Saya memutuskan untuk memperpanjang chapter ini saja. Enjoy!
.
.
Sakura baru saja selesai mandi dan sedang duduk-duduk di ruang keluarga, menonton acara variety show televisi sambil makan semangkuk es krim bersama ibunya ketika bel pintu rumah berbunyi. Kepala kedua wanita itu refleks tertoleh ke arah pintu masuk.
"Siapa yang datang malam-malam begini?" Azami dan putrinya bertukar pandang.
Kemudian Sakura teringat Ino pernah berkata akan menginap malam ini. "Ah, mungkin Ino, Bu. Katanya dia mau menginap. Biar aku yang bukakan pintu," ujarnya seraya meletakkan mangkuk es krimnya di atas meja dan melompat turun dari sofa untuk membukakan pintu.
Rupanya benar Ino. Gadis pirang itu memakai topi di atas kepalanya yang serasi dengan jaket tentara yang ia pakai. Tas ransel yang menggembung tersampir di bahunya. Mukanya terlihat agak suntuk. "Hei," sapanya lesu.
"Masuklah. Kukira kau tidak jadi datang," kata Sakura, menyingkir dari pintu supaya Ino bisa masuk.
"Aku bilang akan datang, pasti datang. Lagipula aku suntuk sekali di rumah, tidak ada teman mengobrol," sahut Ino sambil melangkah masuk. Ia menendang lepas boots yang dipakainya dan menyimpannya di samping rak sepatu.
Kemudian mereka melangkah memasuki ruang keluarga. Ino berhenti untuk menyapa Azami sementara Sakura mengambil es krimnya di meja, sebelum keduanya menaiki tangga menuju kamar Sakura.
"Jadi, bagaimana rapat evaluasi tadi?" tanya Sakura begitu mereka sudah berada di kamarnya. Ia menghenyakkan diri di kursi belajarnya dengan sebelah kaki terangkat, sembari menyendok es krim vanilla-choco-chips banyak-banyak dari mangkuknya.
Ino melemparkan tasnya di bawah tempat tidur Sakura dan melempar dirinya berbaring di sana. Sejenak ia hanya mamandang langit-langit kamar, menghembuskan napas dengan lelah sebelum menjawab, "Biasa saja. Yah… ternyata banyak insiden-insiden yang tidak kita tahu. Seperti ada oknum yang berusaha menyelundupkan bir ke sekolah, tapi tertangkap Pak Ebisu dan anak-anak keamanan." Ino mengangkat bahunya. "Tapi selebihnya… agak membosankan. Jujur saja aku tidak terlalu mendengarkan karena asyik ngantuk."
Sakura tertawa kecil. "Kebiasaan!" Lalu memasukkan sesendok besar es krim ke mulutnya.
"Yah, enak saja kau ngomong begitu," Ino mencibirnya. "Suara Menma yang memimpin rapat mendayu-dayu seperti sedang meninabobokan anak-anak. Bahkan si Naruto sampai ketiduran dan baru bangun saat rapat selesai. Ah, sudahlah… Aku kemari bukan untuk membicarakan rapat evaluasi." Gadis itu beranjak dari posisi berbaringnya di atas ranjang dan memandang Sakura. Sebelah alisnya terangkat. "Tidak takut gemuk makan es krim malam-malam begini?"
Sakura menjawab dengan gendikan bahu. "Sesi diet untuk peran Violetta sudah selesai. Aku bisa makan apa pun yang aku mau mulai sekarang," tandasnya sambil nyengir.
"Tch!" Ino mendengus tertawa. "Jadi bukan untuk melampiaskan stresmu setelah kejadian dengan Neji, eh?"
Cengiran di wajah Sakura sedikit memudar. Menyebut-nyebut soal Neji membuatnya teringat pada pembicaraannya dengan Yakumo beberapa jam yang lalu, juga semua sakit hati yang pernah terjadi karena masalah itu. Jika dipikir-pikir kembali, ia hanyalah orang luar yang kebetulan terlibat. Sakit hatinya bukanlah apa-apa dibandingkan dengan apa yang dirasakan Yakumo. Mengingat ia pernah begitu membenci gadis itu membuatnya merasa bersalah.
"Kenapa?" suara Ino menyadarkannya.
Sakura mengerjap, memandang Ino yang sedang mengawasinya dengan dahi berkerut. "Kenapa apa?"
"Mukamu itu, tiba-tiba murung begitu," kata Ino.
"Siapa yang murung, sih?" elak Sakura buru-buru sambil mengambil sendok terakhir es krimnya dan memasukkannya ke dalam mulut. Tetapi tatapan tak percaya yang dilontarkan Ino padanya membuatnya menyerah. "Oh, baiklah. Aku hanya teringat pembicaraanku dengan Yakumo tadi," ia terdiam sejenak, memain-mainkan sendok di antara jemarinya. "Tentang apa yang sebenarnya terjadi –kau tahu, saat Neji, Tenten dan Yakumo bertengkar, ternyata ada alasan rumit di baliknya."
"Benarkah?" Ino tampak tertarik. Ia menaikkan kakinya ke atas ranjang dan melipatnya. Posisinya siap mendengarkan. "Lagipula kau belum cerita tentang hubunganmu dengan Neji. Ayo ceritakan padaku sekarang."
"Ceritanya panjang," ujar Sakura sambil menghela napas. Ia melempar senyum pada Ino yang memasang tampang kecewa. "Aku mau simpan ini dulu," Sakura mengangkat mangkuk es krimnya yang sudah kosong, "Setelah itu kita bisa curhat. Itu juga tujuanmu datang kemari, kan?" terka Sakura tepat sasaran. Ino memang selalu menginap di rumahnya setiap kali ada sesuatu yang ingin dibicarakan. Dan itu berarti termasuk kedatangannya malam ini.
Ino sudah berganti piama berwarna kuning cerah ketika Sakura kembali ke kamar setelah menyimpan mangkuk es krim di dapur dan menyikat gigi. Gadis bermata biru aqua itu tengah berbaring tengkurap di atas ranjang sambil membuka-buka novel Love Story pemberian Sasuke yang sebelumnya diletakkan Sakura di meja buffet di sebelah tempat tidurnya.
"Aku tidak tahu kau punya novel klasik ini, Sakura," komentar Ino sambil mengangkat buku di tangannya ke arah Sakura.
"Aku diberi," sahut Sakura, menutup pintu kamarnya, lalu berjalan ke meja rias untuk mengambil sikat rambut. "Sasuke memberikannya padaku sebelum dia pergi ke Oto dulu," katanya sambil menyikat rambutnya yang masih lembab.
"Oh," Ino membolak-balik halamannya, tertawa kecil. "Kukira Sasuke tidak ada tampang penyuka sastra seperti ini."
Sakura ikut tertawa mendengar komentar Ino. "Kita sependapat." Ia menurunkan sikat rambutnya sejenak, tersenyum pada bayangannya sendiri. "Sasuke itu… ada banyak hal tentang dia yang tidak disangka-sangka, Ino. Kadang-kadang aku merasa dia tidak sama seperti yang selalu ditampilkannya di luar."
"Ow," dari pantulan cermin, Sakura bisa melihat Ino menyeringai padanya, "Sepertinya kalian berdua sudah banyak berbagi rahasia, eh?"
"Berbagi rahasia apanya?" Sakura memutar matanya. Ia mengambil waktu untuk menyisiri rambutnya sekali lagi sebelum meletakkan sikat rambutnya kembali ke meja rias, lalu melangkah ke ranjangnya, menarik selimut dan menyusup nyaman di bawahnya. Dengan helaan napas panjang ia berkata, "Aku hanya mengatakan apa yang kulihat dan kurasakan tentang dia. Sasuke itu memiliki sisi sensitifnya sendiri."
"Iya deh, terserah. Yang aku tahu dengan pasti, Sasuke itu cakep banget," kekeh Ino sembari menaruh kembali novel Sasuke di tempatnya semula, kemudian bergabung dengan Sakura di bawah selimut. "Jadi, teruskan ceritamu yang tadi."
