Pertama, gomen untuk para 'senpai' yang gak suka kalo saya nambah-nambahin fic AU highschool dengan plot yang itu-itu aja, OOC keterlaluan dan penulisan standar *bowed*. Maafkan kalo dianggap nyampah di sini.
Don't like, just don't read.
"Kau nguping?" tuduh Sakura tanpa bisa menahan diri pada cowok di depannya. Sorot menusuk yang diarahkan padanya dari sepasang mata kelam milik Sasuke tak ayal membuatnya merasa terganggu.
Sementara cowok itu hanya bergeming di tempatnya tanpa mengatakan apa pun untuk membantah. Air mukanya tetap datar dan dingin, mengingatkan Sakura akan sosok Sasuke saat pertama kali mereka bertemu dulu. Sampai kemudian Sasuke membuat gerakan tiba-tiba –yang membuat Sakura terkejut. Namun ternyata cowok itu hanya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, lalu berjalan memasuki gedung.
"Lain kali pilih tempat yang tidak semua orang bisa lewat kapan saja," gumamnya saat berjalan melewati Sakura yang tercengang.
Sakura mendengus sebal, memelototi punggung Sasuke yang kemudian menghilang di belokan di ujung koridor. Hanya kebetulan lewat, ya? Tapi kan tak perlu memandangku seperti tadi. Dasar menyebalkan! –Tapi tak ada waktu untuk menghiraukan sikap Sasuke sekarang. Sakura mengerling arloji di pergelangan tangan kirinya dan terkejut ketika menyadari ia hanya punya waktu beberapa jam saja mempersiapkan diri untuk nanti malam!
.
.
Tapi nyatanya Sasuke tak setenang kelihatannya.
Apa yang dilihatnya beberapa saat yang lalu membuatnya gusar. Bukan hanya karena Sakura yang terlihat begitu gembira dengan cowok lain, tapi karena hal lain. Ekspresi Neji saat cowok itu mengajak Sakura lah yang membuatnya resah.
Hatinya tak tenang. Betapa pun ia mencoba untuk tidak ambil peduli –toh, Sakura juga sama sekali tak memedulikannya, kan?
"Sasuke?"
Sebuah senggolan di lengannya membuyarkan lamunannya. Sasuke serta merta mengalihkan pandangannya dan menatap Naruto yang duduk di sebelahnya di tribun Gymnasium tempat mereka sedang mengadakan rapat kecil dengan tim peralatan, memandangnya dengan ekspresi bingung. "Huh?"
"Aku bilang denah untuk penempatan stand sudah selesai dan mereka sudah memastikan akan mengantar tenda-tendanya Senin pagi. Astaga… kau memperhatikan tidak sih sejak tadi?" Naruto menghela napas keras. "Sejak kembali dari toilet tadi tampangmu jadi aneh," tambahnya dalam gerutuan pelan, seraya mencoretkan sesuatu dalam catatan yang dipegangnya. "Jangan bilang karena sembelit."
Tawa tertahan terdengar dari beberapa anak mendengar gurauan Naruto, namun Sasuke memilih untuk tidak menanggapinya. Ia menunduk kembali, berpura-pura memeriksa kembali laporan progress kerja timnya untuk rapat koordinasi setelah ini dan membiarkan Naruto yang memimpin rapat.
"Ada sesuatu yang terjadi?" tanya Naruto setelah rapat selesai dan semua orang sudah membubarkan diri, seraya menyerahkan lembar catatannya pada Sasuke.
"Tidak," sahut Sasuke berbohong, tak ingin membuat Naruto ikut-ikutan mencemaskan Sakura. "Tidak ada apa-apa." Ia menyelipkan catatan itu dalam map yang dibawanya, kemudian mengedarkan pandangannya dan baru sadar Sai tidak ada bersama mereka. "Mana Sai?"
"Tadi waktu kau ke toilet, dia pergi dengan Hinata. Katanya kaus dan name tag untuk panitia sudah datang –mereka sedang mengurusnya sekarang," jawab Naruto. Ia menutup ritsleting tasnya, lalu berdiri. "Bagaimana kalau kita membantu juga? Sekalian mengambil bagian kita."
"Kau sudah bilang pada Sai soal rencana besok?" tanya Sasuke, menghiraukan pertanyaan Naruto sebelumnya.
Naruto nyengir minta maaf, menggeleng, "Belum."
Sasuke menghela napas dengan tak sabar. "Ya sudah. Sekalian saja kalau begitu. Masih ada waktu sebelum rakor dimulai."
.
.
Koridor di depan ruang klub Jurnalistik dipenuhi anak-anak panitia festival sekolah ketika Sasuke dan Naruto tiba di sana. Tiga orang cowok dari tim acara baru saja keluar dari ruangan, tampak susah payah menembus kerumunan yang memblokir pintu seraya membawa setumpuk kaus berwarna merah tua yang masih tersegel rapi dalam bungkus plastik. Di dalam ruangan, mereka melihat Sai sedang membantu Hinata, Shiho dan dua orang anak kelas satu mendata dan membagikan barang-barang itu, memastikan jumlahnya benar dan tak ada yang tak kebagian.
"Humas!" Shiho berseru mengatasi keributan di ruangan itu. Dua orang anak perempuan kelas tiga maju, dengan antusias menunggu saat Sai mengikatkan setumpuk kaus untuk mereka, sementara Shiho mencontreng sesuatu dalam daftarnya.
Naruto menepuk pundak seorang anak perempuan di depan mereka. "Kalian tunggu saja di depan. Biar kami yang mengurus ini," katanya, membuat gadis itu dan dua temannya yang juga satu tim dengan mereka di kepanitiaan tampak agak kecewa, sebelumnya berbalik pergi.
"Logistik!" Shiho berteriak sambil menuding saat melihat Sasuke dan Naruto menyelinap masuk ke ruangan yang penuh itu, membuat beberapa kepala menoleh ke arah mereka. "Harap tunggu giliran, ya! Di sini sangat sibuk, tahu!"
"Iya, iya…" sahut Naruto terkekeh-kekeh, sementara beberapa anak perempuan di sana mendadak heboh saat melihat Sasuke –yang hanya memutar bola matanya dengan bosan.
Tak lama, antrian itu mulai menipis sehingga Sasuke dan Naruto dengan bebas mendekati teman mereka yang tampak kerepotan.
"Tinggal untuk Logistik dan Pubdok," Hinata berkata pada Sai yang sedang sibuk menghitung. "Apa jumlahnya sudah benar?"
"Hee… Jangan bilang kita dapat sisa?" serobot Naruto.
"A—Tidak kok, N-Naruto…" Hinata tiba-tiba tergagap saat Naruto menyelip antara dirinya dan Sai, merangkul bahu keduanya. Wajahnya merah padam. "Kami hanya sedang memastikan jumlahnya saja."
"Jangan seenaknya menuduh!" Shino menampol bagian belakang kepala pirang Naruto dengan buku catatannya main-main. "Kau membuat Hinata ketakutan."
"Hee? Aku kan cuma bercanda…" Naruto menoleh pada Hinata yang tampangnya seperti sudah mau pingsan.
"Naruto," kata Sai tenang, melirik Hinata, "Kalau kau sedekat ini bagaimana kami bisa bekerja?"
"Oh, sori…" Meringis, Naruto akhirnya menarik tangannya –dan Hinata tampak lebih lega, meskipun wajahnya masih merah.
Tepat saat itu, seorang gadis kelas tiga berambut ikal, yang Sasuke kenali sebagai salah satu anggota inti panitia festival muncul di pintu. "Haah.. syukurlah Sasuke juga ada di sini!" serunya lega. "Sebaiknya cepat ke ruang rapat, Sasuke. Rakornya dimulai lebih awal. Shino?" Gadis itu mengedarkan pandang berkeliling.
"Dia sedang keluar mengurusi spanduk," kata Shiho. "Tapi Hinata akan mewakilinya." –Hinata mengangguk.
"Baiklah. Ke ruang rapat sekarang kalian berdua," dan gadis kelas tiga itu pun berbalik pergi.
"Bukannya rapatnya masih satu jam lagi?" tanya Naruto dalam bisikan.
Sasuke hanya mengangkat bahu. "Kau urusi yang di sini. Setelah ini jangan lupa bicarakan dengan Sai soal besok."
Dan setelah menunggui Hinata mengumpulkan barang-barangnya, mereka berdua pun meninggalkan ruangan itu. Perjalanan menuju ruang rapat OSIS yang digunakan untuk tempat rakor di lantai tiga berlangsung dalam keheningan –yah, tidak sepenuhnya juga, karena sepanjang koridor ramai dengan anak-anak yang sibuk mempersiapkan properti untuk stand masing-masing di festival hari selasa nanti. Warna merah muda mendominasi ledakan hiasan-hiasan itu.
