Sesuatu telah terjadi kemarin.
Pikiran itu terus-menerus melintas di benak Sasuke semenjak ia menginjakkan kakinya di sekolah tadi pagi, membuatnya gusar setengah mati. Tepatnya, setelah ia mendengar gosip yang didengarnya dari para gadis ketika ia melewati mereka di koridor sebelum pelajaran dimulai. Bukannya Sasuke percaya pada gosip—ia justru benci sesuatu yang buang-buang waktu seperti itu—tapi nama Sakura Haruno yang selintas terdengar di kuping lantas membuatnya penasaran. Dan apa yang didengarnya kemudian di antara kikikan menyebalkan mereka bukanlah hal yang menyenangkan. Setidaknya tidak menyenangkan untuknya.
Neji… Si Sialan itu…
Tangan Sasuke terkepal di atas buku Kebudayaan yang terbuka di mejanya sementara mata onyx-nya menyipit memandang belakang kepala merah muda gadis yang duduk beberapa bangku di depannya. Suara guru mereka yang mengoceh penuh semangat di depan kelas sama sekali tidak ia pedulikan. Perhatiannya hanya tertuju pada si gadis yang tengah asyik menyimak dan mencatat. Wajahnya berseri-seri—bahkan hanya melihat dari belakang pun Sasuke sudah bisa membayangkan ekspresi yang terpasang di wajah gadis itu; senyumnya, matanya yang berbinar-binar dan pipi yang memerah.
Akh! Hentikan itu, bodoh!!
Sasuka menggeram jengkel pada dirinya sendiri seraya membuang pandangnya. Kemana pun asal tidak melihat Sakura dan mood gadis itu yang-sepertinya-sedang-sangat-bagus. Melihatnya benar-benar membuatnya kesal. Tapi sialnya matanya justru menemukan Naruto sedang memandanginya khawatir dari meja sebelah.
"Apa?" desisnya judes.
Cowok bermata biru langit itu meringis. "Tidak. Tidak apa-apa," sahut Naruto cepat. Dan ia buru-buru kembali menatap ke depan, berpura-pura menyimak. Sesekali ia melirik gelisah ke arah sahabatnya yang kini sudah berpaling ke arah lain sehingga tidak menyadarinya.
Tak lama, bel tanda jam pelajaran berakhir berbunyi. Guru mereka meninggalkan kelas setelah memberi tugas rumah yang keterlaluan banyaknya, disusul suara anak-anak yang ribut berkeluh kesah.
"Haah… tidak berperasaan sekali, Bu Mitarashi! Kita kan mau ujian, masa masih dikasih pe-er setumpuk?!"
"Iya, iya, benar! Belum lagi tugas dari Pak Hatake!"
"Mereka seharusnya menikah saja!"
Gelak tawa, dan saat berikutnya diskusi tentang apa jadinya jika dua guru gila tugas itu menikah. Tapi Sasuke tidak tertarik. Perhatiannya kini kembali pada gadis berambut merah muda yang sedang membereskan buku-bukunya—Ia bahkan tidak memedulikan Sai yang sudah melesat duluan sedetik setelah guru mereka meninggalkan kelas.
"Sai itu, seperti bangkunya diberi api saja, cepat sekali kaburnya," komentar Naruto—yang seperti suara-suara lain di kelas yang ribut itu, tidak dipedulikan Sasuke.
Karena di depan sana, Sakura telah selesai membereskan buku-bukunya. Gadis itu berdiri, dan saat itu ia menoleh ke belakang. Mata hijaunya langsung bersirobok dengan hitam milik Sasuke dan senyum di wajahnya langsung lenyap. Sasuke menyipitkan matanya, sama sekali tidak melepas tatapannya, tidak peduli Sakura terlihat tidak nyaman dengan itu.
Dengan wajah cemberut, Sakura berpaling dan bergegas keluar dari kelas bersama anak-anak lain. Dagunya terangkat tinggi.
Setelah gadis itu lenyap di pintu, Sasuke mendengus keras. Dilemparnya pulpen yang dipegangnya dengan geram hingga terjatuh ke bawah meja. "Sial!" umpatnya. "Dia kelihatan sangat senang, kan?" Ia mendelik pada Naruto yang bingung.
"Kau ini kenapa? Kelihatannya marah sekali."
Sasuke mengabaikan komentar itu. "Kau pasti sudah tahu kan, Naruto?" geramnya.
"Tahu apa?" Naruto nyengir gelisah. Ia menyibukkan diri dengan membereskan bukunya untuk menghindari tatapan menusuk Sasuke.
"Tentu saja… cewek itu!" tukas Sasuke gusar sambil menunjuk ke arah pintu kelas.
Kali ini Naruto balas memandangnya tidak suka. Jelas terganggu dengan cara Sasuke menyebut Sakura. "Dia Sakura, Sasuke, bukan 'cewek itu'."
"Terserah," Sasuke mendengus kasar. "Aku tahu kau sedang menyembunyikan sesuatu, Naruto. Jangan mengelak. Itu benar, kan? Semua yang kudengar dari anak-anak tadi pagi."
Naruto tidak langsung menjawab, melainkan hanya memandang karibnya itu antara sebal dan simpati. Ia menghela napas, lalu beranjak menghampiri Sasuke. "Dengar. Kalau itu memang benar memangnya kita bisa apa? Berhenti bicara padanya? Yang benar saja, Sakura itu teman kita, Sasuke."
"Hn," Sasuke hanya mendengus.
Naruto menghela napas. "Aku tahu kau sedang cemburu—" Sasuke menampakkan gelagat akan membantah, tapi Naruto mengabaikannya, "—dan rasanya sangat menyakitkan di sini," lanjutnya sambil meletakkan tangan di dadanya. Ia terkekeh kecil. "Hell, memang sangat menyakitkan."
Mereka kemudian terdiam. Naruto memberinya senyum hambar sebelum berpaling kembali ke bangkunya. Ekspresi Sasuke sedikit melunak. Ia nyaris melupakan bahwa Naruto pernah menaruh hati pada Sakura dan barangkali sekarang pun masih begitu.
"Mungkin kau sudah bosan mendengar ini, Sasuke," ujar Naruto kemudian seraya mengancing tasnya. "Sakura sangat menyukai Neji. Sebagai teman kita seharusnya mendukungnya. Apalagi melihat dia gembira begitu, harusnya kita ikut senang tidak peduli betapa pun menyebalkannya. Benar, kan?"
Sasuke tidak suka mengakuinya, tapi yang dikatakan Naruto memang benar. Tadinya ia pun seperti itu, sebelum keraguan itu muncul. Perasaan tidak enak yang bercampur dengan rasa cemburu.
Aku tidak mempercayai Neji.
—Belum lagi adegan yang terus-menerus berkelebat dalam kepalanya sejak tadi pagi, membuatnya ingin sekali menendang sesuatu.
"Ya, ampun… kalau saja kau melihatnya semalam, saat dia memberitahuku, kau akan setuju kalau aku bilang Sakura tidak pernah terlihat sebahagia itu." Sekali lagi Naruto terkekeh.
Mendengar nada bicara Naruto yang terdengar ringan dan tulus, diam-diam membuat Sasuke iri. Kalau saja aku bisa bersikap sepertimu, Naruto…
"Lupakan saja. Oke?" Naruto menyampirkan tas ke bahunya. "Oi, bagaimana kalau kita main basket saja di gym?"
"Hn." –Apa pun untuk mengalihkan perhatiannya dari gadis bernama Sakura.
Sementara itu, Sakura yang semula hanya mengikuti nalurinya untuk menyingkir sejauh-jauhnya dari Sasuke yang entah bagaimana sudah seperti pemicu bom kemarahannya, tidak tahu harus membawa kakinya kemana. Kemudian ia memutuskan untuk mencari Ino—atau Neji, kalau ia beruntung. Namun sayangnya ia tidak menemukan Neji di mana pun, bahkan Ino pun tak tampak batang hidungnya.
Menyerah, gadis itu pun menyeret kakinya dengan perasaan kecewa ke tempat yang terpikir disaat perut sedang berkeriuk memprotes minta diisi; kantin.
