Sakura menghela napas keras-keras seraya menjatuhkan dagunya di atas kedua lengannya yang terlipat di atas meja bar di Blossoms' Café sore itu. Seperti biasa, sepulang sekolah gadis itu selalu menyempatkan diri datang ke restoran yang dikelola keluarganya tersebut, entah itu untuk bantu-bantu, atau hanya duduk menunggu ibunya sampai restoran tutup sambil mengerjakan PR. Namun alasannya kali ini sedikit berbeda dari biasanya. Bukan untuk ikut bantu-bantu atau pun menunggui ibunya, karena ia sudah janjian untuk belajar bersama di rumah bersama Ino setengah jam lagi.
Dengan sedikit malas-malasan, gadis itu kembali mengangkat kepalanya dan menoleh ke belakang—ke deretan meja-meja pengunjung. Pandangannya terjatuh pada salah satu bangku di dekat jendela, tempat di mana empat orang itu sedang duduk: seorang wanita paruh baya berambut merah—ibunya—bersama tiga orang remaja laki-laki. Dua berambut hitam dan satu yang terlihat paling serius berbicara, memiliki rambut yang mengingatkan pada bentuk dan warna matahari yang sering digambar oleh anak TK. Siapa lagi kalau bukan ketiga suami—ehm, maksudnya, sahabatnya. Sasuke, Sai dan Naruto.
Ketiganya sengaja datang untuk mengajukan lamaran. Tentu saja yang dimaksud bukan lamaran terhadapa putri tunggal sang pemilik restoran—bisa-bisa mereka langsung ditendang keluar saat itu juga—melainkan melamar sebagai pekerja paruh waktu di sana.
Bukannya tanpa alasan. Sejak Sakura mengajukan usulan tentang liburan ke Kiri beberapa hari yang lalu pada ketiga sahabatnya, Naruto menjadi sangat antusias—Sai hanya berkata, "Kedengarannya menyenangkan," sementara Sasuke mengerutkan kening dan berkata tidak yakin, "Kau yakin ibumu akan mengizinkan?"—Masalahnya, cowok pemilik bola mata biru cerah itu juga mencemaskan biaya yang harus mereka keluarkan nanti. Ditambah lagi, cowok itu juga bukan tipe yang suka menengadahkan tangan pada ayahnya. Maka di sanalah mereka sekarang, mencari pekerjaan paruh waktu yang hasilnya akan ditabung sedikit demi sedikit untuk liburan.
Sebenarnya Sasuke dan Sai tidak perlu—jelas sekali, mengingat keduanya bisa dibilang berasal dari keluarga kaya raya banget—tapi toh mereka tetap berada di sana. Sai beralasan ini adalah salah satu proyeknya untuk artikel jurnal sekolah. Pengalaman manis pahit bekerja sebagai pelayan restoran, bertemu berbagai macam orang dengan berbagai kelakuan, sepertinya menarik untuk dibahas di kolom profesi. Sementara Sasuke berkata ia juga perlu uang saku tambahan, karena uang bulanan dari orangtuanya di Oto masih kurang—bohong banget—dan ia butuh dana tambahan untuk kegiatan OSIS.
Yah, akan tetapi mereka mau mengarang alasan bagaimanapun juga, Sakura sudah tahu alasannya sama sekali bukan itu. Kedua cowok itu hanya enggan mengakui terang-terangan bahwa itu adalah bentuk solidaritas mereka untuk Naruto. Dasar cowok-cowok jaim!—Namun herannya, Naruto dengan lugunya menerima begitu saja alasan mereka. Malah, dengan gembiranya berseru, "Wah, kebetulan sekali!"
Namun itu bukan berarti masalah sudah terselesaikan.
"Mereka serius mau kerja sambilan di sini?"
Sakura berpaling ketika Ayame meletakkan gelas kaca berisi limun dingin di atas meja konter di depannya. Ditariknya gelas itu ke depannya dan menyeruput isinya dengan sedotan, lalu bergumam sambil mengangguk malas-malasan, "Hmm…"
"Tidak bekerja cuma-cuma lagi seperti waktu itu?" Ayame memandang penasaran pada ketiga cowok itu dari atas bahu Sakura, sembari mengelap cangkir kosong tanpa benar-benar memperhatikan.
"Yang benar saja. Mereka kan tidak bisa selamanya bekerja gratisan," sahut Sakura datar, menyeruput lagi minumannya, lalu mendesah pelan, "Lagipula, kan tidak enak kalau mereka melakukannya terus-terusan—memangnya aku teman macam apa?—Ibu juga pasti merasa begitu."
Ayame memandangi tiga sekawan itu selama beberapa saat lagi, berpikir perkataan Sakura cukup beralasan. Azami pun telah beberapa kali secara tidak langsung mengemukakan soal itu setiap kali mereka datang untuk membantu di restoran. Bukannya wanita itu keberatan dengan kehadiran Naruto, Sasuke dan Sai di sana, hanya saja ia merasa sungkan. Tidak seperti para pegawai lain yang senang-senang saja mendapat tangan tambahan. Tetapi dengan melamar kerja paruh waktu yang sebenarnya secara resmi, yang berarti ada timbal balik berupa upah, situasinya akan berbeda.
