Cukup lama mereka berada dalam posisi itu. Dengan Sasuke yang duduk di trotoar dengan bersandar pada pagar besi pembatas jembatan yang dingin, dan Sakura berada di sisinya, menumpukan sebagian beban tubuhnya dengan menyandarkan diri pada bahunya. Hembusan angin lembab dan dingin yang berasal dari air terjun di belakang mereka tak lantas membuat mereka bergerak dari sana, meskipun setelah lewat beberapa saat Sasuke mulai menggigil kedinginan. Ditambah lagi sebelah bahunya yang mulai pegal dan terasa kebas.
Tapi sayangnya sepertinya ia masih belum bisa bergerak untuk beberapa saat, karena gadis yang kini menjadikan bahu dan lengannya sebagai bantal telah jatuh tertidur di sana. Sakura, yang wajahnya masih terlihat jejak air mata itu, tampak sangat kelelahan, membuat Sasuke tidak sampai hati membangunkannya. Sakura pasti tidak tidur semalaman –atau bahkan mungkin malam sebelumnya juga—sampai bisa tertidur di tempat seperti ini, pikirnya.
Menghela napas berat, Sasuke merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel. Sudah lewat setengah jam berlalu sejak Naruto menelepon dan ia belum kunjung menampakkan batang hidungnya. 'Apa sebenarnya yang sedang dilakukan si bodoh itu?' Sasuke bersungut-sungut dalam hati seraya ibu jarinya dengan gesit mengetik pesan singkat di ponselnya.
Tak lama balasan dari Naruto datang, dan hanya berisi tiga huruf: OTW.
Tiba-tiba Sakura bergerak dalam tidurnya, membuat kepalanya nyaris terjatuh dari bahu Sasuke jika saja cowok itu tidak dengan cepat menahannya. Menggerang lembut, namun tidak terbangun, Sakura kembali menyamankan posisinya –tapi justru semakin menambah beban di bahu Sasuke.
'Oh, great… Dan besok mereka masih memintaku jadi relawan untuk mengangkat-angkat properti panggung,' keluhnya.
Sasuke mencoba membebaskan lengannya, berusaha memindahkan tumpuan Sakura pada bahunya ke tempat lain: ke dadanya. –Ya ampun, memikirkannya saja sudah membuat wajah Sasuke menghangat. Tapi ia masih butuh lengan dan bahunya untuk besok, Sasuke mengingatkan dirinya sendiri—Dengan hati-hati, Sasuke menggeser posisi mereka supaya Sakura bisa bersandar nyaman di dadanya.
Tapi rupanya Sakura memilih saat itu untuk terbangun. Sasuke buru-buru menarik lengannya ke posisi semula, memalingkan wajah seakan tak pernah terjadi apa-apa –atau tepatnya, ia berusaha tak terlihat seperti pernah mencoba memeluk Sakura sementara ia tertidur. Dengan kata lain, mencari kesempatan dalam kesempitan.
"Ng?" Sakura menegakkan tubuh dari posisinya semula yang bersandar pada Sasuke, mengerjap-ngerjapkan matanya seraya menahan kuap. Sejenak ia memandang berkeliling dengan bingung sebelum perhatiannya tertuju pada cowok di sebelahnya. "Ya ampun, aku ketiduran betulan, ya?" gumamnya sambil meringis minta maaf, "Sori. Aku benar-benaa—" ia tak bisa menahan kuapnya kali ini, "—capek…"
"Hn." Setengah gugup, setengah lega, Sasuke memijat-mijat bahunya yang terasa pegal. Masih tidak memandang Sakura yang sedang menepuk-nepuk wajahnya sendiri supaya lebih hangat.
Tepat saat itu, sebuah Audi berwarna hitam mengilat mendekat dari arah Konoha dan menepi tak jauh dari mereka. Awalnya baik Sasuke maupun Sakura tak menghiraukannya, sampai kemudian dua orang yang sudah sangat mereka kenali muncul.
"Naruto! Sai!" seru Sakura terkejut seraya melompat bangun.
Di sebelahnya, Sasuke juga telah menegakkan diri, menepuk-nepuk bagian belakang celananya yang berdebu. "Geez… Akhirnya datang juga," gerutunya.
Naruto bergegas menghampiri Sakura, tampak cemas. "Apa yang terjadi sebenarnya? Kau tidak apa-apa kan, Sakura? Si Sasuke tidak berbuat macam-macam padamu, kan?" cecarnya sembari memegangi kedua lengan gadis itu, mengabaikan Sasuke yang membelalak padanya.
Sakura mengeluarkan tawa kecil yang terdengar serak, menggeleng. "Aku tidak apa-apa, Naruto –dan Sasuke tidak berbuat macam-macam padaku." Ia mengerling Sasuke, tersenyum padanya.
"Syukurlah kalau begitu," kata Naruto diiringi hela napas lega. "Waktu kalian pergi tadi benar-benar bikin cemas orang saja."
"Maaf, maaf…" Sakura melempar senyum menyesal.
"Jadi…" Sai bergabung dengan mereka, membawa mantel merah-kotak-kotak milik Sakura, "…kalian berdua sudah bicara lagi sekarang, eh?" tanyanya seraya menyampirkan mantel itu di tubuh pemiliknya setelah menyingkirkan jaket Sasuke –kali ini ganti Sasuke membeliak padanya karena membuat jaket kesayangannya jatuh ke aspal.
"Trims, Sai. Um… yeah. Kurasa begitu," sahut Sakura, sekali lagi melirik Sasuke yang tengah menepuk-nepuk jaket yang baru dipungutnya.
"Hn," timpal Sasuke.
"Huaah… baguslah!" seru Naruto girang. Cengiran lima jari menghiasi wajahnya ketika ia menatap dua sahabatnya yang selama beberapa pekan terakhir tidak saling bertegur sapa itu, akhirnya kembali berbaikan. "Kerja bagus, Sobat!" Ia menepuk-nepuk punggung Sasuke.
Kali ini Sasuke tak bisa menahan seringainya.
