Chapter 85

"Bukan begitu, Naruto. Sai cuma bergurau," Sakura berusaha meyakinkan sahabatnya yang kelewat cemas lewat ponselnya senja itu. Sudah lima menit berlalu sejak Naruto meneleponnya dan nada suara Sakura sudah mulai terdengar tak sabaran. "Aku tidak kencan betulan dengan Sai, sungguh. Kami sudah merencanakannya lama, kok."

Tetapi sepertinya Naruto tidak sepenuhnya bisa diyakinkan. Sikap mesra Sai terhadap Sakura nyatanya sudah membuatnya cemas bukan kepalang kalau-kalau cowok itu berniat menggunakan sahabat perempuan mereka sebagai pelampiasan untuk melupakan kisah suramnya dengan Ino. Belum lagi Sakura yang belum lama terlepas dari Neji –gadis itu masih teramat rentan. Bagaimana jika mereka terlibat kisah sesaat karena terbawa emosi mereka yang masih labil –kemudian berujung pada sakit hati yang lain? Berbagai macam spekulasi mengerikan bermunculan dalam kepalanya. Kecuali bahwa kemungkinan Sai hanya sedang bergurau, sebagaimana yang dipikirkan oleh Sakura.

Berbeda dari Naruto, Sakura menanggapi tingkah aneh Sai siang tadi dengan lebih santai. Meskipun sebenarnyanya ia sempat terkejut dan tak bisa berkata apa-apa sebelumnya, mengingat selama ini Sai bukanlah tipikal orang yang terlalu senang bergurau dan selalu bersikap sungguh-sungguh –yang kadang terasa begitu polos dan membuatnya gemas sendiri. Namun Sakura berusaha tidak terlalu berprasangka pada Sai. Barangkali saja cowok itu sedang mencoba membuat lelucon, atau sedang berusaha menggoda seseorang yang mereka tahu. Yang terakhir itu, sepertinya panahnya salah sasaran.

Bukannya berhasil memancing kecemburuan Sasuke, ia malah mengusik sisi protective Naruto terhadap satu-satunya wanita dalam kelompok kecil mereka. Sasuke malah terlihat cuek saja, sama sekali tidak berkomentar –atau sebenarnya Sasuke tidak ingin memperlihatkannya di depan yang lain, tidak ada yang tahu.

"Tapi kalau dia sampai berbuat yang tidak-tidak padamu, kau harus bilang padaku. Biar kutendang nanti bokongnya!"

"Sai tidak akan berbuat seperti itu padaku, Naruto," sahut Sakura tak sabar seraya memutar bola matanya yang berwarna hijau cerah. Ia menghela napas keras-keras. "Sudah, ah. Masa kau tidak percaya pada Sai? Dia kan sahabat kita."

"Bukannya aku tidak percaya padanya. Tapi—"

"Hei, bukannya sekarang kau harus berangkat ke panti?" sela Sakura sebelum Naruto sempat mengomel lebih banyak lagi. Geez, Naruto bisa lebih cerewet dari ibunya yang khawatir kalau mau. "Jangan buat adik-adikmu menunggu, Naruto."

Tepat saat itu dari seberang telepon terdengar suara Iruka yang memanggil Naruto, bertanya apakah ia Naruto sudah siap berangkat apa belum.

"Tuh, ayahmu sudah memanggil," seru Sakura, senang menemukan alasan untuk mengakhiri pembicaraan yang membuat kepalanya pening itu.

Di seberang, Naruto mengerang enggan begitu tahu mau tak mau ia harus melepaskan Sakura. "Oke deh. Tapi kau jangan sampai termakan rayuan gombalnya, Sakura. Sejak dulu aku tahu Sai berbakat jadi tukang rayu. Kalau dia sudah begitu, bilang saja kau sedang menaksir cowok lain –Lee atau Temujin atau Sumaru, siapa sajalah."

Sakura tergelak, setengah jengkel setengah geli. Menurutnya kali ini Naruto sudah kelewat konyol. "Itu tidak mungkin, Naruto. Aku bukan tipe cewek yang bakal ditaksir Sai. Kau tahu sendiri dia dulu menyebutku 'jelek'."

"Itu kan dulu, Sakura. Sekarang siapa yang tahu, kan?" Naruto mendesah pelan.

"Naruto, dengarkan aku," ucap Sakura tegas, "Sai dan aku barangkali memang baru patah hati, tapi kami tidak akan berbuat sejauh itu. Kami hanya ingin menghibur diri, kau tahu, mencoba bersenang-senang. Kami juga sempat mengajakmu dan Sasuke, ingat? Kalau kami berniat berkencan sungguhan, kami tidak akan dengan begonya berkoar di depan kalian. Jadi jangan khawatir, oke?"

Sejenak terdiam, sebelum kemudian hela napas terdengar lagi. "Baiklah…" ucap Naruto enggan. "Kau benar." Dari seberang, suara Iruka terdengar memanggilnya lagi. Naruto menjawab, kemudian berkata terburu-buru pada Sakura, "Dengar, aku harus pergi sekarang."

Sakura yang saat itu tengah berdiri di sisi jendela kamarnya yang menghadap ke jalan melihat mobil merah menyala melambat dan berhenti tepat di depan pekarangan rumahnya. Porsche milik Sai. "Kurasa aku juga harus pergi sekarang, Naruto," katanya sambil menutup tirai jendelanya. "Sai sudah datang."

Mereka kemudian memutuskan sambungan setelah saling mengucapkan selamat bersenang-senang –juga setelah Sakura memberikan janjinya pada cowok itu untuk menghubunginya lagi nanti. Sakura kemudian meraih tas selempang mungil dari atas meja dan memasukkan ponselnya dengan aman di sana sebelum menyampirkannya ke bahu. Gadis itu tengah memeriksa penampilannya untuk yang terakhir kalinya di cermin meja riasnya ketika bel pintu depan berbunyi. Sakura cepat-cepat membenahi letak bandana merah yang menahan rambutnya dan berseru menyahut, "Sebentar!"

Selesai. Sakura bergegas meninggalkan kamar setelah mematikan lampunya terlebih dahulu. Gadis itu melesat menuruni tangga. Langkah kakinya yang tergesa terdengar ribut di sepanjang koridor itu. Kemudian dengan setengah berlari, Sakura bergegas menuju pintu depan. Sosok jangkung berkepala buket mawar menyambutnya ketika ia membuka pintu kayu berpelitur itu.

"Sai!" seru Sakura sedikit terkejut. Mata hijaunya melebar.

"Selamat malam," Sai menurunkan buket yang dibawanya, melempar senyum segarisnya pada gadis di depannya.

Selama beberapa saat Sakura tanpa sadar menahan napasnya. Sai terlihat lain dari penampilannya yang biasa ia lihat di sekolah. Cowok itu terlihat sangat keren dalam balutan kemeja merah yang membuat kulitnya terlihat tidak sepucat biasanya, dengan beberapa kancing bagian atasnya yang dibiarkan terbuka, menampakkan bagian atas dadanya. Dipadu dengan jeans hitam berpotongan bagus dan blazer senada. Rambutnya yang hitam pendek pun tidak disisir rapi seperti biasanya, melainkan dibiarkan sedikit acak-acakan –barangkali ia juga menambahkan jel rambut. Sekarang Sakura mengerti mengapa teman-teman perempuannya di sekolah kerap menyebut Sai seksi.

Sakura mengerjap. Wajahnya merona saat menyadari sedari tadi ia menatap Sai tanpa berkedip. "Oh, yeah. Malam. Uh… kau kelihatan… keren."

"Trims," Sai tersenyum lagi. "Ah… Ini," cowok itu mengulurkan buket bunga yang dibawanya ke tangan Sakura yang sekali lagi hanya bisa melongo.

Tetapi sekejap kemudian, tawa gadis itu pecah, "Seharusnya kau tidak perlu repot-repot membawakanku bunga, Sai."

"Tidak apa-apa," sahut Sai dengan nada santai, "Aku hanya ingin memperlakukan temanku agak istimewa malam ini. Kupikir dengan membawakanmu bunga akan membuatmu gembira sedikit. Lagipula para gadis memang menyukai bunga, kan?"

Lagi, Sakura menemukan dirinya tak bisa berkata-kata. Speechless. Sikap Sai yang begitu manis membuatnya tersanjung. Kemudian ia teringat pada kata-kata Naruto tentang Sai yang berbakat jadi tukang rayu. Tetapi Sakura tidak merasa Sai sedang berusaha merayunya. Cowok itu hanya bersikap manis dan itu terasa begitu alami, tidak seperti tadi siang.

"Apa kau tidak suka?" nada suara Sai yang terdengar cemas ketika ia bertanya membuyarkan lamunan Sakura.

"Eh—Oh, bukan begitu. Aku suka sekali," sahut gadis itu. Dihirupnya aroma harum mawar segar itu dalam-dalam, kemudian memberi Sai senyum manis. "Trims. Aku simpan ini di dalam dulu. Tunggu sebentar."

Sakura lantas bergegas kembali ke dalam dan meletakkan bunga pemberian Sai di atas meja buffet di ruang tengah. Ketika ia kembali ke pintu, ia segera disambut oleh Sai yang dengan sikap gentleman menawarkan lengannya –dan tentu saja lengkap dengan senyumannya yang khas itu.

"Kita berangkat sekarang?"

Sakura tak bisa menahan diri mengikik, sebelum menyambut tawaran yang hangat itu dengan senang hati.

.

.

Entah sudah berapa lama Sasuke berdiri di sana, bersandar pada badan BMW hitam milik Itachi yang sedang dipanaskan di depan pintu garasi rumah mereka. Dahi di antara kedua alisnya berkerut, jelas sekali suasana hatinya sedang tidak menentu saat itu. Sepasang mata gelapnya sedari tadi menatap ke layar ponsel yang menampakkan nama salah seorang sahabatnya di tangannya, bimbang.

Telepon.

Tidak.

Telepon.

Tidak.

Telepon… —akh! Tidak!

Menggeram kesal pada dirinya sendiri, Sasuke lantas menjejalkan ponsel itu kembali ke saku celananya. Seraya menghela napas keras-keras, cowok itu melipat kedua lengannya di depan dada. Tetapi tak lama, tangannya kembali merogoh dan meraih alat komunikasi itu. Dan lagi-lagi ia membiarkan dirinya tenggelam dalam kebimbangan. Kali ini ia menyalurkan rasa frustasinya dengan berjalan mondar-mandir.

'Telepon atau tidak, ya? –Tidak. Nanti Sakura malah menganggapku bertingkah seperti anak kecil—Tapi… Sai benar-benar mencurigakan… Aaakh…'

"Ngapain mondar-mandiri di situ, Sasuke?" tanya Itachi yang baru saja muncul dari pintu depan, menyeringai pada adiknya. Rufus melangkah ke sampingnya dengan tali leher sudah terpasang, menjulurkan lidahnya.

"Tidak ngapa-ngapain," sahut Sasuke otomatis, menghentikan langkahnya dan memasukkan kembali ponselnya ke tempat semula. "Sudah mau berangkat sekarang?"

"Yah…" Itachi mengangkat tangannya yang tidak memegang tali leher Rufus, mengerling arloji yang melingkari pergelangan tangannya. "Sebaiknya kita cepat. Harus jemput Hana dulu –kuharap Paman Hiashi tidak keberatan kita sedikit terlambat."

Sasuke tidak berkomentar. Entah sejak kapan sudah menjadi kebiasaan kakak lelakinya itu membawa Hana serta menghadiri acara-acara seperti ini. Baru beberapa hari yang lalu Itachi mengajaknya menemaninya ke acara jamuan makan malam para petinggi perusahaan—yang berarti juga bertemu dengan kerabat-kerabat Uchiha yang lain—lalu ke acara peresmian cabang baru di Ame dua minggu sebelumnya, acara peluncuran produk dan acara macam-macam lagi. Sepertinya kakaknya itu sudah mantap memperkenalkan kekasihnya itu sebagai calon Nyonya Uchiha ke seluruh dunia. Hanya tinggal tunggu waktu saja sampai Itachi membawa Hana ke Oto untuk dipertemukan dengan ayah dan ibu mereka.

Tak lama kemudian, mobil yang mereka tumpangi sudah meluncur mulus meninggalkan Crimson Drive. Dengan Itachi di belakang roda kemudi, Sasuke di sebelahnya dan Rufus di bangku belakang, menjulurkan kepala di antara kedua tuannya.

Selama beberapa menit, perjalanan berlangsung dalam keheningan. Yang terdengar hanya suara alunan 'Quando, Quando, Quando' yang mendayu-dayu dari Michael Buble di stereo dan sesekali senandungdari Itachi –setidaknya sebelum pria itu mengerling ke bangku sebelah dan mendapati adiknya tengah menatap kosong ke luar jendela, dengan sebelah tangan menyangga sisi kepalanya. Wajahnya sedikit muram.

"Hei, jangan berwajah masam begitu," Itachi menegurnya, "Jarang-jarang, kan, kita diundang makan malam oleh Paman Hiashi? Bersemangatlah sedikit."

"Hn," gerutu Sasuke tanpa mengalihkan pandangannya.

Itachi tersenyum kecil. "Kau selalu saja protes masakanku tidak enak. Dapat undangan makan malam seperti ini harusnya kau senang."

"Hn."

