Pekan ujian membuat hampir seluruh siswa mendadak menjadi kutu buku. Sepertinya itu sudah menjadi semacam tradisi di setiap sekolah, bukan? Termasuk para siswa Konoha High. Sakura Haruno di antaranya.
Mata hijaunya tak hentinya terpacang pada lembaran buku catatan di depan hidungnya sejak dari lapangan parkir siswa –Sakura sudah menggunakan sepedanya kembali sejak salju mulai mencair dan jalan sudah tidak terlalu licin lagi. Dengan semangat menggebu-gebu, gadis itu terus mengulang-ulang materi yang sebenarnya sudah dihapalnya di luar kepala. Bibirnya komat-kamit membisikkan berbagai teori dan rumus, seakan sedang membaca mantra.
Namun satu hal yang membedakannya dari anak-anak lain yang dilewatinya saat gadis itu melenggang di koridor sekolah pagi itu. Alih-alih menampakkan wajah tegang, senyum ceria selalu tersungging di bibirnya. Seakan ujian Aljabar yang akan menjadi ujian pertama mereka hari itu –yang juga selalu menjadi yang tersulit di antara semuanya—hanya sebuah kuis main-main yang tak berarti. Bukan berarti ia menyepelekan pelajaran yang satu itu, lho –Hei, yang menjadi gurunya kan pamannya sendiri! Dan Sakura mengerti betul soal-soal kejam macam apa yang bakal dikeluarkan oleh otak sinting Kakashi Hatake. Oh, Sakura sama sekali tidak bisa menyepelekannya.
Hanya saja apa yang sudah menunggunya di ujung minggu ini benar-benar membuatnya kegirangan. Rasanya sudah tidak sabar ingin cepat-cepat menyelesaikan semua ujian yang merepotkan ini dan menghadapi akhir pekan yang erm… mungkin sangat menyenangkan untuknya. Yah, dan jangan lupa soal pementasan yang tinggal di depan mata.
"SEMANGAT!" serunya ceria sembari mengacungkan tinjunya di udara, dan serta merta mengundang kikikan dan tatapan aneh dari anak-anak yang kebetulan ada di koridor itu.
Sadar apa yang baru saja dilakukannya, Sakura merasa pipinya menghangat. Terlebih di sana juga ada beberapa senior kelas tiga dan gurunya. Ya, ampun… Meringis malu, Sakura buru-buru kabur dari sana, bergegas menuju lokernya.
Langkahnya terhenti seketika saat matanya menangkap sosok cowok jangkung berambut hitam di dekat lokernya. Senyumnya seketika memudar saat ia melihat Sasuke Uchiha ada di sana.
Sakura tahu ia tak bisa menyalahkan Sasuke karena berada di sana, karena loker mereka letaknya memang tepat bersebelahan dan cowok itu pun tampaknya tak sedang menunggunya atau apa. Tapi tetap saja, entah mengapa melihatnya membuat Sakura agak kesal.
Sasuke sedang berdiri membelakangi arah datangnya. Cowok itu tampak menunduk dalam lokernya, sibuk dengan entah apa di dalam sana. Dan dia sama sekali tidak mengangkat kepalanya saat Sakura mendekat, seolah sama sekali tidak menyadari kehadiran gadis itu.
Tak ada tegur sapa atau hanya sekedar basa-basi seperti yang kerap dilakukan ketika bertemu teman sementara keduanya berkutat dengan loker masing-masing. Hanya keheningan yang sama sekali tidak nyaman. Dan Sakura perlu usaha lebih kali ini untuk tidak menghiraukan cowok di sebelahnya itu –karena entah sejak kapan, Sasuke terus memandanginya secara terang-terangan, tapi ia sama sekali tidak mengatakan apa pun. Benar-benar bikin canggung.
Merasa tidak nyaman, Sakura akhirnya menoleh. Belum sempat gadis itu mengatakan apa pun untuk membuat Sasuke berhenti membeliak padanya, gadis itu sudah dikejutkan dengan apa yang terlihat di depan matanya. Sakura menahan napasnya. Wajah Sasuke tidak sebersih biasanya. Memar-memar menghiasi sudut bibir dan matanya.
"Mukamu kenapa?" celetuk Sakura refleks, gagal menyembunyikan nada cemas dalam suaranya yang kemudian membuat wajahnya merona. Gadis itu buru-buru memasang tampang dingin. "Berkelahi lagi, eh?"
Sasuke mengabaikannya. "Kau kemarin keluar lagi dengan Neji?"
Sakura mengerutkan kening, matanya balas membeliak. "Kurasa itu bukan urusanmu, kan?"
Bibir Sasuke terkatup rapat, membentuk garis tipis sementara telinganya mulai memerah seakan ia sedang menahan diri untuk tidak meledak. "Kau benar. Bukan urusanku." Sasuke membanting pintu lokernya menutup sebelum berbalik pergi.
Sakura mengerucutkan bibirnya, mencibir ke punggung Sasuke yang kemudian menghilang di belokan. Sepertinya benar kalau Sasuke melihatnya bersama Neji dua hari yang lalu saat mereka melintas di Crimson Drive, pikirnya kesal. Tapi tak perlu sampai memelototiku seperti tadi, kan? Menyebalkan!
Dering bel tanda masuk terdengar di sepanjang koridor mengalihkan perhatian gadis itu. Anak-anak mulai bergerak ke kelas masing-masing untuk menjalani ujian pertama mereka. Sakura buru-buru mengunci lokernya dan bergabung dengan rombongan kelas dua yang akan menuju kelas Aljabar.
Sasuke sudah duduk di bangkunya ketika Sakura masuk –dan seperti biasa gadis itu berpura-pura Sasuke hanya bagian dari pajangan kelas, kemudian duduk di bangkunya sendiri. Sementara bangku-bangku mulai terisi, bangku Sai dan Naruto masih kosong.
Panjang umur, seorang cowok pirang melesat masuk dengan napas satu-satu seperti habis berlari jarak jauh. Mata birunya bergerak liar ke seisi kelas sebelum berseru keras-keras, "Haah… Syukurlah, orang-orangan sawah itu belum masuk!" –orang-orangan sawah?
Kelas yang semula tampak tegang itu langsung dipenuhi tawa dan kikikan dari para siswa. Beberapa gumpalan kertas melayang ke arah Naruto. Hinata Hyuuga, yang duduk di bangku sebelah Sakura juga terkikik dengan wajah malu-malu saat Naruto lewat di sebelahnya.
"Siapa yang orang-orangan sawah?" suara bernada geli yang terdengar dari arah pintu seketika menghentikan tawa anak-anak. "Duduk di tempatmu, Uzumaki," perintah Kakashi Hatake sambil melangkah menuju mejanya. Tangannya membawa setumpuk soal yang membuat seisi kelas menelan ludah. Pria berambut perak itu menatap seisi kelas sebelum berkata sambil tersenyum yang membuat matanya hanya tinggal segaris.
"Ujian kali ini cukup mudah—" ujarnya yang langsung disambut dengan komentar-komentar bernada tidak yakin dari murid-muridnya. Di bangku depan, Sakura memutar bola matanya. Ujian dari Hatake Kakashi mudah? Yang benar saja. "Jadi kuharap tidak ada yang tidak lulus lagi."
