Usia tujuh belas barangkali merupakan usia yang sakral bagi sebagian orang. Usia di mana kau sudah resmi melepas status sebagai bocah ingusan dan mulai menikmati status baru sebagai orang dewasa –atau setidaknya, mulai dewasa. Banyak hal baru yang kau dapatkan saat menginjak usia itu. Mendapatkan kartu identitas pribadimu sendiri dan bukannya sekedar kartu pelajar dengan foto culun, surat izin mengemudi milikmu sendiri sehingga kau tidak perlu was-was bakal kena tilang setiap kali membawa kabur mobil orangtuamu. Yah, hal-hal semacam itulah…

Ah, dan biasanya pada hari yang penting itu, semua orang akan memperlakukanmu secara istimewa. Sweet seventeen hanya terjadi satu kali dalam seumur hidup, kan?

Dan Sakura Haruno adalah satu dari sekian banyak orang yang beranggapan demikian. Setelah masa-masa berat yang telah dilewatinya selama bulan-bulan sebelumnya, rasanya ia sudah tidak sabar lagi menanti hari istimewa itu. Awal musim semi tahun itu, ketika udara mulai menghangat dan kuncup-kuncup baru mulai bermunculan, ia sudah siap menyongsong hari-hari baru di usianya yang ketujuh belas tahun.

.

.

Alunan musik beat masih terdengar dari balik sebuah pintu berlabelkan Sakura's Room di rumah nomor dua delapan pagi itu. Sesekali suara seorang gadis terdengar ikut mendendangkan lirik lagu milik salah satu boyband favorit yang sedang diputar. Tak perlu menjadi seorang jenius untuk melihat bahwa suasana gadis manis pemilik kamar itu sedang sangat riang. Luar biasa riang, malah. Lihat saja wajahnya yang seperti tak bisa berhenti nyengir itu.

Maklum saja, karena hari itu adalah tanggal dua puluh delapan bulan ketiga, bertepatan dengan hari di mana ia menghirup udara untuk pertama kalinya di dunia tujuh belas tahun yang lalu. Sweet seventeen.

Kini gadis yang tengah berulangtahun itu meletakkan sisir yang sedari tadi digunakannya untuk merapikan rambutnya ke atas meja dan tersenyum puas pada bayangan dirinya sendiri yang sudah berdandan rapi di cermin rias. Sekarang ia sudah siap menjalankan aktivitasnya seperti biasa –juga sudah tak sabar menunggu kejutan apa pun yang mungkin akan diterimanya nanti.

Sudah menjadi semacam tradisi dalam keluarganya, setiap ada anggota keluarga yang berulang tahun akan dijadikan semacam tokoh utama selama seharian penuh, di mana anggota keluarga yang lain akan memenuhi apa pun keinginan sang tokoh utama itu. Seperti ketika Himeko Haruno, mendiang kakak perempuan Sakura, berulang tahun yang ketujuh belas.

Hari itu semua anggota keluarga –termasuk para pegawai di restoran dan Yamato yang saat itu adalah pacarnya—berkumpul untuknya. Saat itu restoran diliburkan dan Hiroyuki mengundang semuanya untuk piknik bersama dan melewatkan waktu beramai-ramai seharian. Benar-benar menyenangkan, tepat seperti yang diinginkan Hime di mana semua orang-orang yang disayanginya berkumpul. Acara kumpul-kumpul terakhir sebelum ia menghembuskan napas terakhir beberapa bulan kemudian karena sakit.

Teringat hal itu membuat senyum Sakura sedikit memudar. Kakak dan ayahnya sudah tidak ada lagi sekarang. Yamato yang sudah seperti kakak laki-laki baginya juga tidak lagi tinggal di Konoha. Mendadak ia merasa agak kesepian.

Namun cepat-cepat ditepisnya pemikiran itu dan segera menggantinya dengan bayangan-bayangan menyenangkan yang lain. Toh ia masih memiliki ibu dan paman yang pasti tidak akan melewatkan hari istimewanya ini. Belum lagi sahabat-sahabatnya…

Tiba-tiba saja harapannya melambung tinggi. Hari ini pasti akan sangat menyenangkan. Aku bisa merasakannya…

Suara Azami yang memanggilnya dari lantai bawah segera membuyarkan lamunan Sakura. Gadis itu kemudian berpaling dari cermin seraya menyerukan jawaban, menyambar ranselnya yang telah siap di atas tempat tidurnya, lalu bergegas turun.

Seperti yang sudah diduganya, ibunya menyambutnya dengan sarapan istimewa yang sudah terhidang di meja makan –kue panekuk dengan potongan buah stroberi dan banyak sirup maple, lengkap dengan segelas sari jeruk segar yang baru diperas.

Sakura bergegas menghampirinya sambil memasang senyum cerah. "Wow, kelihatannya sangat enak," ucapnya seraya melempar tasnya ke salah satu bangku kosong yang mengitari meja makan.

Azami tersenyum keibuan. "Tentu saja, Sayang. Ibu sengaja buat kesukaanmu." Ia lalu mencondongkan tubuhnya, meraih Sakura ke dalam rengkuhan tangannya dan mencium kedua pipi serta dahinya dengan penuh sayang. "Selamat hari jadi, Sakura," ucapnya setelah menarik diri. Jemarinya mengusap-usap sebagian kecil pipi putrinya yang tak sengaja terkena noda lipstiknya.

"Terimakasih, Ibu…" sahut Sakura berseri-seri, kemudian mendudukkan diri di bangku. Ibunya duduk di bangku yang lain, menarik secangkir teh untuk dirinya sendiri dan menyesapnya perlahan sementara mengawasi putrinya yang mulai menekuni sarapannya dengan gembira.

Azami tersenyum seraya meletakkan cangkirnya kembali di atas meja. "Waktu cepat sekali berlalu, ya? Sama sekali tidak terasa…" ujarnya sedikit menerawang, "Rasanya baru kemarin Ibu melahirkanmu, melihatmu merangkak, belajar berjalan… sekarang tiba-tiba saja bayi kecil Ibu sudah tumbuh menjadi seorang gadis."