Itachi melirik adiknya sekali lagi, tepat ketika Sasuke sedang menghembuskan napas berat. "Kenapa, Sasuke? Ada sesuatu yang sedang dipikirkan? Bertengkar lagi dengan teman-temanmu?"

Tetapi Sasuke tampaknya tidak begitu mendengarkan pertanyaan kakaknya. Karena saat itu mobil yang mereka tumpangi telah memasuki kawasan asri Blossoms Street dan perhatian Sasuke kini terpusat sepenuhnya pada sebuah mobil mewah berwarna merah menyala yang terparkir tepat di depan kediaman Haruno. Porsche milik Sai. Dahinya berkerut ketika melihat sepasang remaja yang sangat ia kenali tengah berjalan melintasi halaman menuju mobil itu. Sakura dan Sai tengah mengobrol sambil tertawa-tawa, dengan tangan Sakura bergelayut di lengan Sai.

"Bukankah itu Sakura dan Sai?" rupanya Itachi juga sudah melihat mereka. "Waah… serasi sekali, eh?" pria itu menyeringai pada sang adik yang merengut. "Mereka mau kencan?"

Sasuke tidak merespon, terlalu sibuk merutuki Sai dalam hati.

"Mau menyapa mereka?" tawar Itachi dengan senyum jahil.

"Tidak," sahut Sasuke cepat ketika Itachi hendak melambatkan laju mobilnya, "Terus saja."

Sasuke menoleh saat mobil mereka berpapasan dengan Porsche Sai. Saat itu Sai tengah membukakan pintu penumpang untuk Sakura, dan tampaknya tak seorang pun dari mereka menyadari ketika mobil Itachi melewati mereka.

Sial. Kalau saja ia tidak harus memenuhi undangan makan malam dari teman ayahnya, pasti sekarang ia sedang bersama mereka. Barangkali malah ialah yang bertugas menjemput Sakura, bukannya Sai, pikir Sasuke gusar.

Memaksakan diri untuk tetap bersikap cool, Sasuke kembali memalingkan wajahnya ke depan, berpura-pura tidak melihat apa-apa barusan. Sampai didengarnya kekehan kecil dari bangku di sebelahnya.

"Wah, wah… Sakura populer juga, ya? Kemarin Neji, sekarang Sai."

"Mereka tidak berkencan," Sasuke tak bisa menahan dirinya menukas. "Mereka juga mengajakku dan Naruto. Hanya saja aku dan Naruto tidak bisa. Jadi mereka hanya pergi berdua," jelasnya, lebih untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa Sai dan Sakura memang tidak kencan sungguhan. Damn Sai.

"Hmm…" Itachi mengangguk-anggukan kepalanya. Seringai samar masih menghiasi wajahnya. "Cemburu?"

Sasuke menghela napas berat. "Tidak," gerutunya.

Itachi melirik adiknya dengan sebelah alis terangkat, kemudian mendengus kecil, "Kelihatannya tidak begitu."

Sasuke memilih tidak menanggapi. Karena pada kenyataannya ia memang agak cemburu pada Sai yang bisa berduaan dengan Sakura. Memang bukan jenis cemburu yang dirasakannya saat Sakura bersama Neji, tapi tetap saja... membayangkan mereka berdua bersama-sama, apalagi pakai acara pegangan tangan seperti tadi, benar-benar membuatnya kesal.

Seakan bisa merasakan kegelisahan tuannya, Rufus menjulurkan kepalanya ke depan dan menjilati telinganya, membuat Sasuke tersentak kaget ketika benda basah itu menyentuh kulitnya.

"Hei—" Sasuke menjauhkan kepalanya dari jangkauan Rufus yang langsung mengheluarkan suara seperti merajuk, menjulurkan sebelah kaki depannya. Mau tak mau Sasuke menyeringai juga. Kelakuan lucu anjingnya itu memang selalu berhasil memperbaiki suasana hatinya yang kacau walau sedikit. Dengan sayang ia menggaruk-garuk bulu halus di leher hewan itu.

"Good boy," seru Itachi mendukung anjingnya, "Jilati dia terus, Rufus!"

"No no no! Akh—" Rufus mendorong tubuhnya lebih ke depan, menempatkan kaki depannya ke jok Sasuke sementara ia dengan asyiknya memberi jilatan sayang pada tuannya itu. "Hentikan, Rufus!"

Alhasil, Sasuke sudah nyaris basah kuyup ketika akhirnya mereka sampai di kediaman keluarga Inuzuka untuk menjemput Hana. Ia terpaksa meminjam kamar mandi untuk membereskan sedikit kekacauan itu dengan diiringi tawa meledek dari Kiba.

"Kau tahu, liur anjing itu bagus untuk nutrisi kulit," komentar adik lelaki Hana itu sambil menahan tawa. Saat itu ia tengah berdiri bersandar di ambang pintu kamar mandi yang dibiarkan terbuka sambil bersedekap, mengawasi Sasuke mencuci jejak-kasih-sayang-Rufus dari wajah dan lehernya.

Sasuke mendelik pada pantulan Kiba yang tengah menyeringai di cermin di depannya, mendengus kecil. Ia kemudian memulih meraup air dari keran sekali lagi alih-alih membalas perkataan teman seangkatannya di sekolah itu.

"Jangan ganggu dia, Kiba," tegur Hana, yang baru saja kembali dari kamarnya untuk mengambil handuk bersih.

Kiba menoleh pada kakak perempuannya, memasang tampang pura-pura tersinggung. "Aku tidak mengganggunya, berani sumpah samber duit. Aku hanya mengatakan yang sebenarnya."

Hana memutar bola matanya, "Omong kosong." Kemudian mendorong adiknya minggir supaya ia bisa memberikan handuk pada Sasuke yang langsung menerimanya sambil menggerutukan terimakasih.

"Kakak tidak pernah percaya padaku," ucap Kiba sambil menghela napas keras-keras untuk menimbulkan kesan dramatis. "Lihat, mukanya sekarang jadi cling cling begitu, kan?" ia menunjuk wajah Sasuke yang memang sudah bersih.

Hana memelototi adiknya, kendati sebenarnya ia sudah menahan diri untuk tergelak. Dengan gemas dicubitnya lengan Kiba, lalu mendorongnya menjauhi pintu kamar mandi. "Sudah, sana. Bukannya katamu kau ada pekerjaan untuk Jurnal, eh?"

"Eeh—kerjaanku sudah selesai!" dengking Kiba memprotes.

Hana mengabaikannya dan kembali menoleh pada Sasuke. "Jangan dengarkan dia. Kiba memang suka bergurau."

"Aa. Aku tahu," gerutu Sasuke seraya mengeringkan sisi wajahnya dengan handuk.

Hana tersenyum manis padanya, kemudian berbalik pergi. Sasuke menyusulnya setelah selesai dan menyampirkan handuknya di wastafel. Kiba sedang mengajak Rufus bermain dengan anjingnya yang berukuran jauh lebih besar, Akamaru, di ruang keluarga ketika Sasuke melewati ruang itu menuju ruang depan di mana Itachi sudah menunggunya sambil berbincang dengan Tsume, ibu Hana dan Kiba.

"Kuharap Ibu tidak sedang menyiksanya lagi," Sasuke mendengar Hana berkata pada ibunya ketika ia memasuki ruangan itu. Itachi sedang berdiri di dekat pintu, memasang senyum santai di wajahnya. Meskipun jelas sekali ia tampak lega Hana datang menyela obrolannya dengan Tsume.

Tsume Inuzuka adalah seorang dokter hewan, sama seperti putrinya. Memiliki rambut cokelat yang mencuat liar ke segala jurusan, sepasang mata hitam tajam yang akan membuat siapa pun bergidik melihatnya. Tubuhnya tidak terlalu tinggi dan suaranya lantang ketika berbicara. Singkatnya, ia tidak seperti wanita pada umumnya dan Sasuke tidak mengerti bagaimana ia dan putrinya bisa begitu tidak mirip.

"Ibu tidak sedang menyiksanya, Nak," kata Tsume dengan nada riang sambil tersenyum –atau tepatnya menyeringai—pada Itachi, "Ibu hanya bertanya pada pacarmu yang tampan ini mengapa dia jadi suka sekali memamerkanmu ke mana-mana. Kau kan bukan barang, Nak."

"Ibu!" Hana melempar pandang memohon pada ibunya, sebelum melangkah mendekati wanita itu untuk mengecup pipinya. "Kami harus pergi sekarang, Bu," pamitnya, "—dan kita akan bicara lagi soal ini nanti. Hana janji," selanya cepat sebelum Tsume sempat berkata apa-apa lagi. "Kiba, kakak titip Rufus sebentar, ya!" seru Hana pada Kiba di ruang keluarga.

"Kalau begitu kami pergi sekarang, Bibi," pamit Itachi sopan sambil sedikit membungkukkan tubuhnya.

"Maafkan soal tadi," Hana berkata pelan begitu mereka sudah duduk di mobil. Hana duduk di sebelah Itachi di bangku depan, sementara Sasuke di bangku belakang. "Ibuku menekanmu lagi, ya?"

"Tidak apa-apa," sahut Itachi santai seraya melajukan mobilnya perlahan memasuki jalan raya menuju kawasan White Hills. "Rasanya aku sudah mulai terbiasa. Lagipula ibumu hanya khawatir padamu. Aku mengerti."

"Itachi…" Hana mendesah penuh terimakasih seraya membelai lengan Itachi. "Kau benar. Kami pernah punya pengalaman tidak menyenangkan dengan ayah. Dia tidak ingin kejadian itu terulang padaku."

"Kalau begitu sudah menjadi tugasku meyakinkannya kalau aku tidak seperti ayahmu," kata Itachi meyakinkan. "Biar nanti aku bicara lagi pada ibumu. Oke?"

Sementara kedua sejoli di bangku depan itu meneruskan obrolan berat mereka, di bangku belakang Sasuke mau tak mau mendengarkan. Pandangannya berpindah-pindah dari Itachi, lalu ke Hana, kemudian kembali lagi, sembari berpikir ternyata hubungan orang dewasa itu lebih rumit dari yang ia pikirkan. Ia baru menyadari kakaknya mengencani Hana bukan hanya sekedar melewatkan waktu berduaan, bersenang-senang bersama, tetapi lebih dari itu. Itachi ternyata bukan hanya berjuang mengambil hati Hana, tetapi juga ibu dan adiknya. Dan itu bukan hal yang mudah –jelas sekali jika melihat sambutan Tsume yang agaknya masih tidak bisa menaruh kepercayaan penuh pada Itachi.

Kalau ia yang berada di posisi Itachi, mungkinkah ia bisa sesabar itu? Dengan memikirkan hal itu, untuk sementara perhatian Sasuke teralih dari Sakura dan Sai.

.

.

Konoha Art Academy masih sama megah dan memukaunya seperti saat Sakura mengunjunginya terakhir kali beberapa bulan yang lalu. Hanya saja malam ini suasananya berbeda dengan saat itu. Kali ini bukan hanya anak-anak berseragam merah marun-hitam yang terlihat berkeliaran, tetapi juga orang-orang yang jelas bukan siswa di sekolah seni bonafide itu. Para orang tua siswa senior, perwakilan dari dance company, orchestra, pencari bakat, produser musik, kolektor, penawar beasiswa, para tutor, alumni maupun masyarakat umum juga terlihat datang. Sakura bahkan melihat beberapa teman siswa KHS di sana, datang untuk menonton teman-teman mereka berlaga.

"Ramai sekali," komentar Sakura takjub sembari memandang berkeliling saat Sai membawanya memasuki gedung. Di sana-sini, tampak beberapa siswa KAA –yang sepertinya sedang bertugas menjadi semacam panitia—membagikan brosur kepada para pengunjung yang datang. "Trims," ucap Sakura pada seorang gadis berambut merah pendek potongan bob yang menawarinya brosur.

Sakura dengan penasaran membuka-buka brosur tebal itu, melihat apa saja yang ditampilkan di sana. Ternyata acara itu sudah dimulai sejak pukul lima, tepat setelah kegiatan belajar mengajar resmi selesai, dengan masing-masing departemen dan divisi memamerkan kebolehan para siswa senior mereka. Galeri sekolah dipakai sebagai tempat pameran bagi para siswa seni rupa. Beberapa ruang pertunjukan dipakai oleh para siswa dari departemen musik, tari dan teater. Semua jadwalnya juga sudah tertera lengkap di sana. Sakura sedikit kecewa saat melihat jadwal pementasan dari departemen teater dimajukan menjadi tadi siang, yang berarti mereka sudah terlambat untuk menyaksikannya sekarang. Yang tersisa hanya tiga departemen lain.

Sakura lantas menoleh pada Sai untuk menanyakan pendapatnya, namun perhatiannya teralih saat seorang pria jangkung berwajah tampan melewati mereka bersama beberapa orang berjas. Gadis itu terbelalak saat mengenali pria itu sebagai aktor yang sering muncul di film-film yang kerap ditontonnya. Kalau saja ia sedang bersama Ino sekarang, pastilah mereka sudah menjerit dengan noraknya dan melompat minta tanda tangan dan foto bareng, seperti yang dilakukan beberapa gadis tak lama kemudian.

"Maaf, Sakura," ucapan Sai kemudian mengalihkan perhatian Sakura dari aktor tadi dan kerumunan fansnya. "Aku tidak tahu kalau mereka mengubah jadwal untuk teater. Tadinya kukira kita bisa melihat itu."