Rasanya sudah lama sekali semenjak terakhir kali Sakura ke sana, ia nyaris melupakan betapa bar-barnya tempat itu jika sedang jam istirahat begini. Di satu meja, cowok-cowok atlit bersama cewek-cewek mereka mengobrol dengan suara keras dan terbahak-bahak seperti gorilla. Sementara di meja lain tidak kalah ributnya, cewek-cewek yang hanya makan sayur sibuk bergosip sambil cekikikan. Di ruangan itu, tidak ada satu pun anak yang makan dengan tenang di ruangan itu.
Sakura mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan yang nyaris penuh, mencoba menentukan di mana ia akan bergabung. Sejenak matanya tertumbuk pada meja di tengah ruangan yang kini ditempati sekelompok gadis kelas satu yang sedang asyik bermain ramal-ramalan menggunakan kartu tarot. Meja yang sama yang dulunya kerap ia gunakan bersama Naruto, Sasuke dan Sai sebelum…
Ah, mendadak ada perasaan hampa yang menyusup. Menggeleng untuk mengusir perasaan tak nyaman itu, gadis itu menoleh ke arah lain dan menemukan teman satu klubnya, Hokuto, sedang duduk bersama teman-temannya dan pacarnya di meja dekat jendela.
Mungkin aku bisa duduk di sana, pikirnya. Ia kemudian pergi ke konter untuk mengambil makanan sebelum bergegas menghampiri Hokuto yang sedang tertawa mendengarkan lelucon dari salah satu temannya.
"Boleh aku bergabung?"
Gadis berambut kucir itu menoleh dan Sakura bisa melihat wajahnya merah akibat tertawa. "Eh… duduk saja, Sakura," katanya sambil menyingkirkan tasnya dari bangku kosong di sebelahnya untuk Sakura duduk.
Setelah meletakkan nampannya di atas meja, Sakura lalu duduk dan mulai menyantap ramennya sembari sesekali berusaha menyimak apa yang sedang mereka bicarakan—meskipun ia tidak sepenuhnya memahami topiknya. Tapi toh itu lebih baik dari pada melewatkan jam istirahat makan siang seorang diri, bukan? Dan setidaknya ia jadi mendapatkan informasi tangan pertama tentang rencana membuat stand rumah misteri; hantu paling mengerikan apa yang akan mereka munculkan dan tertawa keras-keras membayangkan bagaimana reaksi para pengunjung nanti. –Sejujurnya Sakura tidak menganggapnya menyeramkan, justru menggelikan.
"Hei, sudah dengar belum?" Hokuto berpaling dari teman-temannya dan sekarang menatap Sakura yang baru saja menandaskan isi mangkuk ramennya. Wajahnya tampak sangat antusias. "Katanya kostum untuk pertunjukkan kita sudah jadi, lho!"
"Yang benar?" Sakura menyeka bibirnya dengan tisu, lalu menyeruput sari jeruknya. "Kata siapa?"
"Hinata tadi memberitahuku. Katanya semuanya sudah ada di rumahnya. Tapi baru bisa dibawa ke sekolah saat gladi bersih," raut kekecewaan samar tergambar di wajah manis kekasih Mizura itu, "Padahal aku sudah tidak sabar mau mencoba kostumnya. Ini kali pertama kostum kita dibuat khusus seperti ini, kan? Haaah… beruntung sekali di angkatan kita punya Hinata, ya!—Ah, dan Neji juga," Hokuto menambahkan dengan nada menggoda seraya menyenggol lengan Sakura dengan sikunya.
Sakura tak bisa menahan senyumnya, juga rona merah yang mendadak menghiasi kedua pipinya, ketika nama Neji disebut. Di sebelahnya, Hokuto mengikik.
"Huu… dasar. Sudah jadian tidak bilang-bilang, ya. Sejak kapan?"
Saat ditanya seperti itu, senyum di wajah Sakura sedikit memudar. Ingatannya kembali pada hari sebelumnya di ruang klub komputer, saat ia sedang berdua saja dengan Neji. Gadis itu tentu saja mengingat setiap detil yang terjadi saat itu, saat ciuman pertamanya dicuri dengan cara yang begitu lembut sampai dirinya serasa terbang ke langit ketujuh. Sentuhannya, suaranya, hangat napasnya, bahkan aroma bersih menyenangkan yang menguar dari tubuh cowok itu.
Tapi ada sesuatu. Entah apa itu, yang jelas Sakura merasa ada yang salah setiap kali memikirkannya. Dan kini ia menyadarinya; Neji tidak berkata apa-apa setelah itu. Tidak ada pernyataan cinta atau apa pun yang mengindikasikan Sakura kini telah resmi menjadi kekasihnya.
Tiba-tiba saja ia merasa gelisah.
"Kami tidak—belum jadian," jawab Sakura akhirnya dengan helaan napas berat, lalu menunduk untuk menyeruput sari jeruknya lagi.
Hokuto mengeluarkan suara bernada kecewa. "Masih saja tidak mau mengaku," gerutunya. "Padahal kan sudah jelas. Neji perhatian padamu dan kau juga.. er… suka padanya."
Sakura meringis. "Tapi itu memang benar," kilahnya. Namun Hokuto mengabaikannya.
"Dan rumornya juga sudah beredar luas, tahu."
"Rumor apa?" tanya Sakura bego.
Hokuto memutar bola matanya. "Tentu saja soal kalian berdua. Siapa lagi?"
Sebenarnya Sakura sudah tidak terkejut lagi mendengarnya, mengingat bukan kali ini saja ia dan Neji menjadi bahan gosipan anak-anak seantero sekolah. Dan sepertinya memang sudah menjadi tradisi turun-temurun di drama festival dua pemain utamanya jadi sasaran gosip yang tidak-tidak. Namun kalimat berikutnya yang meluncur dari bibir Hokuto membuatnya membeku di tempat.
"Ada yang bilang, seseorang melihat kau dan Neji… di ruang klub komputer kemarin…" Hokuto mencondongkan tubuhnya ke arah Sakura, kemudian melanjutkan dalam suara rendah, "…berciuman?"
Aneh. Sedetik tadi rasanya seluruh tubuhnya seperti diguyur air es, sekarang rasa panas menggantikan perasaan beku itu. Sakura merasakan wajahnya seperti terbakar, menjalar ke telinga dan lehernya. Dan ia merasa seakan tatapan semua anak tertuju padanya—padahal tidak juga. Ia selalu membayangkan ciuman pertamanya menjadi hal sangat pribadi yang bisa dikenangnya sebagai kenangan manis, bukannya hal memalukan yang menjadi bahan pembicaraan seantero sekolah.
Melihat perubahan ekspresi di wajah kawannya, Hokuto nyengir lebar. "Jadi itu benar, ya? Kalian berciuman?"
Sakura menelan ludah dengan susah payah. "A-Aku… Ka-kami… er—Aduuuh… siapa yang bilang sih? Kau tahu dari sia—" gadis itu tersentak saat menyadari sesuatu. Ia buru-buru mengatupkan tangannya ke mulutnya. 'Tahu dari siapa' sama saja mengakui kalau rumor itu memang benar. Wajahnya tidak bisa lebih merah lagi.
Idiot!
Ia kemudian memilih untuk tidak melanjutkan, hanya mengangkat bahu, yang diartikan Hokuto sebagai 'iya'. Gadis itu tersenyum puas.
"Heu… kurasa itu yang membuat Yakumo sangat marah, kan? Aku tidak pernah melihatnya bertengkar terang-terangan dengan Neji seperti itu, biasanya kan mereka akur."
"Hmm… sekarang dia membenciku."
Hokuto mendengus tertawa. "Dia cemburu berat, jelas sekali. Kelihatan dia masih mengharapkan mantannya kembali lagi—mana mungkin! Kalau mau dengar pendapatku, jangan dipedulikan. Neji sudah memilihmu, tidak ada hubungannya dengan Yakumo."
Sakura tersenyum padanya. "Kau benar."
"Tapi aku tadi melihat mereka berdua keluar bersama," Hokuto meletakkan jarinya di dagu, tampak berpikir.
Sakura mengangkat sebelah alisnya sementara ia meresapi informasi dari Hokuto. Pantas saja ia tidak bisa menemukan Neji di mana pun, ternyata ia sedang keluar dengan Yakumo—entah apa yang sedang mereka lakukan. Dengan senyuman yang tidak mencapai matanya, Sakura berusaha tidak terlalu memikirkannya. Tapi membayangkan Neji sedang berdua saja dengan mantan kekasihnya itu membuat dadanya panas oleh perasaan cemburu.