Sakura mengunyah makanannya dan menelannya sebelum menyahut sambil nyengir, "Sepertinya aku pernah mendengar Ibu berkata seperti itu –Tunggu dulu…" Sakura meletakkan satu jarinya di dagu, berpura-pura berpikir, "Ah! Waktu kakak berulangtahun yang ketujuh belas, Ibu juga bilang begitu, kan?"

Azami tertawa, tidak tampak terkejut. "Oh, ya?"

"Dan Ibu juga sering bilang begitu setiap aku bercerita tentang cowok-cowok," kata Sakura, mengerucutkan bibirnya berpura merajuk. "Ibu tidak kreatif, ah," lanjutnya sebelum kemudian nyengir lagi dan kembali mengangkat potongan lain sarapannya ke mulut.

Azami hanya terkekeh-kekeh mendengar perkataan putrinya itu. Ia kembali menyesap tehnya. "Nah, Sakura…" ujar Azami selang beberapa saat, "Apa kau menginginkan sesuatu untuk hari hadiah ulangtahunmu, hm?"

Senyum di wajah gadis bermata hijau itu melebar. Sepertinya perannya sebagai Tokoh Utama di hari istimewanya sudah dimulai, meskipun sebenarnya ia belum benar-benar memikirkan apa yang ia sangat inginkan untuk ulangtahunnya. Sakura lantas menelan makanannya, meletakkan garpu dan pisaunya di atas piring, kemudian menyeruput jus jeruknya sementara matanya mulai menerawang, menimbang-nimbang.

Sebenarnya ada beberapa hal yang menjadi pertimbangannya, sebuah barang, atau hal lain. Aturannya adalah, satu orang akan memberikan satu untukmu. Saat masih ada mendiang ayah dan kakaknya, Sakura bisa mendapatkan tiga jenis hadiah. Tetapi sekarang hanya tinggal ia dan ibunya. Mau tak mau, ia hanya mendapatkan satu saja –dan ia tidak ingin terlalu memberatkan ibunya, mengingat kondisi keuangan keluarganya juga belum terlalu stabil.

Masalahnya… apa?

Melihat putrinya yang tampak bingung untuk memutuskan, Azami kemudian membuat penawaran, "Bagaimana kalau Ibu memberimu mentahnya saja, hm? Kau bisa memikirkan apa yang kau inginkan sambil jalan. Bagaimana?"

"Ung…" Sakura mempertimbangkan, masih ragu –apakah yang ia inginkan memang sebuah barang.

"Atau… kau ingin ibu membuatkan sebuah pesta ulangtahun untukmu?"

"Eh…" Sakura meringis tidak yakin.

Terakhir kali orangtuanya membuatkan pesta ulangtahun untuknya adalah saat usianya sepuluh tahun –sudah lama sekali. Dan setelah tahun itu mereka tidak pernah menyelenggarakan pesta lagi, lebih memilih mengadakan kumpul keluarga biasa dan makan malam bersama –tanpa balon, permainan konyol maupun kertas hias yang memenuhi ruangan. Kadang mengundang beberapa teman –biasanya Ino—tapi jelas bukan pesta. Memikirkan dirinya menjadi pusat perhatian di sebuah pesta, tidak peduli itu pesta ulangtahunnya sendiri, membuatnya gugup.

Akhirnya Sakura menggeleng pelan. "Kurasa acara makan malam biasa saja, Bu. Dengan Paman Kakashi."

Azami tersenyum, lalu mengangguk. "Baiklah. Kalau begitu akhir pekan ini kita akan makan malam keluarga. Kita akan mengundang dokter Rin juga. Kau mau?"

"Tentu saja," sahut Sakura berseri-seri. Sudah lama sekali ia ingin mengobrol banyak dengan calon bibinya itu. Sejak ia tahu Rin memintanya menjadi pendamping pengantinnya saat pernikahannya nanti, Sakura belum sekalipun bicara dengannya lagi. "Sekalian aku ingin mendengar detail rencana pernikahan mereka. Aku juga ingin tahu tentang gaun pendamping pengantinku!"

"Dan kau juga bisa mengundang pacar dan teman-temanmu," tambah Azami, dengan sukses membuat putrinya mendengking,

"Ibu, aku tidak punya pacar!" protesnya dengan wajah memerah.

Azami membuat ekspresi terkejut di wajahnya. Entah sungguhan, atau hanya berpura-pura untuk menggoda putrinya. "Lho? Bukannya kau sering keluar bersama Sai akhir-akhir ini, Sakura?"

"Kami hanya jalan-jalan biasa, tidak pacaran," Sakura menyahut cepat.

"Sayang sekali… Ibu sangat menyukai Sai. Anaknya manis dan sopan sekali. Bagaimana dengan Naruto? Dia cowok yang menyenangkan dan sangat lucu—"

"Kalau begitu Ibu saja yang pacaran dengannya," sela Sakura cemberut, menyambar kembali alat makannya, "Kami cuma teman –sahabat—tidak lebih dari itu. Tidak juga dengan Sasuke," tambahnya cepat sebelum Azami sempat bicara apa pun lagi. "Aku tahu Ibu mau ngomong apa tentang Sasuke. Ibu mau bilang dia cakep, kan?"

Ibunya tertawa renyah. "Yah… apa pun itu, kau bisa mengundang mereka juga kalau kau mau, Nak."

Tentu saja ia akan mengundang ketiga sahabat baiknya itu, pikir Sakura sambil memasukkan potongan lain sarapannya ke mulut. Dan Ino juga, kalau sahabatnya itu mau mengenyampingkan egonya untuk mau duduk satu meja dengan Sai –sekedar informasi, hubungan kedua mantan kekasih itu tidak begitu baik sejak mereka putus. Mereka tidak saling bicara dan bersikap seolah-olah tidak menyadari kehadiran satu sama lain saat berada dalam satu ruangan, walaupun Sakura cukup yakin mereka sebenarnya masih saling memikirkan. Yah, gadis itu hanya bisa berharap situasi yang membuat canggung di antara kedua teman baiknya itu tidak bertahan terlalu lama.

