Warning: agak panjang, 11.216 word, 34 page only story, cameos.

.

.

Pagi itu secerah yang bisa diharapkan di hari-hari awal musim semi –dan penghujung musim dingin. Udara masih terasa dingin, namun tidak sedingin saat salju masih sering turun sehingga orang-orang bisa tahan keluar rumah tanpa mengenakan baju hangat. Seperti yang dilakukan Itachi Uchiha. Pria muda itu hanya mengenakan kaus oblong abu-abu yang sudah agak usang dan celana piama saat keluar rumah untuk mengambil koran paginya.

Seperti biasa, sapaan para tetangga yang ramah –bahkan kelewat ramah—segera menyambutnya. Termasuk tawaran sarapan bersama yang menggiurkan dari seorang ibu-ibu tetangganya –sudah menjadi rahasia umum bahwa bibi itu menginginkan Itachi mau menjadi menantunya bagi anak gadisnya yang masih duduk di bangku kuliah!—yang tentu saja ditampik dengan sopan oleh yang bersangkutan.

"Ah, sayang sekali, Nak," ujar bibi tetangganya itu tanpa repot-repot menyembunyikan mimik kecewa di wajahnya. Wanita paruh baya itu lalu menghela napas dengan dramatis seraya menyemprotkan air lagi pada salah satu pot tanaman hiasnya, "Padahal Emi pasti akan sangat senang kalau kau mau sarapan bersama kami—"

"Ibu apaan, sih?" tukas Emi—anak gadisnya—menyela ibunya, tampak malu sekaligus kesal. Gadis berambut ikal itu kebetulan sedang berada di luar untuk mengambil surat-surat dari kotak pos di depan rumahnya. "Kak Itachi jangan dengarkan ibuku. Dia memang suka iseng," tambahnya pada Itachi yang hanya tersenyum simpul sambil mengibas-ibaskan setumpuk surat tagihan di tangannya.

"Tidak apa," sahut Itachi dengan tawa sopan, "Bagaimana kuliahmu?" tanyanya berbasa-basi.

"Oh, well—um… lumayan. Oke juga—maksudku… um… kami baru selesai ujian," jawab gadis itu dengan gugup. Dia tersenyum –meringis, tepatnya—pada Itachi sebelum berbalik dan buru-buru masuk ke dalam rumah. Mulutnya komat-kamit memaki dirinya sendiri, "Hauu… Bodoh! Bodoh! Bodooh.. benar-benar memalukan!"

"Putriku sangat cantik, bukan?" tanya sang ibu tak ada hubungannya ketika Emi sudah menghilang di pintu.

"Er…" Itachi yang tidak tahu harus berkomentar apa, hanya tertawa sopan. Ia terselamatkan dari kewajiban menjawab ketika terdengar suara benda diseret dari rumah sebelahnya lagi. Tetangganya yang lain, Nenek Tomoe yang tinggal sendirian, baru saja keluar dari rumahnya sambil menyeret kantung besar berwarna hitam ke tong sampah di depan rumahnya. Wanita tua itu terlihat kepayahan. Melihat itu, Itachi pun bergegas membantunya setelah menyelipkan korannya di pinggang celananya.

"Terimakasih banyak ya, Kosaku," ucap si nenek, setelah Itachi selesai menjejalkan kantung sampah itu ke dalam tong.

"Itachi, Nek. I-ta-chi," Itachi membenarkan dengan suara keras dan lambat, meskipun ia ragu nenek Tomoe akan mendengarkannya atau tidak. Tetangganya yang satu itu selalu saja salah menyebutnya atau Sasuke dengan nama cucunya. Tak peduli berapa kali ia dan adik lelakinya itu membetulkannya.

Nenek Tomoe hanya mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum lebar. Itachi kemudian memapah sang nenek kembali ke dalam rumahnya. Mereka baru saja mencapai undakan ketika seorang wanita muda dengan rambut hitam dibuntut kuda berlari-lari dari arah halte di ujung jalan. Sebuah tas bepergian tersampir di bahunya.

"Nenek… maaf Aya terlambat!" wanita itu, perawat pribadi sang nenek, berkata terengah. Dengan sigap ia segera mengambil alih nenek Tomoe dari Itachi. "Terimakasih sudah membantu, Itachi," ucap suster Aya ramah seraya mengangguk pada Itachi.

"Sama-sama…" Itachi membalas dengan sopan, sebelum kemudian berbalik untuk kembali ke rumahnya sendiri.

Sasuke sudah berada di dapur ketika Itachi tiba di sana. Adiknya itu sudah rapi dengan kaus merah marun lengan pendek berlabel 'Konoha High School Festival – Crew' di bagian punggungnya, yang didobel dengan kaus hitam lengan panjang di bagian dalam, juga celana jeans hitam yang bagian bawahnya sudah agak usang karena terlalu sering bersinggungan dengan sol sepatu. Aroma segar cologne dari tubuhnya berbaur dengan aroma kopi yang sedang diseduhnya di atas meja pantri.

"Kau membiarkan pintunya terbuka," kata Sasuke dengan nada mencela pada sang kakak sebagai pengganti ucapan selamat pagi, "Kalau ada orang iseng masuk bagaimana?"

"Iya, iya, maaf…" ucap Itachi sambil berjalan ke belakang Sasuke, lalu mengambil cangkir kopi yang baru selesai dikocek adiknya itu, "Kau tahu, minum kopi terlalu sering tidak baik untuk remaja seusiamu, Sasuke. Sebaiknya kau minum susu saja. Kalsiumnya bagus untuk pertumbuhan tulang dan gigimu," ujarnya sambil menyeringai jahil, sama sekali menghiraukan protes Sasuke. Kemudian ia berbalik dan duduk di kursi meja makan, membuka koran paginya dengan santai sambil menyesap kopi buatan adiknya.

Sasuke membelalak sebal pada kakaknya. Menggerutu, ia kemudian berbalik menuju lemari pendingin untuk mengambil sekotak susu dan sereal. Suara salakan anjing terdengar dari arah pintu samping dapur. Sasuke meletakkan susu dan serealnya di atas meja makan sebelum berjalan ke arah pintu tersebut. Rufus langsung menyerbu masuk begitu sang tuan membuka pintunya, berlari ke arah lemari di bawah meja pantri paling ujung dan mulai menggaruknya dengan kaki depannya.

Menghela napas, Sasuke segera mendorong Rufus menjauh dari sana supaya ia bisa membuka lemari itu dan mengambilkan apa yang diinginkan si Retriver –makanannya. Kemudian mengisi penuh wadah makan Rufus dengan makanan khusus anjing dan satu wadah lagi dengan air bersih. Selesai, Sasuke segera mencuci tangannya di wastafel, lalu mengambil mangkuk dan gelas dari rak.

Suasana tenang melingkupi acara sarapan kedua Uchiha bersaudara dan anjing mereka itu. Hanya disela oleh suara sendok yang beradu dengan mangkuk dan lembar koran yang dibalik, setidaknya untuk beberapa saat. Sampai sebuah kolom berukuran lumayan besar terpambang di halaman iklan tertangkap oleh mata Itachi.

"Wah, sepertinya pengumuman acara sekolahmu ini besar-besaran, eh?" komentarnya sambil terkekeh. "Sampai ada di koran segala. Sepertinya modalnya besar juga."

"Hn," Sasuke menggerutu, memasukkan sesendok besar sereal ke mulutnya.

Itachi menyusuri pengumuman itu, membaca promosi acaranya dengan ekspresi tertarik. "Hmm… sepertinya memang menarik. Ah, ada pertunjukan teater. Kau ikut main di sini?"

"Tidak," sahut Sasuke setelah menelan makanannya. "Sakura yang main. Dan Neji," ia menambahkan dengan enggan.

"Aah…" Itachi mengangguk-anggukkan kepalanya. Sebuah seringai menghiasi wajahnya saat ia menatap Sasuke. "Lalu apa yang akan kau lakukan? Mengacaukan panggungnya?"

Sasuke mengangkat gelas susunya dan meneguk isinya perlahan. Godaan untuk melakukan itu sebenarnya pernah terlintas di benaknya ketika Tenten meminta bantuannya untuk mengurus panggung dan tetek bengeknya. Pasti sangat lucu jika bisa mempermalukan Neji di depan umum –tapi tidak. Sakura pasti akan semakin membencinya jika ia melakukan itu. Dan tentu saja, sangat kekanak-kanakan dan tidak professional.

"Tidak," jawab Sasuke, menurunkan gelasnya ke atas meja. "Apa?" tukasnya kemudian, melihat sang kakak tengah melempar senyum-penuh-arti-yang-sama-sekali-tidak-disukainya ke arahnya.

"Tidak ada apa-apa," Itachi terkekeh lagi, kemudian kembali membalik halaman korannya dan menenggelamkan diri di halaman yang memuat artikel bisnis. Ia mendesah pelan, "Ah, adikku memang sudah dewasa."

.

.

Sebuah tangan terjulur, menghapus embun yang diciptakan oleh uap air hangat di cermin kamar mandi berdinding marmer itu. Seraut wajah gadis bermata sewarna permata zamrud muncul di sana. Wajah itu tersenyum –atau setidaknya itu yang sedang coba dilakukannya.

Sakura Haruno, pemilik wajah itu, kemudian menghela napas dengan berat dan senyum menghilang dari wajahnya. Diletakkannya sebelah tangan di atas dadanya yang terbalut handuk putih lembut, merasakan gedup jantungnya sendiri.

Ia benar-benar gugup.

Hari ini adalah saatnya, pikirnya. Akhirnya tiba juga saatnya pementasan drama setelah berminggu-minggu menjalani latihan bersama klub teaternya. Bukan pementasan pertama bagi Sakura, memang, tapi ini adalah lakon pertamanya sebagai tokoh utama. Dan semua orang mengharapkan penampilan yang terbaik darinya.

Tetapi Sakura tidak tahu apakah ia bisa melakukannya atau tidak, mengingat latihan hari terakhirnya tidak berjalan begitu baik. Belum lagi ia harus berhadapan dengan Neji nanti. Sakura tidak begitu yakin ia akan sepenuhnya bisa mengatasi perasaan pribadinya terhadap cowok itu –Oh, tidak… Ia merasa sangat gugup setiap kali memikirkannya!

Sebuah tarikan napas diambilnya dalam-dalam, kemudian dilepaskan perlahan melalui sela bibirnya, berusaha membuat dirinya lebih santai.

Yosh, aku harus bisa melakukannya! Tenten sudah percaya padaku dan aku harus menyukseskan pementasan ini bagaimana pun caranya. Yeah, semangat, Sakura! Pasti bisa!

Gadis itu mengangguk mantap, tersenyum menyemangati dirinya sendiri. Sebelum kemudian melangkah meninggalkan kamar mandi.

.

.

Suasana ruang makan kediaman Shimura di Root Hills sudah hampir seminggu belakangan selalu lengang. Dengan kepergian sang pemilik rumah, Profesor Danzou Shimura, bersama asisten pribadinya, Yuugao Uzuki, ke Kiri untuk urusan pekerjaan, praktis yang menggunakan ruangan itu hanya cucu semata wayangnya saja. Seperti pagi ini.

Di ujung meja panjang yang cukup menampung dua puluh orang itu, Sai duduk seorang diri sembari menikmati sarapannya. Hanya ditemani seorang pria paruh baya berseragam pelayan yang kini tengah berdiri bak patung bernapas di sisi meja.

"Sudah ada kabar dari kakek, Paman Sandayu?" tanya Sai pada pria yang menjabat sebagai kepala pelayan di rumahnya itu sembari mengiris kue panekuk di piringnya.

"Ya, Tuan Muda," sahut sang pelayan dengan anggukan kaku, "Nona Yuugao baru saja menelepon dari Kiri, memberitahu bahwa Tuan Danzou akan kembali ke Konoha nanti malam."

"Hmm…" Sai menganggukkan kepalanya, mengunyah makanannya perlahan, "Kalau begitu, kira-kira besok pagi kakek sudah sampai di Konoha."

"Benar, Tuan."

Suasana kembali hening sementara Sai kembali fokus pada sarapannya. Yang terdengar hanya denting pisau dan garpu yang beradu dengan piring. Sampai akhirnya potongan terakhir kue panekuk lenyap dari piring, Sandayu mendekat ke meja dan meletakkan sebuah bingkisan kecil yang dililit pita merah di sebelah gelas sari jeruk Sai.

"Apa ini, Paman?" Sai memandang bingkisan itu penasaran.

