Hari Senin paginya, kesibukan persiapan festival sekolah kembali dimulai. Para siswa Konoha High tampak sangat bersemangat. Pagi-pagi sekali mereka –baik panitia maupun bukan—sudah mulai berdatangan ke sekolah untuk mempersiapkan segalanya. Kelas-kelas yang akan dipakai sebagai stand indoor mulai dihias, panggung-panggung kecil di bagian luar gedung sekolah juga mulai dibangun, begitu juga dengan tenda-tenda untuk stand outdoor.

Bahkan para guru pun tak ingin ketinggalan dengan murid-murid mereka. Di tengah kesibukan mengolah nilai para siswa paska-ujian semester, mereka juga menyempatkan diri membuat stand makanan tradisional yang diketuai oleh Ibu Anko Mitarashi –beliau yang paling bersemangat.

Beberapa klub yang akan mengadakan pertunjukkan juga tak kalah sibuk. Band dan choir dari klub musik sudah sibuk latihan dari jauh-jauh hari, begitu pula dengan klub cheerleader dan dance. Klub komputer dan science juga mulai mempersiapkan pameran ilmiah kecil-kecilan mereka. Dan tentu saja, klub teater yang menjadikan festival sekolah tiap tahunnya sebagai salah satu proyek pementasan besar mereka.

Pagi-pagi mereka sudah mulai memindahkan properti panggung yang tadinya disimpan di gudang klub ke ruangan bagian belakang gymnasium. Tirai dan lampu untuk pencahayaan panggung yang nanti akan digunakan juga sudah mulai dipasang, pun begitu dengan latarnya yang sudah disusun berdasarkan babak.

Dan di antara para siswa yang sibuk itu, Sasuke Uchiha adalah satu di antaranya. Tentu saja, karena ia adalah penanggung jawab bagian peralatan, termasuk tetek bengek pesiapan panggung untuk pementasan teater.

"Oke, sekarang kita coba tutup tirainya!" seru Sasuke seraya melompat turun dari bibir panggung. Ia memberi isyarat tangan pada sahabatnya yang berambut pirang –Naruto—yang berada di dekat tuas penarik tirai.

Naruto mengangguk. Ia sedikit kesulitan menarik tuas yang memang sudah alot itu sebelum akhirnya berhasil. Tirai merah itu perlahan bergerak menutupi bagian depan panggung. Sasuke mengangguk puas. Tirai itu sudah tidak macet lagi.

"Buka tirainya, Naruto!" seru Sasuke lagi. Dan tak lama, tirai itu kembali bergerak membuka perlahan-lahan.

"Sip!" seru gadis kelas tiga berambut cokelat dicepol, Tenten, yang sedari tadi mengawasi mereka dari sisi panggung. Ekspresinya gembira. "Kurasa tirainya sudah oke. Trims ya, teman-teman! Oh—hei! Hati-hati dengan latarnya!" ia meneriaki anak kelas satu yang canggung tiba-tiba tersandung debu atau apa dan jatuh menabrak layar latar hasil karya Sai.

"Huff!" Naruto melompat turun dari bibir panggung, menghampiri Sasuke sambil menepuk-nepukkan tangannya yang kotor oleh debu. "Di sini sudah selesai kan, eh?" tanyanya seraya memandang ke arah panggung, di mana anak-anak klub teater sedang sibuk menggeser-geser properti ke sana kemari, menjajal benda apa yang tepat ditaruh di mana. Tentu saja dengan pengarahan sutradara mereka.

Tepat saat itu beberapa cowok baru saja memasuki gymnasium seraya menggotong piano tua dari ruang musik.

"Hei, ini ditaruh di mana?" tanya salah satu dari mereka.

"Taruh saja di sana," Sasuke menunjuk sudut di depan panggung. "Dari tadi aku tidak melihat Sai. Kemana dia?" tanya Sasuke pada Naruto sementara para cowok memindahkan piano yang berat itu ke tempat yang ditunjuknya.

"Kau lupa, ya? Hari ini dia ujian susulan. Tadi aku melihatnya dengan Pak Hatake," kata Naruto sambil nyengir. "Kuharap dia tidak stress. Kau tahu kan, ujian Aljabar kemarin gila-gilaan?"

"Hn." Sasuke menghela napas. Masalahnya bukan sulit tidaknya soal ujian, pikirnya, tapi apakah Sai bisa berkonsentrasi setelah sebelumnya mengalami hari yang sangat berat. Sasuke mengerti betul bahwa patah hati itu bukan sesuatu yang bisa diatasi hanya dalam waktu semalam –yah, ia pernah mengalaminya sendiri, kan?

Sasuke kemudian berbalik menuju bangku tribun, tempat ia dan Naruto menyimpan tas mereka. Ia mengambil botol air mineral dari dalamnya dan menenggak isinya banyak-banyak. "Bagaimana dengan Sakura?" ia tak bisa menahan diri bertanya pada sahabatnya setelah beberapa saat.

Naruto mengambil waktu menenggak airnya sebelum menjawab, "Katanya dia mau membantu Hokuto mendekorasi rumah hantu."

"Hn." Sasuke menghenyakkan diri duduk di sebelah Naruto setelah memasukkan kembali botol airnya ke dalam tas.

"Omong-omong soal Sakura," ujar Naruto sedikit menerawang. "Kau merasa sikapnya sedikit aneh tidak? Atau ini hanya perasaanku saja?"

Sasuke tak menjawab. Pertanyaan yang sebenarnya sudah mengganggunya sejak kemarin, sebetulnya.

"Dia kelihatannya agak murung, tidak banyak bicara dan sering melamun. Mukanya juga pucat seperti orang sakit—TUNGGU DULU!" seru Naruto tiba-tiba, membuat Sasuke menolehkan kepala ke arahnya dengan kedua alis terangkat karena terkejut melihat ekspresi ketakutan di sana. "Jangan bilang kalau Sakura memang sakit—sakit yang benar-benar parah sampai-sampai dia tidak mau memberitahu kita! Haah… mungkin itu sebabnya dia menangis kemarin—Ouch!"

Sasuke telah menimpuk kepala sahabatnya itu dengan gulungan kertas yang dibawanya keras-keras, menyela perkataannya.

"Hei, apa maksudnya itu?" dengking Naruto dengan wajah kesal. Tangannya mengusap-usap ubun-ubunnya yang baru saja didarati sambitan telak.

"Idiot! Kau ini kebanyakan nonton opera sabun!" dengus Sasuke geram. "Sakura tidak sakit yang seperti itu."

"Lalu apa? Apa kau bermaksud mengatakan Sakura kemarin menangis karena masalah Sai—yeah, memang sih, tidak heran kalau Sakura sampai menangis, tapi tidak sampai seperti itu, kan? Maksudku, Sakura bahkan masih menangis saat Sai sudah lebih tenang. Apa itu tidak berlebihan namanya? Dan kau juga berlagak tak peduli begitu—Ow!"

Sekali lagi Sasuke menyambit kepalanya. "Atas dasar apa kau menyebutku tidak peduli?" semburnya.

Naruto balas mendelik, tapi tidak mengatakan apa pun untuk membalasnya. Setidaknya selama beberapa saat. "Aku sempat mengira semuanya sudah kembali seperti semula saat kita berempat duduk semeja kemarin," ujarnya kemudian diiringi helaan napas berat. "Itu sebelum aku menyadari kau dan Sakura bahkan tidak saling bicara."

Hela napas berat juga terdengar dari arah Sasuke. Cowok pemilik mata hitam tajam itu menyandarkan punggungnya pada bangku tribun di belakangnya, tampak berpikir. Ia belum menceritakan apa pun pada Naruto tentang pertemuannya dengan Sakura dan Neji malam sebelumnya di KCS, dan bagaimana ekspresi aneh gadis itu saat melihatnya. Meskipun ia curiga telah terjadi sesuatu, tapi Sasuke masih ragu –itu sebabnya ia tidak menceritakannya dulu pada Naruto, mengingat perangai sahabatnya itu yang akan langsung ambil tindakan tanpa pikir panjang jika ada hubungannya dengan Sakura. Ia tidak ingin mengambil resiko Sakura semakin membencinya karena itu –itu pun jika benar Sakura memang membencinya.

"Sasuke!"

Tepukan di bahunya membuyarkan lamunan Sasuke. Ia menoleh, alisnya terangkat. "Huh?"

"Jadi kau berencana bicara pada Sakura dalam waktu dekat tidak?" tanya Naruto. "Besok dia sudah mulai pentas. Masa kau tidak ingin mengucapkan semoga suk—"

"Iya, iya. Akan kupikirkan lagi," sela Sasuke tak sabar.

"Jadi kau mau minta maaf?" Naruto tampak senang.

Sasuke menghela napas. "Aku tidak bilang mau minta maaf," gerutunya, membuat ekspresi Naruto berubah tak puas.

"Che! Dasar keras kepala! Haah…" Naruto menggaruk-garuk kepala pirangnya.

Tepat saat itu, seorang gadis berkacamata muncul di pintu. Kepalanya menoleh ke sana kemari sebelum akhirnya menemukan orang yang dicarinya di tribun. "Uchiha!" panggilnya seraya bergegas menghampiri Sasuke yang menoleh padanya. "Menma menyuruhmu datang ke ruang OSIS sekarang. Dengan si Kinuta juga. Kau lihat dia?"

"Dosu tadi sih sedang bantu-bantu memasang spanduk di depan," Naruto lah yang menjawabnya. "Mungkin dia masih di sana."

