Persahabatan diwarnai dengan berbagai pengalaman suka dan duka, dihibur-disakiti, diperhatikan-dikecewakan, didengar-diabaikan, dibantu-ditolak, namun semua ini tidak pernah sengaja dilakukan dengan tujuan kebencian.

--00--

"Sakura tidak tinggal makan malam?" tanya Hinata ketika mereka sedang menuruni tangga kediaman Hyuuga.

Saat itu matahari sudah sepenuhnya tenggelam. Kedua gadis yang sebenarnya tidak terlalu akrab itu kelewat asyik mengobrol sampai-sampai tidak menyadari waktu, dan terkejut sendiri saat menyadari langit di luar sudah gelap.

Sakura tersenyum menyesal menanggapi tawaran baik hati Hinata. "Terimakasih, Hinata. Tapi hari ini aku sudah janji akan makan malam dengan keluargaku di restoran kami."

"Ah," Hinata terlihat sedikit kecewa, tapi buru-buru menutupinya dengan senyum manis.

Melihat kilas kekecewaan di wajah Hinata, Sakura menduga tidak sering kunjungan teman ke rumahnya seperti ini. Dan mengingat reputasi keluarganya di seantero Konoha, barangkali mereka terlalu canggung untuk datang langsung.

"Mungkin lain kali," kata Sakura kemudian, seraya mengamit lengan Hinata, "Pasti menyenangkan."

Hinata mengangguk dengan wajah berseri-seri. Keduanya lalu menuruni tangga bersama-sama, tepat ketika salah seorang pelayan rumah itu melesat melintasi ruang depan menuju pintu. Seorang gadis sekitar dua belas tahun yang rambut cokelat panjangnya tertutup topi woll putih tebal melangkah masuk begitu sang pelayan membukakan pintu. Tas biola tersampir di bahunya, selain ransel hitam sekolahnya. Dan di belakangnya—yang membuat hati Sakura mencelos—kakak sepupu Hinata yang juga seniornya di sekolah. Keduanya masih mengenakan mantel dan syal.

"Selamat datang, Nona Hanabi," sambut sang pelayan kaku. "Tuan Neji."

"Aa! Ada Kak Sakura!" Hanabi yang langsung menyadari kehadiran orang asing di sana berseru.

Sakura mengerjap, terkejut karena Hanabi masih mengenalinya, padahal mereka hanya bertemu beberapa kali dan itu pun tidak banyak berinteraksi. Dan adik Hinata masih belum berubah dari saat terakhir kali Sakura melihatnya—ceria dan penuh percaya diri, kontras dengan kakak perempuannya.

"Halo," balas Sakura canggung. Mata hijaunya beralih pada Neji yang entah mengapa terlihat sedikit salah tingkah. "H-Hai, Neji."

"Kak Neji, tadi Sakura habis mencoba kostumnya," beritahu Hinata sambil mengerling Sakura yang merona. Ia tersenyum. "Dia cantik sekali. Seharusnya kakak melihatnya tadi."

"Oh ya?" Neji seperti menghindari tatapan Sakura, tapi tampaknya tidak ada yang menyadarinya, karena saat berikutnya Hanabi berseru bersemangat,

"Benar? Kostum puteri raja itu kah? Wah, aku ingin lihaaat!" Dengan cepat, Hanabi menarik-narik lengan mantel Neji, "Kak Neji juga coba kostum yang kemarin ya. Pasti serasi!"

Wajah Sakura semakin memanas melihat antusiasme adik perempuan Hinata. Dan anggukan setuju juga tatapan memohon dari Hinata sama sekali tidak membantu.

"Lain kali saja," sahut Neji, disambut suara-suara kecewa dari dua saudarinya—dan senyum dari Sakura. "Sekarang sudah malam dan…" Neji mengerling gadis berambut merah muda di depannya, "bukankah Sakura sudah mau pulang?"

"Hanya sebentar saja kok. Ayolah, Kak…" Hanabi masih berkeras.

Sakura baru saja akan membuka mulutnya untuk menyahut ketika ponselnya tiba-tiba bergetar. Ada pesan masuk—dari ibunya. Gadis itu menghela napas lega, tersenyum saat menemukan alasan sah untuk menghindari desakan kakak beradik Hyuuga itu. "Um… Maaf, sepertinya aku harus pulang sekarang. Ibuku sudah mencariku," ujarnya sambil melambaikan ponselnya.

"Aaah…" Hanabi mengeluh, sama sekali tidak berusaha repot-repot menutupi kekecewaannya. Bibirnya mengerucut.

"Tapi Hanabi kan bisa lihat nanti waktu pementasan," hibur Hinata, menahan tawanya melihat wajah cemberut sang adik. "Benar kan, Kak Neji?"

Sakura otomatis melirik ke arah cowok itu lagi, tepat ketika Neji sedang menatapnya. Namun kemudian Neji buru-buru berpaling dan menjawab, "Hn."

Senyum di wajah Sakura sedikit melemah. Gadis itu merasa ada yang lain dari sikap Neji terhadapnya saat itu—entah apa yang menyebabkan cowok itu bersikap kaku di depannya, tidak seperti biasanya. Dan ini membuat Sakura mengira ia telah melakukan sesuatu yang salah. Dan rupanya hal itu tercermin dari perubahan ekspresi wajahnya.

"Ada sesuatu yang mengganggumu, Sakura?" sentuhan Hinata di lengannya membuat Sakura tersadar dari lamunannya. Ia bahkan tidak menyadari Hanabi sudah pergi dari sana.

"Eh—um… tidak. Aku cuma teringat ada tugas yang belum selesai," Sakura dengan cepat mengarang alasan. "Kalau begitu sebaiknya aku pulang sekarang, Hinata, Neji."

Hinata kemudian mengantar Sakura sampai di pintu depan, meninggalkan Neji yang masih belum beranjak dari tempatnya semula. "Sudah gelap," Hinata berkata khawatir, "Sebaiknya Sakura diantar saja, ya. Ko ada, kan?" ia menanyai pelayannya yang masih berdiri di pintu.

"Tidak usah repot-repot, Hinata," Sakura cepat-cepat menolak, merasa tidak enak, "Aku bisa pulang naik bus. Haltenya tidak jauh dari sini, kan?"

"Tapi, Sakura—"

"Biar aku yang mengantarmu," sela Neji kontan saja membuat Sakura terkejut. Setelah sikap kaku yang ditunjukkannya sejak datang tadi, tawarannya ini benar-benar tak terduga. Cowok berambut cokelat gelap itu menghampiri mereka. "Ini sudah gelap. Tidak baik seorang gadis jalan sendirian. Terlebih daerah sini sedikit rawan."

"Aa—"

"Kak Neji benar," sela Hinata, mengangguk.

Sakura memandang Neji ragu. "Tapi, kau baru saja pulang." Namun perasaan canggung gadis itu langsung lenyap, digantikan dengan perasaan hangat yang familier ketika Neji memberinya senyuman tipis yang biasa—yang selama ini selalu membuatnya meleleh.

"Tidak apa. Aku antar?"

Seketika gadis itu berubah pikiran. Kepalanya terangguk, dengan senyuman di wajahnya yang merona. "Trims, Neji."