"Benar juga…" Ayame meringis, kembali mengalihkan pandangannya pada Sakura yang sibuk memainkan balok es dalam gelasnya dengan sedotan tanpa minat. Kerutan samar muncul di antara kedua alis gadis berambut cokelat muda itu mendapati ekspresi putri majikannya yang tak bersemangat. "Kenapa? Kau tidak suka mereka bekerja di sini?"
Lagi-lagi gadis pemilik bola mata hijau cerah itu menghela napas. "Bukannya begitu," sahutnya. Jeda sejenak sebelum ia melanjutkan, "Hanya saja…"
Penasaran karena kata-kata Sakura yang menggantung, Ayame mencondongkan tubuh ke atas meja konter ke arah gadis itu. "Hanya saja?"
Sakura melirik sejenak pada bangku di belakangnya sebelum berkata dengan suara rendah pada Ayame, "Kau tahu kan, soal rencanaku pergi ke Kiri liburan musim panas nanti?" –Ayame mengangguk—"Sebenarnya, alasan Naruto ingin bekerja paruh waktu di sini juga untuk itu."
Ayame memberinya tatapan bingung. "Lalu kenapa malah bermuka masam begitu? Bukannya itu bagus, kan—" kata-katanya mendadak berhenti, sebelum melanjutkan dengan nada tidak yakin, "Eh… Apa ada yang salah?"
Sakura mengerang, menjatuhkan kepalanya di kedua lengannya yang terlipat di atas meja. "Ibu tidak mengizinkan aku pergi…"
"Eeh?" Ayame mengerjap. Gerakannya mengelap cangkir terhenti. Penasaran, gadis itu mencondongkan tubuh ke arah Sakura, bertanya dengan suara pelan, "Kenapa?"
"Katanya Kiri terlalu jauh…" gerutu Sakura, "Padahal aku kepingin sekali pergi, Ayame…" lanjutnya dengan nada sedikit merengek.
"Terus, ngapain dong kalau begitu—"
"Aku tidak tega memberitahu Naruto," Sakura menjawab pertanyaan Ayame yang belum selesai, masih tidak mengangkat kepalanya. "Habis, dia kelihatannya antusias sekali, sih…"
Ayame menghela napas bersimpati. Ia mengulurkan tangannya ke atas meja, menepuk-nepuk pundak Sakura. "Kalau begitu coba bujuk ibumu terus. Siapa tahu dia berubah pikiran," usulnya. "Dari pada nanti Naruto betulan kecewa, kan?"
Sakura mengangkat kepalanya, menatap Ayame. "Bukan cuma Naruto, aku juga," ujarnya lesu, "Sekarang aku sedang memikirkan caranya, tapi belum kepikiran alasan apa yang bisa membuat ibu berubah pikiran—kecuali…" Matanya mendadak membulat, disertai senyum lebar yang terkembang di wajahnya ketika sebuah ide tiba-tiba melintas di kepalanya. Sebuah ide yang tercetus saat ia melihat sosok pria muda berambut cokelat yang baru saja keluar dari pintu dapur.
Yamato tersenyum pada kedua gadis itu, kemudian berjalan menghampiri mereka sembari mengelap tangannya yang basah sehabis dicuci dengan celemek yang terlilit di pinggangnya. "Sedang mengobrol apa? Sepertinya seru sekali," tanyanya seraya menyandarkan diri di sebelah Ayame, memberi Sakura tatapan ingin tahu. Nampaknya cengiran Sakura yang tak biasa telah memancing rasa penasarannya juga.
Namun sebelum Sakura sempat membuka mulut untuk menjawab, suara lain datang dari arah belakangnya. Rupanya Naruto, Sasuke dan Sai sudah selesai berbicara dengan Azami dan sekarang ketiganya mendatangi sahabat mereka sementara Azami kembali ke tempatnya di belakang meja konter bersama Ayame. Sepertinya pembicaraan soal pengajuan lamaran kerja berjalan lancar jika dilihat dari wajah Naruto yang tampak cerah.
"Mulai sekarang kami resmi jadi pekerja paruh waktu di sini!" cowok bermata biru itu dengan gembira mengumumkan pada semua orang.
"Benar diterima?" Sakura menoleh pada ibunya yang menjawab dengan anggukan dan seulas senyum. "Sasuke dan Sai juga?"
"Tentu saja mereka juga," sahut Naruto cerah.
"Hn," Sasuke tidak tampak seantusias Naruto, meski begitu tetap mengangguk sopan pada Azami yang tersenyum pada mereka.
"Mohon bantuannya, Sakura, Bibi Azami, Ayame, Yamato… " Sai berkata sembari memamerkan senyum segarisnya, yang langsung disambut oleh kekeh yang lain.
"Selamat bergabung kalau begitu, kalian bertiga," ucap Yamato.
"Jadi kapan mulainya?" tanya Sakura ceria, setelah ibunya dan Ayame pergi untuk kembali berkutat dengan pekerjaan mereka semula. "Hari ini?"
"Tidak hari ini. Kami mulai hari Senin," sahut Naruto. "Aku akan kemari setelah pulang sekolah jika tidak ada latihan sepakbola. Bibi Azami mengizinkan kami datang menyesuaikan dengan jadwal kegiatan di sekolah."
