Akhirnya memutuskan untuk memisahkan chapter ini jadi 2 bagian, biar gak kepikiran terus. Mudah-mudahan gak mengecewakan. Enjoy!
.
.
Naruto © Kishimoto Masashi
.
.
Musim semi berlalu dengan cepat. Rasanya baru kemarin salju mencair, digantikan oleh kuncup-kuncup baru yang mulai terbangun dari fase dorman mereka. Tiba-tiba saja suhu udara mulai berubah, menandakan datangnya putaran awal musim panas.
Dan ini berarti banyak hal bagi para pelajar, baik itu hal-hal yang menyenangkan seperti kelulusan untuk siswa tahun terakhir, atau yang menyebalkan seperti ujian semester. Namun berhubung ujian sudah berakhir saat cerita ini dituturkan—bahkan mereka sudah menerima hasilnya beberapa hari yang lalu—saat-saat yang membuat otak mendidih itu sudah tutup buku dan menjadi bagian dari masa lalu yang tidak penting untuk diingat-ingat lagi. Hanya tinggal keceriaan akhir tahun ajaran dan semangat menyambut liburan musim panas yang terasa.
Begitu pula dengan ketiga remaja yang kini sedang berdiri di depan jendela koridor lantai tiga yang menghadap ke halaman samping Konoha High. Yah, walaupun beberapa hari yang lalu tidak begitu, mengingat salah satu dari mereka baru saja tergeser dari posisinya sebagai pemegang nilai komulatif tertinggi di angkatannya.
Sekarang Sakura Haruno sudah bisa menerima kenyataan dirinya dikalahkan oleh seseorang yang tak lain dan tak bukan adalah sahabat sekaligus saingannya sendiri, cowok menyebalkan-tapi-tampan yang saat itu berdiri di sampingnya, Sasuke Uchiha. Dari pada bersungut-sungut terus pada Sasuke—bukan salahnya juga punya otak superencer—Sakura lebih suka menganggapnya sebagai tantangan untuk lebih baik lagi di semester berikutnya, seperti yang dikatakan Kakashi padanya saat dirinya masih berada pada periode ngambek berat beberapa hari yang lalu.
Padahal tadinya Naruto dan Sai sempat cemas kedua sahabat mereka ini bakal tidak saling bicara lagi gara-gara itu. Untunglah tidak sampai terjadi yang lebih parah dari insiden penginjakkan kaki Sasuke dengan sengaja oleh Sakura. Selebihnya mereka baik-baik saja dan bicara cukup ramah satu sama lain.
"Satu tahun lagi kita yang akan berdiri di sana," ujar Sakura dengan senyum menerawang, seraya menatap pada kerumunan bertoga di bawah sana. "Wah… rasanya sudah tidak sabar lagi."
Saat itu mereka memang tengah menonton jalannya upacara kelulusan anak-anak kelas tiga yang sedang berlangsung di halaman terbuka di samping gedung sekolah mereka lewat jendela. Jejeran anak-anak kelas tiga yang memakai toga berdiri di depan podium, dengan bangku-bangku yang ditempati para orangtua wali, para guru, dan Nona Tsunade, kepala sekolah mereka yang memimpin langsung, upacara itu terlihat begitu hikmat.
"Uh… pasti keren banget kalau kita pakai toga," timpal Naruto antusias.
"Hn," Sasuke mendengus kecil, "Kalau kau lulus."
Mendengar tanggapan Sasuke, Naruto menolehkan kepala dan menatapnya agak jengkel. "Jangan mentang-mentang sekarang kau dapat peringkat pertama lantas bisa meremehkanku, ya!—dasar sial! Lihat saja, aku pasti bakal LULUS dengan nilai BAGUS!" serunya penuh percaya diri.
"Sebaiknya begitu," Sasuke menyeringai padanya—tetapi bukan jenis seringaian mencemooh, tentu saja. Sasuke tahu betul kalau progress akademik sahabatnya itu terus merangkak naik dan ia berani bertaruh Naruto bisa lulus dengan nilai-nilai yang akan dipertimbangkan universitas mana pun tempatnya mendaftar nanti. Belum lagi prestasi olahraganya. Beasiswa di tangan bukanlah hal yang tidak mungkin.
"Cara ngomongmu itu sombong sekali." Masih sambil bersungut-sungut, Naruto kembali mengalihkan perhatiannya ke luar jendela. "Aku mau tahu apa kau bisa berdiri di podium itu saat kelulusan nanti," lanjutnya seraya mengendikkan kepala ke arah podium, di mana Neji Hyuuga—lulusan terbaik tahun itu—baru saja naik untuk menyampaikan pidato kelulusan mewakili teman-temannya.
"Mau taruhan?" tantang Sasuke.
"Aku mau," sambar Sakura cepat. "Siapa di antara kita yang tahun depan akan berdiri di sana—"
Mendengar itu, Naruto langsung mengerang. "Sudah pasti aku bakal kalah taruhan," keluhnya.
"Ya ampun, Naruto… Kemana semangatmu yang tadi?" Sakura memelototi Naruto. "Jangan mau kalah dong sama orang sombong ini—"
"Maaf?" Sasuke menoleh pada Sakura.
Sakura mengabaikannya, masih menyemangati Naruto. "Pokoknya di antara kita harus ada yang bisa berdiri di sana sementara Sasuke joget di depan podium!"
"Hei! Siapa yang mau joget?" protes Sasuke.
"Sepertinya itu ide yang bagus, terutama di bagian yang joget—" Naruto mengangguk-angguk dengan tampang sok serius—sementara sudut bibirnya berkedut menahan geli. Mata birunya melirik Sasuke, barangkali membayangkan cowok yang biasanya bersikap sok cool di depan anak-anak lain itu tiba-tiba melakukan hal memalukan seperti berjoget di depan umum.
"Taruhannya tidak termasuk joget," Sasuke menukas sengit. Membayangkan kans dirinya bakal joget di depan umum membuatnya merinding. Ia lebih suka diminta mentraktir seluruh angkatan.
"Kenapa, Sasuke?" tanya Sakura kalem sambil tersenyum, "Takut?"
"Siapa yang takut?" sahut Sasuke langsung, membela harga dirinya sebagai seorang cowok cool di depan Sakura. Cowok cool tidak pengecut.
"Oke, deal!" seru Sakura antusias. "Tahun depan, siapa yang kalah taruhan—tidak jadi lulusan terbaik—harus joget di podium setelah upacara selesai. Naruto, kau memihak siapa?"
"Tentu saja aku memihakmu!" Naruto langsung bergerak ke belakang gadis itu, merangkul bahunya dengan akrab. Sakura tersenyum puas padanya.
"Lalu siapa yang memihakku?"
"Sai," Naruto memutuskan seenaknya. Omong-omong tentang Sai dan alasan ia tidak bersama mereka sekarang, cowok itu sedang diserahi tugas sebagai dokumentator upacara kelulusan kelas tiga bersama beberapa anak-anak klub jurnal dan klub fotografi oleh panitia. "Jadi kalau kau kalah, Sai akan ikut joget denganmu. Kalian bisa berdansa kalau mau," tambahnya, tergelak.
"Sialan, kau!"
"Hn," Naruto menirukan gaya Sasuke, membuat Sakura tertawa.
"Kalau aku atau Sai yang jadi lulusan terbaik, kalian berdua harus joget," kata Sasuke tak mau kalah.
"Oke," Naruto langsung menyanggupi.
"Tidak masalah," Sakura mengangguk setuju.
Sialan! Sasuke membatin. Ia sama sekali lupa kalau dua orang di depannya ini bukan orang-orang biasa. Naruto, yang urat malunya sudah putus dari dulu, memang senang melakukan hal-hal konyol di depan orang banyak untuk mendapatkan perhatian. Joget di depan umum bukanlah hal besar. Dan Sakura, sebagai anggota klub teater yang sudah terbiasa menjadi pusat perhatian di atas panggung, joget di atas panggung yang lain tidak akan membuatnya panas dingin—mungkin sedikit. Bagaimana dengan ia sendiri? Dan Sai?
Tunggu dulu! Kalau sudah takut sejak awal, berarti ia tidak yakin akan menjadi yang terbaik, kan? Sasuke Uchiha kalah oleh seorang cewek?—Oh, tidak bisa! Terlepas dari kenyataan kalau ia diam-diam menyukai cewek itu bukan berarti Sasuke akan mengalah begitu saja darinya.
"Baiklah." Sasuke mengulurkan tangannya pada Sakura. "Deal?"
Sakura menyambut uluran tangan cowok itu, menjabatnya dengan mantap sebagai tanda perjanjian. "Deal!"
Getaran yang berasal dari saku celana Sasuke membuat cowok itu melepaskan tangan Sakura—dengan enggan—lalu mengambil ponselnya. Nama sekretarisnya di OSIS, Shiho, tertera di layar. Dengan agak malas-malasan, Sasuke menekan tombol jawab.
"Ya, Shiho?" –terdengar rentetan suara orang menyahut di seberang sambungan, cukup keras sampai membuat Sasuke sedikit menjauhkan ponsel dari telinganya dan mengernyit. "Hn. Kami akan segera turun."
"Sepertinya ada sesuatu yang gawat," komentar Naruto begitu Sasuke memutuskan sambungan. "Kenapa lagi si Shiho?"
"Dia menyuruh kita ke aula," sahut Sasuke sedikit menggerutu sembari memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku celana. "Katanya mereka butuh orang tambahan untuk bantu-bantu dekorasi."
Sebenarnya Sasuke agak malas mengurusi acara merepotkan dan ribet seperti prom ini. Itu sebabnya sejak awal ia sengaja tidak ikut-ikutan menjadi anggota komite—yang sebagian besar anggotanya adalah para gadis yang antusias—Tetapi tetap saja, sebagai ketua organisasi sekolah, mau tidak mau Sasuke harus terlibat. Bukan sebagai ketua komite, memang—jabatan itu dipegang oleh sekretarisnya, Shiho, yang memang jauh lebih mengerti hal-hal seperti ini—tugasnya di sini adalah sebagai penanggung jawab. Dan sebagai orang yang bertanggung jawab atas keseluruhan proses persiapan sampai terselenggaranya acara besok malam, Sasuke tidak punya pilihan lain, bukan?
"Sekarang?" tanya Naruto.
"Hn." Sasuke menatap tajam Naruto—sedikit jengkel. "Bukankah kau juga bagian dari komite prom?"
Naruto nyengir, menggaruk belakang kepala pirangnya yang tak gatal. Tampak salah tingkah. "Iya sih—tapi, hei! Aku kan cuma pengisi acara—"
"Sama saja."