Kakashi membagikan kertas-kertas itu di setiap deret bangku, yang kemudian membaginya ke belakang. Dan seperti yang sudah diperkirakan sebelumnya, terdengar tarikan napas tegang dimana-mana. Sakura mengerling Naruto cemas di bangku belakang, bermaksud memberinya dukungan. Namun bangku kosong di sebelah bangku cowok itu menyita perhatiannya. Bangku Sai. Sakura mengernyitkan dahi.
"Baiklah. Kalian sudah bisa mulai!" kata Kakashi, mengalihkan perhatiannya.
Sakura buru-buru berpaling menghadapi kertas soal di atas mejanya. Gadis itu menarik napas panjang, kemudian mulai bekerja. Oke, dimulai dari yang paling mudah…
Dua jam berlalu sejak ujian dimulai. Dering bel tanda ujian pertama sudah berakhir terdengar di seluruh penjuru sekolah. Kelas yang tadinya hening –yang terdengar hanya suara pena yang menggores kertas—mendadak ramai. Ekspresi kusut dan pasrah menghiasi wajah-wajah para siswa ketika mereka mengangsurkan kertas ujian mereka pada teman yang duduk di depan mereka untuk kemudian dikumpulkan di meja paling depan.
"Haah.. sial! Soal macam apa itu?" gerutu seorang cowok yang duduk di belakang Sakura, Zaku. Cowok berambut cokelat itu mengulurkan kertasnya bersama kertas-kertas lain, termasuk kertas dengan nama 'Sasuke Uchiha' di bagian atasnya. "Tapi kau sepertinya santai sekali menjawabnya, eh, Sakura?"
Sakura hanya meringis mendengar komentar itu, sebelum menunduk untuk merapikan kertas-kertas itu di mejanya. Kertas Sasuke diletakkan paling atas. Sejenak mata hijaunya menelusuri deretan angka jawaban yang ditulis dengan tinta hitam di kertas itu sebelum Kakashi menghampiri mejanya untuk mengambilnya. Rupanya Sasuke berhasil menyelesaikan seluruh soal, sama sepertinya.
"Bagaimana ujiannya, Sakura? Mudah, bukan?" tanya Kakashi sambil tersenyum jenaka, menyatukan tumpukan kertas ujian dari deretan meja Sakura dengan kertas ujian yang lain.
"Yeah, soalnya memang mudah. Mencari jawabannya, itu urusan lain, Pak Hatake," jawab Sakura, membalas dengan senyum manis.
Kakashi mengekeh kecil sebelum kembali ke bangkunya. "Kalian sudah boleh istirahat," ia mengumumkan pada seluruh kelas. Sebetulnya ia tak perlu melakukan itu, toh tanpa disuruh pun anak-anak sudah ngeloyor meninggalkan kelas.
Sakura menggunakan kesempatan ini untuk menoleh ke meja belakang. Naruto tampak sedang berbicara dengan Sasuke. Sepertinya sih mereka sedang membicarakan soal ujian barusan jika melihat dari tampang Naruto yang kusut dan caranya mengacak-acak rambut pirangnya dengan frustasi. Sementara Sasuke hanya diam saja dan mendengarkannya seperti biasa seraya menjejalkan alat tulisnya ke dalam tas.
"Yah, setidaknya kali ini aku bisa menyelesaikan separuh lebih soal-soal laknat itu. Kuharap itu cukup untuk mendapat nilai cukup," Sakura mendengar Naruto berkata dengan nada pasrah. "Setelah ini Sejarah. Kurasa aku bakal tidur di tengah ujian. Halo, Sakura!" Naruto melambai ke arahnya ketika menyadari Sakura sedang melihat ke arah mereka. "Ujianmu oke?"
Sakura menjawab dengan anggukan, seraya tersenyum manis. Jempolnya teracung.
"Aku tahu kau bakal oke seperti biasa," komentar Naruto ceria.
Sakura kemudian mengerling Sasuke –yang ternyata sedang membeliak lagi ke arahnya. Senyum langsung lenyap dari wajah gadis itu dan ia buru-buru berpaling sambil menggerutu. Ia cepat-cepat membereskan barang-barangnya sebelum beranjak meninggalkan kelas. Lama-lama berada dalam satu ruangan dengan Sasuke membuat kepalanya sakit.
"Jangan bertampang seperti itu pada Sakura bisa tidak, sih?" tegur Naruto setelah punggung Sakura menghilang di pintu.
"Hn."
Naruto memutar bola matanya. "Pasti ada hubungannya dengan Neji lagi," gumamnya meledek.
Kali ini giliran Naruto yang mendapat pelototan maut dari Sasuke, tapi Naruto terlalu bebal untuk menyadarinya. Ia malah semakin menjadi-jadi menggoda sahabatnya itu, "Aah… Sasuke, Sasuke. Cemburu berlebihan itu tidak baik untuk kesehatan tahu."
"Tutup mulutmu. Aku tidak cemburu," gerutu Sasuke datar, lalu beranjak dan berjalan mendahului Naruto menuju pintu.
"Iya, iya…" Naruto menghela napasnya, mencangklengkan ranselnya di bahu, lalu menatap punggung sahabatnya dengan tatapan simpati. "Aku mengerti, Sasuke," kekehnya. Ia bergegas menyusul Sasuke, melempar lengannya merangkul sahabatnya itu. "Hei, Sasuke, mau membantuku menghafal Sejarah?"
"Aah… Sasuke menyebalkan! Memangnya tidak bisa ya, melihatku senang sedikit?" Sakura mendesis kesal di kamar mandi anak perempuan yang kosong di lantai dua. Langkah kaki gusarnya menggema di dinding marmer ruangan itu. Gadis itu menghampiri wastafel dan membuka kerannya. Tangannya segera meraup air dari keran itu dan membasuhkannya ke wajahnya, membiarkan rasa sejuk dari air itu mendinginkan kepalanya.
Sakura memandang pantulan wajahnya sendiri dalam cermin. Satu kata yang bisa mendeskripsikan bagaimana tampangnya saat itu; kacau. Air menetes-netes dari poninya yang basah dan berantakan. Dan wajahnya yang cemberut itu sama sekali tidak enak dipandang. Sakura mengeluh, menegakkan tubuhnya seraya menyapukan tangan menyisir poninya ke belakang –yang hanya membuat rambutnya semakin berantakan.
"Kalau tampangmu seperti itu, Neji tidak akan suka melihatnya, Sakura," kata suara serak dari arah pintu. Tanpa harus menoleh pun, Sakura bisa melihat bayangan seorang gadis cantik berambut pirang panjang yang dikucir tinggi. Hanya saja saat itu Ino Yamanaka tidak tampak terlalu cantik. Wajahnya yang muram itu terlalu pucat dan mata birunya terlihat merah dan bengkak. Gadis itu bergerak ke wastafel di sebelah Sakura, membuka kerannya. Suara air mengalir kembali memenuhi ruangan. Selain itu, hening.
