Sayangnya, keriangan Sakura setelah mengobrol dengan Naruto tidak berlangsung lama. Ketika ia memasuki kelasnya yang berikutnya, sambutan Sasuke dan Sai yang dingin kembali membuat suasana hatinya kembali memburuk. Memangnya apa salahnya sampai-sampai cowok-cowok itu mengacuhkannya sedemikian rupa? pikir Sakura jengkel. Alhasil gadis itu melewatkan sisa jam pelajarannya dengan menekuk wajahnya, memelototi buku-bukunya seakan benda-benda tak bersalah itu memiliki dendam pribadi dengannya.
Sakura sama sekali tidak menyangka hari ulangtahunnya di sekolah sama sekali tidak semenyenangkan yang ia kira –bahkan mungkin yang paling buruk yang pernah dialaminya. Kemana perginya Ino yang tahun lalu paling antusias? Kemana Hokuto yang tahun lalu menuliskan memo pesan ucapan selamat ulangtahun besar-besar untuknya di ruangan klub teater? Kemana Chouji dan Shikamaru yang dulu memberinya sebungkus keripik kentang sebagai ucapan selamat?—memang sih, mereka melakukan itu setelah dipaksa Ino. Tapi tetap saja itu sangat manis—Mengapa sekarang mereka semuanya seakan melupakannya?
Diam-diam Sakura menyesali pergaulannya yang tidak luas sejak awal. Sifatnya yang pemilih itu membuatnya nyaris tak dikenali kalau saja ia tidak memiliki rambut berwarna mencolok, atau prestasinya yang luar biasa dalam bidang akademis. Sejak taman kanak-kanak teman dekatnya praktis hanya Ino Yamanaka seorang, sampai saat mereka memasuki jenjang sekolah menengah dan Sakura nekat bergabung di klub teater karena kecintaannya pada seni peran –dan tentu saja sampai Kakashi menyatukannya dengan Naruto dan Sasuke.
Dan sekarang ia menerima dampaknya. Tak ada yang peduli dengan hari ulangtahunnya. Selamat, Sakura.
Yah, sebetulnya Sakura juga tidak bisa sepenuhnya menyalahkan teman-temannya, mengingat bagaimana kesibukan mereka yang luar biasa di semester genap ini. Mereka jadi kehilangan waktu yang biasa mereka lewatkan bersama dan lebih sibuk mengurusi urusan masing-masing.
Tiba-tiba saja Sakura merindukan saat-saat di mana ia terikat dengan Naruto dan Sasuke. Saat itu ia tidak pernah merasa kesepian. Sangat menyenangkan, walaupun mereka lebih banyak menghabiskan waktu dengan adu mulut, saling memaki dan membelalak satu sama lain, tapi saat itu benar-benar berkesan –tak terlupakan.
Tapi mengingat-ingat kembali masa itu sekarang tidak ada akan mengubah apa pun.
Naruto bersama timnya tetap sibuk latihan sepakbola di lapangan. Sai tetap berkutat mengurusi persiapan peluncuran program baru televisi sekolah dengan klubnya. Begitu pula dengan Ino dan Sasuke. Sementara ia hanya duduk bengong di ruang sekretariat klub teater, memandangi monitor yang memutar video pertunjukan festival sekolah yang lalu dengan tatapan kosong. Sendirian.
Sangat menyenangkan. Bukan begitu?
Sakura menghela napas untuk kesekian kalinya, menyisiri bagian depan rambutnya yang terjatuh menutupi keningnya yang lebar, membuatnya mencuat kemana-mana. Tapi tampaknya gadis itu tidak begitu peduli. Padangannya kini terarah pada jam dinding di seberang ruangan. Rupanya belum satu jam berlalu sejak ia mengurung diri di sana. Padahal rasanya sudah berjam-jam. Haah… yang benar saja!
Ia berharap waktu berjalan lebih cepat –tepatnya, ia berharap waktu bisa membunuh sakit hatinya pada teman-temannya, sehingga ia bisa pulang tanpa khawatir ditanyai soal tampang kusutnya, dan bisa memikirkan rencana aksi balas dendamnya dengan tenang.
Oke. Yang terakhir itu hanya bergurau.
Tapi rasanya menghabiskan waktu di ruangan itu sendirian pun tak ada gunanya. Malah membuatnya semakin memikirkan hari ulangtahunnya yang menyebalkan.
Kesal pada dirinya sendiri, Sakura menjatuhkan kepalanya di atas meja di depan monitor, merasakan permukaan meja yang kasar dan dingin –dan berdebu juga—di pipinya. Matanya sejenak memandangi sisi ruangan di depannya dengan tatapan kosong, mengeluh sendiri dalam gumaman tidak jelas. Sampai akhirnya matanya tertumbuk pada tasnya yang digeletakkan di salah satu bangku tak jauh dari tempatnya. Ritsletingnya sedikit terbuka, membuatnya bisa mengintip ke bagian dalam, termasuk dompet mungilnya yang mencuat di antara buku-bukunya. Dompet itu tampak jauh lebih tebal dari pada biasanya.
Sakura menegakkan tubuhnya, seakan baru teringat sesuatu yang terlupa.
Cepat-cepat Sakura meraih tas itu dari bangku dan menarik keluar dompetnya, lalu terbelalak sendiri melihat isinya. Bagaimana bisa ia sampai melupakan hadiah mentah pemberian ibunya itu?
Tiba-tiba saja sebuah ide muncul di kepalanya. Dulu Ino pernah berkata padanya bahwa shopping bisa membantunya melupakan masalah yang sedang menderanya. Yah, mudah saja Ino berkata begitu karena gadis memang berasal dari keluarga berada yang bisa menyediakan dana lebih untuk dihambur-hamburkan. Tidak seperti Sakura yang uang sakunya selalu dijatah oleh sang ibu. Tapi sekarang ia memegang uang yang lebih banyak dari yang pernah dimilikinya. Barangkali saja ia bisa mencoba tips dari Ino.
Yap. Akhirnya diputuskan begitu saja.
Sakura baru akan memasukkan dompetnya kembali ke dalam tas ketika pintu ruangan terbuka. Sakura menoleh dan melihat Hokuto masuk bersama beberapa anak kelas satu yang merupakan anggota klub mereka.
"Hei," sapa Hokuto, nyengir. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. "Sendirian saja?"
"Seperti yang kau lihat," sahut Sakura sekenanya seraya memasukkan dompetnya, lalu menutup ritsleting tasnya lagi. "Kukira hari ini tidak ada kegiatan," ucapnya dingin sementara matanya menjelajahi wajah-wajah anak-anak kelas satu di belakang Hokuto dengan mata disipitkan.
Yang ditatap buru-buru memandang ke arah lain, menghindari tatapan Sakura.
"O—Oh…" Hokuto tampak salah tingkah. Ia mengeluarkan tawa gugup. "Maaf… Tadinya kami kira baru mulai sore."
Sakura ganti menatap teman seangkatannya. Kedua alisnya terangkat tinggi. "Bukankah istruksiku tadi sudah cukup jelas?"
"Er… mungkin aku salah dengar," kilah Hokuto.
Sakura tersenyum hambar. Ia beranjak dari bangku dan tanpa mematikan komputer terlebih dahulu, melenggang ke arah pintu. "Lain kali jangan pusatkan perhatianmu hanya pada Mizura," ujarnya dingin pada Hokuto.
Gadis itu tampak terkejut. Wajahnya merona, begitu juga dengan anak-anak kelas satu di belakangnya. Mereka tampak salah tingkah. Namun Sakura sama tidak memedulikan mereka. Ia melewati rombongan itu begitu saja.
"Kau mau pergi sekarang?" Sakura mendengar Hokuto bertanya saat ia sudah melangkah menjauhi ruangan. "Bagaimana dengan acara kumpulnya? Katamu ada yang mau didiskusikan."
Sakura memutar tubuhnya, melempar seringai pada kawannya itu sambil mengangkat bahu. "Kelihatannya bagaimana?" dengusnya, "Lupakan saja." Lalu tanpa menunggu tanggapan dari Hokuto, gadis itu kembali berbalik dan pergi dari sana, meninggalkan anak-anak itu tercengang memandang punggungnya.