Sementara itu di sebelah mereka, Sakura sudah berpaling lagi ke jendela, cemberut memandangi anak-anak kelas tiga yang sekarang sibuk bertepuk riuh rendah setelah Neji menyelesaikan pidato kelulusannya. Mendengar kedua cowok itu membicarakan prom membuatnya kesal. Bukan berarti Sakura membenci prom—sama sekali tidak, malah—Sama seperti semua gadis lain di sekolah itu, prom adalah salah satu momen yang paling ditunggu-tunggu semenjak pertama kali masuk sekolah menengah. Sakura ingin sekali pergi, meskipun itu bukan ke prom angkatannya.
Masalahnya, Sakura bukanlah bagian dari komite prom dan otomatis tidak bisa datang jika tidak ada anak kelas tiga atau anggota komite yang mengundangnya. Tadinya ia berharap Sasuke, Sai atau Naruto akan mengajaknya—karena mereka adalah bagian dari komite juga: Sasuke penanggung jawab, Naruto pengisi acara dan Sai tim dokumentasi—tetapi rupanya mereka tidak cukup peka atas keinginan terselubung sahabat mereka itu. Ini praktis membuat Sakura menjadi satu-satunya yang tidak bisa pergi di antara mereka berempat.
Barangkali mereka berpikir gadis itu lebih suka bergelung di kamarnya dari pada menghadiri acara seperti itu, mengingat Sakura memang jarang berkoar-koar tentang prom di depan mereka. Sepertinya ia harus menunggu tahun depan untuk bisa pergi ke promnya sendiri, pikir Sakura muram. Padahal Ino saja sudah pernah pergi tahun lalu, diajak oleh salah satu senior mereka saat itu.
"Hei."
Sakura merasakan seseorang menepuk pundaknya—Naruto. Buru-buru memasang senyum di wajahnya, Sakura menoleh. "Ya?"
"Kami mau ke aula, mau bantu-bantu mendekorasi untuk prom besok," beritahu Naruto, "Kau mau ikut?"
"Um…" Sakura pura-pura berpikir sebelum berkata, "Tidak usah deh. Lagipula setelah ini aku mau menemui seseorang…" Tentu saja Sakura berbohong. Ia sama sekali tidak berencana menemui siapa-siapa setelah ini. Barangkali ia akan pulang saja dan meratapi nasibnya tidak bisa pergi ke prom sambil makan semangkuk besar es krim cokelat—Ya ampun… sepertinya kebiasaannya mendramatisir keadaan mulai kambuh lagi.
Sasuke mengernyit. "Kau… mau menemui seseorang?" tanyanya berhati-hati.
Sakura menjawab dengan mengangkat alisnya tinggi. Kedua lengannya dilipat di depan dada seolah menantang. "Kenapa? Keberatan?"
"Tidak," Sasuke menyangkal dalam gerutuan—meskipun sebenarnya ada sesuatu yang menggelitik rasa penasarannya mendengar Sakura ingin menemui seseorang. Seseorang ini kedengarannya sangat mencurigakan—Cowok itu memandang Sakura beberapa saat lagi, tampak bimbang, sebelum kemudian berbalik pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun lagi. Mendesak Sakura lebih jauh hanya akan membuatnya terlihat konyol dan kekanakan di depan gadis itu.
"Eeh—Oi, Sasuke! Tunggu aku!" –Naruto buru-buru mengejarnya. "Sakura, nanti ngobrol lagi, ya!"
Setelah kedua cowok itu menghilang di ujung koridor, Sakura mendengus tertawa. Entah mengapa rasanya menyenangkan bisa menyalurkan kejengkelannya pada Sasuke—dan ekspresi cowok itu tadi lucu sekali—Tapi…
Sakura menggerundel jengkel pada dirinya sendiri ketika ia mulai merasakan gelombang perasaan tidak enak terhadap Sasuke menerpa dasar perutnya—rasanya sangat tidak nyaman.
.
.
Sakura baru saja turun ke lantai dasar dan sedang berjalan menuju pintu utama untuk pulang ketika ia tak sengaja melihat Ino yang baru saja keluar dari toilet siswi. Gadis itu tampak berantakan. Mata birunya bengkak seolah ia habis menangis semalaman, dan rambut pirangnya yang biasanya dikucir rapi, kini terikat asal-asalan di belakang tengkuknya. Poninya mencuat kemana-mana. Dengan penampilannya yang seperti itu, Ino terlihat seperti sedang sakit saja.
"Ino!" Sakura berseru memanggilnya, kemudian buru-buru menghampiri sahabatnya itu.
Ino yang jelas-jelas tidak menyadari keberadaan Sakura di sana, menoleh dan tampak terkejut melihat Sakura. "H—Hei," balasnya dengan suara yang terdengar aneh, seraya memasang senyum yang bagi Sakura terlihat seperti seringaian yang dipaksakan.
Sakura menatap Ino selama beberapa saat, sementara gadis itu seperti berusaha menghindari tatapannya. Sudah beberapa hari ini Sakura kehilangan kontak dengan Ino. Mereka jarang bertemu di sekolah setelah ujian usai dan Sakura pun kesulitan menghubungi sahabatnya itu. Awalnya Sakura berpikir mungkin Ino sedang sibuk dengan klubnya—mengingat klub cheerleader sedang mengikuti musim kompetisi antar sekolah yang sudah memasuki babak penyisihan—dan tidak ingin diganggu. Tetapi melihat kondisi Ino yang sekarang, mau tak mau Sakura jadi berpikiran lain.
"Sakura—Ya, ampun…" Ino berseru sebelum Sakura sempat berkata apa-apa. "Kita satu sekolah, tapi kok aku jarang sekali melihatmu, sih?"
"Seharusnya aku yang bilang begitu, Ino," Sakura menghela napas, "Kau kemana saja? Kenapa tidak membalas pesanku?"
"Ah, itu—astaga, aku pasti lupa! Maaf, ya…" sahut Ino dengan mimik menyesal, "Kau kan tahu aku sibuk dengan kompetisi cheers-ku. Hei, kami lolos ke final, lho!" tambahnya dengan nada ceria yang berlebihan.
Sakura tidak menanggapi. Ia masih mengamati wajah Ino—dan ekspresinya yang seperti dibuat-buat, barangkali untuk menutupi sesuatu yang berusaha ia sembunyikan dari Sakura.
"Sakura!" protes Ino, pura-pura cemberut ketika melihat Sakura tidak menanggapinya, "Apa kau tidak ingin mengucapkan selamat?"
"Oh, yeah… tentu saja," Sakura tersenyum manis. Dirangkulnya Ino dengan hangat, "Selamat!"
"Trims…" –Sakura merasakan tubuh Ino sedikit gemetar dalam rangkulannya—"Kau memang sahabatku yang paling baik, Sakura."
"Ino…" Sakura melepaskan rangkulannya dan kembali menatap Ino lekat-lekat, "Ada apa? Kau baik-baik saja, kan?"
"Kau ini bicara apa? Tentu saja aku baik-baik saja," Ino masih berusaha berkilah. Padahal senyuman di wajahnya tanpa ia sadari mulai memudar—sampai akhirnya ada setitik air mata terjatuh dari sudut matanya, yang kemudian buru-buru disekanya. "Aku cuma capek, Sakura. Kompetisi ini benar-benar menghabiskan tenagaku, kau tahu—Oh, geez—" Sekali lagi Ino menghapus air matanya yang membandel.
"Kau masih bilang ini soal kompetisi?" Sakura mengernyit.
Butuh waktu beberapa saat sampai Ino menjawab dengan suara parau, "Kapan aku bisa menyembunyikan sesuatu darimu, Sakura, eh?" Ia tertawa getir, lalu mengambil napas dengan susah payah, "Yah… memang bukan karena kompetisi. Aku bahkan tidak ikut, karena Karin mengeluarkanku dari tim inti. Katanya aku tidak konsentrasi…" Ino menundukkan kepala, tersenyum lemah pada dirinya sendiri. Gadis itu terdiam beberapa saat lagi, sebelum melanjutkan, "Aku dan Idate… kami putus."
Meski Sakura sudah menduga hal ini akan terjadi cepat atau lambat, mengingat hubungan mereka yang menurutnya semakin lama semakin tidak sehat—dengan Idate yang kelewat mengekang dan posesif terhadap Ino, dan Ino yang mulai tidak nyaman dengan hubungan mereka—tetap saja ia terkejut. "Bagaimana—"
Sebelum Sakura sempat menyelesaikan kata-katanya, Ino sudah menyambar pergelangan tangannya dan menyeretnya menyusuri koridor yang lengang itu. Mereka baru berhenti ketika sampai di salah satu kelas di ujung koridor. Ada tiga orang anak perempuan kelas satu di sana, sedang mengobrol cekikikan sambil melijat-lihat majalah-majalah fashion yang terbuka di atas meja. Mereka langsung berhenti tertawa dan menoleh begitu dua senior mereka itu masuk.
"Bisa kalian tinggalkan kelas ini sekarang?" kata Ino dengan suara melengking.
Selama beberapa saat, mereka hanya saling pandang dengan bingung dan jelas-jelas enggan memenuhi permintaan Ino—setidaknya sebelum Ino menghardik mereka.
"SEKARANG!"
Ketiga gadis kelas satu itu buru-buru mengumpulkan majalah dan tas mereka, kemudian cepat-cepat meninggalkan kelas itu sambil menggerutu tak senang.
"Maaf, ya…" bisik Sakura ketika mereka melewatinya, kemudian menutup pintu di belakangnya, menghela napas. "Seharusnya kau tidak perlu melakukan itu, In—" kata-katanya langsung terhenti begitu Sakura menoleh dan mendapati sahabatnya menangis terang-terangan di depannya. Air matanya merebak, membanjir di pipinya yang pucat. Namun tidak seperti yang dilihatnya saat Ino putus dengan Sai, di mana Ino terlihat benar-benar sedih dan patah hati, kali ini Sakura melihat ada kemarahan yang tercampur di sana.
Dengan sabar, Sakura merengkuhnya, lalu membimbingnya duduk di salah satu bangku yang paling dekat. Dibiarkannya Ino meluapkan perasaannya selama beberapa waktu, sampai akhirnya tangisannya mereda dengan sendirinya.
"Sekarang ceritakan padaku apa yang terjadi, Ino," Sakura berkata lembut, sembari menyeka rambut pirang Ino yang menempel basah di wajahnya.
Dan saat berikutnya, kata-kata Ino sudah meluncur deras seperti air yang keluar dari keran bocor. Di antara isakannya yang sesekali menyela, Ino menceritakan segalanya yang terjadi pada hubungannya dengan Idate.
Rupanya sudah beberapa minggu belakangan hubungan mereka merenggang. Mereka sudah jarang berkomunikasi, bahkan Idate yang biasanya setiap hari selalu mengeceknya tidak melakukan kebiasaannya itu lagi. Awalnya Ino mengira itu karena kesibukan kuliah, dan Ino pun tidak begitu ambil pusing karena dirinya pun sibuk dengan ujian dan latihan. Hingga suatu hari, saat Ino sedang menemani ibunya ber-window shopping di KCS, tanpa sengaja ia melihat Idate sedang berjalan mesra bersama seorang gadis yang tidak ia kenal. Tetapi saat itu Ino sengaja tidak menyapa, dan Idate pun tampaknya memang tidak tahu Ino memergokinya.