"Sepertinya festival kali ini bakal ramai, ya?" Hinata berkata memecah keheningan.
Tapi Sasuke tampaknya tak mendengarkannya. Pikirannya seperti tidak sedang berada di sana saat itu. Hinata mengerutkan dahi. Sejak di ruang jurnal tadi, gadis itu memperhatikan sikap Sasuke yang tidak seperti biasanya, seperti sedang memikirkan sesuatu entah apa. Dan sesuatu itu tampaknya sangat mengganggunya jika dilihat dari caranya menghela napas.
"Sasuke?" panggil Hinata, mencoba menarik perhatian teman masa kecilnya itu. Sasuke tidak merespon. "Bumi pada Sasuke Uchiha…" Gadis itu melambaikan tangannya di depan wajah Sasuke. "Apa di sini ada orang?"
"Huh?" Sasuke mengerjap.
Hinata tersenyum. "Jangan berjalan sambil melamun begitu. Nanti kau bisa nabrak."
Sasuke tak berkata apa-apa, hanya menyeringai tipis.
"Ada yang sedang dipikirkan, ya?" Hinata bertanya.
Cowok itu mengambil waktu untuk menarik napas sebelum menjawab, "Tidak juga…" Namun sedetik kemudian ia berubah pikiran. Sasuke menghentikan langkahnya dan menoleh pada Hinata yang juga ikut berhenti, memandangnya penuh tanya. "Ya," ujar Sasuke kemudian. "Apa Neji pernah cerita sesuatu padamu tentang Sakura?"
Entah mengapa Hinata tidak merasa terkejut mendengar pertanyaan Sasuke. Gadis itu menggeleng. "Tidak. Kak Neji tidak pernah bercerita apa pun soal urusan pribadinya padaku, termasuk soal em… gadis-gadis. Dan aku juga tidak pernah tanya."
"Kau yakin?" desak Sasuke. "Dia tidak pernah mengatakan sesuatu yang tersirat –yang ada hubungannya dengan Sakura?"
Hinata kembali menggeleng dan ini agaknya membuat Sasuke agak kecewa. "Memangnya ada apa?" gadis itu balik bertanya saat mereka kembali melangkah.
Sasuke tampak mempertimbangkan jawabannya. "Aku khawatir dia hanya mempermainkan Sakura," sahutnya lugas, membuat Hinata terkejut.
"Kak Neji bukan orang seperti itu," ujar Hinata otomatis, membela sepupunya. "M-Maksudku. Kak Neji memang pernah berkencan dengan beberapa gadis sebelum ini, tapi aku yakin dia bukan tipe yang suka mempermainkan gadis-gadis."
"Kuharap begitu," gumam Sasuke dingin. Jika tidak, aku tidak akan memaafkannya. "Neji mengajaknya keluar malam ini," ujar Sasuke sambil memandangnya ketika mereka sudah sampai di depan pintu ruang rapat OSIS. "Sakura kelihatannya sangat senang. Aku hanya berharap sepupumu tidak mengacaukan segalanya, Hinata."
Tanpa menunggu respon dari gadis itu, Sasuke berbalik dan memasuki ruangan rapat. Sementara Hinata hanya bisa terdiam di tempatnya, terkejut. Sasuke tidak pernah berbicara dengan nada seperti tadi padanya sebelum ini. Jelas sekali Sasuke menganggap masalah kakak sepupunya dan Sakura sangat serius, dan entah mengapa itu membuatnya takut. Takut, jika Sasuke akan membencinya juga seandainya Neji sampai menyakiti Sakura.
Selain itu Sakura juga temannya dan Hinata jelas tidak suka melihat temannya itu terluka. Tapi apa yang bisa dilakukannya? Ia jelas tak bisa ikut campur. Ia hanya bisa berharap, seperti yang dikatakan Sasuke, kakak sepupunya tidak mengacaukan segalanya.
.
.
"Jadi Ino ingin bertemu denganku besok?" tanya Sai dengan wajah sumringah.
Saat itu keduanya baru saja selesai membagikan kaus dan name-tag pada anggota tim logistik, dan sedang menunggu Sasuke selesai rapat sambil duduk-duduk di tangga undakan di depan pintu utama. Naruto mengulas senyum kecut melihat ekspresi senang di wajah pucat sahabatnya itu –ekspresi yang sudah sepanjang minggu ini tak dilihatnya di sana.
"Ya. Besok pagi," kata Naruto berusaha terdengar biasa, "Dia akan menunggumu di Blossoms' Café."
"Baiklah…" sahut Sai seraya melakukan kebiasaannya setiap kali merasa gugup atau terlalu bersemangat –menggaruk pipinya dengan ujung telunjuk. "Um… apakah aku harus membawakan bunga?" tanyanya, lebih pada dirinya sendiri ketimbang Naruto yang semakin lama semakin tidak tega. "Ah, mawar putih Shin baru saja berkuncup. Semoga besok sudah mekar sepenuhnya…"
Ingin sekali rasanya Naruto memukul Sai saat itu, memaksanya berhenti bersikap seakan semuanya baik-baik saja. Karena memang tidak ada yang baik-baik saja dalam hubungan dengan gadis yang sudah menjadi milik orang lain. Tapi senyum lugu itu, Naruto tidak tega jika harus menghapusnya dari wajah Sai.
Maka ia hanya bisa merutuki keadaan. Jika saja mereka bertemu sebelum Ino jadian dengan orang lain, ceritanya akan jadi lain…
"Haah… Sasuke lama sekali," gerutunya.
Tak lama, pintu ganda di belakang mereka terbuka dan beberapa anak melangkah keluar –termasuk Sasuke.
"Kalian berdua masih di sini?"
Naruto mengerutkan dahi. "Kau berharap kami meninggalkanmu, eh? Ini," seraya mengulurkan bungkusan berisi kaus dan name-tag bertuliskan 'Sasuke Uchiha – Koordinator Logistik'. Naruto merogoh saku celanya dan mengeluarkan selembar tiket.
"Buat apa?" Sasuke menerima tiket itu.
"Tidak tahu, ya? Masing-masing panitia mendapat satu tiket gratis. Kau bisa memberikannya pada Kak Itachi, supaya dia bisa datang dan menontonmu memerintah-merintah kami," kata Naruto.
"Hn. Ide bagus," dengus Sasuke seraya memasukkan tiket dan bungkusan kausnya ke dalam tas. Naruto nyengir.
"Hei, bagaimana kalau besok kita jalan-jalan?" usul Naruto saat ketiga sahabat itu melangkah menuju gerbang.
Sasuke melempar pandang kau-ini-bego-atau-dungu-sih pada Naruto. "Sai masih harus ujian susulan hari Senin nanti. Kau mau membuatnya tidak lulus?"
"Oh, yeah…" Naruto tampak agak kecewa, lalu melirik Sai, "Kalau begitu setelah festival…" kata-katanya terhenti saat melihat Sai mengacuhkannya dan tampak tenggelam dalam lamunannya sendiri. Sama sekali tak menyadari ketika kedua sahabatnya bertukar pandang muram di belakangnya.
.
.
"Iya, Ibu… Sakura ada acara mala mini, jadi mungkin tidak bisa makan malam bersama Ibu. Tidak apa-apa, kan?" Sakura berkata pada ponselnya yang terkepit di antara telinga dan bahunya sementara ia mengeluarkan selembar pakaian yang sudah dipilihnya jauh-jauh hari dari dalam lemari. Gadis itu baru saja selesai mandi dan masih mengenakan handuk kimononya. "Hmm… iya, tidak akan sampai larut kok. Aku akan pulang sebelum jam sepuluh."
Sakura menutup pintu lemarinya dan berjalan menuju tempat tidurnya untuk kemudian menyampirkan pakaiannya dengan hati-hati di sana. Semburat merah muncul di kedua pipinya. "Dengan… um… Neji." Sedetik kemudian ia terkikik. "Aa… Ibu jangan menggodaku begitu. Sudah ya, Sakura mau siap-siap dulu."
Sakura memutus teleponnya dan meletakkannya di meja rias. Gadis itu tersenyum pada pantulan bayangannya di cermin. "Oke. Pertama aku harus mengeringkan rambutku dulu!" serunya, lalu mengambil pengering rambut sambil bersenandung mengikuti musik yang mengalun dari CD player-nya.