"Kalian tahu mengapa aku selalu bilang jangan sampai membuat ketua klub kita kesal?" Hokuto memandang adik-adik kelasnya setelah punggung Sakura menghilang di ujung koridor. Ia menghela napas saat mendapatkan gelengan kepala yang serempak sebagai jawabannya. "Yang tadi itu hanya permulaan. Sakura Haruno bisa jauh lebih mengerikan dari itu kalau dia mau. Dia pernah menampar Sasuke Uchiha di depan seluruh kelas, kalau kalian mau tahu," tambahnya saat melihat raut tak percaya di wajah anak-anak itu.
Dan seruan-seruan tak percaya langsung terdengar sebagai tanggapan. Mana mungkin gadis yang kelihatannya baik hati seperti Sakura berani menampar ketua organisasi sekolah mereka yang terkenal tegas –dan superkeren—itu? Di depan orang banyak pula!
Hokuto hanya menyeringai, memutar bola matanya. "Ya sudah. Kalian tunggu aku ke dalam dulu, nanti baru kuberitahu rencana kita. Oke?" Dengan cengiran terakhir, Hokuto berbalik pergi.
.
.
"Sakura!"
Sakura mengangkat tinggi-tinggi dagunya dan terus melangkah cepat menuju pintu utama gedung itu, sama sekali tidak menggubris panggilan dari suara yang sudah sangat dikenalnya itu. Gadis itu sudah bertekad akan bersikap menyebalkan pada teman-temannya yang dengat tega melupakan hari jadinya. Terdengar kekanak-kanakan, sih. Tapi siapa peduli?
Dan itu juga berlaku pada gadis pirang yang sekarang sedang berlari-lari kecil mengejarnya. Tetapi tampaknya gadis itu tidak menyerah.
"SAKURA!"
Sakura nyaris terjerembab ketika Ino Yamanaka tiba-tiba melompat ke arahnya dan mengalungkan sebelah lengannya ke sekeliling lehernya. "INO!" dengkingnya. "Apa-apaan sih kau?" Dengan kasar Sakura melepaskan diri dari cengkeraman Ino. Kulitnya yang baru saja bersinggungan dengan kulit Ino terasa lembab oleh keringat.
Sakura mengernyit, sama sekali tak berniat menutupi ekspresi jijik di wajahnya ketika melihat titik-titik gelap di bagian leher dan ketiak t-shirt ungu ketat yang dikenakan Ino bersama dengan celana pendek berwarna putih yang mengekspos keindahan kakinya yang membuat gadis-gadis seantero sekolah mengais-ngais tanah karena iri itu –yeah, pameran kaki. Ino pastilah habis latihan cheers.
Ino terkekeh-kekeh. "Habis, dari tadi aku memanggilmu tapi kau sama sekali tidak menjawabku."
"Masa bodoh!" Sakura menukas, cemberut. Ia membenarkan letak tas di bahunya yang sedikit melorot oleh pelukan mendadak Ino tadi, sebelum kembali melangkahkan kaki menjauhi gadis pirang itu.
"Hei, Forehead!" Ino menyerukan panggilan kesayangannya. "Kau marah padaku?"
"Enggak!" teriak Sakura tanpa repot-repot menoleh.
Nyengir, Ino kembali berlari menyusulnya. Gadis itu memblokir jalannya ketika Sakura sudah mencapai undakan dengan melompat ke depannya. "Kau pasti sedang PMS!" tebaknya.
Sakura membeliak jengkel pada sahabatnya itu. "Maumu apa, sih?" tanyanya galak sambil berkacak pinggang.
"Tidak mau apa-apa," sahut Ino santai, "Cuma kepingin menyapa sahabatku saja. Kita kan sudah beberapa hari ini tidak mengobrol, Sakura."
Sakura menghela napas. "Aku sedang tidak mood mengobrol sekarang, Ino," ucapnya dengan nada malas, kemudian berjalan melewati Ino menuruni undakan. "Lagi pula bukankah tadi pagi kau yang mengabaikan sapaanku?" tambahnya dalam gerutuan pelan.
"Apa?" Ino kembali menyusulnya, merendengi langkahnya menuju gerbang sekolah. Jelas ia tidak mendengar kata-kata Sakura barusan. "Kau tadi bilang apa, Sakura?"
"Tidak," gerutu Sakura lagi. Langkahnya kembali terhenti ketika Ino kembali menghadang jalannya.
"Hei. Bagaimana kalau kau menonton latihanku saja?" tawar Ino riang. "Kau sudah lama tidak menontonku berlatih, kan? Ayolah… Aku mau tahu pendapatku soal gerakan baru kami. Jangan jadi sombong begitu dong, Sakura…" Gadis itu pura-pura merajuk. "Kau ini seharian tidak mengacuhkanku."
Sakura meletakkan tangan di pinggul, menatap Ino tak percaya. "Maaf?" dengusnya, "Sebenarnya siapa yang tidak diacuhkan di sini, eh?"
.
.
"Lama sekali," Sasuke mengetuk-ngetukkan jemarinya ke permukaan meja dengan tak sabar. Mata hitamnya bolak-balik memandang pintu ruang klub jurnal, tempatnya sedari tadi menunggu.
Sai yang duduk di sampingnya menyeringai tipis tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop miliknya sementara jemarinya masih sibuk mengutak-atik benda itu. "Kau ini tidak sabaran," komentarnya pelan.
Yang dikomentari tidak membalas, hanya menghela napas pelan. Bibirnya terkatup rapat. Sasuke lalu mengalihkan pandangannya dari pintu dan menatap monitor dari atas bahu Sai. "Jangan bilang kau belum selesai juga mengeditnya."
"Sudah selesai," sahut Sai, masih tak berpaling, "Hanya ingin sedikit menyempurnakannya lagi."
"Kalau soal perfeksionis, di ruangan ini tidak hanya kau, Tuan Besar," komentar gadis berkacamata bundar yang duduk di seberang mereka sambil nyengir. "Klub ini dipenuhi orang-orang semacam itu, asal kau tahu saja. Kau banyak saingan di sini."
"Oh, yeah. Informasi yang sangat berguna. Terimakasih banyak, Nona Sekretaris," guman Sasuke tak peduli.
Shiho memutar matanya, lalu kembali berkutat menyusun potongan artikel untuk mading sekolah bersama Hinata, yang berdeham kecil untuk menyamarkan kikikannya. Sementara itu seorang gadis kelas satu berambut cokelat dikepang yang juga ada di sana tanpa sengaja menjatuhkan botol lem. Wajahnya merah padam. Shiho yang melihat ini menggerutu tak jelas tentang penyakit misterius Uchihaitis yang merebak secara misterius di kalangan anak-anak perempuan –penyebab muka merah, mata jelalatan dan kehilangan konsentrasi menahun.
"Harusnya kau mencantumkan itu di artikelmu yang kemarin, Shiho," komentar Kiba, yang sibuk menggambar karikatur, tergelak-gelak. Dengan sukses mendapatkan pelototan maut dari Sasuke.
Namun belum sempat Sang Ketua OSIS membuka mulutnya untuk melontarkan kata-kata pedas untuk cowok-calon-saudara-nya itu, perhatiannya teralihkan pada pintu ruangan yang tiba-tiba menjeblak terbuka. Gadis berambut kucir dari klub teater muncul di sana.
"Dia sudah turun!" Hokuto mengumumkan pada seluruh ruangan. Napasnya sedikit terengah. "Baru saja."
Tanpa mengajukan pertanyaan lagi, Sasuke refleks mengambil tas dari bawah bangkunya dan bergegas beranjak dari sana, berlari melewati Hokuto dengan Sai mengekor di belakangnya. Bahkan Shiho dan Hinata pun meninggalkan pekerjaan mereka untuk menyusul kedua cowok itu. Dan tak lama kemudian, sisanya yang dicabik rasa penasaran, juga ikut-ikutan keluar.
