"Maafkan aku… untuk semuanya…"
Sakura tertegun. Di tengah hiruk pikuk anak-anak yang merayakan keberhasilan pementasan mereka di belakang panggung, ia masih bisa mendengar kata-kata itu dibisikkan oleh Neji di telinganya sementara cowok itu memeluknya.
Perlahan, Sakura melepaskan diri dari dekapan Neji. Jantungnya berdebar kencang ketika ia menatap ke dalam mata cowok di depannya. Neji mengulas sebuah senyum ragu, yang kemudian segera dibalas Sakura dengan anggukan diiringi senyum tulus.
"Trims…" Neji berkata lagi, tampak lebih lega.
Sekali lagi Sakura mengangguk. Kedua matanya mulai berkaca-kaca sementara euphoria anak-anak di belakang mereka mulai menularinya. "Kita berhasil, Neji. Kita berhasil!"
Senyum Neji melebar dan ia mulai tertawa. "Tentu saja. Kita berhasil."
Kali ini Sakura lah yang bergerak terlebih dahulu. Gadis itu melempar kedua belah lengannya untuk memeluk Neji erat-erat, seraya terus berseru gembira, "Kita berhasil! Kita berhasil!" dengan air mata haru yang mulai membanjiri wajahnya.
Setelah melepaskan diri dari Neji –dan dibantu cowok itu berdiri—Tenten menghampirinya, memeluknya dengan erat juga sebagai ucapan selamat. "Sukses besar! Terimakasih banyak, Sakura!"
"Oh, ini semua berkat kau juga!" seru Sakura riang setelah Tenten melepaskan pelukannya. Kedua gadis itu bertukar senyum, sebelum kemudian Sakura berpaling untuk menghampiri yang lain.
Hokuto melompat ke arahnya, berseru kegirangan sampai matanya basah saking terharunya. Juugo dan beberapa anak cowok juga ikut menghampirinya, saling memberikan ucapan selamat dengan wajah merah diliputi kegembiraan. Kemudian Sakura berlari ke arah Ino dan Hinata yang menunggu agak jauh dari kerumunan anak-anak berkostum dengan wajah berseri-seri. Gadis itu memeluk keduanya sekaligus sambil menjerit-jerit bahagia sementara keduanya menyerukan selamat padanya. Kemudian yang terakhir adalah Sasuke dan Naruto, ia juga nyaris mencekik kedua cowok itu dengan pelukan eratnya sebagai ungkapan rasa bahagia.
"Hei, waktunya memberi salam pada penonton!" Tenten menepuk-nepukkan kedua tangannya untuk mendapatkan perhatian dari teman-temannya di belakang panggung. "Ayo semuanya! Ayo, Sakura!"
Tak lama semua pemain beriringan berjalan memasuki panggung kembali di depan tirai merah yang tertutup, menyambut tepuk tangan penonton yang membahana di seluruh penjuru gym. Tenten menggandeng sebelah tangan Sakura, sementara tangan yang lain menggandeng tangan Juugo. Neji berada di sisi lain Tenten. Serentak, mereka mengangkat tangan-tangan mereka yang saling terpaut, kemudian membungkukkan badan sebagai ungkapan terimakasih pada penonton.
Di atas panggung, Sakura bisa melihat ibu dan pamannya berdiri di antara para penonton lain, bertepuk keras. Wajah ibunya berkilau oleh air mata. Meski begitu, ia terlihat sangat berseri-seri. Sementara tak jauh dari tempat ibu dan pamannya, Sai melambaikan tangan kepadanya, sementara tangannya yang lain memegangi kamera.
Sakura merasa sangat bahagia dan lega saat itu, seakan baru terlepas dari beban yang sangat berat. Dan ia tidak akan pernah melupakan hari itu sampai kapan pun.
.
.
Kehebohan masih berlanjut sampai di ruang ganti. Sembari menanggalkan kostum mereka dan menggantinya dengan pakaian biasa, para gadis itu terus membicarakan tentang pementasan yang baru berakhir beberapa saat yang lalu dengan penuh keriangan, ditingkahi dengan suara tawa ketika mereka saling ledek kesalahan konyol yang dilakukan masing-masing di atas panggung, seperti keseleo lidah saat sedang melakukan dialog, tak sengaja terserimpet kostum sendiri, atau sanggul yang mendadak copot. Sakura yang sama sekali tak menyadari ada kejadian-kejadian semacam itu tadi –karena berkonsentrasi penuh dengan aktingnya—ikut tergelak.
Keriangan mereka kemudian disela oleh Tenten, yang baru saja memasuki ruangan. "Teman-teman," serunya riang pada seisi ruangan yang langsung menoleh ke arahnya, "Lihat siapa yang baru saja datang!"
Gadis bercepol itu kemudian menoleh ke arah belakangnya, di mana sesosok gadis berambut cokelat panjang baru saja muncul. Dalam balutan mantel dan syal tebal yang meliliti lehernya, Yakumo Kurama tersenyum cerah pada anak-anak. Langsung saja seruan-seruan gembira terdengar di sana-sini, terutama berasal dari para gadis kelas tiga.
"Yakumo!" seru Reika sambil berlari ke arah teman seangkatannya itu, lalu memeluknya, "Astaga… bagaimana kabarmu? Sudah baikan, kan?" cecarnya begitu mereka melepaskan pelukan.
Yakumo, dengan wajah masih penuh senyum, mengangguk. "Sudah tidak apa-apa, kok. Thanks, Rei." –Lalu ia berpaling untuk meladeni anak-anak yang kemudian bergantian menghampirinya.
Sementara Sakura hanya mengawasinya dari kejauhan. Situasi tidak menyenangkan yang pernah terjadi antara dirinya dan kakak kelasnya itu membuatnya agak canggung pada Yakumo. Bahkan sampai sekarang, setelah semuanya selesai. Ia sedikit terkejut ketika matanya bersitatap dengan Yakumo –tetapi gadis itu hanya melempar senyum penuh arti padanya, sebelum berpaling lagi.
"Dan lihat apa yang dibawakan Yakumo untuk kita semua!" seru Tenten lagi. Dan tak lama kemudian, beberapa gadis berpakaian panitia masuk dengan membawa bertumpuk-tumpuk kotak makan siang, yang langsung disambut dengan gembira –nyaris barbar—oleh seisi ruangan.
Yakumo tak lama berada di ruangan itu. Setelah memastikan semuanya kebagian kotak makan siang, ia lalu keluar bersama Tenten.
"Kelihatannya dia masih tidak sehat, kan?" komentar Hokuto begitu Yakumo dan Tenten tak terlihat lagi.
Sakura dengan cepat menoleh ke arahnya. "Siapa?"
"Tentu saja Yakumo. Kau tidak memperhatikan mukanya pucat begitu?" kata Hokuto, lalu menyumpit nasi dari dalam kotak makan siangnya.
"Ah—" Sakura kembali menolehkan kepala ke arah pintu, di mana Yakumo baru saja menghilang beberapa saat yang lalu. "Benar, memang kelihatannya dia tidak begitu sehat."