"Oh, tidak apa-apa," sahut Sakura. "Jadi sekarang kita ke mana? Di sini masih ada um…" Gadis itu dengan cepat membuka-buka lagi brosurnya, "Musik… resital piano… pertunjukan dance… ballet…" Seraya meletakkan telunjuk di dagunya, ia menimbang-nimbang. Semuanya sangat menarik. Melihat pertunjukan dari departemen musik kedengarannya menyenangkan. Sakura sudah lama mendengar betapa kerennya mereka. Tapi pertunjukkan tari adalah hal yang baru baginya, ia sangat ingin melihatnya juga. "Bagaimana menurutmu, Sai?"

"Hmm…" Sai tampak berpikir, "Menurutku musik agak membosankan. Kita bisa melihatnya kapan saja. Bagaimana kalau dance? Gaara sedang di ruang pertunjukan sekarang. Katanya dia sudah mempersiapkan dua bangku kosong untuk kita, kalau kau tertarik. Bagaimana?"

"Oh, ya. Tentu saja," seru Sakura antusias. "Bukankah Matsuri juga ikut ambil bagian?"

Tanpa berlama-lama lagi, keduanya pun bergegas pergi ke ruang pertunjukan yang dimaksud Sai. Serombongan orang-orang berpakaian rapi baru saja keluar dari salah satu pintu ganda saat Sakura dan Sai tiba di koridor yang Sakura ingat sebagai tempat pertunjukan –'KAA Centre for the Performing Arts'. Dengung obrolan bernada terkesan terdengar dari orang-orang itu sementara mereka berlalu, digantikan orang-orang dari luar yang baru saja datang untuk melihat pertunjukkan berikutnya.

"Apa pertunjukkannya sudah selesai?" bisik Sakura cemas pada Sai.

"Belum. Itu tadi dari departemen musik. Kita ke sini," Sai menunjuk pintu ganda tepat di seberang pintu yang pertama.

Pintu itu tertutup dan dijaga oleh dua orang siswa berseragam KAA. Salah satu dari mereka mengangguk sopan pada Sai, lalu membukakan pintu bagi mereka berdua. Suara-suara bising dari luar langsung terblokir begitu pintu ganda yang berat itu menutup di belakang mereka, hanya menyisakan suara alunan musik klasik yang mengiringi seorang gadis ballerina yang sedang menari di atas panggung. Sejenak Sakura mematung di depan pintu yang tertutup, terpukau oleh apa yang ditampilkan di depan sana, sampai Sai menarik pergelangan tangannya.

"Ayo," ajak Sai dalam bisikan.

Mereka kemudian menuruni undakan-undakan bangku yang nyaris penuh, sebelum akhirnya menemukan Gaara duduk di bangku paling pinggir barisan kelima dari depan. Dua bangku di sebelahnya kosong. Cowok berambut merah itu bergegas berdiri untuk memberi jalan pada kedua pendatang itu untuk menempati bangku-bangku itu. Sakura bisa mendengar Sai mengucapkan terimakasih dalam bisikan pada Gaara, sebelum ia kembali memusatkan perhatian pada pertunjukan ballet di atas panggung –yang rupanya sudah mencapai babak akhir.

Gemuruh tepuk tangan dan teriakan 'bravo!' memenuhi ruangan itu. Beberapa penonton bahkan melakukan standing ovation untuk gadis penari yang kini membungkuk dengan anggun sebagai ucapan terimakasih.

"Aku tidak begitu mengerti, tapi yang tadi itu indah banget!" seru Sakura seraya bertepuk antusias.

"Setelah ini giliran Shion dan krunya," beritahu Gaara, yang duduk di sebelahnya, di tengah gemuruh tepuk tangan yang belum mereda.

"Matsuri?"

Gaara menoleh pada Sakura, mengangguk. "Dia juga termasuk."

Sai membungkuk supaya bisa melihat Gaara melewati Sakura, menyeringai pada kawannya itu. "Alasan kau nongkrong di sini dan bukannya mendukung para senior dari jurusanmu sendiri, eh?"

Gaara tidak membalas kata-kata Sai, hanya mendengus kecil dan kembali mengalihkan perhatiannya pada panggung di depan mereka. Tirai sudah kembali diturunkan dan seorang pria bertubuh bongsor dengan rambut hitam yang disisir kelimis muncul dari sisi panggung. Kelihatannya pria itu adalah salah satu pengajar di departemen tari jika dilihat dari gerakannya yang sedikit gemulai –juga yang bertugas sebagai MC. Dengan suara lantang dan senyum lebar di wajahnya, ia mengumumkan nama siswi yang akan tampil berikutnya.

Setelah ia menyingkir ke sisi panggung, tirai perlahan kembali dibuka dan musik pengiring mulai dimainkan. Suara tepuk tangan dari para penonton pun turut mengiringi ketika para penari mulai bergerak lincah di bawah pencahayaan panggung yang diatur sedemikian rupa sehingga tampak dramatis.

.

.

Beberapa mobil lain sudah terparkir di halaman depan kediaman besar keluarga Hyuuga di White Hills ketika kakak beradik Uchiha serta Hana tiba di sana. Pintu depan yang berdaun ganda dibiarkan terbuka dengan dua orang pelayan sudah menunggu untuk menyambut mereka.

Hana dengan gugup memandang ke arah rumah besar itu, lalu menoleh cemas pada Itachi dari atas atap mobil, "Apa tidak apa-apa kau mengajakku?"

"Jangan khawatir," kata Itachi sambil tersenyum menenangkan, "Lagipula kan sudah kubilang tuan rumahnya sendiri yang ingin bertemu denganmu."

"Hiashi Hyuuga," Hana mendesah cemas, "Kau pasti sedang bergurau."

Itachi terkekeh kecil melihat reaksi kekasihnya itu. Hana memang agak kaget saat Itachi mengundangnya makan malam bersama keluarga Hyuuga. Bukan undangan biasa, karena keluarga itu adalah salah satu keluarga terpandang dan berpengaruh di Konoha –sebagaimana keluarga Uchiha berpengaruh di Oto. Tadinya ia mengira Itachi sengaja mengajaknya seperti yang biasa ia lakukan jika ada perjamuan seperti ini, tetapi saat Itachi memberitahunya Hiashi Hyuuga sendiri yang tertarik bertemu dengannya, ia terkejut –jelas.

Itachi lantas berjalan mengitari mobil untuk menghampiri Hana dan meraih tangannya. "Aku tidak bergurau. Kurasa siapa pun akan penasaran dengan wanita beruntung yang bakal jadi Nyonya Uchiha berikutnya."

Sasuke yang kebetulan mendengar itu, memutar bola matanya. Sementara Itachi bergombal-gombal ria—ehm, maksudnya menenangkan Hana yang masih agak gugup, Sasuke mendahului mereka menuju pintu utama. Kedua pelayan yang berjaga segera membungkuk menyambutnya, namun Sasuke mengabaikannya dan perhatiannya tertuju pada Hinata yang baru saja menuruni tangga dari lantai atas. Gadis itu tersenyum manis padanya.

"S-Sasuke!" sambutnya cerah. "A-aku senang kau datang. Eh…" Hinata melongokkan kepala dari samping bahu Sasuke, "Kak Itachi—"

"Tuh," Sasuke mengendikkan dagunya ke arah Itachi dan Hana yang baru muncul sesaat lalu dan kini tengah menaiki undakan depan.

Hinata bergegas keluar menyambut mereka. "Kak I-Itachi, Kak Hana," sapanya masih dengan nada antusias yang sama, kemudian mendekati Hana untuk mencium kedua pipinya, "K-Kak Hana kelihatan cantik malam ini."

"Ah, terimakasih," Hana tersenyum padanya, "Kau juga kelihatan manis seperti biasa, Hinata."

Gadis berambut panjang itu langsung berseri-seri. Wajahnya bersemu merah.

"Kelihatannya sedang senang, eh?" Itachi menegurnya, seraya menepuk puncak kepala teman kecil adiknya itu pelan.

"A-Aku tidak punya alasan untuk merasa sedih, Kak," sahutnya malu-malu, "Ah, mari masuk, Kak. Yang lain sudah berkumpul di dalam. Yuk, Sasuke."

Hinata lantas mengajak ketiga tamu ayahnya masuk, melintasi ruang depan yang tampak lengang, menuju ruang rekreasi yang luas dan nyaman, di mana beberapa tamu yang lain sudah berkumpul sambil berbincang-bincang ringan dengan sang tuan rumah, Hiashi Hyuuga. Hinata bergegas menghampiri ayahnya untuk memberitahukan kedatangan tamu mereka yang terakhir. Serta merta dengung obrolan terhenti begitu semua kepala tertoleh pada ketiga orang yang baru saja memasuki ruangan.

"Itachi, Nak," sambut Hiashi, berpaling dari salah satu kerabatnya saat Itachi mendekat untuk menjabat tangannya. "Lama tidak melihatmu. Kau kelihatan…" Hiashi memberinya tatapan menilai, "…semakin matang saja."

"Terimakasih, Paman," ucap Itachi sambil mengulum senyum sopan.

"Sasuke Uchiha," Hiashi berpaling pada Sasuke sementara Itachi menyalami tamu yang lain, menatapnya lurus-lurus, "Kudengar dari Hinata, ketua organisasi sekolah yang baru? Seperti yang diharapkan dari putra ayahmu. Selamat."

"Eh—Iya," sahut Sasuke canggung, kemudian menjabat tangan ayah Hinata itu, "Terimakasih."

"Dan ini pasti…" Hiashi kemudian berpaling pada Hana yang berdiri di sebelah Sasuke, memandang wanita muda itu dengan tertarik, "Nona Hana Inuzuka."

"Benar, Tuan Hyuuga." Hana menyambut uluran tangan Hiashi padanya, menjabatnya. Tatapan pria paruh baya itu padanya agaknya membuatnya agak salah tingkah. "Er… terimakasih sudah mengundang saya datang."

"Ah, tidak perlu sungkan –dan cukup panggil aku dengan sebutan 'Paman Hiashi' seperti Itachi. Lebih nyaman begitu," sahut Hiashi cepat. "Dan senang bisa bertemu dengan er…" Ia memandang Itachi yang sudah kembali ke sisi Hana setelah selesai menyapa para tamu yang lain, merangkul pinggang wanita muda itu, "…calon anggota keluarga Uchiha yang baru," lanjutnya sambil menelengkan kepalanya sedikit ke arah Itachi, lalu melempar senyum hangat pada pasangan itu. "Kuharap ibumu sehat-sehat saja, Nak."

Hana tampak terkejut. Sepasang mata hitamnya melebar. "Anda mengenal ibu saya?" tanyanya otomatis.

"Oh, tentu saja," jawab Hiashi sambil terkekeh ringan. Pria itu menghela napas, wajahnya terlihat seperti sedang mengenang sesuatu. "Tsume Inuzuka… katakan saja ibumu adalah salah seorang kawan lamaku."

Hana memandang pria itu takjub, sama sekali tidak menyangka orang sekaliber Hiashi Hyuuga mengenal ibunya. Tsume sama sekali tak berkomentar apa pun ketika Hana memberitahunya Itachi akan membawanya ke acara di kediaman Hyuuga. Ia kemudian memandang Itachi yang hanya membalas dengan senyum seolah mengatakan 'Benar kan yang kubilang?'

Setelah obrolan basa-basi yang singkat itu, Hiashi kemudian mengundang para tamunya menuju ruang makan. Hinata masuk belakangan bersama Sasuke dan beberapa sepupunya yang sebaya –Sasuke tidak mengenal sebagian besar di antaranya. Hanabi bergabung dengan mereka tak lama kemudian dengan tampang cemberut berat. Sementara Neji, Sasuke baru menyadarinya, tak terlihat di mana pun.

.

.

Sakura nyaris tak berkedip sepanjang tiga menit durasi pementasan tari itu seakan tak ingin ketinggalan satu gerakan pun. Jelas sekali gadis itu terpesona oleh gerakan-gerakan indah yang dilakukan oleh Shion dan krunya di atas panggung.

Berbeda dengan yang disuguhkan dancer sebelumnya yang murni ballet klasik, kali ini mereka memadukan ballet dengan tari modern dan sedikit sentuhan hip hop yang dinamis. Shion yang menjadi lead dancer jelas menjadi pusat perhatian di atas panggung. Selain kostumnya yang berbeda dari para dancer yang lainnya, gadis cantik berambut pirang itu pun beberapa kali melakukan gerakan sulit bersama male-dancer yang jadi pendampingnya di panggung, yang selalu berakhir dengan aplaus kagum dari penonton.

Sampai akhirnya tiga sesi tarian itu berakhir, Sakura melompat berdiri bersama penonton yang lain –termasuk dua cowok yang duduk di kanan kirinya—memberi aplaus meriah. Teriakan 'Bravo!' seperti pada pertunjukan sebelumnya terdengar di sana sini, di antara seruan dan suitan dari para penonton. Di atas panggung, wajah Shion dan para dancer -nya tampak berkilauan oleh peluh, tetapi itu tak lantas menyembunyikan raut bahagia di wajah mereka ketika mereka saling berpegangan tangan dan membungkuk sebagai ucapan terimakasih pada sambutan penonton.