Sakura kembali menatap bayangannya sendiri, menyibukkan diri dengan merapikan rambutnya yang berantakan, lalu mengeringkan wajahnya yang basah dengan tissue yang selalu dibawanya dalam tas.
"Kau masih marah padaku, Sakura?" tanya Ino kemudian.
"Menurutmu?"
Hela napas berat. "Kau masih marah padaku," ujar Ino pelan. Wajahnya tertunduk. Sisa air yang digunakannya untuk membasuh wajah barusan, menetes-netes dari dagunya, membasahi sweter Kashmir yang dikenakannya. Tapi Ino tampak tak peduli. Tangannya mencengkeram sisi wastafel.
Sakura tidak menanggapinya, hanya menatap dingin pantulan sosok Ino dari dalam cermin. Wajahnya setengah tersembunyi di balik tirai pirang rambutnya sehingga Sakura tak dapat melihat ekspresinya. Jika dalam situasi yang berbeda, bisa saja Sakura akan langsung meraih pundaknya dan bertanya apa yang terjadi. Tapi saat ini, Sakura masih belum bisa melupakan apa yang terjadi beberapa hari yang lalu antara ia dan gadis Yamanaka yang kini berdiri tertunduk di sebelahnya. Sakit hati menghalanginya untuk berempati.
"Maafkan aku, Sakura," Ino kembali bersuara. Masih sepelan sebelumnya.
"Waktu itu kau tidak menyesal," balas Sakura datar. "Kau bilang aku yang menghakimimu, bukan?"
Hening.
"Aku menyesal. Harusnya aku…" jeda sesaat. Ino menelan ludah dengan susah payah sebelum melanjutkan, "…mengatakannya padamu sejak awal."
"Kurasa itu tidak akan mengubah apa pun." Sakura memutar tubuhnya menghadap Ino, menatap gadis di depannya dengan kedua lengan bersedekap di depan dada. "Kau akan tetap keras kepala seperti biasa. Benar, kan?"
Ino terdiam lama, menggigit bibirnya. "Kau benar," ujarnya setelah beberapa lama, "Aku keras kepala, egois, tidak mempertimbangkan situasi yang mungkin bakal terjadi akibat keputusanku yang hanya mementingkan diriku sendiri. Aku mengira aku pasti bisa mengatasinya." Gadis itu mendengus, tertawa miris. Wajahnya terangkat kini sehingga Sakura bisa melihat air mata yang mengalir dari kedua bola mata biru itu, bercampur dengan air keran. "Rupanya aku telah berharap terlalu tinggi, mengira diriku cukup pantas untuk memiliki hati dua pemuda sekaligus. Tapi nyatanya, aku malah mengacaukan segalanya. Jika ada yang pantas disalahkan, itu adalah aku…"
"Apa maksudmu?" Sakura mengerutkan dahinya. Tiba-tiba saja perasaannya menjadi tidak enak. Kekacauan apa yang dimaksudkan Ino? Jangan bilang kalau itu ada hubungannya dengan Idate. Jika kecurigaannya –dan apa yang ditakutkannya atas hubungan Ino dan Sai—memang benar, ini benar-benar buruk. Sangat buruk. Oh, Tuhan… semoga tidak terjadi sesuatu yang parah…
Namun apa yang dilihatnya di hadapannya malah membuat kecurigaannya akan apa yang mungkin telah terjadi tanpa sepengetahuannya semakin menguat. Ino terisak tertahan. "Aku tahu aku sudah tidak punya muka lagi berhadapan denganmu, Sakura, atau Sasuke, atau Naruto, atau Sai –tidak, terutama dia…"
"Ino, jangan bilang kalau…"
"Kalian pasti membenciku karena ini…"
"Ino, bicara yang jelas! Aku tidak mengerti!" tukas Sakura tak sabar.
Ino mengatupkan sebelah tangannya di depan mulut untuk meredam isaknya. Gadis itu memejamkan matanya sejenak, menarik napas panjang seolah sedang menenangkan dirinya. Dan saat berikutnya, apa yang Sakura takutkan tertutur dari bibir Ino. Dengan suara serak, dan di antara isakan yang sekuat tenaga ditahan, Ino menceritakan apa yang telah terjadi hari sebelumnya antara Ia, Sai dan Idate.
Ujian berikutnya tak semudah yang diperkirakan Sakura sebelumnya. Bukannya soal-soal yang diberikan Pak Raidou Namiashi sangat sulit sehingga ia tidak bisa mengerjakannya atau apa, melainkan konsentrasinya yang terus saja terpecah oleh hal-hal lain alih-alih pada materi ujian yang telah dipelajarinya. Pikirannya kerap kali melayang pada salah satu sahabatnya yang barangkali sekarang ini tengah terbaring lemah di tempat lain –mungkin di rumah sakit seperti berbulan-bulan yang lalu saat ia berurusan dengan Inui dan gerombolannya. Bagaimanapun Sai adalah sahabatnya dan Sakura tak bisa tak merasa cemas setelah mendengar dari Ino apa yang terjadi padanya hari sebelumnya.
Ino juga memberitahunya Naruto dan Sasuke juga ada di sana saat semua itu terjadi, tapi Sakura tidak sempat bertanya tentang kondisi Sai pada mereka –atau hanya pada Naruto, mengingat ia sedang tidak berbicara dengan Sasuke. Butuh waktu lama sampai Ino bisa menenangkan dirinya setelah bercerita tadi, dan bel telah berbunyi saat keduanya meninggalkan kamar mandi.
Maka Sakura tidak menyia-nyiakan kesempatan setelah bel tanda ujian hari itu akhirnya berakhir dan mereka sudah mengumpulkan kertas soal di meja depan, gadis itu segera menarik Naruto ke sudut.
"Kenapa kau tidak memberitahuku kalian berkelahi lagi kemarin?" tuntutnya setelah melepaskan lengan Naruto.
Cowok itu mengerjap, terkejut tiba-tiba ditodong dengan pertanyaan seperti itu. Semula mereka –ia dan Sasuke—atas permintaan Sai yang tak ingin membuat Sakura cemas dan menyalahkan Ino, berniat menutupi apa yang telah terjadi dari gadis itu. Ia sama sekali tidak menyangka niat mereka malah terpatahkan dalam satu hari saja, meskipun sebenarnya absennya Sai hari itu sudah cukup menimbulkan kecurigaan.
"Siapa yang memberitahumu?" Naruto malah balik bertanya.
"Ino," jawab Sakura cepat. "Tapi itu tidak penting, Naruto. Kenapa kau tidak memberitahuku, sih?"
"Yah…" Naruto menggaruk belakang kepala pirangnya dengan sikap gugup, "Sai yang meminta kami. Dia tidak ingin membuatmu cemas."
"Oh, yeah, sekarang aku sangat cemas," kata Sakura sinis, "Aku sangat cemas sampai-sampai membuatku hampir gila! Kenapa sih, kalian selalu saja berkilah tidak ingin membuatku cemas dengan menutup-nutupi segalanya dariku? Aku merasa tidak dianggap! Kupikir kita bersahabat!"