Menyadari tampang temannya, Hokuto buru-buru menambahkan, "Ah, tapi jangan khawatir. Neji tampaknya tidak terlalu senang pergi dengannya."
"Hmm…" Sakura mengangguk, kemudian menghela napas, seolah dengan begitu bisa meredakan perasaan tidak enak di dadanya.
"Omong-omong," kata Hokuto kemudian sambil mencondongkan tubuhnya dan bertanya dengan suara pelan, "…bagaimana rasanya dicium oleh pangeran kelas tiga, hm?"
Sakura yang saat itu sedang menyeruput sari jeruknya lagi langsung tersedak. "Hokutoooo…" pekiknya memprotes, terbatuk-batuk. Matanya berair. Wajahnya merah. "Tidak sopan!"
Hokuto terkekeh seraya menepuk-nepuk punggung Sakura. "Aku kan cuma ingin tahu." Matanya berkilat-kilat penuh arti, membuat Sakura tidak tahan untuk tidak nyengir. Dan saat berikutnya gelak tawa merebak di antara dua gadis itu.
"Kau ini seperti Ino saja," kata Sakura setelah tawanya mereda, "Oh ya, omong-omong soal Ino, apa kau melihatnya?" tanyanya sambil mencomot kentang goreng dari nampan Hokuto.
Hokuto mengangkat bahunya. "Tidak. Mungkin dia sedang ada di atap dengan Sai."
"Eh?"
"Memangnya kau tidak tahu?" Sebelah alis Hokuto naik saat ia menatap tampang bingung Sakura. "Sepertinya mereka berdua pacaran, kan?"
Sakura mendengus. "Kau bercanda, ya? Itu tidak mungkin. Ino sudah punya pacar cowok KU kalau kau belum tahu. Masa…"
"Justru itu. Aku juga awalnya tidak percaya kalau tidak memergoki sendiri," Hokuto mengangkat bahu, lalu memasukkan kentang ke mulutnya. Ia mengambil waktu sejenak untuk mengunyah dan menelan makanannya sebelum melanjutkan, "Tidak disangka, ya? Padahal aku sangat mengagumi Ino sebagai cewek—maksudku, dia sangat cantik, berbakat, dan lain-lainnya. Sama sekali tidak disangka dia sampai hati menduakan pacarnya yang baik itu. Ya ampun… aku bahkan tidak bisa lupa saat cowok itu datang kemari sambil bawa banyak bunga hanya untuk minta maaf…" desahnya dengan mata menerawang. "Kalau saja orang ini juga seromantis itu," tambahnya dengan suara pelan sambil melirik cowok yang duduk di sebelahnya.
Mizura yang masih asyik berdiskusi dengan yang lain sama sekali tidak memperhatikan.
"Tidak mungkin…" Sakura mengguman sendiri. Kepalanya menggeleng. Ino pernah bilang kalau ia tidak punya hubungan apa-apa dengan Sai—kalau ia tidak akan berpaling dari Idate. Dia sudah janji. Iya, kan?
Tapi semakin ia berusaha untuk menolak anggapan bahwa sahabatnya telah bermain hati dan mengingkari janjinya sendiri untuk hanya menganggap Sai sebagai teman, semakin ia menyadari kemungkinan yang dikatakan Hokuto adalah benar. Menghilangnya Sai secara misterius setiap kali jam istirahat, juga kesulitannya menemukan Ino. Sakura tidak pernah memikirkan mereka pergi bersama-sama. Belum lagi sikap Sai yang selalu menghindar, seakan sedang berusaha menyembunyikan sesuatu darinya. Dan perang dinginnya dengan Sasuke… apa karena hal ini juga? Karena Sasuke tahu?
Ya, Tuhan… Apa-apaan ini?
Ada sesuatu dalam dirinya yang terasa mendidih—marah, kecewa. Bagaimana bisa Ino menyembunyikan semua ini darinya. Dan Sai… Sai yang polos dan manis itu… Sakura benar-benar tidak menyangka.
"Kau yakin mereka benar-benar pacaran, Hokuto?" Sakura memastikan. "Maksudku, mungkin mereka hanya saling bicara…"
"Saling bicara, tentu saja," Hokuto mengangguk—dan sesaat Sakura merasa agak lega, sebelum temannya itu melanjutkan, "Kurasa sudah menjadi hal yang lumrah kan kalau cowok dan cewek mengobrol dengan suara pelan, sambil pegangan tangan seperti ini—" Hokuto meraih tangan Sakura, menggenggamnya dengan menyelipkan jari-jemari mereka, "—lalu kepala si cewek merebah di bahu cowoknya, dan… deep kissing?" Ia kemudian melepas tangan Sakura, nyengir. "Aku tidak tahu kalau kau juga melakukan itu dengan Naruto atau Sasuke."
Sakura seakan kehilangan kata-kata. Mulutnya bergerak membuka tanpa ada suara yang keluar dari tenggorokannya.
"Tidak… Tidak boleh," ujarnya akhirnya. Tanpa berkata apa-apa lagi, gadis itu beranjak dari bangkunya dan berlari keluar dari kantin tanpa menghiraukan panggilan Hokuto yang kebingungan. Bahkan ia tidak berhenti untuk meminta maaf saat nyaris menabrak Tenten yang sedang bersama Kankurou di belokan menuju koridor perpustakaan.
Langkahnya akhirnya terhenti di depan tangga menuju atap sekolah yang disebutkan Hokuto barusan. Napasnya terengah, tapi ia tidak peduli. Ia merasa harus menghentikan ini, sebelum semuanya terlampau jauh. Mengangguk mantap, Sakura mulai menapaki anak tangga.
Udara dingin langsung menerpanya begitu ia mendorong pintu besi itu membuka. Ia menyesal tidak memakai syalnya dulu tadi—tapi itu tidak penting sekarang. Hatinya mencelos saat melihat dua orang itu ada di sana, dan seperti yang didengarnya dari Hokuto, sama sekali tidak terlihat seperti sepasang teman yang hanya saling bicara.
"Ino…"
Suaranya terdengar lirih, namun cukup untuk membuat dua orang itu tersentak dan saling melepaskan diri. Ino menyentak lepas tangan Sai dari tangannya, tampak gugup. Wajahnya merona. Di sebelahnya Sai terlihat lebih tenang, barangkali sudah bisa mengira cepat atau lambat Sakura akan tahu semuanya.
"H-Hai, Sakura," sapa Ino kaku sambil berdiri, "Kau tahu dari mana kami di sini?"
Sakura tidak menghiraukannya. Mata zamrudnya menatap kecewa pada dua sahabatnya. Ia lantas melangkah lebih dekat.
"Tadinya aku berharap apa yang kudengar tentang kalian semuanya bohong," ujarnya, mencoba setenang mungkin. "Kau pernah bilang padaku hal seperti ini tidak akan terjadi, kan?"
"Sakura, aku bisa menjelaskan—"
"Bagaimana dengan Idate?" sela Sakura. Nada bicaranya meninggi.
"Idate tidak ada hubungannya dengan ini," kata Sai datar. Sekarang ia juga sudah berdiri di sebelah Ino.
Sakura memandangnya cepat. Dahinya berkerut. "Tidak ada hubungannya? Tentu saja ada hubungannya, Sai! Idate Morino itu pacar resmi Ino kalau kau belum tahu!" ujarnya gusar.
Sai baru akan membuka mulutnya untuk membalas, Ino menarik lengannya. "Sai, sudah. Biar aku yang bicara dengan Sakura." Cowok itu menoleh memandangnya, lalu mengangguk. Ino lantas menarik Sakura menjauh.
"Ino!" Sakura menyentak lepas pegangan Ino pada lengannya. "Kalau kau punya alasan yang tepat untuk semua yang kau lakukan—"
"Aku mencintai Sai," potong Ino dengan suara cukup mantap. Sakura mengerjap terkejut. Mata biru Ino menatap sahabatnya itu lurus-lurus. "Aku sayang padanya, kalau itu alasan yang ingin kau dengar, Sakura."