"Wah, sepertinya bakal sibuk mulai sekarang, eh?" Sakura tersenyum pada ketiga sahabatnya.
Naruto tertawa. "Yah… Apa boleh buat, kan? Kalau ingin mendapatkan sesuatu, harus berani bekerja keras. Kalau tidak begini, mana bisa kita pergi—"
"Baiklah!" seru Sakura, dengan sengaja memotong ucapan Naruto. Ia melirik sekilas dengan was-was ke arah ibunya yang sedang menuang kopi untuk salah satu tamu yang—untungnya—duduk di bangku yang agak jauh dari sana. "Karena urusan di sini sudah beres, sebaiknya kita—maksudku, aku—pergi sekarang." Sakura mengambil tasnya di bangku kosong di sebelahnya seraya mengerling arloji di pergelangan tangan kirinya.
"Kau tidak ikut kami?" Naruto tampak kecewa.
"Kan tadi aku sudah bilang, aku ada janji mengerjakan proyek Science dengan kelompokku di rumah hari ini. Mungkin sekarang Ino dan Hinata sudah menungguku," ujar Sakura tak sabar, "Bukannya kalian juga?"
"Ah, benar. Aku lupa soal tugas proyek itu." Naruto menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal, meringis.
"Idiot," komentar Sasuke, menghela napas sambil geleng-geleng kepala. Sai mendengus tertawa.
"Hei, bagaimana kalau kita kerjakan sama-sama saja?" usul Sakura—meskipun ia sedikit tidak yakin.
Dan benar saja. Sai praktis langsung menolak, meskipun Naruto tampak bersemangat pada awalnya.
"Tidak—Maksudku, kurasa itu bukan ide bagus."
"Benar," timpal Sasuke.
"Yaah… Kenapa? Menurutku itu ide bagus." Tidak ada yang menggubris protes Naruto.
Sakura mendengus pada kedua Sasuke dan Sai. "Kedengarannya seperti kalian tidak mau bersama-sama denganku," gerutunya, berpura-pura sebal—dan langsung tertawa renyah begitu melihat tampang Sai. "Ya ampun, Sai. Aku kan cuma bergurau," kekehnya. "Tapi sepertinya orang ini memang kepingin mengusirku dari tadi," tudingnya pada Sasuke.
"Iya nih, Sasuke. Dari bubar sekolah tadi gatal sekali menyuruh Sakura pulang cepat-cepat," Naruto ikut menimpali, seraya melempar pandang jengkel sekaligus heran pada sang ketua OSIS.
"Bukannya tadi kau sendiri yang bilang harus mengerjakan proyek kelompok? Lupa?" tukas Sasuke galak.
Sebenarnya bukan tanpa alasan Sasuke ingin agar Sakura segera pulang ke rumahnya. Ada sesuatu yang ia ingin Sakura temukan di sana—tetapi tentu saja ia tidak bisa mengatakannya sekarang. Bisa merusak kejutannya.
"Terserah deh…" Sakura mengangkat bahu, agak jengkel juga dengan sikap judes Sasuke, namun berusaha tidak menghambil hati. Kejudesannya sama sekali tidak sebanding dengan apa yang sudah dilakukan cowok itu—juga teman-temannya yang lain—untuknya beberapa hari yang lalu. Benar, kan?
Seraya melempar senyum tipis pada Sasuke—yang dengan sukses membuat cowok tampan itu mengangkat sebelah alisnya keheranan—Sakura melompat turun dari kursi tinggi yang didudukinya dan mencangklengkan ransel ke bahunya. Setelah berpamitan dengan Azami dan Yamato, mereka lantas bergegas meninggalkan restoran.
"Besok jangan lupa datang ke rumah," Sakura mengingatkan ketiga sahabatnya perihal acara barbeque yang diadakan di rumahnya besok, ketika mereka sudah sampai di halaman parkir untuk mengambil sepeda masing-masing—kecuali Sai yang berboncengan dengan Naruto.
Sudah menjadi tradisi dalam keluarga Haruno selalu mengadakan acara makan malam keluarga setiap ada anggotanya yang berulang tahun. Namun kali ini berhubung tamu yang ingin diundang sang tokoh utama lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya, maka acara makan malam keluarga sengaja diganti dengan acara barbeque. Tidak besar-besaran, tapi setidaknya halaman belakang rumah cukup untuk menampung beberapa orang lebih banyak dari ruang makan.
"Jam sepuluh. Jangan sampai telat, lho…"
.
.
Hinata dan Ino memang sudah menunggunya ketika Sakura tiba di Blossoms Street, tetapi rupanya mereka tidak hanya berdua saja. Sebuah motor besar terparkir di depan halaman, dan pemiliknya, seorang cowok berambut gelap, dengan mata hitam yang terkesan nakal sedang duduk di undakan depan rumahnya bersama Ino. Sementara Hinata berdiri kikuk agak jauh dari mereka di beranda, jelas merasa tidak nyaman, dan terlihat luar biasa lega ketika melihat Sakura datang.