"Tentu saja kita bersahabat," dengking Naruto terkejut –lebih terkejut lagi saat melihat sepasang mata hijau di depannya itu mendadak berkaca. Tiba-tiba saja perasaan bersalah melintas dalam hatinya. Memang benar mereka kerap menyembunyikan hal-hal buruk dari Sakura, hanya untuk menjaga perasaan gadis itu –karena mereka semua menyayanginya—tapi ia sama sekali tidak menyangka apa yang mereka lakukan justru membuat Sakura merasa tidak dianggap. "Maafkan aku –maksudku, maafkan kami, Sakura."
"Oh, sudahlah!" Sakura mengusap matanya dengan kasar dengan ujung sweternya.
Tak jauh dari sana, Sasuke terus mengawasi mereka. Cowok itu terhenyak saat melihat air mata Sakura. Sekuat tenaga ia menahan dirinya untuk tidak melangkahkan kaki untuk menghampiri kedua sahabatnya. Sakura masih marah padaku, Sasuke mengingatkan dirinya dengan perasaan miris. Dia tidak akan suka kalau aku berada dekat-dekat dengannya. Dengan pikiran seperti itu, cowok itu melangkah meninggalkan kelas yang hampir kosong itu.
"Sekarang bagaimana keadaan Sai?" Sakura bertanya lagi, "Apa dia baik-baik saja? Dia tidak parah, kan?"
"Dia baik-baik saja, tidak ada yang gawat –maksudku, tidak sampai separah dulu," jawab Naruto seraya tersenyum menenangkan. Tangannya menepuk pundak Sakura lembut. "Jangan khawatir. Sekarang Sai sedang istirahat di rumahnya. Barangkali besok dia sudah mulai bisa ikut ujian."
Mendengar ini, ekspresi Sakura sedikit melunak, meskipun gadis itu masih terlihat khawatir. "Syukurlah kalau begitu…"
"Kukira kau masih marah padanya."
Hela napas. "Aku marah karena aku khawatir."
Tatapan Naruto melembut. Sama seperti Sasuke…
"Hei, Naruto…"
"Hm?"
"Luka di wajah Sasuke itu… apa karena perkelahian kemarin juga?"
Nyengir. "Kenapa? Kau mencemaskannya juga?"
Rona merah. "Humph!"
Sasuke tak tahu apa yang membawanya ke tempat itu, tiba-tiba saja ia sudah berdiri di depan pagar megah salah satu rumah besar di Root Hills. Ia tahu seharusnya ia tetap di rumah dan belajar mengingat masih ada ujian untuk beberapa hari ke depan, namun kali ini ia merasa tidak ingin sendirian. Naruto juga baru saja memberitahunya ia akan menemani Sakura hari ini –"Kau tahu kan, memintanya mengajariku. Kurasa itu akan sedikit mengalihkan perhatiannya dari keruwetan ini. Jangan cemburu padaku, ya. He he he…"
Bocah sialan, sungut Sasuke dalam hati. Ia kembali menghela napasnya. Lagipula ia memang ingin menjenguk Sai. Setelah beberapa lama hubungan mereka sangat buruk, mungkin sedikit mengobrol berdua saja bisa menggantikan saat yang sudah tersia-sia dengan saling mendiamkan di antara mereka. Tidak ada salahnya, bukan?
Seorang wanita muda berseragam pelayan mengantarnya ke bagian samping rumah besar itu ketika Sasuke mengatakan ia ingin bertemu Sai. Dan di sanalah Sasuke melihatnya, duduk di belakang meja kaca di beranda yang menghadap ke taman. Buku-buku yang terbuka terhampar di atasnya, bersama secangkir teh yang masih mengepulkan uap hangat. Sai mengenakan mantel di atas kaus kutung yang menggantung longgar di tubuhnya yang kurus. Sisa lebam di beberapa bagian wajahnya masih terlihat jelas. Meski begitu, tak menghalanginya untuk memberikan senyum pada tamunya yang baru datang.
"Sasuke, ini kejutan," ujarnya.
"Hn." Sasuke melangkah mendekat sementara pandangan Sai mengikutinya. Tampaknya cowok yang sekilas mirip dengannya itu masih setengah tak percaya dengan kedatangannya. Sasuke menarik kursi kosong, kemudian tanpa menunggu dipersilahkan terlebih dahulu, ia pun duduk. "Bagaimana kabarmu?"
Sai mengerjap. "Oh, aku baik. Terimakasih," sahutnya, kembali tersenyum. "Bagaimana denganmu?"
"Ini hanya luka kecil," ujar Sasuke datar, "Aku pernah mengalami yang lebih parah."
"Sama denganku." Sai terkekeh kecil. "Sepertinya orang-orang di sekitarku punya hobi menjadikanku sebagai samsak tinju mereka, eh?" Namun Sasuke tampaknya sama sekali tidak menganggapnya lucu, maka Sai segera menghentikan kekehannya. "Naruto tidak kemari?"
Tepat saat itu, seorang pelayan datang membawakan minuman dan kudapan untuk tamu tuan muda mereka. Sasuke mengambil waktu sampai pelayan itu pergi sebelum menjawab Sai, "Dia sedang bersama Sakura sekarang."
"Oh…" Sai meletakkan pena yang sedari tadi masih dipegangnya dan mengambil cangkirnya, menghirup cairan hangat berwarna cokelat keemasan dari dalamnya perlahan-lahan, sedikit mengernyit saat bibir cangkir menyenggol luka di sudut mulutnya. "Dia… um… sudah tahu?"
Sasuke mengangkat bahunya sebelum ikut menghirup minumannya. "Kurasa begitu. Kupikir dari awal memang tak ada gunanya menyembunyikannya darinya."
Sai menghela napas, meletakkan cangkirnya kembali. "Kau benar." Ia kembali terdiam, tampak agak ragu saat memandang Sasuke. "Ino…?"
"Aku tidak bertemu dengannya," sela Sasuke.
"Oh…" Diam lagi. Sai memalingkan pandangannya dari Sasuke dan menatap kosong ke arah taman. "Dia tidak menjawab teleponku."
"Turut berduka cita," komentar Sasuke datar, namun sepertinya Sai tidak benar-benar mendengarkannya.
Seulas senyum hampa muncul di wajah pucat Sai saat ia menatap sepetak semak mawar yang sudah mulai berkuncup. "Sebentar lagi musim semi, mawar putih milik kakakku akan segera mekar. Aku ingin memetiknya satu untuk Ino. Menurutmu, apa dia akan menyukainya?"
Sasuke tidak tahu apakah harus merasa jengkel dan kasihan pada temannya yang satu ini. Akhirnya ia hanya menghela napas keras dan menepuk pundak Sai agak kasar untuk mengalihkan perhatiannya. "Hentikan itu atau kau akan mendapat tambahan memar di mukamu lagi, bocah sial. Untuk sekarang, pikirkan saja tentang ujian kalau kau tak ingin transkrip nilaimu terbakar."
Kerutan samar muncul di antara alis Sai. "Apa ujiannya separah itu?"
"Kau tahu Kakashi." Sasuke menarik salah satu buku dari atas meja. Science.
"Apa kau bisa memberitahuku bocoran soal yang tadi?"
Sasuke kembali menatap Sai, agak kaget. Barangkali tidak menyangka orang sekalem Sai bisa memikirkan cara curang seperti itu. "Tidak," sahutnya tegas.