"Sakura, matamu bengkak," celetuk Sai tiba-tiba. Tangannya terulur ke wajah Sakura, seakan ingin menyentuhnya, tetapi Sakura keburu menarik kepalanya menjauh –refleks. Sai mengerutkan dahinya. "Habis menangis lagi?" –Kali ini tidak hanya Sai yang menatapnya lekat-lekat, tapi juga Naruto yang tampak penasaran sekaligus cemas, membuat Sakura salah tingkah. Gadis itu belum siap jika harus bercerita lagi sekarang.
Seakan bisa melihat apa yang sedang dipikirkan Sakura, Sasuke buru-buru mengalihkan perhatian kedua sahabatnya. "Bagaimana urusan di sekolah? Sudah beres semuanya?"
"Kukira kau tidak akan bertanya," dengus Naruto diiringi seringai di wajahnya. Kemudian ia mulai menghitung dengan menekukkan jari-jarinya, "Dekorasi, stand-stand, panggung pementasan drama, panggung out door, semuanya sudah beres! Ah, dan omong-omong tentang drama," Naruto kembali menoleh pada Sakura, "Tadi Hokuto menyuruh kami mengingatkanmu untuk datang gladi bersih jam tujuh nanti."
Sakura tersentak. Terkejut saat menyadari apa yang baru saja ia lakukan; mengacaukan latihan, lalu kabur begitu saja. 'Oh, tidak… Tenten pasti sangat marah. Bagaimana ini?' pikirnya panik. "B-bagaimana latihan drama tadi—apa kalian tahu?"
"Well, um…" Naruto menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal, tampak ragu. Ketika ia hendak membuka mulutnya untuk menjawab, Sai sudah menyelanya,
"Kurasa ada sedikit keributan tadi—ouch!"
"Hokuto bilang kau tidak perlu cemas," potong Naruto, seraya melempar pandang galak pada Sai yang sibuk mengernyit menahan sakit di kakinya yang baru saja diinjak dengan brutal oleh Naruto. Cowok pirang itu kemudian tersenyum agak terlalu lebar pada Sakura. "Toh, masih ada latihan sekali lagi, kan?"
"Tapi—" Sakura tampak gusar.
"Mereka bilang tidak perlu cemas, ya tidak perlu cemas," sela Sasuke tak sabaran. 'Salah siapa juga bikin mood orang jadi jelek?' sungutnya dalam hati.
"Sasuke, benar," imbuh Naruto cepat, "Sekarang tak usah mencemaskan latihan dulu. Bagaimana kalau kita cari makan dulu? Um…" Naruto mengerling jam tangan sport di pergelangan tangan kirinya, "Kita masih ada waktu beberapa jam lagi sebelum gladi bersih. Haah… aku lapar sekali…"
Dan itulah yang kemudian keempat sahabat itu lakukan. Mampir ke kedai Nasi Daging Bakar di dekat KAA yang pernah dikunjungi Sakura dan Sai sebelumnya, memesan banyak makanan untuk mereka berempat –Sai menawarkan diri mentraktir—dan segera memenuhi tuntutan perut yang sejak siang belum terisi tanpa banyak bicara. Terutama Sakura. Tanpa malu-malu ia menandaskan dua porsi besar untuk dirinya sendiri, membuat ketiga temannya terbengong.
"Sepertinya rumor yang menyebutkan kalau cewek suka mengalihkan stress-nya dengan makan banyak itu benar, eh?" bisik Sai pada Sasuke yang duduk di sebelahnya.
"Kalau begitu kenapa kau tidak makan banyak?" Sasuke menyeringai tipis. "Bukankah kau juga sedang stress?"
Sai mendengus pelan dari atas cangkir minumannya. "Aku bukan cewek."
.
.
Matahari sudah sepenuhnya tenggelam ketika Audi milik Sai memasuki halaman Konoha High. Dengan adanya umbul-umbul, spanduk, tenda-tenda bermacam warna dan lampu-lampu hias, tempat itu tampak lebih gemerlap dari biasanya. Beberapa siswa dan guru pun masih terlihat berkeliaran di sana, tampak sibuk dengan keperluan stand kelompok mereka. Atau hanya duduk-duduk sambil minum cola di beranda seperti yang dilakukan sekelompok cowok yang mereka kenali ikut ambil bagian dalam pementasan drama, menunggu waktu gladi bersih.
Neji Hyuuga ada di antara mereka, duduk di salah satu anak tangga sambil menyesap kaleng minumannya dalam diam. Wajahnya muram dan ia tidak menggabungkan diri dengan teman-temannya yang ribut tergelak dan saling dorong, menertawakan entah apa.
Sakura membenamkan punggungnya pada jok belakang mobil ketika mereka melintasi beranda, berharap Neji tidak melihatnya. Dan sepertinya memang tidak, mengingat kaca jendela mobil yang tampak gelap dari luar. Sai kemudian memarkirkan mobilnya di halaman parkir kendaraan guru, tepat di sebelah sedan silver tua milik Kakashi.
Selama beberapa saat Sakura bergeming di tempatnya. Kedua tangannya saling remas dengan sikap gelisah.
"Sakura?" ucap Naruto yang duduk di sebelahnya –ia juga belum turun. "Ada apa?"
Sakura mengangkat wajahnya dan mendapati tidak hanya Naruto yang sedang menatapnya, melainkan Sai dan Sasuke dari bangku depan juga. Gadis itu mengerjap. "Eh—aku um… tidak apa-apa, kok! Ayo, kalian mau lihat latihanku tidak?" serunya cepat-cepat, lalu membuka pintu di sebelahnya dan melompat turun.
Di dalam mobil, Sai dan Naruto menoleh pada Sasuke, melempar pandang minta penjelasan pada cowok itu. Sasuke menghela napas keras. "Nanti akan kujelaskan semuanya," ucapnya tegas sebelum turun dari mobil dan menyusul Sakura yang sudah melangkah lebih dulu menuju gymnasium.
Naruto mengerling Sai, tampak sangat tak puas. "Kau tahu, Sai? Sekarang aku benar-benar kepikiran."