'Kyaaa! Kereeen! Ino seharusnya lihat ini. Dia pasti bakal ngiri berat!' Sakura membatin girang, masih bertepuk dan berseru, "BRAVO!"

"Hei, Gaara," Sakura bisa mendengar Sai bicara pada Gaara di belakangnya, "Shion ini cantik juga. Kau punya nomornya?"

Serta merta Sakura berhenti bertepuk dan menoleh menatap Sai seakan di kepala cowok itu mendadak tumbuh tanduk. Namun sepertinya Sai tidak memperhatikannya karena saat itu Gaara mendengus kecil dan menyahut,

"Kalau kau berani mengambil resiko, aku akan memberimu nomornya."

"Apa itu maksudnya?" tanya Sai tak paham.

"Shion," Gaara mengerling ke arah panggung, "sudah punya cowok. Alumni divisi piano yang tahun lalu mendapat beasiswa belajar di sekolah musik di Kiri. Namanya Taruho. Tuh, orangnya ada di sana," ia kemudian menunjuk ke salah satu bangku paling depan, ke arah seorang cowok berambut cokelat berkacamata yang sedang melambaikan tangan pada Shion yang masih ada di atas panggung. Shion tersenyum dan balas melambai padanya.

Sai mengeluh. "Ah, sayang sekali. Eh—kenapa menatapku seperti itu, Sakura?" tanyanya begitu menyadari Sakura tengah membelalakkan mata menatapnya.

"Tidak," jawab Sakura cepat sambil berpaling. Sudut bibirnya berkedut menahan senyum. "Tidak ada apa-apa."

Rupanya pementasan Shion adalah yang terakhir dari departemen tari –itu yang diumumkan oleh MC setelah tirai ditutup. Beberapa penonton, termasuk orang-orang penting yang bergerak di bidang tari, mulai beranjak meninggalkan ruangan pertunjukkan. Dengung obrolan bernada antusias ketika para tutor mulai mempromosikan siswa-siswinya yang tampil beberapa waktu yang lalu kepada orang-orang itu terdengar sementara rombongan itu bergerak ke arah pintu.

"Aku permisi dulu kalau kalian tidak keberatan," pamit Gaara tak lama setelah rombongan tadi menghilang di pintu, kemudian bergegas meninggalkan bangku. Tetapi ia tidak pergi ke arah pintu keluar di bagian belakang ruangan itu, melainkan menuruni undakan mendekati panggung. Sepertinya ia hendak pergi ke back stage untuk menemui seseorang.

"Ruangan ini akan dipakai oleh anak-anak departemen musik," beritahu Sai pada Sakura sementara para penonton baru mulai memasuki ruangan dan menempati bangku-bangku yang tadi ditinggalkan penonton sebelumnya. Dengungan obrolan mulai terdengar lagi. "Kau ingin melihat yang ini atau—" Getaran dari ponsel dalam sakunya menyelanya. Sai buru-buru mengeluarkan benda itu dan melihat nama kakeknya tertera di layar ponselnya. "Tunggu sebentar."

Sakura mengangguk dan Sai bergegas meninggalkan bangkunya. Sakura melihatnya menyelap-nyelip di antara para pengunjung yang baru datang dan menghilang di balik pintu masuk. Sai kembali setelah ruangan pertunjukkan nyaris penuh –barangkali hanya bangku Sai saja yang masih kosong. Cowok itu membungkuk di sebelah Sakura, memandangnya dengan sorot minta maaf.

"Kakek memintaku menemuinya sekarang," ujarnya dengan nada enggan. "Jadi er… aku harus pergi."

"Eh?" Sakura mengerjap. "Sekarang?"

Sai mengangguk. "Kau bisa ikut aku kalau kau mau," tawarnya tidak yakin.

"Uh…" Sakura tampak menimbang-nimbang. Ikut dengan Sai berarti mendapatkan kesempatan untuk mengenal kakeknya, tapi ia juga harus kehilangan kesempatan menikmati showcase yang hanya setahun sekali ini. Selain itu sekarang ini kakek Sai pastilah sedang sangat sibuk dengan urusan showcase sehingga kecil kemungkinan Sakura akan diacuhkan. "Tidak deh. Aku di sini saja." –Lagipula berkenalan dengan kakek Sai bisa lain kali, kan?

"Oke." Sai menghela napas. "Kuharap ini tidak akan lama. Nanti aku akan kembali."

Sakura mengangguk. "Pergilah."

Sai memberinya pandangan menyesal beberapa saat lagi sebelum kembali menegakkan diri dan meninggalkan ruangan –meninggalkan Sakura bersama seorang cowok berpotongan rambut gimbal yang baru saja datang dan menduduki bangku yang ditinggalkan Sai.

Duduk dikelilingi orang asing yang sama sekali tak ia kenal membuat Sakura tidak nyaman. Kendati pertunjukan musik kontemporer yang dimainkan oleh siswa-siswa senior KAA di atas panggung sangat menarik, gadis itu sulit menikmatinya. Berkali-kali ia menoleh ke belakang dengan gelisah, bertanya-tanya dalam hati kapan Sai akan kembali. Tetapi hingga tiga puluh menit berlalu, cowok itu tidak menampakkan batang hidungnya. Sampai akhirnya tiba pada sesi jeda untuk penampilan berikutnya, Sakura memutuskan untuk keluar.

Koridor di depan ruang pertunjukkan lebih lengang dibanding ketika baru datang tadi. Para siswa yang bertugas di depan pintu tengah berbincang-bincang dengan nada agak bosan ketika Sakura menghampiri mereka.

"Maaf," sapa Sakura agak ragu, "Um… Kalau boleh tahu, letak kantor kepala sekolah ada di sebelah mana?"

"Profesor Danzou Shimura?" salah satu dari mereka –seorang cowok berambut merah keriting—memandang Sakura dengan kedua alis terangkat tinggi.

"Eh… i-iya," sahut Sakura tidak yakin. Kalau tidak salah nama kakek Sai memang itu, kan?

Cowok itu tidak langsung menjawab. Ia memberi Sakura tatapan menilai, barangkali sedang mempertimbangkan apakah gadis canggung berambut merah muda di depannya itu cukup layak mendapatkan informasi itu. "Ruang Profesor ada di gedung utama," jawabnya akhirnya, masih menatap Sakura dengan curiga, "Lantai tiga. Kalau dari sini, lurus saja ke galeri, lalu di sana ada koridor. Ikuti saja, kemudian belok kiri. Dari sana kau bisa tahu yang mana gedung utama."

"Oke. Um… trims." Tanpa berlama-lama lagi, Sakura bergegas pergi ke arah yang ditunjukkan siswa tadi.

Langkahnya terhenti oleh Matsuri yang menyapanya ketika ia melewati geleri. Gadis Suna itu sudah tidak mengenakan kostumnya lagi, pun tidak mengenakan seragam KAA-nya, melainkan setelan blus dan rok asimetris berbahan ringan yang membuatnya terlihat lebih feminin. Matsuri tengah berdiri di dekat salah satu sculpture berbentuk aneh yang sedang dipamerkan. Senang melihat wajah yang dikenalnya, Sakura lantas menghampirinya.

"Sendirian saja?" tanya Matsuri.

"Tadinya bersama Sai," jawab Sakura sambil memandang berkeliling, berharap Sai bisa muncul kapan saja di sana, sebelum kembali berpaling pada Matsuri, meringis. "Tapi dia pergi ke tempat kakeknya. Jadi… di sinilah aku, sendirian seperti orang hilang. Kau?"

"Aku bersama Gaara," Matsuri menjawab dengan wajah sedikit bersemu. Tangannya melambai ke sudut galeri, di mana ada empat orang siswa berseragam KAA sedang duduk di belakang papan partitur, memainkan lagu klasik entah apa untuk menghibur pengunjung yang sedang melihat-lihat lukisan dan sculpture yang dipamerkan. Salah satu di antaranya, yang memainkan instrumen biola, adalah Gaara. "Kami baru saja akan pergi, tapi tiba-tiba tutornya memintanya bermain satu lagu untuk para tamu."

"Dia keren," komentar Sakura kagum. Ia tak mengerti musik klasik, tetapi menurutnya musik yang mereka mainkan sangat indah.

"Memang," timpal Matsuri sambil tersenyum. Ada nada bangga dalam suaranya.

"Dan tarian kalian di panggung tadi benar-benar hebat," puji Sakura, teringat pementasan tari yang disaksikannya tadi.

"Kau menonton?" Matsuri memandangnya dengan wajah berseri-seri. Sakura menjawabnya dengan anggukan antusias. "Yah, setelah kerja keras selama berbulan-bulan, itu memang setimpal. Dan kau tahu, Shion baru saja mendapatkan tawaran kontrak dengan professional dance company dari Kiri sekaligus beasiswa melanjutkan kuliah di sana!"

"Wow!" –Hebat sekali bagaimana tiga menit pementasan bisa memengaruhi masa depan seseorang seperti itu di showcase. Sakura mulai bisa melihat betapa pentingnya acara seperti ini bagi para siswa KAA.

"Yeah. Wow!" Matsuri menanggapi dengan tawa. Pandangannya sedikit menerawang. "Aku juga ingin berhasil seperti itu saat showcase-ku nanti. Shion benar-benar beruntung. Dia sampai menangis saking senangnya."

Suara tepuk tangan dari beberapa pengunjung mengalihkan perhatian kedua gadis itu. Rupanya musik yang dimainkan Gaara dan ketiga rekannya sudah selesai dan sekarang mereka membungkuk sopan pada para tamu. Setelah membereskan biolanya, cowok berambut merah itu bergegas menghampiri mereka sementara empat siswa lain menggantikan tempat kosong yang baru ditinggalkan, sudah siap dengan instrumen masing-masing.

"Kita pergi sekarang?" Gaara bertanya pada Matsuri setelah mengangguk sopan ke arah Sakura.

"Hm…" gadis itu mengangguk, lalu menoleh pada Sakura, "Kalau Sakura mau, kau bisa ikut kami," tawarnya baik hati.

Sakura mengerling Gaara. Cowok itu tidak menampakkan ekspresi apa pun atas tawaran Matsuri ini, tetapi Sakura menduga ia pastilah keberatan. Lagipula pergi bersama sepasang kekasih –Sakura tidak terlalu tahu mereka sepasang kekasih betulan atau hanya teman yang kebetulan keluar bersama seperti halnya dirinya dan Sai—pastilah sangat canggung. Sakura tidak mau menjadi kambing congek.

"Trims tawarannya," Sakura meringis, "Tapi aku harus mencari Sai."

"Oke deh kalau begitu. Sampai ketemu." Dan kedua orang itu pun berlalu dari sana, sekali lagi meninggalkan Sakura di tengah-tengah orang asing.

Sakura menghembuskan napas panjang. 'Baiklah, saatnya melanjutkan pencarian. Belok ke mana tadi?' Mengandalkan ingatan tentang petunjuk arah yang dikatakan cowok yang ditanyainya tadi, ia lantas berjalan ke arah koridor di sisi ruangan pameran. Belok kiri… ia kembali bertemu dengan sebuah koridor panjang dengan beberapa pintu yang mengarah entah ke ruangan apa, Sakura tidak begitu mengingat tempat itu.

Sampai akhirnya ia menemukannya: sebuah pintu ganda yang terbuat dari kayu eboni berpelitur, dengan ukiran di sisi-sisinya dan papan nama Ruang Direktur –kepala sekolah—tertempel di salah satu daunnya. Sakura menghela napas lega.

Tapi masalahnya sekarang pintu itu tertutup rapat dan Sakura sama sekali tak mendengar suara apa pun dari dalamnya –sekalipun ia telah menempelkan telinga di daun pintunya. Sakura mengedarkan pandangannya, berharap melihat seseorang yang bisa ditanyai. Namun nihil. Matanya hanya mendapati kosong di sepanjang koridor itu. Apa boleh buat. Sakura memutuskan untuk memberanikan diri mengetuk.

Tiga ketukan. "Permisi?" ucapnya takut-takut.

Tak ada jawaban.

Tiga ketukan lagi. "Haloo?"

Masih tak ada jawaban.

"Apa ada orang di dalam?"

Pintu itu masih bergeming bahkan sampai beberapa kali ketukan. Sakura terpaksa menarik kesimpulan bahwa ruangan itu tidak ada orang alias kosong. Sakura mengeluh keras, nyaris merosot di depan pintu itu. 'Sai, di mana sebenarnya kau?'

Sakura terlonjak kaget ketika ponselnya tiba-tiba bernyanyi nyaring –di koridor yang hening begini suara ponselnya terdengar sekali, padahal Sakura tidak memasang volume-nya sampai maksimal. Buru-buru ia merogoh tas selempangnya dan mendesah lega begitu melihat nama Sai di layar.

"Sai, kau di mana?" tukasnya langsung begitu menekan tombol jawab, bersamaan dengan Sai yang menanyakan pertanyaan yang sama di seberang sana.

"Aku mencarimu ke mana-mana, Sakura!" Sai terdengar panik. "Kukira kau marah karena kutinggal, lalu pulang tanpa menungguku lagi."

"Dasar bego! Aku juga mencarimu, tahu!" gerutu Sakura sebal. "Kau di mana?"

"Di galeri. Kau di mana?"