Sakura tidak langsung bersuara. Selama beberapa saat gadis itu hanya memandang langit-langit, memikirkan dari mana sebaiknya ia akan memulai. Sampai akhirnya ia mulai bercerita, tentang kejadian di restoran, saat Neji mencampakkannya –Ino benar-benar emosi mendengarnya. "Kalau memang begitu seharusnya sejak awal dia tidak perlu memberi harapan besar padamu, kan? Dasar cowok!"—sampai alasan di balik itu. Sakura kembali mengulangi apa yang diceritakan Yakumo padanya, dan malah membuat Ino semakin emosi –"Astaga, berarti selama ini kau hanya dianggap sebagai pelampiasan saja?"
"Neji cuma bingung dengan perasaannya padaku, Ino. Dia tidak bermaksud mempermainkan dengan sengaja," gumam Sakura.
"Tapi tetap saja. Ya ampun… Ternyata Neji tidak sesempurna yang kubayangkan selama ini," Ino menghela napas dengan dramatis.
Sakura menanggapinya dengan dengus kecil. "Tidak ada seorang pun yang sempurna di dunia, Ino."
Ino memutar tubuhnya di atas tempat tidur hingga posisinya sekarang berbaring miring menghadap Sakura, menumpukan kepalanya dengan tangan. "Aku menyesal soal ini, Sakura," ujarnya pelan. Tatapannya menyiratkan penyesalan. "Maafkan aku karena tidak ada di sana saat kau membutuhkanku."
Sakura memberinya senyum kecil. "Tidak apa-apa. Kau sendiri juga sedang ada masalah saat itu. Putus dari Sai—" Ino memalingkan wajahnya ketika Sakura mengatakan itu –"pasti bukan hal yang mudah untukmu. Benar, kan?"
Ino tidak menjawab selama beberapa saat, hanya menghela napas dengan berat. Sekilas, Sakura bisa melihat mata Ino nyaris berkaca-kaca sebelum gadis itu kembali berbaring terlentang, memandang langit-langit, seakan berusaha menutupi ekspresi terluka di wajahnya dari Sakura. Sekali lagi ia menghela napas berat.
Sakura memandangnya simpati. "Ino—"
"Sai," sela Ino dengan suara sedikit tercekat, "Bagaimana kabarnya sekarang? Apa dia masih marah padaku, Sakura?"
Sejenak Sakura memikirkan jawabannya. "Aku tidak tahu," jawabnya pelan, "Sai tidak pernah mengungkit-ungkit soal kau lagi. Hanya saja kadang-kadang aku memergokinya sedang murung, tetapi tidak sering. Dia sangat sibuk akhir-akhir ini, kurasa itu caranya untuk mengalihkan perhatiannya darimu." Sakura berhenti sejenak untuk menarik napas. Ringisan kecil menghiasi bibirnya, teringat dirinya yang lebih banyak melewatkan waktu dengan menangis setelah Neji mencampakkannya. "Jelas sekali Sai bisa mengatasinya jauh lebih baik dariku."
Sudut bibir Ino berkedut, seperti hendak tersenyum tapi tidak bisa. "Baguslah…"
"Tapi… yang tadi siang itu—" Sakura menoleh pada Ino, dan hatinya mencelos ketika melihat air mata meleleh di pipi sahabatnya.
"Aku tahu," kata Ino serak, seraya menghapus air matanya. "Dia berusaha memberitahuku kalau dia sedang berusaha melupakanku –kalau aku telah terlalu melukai hatinya." Kemudian terdiam, berusaha mengatur napasnya yang tak beraturan karena menahan isakan. "Tidak apa-apa… Sai memang seharusnya melupakan aku. Dia pantas mendapatkan yang jauh lebih baik. Yang setia, yang tidak egois… tidak sepertiku." Ino tak bisa menahan dirinya lagi lebih lama. Tangisnya pecah.
Sakura bangun dari posisi berbaringnya, mengulurkan tangan mengusap-usap bahu Ino yang gemetaran untuk menenangkannya, sementara sahabatnya itu membenamkan wajahnya di bantal, terisak-isak. Tangannya mencengkeram bagian depan piamanya, seakan sedang menahan sangit yang teramat sangat di sana.
Sembari berusaha menahan air matanya agar tidak ikut tumpah melihat Ino menangis, Sakura bertanya lembut, "Kau masih sayang padanya, huh?"
Ino mengangguk di antara sedu sedannya. "I love him… very much…"
"Ino…" Sakura menggeser posisinya lebih dekat. Kini tangannya berpindah membelai rambut pirang Ino yang sudah terlepas dari kucirnya, tidak tahu harus berkata apa atas pengakuan sahabatnya itu. Dulu ia memang tidak menyukai hubungan gelap Ino dan Sai, tetapi sekarang… jika melihat kondisi Ino yang seperti ini, dan mengingat seperti apa Sai saat Ino meninggalkannya, Sakura benar-benar tidak tega. Terlebih Ino. Sakura tidak pernah melihatnya menangis begitu rupa demi seorang cowok, seakan hatinya terbelah menjadi dua. Tetapi sekarang…?
Oh, Tuhan… perasaannya pastilah sangat mendalam kali ini.
Maka Sakura memberi waktu beberapa saat lagi bagi Ino untuk menangis, melampiaskan semua yang membebani hatinya saat itu.
"Maaf ya, Sakura…" bisik Ino serak selang beberapa saat kemudian, setelah isakannya mereda. Kini ia sudah duduk berhadapan dengan Sakura, dengan bantal yang basah di pangkuannya. Disekanya basah di wajahnya, lalu membersit hidungnya, sebelum berkata dengan suara parau yang sama, "Kau jadi melihatku menangis seperti ini. Aku tidak tahu harus bicara pada siapa lagi. Tidak ada yang cukup bisa kupercaya."
"Tak apa," sahut Sakura sambil tersenyum, seraya meletakkan tangannya di atas tangan Ino yang terasa dingin, menggenggamnya, menguatkannya, "Itulah gunanya seorang teman, bukan? Selalu menyediakan telinga untuk mendengar, bahu untuk bersandar setiap kali kita membutuhkannya." –Ingatannya melayang ke beberapa hari yang lalu, saat ia juga menangis seperti Ino, dan ada seseorang di sampingnya—"Sasuke juga melakukannya untukku." Sakura tertawa kecil. "Bisa kau bayangkan betapa memalukannya menangis di depan cowok. Tapi dia tidak keberatan. Aku juga begitu."
Ino tertawa serak. "Kau beruntung Sasuke menyayangimu."
"Kau juga beruntung karena aku menyayangimu," kekeh Sakura. Ia mengulurkan tangan untuk menyeka setetes air mata yang meluncur jatuh lagi dari sudut mata Ino, kemudian merengkuh tubuh sahabatnya itu dalam pelukan hangat. "Sudah merasa lebih baik?"
"Yeah…" Ino mengangguk di bahu Sakura. "Trims, Saku..."
"No problem." Sakura kemudian melepaskan pelukannya, kemudian memandang Ino yang sibuk mengeringkan wajahnya dengan tangan. Sejenak ia ragu, namun rasa penasarannya terlalu besar untuk ditahan. "Bagaimana dengan Idate?" ia lantas bertanya hati-hati.
Ino terdiam beberapa saat. "Entahlah…" ucapnya berat sambil menyeka poninya, menyelipkannya di belakang telinga dengan sikap gelisah. "Aku mencoba memperbaiki hubungan kami yang sempat kacau –kau tahu, kan? Tetapi tampaknya Idate belum bisa mempercayaiku lagi." Ia mendengus pelan, tersenyum getir pada dirinya sendiri. "Karena salahku," tambahnya pelan.
Sakura tidak bisa membantah ini, maka ia memilih tidak berkomentar.
