Oke. Pergi ke toko hewan peliharaan sama sekali tidak termasuk dalam daftar rencananya untuk melewatkan hari ulangtahunnya. Lebih-lebih untuk membeli hadiah bagi seekor anjing yang juga sedang berulangtahun. Bukan berarti Sakura tidak menyukai si anjing yang menurutnya benar-benar imut itu, hanya saja melihat sahabatnya lebih ingat ulangtahun anjingnya daripada dirinya sendiri membuat gadis itu merasa sedikit… yah—patah hati.
Sakura tidak pernah membayangkan dirinya begitu cemburu pada Rufus hanya karena Sasuke Uchiha lebih memperhatikan anjing itu ketimbang dirinya. Konyol sekali. Alhasil, ia meninggalkan toko itu sambil bersungut-sungut sebal.
Sasuke yang menyadari perubahan mendadak itu menyeringai diam-diam di belakangnya. Dan tentu saja, cowok itu pura-pura tidak mengerti. "Oi, kau kenapa?" tanyanya pada Sakura yang berjalan di depannya.
Sakura menghela napas keras-keras. "Tidak kenapa-kenapa," sahutnya sambil menggerutu.
"Wajahmu tidak enak dilihat," komentar Sasuke dengan nada bosan.
Gadis di depannya berhenti berjalan, lalu menoleh ke belakang dengan cepat sehingga anak rambut merah muda yang membingkai wajahnya sedikit tersibak. Mata hijaunya memicing memandang Sasuke. "Kalau begitu tidak usah dilihat!"
Ketika Sakura kembali berbalik, sudut bibir Sasuke berkedut seolah sedang menahan cengiran. Cowok itu tidak bisa memungkirinya lagi, Sakura yang ngambek memang sangat imut. Selama beberapa saat Sasuke mengikuti Sakura sambil asyik memperhatikan gadis itu berjalan di depannya, sampai kemudian ia menyadari kemana Sakura melangkah. Halte bus. –Oh, tidak bisa!—Sasuke segera mempercepat langkahnya dan menyambar tangan Sakura, menariknya berbelok ke arah berlawanan.
"Apaan, sih?" Sakura memprotes. "Kan urusannya sudah beres. Sekarang aku mau pulang."
"Siapa bilang sudah beres, eh?" sergah Sasuke sembari terus memaksa Sakura melangkah menjauhi halte. "Aku masih mau jalan-jalan. Kau sendiri yang bilang mau menemaniku, kan?"
Sakura membeliak pada Sasuke. Gadis itu baru saja hendak membuka mulutnya untuk melontarkan komentar menyengat atas perlakuan tidak semena-mena itu ketika ia melihat seseorang yang dikenalnya baru saja turun dari salah satu mobil –yang juga dikenalnya—yang diparkir di sepanjang tepi jalan yang mereka lewati. Pria itu mengenakan kaus berkerah, celana jeans dan sepatu olahraga. Penampilannya yang santai jelas menunjukkan Itachi Uchiha tidak habis dari kantor yang letaknya kebetulan hanya berjarak beberapa blok dari sana.
"Eh –Kak Itachi!" Sakura menyeletuk.
Mendengar namanya dipanggil, Itachi menoleh ke asal suara. Pria itu tersenyum cerah ketika melihat dua remaja yang dikenalnya. "Sakura?" sapanya. "Sasuke?"
Sasuke tidak menjawab. Ia tampak sedikit terkejut akan bertemu dengan kakaknya. Tentu saja itu termasuk dalam rencana. Dan mengingat Itachi tidak tahu-menahu tentang rencananya bersama Naruto dan Sai tentang kejutan untuk Sakura, ditambah lagi kakaknya itu seringkali menggodanya di rumah mengenai Sakura, ini bukan pertanda baik. Itachi pasti bakal sangat menyebalkan nanti.
Belum pulih keterkejutan Sasuke, seekor golden retriever melompat turun dari dalam mobil, menyalak riang ke arahnya. Rufus tampaknya sangat girang bertemu tuannya yang satu lagi, karena saat berikutnya anjing itu sudah berlari dan menyurukkan kepalanya dengan gembira ke selangkangan Sasuke, membuat cowok itu refleks mendengking karena kaget,
"OI! –Anjing nakal!"
"Halo, Rufus…" Sakura menyapa si anjing dengan riang. Gadis itu berlutut di dekat Rufus untuk menggaruk lehernya yang penuh bulu. Retriever itu berpaling dari Sasuke dan menjawab sapaan Sakura dengan menjilati telinga Sakura penuh sayang. Sebelah kaki depannya diletakkan di atas lutut gadis itu. "Good boy…" Sakura terkikik-kikik kegelian, "Kudengar kau berulangtahun hari ini, eh?"
"Sakura tahu?" Itachi segera menoleh pada Sakura setelah menutup pintu mobilnya, tampak agak terkejut.
Sakura mendongakkan kepalanya untuk tersenyum pada Itachi. "Sasuke yang cerita, Kak," ujarnya sambil mengerling Sasuke. "Tadi Sasuke mengajakku ke Pet Shop –tepatnya sih memaksa—karena katanya Sasuke kepingin membelikan sesuatu untuk Rufus."
Kedua alis Itachi terangkat tinggi ketika memandang adiknya yang memasang tampang masam dan membuang muka ke arah lain seolah sedang menghindari tatapannya. Dan sebuah pemahaman yang kemudian melintas di kepalanya membuat sudut-sudut bibir Itachi terangkat membentuk sebuah seringai tipis. "Aah…" ia mengangguk-angguk, lalu pandangannya beralih pada Sakura yang masih asyik dengan Rufus. Tatapannya melembut.
Merasa tengah diperhatikan, Sakura kembali mendongakkan kepalanya. Gadis itu mengerjap. Wajarnya bersemu merah ketika mendapati kakak sahabatnya tengah menatapnya. "A—Ada apa, Kak Itachi?" tanyanya salah tingkah, "Ada yang salah dengan wajahku?"
"Ah, tidak…" Itachi tertawa kecil. "Hanya saja kau kelihatan cantik hari ini."
Wajah Sakura yang sudah merona langsung berubah merah padam. Dan reaksi Sasuke persis seperti yang diperkirakan oleh Itachi. Sasuke menoleh cepat ke arahnya dan melotot ke arah kakak lelakinya itu. Itachi menyamarkan kekehannya menjadi batuk-batuk kecil.
"Kudengar kau sedang menggoda seorang gadis di depan klinikku, Itachi," suara seorang wanita segera mengalihkan perhatian semua orang.
Hana Inuzuka tengah berdiri di depan pintu kaca bangunan bercat putih di belakang mereka yang rupanya adalah sebuah klinik hewan. Terpampang besar-besar di kaca etalase, tulisan Inuzuka Veterinary Clinic melengkung di atas lambang hewan berwarna putih. Hana masih mengenakan jas prakteknya di atas kemeja denim berwarna hijau muda dan jeans selutut.
"Oh, tidak… Aku ketahuan!" kata Itachi dengan nada yang sama sekali tidak terdengar menyesal. Ia justru tersenyum melihat kekasihnya itu menyipitkan mata, melipat kedua lengan di depan dada, serta memasang wajah galak –yang sekejap kemudian meluntur begitu Itachi menghampiri dan mendaratkan kecupan di pipinya.
"Dasar playboy!" Hana mendorong dada pria itu main-main. Bibirnya berkedut menahan cengiran.
"Mana aku berani," bisik Itachi, membuat Hana mendengus tertawa.
"Hai, Rufus…" Hana membelai puncak kepala Rufus ketika retriever itu mendekatinya, kemudian berpaling pada dua remaja di belakang Itachi. "Halo," sapanya dengan senyum hangat. "Sakura, lama tak bertemu, ya?"
"Ah, Kak Hana…" Sakura membalas salah tingkah –Bagaimana tidak salah tingkah jika beberapa detik yang lalu kekasih wanita di depannya itu memujinya cantik dan wanita itu mendengarnya! Yah, walaupun ia tahu kekasihnya itu hanya bergurau, tapi tetap saja, kan?
Sementara itu Hana kembali menoleh pada Itachi dan memberinya pandangan heran. "Kukira kau datang sendirian?" tanyanya dalam suara pelan.
"Oh, kami hanya kebetulan berpapasan dengan Kak Itachi di sini," Sakura tak bisa menahan dirinya menjawab. Dan saat berikutnya, wajahnya merona lagi.
"Hanya kebetulan," Itachi mengangguk, menguatkan perkataan Sakura, kemudian melanjutkan dengan nada kalem, "Kebetulan mereka sedang berkencan di dekat sini. Benar kan, Sasuke?"
"BERISIK!" bentak Sasuke, sementara Sakura hanya meringis, tidak yakin harus merespon bagaimana.
.
.
"Jadi…" Itachi melirik adiknya dengan penasaran. Saat itu keduanya tengah duduk di ruang tunggu klinik sementara Sakura dan Hana baru saja menghilang di ruang pemeriksaan bersama Rufus untuk memberinya vitamin. Itachi sengaja meminta Sakura yang menemani Rufus karena ingin bicara-berdua-saja dengan Sasuke, "…apa maksudnya ini, hm? Kau mau cari-cari alasan untuk bisa berduaan dengan Sakura dengan menceritakan tentang ulangtahun Rufus atau bagaimana?"
'Benar, kan?' pikir Sasuke gusar seraya bergerak tak nyaman di bangkunya. Ia tidak menjawab, mendadak sangat tertarik pada poster buatan sendiri yang mempromosikan tentang 'Pentingnya memberi vaksin pada hewan peliharaan Anda' yang dipajang di seberang ruangan. Gambarnya jelek sekali –Sai bisa membuat yang jauh lebih bagus.
"Kutebak kau berencana mengutarakan perasaanmu padanya kali ini. Benar, kan?" tebak Itachi. Seringai tipis menghiasi bibirnya saat melihat reaksi Sasuke –adiknya itu langsung menoleh cepat ke arahnya, wajahnya memerah.
"Jangan sembarangan bicara," Sasuke menukas sengit. "Sama sekali tidak ada rencana konyol seperti itu," ia menambahkan dalam gerutuan.
Itachi mengangkat sebelah alisnya. Jelas ia tidak percaya begitu saja pada kata-kata adiknya itu. Walaupun Sasuke sudah mengakui secara terbuka perasaannya terhadap gadis bernama Sakura Haruno padanya, tetapi tetap saja, setiap kali ia mulai mengungkit topik itu, Sasuke selalu berusaha berkelit. Agaknya adiknya itu masih malu-malu –kecuali jika Sasuke yang memulai bicara terlebih dulu. Yang itu artinya pasti ada masalah, seperti Sakura sedang naksir atau ditaksir cowok lain atau hal-hal semacam itu—dan ini membuat Itachi gemas sendiri. Gatal sekali rasanya ingin memancing Sasuke agar lebih aktif, dengan cara yang benar, tentu saja. Jangan seperti saat dengan Hinata dulu –kelewat agresif sampai-sampai membuat gadis itu kabur ketakutan.
"Sama sekali tidak ada rencana konyol seperti itu," Itachi mengulangi pelan, lalu menghela napas. Disandarkannya punggungnya pada punggung bangku tunggu. "Atau ada rencana lain? Misalnya saja melewatkan hari jadi Sakura hanya berdua saja –tanpa Naruto dan Sai?" ia menyeringai tipis.
"Kau tahu ulangtahun Sakura?" Sasuke balik bertanya, ekspresinya terkejut.
Itachi mengangkat bahu dengan sikap santai. "Yah… Tadi waktu mengambil pakaian kotor dari kamarmu, aku melihat kau menandai kalender tanggal hari ini dengan gambar hati—"
"Aku tidak menggambar hati!" Sasuke membantah langsung. Pipinya memerah lagi.
Itachi mengabaikannya dan melanjutkan, "—dan catatan hari ulangtahun Sakura."
Sasuke menatap kakaknya sebal. Mengesalkan sekali setiap kali Itachi berhasil memojokkannya dan membuatnya merasa seperti anak kecil yang tertangkap basah mencuri permen. Tidak tahu harus berkata apa, Sasuke segera mengalihkan topik –sekaligus mencari-cari alasan untuk menyalahkan kakaknya.
"Jadi kau masuk ke kamarku?" semburnya dengan nada menuduh yang tak berusaha ditutup-tutupi. Dan omong-omong, Sasuke memang tidak senang jika siapa pun, termasuk Itachi, masuk sembarangan ke wilayah teritorinya. Sama tidak senangnya seperti Itachi jika Sasuke dengan seenaknya menggeratak lemarinya dan mengambil kaus kakinya tanpa izin seperti minggu lalu –yang berakhir dengan Itachi yang terpaksa berangkat ke kantor tanpa kaus kaki, karena kaus kaki bersih miliknya yang terakhir dipakai sang adik kurang ajar.
"Tadi kan sudah kubilang aku mau ambil pakaian kotormu," ulang Itachi sabar. "Hari ini giliranku pergi ke laundry. Ingat?"
"Aku menaruh baju kotorku di keranjang di kamar mandi," Sasuke mendesis.