"Tapi tetap saja kelihatan cantik," tambah Hokuto, mengungkit lagi fakta bahwa Yakumo Kurama adalah gadis tercantik di kelas tiga.
Di sebelahnya, Sakura hanya mendengus tertawa. "Yeah, benar…" Tepat saat itu, sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya. Sakura membacanya sekilas, sebelum kemudian beranjak dari duduknya dan mengambil ransel besar dari bawah meja rias.
"Kau mau kemana?" tanya Yakumo, memperhatikan ketika Sakura menggendong ransel berat itu di punggungnya.
"Menemui penggemar beratku," sahut Sakura sambil nyengir pada Hokuto yang terbengong. Sakura lalu mengambil kotak-makan-siang-pemberian-Yakumo miliknya dari atas meja rias dan berjalan menuju pintu, "Aku duluan, ya!" serunya sebelum melangkah keluar.
.
.
Keramaian masih berlangsung ketika Sakura melangkahkan kaki meninggalkan ruang belakang Gymnasium yang kini dipenuhi oleh alunan musik dan nyanyian dari tim choir KHS. Stand-stand yang tersedia masih sibuk melayani para pengunjung, meskipun jumlahnya tidak sebanyak sebelumnya. Sakura juga masih menerima ucapan selamat dari teman-teman sekelasnya yang kebetulan berpapasan dengannya, dan ia dengan sukses dibuat nyaris kena serangan jantung oleh seorang cowok kelas satu yang tanpa tending aling-aling menghampirinya dan mengajaknya berkencan. Sakura langsung menolaknya di tempat saking terkejutnya. Lagipula dia tidak mengenal cowok itu.
Wow, sepertinya menjadi tokoh utama dalam pementasan drama membuat gadis itu jadi populer mendadak. Padahal sebelumnya Sakura bukanlah siswa yang menonjol di antara para siswa yang lain –kecuali prestasi akademisnya—seperti Ino, atau Karin, atau Sasuke, atau Yakumo, atau Neji, atau siapa pun yang punya tampang cakep dan tubuh bagus. Hmm… sekarang ia mengerti bagaimana perasaan Sasuke saat menghadapi gadis-gadis penggemarnya.
Masih dengan terkaget-kaget dan bermuka merah, Sakura bergegas kabur meninggalkan cowok itu –karena tidak tahan melihat tampangnya yang kecewa, membuat Sakura merasa bersalah saja. Kemudian dengan langkah cepat, Sakura menuju tempat ibunya sudah menunggunya. Gadis itu sangat cemas kalau-kalau muncul cowok nekat lain yang melompat ke hadapannya jika ia lengah sedikit saja.
Stand para guru dipenuhi oleh orang-orang dewasa. Sebagian besar adalah para guru dan keluarganya. Sakura juga melihat ayah Naruto, Iruka, sedang mengobrol dengan Ibu Mitarashi dan Pak Hatake –pamannya. Ibunya juga ada di sana, duduk di salah satu bangku bersama dokter Rin. Kedua wanita itu tengah asyik memperhatikan digital camera di tangan Azami.
"Ah, Sakura!" sambut tunangan pamannya itu sambil tersenyum cerah saat ia melihat Sakura mendekat.
"Sayang!" Azami berseri-seri melihat putrinya. Wanita berambut merah gelap itu mengulurkan tangan ke arah Sakura, dan meskipun Sakura sedikit malu karena beberapa gurunya memperhatikannya, ia tetap mengizinkan ibunya memberinya kecupan di pipi. "Tadi kau sangat cantik di atas panggung, Nak," puji Azami bangga. "Bukan begitu?"
"Tentu saja," timpal Rin, "Kau aktris yang sangat hebat, Sakura. Pantas saja pamanmu terus-terusan membujukku supaya melihat pertunjukkanmu."
"Um…" Wajah Sakura merona merah. "Makasih…"
"Drama yang sangat indah." Sakura merasakan seseorang mengacak rambutnya. Ia menoleh dan mendapati Kakashi sudah mengalihkan perhatiannya padanya, begitu juga dengan ayah Naruto dan Ibu Mitarashi. "Berkat keponakanku."
"Kakashi!" protes Sakura sambil menyingkirkan tangan pamannya dari atas kepalanya. Kemudian wajahnya merona lagi ketika menyadari ia baru saja memanggil pamannya dengan nama depan di hadapan para guru lain. "Maksudku, Pak Hatake," ia mengoreksi dalam gumaman kikuk. "Kurasa itu semua berkat kerja sama tim dramanya."
"Dia benar," ujar Ibu Mitarashi setuju. "Kerja sama tim. Jadi itu termasuk berkat aku dan Kurenai juga." Guru nyentrik itu kemudian mengedipkan mata pada Sakura.
"Kau sudah makan siang?" tanya Azami ketika para guru kembali ke obrolannya masing-masing dan Sakura sudah duduk bangku kosong di sampingnya.
Sakura menggeleng. Ia mengangkat kotak makan siang yang dibawanya tadi. "Belum sempat."
"Kalau begitu makanlah dulu," kata Azami.
"Tadi itu penampilan yang luar biasa," salah satu gurunya lagi, Ibu Yuuhi, mendatangi mejanya sambil membawa nampan berisi segelas minuman dingin. Tunangan Pak Sarutobi itu tersenyum padanya. "Selamat, ya…"
Sakura bersemu merah lagi. "Terimakasih, Ibu Yuuhi…" ucapnya berseri-seri.
"Kalau begitu ini hadiah dari kami," wanita berambut hitam itu lantas menaruh gelas minuman yang dibawanya di atas meja untuk Sakura, kemudian berbalik pergi.
Sakura lalu membuka kotak makan siangnya dan mulai makan. Sementara ibunya dan Rin kembali asyik melihat-lihat hasil jepretan Azami saat pementasan drama tadi. Sesekali Sakura yang penasaran ikut melongok. Rasanya sangat aneh melihat gambar dirinya dalam balutan kostum dan sedang berakting di panggung, tetapi juga menimbulkan perasaan yang sangat menyenangkan. Kecuali saat ia melihat beberapa foto yang menurutnya nggak banget, seperti… —"Aah… Ibu! Kenapa mengambil gambar saat aku sedang mangap lebar begitu, sih?"
Azami dan Rin hanya tertawa-tawa saja.
"Setelah ini Ibu mau langsung pulang?" tanya Sakura paa ibunya setelah ia menandaskan butir terakhir nasinya –tampaknya pementasan drama begitu menguras tenaga dan membuatnya kelaparan.
"Setelah ini Ibu mau ke restoran," sahut Azami, seraya memasukkan kembali digital camera ke dalam tas tangannya. "Nanti kau pulang jam berapa?"
"Hmm…" Sakura tampak berpikir. "Mungkin setelah acara api unggun. Tapi tidak pasti jam tepatnya, lihat nanti saja. Mungkin aku akan langsung pulang ke rumah saja."
Azami mengangguk. "Kau mau Ibu menjemputmu?"