"Cokelat, Tuan," jawab sang pelayan, agak ragu.

"Ah," Sai tertegun sejenak. Diambilnya kotak itu dari meja dan menimbang-nimbangnya di tangan, "Aku pernah membaca di majalah, tentang tradisi memberikan cokelat pada orang yang disukai setiap hari kasih sayang –tanggal empat belas Februari. Bukankah itu berarti hari ini?"

"Benar, Tuan."

Sai menoleh, memandang sang pelayan dengan tatapan heran –sekaligus geli. "Apa itu berarti… Paman suka padaku?"

Pria itu tersenyum kecil, "Bukan begitu, Tuan. Cucu perempuan saya, Michi, berkeras memohon pada saya agar memberikan bingkisan ini untuk Tuan Sai. Semalaman dia membuatnya di dapur. Saya hanya tidak tega mengecewakannya –Tapi jika Tuan tidak suka—"

"Tidak apa," sela Sai cepat. Ia mengerling ke arah pintu, sekilas melihat bayangan sesosok gadis kecil kira-kira berusia sembilan atau sepuluh tahun berambut cokelat muda baru saja menghilang di sana. Tersenyum, Sai kembali menoleh pada sang pelayan, "Katakan pada cucumu, terimakasih atas cokelatnya."

Senyum pria itu merekah semakin lebar. "Baik, Tuan. Terimakasih banyak."

.

.

Sangat kontras dengan kediaman Sai yang tenang, suasana pagi kediaman Umino selalu diawali dengan kehebohan. Terutama yang berasal dari salah satu kamar di lantai dua, di mana Naruto Uzumaki baru saja tersadar dari alam mimpi.

"HUAAA! AKU TELAAAT!"

Iruka Umino, yang tengah memasak sarapan untuk mereka di dapur, hanya menghela napas sambil geleng-geleng kepala demi mendengar teriakan putra angkatnya itu dan suara-suara gaduh yang menyusul ketika remaja lelaki satu itu bergedebukan keluar dari kamar.

"PAP, LIHAT HANDUKKU, TIDAK?" kepala pirang Naruto yang berantakan muncul di puncak tangga.

"Ada di kamar mandi," sahut Iruka sambil membalik omelet di atas penggorengan, dan kepala Naruto kembali menghilang. Sekali lagi Iruka menghela napas. Sepertinya bunyi jam beker yang didengarnya tadi pagi dari kamar Naruto kembali gagal menjalankan misinya membangunkan sang empu. Kebiasaan.

Tak sampai setengah jam kemudian, suara gaduh kembali terdengar dari arah tangga, dan Naruto muncul di dapur dalam keadaan sudah lumayan rapi –kecuali rambutnya yang tidak disisir. Lagipula Naruto memang nyaris tidak pernah menyisir rambutnya, karena menurutnya disisir pun tidak akan ada bedanya. Ah, lupakan—meskipun agak aneh. Kaus panitia yang berwarna merah marun berlengan pendek, bertabrakan mencolok dengan kaus lengan panjang berwarna oranye cerah yang dipakainya sebagai dalaman. Belum lagi celana jeans gelapnya yang sudah belel dan sobek di bagian lutut. Namun anehnya, penampilan seperti itu terlihat cocok saja di tubuh Naruto.

Naruto melempar tasnya ke kursi kosong, kemudian duduk sementara ayahnya menaruh omelet yang masih panas ke piringnya dengan spatula.

"Pap hari ini jadi datang ke sekolahku, kan?" tanya Naruto sambil menuang susu penuh-penuh ke dalam gelasnya.

Iruka yang sedang meletakkan kembali penggorengan di atas kompor, tersenyum tipi. "Iya, iya. Setelah semua urusan di sekolah beres." Iruka melepaskan celemeknya dan menggantungkannya di gantungan dekat lemari pendingin.

"Setelah semua urusan di sekolah beres?" Naruto melempar pandang tak percaya pada sang ayah sembari mencomot sepotong besar sarapannya dengan garpu. "Yang benar saja, Pap. Sekarang kan sedang musim liburan semester."

"Benar. Tetapi para guru tidak pernah libur, Nak," Iruka terkekeh. Ia menarik kursi di seberang Naruto, lalu duduk. "Masih ada rencana pembelajaran untuk semester depan yang harus diurus, dan—"

"Iya, iya," sela Naruto. Mendengar ceramah ayahnya tentang repotnya menjadi pengajar adalah hal terakhir yang ingin didengarnya pagi itu. "Yang penting Pap datang ke festival sekolahku, karena Ibu Mitarashi sudah kangen." –yang terakhir itu, tentu saja Naruto hanya bergurau.

"Kau ini…" Iruka tertawa. Wajahnya sedikit berubah warna. "Sana habiskan sarapanmu!"

.

.

"Sudah mau berangkat sekarang?" tanya Itachi sambil melipat korannya dan mengambil roti. Diliriknya Sasuke yang baru selesai mencuci mangkuk dan gelas kotor, dan kini tengah menatanya di rak.

"Hn." Sasuke mengeringkan tangannya dengan serbet kering yang tergantung di sisi jendela. Kemudian berjalan ke meja makan untuk mengambil tas selempangnya yang disampirkan di punggung kursi. "Harus briefing dulu dan segala macam. Aku berangkat sekarang," pamitnya seraya membenamkan topi olah raga ke kepalanya.

Sasuke baru setengah jalan meninggalkan dapur ketika Itachi tiba-tiba memanggilnya lagi. "Sasuke!"

"Apa lagi?" Sasuke menoleh dengan sikap tidak sabaran.

"Nanti kau bilang pada Sakura, 'break a neck'," kata Itachi dengan seringai di wajahnya –dan dengan sukses membuat adiknya itu melongo.

"Huh?" Entah ia salah dengar atau Itachi memang menyuruhnya mengatakan pada Sakura untuk mematahkan lehernya? O.o

.

.

Sakura menyisiri rambut merah mudanya yang panjang dengan cepat, mengumpulkan semuanya menjadi satu di belakang kepalanya dan mengikatnya mejadi sebuah kuciran tinggi. Menyisakan anak-anak rambutnya membingkai wajahnya yang masih terlihat agak pucat. Sisa stress-pasca-patah-hati masih tersisa di wajahnya –bagaimana tidak, jika ia membiarkan dirinya menangis dan tidak tidur hampir setiap malam? –Tak apa lah, pikirnya muram sambil mengoleskan sedikit lipgloss di bibirnya. Toh, tokoh Violetta yang akan dimainkannya memang sedang mengidap penyakit ganas. Dengan wajah kacau begini, setidaknya mereka tidak perlu menambahkan banyak makeup untuk kesan sakit nanti.

Setelah memeriksa penampilannya untuk yang terakhir kali, Sakura bergegas menuju tempat tidurnya untuk memeriksa isi tasnya. Memastikan semua yang diperlukannya sudah lengkap.

Kotak makeup –check!

Pakaian ganti –check!

Sabun cuci muka dan handuk kecil –check!

Lima kotak cokelat masing-masing untuk Kakashi, Sasuke, Naruto, Sai dan Ino –check!

Dan yang terakhir… Sakura mengerling sebuah tas kertas kecil di dekat rak bukunya. Itu adalah barang-barang yang dipinjamkan Neji padanya setelah ia terpilih menjadi Violetta. Rasanya sudah lama sekali berlalu sejak malam ketika Neji datang ke rumahnya dan membawa itu semua untuknya. Sakura masih ingat bagaimana perasaannya saat itu. Bahagia bukan buatan. Tapi sekarang semuanya sudah berakhir.

Aku harus mengembalikannya segera –meskipun rasanya teramat berat.

Ah, dan satu lagi yang tertinggal. Diletakkan di atas tas kertas itu, terbungkus rapi dalam kotak sederhana bergambar hati dan tersemat pita merah: cokelat untuk Neji.

"Sakura?" suara lembut yang diikuti dengan ketukan pelan terdengar dari arah pintu kamar yang terbuka. Sakura menoleh, mendapati ibunya yang sudah rapi berdiri di sana. "Sarapan dulu, sayang?"

.

.

Porsche merah kesayangannya sudah menunggu di depan undakan depan rumahnya begitu Sai melangkah keluar. Cowok itu memang berencana membawa kendaraan pribadi untuk ke sekolah hari ini mengingat bawaannya yang cukup banyak –termasuk notebook, kamera, handycam dan tetek bengek lain untuk menopang tugasnya sebagai tim dokumentasi.

Setelah selesai memasukkan semua barang-barangnya ke dalam bagasi mobil dibantu pelayan dan supirnya, Sai menangkap sosok gadis kecil yang tadi dilihatnya di ruang makan sedang mengintipnya dari pintu –tepatnya, gadis itu bersembunyi di belakang kakeknya. Tak bisa menahan senyum melihat tingkah malu-malu si gadis yang menggemaskan, Sai lantas melambaikan tangan padanya. Diam-diam memberi kejutan pada orang yang disuka, sangat mengingatkannya pada seseorang, kan? Shin dulu juga begitu pada Ino.

Ah, memikirkan Ino hanya membuat hatinya serasa dicubit. Sakit.

Sai kemudian membuka pintu mobilnya dan masuk ke belakang roda kemudi. Dinyalakannya mesin yang langsung menderu dengan suara halus.

"Aku pergi dulu, Paman," pamitnya pada pelayan kepercayaan kakeknya itu sebelum menutup pintu. Tetapi Sai tidak langsung pergi dari sana. Ia mengeluarkan bungkusan cokelat pemberian cucu paman Sandayu dari dalam saku jaketnya. Ada senyum pahit di wajahnya ketika ia memandang cokelat itu.

Ino… apa dia akan memberiku cokelat juga? –Akh, bodoh! Mana mungkin!

Segera ditepisnya harapan itu jauh-jauh seraya merobek bungkusan cokelatnya dan menggigit sepotong besar. Tak lama, Porsche merah itu melaju meninggalkan halaman luas rumah itu.

.

.

Setelah sarapan yang terburu-buru –dan setelah tersedak beberapa kali—kini Naruto sibuk berkutat dengan rantai sepedanya yang entah bagaimana caranya, terbelit kusut. Mungkin karena sepanjang musim dingin tidak pernah digunakan, jadi rantainya beku, pikir Naruto tak masuk akal. Bersungut-sungut dan menyumpah-nyumpah, Naruto berusaha menarik lepas rantai itu dari roda sepedanya. Dan setelah melalu perjuangan yang dramatis dan melelahkan menggunakan gergaji besi, akhirnya rantai sialan itu pun lepas juga –putus, dengan kata lain.

"Haah… sepertinya aku butuh rantai baru," gerutu Naruto sembari mengeluarkan sepeda oranyenya dari garasi. "Pap, aku berangkat!" pamit Naruto kemudian pada ayahnya yang sedang menutup pintu garasi.

"Hati-hati, Naruto. Jalan masih licin," seru Iruka.

"Osh! Jangan lupa nanti ke sekolah!" Naruto balas berteriak, mendorong sepedanya lebih cepat meluncur meninggalkan pekarangan rumahnya menuju jalanan Fox Street yang asri.

.

.

"Yaaah…" Sakura mendesah kecewa ketika mendapati ban sepedanya kempes. Dengan jengkel ia menendang roda sepeda sial itu, membuatnya benda itu terjatuh dengan suara gaduh di garasi-untuk-dua-mobil rumahnya.

"Ada apa ribut-ribut, Sakura?" tanya Azami yang baru muncul dari pintu samping.

"Ban sepedaku kempes lagi. Sepertinya bannya bocor atau apa," sahut Sakura jengkel.

Azami mengerling sepeda Sakura yang kini tergeletak miring di sudut. Ban karetnya yang berwarna hitam terlihat rata terbebani badan sepeda. "Ah, benar. Nanti ibu akan suruh Kotetsu membawanya ke bengkel. Mau ibu antar saja?"

"Aa—tidak perlu, Bu," Sakura buru-buru menampik tawaran ibunya. "Ibu kan harus ke restoran. Aku naik bus saja."

Namun segera setelah gadis itu keluar dan menghirup udara pagi, ia berubah pikiran. Sudah beberapa minggu terakhir ini naik bus terus rasanya sangat membosankan. Bagaimana pun transportasi favoritnya untuk ke sekolah adalah dengan bersepeda –tapi masalahnya sepeda itu lagi-lagi bermasalah. Haah… Tiba-tiba saja satu ide muncul di kepalanya seperti lampu yang menyala. Tidak ada larangan menggunakan roller blade ke sekolah, kan?