Ino sakit hati, tentu saja, tetapi berusaha tidak termakan emosinya. Beberapa kali ia mencoba memperbaiki komunikasinya dengan Idate, bertanya apa ada yang salah dengan hubungan mereka. Tetapi mantannya itu terus-terusan mengelak, bahkan marah dan menuduh Ino tidak percaya padanya.
"Dia bilang, 'aku tidak sepertimu yang suka bermain api di belakangku, Ino,'" tutur Ino pahit. Disekanya wajahnya yang kembali basah dengan kedua tangan, sebelum melanjutkan, "Kadang aku berpikir Idate sedang balas dendam padaku, karena pengkhianatanku yang dulu."
"Tapi itu tidak masuk akal—bisa-bisanya dia mengungkit-ungkit masalah itu lagi sebagai alasan—"
Ino menggeleng sedih. "Aku tidak tahu, Sakura," ujarnya, menghela napas panjang, "Aku tidak mau kami bicara dalam keadaan marah, jadi aku biarkan saja beberapa hari sampai kepala kami sama-sama mendingin sebelum bicara lagi. Dan kau tahu apa yang dia katakan setelah itu, Sakura?"
Sakura tidak menjawab. Ia bahkan tidak berani menduga-duga. Tetapi melihat ekspresi kosong yang kemudian mengambang di wajah Ino, jelas itu bukanlah sesuatu yang bagus.
"Dia bilang, dia ternyata tidak bisa mempercayaiku lagi setelah kejadian dengan Sai. Dan dia bilang, dia tidak bisa terus bersama dengan gadis yang tidak bisa dia percaya. Oh, astaga…" Ino menangkupkan wajahnya pada kedua tangan. Ketika ia kembali meneruskan, suaranya teredam, "Aku tidak percaya dia melimpahkan semua kesalahan padaku. Padahal aku sudah berusaha memperbaiki semuanya, Sakura—tapi siapa yang pada akhirnya berkhianat? Kenapa dia tidak mau mengaku saja kalau dia punya orang lain?"
"Ino…"
"Aku pernah mengkhianatinya sekali dan itu melukai hatinya. Sekarang, keadaannya berbalik. Sakit sekali rasanya di sini," Ino meremas bagian depan pakaiannya, tepat di atas jantungnya, "Mungkin ini yang namanya karma."
"Jangan menyalahkan dirimu," kata Sakura tidak suka, "Hubunganmu dengan Sai yang dulu tidak bisa dijadikan pembenaran atas perbuatannya padamu. Seharusnya dia bisa melihat kau benar-benar menyesal. Tapi apa kau yakin gadis yang kau lihat itu—"
"Tidak salah lagi," suara Ino yang parau terdengar sarat emosi. Disekanya jejak basah yang masih tersisa di wajahnya dengan kasar, "Karena—karena tadi dia meneleponku dan mengakui semuanya. Katanya, 'Jangan cari aku lagi. Sekarang sudah ada orang lain yang lebih baik.'"Ino tertawa sinis, "Seperti aku mau mengemis-ngemis meminta dia kembali lagi padaku saja. CHA! Tak usah, ya!"
Sakura tidak tahu harus berkomentar apa mendengar ini. Pasti itulah alasan yang membuat Ino menangis tadi. Pastilah sangat menyakitkan diperlakukan tidak adil oleh seseorang yang pernah kita sayangi begitu dalam. Menghela napas, Sakura lantas mengulurkan tangan untuk mengusap pundak sahabatnya itu untuk menunjukkan rasa prihatinnya.
"Lalu mengapa kau tidak menceritakannya padaku sejak awal, Ino?" tanya Sakura lembut.
Ino meringis minta maaf. "Habis, kelihatannya sejak Sasuke mengalahkanmu, mood-mu jadi jelek terus. Aku tidak ingin menambahi dengan masalahku."
Sakura mengibaskan tangan. "Aku tidak memikirkannya lagi," tukasnya, berlagak tak peduli.
"Tapi kemarin-kemarin jelas kau kepikiran, Sakura," tandas Ino, nyengir, "Kau membuat Sasuke Uchiha kebingungan waktu kau tiba-tiba menginjak kakinya di koridor waktu itu. Dan aku tidak mau jadi korbanmu yang kedua. Tidak, terimakasih banyak."
Sakura mendengus teringat tingkah konyolnya beberapa hari yang lalu—dengusan yang kemudian berubah jadi tawa yang menular pada gadis yang duduk di seberang meja di depannya.
"Hei, omong-omong kalian jadi pergi liburan ke Kiri, kan?" –Dan obrolan pun segera beralih ke topik yang lebih ceria.
.
.
Aula masih berantakan ketika Sasuke dan Naruto tiba di sana. Di mana-mana, anak-anak kelas satu dan dua yang menjadi panitia prom berkutat dengan pekerjaan masing-masing. Sekelompok cewek kelas satu terlihat sibuk mengisi balon-balon dengan udara dari pompa di salah satu sisi aula, sementara sekelompok cewek yang lain sibuk dengan pernak-pernik dekorasi: pita, hiasan topeng, bergulung-gulung kain dan segala macam di sisi yang lain. Di ujung aula, tampak para cowok berkutat dengan podium. Alat-alat sound system dan peralatan band—pinjaman dari klub musik—masih teronggok begitu saja di sudut ruangan, begitu pula dengan meja-meja dan bangku.
Naruto bersiul pelan, "Sepertinya kerjaan ini bakal lama baru selesai."
"Dan itu belum termasuk dekorasi untuk di luar aula," tandas seorang gadis berkacamata yang baru saja muncul di belakang mereka. "Coba lihat… hmm…" Shiho mengetuk-ngetukkan ujung pena di atas clipboard berisi susunan rencana lengkap untuk dekorasi yang dibawanya. Saat berikutnya gadis berambut pirang itu mulai menjelaskan semua detail rencananya. Begitu serius sampai-sampai tidak menyadari Sasuke tidak memberi perhatian penuh padanya, melainkan pada cowok-cowok kelas satu yang sibuk berkutat memasang spanduk di atas podium.
Yah, sebenarnya Sasuke juga tidak sepenuhnya memperhatikan mereka. Kebetulan saja matanya terarah pada mereka, dan tatapannya yang serius membuat para juniornya itu salah tingkah—mengira mereka sedang dipelototi karena melakukan kesalahan entah apa—Pikirannya tidak sedang berada di sana. Perkataan Sakura beberapa saat yang lalu masih saja mengusiknya—memangnya dia mau menemui siapa, sih?
Naruto yang kemudian menyadari itu, menghela napas diam-diam. Ia sudah mengira ini akan terjadi pada akhirnya. Semenjak acara prom mulai digembar-gemborkan di sekolah—bahkan sebelum ujian semester dimulai—ia dan Sai sudah mulai berusaha memancing-mancing Sasuke mengambil satu langkah ke depan dengan mengajak Sakura sebagai kencannya di prom. Namun hingga sekarang sama sekali tidak ada pergerakan dari Sasuke, padahal Sakura sendiri secara implisit sudah menunjukkan keinginannya untuk pergi sejak awal—hanya saja gadis itu tidak bisa pergi jika tidak ada anak kelas tiga atau anggota komite yang mengajaknya.
Kalau saja bukan karena memberi kesempatan pada Sasuke, barangkali Naruto sendiri atau Sai yang akan mengajaknya dari dulu sejak mereka bergabung dalam komite prom. Dan sekarang, begitu melihat kans Sakura bakal diajak cowok lain… lihat saja bagaimana ekspresi masam yang tergambar di wajah Sasuke saat ini.
Naruto mengambil waktu sampai Shiho mengakhiri monolognya dan pergi sebelum menginterupsi lamunan Sasuke, "Masih kepikiran?"
"Apa—" Perhatian Sasuke akhirnya teralih pada Naruto. "Tidak. Shiho sudah mengatur semuanya dan kurasa itu sudah bagus."
Naruto mendengus. "Kau tahu yang kubicarakan bukan itu, Sasuke."
"Apa maksudmu?" Sasuke mengernyitkan dahi, berpura-pura tidak memahami arah pembicaraan Naruto.
Naruto mengangkat sebelah alisnya, lalu bicara keras-keras, "Haruskah aku bilang keras-keras pada semua orang di sini kalau Sasuke Uchiha yang beken sedang putus asamemikirkan kemungkinan Saku—mmph!" kata-katanya terhenti ketika Sasuke mendadak membekap mulutnya.
"Bisa tidak kau kecilkan suaramu, Idiot!" desisnya sambil membeliak galak pada sahabatnya yang malah tergelak dengan suara teredam di tangannya. "Dan aku TIDAK putus asa!"
"Tapi uring-uringan," kekeh Naruto setelah dengan susah payah melepaskan diri dari bekapan Sasuke.
"Tch!" Sasuke membuang muka, jengkel pada Naruto yang selalu saja bisa menebak apa yang sedang ia pikirkan—dan meledeknya.
"Salahmu sendiri tidak bergerak dari dulu. Kan sudah kubilang, Sakura kepingin sekali pergi ke prom—tapi kau tidak maju-maju," Naruto menghela napas dramatis sambil menggeleng-gelengkan kepala, "Jangan kau pikir Sakura itu tidak ada yang melirik lantas kau mau mengajaknya di saat-saat terakhir."
Sasuke tidak menyahut, memandang gusar ke sekelompok gadis yang bukannya bekerja malah duduk-duduk di sudut sambil ribut bergosip—dampaknya langsung kelihatan: para gadis itu langsung membubarkan diri dan bergegas membantu yang lain—Sebenarnya bukan karena itu. Ia tahu betul kepopuleran Sakura terangkat sejak gadis itu sukses dengan dramanya di festival sekolah yang lalu dan ia juga belum lupa ada cowok nekat yang mengajaknya kencan bahkan belum satu jam lewat sejak Sakura turun panggung. Bagaimana bisa Sasuke menganggap Sakura tidak ada yang melirik?
Masalahnya, terlalu banyak yang menjadi pertimbangan Sasuke mengajak Sakura ke prom. Entah itu gengsi, khawatir Sakura akan menganggapnya memanfaatkan momen untuk mengajaknya keluar dan sejuta alasan lain yang membuatnya terus menunda-nunda mengajak gadis itu. Dan yang paling memberatkannya, tentu saja adalah karena Sasuke cemas dirinya bakal ditolak mentah-mentah—terlebih setelah dirinya mengalahkan Sakura dalam ujian. Kans Sakura mau menjadi teman kencan promnya semakin kecil saja.