"Cinta?" Sakura memandang tak percaya. "Kau pasti tahu itu saja tidak cukup untuk jadi alasan, kan? Kau sudah punya Idate, kau tidak bisa seenaknya—"
"Aku tahu!" sela Ino. Gadis itu menggigit bibir bawahnya dengan sikap gelisah. Tampangnya seperti mau menangis. "Aku tahu yang kau pikirkan, Sakura. Kau pasti menganggapku brengsek, tidak tahu diri, tukang selingkuh. Ya, aku mengakui kalau aku bermain api. Tapi kau juga harus mengerti bagaimana perasaanku. Awalnya aku juga tidak tahu harus bagaimana. Di satu sisi ada Idate, tapi…" Ino menelan ludahnya dengan susah payah, "cowok ini… Sai… dia sudah membuatku menyukainya sampai aku merasa tidak bisa apa-apa lagi."
"Tapi bagaimana dengan Idate? Kau sudah memberitahunya?"
"Kau sudah gila, ya? Dia tidak akan menerimanya—"
"Tentu saja dia tidak akan menerimanya!" tukas Sakura gusar. Ia menggeleng. "Yang kau lakukan ini salah. Benar-benar salah, Ino. Kau hanya memikirkan dirimu sendiri. Apa kau tidak pernah memikirkan bagaimana perasaan Idate kalau dia tahu?"
Ino terdiam. Air matanya meleleh.
"Atau kau harus memilih salah satu dari mereka. Sai… atau Idate."
Gadis pirang itu mulai mengisak. Kepalanya menggeleng. "Aku tidak bisa. Aku juga sangat menyayangi Idate. Tidak mau kehilangan—"
"INO!" Kesabaran Sakura mulai menipis. "Sejak kapan kau jadi egois begini, sih?! Kau mau memiliki kedua-duanya, begitu maksudmu?"
"Jangan seenaknya menghakimiku!!" Ino balas menjerit. "Kau tidak tahu bagaimana rasanya berada di posisiku sekarang. Menyukai dua cowok sekaligus… itu bukan hal mudah!"
Kali ini Sakura yang terdiam. Tepatnya, ia tidak tahu harus berkata apa untuk membujuk Ino berhenti melakukan hal gila seperti ini. Kemarahannya terhadap sahabatnya ini membuatnya tidak bisa berpikir jernih.
"Kau pernah memikirkan apa akibat dari apa yang sudah kau lakukan ini, Ino?" tanya Sakura akhirnya dengan suara rendah yang bergetar karena menahan emosi. "Sai… dia bertengkar dengan Sasuke karena kau. Dia kehilangan persahabatannya gara-gara kau, tahu?!"
"Hentikan itu, Sakura!" Sai rupanya telah mendekat. Wajahnya yang pucat diliputi emosi saat melihat gadisnya menangis. Mata hitamnya yang berkilat-kilat marah terpacang pada Sakura sementara ia menarik tangan Ino ke belakangnya. "Kalau kau kemari hanya untuk memojokkan Ino sebaiknya kau pergi."
Sakura balas membelalak padanya, sakit hati. "Aku tidak memojokkannya! Aku hanya mencoba membuatnya berpikir jernih!"
"Tapi yang kulihat kau terus mendesaknya."
Bibir Sakura terkatup membentuk garis tipis. "Sai, kau…"
"Kalau yang kau bicarakan adalah Idate, aku tidak peduli, Sakura," ujar Sai tenang. "Dia tidak ada hubungannya. Ini adalah tentangku dan Ino. Kami berdua. Tidak perlu ada yang terlibat."
Sakura tercengang. "Kau sudah sinting, Sai."
"Hn. Terserah."
"Hanya karena ini kau mengabaikan sahabat-sahabatmu?"
Ekspresi Sai mengeras. "Sahabat-sahabatku seharusnya mendukungku."
"Aku melakukan ini karena aku peduli padamu dan Ino—karena kalian berdua adalah sahabatku! Aku harus menghentikan ini!"
"Kalau begitu kau sama saja dengan Sasuke—sama brengseknya—"
PLAK!!
Sai terhuyung ke belakang saat tangan Sakura melayang dan mendarat keras di pipinya, meninggalkan bekas merah di kulit pucat itu.
"Sai!" pekik Ino kaget sambil memegangi Sai. Mata birunya membulat menatap Sakura. "Sakura, kau ini apa-apaan, sih?!"
Namun Sakura tidak mendengarkannya. Napas gadis itu memburu. "Baik, kalau begitu. Lakukan apa yang kalian suka, aku tidak peduli. Dan satu hal lagi, apa pun yang Sasuke katakan padamu, Sai, kali ini aku sepakat dengannya."
Dengan tatapan marah terakhir, Sakura berpaling dan berlari menuju pintu. Cairan hangat telah meleleh tanpa isakan di wajahnya—dan Sai maupun Ino tidak melihatnya.
-
-
Di kelas Aljabar, lima menit sebelum bel masuk berbunyi, Sasuke dan Naruto melangkah masuk. Setitik peluh tampak mengalir di pelipis kedua sahabat itu. Naruto, dengan mulut penuh roti yang baru dibelinya setelah kembali dari gymnasium, ribut berkeluh kesah tentang kehabisan ramen. Sementara Sasuke yang berjalan sedikit di depannya tidak menanggapi—sebenarnya ia juga tidak benar-benar mendengarkan ocehan sahabatnya yang menurutnya hanya buang-buang napas saja.
Belum lagi mereka sampai di bangku yang biasa mereka duduki di bagian belakang kelas, langkah Sasuke terhenti tiba-tiba, membuat Naruto yang berjalan di belakangnya menabraknya.
"Oi, jangan berhenti mendadak seperti itu dong!" protes Naruto.
Tapi Sasuke mengabaikannya. Mata hitamnya menatap ke bangku depan. Kerutan samar muncul di kedua alisnya saat ia mendapati gadis berambut merah muda duduk di sana dengan kepala menelungkup di tangannya yang terlipat di atas meja. Punggungnya terlihat sedikit gemetar.
Naruto yang sebal karena merasa diacuhkan lantas berpaling untuk melihat ke arah mana mata Sasuke tertuju. "Sakura?"
"Dia kenapa?" tanya Sasuke seraya mengendikkan kepala ke arah gadis itu sementara mereka duduk di bangku masing-masing.
"Aku tidak tahu," Naruto mengangkat bahu, sama bingungnya.
"Cari tahu," kata Sasuke datar—namun Naruto bisa merasakan nada khawatir pada suara sahabatnya.
"Kenapa tidak kau saja yang tanya langsung?" Naruto menyeringai.
Sasuke mendelik padanya. "Aku sedang tidak bicara dengannya!" tukasnya keras kepala.
Naruto memutar bola matanya. "Iya, iya… Astaga, seperti anak kecil saja," ia menambahkan pelan.
"Aku dengar itu!"
Naruto mencibirnya. Setelah menyimpan tasnya ke bangku, ia berjalan menyusuri bangku-bangku yang sudah mulai terisi anak-anak yang sedang mengobrol menuju bangku Sakura di deretan paling depan. Gadis pemilik mata hijau zamrud itu mengangkat kepalanya saat merasakan sentuhan tangan seseorang di pundaknya.
"Naruto…" ucapnya parau, memaksakan senyum pada Naruto yang kini telah menarik bangku kosong di sebelahnya. Tangannya sibuk menyeka basah di pipinya yang merona.
Naruto menatapnya cemas. "Kau… menangis?"
Sakura menggeleng sebagai jawaban. Naruto meringis. Kenapa cewek senang sekali menutupi hal-hal yang sudah jelas? pikirnya.
"Ada apa? Neji melakukan sesuatu padamu?"
Gadis itu menggeleng lagi. "Aku bahkan tidak bertemu Neji," katanya, sekali lagi mengusap matanya. Kemudian ia memandang Naruto lurus-lurus. "Kau dan Sasuke… sudah tahu tentang Sai dan Ino, kan? Itu alasannya kenapa Sai dan Sasuke tidak saling bicara belakangan ini, kan?"
"Huh?" Naruto mengerjap terkejut. "Itu…" ia menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal, tampak salah tingkah.
"Naruto," Sakura mendesaknya, "Kenapa kalian tidak memberitahuku, sih?"