"Sakura!" seru Ino, melambai-lambaikan tangannya. Gadis berambut pirang pucat itu kemudian melompat berdiri dan bergegas berlari-lari kecil menghampiri Sakura begitu sahabatnya itu menepikan sepedanya, meninggalkan Idate Morino di undakan. "Lama sekali, sih?"
"Sori," ucap Sakura seraya melompat turun dari sepedanya, agak terengah setelah ngebut dari Blossoms Café. Gadis itu melempar senyum meminta maaf pada sahabatnya yang selalu tak sabaran itu. "Ternyata mereka ngobrol lebih lama dari dugaanku."
Ino pura-pura cemberut. "Kau kan bisa membiarkan mereka menyelesaikan urusan sendiri, Sakura. Memangnya harus selalu kau temani?"
"Tidak juga sih," Sakura menghela napasnya, menggiring sepedanya ke jalan masuk menuju garasi dengan Ino mengikuti di sebelahnya, "Tapi aku kan kepingin tahu hasilnya."
"Dan?" Ino memberinya pandangan penasaran.
Sakura nyengir senang, "Ibuku menerima mereka!"
"Wuah… Jadi suami-suamimu resmi bergabung di keluarga besarmu dong?" kata Ino, ketika Sakura menyorongkan sepeda ke arahnya untuk dipegangi sementara ia berkutat dengan kunci gerendel garasinya.
Sakura menjawab dengan gumaman mengiyakan. Setelah akhirnya ia berhasil membuka garasinya, Ino mendorong sepeda itu masuk dan meletakkannya di tempat sandarannya yang biasa, lalu mengambil setumpuk buku yang diletakkan Sakura di keranjangnya.
"Jadi itu alasannya kenapa tadi kau tidak mau kuajak ketemuan di restoran saja?" tanya Sakura kemudian, sementara ia menutup kembali pintu garasi rumahnya. Gadis itu mengendikkan kepala ke arah beranda, tempat Idate sedang duduk menunggu, ketika dilihatnya Ino tampak tidak memahami pertanyaannya. "Kukira kau cuma tidak ingin ketemu Sai."
"Oh!" Wajah Ino merona merah, "Well… Sebenarnya dua-duanya, sih," akunya, "Habis hari ini Idate berkeras menemuiku dulu sebelum berangkat ke Kumo besok. Jadi aku bisa bilang apa? Dan aku jelas tidak bisa mengajaknya ke restoranmu kalau Sai juga ada di sana." Ino mengerling Idate sekilas, sebelum mendekatkan kepalanya pada Sakura dan berkata dengan suara lebih rendah, nyaris berbisik, "Kau mengerti maksudku, kan? Dia masih mencecarku soal Sai setiap kali ada kesempatan. Sepertinya dia baru bisa puas kalau aku sudah pindah sekolah—"
"Dia memintamu begitu?" Sakura melebarkan matanya dengan terkejut. Rasanya ia tidak akan pernah terbiasa dengan sikap posesif Idate terhadap Ino yang menurutnya terkadang agak keterlaluan. Mengherankan bagaimana Ino masih saja bisa bertahan.
"Tidak secara langsung sih…" Ino meringis. "Tapi dia sudah mencoba membuatku berpikir kalau North Leaf Public School tidak kalah bagus dari Konoha High."
"Damn…" Sakura geleng-geleng kepala, sama sekali tidak habis pikir.
Ino mengibas-ibaskan tangannya. "Tidak akan berhasil. Ayahku bisa membunuhku kalau aku nekat pindah dari sekolahnya—ayahku kan alumnus Konoha High. Dan tentu saja aku tidak mau pisah dengan teman-teman hanya karena Ida—"
Sakura buru-buru memotong perkataan Ino dengan meletakkan telunjuk ke depan bibirnya ketika melihat cowok yang sedang mereka bicarakan berjalan mendekat dari arah pintu depan.
"Kalian sedang membicarakan aku, ya?" tanya Idate dengan gaya santainya seraya merangkulkan lengannya yang terbungkus jaket kulit hitam di sekeliling bahu kekasihnya.
"Tidak," sahut Sakura dan Ino langsung, berbarengan. Mereka bertukar pandang—agak panik. Bagaimana kalau Idate ternyata mendengar apa yang mereka bicarakan tadi? Damn kebiasaan bergosip tanpa lihat-lihat tempat!
Idate terkekeh-kekeh, barangkali menganggap lucu kekompakan di antara kedua gadis sekolahan itu. Meski begitu, tampaknya ia tidak menyadari kecanggungan di sana—kecanggungan yang terjadi karena kemunculannya yang mendadak, maksudnya.
"Um… Sudah mau pulang sekarang, Idate?" tanya Ino.
Idate menghela napas dengan dramatis sebelum menjawab, "Yah, karena Sakura sudah datang, kurasa sebaiknya aku pergi saja. Aku tidak ingin mengganggu acara belajar kalian, cewek-cewek," tambahnya sambil menyeringai pada Sakura. "Belajar yang betul. Jangan bergosip saja, oke?" imbuhnya sambil mengacak-acak rambut pirang di puncak kepala Ino—gadis itu hanya meringis saja. "Dan cewek yang di sana itu," Idate mengendikkan kepala ke arah Hinata yang masih menunggu mereka di beranda, "Dia bisu atau bagaimana? Tadi kuajak bicara malah bengong."