"Ternyata kau tidak sejenius yang kupikirkan, Sasuke," begitu komentar Sai saat Sasuke mengatakan alasannya padanya beberapa hari yang lalu. "Sakura tidak akan peduli kau mengalahkannya atau apa, dia hanya ingin pergi ke prom. Kau, sebagai teman dekatnya, seharusnya bisa mengerti—yah, terlepas dari kau naksir dia atau tidak. Jadi silakan, kau mau mengajaknya sekarang, atau kau lebih suka aku yang melakukannya?"
"Hei, Sasuke," suara Naruto mengaburkan ingatan Sasuke tentang kata-kata Sai. Naruto mengalungkan lengan ke bahunya, menggiringnya ke pinggir supaya tidak ada yang mencuri dengar, lalu berkata dengan suara rendah, "Menurutku, Sakura hanya berpura-pura soal menemui seseorang itu. Dia hanya ingin mengesankan bahwa ada seseorang yang bakal mengajaknya, supaya kau—atau aku—mengajaknya pergi lebih dulu."
Sasuke menatap sahabatnya, tampak tidak begitu yakin.
"Percaya deh padaku," Naruto berusaha meyakinkan, "Kau masih punya kesempatan—yah, setidaknya sampai nanti sore."
"Kenapa sampai nanti sore?"
"Astaga, kau ini tidak tahu apa-apa tentang cewek, ya?" Naruto melepaskan rangkulannya, memandang Sasuke sambil menyeringai—ia menjadi sangat gembira setiap kali mengetahui sesuatu lebih dari si jenius Sasuke—"Tentu saja mereka butuh waktu untuk siap-siap. Terlebih untuk acara seperti ini—kalau kau tidak tahu, mereka semua terobsesi dengan prom—berbelanja, memilih baju, mengatur janji dengan salon dan lain-lain. Dan itu makan waktu paling tidak seharian. Masa begitu saja tidak tahu, sih?"
Sasuke memandang Naruto keheranan. "Dari mana kau tahu hal-hal seperti itu?"
Naruto mengibaskan tangannya, terkekeh. "Kau akan tahu dengan sendirinya kalau kau bergaul cukup lama dengan cewek-cewek seperti Ino."
"Oi, Uchiha!" suara teriakan seorang gadis terdengar dari seberang ruangan. Kedua cowok itu kemudian berpaling dan melihat Shiho sedang berkacak pinggang di atas podium, memelototi mereka, "Apa yang kalian berdua lakukan di sana, berbisik-bisik seperti orang sedang pacaran saja! Jangan mentang-mentang kau penanggungjawab lantas bisa seenaknya, dong! Ayo cepat, bantu yang lain!"
"Iya, iya, astaga… Sekretarismu itu bawel sekali sih, Sasuke?" Naruto menggerutu, kembali menoleh pada Sasuke, "Jadi, kau akan melakukannya hari ini?"
Sasuke menarik napas dalam-dalam, seakan sedang menenangkan dirinya sebelum menjawab seraya mengangguk mantap, "Hn."
"Itu baru temanku." Naruto menepuk-nepuk bahunya, tersenyum lebar. "Ah, ini…" Seakan baru teringat sesuatu yang penting, Naruto meraih ke dalam ransel yang tersampir di bahunya, mengeluarkan selembar undangan prom, lalu menyerahkannya pada Sasuke. "Sai sudah menyiapkannya untukmu—kalau-kalau kau mau mengajak Sakura, kau jelas membutuhkan ini, kan?"
"Hn," Sasuke mengambil undangan itu dari tangan Naruto, menyeringai tipis. "Trims."
"Anytime, Romeo."
.
.
Suara tawa renyah itu mendadak memenuhi koridor menyusul terbukanya salah satu pintu kelas. Dua orang gadis melangkah keluar, tampak masih larut dalam obrolan seru tentang liburan musim panas yang sudah mereka mulai sejak di dalam tadi. Ekspresi mereka riang, tidak seperti beberapa saat yang lalu, meskipun mata si gadis pirang masih terlihat sembab dan bengkak.
"…astaga…" Ino menghapus air mata tawa dari sudut matanya, "Aku tidak percaya itu sudah tiga tahun yang lalu! Rasanya baru kemarin…"
"Yeah…" Sakura menyunggingkan senyum menerawang, mengenang kembali ketika ia dan Ino melewatkan musim panas bersama di Konoha saja—tidak kemana-mana seperti halnya teman-teman mereka yang lain—Bagaimana saat itu mereka sedang badung-badungnya; menyelinap ke kelab demi menonton konser band sampai tengah malam, melanggar jam malam, pulang ke rumah diantar polisi dan dimarahi habis-habisan oleh orangtua mereka yang panik. "Kalau kita melakukannya sekarang, kita tidak akan berurusan dengan polisi-polisi itu—Kita kan sudah cukup umur."
"Tapi mereka ganteng…"
Komentar Ino membuat Sakura tergelak. "Aku tidak akan menganggap mereka ganteng kalau mereka mencoba menangkapku dan memasukanku ke dalam sel."
Ino tertawa. "Seharusnya kau melihat tampangmu waktu itu, Sakura—"
"Oh, jangan mengingatkanku!" sela Sakura. Ia bergidik mengingat bagaimana dirinya menangis ketakutan ketika mereka menaikkannya ke dalam mobil polisi untuk diantar pulang—tindakan baik hati sebenarnya, mengingat biasanya mereka akan membawanya ke kantor polisi sebelum memanggil para orangtua.
"Aku tidak mengingatkanmu. Aku cuma tidak bisa lupa," Ino tergelak lagi, sebelum melanjutkan setelah tawanya mereda, "Sayangnya kita tidak bisa melakukannya lagi musim panas ini." Senyumnya sedikit memudar ketika ia melempar pandang iri pada gadis yang berjalan di sebelahnya. "Astaga, aku tidak pernah membayangkan akan cemburu pada cowok-cowok itu karena telah menguasai sahabatku."
Sakura membalasnya dengan senyum menyesal. Gadis itu menghentikan langkahnya dan meraih kedua tangan Ino. "Aku masih berharap kau mau ikut dengan kami, Ino—Oh, ayolah…" tambahnya cepat-cepat dengan nada memohon, ketika dilihatnya Ino menggelengkan kepala, "Kau bisa membujuk orangtuamu seperti aku berhasil membujuk ibu."
"Masalahnya bukan itu, Saku—"
"Kalau kau memikirkan Sai, aku yakin kita bisa mengatasinya. Lagipula…" Sakura memandang Ino penuh harap, "Sekarang kau sudah sendiri, begitu juga dengan Sai. Kalian bisa—"
Perkataan Sakura terpotong oleh tawa sinis dari Ino, "Aku tidak bilang Sai yang menjadi alasanku tidak bisa pergi—dan siapa bilang Sai masih sendiri, Sakura? Ya ampun, kadang-kadang kau bisa sangat polos dan menyebalkan, tahu tidak?" Ia melepaskan tangannya dari genggaman Sakura, lalu menyilangkannya di depan dada.
"Eeh?" Sakura membulatkan matanya, terkejut.
"Sai sekarang sedang dekat dengan Sasame Fuuma," beritahu Ino, "Jangan berpura-pura tidak tahu. Aku melihat mereka saat aku datang ke rumah Shikamaru untuk menonton mereka latihan, di kelas juga, dan di restoranmu—Kau pikir kenapa akhir-akhir ini Sasame sering sekali main ke Blocaf, eh? Bukan untuk menemui Kak Arashi, tapi Sai—Kalaupun mereka belum jadian sekarang, kurasa tidak akan lama lagi."
Sakura tidak bisa menyangkalnya. Sai memang sedang dekat dengan gadis manis berambut oranye itu. Ia juga sudah melihat bagaimana perlakuan Sai pada Sasame. Sai adalah tipikal cowok yang tidak segan-segan menunjukkan perasaannya dengan tindakan-tindakan manis—seperti yang dulu pernah dilakukannya untuk Ino. Tidak perlu menjadi jenius untuk melihat bagaimana Sai menyukai gadis itu dan sebaliknya.
Bukan berarti Sakura tidak menyukai Sasame. Sasame adalah gadis yang baik. Ia juga memiliki mata cokelat yang cantik—Sai pernah menyebutkan soal ini sekali padanya—Dan yang paling penting, gadis itu bisa membuat sahabatnya gembira dengan kedekatan mereka. Jadi tidak ada alasan bagi Sakura tidak menyukai adik sepupu Arashi itu, meskipun sesungguhnya ia lebih berharap Sai dan Ino bisa bersama-sama lagi—mungkin karena didorong perasaan bersalahnya pernah memojokkan mereka berdua dulu.
Tetapi jika Sakura memikirkannya sekali lagi sekarang, rasanya mengharapkan Sai dan Ino bersama sama mungkinnya dengan mengharapkan Sasuke mau menari balet. Sakit hati di antara mereka berdua terlalu dalam. Walaupun sekarang mereka sudah berteman lagi, namun tetap saja ada yang berbeda… ada yang berubah dalam hubungan mereka.
"Jadi kau cemburu pada Sasame?" selidik Sakura.
Ino menyunggingkan senyum lemah. "Memangnya apa hakku untuk cemburu, eh? Memang sih, sedikit…" ia mengakui, diiringi helaan napas berat. "Tapi aku tidak ingin terlalu memikirkan itu," tambahnya, seraya kembali tersenyum—setulus yang bisa diusahakannya, "Sai menyukai Sasame. Sasame menyukai Sai. Mereka cocok, tidak ada tempat buatku. Lagipula, aku tidak ingin jadi orang ketiga di antara mereka. Pengalaman yang dulu sudah cukup mengajarkan banyak hal."
"Ino…"
"Jangan memandangku seperti itu, Sakura," Ino tertawa kecil, menepuk lengan Sakura yang memberinya tatapan bersimpati. "Aku akan baik-baik saja. Hidup kita kan tidak hanya berkisar pada masalah cowok saja. Benar, kan? Lihat saja dirimu, yang tidak pernah jadian dengan siapa pun tapi masih tetap bisa tertawa."
"Hei!" seru Sakura memprotes sambil tertawa. "Kenapa malah jadi mengungkit-ungkit aku yang tidak pernah jadian, sih? Kedengarannya seperti cewek tidak laku saja."
Ino tergelak. "Oh, bukannya tidak laku," ujarnya sembari mengamit lengan Sakura di antara dua lengannya, nyengir lebar, "Mereka—cowok-cowok itu—hanya belum menyadari pesonamu yang memabukkan."
Sakura menjulurkan lidahnya, berlagak muntah. Namun sedetik kemudian ia sudah turut tertawa bersama Ino, sementara kedua gadis itu kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju pintu utama untuk pulang.
"Jadi bagaimana dengan liburannya?" tanya Sakura kemudian, "Kau yakin tidak akan ikut dengan kami?"
"Nah!" Ino menggeleng mantap, "Aku sudah punya rencana sendiri dengan Shikamaru dan Chouji. Kami akan memulai kembali band Inoshikachou yang sempat vakum. Hanya kami bertiga—mungkin akan mengajak beberapa anak klub juga. Ayah Shikamaru punya kenalan pemilik café di kota dan katanya mereka tertarik mengajak kami bergabung di sana sepanjang musim panas ini setelah mendengarkan rekaman permainan kami. Oke, kan?"