"Menurutmu aku bisa melewati ini?" Sakura bergumam dengan suara sedikit bergetar pada Sasuke yang sudah berjalan merendenginya saat melintasi lapangan samping –Sakura sengaja memilih jalan memutar ke halaman, alih-alih masuk lewat gedung utama supaya tak perlu melewati Neji dan teman-temannya di beranda depan. "Menurutmu apa aku akan mengacaukannya lagi?"
Sasuke tidak menjawab. Di ambang pintu ia menghentikan langkahnya, menyambar tangan Sakura, membuatnya ikut berhenti juga. Sasuke bisa merasakan tangan Sakura sedingin es dalam genggamanannya. Gadis itu mendongak.
"Lakukan saja seperti biasa," Sasuke berkata sambil menatap kedua mata hijau di depannya lurus-lurus, "Aku tahu kau hebat di atas sana. Kalau itu masih tidak membantu, anggap saja mereka adalah kentang." –yeah, aku hanya tidak ingin kau kena marah lagi setelah tadi siang…
Sekilas Sakura seperti hendak tertawa. "Yeah. Um… trims, Sasuke." Ia berpaling, mengambil napas dalam-dalam sebelum mendorong terbuka pintu gymnasium.
Pemandangan lapangan indoor yang sudah disulap menjadi ruang pertunjukkan segera menyambut mereka. Butuh beberapa saat bagi Sakura untuk membiasakan diri dengan perubahan itu. Dan mau tak mau ia mengagumi hasil kerja Sasuke dan timnya. Panggung yang terlihat megah –meskipun tentu saja tak semegah panggung di Konoha Hall—dengan latar hasil buah tangan Sai, properti yang bagus dan segala tetek bengek lain. Rasanya Sakura sudah tak sabar untuk beraksi di atas sana.
Di atas panggung terlihat guru mereka, Kurenai Yuuhi sedang melatih gerakan para figuran untuk babak pertama –akan ada sedikit adegan berdansa di awal. Anak-anak itu –yang sebagian besar anak kelas satu dan beberapa kelas dua seperti Karin—melakukan gerakan anggun memutar, mengikuti alunan piano dari Shikamaru dan hitungan Bu Kurenai. Di bangku penonton, Sakura melihat pamannya, Kakashi, bersama Pak Sarutobi yang pastinya sedang menunggui istrinya. Keduanya tampak asyik berbincang sambil minum kopi kalengan.
Sakura mengedarkan pandangnya sekali lagi, dan menemukan orang yang dicarinya duduk di tribun di sisi kanan panggung –Tenten. Seperti biasa, seniornya itu sedang bersama Kankurou, berbicara dengan suara rendah. Sementara itu, Yakumo tak tampak di mana pun.
Sakura mengerling Sasuke di belakangnya, meminta dukungan. Cowok itu mengangguk, menepuk lengannya sekilas sebelum kemudian duduk di salah satu bangku di deretan ketiga dari belakang. Sakura kembali memalingkan pandangannya ke arah panggung. Menarik napas panjang, gadis itu melangkah cukup mantap di antara deretan bangku penonton, menebalkan muka untuk menerima apa pun yang akan dihadapinya di depan.
Tenten menoleh saat Sakura mendekat ke arahnya. Wajahnya sedikit pucat dan kelihatan lelah, namun ada seulas senyum tipis di sana –yang membuat Sakura sedikit terkejut. Sama sekali tak ada jejak kemarahan seperti yang semula diduganya.
"Hei," sapa Tenten bahkan sebelum Sakura sempat membuka mulutnya, "Aku tahu kau akan datang. Sudah lebih baik?"
Sakura memandangnya bingung. "Um… yeah," jawabnya ragu, "Yang tadi siang, maaf—"
"Aa—jangan minta maaf," sela Tenten.
Kankurou memilih saat itu untuk beranjak dari duduknya. "Aku mau ke belakang sebentar. Kalian ngobrol saja dulu. Oke?"
Tenten melempar senyum penuh arti padanya ketika cowok Suna itu dengan lembut menepuk kepalanya, tepat di antara kedua cepolnya. "Thanks," ucap gadis itu pelan, yang kemudian dibalas Kankurou dengan anggukan.
Kankurou lalu beralih pada Sakura, melempar senyum samar pada gadis itu juga, dan menepuk bahunya sekilas sebelum beranjak pergi.
"Sakura," panggilan Tenten mengembalikan perhatian Sakura padanya. Tenten menepuk bangku kayu di sebelahnya, memberi isyarat agar Sakura duduk. Sakura menurut.
Agak lama mereka terdiam setelahnya, sementara mereka memandang pada anak-anak yang sedang berlatih berdansa di atas panggung, meskipun tidak benar-benar memperhatikan. Sakura duduk dengan gelisah, sesekali mengerling seniornya yang tak kunjung mengatakan apa pun padanya. Baginya sikap Tenten sangat janggal. Biasanya gadis itu begitu cerewet, tapi mendadak ia menjadi begitu pendiam. Murung, mungkin lebih tepat. Dan mau tak mau Sakura berpikir –dan ini sedikit membuat dadanya berdecit menyakitkan –mungkin ada hubungannya dengan Neji.
"Kuharap kau tidak membenciku," kata Tenten setelah beberapa saat. Gadis itu menoleh, memandang Sakura –saat itu Sakura menyadari sesuatu; kedua bola mata seniornya itu sedikit bengkak dan merah, seperti habis menangis. Dan entah mengapa itu membuatnya merasa bersalah.
"Tidak," sahut Sakura cepat, "Yang tadi siang itu salahku. Aku yang membuat kacau –aku tidak cukup berkonsentrasi sehingga—"
"Aku tidak bicara tentang drama," sela Tenten, "Tapi tentang kau—" ia terdiam sejenak, menatap dalam-dalam mata adik kelasnya, "—dan alasan di balik situasi yang tidak menguntungkan ini."
Sejenak Sakura tak bisa berkata-kata. "Aku tidak mengerti."