"Tak usah, Bu. Aku bisa naik bus—"
"Biar aku yang mengantarnya nanti," timbrung Kakashi sambil mengangkat setusuk dango berlapis saus kacang merah ke mulutnya.
"Kau sangat baik, Kakashi…" Azami tersenyum pada adik iparnya itu.
"Banget," timpal Sakura sambil nyengir nakal.Ia mengambil tusuk dango terakhir dari piring pamannya, lalu beranjak. "Bu, aku mau ke tempat Sasuke dan yang lain dulu, ya…"
"Baiklah." Azami mengawasi ketika Sakura mengambil ranselnya, agak kesusahan dengan tas besar itu. "Tasnya biar ibu bawa saja. Sepertinya berat."
"Benarkah? Waah.. makasih, Bu!" Sakura dengan tampang berseri-seri meletakkan kembali tasnya di kursi, lalu mengambil barang-barang yang penting dari dalamnya –dompet, ponsel, kunci loker, beberapa bungkus cokelat (Sakura kemudian memberikan salah satunya pada Kakashi). "Kalau begitu sampai ketemu di rumah ya, Bu!"
Azami memperhatikan ketika Sakura berlari-lari kecil meninggalkan stand itu. Rambut merah mudanya yang dikucir longgar berayun di punggungnya, sebelum kemudian menghilang di kerumunan para pengunjung lain.
"Kelihatannya dia sangat gembira," gumam Azami sambil tersenyum dengan diiringi helaan napas lega. Rasa khawatirnya sedikit memudar melihat putrinya itu tampak begitu ceria. "Syukurlah…"
Di sampingnya, Kakashi terkekeh. "Saking gembiranya dia jadi membiarkan ibunya membawa tas berat ini ke mobil sendirian," komentarnya sambil mencoba mengangkat ransel berat sang keponakan. "Uurgh… memang sangat berat. Tenaganya itu besar juga untuk ukuran gadis remaja, eh?"
"Kalau begitu sekarang kubiarkan kau membantuku mengangkat tas berat itu ke mobil, Kakashi," balas Azami sambil tertawa. "Aku tidak keberatan, kok."
"Eeeh?"
.
.
Sakura menjulurkan lehernya ke atas kepala para pengunjung, mencoba menemukan keberadaan kepala-kepala yang dikenalnya di antara kerumunan. Namun ia tak menemukan tanda-tanda keberadaan Sasuke, atau Naruto, atau Sai di mana pun. Omong-omong, Sakura juga belum melihat mereka sejak di panggung tadi. Bertanya pada Ino pun tampaknya tak akan banyak berguna. Idate akan mengamuk bila mendengar nama Sai, dan itu sama sekali tidak membantu.
Akhirnya Sakura melakukan sesuatu yang seharusnya sudah dilakukannya sejak tadi: menelepon Sasuke.
"Kalian di mana?" seru Sakura untuk mengatasi suara bising pada ponselnya.
"Apa? Tidak terdengar, Sakura. Bising sekali di sana!" seru Sasuke dari seberang.
Sakura menengok ke sana kemari, mencari-cari tempat yang kira-kira lebih tenang, sebelum berlari menyingkir ke dekat gudang sekolah. "Kalian ada di mana?" ulangnya.
"Kami di depan stand rumah hantu."
Tanpa berkata apa-apa lagi, Sakura memutuskan sambungan dan bergegas menuju gedung utama melalui pintu belakang yang lebih dekat.
.
.
Stand rumah hantu sepertinya menjadi stand paling ramai siang itu. Para pengurusnya –Sumaru dan kawan-kawan—sudah membuat aturan baru, di mana pengunjung yang masuk ke sana bersama pasangan akan mendapat potongah harga. Tentu saja ini menarik perhatian mereka yang sudah berpasangan, atau mereka yang terlalu takut masuk sendirian, tapi sangat penasaran. Contohnya saja Naruto.
Dari tadi ia tak hentinya menjulurkan leher, berusaha mengintip ke balik tirai hitam yang menutupi pintu masuk. Tetapi Sumaru yang bolak-balik menariknya selalu menggagalkan usahanya itu. "Bayar dulu, baru boleh masuk."
"Dasar pelit!" gerutu Naruto seraya menjulurkan lidah dengan sebal pada Sumaru yang mengabaikannya. "Aku tidak mau membayar untuk ditakut-takuti."
"Masalahnya bukan membayar untuk ditakut-takuti, Naruto," ujar Sai dengan senyum kalemnya. "Masalahnya adalah apa kau mau membayar untuk memenuhi rasa penasaranmu? Tapi kurasa kau terlalu penakut untuk masuk ke dalam sana."
"Diamlah, Sai!" gerutu Naruto lagi. Rona merah menghiasi wajahnya dan ia kembali berpaling ke pintu –kali ini pintu keluar. Menunggu. "Kak Itachi dan Kak Hana kenapa lama sekali di dalam?"
"Kakakmu tidak akan macam-macam pada kakakku di dalam, kan, Uchiha?" Kiba memelototi Sasuke, seakan jika Itachi berbuat macam-macam pada Hana, itu adalah salah Sasuke. Yah, Kiba memang menyukai Itachi, tapi tetap saja ia adalah adik laki-laki Hana –kalau kalian mengerti maksudku.
"Mana kutahu," guman Sasuke malas. Ia melipat kedua lengannya di depan dada sambil mengawasi Naruto yang sedang melakukan usaha sia-sianya lagi untuk mengintip ke dalam. "Kalau kau begitu begitu ingin melihat ke dalam, masuk saja. Kita masuk berdua kalau kau mau. Jadi bayarnya setengah saja. Bisa kan, Sumaru?" Sasuke mengerling cowok berambut hijau tua yang berjaga di pintu.
"Maksudmu kau dan Naruto masuk sebagai couple?" tanya Sumaru dengan ekspresi geli di wajahnya. "Yang benar saja."
"Sepertinya tak ada larangan yaoi di peraturan festival, Sumaru," kata Hokuto yang berjaga di loket stand itu. Gadis itu terlihat senang –entah mengapa.
Naruto menoleh cepat ke arah Sasuke. Mata birunya menyipit curiga. "Yeah, yang benar saja, Sasuke. Kau hanya ingin menertawaiku di dalam sana."
Sasuke memutar bola matanya. Di sampingnya, Sai hanya tersenyum-senyum.
Sebuah seringai muncul di wajah Naruto. Ia menuding Sasuke. "Atau kau sebenarnya juga penasaran, tetapi takut—"
"KYAAAAA!" –tiba-tiba terdengar suara jeritan melengking dari dalam ruangan.
"Apa itu?" seru Naruto, perhatiannya kembali terpusat ke rumah hantu. Jarinya mengacung. Wajahnya pucat pasi. "Kenapa mereka selalu teriak-teriak di dalam sana?"
Tingkah panik Naruto membuat orang-orang yang melihatnya terkikik geli. Sementara Sasuke hanya menghela napas sambil menggeleng-gelengkan kepala. Wajah pucat Sai memerah menahan tawa, sementara Kiba sudah terbahak seperti orang gila.