"Tapi kau selalu meninggalkan kaus kakikotormu di kamar," kata Itachi kalem –dan Sasuke tidak bisa membantah ini, maka ia memilih memasang tampang cemberut paling menyebalkan yang ia bisa—"Dan aku tidak punya waktu meneleponmu untuk meminta izin –aku sedang buru-buru—jadi lain kali…" Itachi mendadak berhenti dan menghela napas, "Yah, lupakan soal kaus kaki. Jadi, apa kalian sedang merayakan ulangtahun Sakura berdua saja, eh?"
Rupanya Itachi tidak semudah itu dibelokkan.
"Tidak," Sasuke menggerutu. Sepertinya ia memang tidak bisa menyembunyikan apa pun dari sang kakak. Sasuke melirik pintu ruang praktek, memastikan Sakura maupun Hana belum akan keluar, sebelum menceritakan dengan suara rendah pada Itachi tentang rencana yang sedang ia jalankan bersama kedua sahabatnya –dan semua anak-anak yang terlibat. "…Aku hanya bertugas mengalihkan perhatiannya –menjauhkannya dari Blocaf."
"Wah," komentar Itachi, dan selama beberapa saat pria itu hanya menatap adiknya seakan ia tidak pernah benar-benar menatap Sasuke sejak lama sekali. Sudut-sudut bibirnya melengkungkan senyum yang bisa membuat gadis mana pun pingsan di tempat.
"Ap—OI!" Sasuke kontan memberontak ketika kakaknya mendadak mengalungkan lengan ke lehernya, memitingnya, lalu mengacak-acak rambutnya tanpa ampun, mengundang para pengunjung klinik untuk menolehkan kepala ke arah mereka. "Kak—hentikan!" –Sasuke benar-benar berharap kakaknya berhenti memperlakukannya seperti anak kecil saat itu juga, karena ia berani bersumpah mendengar gadis kecil berkacamata dan berkawat gigi yang membawa guinea pig sakit dalam kandang di sudut ruangan terkikik padanya.
Dan untungnya beberapa saat kemudian Itachi berhenti mengacak-acak rambutnya, meskipun kekehannya belum berhenti. "Adikku manis sekali…" komentarnya, "Berani taruhan, kalau kau bersikap manis begini, lama-lama Sakura akan jatuh hati padamu."
Komentar ini kontan membuat wajah Sasuke menghangat. "Kau ini bicara apa, sih?" gerundelnya.
Sembari tertawa kecil, Itachi berkata, "Aku bilang, Sakura akan jatuh hati padamu, Sasuke. Pasti. Aku yakin sekali."
Sasuke mendengus sangsi. "Idiot," gerutunya. "Kalau yang kau maksudkan karena rencana ini, bisa saja Sakura malah jadi suka pada Naruto atau Sai."
Sekali lagi Itachi mengabaikan komentarnya. "Masih tidak percaya juga?" Itachi mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi, menatap adiknya menantang, "Mau taruhan?"
Sasuke tidak menjawab. Ia malah memalingkan wajahnya yang sudah merona, dengan sengaja menghindari tatapan sang kakak. Sementara sudut-sudut bibirnya berkedut ketika ia setengah mati menahan senyum.
Dan untungnya ia terselamatkan dari topik yang membuat mukanya memerah sampai ke akar-akar rambutnya itu dengan kemunculan dua wanita bersama seekor retriever tampan berbulu cokelat keemasan dari pintu ruang pemeriksaan. Sakura menggiring Rufus ke ruang tunggu seraya mengobrol ceria dengan Hana yang sudah menanggalkan jas prakteknya. Keduanya terlihat sangat akrab seperti sepasang teman lama.
Melihat mereka, Itachi segera melepaskan rangkulannya dari pundak Sasuke dan berdiri dengan senyum lembut menghiasi wajahnya –senyum yang hanya ia berikan untuk kekasihnya, tentu saja. "Sudah selesai?"
"Yah…" Hana tampak bersemu merah –entah karena obrolannya dengan Sakura, atau senyum Itachi. Wanita itu berpaling sejenak untuk berbicara pada petugas di resepsionis sementara Sakura berjalan menghampiri kakak beradik Uchiha.
"Ini dia, Rufus… Kembali ke tuanmu, anjing pintar…" kata Sakura ceria sambil menyerahkan tali lehernya pada Itachi, lalu menoleh pada Sasuke yang masih duduk di bangku. Seulas senyum misterius yang sulit diartikan tersungging di bibirnya ketika ia menatap Sasuke, sebelum kemudian berpaling ke arah lain –masih tersenyum-senyum sendiri.
Sasuke menaikkan sebelah alisnya, sebelum sekejap kemudian jantungnya seakan terlonjak ke leher. Senyum itu! Senyum yang dulu sering ia lihat tersungging di bibir Sakura setiap kali gadis itu berada di dekat Neji Hyuuga.
Masa sih?
Sasuke refleks menolehkan kepalanya ke sana kemari, memastikan apakah di sana ada Neji atau tidak. Ternyata memang tidak ada –Sasuke baru ingat semua murid kelas tiga, termasuk Neji Hyuuga, mengikuti kelas tambahan sampai malam. Dan ketika ia kembali memandang Sakura yang sedang mengobrol dengan Itachi, senyum itu sudah tidak ada, digantikan oleh cengiran… yah, yang biasa-biasa saja.
Ah, barangkali aku hanya membayangkannya saja.
Gara-gara Itachi…
.
.
Sakura dan Sasuke mengekor Hana dan Itachi meninggalkan klinik hewan Inuzuka tak lama kemudian. Kebetulan hari itu Hana dan Itachi memang berencana mengajak Rufus jalan-jalan sore ke Konoha Central Park –yang jaraknya hanya beberapa blok saja dari klinik Hana—bersama-sama. Sekaligus merayakan satu tahun Rufus 'mempertemukan' keduanya. Dan dua remaja di belakang mereka –tamu tak diundang yang tak punya tujuan—hanya bisa membuntuti pasangan itu. Setidaknya untuk beberapa saat, sampai akhirnya mereka tiba di persimpangan menuju KCP.
"Kalian yakin tidak mau ikut kami?" Hana menanyai Sakura dan Sasuke sementara mereka menunggu lampu lalu lintas untuk pejalan kaki menyala hijau.
"Tidak, Kak. Makasih," sahut Sakura sambil tersenyum sopan, "Kami tidak ingin mengganggu acara kalian," ia menambahkan seraya mengerling Itachi yang sibuk menahan Rufus yang kelewat antusias mengendusi gerobak penjual hotdog tak jauh dari sana.
"Sama sekali tidak mengganggu," kata Hana meyakinkan.
Namun Sakura tahu itu hanya basa-basi saja. Mereka pastilah ingin melewatkan waktu betiga saja dengan Rufus –mengenang momen pribadi yang hanya dimiliki mereka bertiga.
"Kami punya acara sendiri, Kak," kata Sasuke, menyela Sakura sebelum gadis itu membuka mulutnya. Sakura akhirnya hanya menimpali dengan anggukan kepala.
"Memangnya kalian berdua mau ke mana?" kali ini Itachi yang bertanya dengan eskpresi ingin tahu di wajahnya. Rufus sudah berpaling dari gerobak dan sekarang berdiri di atas kedua kaki belakangnya dengan kedua kaki depan bertumpu pada dada Itachi, berusaha menjilati wajah tuannya itu –yang tentunya tidak sampai, mengingat postur Itachi yang termasuk jangkung.
Sasuke menahan diri tidak memutar matanya. Masih saja penasaran, pikirnya. "Toko buku," gumamnya asal.
Itachi menaikkan sebelah alisnya, tetapi tak berkata apa-apa lagi karena tepat saat itu lampu lalu lintas menyala hijau dan mereka harus segera menyeberang jika tidak ingin tergilas oleh serombongan bapak-bapak yang sepertinya baru pulang dari kantor.
"Kalau begitu kami pergi," kata Hana, sebelum ketiganya melangkah ke zebracross untuk menyeberang ke arah KCP.
Sakura dan Sasuke berdiri di sana selama beberapa saat sambil mengawasi kedua orang dewasa itu dan Rufus yang semakin menjauh. Yah, sebenarnya hanya Sakura yang mengawasi mereka sementara Sasuke yang tidak begitu tertarik langsung menggunakan kesempatan selagi Sakura tidak melihat ke arahnya dengan mengutak-atik ponselnya, mengirim pesan pada Naruto.
.
.
"Omong-omong kau mau mencari buku apa, sih?" tanya Sakura ketika mereka menyusuri jalanan sore yang ramai menuju distrik yang mereka tahu terdapat sebuah toko buku yang cukup besar.
Sasuke melirik gadis yang berjalan di sebelahnya. Sakura tampak ceria. Setidaknya tidak ada kerutan di antara kedua alisnya seperti yang diperlihatkannya sebelum ini, dan ia tengah tersenyum. Sasuke mengamatinya dengan keheranan selama beberapa saat lagi. Menyeramkan bagaimana suasana hati gadis itu cepat sekali berubah, pikirnya. Sebentar cemberut, tetapi di waktu berikutnya ia berubah ceria. Setelah itu kembali memasang tampang memberengut, kemudian ceria lagi.
"Tidak tahu. Aku hanya ingin pergi ke sana saja," kata Sasuke sedikit menggerutu.
Sakura menoleh padanya, memberinya tatapan bersimpati yang polos. "Astaga… Sepertinya pekerjaan di OSIS benar-benar berat, ya?" Ia menghela napas keras-keras, lalu tersenyum lagi, "Tapi menghabiskan waktu di toko buku memang asyik, kok. Yuk, kita sudah dekat!"
Sasuke hanya bisa tercengang ketika gadis itu dengan riang menarik tangannya dan membawanya berjalan lebih cepat menuju toko buku yang terletak di ujung jalan. Toko itu tidak begitu ramai saat keduanya tiba di sana. Alunan musik instrumental mendayu-dayu terdengar dari pengeras suara, menemani para pengunjung toko yang tengah memilih-milih bahan bacaan di sepanjang rak-rak yang berderet berdasarkan kategori.
Biasanya, jika Sakura sedang pergi sendirian, atau bersama Ino, ia akan langsung melesat ke rak-rak yang memajang novel untuk melihat seri novel petualangan—jenis novel favorit Sakura—yang terbaru. Tapi kali ini tidak. Gadis itu memilih membuntuti Sasuke yang bergerak ke arah rak-rak yang memajang buku pengembangan diri –jenis buku yang biasa diganyang Sai—yang letaknya jauh berseberangan dengan rak novel, meskipun Sakura tidak begitu yakin Sasuke tertarik dengan buku-buku itu.
Barangkali cowok itu hanya tidak ingin terlalu dekat dengan serombongan gadis berisik yang mengerumuni rak novel remaja, mengingat bagaimana efek yang ditimbulkan jika ia terlalu dekat dengan orang-orang semacam itu. Tidak terlalu menyenangkan, setidaknya bagi Sasuke. Dan karena Sasuke bilang ia sedang suntuk dengan masalah sekolah, rasanya menjadi pusat perhatian –dilirik-lirik dan ditunjuk-tunjuk serombongan orang yang tidak dikenal—bukanlah jenis terapi yang ia butuhkan.
Namun baru beberapa saat Sakura mengikuti Sasuke, ia sudah mulai bosan. Sasuke sama sekali tidak berbicara padanya. Mungkin ia terlalu menghayati mengobrak-abrik buku-buku di sana sehingga sama sekali tidak memperhatikan apa pun termasuk gadis di sampingnya. Setidaknya itu yang dipikirkan Sakura, karena Sasuke sebenarnya melakukan itu dengan sengaja –maksudnya, membuat Sakura bosan dan pergi menjauhinya supaya ia bisa dengan bebas membuka balasan pesan dari Naruto yang masuk beberapa saat yang lalu.
Dan akhirnya usahanya berhasil. Ia bisa mendengar Sakura menghela napas bosan, menyurukkan buku terakhir yang dipegangnya ke tempatnya semula, lalu melenggang pergi ke seksi yang lebih tidak membosankan.
Memastikan Sakura tidak sedang memandang ke arahnya, Sasuke buru-buru merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel. Sejurus kemudian ia langsung mengumpat pelan ketika membaca balasan dari sobat pirangnya itu,
'Tentu saja kami belum siap! Rencananya kan memang setelah gelap kau baru bisa membawanya kemari! Kau ulur saja deh waktunya, terserah mau bagaimana caranya, pokoknya Sakura jangan sampai pulang ke Blocaf sebelum gelap. Oke? Semangaaat! :D'
Padahal Sasuke sudah tidak punya ide mau mengajak Sakura ke mana lagi setelah ini. Haah… Mungkin tadi sebaiknya mereka menerima saja ajakan Itachi dan Hana, dengan begitu mereka punya alasan untuk pulang lebih sore, pikir Sasuke. Meskipun tidak ada jaminan kakaknya tidak akan 'bocor' mengenai ulangtahun itu.
Menghela napas, Sasuke melirik dari atas rak dan melihat Sakura tampak asyik di—yang mengherankan, bukan di seksi novel seperti yang dikiranya—deretan rak yang memajang buku-buku dan majalah pariwisata. Tahu, kan? Buku-buku tour-guide, peta-peta daerah wisata dan semacamnya. Wajahnya terlihat antusias.