Meskipun tanpa bantuan Ino seperti sebelumnya, Sakura bertekad harus tampil sempurna malam ini. Dan sepanjang sore, gadis itu sibuk mematut dirinya di depan cermin, mengaplikasikan make up tipis-tipis di wajahnya –hasil belajar dari Ino—dan menata rambutnya –walaupun pada akhirnya ia hanya membiarkan rambutnya yang biasanya terikat itu tergerai bebas, hanya dihias dengan sebuah jepit rambut sederhana berbentuk kelopak bunga sakura pemberian almarhum ayahnya saat ulangtahunnya yang ke lima belas.
Sampai pukul setengah tujuh malam, ia sudah duduk manis di ruang tengah dengan penampilan yang sudah rapi. Gelisah menunggu sang pemuda pujaan datang menjemputnya.
.
.
Sementara di kediaman kakak beradik Uchiha, Sasuke juga duduk di ruangan yang sama. Ia juga sama gelisahnya –hanya saja dengan alasan yang tentu saja berbeda. Bolak-balik ia mengganti channel televisi, sampai akhirnya ia melempar remote-nya ke sofa dan mulai berjalan mondar-mandir. Sebelum suara langkah kaki menuruni tangga mengalihkan perhatiannya.
Kakak lelakinya, Itachi, terlihat rapi dengan setelan kemeja dan jumpernya. Rambut panjangnya diikat rapi dan Sasuke bisa mencium wangi segar after shave ketika Itachi melewatinya menuju dapur.
"Kau kenapa mondar-mandir begitu, hm?" tanya Itachi dengan nada geli.
Sasuke mengabaikannya. "Kakak mau kemana?"
"Mau kemana?" Itachi terkekeh dari arah dapur. Suara salakan Rufus menyela sebelum terdengar suara lain saat Itachi membuka lemari untuk mengambil makan malam anjingnya. "Tentu saja aku mau pergi kencan."
"Dengan Kak Hana?" celetuk Sasuke.
"Bukan. Dengan ibunya Sakura," ia terkekeh lagi, "Tentu saja dengan Hana. Kau pikir kakakmu ini player atau apa eh, Sasuke?"
Sasuke memutar bola matanya, lalu menyusul Itachi ke dapur. Kakaknya itu sedang mengambil kaleng minuman dari dalam lemari pendingin ketika ia tiba di sana. "Mau kencan di mana, Kak?" Sasuke melanjutkan interogasinya.
Menegakkan diri, Itachi menoleh untuk melempar pandang heran pada sang adik. "Tumben bertanya? Biasanya cuek."
"Di mana?" ulang Sasuke tak sabar.
"Tidak kemana-mana," Itachi menjawab sambil mengangkat bahu, "Hana ingin makan seafood yang ada di dekat KCP. Setelah itu mungkin kami akan nonton film—" ia mengulurkan sekaleng cola pada Sasuke. "Kenapa?"
Sasuke tidak langsung menjawab. Dahinya berkerut sementara ia membuka kaleng cola-nya tanpa hati-hati, sehingga isinya muncrat ke bagian depan kausnya, memciptakan bercak-bercak kecokelatan di atas putih gading. Tapi Sasuke mengabaikannya. Pikirannya terlalu sibuk mengira-ngira kemana Neji akan membawa Sakura malam ini.
Yah, tentu saja ia tahu itu salah. Bagian mana yang benar dari membuntuti temanmu sendiri berkencan? Terlebih ini adalah gadis yang.. er… agak istimewa. Pada akhirnya hanya akan membuatnya sakit hati saja. Tapi kekhawatirannya pada Sakura rupanya sudah melebihi ketakutannya akan sakit hati. Ia hanya ingin memastikan gadis itu baik-baik saja… jika bisa.
"Aku ikut," kata Sasuke kemudian.
Itachi tersedak minumannya. Terbatuk-batuk, ia memandang adik lelakinya dengan mata membeliak. "Kau mau ikut –uhuk!—pergi kencan denganku?"
Bukannya menjawab, Sasuke malah menenggak minumannya banyak-banyak dan membanting kaleng yang isinya tinggal separuh ke atas meja. "Aku ikut," ulangnya. Dan tanpa menghiraukan protes sang kakak, Sasuke berbalik meninggalkan dapur menuju kamarnya untuk berganti pakaian.
"Serius, Sasuke Uchiha! Siapa yang akan menjaga Rufus di—"
BLAM! –suara pintu dibanting menutup.
"Damn!"
.
.
Suara kendaraan yang berhenti di depan rumahnya membuat Sakura nyaris terlonjak. Mungkin itu dia! Pikirnya bersemangat seraya melompat ke jendela untuk mengintip. Benar saja. Sebuah jaguar silver yang sudah sangat dikenalinya terparkir di depan halaman. Dan saat pintu itu terbuka, sesosok pemuda jangkung berambut cokelat gelap melangkah keluar.
Sakura buru-buru menutup kembali jendela ruang keluarga yang tersingkap, tidak ingin tertangkap basah sedang mengintip. Ia mengambil napas panjang, berusaha menenangkan degup jantungnya yang kelewat antusias. Terlebih saat mendengar langkah kaki Neji menaiki undakan depan –dan ia menekan bel pintu depan.
Dengan gugup, Sakura meluruskan keliman rok di balik mantelnya sebelum melangkah menuju pintu.
"Hai," sapa Neji setelah Sakura membukakan pintu.
Wajah Sakura sedikit merona saat Neji tersenyum padanya. "Hai," balasnya, membalas senyum cowok itu dan menunggu…
"Sudah siap?" pertanyaan Neji agaknya diluar harapan Sakura –sebenarnya gadis itu berharap Neji memuji penampilannya—tapi ia tak ingin terlihat kecewa. Ia pun mengangguk. "Kalau begitu kita berangkat sekarang."
Setelah mengunci pintu depan, Sakura mengikuti Neji menuruni undakan dan berjalan ke mobilnya. Seperti saat pertama kali mereka keluar dulu, cowok itu membukakan pintu depan untuknya. Sakura melangkah masuk setelah mengucapkan terimakasih padanya.
"Aku tadi mampir dulu ke restoran keluargamu," beritahu Neji tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan. Saat itu mobil yang mereka tumpangi sedang melaju menjauhi kawasan perumahan itu.
"Eh?" Sakura tak bisa menahan keterkejutannya. "Untuk apa?"
"Tentu saja untuk meminta izin ibumu dulu. Tidak mungkin kan, aku membawa anak gadisnya pergi tanpa izin? Nanti ibumu khawatir," tandas Neji seakan itu hal yang lumrah dilakukan setiap anak laki-laki jika ingin mengajak seorang gadis keluar. Tapi Neji lain, pikir Sakura kemudian –ia dibesarkan dengan tata karma yang cukup ketat. Sebelum ini Neji juga selalu minta izin pada Azami setiap kali mengajak gadis itu keluar, hanya saja saat itu Azami sedang ada di rumah.
Sakura tak mampu menahan senyum. "Terimakasih."
"Aa.."
Suasana kembali hening. Yang terdengar hanya dengung lembut mesin mobil dan irama jazz yang mengalun pelan dari stereo di belakang. Mobil itu melaju lambat dan tenang memasuki kota, seakan pemiliknya tak ingin terburu-buru sampai ke tempat tujuan. Dan Sakura mencoba menikmati perjalanan itu, seraya bertanya-tanya dalam hati kemana Neji akan membawanya.
.
.
"Kau ada masalah eh, Sasuke?" Itachi melirik kaca spion, menatap bayangan adik laki-lakinya yang dengan santainya duduk di bangku belakang mobil bersama Rufus. "Tidak biasanya kau ingin ikut seperti ini."
"Menyetir yang benar sajalah, Kak," sahut Sasuke datar seraya mengelus-elus leher anjingnya. Matanya terpaku pada kaca jendela.
Di belakang kemudi, Itachi menghela napas. "Dan kenapa kau duduk di belakang? Aku kelihatan seperti supirmu."
"Supaya aku tidak perlu pindah-pindah lagi kalau ada Kak Hana," tukas Sasuke. Kali ini ia melepaskan pandangannya dari jendela dan menatap kakaknya. "Kau keberatan aku ikut?"
Itachi memutar matanya. Pertanyaan yang tak perlu dijawab sebetulnya. "Aku bilang keberatan pun kau tidak akan mau dengar. Hidup denganmu sepanjang hampir delapan belas tahun sudah cukup untuk mengenal betul watak keras kepalamu itu, Sasuke."
"Hn." Sasuke kembali mengalihkan pandangannya ke jalanan.
"Yeah, betul. Hn."
"Aku tidak akan mengganggu kalian. Tenang saja, Kak."
"Hn."