"Dasar penakut!" ledeknya dalam gumaman yang tak bisa didengar Naruto.
Tak lama kemudian, tirai hitam di pintu keluar tersibak dan Hana serta Itachi muncul. Hana tampak memeluk lengan kakak Sasuke itu dengan erat, seakan ia menggantungkan hidupnya di lengan itu . Wajahnya yang merona tampak tegang, kontras dengan Itachi yang terlihat lebih santai. Seringai menghiasi wajahnya yang tampan dan ia mengacungkan ibu jari tangannya yang bebas pada Sumaru. "Hebat sekali," komentarnya.
Sumaru berseri-seri. "Terimakasih sudah mampir."
Terdengar bisik-bisik dari barisan anak-anak yang mengantre di sana ketika Itachi melangkah keluar. Sebagian besar berasal dari kelompok anak-anak perempuan tukang gosip.
"Huaah… kakaknya Sasuke! Mirip sekali, ya…"
"Cakepnya sama!"
"Sayang sudah punya pacar."
"Hei, pacarnya itu kakak perempuannya Kiba, kan?"
"Was wes wos… was wes wos…"
Dan Sasuke yakin sekali gosip dirinya akan segera bersaudara dengan si berisik Kiba Inuzuka akan segera tersebar di seluruh penjuru sekolah besok.
"Kau tidak mencoba, Sasuke?" tanya Itachi ketika melewati adik lelakinya. "Seru lho."
"Iya, iya…" sahut Sasuke malas. Nadanya mulai terdengar seperti Shikamaru.
"Atau kau sedang menunggu Sakura untuk diajak masuk?" Itachi melempar seringai nakal pada adiknya, dan segera mendapatkan beliakan galak sebagai balasannya.
"Diam!" desis Sasuke. Itachi hanya terkekeh-kekeh.
"Hei, Sasuke. Jadi mau masuk, tidak?" tanya Hokuto sambil senyum-senyum. "Mumpung antriannya sedang lengang nih!"
Sasuke tidak menjawab. Kepalanya tertoleh ke ujung koridor, seakan sedang menunggu sesuatu –atau seseorang—muncul di sana. Dan kemudian sudut-sudut bibirnya sedikit terangkat ketika seorang gadis berambut merah muda muncul sambil berlari-lari kecil. Sakura melambaikan tangan ke arahnya –well, ke arah Naruto dan Sai juga.
"Nah, dia sudah datang, Dik," bisik Itachi seraya menepuk bahu Sasuke, kemudian berpaling pada Sumaru, "Kalau begitu couple untuk adikku, kalau tidak keberatan," Itachi mengulurkan beberapa keping uang padanya.
"Apa?" Sasuke yang baru saja menyadari arti kata-kata kakaknya, langsung menoleh. "Aku tidak bilang—"
"Good luck! Aku pergi dulu cari minuman." Itachi nyengir pada Sasuke, kemudian melenggang pergi sambil bergandengan tangan dengan Hana. Kiba mengekor di belakang mereka.
Mereka berhenti untuk menyapa Sakura ketika berpapasan dengan gadis itu di koridor. Sakura dengan wajah berseri-seri membalas sapaan mereka, sebelum melanjutkan berlari kecil ke arah Sasuke.
"Kukira kau tidak tertarik dengan stand kami, Sasuke," ujar Sakura agak terengah. Tanpa menunggu jawaban Sasuke, Sakura menoleh ke arah teman-temannya. "Semuanya lancar?"
"Selancar pertunjukan drama kalian," kata Sumaru sambil menyeringai.
"Baguslah!" Sakura kembali memandang Sasuke, tersenyum padanya. "Jadi… kau sudah mencoba?"
"Belum," Sai lah yang menjawab, "Tadi Sasuke berusaha mengajak Naruto masuk dengan tiket couple," beritahunya dengan nada kalem. Sasuke membelalak padanya, tapi Sai mengabaikannya.
"Oh!—wow…" Sakura nyengir, kemudian memandang Naruto yang buru-buru menukas,
"Aku tidak mau dengan Sasuke. Dia cuma bakal memperolokku! Tapi kalau dengan Sakura, aku mau," Naruto menambahkan. Alisnya bergerak-gerak. "Jadi, kau mau masuk menemaniku, tidak?"
"Tidak." Jawaban Sakura kontan saja membuat Naruto kecewa. Namun gadis itu malah tertawa. "Maksudku, yang benar saja, Naruto. Aku yang mendandani mereka dan aku tahu trik-triknya. Tidak akan seru kalau kau masuk denganku. Asyiknya bakal hilang."
"Oh yeah. Kau benar," kata Naruto cemberut.
Dan kekecewaan yang sama juga dirasakan Sasuke, meskipun ia tidak memperlihatkannya terang-terangan. Yang ia tahu, Sakura juga tidak akan mau meskipun ia yang mengajaknya. Ya, ampun… Bad luck.
"Sasuke! Yang lainnya sudah menunggu nih!" desak Sumaru. "Jadi mau masuk, tidak?"
Sasuke menghela napas keras. "Baiklah. Karena kakakku yang bodoh itu sudah membayar. Ayo kita masuk, Sai."
"Huh?" Sai mengerjap. Terkejut dengan ajakan Sasuke yang tiba-tiba. Tapi Sasuke tidak memberinya kesempatan menjawab, karena detik berikutnya cowok itu sudah menyambar lengannya dan menyeretnya ke pintu masuk.
Hokuto bersuit untuk mereka. "Selamat bersenang-senang di dalam!" serunya terkikik-kikik.
"Oh, ya ampun…" Sakura menggeleng-gelengkan kepalanya. Ekspresi wajahnya geli.
"Ternyata benar. Sasuke memang penasaran…" Naruto bergumam pada dirinya sendiri.
Sasuke dan Sai tidak menghabiskan banyak waktu di dalam –tidak seperti pengunjung yang lain. Tidak sampai lima menit, keduanya sudah muncul di pintu keluar, tanpa teriakan-teriakan sebelumnya. Wajah mereka juga datar-datar saja, malah terlihat seperti bosan. Sasuke menghela napas bosan seraya melangkah keluar dengan kedua tangan terbenam di saku jeans-nya. Di belakangnya Sai menyusul.
Sai berhenti di meja loket dan berkata datar pada Hokuto, "Riasan mereka sudah mulai luntur tuh. Sudah tidak seram lagi. Wignya Mayu miring."
Hokuto terbengong.
Akhirnya, dengan diiringi beberapa keluhan kecewa dari para pengunjung yang sudah mengantre, Sumaru terpaksa menutup sementara rumah hantu itu untuk membenahi dandanan para hantunya –dengan bantuan Sakura juga. Tetapi itu tidak lama. Lima belas menit kemudian, rumah hantu kembali dibuka dan para pengunjung masih penasaran kembali berdesakan ingin masuk. Dan Naruto kembali dikuasai rasa penasaran yang menggebu-gebu, meskipun sebenarnya ia sangat takut untuk masuk sendirian.