"Idate selalu mengawasiku sekarang –Ah, tidak selalu. Tetapi aku merasa seperti itu walaupun dia tidak sedang di dekatku." Ino menggigiti ujung kuku ibu jarinya, sikapnya kembali gelisah. "Aku seperti selalu dihantui perasaan bersalah, dan itu membuatku takut. Idate bisa melakukan apa saja, kau tahu, kan?"
"Tapi kau bilang kau sayang padanya, kan?"
Ino mengabaikan pertanyaan itu. "Aku merasa dia bukan Idate yang kukenal dulu. Idate yang dulu tidak seperti ini. Walaupun dulu dia bersikap posesif, tapi setidaknya ia berusaha menyenangkanku dengan perhatiannya. Tapi sekarang… aku merasa seperti tawanan saja."
"Ino…" Sakura menatap prihatin, "Menurutku hubungan kalian sudah tidak sehat. Bisakah—"
"Aku tidak bisa," Ino memotong pertanyaan Sakura yang tidak selesai. Ia tampak gusar. "Tapi aku masih berharap semuanya akan membaik seiring waktu. Idate akan kembali seperti dulu dan—" kata-katanya terhenti sejenak, "—dan aku akan berusaha keras untuk melupakan Sai. Aku sudah janji padanya –dan pada diriku sendiri."
"Walaupun itu sulit?" tanya Sakura ragu.
Ino mengangguk mantap. "Kuharap ini adalah terakhir kalinya aku menangisi Sai."
.
.
Sakura terbangun keesokan paginya dengan mata yang amat berat. Ia dan Ino mengobrol nyaris semalam suntuk, praktis ia hanya memiliki waktu beberapa jam saja sebelum berangkat ke sekolah. Meskipun mereka tidak ada jam pelajaran setidaknya sampai akhir pekan sebelum semester baru dimulai, tetapi tetap saja banyak kegiatan yang harus dilakukan. Pertemuan klub misalnya, dan jangan lupa menyelesaikan acara beres-beres sisa festival yang hari sebelumnya belum selesai. Dan yang paling penting dan dari yang terpenting, hari ini transkrip nilai untuk semester yang baru berakhir sudah keluar. Sakura bisa membayangkan bagaimana sibuknya mereka nanti.
Setelah bergantian menggunakan kamar mandi, berganti pakaian dan menikmati sarapan lezat berupa kue panekuk dan sari apel buatan ibu Sakura, kedua gadis itu sudah siap berangkat. Naik bus, tentu saja, karena sepeda Sakura masih di bengkel –Izumo membawanya sehari sebelumnya.
Sebuah sepeda nyaris menyerempet Sakura ketika keduanya sedang dalam perjalanan menuju halte. Ternyata Sasuke.
"Kau sengaja, ya?" hardik Sakura sebagai ganti ucapan selamat pagi. Jarinya menuding cowok berambut gelap mencuat yang hanya membalas dengan wajah datar –sok cool, Sakura lebih senang menyebutnya begitu.
"Hn." Mata hitam Sasuke kemudian beralih pada Ino. Alisnya terangkat. "Apa yang kau lakukan di sini, Ino?"
"Ouh, sopan sekali, Sasuke," kata Ino pura-pura tersinggung. "Aku tidak habis merampok, kok."
"Ino menginap di rumahku," sambung Sakura.
"Buat apa menginap?" tanya Sasuke lagi, dan kali ini mendapat tatapan jengkel dari Sakura.
"Memangnya tidak boleh?" tukasnya galak. "Ini urusan cewek, kau tidak perlu tahu. Dari pada menggerecoki kami terus, lebih baik berangkat sana!" Kemudian Sakura memukul punggung Sasuke main-main sebelum mendorongnya, membuat cowok itu nyaris terjungkal dari sepedanya sebelum kembali mendapatkan keseimbangan dan meluncur pergi.
Sesaat sebelum Sasuke pergi, Ino sempat melihat seringai senang di wajah cowok itu. Gadis itu lantas nyengir pada sahabatnya. "Aaww, manisnya… Saling menggoda sebagai ucapan selamat pagi, eh?" godanya.
Sakura menanggapinya dengan dengusan kecil. "Yang benar saja," katanya. Namun sepanjang sisa perjalanan mereka menuju sekolah, suasana hati gadis pemilik bola mata sewarna permata zamrud itu mendadak menjadi luar biasa riang.
.
.
Sekolah tidak seramai hari-hari biasa ketika Sakura dan Ino menginjakkan kaki di gerbang utamanya. Anak-anak yang turun dari bus hanya beberapa dan lapangan parkir guru pun terlihat lengang. Hanya beberapa mobil saja yang terlihat, dan yang jelas belum ada mobil Kakashi Hatake di antaranya. Tampaknya semua orang memanfaatkan kosongnya jam pelajaran dengan bermalas-malasan di rumah dan berangkat lebih siang. Terlebih hari sebelumnya adalah hari yang benar-benar sibuk dan menguras tenaga.
Kerangka-kerangka tenda masih terlihat di halaman sekolah. Kantung-kantung sampah yang ditumpuk di bagian depan sekolah juga masih belum dibereskan. Tampaknya petugas mengangkut sampah kota belum datang, pikir Sakura. Benar-benar berantakan.
"Tahu begini kita berangkat agak siang saja tadi," keluh Ino saat mereka menaiki undakan. "Taruhan, Karin dan yang lain baru akan datang menjelang tengah hari."
Sakura terkekeh. "Kau kan masih bisa denganku kalau kau mau. Kita bisa ke perpus."
Ino menoleh pada Sakura yang berjalan sedikit di belakangnya, barangkali ingin mengatakan kalau melewatkan waktu kosong di perpustakaan bukan ide yang terlalu menyenangkan. Namun ekspresinya mendadak membeku ketika ia melihat sesuatu –seseorang—dari atas bahu Sakura baru saja berjalan memasuki gerbang. "Un… kurasa aku harus pergi sekarang, Sakura. Sampai ketemu nanti," ucapnya cepat pada Sakura. Kemudian ia pun berbalik dan dengan setengah berlari bergegas memasuki gedung sekolah mereka, meninggalkan Sakura yang terbengong di pelataran.
"Kenapa—"
"Selamat pagi, Sakura."
Suara yang sudah sangat dikenalnya menyapanya dari belakang. Sakura otomatis memutar tubuhnya dan tersenyum melihat Sai berjalan mendekat dengan tas ransel hitam yang serasi dengan jaket jurnalnya tersampir di bahu. "Pagi, Sai!" sahutnya cepat.
"Kelihatannya sedang ceria," komentar Sai dengan senyumnya yang biasa.
"Tentu saja. Hari ini nilai kita keluar. Aku sudah tidak sabar," kata Sakura penuh antusias.
"Oh," Sai berhenti di tangga di dekat Sakura. Senyumnya sekejap memudar, lalu kembali lagi. "Aku tidak seantusias kau kalau begitu."
Sakura tertawa. Kemudian keduanya bersama-sama berjalan memasuki gedung sambil berbincang ringan soal festival hari sebelumnya. Sai bercerita padanya tentang foto yang sudah dikumpulkan olehnya untuk dimasukkan ke dokumentasi festival.
"Lebih dari lima puluh foto, termasuk kegiatan sebelum acara," beritahu Sai cerah. "Hari ini kami akan menyortirnya lagi supaya besok bisa dipajang di mading."
"Aku sudah tidak sabar," tanggap Sakura.
"Ah, ini…" Mereka berhenti di koridor loker yang sepi. Sai merogoh ke dalam tasnya untuk mengambil sebuah buku jurnal bersampul kulit. Ia membukanya dan mengambil selembar foto yang sudah dicetak, lalu mengulurkannya pada Sakura. "Sepertinya ada yang mengambil gambarmu diam-diam."
Penasaran, Sakura mengambil foto itu dan terbelalak memandang gambar dirinya dengan pose yang enggak banget. Foto itu diambil close up —terlalu dekat malah, sehingga jerawat kecil di pipinya terlihat—dari samping, dengan pipi Sakura yang menggembung. Jarinya yang bagian ujungnya berlumur cokelat tertempel di bibirnya. Sakura langsung tahu pelakunya.