Tak lama, BMW hitam itu menepi di depan sebuah klinik hewan di kota. Seorang wanita cantik berambut cokelat yang diikat ekor kuda baru saja melangkah keluar dari pintu kaca, tersenyum saat melihat kekasihnya muncul.
Itachi bergegas menghampirinya, membiarkan wanita itu mendaratkan kecupan ringan di pipinya sebelum membisikkan sesuatu padanya sambil melirik ke arah mobilnya. Hana Inuzuka mengangkat alisnya, sebelum kemudian tawa renyahnya terdengar dan ia menganggukkan kepala.
"Halo, Sasuke," sapa Hana hangat saat ia sudah duduk di bangku depan. "Apa kabar? Oh, hai, Rufus…" Hana menggaruk leher si anjing yang menyalak riang padanya penuh sayang.
"Baik," sahut Sasuke datar.
Menanggapi sikap dingin Sasuke, Hana tersenyum. Menghadapi sikap remaja lelaki yang angin-anginan, wanita itu sudah terbiasa. "Kau ingin makan malam dimana, Sasuke?" tanyanya kemudian.
"Hei, bukannya katamu kau ingin makan seafood?" sela Itachi dengan dahi berkerut.
Hana mengabaikannya. "Bagaimana, Sasuke?"
Sasuke memandang calon kakak iparnya itu. "Kalian berdua pergi makan berdua saja. Aku cuma mau cari angin, tidak akan mengganggu."
"Oh," Hana memberinya tatapan prihatin, tapi tidak mendesaknya lebih jauh.
"Sudah kubilang kan, dia sedang bad mood," gumam Itachi, menyeringai. Hana mencubit lengannya main-main.
.
.
Suasana malam di Konoha City Square masih sama seperti yang diingat Sakura saat terakhir kali ia ke sana. Jalanan ramai dengan orang yang berlalu lalang, beberapa berpasangan sementara yang lainnya bersama keluarga mereka. Lampu-lampu taman tampak gemerlap, memantul di kaca-kaca etalase yang memajang beraneka barang. Namun ada yang berbeda dari biasanya. Ornamen-ornamen bernuansa pink dan hati tampak di setiap sudut toko, terutama yang menjual aneka kue dan cokelat. Tentu saja. Karena saat itu sudah memasuki minggu kedua Februari –hari kasih sayang.
Jika saja ia sedang tidak bersama Neji, barangkali ia sudah melompat ke sana kemari untuk melihat-lihat. Tapi Neji tampaknya tidak terlalu tertarik, bahkan tidak begitu memperhatikan ketika Sakura menunjuk sebuah boneka Teddy Bear berwarna merah muda yang dipajang di salah satu toko.
Sakura yang tadinya sangat antusias, mau tak mau menjadi agak cemas melihat sikap Neji. Tidak hanya tak menghiraukannya, Neji bahkan sama sekali tak menyentuhnya. Padahal selama ini cowok itu selalu menggandeng tangannya setiap kali mereka berjalan bersama di keramaian seperti ini.
Neji seperti menjaga jarak.
Ada apa sebenarnya? –pikiran itu membuat Sakura sedikit takut.
Tak lama mereka tiba di sebuah restoran yang terlihat mewah. Sakura terbelalak sesaat, sama sekali tidak menyangka Neji akan mengajaknya ke tempat seperti itu. Restoran itu penuh dengan orang-orang anggun yang berpakaian bagus, dan tentu saja, dengan manner yang sesuai. Orang-orang kelas atas –Sakura selalu menyebut mereka. Rasanya déjà vu seperti saat ia melangkah untuk pertama kalinya di Konoha Hall beberapa bulan yang lalu.
Seorang pria berjas buntut rapi menyambut mereka di pintu depan, meminta mantel mereka untuk disimpan. Sakura dengan gugup menyerahkan mantelnya sementara Neji mengatakan sesuatu tentang meja yang sudah dipesan sebelumnya pada orang itu. Mereka kemudian diantar menaiki lift, menuju lantai tertinggi di gedung itu.
Sekali lagi Sakura hanya bisa tercengang saat melangkah keluar dari lift. Ia sama sekali tidak menyangka ada tempat secantik ini di KCS. Dengan pencahayaan yang tidak berlebihan tapi juga tidak terlalu remang-remang, tempat itu terlihat anggun dan romantis. Jendela-jendela kaca yang mendominasi dinding memberi kesan terbuka, juga membuat pengunjungnya bisa melihat langsung ke pemandangan gemerlap Konoha di bawah sana.
Meja mereka terletak tepat di sisi jendela –meja untuk dua orang. Dengan dua buah lilin mungil di atas meja kayu ebony, dan setangkai mawar merah di dalam vas kristal. Lamat-lamat alunan grand piano yang dimainkan seorang pianist terdengar dari sudut ruangan.
"Silakan, Nona," seorang pelayan bertubuh jangkung menarikkan kursi untuknya, membuat gadis itu tersadar dari kekagumannya akan tempat yang dipilihkan Neji itu.
Setelah mengatakan pesanan masing-masing, suasana kembali hening. Sakura terlalu gugup untuk mengatakan sesuatu, maka ia memilih memandang ke luar jendela.
"Kau suka tempat ini?" tanya Neji kemudian.
Sakura mengalihkan pandangannya dan tersenyum. "Tempat ini menakjubkan. Terimakasih sudah mengajakku, Neji."
Neji mengulas senyum yang tak mencapai matanya, lalu mengambil gelas air berkaki tinggi di atas meja dan menenggak isinya. "Jangan berterimakasih, Sakura. Tolong, jangan berterimakasih padaku."
.
.
"Untuk apa ini?" Sasuke bertanya bingung saat kakaknya menjejalkan beberapa lembar uang ke tangannya. Mereka baru saja memarkirkan mobil di lapangan parkir taman kota itu dan Sasuke hendak mengambil jalan berlawanan dengan sang kakak.
"Belilah makan malam untukmu. Kau kan belum makan sejak tadi –kecuali kalau kau mau ikut kami."
Sasuke mengerling Hana yang berdiri tak jauh di belakang kakak lelakinya. "Oke, trims," gerutunya seraya memasukkan uang itu ke dalam saku.
"Kalau sudah selesai telepon aku, biar nanti kujemput," kata Itachi lagi.
"Hn."
"Hati-hatilah." Itachi menepuk pundak adiknya.
"Aku tahu," Sasuke menghela napas bosan. Kadang-kadang ia merasa kakaknya itu masih menganggapnya anak kecil yang tak bisa apa-apa jika tidak diawasi. "Sana pergi! Nikmati saja kencan kalian."
"Kau juga. Nikmati kencanmu dengan Rufus," balas Itachi, ketika Sasuke berbalik pergi dengan Rufus berlari-lari kecil di sampingnya.
"Tidak apa-apa membiarkan Sasuke jalan sendirian begitu?" tanya Hana seraya memandangi punggung Sasuke yang semakin menjauh.
Itachi menghela napas, mengulurkan tangannya untuk merangkul pundak wanita itu. "Jangan khawatir. Ada Rufus yang menjaganya. Lagipula itu adikku –dia sudah terbiasa hidup di jalanan. Aku sudah cerita tentang dia pernah kabur dari rumah selama berhari-hari, kan?"
Hana tertawa kecil, menyandarkan tubuhnya di dalam rangkulan Itachi. "Iya. Hanya saja…" wajahnya kembali cemas. "Ekspresi wajahnya itu mengingatkanku pada Kiba waktu dia tahu gadis yang ditaksirnya menyukai orang lain. Dia murung terus selama berhari-hari."
Itachi menanggapinya dengan kekehan kecil. "Yah… biarkan saja. Dengan begitu mereka akan belajar menjadi dewasa, kan?"
"Benar juga," tanggap Hana sambil tertawa. "Kalau begitu, ayo kita makan. Aku sudah kelaparan."
"Hn."
.
.
Sebenarnya Sasuke tak tahu apa yang akan dilakukannya setelah ini. Mencari tahu dimana Sakura dan Neji –dengan kemungkinan yang sangat kecil ia berhasil menemukannya, belum lagi resiko makan hati yang akan dihadapinya nanti—atau seperti yang dikatakannya pada Hana dan kakaknya beberapa saat yang lalu, hanya ingin mencari angin. Pada akhirnya ia hanya membiarkan saja langkah kakinya yang membawanya, dan dengan bimbingan teman kencannya yang berbulu.
Sampai tiba-tiba saja ia sudah berada di jalanan ramai Konoha City Square.
Sasuke mengedarkan pandangannya dengan kedua alis terangkat. Merah muda mendominasi segala penjuru tempat itu. Lampu-lampu hias, ornamen-ornamen bernuansa hati, hingga boneka-boneka yang dipajang di toko mainan. Norak, pikirnya.