Rombongan itu berlarian meninggalkan ruangan, menimbulkan suara gaduh di sepanjang koridor yang lengang itu –membuat Shiranui Genma yang sedang mengajar kelas tambahan Kimia kelas tiga di salah satu ruangan yang mereka lewati, melongok keluar kelas karena penasaran—sampai akhirnya mereka tiba di koridor dengan deretan jendela yang menghadap tepat ke halaman depan sekolah, lalu mengintip ke bawah.
Tampak dari atas, seorang gadis berambut merah muda sedang berbicara dengan temannya yang berambut pirang. Si rambut merah muda tampaknya sedang kesal, beberapa kali berbalik hendak pergi, tapi si pirang terus-terusan menahannya.
Sasuke mengumpat pelan, sebelum buru-buru berlari meninggalkan koridor itu menuju tangga ke lantai bawah, meninggalkan teman-temannya yang masih sibuk mengintip.
"Eh, memangnya ada apa, sih?" Kiba menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tak gatal, sama sekali tak mengerti. Anak kelas satu yang berdiri di sampingnya sama bingungnya dengannya.
.
.
Sasuke menghentikan larinya ketika ia sudah mencapai pintu utama. Dari balik pintu kaca itu, ia bisa melihat Ino masih berbicara dengan Sakura. Kelihatannya mereka sedang bertengkar sekarang, jika dilihat dari ekspresi gusar di wajah Ino dan cara Sakura mendorongnya minggir, sebelum melangkah cepat menuju gerbang.
"Aku cuma memintamu datang, Forehead!" Sasuke bisa mendengar Ino berteriak pada punggung Sakura ketika ia menuruni undakan. "Tidak perlu pakai marah begitu bisa, kan—OI! AKU BICARA PADAMU, PINKY!"
Sakura sama sekali tak menggubrisnya, tetap berjalan dengan dagu terangkat tinggi.
"Forehead, aku ngambek, nih!" seru Ino sambil menyeringai lebar –yang tentu saja tidak bisa dilihat Sakura.
Sekali lagi, Sakura berpura-pura tidak mendengarnya sementara ia melangkah ke gerbang.
"Haish… Dia itu benar-benar," Ino menghela napas keras-keras, tapi anehnya, seulas senyum puas terpampang di wajahnya. Kemudian melirik cowok berambut hitam yang saat itu berjalan melewatinya, "Hati-hati, Sasuke," katanya sambil nyengir, "Kalau kau tidak mau dia menggigitmu."
Sasuke mendengus kecil, tetapi tidak menghentikan langkahnya. Menggigit, katanya? Yang benar saja…
"Sasuke, semangaat!"
Sasuke mendengar Ino berseru dalam bisikan keras padanya sambil tertawa-tawa. Cowok itu tidak menggubrisnya. Ia sudah mencapai Sakura sekarang. Satu langkah lagi, dan ia bisa meraih bahu gadis itu.
"Apa lagi sih, INO!" bentak Sakura ketika merasakan seseorang menangkap bahunya. Ia baru saja hendak menepis tangan bahunya ketika menyadari yang menahannya kali ini bukanlah Ino. "Sasuke?" Ia mengerjap, namun dalam sekejap ekspresi terkejutnya menguap lenyap, digantikan oleh rengutan yang sama sekali tidak enak dilihat. "Ada apa?" tukasnya, sama sekali tak berniat menyembunyikan kekesalannya karena cowok itu sudah mengabaikannya seharian.
"Kau ada waktu?" tanya Sasuke, jelas mengabaikan nada ketus dalam suara Sakura.
Kerutan samar muncul di antara kedua alis Sakura. "Memangnya kenapa?" ia malah balik bertanya galak.
"Aku ingin kau menemaniku pergi ke suatu tempat," kata Sasuke.
"Ke mana?"
"Tidak usah banyak tanya," sahut Sasuke seraya menghela napas dengan tidak sabaran, "Kau ada waktu atau tidak?"
Dijawab seperti itu membuat Sakura semakin kesal. "Memangnya kenapa aku harus mau menemanimu?" tukasnya, "Aku tidak mau! Pergi saja sendiri!" Setelah berkata begitu, ia lantas berbalik.
Namun sebelum Sakura sempat melangkahkan kakinya lebih jauh, Sasuke menyambar sikunya agak kasar. "Kau harus ikut denganku!" katanya memaksa.
"Tidak mau!" Sakura menyentak lepas lengannya dari pegangan Sasuke, sembari memberi tatapan jengkel pada cowok itu. Ia sama sekali mengabaikan pandangan ingin tahu dari anak-anak yang kebetulan melewati mereka. "Dan jangan coba memaksaku, Sasuke. Mood-ku sedang sangat jelek sekarang."
"Aku tidak peduli mood-mu sedang baik atau tidak," kata-kata Sasuke kontan saja membuat kejengkelan Sakura semakin memuncak. Gadis itu membelalak padanya, tetapi sekali lagi Sasuke –berlagak—tidak peduli. "Kau harus ikut aku, Sakura. Sekarang. Aku tidak mau tahu."
"Ap—Hei!" Sakura mendengking ketika tiba-tiba saja Sasuke menarik tangannya dan membawanya berjalan cepat meninggalkan gerbang sekolah. "Sasuke, lepaskan tanganku!"
.
.
"Apa yang akan Sasuke lakukan?" Shiho bertanya sementara mereka mengawasi ketika sosok berambut gelap itu akhirnya muncul dari arah pintu utama kampus di bawah sana, berjalan cepat menuju gerbang sekolah –tidak, tepatnya mengejar sosok lain yang memiliki rambut merah muda panjang.
"Mengalihkan perhatian Sakura," jawab Sai, juga tak melepaskan perhatiannya pada pemandangan di bawah sana –berusaha tidak memandang ke sosok berbaju ungu yang baru ditinggalkan Sakura. "Memastikan Sakura tidak pulang setidaknya sampai pukul tujuh nanti."
"Kalau itu sih, aku juga tahu," Shiho menghela napas. Gadis itu menopangkan dagunya dengan tangan yang disandarkan pada kusen jendela. Ditatapnya Sai melewati Hinata yang berdiri di antara mereka. "Tapi bagaimana caranya?"
"Maksudnya apa Sasuke punya rencana?" kali ini Hinata yang bertanya. Ia ikut memandang Sai. Ekspresinya antara cemas dan penasaran. "Ku-kurasa dia bukan tipe yang pintar membujuk orang. Bisa-bisa dia malah membuat Sakura marah. Kuperhatikan seharian ini di kelas, suasana hati Sakura tidak begitu baik."
"Memang itulah rencananya," sahut Sai sambil memamerkan senyumnya yang biasa, "Semakin Sasuke membuat suasana hatinya jelek, semakin bagus."
Hinata memekap mulutnya dengan tangan, sejenak tak bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk berkomentar sementara matanya menatap Sai seolah ia baru pertama kali benar-benar memandang cowok itu. "I—Itu kejam sekali. Kalian tega sekali."
"Tadinya rencana kami lebih baik dari itu," Sai mengeluarkan seringaian yang sama sekali tidak seperti dirinya, "Tapi Naruto tidak sampai hati."
Wajah Hinata memucat, sementara di sampingnya, Shiho terkekeh-kekeh. "Aku bisa membayangkan rencana bulus macam apa yang bisa terpikir oleh orang yang memiliki otak seperti ketua OSIS kita itu. Bayangkan dia tiba-tiba memekap Sakura di tengah jalan dengan chloroform yang dicurinya dari lab kimia—"
"Shiho!" Hinata memandang ngeri pada temannya.
"Ya ampun, Hinata…" Shiho tergelak, "Aku kan cuma bergurau."
"T—Tidak lucu."