Shiho –nama gadis itu—mengangguk, kemudian berkata pada Sasuke, "Oh ya, ada satu daftar calon anggota yang masuk lagi tadi pagi."

Sasuke mengangkat sebelah alisnya. "Bukannya pendaftarannya sudah ditutup?"

Shiho meletakkan dua tangannya di pinggul. "Geez... ditutup tidak ditutup, yang jelas kita masih kekurangan anggota cowok –salah siapa ya yang melamar sebagian besar cewek?" gadis itu menambahkan sambil memutar matanya.

Naruto terkekeh geli. "Tuh kan, serba salah banget punya muka cakep."

Sasuke mengabaikan komentar sahabatnya. "Siapa?"

"Sai Shimura. Pastinya kau tidak akan keberatan, kan?" Shiho memberinya senyum tipis sebelum berbalik pergi.

"Tidak," sahut Sasuke pelan seraya mengulum senyum supertipis. "Tentu saja tidak keberatan—" delikan tajam ia berikan pada Naruto yang entah mengapa malah berpura-pura melihat ke arah lain. "—dari pada seseorang yang bahkan tidak mau mengisi formulir pendaftaran." Mendengus oleh sikap Naruto yang menurutnya konyol, Sasuke lantas menyambar tasnya dan beranjak menuju pintu ke arah gedung kampusnya.

"Oi, Sasuke!" Naruto melompat bangun, berteriak pada punggung sahabatnya, "Kau kan tahu aku tidak bisa mendaftar! Aku mencalonkan diri jadi ketua klub sepak bola—OI!"

Tapi Sasuke hanya membalas dengan kibasan malas sebelah tangannya. "Kau urus saja yang di sini!" serunya tanpa menoleh.

Naruto berdecak sebal saat punggung Sasuke menghilang di pintu. Kedua tangannya di pinggang. "Che! Si sialan itu bahkan tidak mau mendengarkan alasanku," sungutnya.

.

.

"Jadi hari ini kita akan pulang malam?" gerutu Hokuto seraya menempelkan potongan double tape yang diulurkan Sakura di bagian belakang Jack-O-Lantern kertas yang sedang di kerjakannya. Duduk di depannya, gadis berambut merah muda itu menggumamkan 'ya' dengan nada tak terlalu bersemangat. "Sehari sebelum pementasan? Yang benar saja!"

"Setiap tahun juga begitu, kan?" gumam Sakura, menggunting potongan lain double tape di tangannya. "Latihan sekali, setelah itu malamnya, saat semua orang sudah pulang, kita akan gladi bersih."

Hokuto menoleh, meringis. "Kau tahu aku tidak ikut pementasan tahun kemarin, Sakura."

"Oh, yeah. Betul…" gumam Sakura lagi –tidak benar-benar mendengarkan temannya.

"Kau kenapa, sih?" Hokuto melompat dari kursi yang tadi dinaikinya dan menatap Sakura penasaran. "Lihat mukamu itu suntuk begitu. Biasanya kalau bicara tentang pementasan, kau selalu paling semangat, kan?" ia mengikik. "Hei, masa kau mau bertampang seperti itu saat bertemu dengan Neji nanti?"

Sakura tersentak. Mendengar nama itu sekali lagi disebut seperti menusukkan belati tak kasat mata sekali lagi ke dadanya. Sakit. Dan membuatnya tersadar bahwa apa yang terjadi dua malam yang lalu bukanlah akhir. Ia masih harus bertemu dengan Neji. Ia masih harus berinteraksi intens dengan cowok itu. Ya Tuhan… Bagaimana bisa Sakura sampai nyaris melupakan bahwa Neji masih menjadi partnernya dalam pementasan drama?

Bagaimana ini…?

"Sakura? Kau mau kemana?" tanya Hokuto terheran karena tiba-tiba Sakura meletakkan hiasan yang sedang dipegangnya dan berjalan menuju pintu ruang kelas yang masih berantakan oleh koran-koran bekas dan gulungan kain hitam yang entah akan dibuat apa nantinya.

Sakura berhenti di ambang pintu dan menoleh, memaksakan senyum kaku di wajahnya. "Ke toilet. Nanti aku kembali lagi."

"Hei, sebentar lagi kita harus ke aula untuk latihan. Saku—"

Tapi Sakura sudah keburu melesat pergi dari ruangan itu, nyaris bertabrakan dengan Sumaru dan Mizura yang tengah menggotong tengkorak bohongan di belokan koridor. Sakura menundukkan wajahnya dalam-dalam, menyembunyikan wajahnya yang sudah terasa panas dari anak-anak yang dilewatinya.

Jangan menangis sekarang… Jangan menangis sekarang… tolong…

Keberuntungan rupanya sedang tidak berpihak padanya saat itu. Toilet anak perempuan yang paling dekat ternyata penuh dengan gadis-gadis kelas tiga, sementara ia nyaris sudah tak bisa menahan air matanya lagi. Dan ketika ia memutuskan untuk mencari kelas kosong untuk menenangkan diri, Neji Hyuuga lah orang pertama yang keluar dari ruangan itu sebelum Sakura sempat mencapainya.

"Sakura?" Neji tampak terkejut.

Sakura terpaku di tempatnya. Udara seakan tersedot dari sekelilingnya, membuat dadanya terasa sesak saat matanya bertemu pandang dengan mata keperakan yang dulu selalu ia kagumi itu –tapi sekarang hanya menimbulkan sakit.

Sakit. Mengapa rasanya begini sakit…?

Tanpa mengatakan apa pun, dan tanpa menghiraukan suara Neji yang sekali lagi memanggil namanya, Sakura berpaling dan berlari ke arah tangga. Segalanya tampak mengabur, suara-suara di sekelilingnya terdengar seperti dengungan sementara gadis itu berlari tanpa tujuan. Yang ada dalam pikirannya saat itu hanyalah berada sejauh mungkin dari Neji. Sakura masih belum siap bertemu dengan cowok itu lagi.

Napasnya terengah-engah ketika akhirnya langkahnya terhenti di sebuah koridor kosong di lantai tiga, jauh dari hiruk pikuk persiapan festival sekolah. Sakura menyandarkan punggungnya pada dinding yang dingin, merasakan emosi yang sejak tadi tertahan mulai menguasainya sepenuhnya. Sakura membiarkan tubuhnya merosot ke lantai. Didekapnya lututnya erat-erat dan menyembunyikan wajahnya di sana. Sedu sedan yang teredam terdengar tak lama kemudian.

Gadis itu sama sekali tidak menyadarinya saat pintu salah satu kelas di koridor itu bergeser membuka dan sosok jangkung guru sekaligus pamannya melongok dari sana. Barangkali penasaran dengan suara-suara aneh yang didengarnya dari luar.

Kakashi Hatake lantas mengangkat kedua alisnya tinggi begitu melihat seorang gadis dengan rambut merah muda panjang yang dikenalnya berjongkok di ujung koridor dekat tangga, dengan wajah terbenam di lututnya.

"Sakura?" panggilnya pelan.

Bahu Sakura tampak menegang, dan ketika ia mengangkat wajahnya dan melihat siapa yang memanggilnya, matanya terbelalak. "K-Kakashi?" Gadis itu buru-buru bangkit, mengusap basah di wajahnya dengan gugup.

Kakashi tersenyum, lalu melangkah keluar dari kelas sebelum menggesernya sebagian. "Kau sedang apa di sana sendirian, hm?" tanyanya seraya berjalan menghampiri keponakannya. Senyumnya memudar saat ia melihat sisa air mata di wajah gadis kesayangannya. "Kau… menangis?"

Sakura menggelengkan kepala. "Tidak," jawabnya berbohong seraya menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga –seperti yang selalu dilakukannya setiap kali merasa gugup atau salah tingkah—"Aku hanya kelilipan."

Kakashi menunduk, menatap Sakura dalam-dalam. Jelas Kakashi tidak percaya begitu saja dengan perkataan keponakannya, tapi ia tidak mendesaknya. Hanya mengulurkan tangan dan mengusap puncak kepala Sakura lembut tanpa berkomentar lebih lanjut tentang air matanya.

"Lain kali hati-hati, Nak."

"Hmm… Paman masih saja memperlakukanku seperti anak kecil," komentar Sakura dengan suara serak seraya menurunkan tangan pamannya dari atas kepalanya, membalas senyumnya. "Kau sendiri sedang apa di sini?"

Kakashi melambaikan tangannya sekilas ke kelas tempat ia keluar tadi. "Temanmu, Sai, sedang ujian susulan. Aku sedang mengawasinya."

"Ah," Sakura mengangguk paham. Ia melangkah melewati Kakashi menuju kelas yang ditunjuknya sebelumnya. Dari pintu yang setengah terbuka itu, Sakura bisa melihat Sai duduk di salah satu bangku, tampak sibuk berkutat dengan kertas ujian di atas mejanya. Tangannya berkali-kali menyisir bagian depan rambutnya. Sakura meringis. "Kuharap soal yang kau buat tidak terlalu sulit untuknya," ujarnya pada Kakashi.

"Hmm… Kalau kau, Shiho, Sasuke Uchiha dan Shikamaru Nara bisa mencapai angka setinggi itu di ujian kemarin, aku yakin itu bukan soal yang sulit," Kakashi berkata enteng.

Sakura menoleh memandang pamannya yang tersenyum. "Maksudmu hanya kami berempat di antara seratus lebih murid kelas dua?" ujarnya dalam bisikan seraya memutar bola matanya, "Seharusnya kau mendengar apa yang dikatakan anak-anak tentang Kakashi Hatake dan soal-soal ujiannya, Paman."