Telepon dari ruang keluarga tiba-tiba berdering. Azami segera meletakkan cangkir teh yang sedang disesapnya dan beranjak ke ruang keluarga sementara Sakura melanjutkan sarapannya. Tak lama kemudian suara ibunya yang antusias terdengar dan saat berikutnya wanita itu kembali ke ruang makan sambil membawa gagang telepon di tangannya.

"Yamato," beritahu Azami seraya mengangsurkan benda itu pada putrinya.

Sakura memekik gembira. Cepat-cepat ia menenggak jus jeruknya sebelum meraih gagang telepon. "Halo?" sapanya semangat.

"Happy birthday to you… Happy birthday to you…" suara pria yang sudah dianggapnya sebagai kakak sendiri terdengar dari seberang sambungan, menyanyikan lagu ulangtahun untuknya. Sakura mengikik tertahan mendengarnya. "Happy birthday, Dear Sakura… Happy birthday to you… Selamat hari jadi, adikku sayang…"

"Aaa… Makasih, kakakku sayang…" balas Sakura berseri-seri. "Kangennya…"

Yamato tertawa. "Sama di sini. Bagaimana kabarmu, hm? Sudah lama tidak mengobrol, ya?"

"Aku baik. Kau bagaimana? Iyaa… Kau tega sekali tidak pernah meneleponku lagi!" Sakura sedikit merajuk.

"Maaf, maaf… Yang penting kan sekarang aku sudah menelepon. Senang sekali bisa mendengar suaramu lagi, Sakura."

Sakura nyengir. "Haah… pasti gara-gara kau keasyikan di Kiri. Banyak cewek cantiknya kan di sana? Ngaku saja!"

Yamato terkekeh-kekeh di seberang. "Bukannya begitu. Kelasku lumayan padat di sini dan aku juga harus kerja setelah jam kuliah. Tapi yah… cewek-cewek di sini memang cantik-cantik. Apa lagi yang di dekat pantai," tambahnya dengan nada bergurau.

"Huu… dasar laki-laki!" Sakura mengikik. "Sekarang kau ada di mana? Kenapa ramai sekali di belakangmu?" –dari seberang memang terdengar bising dengan suara orang-orang dan kendaraan yang berseliweran.

"Oh! Er…" Yamato terdengar agak gugup. "Aku sedang ada di jalan menuju kampus. Kau belum berangkat ke sekolah?" tanyanya cepat.

"Sebentar lagi."

Sayangnya obrolan menyenangkan itu harus berakhir tak lama kemudian karena Yamato tampaknya sangat sibuk di seberang sana –entah apa yang sedang ia lakukan. Namun itu cukup untuk membuat suasana hati Sakura yang memang sudah bagus bertambah riang. Dua kejutan sudah di awal hari istimewanya.

Berharap melihat kejutan lagi, Sakura dengan penuh semangat meraih ponsel dari dalam tasnya. Barangkali saja ada pesan ucapan selamat dari teman-temannya… yang ternyata tidak ada. Sakura menghela napasnya, merasa sedikit kecewa. Namun buru-buru ia menepis perasaan itu.

Tidak apa-apa. Dua puluh empat jam kan masih belum berakhir…

.

.

Kesibukan pagi hari yang biasa mulai terasa di gerbang utama Konoha High. Anak-anak dengan tas tersampir di bahu dan buku tergenggam di tangan terlihat berdatangan dari segala penjuru. Menaiki sepeda, berjalan kaki ataupun menaiki bus umum yang baru saja berhenti di halte dekat sana, langkah mereka tertuju pada tujuan yang sama: sekolah, bersiap mengisi kepala-kepala mereka dengan pasokan ilmu untuk menjalani kehidupan mereka ke depannya.

Atau malah berencana akan tidur seharian di kelas? Membolos? Pacaran? Entahlah… Apa pun alasan yang tersimpan di balik wajah-wajah tidak-terlalu-polos nan ceria para remaja itu, datang ke sekolah seakan sudah menjadi kebutuhan. Apalagi kalau bukan tentang sosialisasi?

Dan omong-omong tentang sosialisasi, Sakura sudah tidak sabar lagi bertemu dengan teman-temannya. Itu terlihat dari senyum yang tak lepas dari bibirnya semenjak station wagon yang mengantarnya meninggalkan rumah beberapa waktu yang lalu. Yap, Azami sengaja mengantarkan putri tercintanya ke sekolah khusus di hari istimewanya ini.

"Kalau begitu aku turun dulu, Bu," pamit Sakura sambil melepaskan seat belt. Gadis itu baru saja mencangklengkan tasnya ke pundak dan hendak membuka pintu ketika ibunya kembali memanggil namanya. Sakura menoleh pada bangku di belakang roda kemudi dengan alis terangkat. "Ya?"

Azami meraih ke jok belakang, mengambil tas tangannya yang ia letakkan di sana dan merogohnya, menarik dompet. Sakura mengerjap ketika ibunya itu mulai menghitung lembaran demi lembaran di dalamnya dan mengambil beberapa. Oke, bukan beberapa, tapi hampir segepok yang kemudian dengan sukses membuat Sakura ternganga ketika Azami mengulurkan tumpukan itu padanya.

"Pakai ini untuk membeli hadiah ulangtahunmu, Sayang," kata Azami sambil tersenyum seakan memberikan segepok uang pada putrinya sudah menjadi hal yang biasa dilakukan.