Maka Sakura pun bergegas kembali ke garasi untuk mengambil roller blade-nya. Bukan miliknya –miliknya sendiri disimpan di Blossom Café—tetapi milik mendiang kakak perempuannya. Kondisinya yang masih bagus dan ukurannya yang sesuai membuat Sakura kegirangan. Pelindung lengan dan lulutnya juga masih ada. Disimpan dalam wadah plastik, jadi tidak berdebu.

"Tidak jadi naik bus, Nak?" tanya Azami heran ketika ia keluar dari pintu depan dan mendapati putrinya berkutat dengan roller blade pink milik Himeko –milik Sakura berwarna merah.

Sakura menggelengkan kepala sebagai jawaban. "Nng... Aku ingin menghirup udara segar. Di bus mana bisa," katanya sambil nyengir. "Ibu sudah mau berangkat sekarang?" Sakura balik bertanya ketika dilihatnya penampilan sang ibu yang sudah rapi.

"Ya. Ibu harus ke pasar untuk mengurus pemesanan bahan makanan laut dan sayuran segar," jawab Azami sambil mengunci pintu. "Setelah itu ibu akan ke sekolahmu. Pertunjukkannya nanti siang, kan?" tambahnya sambil tersenyum.

"Hmm…" Sakura mengangguk, seraya mengencangkan pelindung lututnya. "Setelah makan siang. Tapi kalau sebelumnya ibu mau datang juga oke. Acaranya asyik kok, Bu. Lagipula ada Kakashi di sana. Jadi Ibu tidak akan bosan."

Azami tidak langsung menjawab. Hanya tersenyum melihat putrinya yang sudah kembali ceria. Mengingat bagaimana Sakura menangis semalaman dalam pelukannya, mengadu tentang patah hatinya oleh seorang pemuda, Azami tidak bisa merasa lebih lega lagi ketika melihat putri semata wayangnya itu sudah kembali tersenyum. Meskipun rasa khawatir itu tetap ada.

"Kau yakin tidak apa-apa, Sweetheart?"

Sakura menoleh memandang ibunya yang kini duduk di sampingnya di undakan tangga. Seulas senyum tegar terulas di bibirnya ketika ia mengangguk. "Aku kan kuat seperti Ibu, jadi tenang saja."

"Ibu harap begitu, Nak," kata Azami, membelai kepala Sakura penuh sayang, kemudian mencium pipinya. "Kalau begitu Ibu berangkat dulu. Kau hati-hati di jalan."

"Oke!"

Sakura mengawasi ketika ibunya beranjak dari undakan dan berjalan menuju wagon mereka yang sudah terparkir di depan garasi. Lalu melambaikan tangan saat mobil keluarga itu melaju meninggalkan halaman tak lama setelahnya.

"Yosh!" seru Sakura setelah selesai memasang ikatan pelindung lututnya yang terakhir. Gadis itu kemudian berdiri dengan hati-hati supaya tidak tergelincir, dan setelah memastikan kakinya menapak dengan seimbang, ia lalu dengan susah payah mengangkat ranselnya yang berat ke pundaknya.

"Sakura!"

Sakura refleks menoleh ketika didengarnya suara seseorang memanggil namanya dari arah jalan. Gadis itu tersenyum cerah mendapati sosok yang sudah sangat dikenalnya berada di depan pekarangan rumahnya, nangkring di atas sebuah sepeda sport hitam. Meskipun orang itu menggunakan topi untuk menutupi rambut hitamnya, Sakura bisa langsung mengenali Sasuke Uchiha.

"Hei!" gadis itu menyapa ceria sambil melambaikan tangannya.

Sasuke duduk di sepedanya, mengawasi Sakura mengambil jalan memutar halaman berumput sampai di bagian bersemen di depan garasi, kemudian meluncur ke arahnya. Sakura sedikit tergelincir ketika mencapai trotoar yang sedikit licin. Gadis itu barangkali akan jatuh terjerembab jika Sasuke tidak dengan sigap menangkap tangannya yang terjulur ke depan dan menahannya.

"Whoops! Hampir saja. Thanks."

"Hn." Mata hitam Sasuke langsung terarah pada tas ransel besar di punggung Sakura. Ia mengernyit. "Kelihatannya berat," komentarnya sambil mengendikkan kepala ke arah ransel itu.

"Well…" Sakura nyengir. Ia ganti mengerling tas selempang di bahu Sasuke. "Kelihatannya itu ringan," ia menunjuk tas itu.

Selama beberapa saat, Sasuke hanya menatap gadis di depannya, sebelum akhirnya ia menangkap apa maksud kata-katanya –dan cengiran di wajahnya, tentu saja. Sasuke lantas memutar mata dan menghela napas. "Oke. Tukar."

Sakura dengan riang melepas ranselnya yang berat dan menyerahkannya pada Sasuke. Sebagai gantinya, ia kini menyampirkan tas selempang Sasuke yang seringan bulu di bahunya.

"Thanks lagi, Sasuke!"

Tak lama, mereka sudah meluncur menjauhi kompleks rumah Sakura, menyusuri jalan yang sudah mereka kenal betul menuju Konoha High dari jalur sepeda yang masih lengang. Sakura meluncur agak di depan Sasuke. Rambut merah mudanya yang dibuntut kuda berayun seirama dengan gerakan kakinya yang lincah tapi santai. Bibirnya terus saja bersenandung. Sasuke yang diam-diam memperhatikannya dari belakang, menyunggingkan seringai kecil.

"Sudah tidak nangis lagi?"

Sakura berhenti bersenandung. "Untuk sementara sepertinya aku mau absen nangis dulu," ujarnya sambil memperlambat lajunya sehingga sekarang ia bersisian dengan sepeda Sasuke. "Mataku juga perlu istirahat. Sekarang saja masih perih."

Sasuke mendengus. "Jadi kalau matamu tidak sakit lagi, kau berencana mau menangis lagi?"

"Mungkin," kata Sakura, meringis. "Apa lagi di panggung nanti, ada adegan dimana Violetta harus menangis." Ia menghela napas. "Tidak akan susah, kukira. Menangis sudah menjadi keahlianku beberapa hari terakhir ini…" gumamnya, lebih pada dirinya sendiri.

Dari sudut matanya, Sasuke melihat wajah Sakura berubah muram, membuatnya sedikit merasa bersalah telah mengungkit topik yang membuat gadis itu teringat pada patah hatinya. Tiba-tiba saja Sasuke merasa sangat tidak nyaman. Sampai ia memutuskan untuk mencari topik lain untuk dibicarakan –dan topik yang dipilihnya adalah pesan aneh yang diberikan kakaknya sebelum berangkat tadi, yang dengan sukses membuat Sakura tergelak begitu seru, sehingga mereka harus berhenti sampai gadis itu bisa menguasai diri.

"Mungkin maksudnya 'break a leg'," kata Sakura sambil mengusap air mata tawa dari matanya. Wajahnya yang memerah karena tawa nyengir lebar. "Memang tabu untuk saling mengucapkan semoga sukses sebelum pementasan drama, dan sebagai gantinya kami mengucapkan kata-kata itu untuk keberuntungan –break a leg –patahkan kaki." *)

"Hn," Sasuke mendengus, agak malu. Ia membuat catatan imajiner dalam kepalanya untuk menendang bokong kakaknya setelah ini karena telah membuatnya tampak konyol di depan Sakura. "Kelihatannya semakin parah, semakin bagus," gerutunya sambil meluncur pergi, "Mematahkan leher jelas lebih bagus dari mematahkan kaki."

"Hei, Sasuke! Tunggu aku!" sambil masih tertawa-tawa, Sakura bergegas menyusul Sasuke. Disambarnya bagian berlakang ranselnya dan berpegangan di sana sehingga ia terbawa meluncur oleh sepeda Sasuke. Dan cowok itu pun tampaknya tak keberatan, bahkan menyeringai diam-diam saat Sakura memindahkan tangannya dari ransel ke lengannya.

.

.

Anak-anak sudah mulai berdatangan di gerbang Konoha High ketika akhirnya Sasuke dan Sakura tiba di sana. Sebagian mengenakan kaus panitia seperti yang dipakai Sasuke. Sementara sebagian yang lain adalah anak-anak yang mengelola stand. Semua orang tampak sangat sibuk dengan kegiatan masing-masing: menggotong-gotong barang dagangan, memasang umbul-umbul dari sponsor yang baru datang, check sound untuk keperluan panggung, atau hanya berteriak-teriak memandori teman-temannya. Tak ada seorang pun yang tampak diam.

Sasuke dan Sakura berpisah di pelataran depan –setelah bertukar tas, tentu saja. Sasuke menuju lapangan parkir siswa sementara Sakura langsung menuju gedung utama untuk menyimpan roller blade-nya di loker dan menggantinya dengan sepatu kanvas yang ia bawa.

Porsche Cayman merah Sai yang mencolok langsung menjadi pusat perhatian begitu kendaraan itu bergerak memasuki halaman parkir. Maklum saja, selama ini yang mereka lihat memasuki halaman sekolah hanyalah kendaraan para guru yang kebanyakan jenis mobil keluarga dan keluaran lama. Sementara para siswa –meskipun berasal dari keluarga kaya raya banget seperti keluarga Hyuuga—lebih suka menggunakan bus umum atau sepeda atau skuter dibanding mobil pribadi.

Sasuke yang baru kembali dari lapangan parkir siswa, kebetulan bersisian dengan mobil Sai ketika ia hendak menuju gedung utama. Ia mendengus. "Mau pamer atau bagaimana?" komentar Sasuke dengan nada sedikit mencemooh saat mendatangi Sai yang baru keluar dari mobilnya.

"Terpaksa," sahut Sai sambil menyeringai pada sahabatnya. Ia bergerak ke belakang mobilnya dan membuka bagasi. "Aku tidak mau naik bus sambil membawa-bawa ini. Bisa dikira habis merampok." Sai mengeluarkan sebuah tas hitam besar yang berisi peralatan-peralatannya. "Bisa bantu aku? Ini sangat berat."

Dan tanpa diminta dua kali, Sasuke segera turun membantu Sai membawa barang-barangnya ke ruang jurnal, tempat teman-teman sesama tim pubdok-nya sedang berkumpul: Shino, Shiho, Kiba, Hinata, dan beberapa anak kelas satu dan tiga yang tidak dikenal Sasuke. Semuanya mengenakan kaus panitia dan nametag bertuliskan nama dan label Publikasi & Dokumentasi menggantung di leher masing-masing.

Tak lama kemudian terdengar pengumuman dari pengeras suara yang berkumandang ke seantero sekolah, meminta semua panitia berkumpul untuk briefing di aula. Dan para siswa berkaus merah marun itu pun berbondong-bondong menuju aula –termasuk Naruto yang datang belakangan dengan hebohnya.

Sementara itu, di tempat lain, Sakura tak kalah sibuk. Setelah berganti sepatu, gadis itu langsung menuju koridor yang akan digunakan untuk stand dalam ruangan untuk membantu di stand Hokuto dan gengnya –stand rumah hantu. Mereka sibuk menyempurnakan dekorasi yang masih bolong dan mendandani anak-anak yang bertugas menjadi hantu. Suara gelak tawa ketika mereka saling mengagetkan memenuhi sepanjang koridor yang ramai –tidak hanya oleh para hantu, tapi juga anak-anak yang menggunakan kostum maid, yukata tradisional maupun cosplay.

Setelah selesai mendandani Mayu –salah satu gadis kelas dua teman Hokuto—dengan dandanan ala Sadako Yamamura, Sakura mengintip dari sela-sela tirai hitam yang menutupi semua permukaan untuk melihat kesibukan di luar. Stand para guru yang letaknya persis di depan jendela kelas itu juga tampak sibuk. Menyenangkan sekali melihat para guru yang biasanya selalu tampil berwibawa di depan kelas, kini sibuk mondar-mandir ke sana kemari menyiapkan segala sesuatu, mendengarkan mereka saling panggil dengan nama depan, tertawa terbahak-bahak… Sebagian dari mereka juga turut membawa keluarga, entah itu suami, istri, keponakan atau anak-anak mereka. Semuanya terlihat ramai dan akrab.

"Hauun… Pak Yamashiro keren sekali pakai kaus santai begitu…" kata Hokuto, ikut mengintip.

Terkekeh, Sakura mengerling temannya itu. "Jangan sampai Mizura mendengarmu mengagumi cowok lain –apalagi ini guru. Bisa gawat!"