Kakashi hanya menanggapinya dengan kekehan kecil. "Yah, kurasa aku sudah cukup mendengarnya, Sakura," ujarnya santai, lalu meletakkan sebelah tangannya di pundak keponakannya, mendesaknya menjauhi pintu yang tetap dibiarkan setengah terbuka. "Sebaiknya kita jangan mengganggu konsentrasinya."

"Ibumu dan aku mengobrol kemarin," ujar Kakashi kemudian. Ia sedang bersandar di sisi jendela di seberang pintu kelas dengan kedua lengan dilipat di depan dada, mengerling sang keponakan yang tengah memandang ke arah jendela, mengawasi kegiatan teman-temannya di bawah sana.

"Hm?" Sakura mengalihkan perhatiannya pada Kakashi.

Pria berambut perak itu tersenyum kecil sebelum barkata, "Ibumu memberitahuku kau sering mengurung diri di kamarmu akhir-akhir ini. Dia bilang sering mendengarmu menangis diam-diam." –Sakura kembali memalingkan wajahnya, menghindari tatapan pamannya. "Dia tanya padaku apa kau ada masalah di sekolah, masalah dengan pelajaran atau dengan teman-temanmu –karena katanya kau selalu menghindar setiap kali ditanya."

"Tidak ada masalah apa-apa," jawab Sakura dalam gumaman pelan.

"Baru saja aku bilang, kan?" Kakashi menghela napas. "Aku tidak akan memaksamu bercerita, Sakura. Tapi ibumu sangat khawatir. Bagaimanapun kau mencoba menyembunyikannya, dia akan selalu tahu jika kau ada masalah sekecil apa pun. Darah itu lebih kental dari air, Nak."

Sakura terdiam selama beberapa saat. Ia menyandarkan kepalanya pada kaca jendela, merasakan dinginnya material bening itu pada kulit di dahinya yang lebar, sementara hembusan napasnya membentuk embun di sana. Sakura memejamkan matanya yang masih terasa perih akibat seringnya ia mengeluarkan air mata beberapa hari belakangan ini.

"Aku tidak tahu harus bercerita bagaimana pada ibu, Kakashi," akunya parau. "Aku tidak mau membuat ibu cemas, tidak ingin membuat ibu marah—lagi pula ini hanyalah masalah kecil," ia buru-buru menambahkan seraya mengangkat wajahnya menatap pamannya. "Nanti juga akan baik sendiri."

"Sakura," kata Kakashi sabar seraya meletakkan sebelah tangannya di bahu gadis itu, "Menurutku ibumu ingin dilibatkan dalam setiap potongan kecil kisah hidupmu –sesepele apa pun itu. Karena kau adalah miliknya yang paling berharga sekarang, dan satu-satunya. Sedikit berbagi duka dengannya tak akan melukainya. Justru barangkali malah bisa menyembuhkan lukamu walau sedikit. Bukankah itu yang selalu coba dilakukan ibumu?"

Sakura tertegun. Namun sebelum ia sempat membuka mulut untuk menanggapinya, terdengar suara lain yang kemudian mengalihkan perhatian mereka berdua.

"Saya sudah selesai, Pak," lapor Sai yang baru saja keluar dari kelas. Tasnya sudah tersampir di bahu dan bagian depan rambut hitamnya mencuat kemana-mana. Tampangnya sama kusutnya dengan rambutnya. "Jawaban dan soalnya saya simpan di atas meja."

Kakashi mengangguk, lalu menurunkan tangannya dari bahu Sakura dan berjalan ke kelas. "Kau boleh istirahat sekarang, Sai."

"Terimakasih, Pak Hatake," ucap Sai saat Kakashi berjalan melewatinya.

"Bagaimana ujianmu?" tanya Sakura dengan nada dipaksakan terdengar riang.

Sai mengangkat bahunya. "Lumayan juga," gumamnya seraya berjalan menghampiri Sakura di sisi jendela, "Lumayan membuat kepala nyaris pecah," imbuhnya dalam bisikan.

Sakura terkekeh kecil. Diulurkannya tangannya untuk merapikan bagian depan rambut Sai, menyisirinya dengan jemarinya sampai kembali rebah rapi di kening pucat cowok itu. "Lumayan membuat rambut seperti habis kena kebakaran mungkin lebih tepat."

Sai memberinya senyumannya yang biasa. "Terimakasih."

"Huh?" Kedua alis Sakura terangkat tinggi. "Untuk apa?"

"Um…" Sai tampak berpikir. "Entahlah," ujarnya kemudian dengan tawa kecil, seraya menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal. "Terlalu banyak alasan sampai aku bingung mengatakannya."

"Hei…" Sakura pura-pura memasang tampak tak suka. "Aku kan tidak melakukan apa-apa untukmu, Sai. Eh—tunggu! Apa aku pernah kelepasan memberitahumu bocoran soal Aljabar?"

Sai menggeleng, dan sedetik kemudian tawa keduanya pecah, sebelum disela oleh Kakashi yang baru keluar dari kelas dengan membawa kertas ujian Sai dan beberapa buku –termasuk novel bersampul oranye yang terkenal itu.

"Hee? Sepertinya ada yang lucu di sini, eh?"

"Pak Hatake mau tahu saja urusan anak muda!" ledek Sakura sambil menjulurkan lidah.

Kakashi mengekeh, mengibas-ibaskan tangannya yang bebas dari buku. "Ya sudah. Kalian lanjutkan saja kalau begitu. Lagipula, tertawa jauh lebih baik dari menangis kan, anak-anak?" tambahnya, kemudian berbalik pergi.

Kedua remaja itu bertukar senyum begitu punggung guru mereka menghilang di tangga menuju lantai dua. Dengan helaan napas panjang, Sakura kemudian kembali memandang ke jendela. "Benar," ujarnya pelan, "Tertawa jauh lebih baik."

"Meskipun sulit dilakukan di saat-saat tertentu," tambah Sai, ikut memandang ke luar.

"Hmm…" Sakura mengangguk setuju.

Lama keduanya terdiam setelah itu, menikmati keheningan yang menenangkan sembari memperhatikan teman-teman mereka berkutat di antara tenda-tenda stand di bawah sana. Lamat-lamat terdengar pula suara-suara tawa dan obrolan penuh semangat –sangat kontras dengan suasana hati kedua remaja ini.

Sai membuat gerakan kecil seperti tersentak saat tiba-tiba sesosok gadis berambut pirang panjang yang dikucir tinggi muncul dari salah satu deretan tenda stand berwarna merah marun di bawah sana. Ino Yamanaka tampak sibuk bersama beberapa gadis lain memasangkan hiasan pada bagian depan stand itu.

Dari sudut matanya, Sakura melihat perubahan di wajah cowok yang berdiri di sampingnya itu. Mata hitamnya seakan tersaput kabut dan tangannya terkepal erat di sisi tubuhnya, sebelum akhirnya ia berpaling memunggungi jendela.

"Sai," panggil Sakura lembut seraya mengulurkan tangannya, menyentuh tangan Sai yang dingin.

Sai tidak mengatakan apa-apa, pun tidak memandang Sakura. Hanya balas menggenggam tangan gadis itu erat, seakan dengan itu adalah hal terakhir yang bisa membantunya tetap berdiri tegak. Sebelah tangannya yang bebas memijit-mijit pangkal hidungnya.

"Maaf…" bisiknya dengan suara tercekat. Suara tawa tertahan meluncur dari bibirnya kemudian. "Entah kenapa aku jadi cengeng begini."

Sakura hanya menggelengkan kepala –dan saat berikutnya air matanya sudah meluncur turun lagi.

"Sakura," Sai terkejut, "Kau kenapa?"

Sakura menggeleng lebih keras, air matanya terjatuh lebih deras. Ia tak mengerti bagaimana menjelaskan perasaannya saat itu, tak mengerti apa sebenarnya yang menyesakkan hatinya. Melihat sahabatnya patah hati –atau karena dirinya sendiri yang juga patah hati. Semua yang terjadi belakangan ini membuat perasaannya campur aduk tidak karuan.

"Sakura…"

Sakura mencengkeram lengan kemeja Sai, menyembunyikan wajahnya di sana.

"Jika kau menangis karena masalah kemarin, sebaiknya kau berhenti sekarang," kata Sai dengan sekelumit rasa bersalah dalam nada bicaranya. Ia sama sekali tak habis pikir mengapa gadis itu bisa sampai menangi seperti ini hanya karena masalahnya dengan Ino –atau yang dipikirnya begitu. "Jangan membuatku lebih merasa bersalah lagi, Sakura. Please… Lagipula… mukamu jelek kalau menangis."

Sakura menarik kepalanya dari lengan Sai, membelalak pada cowok itu dengan mata merah. Dipukulnya lengan Sai main-main. "Jangan mengejekku!"

Sai mengabaikan rasa sakit di lengannya akibat pukulan Sakura –yang walaupun main-main, biasa akan tetap membuat merah kulit—Disekanya basah di wajah sahabatnya itu dengan kedua tangannya. "Aku tidak mengejekmu," katanya sungguh-sungguh. "Tapi mukamu memang kelihatan paling jelek kalau sedang menangis. Kau bilang, tidak apa-apa jika aku menangis. Tapi aku keberatan kalau kau menangis –seperti…" Sai meletakkan tangannya di depan dadanya, "…ada sesuatu yang mencengkeramku di sini. Rasanya tidak enak."