Selang beberapa waktu setelah Neji menaruh tas dan mengambil kunci mobilnya di kamar, cowok itu sudah duduk di belakang roda kemudi jaguar silver miliknya dengan Sakura duduk di bangku penumpang di sisinya. Perjalanan berlangsung dalam keheningan sementara mobil yang mereka tumpangi meluncur mulus meninggalkan kawasan White Hills. Sesekali Sakura melirik Neji yang tampak berkonsentrasi pada jalan di depannya. Gadis itu tak bisa menahan senyumnya melihat wajah Neji yang serius itu. Lampu-lampu jalan yang mereka lewati memantul di matanya yang keperakan, membias di kulitnya yang bersih, membuatnya semakin enak dipandang. Sakura jadi teringat saat mereka pergi bersama menonton opera di Konoha Hall, saat itu Neji sama tampannya seperti saat ini.

Dan Neji rupanya menyadari perhatian gadis di sebelahnya. Ketika mobil mereka terhenti lampu lalu lintas yang menyala merah, cowok itu menoleh. Dengan semu di wajahnya, Sakura buru-buru berpaling memandang ke arah jalan di sisi jendelanya, sembari menyelipkan anak rambut ke belakang telinganya dengan sikap gugup, malu karena tertangkap basah sedang memandangi Neji. Meski begitu, Neji sama sekali tidak mengatakan apa pun, hanya memandangi gadis di sebelahnya yang sepertinya mendadak sangat tertarik dengan lampu jalan. Ekspresinya tak terbaca.

"Sakura?"

Yang dipanggil segera menoleh. "Ya?"

Sejenak Neji terlihat ragu. "Ah, tidak. Tidak ada apa-apa." Cowok itu kembali berpaling, karena tepat saat itu lampu lalu lintas kembali menyala hijau.

Sakura menatapnya dengan alis terangkat. Penasaran. Tapi rasa panas tiba-tiba menjalari wajahnya saat pikiran itu melintas. Mungkin Neji ingin mengungkapkan perasaannya—tapi masih terlalu malu untuk itu.

"Tidak keberatan aku menyalakan musik?" tanya Neji kemudian yang segera disambut dengan anggukan dari Sakura.

Barangkali itu akan membuat moodnya bagus, pikirnya saat alunan lembut Moon River mulai terdengar dari pengeras suara. Melodi itu terus mengisi keheningan di antara keduanya sampai akhirnya mereka berbelok ke kawasan Crimson Drive—Sakura tidak ingat pernah memberitahu Neji ia akan pergi ke restoran setelah ini. Mungkin Hinata yang memberitahunya.

Menuju Blossoms Café, berarti mereka akan melewati kediaman Uchiha bersaudara. Sakura otomatis menoleh begitu mereka melintas di depan rumah nomor sembilan. Sebuah BMW hitam terparkir di depan garasi. Seperti rumah-rumah lain di sekelilingnya, lampu rumah Sasuke dalam keadaan menyala dan Sakura bisa melihat siluet orang-orang di jendela. Sejenak ia bertanya-tanya apa yang sedang dilakukan Sasuke di dalam sana, sampai ia teringat sedang tidak berbicara dengan cowok itu.

Sakura menghela napas. Kenapa di saat-saat seperti ini aku malah kepikiran Sasuke, sih? Menyusahkan saja…

"Itu Sasuke, kan?"

Mata hijau Sakura mengerjap saat mendapati sosok berjaket biru baru saja muncul dari ujung jalan yang berlawanan dengan arah datang mereka. Seekor golden retriever berlari-lari kecil di samping sosok yang sedang membawa bungkusan belanjaan di dalam gendongannya.

Sasuke.

Entah apa yang membuatnya seperti itu; Sakura refleks memerosotkan duduknya di jok mobil, seakan sedang berusaha menyembunyikan dirinya dari pandangan.

Neji memandangnya heran. "Kau tidak ingin menyapanya?"

"Tidak," sahut Sakura agak terlalu cepat.

Neji yang semula hendak melambatkan mobilnya, bermaksud untuk menyapa Sasuke, kembali mempercepat laju kendaraannya. Sakura menghela napas lega begitu mereka sudah melewati Sasuke dan anjingnya. Sejenak tadi sepertinya ia melihat mata hitam Sasuke mengarah padanya, meskipun Sakura tidak begitu yakin.

Tapi kenapa aku begitu takut Sasuke melihatku bersama Neji? pikir Sakura kemudian, merasa bodoh sendiri.

"Kalian berdua sedang bertengkar?" tanya Neji, membuyarkan lamunan gadis itu.

"Um… kami.. er… ada sedikit masalah," jawab Sakura gugup. "Tapi bukan masalah besar kok. Biasa kan, di antara teman," ia buru-buru menambahkan.

Tidak sampai lima menit, mereka akhirnya sampai di depan pelataran parkir Blossoms Café yang penuh. Jam-jam seperti itu memang sedang ramai-ramainya. Dari jendelanya, Sakura bisa melihat para pegawai restoran keluarganya itu sibuk melesat kesana kemari melayani pengunjung.

"Rasanya sudah lama tidak kemari," komentar Neji, memandang bangunan berdinding merah itu.

Sakura tersenyum, kemudian menoleh padanya. "Kapan-kapan mampirlah lagi."

Neji tidak menanggapi ini. "Sebenarnya ada yang ingin kukatakan padamu, Sakura."

"Eh—a-apa itu?" tanya Sakura gugup. Jantungnya mulai berdegup kencang tanpa dikomando. Mungkin ini saatnya…

Lagi-lagi keraguan melintas di wajah Neji—ragu, namun Sakura juga bisa melihat kekhawatiran di wajah tampan itu. "Itu…" kata-katanya terhenti, dan selama beberapa saat Neji hanya menatap Sakura. "Aku…"

"Hmm?" Sakura menunggunya.

"Setelah ujian selesai, kau mau pergi denganku?"

Sakura mengerjap. "Kau mengajakku keluar?" –kencan?

"Ya." Neji mengambil napas, lalu melanjutkan—masih mempertahankan kontak mata. "Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu. Mungkin setelah ujian semester adalah saat yang tepat—maksudku, aku tidak ingin konsentrasi ujianmu terpecah."

"Oh—oke," sahut Sakura kemudian, meskipun sebenarnya ia ingin Neji mengatakannya saat itu juga.

Neji tersenyum padanya. "Nanti akan kuhubungi lagi."

Sakura mengangguk antusias. "Terimakasih sudah mengantarku, Neji," ucapnya setelah itu.

"Hn."

Sebelum Neji menyadarinya, Sakura telah mencondongkan tubuh ke arahnya dan memberinya kecupan singkat di pipi. Cowok itu memandang terkejut—terlalu terkejut untuk menanggapi dengan kata-kata. Hanya kilatan rasa bersalah di mata pucatnya, yang sama sekali tak disadari Sakura.