"Sasuke," gerutunya, setengah sebal setengah geli.
"Kupikir kau mungkin tidak ingin foto itu terpajang di mading."
"Tentu saja tidak," tukas Sakura dengan muka merona merah. Ia buru-buru memasukkan foto itu ke dalam sakunya seraya membuat catatan virtual dalam kepalanya untuk memberi ucapan terima kasih pada Sasuke karena telah lancang mengambil gambarnya tanpa izin.
"Mau melihat gambar yang lain?" tawar Sai kemudian. "Mumpung Shino belum datang, aku bisa menunjukkannya padamu kalau kau mau."
"Benar boleh?" Sakura memasang wajah cerah. "Baiklah. Ayo kita lihat."
Dan saat berikutnya, keduanya telah duduk bersila dengan nyaman di lantai koridor loker, dengan Sakura yang menyandarkan punggungnya ke pintu loker miliknya dan Sai di sebelahnya, bersandar pada pintu loker Naruto. Sai telah mengeluarkan kamera miliknya, yang kini tengah berada di tangan Sakura yang sangat antusias melihat-lihat isinya. Sesekali tawa Sakura terdengar di sepanjang koridor yang lengang itu ketika menemukan gambar-gambar yang menurutnya sangat lucu.
Seperti gambar saat Naruto dan Hinata baru saja keluar dari rumah hantu. Bagaimana tampang Naruto saat itu, dan seperti apa ekspresi Hinata saat cowok itu memeluknya. Kemudian foto-foto mereka di api unggun, ia dan Sasuke yang tengah berdansa, mereka yang berfoto bertiga, Hinata dan Naruto yang juga sedang berdansa –gambar itu diambil tepat ketika Naruto tak sengaja menginjak kaki Hinata. Lalu yang terakhir, gambar-gambar yang diambil Sai diam-diam saat rapat evaluasi berlangsung. Anak-anak yang mengantuk, setengah sadar mendengarkan laporan-laporan pertanggungjawaban dari setiap koordinator tim. Bahkan ada foto Sasuke yang sedang menguap lebar dengan kepala Naruto yang sudah tertidur pulas terkulai ke bahunya.
Lalu… foto Ino yang sedang bersandar ke bahu salah satu kawannya di tim dana usaha. Matanya setengah terbuka –Sakura tidak berkomentar di foto terakhir itu.
"Besok pasti akan banyak yang memesan gambar-gambar ini," kata Sakura, mengembalikan kamera itu pada pemiliknya. "Bagus banget. Kau sangat berbakat jadi fotografer, tahu."
"Makasih…" Sai tersenyum padanya, lalu menunduk seraya menimbang-nimbang kamera di tangannya.
Agak lama mereka hanya duduk diam, dengan bahu saling menempel satu sama lain. Anak-anak mulai berdatangan dan koridor itu perlahan tidak sepi lagi. Namun itu tidak lantas membuat keduanya berniat bergerak dari spot nyaman mereka di sana. Sesekali Sakura mengerling cowok di sampingnya itu. Wajah Sai terlihat sedikit murung, membuat Sakura teringat pembicaraannya dengan Ino semalam.
Sakura baru saja hendak membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, ketika Sai mendahuluinya dengan berkata, "Kau ingat aku pernah mengajakmu pergi menonton showcase KAA?"
"Eh?" Sakura mengerjapkan mata terkejut. "I—Iya, aku ingat. Kenapa?"
"Showcase akan diadakan malam ini," kata Sai sambil memandangnya. "Kalau kau tidak berubah pikiran, aku akan menjemputmu setelah senja."
"Tentu saja aku tidak berubah pikiran," sambar Sakura langsung, dan apa yang ingin dikatakannya pada Sai barusan langsung menguap lenyap dari benaknya. Sejak mendengar tentang acara itu beberapa bulan yang lalu, Sakura memang menjadi sangat penasaran dan ingin sekali menontonnya. "Aku akan menunggumu setelah senja."
Melihat antusiasme yang ditunjukkan oleh Sakura menimbulkan secuil perasaan bersalah di dada Sai. Bukannya ia menyesal telah mengajak Sakura, melainkan karena ia sempat hendak berniat membatalkannya dan mengajak orang lain alih-alih gadis itu. Sai lantas menyembunyikannya dengan segaris senyum yang biasa ditampilkannya.
"Baiklah. Nanti aku akan menjemputmu."
Sakura mengangguk senang. "Rasanya sudah tidak sabar!" Tak lama rautnya berubah sedikit cemas, dan gadis itu pun segera memberondong Sai dengan pertanyaan, "Eh, aku harus pakai baju apa? Apakah harus dengan pakaian formal? Showcase itu acaranya seperti apa?"
Sai tertawa kecil sebelum menjawab ringan, "Jangan khawatir. Pakai saja yang kau rasa nyaman. Anggap saja ini seperti menonton pentas seni sekolah, hanya sedikit lebih resmi. Asal kau mengenakan pakaian, tidak akan masalah."
Mendengar jawaban Sai, Sakura kontan tertawa. "Hei, kau pikir aku mau datang tanpa busana?" tukasnya sambil mendorong bahu Sai main-main. "Bisa-bisa aku nanti langsung ditendang keluar. Atau yang lebih parah, digerebek polisi karena dianggap mengganggu ketertiban umum. Dasar!"
"Habis kau bertanya pertanyaan yang tidak penting seperti itu," Sai terkekeh-kekeh.
"Apanya yang tidak penting?" Sakura mengerucutkan bibirnya dengan ekspresi lucu. "Aku hanya tidak ingin salah kostum."
"Hei, hei, hei!" suara seseorang yang bernada sebal menyela mereka. Rupanya Naruto sudah datang, dan ia kini sedang berkacak pinggang sambil membelalak menatap dua orang yang enak-enakkan duduk di depan lokernya. "Pagi-pagi dilarang pacaran, ya. Apalagi di depan loker orang," katanya, sambil memasang wajah –pura-pura—kesal. Tentu saja ia tahu Sai dan Sakura tidak pacaran betulan. Ia hanya bergurau. "Minggir, minggir, minggir…" Naruto sedikit menendang-nendang kaki Sai agar menyingkir dari depan lokernya. "Heran, kenapa sih orang-orang senang sekali pacaran di depan lokerku?"
Menyeringai, Sai kemudian bangkit berdiri, membenahi letak tas di bahunya.
"Naruto!" protes Sakura ketika Naruto menyenggolnya juga. Terkekeh-kekeh, gadis itu lantas memukul sekali kaki Naruto dengan tasnya main-main, sebelum menerima uluran tangan Sai yang membantunya berdiri.
Naruto nyengir lebar pada kedua sahabatnya. "Pagi yang cerah, ya?" katanya sambil berkutat membuka kombinasi kunci lokernya. "Mudah-mudahan tidak akan berubah mendung setelah kita menerima transkrip nanti dan tahu nilai kita jeblok semua."
Tertawa kecil, Sakura menepuk bahunya. "Tidak akan jeblok. Kan sudah berusaha."
"Kau sih aku yakin tidak akan jeblok," Naruto melirik Sakura yang masih tersenyum. "Satu sekolah bakal heboh kalau di transkrip nilaimu tiba-tiba ada huruf D, Sakura," tambahnya sambil menyeringai. "Tapi kalau aku, tidak ada yang bakal kaget."
Naruto mengatakannya dengan nada ceria, tetapi Sakura bisa merasakan kecemasan dalam suaranya. Namun sebelum ia membuka bibirnya untuk mengatakan sesuatu, Sai mendahuluinya.
"Dari pada mencemaskan soal itu, bagaimana kalau nanti malam kau ikut kami nonton Showcase KAA?"
"Showcase?" Naruto yang masih belum berhasil membuka lokernya yang memang sering macet itu menoleh pada Sai. "Semacam pertunjukan begitu?"