"Itu…" Naruto ragu-ragu. Beberapa saat ia hanya balas menatap Sakura dengan tatapan cemas. Ia kemudian menghela napas. "Itu karena kami tahu reaksimu akan seperti ini. Kami tidak ingin memperburuk keadaan. Sasuke dan Sai nyaris berkelahi saja sudah sangat buruk. Dan kami juga tidak ingin membuatmu cemas, Sakura."
Ujung bibir Sakura sedikit berkedut, nyaris tersenyum lagi sebelum ia berkata gusar, "Kenapa Sai jadi seperti itu, sih? Kenapa dia tidak menghiraukan kita?"
"Well," Naruto mengangkat bahunya, "Siapa yang lebih tahu dari pada Sai sendiri?"
"Tapi kan setidaknya dia mendengarkan teman-temannya," kata Sakura dengan nada sebal, "Dan Ino juga…" ia menghela napas berat, "Ini kali pertama aku benar-benar bertengkar dengannya." Gadis itu menunduk lagi, buru-buru menyeka air matanya yang terjatuh lagi. "I-Ini buruk sekali, Naruto…" isaknya.
Pertengkarannya dengan Ino—dan mungkin dengan Sai juga—sepertinya sudah membuat Sakura terluka, Naruto membatin miris. Mata birunya sejenak melirik Sasuke yang sedang mengawasi mereka dari mejanya di belakang. Naruto menggeleng muram, menjawab tatapan bertanya Sasuke.
Naruto mengulurkan tangannya, mengusap lembut rambut merah muda Sakura. "Tenang saja, Sakura. Aku yakin semuanya akan kembali seperti dulu. Aku berjanji padamu."
Sakura mengangguk pelan. Perlakuan hangat dan kata-kata Naruto sedikit membuatnya lebih tenang. Seulas senyum tersungging di bibirnya yang kemudian dibalas Naruto dengan cengiran. "Trims…"
Tepat saat itu bel tanda jam pelajaran berikutnya akan dimulai berberdering nyaring. Beberapa anak yang masih berada di luar kelas berbondong-bondong masuk, membuat ruangan itu lebih berisik dari sebelumnya. Dan Sai termasuk di antara mereka. Cowok berpostur kurus jangkung itu berhenti di ambang pintu ketika ia bertemu pandang dengan Sakura. Sementara si gadis langsung membuang mukanya, Sai tidak menampakkan emosi berarti. Seakan tidak pernah terjadi apa pun, cowok itu melenggang menuju bangkunya.
"Sakura, aku duduk dulu," Naruto menepuk pelan bahu Sakura yang mengangguk, lalu bergegas kembali ke mejanya—tepatnya, ia mengejar Sai. Dengan langkah lebar, Naruto akhirnya berhasil menyusulnya. Tangannya dengan kasar menyambar lengan Sai.
"Dengar," desis Naruto dingin saat Sai menoleh padanya, "Aku tidak tahu apa yang kau katakan pada Sakura. Tapi sekali lagi aku melihatmu membuatnya menangis, aku tidak akan tinggal diam. Kau mengerti?"
Sai menyentak kasar cengkeraman Naruto pada tangannya, lalu balas memandang pemuda yang lebih pendek darinya itu sama dinginnya. Bibirnya yang tipis terkatup rapat. Ia tidak menanggapi apa-apa, hanya tangannya yang sedikit gemetar.
-
-
Waktu seolah berjalan sangat lambat bagi Sakura. Suasana hatinya yang sangat kontras dengan hari sebelumnya membuatnya sama sekali kehilangan minat pada pelajaran. Gadis itu lebih banyak menghabiskan waktunya dengan diam alih-alih mengacungkan tangan dan bertanya ini itu selama pelajaran berlangsung. Dan sikap barunya ini tentu saja membuat Kakashi Hatake yang mengajar saat itu heran sekaligus khawatir.
"Kau sakit, Sakura?" tanyanya setelah bel pulang berbunyi dan anak-anak mulai bergerak meninggalkan kelas. Pria berambut perak itu membungkuk di depan meja keponakannya, memandang gadis itu khawatir.
"Aku baik-baik saja," sahut Sakura lesu seraya memasukkan pensil ke kotaknya tak bersemangat.
Kakashi mengangkat sebelah alisnya, tampak tidak begitu yakin dengan jawaban Sakura. Ia lantas mengulurkan tangannya, mendorong poni Sakura dan meraba keningnya. Tidak panas. "Ada apa, my dear? Bertengkar dengan pacarmu?"
Perlakuan pamannya itu kontan saja membuat Sakura malu. Wajahnya merona. "Pacar apanya? Jangan meledekku, Pamanku sayang!" protesnya.
Pria itu terkekeh kecil. Diacaknya rambut Sakura dengan gemas. "Habis, tidak biasanya kau diam di kelasku. Kemana semangatmu yang biasa itu, hm?"
"Bawel!" Sakura cemberut, menyingkirkan tangan Kakashi dari kepalanya. "Aku sedang bad mood."
"Aah…" Kakashi mengangguk mengerti. Mata kelabunya mengerling ke bangku belakang, tempat ketiga cowok sahabat keponakannya itu duduk. Harusnya ia menyadarinya sejak awal; sejak kapan mereka duduknya jadi terpisah begitu? Ia menghela napas. "Kau mau makan pizza? Aku traktir."
Dahi Sakura berkerut. "Bukannya hari ini mengajar kelas tambahan kelas tiga sampai malam, ya?"
"Ah, benar. Aku lupa." Kakashi terkekeh lagi seraya menggaruk-garuk rambut peraknya.
"Huu… guru macam apa yang lupa kewajiban? Muridmu bisa kecewa nanti," ledek Sakura. Sudut bibirnya berkedut menahan senyum.
Kakashi tersenyum. "Nah, begitu dong, senyum." Sekali lagi ia mengacak-acak rambut Sakura dan kali ini keponakannya itu tidak memprotes. Setelah berjanji akan datang makan malam ke Blocaf setelah selesai mengajar, Kakashi meninggalkan kelas.
Naruto bergegas menghampirinya setelah Kakashi pergi. "Pulang bareng?"
Sakura mengerling ke belakang. Sasuke masih berada di bangkunya. "Tidak bersama Sasuke?"
"Dia ada rapat koordinasi dengan panitia festival sekolah setelah ini," jawab Naruto.
Sakura tersenyum padanya. "Oke. Sudah lama tidak pulang bareng."
Naruto mengangguk bersemangat. Ia melempar cengiran dan mengedip pada Sasuke saat Sakura tidak melihatnya. Di belakang mereka, Sasuke memutar bola matanya.
"Aku duluan," gumam Sasuke saat ia berjalan melewati Naruto dan Sakura. Tanpa menunggu jawaban dari mereka lagi, ia sudah menghilang di balik pintu.
Ketika Naruto berpaling lagi, ia mendapati Sakura sedang memandangi pintu, tempat beberapa detik yang lalu Sasuke baru saja menghilang. Seulas senyum tipis tersungging di bibir Naruto melihatnya. Sepertinya Sakura tidak benar-benar mengabaikan Sasuke meskipun mereka sedang tidak saling bicara, pikirnya.
"Kau merindukannya, ya?"
"Huh?" Sakura mengerjap. Pandangannya teralih pada Naruto yang kini menyeringai lebar padanya. Gadis itu mendengus. "Yang benar saja," kilahnya sambil tertawa. "Sudah ah. Kita pulang?"
Tapi rupanya rencana mereka untuk pulang bersama-sama seperti dahulu mendapatkan sedikit halangan. Mereka baru saja akan melangkah ke pintu utama gedung itu ketika suara anak perempuan memanggil Sakura. Yang dipanggil lantas menoleh dan mendapati adik sepupu Neji, Hinata Hyuuga tengah berlari-lari kecil ke arahnya.
"Hinata?"
Wajah Hinata merona saat Naruto menyapanya. Gadis itu mengangguk dan tersenyum manis padanya sebagai balasan—dan Sakura tidak bisa menahan senyum gelinya melihat tingkah malu-malu Hinata itu.
"Ya, Hinata?" tanya Sakura kemudian.
"Oh," perhatian Hinata kembali padanya, "K-kau ada waktu hari ini, Sakura? A-aku ingin mengepas kostum Violetta-mu lagi—m-maksudku, aku ingin memastikan ukurannya benar-benar cukup untukmu."