"Sudah kuduga." Sai menyeringai tipis. "Kau sangat mengingatkanku pada Sakura kadang-kadang, Sasuke."
Telinga Sasuke memerah. "Tutup mulutmu dan belajar saja!"
Senyum. "Terimakasih sudah datang, omong-omong."
"Hn."
Sai datang ke sekolah keesokan harinya seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Ia sama sekali tidak memedulikan tatapan aneh anak-anak melihat tampangnya yang belum sepenuhnya bersih dari jejak perkelahian yang terjadi dua hari yang lalu. Yang ia pikirkan saat itu hanyalah bisa bertemu lagi dengan Ino –ah, dan ujian, tentu saja. Namun sayangnya, ia tidak menemukan Ino sepagian itu. Bahkan ketika ia sengaja menungguinya di depan loker gadis itu.
Tak jauh dari tempatnya berdiri, tepatnya di belokan menuju koridor yang lain, seorang gadis berambut pirang panjang tengah menarik lengan temannya yang berambut merah muda bersembunyi di toilet terdekat. Wajahnya pucat dan terlihat agak panik.
"Ada apa?" tanya Sakura kebingungan karena tiba-tiba saja Ino menariknya ke toilet. "Kau kebelet?"
Ino menggeleng, lalu menjulurkan leher untuk melihat ke arah koridor loker yang ramai. Tampangnya gelisah. "Sai ada di sana," beritahunya.
"Huh?" Sakura turut mengintip dan benar saja. Ia melihat cowok berpostur jangkung kurus itu sedang bersandar di pintu loker Ino, tampak sedang menunggu sang pemilik loker.
Ino kembali menarik Sakura sebelum Sai sempat menoleh ke arah mereka. "Bagaimana ini, Sakura?" tanyanya panik. Ia menggigit bibirnya. "Aku tidak siap bertemu dengannya sekarang."
"Tapi kau harus bicara dengannya, Ino!"
"Aku tahu!" pekik Ino. "Tapi tidak sekarang. Please… please, Sakura. Bantu aku…"
Dahi Sakura berkerut. Lengannya yang tidak sedang memeluk buku diletakkan di pinggul. "Kau mau kabur begitu saja?"
Saat itu, Ino hanya membalas dengan tatapan memohon pada sahabatnya.
Sai menolehkan kepalanya saat seorang gadis pemilik mata hijau cemerlang yang sudah dikenalnya mendekat ke tempatnya berdiri di depan loker Ino. Sai tersenyum ragu yang segera dibalas Sakura dengan lambaian tangan dan senyum manis, seolah tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka.
"Pagi, Sai," Sakura menegurnya.
"Selamat pagi," cowok itu membalas sedikit canggung.
Sakura berhenti tepat di depannya. Matanya sekilas menelusuri bekas luka di sudut bibir Sai, lalu ke perban yang menutupi luka di atas alisnya. "Bagaimana keadaanmu? Sudah baikan? Aku sudah dengan dari Naruto apa yang terjadi denganmu hari Minggu yang lalu."
"Seperti yang kau lihat, aku sepenuhnya sehat," sahut Sai.
Sakura mengangguk, seraya kembali menyunggingkan senyum hingga matanya hanya tinggal segaris. "Baguslah."
Sejenak Sai hanya bisa tercenung melihat sikap Sakura yang begitu hangat, sangat kontras dengan sikapnya sebelum ini. Dan perasaan bersalah karena kata-kata kasarnya pada gadis itu yang diucapkannya beberapa hari yang lalu tiba-tiba saja menyusup. "Kau… sudah memaafkanku?" ia bertanya ragu.
Sakura mengangkat alisnya, berpura-pura bingung. "Kau ini bicara apa? Kau temanku, tentu saja aku memaafkanmu."
"Tapi aku belum minta maaf."
"Sudahlah. Lupakan saja," kata Sakura, mengibaskan tangannya. "Kita ke kelas, yuk. Aku ingin mengobrol denganmu. Rasanya sudah lama…" Dengan cepat Sakura mengamit lengan cowok itu dan setengah menyeretnya menjauh dari loker Ino.
"E—Eh, tapi…" Sai gelagapan, tapi tak kuasa menolak ajakan gadis itu. Di satu sisi, ia lega karena Sakura sudah memaafkannya dan melewatkan waktu sebelum ujian dengannya terdengar menyenangkan. Hanya saja saat itu, ada orang lain yang sangat ingin ditemuinya.
"Ayolah…" desak Sakura ceria, menggandeng tangan Sai lebih erat.
"O—Oke," ujarnya akhirnya. Dengan pandangan terakhir ke arah loker Ino, Sai kemudian mengikuti desakan tangan Sakura.
Tak lama setelah mereka menghilang di koridor kelas ujian pertama mereka hari itu, Ino keluar dari tempat persembunyiaannya. Matanya memandang sedih ke tempat beberapa saat yang lalu punggung Sai baru saja menghilang.
Maafkan aku, Sai…
Beberapa hari berlalu sejak itu dan Sai belum sekali pun mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan Ino. Bukannya ia tidak berusaha mencarinya, hanya saja selalu ada saja yang menghalanginya. Sudah beberapa kali ia nyaris mendapatkan kesempatan itu, tapi selalu gagal –atau tepatnya digagalkan. Entah itu karena mendadak Sasuke mendesaknya membantunya dengan urusan persiapan festival sekolah minggu depan, atau Naruto yang tiba-tiba menyeretnya ke kantin dengan alasan ia sudah hampir mati karena hipoglikemi, atau Sakura yang memaksanya berdiskusi tentang soal-soal ujian yang baru mereka kerjakan.
Sampai akhirnya Sai terpaksa menarik kesimpulan bahwa ketiga sahabatnya sedang bersekongkol mencegahnya bertemu Ino. Mengherankan sekali bagaimana bisa mereka –terutama Sasuke dan Sakura—melakukan itu, mengingat mereka sedang saling mendiamkan. Entah bagaimana cara mereka mengatur strategi tanpa komunikasi verbal.
Tidak hanya itu sebetulnya. Sai juga merasa Ino sedang menghindarinya. Sekali saat ia berhasil melepaskan diri dari cengkeraman ketiga sahabatnya dan berniat menemui Ino di pintu utama saat bubar ujian, tapi gadis itu malah kabur darinya dan berlari ke arah Idate yang sudah menunggunya di gerbang dengan motor besarnya.
Menyesakkan, tentu saja, saat melihat gadisnya ternyata lebih memilih Idate yang dengan tampang penuh kemenangan melempar senyum mengejek ke arahnya sebelum mereka pergi. Bahkan Ino tidak sekali pun menoleh padanya.
Pada akhirnya, ia hanya bisa memandang nanar punggung Ino yang semakin menjauh. Jauh, rasanya seperti tak akan pernah terjangkau lagi.
"Apa kau tidak merasa bersikap terlalu kejam pada Sai?" Sakura memandang Ino dari atas buku yang sedang dibacanya. Saat itu adalah malam sebelum ujian hari terakhir dan mereka sedang belajar bersama di kamar Sakura.