Sai mengangguk. "Semacam ujian akhir untuk anak-anak tingkat senior di KAA, orang luar boleh menonton."
Sekejap, Naruto terlihat antusias, namun dalam sekejap ekspresinya berubah lagi. Cowok bermata biru itu melempar senyum menyesal pada Sai. "Kalau nanti malam aku tidak bisa, sorry. Aku sudah janji pada adik-adikku di panti akan menginap malam ini –dengan Pap juga." Ia kembali berbalik dan mengutak-atik kuncinya lagi. "Karena belakangan ini aku selalu sibuk dan jarang menjenguk mereka, jadi –AKH! SIAL! Kenapa kunci lokerku macet melulu, sih?" erangnya frustasi sambil menendang pintu lokernya.
"Ah, sayang sekali." Tentu saja yang dimaksudkan Sai adalah Naruto yang tidak bisa ikut, bukan kunci lokernya yang macet.
"Sai, bisa bantu, tidak?"
Saat berikutnya, Sakura sudah mengawasi kedua cowok itu berkutat di depan loker Naruto. Mereka menekan, menarik, memukul-mukul hingga seluruh loker –bukan hanya loker Naruto—ikut berguncang-guncang, mengundang suara-suara memprotes dari para pemilik loker lain.
"Mungkin perlu digergaji?" usul Sai.
"Yeah, makasih," Naruto memutar matanya. "Dan aku bakal langsung kena tendang Pak Ebisu."
"Kalau begitu lapor saja padanya," kata Sakura lebih masuk akal.
Tetapi tampaknya mereka tidak perlu melakukan itu, karena tepat setelahnya, dengan tarikan sekuat tenaga dari Naruto, pintu itu menjeblak terbuka. Naruto mengumpat, Sakura menjerit kaget dan Sai membelalak ketika barang-barang yang berjejalan di dalam loker itu berjatuhan keluar, tumpah ruah ke lantai koridor. Buku-buku berhamburan, alat-alat tulis menggelinding ke segala jurusan, sementara anak-anak yang kebetulan berada di sana malah tergelak.
"Oops!"
.
.
Truk pengangkut sampah itu baru saja meninggalkan halaman Konoha High ketika bus yang mengangkut para siswa menepi di halte sekolah itu. Pintunya terbuka dengan suara desis kecil, disusul anak-anak yang mulai turun satu demi satu. Salah satunya adalah seorang gadis berambut panjang dengan mata lavender, bersama salah satu temannya di klub jurnal yang juga pecinta serangga, Shino Aburame. Keduanya tengah terlibat perbincangan dengan suara pelan tentang hasil foto festival sebelumnya.
"Kalau digabung dengan milik Sai, mungkin jumlahnya akan lebih dua ratus lembar," beritahu Hinata sementara keduanya berjalan beriringan memasuki gerbang kampus.
"Aa. Kurasa kita harus menyortirnya ulang," kata Shino dengan suara dalamnya.
Di sampingnya, Hinata mengangguk setuju. "Hasil potretku tidak begitu bagus. Tidak diambil juga tidak apa-apa. Mungkin bisa ambil punya Kiba dan Sai saja –atau anak-anak yang lain yang lebih bagus hasilnya."
"Tidak. Punyamu juga harus diikutkan," tegas Shino sambil melirik Hinata sekilas. "Aku tidak ingin hasil kerja timku ada yang disia-siakan," lanjutnya dengan nada datar.
Rona merah samar muncul di wajah Hinata saat Shino mengatakan itu. "B-Baiklah…"
Keduanya kemudian menaiki undakan depan, melewati pintu utama gedung sekolah mereka. Suara hiruk-pikuk yang biasa segera menyambut mereka; sapaan-sapaan selamat pagi –meskipun nyatanya sekarang sudah lewat pagi—suara gelak tawa, obrolan-obrolan riang khas anak sekolah yang sedang tidak ada jam pelajaran. Beberapa anak juga tampak menyeret kantung sampah berisi sisa dekorasi festival hari sebelumnya keluar gedung.
"Jangan lupa setelah ini langsung ke sekre," kata Shino mengingatkan ketika mereka tiba di depan anak tangga sebelum memasuki koridor pertama. "Beritahu yang lain kalau kau bertemu mereka. Kita akan rapat."
Hinata mengangguk. Keduanya lantas berpisah jalan. Hinata hendak mengambil sesuatu di lokernya sementara Shino langsung naik ke ruang OSIS untuk menyerahkan LPJ tim publikasi dan dokumentasi-nya –Shino yang mengetuai tim itu memang terbiasa bekerja ekstracepat.
Sesuatu menahan langkah Hinata begitu ia sampai di ujung koridor loker. Matanya menangkap sesuatu yang terasa begitu familier, seakan ia pernah mengalaminya sebelum ini. Sebuah bola sepak menggelinding ke kakinya dan berhenti tepat ketika menyentuh ujung sepatu ketsnya.
"Eh?" Gadis itu membungkuk untuk mengambil bola di dekat kakinya. Matanya sedikit melebar ketika ia menemukan nama N. Uzumaki tertera di permukaannya yang berwarna putih. Dan benar saja, ketika ia mengangkat wajahnya, tak jauh dari tempatnya berdiri, tampak Naruto tengah merangkak di lantai mengumpulkan barang-barangnya yang entah bagaimana menyebarkan diri kemana-mana. Sama seperti beberapa bulan yang lalu. Hanya saja kali ini Naruto tidak sendirian. Sakura dan Sai ikut membantunya.
Hinata lantas bergegas mendekati Naruto. Cowok itu mendongak ketika Hinata sudah berada di depannya, mendapatinya sedang tersenyum sambil mengulurkan bola sepak ke arahnya. Naruto melongo sesaat.
"Wow…" gumamnya tak jelas seraya menerima bola itu. "Déjà vu."
Hinata hanya menanggapi dengan senyum malu-malu, sebelum kemudian berpaling untuk membantu Sakura mengumpulkan buku-buku. Wajahnya merona merah lagi ketika Sakura melempar senyum penuh arti padanya setelah melirik Naruto.
.
.
Sasuke melirik arloji di pergelangan tangannya dengan tidak sabar. Ini sudah lewat hampir satu jam dari waktu yang dijanjikan dan Naruto sama sekali belum menampakkan batang hidungnya! Menghela napas keras, Sasuke memandang ke sekeliling kelas tempatnya berada sekarang dan itu tidak membuatnya merasa lebih baik. Cewek di sana, cewek di sini. Di mana-mana cewek. Bisa-bisanya Naruto datang terlambat dan membiarkannya terjebak bersama cewek-cewek itu!
Yah, memang mereka di sana bukannya tanpa alasan. Mereka adalah bagian dari tim Sasuke saat festival kemarin. Membantunya menyusun LPJ –laporan pertanggungjawaban—sepertinya alasan yang cukup untuk menjelaskan mengapa mereka berada di sana. Tetapi tetap saja, menjadi cowok sendirian di antara sekumpulan cewek-cewek yang tak hentinya mencuri-curi pandang ke arahnya tidak membuatnya merasa nyaman. Tahu akan begini jadinya, Sasuke lebih memilih mengerjakannya sendirian saja.
Akhirnya Sasuke mencapai batas kesabarannya, setelah lutut cewek yang duduk di sampingnya –entah sengaja atau tidak—menyenggol lututnya di bawah meja, ia pun beranjak dari bangkunya. "Kalian lanjutkan saja. Aku mau mencari yang lain."
Dengan meninggalkan notebook-nya di sana dan hanya membawa tasnya saja, Sasuke meninggalkan ruangan dengan diikuti tatapan-tatapan kecewa –yang sama sekali tak dipedulikannya. Ia baru bisa bernapas lega saat sudah berada di koridor. Berada di dalam sana membuatnya sesak napas.
"Baiklah. Di mana si bodoh itu sekarang?" gerutu Sasuke ketika ia melintasi koridor yang hari sebelumnya digunakan untuk stand in-door. Di mana-mana, tampak anak-anak sibuk membereskan ruangan, mencopoti hiasan-hiasan, merapikan yang belum sempat dirapikan hari sebelumnya.