Sakura tertegun. Mulutnya membuka dan menutup seakan ingin mengatakan sesuatu –tapi tak sepatah kata pun yang keluar dari bibirnya. Speechless.

"Aku tidak suka melihat temanku menangis," tandas Sai. Sunyi menyela saat Sai menatap sepasang bola mata hijau zamrud yang kini terlihat sedikit bengkak milik sahabatnya lekat-lekat, seakan sedang berusaha membaca apa yang sedang dipikirkan gadis itu lewat matanya. Tiba-tiba saja ia merasa ada hal lain yang sedang disembunyikan Sakura. "Apa ada sesuatu yang mengganggumu?"

"Eh?" Sakura mengerjap. "Aa—tidak," sahutnya buru-buru. "Tidak ada apa-apa. Aku hanya… akhir-akhir ini sering teringat ayahku yang sudah meninggal," ujarnya mengarang alasan. "Aku merindukannya, Sai."

"Begitu…" Sai masih tak yakin, tapi ia tidak mendesaknya. "Omong-omong, sebentar lagi para siswa KAA akan mengadakan showcase. Kau mau menonton bersamaku?"

"Showcase?"

Sai mengangguk. "Itu semancam pertunjukkan seni sebagai tugas akhir untuk siswa senior. Biasanya akan banyak orang-orang penting yang akan melihat. Kakekku membolehkanku mengundang teman," ujar Sai, senyumnya sedikit memudar, "Tadinya aku ingin mengajak orang lain, tapi sepertinya itu sudah tidak mungkin lagi sekarang." Ia mengerling sekilas ke arah jendela, sebelum kembali memandang Sakura dengan senyumnya yang biasa. "Jadi… kau mau pergi denganku, kan?"

Sakura menjawabnya dengan anggukan. "Pasti akan menyenangkan," ujarnya sambil menyeka sudut matanya yang masih berair dengan lengan sweternya.

Tepat saat itu, getaran lembut yang berasal dari ponsel Sakura di saku roknya mengalihkan perhatian gadis itu dari Sai. Nama Hokuto terpampang di layar.

"Ya, Hokuto?"

"Sakura, kau kemana? Latihannya sudah mau dimulai. Cepat ke aula sekarang! Semua orang sudah berkumpul, tinggal kau—"

Sakura tersentak. "Iya, iya. Aku akan segera ke sana," sahutnya cepat, lalu segera memutuskan sambungan. "Aku harus pergi sekarang," beritahunya pada Sai. "Latihan."

"Oh, oke. Semoga latihanmu lancar," ucap Sai begitu Sakura berbalik pergi.

Ya. Semoga lancar…

Semoga…

.

.

Ya Tuhan… tolong kuatkan aku…

.

.

Semakin mendekati pintu aula sekolah, Sakura merasakan degup jantungnya semakin kencang. Tangannya pun terasa dingin dan berkeringat. Berkali-kali ia mencoba mengatur napasnya, berharap dengan begitu ia menjadi lebih tenang. Tapi nihil. Semakin ia melangkah, semakin dadanya sesak oleh rasa takut.

Aku takut bertemu mereka. Aku tidak siap.

"Ah, ini dia pemeran utama wanita kita sudah datang!" seru Kankurou –yang rupanya ikut hadir di latihan hari terakhir mereka—ketika Sakura melangkah masuk.

Gadis itu berhenti dan menahan napasnya saat dilihatnya kepala semua orang menoleh ke arahnya. Termasuk Neji. Dia ada di sana, menatapnya dengan sorot mata tak terbaca. Sakura segera memandang ke arah lain, menghindari tatapan itu sebelum melengos ke sisi lain ruangan, tempat Hokuto duduk, jauh dari cowok itu.

"Kau kemana saja?" tanya Hokuto begitu Sakura sudah duduk di bangku kosong di sebelahnya, meletakkan tas di bawah kursi. "Astaga, Sakura. Kau habis menangis?" cecarnya lagi saat menyadari mata hijau temannya itu terlihat sembab. "Wajahmu juga pucat. Kau sakit?"

Sakura memaksakan seulas senyum, lalu menggeleng. "Aku tidak apa-apa."

Tapi Hokuto tampaknya masih khawatir. Ia menyentuh tangan Sakura. "Tanganmu dingin, Sakura. Kau yakin kau baik-baik saja? Perlu aku memberitahu Ten—"

"Tidak," potong Sakura cepat, menahan tangan Hokuto yang hendak beranjak dari bangkunya. "Jangan. Aku hanya… sedikit tegang. Kau tahu kan, ini latihan hari terakhir kita?"

Selama beberapa saat Hokuto hanya memandangnya, sebelum seringai samar muncul di wajahnya. "Yeah, kau benar. Aku juga sangat gugup… Apa lagi Si Kankurou itu ikut mengawasi kita juga," ujarnya cemberut seraya mengendikkan kepala ke arah cowok berambut cokelat jabrik yang sedang mengobrol dengan suara rendah dengan Yakumo. "Haah… cowok itu benar-benar bikin orang tegang saja."

"Baiklah, teman-teman!" suara Tenten mengalihkan perhatian mereka. Gadis berambut cepol itu sudah berdiri di depan dengan wajah sedikit tegang. "Karena semuanya sudah datang, sekarang kita mulai saja latihannya!"

.

.

Anak-anak sedang sibuk memindah-mindahkan bangku-bangku lipat untuk tempat duduk penonton di depan panggung ketika Sai tiba di gymnasium. Sejenak ia memandang berkeliling gedung olah raga itu sebelum menemukan sahabatnya yang berambut pirang terang sedang mengangkut dua bangku sekaligus dari bagian belakang ruangan. Sai memanggilnya seraya melambaikan tangan. Tapi sepasang earphone yang tersumpal di kedua telinga Naruto membuat cowok pirang itu tidak bisa mendengarnya, malah sibuk bersenandung sendiri sambil menggoyang-goyangkan kepalanya berirama.

"Sai!" seru Naruto terkaget ketika Sai tiba-tiba menghampiri dan menepuk pundaknya keras, membuatnya nyaris menjatuhkan bangku yang dibawanya. Naruto menarik lepas earphone dari telinganya, nyengir. "Sudah selesai ujiannya?"

"Yep," Sai menyahut, mengambil satu bangku dari tangan Naruto dan membawanya ke spot yang masih kosong di deretan bangku penonton yang sudah tersusun rapi.

"Bagaimana?"

Sai mengangkat bahunya, tersenyum samar. "Begitulah," sahutnya sambil menghela napas. Kemudian menaruh tasnya di atas bangku itu.

Mendengar jawaban sahabatnya itu membuat Naruto terkekeh-kekeh. "Yah, tak usah dipikirkan. Sekarang santai-santai saja dulu, sebelum nanti kita tahu kalau nilai kita jeblok."

Seringai tipis menghiasi wajah Sai. "Itu mungkin dirimu. Aku cukup yakin nilaiku tidak akan jeblok."

Naruto merengut. "Heh… terserah, deh!" tukasnya sambil mengibas-ibaskan tangannya malas, sebelum kembali ke belakang untuk mengangkut lebih banyak bangku lain. Sai mengikutinya.

"Kemana Sasuke?" tanya Sai, menyadari ia belum melihat Sasuke sejak tiba di sana. Padahal biasanya Sasuke selalu terlihat bersama Naruto.

"Dipanggil ketua OSIS," sahut Naruto, mengoper dua bangku sekaligus pada Sai. "Biasa… Sebentar lagi kan pelantikan. Omong-omong, kau baru memasukkan lamaran jadi anggota, kan?"

"Hn. Aku memberikannya pada Shiho tadi pagi," sahut Sai, menyeret bangku-bangku itu melintasi ruangan. Di sebelahnya, Naruto melakukan hal yang sama. "Apa bakal diterima, ya? Sasuke kan sangat selektif."

Naruto mendengus tertawa. "Bukan selektif, bawel lebih tepat." –Sai terkekeh mendengar ini. "Tapi kau tenang saja," tambah Naruto, nyengir lebar, "Sasuke kelihatannya senang sekali kau mendaftar, tidak sepertiku. Kurasa dia menganggapku pengkhianat."

"Sakura juga tidak mendaftar," kata Sai kemudian setelah mereka merapikan bangku-bangku itu.

Naruto menghela napas keras-keras, menegakkan dirinya sambil menatap Sai dengan senyum muram. "Yeah. Tapi kau tahu sendiri Sasuke tidak bisa benar-benar marah pada Sakura –terutama sekarang ini." Sekali lagi ia menghela napasnya berat, seraya menghenyakkan diri di salah satu bangku untuk mengistirahatkan dirinya sejenak. "Sakura… Sepertinya dia agak tidak baik sejak kemarin, eh? Tampangnya seperti orang sakit. Dan melihat dia menangis kemarin, astaga… Benar-benar bikin orang cemas saja."

Sai ikut duduk di bangku tak jauh dari Naruto, tampak sama muramnya. "Kurasa ini gara-gara aku."

Naruto mengangkat alis. "Kenapa kau bisa berpikir begitu?"

Sai mengangkat bahunya. "Entahlah. Menurutku Sakura itu tipe yang sangat perasa. Barangkali kemarin… um…" ia terlihat sedikit salah tingkah, "kau pasti mengerti maksudku, Naruto." –Naruto mengangguk. "Aku jadi merasa tidak enak padanya. Sebelumnya aku pernah menuduhnya macam-macam, dan sekarang dia malah menangis untukku. Kukira tadinya dia akan bilang 'sudah kubilang, kan?'. Kurasa itu jauh lebih pantas untukku."

