu takut, cemas dirinya bakal pingsan di tempat jika nekat melakukannya. Maka ia hanya menunduk, dan melihat kaki Neji melangkah lebih dekat padanya. Jemari Neji menelusuri pipinya lalu ke garis rahangnya, sementara tangannya yang lain menyingkirkan anak rambut merah muda yang terjatuh menutupi wajahnya, menyelipkannya ke belakang telinga. Sakura bisa merasakan tangan cowok itu sedikit gemetar.
"Kau… sangat cantik…"
Hangat hembusan napas Neji menyapu kulit wajahnya, membuatnya gemetaran lagi. Sakura menahan napas ketika ujung hidung Neji menyentuh pipinya—gadis itu refleks semakin menundukkan wajahnya sementara debaran jantungnya semakin menjadi-jadi. Cengkeramannya di tepi meja mengerat sampai buku-buku jarinya memutih.
"Sakura…"
Dan gadis itu akhirnya menyerah untuk melawan perasaannya lagi. Kedua matanya terpejam, dan ia menunggu, sampai akhirnya sesuatu yang hangat dan lembut menyapu bibirnya. Itu… bibir Neji. Ia membeku saat itu juga.
Ternyata semua cerita yang pernah didengarnya tentang ciuman pertama benar-benar terjadi padanya. Perasaan melayang, geli namun sangat menyenangkan seperti ada kupu-kupu yang beterbangan dalam perutmu itu benar. Sakura merasa seakan kakinya tidak menapak di lantai.
Tangannya kini berpindah dari meja ke dada Neji, merasakan detak jantungnya di sana, sama kencangnya dengan miliknya. Kemudian ia menengadahkan kepala, mengikuti tekanan jemari cowok itu di dagunya. Kali ini Sakura tidak ragu lagi. Ia membalas menciumnya.
Dan keributan yang sempat terjadi antara ia dan sahabat-sahabatnya beberapa waktu yang lalu terhapus sepenuhnya dari kepalanya.
.
.
.
.
"Jadi kau kemari hanya untuk membicarakan Sasuke?" Sakura menatap lawan bicaranya dengan mata disipitkan.
Cowok berambut pirang menyala yang duduk di depannya di salah satu meja kosong di Blossoms Café hanya meringis.
"Che! Kenapa sih kau selalu saja membela dia, Naruto?" tukas Sakura, pura-pura cemberut. Menahan senyum, ia lalu mengambil diktat Biologi dari dalam tasnya dan mulai membuka-bukanya dengan riang.
"Oh, ayolah, Sakura…" Naruto memohon, "Apa kau tidak berpikir dia sangat kasihan sekarang?"
"Kasihan bagaimana?" Sakura mendengus tertawa.
"Ya, kasihan… Kau dan Sai sekarang tidak bicara dengannya—"
"Itu salahnya sendiri," sahut Sakura, mengacuhkan Naruto.
Naruto menghela napas. "Cobalah mengerti dia sedikit, Sakura. Dia tidak bermaksud menyakiti siapa pun, apalagi kau dan Sai. Dia hanya mengatakan apa yang dianggapnya benar dan dia ingin melindungi kalian berdua."
"Melindungi dari apa, tepatnya?" Sakura masih senyum-senyum sendiri memandang bukunya, tidak memberi perhatian penuh pada Naruto yang sudah tampak putus asa. "Aku tidak melihat ada monster yang sedang mengincarku sekarang."
Naruto nyengir, agak bingung dengan sikap Sakura yang sama sekali berbeda dengan tadi siang. Awalnya ia sempat khawatir Sakura akan meledak marah seperti waktu itu, tapi yang terjadi malah sebaliknya. Gadis itu memang masih berkata ketus, tapi senyum seakan tidak bisa pudar dari wajahnya. Marah tapi senyum? Barangkali kepalanya baru saja terantuk sesuatu sehingga membuat kerja tubuhnya tidak singkron seperti ini.
"Yang benar saja. Masa ada monster—ah, lupakan soal monster." Naruto menghela napas dramatis seraya mengibas-ibaskan tangannya. "Jadi, karena Sasuke bermaksud baik, bisakah kau memaafkannya saja?"