"Idate…" Ino menggunakan nada luar biasa sabar seolah ia sedang menegur anak kecil. "Hinata itu orangnya pemalu. Dia tidak terbiasa bicara akrab dengan orang yang baru dikenalnya." Yang dimaksudkannya tentu saja kebiasaan Idate yang suka sok kenal sok dekat dengan orang baru, terutama dengan cewek.
Idate memutar-mutar matanya dengan lagak bosan. "Terserah deh. Orang pemalu memang membosankan," gerutunya. "Ya sudah, kalau begitu aku pergi sekarang—"
Sakura mengangkat kedua alisnya ketika Idate dengan santainya mencium bibir Ino di depannya. Ketika cowok itu melepaskannya, wajah Ino sudah berubah merah padam karena malu. Tapi tampaknya Idate tidak peduli.
"Aku akan meneleponmu nanti, Babe."
"O—Oke…" suara Ino terdengar agak aneh, sedikit melengking, sementara wajahnya begitu merah sampai-sampai Sakura nyaris bisa merasakan panas meradiasi di sekelilingnya.
Tersenyum, Idate mengusapkan ibu jarinya dengan lembut di sisi wajah Ino, lalu berpaling pada Sakura. "Tolong jaga Ino, ya, Sakura." –Kemudian cowok itu berbalik, melenggang pergi menuju motor besarnya yang diparkirkan di sisi jalan masuk.
Kedua sahabat itu masih terdiam beberapa saat lagi setelah motor Idate melaju pergi dan menghilang di ujung jalan. Sakura menatap Ino—keterkejutannya yang tadi perlahan bertransformasi menjadi perasaan geli melihat tampang sahabatnya itu. Sudut bibirnya berkedut dalam usahanya menahan tawa. Ino lah yang pertama kali buka suara,
"Jangan—" mata birunya memandang galak pada Sakura, "—komentar." Entah Sakura hanya menduga-duga saja, atau Ino memang terlihat tidak begitu senang dengan tindakan Idate barusan?
Sakura membuat isyarat tanda silang di depan bibirnya dengan tangannya yang bebas, meski pada akhirnya ia tak bisa menahan kikikannya juga.
Tak lama kemudian, mereka bergabung dengan Hinata yang masih menunggu di beranda. Sama seperti Sakura, gadis itu juga membawa beberapa buku pinjaman—bahkan lebih banyak jumlahnya dari Si Kutu Buku, Sakura—dari perpustakaan sekolah yang mungkin berguna. Tidak seperti Ino.
"Lalu apa gunanya internet?" kilahnya agak ketus, membuat Hinata mengerjap bingung ketika gadis itu seenaknya nyelonong masuk ke dalam rumah begitu Sakura membuka pintunya, seakan itu rumahnya sendiri saja. Sepertinya mood-nya jadi sedikit kacau gara-gara tadi. "Sakura, di kulkas ada soda, kan?" teriak Ino dari arah dapur.
Sakura nyengir minta maaf pada Hinata—yang pastinya tidak terbiasa dengan manner seenaknya begitu di rumahnya—"Jangan heran begitu. Yang begini ini sudah biasa, kok. Dari kecil Ino sudah terbiasa main—bahkan menginap—di sini, jadi sudah seperti rumah sendiri."—Hinata mengangguk-angguk mengerti.—"Masuk, yuk…"
"A—Aa… Iya… Permisi…" –benar-benar berbeda dengan Ino.
Ino muncul dari arah dapur sambil menenteng tiga kaleng soda dan sebungkus besar keripik tortilla ketika Sakura dan Hinata masuk. "Di ruang keluarga atau di kamarmu?" tanyanya.
"Kamar," jawab Sakura, menunjuk ke atas. "Hinata?" ia menoleh pada Hinata di belakangnya.
"Hm?" Hinata yang sedari tadi asyik memperhatikan sekelilingnya dengan sikap tertarik—yah, karena ini adalah pertama kalinya ia menyambangi kediaman Haruno—sedikit terlonjak saat Sakura memanggilnya.
Sakura yang kemudian menyadari apa yang sedang dilakukan adik sepupu Neji itu nyengir malu. Tentu saja, jika dibandingkan dengan rumah besar yang pernah dikunjunginya di White Hills, rumahnya jelas bukan apa-apa. "Maaf ya, tempatnya kecil."
"Oh—jangan bilang begitu," kata Hinata buru-buru. Wajahnya memerah karena merasa tidak enak. "Ini sangat hangat dan nyaman."
"Benarkah?" komentar Hinata yang terdengar tulus membuat Sakura tak bisa menahan senyumannya, "Kita ke atas?"
Hinata mengangguk antusias, kemudian bergegas menyusul Sakura menaiki tangga menuju koridor lantai dua, di mana Ino baru saja menghilang tak lama sebelumnya. Mereka berhenti di salah satu pintu di koridor itu—satu-satunya pintu kayu bercat putih yang terbuka, dan dihiasi papan nama yang bertuliskan 'Sakura's Room' dan stiker 'Beware! Babe inside!' di bagian depannya—dan mendapati Ino sudah duduk di depan meja belajar, menyalakan notebook milik Sakura sambil minum soda. Kudapan yang dibawanya sudah diletakkan di meja rendah di atas karpet—di sana juga Sakura dan Hinata kemudian meletakkan buku-buku dan tas mereka.