—Aku tahu merah muda lain yang lebih menarik dari ini…
Sentakan lembut pada tangannya membuat Sasuke tersadar. Rupanya Rufus telah bergerak maju, dengan penuh semangat mengendus-endus ke jalanan di depannya.
"Hei, kau sedang ap—HEI!"
Rufus tiba-tiba saja menyalak sebelum kemudian berlari, membuat tali lehernya yang dipegang sang tuan ikut tertarik. Tanpa sempat menahannya, Sasuke pun terpaksa berusaha mengimbangi langkah cepat anjingnya sepanjang jalan itu.
.
.
Sepasang mata hijau zamrud itu menatap sosok di depannya, menunggu dengan gelisah. Sejak mereka tiba tadi Neji belum menampakkan tanda-tanda akan mengutarakan maksud sebenarnya mengajaknya makan malam. Ia bilang ingin membicarakan sesuatu yang penting-entah-apa itu. Tapi yang dilakukan cowok itu sejak tadi hanyalah menenggak airnya, terlihat amat sangat gugup –Sakura tak pernah melihat Neji segugup itu.
Maka Sakura mencoba untuk mencairkan suasana dengan mengomentari pemandangan malam Konoha di bawah mereka, mengomentari bulan yang bulat sempurna, bintang-bintang, bahkan pesawat yang lewat yang disangkanya bintang jatuh. Apa pun yang bisa dikomentari. Namun Neji hanya menanggapinya dengan tidak antusias, dengan 'hn' atau 'aa' atau hanya dengan tawa garing terdengar dipaksakan. Sakura merasa serba salah –sekaligus gelisah.
Kemana perginya perasaan bahagia yang meluap-luap sejak Neji mengajaknya seminggu yang lalu itu? Semua itu seakan menguap begitu saja, menyisakan perasaan terombang-ambing karena sikap Neji yang seperti ini.
Dan tiba-tiba saja, ia merasa takut. Sangat takut.
"Neji?" panggilnya selang beberapa saat mereka terdiam.
"Ya?"
"Sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan denganku?" Sakura memberanikan diri bertanya.
Neji menatapnya lurus-lurus ke dalam bola matanya. "Sakura…"
Sebelum ia sempat mengatakan sesuatu lebih dari itu, seorang pelayan datang mengantarkan pesanan mereka.
"Kita bicara setelah makan saja," kata Neji setelah pelayan itu pergi. "Ini sangat enak, Sakura. Cobalah…"
Makanan itu benar-benar enak. Rasanya pastilah akan sempurna jika suasana hatinya dalam keadaan baik, tidak seperti sekarang. Perasaan yang campur aduk tidak karuan merusak selera makannya sama sekali.
"Terimakasih makanannya. Sangat enak," ucap Sakura, memaksa suaranya terdengar ceria, setelah menandaskan piringnya. Di depannya, piring Neji juga sudah bersih.
Tak lama, pelayan yang tadi mengantarkan makanan kembali untuk mengangkat piring-piring itu dan menggantinya dengan pencuci mulut yang kelihatan sama lezatnya dengan sebelumnya. Tapi selera Sakura sama sekali sudah hilang saat itu. Rasa penasarannya tak bisa dibendung lagi.
"Nej—"
"Sakura," potong Neji sebelum Sakura sempat berkata apa pun. Ditatapnya kedua bola mata hijau gadis di depannya lurus-lurus. Sepasang mata yang selama beberapa hari ini tak sanggup ia tatap, tapi sekarang ia memberanikan diri. Tepatnya, ia memaksa dirinya untuk tegas pada dirinya sendiri, dan pada gadis di depannya ini. "Maaf," ucapnya parau. "Maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf…"
Dan saat itu, hati Sakura mencelos.
.
.
"Sebenarnya apa yang sedang kulakukan di sini?"
Sasuke memandang sebuah boneka beruang berukuran besar berwarna pink cerah yang dipajang di etalase sebuah toko dengan dahi berkerut. Ia tidak tahu mengapa boneka itu tampak begitu menarik perhatiannya. Barangkali karena ukurannya? Atau bulu-bulunya yang terlihat lembut? Atau karena ia merindukan boneka beruang yang ia dapatkan bersama Itachi saat perjalanan kembali ke Konoha?—kakaknya telah memberikan boneka itu pada Hana. –Atau karena warnanya yang mengingatkan pada seseorang?
Cowok itu menghela napas berat, menunduk untuk memandang Rufus yang berdiri di sampingnya. Mata gelap milik retriever itu pun sedang terpacang pada si boneka dengan lidah terjulur. Ekor cokelat keemasannya bergoyang.
"Kau suka boneka itu?"
Rufus mendongak. "Woof!"
"Kau mau aku membelikannya untukmu?"
"Woof!"
"Jangan harap."
Rufus membuat suara seperti kecewa. Kedua telinganya tampak lemas.
"Hn. Bagus. Sekarang aku seperti orang tolol berbicara pada anjing," gumam Sasuke sambil melempar seringai pada anjingnya. "Ayo, Ruf. Sebaiknya kita cari makan saja. Aku sudah lapar."
Sasuke seraya menarik tali leher retriever-nya meninggalkan tempat itu dan mengambil rute berputar balik menuju area KCS yang menjual makanan tak jauh dari sana. Tidak lama, mereka sudah menemukan deretan restoran dari berbagai kelas, kedai-kedai makanan tradisional, café, coffee shop, hingga deretan tenda yang menjual berbagai jajanan di sepanjang area itu –yang Sasuke ingat sebagai tempat dalam rekaman yang dikirimkan Sai padanya saat ia masih di Oto. Tempat Sakura, Naruto dan yang lain pernah menghabiskan waktu jajan setelah festival band beberapa yang waktu lalu.
Bersama Neji juga, Sasuke mengingatkan dirinya sendiri. Dan sekarang Sakura juga sedang bersama Neji entah di mana…
Sekelumit cemas itu datang lagi.
Dengan tarikan napas berat, Sasuke membuang pandangnya. Sebentuk lingkaran sempurna berwarna putih menggantung rendah di atas sebuah tower –gedung tertinggi di tempat itu—yang tampak gemerlap memantulkan cahaya lampu.
Walau rasanya menyesakkan, Sasuke berharap tidak terjadi apa pun –apa pun yang ia takutkan—pada gadis itu. Ia berharap Sakura bersenang-senang malam ini.
.
.
Sakura menatap kosong ke luar jendela. Gemerlap area KCS di malam hari tak lagi membuatnya terpukau. Sepasang bola mata hijau zamrud itu tampak berkilau, bukan karena pantulan cahaya lampu, melainkan karena air mata yang sejak tadi tertahan.
"Sakura…" Suara itu kembali terdengar setelah kesunyian yang menyesakkan. Hati gadis itu kembali tergetar –bukan oleh debaran membahagiakan seperti yang selama ini selalu ia rasakan setiap kali berada di dekat pemuda Hyuuga ini. Rasanya… sakit.
"Sakura," suara itu lebih mendesak.
Sang pemilik nama tetap bergeming, menggigit bagian dalam bibirnya untuk menahan isakan yang sudah di ujung tenggorokan. Sebuah sentuhan di tangannya membuat gadis itu nyaris kehilangan kendali. Pandangannya teralih dan wajah pucat Neji menyambutnya. Mata peraknya menyorot khawatir. Mata yang dulu selalu membuatnya merasa hangat, kini malah menimbulkan perasaan sebaliknya. Sekujur tubuhnya terasa kebas seperti dicelupkan ke dalam bak berisi es.
Pelan, Sakura menarik tangannya menjauh, menurunkannya ke pangkuan, hanya untuk meremas material di bagian bawah gaunnya.
"Katakan sesuatu," kata Neji nyaris berbisik. "Jangan diam saja, Sakura."
Lagi-lagi Sakura hanya membisu. Kata-katanya tak mau keluar. Lagipula apa yang bisa ia katakan? Setelah mengakuan Neji beberapa saat yang lalu tentang apa yang sebenarnya terjadi antara dia dan gadis itu, juga gadis yang lain, yang seketika menghempaskannya dari lambungan harapan yang sudah terlanjur tinggi. Ia terlalu sakit untuk bisa mengatakan sesuatu.
"Maaf," ucap Sakura cepat pada seorang wanita berseragam maid yang kebetulan melintas. "Bisa tunjukkan di mana toiletnya?"