"Tidak, kecuali kalau Sasuke mau minta maaf duluan dan mengakui kalau dia salah!" sahut Sakura enteng, membalik halaman bukunya lagi.
Mendengar itu, Naruto memanyunkan bibirnya. Punggungnya ia jatuhkan ke sandaran bangku di belakangnya. Percuma saja, pikirnya. Ini bukan pertama kalinya ia membujuk Sakura dan hasilnya masih sama saja. Satu-satunya jalan agar mereka bisa baikan hanyalah membujuk Sasuke untuk minta maaf. Tapi itu sama tidak mungkinnya dengan menyuruhnya memakai pakaian perempuan ke sekolah. Haaah… mereka berdua sama-sama keras kepala. Sai juga sama saja—ia bahkan lebih sulit dihadapi dibanding Sakura atau Sasuke.
Menyusahkan saja.
Menghela napas berat sekali lagi, Naruto mengedarkan pandangannya berkeliling restoran yang tengah ramai itu. Akhir-akhir ini ia memang sudah jarang ke sana dan ia merasa tidak enak sendiri. Padahal dulu ia sudah janji akan sering datang, paling tidak di akhir pekan untuk bantu-bantu. Siapa yang menyangka kalau dirinya bakal sesibuk itu? Tapi sepertinya tidak terlalu masalah. Ia melihat beberapa pelayan baru di sana selain Isaribi, Izumo, Kotetsu dan Arashi, melesat kesana kemari melayani pengunjung; mencatat pesanan, mengantar makanan, mengangkuti piring kotor atau mengelap meja. Ia juga menyadari ada beberapa tambahan dekorasi baru di sana-sini. Dan panggung kecil di ujung, tampaknya sekarang jadi cukup sering terpakai jika dilihat dari alat-alatnya yang tampak terawat.
Setelah puas melihat-lihat, Naruto kembali memandang Sakura yang tengah asyik menekuni diktat biologinya dengan kaki terlipat di atas kursi sambil makan keripik kentang. Di pinggir meja dekat mangkuk keripik, Sakura meletakkan setumpuk tinggi buku pelajaran yang hanya dengan melihatnya saja sudah membuat Naruto mual.
"Kau belajar?" tanyanya takjub.
Sekali ini, Sakura mengangkat wajah dari bukunya dan menatap Naruto dengan geli. "Tentu saja. Minggu depan kita sudah ujian semester kalau kau belum lupa, Naruto."
"Oh yeah, betul…" Naruto nyengir lagi, teringat dirinya yang belum menyentuh bukunya sama sekali kecuali jika ada tugas rumah.
Mata hijau Sakura menyipit, memandang Naruto dengan curiga. "Dan kau pasti belum belajar," todongnya, kontan membuat wajah Naruto merah padam.
"Aku sudah—" cowok itu menelan ludahnya menghadapi tatapan galak Sakura, "Aku pasti bakal belajar kok kalau ada waktu."
"Kalau ada waktu?" Sakura memutar bola matanya, "Daripada kau membuang-buang waktu datang kemari untuk ngomongin si Sasuke, lebih baik kau belajar, Naruto." Gadis itu mengambil salah satu buku dari tumpukan—diktat Aljabar—dan sebuah buku tulis kosong, lalu mengulurkannya pada Naruto yang hanya bisa tercengang seperti orang bego.
"Eh?"
"Coba kau kerjakan soal-soal Limit halaman seratus. Dari pada kau menggerecokiku terus," kata Sakura, menaruh pensilnya di atas buku catatan. "Ayo kerjakan."
"Sakura, aku kemari bukan—Aa… iya, iya, aku kerjakan…" Naruto buru-buru membuka diktat Sakura dengan patuh. Kalau soal mengintimidasi orang, Sakura tidak kalah dari Sasuke. Kendati demikian, cowok itu masih bersungut-sungut. "Kalau kau baikan dengan Sasuke, pasti dia juga sedang berada di sini, belajar bareng," gumamnya pelan.