Sasuke berjalan melewati dua orang cowok kelas satu yang sedang menjejalkan kertas-kertas sisa dekorasi ke kantung sampah di depan salah satu kelas, kemudian anak-anak perempuan yang sedang menyusun bangku di kelas berikutnya, sampai ia melihat dua orang yang dikenalnya baru saja muncul dari arah tangga. Sasuke lantas bergegas menghampiri keduanya.
"Hei," sapa Sai. "Kukira kau belum datang."
"Halo, Sasuke," Hinata menegurnya hangat seperti biasa.
"Kalian lihat Naruto, tidak?" tanya Sasuke langsung begitu mereka sudah dekat.
"N—Naruto—" seperti biasa, Hinata langsung merona begitu mendengar nama Naruto disebut.
"Dia di bawah dengan Sakura," Sailah yang menjawab kemudian. "Menemui Pak Ebisu. Lokernya bermasalah."
Sasuke mendengus, menggumamkan umpatan tentang Naruto yang selalu saja menemui masalah di saat-saat yang tidak tepat seperti ini. Sasuke baru saja akan pergi ke bawah ketika Hinata tiba-tiba memanggilnya.
"Hn?"
"Ayah mengundangmu dan Kak Itachi makan malam di rumah malam ini," kata Hinata, "Kau sudah tahu?"
Dahi Sasuke sedikit berkerut, sebelum ia teringat Itachi pernah memberitahunya soal ini di rumah semalam. "Hn."
Hinata tersenyum kecil. "Datang, ya. Ada yang ingin kuobrolkan denganmu."
Sasuke mengangkat alisnya. "Tentang apa?"
"Kalau kukatakan sekarang, itu akan merusak kejutannya," ucap Hinata sambil melempar senyum misterius.
Sasuke melempar pandang bertanya padanya beberapa saat lagi, lalu mengangkat bahu. "Aku akan datang." Setelah berkata begitu, Sasuke berbalik menuruni tangga untuk mencari Naruto.
Hinata berdiri di sana sampai punggung Sasuke tak terlihat lagi. Senyuman samar masih membayang di wajahnya ketika ia berbalik dan mendapati Sai sedang menatapnya. "A-Ada apa menatapku seperti itu, Sai?
"Ah, tidak ada apa-apa," sahut Sai cepat-cepat. "Hanya saja tadinya aku juga ingin mengajak Sasuke pergi malam ini."
"Oh," Hinata tampak terkejut. "Apakah itu penting?" tanyanya cemas. "Apa acara kalian terganggu?"
Sai menghela napas. "Tidak terlalu," sahutnya, "Tapi mungkin akan ada orang lain yang kecewa. Tidak masalah. Bukan acara yang penting, kok," ujarnya menambahkan ketika melihat raut menyesal di wajah gadis di depannya.
.
.
Pagi itu lewat begitu saja dalam kesibukan masing-masing.
Sai melewati sesi rapat yang panjang bersama klub jurnalnya, membahas tentang majalah sekolah edisi depan yang dibuat sedikit istimewa dengan bahasan tentang festival sekolah yang baru saja berakhir. Belum lagi mereka harus menyortir ulang foto-foto festival yang akan dipajang besok. Dengan jumlah foto yang tidak bisa dibilang sedikit, proses itu sangat memakan waktu.
Sementara Naruto, setelah membantu Sasuke menyelesaikan LPJ yang belum rampung –dengan sedikit diselingi pertengkaran karena Sasuke yang masih jengkel dengan keterlambatan Naruto sebelumnya—ia langsung berkumpul dengan klub sepak bolanya. Musim pertandingan sudah akan dimulai dan mereka mulai mendiskusikan jadwal latihan rutin lagi dengan formasi yang dipakai saat pertandingan persahabatan dengan Iwa beberapa bulan lalu. Dan tentu saja, pemilihan kapten tim sekaligus ketua klub untuk menggantikan Temujin yang akan segera lulus akhir tahun ini.
Sasuke lain lagi. Setelah menyelesaikan LPJ-nya, ia bersama Shiho, Dosu dan anak-anak yang sudah terpilih sebagai pengurus OSIS baru harus mengikuti rapat dengan pengurus OSIS lama dan guru pembina untuk mendiskusikan pelantikan, serah terima jabatan dari Menma pada Sasuke, pleno dan tetek bengek lain yang berhubungan dengan kepengurusan OSIS yang baru.
Sedangkan Sakura disibukkan oleh klub teaternya. Seperti klub sepak bola Naruto yang memilih ketua baru, begitu pula dengan klub yang diikuti Sakura itu. Karena Tenten akan segera lulus, maka Sakura terpilih menjadi ketua yang baru berdasarkan hasil rembukan. Ini berarti ia harus mulai memikirkan soal pertunjukkan drama untuk festival tahun depan. Mereka juga menonton ulang video pementasan festival hasil dokumentasi yang mereka pinjam dari klub jurnal bersama-sama untuk evaluasi. Entah mengapa Sakura merasa malu sendiri saat melihat dirinya sendiri berakting di atas panggung. Gadis itu berkali-kali menutup matanya pada adegan-adegan yang memancing sorakan menggoda dari teman-temannya. Dan saat video berakhir, wajahnya sudah semerah tomat ranum.
Tidak seperti biasanya, kantin jauh lebih lengang ketika Sakura dan Naruto tiba di sana siang harinya. Mengingat saat itu sudah tidak ada pelajaran, anak-anak lebih memilih pulang setelah menerima transkrip. Hanya anak-anak yang masih ada kegiatan saja yang masih tinggal dan itu pun tidak banyak.
"Aku tidak percaya…" desah Naruto entah untuk keberapa kalinya semenjak ia menerima transkripnya. Mata birunya masih menelusuri barisan nilai di sana seakan ingin memastikan jika ia tidak salah lihat. "Ini pasti salah. Ya ampun…"
Sakura melongok untuk melihat isi kertas di tangan Naruto, kemudian tertawa kecil. "Tidak salah. Jelas-jelas di sana tertera nama dan nomor pokok siswamu."
"T—Tapi…" Sesaat Naruto takmpak kehilangan kata-kata, "Tidak ada F, tidak ada E, bahkan D pun tidak ada. Ya ampun, Kimia-ku dapat B+! Kau percaya itu?"
"Percaya," Sakura terkikik, kemudian ekspresinya tiba-tiba berubah. Dahinya berkerut memandang Naruto. "Tunggu dulu. Kau pernah dapat F?"
Naruto mendadak gugup. "Itu… er…" Ia menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tidak gatal, tampak salah tingkah. "Ceritanya panjang."
Melihat ekspresi Naruto membuat Sakura tersenyum geli. "Iya deh, percaya. Sekarang sebaiknya kita makan. Aku sudah lapar sekali."
Tetapi sepertinya perhatian Naruto sudah teralih pada transkripnya lagi. "Ow, man! Pap pasti nggak bakal percaya ini. Bagaimana kalau dia nanti mengira aku mencontek saat ujian dan mengusut kemari?" serunya cemas. "Berani sumpah disamber geledek, aku tidak nyontek!"
"Iya, iya…" kata Sakura tidak sabaran sambil menarik lengan Naruto ke konter yang bebas antrian.
Tak lama, mereka sudah duduk di bangku yang biasa mereka tempati di tengah-tengah ruangan yang luas itu dengan mangkuk ramen dan sekotak jus jeruk di depan masing-masing. Naruto yang masih asyik menekuni transkripnya membuat Sakura tidak sabar. Gadis itu lantas merebut kertas itu dari tangan Naruto, melipatnya dan menjejalkannya ke dalam saku jaket Naruto. "Makan! Kau bisa melihatnya lagi nanti."
Naruto seperti hendak protes, tetapi tidak jadi. Cowok itu malah nyengir lebar. "Sorry. Habis, aku benar-benar senang. Ini nilai semester terbaikku sepanjang aku belajar di sekolah ini –ah, tidak. Tapi ini adalah nilai semester terbaikku seumur hidup."