"Kau ini terlalu banyak baca novel kriminal akhir-akhir ini, Hinata." Shiho menghela napas sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sai memilih tidak berkomentar. Cowok itu menyeringai sendiri membayangkan apa yang mungkin bisa dilakukan Sasuke untuk mengerjai Sakura. Apakah temannya itu cukup tega untuk membuat gadis yang diam-diam ditaksirnya itu marah padanya? Atau justru malah memanfaatkan kesempatan berduaan ini dengan berusaha mengambil hati gadis itu dengan cara-cara yang nggak-Sasuke-banget, seperti yang diperkirakan Naruto? Entahlah… Siapa yang tahu, kan?
Sementara di bawah sana, mereka melihat Sasuke sudah menyusul Sakura di gerbang. Selama beberapa waktu, tampaknya dua orang itu sedang bertengkar, sebelum kemudian terdengar suara napas tertahan ketika Sasuke merenggut kasar pergelangan tangan gadis berambut merah muda itu dan menariknya pergi.
"Y—Ya, ampun… Kenapa Sasuke kasar begitu?" keluh Hinata.
"Menurutku yang tadi itu seksi," komentar Shiho, nyengir. Apalagi saat melihat tampang adik-adik kelas mereka yang juga ada di sana menyaksikan adegan skinship yang baru dipertontonkan idola mereka di bawah sana. Yeah. Silakan gigit jari.
Di sebelahnya, Hinata memberinya tatapan tak mengerti. Sementara Sai nyengir penuh arti.
"Kurasa sudah waktunya kita juga bersiap-siap," cowok bermata eboni itu berkata pada kedua gadis di sebelahnya, yang segera dijawab dengan anggukan mantap oleh keduanya.
"Hei, kalian ini dari tadi ngomong apa, sih?" dengking Kiba yang sedari tadi terbengong mendengarkan obrolan teman-temannya. Cowok berambut cokelat itu tampak kesal sendiri karena tidak ada yang menggubris pertanyaannya tadi.
.
.
Setelah memastikan Sasuke sudah membawa Sakura meninggalkan sekolah, Ino bergegas pergi menuju lapangan tempat klub sepakbola sedang melakukan latihan rutin mereka –juga tempat di mana Naruto sedang menunggu laporan darinya.
"Bagaimana?" Naruto menghampiri Ino di pinggir lapangan. Cowok itu tampak berantakan setelah digembleng habis-habisan oleh Gai Maito, pelatih sekaligus guru pembimbing mereka. Wajah dan tubuhnya bersimbah keringat, namun sama sekali tak memudarkan cengiran yang selalu terpasang di wajahnya. Dan sekarang mata birunya menatap Ino ingin tahu. "Mereka sudah pergi?"
"Yup," Ino menjawab mantap, "…dan suasana hati Sakura kelihatannya sedang nggak baik. Kurasa Sasuke bakal menemui kesulitan."
Cengiran Naruto melebar dan ia mulai terkekeh.
"Bagaimana kalau mereka kembali sebelum kita selesai?" tanya Ino mendadak cemas.
"Tidak akan," sahut Naruto yakin. "Sasuke itu sudah ahli menghadapi Sakura. Dia pasti bisa menahannya, entah bagaimana caranya."
"Kuharap begitu." Ino memandang ke atas bahu Naruto, sejenak mengawasi cowok-cowok yang sedang berlatih menggiring bola. "Latihanmu masih lama?"
Naruto menoleh ke belakangnya, menghela napas. "Entahlah," ujarnya sambil kembali memandang Ino, "Sepertinya sebentar lagi selesai. Kau?"
Ino meringis sebelum menjawab, "Kalau latihannya sampai malam lagi seperti dua hari yang lalu, aku bakal kabur. Masa bodoh Karin mau memecatku dari tim gara-gara itu, aku tidak akan melewatkan ini."
Naruto tertawa kecil, tidak berkomentar. Ia menendang-nendang pelan bola sepak di kakinya sejenak, sebelum ia mengangkat wajahnya lagi untuk menatap Ino. "Kau yakin tidak apa-apa?"
"Oh, entahlah…" Ino berkata lambat-lambat, lalu menghela napas. Ia tahu betul apa yang dimaksudkan Naruto. Sejenak, keraguan muncul di wajahnya, sebelum akhirnya melanjutkan, "Kurasa aku akan mencoba berpura-pura tidak pernah terjadi sesuatu, atau hal-hal semacam itu lah. Aku tidak ingin masalah pribadiku malah jadi perusak suasana."
"Bagaimana dengan cowokmu?"
Ino menyunggingkan senyum yang tak mencapai matanya. "Tenang saja. Dia sedang sibuk ujian sekarang."
Naruto mengangguk-anggukkan kepalanya seraya menggumamkan sesuatu yang kedengaran seperti 'Bagus deh'. Suara tiupan peluit yang tiba-tiba terdengar di belakangnya menyela obrolan kedua remaja pirang itu. Rupanya Gai Maito, yang baru saja kembali dari kamar kecil, sudah melihat Naruto meninggalkan kelompok latihannya dan sekarang pria berpakaian serbahijau itu menyuruhnya kembali.
"Sampai ketemu di Blocaf, kalau begitu," kata Naruto pada Ino sebelum ia berbalik dan berlari melintasi lapangan berumput ke arah timnya sambil menggiring bola. Tapi ia berhenti di tengah jalan dan berbalik lagi. "Oi! Jangan lupa mandi dulu sebelum ke tempat Sakura, ya. Kau bau!" serunya sambil tertawa.
Muka Ino memerah. "Urus saja urusanmu sendiri!" teriaknya seraya menjulurkan lidah ke arah Naruto dengan sebal.
.
.
Sasuke masih tidak melepaskan cengkeramannya pada tangan Sakura ketika mereka mulai menyusuri jalanan yang lebih jauh dari area sekolah. Sudah hampir dua puluh menit mereka berjalan tanpa henti dan Sasuke belum menampakkan tanda-tanda akan segera menjelaskan kemana tujuannya sebenarnya.
Sakura pun tampaknya sudah menyerah dan berhenti memprotes, karena percuma saja, Sasuke tidak akan menggubrisnya. Dan cowok itu terlalu keras kepala untuk melepaskan cengkeramannya, sekuat apa pun Sakura berusaha melepaskan diri –Cowok ini tenaganya lebih kuat dari badak! pikir Sakura kesal—Maka ia memutuskan untuk melancarkan aksi diam setelahnya.
Sampai beberapa saat kemudian Sakura menyadari mereka sudah memasuki wilayah perkotaan yang lebih ramai. Jalanan yang tadinya lengang kini mulai terlihat dipadati kendaraan roda empat. Deretan deli, kedai makanan, minimarket dan apartemen di sepanjang jalur menuju Konoha High juga telah tergantikan oleh distrik pertokoan yang lebih besar. Gedung-gedung tinggi perkantoran pun mulai nampak di ujung jalan.
Sakura terkejut sendiri. Gadis itu sama sekali tidak menyadari seberapa jauh mereka sudah berjalan sejak meninggalkan sekolah. Ia terlalu sibuk kesal dan bersungut-sungut pada Sasuke yang sudah semena-mena terhadapnya sehingga tidak menyadari sekelilingnya. Yang ia sadari hanyalah rasa pegal yang kini menyerang otot-otot kakinya, juga keringat yang mengalir di dahi dan pelipisnya.
Segera saja tekadnya untuk tidak bicara pada Sasuke tergoyahkan.
"Sebenarnya kau mau membawaku kemana, sih?" tanya Sakura di antara napasnya yang mulai tersengal.
"Ke suatu tempat," sahut Sasuke datar.
Sakura menggeram jengkel. Jawaban Sasuke tidak menjelaskan apa pun. "Tapi bisakah kita berhenti dulu? Kita sudah berjalan sangat jauh kalau kau masih belum sadar juga."
"Aku tahu," –tetapi tampaknya Sasuke sama sekali tidak berniat berhenti.
"Sasuke…" suara Sakura mulai terdengar seperti merengek. "Aku capek. Istirahat sebentar…"
"Tinggal lima blok lagi kita sampai," Sasuke berusaha agar suaranya terdengar tidak peduli. Meskipun sebetulnya niatnya untuk terus mengerjai Sakura sedikit tergoyah. Entah itu hanya akting atau bukan, Sakura memang tampaknya sudah sangat kelelahan. Sasuke bisa mendengar bunyi napasnya yang terengah-engah, juga telapak tangan gadis itu yang basah oleh keringat dalam genggamannya. Namun ia segera menguatkan diri. Hanya hari ini saja.