"Kenapa?" Ino menanggapi datar tanpa mengangkat wajahnya dari buku yang tengah dibacanya, kendati pun matanya sama sekali tak bergerak. "Bukankah lebih bagus kalau dia menganggapku segitu –gadis brengsek yang meninggalkannya begitu saja setelah apa yang terjadi?"
"Ino!" tukas Sakura tidak suka, kemudian menghela napas berat, "Aku hanya tidak tega padanya. Kelihatannya dia sangat ingin menemuimu. Harusnya kau lihat tampangnya saat dia melihatmu pergi dengan Idate."
"Kau ini aneh, Sakura," komentar Ino muram, masih tidak memandang Sakura. "Bukannya kau juga ingin aku berpisah dengan Sai? Kenapa sekarang kau malah protes kalau aku menjauhinya?"
Sakura meletakkan bukunya ke meja rendah di antara mereka, menghela napas. "Bukan begitu. Kau tahu kan, baginya, kau adalah gadis pertama yang berarti lebih dari sekedar teman—"
"Aku mengerti, Sakura," sela Ino pelan, seraya membalik halaman bukunya tanpa minat, "Tidak perlu membuat rasa bersalahku semakin menjadi dengan mengingatkanku bagaimana aku sudah menghancurkan hatinya." Hela napas berat. "Seharusnya sejak awal aku tidak pernah terlibat dengannya," lanjutnya dengan suara tercekat. Tiba-tiba saja air matanya sudah merebak tanpa bisa ia tahan. Ino menutupi wajah dengan kedua tangannya, terisak.
"Ino…" Sakura beranjak dari duduknya, mengitari meja rendah itu, lalu merengkuh bahu sahabatnya yang bergetar hebat dalam sedu sedan, memeluknya erat-erat dan membiarkannya menumpahkan kepedihannya di bahunya. Sakura mengusap-usap lembut rambut panjang Ino yang tergerai lepas dari kucirannya, berusaha menenangkannya. Menyesakkan rasanya melihat gadis yang biasanya begitu ceria dan penuh energi seperti Ino tiba-tiba saja menjadi begitu suram seperti ini. "Kau… sangat menyukai Sai, ya?"
Tubuh Ino sedikit menegang. "Aku menyukainya," bisiknya parau di bahu Sakura. "Sangat menyukainya, sampai rasanya menyakitkan."
Tak tahu harus berkata apa untuk menanggapinya, Sakura semakin mengeratkan pelukannya. Entah bagaimana caranya ia seperti bisa merasakan kepedihan hati sahabatnya itu. Ino tak pernah menangis begitu hebat hanya karena cowok sebelumnya. Bahkan menghilangnya Shin tanpa kabar –yang kemudian mereka ketahui cinta pertama Ino itu meninggal karena sakit—tak sampai membuatnya begitu kacau seperti ini. Tampaknya memang perasaannya terhadap Sai lebih mendalam dari yang Sakura duga sebelumnya. Jika saja takdir mempertemukan mereka dalam situasi yang benar-benar tepat.
Jika saja…
Tiba-tiba saja Ino melepaskan pelukannya. Ia menyeka air mata yang membanjir di wajahnya dengan lengan sweternya, lalu menatap Sakura dengan matanya yang bengkak. Digenggamnya kedua tangan sahabatnya itu erat-erat. "Kau mau membantuku kan, Sakura?"
"Kau pikir apa yang sedang kucoba lakukan untukmu selama ini, Ino?" Sakura berkata lembut, yang kemudian dibalas Ino dengan senyum lemah. "Tentu saja aku akan membantumu."
Suara bel yang menggema di penjuru sekolah siang itu menandai berakhirnya hari-hari menyiksa selama seminggu penuh ujian semester. Suara sorak-sorai penuh kelegaan meledak dari setiap kelas, sebelum disusul oleh membanjirnya para siswa di koridor. Wajah-wajah mereka sudah terlihat jauh lebih santai dibandingkan seminggu yang lalu dan diskusi-diskusi tentang pelajaran sudah tak terdengar lagi, digantikan obrolan penuh semangat tentang festival sekolah yang akan diselenggarakan minggu depan.
"Haah! Akhirnya ujian sialan ini berakhir juga!" seru Kiba penuh kelegaan setelah Genma Shiranui, guru pengawas terakhir mereka meninggalkan kelas. "Yes! Sekarang aku bisa pulang dan main dengan Akamaru!"
"T-Tapi, Kiba, kita belum mengambil spanduk untuk festival. Ingat?" Hinata yang duduk di depannya, menoleh, mengingatkannya.
"Gaah! Hinata! Kau menghancurkan hariku!" keluh Kiba lemas, berlagak terpuruk di atas mejanya.
Hinata hanya tersenyum geli, seraya memasukkan semua barang-barangnya ke dalam tas. "Dan jangan lupa k-kita juga diminta membantu mendekorasi sekolah hari Senin nanti."
Kiba mengangkat kepalanya dengan cepat. Ekspresinya tidak puas. "Geez… Jadi kita cuma diberi kesempatan beristirahat satu hari saja? Kau pasti sedang bergurau."
Gadis pemilik mata lavender itu mengabaikannya dan menoleh pada Sakura yang duduk di bangku sebelahnya, juga sedang membereskan barang-barangnya. "Sakura?"
"Ya?" Refleks Sakura menoleh saat mendengar namanya dipanggil.
"Kostum untuk drama sudah diantar hari ini," Hinata memberitahunya. "Kukira mereka pasti sudah membawanya ke ruang klub teater. Kau sudah lihat?"
"Benarkah?" Sakur menanggapi antusias. Pantas saja tadi anak-anak perempuan yang kebagian peran sebagai figuran sudah kabur lebih dulu dari kelas setelah bel bunyi. Pasti mereka penasaran dengan kostum yang akan mereka pakai saat pementasan.
Hinata mengangguk seraya mengulas senyum.
"Wah, anak-anak pasti ramai," Sakura berkomentar, tertawa kecil.
"Kalau begitu aku duluan, Sakura." Dengan anggukan terakhir, Hinata beranjak dari bangkunya menuju pintu kelas. Kiba mengikuti di belakangnya sambil bersungut-sungut soal tak bisa mengajak anjing kesayangannya jalan-jalan sore.
Tepat ketika kedua anak jurnal itu menghilang di pintu, kepala berambut cokelat dikucir mengintip dari pintu. Hokuto.
"Sakura! Sudah lihat kostummu belum?" tanyanya antusias, "Sudah ada di ruang teater tuh. Anak-anak sedang mencobanya!"
Sakura nyengir ke arahnya. "Kau duluan saja. Nanti aku menyusul."
"Oke!" Dan Hokuto pun segera melesat pergi.
Sakura menghela napasnya panjang, sebelum beranjak ke deretan bangku paling belakang, tempat Naruto duduk. Cowok itu masih ada di sana, duduk di belakang mejanya seraya memandang ke arah jendela seakan sedang mengawasi sesuatu di luar sana. Sebelumnya Sakura memang telah memberinya isyarat ia ingin bicara dengannya. Jika tidak, Naruto pastilah sudah pergi bersama Sasuke dan Sai mengurusi persiapan festival sekolah.