"Hm. Aku yakin dia pasti sedang bersin-bersin dan gatal-gatal seperti orang alergi karena kau terus saja mengoceh tentangnya, Naruto," ujar Sakura santai—tentu saja sambil senyum-senyum sendiri.
"ACCHOO!!"
Cowok tampan berambut hitam mencuat di bagian belakang itu menggosok-gosok bagian bawah hidungnya yang mendadak gatal. Sang kakak, yang saat itu sedang duduk di sebelahnya di ruang tengah rumah mereka, menoleh, mengangsurkan sekotak tisu yang diambilnya dari atas meja yang penuh berkas pekerjaannya.
"Flu?"
Sasuke tidak menjawab. Ia mengambil satu lembar tisu untuk membersit hidungnya yang gatal.
"Makanya jaga kesehatan. Minggu depan kau sudah ujian semester," Itachi menasihati.
"Iya, iya… Bawel," gerutu Sasuke, melempar tisu bekasnya asal saja ke meja.
"Eh, jangan buang sembarangan dong. Virusnya kemana-mana tuh. Kalau aku tertulas bagaimana? Masih banyak pekerjaan nih."
Sasuke membeliak pada kakaknya. "Iya, iya… Cerewet!" Ia mengambil kembali tisunya, menjejalkannya ke dalam saku celana trainingnya.
Lama kedua kakak adik itu terdiam. Yang terdengar hanya suara anchor yang sedang mengoceh di televisi—yang sama sekali tidak dipedulikan oleh dua pemirsanya yang malah sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Itachi yang sedang sibuk mengerjakan berkas-berkas yang dibawanya dari kantor di notebook-nya, dan sang adik yang sejak tadi membolak-balik berkas yang sama sekali lain dengan milik kakaknya. Alih-alih berisi rincian data perusahaan atau apalah itu, berkas Sasuke dipenuhi data anak-anak, dilengkapi dengan foto segala. Di kaki sofa, Rufus berbaring melingkar.
"Apa itu?" tanya Itachi dengan penasaran beberapa saat kemudian seraya menjulurkan leher, mencoba melihat apa yang sedang dibaca adiknya.
"Data anak-anak yang mendaftar menjadi pengurus OSIS. Ketua OSIS yang sekarang menyuruhku untuk membacanya dulu."
Itachi tampak tertarik. Ia meninggalkan meletakkan berkasnya sendiri di atas meja dan mengambil berkas Sasuke, mulai membuka-bukanya dengan penasaran. Semakin ke belakang, seringai di wajahnya semakin melebar—dan Sasuke tahu itu bukan pertanda bagus.
"Apa?"
"Sebagian besar cewek." Itachi menahan tawa.
"Lantas?" Sasuke mengangkat sebelah alisnya.
"Mau tahu pendapatku?" Itachi bertanya balik, menahan tawanya. Kemudian ia mulai memilah-milah berkas-berkas itu, memisahkan beberapa dari yang lain. Setelah selesai, ia mengangsurkan beberapa yang sudah dipisahkannya pada adiknya. "Itu, untuk wakil, sekretaris, bendahara, dan ketua-ketua bidang. Sudah kupilihkan yang paling cantik, jadi kau nanti bakal terlihat seperti raja yang dikelilingi selir-selirnya."
Sasuke memutar matanya, merebut sisa berkas yang lain dari tangan kakaknya yang terbahak. "Ha ha ha… lucu sekali, Kak," tukas Sasuke sinis. "Aku ingin memilih orang yang benar-benar kompeten, bukan cuma modal tampang."
"Oh yeah, tentu saja. Karena adikku ini sudah cukup tampan untuk satu sekolah."
Sasuke mengabaikannya. Ia sedang tidak mood untuk meladeni kakaknya yang selalu senang menggodanya itu.
"Tapi kenapa aku tidak melihat berkas Naruto, Sakura atau Sai di sana? Mereka tidak mendaftar?"