Tenten memberinya senyum lemah. "Bisa dibilang, akulah yang sudah membuatmu… yah… begitu." Ia menunduk. "Maafkan aku, Sakura."
"A—Aku…"
"Aku terlalu terobsesi pada drama ini, sampai-sampai tidak memedulikan kondisi sebenarnya pemain-pemainku," lanjut Tenten tanpa memberi kesempatan Sakura membalas, kembali memandang adik kelasnya, "Yakumo memberitahuku mungkin aku terlalu menekanmu. Awalnya aku tidak mengerti, tapi…"
Sakura merasakan jantungnya berdebar lebih cepat saat ia mulai memahami arah pembicaraan seniornya itu –dan ia juga mulai mengerti mengapa Tenten terlihat begitu kacau. Dia sudah tahu. "Jangan—" potong Sakura cepat. Ia menelan ludah dengan susah payah sebelum melanjutkan, "—tidak apa-apa," Sakura memaksakan seulas senyum, "Seharusnya aku bisa bersikap lebih pro –maksudku, tidak seharusnya aku melibatkan perasaan pribadi saat berakting. Lihat, aku jadi membuat semua orang repot."
"Sakura," ujar Tenten gusar.
"Jangan minta maaf," Sakura mengulurkan tangannya menyentuh tangan Tenten, berusaha meyakinkannya kalau yang terjadi padanya sama sekali bukan salahnya. "Aku baik-baik saja. Aku bisa sekuat Violetta kalau aku mau."
Beberapa saat terdiam, akhirnya Tenten membalas senyumnya, mengangguk seraya meletakkan tangannya di atas tangan Sakura yang menyentuhnya. "Aku tahu. Terimakasih." Setitik air mata terjatuh dari sudut mata cokelatnya, namun dengan cepat Tenten menyekanya. "Sudah siap latihan lagi, Sakura?"
"Yeah!" Sakura mengangguk mantap.
"Oke," Tenten kemudian berpaling ke arah panggung, "Suigetsu!" panggilnya pada cowok berambut biru-keperakan yang baru saja melompat turun dari panggung.
Suigetsu menoleh. "Apa?"
"Bisa tolong panggilkan anak-anak yang masih di luar? Kita akan mulai gladi bersih-nya sekarang."
"Oke!" Cowok itu melempat skrip yang dipegangnya ke panggung sebelum beranjak menuju pintu keluar gymnasium, nyaris bertabrakan dengan Naruto dan Sai yang baru masuk saat mencapai pintu.
"Kalian lama sekali," desis Sasuke pada kedua sahabatnya ketika mereka baru saja menghenyakkan diri dengan nyaman di kursi penonton di sampingnya.
"Tadi dari toilet," sahut Naruto seraya melambaikan tangannya ke arah Sakura dengan penuh semangat. Sakura yang baru saja dibantu naik oleh Hokuto, balas melambai.
"Belum dimulai?" tanya Sai.
"Belum."
Tak lama kemudian, serombongan siswa berbondong-bondong memasuki gymnasium. Beberapa duduk di bangku penonton –sepertinya sengaja datang untuk menonton gladi bersih—dan beberapa, termasuk Neji, langsung menuju panggung. Tenten, yang suaranya terdengar serak, berseru memberikan instruksi pada mereka yang baru datang agar bersiap.
"Jadi," ujar Naruto pelan selagi anak-anak di depan sibuk bersiap, sembari menatap penasaran pada Sasuke di sebelahnya, "Apa yang kau lakukan berduaan dengan Sakura tadi, eh?" ia menyeringai, "Menyatakan cintamu?"
"Nope," dengus Sasuke, masih menatap panggung. Yang benar saja.
"Lalu?"
"Kelihatannya?" Sasuke malah balas bertanya, membuat Naruto melempar pandang sebal padanya.
"Sakura nangis lagi," kali ini Sai yang bersuara, memandang Sasuke melewati Naruto, "Dan itu… kurasa ada hubungannya dengan latihan dramanya. Soalnya sebelum kami menyusul kalian, kami mendengar cewek sutradara ituribut-ribut dengan Hyuuga."
"Yeah," Naruto menimpali seraya mengangguk, "Dan kami cukup yakin mendengar nama Sakura disebut. Jadi…?"
Sasuke menghela napas, berpaling dari panggung untuk menatap kedua sahabatnya yang menunggu. "Ini bukan soal latihan drama," Sasuke memulai dengan suara pelan, berusaha sebisa mungkin agar terdengar netral dan tidak memihak –meskipun sebenarnya ia ingin sekali menyalahkan Neji. Namun jika begitu, Naruto barangkali akan terpancing emosinya dan menimbulkan keributan yang lain, hal terakhir yang diinginkan Sakura saat ini—saat menceritakan situasi yang terjadi antara Sakura dan Neji. Alasan mengapa ia membawa Sakura meninggalkan sekolah tadi siang.
"Astaga," komentar Naruto dalam bisikan setelah Sasuke mengakhiri penjelasannya. Mata birunya nanar memandang sosok gadis berambut merah muda itu di atas panggung. "Aku sama sekali tidak tahu," ujarnya muram. Tangannya sedikit menegang. "Kukira Neji... bukan tipe orang yang bisa melakukan hal sebodoh itu. Damn! –Apa aku bisa menghajarnya setelah ini?" tanyanya seraya mengerling penuh harap Sasuke.
Sasuke tidak menjawabnya –tidak perlu. Toh Naruto pasti sudah tahu jawabannya. Meski begitu, mata hitamnya kini memicing menatap sosok Neji yang sedang berdiri di atas panggung bersama Sakura. Kedua lengannya terlipat di depan dada. Kalau bisa, rasanya ia pun ingin melakukan seperti yang ditanyakan Naruto barusan.
"Well, orang bisa menjadi sangat bodoh jika itu ada hubungannya dengan perasaan, Naruto," ujar Sai dengan nada muram, tepat ketika beberapa anak perempuan memasuki gymnasium, berjalan melewati deretan bangku mereka ke deretan depan. Ino Yamanaka adalah salah satu dari rombongan itu, dan gadis itu sama sekali tidak menoleh pada mereka ketika ia lewat. Hela napas berat terdengar dari arah Sai. "Aku bisa mengerti jika Sakura bisa menangis seperti itu."