"Sampai ketemu di sekolah," ucap Sakura tanpa bisa menutupi keceriaan dalam suaranya. Wajahnya luar biasa berseri-seri. "Semoga sukses dengan ujiannya." Tanpa menunggu jawaban Neji—atau karena terlalu gugup setelah mencuri kecupan di pipi cowok itu—Sakura bergegas membuka pintu mobil dan melompat keluar. Ia berlari-lari kecil menuju restoran dan berhenti tepat di depan pintu masuk sebelum berbalik untuk melihat mobil Neji masih belum beranjak dari tempatnya. Dengan senyum lebar, gadis itu melambai.

Sakura masih berdiri di sana, mengawasi ketika jaguar silver itu melaju pergi sebelum kemudian kembali berbalik untuk menemui ibu, paman dan calon bibinya yang sudah menunggunya untuk makan malam.

.

.

Seorang remaja pria jangkung berambut hitam baru saja melangkah ke udara malam yang dingin di luar minimarket ujung jalan itu dengan kedua tangan menggendong kantung belanjaan berisi minuman dan makanan kecil. Seekor retriever berbulu cokelat keemasan berlari-lari kecil di sampingnya, mengibas ekornya dengan riang, sangat kontras dengan tuannya yang bertampang cemberut.

Yah, cowok tampan berambut hitam kebiruan itu tidak sepenuhnya bisa disalahkan. Belum lima menit ia sampai di rumahnya sejak seharian berkutat di sekolah mengurusi persiapan festival sekolah, kakaknya sudah menyuruhnya pergi lagi untuk membeli makanan kecil dan minuman ringan untuk temannya yang katanya akan datang sebentar lagi. Bahkan ia belum sempat mengistirahatkan pantatnya barang sejenak.

Menggumamkan kutukan pada kakaknya, Sasuke berjalan menyeberangi lapangan parkir minimarket yang sempit dengan Rufus yang setia mengikutinya. Yah, barangkali hanya Rufus lah satu-satunya makhluk di dunia ini yang mengerti penderitaannya saat itu, pikir Sasuke masam.

Mobil-mobil berseliweran di jalan itu ketika Sasuke berjalan di bawah naungan lampu-lampu jalan yang temaram memasuki Crimson Drive. Ia berhenti sejenak saat melewati Blossoms Café. Restoran itu tampak sedang ramai. Mau tak mau itu mengingatkannya pada beberapa waktu belakangan, saat ia bersama Naruto, Sai dan Ino membantu sebagai pelayan di sana. Saat itu… semuanya masih baik-baik saja. Namun entakan tak nyaman di dasar perutnya segera menghapus senyum tipis yang terulas di bibirnya saat ia menyadari barangkali ia dan Sakura tidak akan bisa seperti itu lagi setelah apa yang terjadi.

Salakkan Rufus membuatnya tersadar. Anjing itu menatapnya bingung dengan matanya yang gelap berkilau. Sasuke menghela napasnya berat, menciptakan gumpalan uap hangat di depan mulutnya, sebelum kembali melangkah menuju rumahnya yang masih berjarak beberapa blok lagi dari sana. Rufus mengikutinya.

Mereka sudah hampir sampai di rumah ketika sebuah jaguar silver muncul dari kejauhan, berjalan dalam kecepatan sedang menuju arah yang berlawanan dengannya. Sasuke menyipitkan matanya yang silau akibat lampu sorot mobil mewah itu—namun itu tak menghalanginya menangkap sosok yang duduk di dalamnya. Rambut merah muda…

Sakura?

Mobil itu lewat begitu saja.

Sasuke mengerutkan dahi, langkahnya terhenti ketika ia menoleh ke belakang. Hatinya mencelos ketika ia mengenali mobil yang baru saja melewatinya sebagai mobil Neji. Perasaan terbakar yang sudah begitu familier sekarang kembali lagi—dan Rufus, seakan tahu bahaya yang mendekat, menyalak keras.

"SIAL!" Sasuke menendang tiang kotak pos rumah di hadapannya—dan langsung menyesalinya karena sesaat kemudian rasa nyeri menjalar dari bagian kakinya yang menghantam besi itu. Cowok itu mengumpat keras seraya melompat memegangi kakinya yang sakit. Melengkapi kesialannya hari itu, sebagian belanjaan yang dibawanya tumpah dan berhamburan di trotoar. Rufus menyalak riang, mengejar kaleng-kaleng minuman yang menggelinding.

"RUFUS, JANGAN GIGIT ITU!"

Seraya merutuk pelan, Sasuke membungkuk untuk mengumpulkan kembali belanjaannya yang tercecer, mengabaikan rasa sakit di ujung-ujung jari kakinya. Gerakannya terhenti saat sebuah tangan mengulurkan kaleng coke padanya. Ia mendongak dan terkejut saat melihat siapa pemilik tangan itu.

"Butuh bantuan, teman?" Naruto nyengir lebar padanya.

"Oh, yeah. Trims," sahut Sasuke, mengambil kaleng coke yang diulurkan Naruto dan memasukkannya kembali ke kantung belanjaan. Sasuke melihatnya saat Naruto membungkuk untuk memunguti kaleng-kaleng yang lain, sahabat pirangnya itu masih mengenakan jaket yang sama dengan yang dikenakannya ke sekolah, dan tas punggungnya tersampir di bahu. "Kau dari mana?"

"Huh?" Naruto menegakkan diri, menaruh dua kaleng minuman lagi ke dalam kantung yang dibawa Sasuke. "Tidak dari mana-mana." Ia mengangkat bahu. "Dari rumah," tambahnya ketika melihat tatapan tak percaya Sasuke. "Aku memang berniat main ke rumahmu. Tidak keberatan, kan? Aku er… ingin minta tolong kau mengajariku beberapa.. um… tahulah, untuk ujian nanti." Semburat merah muncul di wajah tan Naruto dan ia menggaruk belakang kepalanya. "Itu juga kalau kau tidak keberatan mengajariku."

Sasuke menatap Naruto beberapa saat sementara ia mencerna kata-kata sahabatnya itu. "Heh… dasar bodoh," dengus Sasuke setelah ia mengerti apa yang sedang dibicarakan Naruto. "Kenapa tidak minta tolong ayahmu saja? Dia kan guru."

"Huh… aku juga inginnya begitu," gerutu Naruto, "Tapi Pap sedang sibuk membuat soal ujian untuk murid-muridnya sendiri. Dan kau kira gampang minta tolong padamu? Harga diri nih…" ia menambahkan seraya menepuk-nepuk dadanya. "Geez…"

Sasuke memutar bola matanya. "Terserah." –tapi toh akhirnya Sasuke tidak menolak. Tepatnya, ia tidak bisa menolaknya, karena ia membutuhkan seseorang yang bisa mengalihkan perhatiannya dari Sakura dan seperti biasa, Naruto selalu datang di saat yang tepat. Sasuke tidak peduli apa alasannya.

Dan sepertinya memang keputusan yang tepat mengizinkan Naruto untuk datang ke tempatnya. Serombongan besar teman kantor kakaknya sudah ada di sana ketika ia dan Naruto tiba di rumah. Sasuke tidak pernah tahu kakaknya punya teman sebanyak ini selain teman-teman anehnya yang menyebut diri mereka Akatsuki saat di sekolah menengah dulu. Dan teman-teman kantornya ini sama berisiknya dengan Akatsuki, walau tidak sampai ada yang menyalakan petasan di dalam rumah seperti salah satu teman Akatsuki Itachi dulu.