Pertanyaan Itachi membuat Sasuke tercenung. Ia baru menyadarinya, tidak satu pun berkas itu milik ketiga sahabatnya. Sama sekali tidak membuat suasana hatinya yang memang sedang buruk itu membaik. Justru sebaliknya.
"Aku mau tidur."
Sasuke pun beranjak dari sana, menyeret kaki naik ke kamarnya di lantai dua.
Kalau saja ia tidak ditimpahi tanggung jawab untuk mengetuai organisasi sekolah selama satu tahu ke depan, barangkali saat itu juga ia sudah meminta kakaknya membawanya kembali ke Oto.
"Aaah… aku lapar… Tak bisa mikir!" Naruto mengeluh panjang, mendorong bukunya menjauh dan menjatuhkan kepalanya di atas meja.
Sakura melirik ke arah pekerjaan Naruto, mengernyit. "Kau baru mengerjakan lima soal, Naruto."
"Lapaar… mau ramen…"
Sakura memutar matanya. Gadis itu kemudian memanggil Izumo yang kebetulan melintas di dekat meja mereka untuk memesan ramen untuk Naruto. "Tambah teh madu-ku juga ya…" pinta Sakura manis, seraya mengulurkan mug-nya yang sudah kosong pada Izumo.
"Oke, Nona Besar!" sahut Izumo sebelum pergi.
"Nanti lagi belajarnya, Sakura…" kata Naruto lemas ketika dilihatnya Sakura menoleh padanya lagi.
Gadis itu tertawa kecil. "Iya, iya…"
Mendadak Naruto mengangkat kepalanya. Dengan tampang panik, ia merogoh-rogoh saku jaketnya, lalu celananya. Wajahnya kemudian memucat saat tidak menemukan benda yang dicarinya. "Er… Sakura, aku boleh berhutang dulu, tidak? Aku lupa bawa dompet," beritahunya sambil meringis.
"Heu… kau ini," Sakura mencibirnya main-main, lalu tertawa, "Ya sudah. Hari ini aku yang traktir."
"Benarkah?" Naruto langsung ceria. "Wuah… Lucky! Trims, Saku…"
"Anytime…" sahut Sakura ceria. Kemudian gadis itu kembali tenggelam dalam bacaannya, sesekali senyum-senyum dan mengikik sendiri.
Naruto memandangnya keheranan. Sejak tadi ia merasa sikap Sakura agak berbeda. Wajahnya tampak berseri-seri, kontras dengan ekspresinya kemarin-kemarin yang lebih banyak cemberut dan bertampang dingin. Agaknya ada sesuatu yang membuatnya begitu.
"Sepertinya kau sedang senang, ya?" tanyanya kemudian.
"Huh?" Sakura mengangkat wajahnya, lalu tersenyum lebar. "Senang? Tentu saja aku senang. Senaaaaang sekali…" Gadis itu terkikik. Pipinya merona.
"Waw…" Naruto nyengir. Jawaban Sakura membuatnya sangat penasaran. "Kalau boleh tahu, apa yang membuatmu senaaaaang sekali seperti itu?"
Rona di wajah Sakura menggelap, sewarna tomat yang sudah ranum. Ia menggigit bibir bawahnya sementara ia tersenyum. Bukannya menjawab, ia malah mengikik semakin keras.
"Okee… Sekarang aku benar-benar penasaran. Ada kejadian bagus apaan sih? Ah—tunggu dulu, biar kutebak! Pasti karena Neji. Latihan mesra-mesraan kalian berjalan oke—OUCH!!"
Sakura telah menampol kepala Naruto dengan buku. "Apanya yang latihan mesra-mesraan?! Tidak sopan!" geramnya. Tapi tampaknya Sakura tidak bisa berlama-lama tidak tersenyum.
"Habisnya… Kau kan selalu ceria begitu setiap kali habis latihan," kilah Naruto membela diri. "Jadi, apa latihannya benar-benar bagus, ya? Si Kankurou itu tidak ngomel-ngomel lagi atau bagaimana?"