"Wow, kostumnya sudah jadi?" –kalau tidak salah Hokuto juga menyebutkannya tadi. Hinata mengangguk sambil tersenyum sebagai jawaban. Sakura segera menoleh pada Naruto. "Maaf ya, Naruto, sepertinya hari ini tidak bisa pulang bersamamu."
"Oh, tidak apa-apa," sahut Naruto seraya menggaruk belakang kepalanya, berusaha untuk tidak terlalu terlihat kecewa.
"M-maaf, Naruto…" ucap Hinata.
Naruto mengibaskan tangannya, terkekeh. "Sudahlah. Kalau tidak bisa pulang bareng, setidaknya kita masih bisa ke gerbang bareng, kan?"
Kedua gadis itu mengangguk. Sakura dengan ceria segera mengamit lengan Hinata dan membawanya agak berjalan di sebelah Naruto yang kemudian mengantar mereka sampai ke mobil jemputan Hinata yang biasa. Sayang sekali Neji tidak ikut saat itu, pikir Sakura. Apa boleh buat, kan? Kelas tiga memang sangat sibuk.
-
-
Ini adalah kali pertama Sakura mengunjungi kediaman Hyuuga—maksudnya benar-benar berkunjung, bukan sekedar lewat di depan gerbangnya yang megah itu. Selama ini Sakura hanya bisa membayangkan ada apa di balik dinding pagar yang dihiasi tanaman menjalar itu, tapi kini ia bisa melihatnya sendiri. Dan gadis itu benar-benar tercengang. Taman bagian depan ditata dengan sangat indah, lengkap dengan ukiran lambang keluarga Hyuuga dan air mancur. Karena saat itu masih masuk musim dingin, tidak ada bunga yang mekar. Kalau musim semi pasti jauh lebih indah lagi.
Hinata kemudian membawanya masuk. Mereka langsung disambut seorang pelayan berseragam yang biasanya hanya dilihat Sakura di televisi. Dan matanya kembali memandang kagum pada ruang depan yang luas dan beratap tinggi itu. Ada foto berpigura berukuran besar di salah satu sisi dindingnya, menampilkan Hinata bersama keluarga besarnya. Yang duduk di tengah itu pastilah kakeknya, lalu ayahnya. Keduanya tampak angkuh, namun gagah. Ia mengenali Hanabi, adik perempuan Hinata, yang sedang tersenyum manis di sebelah Hinata yang rambut panjangnya digelung anggun di belakang kepala. Dan tentu saja yang paling menyita perhatian Sakura di foto itu, Neji. Tampak luar biasa tampan dalam balutan jas resmi.
"Yuk, Sakura. K-kita ke kamarku," ajak Hinata seraya menggandeng tangan temannya itu, membawanya ke kamarnya di lantai atas.
Sakura tidak bisa lebih tecengang lagi saat memasuki kamar Hinata. Ruangan itu luasnya kira-kira lima kali lipat kamarnya di Blossoms' Street, atau mungkin lebih. Tak ada barang-barang yang ditumpuk sembarangan seperti di kamarnya, tentu saja, semuanya diatur dengan sangat rapi. Di salah satu sisi kamar dilapisi dinding kaca yang memisahkan dengan balkon yang menghadap ke taman. Di dekatnya, ada satu area yang sepertinya khusus dibuat untuk Hinata menerima tamu. Ada satu set sofa nyaman di sana lengkap dengan meja kopi, dan lantainya dilapisi karpet tebal yang kelihatannya hangat. Sementara di area lain terdapat rak buku besar tempat Hinata menyimpan semua koleksi bukunya—mulai dari buku pengetahuan, ensiklopedi sampai novel-novel yang terhitung banyaknya. Lalu ada meja belajar lengkap dengan satu set PC, notebook, printer dan tetek bengek lain. Hinata juga punya televisi dan stereo set sendiri. Ah, kau belum menyebutkan ranjangnya… yang berukuran jauh lebih besar dari ranjangnya dan terlihat sangat nyaman. Dan semua itu bernuansa hangat seperti musim gugur yang didominasi warna cokelat, pastel dan putih.
Kalau ini kamarnya, Sakura akan betah walaupun hanya mendekam di dalam kamar seharian.
Dan itu pasti yang dikatakan Hinata; kostumnya!
Di dekat lemari yang menyatu dengan dinding, deretan kostum yang digantung rapi di gantungan dorong—seperti yang ada di ruang kostum klub drama di sekolah. Melihatnya, Sakura langsung merasa antusias.
Sementara Hinata menyimpan tas dan mantelnya, Sakura bergegas mendekati gantungan itu. Semuanya tampak indah dan masih baru. Bahkan kostum pelayan untuk tokoh Annina pun terlihat sangat cantik, meskipun modelnya sederhana. Gaun-gaun megah bergaya Eropa tempo dulu untuk para figuran, juga jas-jas buntut… hanya dengan melihatnya saja, Sakura bisa membayangkan setiap adegannya—terutama adegan di awal, tentu saja, yang melibatkan banyak figuran.
"Hinata, ini indah sekali…" ucap Sakura seraya mengamati kostum dengan label 'Flora Bervoix'.
Hinata yang saat itu sedang membantu pelayannya meletakkan cangkir-cangkir dan kudapan di atas meja kopi menoleh, tersenyum. "Menurutmu itu cukup?"
"Cukup?" Sakura memandangnya tak percaya. "Ini bagus bangeeeet… Tenten pasti setuju denganku kalau dia melihatnya."
Hinata tampak berseri-seri. "S-Syukurlah kalau begitu. Soalnya Kak Neji tidak berkomentar apa-apa. Ah, terimakasih…" tambahnya pada pelayannya. Gadis pelayan itu membungkuk sedikit sebelum meminta diri meninggalkan ruangan.
Sakura menggantung kembali gaun itu di tempatnya, lalu berjalan menuju sofa tempat Hinata duduk. "Trims," ucapnya saat Hinata mengangsurkan cangkir berisi teh yang masih mengepulkan uap hangat. Ia menghirup tehnya perlahan. "Tapi aku tidak melihat kostum Violetta dan Alfredo di sana," ujarnya kemudian.
"Kostum Alfredo masih di kamar Kak Neji. Dia mencobanya semalam. Kalau kostum Violetta…" Hinata meletakkan cangkirnya ke meja dan beranjak menuju lemarinya. Dikeluarkannya tiga helai gaun dari dalamnya dan membawanya ke sofa—Sakura bergeser supaya Hinata bisa menyampirkan gaunnya berjejer di punggung sofa. "Aku tidak tahu apakah ini sudah bagus," ujarnya dengan senyum tidak yakin, "A-aku mencoba mengubah sedikit modelnya dari desain awal."
"Ini… ini cantik sekali…" Sakura mengambil salah satu gaun yang paling cantik di antara ketiganya setelah meletakkan cangkirnya di meja. Gaun itu terlihat sangat megah—gaun pesta—berwarna putih gading dengan bagian bahu yang sedikit terbuka. Bagian pinggang ke bawah dibuat mengembang sebagaimana gaun-gaun Eropa jaman dulu. Sementara gaun kedua, warnanya lebih gelap dan desainnya lebih sederhana dari yang pertama—gaun untuk babak kedua. Dan gaun yang terakhir, lebih terlihat seperti gaun tidur, berwarna putih, terbuat dari kain ringan yang menjuntai sampai menutupi mata kaki.
"Kau yang membuatnya sendiri, Hinata?"
"I-Iya… aku mencoba yang terbaik," Hinata menjawab dengan wajah merona.
"Wow! Keren sekali…" puji Sakura kagum. Gadis itu lalu berdiri, mengepaskan gaun itu di tubuhnya di depan cermin di lemari Hinata. "Kelihatannya pas."
"Um… b-bagaimana kalau Sakura coba memakainya?" usul Hinata.
Lima menit kemudian, Sakura sudah berdiri di depan cermin yang sama. Hanya saja kini gaun itu telah terpasang di tubuhnya. Sedikit kebesaran, terutama di bagian dada dan bahu, membuat gaunnya sedikit melorot ketika Sakura memakainya.
"Ah, ya ampun… ternyata benar kebesaran," keluh Hinata.
"Ahaha.. bisa diperbaiki, kok…" kata Sakura sambil menahan gaunnya agar tidak turun. Wajahnya memerah. Ini karena dadaku rata, pikirnya kesal.