"Kalau tidak mau masuk sendirian, ajak Hinata saja," usul Sakura sambil menyikut Naruto. Ia baru saja melihat Hinata bersama Shiho keluar dari stand kafe makanan kecil yang letaknya tak jauh dari stand rumah hantu di koridor itu. "Kau kan lumayan dekat dengan Hinata. Dia tidak akan memperolokmu."
Seakan ada yang menyalakan bola lampu dalam kepalanya, ekspresi wajah Naruto berubah riang. "Benar juga!" Dan cowok pirang itu bergegas berlari melintasi koridor untuk menghampiri Hinata.
Sakura mengawasi sahabatnya itu dengan senyum terkembang di wajahnya.
"Kau ini sedang berusaha menjadi mak coblang, ya?" tanya Sasuke dalam bisikan padanya.
Sakura menoleh padanya, nyengir lebar. "He he…" ia mengacungkan dua jarinya membentuk huruf V.
Sasuke menyeringai tipis. Ia sama sekali tidak memikirkannya ketika tangannya terangkat ke rambut Sakura dan mengacaknya dengan gemas. "Dasar."
"Hei!" protes Sakura sambil mengerucutkan bibir, membuat Sasuke ingin mengacak-acak rambutnya sekali lagi. Tetapi kemudian ia mengurungkan niatnya itu, karena para gadis yang kebetulan melihat adegan mesra barusan, sekarang sedang memelototi Sakura seakan ingin menguliti gadis itu hidup-hidup. Ow, gawat nih…
Saat berikutnya, Naruto kembali ke stand rumah hantu dengan menggandeng tangan Hinata yang wajahnya sudah semerah tomat masak –bahkan lebih merah lagi. Shiho mengikuti di belakangnya sambil cengar-cengir. Naruto dengan riang –dan sedikit ekspresi cemas di wajahnya—membayar untuk mereka berdua dan mengantre di belakang pasangan lain.
"Sai," Sakura menyikut Sai yang dari tadi terlihat asyik sendiri mengutak-atik kameranya. Sai menoleh. "Kameramu masih nyala, kan?" tanya Sakura. Gadis itu mengerling Naruto dan Hinata, dan Sai mengerti.
"Yap. Tentu saja."
"Benar-benar hebat," gumam Sasuke sambil memutar bola matanya. "Apa setelah ini kalian berencana memajang foto itu di mading?"
"Sebenarnya semua foto yang diambil saat festival ini bakal dipajang di mading," kata Shiho yang kemudian bergabung dengan mereka. "Dengan begitu, anak-anak bisa memesan foto mana saja yang mereka inginkan untuk disimpan. Asyik, kan? Haaah… benar-benar pasangan yang manis, mereka itu." Gadis berkacamata itu menandang Naruto dan Hinata.
"Aku setuju denganmu, Shiho," ujar Sakura, mengangguk sepakat.
Tepat saat itu, Shikamaru dan Chouji melewati mereka menuju stand makanan kecil yang tadi baru ditinggalkan Hinata dan Shiho. Mata Shiho mengikuti mereka –salah satu dari mereka, tepatnya—dengan tatapan penuh damba. "Haah… ya, ampun.. Apa kalian bisa merasakan cinta menguar di udara?" desahnya.
Sakura terkikik. Sai mendengus tertawa. Sasuke sama sekali tak bereaksi. Perhatiannya tertuju sepenuhnya pada seorang gadis yang kini sedang tertawa-tawa riang di sampingnya.
Ya, benar. Cinta sedang menguar di udara…
"Hei, mereka masuk! Mereka masuk!" seru Sakura ketika Naruto dan Hinata melewati pintu masuk. Naruto terlihat memegangi tangan Hinata kuat-kuat sementara gadis itu tampaknya hampir pingsan. Entah karena cengkeraman Naruto yang terlalu kuat atau karena hal lain. Pasti karena hal lain, pikir Sakura.
Ternyata menunggui Naruto di dalam sana lebih seru dari yang dibayangkan. Karena Naruto tak hentinya menjerit dan berteriak ketakutan, diselingi kata-kata umpatan yang luar biasa. Suaranya yang keras terdengar hingga keluar, menarik perhatian dan gelak tawa orang-orang yang kebetulan melintas.
"AAAARGH!"
"#$#^$*!"
"UGYAAAAAA!"
"*#^$#&#!"
"AIYEEEEE!"
Ketika mereka akhirnya keluar dari ruangan, wajah Naruto sudah berubah hijau. Dan posisinya sekarang tidak lagi mencengkeram tangan Hinata, melainkan memeluk gadis itu, nyaris mencekiknya jika dilihat dari wajahnya yang merah padam. Tubuh Naruto yang gemetaran membuat Hinata ikut berguncang bersamanya.
Sakura harus bersusah payah menggigit bagian dalam pipinya untuk menahan tawa. Wajahnya merah padam. Di sampingnya, tangan Sai yang sedang mengangkat kamera gemetar hebat sementara tubuhnya beguncang-guncang oleh tawa. Sasuke? Entahlah… Dia menghilang ke kamar kecil terdekat sejak Naruto meneriakan makiannya yang ketiga.
"N—Naruto…" Hinata merintih pelan, sedikit menarik lengan Naruto yang melingkari lehernya dari belakang. "A—Aku… tak bisa napas…"
"O—Oh… ha ha… maaf…" Naruto dengan gugup melepaskan pelukannya. Ia memandang berkeliling dan wajah hijaunya berubah merah saat menyadari orang-orang sedang menertawainya. Ia cepat-cepat menegakkan diri. "Yah, yang tadi itu cukup seru juga," komentarnya, yang malah semakin memancing gelak tawa penontonnya. Malu, Naruto kembali menoleh pada Hinata. "Maaf, ya… Aku mengacaukan semuanya."
"T-Tidak apa-apa, N-Naruto…" engah Hinata.
"Kau baik-baik saja?" tanya Naruto khawatir, melihat wajah Hinata yang begitu merah seperti sedang demam.
"Ung…" Hinata mengangguk pelan. Merah di wajahnya semakin menggelap ketika Naruto menatapnya.
"Haah… kau ini benar-benar payah, Naruto," tuding Shiho yang pertama kali berhasil menguasai diri. Kini ekspresi wajahnya serius. "Kau harus tanggung jawab sudah membuat temanku seperti itu. Sana, belikan dia minum atau apa!"
Naruto yang tampaknya mencemaskan Hinata pun tak berpikir dua kali untuk menuruti kata-kata Shiho. Setelah ber-"Iya, iya," ia segera membawa Hinata meninggalkan koridor itu menuju stand yang menjual minuman di luar, sama sekali lupa pada ketiga temannya.
"Pintar sekali, Shiho," komentar Sakura sambil terkekeh.
Shiho menyeringai padanya. "Tentu saja. Kalau tidak, aku tidak akan terpilih menjadi sekretaris OSIS. Eh, kemana Pak Ketu?" Shiho celingukan, mencari-cari sosok Sasuke yang raib dari sana.
"Kebelet," sahut Sai.