Memangnya apa yang harus Sakura katakan? Kedengarannya itu juga rencana liburan musim panas yang sama asyiknya dengan pergi ke Kiri. "Kedengarannya bakal asyik!"
"Masquerade night…"
Sakura mendengar Ino berbisik ketika mereka hampir mencapai pintu utama. Ia menoleh, mendapati Ino sedang menengadah, memandang banner besar yang terpasang di bagian atas pintu utama. Dengan dominasi warna merah keemasan melatarbelakangi gambar sebuah topeng separuh wajah bergaya klasik—banner prom.
"Sepertinya prom besok malam bakal spektakuler," komentar Ino.
"Hmm…" Sakura mengangguk setengah hati, masih belum bisa mengatasi sakit hatinya setiap kali memikirkan prom yang tak bisa ia hadiri. Terlebih, seperti yang dikatakan Ino—dan yang kerap didengarnya dari anggota komite yang gencar menggembar-gemborkan prom di sekolah—tema prom tahun ini kedengarannya sangat seru: pesta topeng. Sepertinya ini yang pertama kalinya di Konoha High.
"Haah… rasanya aku jadi tidak sabar…" Ino berkata seraya mendesah penuh harap, "Setidaknya menghadiri prom bisa memperbaiki suasana hatiku, kan?"
Kata-kata Ino kontan saja membuat Sakura terkejut—sekaligus kecewa. Tadinya ia berencana menginap di rumah Ino atau mengundang Ino menginap di rumahnya, mengingat sahabatnya itu baru saja putus, supaya mereka bisa melewatkan waktu bersama-sama. Sakura sama sekali tidak berpikir akan ada cowok yang cukup punya nyali mengajak pacar—mantan, sekarang—Idate Morino ke prom secepat ini!
"Kau akan pergi ke prom?"
Ino menoleh, menatap Sakura dengan kedua alis terangkat. "Memangnya kau tidak?" tanyanya keheranan.
"Tidak ada yang mengajakku," sahut Sakura cemberut.
Mendengar jawaban Sakura, Ino terdiam selama beberapa saat—sebelum kemudian gadis itu mendengus tertawa, "Kau bercanda, ya? Kau punya tiga cowok yang tiga-tiganya menjadi anggota komite prom dan tidak ada seorang pun dari mereka yang mengajakmu?"
Sakura menghela napas berat dan gelengan kepala ia berikan sebagai jawaban.
"Bahkan Sasuke?" tanya Ino dengan pandangan tak percaya.
"Apalagi dia…" gerutu Sakura, "Sasuke kelihatannya malah tidak begitu berminat dengan prom."
"Oh, aku turut berduka cita untuk cowok-cowokmu yang tidak peka itu, Sakura," kata Ino, menahan tawa. "Padahal tadinya kukira kita bisa sama-sama ke prom."
Sakura meringis. "Tidak apa-apa. Toh, aku masih bisa pergi ke tempat penyewaan film dan memborong untuk dua malam, kan?" ujarnya sambil mengibas-ibaskan tangannya, berlagak tidak peduli.
Meski begitu, Ino tahu betul sahabatnya itu sedang dilanda kekecewaan karena tidak bisa pergi ke prom. Mereka dulu cukup sering membicarakannya waktu mereka masih duduk di kelas satu, berkhayal jika ada senior mereka yang mengajak pergi ke prom. Sakura dulu selalu membayangkan Neji mengajaknya—tentu saja, tetapi sekarang itu tidak mungkin setelah apa yang terjadi—mengoceh tentang gaun seperti apa yang akan ia kenakan, sepatu seperti apa, gaya rambut seperti apa. Berkhayal akan berdansa diiringi musik-musik romantis… hal-hal semacam itu.
Ino masih ingat reaksi Sakura saat tahu ada senior yang mengajaknya ke prom tahun lalu sementara dirinya tidak. Gadis itu tidak mengatakan terang-terangan, tetapi kekecewaan itu tampak jelas di matanya—seperti sekarang. Dan tidak ada gunanya meyakinkan Sakura bahwa prom tidak semenyenangkan yang mereka bayangkan, seperti yang dilakukannya tahun lalu.
"Lagipula masih ada tahun depan, kan?" Sakura berkata dengan nada ceria yang dipaksakan, "Tahun depan, ada atau tidak yang mengajakku, aku masih bisa datang—"
"Tahun ini pun kau pasti bisa datang," sela Ino tegas seraya meraih pergelangan tangan Sakura, membuat sahabatnya itu terkejut ketika tiba-tiba Ino menariknya keluar.
"Eeh—Ino! Kau mau apa?" Sakura memekik, nyaris kehilangan keseimbangan ketika mereka terburu-buru menuruni undakan.
"Kau akan lihat, Sakura. Ayo!"
"Hei—pelan-pelan!"
Sakura tidak tahu apa yang sedang direncanakan sahabatnya itu—dan Ino pun tidak memberinya kesempatan untuk bertanya. Maka Sakura pasrah saja ketika Ino menyeretnya berjalan cepat mengitari halaman depan sekolah mereka yang dipenuhi kendaraan pribadi para orangtua siswa kelas tiga, mengikuti jalur menuju lapangan samping sekolah, tempat upacara kelulusan diadakan.
Tampaknya upacara baru saja usai ketika kedua gadis kelas dua itu tiba di sana. Para orangtua sudah meninggalkan bangku mereka dan bergabung bersama anak-anak mereka. Di sana-sini tampak para siswa bertangis-tangisan saling mengucapkan selamat, dipeluk dan dicium oleh keluarga mereka. Aroma kebahagiaan dan kebanggaan karena telah sukses melepas status sebagai siswa sekolah menengah menguar di udara.
Sakura melihat Neji di dekat podium bersama Hinata dan seorang pria paruh baya bermata keperakan yang tampak bangga, menyalami para guru yang memberinya selamat atas titel lulusan terbaik yang baru saja diterimanya. Ia juga melihat Sai di antara kerumunan bertoga itu, melesat ke sana kemari mengambil gambar para lulusan dan orangtua mereka.
"Mau apa sih kau membawaku kemari?" tuntut Sakura ketika ia sudah mendapatkan kembali napasnya.
Ino tersenyum lebar. "Tentu saja untuk mendapatkan teman kencan untukmu, dasar bodoh! Kau mau pergi ke prom tidak?"
"Apa?" Sakura membelalak pada Ino, geli sekaligus jengkel mendengar ide gila sahabatnya itu. "Kau sudah gila, ya? Memajangku di sini dan berharap ada yang tertarik mengajakku ke prom, begitu?"
"Persis!" sahut Ino ceria tanpa memandang Sakura, melainkan menjulurkan leher dengan antusias ke atas kerumunan.
"Ino! Jangan konyol! Aku tidak mau—hei!"
Ino sama sekali mengabaikan protes Sakura dan menariknya lebih dekat. Ia membawanya menghampiri kerumunan cowok-cowok klub basket—yang sebagian besar adalah penggemarnya. Dengan ceria Ino mengucapkan selamat pada mereka dan sebentar saja langsung ada yang mengajaknya ke prom—tentu saja langsung ditolak karena Ino sudah ada teman kencan sendiri, entah siapa—Tidak ada yang menghiraukan Sakura.
Kemudian mereka melesat lagi ke rombongan yang lain, lalu yang lainnya lagi, membuat Sakura nyaris pingsan karena malu. Tapi tampaknya tak ada yang memperhatikan Sakura, karena perhatian cowok-cowok itu tersedot pada Ino—yang walaupun matanya sembab dan rambutnya berantakan, tetap saja terlihat cantik.
"Ino, sudahlah…" Sakura memohon, ketika mereka baru melepaskan diri dari serombongan cowok klub gulat yang bertubuh besar-besar seperti gorila. "Tidak ada cowok kelas tiga yang bakal mengajakku."
"Omong kosong!" Ino mengibaskan tangannya, menolak mendengarkan. "Kau itu lumayan populer sekarang. Tidak mungkin tidak ada yang tidak berminat padamu kecuali orang buta!"
Sakura memutar bola matanya. "Terserah deh. Aku mau pulang saja—"
Namun sebelum Sakura berbalik melepaskan diri dari cengkeraman Ino yang keras kepala, ia mendengar suara seseorang memanggilnya. Tidak begitu yakin dengan pendengarannya, Sakura menoleh. Sejenak matanya mencari-cari, sebelum akhirnya menemukan pemilik suara yang memanggilnya.
Tak jauh dari podium, tampak Tenten sedang melambaikan tangan padanya. Tetapi bukan gadis itu yang kemudian membuat Sakura terkejut, melainkan gadis di sebelahnya, yang rasanya sudah berbulan-bulan berlalu sejak terakhir kali Sakura melihatnya berkeliaran di sekolah. Di atas kursi roda, mengenakan toga seperti yang lain, duduk Yakumo Kurama.
"Itu kan… Yakumo?" Sakura mendengar Ino berbisik.
Dengan perasaan campur aduk—entah itu rasa bersalah, atau perasaan lain—Sakura bergegas menghampiri kedua seniornya di klub teater itu. Hatinya mencelos ketika melihat penampilan Yakumo dari dekat. Gadis itu terlihat begitu mungil di balik balutan toga dan syal yang melilit di lehernya. Pipinya cekung dan tulang-tulang bertonjolan di tangannya ketika ia mengulurkan tangan untuk menyambut Sakura. Di bawah topi toga yang menutupi kepalanya, Sakura sama sekali tidak melihat rambut cokelatnya yang panjang halus, melainkan selembar scraft yang diikat menyerupai ikat kepala. Meski begitu, matanya yang cokelat besar masih terlihat bersinar, membuatnya entah bagaimana terlihat cantik.
"Senang bisa melihatmu lagi, Sakura," ucap Yakumo berseri-seri ketika Sakura meraih tangannya yang terjulur, menjabatnya dengan lembut. "Apa kabar?"
"A—Aku baik," sahut Sakura canggung, "Kau?"
"Tidak pernah merasa lebih baik. Benar kan, Tenten?" ia menoleh pada Tenten yang berdiri di samping kursi rodanya. Gadis berambut cokelat itu menggangguk sambil tersenyum, namun senyumnya terlihat sedih, seakan ia sedang menahan diri untuk tidak menangis. Yakumo tampaknya menyadarinya, karena saat berikutnya ia meraih tangan Tenten yang diletakkan di bahunya, meremasnya pelan. "Halo, Ino…" ia kemudian berpaling, menyapa Ino, tersenyum padanya juga, "Kau masih terlihat seperti Barbie."
Ino tidak tahu harus menanggapi bagaimana atas komentar ini, jadi ia hanya nyengir.
"Um… Yakumo, selamat atas kelulusannya…" ucap Sakura kemudian.