Naruto dan Sasuke sudah duduk di atas lantai yang dialasi bantal duduk di kamar Sasuke selang beberapa waktu, dengan meja rendah di antara mereka dan buku-buku yang terbuka terhampar di atasnya. Namun alih-alih berkutat dengan buku-buku itu, Naruto malah asyik melahap pizza yang sengaja dipesan Itachi untuk mereka berdua.

"Kau ini kemari sebenarnya untuk belajar atau makan?" tukas Sasuke tak sabar.

Naruto nyengir dengan mulut penuh. Ia mengambil waktu untuk mengunyah dan menelan pizza-nya sebelum berkata, "Istirahat sebentar, kepalaku sudah hampir pecah. Lagipula aku lapar, belum makan malam. Memangnya kau tidak lapar?" Digesernya kotak pizza yang tinggal setengahnya lagi pada Sasuke. "Ayolah, kakakmu sengaja membelikan kita pizza bukan untuk dicueki, tahu."

"Aku tidak lapar," sahut Sasuke tak berminat, mendorong kotak itu menjauh darinya. Kemudian beranjak.

"Kau mau kemana?" tanya Naruto ketika Sasuke berjalan menuju pintu.

"Ambil minuman…" –kemudian pintu menutup di belakangnya.

"Oi, boleh aku minta cola?" seru Naruto pada pintu—dan tentu saja ia tidak mendapat jawaban. Hanya langkah kaki Sasuke menuruni tangga yang terdengar. Mengangkat bahu, Naruto memasukkan sisa potongan pizza-nya ke dalam mulut dan meraih ponsel di tasnya. Sebelah alisnya terangkat ketika mendapati satu missed call dari Sai di layarnya.

.

.

Berkencan itu ternyata tidak selamanya menyenangkan. Itu yang belakangan ini disadari oleh Sai. Bukannya ia sudah bosan atau bagaimana, tentu saja dia masih sangat menyayangi kekasihnya. Namun ada saatnya di mana ia merasakan kekosongan yang tak nyaman di dadanya, seakan ada sesuatu yang tadinya ada di sana, tapi sekarang sudah tidak ada lagi. Awalnya ia mencoba untuk mengabaikannya saja—dan yah, ia memang ahli dalam hal itu, bukan?—Tapi lama-kelamaan itu semakin mengganggunya. Terlebih setelah apa yang terjadi tadi siang.

Perlahan tapi pasti, ia mulai kehilangan sahabat-sahabatnya.

Sasuke yang terang-terangan tidak suka ia berkencan dengan Ino sudah tidak lagi bicara dengannnya. Kemudian Sakura, yang beberapa jam yang lalu ia buat menangis karena kata-katanya yang kelewatan—juga karena Ino—Sai tidak yakin gadis itu akan melupakannya dalam waktu dekat. Dan Naruto…

"…sekali lagi aku melihatmu membuatnya menangis, aku tidak akan tinggal diam…"

Kata-katanya tadi siang cukup untuk menggambarkan betapa kecewanya Naruto terhadap sikapnya. Bukan hanya karena ia telah melukai Sakura. Sai tahu selama ini Naruto selalu menahan dirinya soal ia dan Ino. Dan sikapnya pada Sakura telah mendesak Naruto sampai ke ambang batas kesabarannya.

Sai menghela napas berat seraya menyisir rabut yang terjatuh ke dahinya, menatap langit-langit di atasnya. Dadanya terasa sesak karena rasa bersalah pada ketiga sahabatnya. Ia tak bisa memungkiri lagi—ia sangat merindukan mereka dalam kehidupannya. Tapi di saat yang bersamaan, ia juga tidak bisa berpaling dari Ino. Ia merasa tidak bisa jauh dari gadis itu.

Ino benar-benar telah menguasai dirinya.

Oke, barangkali itu agak berlebihan, tapi memang itulah yang dirasakannya. Kakak… apa kau dulu juga merasa seperti ini?

Belum lagi ancaman yang selalu diterimanya semenjak ia dan Ino mulai berkencan. Pesan-pesan tak dikenal yang beberapa kali masuk ke ponselnya, yang mengingatkannya pada status Ino. Awalnya Sai mengira itu ulah Sasuke, dan ia mengabaikannya. Sampai kemudian ia sadar Sasuke bukan tipe orang yang suka melakukan hal-hal seperti itu—seperti mengganti nomor ponsel hanya untuk menerornya. Tapi Sai tidak pernah menyebut-nyebut soal ini pada siapa pun, termasuk pada tiga sahabatnya dan Ino. Ia selalu bersikap seakan tidak pernah terjadi apa pun.

Tapi semakin lama, pesan yang diterimanya semakin mengerikan. Seperti yang diterimanya beberapa waktu yang lalu, yang kemudian membuatnya refleks menghubungi nomor orang pertama yang melintas dalam kepalanya. Sai tidak pernah merasa begitu terancam seperti saat itu—bahkan tidak saat geng Inui masih sering menggencetnya dulu—dan ia butuh seseorang di dekatnya, dan itu bukan Ino.

Sayangnya Naruto tidak mengangkat teleponnya. Dan mau tak mau membuat Sai berpikir mungkin Naruto tidak mau bicara dengannya, seperti halnya Sasuke.

Sebenarnya apa yang sudah kulakukan pada teman-temanku?

Suara getaran dari ponselnya yang diletakkan di meja samping tempat tidurnya membuyarkan lamunan cowok berambut eboni itu. Sai mengangkat tubuhnya duduk dan mengambil ponselnya. Ada satu pesan masuk, dari Naruto.

'Hey, what's up?'

Senyum Sai mengembang. Lega.

'Kukira kau tidak mau bicara padaku.'

Balasan Naruto masuk tak lama kemudian.

'Asal kau tahu saja, aku masih marah padamu. Tapi kalau ada yang ingin kau bicarakan padaku, bicara saja.'

Lama Sai hanya memandangi layar ponselnya. Ragu, apa sebaiknya ia menceritakannya pada Naruto atau tidak. Sampai ia mengetik balasannya,

'Bisa kita bertemu? Tidak enak membicarakannya di ponsel.'

'Oke. Datanglah kemari. Aku sedang di rumah Sasuke, mungkin akan menginap malam ini. Kita bisa ngobrol bertiga.'

Sai mengerjap. Di rumah Sasuke…?

Ponselnya bergetar lagi. Satu lagi pesan dari Naruto.

'Aku yakin Sasuke tidak akan keberatan kalau yang ingin kau bicarakan benar-benar mendesak. Dia tidak sejahat itu, Sai.'

Sai tidak tahu harus berkata apa, sampai ponselnya kembali bergetar. Kali ini bukan pesan baru yang masuk, melainkan Naruto yang langsung meneleponnya.

"Kau oke?" itulah pertanyaan pertama yang didengarnya setelah ia menekan tombol jawab. Ada nada khawatir tersirat dari suara Naruto di seberang.

"Yeah," sahut Sai berbohong.

"Tidak. Kau tidak oke," kata Naruto. Sai bisa mendengarnya menghela napas. "Kalau kau baik-baik saja, kau tidak akan meneleponku. Jadi, kau mau bicara apa?"