Naruto tampak merenungi kata-kata Sai. "Yah, kalau aku yang jadi Sakura, jelas aku akan berkata begitu," ujarnya dengan seringai tipis, "Sudah kubilang, kan? Makanya, tidak dengar kata-kataku sih. Memang enak dicampakkan?' –Aku hanya bercanda, Sai. Jangan marah dulu," ia buru-buru menambahkan ketika melihat tampang Sai.

"Yah, kau benar," kata Sai muram.

"Hei, aku kan hanya bercanda. Jangan bertampang seperti itu… Sori."

"Hn."

Naruto menyeringai lagi. "Kalau begitu kau kelihatan seperti Sasuke."

Sai mengabaikan komentar Naruto. "Tadi Sakura menangis lagi," beritahunya, dengan sukses melenyapkan cengiran Naruto. "Aku bertemu dengannya setelah selesai ujian, dan dia menangis lagi tadi. Tadinya kupikir dia menangis karena melihatku –yeah, tadi aku melihat Ino dan… begitulah… —tapi kurasa ada hal lain yang mengganggunya."

"Dia bilang sesuatu?" tanya Naruto penasaran.

"Dia bilang dia ingat ayahnya," jawab Sai, mengangkat bahu, "Tapi kurasa dia bohong."

"Hei kalian berdua!" teriakan galak seorang cowok kelas tiga dari atas panggung mengalihkan perhatian mereka. Cowok itu menunjuk-nunjuk mereka berdua. "Jangan duduk saja di situ dan ngerumpi seperti cewek! Masih banyak bangku yang belum dibereskan!"

"Upsie! Ada mandor ngamuk."

Naruto dan Sai buru-buru beranjak dari bangku mereka sambil terkekeh-kekeh.

.

.

Waktu seakan berjalan bak siput bagi Sasuke Uchiha hari itu. Rasanya seabad sudah lewat ketika akhirnya ia bisa meninggalkan ruang OSIS yang pengap yang bikin ngantuk itu –sepertinya ruangan itu perlu ditata ulang sebagai langkah awal programnya di sekolah itu, pikir Sasuke. Memaksimalkan kinerja pengurus OSIS dengan ruang kerja yang nyaman juga penting, kan? Ah, tapi itu dipikirkan nanti saja. Sekarang Sasuke masih memiliki tanggung jawab lain yang belum selesai.

Sasuke mengerling arlojinya dan mendapati saat itu sudah lewat tengah hari. Seharusnya Naruto dan yang lain sudah selesai beres-beres di gymnasium. Cowok itu mengintip ke arah jendela sesaat, mengawasi kesibukan teman-temannya di bawah sana yang ternyata masih belum selesai.

"Persiapan memang suka makan waktu lama," ujar Shiho yang rupanya masih berada di sana, memeluk setumpuk dokumen. "Biasanya senja baru selesai. Apalagi festival kali ini bisa dibilang istimewa."

"Apanya yang istimewa?" dengus Sasuke, "Kelihatannya seperti festival sekolah biasa."

Shiho mencibir komentarnya. "Cowok memang tidak peka. Festival besok bertepatan dengan hari kasih sayang. Masa kau tidak menyadari dengan hiasan-hiasan serba-pink itu? Oh ya, sekedar saran dari istrimu yang baik hati ini, Sasuke. Besok sebaiknya kau bawa kantung yang besar untuk menyimpan cokelat-cokelatmu," gadis itu menambahkan dengan cengiran, sebelum melenggang pergi dari koridor itu.

"Aku tidak makan makanan manis," Sasuke menggerutu sendiri, sembari mengawasi ketika sosok berambut hitam dan kuning –Sai dan Naruto—baru saja muncul dari arah gymnasium dan berjalan ke arah deretan tenda-tenda stand sambil menggotong tangga lipat.

Sasuke kembali melangkahkan kakinya meninggalkan koridor ruang OSIS itu, menuruni tangga menuju lantai dasar gedung kampusnya. Langkahnya terhenti seketika saat telinganya menangkap suara yang terdengar tak asing. Suara itu berasal dari balik pintu ganda menuju aula sekolah yang sedikit terbuka oleh beberapa anak yang sibuk mengintip.

"Haruno aneh sekali hari ini. Biasanya dia bagus…"

"Benar, dari tadi dialognya salah melulu. Padahal besok sudah pertunjukkan."

"Kasihan, dari tadi kena omel senior terus. Lihat mukanya sampai merah begitu…"

'Sakura?'

.

.

Barangkali ini adalah sesi latihan terburuk yang pernah dilewati Sakura semenjak ia ditetapkan menjadi pemeran utama dalan pementasan drama di festival sekolah esok. Entah mengapa sangat sulit baginya untuk berkonsentrasi pada dialog serta adegan yang seharusnya bisa ia mainkan dengan baik. Berkali-kali gadis itu lupa apa yang harus diucapkannya, berkali-kali pula ia mengacaukan adegan karena itu.

Terlebih ketika harus berhadapan dengan Neji –dengan Neji sebagai Alfredo yang jatuh cinta setengah mati padanya. Rasanya menyakitkan, ketika mendengar setiap kata yang meluncur dari bibir cowok itu saat melafalkan dialognya, seakan itu semua muncul dari lubuk hatinya yang terdalam. Tapi semua itu palsu… seperti semua harapan yang telah diberikan Neji di kehidupan nyata padanya selama ini.

Aku tidak mau… Aku tidak mau yang seperti itu…

"Sakura!"

Entah mengapa suara sang sutradara terdengar jauh lebih menyakitkan dari biasanya. Sakura menundukkan kepalanya, bersiap menerima omelan lain sementara anak-anak menontonnya dengan tatapan mengasihani.

"Demi Tuhan, ada apa sebenarnya denganmu?" tuntut Tenten gusar. "Kenapa mainmu jadi kacau begini, hah? Besok kita sudah pertunjukkan, Sakura –BESOK!"

"Maaf," ucap Sakura pelan, "Aku hanya—"

"Tidak ada alasan!" bentak Tenten. Sakura menggigit bibir bawahnya kuat-kuat untuk menahan diri agar tidak lepas kendali. "Kita sudah latihan hampir tiga jam dan kita bahkan belum menyelesaikan babak pertama! Bagaimana pementasan ini bakal berhasil kalau begini terus caranya?"

"Ten, jangan begitu," Yakumo berusaha menenangkan temannya. "Mungkin Sakura sedang agak capek—"

"Kau pikir aku tidak capek, apa?" teriak Tenten berang. "Kita semua di sini capek! Tapi jangan dibikin alasan, dong!"

"Sudah, sudah, Tenten. Bukannya katamu marah-marah bisa bikin cepat tua, eh?" Kankurou yang sejak awal latihan sama sekali tidak berkomentar, mencoba bergurau. Tapi Tenten mengabaikannya.

"M-Maaf… Aku akan mengulangi dari awal," ujar Sakura pelan.

Gadis itu memutar tubuhnya menghadap lawan mainnya, Neji. Sentakan tak nyaman itu terasa lagi saat matanya menemukan mata pucat itu menatapnya dengan tatapan yang tak pernah ia lihat selama ini –tajam dan menusuk. Sakura buru-buru berpaling, mengindari tatapan itu. Dan saat itu ia melihatnya, berdiri bersandar di dekat pintu bersama beberapa anak yang menonton, dengan kedua tangan bersedekap di depan dada, tengah mengawasinya.

"Sasuke…" –dan cowok itu sendirian. Tidak ada Sai maupun Naruto bersamanya.

"Baiklah," suara Yakumo kali ini yang memberi instruksi. Sakura kembali memusatkan perhatiannya pada latihan. "Kalian mulai dari adegan Alfredo menyatakan cinta saja. Setelah itu kita lanjut ke babak dua. Annina," Yakumo menunjuk Hokuto, "Siap-siap setelah ini."

"Oke," Hokuto menyahut mantap. Ia mengerling Sakura, mengepalkan tinjunya ke udara untuk menyemangatinya dan berkata tanpa suara, "Fighting!"

Sakura mengangguk, kemudian menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan-lahan untuk menenangkan diri. Ia mengambil posisi membelakangi Neji, sejenak memejamkan matanya untuk mengumpulkan konsentrasi.

"Kau masih di sini?" Sakura –Violetta—membalikkan tubuhnya. Ekspresi wajahnya terkejut saat menatap Neji –Alfredo.

Pemuda itu mendekat. Wajahnya memancarkan kekhawatiran. "Sudah merasa baikan sekarang?"

"Ya—"

"Kehidupan seperti ini bisa membunuhmu perlahan-lahan, Mademoiselle," sela Neji, "Seharusnya kau bisa menjaga dirimu lebih baik."

Sakura tersenyum tertahan. "Menurutmu aku bisa melakukannya?"

"Jika kau hidup bersamaku, aku akan menjagamu siang dan malam."

Tapi yang kau lakukan hanya menyakitiku, Neji…

"Kau berkata seakan tidak ada seorang pun yang peduli padaku."

"Tidak ada seorang pun di dunia ini yang peduli padamu."

"Tak ada seorang pun?"

"Tak ada seorang pun, kecuali aku."

Bohong. Kau pun tak pernah peduli padaku.

Suara tawa yang seharusnya sedikit mencemooh, malah terdengar sangat aneh seperti tercekat, membuat dahi Yakumo dan Tenten mengerut. Bahkan Neji. Tapi Sakura tetap melanjutkan dialognya.