"Terimakasih…" Mata Yakumo beralih padanya lagi. "Berkat Bu Tsunade yang mengusahakan ujian di rumah untukku. Juga pamanmu…" gadis itu menoleh pada Kakashi yang berdiri tak jauh dari mereka, mengobrol dengan orangtua siswa, "Pak Hatake sabar sekali saat membimbingku ujian pre-kalkulus. Padahal sebelumnya aku selalu menganggapnya guru killer. Guru-guru lain juga…"
"Yakumo menganggap semua guru killer—anak manja ini…" timpal Tenten, tentu saja hanya bergurau, karena saat itu Yakumo menanggapinya dengan tawa ringan.
Sejenak Sakura mengalihkan pandangannya ke arah lain. Terlalu lama menatap Yakumo Kurama entah mengapa menimbulkan perasaan bersalah yang membuat tenggorokkannya seperti tercekat. Begitu pula tampaknya dengan Ino. Sakura bisa merasakan Ino gelisah terus di sampingnya, seakan ingin cepat-cepat pergi dari sana.
Pandangannya lantas terjatuh pada pamannya, Kakashi Hatake, yang masih berbincang-bincang dengan orangtua siswa—yang kemudian ia sadari adalah kedua orangtua Yakumo, suami istri Kurama. Sekarang Sakura mengerti dari mana Yakumo mendapatkan perawakan yang begitu memikat. Ibunya sangat cantik, mirip sekali dengan Yakumo. Begitu pula dengan ayahnya yang tampan dan memiliki sorot mata teduh yang mengingatkannya pada mendiang ayahnya. Keduanya tengah tersenyum, namun dalam waktu bersamaan terlihat begitu letih, seakan sedang menanggung beban kesedihan yang teramat berat—mengingatkan Sakura pada kedua orangtuanya saat mereka tahu Himeko sedang sekarat.
Berdiri bersama mereka, ayah Hinata, Hiashi Hyuuga, yang juga turut larut dalam percakapan. Tampaknya ayah Hinata dan ayah Yakumo sudah lama saling kenal. Mereka kelihatan sangat akrab. Barangkali partner bisnis atau hal-hal semacam itu—mengingat Hyuuga dan Kurama adalah dua keluarga yang sama-sama terpandang di Konoha.
"Ah, selamat juga untukmu, Tenten…" ucap Sakura kemudian, berpaling lagi pada Tenten.
"Trims, Sakura," Tenten mengangguk singkat seraya menyunggingkan senyum kecil. Gadis itu terlihat tidak pasti, seakan ia bingung ingin tertawa atau menangis. Sepertinya momen kelulusan itu begitu emosional untuknya—atau karena kehadiran Yakumo kembali setelah sekian lama absen di sekolah.
Setelah berbasa-basi sejenak, Sakura dan Ino akhirnya meminta diri. Ino langsung menghembuskan napas lega setelah mereka sudah cukup jauh.
"Astaga… Dadaku rasanya seperti diremas-remas," ungkap Ino. Sakura tidak menanggapi, karena begitu pula persisnya yang ia rasakan ketika bertemu pandang tadi dengan Yakumo. "Kau lihat tadi? Rambutnya kenapa bisa habis begitu? Bahkan sampai alisnya…"
"Efek pengobatan, kukira…" jawab Sakura muram.
Ino menggeleng-gelengkan kepalanya, ekspresinya sedih. Ia tampaknya sudah hampir melupakan tujuan mereka datang ke tempat upacara kelulusan itu, sampai seseorang berseru memanggil mereka ketika hendak meninggalkan lapangan—tepatnya memanggil Sakura. Seorang cowok berpakaian toga tampak berlari-lari kecil mendekat. Sebelah tangannya menahan topi toganya supaya tidak terjatuh dari atas kepalanya yang berpotongan rambut bob licin.
Rock Lee tersenyum lebar. "Hei," sapanya. "Sedang sibuk? Bisa bicara sebentar?"
Kedua gadis itu bertukar pandang, sebelum Ino menjawab cepat disertai dengan senyuman yang kelewat manis, "Tidak—maksudku, Sakura tidak sibuk. Mau bicara dengannya, kan?"
Cowok itu memandang Sakura penuh harap, membuat gadis itu salah tingkah. "Yah… kalau boleh—"
"Tentu saja boleh!" Ino langsung menyambar, sama sekali menghiraukan belalakan Sakura padanya. "Kalau begitu aku tinggal dulu. Supaya er… kalian bisa ngobrol. Okay, Sakura…" Mengedipkan sebelah matanya pada Sakura, gadis itu lalu berbalik pergi—tidak terlalu jauh, supaya ia masih bisa mencuri dengar.
Sakura masih melempar tatapan galak pada Ino beberapa saat lagi sebelum kemudian menoleh pada Lee. "Y—ya?"
Lee nyengir, tangannya menggaruk belakang kepalanya yang tak tertutup toga dengan sikap gugup. Pipinya merona. "Um… Aku hanya ingin tahu, apa kau ada acara besok malam, Sakura?"
"Er…" Sakura melirik Ino yang pura-pura sibuk dengan kukunya tak jauh dari mereka, sebelum berkata, "Tidak juga."
Lee langsung berseri-seri. "Mau—maksudku, apa kau mau datang ke prom bersamaku besok malam?" tanyanya dengan tatapan penuh harap.
Sakura tidak langsung menjawab. Mata hijaunya memandangi cowok di depannya dengan pandangan menilai. Sejak awal Sakura memang tidak terlalu setuju dengan ide Ino dengan mencoba menarik perhatian cowok kelas tiga supaya mereka mengajaknya ke prom—dan hampir yakin ide itu tidak berhasil. Tetapi nyatanya ada seorang cowok yang benar-benar mengajaknya sekarang! Ia harus bagaimana?
Bukannya Sakura tidak menyukai Rock Lee. Sakura sudah mengenal cowok itu selama beberapa tahun dan menurutnya Lee adalah cowok yang menyenangkan. Walaupun penampilan dan pembawaannya yang sedikit aneh terkadang membuatnya agak tidak nyaman. Tetapi bukan itu yang membuat Sakura ragu. Ia khawatir akan membuat Lee merasa dimanfaatkan kalau ia tahu Sakura menerima ajakannya hanya supaya bisa pergi ke prom—ia kan tidak ingin menimbulkan kesan buruk—Tapi…
Sakura benar-benar kepingin pergi ke PROM! Dan ini adalah kesempatannya untuk bisa pergi!
"Um…"
"Ah, kau tidak bisa, ya?" Lee tampak kecewa.
"B—Bukannya begitu—" katanya buru-buru. Sekali lagi Sakura melirik Ino. Kali ini sahabatnya itu tengah memelototinya terang-terangan. "Uh… Baiklah…" Sakura menarik napas panjang, memantapkan diri, lalu menganggukkan kepala, "Aku mau pergi ke prom bersamamu."
"Benarkah—kau mau?" Lee ternganga menatapnya, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
Sekali lagi Sakura mengangguk, disertai seulas senyum paling manis yang bisa diusahakannya. "Aku mau."
Saat berikutnya senyum lebar sudah menghiasi wajah kakak kelasnya itu. Begitu lebarnya sampai-sampai Sakura nyaris bisa melihat setiap giginya yang putih. Sakura mengira Lee bakal melompat, berguling-guling atau berteriak-teriak kegirangan seperti yang sering dilakukannya setiap kali berhasil mencetak gol, tapi untungnya tidak. Sebaliknya, Lee tampang ling-lung, seperti tidak tahu harus berbuat atau berkata apa saking gembiranya.
Sakura terkikik kecil dan tampaknya itu menyadarkan Lee. Pipinya merona merah. Cepat-cepat ia merogoh saku celana di balik toganya, mengeluarkan sesuatu seperti sebuah undangan dari kertas berwarna merah keemasan—Sakura langsung mengenalinya sebagai undangan prom—kemudian mengulurkannya pada Sakura.
"Ini undanganmu. Dan um… aku akan menjemputmu besok malam di rumahmu. Begitu oke, kan?"
Sakura mengangguk, mengambil undangan yang diulurkan Lee padanya seraya mengucapkan terimakasih.
"Baiklah kalau begitu. Sampai jumpa besok malam, Sakura…" Lee berbalik. Baru beberapa langkah meninggalkan Sakura, ia mendadak berhenti dan berbalik lagi. "Er… Boleh aku minta nomor ponselmu? Supaya lebih mudah menghubungi," tambahnya, nyengir.
Sakura menyebutkan nomornya, sementara Lee memasukkannya ke ponsel flip yang baru diambilnya dengan terburu-buru dari dalam saku. Selesai, Lee menekan tombol panggil—dan Sakura segera merasakan ponselnya sendiri bergetar di dalam sakunya.
"Itu nomorku," kata Lee ketika Sakura mengeluarkan ponselnya.
"Okay…" Sakura menyimpan nomor Lee di phonebook-nya.
"Sampai ketemu besok, kalau begitu," Lee menepuk lengan gadis di depannya dengan kikuk, sebelum berbalik pergi.
"Er… Lee!" panggil Sakura lagi. Cowok itu berhenti dan menoleh. "Selamat atas kelulusannya!" ucapnya ceria—dan ia bisa melihat wajah Lee memerah lagi ketika ia menyerukan terimakasih.
Di seberang, serombongan cowok-cowok klub sepakbola bersorak menggoda dan bersuit-suit untuknya ketika Lee bergabung kembali dengan mereka. Salah seorang dari mereka menyambar leher Lee dan mengacak-acak rambutnya sambil tertawa-tawa.
"Uh ooh… kau sudah membuat seorang cowok blushing," goda Ino sambil terkikik.
"Diamlah!" Sakura terkikik tertahan, seraya memandangi undangan di tangannya dengan takjub.
"Sudah kubilang, kan?" Ino merangkul bahu sahabatnya, "Pasti ada anak kelas tiga yang mau mengajakmu ke prom. Kau itu populer, Sakura."
Sakura memutar matanya. "Terserah deh. Yang jelas aku tidak ingin Lee berpikiran aku hanya memanfaatkannya," ujarnya sembari menyimpan undangannya dengan aman ke dalam tas.
Ino tertawa. "Iya deh. Kau akan jadi gadis baik-baik yang menempel terus padanya besok malam, terpesona oleh ketampanannya..."
"Oh, ha ha ha…" Sakura tertawa garing. "Hei, kau belum memberitahuku kau akan pergi dengan siapa ke prom, Ino!"