"Ups…" Hokuto terkikik. "Habisnya, guru-guru cowok di sekolah ini keren-keren sih. Lihat itu… Pak Namiashi, Pak Shiranui, Pak Sarutobi, Pak Hatake juga. Pemandangan bagus tidak boleh dilewatkan begitu saja, tahu! Dan kau juga, Sakura," ia menuding gadis berambut merah muda di sebelahnya. "Memangnya aku tidak tahu siapa yang kau lihat di sana, eh?"

"Siapa?"

"Hmm… Pak Gai Maito?" Hokuto memasang tampang polos. "Bukankah katamu dia ganteng?"

"Ha ha ha… sangat lucu." Sakura mendelik pada temannya yang kini terkikik-kikik tak karuan.

.

.

Pukul sepuluh, tepat ketika festival secara resmi dibuka, Tenten meminta semua yang terlibat dalam pementasan berkumpul di ruang klub teater. Hanya sekedar mengumumkan jika mereka diberi waktu sampai tengah hari untuk menikmati festival sebelum diharuskan berkumpul lagi untuk bersiap-siap di ruangan ganti di belakang gymnasium. Tetapi cukup untuk membangkitkan ketegangan di wajah anak-anak. Dan itu termasuk Sakura.

Lebih lagi ketika ia berpapasan dengan Neji saat hendak meninggalkan ruangan. Degup menyakitkan itu kembali terasa, melenyapkan segala keriangannya sama sekali. Sakura memaksakan seulas senyum pada cowok itu, dan dibalas dengan canggung oleh yang bersangkutan sebelum pergi untuk bergabung dengan teman-teman kelas tiganya. Sakura menatap punggung Neji yang menjauh sambil menghela napas berat.

Tuhan… Kenapa hanya dengan melihatnya saja membuatku ingin menangis lagi? –Tidak, Sakura. Kau harus kuat… kuat… kuat…

Sebuah tepukan di bahunya membuyarkan lamunan Sakura. Ia memutar tubuhnya cepat dan mendapati Tenten berdiri di belakangnya. Seniornya itu tampak sangat berbeda dari penampilannya yang biasa. Tidak ada cepol dua yang biasa menghiasi kepalanya. Rambut cokelatnya yang ikal panjang kini dibiarkan jatuh dengan bebas di punggungnya. Cantik sekali, seperti yang pernah Sakura lihat saat mereka bertemu di Konoha Hall dulu.

"Apa yang kau lakukan di sini, Sakura? Tidak turun menikmati festival?"

"Aku uh… baru mau turun," Sakura menyahut canggung.

"Kelihatannya kau tegang," ujar Tenten dengan senyum kaku. "Turunlah, nikmati festivalnya. Buat dirimu serileks mungkin—"

"Haah… padahal sendirinya tegang," sela seorang cowok berambut cokelat jabrik dari belakang Tenten, dengan seringai menggoda di wajahnya.

"Diamlah, Kankurou," tukas Tenten, cemberut, menyingkirkan tangan Kankurou yang baru mendarat di pundaknya. Kemudian ia pun melenggang pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun lagi.

Kankurou menghela napasnya, geleng-geleng kepala melihat punggung Tenten yang semakin menjauh. "Kalau sedang tegang begitu, Tenten memang jadi galak. Maklumi saja ya, Sakura," ujarnya sambil menepuk-nepuk lengan Sakura. "Tapi yang dikatakannya benar. Buat dirimu santai. Jangan tegang. Neji hanya seorang cowok, bukan monster yang harus ditakuti. Oke?" –dan setelah berkata begitu, kakak kandung Gaara itu bergegas menyusul Tenten.

Kankurou benar, pikir Sakura. Neji hanya seorang cowok, tidak ada yang perlu ditakutkan. Rileks… dan semuanya akan segera berakhir. Latihan semalam bisa, kenapa sekarang tidak? –tapi tetap saja ia tidak tenang. Seperti ada sesuatu yang masih mengganggunya. Tapi apa?

"Sakuraaa!"

Cowok berambut pirang acak-acakan pemilik suara keras itu baru saja muncul di ujung koridor. Dengan cengiran lebar di wajahnya, Naruto bergegas berlari-lari menghampiri Sakura yang masih mematung di tempatnya.

"Sedang apa kau berdiri saja di sini? Festivalnya sudah mulai. Ayo turun!"

.

.

Suasana halaman dan lapangan samping sekolah yang digunakan sebagai area festival sudah lebih meriah dari yang dilihatnya tadi pagi ketika Sakura dan Naruto tiba di sana. Antrian pengunjung terlihat di tiket box. Area parkir mobil yang biasanya hanya digunakan oleh para guru pun terlihat padat. Rupanya gerakan publikasi besar-besaran yang dilakukan panitia sukses besar. Tidak hanya menggaet para siswa sekolah menengah dari sekolah-sekolah lain, tetapi juga para mahasiswa, para siswa sekolah dasar dan sekolah menengah pertama yang sedang berlibur dan masyarakat umum. Semuanya tumpah ruah memenuhi stand-stand yang tersedia.

"Di mana Sai dan Sasuke?" tanya Sakura dengan suara keras untuk mengatasi kebisingan sambil menjulurkan lehernya di atas kepala para pengunjung, mencari-cari sosok dua sahabatnya yang lain.

"Oh, mereka sibuk," jawab Naruto, "Sai sibuk jadi paparazzi dan Sasuke tadi ditugasi untuk membantu menjaga keamanan." Naruto tertawa-tawa. "Tapi kurasa bukan keamanan festival ini yang harus dikhawatirkan, tetapi keamanan dirinya sendiri. Bayangkan saja, tadi setelah selesai briefing, dia langsung diserbu cewek-cewek yang mau memberinya cokelat."

Sakura tertawa, membayangkan Sasuke seorang diri kabur dari para fans-nya. "Kau sendiri, tidak bertugas apa-apa?"

Naruto mengibas-ibaskan tangannya dengan gembira. "Tim logistik untuk sementara bebas tugas –kecuali Sasuke—jadi kami bisa sedikit melemaskan kaki. Hei, bagaimana kalau kita mengunjungi stand Ino?"

"Hmm.. ide bagus," sahut Sakura langsung dan saat berikutnya Naruto kembali menariknya menembus kerumunan menuju salah satu stand yang didominasi warna merah muda. Stand yang digawangi Ino dan teman-temannya itu menjual pernak-pernik valentine, bunga, dan berbagai macam jenis cokelat.

"Sakura! Naruto!" jerit Ino gembira ketika melihat sahabatnya mendekat. Gadis pirang cantik itu mengenakan celemek pink polkadot di atas kaus panitianya. "Kukira aku baru akan bertemu denganmu saat makeup nanti—hei, aku juga ikut bantu, lho –Bagaimana stand kami? Kalian suka?"

Sakura memandang berkeliling dengan penuh minat. Pengunjung stand itu sebagian besar adalah anak perempuan yang antusias. Mereka tampak berkerumun di depan gerai yang memajang stroberi cokelat leleh. "Suka. Ramai sekali," komentar Sakura kembali menatap sahabatnya.

"Apa bunga mawar ini bisa dimakan?" tanya Naruto sambil mengangkat setangkai bunga mawar yang dipajang.

Ino mengabaikan Naruto, tersenyum berseri-seri pada Sakura. "Tentu saja. Ah, iya. Tunggu sebentar!"

"Hee? Serius bunga ini bisa dimakan?" tanya Naruto terkesima ketika Ino pergi untuk mengambil sesuatu di bagian belakang stand.

"Tentu saja tidak, bodoh," Sakura tertawa kecil, mengambil mawar itu dan meletakkannya kembali pada tempatnya.

Ino kembali tak lama kemudian, membawa dua gelas plastik cokelat hangat di tangannya. "Untuk kalian berdua, gratis dariku. Selamat hari kasih sayang…"

"Aw, thanks."

Tak lama kemudian, Idate dan serombongan teman-teman mahasiswanya datang. Naruto bergegas menarik Sakura pergi dari sana. Yah, semenjak insiden dengan Sai beberapa waktu yang lalu, Naruto jadi kehilangan respek pada kekasih Ino itu, bahkan cenderung antipati terhadap cowok itu.

Setelah dari stand Ino, mereka kemudian melanjutkan berkeliling. Berjalan-jalan dari satu stand ke stand yang lain, mencoba beberapa permainan, menjajal makanan kecil yang dijual di sana. Sakura mencoba menikmati semua itu, berusaha menyingkirkan ketegangannya sejenak menjelang pementasan. Dan Naruto yang selalu berada di sampingnya, memastikan hal itu. Tak lama kemudian mereka menemukan Sasuke sedang duduk di undakan pintu samping sekolah bersama Sai. Wajahnya tampak masam –sepertinya ia tidak terlalu menikmati keramaian itu—sementara di sampingnya, Sai tengah sibuk sendiri melihat hasil jepretannya pada kamera di tangannya.

"Kalian berdua tidak berkeliling?" Naruto duduk menyeruak di antara Sasuke dan Sai. Sementara Sakura mendudukkan diri di samping Sasuke.

"Kami sedang istirahat," sahut Sai, mengalihkan pandangannya dari kamera dan tersenyum pada dua orang yang baru datang. Ia mengerling Sasuke. "Hari yang melelahkan untuk Sasuke. Benar, kan?"

Sasuke menanggapinya dengan gerutuan tidak jelas, lalu menyeruput kaleng cola yang dibelinya di salah satu stand. Raut tak senang yang ditampakkannya membuat kedua sahabatnya itu penasaran.

"Apa yang terjadi?" tanya Sakura ingin tahu. Di sisi lain Sasuke, Naruto menatap penasaran.

"Well," Sai memulai. Ia tampaknya tak bisa menahan senyumnya. "Aku tidak bisa memastikan ini hari baik atau buruk untuk Sasuke," Sai tertawa kecil, melirik Sasuke, "Sepanjang pagi, kira-kira sudah sepuluh cewek yang menembaknya. Dan jika dihitung dengan ini," –Sai menepuk tas selempang Sasuke yang kini menggembung berisi kotak-kotak cokelat—"Kira-kira sudah berapa, Sasuke? Dua puluh? Tiga puluh?"

"Diamlah!" gerutu Sasuke, sementara ketiga temannya malah menertawakannya.

"Lucky! Cokelat-cokelat itu bisa untuk persediaan selama sebulan," tandas Naruto, tergelak.

"Kau tahu aku tidak makan makanan manis," gumam Sasuke lagi, "Boleh untuk kalian kalau kalian mau."

"Aku sudah punya beberapa untuk diriku sendiri. Terimakasih banyak, Sasuke," kata Sai sambil menepuk tas pinggangnya, tersenyum.

"Sai juga?" cengiran lenyap dari wajah Naruto. Dan kini ia menatap iri pada kedua sobatnya itu. "Damn! Aku tidak dapat sebatang pun!"

"Hei, aku punya beberapa kotak untuk kalian bertiga di tasku di loker," kata Sakura, "Tapi kalau Sasuke dan Sai tidak mau, kau boleh mengambil tiga-tiganya, Naruto."

Sekilas, Sasuke seperti hendak membuat gerakan ke arah Sakura –yang tidak memperhatikannya—tepat ketika Naruto berseru, "Awesome! Trims, Saku!"

Seorang gadis berambut oranye panjang berlari-lari kecil mendekat, menghalihkan perhatian keempat sahabat itu. "Hei, aku mencari kalian, Naruto, Sai," seru Sasame Fuuma agak terengah. "Anak-anak meminta Volatile manggung setelah pertunjukan dari klub dance," lanjutnya sebelum baik Sai maupun Naruto sempat bertanya.

"WHAT?" Naruto mendengking kaget. Mata birunya membelalak. "Kukira cuma The Glossy dan Alpha saja yang manggung! Kami sama sekali tidak latihan!" –Sai menanggapi dengan anggukan setuju.

"Tapi mereka yang minta!" Sasame berkeras. "Katanya untuk tantangan. Si Aika Furuhata, cewek dari padus saja tadi sudah berani menerima tantangan nyanyi solo di panggung. Masa kalian takut? Shikamaru saja sudah setuju kok."

"Damn," komentar Naruto dan Sai bersamaan. Jika leader mereka sudah setuju, tak ada pilihan lain selain ikut. Meskipun tanpa latihan. Shikamaru pasti sudah gila, dan si Zaku Abumi pasti bakal ngomel-ngomel parah setelah ini.