"Itu artinya kau punya potensi kalau mau berusaha," tandas Sakura seraya memisahkan batang sumpitnya. Matanya sekilas melirik ke arah pintu. "Kenapa Sasuke dan Sai lama sekali?"
Panjang umur. Belum satu menit berselang, Sasuke muncul di pintu. Ia masih menggenggam transkrip yang pastilah baru diambilnya setelah selesai rapat. Wajahnya terlihat letih saat ia berjalan ke meja tempat Naruto dan Sakura duduk.
"Kenapa mukamu itu?" tanya Naruto keheranan saat Sasuke menghenyakkan diri di bangku kosong sambil menghela napas. Seulas seringai muncul di wajah Naruto. "Nilaimu kebakaran?" –Ia pun merebut kertas transkrip di tangan Sasuke.
"Hei!" Sasuke memprotes, hendak merebut kembali kertas miliknya.
Tetapi Naruto lebih cepat. Ia menjauhkan kertas itu dari jangkauan tangan Sasuke. "Aku cuma ingin lihat!"
"Pusing masalah OSIS, ya?" tebak Sakura, menghalihkan perhatian Sasuke dari Naruto.
"Hn," gumam Sasuke tidak jelas. Dan tampaknya ia juga tak berminat menjelaskan lebih lanjut.
Sakura baru saja hendak bertanya lagi ketika Naruto tiba-tiba mengumpat keras, "SIAL! Kenapa nilaimu A semua?"
Mau tak mau Sasuke menyeringai tipis melihat reaksi spontan Naruto. "Memangnya kenapa?"
Sakura yang tertarik, kemudian meminta kertas Sasuke pada Naruto. Sasuke menatapnya, diam-diam berharap mendapatkan reaksi yang sama dari gadis itu. Betapa herannya ketika ia malah melihat Sakura tersenyum riang. "Lumayan juga," komentarnya seraya mengembalikan kertas itu pada pemiliknya.
Mengernyit curiga, Sasuke lantas mengulurkan tangannya ke arah Sakura, meminta lihat kertas milik gadis itu. Sakura tanpa keberatan memberikannya. Sasuke menelusuri huruf-huruf yang tertera di sana. Berjejer nilai A tidak membuatnya heran, sebelum kemudian matanya tertuju pada angka di kotak nilai komulatif. Saat berikutnya, giliran ia yang mengumpat.
"SIAL! Kenapa nilaimu lebih tinggi?"
Naruto mengikik, sementara Sakura hanya mengacungkan jadi tengah dan telunjuknya yang membentuk huruf V pada Sasuke.
"Tidak mudah mengalahkan jenius dari Konoha High kami, Sasuke," kata Naruto dengan nada bangga dalam suaranya ketika ia melirik Sakura yang berseri-seri. Lalu pandangannya beralih pada Sasuke yang tampak tidak puas. "Bahkan oleh jenius dari Oto sekalipun."
Sasuke mendengus, mengembalikan kertas transkrip itu pada pemiliknya. Berkali-kali menjadi peraih nilai komulatif tertinggi membuatnya terbiasa dengan titel terbaik. Dikalahkan oleh seorang gadis berambut merah muda di sekolah barunya ini sama sekali tak pernah terlintas dalam benaknya. Dan ia sama sekali tidak mengantisipasi kekecewaan yang dirasakannya sekarang. Yah, walaupun gadis ini adalah sahabatnya –dan gadis yang menempati tempat istimewa di hatinya sekarang. Tetap saja…
"Jangan kecewa begitu, Sasuke," kata Sakura sambil tersenyum padanya, "Kau membuatku tidak enak hati –Eh, kau mau makan tidak? Ibu kantin hanya menjual sedikit. Nanti keburu habis, lho…"
Sasuke menghembuskan napas dengan keras seraya meletakkan tasnya di atas bangku kosong, lalu beranjak. Pandangan Sakura mengikutinya ketika Sasuke berjalan ke arah konter untuk mengambil makanan untuk dirinya sendiri. Cowok itu masih tampak tidak puas.
"Apa Sasuke marah padaku?" tanya Sakura cemas pada Naruto.
Naruto terkekeh. "Tidak. Dia cuma menderita kekecewaan yang agak parah. Tidak usah terlalu dipikirkan. Nanti juga baik sendiri." Ia lalu membuka bungkus sumpitnya, memisahkan batangnya dan mulai makan dengan lahap.
Sakura mengerling Sasuke sekali lagi, lalu berpaling untuk melipat transkripnya, menyimpannya dengan aman di dalam tas dan mulai menekuni makan siangnya.
Tepat saat itu, Ino muncul di pintu ruangan. Gadis itu sekilas terlihat ragu, tetapi ketika melihat di meja Sakura tidak ada Sai, ia lantas berlari-lari kecil mendekat. "Hei," sapanya pada Naruto dan Sakura sambil menarik bangku kosong di samping Sakura dan duduk di sana.
"Hmph…" Sakura buru-buru menelan makanannya. "Dari mana saja? Aku tidak melihatmu di mana-mana sejak tadi."
"Di sekre Cheers," sahut Ino cepat. "Aku memutuskan bergabung lagi di tim. Jadi anggota biasa, bukan kapten," gadis itu menambahkan, sembari menyibak rambut panjangnya yang terjatuh ke bahu. "Jadi…" Ia menatap Sakura, nyengir. "Aku diberitahu Pak Hatake kau juara umum lagi."
Sakura merona merah.
"Sudah kuduga. Kau memang sulit dikalahkan, Saku. Yah, selamat kalau begitu, Cantik," Ino mengulurkan tangan untuk memeluk Sakura sebagai ucapan selamat.
"Trims…"
"Jadi kau masuk lima besar lagi, eh, Ino?" tanya Naruto setelah Ino melepaskan pelukannya pada Sakura.
Ino menoleh padanya, meringis. "Um… kuharap begitu. Tapi tidak." Ia menghela napas dengan berat, menarik kotak jus jeruk milik Sakura dan menyeruputnya sebelum berkata, "Yang kutahu dari Pak Hatake tadi, Sakura tempat pertama, kedua Sasuke Uchiha, ketiga Shino Aburame, keempat Shikamaru Nara dan kelima Sai Shimura."
Naruto nyaris menyemburkan ramennya mendengar informasi ini. "Sai masuk lima besar?" dengkingnya. Mulutnya menganga selama beberapa saat. "Kalian bertiga masuk lima besar. Berarti aku yang paling bego!" semburnya pada Sakura seakan itu tidak adil.
Namun baik Sakura dan Ino mengabaikannya.
"Haah… anak-anak baru ini langsung melejit begitu," keluh Ino, "Aku dan Shiho dengan sukses terdepak dari lima besar deh. Sial…"
"Tenang saja, masih ada tiga semester lagi sebelum kita lulus. Kau masih bisa mengalahkan cowok-cowok itu," hibur Sakura, menepuk-nepuk lengan sahabatnya yang segera dibalas dengan anggukan Ino.
"Benar. Semangat!" serunya dengan nada lebih ceria. "Hei, Sasuke!" Ino menyapa Sasuke yang baru kembali dengan membawa nampan berisi dua tangkap nasi kepal dan sebotol air mineral.
"Hn," balas Sasuke datar sambil duduk di tempatnya semula. Tanpa berkata apa-apa lagi pada seisi meja, cowok itu langsung melahap nasi kepalnya.
Selama beberapa saat Ino menatap Sasuke seakan ia takjub dengan sikap dingin cowok itu. Ino membuka mulutnya seakan hendak berkomentar, tetapi tidak jadi. Ia hanya meringis pada cowok itu sebelum beranjak dari bangku. "Nah, kalau begitu aku pulang."
"Sekarang?"
"Hmm…" Ino mengangguk, nyengir pada Sakura, "Aku ada janji nonton film dengan Idate sore ini. Aku duluan, guys!"