"Sesuatu yang jauh lebih bagus dari itu, kurasa," sahut Sakura dengan wajah merah. Yah, karena latihan tadi tidak bisa dibilang bagus juga, karena terjadi konflik kecil antara Yakumo dan Neji yang membuat suasana latihan tak enak. Tapi Sakura tidak peduli—bahkan saat Yakumo mengancamnya lagi untuk menjauhi Neji.
"Eh? Apa itu 'sesuatu yang lebih bagus'?"
"Aku akan memberitahumu, tapi kau harus janji tidak akan meledekku!"
"Eh—O-oke. Aku janji tidak akan meledekmu. Sekarang beritahu aku."
Sakura meletakkan bukunya ke meja, lalu mengulurkan kelingkingnya. "Janji?"
Oke, ini sudah benar-benar aneh, pikir Naruto. Tapi toh cowok itu tetap mengulurkan kelingkingnya untuk dikaitkan dengan kelingking Sakura, dan menyatukan ibu jari mereka. "Janji!"
Sembari masih tersenyum-senyum, Sakura mencondongkan tubuhnya di atas meja, membisikkan sesuatu di telinga sahabat pirangnya. Wajahnya sudah merah padam saat itu dan Naruto nyaris bisa merasakan panas yang menguar dari gadis itu saat ia mendekat.
Namun apa yang didengarnya berikutnya dari gadis itu justru membuatnya membeku. Senyum lenyap dari wajah Naruto untuk sesaat, tidak tahu harus senang untuk Sakura, atau berduka untuk Sasuke. Dan ketika Sakura menarik dirinya lagi dan Naruto bisa melihat wajahnya yang tersenyum, juga basah di matanya—saking bahagianya, gadis itu sampai menitikkan air mata begitu—hatinya kembali menghangat. Naruto tersenyum.
"Ow—Wow! Um… fantastik… ya ampun, aku harus bilang apa, Sakura? Well, um… Selamat…"
Sakura tertawa. "Thanks. Kyaaaa!! Aku malu sekali!" pekiknya sambil membenamkan wajahnya yang merah ke tangannya, membuat Naruto mau tak mau ikut tertawa melihatnya. Sakura terlihat manis sekali kalau sedang senang begitu. "Kau orang pertama yang kuberitahu soal ini, Naruto. Aku bahkan belum memberitahu Ino—yah, karena aku belum bertemu dengannya seharian."
"Waw… um… aku senang kalau kau senang, Sakura," Naruto berkata tulus.
Sakura dengan wajah berseri-seri, mengulurkan tangannya di atas meja untuk menggenggam tangan Naruto. "Kau benar-benar temanku. Trims…"
Kemudian hening lagi. Naruto benar-benar kehabisan kata-kata. Sesungguhnya ia tidak terlalu yakin pada perasaannya kali itu. Hatinya seperti terbagi dua, dimana satu sisi ikut senang dengan Sakura, sementara di sisi lain ia sangat mencemaskan perasaan Sasuke jika ia sampai tahu hal ini.
Mungkin sebaiknya Sasuke tidak perlu tahu…
Naruto menghela napasnya dan sekali lagi memandang berkeliling. Di depannya, Sakura sekali lagi tenggelam dalam bacaannya. Lalu ia melirik ke bangku di sampingnya dan melihat sebuah wadah gitar berwarna pink.
"Ini punyamu?" tanya Naruto, menunjuk wadah gitar di sebelahnya.
"Yep. Pemberian ayahku. Baru saja diganti senarnya oleh Kotetsu."
"Boleh lihat?"
"Hmm…" Sakura mengangguk, lalu kembali menunduk pada bukunya.
Naruto mengeluarkan gitar Sakura dari wadahnya. Gitar itu berukuran lebih kecil dari gitar miliknya dan warnanya yang sangat girly. Ah, dia ingat pernah melihat gitar manis itu di kamar Sakura beberapa bulan lalu. Naruto menyilangkan kakinya supaya bisa menyandarkan badan gitar ke pahanya. Jemarinya memetik senarnya pelan, seakan sedang menjajal suaranya, sebelum kemudian memainkan beberapa nada.