Sasuke menanggapinya dengan gumaman setuju, sementara tepat di sebelahnya, Naruto memberinya tatapan simpati seraya menepuk pelan lengannya. Lama ketiganya terdiam, sampai akhirnya lampu gymnasium dimatikan. Hanya lampu panggung saja yang dibiarkan menyala sehingga suasananya persis seperti saat pertunjukkan yang sebenarnya. Suara dengung obrolan yang semula memenuhi ruangan luas itu mendadak terhenti ketika semua perhatian tertuju ke arah panggung. Alunan musik pengiring terdengar, seiring dengan dimulainya babak pertama gladi bersih drama itu.
.
.
Sakura mengerahkan segala kemampuannya dalam latihan terakhir mereka itu. Meskipun tidak maksimal mengingat apa yang telah terjadi sebelumnya. Beberapa kali kesalahan terjadi, tapi tidak sampai mengganggu keseluruhan latihan –dan Sakura tidak membiarkan perasaan pribadinya terlibat kali ini. Di atas panggung, ia adalah Violetta. Violetta yang dengan sepenuh hati mencintai Alfredo yang balas mencintainya, bukan Sakura Haruno yang sudah melewatkan bertahun-tahun jatuh cinta pada Neji Hyuuga, dan berakhir patah hati.
.
.
Sakura menarik dirinya dari pelukan Neji segera setelah Tenten memberi isyarat berakhirnya babak terakhir latihan drama itu. Suara tepuk tangan terdengar baik dari penonton, maupun dari sisi panggung, tempat para pemeran babak terakhir ikut menonton. Semuanya tampak puas –entah karena akting mereka, atau karena berakhir sudah sesi latihan melelahkan sampai malam itu.
"Bagus sekali, Sakura," ucap Tenten, menghampiri sisi panggung. Ia mengerling Neji sejenak ketika cowok itu melompat menuruni panggung, tapi tak bicara dengannya.
Sakura tersenyum kaku, dengan hati-hati menuruni panggung dibantu Juugo –menggumamkan terimakasih pada cowok bongsor itu sebelum kembali berpaling pada Tenten. "Trims. Tapi kurasa yang tadi tidak cukup bagus. Chemistry-nya entah mengapa…" Sakura tidak melanjutkan kata-katanya, hanya mengangkat bahu. "Maaf…"
"Tidak apa," sahut Tenten dengan senyum paham di wajahnya. "Kalau latihannya tidak bagus, pertunjukkannya pasti bakal hebat." Ia tertawa kecil. "Itu yang biasanya terjadi, kan?"
"Yeah. Semoga," kekeh Sakura.
Tenten mengangguk, menepuk lengannya pelan sebelum kemudian berpaling pada teman-temannya yang lain. "Teman-teman, kita cukupkan saja latihannya. Tidur yang nyenyak malam ini supaya besok kita bisa menampilkan kemampuan terbaik kita! Oke?"
"OKEEE!" Anak-anak menyambutnya dengan seruan penuh semangat, kemudian mulai bergerak mengambil tas dan peralatan masing-masing untuk bersiap pulang. Tenten bergegas menghampiri guru pembimbing mereka, Kurenai Yuuhi, untuk membicarakan teknis pertunjukan besok.
"Sakura!" sosok gadis pirang memisahkan diri dari kelompok kecil penonton di bangku depan, berlari-lari kecil menghampiri Sakura yang tengah mengambil miliknya di bangku tribun.
Yang dipanggil pun menoleh, tersenyum lebar melihat sahabatnya mendekat. "Kukira kau tidak bakal nonton gladi bersih, Ino," ujarnya seraya memakai kembali mantelnya.
"Tentu saja aku bakal nonton," tukas Ino, pura-pura cemberut, "Maksudku, setelah apa yang terjadi, aku jadi sulit bicara denganmu –kalau kau mengerti maksudku."
Sakura mengerling deretan bangku belakang tempat ketiga sahabatnya yang lain sudah menunggunya. Tentu saja, pikirnya. Keberadaan Sai membuat Ino tidak seleluasa dulu berbicara padanya. Gadis itu pasti masih merasa tidak enak.
"Aku merindukanmu, tahu," imbuh Ino ketika Sakura sudah berpaling padanya lagi, tersenyum padanya.
Sakura membalas senyumnya. "Aku juga. Tapi kan kau bisa meneleponku."
Senyum Ino melemah, dan gadis itu tidak berkata apa pun untuk menanggapi. Kakashi Hatake memilih jeda itu untuk menghampiri kedua muridnya.
"Akting yang bagus, Sakura."
Sakura nyengir pada pamannya itu. "Trims, Kakashi."
"Sudah siap pulang?" tanya Kakashi.
"Eh?"
"Ino juga boleh ikut kalau mau," tambah Kakashi sembari melirik Ino, tersenyum padanya juga sebelum kembali menoleh pada keponakannya, "Jangan kaget begitu, Nak. Tidak ada salahnya kan pulang bersama pamanmu sesekali, hm? Lagipula ibumu sudah beberapa kali meneleponku, bertanya-tanya kapan kau akan pulang dan mengapa ponselmu dimatikan."
"Astaga!" Sakura buru-buru merogoh saku mantelnya dan mengeluh pelan saat mendapati ponselnya dalam keadaan mati. Ia lupa men-charge ponselnya sebelum berangkat tadi pagi. Menghela napas, Sakura mengangguk pada pamannya. "Tapi aku harus memberitahu yang lain dulu."
Kakashi mengangguk dan Sakura berjalan melewatinya menuju Naruto, Sasuke dan Sai yang sudah menunggunya untuk pulang bersama. "Sori, teman-teman," ucap Sakura begitu ia sudah dekat dengan ketika cowok itu, "Sepertinya aku tidak bisa ikut kalian. Aku akan pulang dengan pamanku dan Ino. Tidak apa-apa, kan?"