Naruto memandang punggung Ino yang menjauh dengan pandangan tak suka –tidak, bukannya Naruto tidak menyukai Ino, tetapi kenyataan bahwa Ino masih jadian dengan cowok yang sudah melukai sahabatnya membuatnya terganggu. "Aku masih tidak percaya Ino masih mau dengan cowok kasar itu. Kalau aku jadi dia pasti sudah minta putus dari dulu."
Diam-diam Sakura setuju dengan komentar Naruto, meskipun ia tidak menanggapi apapun setelahnya. Ia lebih memilih menekuni makan siangnya kembali.
Sementara itu tepat sebelum Ino mencapai pintu kantin, seseorang yang sama sekali tak disangkanya memasuki ruangan bersama Kiba. Ino berhenti mendadak, tak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat matanya tak sengaja bersirobok dengan kedua mata gelap milik Sai. Namun cowok itu dengan cepat berpaling dan melewatinya begitu saja seolah ia tidak pernah melihat mantan kekasihnya di sana.
Berusaha mengabaikan decit menyakitkan di dadanya, Ino bergegas berbalik dan berlari pergi.
"Oi, Sai!"
Sai refleks menoleh ketika terdengar suara keras yang dikenalnya memanggil namanya. Cowok itu menghentikan langkahnya yang hendak menuju konter dan tersenyum ketika mendapati Naruto, Sakura dan Sasuke tengah duduk di bangku mereka yang biasa.
"Kiba, kau pesan saja makanannya. Aku mau ke mereka dulu," kata Sai pada teman klub jurnalnya itu sebelum melangkah mendekati meja ketiga sahabatnya. "Hei," sapanya sambil duduk di bangku yang baru saja ditinggalkan Ino, "Kukira kalian sudah pulang."
"Setelah ini kami baru mau pulang," sahut Sakura.
"Dan tidur," sambung Sasuke dengan nada malas, "Urusan OSIS ini membuat kepalaku mau pecah."
"Aku sepertinya masih lama di sini. Urusan majalah dan foto-foto belum selesai, sepertinya akan makan waktu sampai sore," kata Sai tanpa sedikit pun nada mengeluh dalam suaranya. "Aku dan Kiba kemari cuma mau beli makanan titipan anak-anak," lanjutnya sambil mengerling Kiba, "Kami makan siang sambil kerja."
"Klub jurnal memang gila-gilaan," komentar Naruto sambil geleng-geleng kepala, "Klub tersibuk seantero sekolah dan isinya anak-anak yang tahan banting. Maksudku, cuma anak yang tahan banting yang kuat berlama-lama dengan Shino Aburame," tambahnya sambil nyengir. "Dia lebih menyeramkan dari Sasuke yang sedang bad mood."
Sakura mengikik tertahan, sementara Sasuke yang disebut-sebut sama sekali tidak membalas kata-kata Naruto. Hanya memberinya death glare yang diabaikan oleh yang bersangkutan.
"Dia tidak seburuk itu, kok," komentar Sai sambil tersenyum.
"Eeh… kalau sampai sore, apa tidak apa-apa kalau setelahnya kita pergi-pergi?" tanya Sakura cemas. "Kau tidak lelah?"
Sai berpaling padanya, memberinya tatapan lembut dan intens entah apa maksudnya. "Tidak apa-apa. Jangan khawatir," suaranya pun dibuat lebih dalam dan dewasa.
Sasuke yang sedari tadi tampak malas-malasan mendadak memicingkan mata dengan curiga pada Sai. Sedangkan Naruto yang tidak memperhatikan apa pun kembali melanjutkan menggarap ramennya.
"Ah, iya!" Sakura yang tiba-tiba teringat sesuatu, kemudian menatap penuh harap pada Sasuke yang duduk di seberangnya. "Sasuke, kau mau ikut aku dan Sai melihat showcase KAA nanti malam? Pasti bakal asyik kalau kita bertiga bisa pergi bersama. Um… karena Naruto tidak bisa ikut."
"Huh?" Sasuke seakan baru tersadar Sakura mengajaknya berbicara. "Nanti malam?"
Sasuke kemudian teringat pada undangan makan malam dari ayah Hinata di kediaman Hyuuga malam ini dan entah mengapa itu membuatnya seperti tertohok. Sedangkan Sai yang sudah tahu jawaban yang akan diberikan Sasuke hanya memandang cowok itu, menunggunya memberikan jawaban.
"Aku tidak bisa," gumam Sasuke setengah hati. "Aku dan kakakku ada acara nanti malam."
"Oh," Sakura tampak kecewa, tapi gadis itu tidak memaksa. "Oke deh."
"Jadi," Sai kembali memusatkan perhatiannya pada Sakura, memberi senyum penuh arti pada gadis itu, "Sepertinya malam ini akan jadi acara kencan kita berdua, hm?"
"Eh?" Sakura mengerjapkan mata dengan terkejut ketika Sai menyentuh pipinya dengan ujung jarinya.
Tepat saat itu, Kiba berseru memanggil Sai dari seberang ruangan. Ia tengah memeluk sekantung besar makanan, sementara kantung lain yang berisi botol-botol minuman masih berada di atas meja konter, menunggu untuk diangkut ke sekre klub jurnal.
"Baiklah. Sepertinya aku harus pergi sekarang," kata Sai sambil berdiri. Ia sedikit membungkukkan tubuh di samping Sakura sehingga jarak wajah mereka cukup dekat sehingga gadis itu bisa merasakan hembusan napas Sai yang hangat di pipinya, "Berdandanlah yang cantik. Aku akan menjemputmu pukul tujuh. Oke?"
"Er…" Sakura meringis. Gadis itu merasa Sai hanya bergurau, tetapi seperti sungguhan sehingga membuatnya sedikit gugup juga.
Di sebelahnya, alis Naruto sudah terangkat sangat tinggi sampai menghilang di balik rambut pirang yang terjatuh di keningnya. Mata birunya melebar, hampir bulat sempurna. Sementara tampang Sasuke seperti ada seseorang yang memaksanya memakan sepiring besar kue manis.
Dengan santai, Sai menegakkan tubuhnya, lalu melenggang ke arah Kiba yang sudah menunggunya.
Selama beberapa saat meja itu hening. Ketiganya terlalu terkejut dengan sikap Sai yang… yah, begitulah…
Sampai akhirnya Naruto berhasil mengatasi keterkejutannya dan menemukan kembali suaranya, "OI, SAI! APA ITU MAKSUDNYA? DASAR PLAYBOY!"
.
.
TBC…
.
.
Oke, minna… pertama, aku kepingin minta maaf karena di apdetan yang lalu emosional banget sampe marah-marah gak jelas T_T. Kedua, maafkan juga untuk chapter yang gaje, pointless dan minim deskripsi ini. Anggep aja sebagai selingan dan karena otak saya lagi buntu untuk bikin chapter yang agak berat. Jadi yang nulisnya yang seringan bulu aja dulu. Ketiga, maafin (lagi) karena chapter yang ini dipanjangin. Kemarin ada yang minta dibikin chapter baru aja, tapi saya pikir lebih baik digabungkan, biar gak buang-buang chapter gitu. Lagipula isinya juga masih mirip-mirip, kegiatan di sekolah keneh.
Terus, punten pisan kalo ada yang beranggapan cerita ini terlalu bertele-tele, sampe ngegambarin kegiatan sekolah mereka segala. Saya cuma kepingin nunjukin kalo mereka gak cuma berkutat di kehidupan asmara aja, tapi juga gimana kehidupan 'sekolah' itu, belajar, kegiatan klub, persaingan-persaingan dalam prestasi. Saya kepingin cerita ini membumi *halah. Gaje juga padahal* Makanya saya suka bingung mau ngomong apa setiap ada yang nanyain pairing. =_=a
Yang terakhir, saya suka Sai yang nakal. Aww… sekseh sekali! .
Buat chapter depan, sepertinya sudah kelihatan kan bakal bercerita tentang apa? ^^