"Aku akan pergi dengan Chouji," jawab Ino santai—membuat Sakura sejenak melongo mendengar jawabannya—Kedua mata birunya melembut, "Kau tahu bagaimana Chouji, kan? Dia sangat sensitif kalau ada hubungannya dengan aku atau Shikamaru. Dia tahu aku sedih waktu baru saja putus dengan Idate dan terdepak dari tim cheers. Dia mengajakku menonton latihan mereka untuk prom di studio Shikamaru, menyewakan film kartun untukku, membelikanku banyak sekali keripik kentang…" Ino terkekeh kecil, "Lalu mengajakku ke prom. Menurutnya, yang aku butuhkan sekarang adalah bersenang-senang dan melupakan semuanya. Manis sekali kan, dia…"
"Sangat manis…" Sakura bergumam setuju. "Tidak seperti tiga cowok itu yang bahkan tidak mengajakku kemana-mana," tambahnya cemberut.
"Oh, sudahlah," Ino mengibaskan tangannya, "Mereka akan tahu rasa sendiri saat tahu kau ada yang mengajak—atau setidaknya, salah satu dari mereka."
Sakura meringis. Perkataan Ino membuatnya berpikir bagaimana nanti reaksi ketiga cowok itu jika mereka tahu ia akan pergi ke prom dengan Rock Lee. Naruto barangkali akan terkejut, begitu pula dengan Sai. Tetapi Sakura cukup yakin reaksi mereka tidak akan terlalu berlebihan, mengingat Naruto bergaul cukup dekat dengan Lee yang notabene seniornya di klub sepakbola. Yang Sakura cemaskan adalah reaksi Sasuke. Sebagian dirinya meyakinkan bahwa Sasuke pasti tidak akan peduli dengan siapa ia akan pergi ke prom. Ia bahkan meragukan apakah Sasuke peduli ia pergi ke prom atau tidak.
Yah… Sasuke barangkali akan bersikap seolah ia tidak peduli. Tapi bagaimana jika sikap dinginnya berlanjut? Bagaimana jika Sasuke marah ia pergi dengan cowok lain ke prom? Sakura mengenal Sasuke cukup baik untuk tahu bagaimana cowok itu bisa bersikap kekanakan kalau sedang ngambek. Entah apa yang akan dilakukannya nanti—mogok bicara? Mengacuhkannya seolah ia makhluk tak kasat mata? Atau—yang paling buruk—membatalkan rencana liburan ke Kiri secara sepihak?
Oh, ya ampun… mudah-mudahan saja Sasuke cukup bisa berbesar hati. Lagipula salahnya sendiri tidak mengajaknya! Dan Sakura pun bebas pergi dengan siapa pun yang ia suka. Benar, kan?
"Lupakan soal mereka," kata Sakura kemudian. "Sekarang aku butuh bantuanmu mencari gaun untuk besok malam—"
"Oh, serahkan saja padaku, Sakura!" sela Ino sambil mengamit lengan Sakura, "Aku tahu butik bagus yang menjual gaun prom yang indah-indah di dekat sini. Jangan cemaskan harganya, kurasa di sana cukup terjangkau. Berminat?"
Belum sempat Sakura membuka mulutnya untuk menjawab, suara lain yang memanggil namanya menginterupsi mereka. Kedua gadis itu menoleh, mendapati seorang cowok berambut hitam pekat pendek yang membawa-bawa kamera berlari-lari kecil melintasi lapangan ke arah mereka. Ino langsung salah tingkah—dan buru-buru berkata pada Sakura,
"Aku akan menunggumu di gerbang, Sakura. Bye…" –lalu bergegas pergi.
"Sai," sapa Sakura begitu Sai sampai di depannya, sedikit terengah. "Sedang sibuk?"
Sai mengangkat kameranya, tersenyum, "Seperti yang kau lihat." Ia sama sekali tidak mengindahkan Ino yang baru saja pergi. "Kau sudah mau pulang?"
"Yep," sahut Sakura.
"Kalau begitu, Sasuke sudah mengajakmu, kan?" tanya Sai, membuat Sakura mengangkat alisnya tinggi-tinggi, tampak bingung. "Ke prom. Sasuke sudah mengajakmu ke prom… benar, kan?" Sai menatapnya ragu.
"Nope," Sakura menggelengkan kepalanya.
Sai menghela napas, tampak agak jengkel. "Dia itu benar-benar… Kalau begitu kau pergi denganku saja besok malam, Sakura."
Sakura mengerjap. "Kau mau mengajakku ke prom?"
"Yeah… Tidak salah kan? Kulihat kau ingin sekali pergi."
"Yah, memang…" Sakura mengakui sambil memberi cowok itu senyum menyesal, "Tapi kau terlambat lima menit, Sai. Lee baru saja mengajakku, dan aku sudah janji akan pergi dengannya ke prom."
"Oh!" Sejenak Sai tampak tercengang, terkejut dengan informasi yang baru didengarnya ini. Tapi ia dengan cepat menguasai diri. "Yah… Baguslah kalau begitu." Ia menepuk pundak Sakura pelan, "Aku ikut senang."
Sakura berseri-seri. "Benarkah? Tadinya aku mengira kau dan yang lain tidak akan suka."
Sai tertawa kecil seraya mengangkat bahu, "Dari pada menunggu seseorang yang bahkan tidak ada pergerakan sama sekali. Asalkan kau senang pergi dengannya, kurasa tidak ada masalah. Aku yakin Naruto juga sependapat denganku."
Sakura menghela napas panjang, "Kuharap Sasuke juga tidak keberatan. Menurutmu apakah dia akan marah?"
"Sasuke tidak ada hak untuk marah. Jadi kau tenang saja, Sakura." Sai tersenyum meyakinkan, lalu menoleh ketika ada yang berseru memanggilnya dari seberang lapangan—Shino Aburame—"Aku harus pergi sekarang. Sampai ketemu di prom besok. Dandanlah yang cantik, oke?" Setelah melempar senyum terakhir pada Sakura, Sai berbalik pergi.
.
.
Ternyata mendekorasi aula untuk prom jauh lebih merepotkan dari yang Sasuke kira sebelumnya. Terlebih Shiho, sang ketua komite, menuntut segalanya serba sempurna. Tidak boleh ada kesalahan sekecil apa pun. Gadis itu melesat ke sana kemari, memastikan letak pernak-pernik dekorasinya sudah benar, warna lampunya sudah cocok, lipatan pada taplak mejanya sudah betul, sampai hal-hal kecil seperti jumlah balok lateks yang mereka gunakan.
Namun anehnya tidak ada yang keberatan. Yah, kecuali beberapa anak laki-laki yang memang tidak begitu terobsesi dengan prom—yang mungkin bergabung di komite karena paksaan pacar-pacar mereka—termasuk Sasuke, yang sudah beberapa kali kena semprot Shiho.
"Dia itu sebenarnya sama denganmu waktu festival sekolah, Sasuke," kekeh Naruto ketika Sasuke bersungut-sungut setelah memindahkan kandelar bohongan di langit-langit aula untuk kesekian kalinya, "Semuanya harus berjalan sesuai keinginan. Lihat saja tuh…" ia mengendikkan dagu pada Shiho yang sekarang sedang mengomeli tim acara di seberang aula.
"Diam!" gerutu Sasuke, memijat-mijat lehernya yang terasa pegal setelah melewatkan sebagian besar waktunya dengan mendongak, memastikan kandelar terpasang dengan benar.
Mendengus tak senang, Sasuke melempar pandang gelisah ke arah pintu masuk aula. Entah sudah berapa lama waktu berlalu semenjak ia memantapkan hati untuk mengajak Sakura ke prom, namun pekerjaan mereka yang belum rampung membuatnya tertahan di tempat itu sejak tadi. Belum lagi Shiho yang terus-terusan mengawasi mereka.
Tapi kesempatannya hanya tinggal sekarang…
Naruto yang memperhatikan gelagat Sasuke langsung paham apa yang sedang dipikirkan sahabatnya itu. "Kalau aku jadi kau, aku akan menyelinap keluar sekarang juga—mumpung Shiho sedang sibuk. Jangan ditunda-tunda lagi."
"Aku tahu," gerutu Sasuke. Tangannya menyentuh ujung undangan yang menyembul dari saku jeans-nya, melirik Shiho. "Dengar, aku akan pergi sekarang. Kalau Shiho tanya di mana aku, bilang saja aku sedang ke toilet."
Cengiran di wajah Naruto melebar. "Sip. Serahkan saja padaku. Semoga beruntung!"
Memastikan sekali lagi Shiho tidak sedang melihat ke arahnya, Sasuke bergegas berjalan ke pintu masuk aula lalu menyelinap ke luar—dan nyaris bertabrakan dengan Hinata yang hendak masuk.
"Sasuke!" Hinata memekik terkejut. "Astaga, kau mengagetkanku!"
"Sstt…" Sasuke buru-buru menutup pintu di belakangnya untuk memblokir suara Hinata supaya tidak terdengar sampai ke telinga Shiho—meskipun sebenarnya ia tidak perlu melakukan itu, mengingat pelannya suara Hinata dan bagaimana bisingnya aula sekarang.
Hinata mengangkat alisnya, memandang cowok itu keheranan. "Ada apa, Sasuke?"
"Tidak ada," sahut Sasuke cepat. "Aku hanya ingin ke toi—" kata-katanya terhenti. Untuk apa berbohong pada Hinata sekarang? Toh, jika gadis itu tahu motifnya mengendap-ngendap meninggalkan aula, ia pasti akan mengerti. "Lupakan. Kau tahu di mana Sakura?"
"Sakura?" Sejenak, Hinata tampak bingung, sebelum tertangkap oleh matanya ujung kertas berwarna merah keemasan yang menyembul dari saku jeans Sasuke. Ia mengerti. "Oh, tadi aku melihatnya di tempat wisuda bersama Ino. Mungkin dia masih di sana sekarang."
Sasuke merasakan hatinya mencelos, teringat kata-kata Sakura tentang menemui seseorang. Mungkinkah seseorang yang dimaksud adalah cowok kelas tiga? Bagaimana jika yang dikatakan Naruto tidak benar? Segala omong kosong tentang memancingnya itu tidak benar. Sakura tidak sedang mengesankan bahwa dirinya sudah diajak cowok lain—gadis itu berkata yang sebenarnya!
"Sasuke?" suara Hinata kembali menyadarkannya. Gadis bermata lavender itu tengah memandangnya khawatir. "Kau baik-baik saja?"
"Hn," Sasuke mengangguk samar. Setelah mengucapkan terimakasih pada Hinata, ia berbalik dan melangkah pergi. Langkahnya tidak semantap sebelumnya, namun Sasuke masih tetap berharap ia masih punya kesempatan—atau ia terpaksa harus menunggu hingga prom tahun depan.
Sementara itu, Hinata yang masih berdiri di depan pintu aula, terus mengawasi Sasuke hingga akhirnya punggung cowok itu menghilang di ujung koridor yang menuju pintu utama. Seulas senyum kecil lembut tersungging di bibirnya teringat pada selembar undangan prom yang ia lihat beberapa saat yang lalu di saku Sasuke. –"Semoga beruntung, Sasuke…" bisiknya tulus.