Raut kecewa terlihat melintas di wajah Naruto sementara dua yang lain hanya mengangguk. "Kalau begitu kami duluan, Sakura," ucap Naruto dengan cengirannya yang khas –untuk menutupi kekecewaannya, tentu saja—"Ngomong-ngomong, mainmu tadi sangat bagus."
Setelah ketiga cowok itu pergi, Sakura bergegas kembali ke bagian depan ruangan itu untuk menghampiri pamannya dan Ino. Setelah mengumpulkan barang-barang mereka, ketiganya lantas meninggalkan gedung olah raga itu menuju lapangan parkir. Audi milik Sai sudah tidak ada ketika mereka tiba di sana.
Sakura mengambil tempat di kursi penumpang bagian depan di sebelah Kakashi, sementara Ino duduk di bangku belakang. Setelah mengenakan seat belt, Kakashi menjalankan mesin dan kendaraan itu melaju perlahan meninggalkan halaman parkir sekolah yang sudah sepi, memasuki jalan utama menuju kediaman Yamanaka untuk mengantar Ino terlebih dahulu.
"Kau gugup, Sakura? Maksudku, untuk pertunjukkan drama besok?" tanya Ino memecah keheningan.
"Sedikit," jawab Sakura, menoleh ke bangku belakang. "Ditonton teman-teman sendiri saja rasanya sudah gugup. Apalagi besok –dengan penonton yang tentunya bukan cuma penghuni Konoha High."
"Tapi tadi kau tidak kelihatan gugup," timbrung Kakashi, melempar senyum padanya tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan.
"Kan tidak harus diperlihatkan di depan semua orang," Sakura terkekeh.
"Justru Neji yang kelihatan gugup," kata-kata Ino mengembalikan perhatian Sakura sepenuhnya padanya, "Kurasa setelah bertengkar hebat dengan Yakumo dan Tenten, dia agak terguncang."
"Huh?" Sakura terkejut. "Mereka bertengkar?"
Ino mengangguk. Ekspresinya agak muram. "Kau tidak tahu? Tadi siang sempat heboh karena Yakumo tiba-tiba jatuh pingsan di koridor. Pak Shiranui dan Suster Airi sampai membawanya ke rumah sakit segala tadi."
"Astaga…" Sakura memekap tangannya ke mulut.
"Dan mereka bilang kau kabur dari latihan, Sakura. Sebenarnya apa yang terjadi? Aku sempat mendengar mereka menyebut-nyebut tentang kau –tunggu dulu. Apa ada sesuatu yang tidak kau ceritakan padaku?"
Sakura tidak langsung menjawab, masih sedikit terguncang dari informasi mengejutkan yang baru diterimanya dari Ino. Tenten dan Yakumo bertengkar dengan Neji… Yakumo pingsan… Dan Tenten… "Aku –aku tidak ingin membicarakannya sekarang, Ino." Ia mengerling Kakashi.
"Anggap saja sekarang aku tuli," ujar Kakashi tenang, seakan bisa merasakan tatapan keponakannya. Ino yang seakan baru menyadari keberadaan guru mereka di sana langsung merona merah.
"Tidak. Serius. Aku benar-benar tidak ingin membahasnya sekarang." Sakura kembali memandang ke depan, menggigit bibir bawahnya. Memikirkan kemungkinan kekacauan yang sudah terjadi disebabkan olehnya membuat gadis itu benar-benar merasa tidak enak. Tidak heran Naruto berusaha menutup-nutupi kejadian itu darinya tadi dan memintanya agar tidak khawatir. Karena sekarang ia benar-benar khawatir.
"Yakumo Kurama sudah pulang ke rumahnya tadi," beritahu Kakashi kemudian, saat mereka melewati perempatan memasuki jalan rumah Ino, "Mereka bilang dia hanya kelelahan. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
Sakura memandang pamannya, mengangguk kecil. Ia menoleh pada Ino ketika merasakan tangan sahabatnya itu meremas bahunya perlahan. "Kau tahu kau bisa bercerita apa pun padaku, Sakura. Kalau tidak sekarang, aku bisa menunggu sampai kau siap."
Sakura tersenyum padanya, lalu mengangguk dan menggumamkan terimakasih. Tentu saja gadis itu tahu ia selalu bisa mengandalkan Ino.
"Bagaimana kalau setelah urusan festival ini beres, aku menginap di tempatmu? Aku juga ingin cerita banyak sekali padamu."
Sekali lagi Sakura mengangguk. "Tentu."
Mereka berhenti tepat di depan pelataran Yamanaka Flower Shop. Setelah mengucapkan terimakasih pada Kakashi dan Sakura, Ino bergegas turun dari mobil. Ia masih berdiri di sana, mengawasi ketika mobil Kakashi kembali bergerak menjauh sampai akhirnya menghilang di belokan.
"Jadi," Kakashi mengerling keponakannya yang kini tengah menatap ke jalanan di luar jendela, tersenyum penuh arti, "Masalahnya adalah tentang cowok?"
Sakura menoleh cepat. Wajahnya merona. "Aku tidak bilang aku bermasalah dengan cowok!"
Kakashi mengangkat bahunya. "Hanya menebak. Dari pembicaraanmu dengan Ino—"
"Hei!" potong Sakura, "Tadi kan kau bilang kau tuli!"
"Ah, iya. Aku lupa. Maaf, ya…" pria bermata kelabu itu terkekeh-kekeh kecil. "Kadang-kadang aku lupa keponakanku yang satu ini sudah jadi seorang gadis," ujarnya setelah beberapa saat terdiam. "Rasanya baru kemarin aku menggendongmu berkeliling Konoha Land. Mendengar kau terlibat dengan anak laki-laki—"
"Paman…" Sakura terdengar tak sabar.
"Baiklah, baiklah. Aku akan diam…" Kakashi membuat gerakan seperti mengunci mulutnya. Kendati demikian, dari sudut matanya pria itu tetap mengawasi dengan penuh khawatir sang keponakan yang kembali membuang pandang ke luar jendela, tampak muram.