"Benarkah? Oh, aku hampir lupa kalau kau jatuh cinta padaku. Kumohon lupakan saja, Monsiour. Aku tidak seperti wanita baik-baik seperti yang kau bayangkan. Kehidupanku ada di sini, di pesta-pesta seperti ini…"

"Justru, cinta adalah kehidupan…" Neji menatap matanya dalam-dalam –dan ini nyaris membuat pertahanan Sakura runtuh.

Sakura berpaling, memejamkan matanya yang memanas. Ia mengeluarkan tawa sekali lagi –kali ini terdengar seperti isakan. "Aku tidak tahu…" kata-katanya terhenti. Ruangan itu mendadak senyap, sebelum Sakura melanjutkan dengan suara parau, "…apa itu cinta?"

Neji menarik lengannya, memaksanya menghadapnya lagi. Tapi Sakura bergeming, berkeras memunggungi cowok itu, sebelum perlahan ia memutar tubuhnya.

"Tidak. Justru cinta adalah nasib yang menyatukan kita berdua."

Sakura menarik tangannya dari Neji tanpa pikir panjang –dan ia langsung tahu bahwa ia baru saja melakukan kesalahan sekali lagi saat didengarnya suara keluhan dari pemain lain. Gadis itu menunduk, merutuki dirinya sendiri.

"Kalau memang benar-benar me—mencintai aku, k-kumohon jangan—"

Sunyi. Sakura tidak sanggup meneruskan dialognya. Konsentrasinya sudah benar-benar buyar sekarang.

"Maafkan aku," ucap Sakura dalam bisikan yang hanya bisa didengar Neji.

Kali ini tak ada komentar dari para senior. Mereka sudah kelewat jengkel untuk sekedar membuka mulut untuk mengomentari kesalahan yang lagi-lagi dilakukan Sakura. Di tempat duduknya, Tenten memijat-mijat pelipisnya sementara Yakumo hanya menghela napas berat. Di sisi lain mereka, Kankurou menatap Sakura dengan sebelah alis terangkat.

"Maaf," ucap Neji tiba-tiba, "Bisa beri waktu kami bicara sebentar?"

Tanpa menunggu jawaban, Neji meraih pergelangan tangan Sakura yang terkejut dengan tindakan tiba-tibanya itu, dan membawanya menuju pintu, menembus kerumunan anak-anak yang menonton. Sakura menundukkan kepalanya dalam-dalam, menghindari tatapan Sasuke saat mereka berjalan melewatinya.

"Ada apa denganmu?" tanya Neji begitu mereka sampai di koridor kosong, jauh dari pandangan anak-anak yang penasaran. "Kenapa jadi seperti ini, Sakura? Bukankah latihan terakhir kita sudah main bagus? Kenapa sekarang malah—" jeda sesaat sementara Neji memikirkan kata-kata yang tepat, "—jadi mundur begini?"

Lagi-lagi Sakura hanya bisa menanggapi dengan menggumamkan maaf. Wajahnya tetap tertunduk, tak ingin Neji melihat air matanya yang sudah menggenang, juga alasan yang membuatnya begitu kacau.

"Sakura, dengar. Kita besok sudah akan pementasan. Aku –kita semua, pasti ingin pementasan ini berhasil, kan—"

"Aku tahu," sela Sakura parau. Gadis itu mengatupkan tangannya di depan mulut untuk menahan isaknya. "M-Maafkan aku, Neji. Aku hanya… sedang banyak pikiran."

"Kalau begitu singkirkan pikiranmu itu dulu. Kau tahu yang mana yang harus diprioritaskan sekarang, Sakura. Jangan egois!"

"Aku sedang mencoba!" Sakura akhirnya mengangkat wajahnya, membuat Neji terkejut ketika melihat air mata di sana. Sakura mengatupkan bibirnya rapat, menghapus air matanya dengan sebelah tangannya. "Aku sudah coba mengabaikannya, tidak memikirkannya dan berkonsentrasi pada drama-sialan ini. Tapi tidak semudah itu!" suaranya melengking. "Kau tidak tahu rasanya, Neji… Kau sama sekali tidak mengerti!"

"Sakura—"

"Dan sekarang semua orang menyalahkanku, kan?" Segala emosi yang sudah ditahannya sejak tadi pagi meledak sudah. Wajahnya yang merah padam bersimbah air mata. "Aku bukan aktris yang baik –benar! Aku sering membawa-bawa perasaan pribadi ke atas panggung –benar! Maafkan ketololanku jika membuat dia tidak puas –itu kan yang sebenarnya mengganggumu? Sejak awal dia kan yang kau cemaskan? Sekarang salahkan saja aku!"

Neji begitu terperanjat sampai-sampai tidak tahu harus berkata apa. Sakura yang selama ini dikenalnya begitu ceria dan penuh senyum tiba-tiba meledak begini di hadapannya membuatnya benar-benar terkejut. Dan ketika ia mulai memahami apa sebenarnya yang telah terjadi pada gadis ini, perasaan bersalah itu muncul.

"Sakura…" ucapnya ragu, "Apa ini karena aku?"

Sakura memalingkan wajahnya, tidak menjawab.

"Jawab aku, Sakura!" sekali lagi Neji menyambar lengan gadis itu, memaksanya menatapnya, "Apa ini semua karena aku?"

Sakura bergeming, masih menolak menatap Neji sementara bola matanya bergerak-gerak gelisah.

"Kau bohong padaku malam itu, kan?" Neji mendesaknya, namun Sakura masih berkeras menutup mulutnya, membuat cowok itu kehilangan kesabaran. "Kenapa kau tidak mau menjawabku sekarang, Sakura?"

"Kalau dia tidak mau menjawab, jangan memaksanya!" kata suara seseorang dari ujung koridor.

Kedua orang itu menoleh, dan mendapati sosok Sasuke Uchiha sedang berjalan ke arah mereka. Sakura membulatkan matanya dengan terkejut.

"S-Sasu—"

"Harusnya dengan otak sepertimu kau sudah tahu jawabannya, Hyuuga," sela Sasuke seraya menarik lepas tangan Neji pada lengan Sakura, menarik gadis itu ke belakang tubuhnya seakan melindunginya. "Atau kau hanya berpura-pura menjadi cowok idiot yang tidak menyadari apa yang selama ini sudah kau lakukan padanya?"

Wajah Neji memerah. "Kurasa ini bukan urusanmu, Sasuke," gertaknya.

"Akan jadi urusanku kalau ada orang tolol yang berani membuat temanku menangis," tandas Sasuke tegas.

"Sasuke—" Sasuke bisa merasakan tangan Sakura mencengkeram bagian belakang jaketnya. Tapi ia mengabaikannya dan tetap memandang dingin Neji.

"Masih belum puas kau sudah mempermainkan Sakura, eh?" tudingnya gusar, "Mau seperti apa lagi kau menyakitinya lebih jauh?"

"Sasuke, sudah cukup…" Sakura berbisik parau di belakangnya. "Jangan bicara apa-apa lagi. Tolong…" bisiknya memohon.

Sasuke terdiam. Ia mengatupkan bibirnya rapat-rapat, menelan kembali cacian yang sudah siap ia lontarkan pada cowok di depannya itu. Dari atas bahunya, ia melihat Sakura tertunduk, terisak tanpa suara di belakangnya. Tangan gadis itu yang masih mencengkeram erat kemejanya bergetar. Melihat Sakura seperti itu membuat tangannya gatal ingin memukul Neji. Tapi ia menahan dirinya. Membuat keributan di depan Sakura tidak akan membuatnya merasa lebih baik.

"Aku tidak peduli kau adalah senior di sini, Hyuuga," kata Sasuke dengan nada dingin pada Neji, "Aku juga tidak akan peduli jika mereka mencabut pencalonanku sebagai ketua OSIS. Tapi sekali lagi aku melihatmu membuat temanku terluka, aku tidak akan tinggal diam. Kau dengar?" Tanpa menunggu tanggapan dari Neji, Sasuke meraih tangan Sakura dari punggungnya.

Sakura tersentak, tapi tidak berusaha menarik tangannya ketika Sasuke membawanya berbalik meninggalkan tempat itu. Gadis itu menundukkan kepalanya ketika dirasakannya emosi kembali menguasai dirinya sepenuhnya sementara Sasuke membimbingnya menyusuri koridor yang dipenuhi anak-anak. Sasuke hanya menoleh ketika ia mendengar suara isakan samar dari arah belakangnya. Hatinya mencelos.

"Aku mau pulang…" Sakura berkata parau di antara sedu sedannya. "Aku mau pulang…"

.

.

"Naruto," panggil Sai.

"Nanti dulu. Yang ini belum selesai," sahut Naruto dari puncak tangga lipat, masih sibuk memasang hiasan untuk dekorasi outdoor.

"Naruto," panggil Sai lagi, kali ini sambil menepuk kaki Naruto keras-keras.

"Apaan, sih?"tukas Naruto tak sabar sambil mendelik pada Sai yang sedang memegangi tangga.

"Itu… Sakura dan Sasuke, kan?" Sai menunjuk ke arah halaman depan.

Naruto mengalihkan pandangannya ke arah yang ditunjuk Sai. Seorang gadis dengan rambut merah muda yang dikucir buntut kuda sedang berjalan tertunduk melintasi halaman menuju gerbang. Gadis itu tidak sendirian. Seorang cowok berambut hitam dan berjaket biru tua berjalan sedikit di depan gadis itu, menggandeng tangannya.

"Sakura?"

"Kelihatannya dia menangis lagi," gumam Sai, memandang dua sosok itu menghilang di gerbang. "Tapi mereka mau ke mana?"