Saat Sakura beranjak dari bangkunya, Neji sama sekali tak berusaha menahannya. Ia hanya duduk diam, sementara matanya mengikuti punggung gadis itu hingga menghilang di ujung ruangan berbentuk oval itu. Dengan helaan napas berat, Neji kembali mengangkat gelasnya ke bibir, membasahi tenggorokannya yang terasa kering. Meskipun menyesal karena dengan apa yang telah terjadi, setidaknya ia merasa lebih lega karena sudah mengungkapkan segalanya pada Sakura.
Sementara gadis itu sudah tak bisa menahan dirinya lagi. Ketika ia tiba di toilet wanita dan menatap pantulan dirinya di cermin besar di wastafel, bening telah mengalir bebas di wajahnya yang pucat pasi. Dengan panik Sakura menekan-nekan bagian atas kelopak matanya, berusaha menghentikan cairan hangat yang terus mendesak keluar.
"Jangan menangis… Jangan menangis…" ia berbisik di antara isakan tertahan. "Oh, Tuhan… Jangan menangis, Sakura…" –please… hentikan air mata ini.
Tapi air matanya terus mengalir tanpa bisa ditahan. Menyerah, Sakura menghambur ke salah satu bilik toilet. Kedua tangan terkatup di depan mulutnya, meredam sedu sedan yang sudah tak tertahankan lagi.
.
.
"Maaf membuatmu menunggu."
Neji mengalihkan pandangannya dari jendela dan mendapati Sakura sudah kembali dari toilet. Seulas senyum kaku menghiasi wajah gadis itu saat ia menarik kursinya dan duduk.
"Tidak apa," sahut Neji, merasa bersalah ketika menyadari kedua mata Sakura terlihat sedikit merah. "Kau… habis menangis?"
Sakura tidak langsung menjawab. Diraihnya gelas air dari atas meja dan meminumnya perlahan-lahan, kemudian tersenyum lagi. "Tidak," ujarnya berbohong, "Tadi um… kelilipan. Sudah tidak apa-apa."
Tapi Neji tidak begitu yakin. Meski begitu, ia tidak memaksa.
"Neji?" ucap Sakura kemudian setelah beberapa lama mereka terdiam.
"Hm?"
Sejenak, Sakura tampak ragu. "Tentang yang tadi…" ia berhenti untuk menarik napas, "…tak usah khawatir. Aku mengerti. Sebenarnya, sejak awal juga aku merasa ada yang aneh –maksudku, um…" Sakura menelan ludah dengan susah payah, dan ketika ia melanjutkan, suaranya cukup mantap, "Aku sangat senang bisa melewatkan banyak waktu bersamamu selama ini. Berlatih drama bersama-sama, kau juga banyak membantuku belajar. Sangat menyenangkan dan aku tak akan menyangkal aku sangat menikmati saat-saat itu. Mungkin…" Sakura mengeluarkan tawa getir tertahan, "…aku terlalu memperlihatkan rasa senangku sampai kau –dan mungkin semua orang—mengira aku suka padamu. Aku suka padamu, tentu saja… sebagai teman –seperti seorang kakak. Kau sangat dewasa, Neji, dan hangat, dan baik, mengingatkanku pada ayahku yang sudah tidak bersamaku lagi."
Ia terdiam beberapa saat lagi.
"Jadi jangan khawatir," ucap Sakura sambil tersenyum tulus, "Tak perlu cemas jika kau memang suka pada orang lain –aku tidak apa-apa. Anggap saja apa yang sudah terjadi di ruang komputer waktu itu… hanya kesalahan. Refleks, seperti katamu, karena terbawa suasana." Sakura kembali mencengkeram roknya kuat-kuat. "Semua orang pernah membuat kesalahan eh… Neji?"
"Sakura, aku benar-benar minta maaf—"
"Bukankah sudah kubilang tak perlu mencemaskanku?" sela Sakura. "Jangan meminta maaf, Neji. Aku mengerti."
Hening.
"Sakura… terimakasih…"
"Sudahlah," Sakura mendengus pelan tanpa memandang Neji, "Sekarang bisa kau antar aku pulang?"
.
.
'Lost and all alone
I always thought that I could make it on my own
Since you left I hardly make it through the day
My tears get in the way
And I need you back to stay..'
Alunan musik dari seorang musisi jalanan menemani Sasuke menikmati makan malamnya di dekat tugu lambang Konoha yang menjadi pusat KCS. Dengan setangkap big mac, sebungkus kentang goreng dan coke yang dibelinya di kedai kaki lima, sudah cukup bagi cowok itu untuk memuaskan rasa laparnya setelah beberapa waktu berkeliling tempat itu. Di dekatnya, Rufus sedang duduk meringkuk, sibuk menjilati bulu-bulu di kakinya.
Sasuke mengarahkan pandangannya ke arah musik yang mengalun itu berasal sembari mengunyah kentang gorengnya. Seorang pria berkacamata lebar dengan rambut panjang berantakan yang terjurai hingga sikunya tengah memetik sebuah gitar tua yang ditempeli stiker di sana sini. Penampilan yang sedikit sangar sangat kontras dengan musik yang dimainkannya, yang terkesan mendayu-dayu sekaligus suram.
'That I'm lost without your love
Life without you isn't worth the trouble of
I'm as helpless as a ship without a wheel
A touch without a feel
I can't believe it's real...'
Sasuke menggerutu pelan, lalu menggigit sepotong besar makanannya dengan geram. Mendengarkan lagu patah hati tidak membuat suasana hatinya lebih baik.
"Sebaiknya kita kembali ke mobil Itachi saja, Ruf…" katanya sambil beranjak, setelah memasukkan sisa makan malamnya ke dalam kantung, kemudian pergi dari sana diikuti Rufus yang berlari-lari kecil sambil mengibaskan ekornya di sampingnya.
Namun mendadak anjing itu menyalak keras, membuat semua orang yang berada dalam radius lima meter dari tempatnya menoleh.
"Ruf—"
Sasuke terkejut ketika tiba-tiba anjingnya melompat dan berlari mendahuluinya. Tali lehernya terlepas dari genggamannya. Mengumpat, Sasuke bergegas berlari menyusul anjingnya diikuti pandangan heran orang-orang.
"Permisi –maaf, permisi!" Sasuke berlari menyelip-nyelip di antara para pejalan kaki. "Rufus! Kembali kau anjing nakal!"
"Kyaa!"
Sasuke merasakan jantungnya berdegup dua kali lipat lebih cepat tatkala terdengar jeritan terkejut anak perempuan yang sudah sangat dikenalnya di depannya. Langkahnya terhenti. Napasnya terengah-engah. Tak jauh dari tempatnya, seorang gadis berambut merah muda panjang tengah membungkuk, menggaruki leher berbulu retriever-nya yang tampak kegirangan.
"Sasuke," gadis kembali menegakkan diri, menatapnya dengan terkejut.
Sasuke mempertahankan ekspresi wajahnya tetap dingin. "Sakura."
Gadis itu memalingkan wajah, menghindari tatapan Sasuke. "A—Aku harus pergi." Setelah mengelus kepala Rufus untuk yang terakhir kalinya, Sakura bergegas berbalik pergi, menyusul seorang cowok berambut cokelat yang sudah berjalan mendahuluinya ke lapangan parkir.
Rufus menyalak kecewa. Namun sebelum anjing itu bergerak lagi untuk membuntuti gadis itu, Sasuke menangkap tali lehernya, menahannya. Anjing itu merengek pelan.
"Anjing nakal," Sasuke menegur anjingnya. Tapi saat berikutnya pandangannya kembali pada punggung Sakura yang semakin menjauhinya, rambut merah mudanya yang berayun di belakangnya. Hatinya tak tenang.
Yang tadi itu hanya permainan cahaya, atau mata hijau tadi memang berkaca-kaca?
Ah, tidak. Aku pasti hanya membayangkannya saja. –Semoga aku hanya membayangkannya saja.
"Ayo, Ruf. Kita pulang."
.
.
Perjalanan menuju kediaman Haruno berlangsung dalam keheningan.
Aneh sekali betapa bertolakbelakangnya suasana hati Sakura sekarang. Beberapa waktu yang lalu barangkali ia adalah gadis paling bahagia di seantero Konoha malam itu. Tapi sekarang… ia bahkan tak bisa mendeskripsikan apa yang ia rasakan dengan kata lain kecuali sakit.
Mengapa rasanya begitu sakit seperti ini?
Dan pertemuan singkatnya dengan Sasuke tadi tidak membuatnya merasa lebih baik. Apa yang dikatakan Sasuke seandainya ia tahu apa yang sudah terjadi padanya malam ini? –Setelah selama ini Sakura selalu menulikan telinga terhadapnya.