Penasaran, Sasuke lantas berjalan menghampirinya, berhenti di belakangnya. Ia mengintip dari atas bahu Sakura untuk melihat apa yang sedang dibacanya dengan begitu bersemangat. Di halaman buku yang tengah dibuka oleh Sakura memperlihatkan hamparan pantai berpasir putih yang dikejauhannya tampak beberapa perahu layar. Sementara di kolom lain halaman itu memperlihatkan potongan gambar tempat-tempat wisata –museum, teater, pantai, perkebunan, hotel-hotel, pemadangan pemukiman dan pasar-pasar tradisional di tepi kanal lengkap dengan perahu-perahu mirip gondola di Venesia dan lain-lain. Dan judul kecil di bagian kanan atas halamannya adalah,
"Kiri?"
Sakura menoleh ke belakangnya saat mendengar suara Sasuke. Gadis itu tersenyum berseri sebelum mengalihkan perhatiannya lagi ke buku di tangannya. "Bagus, ya?"
"Hn," respon Sasuke singkat, memperhatikan Sakura membalik halamannya.
"Aku kepingin sekali pergi ke Kiri lagi," tutur Sakura, sedikit menerawang. "Aku dan keluargaku pernah ke sana sekali saat liburan. Tapi itu dulu sekali, waktu aku masih kecil. Lima atau enam tahun, kalau tidak salah."
"Kakakku sering ke Kiri," Sasuke bergumam, "Soalnya dia dan teman-temannya yang kacau-kacau itu membuka usaha di sana," tambahnya, ketika Sakura menoleh lagi ke arahnya dan memberinya tatapan bertanya.
"Wah… Pasti menyenangkan," komentar Sakura, "Aku jadi penasaran apa Yamato bertemu mereka—teman-teman Kak Itachi, maksudku—di sana. Tahu, kan, Yamato berkuliah di sana?"
"Hn. Kuharap sih tidak. Bisa membawa pengaruh buruk," kata Sasuke datar.
Mendengar komentar itu, Sakura malah tertawa. "Masa sih? Aku pernah ketemu beberapa teman Kak Itachi, kok…" Sakura teringat kakak Sasuke itu pernah membawa dua orang temannya ke Blocaf beberapa bulan yang lalu, walaupun hanya samar-samar. Yang satu berambut merah, masih bersaudara dengan Gaara dan Kankurou. Dan yang satunya lagi, pria tinggi besar berambut biru cepak yang proteswaktu Sakura memanggilnya dengan sebutan 'Paman'. "Kelihatannya mereka baik."
"Oh, yeah…" Sasuke mendengus. "Dan aneh-aneh."
"Kau ini…" Sakura memberinya tatapan mencela, "Mereka kan teman-teman kakakmu, berarti bisa disebut kakakmu juga dong."
"Satu kakak saja sudah cukup buatku." Sasuke menggerak-gerakkan tangannya seolah menepis kata-kata Sakura yang menyebutkan teman-teman kakaknya berarti kakaknya juga.Ia tidak mau menganggap cowok sinting yang pernah mencoba membakar rumahnya sebagai kakak. Yeah, Sasuke sama sekali belum lupa cowok bernama Deidara pernah menyalakan petasan di balkon kamar Itachi dan nyaris membakar tirai, juga membuat Paman Hayato –kepala pelayan di kediaman Uchiha—yang malang hampir kena serangan jantung akibat ulah isengnya itu.
Dan menganggap cowok-gila-petasan sebagai kakak? Yeah. Yang benar saja.
Tapi rupanya Sakura tidak berniat memperpanjang masalah itu. Gadis itu kembali berpaling untuk membuka-buka lagi halaman berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya lagi, seraya mulutnya tak henti menyerocos ini dan itu, juga tentang keinginannya mengunjungi Kiri sekali lagi. Sampai ide itu kemudian melintas dalam kepalanya. Mata hijaunya langsung melebar dan berbinar-binar ketika ia memutar tubuhnya untuk memandang Sasuke yang tengah membuka-buka buku tentang Oto di sampingnya.
"Hei, bagaimana kalau kita ke sana liburan musim panas nanti?"
Sasuke yang tidak benar-benar mendengarkan, menoleh cepat pada Sakura. "Apa?"
"Kubilang, bagaimana kalau kita pergi ke sana –ke Kiri, maksudku—liburan musim panas nanti? Aku, kau, Naruto dan Sai!" Sakura meletakkan telunjuknya di dagu, berlagak berpikir, "Um… mungkin aku akan mengajak Ino dan yang lain juga. Pasti bakal asyik banget…"
"Ke Kiri?" Sasuke memandang Sakura tak yakin, "Yakin ibumu akan mengizinkanmu pergi ke tempat sejauh itu? Maksudku, Kiri kan ada di seberang pulau."
"Aku juga tidak tahu," Sakura menghela napas seraya menutup buku di tangannya, merenung. Tapi sedetik kemudian wajahnya tampak cerah lagi. "Tapi kan ada Yamato di sana!" serunya, lalu mengangguk, "Kalau tidak ada yang kukenal di sana, mungkin ibuku tidak akan mengizinkan. Tapi kalau ada Yamato… Yah… kuharap ceritanya akan jadi lain."
"Hn. Terserah kau saja," Sasuke menanggapi tanpa benar-benar menaruh minat. Ia masih meragukan bahwa Azami Haruno akan mengizinkan putrinya pergi ke tempat yang jauh tanpa pengawasannya, sekalipun ada Yamato di sana. Maksudnya, Sakura kan anaknya satu-satunya. Dan biasanya orangtua akan lebih protektif pada anak tunggal.
Namun ketidakantusiasan Sasuke tidak lantas membuat semangat Sakura untuk mereka-reka rencana-liburan-musim-panas-ke-Kiri-nya meredup. Bahkan ketika mereka meninggalkan toko buku sore itu, dengan Sakura yang memeluk bungkusan berisi majalah pariwisata yang membahas tentang Kiri, gadis itu masih saja mencerocos dengan gembira. Nampaknya ia tidak begitu memperhatikan apakah Sasuke mendengarkannya atau tidak.
"Kau ini aneh," gumam Sasuke, menyela monolog panjang Sakura tentang indahkan sunrise di Kiri sementara mereka menyusuri deretan café outdoor yang ramai. "Bagaimana bisa kau jadi gembira begitu padahal tadi marah-marah tidak karuan, eh?"
Sakura nyengir. "Marah terus itu capek, tahu!" kekehnya.
"Hn." Sasuke memutar bola matanya.
Melihat itu, Sakura tertawa lagi. Dengan riang Sakura meraih lengan Sasuke, menyelipkan lengannya sendiri di bawahnya, memeluk lengan cowok itu dengan dua tangan –membuat cowok itu terkejut bukan kepalang karena Sakura tiba-tiba menggandengnya seperti itu, namun tentu saja Sasuke berusaha keras tidak memperlihatkannya terang-terangan.
"Lagipula," lanjut Sakura dengan nada ringan, "Kak Hana tadi mengingatkanku kata-kata yang diucapkan Kak Hime dulu padaku, kau tidak bisa selamanya berharap orang lain akan selalu ingat dan menyenangkan kita. Jadi tidak ada salahnya dengan melakukan yang sebaliknya –membuat orang lain senang, maksudku. Dia bilang, seharusnya hari istimewa seperti ini dilewatkan dengan senyum, bukannya cemberut terus."
"Kak Hana?" Sasuke memandang Sakura tak mengerti.
Sakura mengangguk. "Tadi aku sempat curhat dengannya. Tahu, kan, saat dengan Rufus."
Dahi Sasuke berkerut. "Aku tidak tahu kau suka curhat dengan orang yang belum kau kenal baik."
"Siapa bilang aku tidak kenal baik Kak Hana?" Sakura menukas. "Kak Hana itu teman akrab mendiang kakakku waktu di sekolah. Dia dulu sering main ke rumahku, makanya aku mengenalnya. Jadi…" Gadis itu mendongak, memandang Sasuke dengan seulas senyum di wajahnya, "Berhubung di sini hanya ada kau, Sasuke Uchiha si Mister Jutek, bagaimana kalau kau mengizinkan aku sedikit menghiburmu, huh?"
Sasuke mengangkat kedua alisnya. Melihat Sasuke tampaknya tidak menangkap maksud perkataannya, Sakura berkata, "Tadi kan kau sendiri yang bilang sedang pusing masalah OSIS dan ingin jalan-jalan. Atau kau lebih suka jalan dengan cewek yang mukanya cemberut terus dan tidak enak dilihat, eh?"
"Kau ini bicara apa—"
"Di samping itu—" sela Sakura tanpa menghiraukan kata-kata Sasuke. Senyumnya semakin lebar. "Aku mau memberitahumu satu rahasia –er… tapi bukan rahasia juga, sih…"
"Rahasia apa?" gerutu Sasuke dengan sikap seakan ia tidak tertarik, mencoba menepis kecurigaannya sejak Sakura menyebut hari istimewa –benar saja.
Saat itu Sakura menghetikan langkahnya, dan karena ia tengah menggandeng Sasuke, otomatis cowok itu ikut berhenti bersamanya. Ia melepaskan lengan Sasuke dan mendongak, menatap cowok itu sambil tersenyum cemerlang. Dan kata-kata yang kemudian meluncur dari bibirnya membuat hati Sasuke mencelos, "Hari ini aku berulangtahun!"
"Apa—"
"Yang ketujuh belas tahun!" lanjut Sakura, jelas-jelas tidak memperhatikan perubahan ekspresi di wajah Sasuke. "Jadi sekarang kita seusia, Sasuke! Kau, aku, Naruto dan Sai!"
"A—Aa…" Sasuke tidak yakin harus menanggapi bagaimana pernyataan ini. Ia sama sekali tidak menyangka Sakura akan berkata terang-terangan perihal ulangtahun itu padanya. Rusak sudah rencananya untuk pura-pura tidak tahu dan bersikap bego sampai akhir.
Dan rupanya tanggapan Sasuke tidak membuat Sakura puas. Dengan kedua mata dilebarkan seperti kucing yang hendak diberi makan, Sakura menatapnya tanpa mengatakan apa-apa, seolah sedang menunggu Sasuke mengatakan sesuatu yang lebih dari sekedar 'Aa'-nya yang tadi.
"Apa?" tanya Sasuke –pura-pura—bingung.
Kerut samar muncul di antara kedua alis Sakura. "Kau tidak ingin mengatakan sesuatu padaku?"
"Mengatakan apa?"
Sasuke yang malah balik bertanya membuat Sakura sebal. Digembungkannya pipinya sambil menghentakkan sebelah kaki ke trotoar. "Masa begitu saja masih bertanya? Bilang dong, 'Selamat ulangtahun, Sakura…' atau apa kek. Dasar manusia es batu!"
"Baiklah, baiklah. Selamat ulangtahun, Sakura… Puas?" ucap Sasuke, berlagak tak sabar.
Tadinya Sasuke mengira jawabannya –tepatnya nada yang ia gunakan—akan membuat Sakura kesal lagi, tapi nyatanya tidak. Senyuman di wajah gadis berambut merah muda itu kembali merekah ketika ia menganggukkan kepalanya penuh semangat. "Makasih, Sasuke… Hei, kau mau mampir ke sana? Aku akan mentraktirmu," seru Sakura sembari menunjuk ke sebuah café kecilbernuansa pink yang menyediakan beraneka macam cheese cake dan es krim di belakang mereka.
"Aku tidak makan makanan manis, Sakura," Sasuke menghela napas bosan.
Sakura meringis, menjulurkan lidahnya. "Yeah, aku tahu. Barangkali saja seleramu sudah berubah."
"Tidak akan," dengus Sasuke.
Tetapi Sakura nampaknya tidak mendengarkan, karena detik berikutnya ia sudah melesat menuju sebuah butik yang letaknya tepat bersebelahan dengan café barusan dan berhenti di depan etalasenya yang memajang beberapa boneka manekin yang memeragakan dress beraneka model yang cantik-cantik. Matanya menjelajahi satu demi satu dress yang dipajang di sana dengan tatapan kepingin. Hijau, ungu, pink, kuning, putih, polos, bermotif, garis-garis… —Jika Ino, pastilah ia sekarang tanpa ragu akan masuk ke dalam dan membeli setidaknya salah satu dari mereka. Tetapi ia kan bukan Ino yang selalu punya anggaran khusus untuk itu.
Sampai Sakura teringat uang pemberian ibunya tadi pagi. Senyumnya merekah.
"Hei—" Sasuke hendak memanggilnya, namun gadis itu sudah keburu melesat masuk ke dalam butik. "Oh, astaga…"
Ketika Sasuke menyusulnya masuk –dengan enggan, tentu saja. Ia tidak terbiasa masuk ke toko yang menjual barang-barang wanita seperti itu—Sakura tengah asyik melihat-lihat di salah satu rak pajangan dengan seorang pegawai toko berwajah sok manis mengekor di belakangnya. Sasuke memandang berkeliling. Toko itu tidak terlalu besar, setidaknya tidak sebesar butik yang sering disambangi Mikoto, ibunya. Warna-warna cerah dan nuansa girly mendominasi dekorasinya, menunjukkan bahwa butik itu hanya menjual pakaian dan pernak-pernik remaja putri. Tetapi itu tidak lantas membuat Sasuke merasa lebih nyaman. Terlebih beberapa pengunjung di sana mulai melirik padanya.