Mereka tidak langsung mengerjakan tugas, tentu saja. Sakura harus memindahkan boneka Pooh raksasanya dari atas karpet ke tempat tidur, karena boneka itu terlalu memakan banyak tempat sehingga nyaris tak ada ruang untuk duduk—dan boneka itu langsung memenuhi tempat tidur juga. Sementara itu ia mengizinkan Hinata melihat-lihat rak bukunya.
Seulas senyum penuh arti mengembang di wajah Hinata ketika ia menemukan buku pemberian Sasuke terselip di antara deretan koleksi novel. Ternyata Sasuke benar-benar memberikannya pada Sakura, pikirnya. Perhatiannya kemudian teralih pada sebuah papan sterofoam berukuran besar yang ditempel di dinding dekat rak buku. Sebagian isinya standar seperti yang biasa dimiliki pelajar kebanyakan: jadwal kegiatan sehari-hari, jadwal mata pelajaran, daftar PR, daftar rumus, agenda kegiatan klub dan semacamnya, ditambah memo pengingat janji dengan teman atau dokter gigi dan daftar belanja bulanan.
Namun ada sesuatu yang lebih menarik dibandingkan daftar-daftar membosankan di papan itu. Sakura telah menempelkan potongan-potongan foto dan gambar dari majalah yang disatukan dan diberi komentar. Hinata langsung mengenali foto yang diambil saat festival sekolah beberapa waktu yang lalu, dan wajahnya langsung merona ketika menemukan fotonya yang sedang berdansa dengan Naruto di acara api unggun. Berusaha mengabaikan komentar yang ditulis Sakura besar-besar di sana—'Soooo CUTE! Aaww… XD' dengan spidol pink—Hinata mengalihkan pandangannya pada gambar lain.
Sebagian besar diisi oleh foto-foto keluarga dan teman-temannya, mulai dari foto-foto lama sampai yang baru. Photobox dengan Ino, candid-pic Sasuke yang sedang serius belajar di kelas, Sai yang tampak baru keluar dari ruang jurnal sambil menenteng kamera, Naruto yang sedang beraksi di lapangan sekolah bersama klub sepakbolanya, foto mereka bersama-sama—dan yang terbaru adalah foto beramai-ramai saat surprise party ulangtahun Sakura di Blossoms' Café beberapa hari yang lalu—'The best B'day EVER! Thanks, Mom, guys… You're the best! *Happy to the MAX! :D*'
Masih ada gambar-gambar lain yang cukup membuat Hinata tak bisa menahan kekagumannya pada ketelatenan Sakura menangkap momen-momen menarik dan menyatukannya dalam satu wadah yang bisa dilihat setiap saat. Belum lagi komentar-komentarnya yang menggelitik dan sisipan puisi—khas anak teater yang biasanya menyenangi kalimat-kalimat indah—yang juga disertakannya di sana.
"Dari dulu Sakura memang kurang kerjaan, Hinata. Maklumi saja," kata Ino yang rupanya tanpa Hinata sadari sudah berdiri di belakangnya, ikut melihat ke arah papan. Mata birunya menelusuri foto-foto itu, nyengir.
"Enak saja bilang kurang kerjaan!" Sakura cemberut, kesal karena hobi sampingannya diledek—meskipun ia tahu Ino hanya sedang menggodanya, seperti biasa. "Butuh kerja keras membuat itu, tahu!" –tentu saja itu tidak sepenuhnya benar. Maksudnya, Sakura tidak mengumpulkan foto-fotonya sendiri. Sebagian memang diambilnya sendiri, tetapi sebagian yang lain—sebagian yang bagus-bagus—ia mendapatkannya dari Sai yang memang senang memotret momen-momen tak terduga dengan kameranya—entah itu dari ponsel atau kamera sungguhan.
"I-Ini bagus sekali," ucap Hinata tanpa berusaha menyembunyikan nada kagum yang tulus dalam suaranya, "Ternyata momen-momen kecil yang kadang tidak disadari bisa menjadi kenangan yang berarti jika benar-benar diresapi." Gadis itu menoleh, memandang Sakura yang tengah duduk di tempat tidurnya, tersenyum. "Karya ini sangat menghangatkan hati."
Sakura merasakan wajahnya merona. "Well…" gadis itu mengangkat bahunya, nyengir canggung, "Er… kurasa pujian itu agak berlebihan, Hinata."
Hinata hanya tersenyum simpul mendengar komentar itu dan kembali memandangi papan di depannya. Ino lah yang kemudian menanggapi yang dramatis, "Oh yeah, betul. Sangat menghangatkan hati. Lihat yang ini…" gadis pirang itu menunjuk salah satu foto, "Bukankah Sasuke kelihatan sangat ganteng di situ?"
Sakura tertawa. "Tunggu sampai Idate mendengarmu berkata seperti itu, Ino-pig!"