"T—Tapi, Bu…" Sakura memandang uang itu, menelan ludah, lalu menatap ibunya. Ia tidak tahu harus merasa girang atau sebaliknya. Ini kali pertama orangtuanya memberi uang dalam jumlah sebanyak itu –bahkan uang saku bulanannya tidak sebanyak itu! Mungkin jumlahnya dua kali, atau tiga kali lipat! "…ini terlalu banyak."

Azami menghela napas, kemudian meraih tangan Sakura dan menekankan uang itu di atas telapaknya. "Sudah, terima saja."

"Ibu…" Sakura hendak memprotes lagi, tapi ibunya menyelanya cepat,

"Sakura, Ibu sudah lama sekali tidak memberikanmu barang-barang yang bagus. Kadang-kadang kau malah menggunakan milik kakakmu dan bukannya membeli sesuatu yang baru untuk dirimu sendiri." Jeda sejenak sementara Azami menatap putrinya dengan tatapan yang terlihat sedih. "Ibu hanya ingin memberimu sesuatu yang benar-benar layak, Sakura. Mungkin tidak mewah, tetapi Ibu harap uang itu cukup. Kalau kau tidak ingin menggunakannya, kau bisa menabungnya. Ibu percaya kau bisa menggunakan uang itu dengan bijaksana. Hm?"

Sakura menggigit bibirnya. Ditatapnya uang yang tergenggam dalam tangannya, bimbang. Gadis itu sungguh tidak ingin merepotkan ibunya, tetapi jika ia menolaknya, itu pasti akan mengecewakan Azami –dan itu adalah hal terakhir yang ingin dilakukannya di hari ulangtahunnya.

"Baiklah, Bu," kata Sakura akhirnya, melempar senyum berterimakasih pada Azami, "Makasih…" ia mencondongkan tubuhnya untuk memeluk sang ibu erat-erat, "…makasih banyak, Ibu..."

Azami mengusap-usap punggung putrinya penuh sayang sebagai balasannya, sebelum melepaskannya beberapa saat kemudian. "Kalau begitu sebaiknya kau masuk. Jangan sampai telat seperti pamanmu."

Sakura tertawa kecil. "Tidak akan." Ia pun berbalik untuk membuka pintu dan melompat turun.

"Ah, Sakura!" panggil Azami lagi sebelum Sakura menutup pintu mobil. Ia meraih ke jok belakang dan mengambil sebuah tas kecil yang sudah ia persiapkan tadi: bekal makan siang istimewa yang sengaja dibuatnya untuk Sakura dan adik iparnya. "Jangan lupa berikan pada Kakashi kalau kau bertemu dengannya."

"Oke. Hari ini aku ada kelasnya sebelum makan siang," sahut Sakura riang seraya mengambil tas itu dari tangan ibunya. "Sampai ketemu nanti sore, Bu," pamitnya, lalu menutup pintu mobil.

Azami masih di sana selama beberapa saat lagi, mengawasi sang putri yang berlari-lari kecil menuju gerbang sekolahnya. Seulas senyum lembut terulas di bibirnya. Dan tak lama, station wagon itu pun bergerak perlahan menjauhi sekolah.

.

.

"Kan sudah pernah kubilang," cowok berambut pirang jabrik itu berkata santai pada sahabatnya, seraya melempar cengiran lima jari yang sudah menjadi trade mark-nya, "Dari kita bertiga, hanya kau yang paling ahli membuat dia jengkel."

Yang diajak bicara hanya mendengus mendengar jawaban si pirang. Sudah kuduga dia bakal ngomong begitu, pikirnya. "Kau membuatku terdengar seperti orang brengsek," gerutunya, mengalihkan pandangannya ke loker. Ia mengambil beberapa buku dan menjejalkannya ke dalam tas sementara Naruto tertawa.

"Persis," kekehnya.

"Sialan."

Naruto menutup pintu lokernya sendiri. Cowok itu masih nyengir ketika ia menyandarkan punggungnya ke pintu lokernya, memain-mainkan bola sepak di tangannya seraya mengerling Sasuke. "Kalau kau tidak mau, aku bisa minta pada Sai. Aku yakin dia tidak akan keberatan."

"Akan kulakukan," sahut Sasuke cepat tanpa memandang lawan bicaranya.

Naruto yang sudah menduga reaksi Sasuke memutar-mutar bola matanya. "Kalau begitu sudah sepakat," katanya cerah. "Ini bakalan hebat!"

"Yeah," Sasuke menggerutu lagi. Setelah selesai dengan buku-bukunya, ia menutup pintu lokernya dan menoleh. Tepat saat itu, Sai muncul dari ujung koridor, berjalan ke arah mereka.

"Hei, mates," sapa Sai pada Sasuke dan Naruto dengan senyum segarisnya yang biasa. "Kukira kita tidak akan membicarakan soal itu di sekolah," katanya setelah sejenak memandangi kedua orang di depannya bergantian.

"Memang tidak," sahut Sasuke dan Naruto bersamaan.

"Well, aku cuma mencoba meyakinkan kalau bagiannya adalah yang paling penting," tambah Naruto, sekali lagi memberi Sasuke cengiran yang membuat cowok itu gatal untuk menjejalkan bola yang dipegang Naruto ke mulut pemiliknya.

Sai mengangkat alisnya memandang Sasuke, memberinya tatapan innocent yang tak kalah menyebalkannya dari cengiran Naruto. "Aku bisa melakukannya kalau kau tidak mau, Sasuke."

Sasuke menghela napasnya keras-keras dengan jengkel, lalu berbalik pergi meninggalkan kedua temannya yang menjengkelkan itu.

"Oi, jangan lupa rapat dengan jurnal jam makan siang nanti!" seru Sai ke punggung Sasuke.

Sementara di sampingnya, Naruto tertawa-tawa. "Dia cuma malu," kekehnya sambil memutar-mutar bola di tangannya.

"Dia tidak kelihatan malu waktu membawa kabur tokoh utama kita saat gladi bersih festival sekolah," komentar Sai sambil menyeringai tipis, masih memandangi arah di mana punggung Sasuke baru saja menghilang.