Ia melempar pandang ke sana kemari, mencari bangku yang bisa diduduki sementara menunggu Sakura menyelesaikan urusannya, yang ternyata tidak ada. Maka dengan enggan Sasuke mengikuti Sakura. Setidaknya dengan begitu ia terlindungi dari tatapan gadis-gadis yang membuatnya jengah.
"Yang ini bagus tidak?" Sakura bertanya seraya mengambil salah satu dress selutut berwarna pink cerah yang dipajang dan meletakkannya di atas tubuhnya sambil menghadap Sasuke, menunggu tanggapannya.
"Kau kelihatan seperti permen karet kalau pakai baju itu," komentar Sasuke.
Sakura tertawa. "Sudah kuduga kau akan berkata begitu," katanya, menggantungkan pakaian itu ke tempatnya semua di rak gantung dan beralih untuk melihat-lihat yang lain. Sampai matanya tertumbuk oleh sehelai dress yang dipajang di sebuah boneka manekin yang diletakkan di antara rak itu dan rak yang memajang jaket dan cardigan. "Ya ampun… bagus banget!" serunya antusias, praktis melompat ke depan si manekin.
Sasuke mengikutinya dan ikut menatap manekin itu. Yah, manekinnya memang bagus, entah mengapa mengingatkannya pada Ino Yamanaka, tapi tentu saja bukan itu yang sedang diperhatikan Sakura, melainkan dress yang dikenakannya. Sasuke yang tidak begitu mengerti selera perempuan pun berpendapat pakaian itu bagus. Terbuat dari bahan chiffon yang ringan, dress terusan berlengan pendek itu terlihat cantik membungkus tubuh langsing si manekin sampai terjatuh dengan anggun beberapa senti di atas lutut. Warnanya dasar beige berpadu lembut dengan motif floral, beberapa detail seperti kerutan di lengan, simpul berbentu pita di bagian dada dan renda di roknya semakin memberikan sentuhan manis pada dress itu.
"Ingin mencobanya?" tawar wanita berseragam pegawai toko yang sedari tadi mengikuti Sakura dengan sikap membujuk. "Warnanya sangat lembut, serasi dengan warna rambut Nona. Jika dipakai pasti sangat cantik. Bukan begitu?" si pegawai mengerling ramah pada Sasuke. "Pacarmu pasti sependapat denganku."
"Oh, dia bukan pacarku kok," sangkal Sakura, nyengir.
"Jelas bukan," Sasuke menggerutu sambil melipat kedua lengannya di depan dada, tampak tidak puas –lebih karena bantahan Sakura alih-alih perkataan di pegawai.
Pegawai itu tampak tidak percaya, tetapi baik Sasuke maupun Sakura mengabaikannya. Sasuke mengawasinya dengan sedikit mengerutkan dahi ketika Sakura kembali meneruskan kegiatannya semula mengagumi dress yang dikenakan manekin di depan mereka. Tidak perlu menjadi jenius untuk mengetahui bahwa Sakura sangat menyukai pakaian itu. Lihat saja matanya yang berbinar-binar itu, dan caranya melarikan jemarinya menelusuri simpul pita di dada si manekin, mengagumi bahannya yang terasa lembut dan ringan di kulit.
"Jadi, apa Nona tertarik mencoba?" tanya si wanita pegawai mengulangi.
Sakura menggigit bibirnya, nampak ragu.
"Kalau suka, dicoba saja apa susahnya, sih?" kata Sasuke, mulai tak sabar. Bisa-bisa mereka menghabiskan waktu sesorean itu di sana, menunggu Sakura memutuskan.
Sakura tidak menggubrisnya. Ia meraih label yang tergantung di bagian kerah si manekin, nyaris terlonjak senang begitu melihat ukuran dress itu sesuai dengan ukuran tubuhnya. Namun ketika pandangannya bergulir ke deretan angka yang menunjukkan harga di sisi sebaliknya label itu… gadis itu tersenyum kecut.
"Lain kali saja deh," ujarnya sopan, kemudian buru-buru beralih pada yang lain sebelum ia tergoda untuk membelanjakan habis uang pemberian ibunya untuk sehelai dress yang sangat ditaksirnya itu. Padahal kan ia punya rencana lain dengan uang itu.
Sementara Sasuke tidak beranjak dari tempatnya. Ia masih mengamati si manekin dengan tertarik. Tapi bukan berarti Sasuke naksir si manekin—Memangnya ia sudah gila?—Ia membayangkan jika Sakura yang mengenakan dress yang dikenakannya—terlepas dari kenyataan bahwa tubuh gadis itu tidak seramping si manekin yang bak model—pasti sangat bagus. Terlebih kelihatannya Sakura sangat menyukainya.
Benar, kan?
.
.
Bias senja sudah mulai nampak di langit Konoha ketika dua remaja itu meninggalkan butik. Sakura, yang pada akhirnya hanya membeli sebuah gelang yang berhias batu-batuan, masih tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Ia terus saja menggumamkan keluhan tentang mengapa-barang-yang-ia-taksir-harganya-selalu-selangit sementara mereka meninggalkan distrik itu.
"Kalau kau suka, kenapa tidak dibeli saja, sih?" Sasuke yang bosan mendengar keluh-kesah Sakura akhirnya bersuara.
"Uangnya tidak cukup…" keluh Sakura.
Sasuke mendengus. "Kau bergurau, ya? Tadi kulihat kau menyimpan banyak uang dalam tasmu."
"Tidak," Sakura menghela napas, "Aku punya rencana lain dengan uang itu." Diangkatnya Kiri guide-book yang ia beli di toko buku tempat mereka mampir sebelumnya dan memandanginya dengan pandangan yang sama seperti saat ia memandang dress di butik tadi. "Aku ingin menabungnya sebagian supaya bisa pergi liburan ke tempat ini. Kalau aku beli baju yang tadi, uangnya jadi tidak bisa ditabung."
"Kan belum tentu juga ibumu bakal mengizinkanmu pergi," komentar Sasuke.
Sakura menoleh, melempar senyum penuh arti padanya. "Hei, kau meremehkan aku, ya? Begini-begini aku paling pandai kalau soal membujuk ibuku."
"Hn. Terserah kau sajalah."
"Memang terserah aku!" Sakura tertawa, begitu riangnya sampai-sampai Sasuke yang sedari tadi setengah mati menahan diri untuk tidak nyengir akhirnya menyerah juga. Tapi tentu saja ia melakukannya ketika Sakura sedang tidak melihat ke arahnya.
"Sekarang kita mau ke mana?" tanya Sakura beberapa saat kemudian, ketika mereka malah memasuki wilayah pemukiman dengan jejeran gedung apartemen yang lebih lengang.
Sasuke memandang berkeliling dengan agak terkejut. Jujur saja sejak tadi ia tidak memperhatikan ke arah mana mereka melangkah, karena perhatiannya terlalu terpusat pada gadis cerewet yang terus saja berkicau di sampingnya.
Melihat Sasuke yang tampak kebingungan, Sakura terkekeh. "Jangan bilang kau malah tidak tahu kita sekarang berada di mana!"
"Er…"
.
.
Di dapur Blossoms' Café, suasananya jauh lebih ramai dibanding hari-hari yang biasa. Selain para juru masak dan pegawai part-time yang bertugas di tempat cuci piring, tampak beberapa orang tambahan lagi di sana. Hanya saja mereka tidak mengenakan seragam pegawai restoran seperti yang lain.
Dan mereka kini tengah mengerumuni salah satu meja yang biasa digunakan para koki memasak. Tiga orang gadis dan seorang pria muda yang sibuk berkutat dengan karya seninya. Ketiga gadis itu mengawasi dengan terkagum-kagum, ketika tangan si pria muda dengan terampil menempelkan potongan cokelat di sisi permukaan kue yang sudah dilapisi krim dasar, kemudian membuat hiasan di atasnya dengan menggunakan semprotan krim, membuat kue yang awalnya terlihat biasa saja menjadi sangat cantik –seperti yang sering mereka lihat di toko-toko kue.
"Kurasa nanti kita harus meliput yang seperti ini untuk program televisi sekolah kita, Hinata," desah seorang gadis berkacamata bundar, Shiho, pada kawannya tanpa mengalihkan matanya dari Yamato yang sedang memotong-motong buah stroberi segar untuk hiasan.
Gadis berambut panjang yang berdiri di sampingnya hanya mengangguk tanda setuju. Hinata yang memang suka memasak—hobinya yang lain selain menulis—dan kerap kali menjajal kemampuannya berkreasi dengan makanan di dapur, benar-benar terpukau dengan keterampilan tangan Yamato. Koki yang sudah profesional memang berbeda, apalagi pria itu sekarang sedang menjalani pendidikan khusus di bidang itu. Hinata merasa masih harus belajar banyak.
"Aku pasti bakal rajin nonton kalau begitu," komentar gadis berkucir, Hokuto, yang berdiri di sisi lain Yamato.
"Apa aku akan dibayar kalau kalian jadi meliput ini?" tanya Yamato dengan nada bergurau, membuat Shiho dan Hinata untuk pertama kalinya mengalihkan perhatian mereka ke wajah sang koki yang nyengir.
"Eeh?" kedua gadis itu berkata serempak.
Yamato tertawa kecil melihat reaksi mereka. "Aku hanya bercanda, Nona-Nona." –lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Kalau kalian sudah selesai," kata suara di belakang mereka. Ayame yang sedang berdiri di samping oven, tempat mereka baru saja selesai memanggang kue kecil untuk kudapan, dan tampak cemberut saja dari tadi melihat Yamato dikerubuti para gadis, menatap agak galak ke arah mereka, "Bisakah kalian bertiga membantuku? Di sini butuh lebih banyak tangan dari pada di sana."
Ketiga gadis itu lantas dengan enggan meninggalkan Yamato untuk membantu Ayame dengan kue-kuenya. Tempat mereka kemudian segera diisi oleh Gantetsu yang baru saja selesai memasukkan ayam berbumbu ke dalam panggangan, membawakan secangkir kopi untuk rekannya itu.
Sementara itu, dari luar dapur suara ramai anak-anak masih terdengar. Mereka sudah selesai memasang semua hiasan dan mulai membersihkan sisa kertas hias dan balon yang pecah. Naruto juga meminta teman-temannya membantunya menutup kerai jendela supaya pemandangan di dalam tidak terlihat dari luar.
"Yang bawa kendaraan, tolong ya, segera disingkirkan dari area parkir!" seru Naruto di antara suara bising teman-temannya.
"Eh! Enak saja main 'disingkirkan' segala!" Suigetsu yang sedang menarik kerai di dekat ruang ganti langsung bereaksi. "Skuter baru tuh! Singkirkan saja sepeda bututmu itu!"
"Yee… itu kan cuma ungkapan," gerutu Naruto. "Maksudnya parkirnya dipindahkan ke tempat lain, supaya jika Sakura datang tidak mencurigakan."
"Kalian bisa titip ke rumah Sasuke. Rumahnya ada di dekat sini." –Dan sebagian besar anak perempuan langsung bereaksi dengan kata-kata Sai ini.
"KYAAA!"
"Di rumah Sasuke? Mauuu!"
"Aaah… sayang banget aku tidak pakai sepeda tadi…"
"Atau kalian bisa pakai halaman belakang restoran ini, supaya lebih dekat," kata Naruto buru-buru seraya melempar pandang galak pada Sai, "Salahmu kalau nanti Sasuke ngamuk-ngamuk gara-gara rumputnya rusak terinjak-injak ban sepeda!" desisnya pada sahabatnya itu.
"Oh, maaf," kata Sai, walaupun ia tidak kedengaran menyesal.
Ino yang mendengar itu terkikik, lalu berkata dengan nada geli pada teman-temannya, "Nah, Gals. Katanya parkiran rumah Sasuke tertutup untuk umum, jadi kalian bisa pindahkan kendaraan kalian ke parkiran belakang restoran ini saja. Oke?" –yang segera disambut oleh suara-suara kecewa para fans Sasuke. "Haah… berisik kalian semua!" Ino tertawa.
Selama beberapa detik ia refleks memandang Sai yang berdiri tak jauh darinya. Tatapan mereka kembali bertemu, sebelum kemudian gadis pemilik bola mata biru jernih itu buru-buru berpaling pada ibu Sakura yang tengah membantu anak-anak mengumpulkan sampah sisa kertas hias yang tercecer di lantai. "Ah, Bibi Azami, tidak usah. Biar Ino saja yang buang. Bibi duduk saja, ya…"
"Kau tahu, Sai," Naruto yang menyadari kecanggungan itu, menepuk pundak sahabatnya, "Kurasa Sakura pasti ingin kau dan Ino bisa berteman lagi seperti dulu."
"Itu tidak mudah, Naruto," Sai menghela napas, lalu mengarahkan pandangannya ke luar jendela yang masih terbuka di sampingnya. Di luar, langit sudah mulai gelap, lampu-lampu jalanan sudah mulai dinyalakan.
"Aku mengerti," timpal Naruto sabar, "Patah hati itu memang nggak mudah, tapi setidaknya kau bisa mencoba, kan? Aku pernah mencoba dan berhasil. Sasuke juga."
"Well, yeah… Kau benar," Sai tersenyum. Ditariknya kerai jendela sampai menutup, lalu memandang Naruto. "Aku akan mencobanya."