"Forehead-girl! Bilang saja kau cemburu aku menyebut suamimu ganteng!" Ino menjulurkan lidahnya.
Masih terkekeh-kekeh, Sakura melempar salah satu bantal kecil berbentuk hati ke arah Ino—dengan sukses mendarat di bahu gadis itu. "Berhentilah menyebut mereka suamiku, Pig!"
"Forehead!" Ino balas melempar bantal itu kembali pada Sakura, yang langsung menangkapnya.
"Sakura," Hinata yang tiba-tiba saja terlihat antusias, seperti baru saja mendapatkan ide bagus, menyela mereka, "Kalau boleh, aku ingin meminjam idemu yang ini untuk buku tahunan angkatan kita nanti. Boleh kah?"
"Eeh?" Sakura mengerjap, terkejut mendengar usulan itu.
"Hmm…" Ino meletakkan telunjuk di dagunya, berlagak seperti sedang berpikir keras, "Kurasa itu ide yang menarik, kalau dibandingkan dengan buku tahunan yang isinya cuma foto-foto culun membosankan—seperti sebelum-sebelumnya."
"Ja-jadi kesannya tidak terlalu kaku," timpal Hinata—entah ia setuju atau tidak tentang foto culun itu—"Kita juga bisa memasukkan komentar teman tentang kita, bukan hanya komentar kita tentang sekolah saja."
"Dan masukkan juga gambar momen-momen kecil yang diambil candid, lalu dikomentari. Huaah… pasti buku tahunan angkatan kita bakal sangat seru!"
Melihat antusiasme kedua temannya, Sakura meringis. "Aku sih tidak keberatan. Lagipula yang mengurus buku angkatan kan klub jurnal dan pengurus angkatan, jadi terserah kalian saja."
"Shino pasti akan menyukai ide ini," kata Hinata berseri-seri. "Aku yakin dia akan setuju."
Shino Aburame adalah ketua angkatan mereka. Berbeda dengan ketua OSIS yang dipilih lewat pemilihan yang melibatkan seluruh siswa, ketua angkatan dipilih saat mereka kelas satu oleh satu angkatannya saja. Biasanya ketua angkatan juga merangkap sebagai ketua OSIS, seperti Menma. Tetapi berhubung Shino tidak mengajukan diri saat pemilihan—ia lebih ingin fokus ke klub jurnalnya—jadi ketua OSIS bisa berbeda. Bisa dimengerti mengapa Shino Aburame adalah salah satu siswa berpengaruh di sekolah mereka—dan menjadikan klub yang diketuainya menjadi salah satu klub tereksis di sekolah berkat bakat leadership-nya yang jelas tidak kalah dari Sasuke atau Shikamaru Nara yang berhasil mengangkat nama klub musik Konoha High hingga ke luar sekolah—padahal awalnya klub itu hanya dianggap klub kelas dua.
"Dari pada membicarakan itu," kata Sakura kemudian, seraya turun dari tempat tidurnya dan mendudukan diri di salah satu bantal duduk yang mengitari meja rendah, "Bagaimana kalau kita mulai saja diskusinya, teman-teman?" Ditariknya salah satu buku tebal ke depannya dan mulai membuka-buka halaman yang membahas topik terkait dengan proyek mereka. Hinata bergabung dengannya, sementara Ino mengambil notebook Sakura dan memindahkannya ke meja rendah.
Belum lama sejak mereka mulai, seseorang membunyikan bel di pintu depan.
"Sepertinya ada tamu," kata Ino pada Sakura yang mengerutkan kening.
"Siapa sore-sore begini bertamu?" Dengan enggan, Sakura beranjak dari bantal duduknya dan bergegas turun untuk membukakan pintu.
Seorang pria berpostur kurus mengenakan setelan kemeja rapi berdiri di depan pintu. Awalnya Sakura mengira pria itu adalah seorang sales yang ingin menawarkan produk dan berpikir mengusirnya saat itu, sebelum pria itu bertanya ramah, "Nona Sakura Haruno?"
"Eh—I-Iya," jawab Sakura canggung, "Saya sendiri. Anda siapa?"
"Saya diminta seseorang mengantarkan kiriman ini pada Nona," Pria itu mengangsurkan padanya sebuah kotak berukuran sedang perwarna pink pucat—yang sama sekali tidak diperhatikan Sakura sebelumnya—dengan seutas pita merah sebagai pengikatnya.
Sakura mengerjap bingung. Hal pertama yang dicarinya kemudian adalah tanda pengenal yang barangkali dipakai oleh pria di depannya, tetapi pria itu tidak mengenakan tanda pengenal apa pun—dan jelas ia juga bukan tukang pos atau kurir resmi yang biasanya mengenakan seragam dan nametag. Kemudian pandangannya turun pada kotak yang terulur padanya, dan Sakura tetap tidak menemukan petunjuk apa pun kecuali betapa cantiknya kelihatannya kotak itu.
"Nona?"
Suara berat milik si pria membangunkannya. "Eh—maaf. Tapi ini dari siapa?"
"Saya sudah dipesankan agar tidak memberitahu Nona," jawab pria itu lagi, membuat Sakura semakin penasaran. "Saya hanya bertugas memastikan Nona Sakura Haruno menerima ini."