"The first time I saw you, you were walking down the beach at night," cowok itu bernyanyi pelan. "With the waves bowing down to you in the bright moon light…"
Di depannya, Sakura mengangkat wajahnya dengan terkejut. Namun kemudian gadis itu tersenyum. Bukunya terlupakan di atas meja dan ia memandang Naruto dengan dagu bertumpu pada tangannya.
"Well, it must have been a signal from up above. 'Cause deep in my heart I knew that it was love...And it turns me on like when the sun goes down, and the moon comes up. Sweet, sweet love like no other man has been touched by the simple process of... love…"
Sakura mengikik kecil ketika Naruto mulai memainkan nada-nada yang lebih ceria di depannya. Sementara itu, di sekeliling meja mereka, orang-orang menoleh untuk menontonnya.
"I wish there was a way to show you my love is real. But webster hasn't found the words to express how I feel… Well, just like a river needs the rain to flow, You've warmed a heart that once was cold, with your love… And it turns me on like when the sun goes down, and the moon comes up. Sweet, sweet love like no other man has been touched by the simple process of... love…"
Naruto memainkan nada-nada terakhir sebelum mengakhiri lagunya. Dan semua orang—yang mendengarkan—bertepuk tangan meriah, termasuk Sakura yang matanya sekali lagi tampak basah.
"Untuk sahabatku tersayang yang sedang berbahagia malam ini…"
.
.
"…With your love… and it turns me on like when the sun goes down, and the moon comes up. Sweet, sweet love like no other man has been touched by the simple process of... love…"
.
.
TBC…
.
.
Disclaimer : Naruto © Kishimoto Masashi; LOVE © The Moffatts
Ah, sudah berapa lama sejak apdetan terakhir, yah? Miaaaan~ *bungkuk-bungkuk* Mana chapter ini gaje banget lagi. Bingung ngebikin interaksi mereka berempat yang lagi pada berkonflik, hasilnya jadi kaya gini deh. Tapi chapter ini juga yang udah mengaduk-aduk emosiku waktu nulisnya; kesel sama Sasuke n Sai, deg-degan sama NejiSaku dan gemes sama Naruto. . Buat yang udah kujanjiin kissing scene NejiSaku, apa ini udah pas? Maksudnya aku kepingin bikin adegan first-kissing-nya Sakura yang 'mengena' buat dia, ada kesan innocent dan malu-malunya gitu. Tapi kalo gaje yah… gomeeeen~~ *ngumpet*
Rencana awalnya mau Sasuke yang jadi first kiss Sakura, tapi batal karena beberapa pertimbangan. Salah satunya, karena mereka lagi ribut dan persahabatan mereka gak akan sama lagi kalau Sasuke sampe nekat. Susah ngembaliinnya. Yang mengharap SasuSaku, gomeeen lagi~~
Lagu yang terakhir itu punya The Moffatts. Lagunya udah lumayan lama, tapi enak banget didengerin. Easy listening gitu. Apalagi dinyanyiinnya memang akustikan dan suara Scoot Moffatts yang remaja banget. Ngebayangin Naruto yang nyanyiin itu buat sahabatnya, kerasa 'aww' banget. XD
Special thanks buat yang sudah mereview: Nakamura Miharu-chan, Mayuura, haruno shisyl, Myuuga Arai, kakkoii-chan, kennko-hime, Naru-mania, Uchiha Cesa, evey charen, Michishige Asuka, Lady Bellatrix, ambudaff, mugiwara piratez, himawari usagi, Rhaa Yakushi Taraheda, Miyuki Mei, Akabara Hikari, Aika Uchiha, Fannie lee sungminnie & Rei_chan.
Catatan buat Mugiwara piratez, perasaan, saya gak pernah nulis di prolog kalo Sakura suka sama Sasuke tapi gak diterima deh. Mungkin kamu salah baca, atau tertukar dengan fanfic lain? Tapi makasih banyak sudah mampir dan baca—dan mereview pula. ^__^
Yang udah masukin cerita ini ke fave list, makasih juga.
See ya next chapter. Love you all..