.

.

"…Jadi kau mau bicara apa?"

Naruto sedang bicara di ponselnya ketika Sasuke kembali ke kamar dengan membawa dua kaleng coke.

"Huh, Sasuke? Aah… dia ada di sini," kata Naruto pada seseorang di seberang sambungannya, mengerling Sasuke yang baru saja duduk di seberang mejanya. Mendengar namanya disebut, Sasuke mengangkat sebelah alisnya. "Ya sudah, kalau tidak bisa sekarang. Bagaimana kalau besok? Hmm… di KCP?—Baiklah. Besok aku hubungi lagi."

"Siapa?" tanya Sasuke begitu Naruto memutuskan sambungan.

"Sai," jawab Naruto seraya mengambil kaleng coke yang diulurkan Sasuke padanya.

"Mau apa dia?"

Naruto mengernyit mendengar nada tak suka dalam suara Sasuke. "Jangan ketus begitu. Dia kan teman kita,"—Sasuke mencibir dan menggumamkan sesuatu seperti 'teman macam apa yang tidak mendengarkan temannya?', tapi Naruto mengabaikannya—"Sepertinya ada sesuatu yang ingin dibicarakan. Dia kedengaran agak…" Naruto mengangkat bahu sementara tangannya membuka kaleng minumannya. Kaleng itu mendesis dan cairan di dalamnya muncrat keluar. Naruto mengumpat keras. "What the hell!"

"Pasti gara-gara jatuh tadi," kata Sasuke menahan geli melihat tampang Naruto yang belepotan coke.

"Yeah. Whatever!" Naruto menyeka cairan kecokelatan yang terciprat ke wajahnya dengan lengan kausnya, lalu menyeruput minumannya sedikit. "Omong-omong soal Sai tadi, dia kedengarannya agak… seperti orang ketakutan. Entahlah… mungkin hanya perasaanku saja."

Sasuke mendengus. "Setelah kau mengancamnya, tentu saja dia ketakutan bicara denganmu."

"Omong kosong," Naruto terkekeh. "Aku hanya kepikiran," lanjutnya setelah keduanya terdiam agak lama. Dahinya berkerut. "Apa Idate sudah tahu? Maksudku, kau tahu bagaimana Idate Morino, kan? Dia—"

"Well, aku tidak tahu bagaimana dia," sela Sasuke tak berminat seraya menarik buku Science-nya lagi.

Naruto nyengir, baru menyadari Sasuke belum pernah berinteraksi dengan kekasih resmi Ino itu. "Oh, sori. Maksudku, Idate orangnya keras dan posesif. Dulu juga dia yang membuat Ino keluar dari band. Dia tipe cowok yang tidak akan segan-segan bersikap kejam—bahkan pada pacarnya sendiri. Kau bisa bayangkan jika dia tahu tentang Sai?"

"Seseorang akan dapat masalah besar," sahut Sasuke dalam gumaman pelan.

"Persis." Naruto mengangguk seraya mencomot sepotong pizza lagi.

Keduanya terdiam lagi sementara Naruto menghabiskan makanannya. Di depannya, Sasuke tampak menekuni bukunya, meskipun matanya sama sekali tidak bergerak. Mau tak mau ia jadi mencemaskan Sai juga, terlebih setelah mendengar bagaimana perangai kekasih Ino itu. Tidak peduli Sasuke berusaha untuk tidak memikirkannya, tapi bayangan mengerikan tentang apa yang akan terjadi seandainya si Morino ini tahu…

Tidak, tidak… Sai menolak mendengarkan dan malah menghinaku. Mengapa aku harus peduli padanya? Cih!

"Kalian berencana bertemu besok untuk membicarakan ini?"

"Hmm…" Naruto tampak berpikir sejenak, lalu mengangkat bahunya. "Mungkin. Tidak tahu juga. Kau mau ikut?"

"Tidak," jawab Sasuke agak terlalu cepat.

"Kalau begitu kenapa bertanya?" Naruto memutar matanya. "Dasar!"

Sasuke merasa wajahnya menghangat. Mungkin Sasuke tidak merasa, tapi Naruto menyadari perubahan ekspresinya. Cowok pirang itu terkekeh kecil. Ternyata Sasuke memang tidak sekeras kelihatannya, bukan?

"Haah.. habis makan, aku jadi ngantuk…" Naruto menggeliat seraya menguap lebar-lebar.

Sasuke mengangkat wajah dari bukunya dan melotot pada sahabatnya itu. "Jangan bilang kau mau tidur di sini, Naruto."

"Eh?" Naruto nyengir, menggaruk belakang kepalanya. "Aku belum bilang, ya?"

"Kau tidak bilang apa-apa soal menginap di sini!"

"Well, eh—sekarang aku sudah bilang, kan? Boleh?"

Sasuke menghela napas. "Yeah—"

"Asyik!" Naruto melompat ke atas tempat tidur Sasuke, merebahkan kepalanya dengan nyaman ke bantal.

"HELL NO!" Sasuke mendengking seraya melompat berdiri, melangkahi meja dan menendang Naruto sampai terguling jatuh dari tempat tidur, mendarat keras pada bokongnya.

"OI—"

"Kalau mau menginap, kau tidur di bawah!"

"Pelit!"

"Hn."

Naruto mencibir. Ia bangkit dari lantai sambil mengusap-usap bokongnya. "Setidaknya pinjami aku bantal dan selimut," gerutunya.

.

.

"Katamu semalam kau tidak mau ikut?"

Naruto memandang setengah jengkel setengah geli pada sahabatnya saat mereka sudah berada di KCP keesokan harinya. Saat itu menjelang siang. Naruto sudah pulang ke rumahnya sendiri untuk berganti pakaian sebelum menemui Sai di tempat itu. Dan yah, sebenarnya ia tidak terlalu terkejut saat menemukan Sasuke juga muncul di sana. Sejak malam sebelumnya, ia sudah menduganya.

"Aku kemari untuk mengajak anjingku jalan-jalan," kilah Sasuke sambil menggoyang tali pengikat Rufus di tangannya sementara si anjing menyalak riang. "Tidak boleh?"

Naruto terkekeh, mengibaskan tangannya. "Terserah. Kalau begitu silakan melanjutkan jalan-jalannya. Aku mau mencari Sai."

Tapi Sasuke tidak beranjak dari sana, membeliak pada Naruto yang pura-pura tidak melihat.

"Haah… bilang saja kau ingin tahu apa yang ingin dibicarakan Sai, kan?" kata Naruto tanpa memandangnya.

"Che! Aku sama sekali tidak tertarik," tukas Sasuke tak acuh, seraya menarik tali anjingnya. "Silakan saja kalau mau mencarinya. Ayo kita pergi, Rufus!"

"Bye, bye…" Naruto melambaikan tangan dengan riang saat Sasuke dan Rufus menjauh, masih terkekeh-kekeh. "Huh, dasar. Orang itu tinggi gengsinya melebihi gunung Kilimanjaro."