"Kalau mau ke kota, kenapa tidak dari tadi naik bus saja, sih?" tuntut Sakura.
"Naik bus perlu ongkos. Sesekali harus berhemat," gumam Sasuke, cukup keras untuk dapat didengar gadis di belakangnya.
Sakura memutar bola matanya, seraya menggerutu tidak jelas yang kedengaran seperti, 'Yang benar saja.' Mendadak sebuah ide muncul di kepala Sakura. Mungkin kedengarannya sedikit memalukan, tapi barangkali itu satu-satunya cara agar Sasuke mau berhenti. Dengan begitu ia bisa mengistirahatkan kakinya sejenak. Tiang lampu hias di pinggir jalan dekat sebuah taman kota di depan sana menjadi sasarannya.
Langkah Sasuke terhenti saat tiba-tiba saja ia merasakan tahanan pada tangannya yang terhubung dengan tangan Sakura lebih kuat dari sebelumnya. Ia menoleh ke belakang dan mendapati gadis itu tengah berpegangan –lebih tepatnya bergelayut—pada sebuah tiang lampu hias yang baru saja merela lewati. Lengannya melingkari tiang besi hitam yang berukir itu, memeluknya dengan erat seakan benda itu adalah sandaran hidupnya.
"Sakura…" desak Sasuke, menarik tangan Sakura lebih keras.
Sakura yang keras kepala tetap bertahan pada tiang itu. Bibirnya mengerucut. Ia tidak berkata apa-apa, hanya kedua bola mata hijaunya yang menatap Sasuke seakan menantangnya.
Sasuke mendengus. "Jangan konyol."
"Kau yang konyol," balas Sakura sengit, "Apa-apaan kau tiba-tiba menarikku dan memaksaku berjalan tanpa tujuan sampai sejauh ini!"
"Tidak tanpa tujuan—"
"Lalu sebenarnya kita mau ke mana?" Sakura menyela tak sabar. "Keterlaluan! Kau mengabaikan aku seharian dan sekarang kau mau mengerjaiku. Benar, kan?" Wajah Sakura memerah dan cairan bening tampak mulai berkumpul di pelupuk matanya. Napasnya tersengal-sengal, bukan karena kelelahan kali ini.
Melihat air mata mulai bercucuran di wajah Sakura membuat Sasuke diserang rasa panik. Ia memang berniat membuat gadis itu kesal, tapi membuatnya sampai menangis… Sasuke sama sekali tidak mengantisipasi itu. Terlebih kata-kata Sakura… mengerjaiku—Uh oh… apa rencananya sudah ketahuan?
"Sakura—"
Sasuke terperangah ketika gadis di depannya itu tiba-tiba menjerit dan mulai menangis keras-keras. Ia bahkan menjatuhkan dirinya ke trotoar, menarik perhatian orang-orang yang kebetulan lewat. Sasuke buru-buru berlutut di sampingnya, berusaha membujuknya agar diam. Tetapi Sakura malah menangis semakin keras, membuatnya semakin panik. Sementara seorang ibu-ibu yang kebetulan melintas dengan anak laki-lakinya, melempar pandang mencela pada Sasuke.
"Haish…" gerung Sasuke. Tanpa berpikir ia memekapkan tangannya di mulut Sakura sehingga suara tangisnya teredam –yang celakanya, malah lebih banyak menarik tatapan orang-orang. "Ssstt… Tidak menangis bisa, kan?"
.
.
Suasana di Blossom's Café siang itu hampir sama seperti siang-siang yang biasa. Musik dari pengeras suara mengalun menemani beberapa pelanggan yang datang untuk menikmati makan siang mereka yang sedikit terlambat. Ada juga serombongan anak muda yang hanya duduk-duduk di sudut, mengobrol santai sambil menikmati kopi dan menu sore. Sementara para pegawai yang berseragam merah marun dengan celemek hitam berbordir logo restoran tampak sibuk melayani pelanggan.
Yang sedikit berbeda barangkali adalah gadis muda berambut kecokelatan yang sedang melayani di belakang meja konter. Wajahnya lebih berseri-seri dibanding biasanya, dan tak hentinya mengintip ke jendela kecil yang menghubungkan dengan bagian dapur setiap ia pikir tidak ada yang melihat. Tentu saja, kedatangan kembali pemuda yang diam-diam telah mencuri perhatiannya ke tempat kerja lamanya membuatnya agak bersemangat.
"Ayame," teguran yang berasal dari wanita yang merupakan pemilik tempat itu sontak membuat si gadis terlonjak.
"I-Iya, Bibi?" Ayame menjawab salah tingkah. Wajahnya merona merah, terlebih ketika melihat atasannya itu melempar senyum penuh arti padanya.
"Yamato tidak akan bisa berkonsentrasi kalau kau terus-terusan mengintipnya seperti itu, Nak," ujar Azami lembut. "Bagaimana kalau kau menuangkan segelas air untuk tamu yang duduk di ujung sana? Gelas airnya sudah kosong."
"B-Baik…"
Dengan muka memerah, Ayame bergegas mengambil teko berisi air dan bergegas pergi. Azami yang memperhatikan kelakuan gadis itu hanya tertawa kecil seraya menggeleng-gelengkan kepala. Tampaknya tak lama lagi ia benar-benar harus merelakan Yamato, pemuda yang juga sudah dianggap anaknya sendiri, pada orang lain yang bukan putrinya. Terlebih tampaknya Yamato pun sudah memberi harapan pada Ayame.
Perhatiannya segera teralihkan begitu mendengar bel di atas pintu masuk restoran berdenting. Serombongan remaja baru saja memasuki restoran. Azami langsung mengenali mereka semua sebagai teman-teman putrinya di sekolah, walaupun sebagian dari mereka tidak ia kenali. Senyumnya sekali lagi merekah.
Sepertinya rencana yang mereka ajukan beberapa hari yang lalu padanya sudah akan mulai dijalankan.
.
.
Sakura menyeringai penuh kemenangan saat ia melirik sosok Sasuke di kejauhan. Cowok itu sedang membelikan minuman untuknya di sebuah mesin penjual minuman otomatis tak jauh dari tempatnya duduk santai sekarang di salah satu bangku taman di taman kota yang mereka lewati tadi.
Rupanya kemampuan akting yang ia miliki ada gunanya juga di luar panggung teater, Sakura membatin senang. Meskipun agak memalukan, dengan semua tatapan dan bisik-bisik dari orang-orang yang melihat tingkahnya itu, tetapi toh Sakura akhirnya bisa mendapatkan yang ia inginkan. Dan tidak salah lagi, Sasuke memang sama saja dengan cowok-cowok pada umumnya, lemah terhadap sentaja andalan para gadis: air mata.
Yah, walaupun tidak sepenuhnya seperti cowok pada umumnya yang bisa dipastikan akan langsung bersikap lembut dan membujuk, Sasuke lebih memilih metode langsung seperti memekap mulut untuk menghentikan tangisannya. Dasar tidak sopan!
"Cewek aneh," gumam Sasuke yang rupanya sudah kembali. Ia membawa dua buah minuman kaleng dingin bersamanya, mengangsurkan satu pada Sakura, kemudian duduk. "Tadi menangis, saat berikutnya sudah cengar-cengir sendiri." Sasuke membuka kaleng minumannya, meneguk isinya sedikit.
"Habis kau lucu sih," kata Sakura riang, kendati suaranya masih agak serak akibat berteriak-teriak tadi. Ia juga membuka tutup kaleng minumannya. "Harusnya kau melihat bagaimana tampangmu tadi."
"Ha ha… Tidak lucu," cemooh Sasuke.