Masih sambil menggerutu atas ketidakberuntungan mereka, Naruto dan Sai lantas pergi mengikuti Sasame, meninggalkan Sakura bersama Sasuke yang masih bad mood.

"Jadi…" Sakura melirik cowok di sampingnya yang masih menatap ke arah Naruto dan Sai barusan menghilang, nyengir. "Kita berduaan lagi."

"Hn." Sasuke meminum sisa colanya sampai tandas, meremas kalengnya dan melemparnya ke tempat sampah yang letaknya agak jauh dari tempat mereka duduk. Masuk. Tidak percuma pernah menjadi anggota tim basket saat di sekolah menengah pertama di Oto. Sekarang ganti Sasuke yang melirik Sakura, memperhatikan ketika gadis itu menghela napas dengan berat dan tatapannya yang sedikit menerawang. "Mencemaskan pementasan?" Sasuke menebak.

Sekali lagi Sakura menghela napas. "Yeah," ia mengakui setelah lama diam. "Boleh minta cokelatnya?" –tanpa menunggu jawaban Sasuke, Sakura mengambil sebungkus dari dalam tas selempang cowok itu, merobek bungkusnya dan menggigitnya dalam potongan besar. "Cokelat selalu bisa membantuku bersantai, kau tahu?" katanya dengan mulut penuh.

Sasuke mengabaikannya. Matanya menyipit menatap gadis itu. "Pementasan atau Neji?"

Sakura tidak langsung menjawab. Sembari mengunyah cokelat di mulutnya perlahan-lahan, ia memikirkan jawabannya. "Dua-duanya –tidak, Neji," ia mengoreksi sambil tersenyum muram. Mereka terdiam beberapa saat. "Aku tadi bertemu dengannya. Kau tahu, itu sama sekali tidak mudah. Aku berusaha bersikap seperti biasa, seperti tidak pernah terjadi sesuatu di antara kami, tapi… entahlah. Aku tidak bisa menipu diriku sendiri bahwa tidak ada sesuatu, karena memang ada sesuatu di sana. Aku…" Sakura menarik napasnya, "…masih sayang padanya."

Ada otot yang berkedut di pelipis Sasuke. Tetapi cowok itu tidak menanggapi apa pun.

Kini pandangan Sakura menerawang ke depan. "Saat aku bertemu dengannya, atau memikirkan soal dia, aku merasa masih ada yang mengganjal di sini," ia menyentuh dadanya, tepat di atas jantungnya, "Entah apa itu, Sasuke. Dan aku merasa belum bisa lega melepaskannya sebelum ganjalan itu hilang."

"Mungkin karena kau belum mengutarakan perasaanmu padanya," celetuk Sasuke tanpa berpikir.

Sakura menggigit sepotong cokelat lagi sembari memikirkan kata-kata Sasuke. "Mungkin juga." Ia lalu mendengus tertawa, menoleh pada Sasuke, "Lucu, ya? Ditolak sebelum mengutarakan perasaan."

"Jika itu membuat seseorang menangis seperti orang hilang akal, itu bukan sesuatu yang lucu, Sakura," kata Sasuke dingin. "Jika itu bisa membuatmu lega, bilang saja padanya tentang perasaanmu. Jika aku suka padamu juga, aku juga akan bilang begitu –Aku suka padamu, Sakura. Tidak peduli apa jawabanmu, itu akan membuatku merasa lebih baik."

Kedua mata Sakura membulat dan entah apa yang sedang dipikirkannya saat menatap kedua mata Sasuke yang menatap lurus padanya. Gadis itu hanya terdiam, setidaknya selama beberapa detik, sebelum seulas senyum kembali menghiasi bibirnya. "Kukira kau bukan tipe yang suka mengungkapkan perasaanmu lewat kata-kata, Sasuke."

"Itu hanya contoh," kata Sasuke cepat-cepat seraya memalingkan wajahnya.

Di sebelahnya, Sakura tertawa kecil. "Well, thanks. Akan kupertimbangkan usulmu." Tersenyum, Sakura kembali menggigit ujung cokelatnya –cokelat Sasuke. "Hmm… cokelat ini sangat enak. Kau yakin tidak mau mencoba, Sasuke?" Sakura menyodorkan ujung cokelat itu pada Sasuke.

"Tidak."

"Ya, sudah…" Dengan lahap, Sakura memasukkan cokelat sisanya ke mulut –tanpa ia sadari cowok di sebelahnya telah mengangkat kamera yang dititipkan Sai padanya barusan, membidiknya dengan pose mulut penuh cokelat.

Cute.

.

.

Ucapanku yang tadi itu serius, Sakura…

.

.

Klub dance sudah setengah jalan melakukan pertunjukan di tengah-tengah lapangan ketika Sasuke dan Sakura kembali bergabung dengan kerumunan. Para penonton yang berdiri di tepi lapangan, bertepuk dan bersorak meriah ketika para personil salah satu klub terpopuler di sekolah itu beraksi memparodikan video musik-video musik yang sedang terkenal saat itu, menari dengan enerjik, menarik perhatian penonton dengan gerakan-gerakan lincah. Bahkan Matsuri, siswa Konoha Art Academy yang terkenal, dari departemen tari yang kebetulan datang ke sana bersama Gaara, ikut memberikan aplaus meriah ketika para remaja itu mengakhiri aksi mereka.

Kemudian perhatian para penonton kembali ditarik oleh cuap-cuap para MC di panggung. Di belakang mereka, tampak Shikamaru bersama keempat temannya bersiap-siap dengan instrument masing-masing. Para penonton bergegas maju memenuhi lapangan dan mendekati panggung, sementara Sakura dan Sasuke memilih untuk menonton di tepi dekat stand penjual takoyaki. Di sana mereka bertemu Itachi dan Hana yang datang bersama-sama. Itachi, yang seperti biasa tidak pernah melewatkan kesempatan untuk menggoda adik kesayangannya, bertanya mengapa adiknya itu tidak berada di atas panggung –memegangi mike untuk Naruto.

"Jangan menggoda adikmu begitu, Itachi," Hana seperti biasa juga, selalu membela calon adik iparnya.

"Oi, kakak ipar!" seru seseorang lagi dari arah kerumunan dan detik berikutnya, Kiba Inuzuka muncul dengan seringai lebar di wajahnya.

Sasuke membelalak ketika dilihatnya sang kakak dan cowok jurnal itu ber-high five. Sejak kapan Itachi akrab dengan Kiba? –tapi siapa peduli. Sekarang pertunjukannya sudah dimulai.

Naruto yang menjadi vokalis utama band itu maju untuk menyapa penonton, sementara Shikamaru memulai dengan nada-nada pembuka. Tak lama, Dare You To Move—lagu yang mereka bawakan saat festival band dulu—mulai menggebrak lapangan itu, membuat penonton berjingkrak-jingkrak. Kemudian disambung Bring Me To Life dimana Naruto berduet dengan Sasame Fuuma, vokalis utama The Glossy, yang tampil enerjik. Tidak latihan tidak menjadi alasan mereka tidak tampil habis-habisan, kan?

Dan sorakan yang menyambut penampilan mereka mengingatkan Sakura pada festival band superseru beberapa waktu yang lalu.

"Haah… nostalgia," komentar Ino yang baru bergabung bersama Idate di sana dalam suara pelan yang tak sampai terdengar kekasihnya itu. Gadis itu memandang penuh rindu pada panggung. "Rasanya sudah lama sekali. Mereka semua keren."

Sakura tersenyum tipis mendengar kata-kata Ino. "Kau merindukannya, kan? –Maksudku, tampil di atas panggung."

"Siapa yang tidak?" bisik Ino dengan senyum muram. Ia mengerling Idate yang memasang tampang bosan di sebelahnya, lalu menghela napas.

Penampilan ditutup oleh dare sekali lagi dari MC, yang mendadak meminta salah satu dari personil band itu yang bukan vokalis untuk bernyanyi solo. Penonton bersorak lagi. Beberapa penonton teman sekolah mereka meneriakkan nama-nama para personil non-vokalis. Sementara di panggung juga terjadi kehebohan, mereka saling tunjuk satu sama lain. Sampai akhirnya Naruto mengambil mike-nya dan berseru,

"Kalau begitu, personil termuda kami –maksudku, yang baru masuk, karena dia jelas lebih tua dariku… ehm… tidak penting—akan menerima tantangan ini. Bagaimana, Sai?"

Sorak-sorai terdengar lagi. Para gadis yang menonton dekat dengan bibir panggung mulai mengelu-elukan nama cowok pemalu itu. "SAI! SAI! SAI! SAI!"

Di atas panggung, Sai yang didorong-dorong oleh Naruto yang tertawa-tawa, tampak gelagapan saat MC menyodorinya mike. "B-Baiklah. Satu bait."

"Booo!"

"Yaah… penonton kecewa," kekeh sang MC, seorang cowok kelas tiga berkepala pelontos seperti pentul korek api. "Satu lagu deh."

Sai tampak berpikir. "Satu bait ditambah refrain," ia menawar.

"Oke, deal," sahut MC disambut sorakan penonton. "Setidaknya kalau suaranya jelek, kita tak perlu berlama-lama menderita," tambahnya, disambut gelak tawa penonton. Sai mengabaikannya dan membiarkan Naruto yang berkomentar,

"Eh, jangan salah. Dia maut!" –sekarang sang MC yang tertawa.

"Yah, kita buktikan saja. Bagaimana, Sai?"

Sai mengambil gitar yang diulurkan Naruto padanya, kemudian duduk di atas kursi tinggi yang disediakan panitia di depan sebuah tiang mike yang telah dipersiapkan sebelumnya. Senejak Sai menatap ke arah kerumunan penonton yang menunggu, menjelajahi wajah-wajah di sana sampai pandangannya jatuh di salah satu sudut lapangan. Ia melihat gadis berambut merah muda melambai padanya di samping cowok berambut hitam. Di sisi Sakura yang lain…

Ino… dan pacarnya.

Sai berdeham kecil, dan menarik napasnya dalam-dalam sebelum memulai intro lagu yang sudah sangat dikenalnya. Suaranya yang sedikit serak mengalun mengikuti melodi gitar yang dipetiknya,

"My shattered dream and broken heart are mending on the shelf

I saw you holding hands, standing close to someone else

Still I sit all alone, wishing all my feeling was gone

I gave my best to you

Nothing for me to do…"

"Astaga…" Sakura tanpa sadar mendesah tak percaya. Bukan hanya suara Sai yang mengejutkannya, tetapi apa yang sedang dinyanyikannya –dan untuk siapa lagu itu didedikasikan. Diliriknya Ino yang kini ekspresinya seperti beku.

Di samping Ino, Idate tampak luar biasa gusar. "Ayo pergi!" Dengan cepat cowok itu menyambar tangan Ino dan membawanya pergi dari sana menembus kerumunan penonton.

"But have one last cry

One last cry, before I leave it all behind

I've gotta put you outta my mind this time

Stop living a lie

I guess I'm down to my last cry…"

Suasana mendadak hening setelah Sai menyelesaikan lagunya –sesuai perjanjian, satu bait dan satu refrain. Sementara Sai menatap nanar di kejauhan, sebelum kemudian mengalihkan pandangannya pada Naruto yang terbengong di sisi panggung. Tanpa menunggu lagi reaksi dari penonton, Sai cepat-cepat beranjak dari bangku kemudian menuruni panggung setelah sebelumnya mengembalikan gitar itu pada Naruto.

"Sai! Mau kemana kau?" seru Naruto bingung ketika Sai berjalan cepat menuju gedung utama sekolah.

Di belakangnya, aplaus dari penonton yang terkesima menyusul mengejarnya. Tapi Sai tampaknya tidak memedulikannya, tetap berjalan tanpa menoleh sedikit pun.

.

.

I'm gonna dry my eyes right after I had my one last cry…

.

.

"Aku tidak tahu Sai Shimura bisa bernyanyi sebagus itu," komentar Hokuto pada Sakura tak lama berselang. Saat itu mereka, bersama para gadis yang ikut serta dalam pementasan drama, sudah duduk di ruang ganti perempuan di belakang gymnasium sekolah, bersiap untuk dirias. "Habisnya selama ini dia tidak banyak bicara di kelas. Kupikir bakatnya hanya menggambar saja."