Hinata baru saja berbalik dan hendak membuka pintu aula, ketika pintu itu tiba-tiba mengayun terbuka. Gadis itu terlonjak melihat kepala pirang Naruto melongok dari dalam—dan cowok itu pun tampak sama terkejutnya, meskipun ia tidak langsung merah padam sebagaimana Hinata.
"Hei," Naruto nyengir padanya, sebelum mengalihkan pandangannya ke sepanjang koridor yang lengang seraya melangkah keluar, membiarkan pintu aula terbuka di belakangnya. "Kau lihat Sasuke?"
"Dia… um… b-baru saja pergi," Hinata melambaikan tangannya dengan sikap canggung ke arah Sasuke menghilang beberapa saat yang lalu. "K-kurasa dia mau ke tempat wisuda."
Naruto menjulurkan leher ke arah yang ditunjuk Hinata, seakan sedang memastikan Sasuke memang pergi ke arah sana. "Oke. Trims, ya…"
"Un…" Hinata mengangguk malu-malu. Ia memperhatikan ketika Naruto berjalan melewatinya menyusul Sasuke, mengawasi punggung tegap yang dilapisi kemeja oranye-hitam itu menjauh, rambut pirangnya yang berantakan, kedua lengannya yang berayun di sisi-sisi tubuhnya sementara cowok itu berlari-lari kecil… dan cengiran lebar yang terpampang di wajah maskulinnya saat ia menoleh.
Dia menoleh! –Oh, astaga… Hinata merasakan darah naik ke wajahnya. Jantungnya seakan melompat ke leher ketika menyadari Naruto tengah menangkap basah dirinya sedang menatap—Oh, Tuhan…—Gadis itu cepat-cepat berpaling.
"Hei, Hinata!" suara Naruto menghentikannya.
"I—Iya?" Hinata menoleh gugup, mendapati Naruto sedang menggaruk belakang kepalanya—hanya perasaannya saja atau cowok itu terlihat gugup juga?
"Besok malam kau pergi ke prom juga, kan?"
"Un…" Hinata mengangguk, tanpa sadar mengangkat tangannya ke dada—di mana jantungnya mulai berdegup tidak menentu seiring dengan pikiran-pikiran tentang kemungkinan yang bermunculan dalam benaknya. Mungkinkah?
"Aku hanya ingin tahu…" Sejenak Naruto terdiam, mencari kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan maksudnya, "…Bagaimana menurutmu kalau kita pergi bersama-sama?"
Hinata nyaris pingsan. Dadanya seakan dipenuhi oleh ledakan kebahagiaan yang ditimbulkan oleh ajakan cowok impiannya ke prom—namun saat berikutnya ia mendadak merasa hampa saat menyadari sesuatu. Ia tidak bisa.
"I—Itu… m-maafkan aku…" ucap Hinata parau seraya memberi Naruto pandangan menyesal—amat sangat menyesal—"A-aku sudah berjanji pada Kak Neji mau menemaninya besok malam."
Cengiran seakan melorot dari wajah Naruto, tapi tak lama. Senyumannya kembali terpampang, tanpa beban. "Ah, begitu, ya…"
"M-maafkan aku…"
"Tidak apa. Yah…" Naruto mengangkat bahunya, tertawa kecil, "Kita kan masih bisa bertemu di prom."
Melihat sikap Naruto yang begitu santai, Hinata mau tak mau ikut tersenyum—meskipun dalam hati ia benar-benar berharap ia tidak berjanji sebelumnya dengan kakak sepupunya untuk menemani ke prom. "Ya…"
"Yah… kalau begitu—" Naruto membuat gerakan canggung dengan tangannya, "Sebaiknya aku bergegas menyusul Sasuke."
Hinata menangguk dan saat berikutnya Naruto sudah melesat pergi dari hadapannya, meninggalkannya dengan perasaan campur aduk. Sepertinya harapan kecil itu mulai tumbuh di hatinya.
.
.
Para wisudawan baru saja selesai berfoto angkatan ketika Sasuke tiba di sana. Jeritan dan sorakan membahana di udara ketika mereka melempar topi toga mereka sebagai ungkapan kebahagiaan. Namun segala kehebohan itu tidak menarik perhatian sang ketua OSIS. Sasuke sibuk menjulurkan leher, melongok ke sana kemari mencari sosok yang ia kenal.
Tapi nihil. Kepala merah muda mencolok itu tidak tampak di mana pun. Bahkan tidak bersama Neji Hyuuga—tadinya Sasuke sempat berpikir Sakura akan mendatangi Neji.
Ketika ia hampir menyerah dan berpikir akan menyusul Sakura saja ke rumah atau restorannya, ia melihat Sai. Cowok itu tengah ditarik ke sana kemari oleh para wisudawan—terutama para gadis—yang memintanya memotret sekali lagi, dan lagi, dan lagi… Menjadi petugas dokumentasi memang sangat merepotkan, terlebih jika kau cukup populer di kalangan para gadis seperti Sai. Jangan harap bisa melaksanakan tugas dengan tenang.
"Seharusnya kau menolak saat mereka memintamu jadi tim dokumentasi, Sai," kata Sasuke ketika Sai akhirnya berhasil melepaskan diri dari kerumunan penggemarnya dan bergabung dengannya di sisi lapangan.
Sai hanya menanggapi dengan tawa ringan. "Mau bagaimana lagi. Aku menyukainya—maksudku, jadi tim dokumentasi," ujarnya sambil menyeka poninya yang terjatuh ke mata. "Ada apa mencariku, Sasuke, eh? Minta difoto?"
"Tidak," sahut Sasuke langsung, "Kau lihat Sakura? Katanya dia kemari."
Sai mengangkat alisnya, lalu menyeringai tipis. "Tadi dia memang kemari. Kenapa, Sasuke? Akhirnya menyerah pada godaan untuk menjadikannya prom-date-mu?"
Sasuke memberinya tatapan galak—namun tidak cukup menghentikan Sai menyeringai padanya. "Katakan saja di mana dia, Sai."
Sai mendengus. "Kalau kau berniat mengajaknya ke prom, sebaiknya lupakan saja. Kau…" Sai mengerling arloji yang melingkar di pergelangan tangannya, "…terlambat kira-kira lima belas menit."
Hati Sasuke mencelos mendengar ini. "Apa maksudmu terlambat?" tanyanya dengan nada suara dipaksakan agar tetap stabil.
"Sudah ada seseorang yang mengajak Sakura ke prom," jawab Sai dengan helaan napas panjang. Ditatapnya Sasuke dengan sorot prihatin. "Aku turut menyesal untukmu, Sasuke. Tapi jangan coba-coba mengacau."
Sasuke mengabaikan kata-kata terakhir Sai. "Dengan siapa?"
"Seseorang yang menganggap Sakura gadis yang istimewa, kurasa, selain dirimu," sahut Sai sambil memamerkan senyumnya yang khas. "Aku tidak akan memberitahumu kecuali kau berjanji tidak akan melakukan hal-hal bodoh—"
"Memangnya aku kelihatan seperti orang yang suka berbuat bodoh?" tukas Sasuke gusar.
"Ya," jawab Sai, tertawa kecil.
Sasuke mengumpat pelan.
"Dan kuharap kau tidak marah pada Sakura," tiba-tiba nada bicara Sai terdengar serius, "Dia cuma ingin pergi—kau tahu itu—dan kebetulan ada cowok yang berminat mengajaknya. Kalau kau tidak ingin dia pergi dengan orang lain, seharusnya kau mengajaknya sejak awal. Kau punya kesempatan, tapi kau menyia-nyiakannya dan membiarkan orang lain mengambilnya darimu. Kalau ada yang harus disalahkan, salahkan dirimu sendiri. Aku dan Naruto sudah mengingatkanmu sejak awal."
Sasuke memelototi Sai, tatapi kemudian menyadari yang dikatakan Sai memang benar. Kalau saja ia bergerak lebih cepat… Ia lantas menghela napas dengan jengkel—lebih pada dirinya sendiri.
"Aku tidak salah dengar, kan?" suara Naruto terdengar dari belakang mereka. Cowok pirang itu menatap Sasuke yang bertampang lesu dan Sai bergantian. Dahinya berkerut. "Sakura sudah diajak orang lain?"
"Yeah…"
"Well…" Naruto menyeringai, tidak yakin harus berkata apa—terutama pada Sasuke, "Er… sayang sekali."
Sasuke mengeluarkan undangannya dari dalam saku, menjejalkannya ke tangan Sai. Kemudian tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik dan melangkah pergi. Kedua tangannya terbenam di saku celana.
Naruto dan Sai bertukar pandang, mendadak merasa tidak enak. Mereka pun bergegas menyusul Sasuke.
"Hei, jangan bertampang masam begitu, Mate," seru Naruto membesarkan hati, merangkul pundak sahabatnya. "Lihat baiknya saja. Setidaknya kita berempat bisa berkumpul di prom besok."
"Benar," timpal Sai, merendengi di sisinya yang lain, "Lagipula, menjadi prom-date tidak berarti jadian, kan?"
"Hn…" Sasuke mendengus.
"Oh, ayolah… Sakura juga pastilah tidak ingin melihatmu kecewa begitu."
"Aku tidak kecewa," Sasuke menyangkal, melepaskan rangkulan Naruto dari bahunya. "Dia bebas pergi dengan siapa pun yang dia suka," gerutunya.
Sai menghela napas. "Kau tahu apa yang dikatakan Sakura tadi waktu dia memberitahuku dia sudah diajak orang lain?"
Kata-katanya berhasil menarik perhatian Sasuke kali ini. Ia menghentikan langkah, menoleh pada Sai. Begitu pula dengan Naruto yang tampak penasaran.
"Dia mengkhawatirkan reaksimu. Sakura takut kau akan marah padanya," lanjut Sai, tersenyum pada Sasuke, "Meskipun tidak mengungkapkan secara langsung, tapi aku yakin Sakura berharap kau yang mengajaknya. Dia tidak hanya ingin pergi ke prom, tapi dia juga ingin melewatkan waktu bersama kita—bersama kau juga, Sasuke. Jadi jangan membuatnya kecewa sekali lagi dengan bersikap dingin padanya. Cobalah untuk lebih berbesar hati."
"Sai benar," timpal Naruto, menepuk-nepuk pundak Sasuke.
Sasuke tertegun. Benar apa yang mereka katakan. Ini bukan soal siapa yang mengajak Sakura pergi—ini adalah soal melewatkan waktu bersama-sama.
"Well, Sasuke…" Sai memecah keheningan, "Kau ada orang lain melihatmu sedang menatapku seperti itu, mereka akan mengira kau naksir padaku."
"Tch!"
Sasuke membuang muka. Naruto tergelak. Sai hanya tersenyum simpul.
.
.
TBC…
.
.
Detail untuk promnya di chapter depan yah… Kalo gak kecapean dan ada waktu, mudah-mudahan bisa apdet cepat. Doakan saja… Dan mudah-mudahan gak pake acara sakit lagi. Huhu… T,T