"Kakashi?" panggil Sakura setelah beberapa lama mereka melanjutkan perjalanan dalam diam. Ia tidak berpaling dari jendela.
"Ya?"
"Apa kau pernah patah hati?"
Entah mengapa, Kakashi tidak terkejut mendengar pertanyaan ini. "Maksudmu sebelum aku bertemu bibimu?"
"Hm…" Sakura mengangguk samar.
"Tentu saja pernah," jawab Kakashi dengan senyum tipis di wajahnya. "Waktu aku berumur dua belas tahun, aku naksir guru Aljabarku di sekolah."
"Apa yang terjadi?" tanya Sakura, kali ini sambil menatap sang paman, tampak tertarik.
"Dia menikah, tentu saja. Dengan seorang pria botak yang seumuran dengannya," Kakashi menjawab seraya mengangkat bahunya.
"Apa yang kau lakukan saat itu?"
Kakashi mendengus pelan. "Aku tidak menyentuh buku Aljabar selama tiga minggu."
Mendengar jawaban itu, Sakura tertawa kecil. "Dan sekarang kau jadi guru Aljabar. Lucu sekali."
Kakashi tidak berkomentar lebih lanjut, hanya tertawa. Tak lama kemudian, mereka sampai di depan rumah nomor 28 di Blossoms Street.
"Tidak ingin mampir dulu?" tanya Sakura sebelum membuka pintu.
"Lain kali saja. Masih ada pekerjaan yang perlu diselesaikan malam ini."
Sakura mengangguk, kemudian mendorong pintu mobil sampai terbuka.
"Sakura?" –Gadis itu menghentikan gerakannya yang hendak turun dari mobil dan menoleh, hanya untuk mendapati sang paman memberinya senyum hangat yang mengingatkannya pada ayahnya— "Kalau ada anak laki-laki yang membuat masalah denganmu, beritahu aku. Biar aku memberinya pelajaran bagaimana memperlakukan wanita dengan benar."
Sejenak Sakura terdiam, sebelum kemudian membalas senyumnya, mencondongkan tubuhnya untuk memberi kecupan singkat di pipi pamannya, yang walaupun terkadang membuatnya kesal, tapi sangat ia sayangi itu. "Thanks a lot, Daddy-bear. Good night."
"Aa. Sleep tight, Pumpkin." Kakashi mengacak-acak rambut merah muda keponakannya penuh sayang.
.
.
Suara televisi yang berasal dari ruang keluarga langsung menyambutnya ketika Sakura membuka pintu depan. Juga aura hangat dan menenangkan yang selalu dirasakannya setiap kali berada di dekat ibunya –yang selalu berhasil membuatnya merasa lebih baik di tengah masalah yang paling pelik sekali pun. Tepat seperti apa yang dibutuhkannya sekarang ini.
"Ibu, aku sudah pulang…" gadis itu memberitahukan kedatangannya ketika ia memasuki ruang keluarga.
Azami Haruno, yang saat itu sedang duduk di sofa nyaman di sana menoleh, tersenyum kala melihat putrinya –hartanya yang paling berharga. "Selamat datang," sambutnya, meletakkan cangkir teh di tangannya. Wanita paruh baya berambut merah gelap itu baru saja akan beranjak, ketika putrinya menghambur ke arahnya, merebahkan diri di sofa dengan kepala terbaring nyaman di pangkuannya yang terasa pas –seakan memang di situlah tempatnya yang tepat.
"Capek?" tanya Azami seraya membelai rambut merah muda Sakura yang terurai dari kucirnya.
"Nng…" Sakura mengangguk. Ia memejamkan mata seraya menarik napas, menghirup aroma ibunya dalam-dalam.
"Sudah makan?"
"Sudah. Tadi dengan Sasuke, Naruto dan Sai…"
Azami tersenyum, melanjutkan membelai rambut putrinya. "Baguslah."
"Ibu?"
"Ya, Nak?"
"Boleh aku tidur dengan Ibu malam ini?"
Azami agak terkejut. Sudah lama sekali sejak terakhir kali Sakura minta tidur bersamanya. Tidak biasanya. "Tentu saja boleh."
"Terimakasih…"
Lama keduanya terdiam, sementara kata-kata Kakashi siang sebelumnya kembali melintas dalam kepalanya. 'Menurutku ibumu ingin dilibatkan dalam setiap potongan kecil kisah hidupmu –sesepele apa pun itu. Karena kau adalah miliknya yang paling berharga sekarang, dan satu-satunya. Sedikit berbagi duka dengannya tak akan melukainya. Justru barangkali malah bisa menyembuhkan lukamu walau sedikit. Bukankah itu yang selalu coba dilakukan ibumu?'
Cairan bening hangat itu kembali mengalir bebas dari sudut mata Sakura.
"Ibu?"
"Iya, Sayang?"
"Aku dan Neji… kami baru saja putus."
Gerakan Azami terhenti. "Oh, Sakura…"
"Tidak apa-apa, Ibu," suara Sakura tercekat, "Aku baik-baik saja. Aku masih punya Ibu, kan?"
"Tentu saja, cintaku…"
Sakura tersenyum di tengah isakannya. "Maaf sudah membuat Ibu khawatir."
"Bagaimana Ibu bisa khawatir, jika Ibu memiliki putri yang begitu kuat sepertimu, hm? Ibu percaya kau pasti bisa melewatinya," Azami berkata penuh keyakinan, namun tetap dengan nada lembut yang menguatkan.
Wanita itu mengerti, sulit bagi seorang remaja seperti Sakura untuk mengungkapkan hal seperti ini pada orang tuanya. Biasanya mereka akan memendamnya sendiri atau bercerita hanya kepada teman yang dipercayainya –tapi putrinya mempercayainya. Dan yang perlu dilakukannya hanyalan balik mempercayai gadisnya itu. Ia tahu Sakura gadis yang tegar. Ia sudah pernah melihatnya. Patah hati hanyalah sebuah proses kecil dari sebuah pendewasaan. Sakura pasti bisa mengatasinya.