Sai tersenyum pada pantulan temannya itu di cermin rias sementara ia melipat kemejanya, hanya mengenakan tank top-nya saja. "Sai itu seniman multi talenta. Dia piawai bermain musik –piano, gitar, keyboard—pandai melukis, fotografi dan macam-macam lagi. Jangan lupa keluarganya pemilik sekolah seni terbesar di Konoha."

"Cool. Dia juga lumayan tampan," Hokuto menambahkan dengan cengiran nakal. "Jangan bilang pada Mizura aku berkata begini," ia buru-buru menambahkan ketika dilihatnya tampang Sakura.

Pintu ruang ganti berderit membuka dan beberapa gadis masuk. Salah satunya adalah Hinata Hyuuga yang sejak awal sudah ikut dalam proyek pementasan drama sebagai penanggung jawab kostum. Dan ia di sana kali ini untuk membantu merias para gadis.

"S-Sudah siap menjelma menjadi Violetta?" Hinata menghampiri Sakura, kemudian meletakkan kotak peralatannya di atas meja rias.

"Yeah," sahut Sakura sedikit gugup ketika Hinata mulai membuka kotaknya, memperlihatkan berbagai peralatan untuk menata rambut di dalamnya. "Um… kau lihat Ino? Bukankah dia juga ikut membantu merias anak-anak?"

"S-Seharusnya begitu," ujar Hinata pelan, sambil bergerak ke belakang bangku tempat Sakura duduk. "Tapi kami tidak bisa menemukan Ino di mana pun."

"Oh," Sakura berusaha tidak terlihat kecewa. Di belakangnya, Hinata mulai melepas kucirannya, membuat rambut merah mudanya yang panjang tergerai bebas ke bahunya.

"R-Rambut Sakura sangat bagus," puji Hinata sambil menyisiri rambut Sakura dengan jemarinya. "Halus sekali…"

"Trims," ucap Sakura, tak bisa menahan cengirannya. Gadis itu mengawasi adik sepupu Neji itu yang dengan cekatan merapikan dan menggulung rambutnya dengan roll rambut.

"Sakura gugup?" tanya Hinata kemudian, ketika ia sudah setengah jalan meroll seluruh rambutnya.

"Sedikit," jawab Sakura. "Tapi kurasa itu hal yang wajar, kan?" gadis itu mencoba tersenyum, namun yang keluar malah ringisan seperti orang sakit gigi. Entah mengapa bicara pada Hinata kali ini membuatnya merasa canggung. Terlebih dengan tatapan sedih yang diberikan gadis itu padanya. Entah apa maksudnya.

"Sakura—" Hinata menghentikan kata-katanya sejenak, tampak ragu, "A-Aku… um… sudah dengar tentang apa yang terjadi antara kau dan… Kak Neji."

"Ah," hati Sakura mencelos mendengarnya. "I—Itu…"

"Aku sangat menyesal," sela Hinata. Kali ini ia benar-benar berhenti mengeroll dan malah menatap dalam-dalam mata Sakura dari bayangan di cermin. Sakura nyaris bisa melihat mata gadis itu berkaca-kaca, membuatnya merasa tidak enak. "A—Aku juga tidak menyangka Kak Neji akan seperti itu."

"Hei, jangan begitu," ucap Sakura cepat-cepat, "Ini sama sekali bukan salahmu."

"Tapi pasti bisa dicegah kalau saja aku—"

"Tidak ada yang bisa mencegah apa yang sudah terjadi, termasuk kau, Hinata," sela Sakura sambil memaksakan senyum, "Lagipula aku tidak menyesalinya." Ia menunduk, menarik-narik ujung tank top-nya. "Aku dan Neji tidak seperti itu pun, takdir pasti mencari cara lain supaya aku merasakan… hal yang seperti itu. Ibuku bilang itu sudah proses."

Hinata tertegun sejenak, kemudian perlahan tangannya kembali bergerak. "Aku… hanya tidak suka jika saudaraku menyakiti temanku."

Sakura kembali mengangkat wajahnya dan tersenyum pada adik sepupu Neji itu. Kali ini, tidak dipaksakan. "Tidak apa-apa. Terimakasih sudah mengkhawatirkanku. Kau sangat baik." Gadis itu menepuk-nepuk pelan punggung tangan Hinata yang diletakkan di bahunya.

Rona merah muncul di pipi putih gadis Hyuuga itu ketika ia mengangguk.

"Hei, Hinata?"

"I—Iya?"

"Tadi Naruto mengeluh karena tidak mendapatkan cokelat," Sakura nyengir ketika mengawasi rona di wajah Hinata yang semakin menggelap mendengar nama Naruto disebut, "Apa kau berencana membuatnya gembira sedikit dengan sekotak cokelat tahun ini?"

"I—Itu… um…"

Namun sebelum Hinata mengatakan apa pun, pintu ruangan itu tiba-tiba terbuka. Dan diiringi suara pekik kaget para gadis yang sedang berganti kostum, Ino Yamanaka melangkah masuk.

"Ino! Tutup pintunya! Kalau ada cowok lewat bagaimana?" teriak Karin yang berdiri paling dekat pintu.

"Iya, iya, sori," Ino terkekeh, lalu dengan cepat menutup pintu kembali sebelum melangkah mendekati bangku Sakura dan Hinata. "Maaf terlambat…" ucapnya agak terengah. "Ada sedikit masalah tadi. Aku ambil alih dari sini, Hinata."

"I—Iya…" Hinata segera menyerahkan sisa roll yang belum terpasang pada Ino, kemudian bergegas melesat ke sisi lain ruangan untuk membantu yang lain.

"Sibuk dengan Idate?" tanya Sakura sembari mengawasi pantulan wajah sahabatnya dari cermin. Ino terlihat agak berantakan. Poni pirangnya yang biasanya terjatuh dengan lembut ke sisi wajahnya tampak sedikit mencuat.

Ino mendengus tertawa. "Jangan berpikiran yang tidak-tidak, Sakura," katanya sambil menggulung rambut Sakura.

"Aku berpikiran yang iya-iya," Sakura menyeringai, "Jadi akhirnya kau berhasil melepaskan diri dari pacarmu itu, eh?"

"Idate sedang berkeliling bersama teman-temannya," Ino berkata, bibirnya agak cemberut, "Tadinya dia tidak mau aku kemari. Tapi setelah kujelaskan ini adalah bagian dari tugasku, akhirnya dia mengizinkanku pergi."

"Damn," komentar Sakura.

"Damn," Ino setuju. Dan kedua sahabat itu bertukar seringai.

Sakura membungkuk untuk mengambil kotak makeup-nya sementara Ino pergi untuk mengambil roll yang lain di meja. Tak ada yang bicara setelah itu, keduanya bekerja dalam diam. Ino yang menata rambut Sakura, sementara gadis berambut merah muda itu berkutat dengan makeup. Selesai dengan rambut, Ino segera membantu sahabatnya mengaplikasikan makeup.

"Um… kalau bisa jangan terlalu berwarna, Ino. Agak sedikit pucat," komentar Tenten yang datang untuk mengecek.

"Oke."

Setelah makeup beres, Hinata mendatangi mereka dengan membawa kotum pertamanya –kostum pesta. Ia dan Ino membantu Sakura mengenakan kostumnya yang berat itu dan mengencangkan bagian belakangnya. Kostum itu terjatuh dengan bagus di tubuhnya, roknya yang putih dan sedikit menggembung menjuntai sampai ke lantai sehingga tidak ada yang tahu jika Sakura mengenakan sepatu kanvas di dalamnya.

"Wow, lihat… Cinderella tanpa sepatu kaca," kata Ino sambil berjalan ke depan Sakura, tersenyum puas melihat hasil kerjanya. Di sampingnya, Hinata mengangguk setuju.

Sakura memutar tubuhnya, berhati-hati supaya tidak terserimpet kostumnya. Gadis itu terperangah. Ia nyaris tidak bisa mengenali dirinya sendiri di dalam cermin. Rambut merah mudanya yang kini ikal disatukan membentuk sanggul di belakang kepalanya, sementara bagian depannya dibiarkan menggantung, membentuk ombang yang membingkai wajahnya, terjatuh dengan bagus di bagian bahunya yang terbuka.

"Ma'am…" Hokuto yang sudah mengenakan kotum Annina-nya –Annina adalah pelayan pribadi Violetta—menghampiri Sakura, menekuk sedikit lututnya. Mengundang tawa dari Ino dan Hinata, sementara Sakura malah terlihat tegang.

"Hokuto, hentikan. Kau membuatku gugup."

"Bagaimana kalau sekarang kita foto dulu?" usul Hinata sambil mengeluarkan sebuah pocket camera dari dalam tas selempang kecilnya. "Untuk dokumentasi."

Dan suasana ruangan itu pun langsung heboh. Para pemain, maupun yang hanya membantu mendandani, sekarang berduyun-duyun mendekat ke arah Sakura untuk ikut difoto. Saling dorong dan tertawa-tawa mengambil pose –yang benar-benar berantakan—sampai Hinata harus naik ke atas bangku supaya semua orang bisa terfoto.

"Say cheese…" Hinata memberi aba-aba.

"CHEESE!" semua orang nyengir ke arah kamera, dan detik berikutnya kilat blitz memenuhi ruangan yang ramai itu.

.

.

Pertunjukan dimulai tiga puluh menit lagi. Gymnasium yang tadinya ditutup sudah mulai dibuka. Dari ruang ganti tempatnya duduk sekarang, Sakura bisa mendengar dengung suara orang-orang yang sudah mulai memasuki Gym.

Gadis itu bangkit dari bangkunya dan mulai berjalan mondar-mandir dengan sikap gelisah. Kedua tangannya yang terasa dingin saling remas. Dan melihat wajah-wajah tegang teman-temannya di ruangan itu tidak membuatnya merasa lebih baik. Sementara Ino dan Hinata sudah pergi entah kemana.

"Sakura, mau kemana?" tanya Hokuto ketika dilihatnya Sakura berjalan menuju pintu.

"Jalan-jalan sebentar," sahut Sakura cepat sambil memutar kenop pintu. Berada lebih lama lagi di ruangan itu bisa membuatnya gila.

Koridor di depan pintu itu tampak lengang. Semua orang pasti sedang sibuk di belakang panggung sekarang, pikir Sakura. Pintu ruangan yang letaknya berseberangan dengan pintu ruang ganti perempuan berayun membuka dan Suigetsu yang juga sudah mengenakan kostumnya melangkah keluar. Setali tiga uang seperti teman-temannya yang lain, tampang cowok itu terlihat tegang.

"Kau lihat Juugo?" tanyanya pada Sakura.

Sakura menggeleng. "Aku baru saja keluar."

"Oh," dan Suigetsu pun bergegas pergi ke arah belakang panggung dan menghilang di sana.

Sakura menarik napas dalam-dalam, kemudian menutup pintu di belakangnya perlahan. Dengan sedikit mengangkat roknya, gadis itu berjalan menyusuri koridor itu menuju ke arah Suigetsu pergi beberapa saat yang lalu.

Ruangan itu beratap tinggi dan berpenerangan remang-remang. Tetapi cukup bagi Sakura untuk melihat kesibukan yang terjadi di sana. Anak-anak perkaus panitia terlihat mondar-mandir menyiapkan segala sesuatu, dengan dikomando oleh Tenten. Sakura juga melihat Sasuke dan Naruto di sana. Naruto yang kemudian melihatnya datang, tercengang melihat penampilan gadis itu. Beberapa saat kemudian, setelah terbangun dari keterkejutannya, cowok pirang itu menyikut Sasuke dan mengendik ke arah Sakura yang tengah melambaikan tangan pada mereka. Ekspresi Sasuke tetap datar seperti biasa.

Tidak ingin mengganggu kegiatan kedua sahabatnya, Sakura lantas berbalik kembali. Dan ia langsung bersitatap dengan seseorang yang sama sekali tak terduga akan dilihatnya –setidaknya, tidak secepat itu.

Neji terlihat sangat tampan dalam kostumnya. Seperti bangsawan Eropa jaman dulu yang sering dilihatnya di film-film klasik. Sakura sudah pernah melihat Neji berpenampilan seperti itu beberapa hari yang lalu, tetapi tetap saja, melihat cowok itu membuatnya sulit bernapas. Kemudian dilihatnya Neji berjalan mendekat dan Sakura merasakan dorongan untuk melangkah mundur dan kabur dari sana –namun langsung diurungkannya. Melarikan diri tak akan ada gunanya sekarang.

Cowok itu lalu berhenti tepat di depannya, tampak canggung. "Kau…" suaranya terdengar ragu, "…cantik."