Naruto mengeluarkan gerutuan kesal ketika ia buru-buru menapak turun dari tangga, nyaris menginjak tangan Sai dan membiarkan hiasan yang setengah jalan dipasangnya kembali menjuntai ke tanah. Kemudian bergegas berlari menuju gerbang, diikuti Sai.

Terlambat. Ia melihat Sasuke dan Sakura menaiki bus dari halte dan bus itu sudah bergerak menjauh. Mengumpat, Naruto segera merogoh saku celananya, mengeluarkan ponselnya.

.

.

Sasuke melepaskan tangan Sakura begitu mereka naik ke dalam bus. Sakura langsung berjalan ke bangku kedua dari belakang dan langsung menghenyakkan diri di sisi jendela sementara Sasuke memasukan beberapa keping koin ke tempat pembayaran untuk mereka berdua.

Bus perlahan bergerak meninggalkan halte.

Masih dalam posisi berdiri sambil berpegangan pada salah satu tiang, Sasuke menatap Sakura yang sudah membenamkan wajahnya pada kedua lengannya yang terlipat bertumpu di punggung bangku di depannya. Isakan sesekali terdengar dari arahnya. Seperti ada sesuatu yang mencengkeram dadanya kuat-kuat melihat kondisi gadis itu sekarang. Déjà vu. Seperti saat Sakura baru saja kehilangan ayah yang sangat dicintainya. Tapi yang sekarang sedikit berbeda.

Sasuke mengeratkan pegangannya pada tiang bus yang dingin itu sebelum melangkah mendekati bangku Sakura. Namun sebelum ia mencapai bangku itu, ponselnya bergetar dalam saku celananya.

Nama Naruto tertera di layar.

"Ha—"

"Sasuke! Kau mau lari dari tanggung jawab? Di sini banyak kerjaan tahu! Jangan kabur begitu saja!"

Sasuke menghela napasnya dengan kesal, berpaling memunggungi Sakura. "Aku tidak kabur," desisnya, "Ada sedikit masalah di sini. Sakura—"

"Sakura kenapa?" sambar Naruto di seberang, mendadak suaranya terdengar cemas.

"Nanti saja aku jelaskan detailnya," sahut Sasuke pelan agar Sakura tidak mendengarnya. "Kau urusi saja yang di sana."

"Iya, iya. Tapi Sakura kenapa? Sai bilang tadi pagi dia nangis—"

"Sudah kubilang nanti!" sela Sasuke jengkel. "Tidak perlu cemas. Nanti kutelepon lagi."

Sebelum Naruto sempat menyahutnya, Sasuke sudah memutuskan sambungan.

.

.

"Sasuke? Halo? HALO?" Naruto berteriak pada ponselnya, "Aargh! Bocah sial! Dia menutup teleponnya!" gerungnya gusar.

"Dia bilang apa?" tanya Sai yang sedari tadi hanya menonton Naruto berteriak-teriak di ponselnya, penasaran.

"Dia bilang ada sedikit masalah," sahut Naruto, memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya. "Dia tidak mau cerita detailnya, tapi Sasuke bilang tidak perlu cemas. Haah.. jangan-jangan dia mau sok jadi pahlawan kesiangan di depan Sakura," gerutunya sambil berkacak pinggang.

Sai terkekeh geli. "Bukannya itu bagus?"

Naruto menoleh cepat ke arahnya. Alisnya terangkat. "Maksudnya?"

"Kurasa tidak ada salahnya sesekali berlagak sok pahlawan, jika itu bisa membuat hubungan mereka membaik." Sai tersenyum. "Bagaimana menurutmu?"

Seulas senyum serta merta mengganti ekspresi bingung di wajah Naruto. "Benar juga. Haah… Akhirnya…" Naruto meregangkan kedua lengannya, seolah baru saja terlepas dari beban yang sangat berat. Kemudian ia berbalik, masih sambil tersenyum-senyum kesenangan, kembali ke tempatnya berkutat tadi.

Sai kembali memandang ke arah bus yang membawa Sasuke dan Sakura menghilang beberapa waktu yang lalu, senyumnya sedikit memudar.

Semoga saja bukan masalah yang gawat…

.

.

Kami mengandalkanmu kali ini, Sasuke…

.

.

Masih tak ada sepatah kata pun yang terucap semenjak Sasuke menempatkan dirinya duduk di sisi Sakura. Meskipun isakannya telah berhenti, digantikan tarikan napas yang lebih teratur, Sasuke masih tidak tahu harus mengatakan apa pada gadis itu. Ternyata selama berhari-hari saling mendiamkan, membuat lidahnya terasa kaku untuk berkata-kata di depan Sakura, padahal begitu banyak hal yang ingin dikatakannya. Maka ia memutuskan untuk diam saja. Barangkali keheningan yang tenang adalah hal yang dibutuhkan Sakura saat ini.

Sampai akhirnya bus yang mereka tumpangi berhenti di halte dekat kompleks kediaman Haruno dan beberapa penumpang beranjak turun dari bus. Sasuke pun turut beranjak. Ia baru saja akan melangkah ke arah pintu bus yang masih terbuka ketika menyadari Sakura tidak ada di belakangnya. Menoleh, Sasuke mendapati gadis itu masih duduk di bangkunya. Kepalanya tersandar di kaca jendela sementara mata hijaunya menatap kosong ke jalanan di luar.

"Sakura, sudah sampai," beritahu Sasuke.

Sakura masih bergeming di tempatnya, sama sekali tidak membalas. Dan masih tidak bergerak sampai pintu bus menutup dan kendaraan itu kembali melaju pelan meninggalkan halte.

Menghela napas, Sasuke kembali duduk di tempatnya, menatap Sakura tak mengerti. "Bukankah tadi kau bilang ingin pulang?"

Sakura menggeleng perlahan. "Ingin jalan-jalan sebentar," ujarnya pelan tanpa memandang lawan bicaranya.

"Hn." Sasuke menyandarkan punggungnya di bangku. Kedua tangannya tenggelam dalam saku jaketnya.

Dan lagi-lagi, mereka terdiam.

"Sasuke," suara parau Sakura terdengar memanggilnya beberapa saat kemudian.

"Hn?"

"Apa saat Hinata menolakmu dulu, kau merasa sakit? Sakit sekali sampai ingin menangis?"

Sasuke tidak langsung menjawab. Ia mengerling Sakura yang masih menatap kosong ke luar jendela. Jujur saja Sasuke tidak suka jika harus mengungkit-ungkit hal itu lagi, tapi sepertinya Sakura masih dalam fase yang sangat sensitif –tidak bisa dibantah. "Yah…" Sasuke mempertimbangkan jawabannya. "Mungkin, entahlah." Ia mengangkat bahu. "Waktu itu aku terlalu sibuk berkelahi dengan Naruto, ingat? Tidak ada lagi tenaga yang tersisa untuk menangis."

Sudut bibir Sakura terangkat membentuk senyum samar sementara kepalanya tertoleh pada Sasuke. "Kenapa kau tidak pernah memberitahuku, Sasuke, kalau patah hati itu sangat sakit. Sakit sekali di sini…" Tangannya bergerak mencengkeram bagian depan sweternya, tepat di mana jantungnya berada. "Air mataku juga tidak mau berhenti mengalir. Tidak peduli aku berusaha menahannya sekuat apa pun."

"Neji menolakmu?" tanya Sasuke tanpa bisa menahan diri.

Sakura mengeluarkan tawa miris. "Bahkan sebelum aku mengutarakan perasaanku padanya."

"Ah…" Sasuke mulai melihat alasan mengapa Sakura tampak begitu sedih malam itu.

Keduanya kembali terdiam. Agak lama kali ini. Bahkan hingga bus yang mereka tumpangi mulai memasuki kawasan perbatasan yang Sasuke kenali sebagai jalan yang dilewatinya saat ia kembali dari Oto bersama Itachi.

"Sasuke?" panggil Sakura lagi.

"Hn?"

"Kau masih ingat, waktu kau bertanya padaku apa yang akan aku lakukan seandainya berada di posisimu –maksudku, saat kau menyukai Hinata yang menyukai Naruto—Kau ingat apa jawabanku saat itu?"

"Aku lupa," jawab Sasuke jujur.

Sakura tersenyum padanya. "Aku bilang, aku ingin seperti tokoh di drama-drama televisi. Aku akan melepaskan tangannya dan dengan berani membiarkan orang yang kusukai bersama orang yang diinginkannya. Membiarkannya bahagia dengan orang lain, bahkan kalau perlu aku akan membantunya mencapai itu." Ia berhenti. Matanya terpejam beberapa saat, menarik napas. Dan ketika ia mulai bicara lagi, suaranya seperti tercekat, "Ternyata sangat sulit melakukannya. Kalau ingat itu, rasanya aku ingin memplester mulutku sendiri."

"Sakura…"

"Neji menyukai orang lain," Sakura menyelanya, membiarkan air matanya terjatuh lagi, "Dia mengatakannya padaku di malam yang sama saat aku berencana memberitahunya tentang perasaanku." Sakura menyeka air matanya, sebelum melanjutkan penuturannya tentang apa yang sebenarnya terjadi antara dirinya dengan Neji. Juga tentang gadis itu. "Sejak awal memang gadis itu lah yang disukainya, bukan aku. Dia mengira dia menyukaiku karena kedekatan kami, tapi tidak. Dan dia baru menyadarinya saat…" sejenak Sakura tampak tidak sanggup melanjutkannya, "saat kami… berciuman. Dia tidak pernah memiliki perasaan itu padaku."