"Oh. Ternyata orang itu bisa kebelet juga, ya?" Shiho tertawa, kemudian melenggang pergi dari sana, menyusul Naruto dan Hinata.
Tepat saat itu, Sasuke akhirnya muncul lagi. Bagian depan rambutnya terlihat sedikit basah dan semburat kemerahan menghiasi wajahnya yang pucat. "Apa?" tukasnya galak pada kedua sahabatnya yang menatapnya dengan tampang geli.
"Tidak. Tidak ada apa-apa," kata Sakura buru-buru, setengah tertawa. Gadis itu kemudian mengamit lengan kedua cowok itu –Sasuke pada lengan kanan dan Sai pada lengan kirinya—dan menyeret mereka meninggalkan koridor. "Yuk, kita keluar! Sebentar lagi acara api unggunnya akan dimulai."
.
.
Menjelang sore sebagian pengunjung sudah mulai meninggalkan lokasi festival. Namun sebagian besar siswa Konoha High dan para pengunjung remaja masih bertahan di sana sampai acara api unggun di mulai –karena biasanya bagian itu yang paling seru. Karena akan ada banyak pernyataan cinta di depan api unggun, terlebih ini bertepatan dengan hari kasih sayang. Anak-anak tidak akan melewatkannya.
Sebelum senja turun, para panitia sibuk menumpukkan kayu bakar yang sudah mereka persiapkan di tengah-tengah lapangan. Dan ketika matahari mulai tenggelam, di tengah-tengah lapangan sudah terdapat satu tumpukan tinggi kayu bakar yang sudah disusun rapi. Menma, yang merupakan ketua pelaksana festival itu mendapatkan kehormatan bersama Nona Tsunade untuk menyalakan api untuk pertama kali. Cahaya api unggun yang membara pun segera menerangi lapangan.
Musik dimainkan dan acara pun dimulai. Namun keempat sahabat kita kini memilih untuk duduk di pinggir lapangan dan menonton saja kemeriahan yang ada di tengah-tengah lapangan –mereka terpisah dari Hinata saat Naruto, Sasuke dan Sai turun tangan ikut membantu menyusun kayu untuk acara api unggun—Tampaknya seseorang baru saja ditembak, jika dilihat dari anak-anak yang bersorak ramai dan bersuit-suit.
Melihat adegan itu, Sakura tersenyum sendiri. "Tadi ada cowok yang mengajakku kencan," celetuknya, teringat kejadian tadi siang.
"APA?" seru Naruto dan Sasuke bersamaan, jelas sekali terkejut dengan informasi yang baru mereka dengar ini. Sementara Sai hanya memandangnya heran.
"Maksudmu Neji?" tanyanya.
"Bukaaan…" Sakura merona merah. "Bukan Neji –mana mungkin!" tambahnya sambil tersenyum pahit.
"Jadi siapa? Jawabanmu apa?" cecar Naruto ingin tahu.
"Aku tidak tahu namanya," jawab Sakura sambil menghela napas. Pandangannya menerawang ke api unggun yang menyala. Cahayanya yang kemerahan menari-nari di bola mata hijaunya. "Dia anak kelas satu, kalau tidak salah."
Sakura menoleh ketika mendengar suara dengus di sebelahnya. "Maksudmu kau diajak kencan dengan cowok yang lebih muda darimu?"
"Apa ada yang salah dengan itu?" Sakura menatap Sasuke dengan alis mata terangkat tinggi. "Aston Kutcher saja menikahi wanita yang usianya hampir menyamai ibunya."
Sasuke mengatupkan bibirnya dengan sikap tak suka ketika Sakura berpaling darinya.
"Dan jawabanmu?" tanya Naruto lagi.
"Aku bilang aku tidak bisa," Sakura mengangkat bahunya. "Karena begitu tiba-tiba dan aku tidak mengenalnya."
"Baguslah…" kata Naruto.
Sakura tertawa. "Yeah, bagus untuknya. Karena kalau aku menerimanya, kalian bertiga pasti akan menganiaya dia. Benar, kan?"
"Itu yang kumaksud," Naruto terkekeh-kekeh. "Karena kami –setidaknya aku—tidak akan tahan kalau Sakura dibuat nangis lagi oleh seorang cowok. Setidaknya sampai lukamu benar-benar sembuh," ucapnya sungguh-sungguh.
"Naruto…" Sakura menatapnya terharu. "Kau ini baik banget siiih…?" tanpa peringatan, dicubitnya pipi Naruto dengan gemas, membuat cowok itu mengaduh-aduh.
Sai mengangkat kameranya untuk mengabadikan momen itu. "Judul fotonya adalah 'pipi melar'," katanya sambil tersenyum.
Gelak tawa kemudian terdengar dari mereka –yah, setidaknya Sakura dan Naruto yang tertawa. Sementara Sasuke dan Sai si dua cowok jaim, hanya mengulum senyum. Menyeringai, tepatnya untuk Sasuke.
"Aku punya sesuatu untuk kalian," ujar Sakura kemudian sambil merogoh saku mantelnya dan mengeluarkan tiga bungkus cokelat. "Nah, karena tadi katanya Sasuke tidak suka manis, jadi—"
Sebelum Sakura menyelesaikan kata-katanya, Sasuke sudah merebut salah satu bungkus cokelat dari tangan gadis itu. "Yang sudah mau diberikan tidak boleh ditarik lagi."
Sakura tertawa kecil. Agaknya ia tidak terkejut dengan tindakan Sasuke barusan. Ia melempar senyum pada cowok itu sebelum berpaling untuk menyerahkan dua sisanya pada Naruto dan Sai.
"Makasih," ucap Sai, lalu memasukkan cokelat itu ke sakunya.
Berbeda dengan reaksi Sai yang kalem, Naruto tampak begitu gembira menerimanya. "Whoa! Makasih banget ya, Sakura. Jadi tahun ini aku dapat dua cokelat!"
"Dua?"
Naruto mengangguk. Wajahnya merona merah. Tangannya merogoh ke saku jaketnya, mengeluarkan sebungkus cokelat dari sana. "Tadi Hinata memberiku ini, saat kami sedang membeli minuman."
"Oh, wow!" Sakura terkejut, tapi senang mendengar perkembangan itu. Sai dan Sasuke sepertinya sudah tahu, karena mereka tidak tampak terkejut. "Apakah kalian berdua—"
"Sakura?" sebuah suara lembut menyela mereka. Keempatnya refleks menoleh ke sumber suara dan mendapati Yakumo Kurama berdiri tak jauh dari mereka, menatap ragu pada Sakura.
"I—Iya?" Kehadirannya yang tiba-tiba membuat Sakura gugup.
Yakumo mengulas senyum kecil. "Bisakah kita bicara sebentar? Un… berdua saja?" tambahnya ketika Sakura menoleh untuk bertukar pandang bingung dengan teman-temannya. "Tidak lama kok. Aku janji. Hm?"
"Um… baiklah," kata Sakura akhirnya. Gadis itu kemudian beranjak dan mengikuti Yakumo pergi menjauhi tempat itu.