"Siapa yang kabur?" tanya suara anak perempuan di belakang mereka, sontak membuat kedua cowok itu menoleh ke asal suara. Gadis berambut merah muda berdiri di sana, melempar senyum ceria pada mereka. "Selamat pagi! Pagi yang cerah, ya?" Sakura berjalan melewati mereka menuju lokernya.

Sai dan Naruto bertukar pandang agak cemas. Apa Sakura tadi sempat mendengarkan pembicaraan mereka? Bodoh sekali tidak melihat gadis itu datang.

Sakura memutar kombinasi kunci lokernya, masih memasang tampang ceria, jelas tidak memperhatikan ekspresi kaget kedua cowok di belakangnya. Kemudian ia menghentikan gerakannya, seakan tiba-tiba teringat akan sesuatu. Gadis itu lantas berbalik untuk memandang kedua sahabatnya lagi dengan penuh harap, lengkap dengan senyuman di wajahnya.

Sekali lagi kedua cowok itu bertukar pandang –kali ini dengan bingung.

Beberapa detik berlalu, tak ada yang berbicara. Sakura mulai tak sabar, kedua alisnya terangkat ketika menatap Naruto dan Sai yang masih memasang tampang bego, menunggu mereka mengatakan sesuatu. Sampai akhirnya Naruto memecah keheningan dengan mengajukan pertanyaan yang paling masuk akal untuk situasi membingungkan itu,

"Er… Kenapa kau memandangi kami seperti itu, Sakura?"

Kali ini ganti Sakura memandang mereka tak mengerti. "Kalian tidak ingat?"

"Ingat apa?" tanya Sai.

"Hari ini –Kalian tidak ingat hari ini?" Sakura mengernyitkan dahi.

"Hari Kamis?" jawab Naruto polos.

"Ah, benar! Aku ingat!" seru Sai tiba-tiba.

Sakura memutar kepalanya cepat ke arah cowok bermata eboni itu, tersenyum penuh harap.

"Bukankah hari ini ada kuis Kebudayaan Dunia?" –jawaban ini dengan sukses melenyapkan senyum di wajah Sakura, digantikan bibir yang terkatup tipis—"Astaga, aku belum belajar apa pun!"

"Ya ampun! Aku juga lupa!" seru Naruto menimpali, membuat bibir Sakura semakin tipis. Gadis itu meletakkan sebelah tangannya yang bebas di pinggulnya, memandangi kedua cowok yang kini heboh sendiri karena belum belajar itu dengan tatapan sebal.

"Oh, lupakan saja," gerutunya sambil membalik badan, menarik terbuka pintu lokernya. Cemberut.

Di belakangnya, Naruto memberi isyarat pada Sai dengan gerakan kepalanya. Cowok itu mengangguk paham. Dan tanpa mengatakan apa-apa lagi pada Sakura, keduanya buru-buru kabur dari sana.

.

.

Well. Sepertinya awal harinya di sekolah tidak seperti yang dibayangkan Sakura. Di mana ia akan mendapatkan ucapan selamat dari teman-temannya atau hal-hal semacam itu. Tetapi nyatanya Naruto dan Sai sama sekali tidak ingat hari pentingnya ini. Mereka malah meributkan soal kuis yang nyatanya tidak jadi dilaksanakan karena Ibu Mitarashi, guru yang mengajar mata pelajaran itu, absen karena sakit perut—Yeah, horee! —Sebagai gantinya, mereka kuis Aljabar mendadak setelahnya –Oh, tidak! Bencana besar!

Bagaimana dengan Sasuke? Lupakan saja. Cowok itu sama sekali tidak menyebut-nyebut soal ulangtahun dan memutuskan untuk bersikap lebih menyebalkan dari biasanya. Sepertinya cowokitu sedang uring-uringan soal urusan OSIS lagi atau entah apa, pikir Sakura.

Dan bahkan Ino pun lupa! Padahal di tahun-tahun sebelumnya, teman masa kecilnya itu termasuk salah satu yang paling awal memberikan ucapan selamat padanya. Tapi kali ini tampaknya ia disibukkan dengan urusan yang lebih penting alias Si Idate. Pagi itu saat mereka berpapasan di koridor, Ino sibuk mengobrol mesra dengan cowoknya itu lewat ponsel dan sama sekali tidak menghiraukan Sakura yang menyapanya.

Tadinya Sakura berusaha tidak ambil pusing. Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa mungkin teman-temannya melupakan hari jadinya karena kegiatan di sekolah mereka yang memang tengah menggila. Turnamen sepakbola Naruto, kegiatan OSIS Sasuke, klub jurnal Sai yang mulai sibuk mempersiapkan program televisi sekolah yang baru saja disetujui, juga kompetisi cheers Ino –wajar saja jika mereka lupa. Tetapi semakin waktu berlalu, ia semakin tak bisa menahan dirinya. Terlebih saat pelajaran kosong Kebudayaan Dunia, ketiga Sasuke, Sai dan Naruto malah sibuk mengobrol sendiri tentang topik-topik cowok tanpa melibatkan dirinya. Menyebalkan sekali!

Sampai akhirnya jam pelajaran Aljabar berlalu, Sakura sudah bertekad tidak akan membuat dirinya sendiri jengkel lebih jauh lagi. Terlepas mereka ingat atau tidak ingat pada hari ulangtahunnya. Dan kelihatannya makan siang bersama dengan bekal istimewa yang sudah dibuatkan ibunya adalah ide bagus. Tapi sebelumnya, ia harus memberikan bekal Kakashi dulu.

Sementara teman-temannya mulai berhamburan dengan ribut meninggalkan kelas, Sakura bergegas beranjak dari bangkunya ke meja guru setelah bel istirahat berbunyi siang itu. Kakashi yang tengah merapikan tumpukan hasil kuis mengangkat wajahnya saat menyadari kehadirannya.

"Ya, Sakura?"