Sakura mengerucutkan bibirnya. "Sama tidak lucunya dengan saat kau menarikku jalan kaki sampai kemari," ia balas bersungut, mengangkat kaleng minumannya untuk menyeruput isinya. "Haah… rasanya kakiku hampir copot…" keluhnya. Dengan tangannya yang bebas, Sakura mulai memijat-mijat kakinya. "Kalau begini caranya kakiku bisa tambah bengkak."
Alih-alih melontarkan komentar menyengat untuk membuat Sakura semakin kesal, Sasuke malah terdiam memperhatikan tingkah gadis di sebelahnya itu. Sakura yang bersungut-sungut sendiri itu terlihat sangat menggemaskan. Ngambek seperti anak kecil sambil memaju-majukan bibirnya seperti itu membuatnya ingin sekali… —Damn! Apa yang sedang kau pikirkan, Sasuke?
Berdeham keras-keras, Sasuke buru-buru memalingkan pandangannya ke arah lain untuk menghapuskan pikiran tidak-tidak yang tiba-tiba melintasi otaknya. Diangkatnya kaleng minumannya sekali lagi, lalu mereguk isinya banyak-banyak. Sasuke jadi ragu apakah ia bisa melanjutkan ini atau tidak. Seharusnya sejak awal ia tidak menerima tugas ini. Naruto sial itu…
Sasuke berjengit ketika sebuah benda dingin tiba-tiba menyentuh pipinya.
"Hei!" Cowok itu refleks menjauhkan wajahnya dari kaleng minuman yang ditempelkan Sakura di pipinya, menggosok-gosok bagian itu dengan tangannya sementara ia memelototi gadis di sebelahnya.
"Kau melamun," Sakura menuduh.
"Aku tidak melamun," bantah Sasuke. Telinganya memerah saat menyadari Sakura memperhatikannya sejak tadi.
Sakura menyipitkan matanya. "Kalau begitu jawab pertanyaanku yang tadi," tuntutnya.
"Apa –Pertanyaan yang mana?" Sasuke mengerutkan dahi.
"Benar, kan. Kau melamun," Sakura memutar matanya, menghela napas keras-keras. "Aku tanya, kau sebenarnya mau membawaku ke mana, Sasuke? –Tunggu. Jangan bilang kau tidak bisa memberitahuku. Karena kalau begitu, aku menolak ikut."
"Kenapa?"
"Kau pikir cuma kau saja yang punya urusan?" Sakura menukas sewot. "Ditambah lagi kau tidak bicara padaku seharian. Aku jadi curiga kau hanya ingin mengerjai aku," ia menambahkan pelan, namun masih cukup keras sehingga Sasuke bisa mendengarnya.
—Dan ia terpancing.
Sasuke memutar tubuhnya di atas bangku sehingga posisi duduknya sekadang menyerong menghadap Sakura. Ditatapnya kedua mata gadis itu tajam. "Jadi kau berpikir aku sedang mengerjaimu, begitu?"
"Benar—"
"Memangnya salah kalau aku meminta temanku menemaniku keluar sebentar, eh?" sela Sasuke sebelum Sakura menyelesaikan kalimatnya. "Kau selalu punya waktu keluar bersama Sai. Kau bahkan menyempatkan diri menonton latihan tanding Naruto setelah pulang sekolah. Tapi apa kau pernah meluangkan waktu untukku?"
"A—Apa?" Sakura mengerjap, jelas terkejut mendengar alasan yang diungkapkan Sasuke.
"Kau ingat saat pemilihan ketua OSIS? Kau bahkan tidak membantuku kalau saja aku tidak mengingatkanmu. Kau tidak peduli padaku. Kau ini temanku atau bukan?"
Selama beberapa saat Sakura hanya bisa tercengang, tak mampu berkata-kata. Ia sama sekali tidak menyangka Sasuke akan bicara seperti itu padanya. Itu sebelum ia menemukan kembali kegalakannya. "HEI! Kenapa jadi kau yang marah-marah padaku?" teriaknya habis sabar. "Kalau kau memang sebegitu inginnya menghabiskan waktu denganku, kau bisa bilang dari tadi! DASAR BODOH! Aku toh tidak akan menolak kalau kau meminta baik-baik, bukannya asal menarikku begitu seakan aku ini anjingmu!"
"Aku tidak menganggapmu anjingku!" Sasuke balas berteriak.
"Kalau begitu apa namanya kalau kau selalu menarikku kemana-mana seolah aku tidak punya tujuan sendiri, eh?" sengit Sakura, "Waktu kejadian dengan Neji juga begitu!"
Mata Sasuke berkilat berbahaya. "Oh, jelas sekali kau tahu tujuanmu saat itu, kan? Nangis. Kau cuma bisa nangis di sana. Dasar cengeng."
Sakura melompat berdiri. Kaleng minuman terjatuh dari tangannya, isinya tumpah di jalanan. Namun Sakura tampaknya tak peduli. Sekarang wajahnya sudah merah padam. "Oke. Tadi kau menuduhku tidak pernah peduli padamu. Sekarang kau menyebutku cengeng. Sebenarnya maumu apa, sih?" Jarinya menuding Sasuke dengan marah. "Sebaiknya aku pulang saja," geramnya. Ia lantas berbalik dan melangkah pergi. "Benar-benar membuat orang marah!"
"Sakura –Hei!" Sebelum Sakura pergi lebih jauh lagi, Sasuke bergegas menyusulnya. Dengan langkah lebarnya, dalam waktu singkat Sasuke berhasil memblokir jalan gadis itu. "Kau tidak akan pergi kemana-mana tanpaku," ucapnya tegas.
"Kau mengancamku?" Sakura memelototi cowok yang sekarang berdiri di depannya dengan tangan terentang, menghalanginya, "Bukankah tadi kau yang bilang aku tidak peduli padamu, eh? Sekarang aku benar-benar sudah tidak peduli lagi. Aku mau pulang!"
"Tunggu—" Sasuke menangkap kedua bahu Sakura dengan tangannya untuk menahannya. Ia memejamkan mata, mengambil napas dalam-dalam sebelum berkata dengan nada lebih pelan. Lebih membujuk. "Oke. Baiklah. Aku minta maaf."
Sakura membuang muka, melipat kedua lengannya di depan dada. "Minta maaf? Kau sedang bercanda, ya?" gerutunya.
"Dengar," Sasuke mengabaikan kata-kata Sakura, "Aku tidak biasa mengatakan hal seperti ini, tapi…" ia berhenti sejenak, kembali menarik napas, "Pekerjaan di OSIS tidak seperti dugaanku. Banyak sekali yang belum kuketahui, tetapi mau tidak mau aku harus mengemban kewajiban itu, kan? Belum lagi para guru dan teman-teman yang sepertinya mengharapkan aku bisa melakukan hal-hal yang besar untuk sekolah, membuatku… agak tertekan." –Sasuke mengatakan ini pelan sekali, nyaris berbisik.
Tampaknya kata-kata itu berhasil memengaruhi Sakura. Pandangannya sedikit melunak. "Sasuke…"
"Dan dengan Naruto dan Sai yang selalu sibuk, aku lantas menjadikanmu sebagai pelampiasan rasa frustasiku. Mengesalkan, eh?"
Sakura memandang Sasuke dengan sebal, tetapi bukan jenis sebal seperti yang ia perlihatkan beberapa saat sebelumnya. "Memang," ujarnya cemberut, "Sudah kubilang kau seharusnya mengatakannya sejak awal. Dasar cowok sok dingin!" Gadis itu menghela napas pelan. "Jadi… sekarang kau ingin aku menemanimu kemana, hm?"
Seulas senyum samar menghiasi wajah Sasuke.
Berhasil. Tinggal yang berikutnya…
.
.
Blossom's Café tutup lebih cepat sore itu.
Sembari menunggu tamu terakhir menghabiskan makanan mereka dan pulang, para remaja sudah mulai mendekorasi ruangan dengan peralatan yang sudah mereka siapkan sebelumnya –dan tentu saja disembunyikan di gudang restoran tanpa sepengetahuan Sakura.