"Kita sudah sampai," kata-kata Neji membuyarkan lamunannya.
Sakura mengerjap, lalu memandang ke luar jendela. Pemandangan yang akrab menyambutnya, rumahnya. Siluet bayangan di jendela memberitahunya bahwa sang ibu masih belum tidur. Barangkali sedang menunggunya, seperti yang biasa dilakukannya setiap kali putrinya pulang setelah gelap.
"Terimakasih sudah mengantarku, Neji," ucap Sakura dengan suara parau.
"Aa. Sampai ketemu di sekolah kalau begitu, Sakura."
Sakura mengangguk, lalu membuka pintu mobil itu dan beranjak keluar. Gadis itu melangkah memasuki halaman tanpa menoleh lagi –tak sanggup menoleh. Dan saat ia tiba di undakan rumahnya, ia mendengar mobil Neji bergerak meninggalkan tempatnya.
Sakura menggigit bibirnya. Dengan begini, Neji benar-benar meninggalkannya. Cinta pertamanya sudah meninggalkannya dan tidak akan kembali lagi.
"Sakura, Sayang," Azami menyambut di depan pintu dengan senyumnya yang hangat, "Bagaimana acara makan malamnya? Menyenangkan?"
Tanpa berkata apa-apa, Sakura menghambur ke arah ibunya. Gadis itu menjatuhkan diri sepenuhnya ke dalam pelukan sang ibu yang hangat, yang selalu dapat membuatnya tenang dalam keadaan sekacau apa pun.
"Menyenangkan, Bu…" bisik Sakura di bahu ibunya yang terkejut. "Tapi Sakura lebih suka makan malam bersama Ibu."
"Sakura…"
.
.
And someday soon I'll wake
And find my heart won't have to break…
.
.
Ino Yamanaka berjalan mondar-mandir dengan gelisah di antara meja-meja di Blossoms Café keesokan harinya. Gadis itu sengaja datang pagi-pagi sekali, bahkan sebelum tempat itu buka, dan itulah yang dilakukannya sejak tadi –modar-mandir.
"Kenapa Sakura belum datang juga?" ia menuntut untuk kesekian kalinya pada Izumo yang sedang mengelap salah satu meja di dekatnya.
"Sekarang hari Minggu, Nona," sahut Izumo tanpa repot-repot mengangkat wajahnya. "Tak ada salahnya kan Sakura bangun lebih siang. Terlebih kudengar kalian baru selesai ujian, kan?"
Ino mengeluh pelan, lalu menghenyakkan diri di bangku dekat jendela. Jemarinya mengetuk-ngetuk meja. "Apaan? Sakura sudah janji padaku akan datang pagi hari ini."
Izumo mengangkat sebelah alisnya. "Memangnya ada apa?"
"Mau tahuuuu aja!" tukas Ino sebal sambil mencibir ke arah pria yang selalu menggunakan ikat kepala itu. Izumo hanya terkekeh-kekeh sebelum berbalik untuk mengelap meja yang lain.
"Dari pada uring-uringan begitu, bagaimana kalau kau mencoba teh chamomile kami. Menu baru lho.." kata Ayame berpromosi dari balik meja konter.
Sebelum Ino membuka mulut untuk menjawabnya, seruan Isaribi yang tengah membalik tanda 'open' di pintu mengalihkan perhatiannya. "Ah, panjang umur, Ino! Itu mereka datang!"
Ino menoleh ke arah yang ditunjuk Isaribi. Station wagon milik Azami baru saja memasuki lapangan parkir dan bergerak ke spot tempat ia biasa memarkirkan mobilnya. Sakura muncul tak lama kemudian, disusul ibunya.
"Sakura!" seru Ino menyambut sahabatnya di pintu. Sakura mengangkat alisnya.
"Selamat pagi, Ino," sapa Azami ramah. "Tumben datang pagi-pagi begini?"
"Selamat pagi, Bibi," balas Ino seraya mengangguk sopan. "Aku ada sedikit keperluan dengan Sakura." Ditariknya lengan sahabatnya itu, menariknya ke meja di sudut sementara Azami melangkah ke tempatnya yang biasa di belakang meja konter bersama Ayame.
"Kau sudah memberitahu Sai, kan?" desak Ino.
Sakura memandang sahabatnya itu dengan wajah muram, lalu mengangguk. "Naruto yang memberitahunya."
Ino menarik napas, tampak sangat gugup. Melihat ini Sakura memalingkan wajahnya. Ekspresi Ino mengingatkannya pada sikap Neji semalam, dan mengingat cowok itu membuatnya dadanya terasa sesak.
"Hei." Tepukan di lengannya membuat Sakura kembali menoleh pada Ino. "Apa menurutmu Sai akan membenciku… setelah ini?"
Apakah aku membenci Neji, setelah apa yang terjadi…?
Sakura memberinya senyum menguatkan. "Jika dia benar-benar suka padamu, dia tidak akan begitu."
Ino tidak berkata apa-apa selama beberapa saat. Hanya menatap Sakura. "Sakura, kau aneh," ungkapnya kemudian.
"Hm?" Sakura pura-pura heran.
"Kenapa matamu berkaca-kaca begitu?"
Sakura mengangkat tangannya dengan terkejut, menghapus air mata yang baru saja terjatuh dari sudut matanya tanpa ia sadari. "Ah—Ini…" Sakura membersit hidungnya dengan tisu yang diambilnya dari atas meja. "Aku hanya… tidak tahan setiap kali.. um… maksudku, kau adalah gadis pertama yang membuatnya benar-benar jatuh hati, Ino. Pasti sangat berat…"
"Jangan dilanjutkan," potong Ino. Matanya sendiri juga sudah mulai berkaca-kaca. "Ini juga berat bagiku, Sakura."
Sakura mengangguk, merangkul pundak Ino.
Setidaknya perasaan Sai terbalas, walaupun tidak dengan cara yang seharusnya. Setidaknya Ino juga mencintai dia… Tidak seperti aku…
Pengunjung restoran datang satu demi satu, dan tempat itu perlahan menjadi ramai. Suara musik dari stereo box mengalunkan suara merdu milik penyanyi pria favorit Ayame –gadis itu yang menentukan lagu apa yang diputar di restoran untuk hari ini.
Lagu kedua mulai mengalun ketika seorang cowok berambut pirang melangkah masuk diikuti sahabatnya. Sakura yang saat itu baru saja selesai membantu Isaribi membawakan pesanan buru-buru berpaling saat ia bersitatap dengan mata onyx milik Sasuke. Ia tersenyum tipis pada Naruto.
"Sai tidak bersama kalian?" tanyanya dengan suara sedikit serak.
"Katanya dia akan datang sebentar lagi," jawab Naruto. Kerutan samar muncul di antara kedua alisnya memandang Sakura. "Kau sakit? Wajahmu pucat begitu."
"Aku baik-baik saja," sahut Sakura pelan, sebelum kemudian berbalik menuju ruang ganti pegawai untuk… sedikit menenangkan diri. Entah sampai kapan ia mampu berpura-pura tak ada yang terjadi padanya di depan sahabat-sahabatnya seperti ini. Bukannya Sakura ingin menutup-nutupi, hanya saja ia belum siap memberitahu mereka.
Terlebih pada Sasuke.
"Hei, Ino," sapa Naruto kaku sambil mendudukkan diri di bangku di seberang meja tempat Ino duduk.
"Hei," balas Ino. Bertemu sahabat-sahabat Sai membuatnya semakin gugup. "Hai, Sasuke."
"Hn." Sasuke masih memandangi pintu khusus pegawai yang baru saja menutup beberapa saat yang lalu, sebelum kemudian beralih menatap Ino tajam. Gadis itu berpaling untuk menghindari tatapannya yang seolah menyalahkan.
"Jadi… kalian berdua juga datang?"
"Tentu," sahut Naruto sambil menghela napas berat. "Kupikir Sai bakal membutuhkan kami nanti."
Ino memberinya senyum tak enak, sebelum beranjak dari sana untuk menghampiri Sakura yang baru saja keluar dari ruangan pegawai.
"Aku tidak yakin sanggup melakukan ini, Sakura," bisik Ino dengan suara tercekat, panik.
Sakura menggeleng, meraih kedua tangan Ino yang dingin dan berkeringat, menggenggamnya erat-erat. "Kau harus melakukan ini, Ino," ucapnya menguatkan. "Kau harus memilih. Sekarang, atau kau akan terus melukai Sai –juga dirimu sendiri. Bukankah kau sendiri yang bilang begitu?"
"Aku tidak tahu…" Ino berbisik. "Aku tidak tahu, Sakura."
"Oh, dia datang!"