"Kau sedang melihat apa?" tanyanya penasaran, ikut melongok ke jendela.
"Si Morino itu, sepertinya setiap hari datang kemari," gumam Naruto saat Sakura mendekat.
"Yeah, Ino juga bilang begitu," Sakura mengangguk. Di luar, Ino terlihat sedang berlari-lari kecil menuju gerbang utama, di mana Idate menungguinya di atas motornya seperti seperti yang sudah dilakukannya sepanjang minggu ini. "Jelas sekali dia ingin memastikan Ino tidak keluar dengan cowok lain."
Naruto menghela napas, lalu menoleh memandang Sakura. "Jadi, apa rencana Ino?"
Sakura mengambil waktu untuk menarik kursi kosong –yang tadinya kursinya—dan duduk di sana sebelum menjawab, "Besok pagi, di restoranku. Ino bilang dia hanya bisa bertemu Sai di waktu itu. Idate akan mengajaknya keluar setelahnya. Jangan sampai cowok itu tahu Ino menemui Sai."
"Baiklah…" Naruto mengangguk mengerti. "Jujur saja aku tidak terlalu suka rencana ini –kalau yang kupikirkan memang benar."
"Aku juga," Sakura mengakui dengan muram. "Tapi kalau terus dibiarkan, Sai akan semakin terluka."
"Kau benar." Naruto menyisir rambut pirangnya dengan jari, membuatnya semakin berantakan. "Huff… Melihatnya murung seminggu ini saja sudah cukup buruk. Ya ampun… untuk pengalaman pacaran yang pertama, ini benar-benar sangat mengerikan."
"Hmm…" Sakura mengangguk setuju.
Keduanya terdiam beberapa saat sebelum Sakura memecah keheningan, "Apa kau akan mengajak Sasuke?"
Naruto kembali mengalihkan pandangannya dari jendela dan memandang Sakura dengan heran. "Tentu saja aku akan mengajaknya. Dia juga mencemaskan Sai, sama seperti kita."
Sakura menggigit bibirnya. Ia tidak begitu menyukainya, tapi tak bisa mengeluh. Bagaimana pun Sasuke dan Sai berteman baik, tidak mungkin jika tidak melibatkan Sasuke juga dalam hal ini.
"Sakura?" panggil Naruto tiba-tiba.
"Apa?"
"Bisa tidak, kau berbaikan dengan Sasuke? Rasanya canggung sekali berada di antara kalian berdua akhir-akhir ini."
Mendengar pertanyaan Naruto, Sakura hanya menanggapinya dengan senyum masam. Gadis itu kemudian beranjak dari duduknya. "Aku mau ke ruang teater sekarang, Naruto. Sampai ketemu besok," –dan ia pun pergi, meninggalkan Naruto yang kecewa dalam kelas yang sudah kosong itu.
Sakura berdiri tercengang saat ia baru saja membuka pintu ruangan teater. Ruangan itu penuh sesak dengan gadis-gadis bergaun Eropa klasik, membuat Sakura merasa ia terlempar kembali ke abad pertengahan. Tepatnya pasar abad pertengahan saking bisingnya ruangan itu.
"Sakura!" suara seseorang dari dalam menyadarkannya. Sakura melihat Hokuto melambai dari dalam ruangan. Ia masih mengenakan pakaiannya yang biasa. Sebuah gaun pelayan sederhana bermodel jaman dulu berwarna biru tua tersampir di lengannya.
Sakura kemudian melangkah masuk untuk menghampiri Hokuto, berhati-hati agar tidak menginjak gaun seseorang saat ia lewat. Mereka semua terlihat cantik dan klasik dalam balutan kostum-kostum itu, membuat Sakura tak bisa menahan diri untuk tak tersenyum melihat mereka. Sebelum ia berhasil mencapai Hokuto yang memang berada di ujung ruangan, gadis berambut merah menyala menahan lengannya.
"Hei, bagaimana, Sakura?" Karin memutar tubuhnya. "Menurutmu aku cocok tidak pakai ini? Terlihat seperti gadis bangsawan tidak?" Ia menyibak rambut merahnya ke belakang pundaknya yang terbuka.
"Hmm…" Dengan tangan diletakkan di dagu, Sakura mengamati penampilan temannya itu, berpura-pura sedang mempertimbangkan penilaiannya. "Lumayan."
"Che! Masa hanya lumayan?" Karin memprotes.
Sakura terkekeh. "Iya deh... Cantik, kok!" ujarnya seraya mengacungkan dua ibu jarinya.
Gadis berkacamata itu nyengir lebar. "Heu.. aku tahu aku bakal lebih cantik dari Violetta."
"Iya, iya…"
Sakura tertawa, menepuk pundak Karin sebelum kemudian melewatinya dan berjalan menuju Hokuto. Di dekatnya, Tenten dan Yakumo sedang membantu teman-teman mereka mencoba kostum-kostum itu. Tak sengaja ia bersitatap dengan Yakumo. Sakura buru-buru berpaling menghindari tatapan mantan kekasih Neji itu. Melihatnya menatapnya seperti itu membuat perasaannya tidak enak. Namun ia masih merasakan tatapan gadis itu mengikutinya sampai ia tiba di tempat Hokuto.
"Sudah coba kostummu?" Hokuto bertanya ceria seraya menunjuk ke tumpukan kostum yang masih dibungkus rapi dengan plastik.
"Uh… Sudah, waktu itu di tempat Hinata," sahut Sakura pelan.
"Kau kenapa, sih?" Hokuto memandangnya heran.
Sakura menggeser posisi berdirinya sehingga membelakangi Yakumo. Ia menarik lengan Hokuto yang keheranan ke dekatnya. "Apa Yakumo masih menatapku?" tanyanya dalam bisikan pelan.
"Huh?" Hokuto menoleh dari atas bahu Sakura. "Tidak tuh."
Sakura ikut menoleh ke arah Yakumo dan benar saja, gadis berambut panjang itu memang sedang tidak melihat ke arahnya lagi, melainkan sedang berbincang dengan Tenten dengan suara rendah. Tenten terkekeh-kekeh mendengarkan sahabatnya itu.
"Kau ini sejak dekat dengan Neji jadi paranoid," komentar Hokuto.
"Aku tidak paranoid!" Sakura membantah.
"Hanya gelisah setiap kali ada Yakumo, seakan cewek itu akan menerkammu sewaktu-waktu."
Sakura tidak membantah komentar yang terakhir ini. Dengan sikap canggung ia menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga dan memandang berkeliling, mencoba membuat dirinya santai. Namun gagal. Hokuto benar, berada satu ruangan dengan Yakumo membuatnya gugup.
"Gaunmu sangat bagus," kata Hokuto kemudian seraya memandang kagum gaun-gaun Violetta di gantungan, menelusuri lapisan plastik dengan jemarinya. "Aku jadi tidak sabar ingin melihatmu memakai ini. Pasti sangat cantik."
"Hinata yang membuatnya sendiri," kata Sakura. "Keren, ya?"
"Oh, omong-omong tentang Hinata, tadi Neji mencarimu."