Masih diliputi keraguan dan rasa penasaran, Sakura menerima bungkusan yang ternyata sangat ringan itu. Setelah mengucapkan selamat sore dengan sopan, pria itu kemudian berbalik pergi menuju sedan hitam yang terlihat mentereng yang diparkirkan di depan rumah. Sakura melongo melihat kendaraan itu melaju perlahan menjauhi rumahnya—'Memangnya ada, ya, kurir pakai mobil mewah begitu?' Gadis itu membatin keheranan.
.
.
"Siapa?" tanya Ino penasaran ketika Sakura sudah kembali ke kamar. Tampaknya ia baru saja menintip dari jendela kamar Sakura yang menghadap ke jalan. "Bukan sales, kan? Eh—Apa itu?"
Sakura mengangkat bahu sebagai jawaban, lalu meletakkan kotak yang diterimanya tadi di atas meja. "Orang itu mengantarkan ini. Katanya untukku, tapi tidak ada nama pengirimnya. Menurutmu apa?"
Bahkan Hinata yang sedari tadi sibuk menulis menurunkan penanya dan ikut memandangi kotak di atas meja dengan penasaran. "Ini… kado?"
"Kelihatannya begitu," Sakura mengangguk setuju, "Tapi siapa yang mengantar kado lewat kurir begitu—dan orang tadi tidak kelihatan seperti kurir."
"Buka, Sakura! Ayo buka!" seru Ino bersemangat.
"Bagaimana kalau isinya aneh-aneh? Mungkin saja itu bom!"
"Astaga, Sakura! Kau kebanyakan nonton berita. Kejahatan terbesarmu yang suka merampok isi kulkas ibumu tidak akan membuat orang ingin membom dirimu, tahu! Yang benar saja…" kata Ino tak sabaran, yang dengan sukses membuat Sakura membelalak padanya dan Hinata mengikik tertahan. "Ayo dong dibuka…"
"Iya, iya…"
Ino dan Hinata mengawasi dengan sikap tertarik sekaligus penasaran ketika Sakura mulai menarik ikatan pitanya dan melepaskannya dengan sangat hati-hati, seolah gerakan sedikit saja bisa membuat kotak itu meledak. Setelah ikatannya terlepas, Sakura menahan napas sebelum mengangkat bagian penutupnya. Ia bisa mendengar Ino memekik kecil ketika kotak itu sepenuhnya terbuka. Lapisan kertas tipis berwarna pink pucat tidak menghalangi mereka untuk melihat apa yang ada di baliknya, lapisan yang kemudian disibak oleh Ino dengan tak sabar.
"Oh, ya ampun…"
Masih tidak bisa percaya apa yang dilihatnya, Sakura mengulurkan tangan untuk menyentuh isi kotak itu, kemudian mengangkatnya sehingga lipatan dress berbahan lembut terbuka sepenuhnya. Dress itu masih sama cantiknya seperti yang Sakura lihat di butik waktu itu. Warna beidge-nya yang lembut, motif bunga-bunganya…
"Dress yang cantik sekali," komentar Hinata, ikut menyentuh pakaian itu.
"Astaga… Aku tidak tahu kau punya mengagum rahasia di luar sana, Sakura," desah Ino, "Dan dress ini kelihatan mahal. Whoa… jangan-jangan om-om senang?"
Sakura tersenyum, sama sekali tidak mengindahkan komentar Ino. Hanya dengan memandang dress itu, ia langsung tahu siapa yang mengirimkan ini—bukan pengagum rahasia, dan jelas bukan om-om senang. Sekarang ia mengerti mengapa Sasuke menginginkan ia cepat-cepat pulang ke rumah.
Dasar curang!
.
.
Bersambung?
.
.
Tulisan ini sebenernya cuma tambahan gak penting dari chapter yg kemarin—dan pendek juga. Mungkin gak kerasa feelnya atau gimana soalnya aku nulisnya di sela sibuk dan capeknya menjalani peran baruku. Heu… Maafkan, yah… Temen-temen mungkin juga ngerasa banyak plot hole di sini, kaya apa sih yang dipikirin Sakura tentang rencananya liburan di Kiri waktu ngeliat Yamato? Terus siapa Om-Om yang nganter kado dari Sasuke? Terus, apa Sakura akan make dressnya di depan Sasuke atau enggak? Silakan mengira-ngira sendiri deh ya. Ahahaha... Kalo say amah rencananya kepingin ngejelasin pas chapter liburan yang gak tau kapan bakal saya tulis. T_T
Btw, yg kemarin tanya FB-ku, namanya sama kaya penname. Sok dicari aja Park Gyu Mi, insyaALLAH nemu kok dan kita bisa ngobrol banyak di sana, okay? ;)
Maafkan gak balas satu-satu reviewnya yah. Yang kemarin minta ditanggapi, udah dibalas. Semoga penjelasan yang saya ajukan bisa diterima J. Maafkan kalau fic ini mengecewakan, gak bermoral dan gak se-awesome yang kamu pinginin seperti fic-fic punya temen-temen yg lain.
Makasih sudah membaca dan mengapresiasi.. ^^