Sakura memaksakan seulas senyum. "Trims."

"Tegang?"

"Hmm…" Sakura mengangguk.

"Aku juga," Neji mengeluarkan tawa kecil kaku.

"K—Kupikir sedikit jalan-jalan bisa membantu."

"Benar," Neji menyahut agak terlalu cepat. Matanya bergerak-gerak gelisah. Jelas ia merasa sangat tidak nyaman di sana. "Aku harus pergi."

"Neji—" panggil Sakura ketika Neji berjalan melewatinya, membuat gerakan cowok itu kembali terhenti. Neji menoleh, menatapnya ingin tahu. Sakura balas memandangnya. Sejenak merasa ragu, sebelum kemudian memantapkan diri. Aku harus menyelesaikannya sekarang. "Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu."

.

.

Keduanya kini berdiri di sudut ruangan belakang panggung, jauh dari hiruk pikuk persiapan pementasan.

Sakura menunduk, memandang sebuah tas kertas di tangannya. Sebuah tas yang berisi benda-benda yang dulu pernah membawa begitu banyak pengharapan baginya. Benda-benda penuh kenangan akan cinta pertamanya, yang tidak akan sanggup ia lihat lagi setelah ini dan dalam jangka waktu yang lama. Gadis itu lalu mengangkat kepalanya, menatap Neji yang berdiri di depannya.

"Aku ingin mengembalikan ini," Sakura mengulurkan tas itu pada Neji. "Ini milikmu yang pernah kau pinjamkan untukku waktu itu. Ingat?"

"Ah," Neji sedikit terkejut sebelum kemudian mengambil tas itu dari tangan Sakura.

"Terimakasih."

Neji tersenyum tipis padanya. "Tidak masalah. Tapi novel ini milikmu," ia mengambil sebuah buku tebal berjudul 'Princess Of Camellia' dari dalamnya. "Aku tidak meminjamkannya. Ini milikmu." Diulurkannya buku itu kembali pada Sakura.

Sakura memandang novel itu dengan ragu. Dan kemudian dengan sangat enggan, ia mengambilnya. Sakura menyusuri judul buku itu dengan jemarinya, merasakan tulisan timbul di sana seraya menyunggingkan seulas senyum sedih. Ditahannya sekuat tenaga supaya air matanya tidak jatuh saat ia mengangkat wajah menatap lurus-lurus pada kedua bola mata pucat di depannya.

"Neji," ujarnya dengan suara mantap, "Aku suka padamu."

"Sakura—"

"Aku tahu," Sakura berkata cepat, tidak memberi kesempatan pada cowok itu untuk menyelanya, "Aku bohong waktu aku bilang aku menganggapmu sebagai kakak. Yang benar adalah aku menyukaimu –aku jatuh cinta padamu, Neji. Sejak kita sama-sama duduk di bangku sekolah menengah, aku sudah melihatmu." Sakura tertawa kecil –miris. "Aku sangat senang ketika akhirnya bisa melewatkan banyak waktu denganmu beberapa minggu terakhir ini, menyenangkan sekali. Sungguh. Dan aku tidak akan pernah menyesal menyukaimu, Neji, walaupun kenyataannya kau hanya bisa melihatku sebagai teman. Kau tetap cinta pertamaku."

"Aku—"

"Maafkan aku, ya, Neji. Aku tidak bermaksud membuatmu merasa bersalah dengan mengatakan ini. Aku hanya ingin kau tahu perasaanku yang sebenarnya padamu. Aku hanya tidak ingin terus-menerus terbebani dengan perasaan ini. Aku ingin melepaskan semuanya. Kuharap kau bisa mengerti." Sakura tersenyum. "Dan aku tidak menuntut jawaban darimu, kok."

Neji terdiam, hanya menatap kedua bola mata zamrud gadis itu yang kini terlihat tanpa beban. Seakan segala hal yang selama ini membebani hatinya telah terangkat sepenuhnya lewat pernyataan jujur yang baru saja meluncur dari bibir gadis di depannya. Dan entah mengapa, ada kelegaan samar yang menyusup dalam hatinya saat itu.

"Jadi…" suara Sakura terdengar lebih ceria, "…masih belum selesai. Setelah ini kita harus memberikan yang terbaik di atas panggung. Aku akan berusaha! Kau juga, ya?"

Mau tak mau, Neji tersenyum juga. "Aa." Ia mengangguk.

"Break a leg!"

"Break a leg."

Dengan melempar senyum terakhir pada Neji, Sakura bergegas pergi dari sana. Pergi secepat ia bisa sambil mencincing roknya sebelum luapan emosi menguasai dirinya lagi.

"Sasuke?" Sakura terpekik kaget ketika ia berbelok dan menemukan Sasuke sedang berdiri bersandar pada dinding dengan kedua lengan dilipat di depan dada tak jauh dari tempatnya bicara dengan Neji barusan. "Sedang apa di sini?"

"Sudah merasa lebih lega?" Sasuke bertanya tenang, sambil menatap lurus mata Sakura yang mulai berkaca.

"K—Kau dengar?" Wajah Sakura merona.

"Hn."

Sakura menatapnya. Sasuke sempat melihat bibir gadis itu bergetar sebelum tiba-tiba Sakura menyambar tangannya dan menariknya ke sudut. Ia baru saja hendak memprotes, tetapi yang terjadi berikutnya benar-benar membungkamnya. Sakura memeluknya. Erat. Kedua lengan gadis itu melingkari pinggangnya sementara dahinya disandarkan ke bahunya.

"A—Aku pinjam bahumu sebentar," gumam Sakura dengan suara parau. "Sebentar saja, Sasuke."

.

.

"Hn."

.

.

Lima menit sebelum pementasan dimulai semua anak yang terlibat di babak pertama sudah stand by di atas panggung. Sakura menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya yang terasa dingin sementara Tenten memberikan instruksi terakhir untuk mereka.

"Oh, Tuhan… aku benar-benar gugup!" keluh Karin yang berdiri tak jauh dari Sakura.

"Aku juga…"

Karin menyambar tangannya. "Astaga, Sakura. Tanganmu sedingin es."

Sakura nyengir. "Seperti tanganmu tidak dingin saja."

"Okee…" Karin melepaskan tangannya dan mulai bergumam sendiri, "Patahkan kaki, patahkan tangan, patahkan leher… semoga ini cepat selesai…"

Terkikik, Sakura mengerling ke pinggir panggung dan melihat Sasuke dan Naruto di sana bersama beberapa panitia lain yang bertugas memindah-mindahkan properti panggung di setiap pergantian babak. Naruto mengacungkan kedua ibu jari ke arahnya untuk menyemangati, sementara Sasuke hanya mengangguk. Mulutnya mengatakan 'break a leg' tanpa suara.

"Apa?" desis Naruto ketika ia mendengar Sasuke mengatakan sesuatu pada Sakura di tengah panggung. "Barusan kau bilang apa?"

Menyeringai, Sasuke mengibaskan tangannya. "Tidak penting."

Naruto mencibir tak senang ke arah Sasuke, tapi diabaikan oleh yang bersangkutan. Sekarang Sasuke malah sibuk mengintip dari balik tirai di sisi panggung ke bangku penonton. Bangku-bangku yang disediakan panitia sudah sepenuhnya terisi oleh pengunjung. Beberapa guru dan kepala sekolah Tsunade mengisi bangku paling depan. Sasuke juga melihat ibu Sakura di sana, duduk bersama Kakashi dan seorang wanita yang ia ingat bernama Rin –dokter yang merawatnya dulu. Ayah Naruto juga ada di sana, bersama Itachi dan Hana. Cowok berambut merah yang pernah dikenalkan Naruto padanya, Gaara, juga ada di antara penonton. Dan tidak hanya bangku penonton saja yang penuh, tribun pun dipenuhi oleh anak-anak yang menonton.

"Whoaa… penontonnya banyak sekali…" bisik Naruto dengan mata membelalak. "Haa! Itu Sai!" ia menunjuk ke salah satu bangku, di mana Sai sedang duduk sambil memegang kamera perekam. "Kukira dia tadi pergi kemana."

"Sudah dimulai?" Ino bergabung bersama mereka tak lama kemudian. Di belakangnya, Hinata mengikuti.

Sasuke melirik jam tangannya. "Seharusnya sebentar lagi."

Tepat setelah Sasuke berkata seperti itu, lampu di bagian penonton diredupkan. Dengung obrolan yang sebelumnya memenuhi ruangan besar itu perlahan terhenti seperti ada yang mendadak mengecilkan volume, dan perhatian semua orang kini terpusat pada panggung. Alunan musik pembuka mulai diperdengarkan dan tak lama, Tenten memberi instruksi dengan tangannya untuk mengangkat tirai.

Dan babak pertama pementasan drama Princess Of Camellia pun dimulai.

.

.

Babak pertama, bercerita tentang seorang courtesan—wanita tuna susila kelas atas—ternama bernama Violetta Valery, yang diperankan Sakura, yang mengadakan pesta di rumahnya di Paris untuk merayakan kesembuhannya. Salah satu tamunya, Gastone, yang diperankan Suigetsu, seorang Count, datang dengan membawa seorang temannya, seorang pemuda dari keluarga bangsawan Germont, Alfredo, diperankan Neji, yang selama ini menjadi pengagum rahasia sang coustesan. Saat pesta, Gastone memberitahu Violetta tentang kekaguman Alfredo padanya, dan selama Violetta sakit, Alfredo diam-diam datang ke rumahnya setiap hari. Yang kemudian diakui oleh Alfredo. Saat itu, Violetta hanya berkata pada pemuda itu, "Saya berhutang budi pada Anda."

Tiba-tiba, sementara para tamu berpesta dan berdansa, Violetta merasa tubuhnya lemah. Ia kemudian meminta para tamunya, termasuk Barone, diperankan Motoki, pengagumnya yang lain, untuk meninggalkannya sendirian dan menenangkan diri. Sementara para tamu melanjutkan pesta di ruangan lain, Violetta menatap bayangannya yang pucat di cermin. Lalu tiba-tiba Alfredo masuk dan menyatakan kekhawatirannya pada kesehatan Violetta yang rapuh, meminta wanita itu untuk memperbaiki hidupnya—dan kemudian menyatakan cintanya.

Awalnya Violetta menolak pernyataan cinta Alfredo, menganggap cinta yang ditawarkan pemuda itu tidak ada artinya baginya. Akan tetapi sebenarnya ia merasakan getaran hati yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Violetta pun memberinya sekumtum bunga, mengatakan padanya untuk mengembalikan bunga itu ketika sudah layu. Ketika saat itu tiba, ia berjanji akan menemui Alfredo lagi.

Dan setelah semua tamu pesta meninggalkan tempat itu, Violetta bermonolog, bertanya-tanya sendiri apakah pemuda ini, Alfredo, adalah 'seseorang' dalam hidupnya? Seseorang yang akan menyelamatkannya dari kubangan kehidupannya yang nista.

.

.

Tirai kemudian ditutup, tanda babak pertama selesai.

Panitia yang bertugas saat itu, termasuk Sasuke dan Naruto, langsung bergegas turun untuk mengganti latar dan properti panggung, dibantu oleh beberapa pemain cowok. Sementara Ino dan Hinata segera membawa Sakura untuk mengganti kostumnya.

"Bagaimana tadi penampilanku?" tanya Sakura cemas pada kedua temannya, sementara kedua gadis itu membantunya mengikatkan bagian belakang kostum keduanya.

"S-Sangat bagus," Hinata tersenyum menenangkan, seraya melepas beberapa jepit dan hiasan rambut di kepala Sakura sehingga sekarang terlihat lebih sederhana.

"Kau lihat Neji tadi? Aku hampir percaya dia benar-benar jatuh cinta padamu!" seru Ino.

Sakura tertawa ringan menanggapinya. "Itu hanya akting."

"Dan aktingnya berhasil. Kalian berdua pasangan hebat!"

"Sudah selesai?" Tenten nongol dari arah pintu ruang ganti. "Ayo cepat. Tirainya sebentar lagi akan diangkat!"

Sakura, Ino dan Hinata bergegas meninggalkan ruang ganti. Sakura mencincing gaunnya supaya tidak terserimpet dan ketika sampai di panggung, ia melihat latarnya sudah berubah. Tak lama, Sasuke dan Naruto kembali menarik tirai panggung itu untuk memulai babak kedua bagianpertama.

.

.