"Aku di depan ruang direktur. Sai—"

"Tunggu di sana. Aku akan menjemputmu sekarang. Jangan pergi ke mana-mana lagi."

"Eeh? Tapi—" perkataan Sakura lantas terhenti begitu mendengar sambungan telah terputus. Menggeram kesal, Sakura menutup ponselnya dan memasukkannya kembali ke dalam tas selempang. Sekarang ia harus menunggu sendirian di koridor kosong yang sunyi dan agak menyeramkan ini. Great.

Sembari menghela napas, Sakura melangkah menjauhi pintu ruang direktur untuk menyandarkan punggungnya yang sedikit lelah ke dinding di seberangnya –yang rupanya bukan dinding, melainkan pintu lain. Dan sialnya, pintu itu tidak tertutup dengan benar.

"GYAAA!" Alhasil, Sakura dengan sukses terjengkang ke belakang dan mendarat di lantai marmer yang dingin dengan bokongnya menyentuh lantai lebih dahulu. "Aow…" keluhnya menahan nyeri yang menjalar dari bagian belakang tubuhnya itu. Ia buru-buru membenahi roknya yang sedikit tersingkap saat terjatuh tadi. Untung saja tidak ada yang melihat.

Masih dalam posisi duduk, Sakura mengedarkan padangannya ke sekeliling ruangan di belakangnya. Lampunya masih menyala –sepertinya ada orang yang menggunakan ruangan itu sebelum Sakura datang dan lupa mematikan lampu—dan gadis itu terperangah melihat apa yang ada di depan matanya.

Ruangan itu memiliki atap tinggi yang melengkung, lengkap dengan lampu gantung. Jendela-jendela tinggi memenuhi salah satu sisi dinding yang menghadap ke halaman tengah kampus megah itu, memastikan ruangan itu mendapatkan pencahayaan sempurna pada siang hari. Dua buah kursi berlengan nyaman berpunggung tinggi ditempatkan di dekat jendela, di sebelah satu set rak kaca yang memajang beberapa tropi penghargaan di bidang musik. Dan yang menarik perhatian Sakura sejak tadi tak lain adalah sebuah grand pianoberwarna hitam yang diletakkan tepat di tengah-tengah ruangan. Instrumen itu terlihat sangat mengesankan di bawah siraman cahaya lampu yang berwarna putih. Berkilau, mewah dan elegan.

Sakura bergegas bangun. Rasa sakit akibat terjatuh tadi sudah lenyap sama sekali sementara gadis itu sibuk terpesona. Oke, ini memang bukan kali pertama Sakura melihat benda itu. Coffee shop di sebelah rumah Ino juga memiliki grand piano seperti ini, tetapi selama ini Sakura hanya memandangnya dari jauh, tidak berani mendekatinya. Dan tiba-tiba saja punya kesempatan untuk menyentuh alat musik mewah itu sekarang, Sakura tidak ingin menyia-nyiakannya. Ia ingin sekali memainkannya walaupun pada kenyataannya ia tidak terlalu bisa.

Disentuhnya bagian tepi benda itu dengan hati-hati, sebelum menyentuhkan telunjuknya pada salah satu tuts. Satu nada memenuhi ruangan itu. Suaranya terdengar enak di telinga. Dengan antusias, gadis itu kemudian duduk di bangkunya, menekan sekali lagi salah satu tutsnya sehingga ruangan itu kembali dipenuhi suara dentingan. Dan saat berikutnya satu melodi yang ia tahu mulai mengalun dalam tempo lambat, dimainkan dengan hanya satu jari.

Twinkle Twinkle Little Star.

Suara tepuk tangan dari arah pintu nyaris membuat Sakura terjatuh dari bangku saking terkejutnya. Dengan cepat ia menoleh dan melihat sosok cowok yang sedari tadi dicarinya sudah berdiri di ambang pintu.

"SAI!" Sakura berseru, "Dari mana saja kau?"

Sai mengangkat bahunya dengan santai. "Tadi kakek memintaku menemui beberapa orang," jawabnya, kemudian melangkah memasuki ambang pintu, "Di ruang pertemuan, bukan di kantornya," tambahnya ketika dilihatnya Sakura hendak membuka mulut untuk berbicara. Gadis itu memasang tampang cemberut, membuat Sai tertawa kecil. "Maaf, ya? Kau pasti bosan."

"Tidak juga," gerutu Sakura, mengetuk-ngetuk tuts piano dengan sebal.

Sai mengamati Sakura sejenak. "Aku tidak tahu kau bisa main piano juga. Kukira kau hanya bisa memainkan gitar."

Wajah Sakura bersemu merah. Sai pastilah mendengarkan saat ia bermain tadi. Permainan yang benar-benar payah. Mengingat Sai begitu paiwai dengan alat musik itu, itu sangat memalukan."Aku tidak bisa," gumamnya, "Hanya pernah belajar sedikit. Waktu masih sekolah dasar dulu, aku dan Ino sering menyelinap ke ruang musik untuk bermain-main dengan piano tua milik sekolah." Mengingat masa kecilnya bersama sahabat karibnya itu membuatnya tersenyum-senyum sendiri. "Gara-gara kami sering diam-diam membunyikan piano di sana, di sekolah sampai ada rumor hantu ruang musik segala. Ino bisa main lebih baik dari aku, jadi dia yang—"

Kata-kata Sakura kontan berhenti ketika ia mendongak dan mendapati ekspresi Sai yang seolah diliputi mendung. Pandangan matanya kosong.

"Sai," Sakura menyentuh lengan cowok itu dengan ragu. Sai terkesiap, seakan baru dibangunkan dari lamunannya. Sudut bibirnya berkedut, seperti mencoba tersenyum tapi tidak bisa. Tiba-tiba saja Sakura merasa tidak enak. Menyebut-nyebut soal Ino pastilah membangunkan kenangan tidak menyenangkan yang ingin dilupakan Sai. "Maafkan aku," ucap Sakura menyesal sembari menunduk. Telunjuknya kembali menekan tuts, seakan berharap suaranya dapat membuatnya merasa lebih baik.

"Aa." Sakura bisa mendengar Sai menghembuskan napas panjang sebelum kemudian bergerak ke sisinya dan duduk. Sakura bergeser untuk memberinya tempat lebih. Ia melihat jemari Sai terangkat ke atas tuts dan menekan beberapa nada. "Aku tidak ingin membicarakannya lagi," ujarnya pelan.

Sakura mengangguk. "Aku mengerti. Maafkan aku."

"Bagaimana denganmu?"

"Eh?" Sakura refleks mengangkat kepalanya dan menoleh memandang Sai, yang saat itu tengah menatap ke arahnya juga, menunggu jawabannya. Gadis itu kembali berpaling, sebelum menjawab pelan, "Aku berusaha tidak memikirkannya. Hei, bukankah kau mahir main piano?" tanyanya, jelas-jelas membelokkan pembicaraan dari topik sensitif itu.

"Ah," Sai tersenyum kecil, "Sama sekali tidak mahir. Aku pianis yang asal-asalan," ujarnya merendah.

Sakura memberinya tatapan tak percaya. "Baiklah. Tapi aku tetap ingin dengar permainan asal-asalanmu. Bisa mainkan lagu klasik untukku?"

"Kalau kau memaksa, baiklah." Sai kemudian membuka blazer-nya, meletakkannya di pangkuan Sakura yang segera mengambilnya dan menyampirkannya ke lengan. Ia lalu menggulung lengan kemejanya sampai siku dan mulai meregangkan jari-jemarinya yang panjang, sebelum menempatkannya di atas tuts-tuts piano. "Lihat ini." –dan detik berikutnya jemarinya sudah menari lincah, memainkan The Flight of The Bumblebee milik Rachmaninoff.

Tanpa sadar mulut Sakura sedikit terbuka, takjub melihat betapa cepatnya jari-jari Sai bergerak, membentuk nada-nada seperti dengungan lebah. "Bagaimana kau melakukan itu?" tuntutnya setelah Sai menganghiri melodi itu.

Cowok itu tidak menjawabnya, melainkan menyambung dengan melodi yang jauh lebih lembut, Beethoven Piano Sonata Pathetique. "Ini favorit kakekku. Dia sering menyuruhku memainkannya untuknya kalau dia ada di rumah."

Sakura tidak berkomentar apa-apa lagi setelahnya, terlarut menikmati alunan melodi indah yang dimainkan sahabatnya itu. Sampai di penghujung lagu, Sai kembali menyambungnya dengan melodi lain. Kali ini Sakura langsung mengenalinya sebagai musik tema salah satu film klasik yang pernah ditontonnya. Film yang diangkat dari novel pemberian Sasuke untuknya, "Love Story…"

"Kau tahu lagu ini?" Sai bertanya sedikit terkejut.

"Mm!" Sakura mengangguk. "Aku pernah menonton filmnya dulu, dan aku juga punya novelnya –diberi Sasuke."

"Diberi Sasuke," Sai mengulangi dengan senyum samar di wajahnya, "Aku tidak pernah tahu Sasuke pernah memberikan sesuatu padamu."

"Aku kan tidak harus mengumumkannya pada seluruh dunia!" sahut Sakura sambil tertawa kecil. "Sasuke memberikannya dulu, waktu dia mau pergi ke Oto."

"Aah…" Sai mengangguk-anggukkan kepalanya. "Sepertinya kau dan Sasuke punya banyak rahasia yang tidak kalian ceritakan padaku dan Naruto, eh?"

Sakura mendengus tertawa. "Rahasia? Yang benar saja! Itu bukan rahasia, hanya hal kecil yang tidak penting untuk dikatakan pada semua orang. Sama sekali bukan rahasia, Sai."

Sai menghentikan permainannya dan menoleh, menatap Sakura dengan tatapan lembut. "Bagimu mungkin tidak penting. Tapi Sasuke pasti akan senang jika kalian memiliki sesuatu yang hanya bisa kalian bagi berdua saja –tanpa aku dan Naruto terlibat di dalamnya."

Sakura mengkat alisnya tinggi. "Aku tidak mengerti maksudmu," tanggapnya, dan kata-kata yang meluncur dari mulut Sai sesaat kemudian membuatnya begitu terkejut sehingga tak bisa berkata apa-apa,

"Sasuke menyukaimu."

.

.

"AACHOO!"

Sasuke menggosok-gosok hidungnya yang mendadak terasa gatal. Telinganya pun berdenging aneh seakan ada seseorang yang baru saja berteriak tepat di telinganya, padahal sama sekali tidak. Ruangan itu sama sepinya seperti perpustakaan sekolah saat jam pelajaran sedang berlangsung. Yah, kecuali suara-suara samar orang yang sedang bercakap-cakap yang berasal dari ruang rekreasi di bawah.

Sekotak tisu terulur di depannya. Sasuke menarik selembar tisu lembut yang mencuat dari lubangnya yang berenda.

"Trims."

"Sama-sama," balas Hinata, mengembalikan kotak tisunya di tempatnya semula di atas meja, kemudian duduk di kursi berlengan nyaman di sisi sofa yang diduduki Sasuke. Mata lavendernya sejenak mengawasi Sasuke yang tengah menggosok-gosokkan tisu ke bawah hidungnya. "Flu?"

"Kuharap tidak," gumam Sasuke.

Saat itu seorang pelayan datang membawa sebuah nampan berisi dua cangkir porselen yang berisi teh hangat mengepul. Dengan hati-hati, ditaruhnya cangkir-cangkir itu di atas meja sebelum meminta diri, meninggalkan dua remaja itu sendirian di ruang duduk yang hangat itu.

Setelah usai makan malam beberapa waktu yang lalu, Hinata memang mengajak Sasuke ke sana, memisahkan diri dari para orang dewasa yang berkumpul di ruang rekreasi utama. Dari pada terkantuk-kantuk mendengarkan obrolan membosankan mereka tentang perusahaan, investasi dan segala tetek bengek lain yang Sasuke belum mengerti, ini lebih baik. Lagipula, di sana mereka bisa lebih leluasa mengobrol. Dan omong-omong tentang mengobrol, bukankah tadi siang Hinata bilang ada sesuatu yang ingin dibicarakan?

Namun sebelum Sasuke sempat membuka mulutnya untuk bertanya, adik perempuan Hanabi muncul dari arah tangga. Wajahnya yang cemberut masih belum berubah, justru sepertinya bertambah masam saja. Gadis itu lewat begitu saja di depan mereka sambil menggurutu dan menghentak-hentakkan kaki, sama sekali tak mengindahkan kakak perempuannya yang menegurnya. Hinata menatap punggung adiknya yang kemudian menghilang di koridor menuju kamar mereka dengan pandangan bersimpati.

"Kenapa dia?"

Pertanyaan Sasuke mengalihkan perhatian Hinata kembali padanya. Gadis itu menghela napas perlahan. "Ngambek," ujarnya sambil meringis kecil, "A-Ayah tidak mengizinkannya menonton showcase di KAA malam ini. P-Padahal Hanabi sudah menunggu-nunggu acara itu sejak lama. Tapi karena acara makan malam ini, jadi…" Hinata mengangkat bahunya, membiarkan kalimatnya menggantung.

"Pasti sangat menyebalkan," komentar Sasuke, karena itu juga tepatnya yang dirasakannya sekarang. "Sakura pergi ke sana malam ini," ujarnya seraya meraih cangkirnya di atas meja, menyesapnya sedikit, "Dengan Sai."