"Ini dari Ibu," kata Sakura sembari mengangsurkan satu dari kotak makan siang yang dibawanya tadi pada guru yang juga pamannya itu.

Kakashi tersenyum tipis. "Wah, sudah lama sekali… Terimakasih, Sakura. Taruh saja dulu di sana." Pria berambut putih-perak itu pun melanjutkan kegiatannya.

Sakura memandang pamannya sejenak, bertanya-tanya apakah dia juga lupa. Sampai ia memutuskan mungkin Kakashi lupa juga kalau dilihat dari tingkahnya yang sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda ke arah sana. Ya sudahlah.

"Sakura," panggil Kakashi tiba-tiba ketika Sakura berbalik hendak kembali ke bangkunya. Saat itu kelas sudah hampir kosong.

"Ya?" Sakura menyahut cepat, berharap kali ini ada yang ingat selain ibunya dan Yamato.

"Bisa bantu aku membawa ini ke kantor?"

Gadis itu pun dengan sukses dibuat cemberut lagi. Dan ditambah kenyataan saat ia mengetahui bahwa Sasuke, Naruto dan Sai telah meninggalkan kelas tanpa menunggunya sama sekali tidak membuat segalanya lebih baik.

Mengapa mereka memilih hari ini untuk mengabaikanku, sih?

.

.

"Suasana hatimu sedang tidak baik, ya?" tanya Kakashi pada keponakannya ketika mereka sudah tiba di ruang guru.

Sakura menaruh tumpukan hasil kuis ke meja Kakashi, sama sekali tidak menjawab. Gadis itu tidak ingin menampakkan kejengkelannya di depan guru-guru. Terlebih ruangan itu sedang ramai sekarang. Di meja sebelah, guru olahraganya, Gai Maito, sedang bercerita dengan menggebu-gebu pada Pak Shiranui dan Pak Yamashiro tentang kans tim sepakbola sekolah mereka dalam turnamen sepakbola nanti. Sementara di meja yang lain, tampak beberapa guru wanita sedang mengobrol sambil mengikik seperti anak gadis.

"Ada apa, hm?" tanya Kakashi lagi. Ia sudah duduk di bangkunya, mengambil gelas air di meja dan menyeruput sedikit sembari mengawasi Sakura. "Apa karena kuis yang tadi? Kau menemui kesulitan?"

Sakura menghela napas. "Tidak," sahutnya pelan. "Bukan itu."

Saat itu perhatian Kakashi teralih pada kotak makan siang yang dibawakan Sakura untuknya. Dibukanya kotak makan bersusun tiga itu di atas mejanya dan matanya melebar melihat menu makan siang istimewa di dalamnya: beraneka macam shushi. "Wah… kelihatannya enak. Dalam rangka apa?"

Sebelum Sakura membuka mulutnya untuk menjawab, Pak Namiashi, guru Sejarahnya, menyela dari belakangnya, "Wah… Istimewa sekali bekalnya, Pak Hatake? Dari calon istrimu, eh?"

"Ah, bukan," sahut Kakashi, terkekeh. "Dari kakak iparku –Ibunya Sakura Haruno." Ia lalu menawari koleganya itu untuk ikut mencicipi.

Tak lama, guru-guru lain yang tertarik oleh komentar antusias guru Sejarah itu atas kelezatan masakan Azami, ikut berdatangan ke meja itu karena penasaran. Kakashi dengan senang hati menawarkan makan siangnya. Untungnya Azami memang menyiapkan lebih untuknya.

"Ibunya Sakura pintar sekali memasak," komentar Ibu Kurenai, guru Biologi, seraya mengangkat sepotong telur gulung. "Kau juga pastinya jago masak juga, bukan?"

Sakura meringis, tidak tahu harus menjawab apa. Untung saja Kurenai tampaknya tidak menuntut untuk menjawab. Wanita berambut hitam itu sibuk menyuapkan potongan telurnya untuk dicicipi Pak Asuma Sarutobi, guru Science, yang baru dinikahinya beberapa minggu yang lalu.

"Tentu saja dia pandai masak," timpal Kakashi bangga. "Apalagi sekarang usianya sudah menginjak tujuh belas tahun. Benar kan, Sakura?" pria itu mengedipkan mata ke arahnya.

Sakura mengerjap. Tadinya ia mengira pamannya itu sama sekali lupa hari ulang tahunnya. "Er…"

"Selamat hari jadi, Nak," ucap Kakashi lagi.

Tepat setelah pamannya mengucapkan itu, para guru yang lain pun mengikuti. Membanjirinya dengan ucapan selamat yang cukup membuat wajah gadis itu merah padam karena malu. Ia sama sekali tidak menyangka akan mendapatkan perlakuan seperti itu dari guru-gurunya –alih-alih sahabat-sahabatnya sendiri. Terlebih ketika salah satu dari gurunya bertanya apakah ia memiliki pacar yang menemaninya melewatkan hari jadinya?

"Tidak ada, Bu…" sahut Sakura pelan. Wajahnya sudah sedemikian panas sehingga ia tidak akan heran jika ada asap panas yang menguar dari kedua telinganya. Dengan putus asa ia melempar tatapan memohon pada pamannya agar ia membantunya keluar dari sana.

"Yang benar?" gurunya yang lain menanggapi tidak percaya. "Yah, walaupun Sasuke Uchiha sedang sangat sibuk dengan jabatan barunya sekarang, kurasa dia pasti akan meluangkan waktu untuk pacarnya, kan?"

"Benar, benar. Dan kulihat dia pemuda yang bertanggung jawab juga."

"Jangan-jangan karena Pak Hatake yang galak ini, makanya anak itu takut mengajakmu, ya?"

Sakura begitu tercengang sehingga tak sanggup berkata-kata selama beberapa saat. Mengapa semua orang mengiranya pacaran dengan Sasuke? Dan Kakashi sama sekali tidak membantu. Malah terkekeh-kekeh saja.