Babak kedua, bagian pertama, adalah tiga bulan setelah kejadian di babak pertama. Alfredo dan Violetta telah meninggalkan segalanya, dan hidup bersama dengan bahagia dan penuh cinta di sebuah rumah sederhana di pinggiran kota Paris. Annina, yang diperankan Hokuto, sang pelayan, menyusul mereka dari Paris untuk memenuhi keinginan majikannya yang ingin menjual semua harta benda milik Violetta untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka di desa. Alfredo yang terkejut ketika mengetahui bahwa hidup mereka dibiayai oleh Violetta, bergegas pergi ke Paris untuk mengganti semuanya, bertekad ia yang harus mencari uang untuk biaya hidup mereka berdua.

Suatu hari, ketika Alfredo masih berada di Paris, Violetta mendapatkan undangan dari temannya, Flora, diperankan Reika, untuk menghadiri pesta di Paris. Bersama dengan undangan itu, datanglah ayah Alfredo, yang diperankan Juugo, ke rumah mereka untuk meminta Violetta berpisah dengan Alfredo. Ketika Violetta mengatakan bahwa dirinya tidak bisa berpisah dengan Alfredo kerena terlalu mencintai pria itu, Germont memohon kepadanya untuk mempertimbangkan kehormatan keluarganya. Belum lagi adik perempuan Alfredo yang pertunangannya terancam karena reputasi Violetta sebagai mantan courtesan. Akhirnya Violetta setuju, walaupun dengah hati yang sangat hancur. Violetta kemudian mengatakan selamat tinggal pada ayah Alfredo. Dan pria itu mengucapkan terimakasih atas kebaikan dan pengorbanannya, sebelum meninggalkan wanita itu menangis sendirian.

Ketika sedang menuliskan surat perpisahan untuk Alfredo, ketika pria itu masuk. Violetta yang berusaha menahan kesedihan dan air matanya, mengatakan berulang kali pada Alfredo bahwa ia mencintai pria itu tanpa syarat seakan sedang berusaha keras meyakinkannya, sebelum akhirnya berlari keluar dari rumah dan menyerahkan surat perpisahan pada Annina untuk diserahkan pada Alfredo.

Alfredo merasa telah dicampakkan oleh Violetta dan merasakan kesedihan yang begitu dalam. Kemudian ayahnya kembali datang setelah mengetahui tentang kepergian Violetta, berusaha menghibur putranya dan meyakinkan bahwa perpisahannya dengan Violetta adalah demi nama baik keluarga mereka. Tetapi Alfredo berpikiran lain. Ia menyangka Barone ada di belakang kepergian Violetta. Dan dugaannya menguat ketika Alfredo menemukan undangan pesta dari Flora yang ditinggalkan Violetta di atas meja. Alfredo kemudian berniat untuk mengkonfrontasi Violetta di pesta itu. Ayahnya berusaha mencegah, tetapi gagal.

.

.

Babak kedua, bagian kedua, diawali dengan adegan pesta di kediaman Flora di Paris. Saat itu Marquis memberitahu Flora tentang perpisahan Alfredo dan Violetta. Flora yang ikut bersedih atas kedukaan sahabatnya itu lantas meminta rombongan penghibur untuk menghibur para tamu yang hadir. Tak lama, Violetta tiba di sana bersama Barone. Mereka bertemu Alfredo di meja taruhan, dan melihat Violetta bersama-sama pria lain membuat Alfredo kesal. Ia menantang Barone bertaruh dan terpancing emosi oleh ulah kata-kata Alfredo terhadapnya, Barone menerima tantangan itu, yang kemudian berakhir dengan kemenangan Alfredo.

Di saat semua tamu melanjutkan pesta, Violetta meminta Alfredo menemuinya. Khawatir kemarahan Barone pada Alfredo akan menimbulkan keributan, Violetta dengan halus meminta Alfredo pergi. Tetapi Alfredo menganggap lain permintaan Violetta dan ia memaksa wanita itu untuk mengakui bahwa ia mencintai Barone. Dengan hati terluka atas tuduhan Alfredo, Violetta bersedia mengaku. Pengakuan Violetta lantas membuat Alfredo marah besar dan ia dengan kasar menyeret Violetta ke depan para tamu yang lain. Alfredo menghina dan memojokkan Violetta di depan semua tamu yang hadir, dan ia juga dengan tega melempar uang yang didapatkannya dari bertaruh pada Violetta sebagai bayaran atas 'pelayanan'-nya selama mereka tinggal bersama. Violetta yang merasa tertekan akhirnya terjatuh pingsan di lantai. Para tamu yang menyaksikan itu terpancing emosi dan mengusir Alfredo keluar dari sana.

Ketika para tamu pria menyeret Alfedo keluar dari sana, Germont terlihat memasuki ruangan. Menyadari apa yang sudah terjadi dan apa yang telah dilakukan putranya pada Violetta –yang kini dipandangnya sebagai seorang wanita terhormat—pria itu mencela dan merasa malu atas perbuatan putranya.

Sementara itu, para tamu wanita mencoba membantu Violetta meninggalkan ruangan, tetapi, sebelum mereka pergi, Violetta berkata pada Alfredo, "Alfredo... Alfredo... Kamu tak mau memahami cintaku ini... Walaupun aku harus menerima penghinaan darimu untuk membuktikan cintaku... Suatu saat nanti, pasti... Kamu akan bisa memahaminya. Betapa aku sangat mencintaimu.. Pasti kamu akan memahaminya..."

.

.

Ruangan gym mendadak senyap begitu layar kembali diturunkan. Terdengar isakan dari beberapa penonton –dan beberapa lagi bertepuk riuh menutup babak kedua dari pementasan itu.

Ino dan Hinata, yang wajah keduanya sama-sama basah, bergegas menghampiri Sakura yang baru melepaskan diri dari pegangan Reika dan Karin, dan menarik gadis itu untuk kembali berganti kostum, sementara panitia lain buru-buru mengganti latar panggung. Kali ini tak ada seorang pun yang berkomentar.

Sakura kembali tak lama kemudian, sudah berganti kostum. Air mata yang sebelumnya membanjir di pipinya sudah bersih. Sanggul di kepalanya sudah diurai sepenuhnya dan riasan untuk kesan sakit sudah ditambahkan di wajahnya. Gaun tidur putih panjang menjuntai yang menjadi kostumnya tampak berpendar.

Dan tirai pun kembali diangkat.

.

.

Babak terakhir berseting di kamar perawatan Violetta.

Dr Grenvil berkata pada Annina bahwa Violetta tidak akan bertahan karena penyakit tuberculosis yang dideritanya semakin memburuk. Sendirian dalam kamarnya, Violetta menerima surat yang dikirimkan oleh ayah Alfredo, memberitahunya bahwa ia telah memberitahu Alfredo tentang pengorbanan yang dilakukan oleh Violetta untuknya dan adik perempuannya, dan bahwa ia telah mengizinkan Alfredo kembali padanya sebagai permohonan maaf. Tetapi Violetta merasa semuanya sudah terlambat.

Tak lama, Annina masuk ke dalam kamarnya untuk memberitahu perihal kedatangan Alfredo. Dua kekasih kembali bertemu. Alfredo, dalam keputusasaannya, mengusulkan agar mereka segera meninggalkan Paris untuk hidup bahagia di pedasaan seperti dulu. Tetapi sudah sangat terlambat. Violetta tahu ajalnya sudah semakin dekat...

"Mendekatlah dan dengarkan aku, Alfredo." Violetta yang telah lemah mengulurkan seuntai kalung dengan liontin berisikan foto dirinya pada Alfredo, "Ini adalah potretku di masa lalu, ambillah sebagai pengingat betapa aku mencintaimu. Jika… suatu hari ada seorang wanita berhati mulia menawarkan hatinya untukmu, aku ingin agar kau menikahinya. Berikan potret ini padanya, dan katakan bahwa ini adalah hadiah… dari seseorang yang berada di antara para malaikat di langit, yang selalu berdoa untuk kalian berdua."

Alfredo mengeratkan pelukannya pada tubuh ringkih wanita yang begitu dicintainya sepenuh hati itu. "Tidak, jangan pergi. Jangan mengatakan itu! Kau harus hidup untukku, cintaku, dan jangan mati! Jangan lempar aku ke lembah kesengsaraan yang lain. Hidup, atau aku akan mengikutimu dalam kematian."

Violetta tersenyum lemah, membelai wajah kekasihnya yang kini menangis untuknya. "Ooh… aneh sekali…"

"Apa yang terjadi?" Alfredo dengan panik memegangi tangan kekasihnya yang semakin mendingin.

"Rasa sakit di tubuhku perlahan menghilang. Ooh… aku merasa seperti dilahirkan kembali… Oh, hidup… aku ingin hidup!" –dan wanita itu pun terjatuh ke pelukan Alfredo. Tidak bergerak lagi. Meninggal.

"VIOLETTA!"

.

.

Babak terakhir selesai, tirai kembali ditutup dengan iringan tepuk tangan membahana dari bangku penonton. Sorakan dan suitan terdengar bersahut-sahutan dari balik tirai. Sementara di belakang panggung, suasana tak kalah heboh.

"Kita berhasil! Kita berhasil!"

"Bravo, teman-teman!"

Semua pemain dan pendukung turut serta bersorak dan bertepuk tangan, saling menepuk pundak temannya demi merayakan keberhasilan pementasan tahun ini. Tenten, sang sutradara, kini menangis terharu di pelukan Reika, teman kelas tiganya.

Sementara itu, di tengah panggung, Neji masih memeluk Sakura dengan erat, berbisik pelan di telinga gadis itu,

"Maafkan aku... untuk semuanya..."

.

.

(Masih) TBC...

.

.

Disclaimer

Naruto © Kishimoto Masashi

One Last Cry © Bryan McKnight

La Traviata © Giuseppe Verdi

.

.

*) 'Break a leg', aku ambil dari 'A Walk To Remember'. Waktu Jamie mau pementasan, dia dan Landon saling mengucapkan 'Break a leg' karena katanya tabu untuk mengucapkan semoga sukses sebelum pementasan. ^^

Chapter kedua terpanjang sejauh ini, dengan 34 page MSW dan 11.216 word untuk ceritanya aja. Terpanjang tetep di chapter 71. Hehehe… Maaf ya, kalau bosan dan abal. Aku gak piawai bikin deskripsi bagus tentang festivalnya, sih. T.T Harusnya chapter ini bisa lebih panjang lagi, berhubung festivalnya belum selesai. Dan Yakumo yang seharusnya muncul chapter ini jadi mundur.

Dan soal dramanya, gomeeeeen… gak bisa diceritain per adegan. Tar tambah panjang. Tadinya malah gak pingin aku masukin, tapi berhubungan ada yang minta *lirik-lirik* jadi ya dimasukin deh. Tapi jadinya malah kaya gitu. Mudah-mudahan cukup, supaya teman-teman reader punya gambaran gimana sih cerita La Traviata. Walaupun di sini gak akurat juga dan ada beberapa bagian yang ngarang abis. Hihi… XD

Buat yang minta supaya Sasuke gantiin Neji jadi lawan mainnya Sakura, maaf banget aku gak bisa bikin gitu. Soalnya aku ingin supaya cerita ini semasuk akal mungkin. Di sini Neji dan Sakura udah ngelewatin audisi buat dapetin peran, terus latihan keras selama berminggu-minggu. Rasanya terlalu maksa kalau si Sasuke bisa gantiin Neji gitu aja tanpa audisi, tanpa latihan, dan tanpa baca skrip. Iya, gak? Jadi maaf yah… ^^a

Um… terus, yang kemarin ngasih usulan supaya konfliknya ditambah dengan Naruto yang kecelakaan dan amnesia, gomen lagi, kayanya aku gak bisa masukin itu deh. Mau sampe berapa chapter tuh? O.o Lagian plot setelah ini sudah ditentuin kok. Sekedar bocoran, konfliknya udah abis bo.. tinggal penutup aja (yang kayanya bakal agak panjang juga. Hoho… #plaak!)

Terus (lagi) yang minta SasuSaku kissing… er… hauuu… gak tau deh. Yang jelas gak bisa dalam waktu dekat. Bisa-bisa Sasu ditabok Saku… =_=a

Dan yang terakhir, tentang cameo-cameo yang muncul, gomen na yang merasa namanya dicatut tanpa izin: Emi, Aya, Michi, Mayu. Ahahaha… :p

Buat yang sudah RnR chapter lalu, makasih banyak. Yang udah rajin nagih, gomen telaaat…