Sebuah Porsche merah baru saja memasuki lapangan parkir –dan Sakura merasakan cengkeraman tangan Ino padanya mengerat. Sakura menepuk pelan tangan sahabatnya sebelum melepaskannya, membiarkan Ino melanjutkan sendiri, menyelesaikan urusan-nya dengan Sai.
"Sai," sambut Ino seraya menghampiri cowok berambut ebony itu di pintu masuk.
"Halo, Ino," balas Sai cerah, seakan periode saat gadis itu terus-terusan menghindarinya tak pernah terjadi. Tanpa beban ia mendaratkan kecupan ringan di pipi gadis itu, membuatnya merona. "Aku membawakan sesuatu untukmu. Mungkin kau sudah punya banyak di tokomu. Tapi yang ini istimewa," Sai mengulurkan setangkai mawar putih segar yang sedari tadi disembunyikan di belakang punggungnya.
Ino tampak terkejut saat ia mengenali jenis mawar itu. "Sai, i-ini…"
Dengan senyum di wajahnya, Sai mengangguk. "Mawar putih yang ditanam kakakku di kebun kami. Mawar yang sama yang sering ia kirim untukmu –ya. Kau suka?"
Ino menggigit bibirnya, tak sanggup berkata apa-apa. Bahkan sekedar ucapan terimakasih sekali pun. "Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu, Sai," ucapnya kemudian, menarik tangan cowok itu menuju meja kosong yang sudah disiapkan oleh Sakura –di luar jarak pendengaran Naruto dan Sasuke yang terus mengawasi mereka sejak Sai datang.
"Kau ingin bicara apa, hm?" tanya Sai penasaran saat keduanya sudah duduk berhadapan.
Sejenak Ino tampak bingung dari mana harus memulai. Ia menggigit bibirnya. "Ini… tentang kita," ia memulai. Ditatapnya mata Sai dalam-dalam. "Aku harap kau bisa mengerti situasi yang terjadi di antara kita sekarang, Sai. Aku sudah punya Idate—"
"Aku tahu itu, dan aku tak peduli," sela Sai mulai gusar.
"Please, dengarkan aku dulu," kata Ino lebih tegas. "Kita tidak bisa meneruskan ini."
Sai terdiam beberapa saat. "Kau bergurau, Ino," ujarnya setelah itu sambil terkekeh. "Kau tahu itu sama sekali tidak lucu."
"Aku tidak sedang bergurau, Sai," tegas Ino. "Sejak awal hubungan kita memang sudah salah. Sejak awal seharusnya aku tidak menuruti emosiku dan menerimamu menjadi… menjadi…" kata-katanya menggantung begitu saja, "Pokoknya aku tidak bisa. Idate adalah kekasihku dan aku tak bisa mengabaikannya begitu saja, Sai."
"Aku tak peduli, I—"
"Tapi aku peduli!" tukas Ino dengan suara melengking, putus asa, membuat mata orang-orang terarah pada mereka. Matanya mulai berkaca-kaca lagi. "Aku mengenal kekasihku dengan baik, Sai, dan lihat apa yang diperbuatnya padamu. Lihat akibatnya karena permainan kecil kita! Aku tidak mau semua itu terulang lagi, terlebih padamu!"
"Ino…"
"Jangan pernah lagi berkata kalau kau tak peduli, karena aku peduli. Please, mengerti posisiku sekarang. Idate sudah menunjukkan apa yang bisa dia lakukan, dan aku tak bisa –aku tidak mau membayangkan apa yang bakal terjadi jika kita meneruskan ini." Air matanya sudah jatuh sekarang. "Kita akan mengakhirinya sekarang."
Sai menggeleng, masih tak percaya dengan apa yang baru didengarnya. "Tidak—"
"Ya," bisik Ino di antara isakannya. "Mulai sekarang aku bukan lagi kekasihmu. Aku akan kembali pada Idate."
"Tapi kau mencintaiku!"
"Aku mencintai IDATE!" jerit Ino. "Bagaimana pun… aku menyayanginya dan tidak ingin kehilangan dia, Sai. Tolong… Lepaskan tanganku, dengan begitu kau akan lebih bahagia."
"Bahagia?" dengus Sai, "Dengan melihatmu bersama orang lain?"
"Aku yakin masih ada gadis baik-baik di luar sana untukmu. Yang tidak membagi hatinya dengan orang lain seperti yang kulakukan."
"Tapi aku menginginkanmu."
Ino menggeleng pelan.
"Aku mencintaimu, Ino."
Sekali lagi gadis itu menggeleng. "Sayangnya…" suaranya tercekat, lalu dusta itu meluncur dari bibirnya, "…aku tidak merasakan hal yang sama. Selamat tinggal."
"Tunggu—" Sai menangkap lengan gadis itu saat Ino beranjak dari duduknya. "Ino—"
Dengan kasar Ino menyentak lepas cengkeraman Sai, lalu berlari keluar.
"Ino!"
Sai baru saja hendak mengejarnya, tapi Naruto memblokir jalannya.
"Minggir."
Naruto mengabaikannya, malah mempererat pegangannya pada sahabatnya yang sedang kalap itu.
"Naruto, minggirlah." Sai berusaha melepaskan diri.
"Tidak. Biarkan dia pergi, Sai. Kendalikan dirimu. Sasuke—"
Sasuke bergerak maju, menarik lengan Sai yang lain. Dan bersama-sama dengan Naruto, mereka memaksa Sai kembali ke bangkunya. Napasnya tersengal-sengal. Sai masih mencoba melepaskan diri dari cengkeraman kedua sahabatnya.
"Whoa… apa mereka dengan syuting film drama?" komentar Kotetsu yang sedari tadi menonton mereka dengan tercengang dalam bisikan.
"Berisik!" desis Isaribi yang berada di dekatnya. "Sebaiknya jangan ikut campur dan lanjutkan saja pekerjaanmu. Sakura?" gadis itu menoleh pada Sakura dan terkejut melihat putri pemilik restoran itu terisak di tangannya. "Kau tidak apa-apa?"
Namun Sakura mengabaikannya dan berjalan ke meja Sai.
Begitu melihat Sakura mendekat, Sasuke yang tadinya duduk di samping Sai langsung menyingkir. Ia tampak tidak terkejut melihat Sakura menangis seperti itu, tidak seperti Naruto yang langsung melongo seperti orang tolol saat Sakura mengambil tempat Sasuke dan langsung melingkarkan lengannya ke bahu Sai yang gemetar, memeluknya.
"Sudahlah, Sai…" bisik Sakura di antara isakannya sendiri, seraya mengusap-usap lembut punggung Sai. "Tidak apa-apa. Kau masih punya kami…" Sakura mengeratkan pelukannya, membenamkan wajahnya di bahu cowok itu, meredam isakannya.
Benar. Aku masih punya kalian…
"It's okay… Tidak apa-apa jika kau ingin menangis. Aku mengerti…" bisik Sakura lagi.
Dan itu adalah pertama kalinya Sai menangis, semenjak kakak yang sangat disayanginya meninggal. Sai balas memeluk Sakura erat-erat, seakan mencari pegangan pada tubuh yang lebih kecil itu. Cowok itu menangis, dalam pelukan sahabatnya. Dalam tepukan menguatkan tangan Naruto di bahunya.
Dan juga Sasuke, yang kemudian kembali lagi ke meja itu untuk membawakan minuman hangat untuk mereka berempat.
Jangan khawatir. Kami tidak akan meninggalkanmu.
.
.
You just call out my name and you know whereever I am
I'll come runningto see you again
Winter, spring, summer or fall
All you have to do is call
And I'll be there...
You've got a friend
.
.
TBC…
.
.
Fiuh, leganya chapter ini selesai… Gak nyangka scene yang sudah kebayang-bayang sejak ngonsep fanfic ini akhirnya tertuang juga. Walau pun abal dan agak mendramatisir –bukan agak lagi kayanya.. -_-a Ya sudahlah…
Btw, aku nulis chapter ini sambil dengerin lagunya Bread yang 'Lost Without Your Love' (sebagian liriknya kumasukin di atas) dan 'Say It Isn't So'-nya Gareth Gates. Kalo penasaran gimana lagunya, silakan download sendiri. Hehehe... Sedangkan yang bagian bawah sebelum TBC itu, lirik lagu 'You've Got A Friend' yang kayanya udah terkenal banget. ^^
Yauda atuh, gitu aja bacotan saya. Yang sudah mereview chapter kemarin, makasih banyak-banyak banget.. *bowed* Yang mau meninggalkan review lagi, monggo… selalu ditunggu. ^^
Makasih sudah membaca.