"Menurut kalian apa Sakura akan baik-baik saja?" tanya Naruto cemas.
"Kurama bukan orang jahat. Dia tidak akan mencelakai Sakura," sahut Sasuke, meskipun ia terdengar tidak terlalu yakin. Mata hitamnya mengikuti punggung Sakura dan Yakumo menuju gedung utama sekolah mereka.
.
.
"Tidak keberatan, kan, kalau kita bicara di sini?" Yakumo berbalik saat mereka tiba di undakan pintu samping gedung sekolah itu. Cahaya temaram dari lampu luar menerangi tempat itu dan dari sana mereka masih bisa melihat keramaian api unggun di lapangan. Yakumo kemudian duduk di salah satu anak tangga.
Sakura mengikutinya duduk. "Sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan denganku?" ia memberanikan diri memulai dengan nada yang diusahakan terdengar setenang mungkin.
Namun tampaknya Yakumo bisa merasakan kegugupan Sakura, karena kemudian ia tersenyum lembut pada adik kelasnya itu –sebuah senyum yang belum pernah dilihat Sakura diberikan Yakumo padanya—"Pertama aku ingin mengucapkan selamat atas keberhasilan pementasannya. Penampilanmu tadi bagus sekali, Sakura. Yah, walaupun aku baru melihatnya saat babak kedua, tapi itu sama sekali tidak mengurangi penilaianku terhadapmu, dan chemistry-mu yang luar biasa dengan Neji. Kami memang tidak salah pilih."
"Uh… Terimakasih." Mendengar pujian itu membuat Sakura merasa serba salah. Siapa sebenarnya gadis yang sekarang duduk di sampingnya ini? Kemana perginya Yakumo yang selalu bersikap dingin padanya selama ini? Mengapa dia begitu… berbeda? Semua itu membuatnya sangat bingung.
Yakumo menatapnya lama. Wajahnya terlihat muram, meskipun sekarang ia tengah tersenyum. Dan Sakura baru menyadari betapa kurusnya Yakumo. Wajahnya yang pucat lelah terlihat lebih tirus dari yang pernah diingatnya. Tetapi matanya yang cokelat cemerlang membuatnya tetap terlihat cantik, entah bagaimana.
"Kau masih marah padaku, ya?"
"Eh—tidak kok," sahut Sakura cepat-cepat. "Aku tidak marah padamu."
Yakumo mengangkat alisnya. "Setelah apa yang kulakukan padamu, dan kau tidak marah padaku?"
"Er…" Sakura memilin-milin ujung mantelnya, bimbang. "Sebenarnya… marah, sedikit. Tapi sudah tidak apa-apa."
"Sudah kuduga," kata Yakumo, tersenyum sedih lagi, "Untuk itulah aku datang menemuimu, Sakura. Untuk meminta maaf, dan menjelaskan semuanya padamu." Ia terdiam sejenak, memandang ke arah api unggun. "Tentang semua kebodohan yang sudah terjadi, yang kemudian menyeretmu juga. Itu semua salahku. Maafkan aku, ya. Aku yang sudah melibatkanmu dan aku juga yang memaksamu keluar sampai membuatmu terluka."
Sakura memandangnya bingung. "Aku… tidak mengerti."
Yakumo mengambil napas panjang. "Ini semua berawal ketika aku jatuh cinta pada Neji saat kami masih kelas satu. Aku tidak pernah memberitahu pada siapa pun tentang perasaanku, karena aku merasa tidak pantas. Tetapi ada satu orang yang berhasil membongkar rahasia terdalamku. Orang itu adalah Tenten, sahabatku yang paling baik, yang sudah seperti saudaraku sendiri. Dia bilang, tidak apa jika aku menyukai seorang cowok. Bahkan orang cacat sekali pun berhak untuk jatuh cinta, katanya. Dia terus mendorongku untuk mengungkapkan isi hatiku pada Neji. Dan aku sama sekali tidak menyangka ketika Neji menerimanya. Aku senang sekali. Tak pernah lebih bahagia dibandingkan saat itu. Kupikir aku bisa mati karena bahagia."
Gadis itu tersenyum. Matanya tampak berkaca-kaca mengenang saat itu. Sakura diam saja dan mendengarkan ketika Yakumo melanjutkan.
"Tetapi itu sebelum aku mengetahui kebenaran itu, bahwa perasaan Neji padaku tidak seperti yang kukira. Dia tidak mencintaku. Dia mencintai sahabatku. Dia mencintai Tenten—" suara Yakumo seperti tercekat di tenggorokannya. Ia terlihat hancur saat mengatakannya. Bahkan Sakura yang sudah mengetahui fakta itu, bisa merasakan kepedihan hati gadis itu. "Awalnya aku mencoba mengabaikannya saja. Aku bersikap egois dengan berpura-pura bahwa kami adalah sepasang kekasih yang sangat berbahagia. Dengan Neji yang selalu bersikap lembut dan perhatian padaku, bagiku itu sudah cukup. Tapi kemudian aku tahu kalau Tenten ternyata memiliki perasaan yang sama terhadap Neji."
Sakura mencengkeram mantelnya lebih kuat. Yang ia tahu hanyalah Neji yang menyukai Tenten, dan fakta yang baru didengarnya bahwa Tenten juga memiliki perasaan yang sama terhadap Neji membuatnya terguncang. Terlepas dari keputusannya untuk menyerah terhadap cinta pertamanya itu, Sakura tetap saja merasa sakit. Sesak sekali.
"Waktu itu aku sangat marah. Marah sekali sampai-sampai aku merasa ingin mati saja. Mereka menipuku. Tenten menipuku. Neji juga menipuku. Aku bertengkar dengan Tenten, tapi dia berusaha meyakinkanku kalau dia melakukan itu untukku. Karena aku adalah sahabatnya yang paling dia sayangi, dan karena Neji adalah satu-satunya yang bisa membuatku bahagia. Tapi itu omong kosong. Bagaimana aku bisa bahagia jika melihat dua orang yang sama-sama kucintai menderita karena aku? Mereka berdua mengorbankan perasaan mereka demi aku –bisa kau bayangkan bagaimana perasaanku, Sakura?
Lalu kuputuskan untuk mengakhiri hubunganku dengan Neji secara sepihak, supaya Tenten bisa menempati tempatnya yang seharusnya. Tapi ternyata tidak semudah itu. Tenten berkeras kalau itu adalah tempatku. Dan tanpa kami sadari, kami telah memperlakukan Neji tidak adil. Meskipun dia tidak memperlihatkannya, tapi aku tahu Neji sangat terluka. Dan drama itu, sebenarnya Tenten mempersiapkan peran Violetta itu untukku, untuk menyatukanku kembali dengan Neji. Tapi aku menolaknya. Aku mengusulkan audisi itu, dan kemudian entah bagaimana kau mulai terlibat dalam segala ketololan yang sudah kami perbuat.