"A—Anu… Sasuke sama sekali bukan pacar saya," Sakura buru-buru menjelaskan, "Kami hanya berteman baik."

Tetapi tampaknya percuma saja ia menjelaskan, karena mereka tampaknya tidak mau tahu. Mereka malah tertawa dan berkomentar betapa pemalunya gadis berambut merah muda itu –terutama guru-guru wanita—dan saat berikutnya mereka mulai bernostalgia sendiri tentang masa remaja berpuluh tahun yang lalu. Dasar orang tua, pikir Sakura.

Sampai akhirnya gadis itu berhasil melepaskan diri tak lama setelahnya. Di koridor depan ruang guru yang sedikit lebih lengang dari koridor-koridor lain di sekolah, Sakura menghela napas lega. Meski demikian, kejadian barusan dalam ruangan di belakangnya –meskipun memalukan—membuat suasana hatinya sedikit lebih baik.

.

.

Sakura melewatkan sebagian sisa waktu istirahat makan siangnya berkeliling sekolah, mencari-cari keberadaan teman-temannya –atau setidaknya, seseorang yang bisa diajaknya mengobrol. Tetapi tampaknya sekali lagi ia harus menelan kekecewaan.

Dari yang diberitahukan oleh salah satu anggota OSIS yang ia tanyai, Sasuke dan Sai sedang mengikuti rapat di ruang jurnal dengan para anggota klub itu. Katanya mereka sedang membahas program kerja baru –atau semacam itulah—dan barangkali baru akan selesai setelah jam makan siang berakhir. Sementara Ino juga sama sibuknya. Gadis itu tampak bergerombol bersama anak-anak yang mengenakan sweter tim cheers sekolah yang berwarna hijau di halaman samping sekolah yang berumput, ribut berdiskusi entah tentang apa –sepertinya ada hubungannya dengan kegiatan klub. Hanya Naruto saja yang tak tahu entah di mana. Cowok itu seperti raib ditelan bumi. Tidak ada yang tahu di mana dia.

Menghela napas panjang, Sakura akhirnya menyerah. Mungkin ia memang harus melewatkan hari pertama usia tujuh belas tahunnya seorang diri. Rasanya baru kali ini Sakura merasa begitu kesepian di hari ulangtahunnya sendiri.

Setidaknya sampai ia menemukan Naruto di atap sekolah.

"Naruto!" serunya terkejut. Perasaan senang dan jengkel bercampur jadi satu.

Cowok itu menoleh dan langsung tersedak burger yang sedang dikunyahnya ketika melihat siapa yang datang. Wajahnya merona. "S-Sakura?" ucapnya terbatuk-batuk. "Ngapain di sini?"

"Harusnya aku yang tanya begitu," kata Sakura cemberut, lalu berjalan ke arah Naruto duduk di salah satu tepian semen berpagar kawat. "Ngapain kau di sini? Aku mencarimu kemana-mana, tahu!"

"Eh? Kau mencariku?" Naruto berlagak tersipu-sipu. Sebelah tangannya menggaruk-garuk belakang kepala pirangnya yang tak gatal dengan tangannya yang bebas sembari meringis. "Aku tidak tahu kalau aku begitu ngangenin."

Sakura mencubit lengan Naruto main-main seraya membuat suara geraman gemas. "Kau pasti sedang kabur dariku, kan? Ngaku saja!"

"Aku tidak kabur kok!" sangkal Naruto cepat. Wajahnya memerah lagi.

"Tapi kau tidak mengacuhkanku sejak tadi," Sakura menuding, masih tak mau kalah. Kekesalannya karena merasa diabaikan teman-temannya muncul lagi. "Dan kau tidak mengajakku, padahal kau tahu Sasuke dan Sai sedang rapat. Keterlaluan. Padahal hari ini kan—" gadis itu tiba-tiba berhenti, menggeram frustasi, "Oh, sudahlah. Lupakan saja!"

Pandangan Naruto mengikutinya ketika Sakura mendudukkan diri dengan tak sabar di sebelahnya, mengamatinya dengan dahi dikerutkan. "Kau marah?"

"Tidak," gerutu Sakura. Ia meletakkan ranselnya di lantai dan mulai mengeluarkan kotak makan siangnya. "Aku cuma lapar."

Keheningan menyusul kemudian. Yang terdengar hanyalah suara anak-anak dari halaman sekolah di bawah sana. Sesekali Naruto melirik gadis yang sedang makan di sampingnya. Ekspresi masam di wajahnya menunjukkan kalau mood-nya masih buruk.

"Sori deh," ucap Naruto selang beberapa lama –setelah ia menelan habis potong terakhir burgernya. "Saat bel tadi aku benar-benar ingin ke belakang. Waktu aku kembali ke kelas, kau sudah tak ada. Ada yang bilang kau pergi dengan Pak Hatake. Kupikir kau akan makan siang dengan pamanmu, Sakura."

Sakura menelan potongan shushi salmonnya, lalu menghela napas berat. Mendengar penuturan Naruto membuat kekesalannya sedikit memudar. "Tadi aku memang pergi ke ruang guru," ujarnya pelan. Sakura mengambil sepotong telur gulung, menyantapnya perlahan-lahan sebelum berkata lagi pada Naruto. Kali ini dengan nada penasaran pada suaranya. "Kau benar-benar tidak ingat?"

"Soal apa?" Naruto mengangkat alisnya memandang Sakura.

Sakura memandang Naruto sejenak, lalu menghela napas berat sekali lagi. "Bukan apa-apa." Percuma saja, dia sama sekali tidak ingat. "Kau mau?" Sakura kemudian menawarkan kotak makan siangnya pada Naruto yang tengah menyeruput susu kotak. "Ibuku membuatkan sedikit lebih banyak untuk hari ini."

"Whoa… kelihatannya enak." Naruto menaruh susu kotaknya dan mengambil sepotong. "Trims, Sakura."