"Itu baru kawanku," sekali lagi Naruto menepuk bahu Sai dengan sikap salut. "Dan omong-omong tentang Sasuke," ia mengeluarkan ponsel dari saku jeans-nya, memeriksa kalau-kalau ada pesan bernada memaksa supaya persiapan di Blocaf dipercepat lagi dari sahabatnya yang satu lagi—yang rupanya tidak ada, "Kuharap dia tidak bikin masalah."
.
.
Pada akhirnya kedua remaja itu –Sakura dan Sasuke—memutuskan untuk kembali ke area Konoha Central Park, atau lebih tepatnya karena Sasuke yang belum begitu fasih dengan wilayah Konoha tidak tahu harus pergi ke mana lagi selain ke tempat itu atau Konoha City Square yang letaknya persis bersebelahan dengan taman kota itu. Akan tetapi pergi ke KCS beresiko bertemu dan diledek habis-habisan lagi oleh sang kakak yang memang berencana makan malam di sana setelah jalan-jalan dengan pacar dan anjingnya.
Maka di sanalah mereka, di area luar taman kota yang tepat menghadap ke KCS. Saat itu langit sudah mulai gelap. Lampu-lampu jalan sudah dinyalakan, begitu pula dengan lampu-lampu hias yang menggantung cantik di pohon-pohon bagian luar yang membatasi taman dengan area yang lebih terbuka. Di area itu, para pedagang warung tenda yang memang hanya buka di malam hari mulai bersiap membuka usahanya, beberapa musisi jalanan menggelar pertunjukan kecil-kecilan, sementara para pengunjung taman yang ingin menghabiskan malam di luar terlihat berlalu-lalang di sekitar situ.
Pemandangan yang membangkitkan kenangan Sakura pada masa-masa beberapa bulan yang lalu. Seulas senyum samar mengembang di bibir gadis itu ketika pandangannya menyapu deretan bangku dan meja plastik di bawah naungan tenda-tenda terpal berwarna putih di sana. Saat-saat ia pernah duduk-duduk di sana bersama Naruto dan yang lain, rasanya baru kemarin terjadinya.
Sakura menarik napas dalam-dalam, seakan ingin meresapi aroma hangat awal musim semi di tempat itu. Ia bisa merasakan aroma cherry blossom—yang banyak tumbuh di taman dekat situ—di antara aroma sedap yang menguar dari warung yang menjual makanan. Aroma yang terasa begitu menyenangkan dan akrab.
"Sasuke?" Sakura menoleh penuh harap pada cowok di sebelahnya, "Kau lapar tidak? Bagaimana kalau kita makan di sana?"
Kerutan samar muncul di antara kedua alis Sasuke saat memandang ke arah yang ditunjuk Sakura. Pemandangan itu terasa familier baginya, walaupun ia tidak ingat pernah datang ke tempat itu sebelumnya. Setidaknya, bukan saat senja hari seperti ini. Namun sebelum Sasuke berhasil mengingat kapan ia pernah pergi –bahkan sebelum ia sempat membuka mulutnya untuk menjawab Sakura, yang rupanya memang tidak menunggu jawabannya—Sakura sudah menyambar tangannya dan menariknya mendekati salah satu warung yang sudah buka.
Berderet wadah stainless stell berisi beraneka macam makanan kecil yang kesemuanya nampak mengundang air liur segera menyambut mereka di atas meja pajangan. Uap hangat masih mengepul dari wadah-wadah itu, menguarkan aroma lezat ke udara, membuat Sasuke menyadari ia belum makan apa-apa sejak siang tadi.
Meski begitu, Sasuke berusaha mengabaikan perutnya yang mulai melilit melihat makanan-makanan itu dan berkata, "Apa tidak lebih baik kita makan di restoranmu saja?"
Sakura mengerling ke arahnya sejenak sebelum menyahut enteng, "Bukankah tadi kau yang bersikeras mengajakku jalan-jalan?" Ia menerima wadah yang diulurkan oleh bibi yang berjualan di sana setelah menjejalkan bukunya ke dalam tas dan mulai mengisinya banyak-banyak dengan beberapa jenis makanan sekaligus—tampaknya gadis itu juga sama kelaparannya seperti Sasuke—"Lagipula makanan yang dijual di sini sangat enak. Saking enaknya, kau bisa sejenak melupakan masalahmu. Benar kan, Bi?"
"Itu benar," bibi penjual itu terkekeh-kekeh, sembari mengaduk sewajan kue pedas yang sedang dipanaskan.
"Tapi sekarang sudah mulai gelap. Bagaimana kalau Bibi Azami khawatir?"
"Tenang saja, Sasuke. Ibuku tidak akan sekhawatir itu hanya karena aku pulang agak sore. Aku kan bukan anak kecil lagi," Sakura memutar tubuhnya menghadap Sasuke seraya menjulurkan ujung sate sosis buatan rumah yang dipegangnya ke depan bibir cowok itu. "Coba deh!"
Sasuke yang memang sudah amat lapar tak bisa menahan godaan untuk membuka mulutnya dan menggigit ujung makanan yang ternyata—benar kata Sakura—sangat lezat itu.
"Enak, kan?" Sakura terkekeh-kekeh, lalu ia juga menggigit sosis yang sama dan mengunyahnya dengan nikmat.
Sejenak Sasuke terpaku melihat Sakura makan dari makanan yang sama dengannya, sebelum kemudian teringat sesuatu. Naruto dan yang lain tengah mempersiapkan kejutan untuk Sakura di Blocaf dan mungkin saja saat ini mereka sudah menunggu kedatangan mereka.
Tapi, kata suara lain dalam kepala Sasuke –suara egois yang lebih memihak dirinya sendiri—tidak ada salahnya, bukan? Bukankah saat-saat seperti ini yang selalu diinginkannya sejak dulu? Melewatkan waktu berduaan saja dengan Sakura, di mana ia bisa mendapatkan perhatian penuh dari gadis itu tanpa harus membaginya dengan siapa pun—dalam hal ini, Naruto dan Sai. Lagipula ide ia harus mengalihkan perhatian Sakura berasal dari mereka berdua. Mereka pasti tidak akan keberatan hanya karena Sasuke sedikit mengambil kesempatan. Benar, kan?
"Kenapa diam saja?" suara Sakura menyentakkan Sasuke dari pemikirannya. Didapatinya gadis itu tengah menatapnya dengan kedua alis terangkat tinggi. Rupanya Sakura sudah menghabiskan sosisnya dan tengah mengulurkan wadah kosong padanya. "Tenang saja, aku yang traktir kok. Kan tadi sudah kubilang, aku ingin menyenangkanmu sedikit," tambahnya riang. "Ini kan hari ulangtahunku."
Menghela napas dan berpura-pura memasang tampang bosan, Sasuke menerima wadah yang diulurkan Sakura dan mulai mengisinya dengan makanan untuk dirinya sendiri. Sakura mencoba menawarkan tumpukan kue berlumur saus yang mencurigakan, tapi Sasuke menolaknya mentah-mentah. Ia tahu betul apa itu: kue setan yang dulu pernah membuat Neji mulas-mulas. Enggak deh, makasih.
Tak lama, mereka sudah menempati salah satu bangku kosong di bawah tenda terpal, menikmati makanan masing-masing dengan ditemani alunan musik yang dimainkan para musisi jalanan tak jauh dari sana.
"Waktu itu sedang ramai-ramainya festival band," Sakura berkata kemudian, seraya menusuk sepotong sosis ayam bersaus dengan garpu.
"Hn?" Sasuke mengangkat wajahnya dari makanan yang sedang ditekuninya.
Senyum Sakura mengawang. "Dulu, waktu kami—aku, Naruto, Sai dan yang lain—menghabiskan waktu di tempat ini," ujarnya mendesah, "Menyenangkan banget deh kalau ingat waktu itu." Ia tertawa kecil, "Sai masih lugu sekali, mau saja waktu disuruh makan kue yang pedasnya minta ampun. Kau harusnya melihat ekspresinya waktu itu. Lucu banget!"
Dan Sasuke mulai mengerti mengapa ia merasa tempat ini begitu familier. Ia memang sudah pernah melihatnya. Tidak secara langsung, tetapi melalui video yang dikirimkan Sai padanya saat ia masih tinggal di Oto berbulan-bulan yang lalu. Yah, bagaimana ia bisa sampai lupa, jika setiap kali melihat rekaman itu bawaannya selalu ingin membanting sesuatu? Rekaman yang juga menangkap keakraban yang pernah terjalin antara Sakura dan Neji.
"Dan waktu itu ada Neji," gumam Sasuke. Mendadak ia tidak merasa lapar lagi.
Sakura mengangkat alisnya. "Bagaimana kau tahu kalau—Ah!" ia teringat sesuatu, kemudian tersenyum kecil, "Tentu saja. Aku hampir saja lupa kalau kami juga merekam saat itu dan mengirimkannya padamu. Yah… saat itu memang ada Neji. Hinata juga ada."
"Hn."
Senyum Sakura sedikit memudar. "Kami tidak ingin kau kehilangan momen—"
"Tentu saja," sela Sasuke tanpa memandang lawan bicaranya, sembari memasukkan sepotong sosis ke mulutnya dengan ogah-ogahan.
Mata hijau zamrud milik Sakura sejenak mengawasi Sasuke dari atas wadah makanannya. Gadis itu bisa merasakan suasana hati Sasuke yang tiba-tiba saja berubah muram dan itu membuatnya tidak nyaman. Terlebih ketika ia menyadari apa yang membuat Sasuke seperti itu: agaknya mengungkit soal cowok yang pernah ditaksirnya bukanlah jenis pembicaraan yang terlalu menyenangkan bagi Sasuke. Dan kenyataan bahwa kini mereka sedang berada di tempat yang bisa dibilang memiliki kenangan itu membuat rasa bersalah Sakura semakin menjadi-jadi—meskipun bukan ia yang memulai duluan.
Dan menjaga perasaan cowok yang sudah begitu baik meminjamkan bahu untuknya menangis, dan telinga untuk mendengarkan keluh kesahnya saat ia sedang patah hati—walaupun tak jarang bersikap sangat menyebalkan—adalah prioritas utama Sakura, setidaknya untuk saat ini. Lagipula, melewatkan waktu bersama cowok yang cemberut tidak masuk dalam daftar hal-hal yang ingin dilakukannya di hari ulangtahunnya.
Menghela napas diam-diam, Sakura mulai memutar otak memikirkan cara mengalihkan perhatian Sasuke sejauh mungkin dari topik yang sensitif itu. Dan ide itu muncul dalam bentuk seorang pemusik jalanan yang sedang melakukan pertunjukan kecil tak jauh dari tempat mereka duduk. Pria berambut pirang panjang awut-awutan itu bersama gitar tuanya sedang memainkan 'When You Say Nothing At All' yang mendayu-dayu—salah lagu favorit Sakura.
"Oh, itu laguku!" seru Sakura sambil menunjuk ke arah si musisi dengan penuh antusias, "—Maksudku, itu salah satu lagu favoritku," tambahnya, lalu menumpukan dagunya dengan tangan di atas meja, mendesah. Tatapannya menerawang. "Bukankah liriknya sangat romantis?"
Sembari mengunyah makanannya, Sasuke mengikuti arah pandang Sakura. Sejenak ia mendengarkan sebelum kernyitan samar muncul di wajahnya. "Suaranya tidak cocok dengan lagunya," komentarnya setelah menelan makanannya.
Sakura menoleh pada Sasuke sambil memasang tampang pura-pura terluka, "Oh, Sasuke… Komentarmu nggak enak di kuping banget, sih?"
"Itu benar. Akui saja," dengus Sasuke. Ia mencolok sebuah nugget dari wadah makanannya. "Naruto bisa bernyanyi jauh lebih baik dari itu."
Mendengar itu, Sakura tertawa kecil. "Seharusnya kau katakan itu di depan Naruto," ujarnya, menusuk beberapa potong kue pedas—yang sebenarnya ia benci, tapi sekarang sedang kepingin—dengan tusukan kayu, "Dia bakal kegirangan. Kan jarang-jarang kau memujinya terang-terangan. Biasanya cuma mengatainya idiot."
Sasuke mengeluarkan suara mencemooh, namun tidak berkata apa-apa untuk membantah kata-kata Sakura –karena itu memang benar: bahwa ia sangat mengagumi bakat sahabat-sahabatnya, Naruto dan Sai, di bidang yang sama sekali tidak ia kuasai itu. Tetapi Sasuke enggan mengakuinya terang-terangan. Jika tidak, mereka, terutama Naruto, pasti bakal besar kepala.
Sementara itu Sakura kembali mengalihkan pandangannya pada sang musisi yang sedang menyanyikan bagian refrain –bagian favoritnya. Gadis itu terdiam sejenak, meresapi setiap kata dalam liriknya. Baginya tidak ada yang salah dengan suara berat dan serak-serak basah pria itu, Sakura tetap bisa menikmati musiknya. Yah, walaupun ia juga tak bisa menolak jika Naruto yang menyanyikannya. Dan cowok itu pasti melakukannya jika ia ada di sini sekarang.