Tenten masih berusaha membujukku bahkan ketika kau sudah mendapatkan peran itu. Neji yang kemudian mengetahuinya, menjadi sakit hati pada Tenten dan hubungan mereka merenggang. Dan kau tahu dia jadi dekat denganmu. Dan kedekatan Tenten dengan Kankurou membuat segalanya bertambah kacau. Aku berusaha keras menyatukan mereka, karena aku tahu mereka masih teramat saling menyukai. Tapi mereka berdua terlampau keras kepala. Jadi aku berusaha menyingkirkanmu, Sakura. Maafkan aku."
"Aku mengerti," gumam Sakura pelan. Berusaha keras menahan jatuhnya air mata. Ia sudah bertekad tidak akan menangis lagi karena masalah ini.
"Aku melihat kalian berdua, seperti aku dan Neji dulu. Kupikir Neji akhirnya memutuskan untuk melepaskan Tenten dan memilihmu. Aku tidak bisa memaksanya lagi dan aku membiarkan kalian berdua. Sampai akhirnya aku mendengar Neji mencampakkanmu. Aku tidak tahu apa lagi yang harus kulakukan, Sakura. Aku telah gagal menyelamatkan dirimu dari nasib yang juga menimpaku. Aku sangat marah. Tenten sangat marah. Neji juga. Kami sangat marah pada situasi yang kacau balau saat itu. Waktunya sangat tidak tepat, dan itu sebabnya kami bertiga bertengkar."
"Yakumo…"
"Maafkan kami, Sakura. Tolong jangan benci Tenten dan Neji. Jika ada yang harus disalahkan itu adalah aku. Kalau saja sejak awal aku bisa menjaga rahasiaku, mungkin semuanya tidak akan sekacau sekarang."
Sakura menggeleng. "Aku tidak menyalahkanmu, kok. Kalau bukan karena kau, aku tidak akan mendapatkan peran utama ini dan merasakan bagaimana berakting di atas panggung, di dunia yang kusukai. Aku tidak menyesali yang sudah terjadi. Itu adalah pelajaran bagiku."
"Dan bagi kami juga." Air mata Yakumo mengalir di pipinya. "Sakura… Terimakasih kau mau memaafkan kebodohan kami…" Gadis itu mengulurkan kedua tangannya untuk memeluk Sakura, terisak di bahunya. Sakura membalasnya dengan canggung, mengusap-usap punggung Yakumo yang dilapisi sweter tebal. Yakumo mengusap air matanya ketika ia akhirnya melepaskan Sakura. Sebuah senyum tanpa beban menghiasi wajahnya yang pucat pasi. "Jika waktu mengizinkan, kita pasti bisa menjadi teman yang sangat baik. Aku menyukai orang sepertimu."
Sakura tertawa canggung. "Kau ini bicara apa? Tentu saja kita masih punya banyak waktu. Yah, setidaknya sampai kau lulus dan pergi entah kemana untuk kuliah."
Mendung itu tampak lagi di matanya. "Ya… tentu. Tentu saja…" Yakumo mengusap lagi air matanya yang kembali jatuh, dan saat itu Sakura melihatnya: sebuah memar kebiruan seukuran koin menghiasi kulit di bawah ibu jarinya yang kurus.
.
.
Sakura kembali tak lama kemudian dengan wajah murung. Sasuke mengernyitkan dahi saat memperhatikan ketika gadis itu duduk di sebelahnya, di antara ia dan Sai.
"Kau baik-baik saja, Sakura?" Sai yang pertama buka suara. Cowok itu menatap Sakura cemas.
Sakura mengangguk, tidak berkata apa-apa.
"Cewek itu mengatakan hal-hal buruk lagi padamu?" tebak Sasuke.
Sakura menggeleng sambil menghela napas. Ia menjatuhkan kepalanya bersandar di bahu Sai. "Sama sekali tidak. Yakumo sangat baik padaku."
"Tampangmu tidak seperti baru diperlakukan baik," komentar Sasuke dingin.
Sakura tersenyum padanya. "Jangan khawatir. Tidak apa-apa, kok, Sasuke. Eh, ke mana Naruto?" Sakura menegakkan diri dan melihat ke segala arah untuk mencari sosok Naruto yang baru ia sadari tidak lagi berada di sana.
"Tuh," kata Sai, menunjuk ke arah anak-anak yang mengelilingi api unggun, berdansa dengan gerakan yang seragam. Di antara mereka, Sakura bisa melihat Naruto dan Hinata, berdansa sangat canggung mengelilingi api unggun.
Sakura tertawa kecil, memandang keduanya dengan sorot mata lembut. "Setidaknya ada satu di antara kita bertiga yang berbahagia. Benar, kan?"
"Hn."
Lama ketiganya hanya duduk di sana, mengawasi anak-anak yang berdansa. Suasana semakin meriah ketika panitia mulai menyalakan kembang api. Terdengar "Aaah…" dan "Oooh…" dari segala penjuru lapangan. Di seberang lapangan, Sakura bisa melihat Yakumo dan Tenten yang sedang tertawa-tawa menikmati atraksi kembang api. Setidaknya persahabatan mereka masih terselamatkan setelah semua kekacauan itu, pikirnya.
"Mau berdansa denganku, Sakura?" tawaran yang datang dari Sai menyadarkannya dari lamunan.
"Oh, yeah. Tentu!" Sakura dengan gembira menyambut uluran tangan Sai. Keduanya pun segera bergabung di barisan anak-anak yang berdansa, meninggalkan Sasuke yang bertampang cemberut seorang diri.
Sepertinya ada yang baru saja kalah cepat.
Sasuke menghembuskan napas dengan lelah. Tapi setidaknya, masih ada cokelat dari Sakura yang menemaninya. Diambilnya bungkusan cokelat itu dari saku jaketnya, membuka bungkusnya dan menggigitnya dalam potongan besar.
Dari kejauhan, sembari berdansa dengan Sai, Sakura terus memandangi Sasuke yang duduk sendirian. Ia kemudian melepaskan tangan Sai. "Sebentar," katanya pada cowok itu, kemudian berlari melintasi lapangan untuk menghampiri Sasuke.
"Hei, jangan duduk saja di sini. Ayo berdansa dengan kami!" seru Sakura riang sambil menarik tangan Sasuke agar bangun.
"Kau kan sedang dansa dengan Sai!" protes Sasuke, berusaha menarik tangannya lagi.
Sakura mengerucutkan bibirnya. "Tapi kami tidak akan bersenang-senang tanpamu. Ayo!" Menolak protes Sasuke, Sakura segera menyeret cowok itu mendekati Sai yang sudah menunggu di dekat api unggun. "Kita berdansa bertiga!"
.
.
TBC…
.
.
Akhirnya apdet juga. Ahahaha… XD *gaje* Inti chapter ini sebenernya cuma menjelaskan tentang masalah Neji-Sakura-Yakumo-Tenten aja. Dan selebihnya, termasuk scene NaruHina (yang udah banyak yang ngerequest) adalah bonus.
Makasih buat yang udah RnR chapter lalu. Uwooo… ada yang ngusulin kissing scene! XDD Ahaha… thanks yah, tapi lihat nanti deh. Apa ada celah untuk itu atau enggak. ;)