Setelah Sasuke dan anjingnya menghilang dari pandangan, Naruto kembali mengedarkan matanya berkeliling, mencari-cari sosok kurus jangkung Sai di antara orang-orang yang berlalu-lalang. Dan tak lama kemudian, yang ditunggu pun muncul. Dengan mantel dan jeans hitam, Sai terlihat seperti habis menghadiri pemakaman. Wajahnya juga pucat pasi—maksudnya, lebih pucat dari biasanya, dan Naruto juga melihat ada lingkar hitam tipis di bawah matanya.

Setelah basa-basi yang kaku, Naruto menawarinya secangkir kopi hangat yang baru dibelinya dari mesin penjual kopi otomatis di toko dekat sana dan mengajaknya duduk di salah satu bangku taman.

"Kau seperti orang sakit, Sai," Naruto membuka pembicaraan, menghirup sedikit kopinya.

"Aku baik-baik saja," ujar Sai kaku. "Bagaimana Sakura?"

Naruto mengangkat sebelah alisnya. "Kenapa?" tanyanya dingin.

"Aku… uh…" –dan Naruto menyadari sesuatu saat menatap mata hitam sahabatnya yang seakan redup itu, keangkuhan yang biasa ia lihat di sana sudah sedikit meluntur.

.

.

Sasuke sama sekali tidak mengerti mengapa ia melakukan ini. Maksudnya, sebelum ini ia sudah bertekad untuk sama sekali tidak akan mau tahu urusan Sai lagi—dan ia juga masih belum melupakan kata-kata yang pernah Sai lontarkan padanya, benar-benar membuatnya marah—dan tidak akan pernah mau peduli. Tapi lihat apa yang dilakukannya sekarang… berdiri di kejauhan hanya untuk mengawasi Sai yang sedang bicara pada Naruto.

Bahkan dari jarak sejauh itu, Sasuke bisa melihat betapa Sai tampak seperti orang sakit. Gelisah, berkali-kali menyapu rambut hitamnya ke belakang saat Naruto sedang bicara padanya.

Sasuke benci mengakuinya, tapi ia tidak bisa memungkiri bahwa ia sangat mengkhawatirkan Sai saat ini. Sama seperti ia mengkhawatirkan Sakura sepanjang waktu.

Sial… Kenapa aku tidak bisa mengungkapkan perasaanku secara eksplisit seperti halnya Naruto? Menyusahkan saja…

Menghela napas, Sasuke menunduk memandang Rufus. Anjing itu merengek pelan, berkali-kali menyunduli tangannya penuh harap, barangkali bosan karena sang tuan tidak menaruh perhatian padanya dan hanya diam mematung di sana alih-alih mengajaknya jalan-jalan.

"Kau bosan, ya?" tanya Sasuke sembari mengulurkan tangan, menggaruk tengkuk retriever-nya penuh sayang. "Ayo kita jalan…"

Dengan kerlingan terakhir ke arah Sai dan Naruto, Sasuke membawa anjingnya pergi dari sana.

.

.

'Naruto, setelah ini ceritakan padaku apa yang kau dan Sai bicarakan! –dan jangan berani-berani meledekku. Awas kau!'

.

.

Naruto tak bisa menahan cengiran saat membaca pesan yang baru saja dikirimkan Sasuke di layar ponselnya. Padahal sejak awal bilang saja kalau dia juga mencemaskan keadaan Sai, kan?

"Naruto?"

"Eh—oh, sori."

Sai melempar pandang ingin tahu saat Naruto buru-buru memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jaketnya.

"Si Sasuke itu… Dia ingin tahu apa yang sedang kita bicarakan," Naruto tertawa kecil, mengerling Sai, "Dia itu, walau pun bersikap seperti itu, sebenarnya dia peduli padamu. Dia tidak pernah berniat membencimu atau apa."

Sai tidak tahu harus menanggapi apa atas informasi ini, maka ia hanya menunduk dan tidak berkata apa-apa. Rasa bersalah kembali berkecamuk.

"Kau baik-baik saja?" Naruto menepuk bahunya.

Sai sedikit berjengit saat Naruto menyentuhnya, seakan sentuhan akrab seorang sahabat seperti itu sudah terasa asing baginya. "Aku tidak mengerti, Naruto," ujarnya pelan kemudian, menghela napas, "Mengapa kalian tidak suka aku berhubungan dengan Ino. Aku ingin kita bisa seperti dulu, dengan Sakura dan Sasuke juga."

"Humph…" Naruto menggaruk kepalanya yang tak gatal, "Yah, siapa sih yang tidak ingin kita berkumpul seperti dulu, Sai? Kita semua ingin—"

"Tapi mengapa kalian bersikap seperti itu padaku?" sela Sai gusar. "Aku tidak bermaksud melukai kalian, tapi kalian yang melukaiku terlebih dulu."

Sekuat tenaga Naruto menahan dirinya untuk tidak memutar bola matanya mendengar kata-kata Sai. "Kan sudah kubilang berulangkali kalau mereka juga tidak bermaksud jahat. Mereka hanya ingin mengingatkanmu kalau yang kau lakukan itu salah."

"Jadi kau juga berpendapat kalau aku yang salah?"

Naruto menghela napas, dan saat menjawab, suaranya mantap, "Ya. Kau salah."

Sai kelihatannya seperti hendak membantah, tapi mengurungkan niatnya. Lututnya bergoyang-goyang gelisah. Gelas kertas yang sudah lama kosong teremas-remas di tangannya. "Maafkan aku soal yang kemarin…"

"Seharusnya kau minta maaf pada Sakura," sahut Naruto dingin.

Sai terdiam.

"Sebenarnya…" Sai menelan ludah dengan susah payah. "Idate mengancamku—"

"APA?" Naruto refleks melompat bangun, terkejut bukan kepalang. "Oh, tidak. Ini buruk… benar-benar buruk…"

"Apa yang harus kulakukan sekarang?"

.

.

"Ayo, Rufus," Sasuke menggoyang-goyang freezbee di tangannya, menggoda anjingnya yang melompat-lompat penuh semangat di depannya, berusaha menangkap benda itu dengan moncongnya. Cowok itu lalu mengangkat tangannya, dan dengan satu kali sentakan, Sasuke melempar freezbee-nya ke seberang lapangan hijau.

Benda itu melambung di atas rumput. Rufus menyalak dan saat berikutnya ia sudah berlari mengejar ke arah freezbee itu melayang. Sasuke berseru menyemangatinya, tertawa lepas saat si anjing dengan tangkas menangkap benda itu sebelum mendarat di rumput dengan moncongnya.

"Anjing pintar!"

Rufus berlari kembali ke arahnya. Ekornya bergoyang-goyang. Sasuke menggaruk tengkuknya sebagai tanda penghargaan sebelum membebaskan freezbee karet itu dari moncong si anjing dan kembali melemparkannya ke seberang. Dan Rufus dengan gembira kembali mengejarnya.

Getar ponsel di saku celananya mengalihkan perhatian Sasuke dari anjingnya. Ia merogoh sakunya dan membuka pesan yang baru masuk ke ponselnya—dari Naruto—dan langsung dibuat terkejut dengan pesan yang tertera di sana. Pesan itu bernada mendesak.

'Sasuke, aku perlu bicara denganmu SEKARANG! Kalau kau masih di sini, temui aku di minimarket dekat kolam.'