"Terimakasih, Ibu…"
.
.
"…I love you, Honey. Take care…"
Sasuke berdehem kecil, mengerling Itachi yang duduk di sampingnya di sofa ruang keluarga. Kakaknya itu tampak sibuk dengan laptopnya, namun Sasuke tetap menggeser duduknya menjauh dan berkata pelan pada gagang telepon di tangannya. "I love you too…" –dan Mikoto Uchiha memutuskan sambungan dari seberang.
Itachi mendengus tertawa ketika Sasuke mengembalikan gagang telepon ke tempatnya semula di meja kopi.
"Apa?" Sasuke mendelik pada kakaknya.
"Tidak," ujar Itachi menahan tawanya. Ia menaikkan posisi kacamatanya yang melorot ke atas hidungnya. "Lucu saja melihatmu malu-malu begitu. Padahal itu kan Ibu kita."
Sasuke mengeluarkan gerutuan tak jelas. Bukannya ia malu bilang 'aku mencintaimu' pada ibunya sendiri, ia hanya tidak begitu terbiasa. Meskipun sebenarnya ia ingin bisa mengatakan itu pada ibunya sebebas Itachi yang tidak pernah malu-malu menunjukkan betapa ia mencintai keluarganya.
"Tadi ibu bilang apa?" tanya Itachi kemudian, sembari mengetik sesuatu di laptopnya.
"Hmm…" Sasuke mengambil waktu mengunyah tomat ceri yang diambilnya dari mangkuk kudapan buah di atas meja. Tangannya sibuk mengganti chanel pada remote televisi. "Biasa. Tanya kabar, sekolah. Tanya apa aku makan dengan betul, tidurku bagaimana –yang seperti itu. Lalu ayah mengambil alih, menasihatiku bagaimana menjadi pemimpin yang baik."
Itachi tersenyum."Tipikal ayah," komentarnya.
"Kau cerita padanya soal pemilihan itu, ya?"
Itachi berpaling dari laptopnya, melempar pandang pada Sasuke seakan adiknya itu baru saja bicara dalam bahasa asing yang tak ia pahami. "Tentu saja. Ayah selalu ingin tahu apa yang terjadi pada anak-anaknya, kan? –Lagipula ayah selalu menanyakanmu setiap kali dia meneleponku," ia menambahkan dengan senyuman. "Hee… lihat, adikku kelihatan senang," godanya ketika dilihatnya Sasuke berusaha menahan senyum.
"Shut up…" Sasuke mengambil sepotong besar apel dan memasukkannya bulat-bulat ke dalam mulut untuk menutupinya. Wajahnya sedikit merona.
Bahkan Rufus, yang sedari tadi duduk melingkar di kaki meja sambil menggerigiti tulang bohongannya, seakan bisa merasakannya. Anjing itu mengangkat kepalanya, menyalak riang pada majikan keduanya.
"Itu juga termasuk kau, Rufus!" gerutu Sasuke, menunjuk anjingnya dengan remote televisi.
"Kau kenapa?" tanya Itachi penasaran selang beberapa waktu. Sedari tadi ia memperhatikan Sasuke selalu memijat-mijat otot di bahu dan lehernya.
"Eh –tidak kenapa-kenapa. Hanya sedikit capek," jawab Sasuke.
Itachi memandangnya beberapa saat, sebelum berkomentar, "Kau pasti bekerja keras untuk acara besok, eh? Waktu itu kau bilang di bagian apa –kuli?" Ia menyeringai.
Sasuke mendengus. "Logistik."
"Dengan kata lain, kuli. Tukang angkut-angkut barang," Itachi menyeringai lebar –dan Sasuke tidak bisa membantah ini. Menggelengkan kepala sambil terkekeh-kekeh, Itachi meninggalkan pekerjaannya sejenak, melepas kacamatanya dan meletakkannya di atas meja. Kemudian bergerak mendekat pada adiknya, menarik sebelah lengannya. "Sini."
"Kau mau apa?" Sasuke gelagapan ketika kakaknya itu mulai menekan-nekan otot di bahunya dalam gerakan memutar, yang terasa… sangat nyaman.
"Sedikit memberikan reward untuk adikku yang sudah bekerja keras," sahut Itachi santai, sembari sedikit memberikan tekanan pada pijatannya, yang sama sekali tidak bisa ditolak Sasuke.
"Dari mana kau belajar memijat, Kak?"
"Hana," jawab Itachi sederhana.
"Aah…" –sepertinya Sasuke semakin menyukai calon kakak iparnya itu.
"Sasuke?"
"Hn?"
"I love you."
Sasuke nyaris terjungkal dari sofa. "Kak! Jangan mengatakan itu. Menjijikkan, tahu!"
Itachi tergelak, mengacak-acak rambut adiknya yang masih basah setelah mandi itu dengan gemas. Kemudian kembali menariknya supaya ia bisa memijatnya lagi.
Di depannya, Sasuke menahan senyumnya. Sebenarnya ia sama sekali tidak keberatan.
Aa… I love you too, big brother…
.
.
TBC…
.
.
Sesuai janji, aku apdet hari Sabtu. Hohoho… XD
Chapter ini timeline-nya masih sama dengan chapter kemarin, masih dalam hari yang sama. Yah, fic ini emang alurnya sangat lambat, dan aku gak tahan gak masukin unsur family di sini. Kyaaa! Kayaknya udah lama banget gak ada momen KakaSaku, AzaSaku n ItaSasu (yang ItaSasu mah cuma bonus aja sih. Hohoho.. XD). Awalnya sih chapter ini sudah masuk festival, tapi yah… rencana gagal total seperti biasa. Gomen ne? T_T
Btw, aku nulis chapter ini diiringi lagu-lagu kompilasi yang pernah muncul di fic ini –dan menginspirasi fic ini. *halah. Sok banget gue* . Ternyata kalo dikumpulin jumlahnya ada lebih 60 lagu. O.o
Akhir kata, makasih banyak sudah mengikuti sampai sejauh ini (jauh banget, yak?), dan mengapresiasi dengan review.. ^_^