Sudut bibir Sakura terangkat sedikit, membentuk senyuman yang tak mencapai matanya, sebelum membuang pandang ke arah halaman samping. Dari atas sana ia bisa melihat Ino dan teman-temannya yang tengah berkumpul. Salah seorang dari mereka, yang berambut merah menyala dibuntut kuda—Karin—kemudian berdiri, melakukan semacam gerakan cheers untuk peragaan pada yang lain. Beberapa gadis terdengar berkomentar, termasuk Ino –Sakura bisa mengenalinya bahkan dari jauh sekalipun—dan mereka mulai tertawa keras. Suara tawa mereka terdengar jelas sampai ke tempat Sakura dan Naruto duduk.

Perhatian Sakura teralih dari rombongan itu ketika ia mendengar suara kekehan dari sebelahnya. Rupanya Naruto pun tengah asyik memperhatikan gadis-gadis itu.

Merasa diperhatikan, Naruto mengalihkan pandangannya dan menatap gadis di sebelahnya. Melihat Sakura nyengir, Naruto terkekeh lagi. "Apa?"

"Jangan bilang kau kemari karena ingin mengintip cewek-cewek cheers," tebak Sakura.

Naruto nyengir. "Tidak ada larangan, kan?"

Sakura mendaratkan pukulan main-main ke lengan cowok itu, tertawa. "Dasar genit!"

"Pemandangan bagus tidak boleh dilewatkan, tahu!" ucap Naruto membela diri.

"Geniiit!" Sakura menjulurkan lidahnya, membuat Naruto tertawa-tawa. "Aku tidak tahu kau senang melihat cewek-cewek cheers."

"Mereka cantik-cantik, sih," jawab Naruto masuk akal. "Siapa cowok di sekolah ini yang tidak senang melihat mereka, eh?"

"Entahlah. Sasuke?" usul Sakura, menyeringai.

Naruto memutar matanya. "Dia pengecualian. Cowok aneh. Tidak normal. Padahal Sai saja suka."

"Kalian berdua genit sekali, ih!" komentar Sakura, mengikik. "Jangan bilang kalau kau sedang naksir salah satu dari mereka, Naruto!" tudingnya.

"Nope!" sangkal Naruto. "Mereka memang cantik dan menarik dan seksi dan segala macam. Aku senang melihat mereka, tapi tidak ada yang membuatku tertarik secara, yah… personal."

Sakura mengangkat alisnya tinggi. "Oh, ya?" Ditatapnya Naruto dengan sorot menyelidik. "Kalau begitu kau sedang naksir cewek selain anak cheers?"

"Aku tidak bilang begitu," Naruto terkekeh. Ia mengambil sepotong shushi lagi dari kotak makan siang Sakura dan melahapnya.

"Kalau begitu kau naksir cowok!"

Naruto tergelak, nyaris tersedak makanannya. "Edan! Dari mana kau dapat pikiran semacam itu, eh?"

Masih nyengir, Sakura mengangkat bahu. "Hanya penasaran. Habis kau tidak pernah bilang suka dengan cewek mana pun, sih."

Tawa Naruto mereda. Ia mengambil jeda waktu untuk menenggak susunya sebelum berkata santai, "Aku tidak ingin terburu-buru. Lagipula ada hal lain yang lebih mendesak untuk dipikirkan daripada urusan cewek."

"Misalnya?"

"Misalnya…" Naruto tampak berpikir. "Misalnya saja memikirkan bagaimana caranya aku bisa mendapatkan beasiswa untuk kuliah nanti. Kudengar dari Pak Maito, ada tawaran beasiswa untuk siswa yang menjadi atlet. Tapi syaratnya, disamping kau harus berprestasi di bidang olahraga, kau juga harus memenuhi nilai komulatif yang disyaratkan."

"Kau tertarik?" tanya Sakura.

"Tentu saja. Tapi masalahnya aku tidak begitu pintar –kau tahu, kan?" Naruto meringis.

"Omong kosong! Nilai-nilaimu tinggi kemarin."

Naruto menggaruk-garuk belakang kepalanya, menyeringai tak yakin. "Yah… Aku hanya berpikir beasiswa ini pasti akan sangat membantuku melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Dengan begitu Pap tak perlu mengeluarkan biaya terlalu besar. Tetapi itu artinya aku harus bekerja ekstrakeras."

"Dan siapa bilang kau tidak bisa?" Sakura tersenyum menyemangati. "Aku pasti akan membantu sebisaku. Sasuke dan Sai juga."

Senyum Naruto terkembang lebar, menampakkan sederet giginya yang putih. "Trims."

Dengan itu, segala urusan tentang ulangtahun itu pun seakan terlupakan sejenak.

.

.

TBC…

.

.

Akhirnya jadi juga sidestory 1 untuk Sakura's B'day. Momennya gak pas sih. Sekarang kan Desember, harusnya yang ultah Hinata. Tapi timeline paling deket sama chapter terakhir sebelum timeskip bulan Maret sih. Hehehe… XD

Mudah-mudahan chapter ini gak membosankan. Setelah WB yang mengerikan rasanya susah banget ngetik cerita *ngelirik tanggungan fic lain* Gomenasai… Terus, buat yang kemarin udah pesen adegan NaruSaku, itu sudah dibikinin, walaupun hanya friendship. Kalo mau baca yang romance, silakan baca fic-fic lain yang menyajikan itu. Oke? ^^

Terakhir, makasih banget buat yang sudah mereview chapter yang lalu, dan juga buat yang udah rajin nagih dan ngasih semangat. Maafkan kalo hasilnya gaje, dan maafkan kalau gak dibales satu-satu. :p

Oke deh. Sampai ketemu di sidestory 2-nya. ^_^

PS: Sekedar mengingatkan kalau di fic ini saya bikin Sakura yang paling muda dari semuanya. Yang paling tua Sasuke (Juli), lalu Sai (September), Naruto (Oktober) dan maknae-nya Sakura (Maret, beda tahun). Tau deh urutannya ngaco. Maap~~ XDD