Dahinya berkerut—ada apa?

Woof!

Rufus yang rupanya sudah berhasil menangkap freezbee-nya, menyundul-nyundulkan kepalanya pada kaki Sasuke untuk menarik perhatian sang tuan. Sasuke mengerjap, menunduk memandang anjingnya yang balas memandangnya penuh harap.

"Mainnya nanti lagi, ya," ujarnya sambil mengambil freezbee karet dari moncong anjingnya dan menyimpannya di balik jaket. Tanpa repot-repot memasangkan kembali tali jalan-jalan Rufus, Sasuke melangkah meninggalkan lapangan itu menuju tempat yang disebutkan Naruto. Rufus berlari mengikutinya.

Namun belum sampai ia di tempat itu, sesuatu—tepatnya, sesosok gadis yang dikenalnya membuatnya menghentikan langkah. Rambut pirang panjang dan jaket itu, tidak salah lagi. Sasuke refleks menyembunyikan dirinya di balik pohon besar tak jauh dari tempatnya semula saat Ino lewat. Gadis itu tidak sendirian. Seorang pemuda berambut hitam yang agaknya berusia beberapa tahun lebih tua darinya berjalan di sampingnya. Mereka tampak sedang bertengkar. Sasuke sekilas melihat wajah Ino yang memerah dan basah sementara pemuda itu bicara dengan suara pelan padanya. Suaranya tidak terdengar sampai ke tempatnya, namun Sasuke cukup yakin pemuda itu sangat marah hanya dengan melihat ekspresinya.

Itu pasti yang namanya Idate Morino—kekasih resmi Ino.

Dan yang paling mengganggunya, ada beberapa orang pemuda lagi yang mengikuti mereka. Empat orang, dan kesemuanya berbadan tinggi besar. Mungkin teman-teman pacar Ino, tapi entah mengapa Sasuke punya firasat tidak enak mengenai orang-orang itu.

Setelah mereka menjauh, Sasuke melangkah keluar dari balik pohon dan bergegas melanjutkan perjalanannya.

"Naruto," sapa Sasuke sedikit terengah setelah akhirnya ia sampai di tempat perjanjian. Naruto sudah menunggu di sana dan ia tampak sedikit gelisah. "Ada apa?"

"Kau tidak akan percaya mendengar ini, Sasuke—" Naruto menceritakan segalanya yang diberitahukan Sai padanya soal ancaman-ancaman tak bertuan yang diterimanya, tidak melewatkan satu detil terkecil pun. Memastikan agar Sasuke mengerti kegawatan dari situasi ini. "Aku khawatir… Idate—kalau pun itu memang dia—melakukan sesuatu yang nekat pada Sai."

"Lalu di mana Sai sekarang?"

"Aku menyuruhnya pulang dan beristirahat. Sepertinya dia agak kurang sehat tadi. Lagipula besok ujian—"

Sasuke membeku. "Apa dia sudah lama perginya?" tanyanya menyela.

Naruto menggeleng. "Tidak sampai lima menit dia pergi, kau datang. Ada apa?"

"Tadi aku melihat Ino dan pacarnya. Mereka bersama beberapa orang lain juga—teman-teman Idate, kurasa."

Naruto memucat. "Kau bercanda."

"Ha ha… kau pikir lucu bercanda di situasi begini?" tukas Sasuke.

Kedua sahabat itu bertukar pandang. Mata biru Naruto melebar saat ia menyadari arti tatapan sahabatnya—"Sial—Sai!"

Dan mereka pun bergegas menyusul Sai menuju lapangan parkir. Hati Naruto mencelos saat melihat Porsche merah Sai masih terparkir di sana sementara tak ada tanda-tanda keberadaan pemiliknya di sana.

"Di mana dia?" Sasuke mengedarkan pandangnya mencari-cari Sai, berharap melihat sosoknya di sana. Di dekatnya, Rufus terus menyalak gelisah.

"Oh, Tuhan… kuharap dia baik-baik saja…"

Suara jeritan perempuan dari kejauhan membuat kedua sahabat itu terkesiap kaget. Rufus menyalak semakin keras ke arah datangnya suara.

"Itu suara Ino!"

Mereka bergegas berlari ke asal suara, dan benar saja, mereka melihat gadis itu—Ino, menjerit-jerit sementara Idate memeluknya erat-erat.

"Idate… please… please… jangan sakiti dia. Tolong…" Ino mengiba-ngiba pada pacarnya. Wajahnya berkilau bersimbah air mata. Namun tampaknya Idate sama sekali tidak menunjukkan belas kasihannya.

"Itu yang akan diterimanya setelah apa yang kalian lakukan di belakangku, cewek sialan!"

"Tidak! SAI! SAI! LEPASKAN DIA!" Ino memberontak dari pegangan Idate, tapi cowok itu terlalu kuat. Dengan mudah, Idate menyeretnya menjauh dari sana—masih berteriak-teriak.

"INO!" teriak Naruto, membuat gadis itu dan Idate menoleh padanya.

"NARUTO! SASUKE! TOLONG SAI! TOLONG DI—Umph!"

"DIAM! DIAM!"

"OI, LEPASKAN DIA!"

"Naruto!" Sasuke menyambar lengan Naruto, saat ia hendak mengejar Idate dan Ino.

"APA? Kau tidak lihat cowok itu—"

"Dia tidak akan apa-apa. SAI!" sela Sasuke tak sabar seraya mengendikkan kepala ke arah Idate dan Ino datang tadi—dan arah yang sama dengan arah Rufus menyalak keras.

Mengumpat, Naruto segera berbalik arah dan berlari ke sana, disusul Sasuke dan Rufus. Rasanya seperti déjà vu saat mereka melihat pemandangan itu—di tempat yang sedikit tersembunyi di taman, seorang remaja lelaki berambut hitam babak belur dikeroyok beberapa orang. Pertarungan yang tak imbang. Tapi berbeda seperti dulu, Sai masih berdiri, berusaha sebisa mungkin untuk mempertahankan dirinya. Darah segar mengucur dari hidung dan mulutnya.

"HOI!" Naruto meraung, "LEPASKAN DIA!"

Bahkan tak ada yang menyadari kehadiran dua pendatang baru di sana. Salah seorang dari mereka kembali melayangkan pukulan ke arah korban mereka yang sudah goyah. Naruto dan Sasuke terkesiap—tapi Sasuke yang bertindak paling cepat. Dia menyerbu ke depan, melempar dirinya ke depan Sai dan menabraknya minggir, sehingga pukulan pria itu mengenainya alih-alih Sai. Sasuke terjerembab ke belakang dengan bibir berdarah.

"Sasuke!" teriak Naruto terkejut. Keempat cowok yang memukuli Sai juga terlihat sama terkejutnya dengan kedatangan Sasuke.

Satu orang cowok kembali maju, hendak menyambar Sai lagi, tapi Sasuke mendorongnya mundur dan beringsut ke depan Sai dengan tangan terentang seperti tameng di depannya. "Mundur! Tidak ada yang boleh menyakiti temanku!" desisnya penuh ancaman.

"Cih! Bocah tolol!" Satu dua tinju melayang ke arah Sasuke, tapi ia bertahan, mati-matian melindungi Sai yang sudah amat kepayahan di punggungnya.