Hinata segera mengambil peralatan menjahitnya, menyemat jarum di beberapa bagian sehingga gaun itu pas di tubuh Sakura yang ramping.
"Ini l-lebih baik, kan?" Hinata mundur untuk mengamati gaunnya yang kini sudah lebih pas. Ia tersenyum puas.
Berikutnya, Sakura juga memcoba dua gaun yang lain. Gaun kedua tidak ada masalah karena modelnya tertutup. Hanya perlu memperbaiki beberapa bagian saja, dan Sakura sangat menyukainya terutama gaun ketiga. Gaun itu longgar di tubuhnya—tapi itu disengaja untuk membuat kesan kurus—dan terasa sangat nyaman. Bagian kerahnya sedikit melorot sehingga menampakkan bahunya. Hanya saja bagian bawahnya kepanjangan sehingga Sakura harus mengangkatnya dulu agar bisa jalan tanpa keserimpet.
"Sakura sangat cantik memakai itu," puji Hinata tulus saat Sakura mencobanya. "Warna putih memang cocok dengan warna rambutmu."
"Benarkah?" Sakura berseri-seri, memutar tubuhnya sambil memandang pantulan dirinya di cermin. Ia sudah melepas kucirannya sehingga rambut merah mudanya yang panjang menjuntai lembut di bahu sampai mencapai pinggangnya.
Hinata tersenyum, lalu mengangguk. "Kak Neji juga pasti setuju denganku," ujarnya—membuat Sakura merona lagi. Dan saat berikutnya gadis itu kembali menunduk, berkutat dengan benang dan jarum untuk mengecilkan gaun yang kebesaran di pangkuannya.
Menjinjing bagian bawah gaunnya, Sakura berjalan menuju sofa dan duduk di samping Hinata. Sejenak ia hanya mengamati ketika tangan Hinata dengan terampil menggunakan jarum dan benang pada bagian dalam gaun itu. Sakura sangat mengagumi pekerjaannya yang rapi.
"Hinata sangat berbakat, ya…" ujarnya kemudian. "Pandai menjahit, memasak, bisa macam-macam. Suatu saat pasti bisa menjadi istri yang hebat. Benar-benar membuat iri…"
Wajah putih gadis Hyuuga itu merona mendengar pujian atas dirinya. "S-Sakura terlalu berlebihan. A-aku tidak sehebat itu," ujarnya merendah, dan Sakura bisa melihat kabut melintas di mata lavender gadis itu saat ia melanjutkan, "Ayahku tidak berpendapat sama. Menurutnya aku tidak memiliki kemampuan yang seharusnya dimiliki oleh pewarisnya. Aku tidak sepintar Kak Neji, yang bisa mendapatkan beasiswa dengan mudah. Atau Hanabi yang berbakat, tegas dan bisa membanggakan keluarga di usianya yang masih sangat muda. Dia juga sangat pandai, tidak kalah dengan Kak Neji. Sementara aku… prestasiku biasa-biasa saja dan tidak memiliki bakat yang bisa membanggakan. Saat pertemuan keluarga, aku hanya bisa berdiri di sudut sementara Kak Neji dan Hanabi memperlihatkan kebolehan mereka. Kak Neji yang cukup piawai bermain piano dan Hanabi dengan biolanya. Yang bisa kumainkan hanyalah recorder yang pernah kita pelajari saat di sekolah dasar."
Sakura tercenung mendengarnya. Hinata menghela napas. Senyumnya terlihat suram.
"Kak Neji dulu selalu berkata padaku, pasti ada sesuatu yang bisa membuatku istimewa. Tapi aku merasa payah dalam segala hal. Yang bisa kulakukan hanyalah hal-hal biasa seperti kebanyakan anak perempuan lain; memasak, menjahit…"
"Kalau begitu, tanganmu lah yang istimewa, Hinata," kata Sakura riang, "Dia kreatif. Apa pun yang diolahnya akan menjadi enak—atau indah, seperti gaun ini. Ingat tidak saat kita masih di sekolah dasar, saat kita praktek membuat kue?" Sakura berhenti senjenak untuk tertawa. "Si Naruto itu… mencuri kue-kue yang dibuat anak-anak masing-masing satu. Tapi punyamu, dia mengambil semuanya. Aku ingat saat itu kau sampai menangis saat melihat piringmu kosong di dapur setelah istirahat."
"N-Naruto?"
"Iya," Sakura menangguk. "Kau tidak tahu, ya? Yang mencuri saat itu adalah Naruto. Dia pernah memberitahuku. Katanya dia ingin minta maaf padamu, tapi tidak tahu bagaimana mengungkapkannya. Lagipula itu sudah lama sekali, kau mungkin sudah lupa."
Hinata memasang ekspresi kaget di wajahnya. Tidak menyangka jika maling yang sudah membuatnya menangis tersedu-sedu sampai Iruka Umino, gurunya saat itu, kebingungan, adalah Naruto. Gadis itu tidak tahu apakah ia harus tertawa atau menangis mendengarnya.
"Naruto…"
Dan kemudian Hinata menyadarinya, orang pertama yang mengakui kemampuannya memasak barangkali adalah Naruto. Karena praktek memasak saat itu adalah kali pertama Hinata benar-benar menyentuh dapur dan kue itu adalah karya pertamanya. Tidak hanya itu, Naruto jugalah yang pertama memberi aplaus padanya saat guru mereka di sekolah dasar menyuruhnya membacakan tugas karangan liburan musim panas—Saat itu Hinata menulis tentang kedai ramen enak yang dikunjunginya saat berlibur ke Oto.
"Ah, satu lagi," kata Sakura mengembalikan perhatian Hinata padanya lagi. "Kau berbakat menulis. Aku sangat suka artikel dan cerpen yang kau tulis di majalah sekolah. Menurutku itu sangat keren, seperti membaca karya-karya penulis pro. Gubernur kita juga mengakuinya, kan? Dan orangtua mana yang tidak bangga saat putrinya mendapatkan penghargaan. Benar, tidak?"
Itu juga adalah satu momen yang benar-benar langka bagi Hinata, saat ayahnya memandangnya dengan tatapan penuh kebanggaan. Juga adalah saat-saat dimana ia benar-benar merasa sangat bahagia.
"Kalau kau menulis novel suatu hari nanti, Hinata, aku pasti akan membacanya."
"Terimakasih, Sakura…" ucap Hinata. Matanya tiba-tiba saja terasa basah.
Sakura mengulurkan tangannya, menepuk lengan Hinata dengan lembut. "Jangan merasa rendah diri lagi, ya. Menurutku kau sangat oke." Diacungkannya kedua ibu jarinya di depan Hinata.
Mata lavender Hinata mengerjap. Gadis itu kemudian tertawa kecil, ikut mengacungkan kedua ibu jarinya. "Sakura juga sangat oke."
Saat berikutnya kamar itu dipenuhi suara gelak tawa dari kedua gadis.
-
-
"Eeh.. ini Sasuke?" suara Sakura terdengar geli.
Saat itu Hinata sudah selesai memperbaiki semua kostum buatannya dan ia sedang duduk di atas karpet sementara beberapa album foto lama terhampar di depannya. Sakura, yang sudah memakai pakaiannya sendiri, duduk bersila di sampingnya sambil makan camilan buah.
Mereka sedang melihat-lihat foto lama milik Hinata, dan Sakura yang awalnya hanya antusias melihat foto-foto kecil Neji kini perhatiannya tertuju pada foto seorang bocah laki-laki bertampang cemberut. Rambut hitamnya dihiasi bunga warna-warni dan bocah itu memakai gaun—padahal jelas kalau dia bocah laki-laki. Sementara di sebelahnya, Hinata cilik memakai tux.
Hinata mencondongkan tubuh di atas album yang dibuka Sakura dan tertawa. "Iya. Itu Sasuke."
"Ya ampuun… Sasuke mau-maunya didandani seperti itu." Sakura tertawa gelak-gelak sampai air matanya keluar melihat foto yang benar-benar konyol itu. "Kalian berdua sepertinya dari kecil sudah dekat, ya—kau dan Sasuke?" tanyanya kemudian setelah tawanya mereda. Sakura membuka-buka halaman lain dari album itu dan menemukan beberapa foto Sasuke kecil di sana—juga Itachi bocah.