Hinata mengulas sebuah senyum samar. "Apa itu mengganggumu?"

"Tidak," sahut Sasuke setelah beberapa lama terdiam.

"Benarkah?"

Sasuke mengangkat pandangannya dari ukiran di sisi meja dan mendapati Hinata tersenyum-senyum penuh arti. Mata lavendernya berbinar-binar. "Apa maksud senyumanmu itu, Hinata?" tuntutnya, entah mengapa malah ikut nyengir.

"Tidak ada. A-Aku hanya penasaran," Hinata mengangkat bahunya sambil menahan kikik sampai kedua pipinya merona merah.

"Apa?"

"Um… tunggu sebentar." Gadis berambut panjang itu lalu berdiri dari kursinya dan beranjak menuju koridor tempat Hanabi menghilang tadi. Dan tak lama kemudian ia kembali dengan membawa sebuah notes kecil berwarna biru dengan sebatang pena terselip di ring-nya dan sebuah tape recorder.

"Buat apa itu?" tanya Sasuke penasaran ketika Hinata menaruh tape recorder-nya di atas meja.

Hinata tidak langsung menjawab, barangkali menikmati terlebih dahulu rasa penasaran teman masa kecilnya itu sebelum berkata riang, "Yang p-pertama, aku ingin mengonfirmasi sesuatu yang membuatku penasaran akhir-akhir ini –masalah pribadi, kupikir. Yang kedua, kuharap kau tidak keberatan aku mewawancaraimu untuk jurnal sekolah. Kau tahu, untuk artikel kepengurusan OSIS yang baru. Kami membutuhkan data-data untuk profilmu, foto dan sedikit curhatan –kalau kau bersedia."

"Apa aku akan dibayar?" refleks Sasuke bertanya –jenis pertanyaan yang bakal ditanyakan oleh Naruto. Tentu saja maksudnya bergurau.

Hinata tertawa kecil, tidak menghiraukan pertanyaan Sasuke. Sekarang ia tengah membuka-buka notes-nya dan mengeluarkan sesuatu dari salah satu lembarannya. Secarik foto, jika dilihat dari jenis kertasnya. Hinata menarik napas, menggenggam foto itu sambil menatap Sasuke agak lama. Lagi-lagi bibirnya menyunggingkan senyum yang membuat Sasuke semakin penasaran.

"Apa?" tuntut Sasuke. "Apa itu?"

"C-Ceritakan padaku tentang gadis yang kau beri novel itu, Sasuke," kata Hinata seraya mengulurkan foto itu pada Sasuke.

"Ap—" keterkejutan Sasuke tidak hanya karena kata-kata Hinata, tetapi juga apa yang dilihatnya di dalam foto yang diulurkan gadis itu padanya. Cowok itu tak bisa berkata-kata selama beberapa saat, memandangi gambar dirinya yang sedang berpelukan dengan seorang gadis berambut merah muda dengan mata terbelalak. Foto itu pastilah diambil beberapa saat sebelum pementasan drama dimulai, karena di dalam gambar itu, si gadis –Sakura—sedang mengenakan kostum Violetta-nya dan ia –walaupun tidak terlihat jelas dalam foto—sedang menangis. "Bagaimana—"

"Um… waktu itu aku tidak sengaja melihat kalian saat sedang mengambil foto untuk dokumentasi set backstage," jawab Hinata sambil meringis.

"Dan kau diam-diam mengambil foto kami?" Sasuke memandang gadis yang terlihat polos itu tak percaya. Ternyata Hinata tidak selugu yang dibayangkannya. Untuk ukuran wartawan amatir, ia cukup berani mengambil gambar-gambar semacam itu.

Wajah Hinata merona merah lagi. Ia mengangkat sebelah tangannya ke depan bibirnya. "Ups." Ia menatap Sasuke cemas. "A-apa kau marah?"

Masalahnya Sasuke tidak bisa tidak menyukai foto itu. Momen yang diambil sangat pas. Lengan Sakura yang memeluk pinggangnya sementara wajah gadis itu terbenam di bahunya. Juga lengannya sendiri yang merangkum tubuh gadis itu dengan pas. Melihat dirinya sendiri begitu dekat dengan Sakura cukup membuatnya berdebar-debar. Sasuke tak bisa menahan seringaiannya lagi.

"K-Kau menyukainya?" tebak Hinata, menarik kesimpulan dari tampang Sasuke.

"Aku menyukai—" kata-kata Sasuke mendadak terhenti. Ia berdeham dan mengatur wajahnya agar tampak biasa lagi sebelum melanjutkan, "—fotonya. Lumayan."

Hinata langsung berseri-seri. Tadinya ia ragu ingin memperlihatkan foto itu pada Sasuke. Dikiranya cowok itu bakal mengamuk karena Hinata dengan tidak sopan telah mencuri momen pribadi-nya dengan Sakura.

Selama beberapa saat ruangan itu hening. Sasuke kembali memandangi lembar foto di tangannya sementara Hinata hanya mengamatinya dengan penuh minat, memperhatikan setiap kilasan emosi yang terlintas di wajah cowok itu, juga sorot matanya yang lembut –tidak dingin seperti yang biasa ditampilkannya di depan semua orang. Menyenangkan sekali melihat Sasuke yang seperti itu, begitu menghangatkan hati.

"Sejak kapan?" tanya Hinata kemudian, membuat perhatian Sasuke teralih.

Sasuke berpikir sejenak sebelum menjawab dengan nada ragu, "Entahlah."

"A-Apakah tiba-tiba? Maksudku, t-terjadi begitu saja?"

"Entahlah…" guman Sasuke lagi sambil mengangkat bahunya.

Hinata memberinya senyum penuh arti lagi. "Kita berdua tahu arti novel itu, Sasuke. Kurasa k-kau tidak akan memberikannya pada seseorang jika dia tidak benar-benar berarti buatmu. Benar, kan?"

Cowok itu bergerak-gerak tidak nyaman. Meskipun ia dekat dengan Hinata, tetapi membicarakan Sakura dengannya sangat membuat canggung. Bagaimanapun ia dulu sempat memiliki perasaan khusus pada Hinata. Rasanya sangat aneh jika tiba-tiba membicarakan perasaannya terhadap gadis lain seperti ini. Maka untuk beberapa saat, ia hanya bisa terdiam. Tidak tahu harus menanggapi apa, kecuali satu hal, "Dari mana kau tahu aku memberikan novel itu padanya?"

"Oh, aku tahu dari sumber yang sangat terpercaya," ucap Hinata bangga.

"Naruto?" tebak Sasuke, sebelum ia ingat ia tidak pernah menyebut-nyebut soal novel pada Naruto maupun Sai. Seperti dugaannya, Hinata menjawab dengan gelengan kepala. Dan Sasuke memutuskan untuk tidak memperpanjangnya. Tidak ada pentingnya. Ia terdiam lagi.

Sikap Sasuke yang terus-terusan mengelak membuat Hinata berpikir cowok itu barangkali masih malu membicarakan soal itu dengannya. Namun gadis itu tidak kehabisan akal. Sebagai wartawan sekolah, ia sudah mempelajari beberapa trik bagaimana caranya mengorek informasi dari narasumber yang keras kepala.

"A-Aku menyukai Sakura," ujarnya kemudian dengan nada lembut, "M-Menurutku dia sangat menarik. Dia sangat pintar, penuh semangat, baik dan punya senyum yang sangat cantik. Aku sangat menyukai matanya. Hijau, mengingatkan pada padang rumput. Dan rambutnya, seperti bunga cherry blossom yang mekar di musim semi. Sangat sesuai dengan namanya. Bagaimana menurutmu?"

Sasuke mendengus. "Kau membicarakannya seakan dia cewek sempurna. Kau lupa menyebutkan tentang emosional, cerewet, sok tahu, keras kepala, kasar dan cengeng." –Tetapi ia tidak bisa membantah Sakura punya senyum yang cantik.

"Oh, e-entahlah," sahut Hinata, terkekeh kecil, "B-bukankah kekurangannya yang justru membuatnya menarik? Ku-kurasa kalau aku seorang cowok, barangkali aku akan menjadikannya pacarku."

Sasuke menaikkan sebelah alisnya, dan sebelum ia bisa menahan diri, kalimat itu sudah meluncur begitu saja dari bibirnya, "Kalau kau jadi cowok, kau akan berhadapan denganku." –Setelah menyadari apa yang baru saja dikatakannya, ia buru-buru menambahkan, "—dan Naruto, dan Sai juga. Dan itu juga kalau kau tidak merasa terintimidasi duluan oleh kepintarannya, seperti cowok-cowok bego di sekolah."

Hinata mengabaikan jawaban Sasuke yang terakhir. Pernyataan pertamanya sudah menjawab setengah rasa ingin tahunya. Sasuke memang protektif terhadap Sakura.

"Kalau seseorang benar-benar menyukainya, mereka tidak akan peduli soal itu, Sasuke," ujar Hinata dengan senyum lembut, "Dan selalu ada seseorang seperti mu yang diam-diam menaruh perhatian lebih padanya." Ia terdiam sejenak. Senyumnya sedikit memudar ketika ia mengalihkan pandangannya ke foto di tangan Sasuke. "Seperti saat kejadian dengan Kak Neji, memangnya kau peduli apakah Sakura lebih pintar darimu atau tidak saat kau memeluknya? Kukira kau tidak akan peduli. Benar, kan? Yang kau pikirkan saat itu pasti hanya dia."

"Naruto dan Sai akan melakukan hal yang sama seandainya mereka berada di posisiku," Sasuke kembali mencoba mengelak.

"T-Tetapi Naruto dan Sai tidak memberikan sesuatu yang berarti 'aku menyerahkan hatiku padamu' pada Sakura."

Sasuke terdiam, sama sekali tak bisa membantah itu.

"K-kecuali jika kau tidak memaksudkannya saat memberikan benda itu padanya. Kecuali kalau ia sudah kehilangan maknanya."

"Tidak," sahut Sasuke akhirnya. Tidak ada gunanya lagi mengelak. Toh, Hinata bisa membaca situasinya sejelas buku yang terbuka. "Aku memang memaksudkannya. Tapi…"

"Tapi?"

Sasuke kembali memandangi foto di tangannya. Ekspresinya muram. "Tapi aku hanya bisa berada di sampingnya sebagai teman. Kalau dia tahu, itu hanya akan melukai hatinya." Ia teringat insiden dengan Naruto beberapa bulan yang lalu, dan ia tidak ingin kejadian yang sama terulang lagi.

"Hei." Sasuke mengangkat wajahnya ketika ia merasakan tangan Hinata menyentuh lengannya, "Ingat kata-kata dalam buku itu? 'Love means never having to say you're sorry.'"

.

.

"Aku sudah tahu kok," ucap Sakura setelah beberapa lama ia terdiam, mengatasi keterkejutannya atas pernyataan Sai yang terang-terangan.

"Eh?" giliran Sai yang terkejut. "Maksudmu, kau sudah tahu kalau Sasuke menyukaimu?"

Sakura mengangguk, lalu menghela napas. "Aku tidak bodoh, Sai. Aku bisa merasakannya."

"Sebelum, atau sesudah kejadian dengan Neji?"

Sakura tampak berpikir sejenak. "Sebelum," jawabnya.

"God! Kenapa kau diam saja?" tanya Sai tak mengerti.

"Memangnya kau berharap aku melakukan apa? Melarang-larangnya?" Sakura terkekeh-kekeh. Hanya sebentar, sebelum kemudian cengirannya memudar. "Kau tahu situasinya tidak sesederhana itu, Sai. Aku memang menyayangi Sasuke, tetapi hanya sebatas teman. Dia membuatku nyaman dan sebagainya, tapi saat itu aku menyukai orang lain."

"Neji."

Ekspresi terluka melintas di wajah Sakura saat nama itu disebut. "Benar. Neji. Saat itu aku begitu menyukainya sehingga tidak ada tempat lagi dalam otakku untuk memikirkan cowok lain."

"Bagaimana dengan sekarang?" sambar Sai cepat, "Maksudku, kau dan Neji sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Sekarang kau bebas memikirkan cowok lain—termasuk Sasuke."

Sakura memberinya senyum lemah. "Aku tidak tahu, Sai." Hela napas berat. "Sasuke memang bersikap sangat baik padaku dan aku menghargainya. Kadang-kadang aku juga memikirkannya, apa yang telah dia lakukan untukku. Aku menyukai kehadirannya di dekatku, membuatku merasa aman. Aku suka saat dia memelukku, rasanya begitu hangat dan menenangkan. Kadang-kadang aku berpikir aku mungkin menyukainya," ia mengakui.

"Lalu apa yang membuatmu masih ragu?" tuntut Sai.

"Banyak hal," Sakura menjawab, "Sekarang ini aku masih berada dalam fase patah hati yang lumayan parah. Suasana hatiku masih tidak menentu dan aku tidak yakin pada perasaanku sendiri. Aku mudah tersentuh oleh siapa pun yang perhatian padaku, termasuk kau."

"Maksudmu, kau suka padaku?" tanya Sai kaget.

"Aku tidak bilang begitu," Sakura berkata gemas, "Aku hanya bilang, aku tersentuh dengan perhatianmu –Naruto juga. Dan Sasuke, lain lagi kasusnya. Entah karena aku tahu dia menyukaiku, atau karena aku masih merasa bersalah karena sudah bersikap tidak adil padanya, perasaanku padanya sedikit berbeda –kalau kau mengerti maksudku, Sai. Tapi seperti yang kukatakan tadi, aku tidak yakin."