"Kalau Naruto ada di sini, dia pasti bakal meminjam gitar paman itu sekarang dan bernyanyi," ujar Sakura sambil kembali berpaling pada Sasuke. Gadis itu mengambil waktu melanjutkan acara makannya, sebelum menambahkan, "Kalau kau—Oh, astaga!" sebelum sempat menyelesaikan kalimatnya, ia nyaris dibuat tersedak oleh rasa pedas makanan yang dimakannya, membuat gadis itu lupa seketika pada apa yang hendak ia katakan pada Sasuke. "Huaah… pedas…" Sakura mengibas-ibaskan tangannya dengan sia-sia di depan mulutnya yang terbuka. Matanya berair.
Melihat wajah gadis di depannya yang sudah semerah tomat, Sasuke mendengus menahan geli. "Sudah kubilang jangan ambil makanan yang kau benci. Hanya menyakiti badan saja," ujarnya dengan nada mengejek.
"Air…" Sakura tidak menghiraukan Sasuke. Ia menyambar botol air di atas meja dan menenggak isinya banyak-banyak. Namun tampaknya itu tidak banyak membantu. Gadis itu mulai cegukan.
Sudut-sudut bibir Sasuke berkedut sementara ia berusaha sekuat tenaga untuk tidak tertawa. Seraya menghela napas keras-keras demi mempertahankan tampang datarnya, Sasuke lantas beranjak dari bangkunya. "Kau tunggu di sini."
Sakura tidak berusaha menghentikan ketika Sasuke meninggalkannya sendirian di sana. Tepatnya, lidahnya yang masih terasa seperti terbakar tidak memungkinkannya berkata apa pun kecuali menggerang kepedasan. Lagipula, pikirnya, Sasuke tidak akan kabur.
Cowok itu meninggalkan tasnya di atas meja.
.
.
Langit sudah gelap sepenuhnya ketika Sasuke keluar dari sebuah minimarket yang letaknya tak jauh dari warung makanan tempat Sakura sedang menunggunya. Di tangannya, ia membawa sekotak susu ukuran kecil di dalam kantung plastik. Beberapa bulan mengenal Sakura, sudah cukup baginya untuk mengetahui beberapa hal-hal kecil tentang gadis itu. Berkat Naruto yang selalu bisa menjadi informan yang paling murah hati –meskipun sebagian Sasuke tahu sendiri dari pengamatannya yang… yah, cukup intens.
Dan satu hal yang ia tahu tentang Sakura, gadis itu benci makanan pedas—dan Sasuke tidak suka ketika menyadarinya, sama seperti Neji—Entah apa yang membuat Sakura nekat mengganyang kue setan itu. Barangkali sebagai pelampiasan rasa frustasinya karena sahabat-sahabatnya berpura-pura lupa hari ulangtahun yang sudah ia tunggu-tunggu—Well. Siapa remaja di dunia yang tidak antusias menyambut angka tujuh belas yang sakral itu?—Ada saatnya ketika Sasuke merasakan sedikit perasaan bersalah tiap kali melihat raut kekecewaan yang membayang di wajah Sakura, sehingga sulit baginya untuk tetap bersikap menyebalkan.
Seperti sekarang. Mana tega ia membiarkan Sakura kepedasan seperti itu?—Terlepas dari fakta bahwa Sakura terlihat imutdengan muka merah padam begitu. Tanpa sadar, segaris senyum tipis mengembang di sudut bibirnya tatkala teringat betapa lucunya ekspresi Sakura saat ia meninggalkannya tadi. Namun suara kikikan yang berasal dari dua orang anak perempuan yang kebetulan sedang lewat di dekat sana segera membuyarkan lamunan indahnya. Sasuke buru-buru memasang tampang datarnya lagi ketika menyadari siapa yang mereka tertawakan—dirinya. Yeah. Pasti sangat aneh melihat seorang cowok bengong sambil tersenyum-senyum sendiri di depan minimarket.
Sembari menggerutu jengkel—sekaligus malu—Sasuke bergegas pergi dari sana. Namun baru setengah jalan ia menuju warung tenda tempat Sakura menunggunya, ponsel di saku celananya bergetar. Sebuah pesan singkat baru saja masuk. Dari Naruto.
'Semuanya sudah siap. Bawa Sakura ke Blocaf sekarang. Kami tunggu.'
.
.
"Kau tadi kemana?" tanya Sakura begitu Sasuke duduk di bangku yang tadi ditinggalkannya di seberang meja.
Sasuke menjawabnya dengan mengeluarkan kotak susu yang tadi dibelinya, menusukkan sedotan dan menyorongkannya ke seberang meja. "Bagus untuk menghilangkan pedas," ujarnya datar.
Sakura menghentikan gerakannya mengunyah, mengerjap menatap cowok di depannya. Wajahnya sudah tidak semerah tadi, tapi bibir dan hidungnya masih—dan ia masih bernapas lewat mulut. Sakura meletakkan garpunya di atas meja dan mengambil kotak susu di atas meja. "Jadi kau pergi membeli ini untukku?"
"Hn."
"Wah, baiknya…" Sakura tersenyum lebar, lalu menyeruput isi kotak susunya dengan penuh syukur. "Aah… sangat enak! Trims, Sasuke…" –kemudian melanjutkan menyantap sisa kue pedasnya.
Melihat itu, Sasuke membelalakkan matanya. "Jangan dimakan lagi! Kau bisa sakit perut!"
Sakura menggeleng, menyeruput susunya lagi, "Kue ini sebenarnya tidak terlalu pedas, kok. Tadi aku cuma kaget. Mau coba?"
"Tidak, terimakasih."
"Ayolah, coba sedikit saja…" Sakura menyorongkan sepotong kue dengan garpunya ke arah Sasuke.
"Tidak. Kalau kau sudah selesai, kita pulang. Sakura—" Sasuke buru-buru mundur di bangkunya ketika Sakura dengan keras kepala menyorongkan kue itu ke bibirnya. "Hentikan itu—"
Terkekeh-kekeh, Sakura mengabaikan protes Sasuke. Sekarang ia malah berdiri, mencondongkan tubuhnya di atas meja dengan tangan terjulur. "Ayolah…" bujuknya. "Aaa…"
Sasuke tak bisa mengelak lagi ketika kue itu sudah mencapai mulutnya, melumuri bibirnya dengan saus pedas. Ia terpaksa membuka mulutnya, pasrah ketika rasa pedas itu menyentuh indera perasanya.
"Enak, kan?" Sakura kembali duduk, membalas pelototan Sasuke dengan cengiran jahil. Gadis itu mengawasi dengan ekspresi penasaran di wajahnya ketika Sasuke mulai mengunyah perlahan-lahan. "Bagaimana?"
Sasuke tidak menjawab. Wajahnya pun tetap datar sementara ia mengunyah makanannya—dan ini agaknya sedikit mengecewakan Sakura. Gadis itu menghela napas, sebelum menusuk sepotong untuk dirinya sendiri.
"Kau harus membayar ini, Sakura," ujar Sasuke tiba-tiba.
"Ng?" Sakura yang saat itu tengah menggerigiti kuenya sedikit demi sedikit—supaya tidak terlalu pedas—mengangkat alisnya, memberi Sasuke tatapan tak mengerti. "Membayar apa?"
"Kalau aku sampai sakit perut, kau harus mentraktirku makan ramen Paman Teuchi."
Sakura mendengus tertawa. "Yang benar saja," cibirnya, "Makan sepotong kecil tidak akan membuatmu sakit perut. Eh—" gadis itu terperangah ketika Sasuke mengambil wadah makanan miliknya yang masih tersisa beberapa potong kue pedas lagi. "Kau mau apa?"
"Supaya cepat," kata Sasuke, mengambil garpunya dari wadah makanannya yang sudah kosong, kemudian menusuk beberapa potong dari wadah milik Sakura sekaligus, "Setelah ini kita pulang dan kau harus mentraktirku makan ramen."
Sakura hanya bisa menatap dengan mulut ternganga ketika Sasuke mulai melahap makanan pedas itu seolah-olah sama sekali tidak pedas. Sepotong demi sepotong menghilang di mulutnya sampai akhirnya wadah itu bersih, hanya menyisakan saus pedas.
Kali ini reaksi yang ditunjukkan Sasuke agak berbeda dari yang pertama. Beberapa kali Sasuke tampak berhenti mengunyah. Sakura pun bisa melihat titik-titik keringat mulai bermunculan di wajah cowok itu yang perlahan-lahan berubah warna. Mulai dari bibirnya, menyebar ke hidung, pipi, sampai seluruh wajahnya yang biasanya pucat berubah merah padam. Ia terbatuk.
Sakura, yang menganggap pemandangan ini benar-benar menggelikan, tak bisa menahan dirinya tertawa. Tapi ia buru-buru berhenti dengan memekapkan tangannya sendiri di depan mulut. "Er… sori. Kau baik-baik saja?" tanya Sakura, berusaha untuk tidak nyengir.
Tampang Sasuke seperti mau muntah sementara ia berjuang menelan semua makanan dalam mulutnya. Sasuke merasakan lidahnya seperti terbakar, dan bukan hanya matanya saja yang mulai berair—yang cepat-cepat ditutupinya dengan menundukkan wajah, berpura-pura memijat-mijat pangkal hidungnya—hidungnya juga! Benar-benar menyakitkan, dalam artian yang sebenarnya, sehingga ia sama sekali tak menghiraukan suara tawa tertahan yang berasal dari gadis yang duduk di seberangnya.
"Sasuke… Kau baik-baik saja?" ulang Sakura. Kali ini ada nada khawatir dalam suaranya.
Sasuke tidak menjawab, hanya mengangguk. Wajahnya masih tersembunyi di balik lengannya. Dan tirai yang dibentuk rambutnya yang terjatuh ke kening memastikan Sakura tidak bisa melihat apa-apa selain puncak kepalanya. Saat berikutnya ia mulai batuk-batuk.
"Sasuke, jangan bercanda dong..." Sakura yang panik, mengulurkan tangannya di atas meja, mengguncang pundak cowok itu. "Hei—ya, ampun…" Gadis itu bergegas bangkit dari bangkunya, berjalan mengitari meja dan membungkuk di samping Sasuke, menepuk-nepuk punggungnya. "Kau sih, cari masalah saja. Kalau makannya sekaligus begitu kau bisa mati, tahu!" omelnya gusar.
"Diam—lah…" gerutu Sasuke dengan suara yang terdengar aneh.
Sakura menghela napas keras-keras. Ia lantas mengambil kotak susu yang tadi diminumnya dari atas meja, mengangsurkannya pada Sasuke. "Ini… minum ini."
Sasuke akhirnya mengangkat wajahnya, dan Sakura nyaris tak bisa menahan dirinya tergelak lagi. Sakura tak pernah melihat tampang Sasuke yang lebih berantakan dari itu—bahkan tampangnya saat Sakura menemukannya jatuh sakit di rumahnya beberapa bulan yang lalu jauh lebih tampan dari yang ini.
"Kau menertawakanku," gerutu Sasuke, membersit hidungnya dengan tangan. Disambarnya kotak susu yang isinya tinggal separuh itu dari tangan Sakura, lalu menenggak isinya banyak-banyak untuk menetralisir rasa pedas di lidahnya. Setidaknya itu sebelum ia teringat sesuatu—dan langsung membuatnya nyaris tersedak. Hatinya mencelos begitu ia menyadari bahwa beberapa saat yang lalu Sakura baru saja minum dari tempat yang sama—indirect kiss!
"Aku tidak—" Sakura yang jelas-jelas tidak memperhatikan perubahan ekspresi wajah Sasuke segera membantah. Namun bantahan itu segera tertelan kembali ketika ia tidak sanggup lagi mehanan tawanya sendiri. Gadis itu tertawa begitu seru, sampai-sampai matanya berair. Ia tertawa begitu lepas sampai-sampai tidak memikirkan akibat perbuatannya berikutnya bagi cowok itu—ia mengacak-acak rambut Sasuke dengan gemas, sementara lengannya yang satu lagi merangkul pundaknya, praktis memeluknya.
Kali itu Sasuke benar-benar tersedak.
"Sori… Habis kau lucu, sih!" Sakura tidak tampak peduli dengan kenyataan bahwa tempat yang pernah disentuh bibirnya juga bersentuhan dengan bibir Sasuke—atau barangkali gadis itu hanya tidak menyadarinya? Entahlah—Ia terus saja tertawa lepas.
Dan untuk apa Sasuke juga peduli, kalau begitu? Jangan berpikir yang tidak-tidak, Sasuke! Itu kan hanya sekotak susu. Tidak lebih!
Saat itu Sasuke hanya bisa memandang Sakura dengan tatapan yang tak terdefinisikan. Ia sama sekali tak berusaha mencegah ketika pemilik mata hijau terang itu mengacak-acak rambutnya sekali lagi, ataupun menepis lengan yang masih melingkari bahunya. Menyenangkan mendengarkan suara tawanya dari dekat, berat lengannya yang hangat dan akrab di pundaknya, juga aroma samar cologne beraroma ceri yang menguar dari tubuh gadis itu.
Tiba-tiba saja hatinya menghangat.
Yah… barangkali ini memang sepadan, pikirnya.
.
.
"Mereka belum datang juga?" terdengar suara tak sabar dari salah satu sudut di ruangan yang gelap itu.