"Ayahku dan ayah Sasuke itu partner bisnis, dan teman dekat saat di Universitas. Jadi saat mereka berkumpul, kami—anak-anaknya—juga diajak serta. Kadang-kadang kami yang ke Oto mengunjungi Paman Fugaku dan Bibi Mikoto, kadang-kadang mereka yang datang ke Konoha mengunjungi kami. Seperti itu…"
"Sepertinya seru sekali," komentar Sakura. "Seperti ayah-ayahnya Shikamaru, Ino dan Chouji. Tiga keluarga mereka juga sering liburan bersama. Pasti ramai."
Hinata mengangguk setuju. "A-apalagi kalau sepupu-sepupu kami yang lain juga diajak. Benar-benar seru," ia mengenang, "Waktu Hanabi belum lahir—dan almarhum Ibu masih ada—aku dan Sasuke lah yang paling kecil di antara kami semua. Jadi seringnya kami berdua yang jadi korban, kalau kau tahu maksudku." Gadis itu merujuk pada foto pengantin-cilik-terbalik yang tadi.
"Aku tahu maksudmu," kekeh Sakura, "Sayangnya Sasuke yang sekarang tidak sejinak dulu. Omong-omong, Sasuke dulu seperti apa?"
Hinata tidak langsung menjawab, tampak memikirkan jawabannya sementara ia mengunyah potong buah stroberi. "Hmm… Sasuke dulu sangat lengket dengan kakaknya. Apa-apa Kak Itachi, tidak bisa lepas. Mulai dari main, makan, tidur, bahkan ke kamar mandi. Kalau tidak ada Kak Itachi, dia tidak mau."
"Pantas saja mereka sangat akrab sampai sekarang," komentar Sakura. "Lalu apa lagi?"
"Um…" Hinata meletakkan jarinya di dagu, "Dia sangat suka menangis. Dan kalau sudah menangis susah sekali membuatnya berhenti. Pernah sekali dia kesal dengan Kak Neji yang merebut mainannya, Sasuke melemparnya dengan bebek karet dan langsung menangis. Padahal Kak Neji tidak membalas apa-apa."
"Astaga… dasar bocah!" Sakura tergelak.
Sementara Hinata hanya tertawa kecil. Berbicara tentang Sasuke, ia jadi teringat belakangan ini hubungan Sakura dan Sasuke sepertinya sedang tidak terlalu baik di sekolah. Melihat mereka yang biasanya akrab—walau kadang ada cekcok mulut—menjadi saling menjauh begitu, rasanya agak aneh bagi Hinata.
"Sakura?"
"Hmm?" Sakura mengalihkan perhatiannya dari lembar terakhir album foto di pangkuannya dan menatap Hinata.
"Kau dan Sasuke… ada masalah, ya?"
Senyum di wajah Sakura langsung lenyap saat mendengar pertanyaan Hinata. Tiba-tiba saja ia merasa hampa. Beberapa saat yang lalu, saat mereka membicarakan Sasuke, semuanya seakan baik-baik saja di antara mereka berdua. Tapi sekarang, saat Hinata menyebut-nyebutnya lagi, Sakura menyadari bahwa tidak ada yang baik-baik saja di antara ia dan Sasuke. Dan tatapan menusuk Sasuke yang dilihatnya tadi pagi kembali mengganggunya.
"Hmm…" gadis itu akhirnya mengangguk. "Tapi bukan hal yang penting, kurasa," tambahnya sambil menyunggingkan cengiran yang tidak mencapai matanya.
Namun sepertinya Hinata masih belum diyakinkan hanya dengan itu. Gadis itu mengenal Sasuke sejak kecil, pasti tahu kalau 'bukan hal yang penting' tidak akan membuat Sasuke menjauhi teman yang sangat ia pedulikan sebelumnya. Pasti ada hal lain. Tapi melihat sikap Sakura yang menghindar, sepertinya ia tidak ingin membicarakannya. Dan Hinata tidak mendesaknya.
"Mudah-mudahan semuanya cepat membaik," hanya itu yang diucapkannya.
"Trims."
Sakura menutup album di pangkuannya dan menaruhnya di atas tupukan yang sudah mereka lihat sebelumnya. Ia menghela napas. Kembali memikirkan pertengkarannya dengan Sasuke—tidak hanya Sasuke, tapi juga Sai—membuatnya tidak nyaman. Gadis itu lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang luas itu, sebelum pandangannya tertumbuk pada rak buku yang lebih mirip seperti perpustakaan kecil.
"Hei, boleh aku melihat-lihat?" tanyanya seraya menunjuk ke arah rak.
"Tentu," sahut Hinata.
Sakura lantas beranjak dari duduknya dan berjalan menuju rak. Hinata memang sangat rapi, semuanya disusun berdasarkan kategori—fiksi dan non-fiksi, mata pelajaran dan buku populer. Dan semuanya disusun berdasarkan abjad. Yang paling menarik perhatian Sakura sebagai menikmat fiksi, tentu saja rak yang berisi novel.
Koleksinya sangat lengkap, Sakura membantin iri, jika dibandingkan dengan koleksinya yang tidak seberapa di rumah. Tapi meskipun lengkap, koleksi Hinata lebih didominasi novel-novel romance sementara Sakura lebih banyak membaca misteri, psikologis atau petualangan, meskipun ia juga tidak menolak romance. Ada novel yang sama seperti yang Neji berikan padanya di sana, juga… Gerakan tangannya yang menyusuri rak terhenti di salah satu judul novel yang tampak tidak asing.
Love Story
Ia lantas mengambilnya dari rak. Benar saja, itu novel yang sama seperti yang Sasuke berikan padanya sebelum ia pergi ke Oto beberapa bulan yang lalu. Kenangannya kembali lagi…
"Kau merindukannya, ya?" kata-kata Naruto kembali terngiang.
"Sakura suka novel romance juga?" tanya Hinata.
"Oh!" Sakura menoleh dengan terkejut pada Hinata yang entah sejak kapan berada di belakangnya. "Yeah, lumayan."
"Yang itu ceritanya bagus sekali." Hinata memandang buku di tangan Sakura. "Salah satu favoritku. Kau sudah baca?"
Sakura mengangguk. "Aku punya satu di rumah. Sasuke memberikannya untukku. Ceritanya memang sangat bagus. 'Love means never having to say you're sorry'. Aku suka bagian itu."
"Eh?" Hinata tampak terkejut. "Sasuke memberikannya padamu?"
Sekali lagi Sakura mengangguk. Kedua alisnya terangkat. "Memangnya kenapa?"
"O—Oh, tidak ada apa-apa," sahut Hinata cepat-cepat.
—Dan ia mulai memahami alasan di balik masalah di antara Sasuke dan Sakura. Rupanya ada hati yang telah berpindah tanpa ia menyadarinya. Masalahnya, gadis itu tidak tahu harus berpihak pada siapa kali ini.
.
.
TBC
.
.
.
Disclaimer : Naruto © Kishimoto Masashi; Love Story © Erich Segal
Huaaa.. akhirnya selesai juga chapter ini. Fiuh… Sepertinya ceritanya bakal molor lagi nih, soalnya adegan yang aku rencanain sejak chapter 74 malah belum keluar-keluar sampe sekarang. *sigh* Mianhe.. Maaf juga kalo gaje. Lagi stuck banget nyusun kata-katanya. Terus buat fansnya Sai dan Ino, gomen… mereka kesannya jadi egois banget di sini, terutama Sai-nya.
Terus, kata-kata tentang Hinata yang terakhir pada ngerti gak?
Makasih banyak-banyak buat yang sudah mereview chapter sebelumnya; Halo-Daus-Salam, Nie Akanaru, Uchiha Cesa, lia chan, Emi Yoshikuni, Chido daidai-iro, yarai yarai chan, Mugiwara piratez, Nakamura Miharu-chan, kakkoii-chan, kennko-hime, Michishige Asuka, Naru-mania, Mayuura, D.C. Mei, himawari usagi, alegre541, wong lewat, FranbergH, ayrin uchiFan 4ever, Cake S. Vessalius, Akabara Hikari & Sabaku nikuChi. Reviewnya berarti banget buatku.. ^^
Dan buat FranbergH, kenapa masih ada GaaMatsu, soalnya mereka berdua OTP saya, jadi kudu masuk. Wkwkwkwk.. XD #PLAK!