"Kau bermaksud mengatakan sejak awal Neji memang menjadikanmu pelampiasan, sementara gadis yang disukainya dekat dengan orang lain. Begitu?" tanya Sasuke dingin. Kedua tangannya yang tersembunyi di saku jaketnya terkepal erat.

"Dia tidak bermaksud begitu," Sakura berkata lirih. "Neji tidak pernah bermaksud menyakitiku, Sasu—"

"Kenapa kau masih saja membelanya setelah apa yang diperbuatnya padamu, eh?" sela Sasuke gusar. "Dia tidak pantas mendapatkan air matamu."

"Itu karena dia tidak menyadari perasaannya sendiri. Jangan menyalahkannya."

"Idiot itu—"

"Ini semua salahku," sela Sakura. Gadis itu menundukkan kepalanya, sementara air matanya mengalir lagi. "Kalau aku sampai terluka, itu adalah salahku sendiri yang berharap terlalu banyak. Kalau saja sejak awal aku tahu diri bahwa orang sepertinya tidak mungkin memiliki perasaan pada orang sepertiku, mungkin aku bisa menerimanya. Tapi aku menganggap diriku terlalu tinggi. Aku mengharapkan terlalu banyak dari yang sepantasnya kudapatkan… Aku… terlalu menyukai Neji."

Sasuke memalingkan wajahnya. Mendengar Sakura merendahkan dirinya begitu rupa hanya karena Neji membuatnya tidak tahan. Rasanya menyakitkan –lebih menyakitkan dari kecemburuan yang selama ini ia rasakan.

"Kau masih ingat saat kau menyuruhku menjauhi Neji? Kau bilang nanti aku bisa terluka. Sebenarnya aku tidak benar-benar marah padamu saat itu, tapi aku terlalu takut –aku takut kau benar." Sakura terisak. "Maafkan aku, Sasuke. Seharusnya sejak awal aku mendengarkanmu."

Sasuke tidak menanggapi apa-apa kali ini. Sampai mereka tiba di pemberhentian terakhir bus itu di halte perbatasan, Sasuke tiba-tiba menarik tangan Sakura, membawanya turun dari bus. Dari sana, mereka bisa mendengar deru air terjun tak jauh dari sana.

"Sa—Sasuke, kita mau kemana?" tanya Sakura dengan suara serak, bingung.

Lagi-lagi Sasuke tidak menjawabnya. Mereka menyusuri tepi jalanan yang sepi itu, dengan hutan di kanan kirinya, sampai akhirnya mereka tiba di sebuah jembatan panjang yang membelah tebing yang membatasi wilayah Konoha –Valley End. Angin basah yang terasa sejuk segera menerpa kulit mereka yang terbuka saat mereka mulai menyusuri tepi jembatan besar itu, tepat di depan sebuah air terjun spektakuler yang sangat indah.

"Lepaskan, Sakura," kata Sasuke kemudian. Mereka berhenti tepat di tengah jembatan, dan Sasuke kini sedang menghadap ke arah air terjun. Ia menoleh pada gadis di sampingnya, yang masih memandangnya bingung. "Teriakkan semuanya yang membuat dadamu terasa sesak." Kemudian ia melepaskan gandengannya pada tangan Sakura dan berteriak sekencang-kencangnya ke arah air terjun di depan mereka.

"AAAAAH!" Sakura ikut berteriak sekuat tenaga, melepaskan semua beban yang menghimpitnya sejak beberapa hari yang lalu. Ia mengeluarkan semuanya, membiarkan air matanya kembali terjatuh dengan bebas sementara ia berteriak. "AKU MENYUKAIMU, NEJIII!" jeritnya sebelum akhirnya tangis pedihnya pecah. Lututnya goyah.

Namun Sasuke dengan sigap menangkapnya sebelum terjatuh –lalu menariknya ke dalam pelukannya, mendekapnya erat-erat, membiarkan sahabatnya itu menangis sepuas-puasnya di bahunya. Tidak peduli betapa nama Neji-lah yang terus-menerus terucap di sela isakannya. Sasuke tetap memeluknya, menjadi tempat bersandar yang dibutuhkan Sakura saat itu.

Untuk kali ini… tidak apa.

.

.

Waktu sudah menjelang sore ketika tangis Sakura akhirnya mereda. Mereka berdua kini duduk bersisian di trotoar di pembatas jembatan. Sakura memeluk lututnya. Jaket Sasuke tersampir di bahunya sementara kepalanya bersandar dengan nyaman di bahu cowok itu. Lama mereka dalam posisi itu. Tak ada seorang pun yang bicara. Hanya suara deru air terjun di belakang mereka yang terdengar, sebelum akhirnya Sakura memecah keheningan.

"Sasuke?"

"Hn?"

"Kenapa kau begitu baik padaku, hm? Padahal aku sudah bersikap sangat tidak adil padamu. Kenapa masih peduli padaku?"

Lama Sasuke mempertimbangkan jawabannya. Tapi bukannya menjawab, ia malah balik bertanya, "Dulu, waktu aku sakit, kenapa kau sampai rela memanjat pagar sampai kakimu luka, menerobos pintu dan berakhir bermalam di rumah sakit hanya untuk menungguiku, Sakura?"

Sakura mengeluarkan tawa kecil. "Tentu saja, karena kau adalah temanku. Dan aku sangat mengkhawatirkan temanku saat itu."

"Hn. Kurasa jawabanku sama sepertimu," sahut Sasuke.

Mendengar jawaban ini, Sakura mengangkat kepalanya dari bahu Sasuke dan menatapnya dengan matanya yang sembab. Seulas senyum haru menghiasi wajahnya. "Terimakasih banyak."

"Anytime." Sasuke membalas senyumnya dengan seringai tipisnya yang terkenal. Tepat saat itu, tiba-tiba ponsel Sasuke bergetar dalam saku celananya. Sasuke buru-buru meraihnya.

Naruto.

"Ya, Naruto? Di mana? –Kami di Valley End. Hn. Sakura?" Sasuke menoleh pada gadis di sebelahnya yang balas menatapnya dengan kedua alis terangkat. "Dia baik-baik saja. Huh? Mau kemari? Urusan di sana—oh, oke. Bye." Ia pun menutup ponselnya. "Katanya dia dan Sai mau menyusul kemari."

Sakura tertawa kecil, seraya menyelipkan anak rambutnya yang berkibar tertiup angin ke belakang telinganya. "Kalau begitu masih ada waktu untuk tidur. Menangis dan berteriak-teriak membuatku lelah…" Sakura kembali menjatuhkan kepalanya di bahu Sasuke, memejamkan matanya.

Sasuke mendengus. "Kau pikir bahuku bantal?"

"Tidak jauh beda," Sakura terkikik. Ia malah melingkarkan tangannya memeluk lengan Sasuke. "Haah… nyaman sekali…"

Sasuke tak bisa menahan senyumnya –yang tentunya tidak bisa dilihat Sakura. "Terserahlah…" gumamnya, sembari merapatkan jaketnya pada tubuh gadis itu, melindunginya dari angin.

"Sakura?" panggil Sasuke setelah beberapa lama.

"Ya?" Sakura masih memejamkan matanya.

"Apa kau ingin memberitahu Naruto dan Sai tentang masalahmu? Mereka juga sangat cemas."

"Hmm… Aku bisa mengandalkanmu, kan? Aku tidak tahan kalau harus mengulanginya lagi."

Sasuke menolehkan kepalanya, sehingga rambut merah muda Sakura yang halus menggesek lembut pipinya. "Hn."

"Bisakah kau mengusahakan supaya Naruto tidak terlalu emosi?"

"Aa."

"Trims, Sasuke."

Terimakasih sudah mendukungku. Aku tidak tahu apa jadinya kalau tidak ada kau...

.

.

TBC…

.

.

Um… tadinya mau dihabisin sampe hari itu selesai, tapi kayanya bakal kepanjangan. Jadinya dipotong sampe segini aja. Mianhanda.. *bow* Ditulis di sela-sela ke-stress-an yang melanda, mudah-mudahan tetap disuka. Oh, dan maaf kalo chapter ini lebay dan menyinetron.

Sakura-nya terkesan cengeng ya? T_T Sebenernya ini terinspirasi dari kelakuan seseorang yang aku kenal beberapa tahun lalu (gak akan nyebut merk deh. Hehehe…) waktu pertama kali patah hati. Kerjaannya nangis melulu kaya dia yang paling menderita di dunia aja, terus suka merendahkan diri gitu. Kalo ada temen yang nemenin dia baru deh bisa ketawa-ketiwi, tapi kalo udah ditinggalin sendiri, mulai deh jadi manusia selang air lagi. Huhuhu… ngeselin. *ditabok orang yang bersangkutan*

Sekian curcolnya.

Um… buat yang para reader dan reviewerku yang awesome, makasih sudah menyempatkan waktunya. Buat yang udah ngasih semangat buat author yang suka down gaje dan gak pede-an ini, arigatou gozaimasu. Buat para silent readerku tersayang yang udah nyumbangin hits, gumawo… Maaf, gak dibales satu-satu. Aku suka bingung mau balesin apa soalnya, jadi balesannya ucapan makasih aja yah.. ^_^

Lagu yang udah nemenin aku nulis chapter ini OST-nya Beethoven Virus, 'Like A Fool'-nya Tae Yeon (SNSD). Yang suka K-drama dan Beethoven Virus (KYAAAA! Jang Geun Seok-sshi ganteng! XDD) pasti tahu banget lagu ini.