Sai mengamati gadis yang duduk di sebelahnya selama beberapa saat. "Kau masih memikirkan Neji?"

Sakura menundukkan wajahnya. Ekspresi sakit itu terlintas lagi saat gadis itu mengangguk. "Bukan hal yang mudah melupakan seseorang yang pernah begitu kita sukai selama bertahun-tahun, Sai. Menyakitkan, memang. Tapi aku tidak bisa melakukan apa pun selain menunggu perasaan itu pupus dengan sendirinya."

"Jadi kau berpikir, kau tidak bisa membalas perasaan Sasuke sementara kau masih memikirkan Neji?"

Sekali lagi Sakura menganggukkan kepalanya. "Katakan saja misalnya aku mengalah pada emosiku dan berkencan dengan Sasuke. Mungkin pada awalnya akan terasa menyenangkan. Tapi bagaimana jika tiba-tiba saja aku menyadari bahwa aku tidak benar-benar menyukainya? Bahwa perasaanku padanya hanyalah pelampiasan atas sakit hatiku terhadap Neji? Pada akhirnya semua itu hanya akan menyakiti kami berdua. Aku pernah merasakannya sendiri, dan percayalah rasanya sangat sakit." Sakura menelan ludahnya dengan susah payah. Saat ia melanjutkan, suaranya terdengar parau, "Aku tidak ingin melukai Sasuke lagi, tidak akan adil baginya. Belum lagi hubungan kami yang pasti tidak akan sama lagi setelah itu."

Sai tampak memikirkan kata-kata Sakura selama beberapa saat, sebelum berkata pelan, "Kau benar." Ia menghela napas, memberi gadis di sampingnya itu senyum kecil. "Kukira sikap diammu karena kau tidak peduli pada Sasuke. Ternyata kau memikirkannya sampai sejauh itu."

Sakura membalas dengan seulas senyum lemah. "Selama aku masih ragu pada perasaanku sendiri, kurasa diam dan tidak memberi harapan adalah sikap yang tepat. Meskipun kadang-kadang aku merasa tidak enak pada Sasuke. Memikirkan aku mungkin sudah menyakiti hatinya membuatku merasa bersalah. Bagaimanapun, dia adalah seseorang yang berharga buatku."

"Aku mengerti," Sai mengangguk paham. "Tapi bagaimana jika suatu hari nanti kau benar-benar jatuh cinta padanya?" tanyanya penasaran, "Apa yang akan kau lakukan?"

"Ah, itu…" Sakura berpikir sejenak, lalu mengangkat bahunya sambil nyengir, "Entahlah. Aku belum pernah memikirkannya. Tapi kuharap aku melakukan hal yang benar –kalau itu benar-benar terjadi."

"Kalau itu benar-benar terjadi, beritahu aku," Sai memandangnya sungguh-sungguh.

Sakura tertawa. "Kau bicara seolah-olah suatu hari nanti aku pasti akan jatuh cinta pada Sasuke."

Sai mengangkat bahunya, berkata dengan nada ringan, "Oh, entahlah. Tidak ada yang bisa menebak apa yang akan terjadi di masa depan, Sakura. Siapa tahu, kan?"

'Yah, siapa yang tahu? Sekarang mungkin aku tidak memandang Sasuke sebagaimana Juliet memandang Romeo, tetapi tidak ada yang bisa menjamin perasaan itu tidak akan berubah,' Sakura membatin. Gadis itu lantas tersenyum. "Kau adalah orang pertama yang akan kuberitahu kalau itu sampai terjadi, Sai."

"Aku pegang kata-katamu, Sakura," kata Sai.

Mendadak suara berkeriuk yang cukup keras menyela mereka. Sakura refleks memegangi perutnya yang memang belum terisi sejak siang, wajahnya bersemu. "Ups!"

"Well," Sai berkata sambil menahan tawa, "Sepertinya ada yang kelaparan di sini. Kau belum makan malam?"

Sakura menggeleng. "Tadi tidak sempat."

"Aku juga belum," aku Sai sambil tersenyum, "Oke, sebelum aku mengantarmu pulang, bagaimana kalau kita makan malam dulu? Ada tempat yang bagus di dekat sini. Life music, dance, danau, pemandangan malam yang bagus –kau mungkin akan menyukainya."

"Kedengarannya asyik," sambut Sakura antusias tanpa berpikir panjang. Ia sudah sangat kelaparan sehingga tidak peduli ke tempat seperti apa Sai akan mengajaknya makan malam. Yang penting makanannya dulu.

.

.

"Sudah selesai," seru Hinata dengan senyum puas di wajahnya seraya mematikan tape recorder yang baru saja merekam wawancara singkatnya dengan Sasuke beberapa saat yang lalu. "Trims, Sasuke. Ini sangat membantu."

"Hn." Sasuke menghembuskan napas panjang, mengambil cangkir tehnya yang sudah dingin dan meminum isinya hingga tandas. Berbicara panjang lebar selama wawancara tadi membuat kerongkongannya terasa kering.

Sementara Hinata memutar sekali lagi hasil wawancaranya, Sasuke mengedarkan pandangannya berkeliling ruangan yang cukup luas itu. Sejenak tatapannya terhenti pada sebuah lukisan yang ditempatkan pada salah satu dinding. Ia mengenalinya sebagai lukisan pemberian ayahnya sebagai hadiah untuk Hiashi beberapa tahun yang lalu, dan ia masih mengingat betul kisah lucu di balik lukisan itu.

Pelukisnya memberi judul 'Masa Depan Cerah' untuk lukisan dengan dominasi warna gelap itu dan Sasuke ingat tampang kakak dan ibunya saat Fugaku memperlihatkan lukisan itu dengan bangga pada mereka sebelum dikirimkan. 'Masa Depan Suram' barangkali judul yang lebih tepat, Itachi berkomentar saat itu –yang tentu saja tidak didengar ayah mereka. Dan setelah mengenal Sai, Sasuke merasa sahabatnya itu bisa membuatkan lukisan yang jauh lebih baik dan sesuai dengan judul.

Perhatian Sasuke kemudian teralih saat mendengar Hinata memanggilnya.

"Bagaimana kabar Sakura sekarang?" gadis itu bertanya, "Aku belum sempat bertemu dengannya lagi sejak festival. Apa dia baik-baik saja?"

"Yeah. Dia baik-baik saja," sahut Sasuke sambil mengangkat bahu, "Terlalu baik-baik saja, malah. Dia sedang kegirangan karena nilai transkrip-nya nyaris sempurna."

Hinata tersenyum. "B-baguslah kalau begitu. Tadinya aku sempat khawatir kejadian dengan Kak Neji membuatnya terpuruk."

Sasuke tidak menjawab. Ia pun sempat berpikir seperti itu tadinya. Tetapi tampaknya Sakura bisa mengatasi situasinya dengan cukup baik sejauh ini. Setelah pernyataan cintanya pada Neji saat festival kemarin, agaknya membuat sebagian bebannya terangkat. Dan omong-omong tentang Neji, Sasuke belum melihatnya sejak tadi.

"Dari tadi Neji tidak kelihatan," kata Sasuke.

Hinata mendadak terlihat agak murung ketika menjawab, "Kak Neji sakit. Kemarin malam setelah pulang dari festival, mendadak kondisinya drop. Sekarang dia sedang istirahat di kamarnya."

"Oh," komentar Sasuke, tak bisa menahan nada dingin dalam suaranya yang rupanya disadari oleh Hinata.

"A-aku tahu Kak Neji sudah bersikap buruk pada Sakura akhir-akhir ini. Bisa dimengerti kalau kau marah padanya," ucap Hinata dengan nada yang terdengar nyaris sedih, "Tapi kuharap kau jangan terlalu menekannya, Sasuke. Dia sudah cukup tertekan dengan situasi yang dia alami akhir-akhir ini. Masalah dengan Sakura, ditambah beban pelajaran yang menumpuk. Kurasa sakitnya kali ini karena dia stres –kau tahu kan, kakakku bukan tipe yang suka curhat."

Masalahnya tidak mudah untuk memaafkan Neji setelah melihat dampak perbuatannya terhadap Sakura. "Terserah deh."

Panjang umur. Tak lama setelah itu, terdengar suara pintu dibuka dan ditutup dari arah koridor, dan Neji muncul. Cowok itu memang terlihat tidak sehat. Wajahnya pucat dan berantakan. Rambut panjangnya yang biasanya terkucir rapi kini dibiarkan tergerai. Tubuhnya tampak jauh lebih kurus di balik sweter gombrong dan training yang dikenakannya.

"Kakak!" serta merta Hinata melompat bangun dari duduknya dan menghambur ke arah Neji, "Kenapa keluar? Sudah merasa lebih baik, kah? Buburnya sudah dimakan? Sudah minum obat?" cecarnya.

"Sudah tidak apa-apa," gumam Neji, menahan tangan Hinata yang terulur hendak memeriksa suhu tubuhnya. "Hanya ingin mengambil minum –Ah, halo, Sasuke," sapanya saat ia melihat Sasuke.

Sasuke tidak membalasnya, hanya memandangnya dengan dahi dikerutkan.

"Kak Neji duduk saja di sini. Biar aku yang ambilkan." Gadis itu lantas menggiring kakak sepupunya yang hanya bisa pasrah untuk duduk di kursi berlengan yang ditempatinya beberapa saat yang lalu. Ia mengerling ragu ke arah Sasuke sebelum berbalik pergi.

Suasana menjadi sangat kaku begitu Hinata menghilang di tangga. Keduanya jelas masih belum melupakan situasi saat terakhir kali mereka bersinggungan yang tidak bisa dikatakan menyenangkan, terutama Sasuke. Meskipun tidak terang-terangan menunjukkan sikap bermusuhan, tetapi ekspresi masam yang terpasang di wajahnya menunjukkan bahwa ia masih menyalahkan Neji atas apa yang terjadi pada Sakura –Neji tidak bisa menyalahkannya, walaupun sebenarnya ia juga merasa tidak nyaman.

"Bagaimana sekolah?" Neji bertanya dalam usahanya memecah keheningan yang sangat tidak mengenakkan itu. "Kudengar dari Hinata, kau salah satu peraih nilai komulatif tertinggi."

Sasuke mengatupkan mulutnya rapat-rapat dan menggerutu tanpa memandang lawan bicaranya, "Hn."

"Tidak sulit untuk orang secerdas kau, eh?"

Kali ini Sasuke tidak menanggapi. Neji memperhatikannya mengeluarkan ponsel dari dalam saku dan mulai mengutak-atik benda itu, jelas-jelas mengabaikannya. Neji hanya bisa mengulum senyum maklum, kendati sedikit tersinggung.

"Bagaimana…" Neji menahan kata-katanya sejenak, agak ragu, "…bagaimana keadaan Sakura?"

"Seharusnya kau tanya sendiri padanya, kalau kau memang peduli," gumam Sasuke tak acuh.

Neji menghenyakkan punggungnya di sandaran kursi seraya menghela napas berat. "Aku tidak tahu apa aku bisa muncul di depannya lagi tanpa membuatnya terluka, Sasuke," ujarnya pelan, lalu mengulum senyum samar ke arah lawan bicaranya, "Dan aku juga tidak ingin mengambil resiko mendapatkan bogem mentah."

Sasuke mendengus. "Betul," komentarnya sinis. Ia mengalihkan pandangannya para Neji, sejenak bimbang, sebelum berkata enggan, "Sakura baik-baik saja. Dia tidak lagi sering menangis, kalau itu yang ingin kau dengar."

Neji mengangguk. "Itu sangat melegakan. Terimakasih."

"Untuk apa?"

"Untuk membuat Sakura merasa lebih baik setelah kekacauan yang kubuat. Dia membutuhkan orang sepertimu, yang sungguh-sungguh peduli padanya," jawab Neji.

.

.

Tempat itu ternyata sangat jauh dari bayangan Sakura sebelumnya. Tadinya ia mengira Sai akan mengajaknya ke sebuah restoran di alam terbuka –mungkin di pinggir danau—dengan meja-meja bertaplak linen putih lengkap dengan lilin, life music berupa dentingan piano yang indah, lantai dansa mungil tempat para pengunjung bisa berdansa, dan sebagainya yang mewakili pribadi Sai yang –menurutnya—romantis.

Ternyata tidak.

Tempat itu memang terletak di pinggir danau kecil tak jauh dari KAA, dan sejauh mengamatan Sakura, yang sempat terperangah beberapa saat beberapa detik setelah mereka sampai, sama sekali bukan restoran, melainkan lebih seperti tempat yang biasa digunakan anak-anak muda Konoha nongkrong. Life music yang dimaksudkan bukanlah musik-musik romantis yang dimainkan dengan piano dan semacamnya seperti yang ia bayangkan, melainkan berasal dari band yang memainkan musik yang berdentum-dentum di atas sebuah panggung. Sementara lantai dansa di depannya dipenuhi orang-orang muda yang menonton dengan riuh rendah –sembari berjoget pula.