"Naruto, kau yakin sudah menyuruh Sasuke membawa Sakura kemari?" tanya suara lain yang juga bernada tak sabar. Kali ini suara seorang gadis—Ino—disusul masuknya secercah cahaya dari lampu jalan di luar ketika si pemilik suara mengintip melalui kerai jendela. Tidak ada tanda-tanda orang yang sedang mereka tunggu akan segera tiba. "Jangan-jangan mereka malah pulang ke rumah."
"Tidak mungkin!" bantah suara Naruto yang berdiri di dekat pintu, turut mengintip. "Aku sudah mengirimkan pesan sejelas-jelasnya. Lagipula Sakura sekalu kemari dulu sebelum pulang kalau belum terlalu malam. Tanya saja pada Bibi Azami."
"Mungkin mereka masih di bus," kata suara tenang seorang cowok dari sudut yang lain, mencoba berpikir masuk akal –disusul bisik-bisik setuju dari yang lain, dan tak sedikit pula yang bernada memprotes—"Sampai kapan kami harus menunggu?"
"Yeah, kalau Si Sialan itu tidak menunjukkan batang hidungnya dalam sepuluh menit dari sekarang," desis Naruto gusar, "Aku bersumpah akan menendang bokongnya karena telah membuat kita menunggu."
"Ide bagus," gumam satu suara cowok.
"Tidak sabar menunggu," komentar suara lain—cowok juga.
"Perkelahian di koridor yang waktu itu masih kurang seru—"
"BERISIK!"
Suara cekikikan menyusul dari arah tempat segerombolan gadis tengah bersembunyi.
.
.
Saat mereka sudah menaiki bus dan duduk di bangku deretan paling belakang, Sakura kembali memikirkan apa yang sudah dilewatkannya seharian. Memang, ini bukanlah hari ulang tahun ketujuhbelas yang selama ini diimpikannya—di mana ia bisa melewatkannya bersama sahabat-sahabatnya, selain dengan keluarganya. Kenyataannya, kesibukan di sekolah sudah merenggut perhatian mereka. Sai dengan klub jurnalnya, Naruto dengan tim sepakbolanya, Ino dengan squad pemandu soraknya, dan Sasuke…
Yang terakhir itu mungkin bisa dimasukkan dalam pengecualian—walaupun tidak sepenuhnya benar. Sasuke mengajaknya keluar bukan karena cowok itu ingat hari ulangtahunnya. Sasuke juga praktis telah membuatnya berjalan kaki sejauh lima kilometer dan seakan itu belum cukup membuatnya kesal, cowok itu terang-terangan lebih mengingat—dan peduli—pada ulangtahun anjingnya dari pada sahabatnya sendiri.
Kalau saja Hana tidak mengingatkannya kata-kata yang selalu diucapkan mendiang kakaknya padanya, mungkin Sakura sudah mengamuk seharian. Yah, terkadang ia memang masih kekanak-kanakkan, terlebih ia berharap banyak di hari jadinya kali ini.
Tapi... Sakura tidak bisa memungkiri, melewatkan waktu bersama Sasuke hari ini cukup menyenangkan. Setidaknya cukup sebagai kompensasi atas kekecewaan yang melandanya seharian. Dan bonusnya, Sasuke kelihatan sangat ganteng malam ini—Well. Sasuke memang ganteng, tapi Sakura tidak pernah cukup peduli pada tampangnya, kan?
"Apa?" Sasuke yang sadar sedang diperhatikan, seketika mengalihkan perhatiannya dari luar jendela bus.
"Tidak ada apa-apa," sahut Sakura, nyengir. Setitik noda saus tertangkap matanya menempel di sudut bibir Sasuke. Dengan tenang diulurkannya tangannya, menyeka noda itu dari sana dengan ibu jarinya—membuat Sasuke berjengit—"Ish… Makanmu berantakan sekali. Umurmu berapa, sih?"
Sasuke menggosok-gosok tempat yang baru saja disentuh Sakura, tidak mengatakan apa-apa untuk membalasnya. Tepatnya, ia terlalu sibuk meredakan debaran jantungnya yang mendadak menggila. Untungnya saat itu keadaan di dalam bus agak remang-remang sehingga Sakura tidak bisa melihat rona merah menjalar di wajahnya.
"Hei, Sasuke?" kata Sakura lagi.
"A—Aa?" suara Sasuke terdengar parau saat menjawab.
Gadis itu menyunggingkan seulas senyum manis pada Sasuke. "Trims untuk hari ini," ucapnya. Menghela napas ringan, Sakura kembali memandang ke depan. Matanya sedikit menerawang. "Mungkin, kalau kau tidak memaksaku menemanimu jalan-jalan tadi, aku bakal melewatkan hari ulangtahun paling membosankan sepanjang sejarah hidupku." Ia tertawa kecil, sebelum menambahkan, "Yah… walaupun sepertinya kakiku bakal pegal-pegal besok."
"Hn."
"Dan teman-teman Ino akan mengejekku betis lobak lagi."
"Hn."
Sakura memutar kepalanya, kembali menatap cowok yang duduk di dekat jendela itu, meninju lengannya main-main sambil tertawa. "Kau ini menyebalkan, tahu tidak?"
"Hn."
Sakura memutar bola matanya. "Ya, ampun…" Menyerah, Sakura akhirnya memilih untuk diam saja. Percuma saja mengajak Sasuke bicara setiap kali penyakit 'hn-hn-hn'-nya itu kumat seperti sekarang. Kalau saja ada Naruto yang selalu saja bisa mencerahkan suasana.
Ah, kenapa tiba-tiba saja Sakura jadi merindukan Naruto?
Sementara itu, Sasuke memandang cemas ke luar jendela. Titik-titik air mulai bermunculan di kaca jendela, sementara orang-orang di jalanan terlihat bergegas melindungi diri dari gerimis yang baru saja turun. Gawat, pikirnya. Bisa-bisa kami sampai di sana basah kuyup. Nggak lucu banget…
"Wah, hujan!" seru gadis di sebelahnya gusar. Mata hijaunya membeliak menatap hujan di luar jendela bus. "Ck! Kok bisa-bisanya, sih? Aku kan tidak bawa payung!"
Dan seoleh mengejek, hujan malah turun semakin deras.
.
.
Sementara itu, kegelisahan mulai menyelimuti seisi Blocaf. Hujan yang turun bukan pertanda baik, ancaman bagi pesta kejutan yang sudah susah payah mereka susun. Bagaimana jika Sasuke gagal membawa Sakura ke sana tepat waktu? Berapa lama lagi mereka akan menunggu? Apakah harus dibatalkan? Dan pesan singkat yang mereka terima dari beberapa anak kelas tiga yang tadinya berencana hadir, tiba-tiba membatalkan niat mereka karena hujan, sama sekali tidak membuat segalanya lebih baik.
Ino berjalan hilir mudik di depan meja konter. Cahaya dari layar ponsel di tangannya menerangi wajahnya yang tampak gelisah dalam keremangan ketika godaan untuk menghubungi ponsel Sakura untuk menanyakan posisinya berkali-kali menghampirinya.
"Ino—" Naruto yang menyadari untuk kesekian kalinya gadis itu mulai mengutak-atik lagi ponselnya, buru-buru menegur.
"Iya, iya… Aku tahu!" potong Ino sembari menghela napas keras, lalu memasukkan ponselnya kembali ke saku jeans-nya. Ia berjalan melintasi ruangan, menghampiri Naruto yang menunggu di pintu—tepatnya, mengintip lewat kerai yang menutupi pintu itu. "Menurutmu mereka akan datang?"
Naruto, yang tampak jauh lebih tenang dari yang lain, berjawab enteng. "Pasti datang kok. Aku percaya pada Sasuke." Ia memandang Ino, memamerkan cengiran lima jarinya, "Dia tidak akan menggagalkannya."
Ino melipat kedua lengannya, mendengus tak percaya, "Tadi kedengarannya kau tidak begitu yakin."
Naruto meringis. "Yah… Pokoknya mereka pasti akan datang sebentar lagi!"
"Bukankah hujan-hujan seperti ini sangat romantis?" celetuk Sai yang berdiri di dekat Naruto. Cowok itu melirik Ino sekilas, sebelum berpaling dan mendesah berat. "Aku yakin Sasuke tidak akan menyia-nyiakan kesempatan. Kalau aku jadi dia—"
Perkataannya segera tenggelam oleh suara-suara protes yang berasal dari para gadis penggemar Sasuke yang mendengarnya. Mereka jelas tidak rela membayangkan cowok pujaan mereka bersama gadis lain, beromantis-romantis ria di bawah hujan seperti yang hendak dikatakan Sai. Fangirls.
Naruto langsung menyodok rusuk Sai. "Jangan ngomong keras-keras soal Sasuke dan Sakura begitu dong. Sudah tahu fans-nya Sasuke ganas-ganas. Bisa-bisa Sakura yang kena batunya!" desisnya, kemudian berkata keras pada para gadis yang gusar, "Oi, oi… Biasa saja dong. Sasuke dan Sakura kan cuma teman. Haaah… berisik. Padahal sudah pada punya cowok, kan?"
"Sori," bisik Sai, memandang sosok gelap para penggemar Sasuke dengan cemas. Kenapa juga Ino harus mengajak mereka juga, sih? Meminjam istilah Shikamaru—merepotkan.
Ino mengikik—namun kikikannya segera berhenti ketika Izumo yang juga sedang mengintip keluar dari salah satu jendela berseru kalau ia melihat sesuatu. Mereka—tidak semua—buru-buru mengintip untuk memastikan. Dan benar saja. Dari ujung jalan, tampak dua sosok gelap baru saja muncul. Mereka berlari-lari kecil menembus hujan, di bawah naungan sebuah jaket dan dipegangi berdua di atas kepala.
"Mereka datang!"
"Cepat! Cepat! Beritahu Bibi Azami!"
Kehebohan langsung terjadi. Anak-anak yang masih berkumpul di ruang tengah restoran bergegas kembali ke tempat persembunyian masing-masing. Ino melesat ke dapur untuk memberitahu para orang dewasa yang menunggu di sana, sementara sisanya berusaha untuk tidak membuat suara—yang malah kebalikannya karena mereka saling desis mendiamkan, belum lagi yang saling dorong, menabrak-nabrak bangku dan cekikikan sendiri—dan tetap terlindung di balik bayang-bayang sehingga tidak terlihat dari luar.
Naruto mengintip keluar untuk terakhir kalinya, tersenyum. Ini akan jadi ulangtahun terhebat untukmu, Sakura.
.
.
"Harusnya kau turun di halte selanjutnya, Sasuke. Di sana lebih dekat ke rumahmu, kan?" Sakura berkata setelah ia dan Sasuke turun di halte dekat Blossom Café. Saat itu halte sepi, hanya mereka berdua saja yang berada di sana, terjebak hujan.
"Memang," sahut Sasuke datar. "Tapi aku tidak mau pulang ke rumah dulu."
"Eh?" Sakura mengerjap.
Melihat keterkejutan Sakura, Sasuke menyeringai tipis. "Kau lupa, ya? Kau masih berhutang ramen padaku. Dan hujan-hujan begini…" Sasuke menyapukan pandangannya berkeliling, "…paling enak makan yang hangat-hangat."
Sakura mendengus tertawa. "Astaga… Tadi kau baru makan makanan hangat, Sasuke. Masa mau makan lagi?"
Sasuke tidak menggubrisnya.
"Baiklah…" Sakura menghela napas lelah, "Tapi kan bisa besok saja. Sekalian dengan Naruto dan Sai, ka—"
"Aku mau sekarang," sela Sasuke keras kepala.
"Tapi, Sasuke—"
"Sekarang."
Sakura mengerang. "Haish… Kau ini seperti anak kecil saja," gerutunya, lalu menghela napas berat sekali lagi. Ia merogoh ke dalam tasnya, mengambil ponsel. "Aku mau telepon ke restoran dulu. Biar Izumo atau Kotetsu atau Kak Arashi bisa datang membawakan kita payung."
"Lama," dengus Sasuke.
"Eh?"
Sakura hanya bisa melongo saat Sasuke menurunkan tasnya dan melepas jaket yang dikenakannya. "Ayo pergi. Kita pakai ini saja. Lagipula hujannya tidak begitu deras," katanya, menyampirkan kembali tasnya ke bahu.
"Eh, tapi—" Sebelum Sakura sempat memprotes lebih lanjut, Sasuke sudah menarik lengannya. Saat berikutnya Sakura sudah menemukan dirinya berada di bawah jaket Sasuke yang menaungi kepala mereka berdua. Aroma maskulin tubuh Sasuke yang menguar dari jaket itu terasa melingkupinya sekarang, membuatnya sedikit gugup.
"Ayo," Sasuke mendesaknya maju. Sakura refleks meraih sisi jaket yang dekat dengannya supaya lebih mantap ketika pemiliknya membawanya berlari menembus hujan bersama-sama.
Kaki-kaki mereka menapak ke trotoar yang becek, mencipratkan air ke segala arah sementara mereka berlari. Sakura merasakan air hujan mengenai wajahnya yang tak terlindung, juga lengannya yang memegang jaket. Air juga mulai merembes masuk ke dalam sepatu kanvasnya. Ia tahu ide berlari di bawah hujan adalah ide yang buruk—Bagaimana kalau mereka sampai kena flu atau masuk angin?—Namun terlepas dari itu, berlari di bawah siraman hujan dengan hanya berlindung selembar jaket terasa… yah, romantis.