Melihat tuannya dipukuli, Rufus menggeram marah. Anjing itu menyalak keras sebelum menyerbu ke depan, menggigit lengan seorang dari mereka dengan ganas. Sementara itu, Naruto melakukan hal sinting pertama yang melintas dalam kepalanya; berteriak sekuat tenaga seperti orang gila.

"AAAAARGH! TOLOONG! TOLOONG! SIAPA PUN TOLONG KAMI!"

Rupanya teriakannya menarik perhatian orang-orang di sekitar sana. Mereka mulai berdatangan dan berkerumun di sekitar tempat itu untuk melihat apa yang terjadi. Beberapa orang—terutama para wanita—langsung menjerit setelah melihat pemandangan itu dan menarik perhatian lebih banyak orang lagi. Teman-teman Idate terkejut saat menyadari banyaknya orang yang sudah berkerumun di sana, dan langsung kabur sambil mengumpat-ngumpat saat terdengar suara peluit dari petugas keamanan taman yang baru saja datang. Salakan galak Rufus mengejar keempatnya.

Naruto bergegas menghampiri kedua sahabatnya yang kini sudah roboh di atas rumput. Sasuke beringsut mendekati Sai yang terbaring terengah-engah, meraih bahunya dan mengguncangnya sedikit untuk memastikan ia masih sadar atau tidak. Sai mengangkat sebelah tangannya sebagai respon. Seringai lega tergambar di bibir Sasuke yang bengkak. Begitu juga dengan Naruto.

"Haah… syukurlah.. syukurlah…"

Rufus merengek pelan, menjilati telinga Sasuke untuk menunjukkan kekhawatirannya.

"Aku tidak apa-apa, Ruf…" Sasuke membelai leher anjingnya.

"Ada apa ini? Membuat keributan di tempat umum—" seorang petugas keamanan bertubuh jangkung kurus dengan kumis lebat menyeruak dari kerumunan yang menonton. Tongkat pemukul siap di tangannya—tapi ia terlambat.

"Tidak ada apa-apa, Pak," Naruto buru-buru menjelaskan, "Hanya masalah kecil—er… salah paham. Biasa… anak muda."

Pria itu memandangnya galak, tampak tak yakin. Mata hitamnya yang tajam mengerling Sasuke dan Sai yang berdarah-darah. "Mereka baik-baik saja?"

"Oh, yeah… hanya luka gores… Ha ha ha… Bukan masalah besar." Masih nyengir, Naruto menyambar lengan Sai, membantunya duduk. Sai terbatuk.

"Dia kelihatannya parah," petugas itu mengendik pada Sai, "Perlu kupanggilkan ambulance?"

"Tidak…" Sai merintih pelan, meludahkan darah ke rumput di sebelahnya, "Tidak perlu. Aku masih bisa berdiri…" lanjutnya terengah.

"Dengar sendiri, kan?" ujar Naruto memaksakan cengiran lagi, "Kami bisa mengurusnya."

Pria berkumis itu masih menatap mereka beberapa saat lagi sebelum akhirnya berpaling menghadap kerumunan untuk membubarkan mereka.

"Kalian berdua oke?" Naruto memandang kedua sahabatnya cemas setelah semua orang sudah pergi.

"Aku tidak apa-apa," sahut Sasuke cukup mantap. Meskipun lebam di bibir dan pipinya tampak parah. "Sai, baik-baik saja."

Sai menyapu darah dari hidungnya dengan punggung tangan. Ia mengangguk. "Hanya… sedikit pusing." Tangannya kemudian mencengkeram sisi perutnya, mengernyit menahan sakit.

"Apanya yang tidak apa-apa? Naruto, bantu aku…" Sasuke menarik dirinya bangun, menyambar lengan Sai dan mengalungkannya ke pundaknya. Di sisi lainnya, Naruto memegangi lengan Sai yang satu lagi, melakukan hal yang sama dengan Sasuke.

Bersama-sama, mereka menopang Sai agar bisa berdiri dengan bersandar pada mereka. Tak lama berselang, ketiganya sudah berada di dalam taksi menuju rumah sakit Konoha. Sai dan Sasuke duduk di bangku belakang bersama Rufus, sementara Naruto di bangku depan. Sasuke membiarkan Sai bersandar padanya.

"I-Ino… bagaimana dia?"

"Dia baik-baik saja, jangan khawatir," sahut Naruto cepat.

Sai memejamkan matanya, menghela napas lega. "Syukurlah…"

"Harusnya kau memikirkan keselamatanmu dulu," Sasuke terdengar agak jengkel. Naruto membelalak padanya dari bangku depan. Sai hanya tertawa kecil.

"Terimakasih…" ujarnya kemudian dengan suara tercekat, "Sasuke… Naruto… sepertinya aku berhutang nyawa dua kali pada kalian, eh?"

"Jangan bicara macam-macam. Kau teman kami," kata Sasuke.

"Hn…" Sai tersenyum. Matanya masih terpejam. "Jelas sekali aku berbakat terlibat dalam masalah seperti ini. Tapi kalian selalu muncul untuk menyelamatkan batang leherku. Aku beruntung…"

"Bukankah itu gunanya teman?" kata Naruto, yang diangguki Sasuke.

"Terimakasih…" ucap Sai lagi. "Terimakasih… Maafkan aku…"

Sasuke yang merasa tubuh Sai semakin memberat, mengguncang-guncangnya. "Jangan tidur, Sai! Tetap sadar, kau merepotkan."

"Aa…"

Rufus mengeluarkan suara rintihan pelan, meletakkan kepalanya di pangkuan Sai. Cowok itu tersenyum lagi, mengelus kepala Rufus.

"Anjing baik… terimakasih padamu juga…"


TBC…


Huff… akhirnya selesai juga chapter ini. Rasanya seperti mengulang di chapter tigapuluhan waktu Sai dipukuli geng-nya Inui (OC). Hehehe… Maaf ya, kalo hasilnya jadi gak jelas dan terasa lebay. Chapter ini lebih condong ke hubungan para cowoknya, sementara Sakura hanya nongol di bagian awal. Sasuke juga jadi OOC banget.. =_=

Terus, terus, terus… saya kepingin ngucapin makasiiiih banget buat yang udah baca dan mereview cerita ini. Sumpah gak nyangka chapter kemarin bisa tigapuluh lebih yang masuk ke review page dan menggenapi jadi seribu lebih! Kalian semua awesome sekali…! *terharu* Maaf kalo namanya gak bisa disebutin satu-satu saking banyaknya. Mianhe… Gumawoo… ^___^

Maafkan atas keterlambatan apdetannya—mungkin chapter dengan juga akan begitu—soalnya saya lagi fokus sama hal lain sekarang. Mohon pengertiannya, ya… Tapi saya mencoba sebisa mungkin untuk menulis kalo ada waktu kosong. Dan bagi yang masih saya hutangi review, maaf belum bisa memenuhi dalam waktu dekat…

Oia, quote yang di atas itu saya dapat di note salah satu teman. Tapi saya lupa siapa, udah agak lama soalnya. Hehehe… XD

Akhir kata, terimakasih sudah membaca.