Informasi dari Hokuto itu membuat Sakura terkejut sekaligus senang –sekaligus bertambah gugup juga, karena entah bagaimana ia tahu Yakumo juga mendengarnya. "Benarkah?"
"Hmm…" Hokuto mengangguk sembari meletakkan gaun pelayannya dengan hati-hati di sandaran kursi terdekat. "Mungkin dia sedang ada di ruang penyimpanan properti. Anak-anak cowok sedang mencoba kostum mereka di sana. Mungkin sebaiknya kau ke sana saja."
"Er… Kupikir juga begitu. Trims, ya…" Sakura menepuk lengan Hokuto sebelum beranjak meninggalkan ruangan itu. Sekali lagi ia merasakan tatapan Yakumo terpacang padanya, membuat bulu kuduknya meremang. Tapi Sakura mencoba mengabaikannya dan mempercepat langkahnya. Ia menghembuskan napas lega setelah menutup pintu di belakangnya.
Koridor di depan ruangan teater itu sepi. Yang terdengar hanyalah suara-suara dari balik pintu. Dan hanya ada dua pintu di sana –satunya, tentu saja adalah pintu ruang teater, sedangkan pintu lain terletak di ujung koridor. Ruangan itu adalah tempat penyimpanan properti yang biasa mereka gunakan untuk kegiatan klub, termasuk kostum dan properti panggung. Tapi kadang-kadang bisa berubah fungsi menjadi ruang ganti dadakan, seperti sekarang.
Sakura bisa mendengar suara-suara cowok dari dalamnya. Suara tawa, orang berteriak –keributan yang biasa terjadi jika ada yang sedang memaksa memakaikan kostum. Cowok…
Sakura memberanikan diri melangkah mendekat, dan suara-suara itu kian terdengar keras. Dan gadis itu langsung mengenali suara Neji di antara beberapa suara yang terdengar dari dalam. Sebelum Sakura sempat mengetuk, pintu itu mendadak ditarik membuka dan seorang cowok berambut cokelat panjang berbalut kostum jas buntut model abad pertengahan didorong keluar, nyaris saja menabraknya.
"N-Neji?" Sakura terbelalak.
"Sakura?" Neji tak kalah terkejut.
"Ah, panjang umur!" seru suara cowok dari dalam ruangan. Motoki Furuhata berdiri santai di ambang pintu, memakai kaus dalaman putih pas badan. Cowok itu nyengir lebar. "Kami baru saja mau memperlihatkan cowok ganteng ini padamu," ia menunjuk Neji yang tampak agak sebal, "Ah, coba kau memakai kostummu juga, Sakura. Pasti sangat serasi dengan Neji."
Sakura merasakan wajahnya menghangat. Ia hanya meringis saat Neji berkata padanya, "Jangan hiraukan dia."
Motoki terkekeh. "Yeah, tentu saja kau hanya boleh menghiraukan Alfredo Germont ini. Benar kan, Mademoiselle Valery?" –terdengar suara tawa menggoda dari teman-teman cowok Neji yang lain di belakang Motoki.
"Motoki, hentikan." Neji menghela napas dengan tak sabar. Sakura menahan napasnya dengan terkejut ketika tiba-tiba saja cowok itu menarik tangannya. "Kita bicara di tempat lain," kata Neji. Sakura hanya menurut.
Suara langkah kaki mereka menggema di koridor yang sepi itu –tidak, tepatnya suara sol boots yang dikenakan Neji saat beradu dengan lantai yang terdengar, sedangkan sepatu kanvas Sakura nyaris tak menimbulkan suara apa pun—sebelum kemudian mereka berhenti di belokan koridor menuju pintu samping yang mengarah ke gymnasium sekolah.
"Maaf soal yang tadi," kata Neji memulai setelah melepaskan tangan Sakura. "Kadang-kadang mereka memang keterlaluan."
"Tidak apa-apa," Sakura tersenyum.
Neji membalas senyumnya dengan seringai tipis khasnya. "Bagaimana ujianmu?"
"Lumayan juga. Kau?"
"Tidak buruk," Neji mengangkat bahu. Seringainya memudar. Cowok itu terdiam beberapa saat. "Yang waktu itu, kau masih ingat aku mengajakmu keluar?"
"Ya," –Bagaimana aku bisa lupa?
Sejenak Neji terlihat ragu. "Malam ini kau ada acara?"
Sakura menggelengkan kepalanya. "Tidak ada."
"Bagaimana kalau aku menjemputmu di rumah jam tujuh nanti malam? Kau tidak keberatan?"
Senyum di wajah gadis pemilik bola mata hijau zamrud itu melebar, tak bisa menyembunyikan antusiasmenya. "Aku akan menunggumu jam tujuh."
Namun entah mengapa keceriaan yang diperlihatkan Sakura justru membuat Neji semakin terlihat gelisah. "Oke. Jam tujuh," ia memberikan janjinya. "Kalau begitu, sampai ketemu nanti malam, Sakura." Neji kemudian berbalik, kembali menuju koridor ruang klub teater –barangkali untuk mengganti pakaiannya.
Sepeninggal Neji, Sakura tak bisa menahan diri memekik kegirangan. Tangannya terkatup di depan dadanya yang masih berdebar-debar kencang, memompakan darah lebih banyak ke wajahnya. Ini bukan kali pertama ia pergi berdua saja dengan Neji, tapi tetap saja, setiap ajakan memiliki kesan yang berbeda. Dan entah mengapa kali ini lebih kuat dari sebelumnya. Gadis itu sangat berharap ada kemajuan dalam hubungan mereka setelah malam ini. Semoga.
Semoga…
Tapi senyum yang terkembang itu seketika lenyap begitu Sakura memutar tubuhnya. Ia menahan napas dengan terkejut saat mendapati sosok jangkung berambut hitam yang sudah sangat dikenalnya tengah berdiri di ambang pintu samping, menatapnya tajam dengan kedua bola mata hitamnya.
Sasuke? Sejak kapan dia berdiri di sana?
TBC…
Huee… saya sedang membelot dari tekad hiatus nih. Salahkan stress yang melanda.. T_T
Chanter ini saya kok ngerasa ceritanya asa lompat-lompat gitu, yah? Teman-teman pada ngerasa, gak? Tapi ya sudahlah. Toh chapter ini juga hanya jeda untuk banyak scene 'penting' di chapter depan, semoga gak membosankan.
Seperti biasa, makasih banyak buat yang sudah review, baik yang di page depan maupun yang lewat PM dan FB. Maafkan gak ditulis satu-satu, tapi bukan berarti gak dibaca lho. Semuanya dibaca kok, dan saya terharu banget. Jadi inget saat awal-awal ff ini, saat dapet reviewnya hanya satu-dua per chapternya, sama sekali gak nyangka bisa sampai sejauh ini sekarang. Dan cerita ini semakin mendekati akhir saja.. Hiks…
Buat yang sedang ujian semesteran, baik yang sekolah maupun yang kuliah, SEMANGAT YAAA~~ HWAITING! GANBATTE KUDASAI! Semoga sukses dengan ujiannya! .
Akhir kata, trims sudah membaca sampai sejauh ini, Teman-teman… ^_^