Dengan dikomando oleh Sai, para gadis mulai menggunting kertas-kertas hias, sedangkan anak laki-laki –hanya Sai, Kiba dan Shino—meniup balon-balon. Para pegawai yang sudah bebas tugas pun turut membantu, berkutat dengan benda-benda berwarna-warni itu. Sementara itu, Azami dan Ayame bertugas membantu di dapur, sekaligus menyiapkan minuman dan makanan kecil yang bisa dikudap sembari mereka bekerja.
"Omong-omong, kenapa Naruto, Sasuke dan Ino tidak kelihatan?" Isaribi yang tengah menguntai kertas hias dibantu Hinata, memandang ke sana kemari mencari ketiga orang yang harusnya berada di sana. Tetapi nyatanya mereka absen.
Sai berpaling dari untaian balon yang sedang dikerjakannya. "Naruto masih ada latihan sepakbola. Dia akan datang setelah latihannya selesai. Sasuke… dia sedang bersama Sakura. Mereka akan datang bersama-sama nanti."
"Hee… Jadi kalian membiarkan Nona kami berduaan dengan cowok jutek itu?" celetuk Izumo. Wajahnya mulai memerah setelah meniup setengah lusin balon.
"Bagaimana dengan Ino? Dia tidak datang?" Isaribi yang menyadari Sai bahkan tidak menyebut-nyebut Ino, kembali bertanya penasaran.
"Dia akan datang sebentar lagi." Semua kepala menoleh ke arah pintu masuk restoran ketika serombongan cowok dari klub teater datang. Seorang cowok berambut terang yang masuk paling pertama nyengir pada mereka semua, menampakkan gigi-giginya yang runcing. "Tadi dia juga masih latihan. Katanya sebentar lagi akan menyusul kemari."
"Suigetsu!" tuding Hokuto galak. "Bukankah tadi sudah kubilang jangan terlambat?"
"Berisik. Cowokmu juga terlambat," Suigetsu mengendikkan kepala ke arah Mizura di belakangnya.
Mizura meringis. "Maaf. Tadi keasyikan nonton latihannya Sumaru."
"Haah… Kalian cowok-cowok memang jam karet," Hokuto menghela napas keras-keras, kemudian melanjutkan pekerjaannya, sementara Sai mulai memberi instruksi pada bala bantuan itu apa yang harus mereka lakukan.
Tak lama setelah mereka mulai bekerja lagi, pintu restoran kembali dibuka. Kali ini dua orang berseragam merah marun dengan bawahan hitam yang masuk. Yang lelaki memiliki rambut merah, dengan mata hijau pucat. Ia membawa sebuah tas biola bersamanya. Sedangkan anak perempuan yang datang bersamanya berperawakan mungil. Rambutnya yang berwarna cokelat muda berpotongan pendek di atas kerah kemejanya.
"Apa kami terlambat?" ucap Gaara Sabaku ragu-ragu.
"Tentu saja tidak," sahut Sai, bergegas menyambut mereka. "Nah, teman-teman. Perkenalkan, ini Gaara Sabaku dan Matsuri, teman-temanku dari KAA. Mereka datang untuk membantu kita," ia mengumumkan pada seluruh ruangan.
"H—Halo, Gaara," sapa Hinata hangat. Ia barangkali satu-satunya yang mengenal Gaara selain Sai di ruangan itu, mengingat cowok berambut merah itu adalah guru les privat biola adik perempuannya, Hanabi.
Gaara yang melihat kehadiran gadis yang dikenalnya hanya mengangguk sopan, sebelum mengikuti ajakan Sai untuk bergabung dengan yang lain.
.
.
"Jadi kau bermaksud mengajakku…" Sakura menatap plang nama toko di depan mereka dengan kedua alis terangkat tinggi, "…ke Pet Shop?"
"Kenapa? Tidak suka?" Menyeringai kecil, Sasuke melangkah memasuki ambang pintu toko yang menjual berbagai macam binatang peliharaan dan tetek bengek yang berkaitan dengan binatang itu tanpa menunggu jawaban Sakura.
Sakura sedikit merengut, tapi tetap mengikuti Sasuke masuk. Aroma khas binatang peliharaan langsung menyergap indera penciumannya. Berderet kandang barbagai ukuran berisi bermacam-macam jenis anak anjing, kucing, kelinci, guinea pig dan hamster menghiasi rak-rak di toko itu. Bahkan ada satu rak khusus yang memanjang aneka jenis reptil seperti ular, kura-kura dan iguana –Sakura sedikit bergidik melihatnya dan buru-buru berjalan ke sisi Sasuke.
"Apa kau berencana membeli hewan peliharaan baru?" Sakura bertanya sebelum bisa menahan dirinya, "Kau kan sudah punya Rufus."
Sasuke mengabaikan pertanyaannya. Ia sedang berbicara pada salah seorang penjaga toko –seorang pria berjenggot tebal yang mengingatkannya pada salah satu gurunya, Asuma Sarutobi—Pria itu lalu pergi ke bagian belakang toko dan tak lama kembali dengan membawa beberapa jenis rantai leher untuk anjing.
"Kau mau membeli untuk Rufus?" tanya Sakura ketika Sasuke mulai memilih-milih di atas gerai.
"Hn."
"Memangnya kenapa dengan yang lama?"
Sasuke menarik salah satu, sebuah rantai keperakan yang dililiti tali kulit. "Tidak kenapa-kenapa," jawabnya datar. "Aku hanya ingin membeli yang baru. Hari ini kan ulangtahun Rufus."
"Eh?" Sakura mengerjap. "Hari ini anjingmu berulangtahun?"
"Aa. Sebenarnya bukan tanggal pasti Rufus dilahirkan. Tetapi hari ini adalah hari tepat setahun yang lalu Itachi menemukannya di jalanan," kata Sasuke. "Menurutmu ini bagus?"
Sakura memandangi rantai di tangan Sasuke. "Aku tidak begitu mengerti, tapi kurasa itu bagus. Hei, bukannya katamu Rufus dibeli di toko binatang peliharaan?"
Sasuke mendengus kecil. "Yeah. Itu yang tadinya dikatakan kakakku si tukang membual itu. Aku baru tahu setelah Kak Hana yang menceritakannya padaku. Rufus ditemukan Itachi di jalanan waktu masih sangat kecil. Dia tertabrak mobilnya –setidaknya itu yang kudengar. Karena panik dan tidak sampai hati membiarkannya mati begitu saja di jalanan, Itachi membawanya ke klinik hewan. Tidak ada yang mau menerima Rufus –karena dia anjing liar—Hanya klinik Inuzuka yang akhirnya bersedia menampungnya. Di sanalah kakakku bertemu dengan kakak perempuan Kiba."
"Lalu apa yang terjadi?" Sakura yang mencium adanya cerita romantis di sini langsung bersemangat.
"Tentu saja Kak Hana merawatnya," sahut Sasuke seakan itu sudah jelas –dan memang begitu—"Menghabiskan waktu berbulan-bulan sampai Rufus akhirnya bisa sehat lagi."
"Dan Kak Itachi?"
Sasuke terdiam sejenak, mengingat-ingat apa yang diceritakan Hana padanya tentang pertemuannya dengan Itachi beberapa minggu yang lalu. Sulit mengingatnya karena Hana bercerita sambil mengikik dan tersipu-sipu tidak jelas. "Kurasa… sejak saat itu kakakku berubah dari pria dingin jadi cowok tukang gombal. Atau semacam itulah…" Sasuke mengangkat bahunya.
Sakura mendengus tertawa. "Aku membayangkan mereka saling jatuh cinta ketika sama-sama merawat Rufus. Haah… pantas saja sepertinya Rufus memiliki ikatan yang spesial dengan Kak Itachi. Dia memang imut dan penuh cinta. Tidak seperti tuannya yang satu lagi. Sama sekali tidak mengerti hal-hal romantis semacam itu." Ia melirik Sasuke.
"Hn." Sasuke tampak tak peduli.
"Jadi hari ini ulangtahun Rufus yang pertama?"
"Hn."