Sakura sudah seringkali melihatnya dalam adegan-adegan film atau opera sabun televisi. Tapi mengalaminya sendiri, ini baru pertama kali. Dan rasanya ternyata sangat menyenangkan—meskipun ia tidak melakukannya dengan cowok istimewa yang berstatus sebagai kekasihnya, melainkan bersama cowok menyebalkan yang sudah dengan seenak perut memaksanya mentraktir ramen—Sakura tak bisa menahan dirinya nyengir.
Namun kesenangannya segera berubah menjadi bingung ketika mereka sudah mulai mendekati Blossoms Café dan mendapati restoran itu sudah sepi. Bahkan ia melihat lampu dalamnya telah dipadamkan dan tempat parkir kosong sama sekali. Mereka tidak berhenti sampai akhirnya tiba di pelataran depan restoran keluarga Haruno itu. Ternyata benar, tanda 'Close' sudah dipasang di balik pintu kaca.
"Oh, yang benar saja. Masa jam segini sudah tutup?" keluh Sakura, sembari menyeka rambutnya yang menempel basah di dahinya. "Ini kan masih sore."
Sasuke mengibas-ibaskan jaketnya yang basah, ikut memandang tanda di pintu. Dahinya berkerut—yah, tentu saja ia sudah tahu mengapa restoran itu tutup. Tapi kan ia harus berakting—"Jam tutupnya dimajukan, eh?"
Sakura mengangkat bahu. "Setahuku tidak. Ibu tidak bilang apa-apa soal tutup lebih cepat—Eh? Lho?" Sakura mengerjapkan matanya ketika melihat pintu itu sedikit bergoyang, seakan tidak dikunci. Penasaran, ia mendorong pintu itu sedikit –dan memang tidak terkunci. "Astaga. Ceroboh sekali. Kalau ibuku tahu, dia bisa marah." Sembari mendorong pintu kaca itu lebih lebar, Sakura berkata pada Sasuke, "Sasuke, sebaiknya kita masuk dulu. Aku akan menelepon i—"
"SURPRISEEE!"
Sakura terlonjak kaget demi mendengar seruan dari orang-orang yang mendadak muncul dari kegelapan. Lampu berkedip menyala, memperlihatkan pemandangan lain di dalam restoran itu. balon-balon dan kertas hias berwarna-warni menghiasi segala penjuru ruangan, dan di atas panggung kecil yang biasa dijadikan tempat live music mendiang ayahnya, tergantung spanduk bertuliskan 'Happy Sweet Seventeen, Our Dear Sakura!' besar-besar.
Gadis itu terbelalak melihat orang-orang yang dikenalnya—Naruto, Sai, Ino, teman-teman klub teaternya, cowok-cowok klub sepakbola Naruto, cewek-cewek pemandu sorak, anak-anak jurnal, dan teman-teman sekelasnya yang lain—tumpah ruah di ruangan itu. Semua bertepuk tangan dan menaburkan confetti padanya. Semua menyanyikan lagu happy birthday untuknya. Juga ibunya, yang membawa sebuah kue ulangtahun paling indah yang pernah dilihatnya. Dan Yamato juga ada di sana! Bergabung bersama Kotetsu, Izumo, Arashi, Isaribi, Gantetsu, Ayame, Iwashi, Paman Teuchi dan pegawai restoran lain, bahkan mahasiswa pekerja paruh waktu pun ada di sana.
"Selamat ulang tahun, Sakura," seseorang di belakangnya menepuk bahunya, menghalihkan perhatiannya. Sasuke. Cowok itu tersenyum padanya.
Selama beberapa saat, Sakura seakan tak bisa berkata-kata. Ia sangat terkejut—jelas. Hanya air mata yang kemudian meleleh di pipinya yang menyatakan perasaannya saat itu. Sesaat kemudian, ia mulai sesegukan. Sakura memekapkan tangan ke mulutnya—namun ia tetap tak kuasa menahan tangisnya yang semakin lama semakin keras.
Sebaliknya, suara nyanyian selamat ulang tahun yang berkumandang malah semakin melemah. Digantikan bisik-bisik bernada bingung dan panik melihat gadis yang menjadi tokoh utama dalam pesta kejutan itu malah terpuruk ke bangku dekat pintu dan menangis keras-keras. Azami, Ino dan beberapa tamu lain yang cemas bergegas menghampiri gadis itu, mengerumuninya.
"Sakura, sayang, kenapa menangis?" Azami yang kerepotan dengan kue di tangannya hanya bisa membungkuk di depan putri sematawayangnya.
"Sakura…" Ino merengkuhkan lengannya dengan lembut ke bahu sahabatnya, berusaha menenangkannya.
"Hei, aku datang jauh-jauh dari Kiri bukan untuk melihatmu menangis, lho…" Yamato mengusap lembut rambut Sakura yang lembab oleh air hujan.
Bukannya mereda, tangis gadis itu malah semakin menjadi-jadi. Naruto dan Sai bertukar pandang bingung, lalu sama-sama menoleh pada Sasuke, memberinya tatapan bertanya. Sasuke menggelengkan kepalanya, tanda tak mengerti. Di belakang mereka, anak-anak semakin seru saling senggol dan berbisik-bisik.
Tingkat kepanikan sudah semakin menanjak, ketika akhirnya Sakura menegakkan tubuhnya dan menatap semua orang dengan mata hijaunya yang sembab. Kemudian ia tersenyum—tentunya ini melegakan semua orang, yang mulai kembali bertepuk tangan untuknya.
Naruto menghela napas lega. Begitu pula dengan Sai. Sementara Sasuke hanya menyeringai kecil. Sorot matanya melembut ketika melihat Sakura yang berderai air mata haru, memejamkan matanya sejenak—make a wish—sebelum meniup deretan lilin-lilin di atas kue yang dibawa ibunya.
"Te—Terimakasih…" ucapnya terbata, seraya menyeka basah di wajahnya, ketika sekali lagi teman-temannya bertepuk dan bersorak untuknya. Ia kemudian menoleh ke belakangnya, ke tempat Naruto, Sasuke dan Sai berdiri, menatap ketiga sahabatnya itu dengan mata berkaca-kaca, menyunggingkan senyum penuh haru pada mereka. "Terimakasih…" bibirnya bergerak tanpa suara. "Terimakasih banyak, guys…"
Azami meletakkan kuenya di atas meja, kemudian berkata riang, "Sudah siap memotong kuenya, Nak?"
Sakura mengangguk, kemudian menerima pemotong kue yang diulurkan Hinata padanya. Sakura mempersembahkan potongan pertamanya untuk ibunya, tentu saja—diiringi beberapa suara bernada kecewa dari anaka-anak di belakangnya, terutama para tukang gosip, yang berharap gadis itu akan memberikannya pada cowok yang dianggapnya istimewa. "Yaah… Kok nggak ke cowoknya sih?" yang diabaikan oleh yang bersangkutan—Dengan diiringi ucapan terimakasih atas semua yang ibunya lakukan terhadapnya. Atas semua pengorbanan, juga dukungan untuk masa-masa sulit yang sudah mereka lewati, Sakura memeluk ibunya erat.
Potongan kedua, Sakura memberikannya pada Ino, sahabatnya sedari kecil. Gadis itu memeluknya juga, berterimakasih atas waktu menyenangkan yang pernah mereka lewati bersama, juga untuk persahabatannya yang tak tergantikan. Potongan ketiga, ia berikan untuk Yamato, pengganti kakak yang sangat ia rindukan.
Ketiga tiba di potongan keempat, Sakura sengaja membuat potongan paling besar. "Untuk Naruto dan Sai, cowok-cowok paling keren di Konoha. I love you so much, guys…"
"Peluk, peluk…" Naruto dengan wajah girangnya mengulurkan tangan, siap menerima pelukan dari Sakura, tetapi Ino menariknya dengan beringas.
"Eeh… Nggak pakai peluk-peluk!"
Tawa meledak di ruangan itu. Sakura terkikik, lalu mengulurkan tangan ke arah Naruto, menjabat tangannya dengan sikap formal—untuk bergurau, tapi memberi Sai pelukan singkat satu tangan yang dengan sukses membuat cowok pirang itu cemberut.
"Eh, Sasuke tidak diberi?" tanya Naruto bingung ketika Sakura, dibantu Azami dan Ino, mulai membagi-bagikan kuenya pada teman-teman yang lain.
Sakura refleks menoleh, memandang sosok Sasuke di sudut yang tampak tidak begitu senang—dan serombongan besar gadis pemandu sorak yang terus-terusan berusaha mendekatinya tidak lantas membuatnya girang—Sakura tersenyum padanya. "Sasuke kan tidak makan makanan manis," ujarnya enteng.
Tetapi kemudian ia menghampiri Teuchi, memintanya membuatkan semangkuk ramen paling istimewa untuk Sasuke—membuat cowok itu tercengang, juga Naruto, yang maniak ramen, gigit jari, ketika Sakura membawa mangkuk besar berisi ramen mengepul yang menguarkan aroma lezat itu ke meja Sasuke.
"Ini traktiranku, ramen istimewa paling enak se-Konoha!" ucap Sakura berseri-seri, kemudian merendahkan suaranya ketika berkata, "Ternyata kau jago akting juga. Bagaimana kalau bergabung di klub teater kami, hm?"
Sasuke yang sudah sembuh dari keterkejutannya dengan datangnya ramen ukuran jumbo itu ke mejanya, hanya mendengus tertawa. Bukannya menjawab tawaran Sakura, ia lebih memilih mengambil sumpit dari wadah yang tersedia di atas meja. "Selamat makan…"
Pesta kejutan itu berjalan semenyenangkan yang mereka harapkan. Sakura sangat gembira—jauh lebih gembira dari yang pernah mereka lihat—gadis itu terbahak ketika Sai menunjukkan padanya kado mereka: sebuah boneka Winnie The Pooh ukuran raksasa, tapi langsung terharu lagi saat Naruto memberitahunya makna boneka itu—"Katanya, Pooh adalah lambang persahabatan sedunia, Sakura. Anggap saja itu adalah lambang persahabatan kita juga. Kalau kau kangen pada kami, kau bisa memeluknya kapan pun kau mau." Dan Sakura langsung melompat memeluk boneka itu, membenamkan wajah ke dadanya yang kuning dan empuk.
Dan melengkapi kebahagiaan malam itu, tak lama kemudian, pintu restoran kembali bergemerincing terbuka. Beberapa anak kelas tiga yang baru selesai mengikuti kelas tambahan melangkah masuk: Lee, Tenten dan beberapa seniornya di klub teater. Bahkan Neji Hyuuga pun datang!—Rupanya tanpa mereka sadari, hujan di luar sudah reda—Lalu diikuti pamannya, Kakashi Hatake dan Dokter Rin, perawat sekolah mereka yang kekasihnya bekerja di sana, Suster Airi. Seakan tak ingin ketinggalan momen, kakak Sasuke, Itachi dan kekasihnya, Hana, pun datang. Dan kali ini mereka memberikan toleransi pada Rufus—yang biasanya dilarang masuk restoran.
Seperti biasa, saat mereka sedang berkumpul, Naruto tak bisa menahan diri unjuk kebolehan dengan gitarnya. Ia juga mengajak Sai, Shikamaru dan Chouji berakustik untuk memeriahkan suasana. Bahkan Gaara, yang notabene tidak begitu akrab dengan Sakura, dengan baik hati menawarkan pada gadis itu untuk mengajukan request lagu, supaya ia bisa memainkannya dengan biolanya.
Sungguh, itu adalah hadiah ulangtahun paling istimewa yang pernah diterima Sakura. Malam itu, ia tidak bisa berhenti tersenyum.
.
.
Dan Sasuke… dia sangat menikmati ramennya.
.
.
TBC…
.
.
Disclaimer:
When You Say Nothing At All © Paul Overstreet & Don Schlitz
Naruto © Kishimoto Masashi
.
.
Akhirnya selesai juga chapter ini *menghela napas lega* Gomen ya, lama… Saya nulis chap ini berminggu-minggu, bokar pasang, tulis hapus, berkali-kali nggak ngerasa puas dengan plotnya. Sampe dibantuan ku Ay (Aya na Rifa'i. Thanks, Sist. *peyuk-peyuk*) di beberapa bagian. Ay… gomen, ide yang dari kamu tea jadinya kaya gitu tuh *nunjuk-nunjuk di atas* Btw, kepanjangan gak segini? Sebenernya ada banyak banget scene yang terpaksa dipangkas di sini. Kalo enggak bisa lebih panjang lagi tuh.
Btw, sebenernya ada satu scene lagi sih yang pingin banget saya masukin. Pendek aja, tapi kayanya ditulis terpisah aja kali yah. Atau enaknya digabung aja di chapter ini? O.O *bingung*
Terakhir, makasih buat temen-temen yang sudah ngikutin dan mereview fic ini, juga buat temen-temen yang udah ngedukung dan ngasih semangat. Maaf, saya jarang banget ngebales satu-satu, karena intinya tetap sama: TERIMAKASIH BANYAAK~~~ ^_^
.
.