Tapi entah bagaimana Sakura tidak bisa tidak menyukai tempat itu. Sakura yang terbiasa mendengarkan band-band sekolah –juga karena darah musisi dari ayahnya—segera tahu bahwa musik yang dimainkan bukan musik yang asal-asalan. Aransemennya sangat keren dan suara vokalisnya juga bisa mengimbangi musiknya dengan asyik. Mereka sudah seperti musisi yang sudah profesional, meskipun tampaknya usia mereka tidak lebih tua darinya dan Sai.

"Ini adalah tempat anak-anak KAA sering berkumpul," jelas Sai sementara Sakura memandang antusias ke arah panggung. "Kadang-kadang menjadi ajang pamer –biasalah."

Itu menjelaskan semuanya. "Kalau pamernya sekeren itu sih, tidak apa-apa," seru Sakura keras, mengatasi kebisingan di sekeliling mereka.

Sai kemudian membimbingnya menyelap-nyelip di kerumunan orang menuju tangga yang mengarah ke café di lantai dua. Tempat itu begitu penuh sampai-sampai Sakura harus berpegangan pada lengan Sai supaya tidak terpisah.

Suasana café-nya cukup tenang jika dibandingkan dengan keriuhan di bawah. Pengunjungnya pun tidak begitu ramai –barangkali karena saat itu sudah lewat jam makan malam. Dengan penerangan yang diatur tidak terlalu terang, meja-meja mungil yang dilengkapi dengan lilin, dan jendela besar di sepanjang dinding yang menampilkan pemandangan langsung ke arah danau yang berkilauan memantulkan cahaya bulan dan lampu-lampu hias, tempat itu sebetulnya bisa menjadi tempat kencan yang romantis. Belum lagi musik yang diputar dari pengeras suara juga sangat mendukung –entah mengapa keriuhan di bawah tidak begitu terdengar.

Setelah duduk dan memesan makanan, keduanya pun terlibat obrolan ringan tentang pertunjukkan showcase yang baru saja mereka saksikan beberapa waktu yang lalu, juga tentang sekolah dan teman-teman mereka. Sesekali disela oleh beberapa kenalan Sai dari sekolah lamanya yang menyapa –termasuk seorang cowok yang luar biasa tampan seperti manekin berjalan, yang entah mengapa memandang Sakura dengan tidak suka ketika ia mendatangi meja mereka, dan sebaliknya, memberi Sai tatapan memuja.

"Astaga…" gumam Sakura begitu cowok itu pergi, membelalak tak percaya pada punggungnya.

"Dia dari departemen tari, pernah memintaku melukisnya sekali saat aku masih di KAA, half naked," jelas Sai santai seraya mengangkat gelas airnya ke bibir, menenggak isinya sedikit.

"Lalu kau melukisnya?" tanya Sakura. Setengah geli, setengah penasaran.

Sai meletakkan gelasnya kembali ke atas meja, mengangkat bahu. "Yeah. Karena waktu itu aku belum mengerti. Kakakku menertawaiku habis-habisan gara-gara itu."

"Oh," Sakura nyengir, membayangkan keluguan Sai saat cowok itu berusaha memikatnya. Clueless. "Romantis sekali."

Sai meringis. "Selalu ada orang seperti itu," komentarnya, seakan ditaksir oleh seorang cowok bukan hal aneh.

Tertawa kecil, Sakura mengalihkan pandangannya ke arah jendela. Sejenak ia memandangi permukaan danau yang berkilauan, sebelum perhatiannya tertuju pada dek di bawah sana. Tempat beberapa muda-mudi tampak sedang bercengkerama mesra, mengobrol sambil berpegangan tangan. Berkencan di bawah siraman cahaya bulan, benar-benar romantis. Mau tak mau perasaan iri menyusupi hati Sakura menyaksikan itu semua. Dan ia mulai membayangkan dirinya sendiri di sana, di dalam rengkuhan lengan seorang cowok berwajah samar-samar, menikmati keheningan yang nyaman bersama-sama.

Alunan Pretty Boy milik M2M terdengar lamat-lamat dari pengeras suara. Sakura menyangga dagunya dengan sebelah tangan, mengulas senyum menerawang ke arah danau. Gadis itu sama sekali tak menyadari ketika Sai diam-diam mengabadikan momen itu.

Malam itu berlangsung sangat menyenangkan. Seusai makan malam –yang benar-benar enak—mereka menyempatkan diri sejenak menonton pertunjukkan musik di bawah. Bahkan Sai mengajaknya berdansa ketika band mulai memainkan lagu berirama salsa. Bertekad untuk melewatkan waktu dengan bersenang-senang, Sakura menerima tawaran itu, meskipun ia sedikit gugup mengingat ia tidak begitu mahir dalam hal ini dan di sekeliling mereka pasangan-pasangan berdansa begitu lincahnya. Sai yang memang pernah belajar dansa di sekolah lamanya, berbaik hati membimbing gadis itu langkah demi langkah, yang selalu berakhir dengan Sakura menginjak kakinya.

"Kakimu tidak apa-apa?" tanya Sakura ketika mereka sudah berada di beranda rumah nomor dua-delapan Blossoms Street. Mata gadis itu memandang khawatir ke kaki Sai yang sengaja turun mengantarnya sampai ke depan pintu.

"Tidak apa-apa," sahut Sai enteng, "Paling hanya bengkak."

Wajah Sakura merona merah. "Harusnya tadi aku tidak menerima tawaranmu berdansa. Aku memang payah jika berhubungan dengan dance."

"Tapi kau berdansa dengan Neji saat pementasan," kata Sai.

"Itu kan berbeda," Sakura mengerucutkan bibirnya, "Aku bisa sedikit kalau waltz. Salsa? Ya, ampun… kau seharusnya mengajak Ino! Dia—" Sakura buru-buru menutup mulutnya begitu sadar apa yang baru ia katakan. "Maaf…" gumamnya, merasa bersalah. "Aku keceplosan."

Tapi Sai tidak terlihat marah. Ia malah tersenyum. "Lain kali kau harus mempelajari yang ini. Setelah itu kita bisa dansa lagi," ujarnya, seolah ia tidak pernah mendengar nama mantan kekasihnya disebut.

"Um… oke." Sakura menyelipkan anak rambut ke belakang telinganya, nyengir.

"Kalau begitu sampai jumpa besok. Tidurlah yang nyenyak," ucap Sai seraya mengulurkan tangannya, menepuk pelan puncak kepala Sakura. "Selamat malam."

Sakura mengangguk. "Makasih untuk malam ini, Sai."

Setelah memastikan Sakura sudah masuk ke dalam rumahnya dengan aman –dan mengucapkan maaf pada Azami karena mengantar putrinya pulang terlalu larut—Sai kembali ke mobilnya. Cowok itu tidak langsung bergerak pulang. Sejenak ia duduk di dalam mobilnya, mengawasi ketika lampu kamar Sakura menyala dan bayangan gadis itu muncul di sana sebelum kemudian menghilang lagi. Sebuah getaran kecil yang berasal dari saku blazer-nya mengalihkan perhatiannya.

Rupanya ada pesan yang masuk ke ponselnya. Dari Sasuke. Dan apa yang dilihatnya dari isi pesan singkat itu membuatnya menyeringai lebar. Hanya ada satu kata yang ditulis dalam huruf balok: "WHATEVER!"

.

.

Sasuke tak bisa menahan dirinya untuk membuka ponsel canggihnya entah untuk yang keberapa kali semenjak pesan cari-cari perkara dari Sai masuk. Saat itu ia –dan Itachi dan Hana—sudah meninggalkan kediaman Hyuuga dan ia tengah duduk di bangku depan mobil sementara kakaknya pergi untuk mengantar Hana sekaligus menjemput Rufus.

Di sana, di layar ponselnya, segera saja terpampang sederetan foto yang baru dikirimkan Sai. Sebagian besar menampilkan dirinya sendiri bersama seorang gadis berambut merah muda –Siapa lagi kalau bukan Sakura? Mereka berfoto berdua, nyengir sok imut ke arah kamera dengan berbagai pose dan jika dilihat dari latarnya, sepertinya mereka sedang berada di restoran atau semacamnya. Lagaknya sudah seperti pasangan kekasih saja, sungut Sasuke dalam hati.

Sampai ia berhenti pada gambar terakhir –dan satu-satunya gambar yang diberi pesan oleh pengirimnya. Dan itu juga satu-satunya foto yang mungkin diambil tanpa sepengetahuan objeknya sehingga tampak alami.

Itu adalah gambar close up Sakura. Gadis itu tidak sedang memandang ke arah kamera, melainkan ke arah lain. Bibirnya membentuk seulas senyum tipis sementara matanya menerawang jauh. Cahaya lembut yang entah berasal dari mana tampak berpendar di kulit dan rambutnya yang terurai ke bahu, memantul di bola matanya yang bening sehingga tampak berkilauan seperti sepasang permata emerald. Sakura benar-benar terlihat cantik di sana.

Namun pesan yang tertera di sana benar-benar merusak mood-nya.

'Kenangan tentang malam menyenangkan yang kulewatkan bersama gadis manis ini kutitipkan padamu. Dia sangat cantik malam ini. Envy me, Sasuke… *smirk*'

Kurang ajar.

Namun matanya dengan bandel tetap terpacang pada gambar yang terpampang manis di layar ponselnya. Setidaknya sampai suara pintu mobil yang dibuka membuat perhatiannya –dengan enggan—teralih. Rufus melompat ke bangku belakang dan menyalak menyapanya.

"Hei, Ruf," sapa Sasuke, mengulurkan tangan ke belakang untuk membelai anjingnya, "Bersenang-senang dengan Kiba, eh?"

Rufus menyalak lagi sambil mengibaskan ekornya riang.

"Pengkhianat."

"Siapa yang pengkhianat?" tanya Itachi ketika ia masuk dan menempati tempatnya semula di belakang roda kemudi. "Suasana hatimu sedang tidak baik, ya?"

"Bukan urusanmu," gerutu Sasuke.

Itachi yang sedang memasang seatbelt-nya, memandang adiknya dengan penasaran, kemudian matanya menangkap sesuatu dalam genggaman Sasuke. Tanpa peringatan, ia merebut ponsel itu dari tangan Sasuke yang segera memprotes dan berusaha merebut kembali miliknya. Itachi dengan cepat menjauhkan benda itu dari jangkauan tangan adiknya.

"KAK—"

"Hee… Sakura, ya?" Itachi menyeringai melihat gambar gadis yang dikenalnya di sana, "Manis juga."

Rona merah menjalar di wajah Sasuke yang pucat. "Kak, kembalikan!"

Itachi mengabaikan protes adiknya. Ia telah membaca pesan yang ada di sana dan mulai tertawa. "Sai, ya? Boleh juga dia… Ouh, adikku cemburu!"

"YEAH! WHATEVER! KEMBALIKAN ITU SEKARANG!" raung Sasuke.

Tampaknya besok akan ada seseorang yang dapat masalah.

.

.

Yeah. Memangnya Sai bakal peduli?

Ha ha…

.

.

TBC…

.

.

Whoozah! Akhirnya kelar juga chapter ini, un! Capek un! Mudah-mudahan gak mengecewakan –karena aku ngerasa nurun banget di chapter ini. Gajeeee… ya, sudahlah—Sekarang waktunya parade alesan kenapa adpetannya telat *banget*, termasuk fic-fic yang lain: (1) Sibuk. Alesan klasik. Ngerjain revisi skripsweet, ngejer dosen, nyiapin buat wisuda, dsb. (2) Gak tau kenapa, sejak TA beres, sense nulisku seperti lenyap entah kemana. Setiap ngebuka word, bukannya ngetik sesuatu malah banyak bengongnya. Nulis satu paragraf aja susah banget. (3) Terdistraksi oleh serial Korea 'My Girlfirend is a Gumiho/My Girlfriend is a Nine Tailed Fox'. Habis ceritanya seru sih, udah nonton satu episode gak bisa berhenti sampe satu keping dvd selesai diputer semua. Apalagi banyak cameo dari serial 'He's Beautiful' (UEE, Park Shin Hye dan si Jeremy) dan chemistry Dae Woong n Mi Ho bikin geregetan. Jarang-jarang ada drama Korea romance yang bisa kutonton tanpa pingin ngebejek-bejek karakter cewek utamanya, un. XD

Gimana tanggepannya tentang chapter ini? Monoton? Kepanjangan? Terlalu banyak curhat? O.o

Btw, karena sudah hampir mendekati ending, saya kepingin minta pendapat. Enaknya ultah Saku yang ke-17 diceritain tak, ya? Atau dijadiin hint aja buat di edisi liburannya –pas ultah Sasuke? Atau yang diceritain pas ultah ke-18 aja, waktu dia nerima hadiah lukisan dari Sai? Atau enggak dua-duanya? O.o Aku mah pinginnya gak diceritain (atau seenggaknya satu aja), biar chapter depan bisa timeskip ke acara wisuda angkatannya Neji dkk n prom. Habis itu bisa langsung ke edisi liburan deh! Ketemu Akatsuki dkk… Abis itu epilog deh, terus tamat deh… Hoho… *Ini mah dasar authornya aja yang males, pingin cepet-cepet namatin serial ini. :p*

Oke deh, segitu aja. Saya lupa tadi mau ngomong apa lagi di AN. Ya sudahlah… -_-a

Terakhir, terimakasih buat yang sudah membaca dan mengapresiasi serial panjang ini sampe sekarang. Alhamdulillah… ^^