Sakura mengangguk-anggukkan kepalanya, sementara mengawasi Sasuke yang kembali memilih-milih. Gadis itu terdiam selama beberapa saat, sebelum bertanya ragu, "Apa kau ingat ada yang juga berulangtahun hari ini?"
Sasuke mengerutkan kening, sejenak berpura-pura sedang berusaha mengingat sesuatu. "Tidak," jawabnya kemudian. "Memangnya siapa?"
Mendengar jawaban Sasuke, Sakura kembali mengerucutkan bibirnya. "Kau ingat ulangtahun Rufus, tapi kau sama sekali tidak ingat ulangtahun orang ini?"
Sasuke mengalihkan pandangannya pada Sakura. "Itu karena kakakku selalu menyebut-nyebutnya di rumah. Lagipula ini adalah anjingku juga. Dia istimewa."
"Jadi orang ini tidak istimewa?"
Sasuke mengernyit. "Siapa orang tidak jelas yang sedang kau bicarakan ini?" Dengan helaan napas kasar, Sasuke kembali berpaling. Ia mengambil salah satu rantai yang kelihatannya sangat bagus—dengan kata lain, paling mahal—dan meminta penjaga toko membungkuskannya untuknya.
Sakura menghentakkan kakinya sebal. 'Orang tidak jelas, katanya? Che!' Sambil menggembungkan pipinya, gadis itu mengalihkan pandangannya ke arah kandang berisi guinea pig. Ia membayangkan guinea pig berwajah Sasuke.
.
.
Bel pintu Blossoms Café berdenting untuk kesekian kalinya sore itu ketika rombongan terakhir datang. Kali ini jauh lebih gaduh dari sebelumnya, karena melibatkan serombongan gadis cantik berjaket tim Cheerleaders Konoha High, Chouji, Shikamaru dan beberapa atlet tim sepakbola, termasuk yang paling berisik dan merupakan mastermind dari rencana itu. Siapa lagi kalau bukan Naruto Uzumaki. Dengan hebohnya cowok pirang itu menyapa semua orang di sana, nyaris membuat Hinata yang saat itu kebetulan sedang memasang hiasan di dekat pintu tergelincir dari kursi tempatnya berpijak.
"Hehehe… Sori, Hinata. Kaget, ya?" Naruto mengulurkan tangannya untuk membantu Hinata turun dari bangku. "Mukamu sampai merah begitu. Eeh…" Naruto memandang berkeliling, "Kemana Sai?"
"Tadi dia pulang sebentar," sahut Kiba yang sedang sibuk berkutat mengurai untaian kertas hias yang kusut, "Katanya mau mengambil sesuatu."
"Ooh…" Naruto menangguk-anggukkan kepalanya.
"Naruto sudah datang?" kata suara cerah dari arah dapur.
"Sore, Bibi Azami…" sapa Naruto ceria pada ibu Sakura yang baru saja muncul dari arah dapur, tampak kerepotan membawa nampan berisi bergelas-gelas limun dingin bersama Ayame. Beberapa gadis yang cukup peka, termasuk Ino dan Hinata, bergegas membantu mereka membagikan gelas-gelas itu pada pada pendatang yang belum kebagian. "Aah… Bibi tahu saja kami haus," kekeh Naruto, mengambil gelas yang diangsurkan Hinata padanya. "Trims."
"Waah… ramai sekali," Azami melempar senyum pada teman-teman Sakura yang baru datang, yang mereka balas dengan sahutan sopan.
"Mereka nggak diundang tuh, Bi. Datang sendiri seenaknya!" seru Kiba, segera dibalas tak kalah ributnya dari rombongan gadis-gadis Cheers yang datang bersama Ino.
"Ino yang mengajak kami, ye…"
"Setiap acara yang melibatkan Sasuke, kami wajib datang dong!" seru Karin, yang langsung mendapat sorakan mendukung dari teman-temannya –dan cemoohan dari para cowok. Suigetsu yang mendengar itu tak sengaja memecahkan balon yang ia pegang.
Di tengah-tengah kegaduhan itu, salah satu dari mereka menunjuk-nunjuk ke lapangan parkir restoran. Sebuah boneka Pooh raksasa baru saja muncul dari ujung jalan. Begitu besarnya sehingga orang yang menggendongnya tidak kelihatan. Hanya kaki dan lengan yang melingkari bagian perut boneka itu saja yang terlihat. Dan tampaknya orang itu mengalami kesulitan melangkah mendekati pintu –sementara para penontonnya tak ada seorang pun yang tergerak membantu. Mereka semua sibuk tertawa dan menunjuk-nunjuk. Setidaknya, sebelum orang itu tertatih-tatih menaiki undakan.
Naruto bergegas membukakan pintu untuk agar Sai bisa dengan leluasa membawa boneka itu masuk.
"Oi! Bantu dong! Pada nggak peka nih!" teriak Naruto pada yang lain.
Beberapa cowok sepakbola segera turun tangan membantu menggotong boneka itu ke bangku kosong di sudut, memberi kesempatan untuk Sai menarik napas. Wajahnya berkilau oleh keringat, napasnya sedikit terengah.
"Kau taruh di mana mobilmu?" Naruto memandang ke area parkir restoran yang nyaris kosong, lalu memandang Sai yang sedang menyeka dahinya dengan lengan kemejanya.
"Di rumah Sasuke," jawab Sai, "Tadi kebetulan aku ketemu kakaknya. Katanya aku boleh menyimpan mobilku di halaman. Kelihatannya Kak Itachi sedang terburu-buru mau pergi."
"Jadi kau jalan kaki dari rumah Sasuke kemari?" Naruto memandang sahabatnya takjub, "Dengan menggendong Pooh itu?"
Sebelum Sai sempat menjawab, kata-katanya mendadak terhenti di tenggorokan ketika seorang gadis berambut pirang menghampiri mereka. Ino. Ia mengulurkan segelas limun dingin pada Sai.
"Kau pasti haus," ucap Ino canggung.
Menyadari situasi antara dua orang itu, Naruto segera menyingkir dari sana untuk memberi mereka ruang. "Ayo, teman-teman, kerja lagi. Dilarang nguping," tambahnya pada teman-teman Cheers Ino yang sibuk mengarahkan tatapan penasaran pada dua orang itu.
Hubungan gelap yang pernah terjalin di antara Ino dan Sai sekarang sudah menjadi rahasia umum. Bahkan pernah menjadi bahan gosip panas di antara anak-anak penggemar gosip seantero sekolah beberapa minggu yang lalu. Wajar saja jika kelanjutan hubungan dua orang yang pernah menjadi sepasang kekasih rahasia itu menimbulkan rasa penasaran.
Sai menatap Ino dengan ragu-ragu selama beberapa saat, sebelum akhirnya menerima gelas yang diulurkannya. "Terimakasih."
"Hmm…" Ino mengangguk. Gadis itu memaksakan senyum pada Sai. "Kuharap acara ini berjalan lancar."
"Aa," gumam Sai. "Kuharap juga begitu."
"Sakura pasti bakal senang sekali," kata Ino lagi.
"Hn."
"Sebaiknya aku membantu yang lain," Ino melempar senyum canggung terakhir pada Sai sebelum bergegas bergabung dengan teman-temannya.
"Hn." Diam-diam, Sai menatap punggung Ino dengan tatapan merana, sebelum menenggak minumannya hingga tandas.
.
.
TBC
.
.
Sidestory bagian 2 selesai. Ada perubahan rencana. Tadinya sidestory ini cuma dibagi jadi dua saja, tapi ternyata kepanjangan. Plus, besok harus balik lagi ke Bandung, jadi ini kesempatan terakhir untuk apdet gretong di rumah. Hehehe... XD
Makasih buat temen-temen yang sudah RnR chapter kemarin. Harap maklum kalo chapter ini agak aneh, apalagi bagian berantemnya SasuSaku. Saya juga bingung soalnya dan chapter ini sudah beberapa kali tulis-rombak-tulis ulang. Untuk chapter depan kepingin banyakin acara jalan-jalannya SasuSaku deh. Sampe ketemu chapter depan.
Terimakasih sudah membaca sampai sejauh ini.
(n_n)
