Keesokan harinya, Sakura melewatkan waktu seharian mempersiapkan diri untuk menghadiri prom pertamanya. Dan ini cukup membuatnya gugup. Belum lagi tampaknya orang-orang di sekitarnya juga ikut-ikutan antusias. Azami, contohnya, yang langsung menyarankan ini dan itu, membuat putri tunggalnya itu bosan dengan menceritakan tentang prom pertamanya dulu—ternyata prom-date pertama ibunya bukanlah ayahnya!—Begitu pula dengan Kakashi, Izumo, Kotetsu, Isaribi dan Ayame yang tak hentinya menggoda Sakura tentang prom-date-nya dan membuat gadis itu malu setengah mati.

Rin—tunangan pamannya yang kebetulan ada di restoran ketika Sakura dengan gembira mengumumkan bahwa ia akan pergi ke prom—barangkali lebih membantu. Wanita yang juga berprofesi sebagai dokter itu mengusulkan butik-butik bagus dengan harga terjangkau yang bisa mereka datangi untuk memilih gaun bersama Ino, memilihkan sepatu dan asesori yang cocok, bahkan dengan senang hati menemani calon keponakannya itu ke salon—Ino pergi ke salon yang berbeda di dekat rumahnya.

Hasilnya pun tidak sia-sia.

Sakura memandang ke dalam cermin di kamarnya untuk kesekian kalinya, seakan tidak mempercayai bahwa gadis cantik yang kini balas menatapnya adalah pantulan dirinya.

Gaun satin selutut berwana hijau olive yang serasi dengan warna matanya itu terlihat pas di tubuhnya. Dengan detail lilitan pita bagian perut sampai pinggang dan rok yang sedikit menggembung, gaun itu terlihat sangat sederhana, namun tetap cantik. Makeup yang diaplikasikan tipis-tipis di wajahnya membuatnya tampak segar dan cantik. Rambutnya yang panjang menjuntai kini sudah dirapikan, dibentuk menjadi ikal yang terjatuh dengan lembut di bahu hingga ke bawah tulang belikatnya, dihias oleh jepitan rambut yang serasi dengan gaunnya. Stiletto hitam yang membungkus kakinya melengkapi penampilannya, membuatnya terlihat lebih ramping.

Saat itu, Sakura merasa dirinya tidak kalah cantik dari Ino atau gadis mana pun di Konoha High.

"Kau melupakan topengmu, Sakura," suara seorang wanita menginterupsinya.

Sakura menoleh dan mendapati Rin baru saja muncul di pintu, membawa topeng separuh berwarna hitam dengan aksen keemasan yang benar-benar cantik, juga sebuah clutch untuk menyimpan ponsel, dompet dan tak lupa undangan promnya.

"Ah," Sakura mengambil kedua benda itu dari tangan Rin, "Terimakasih, Bibi Rin…"

"Wah, lihat dirimu. Kau terlihat spektakuler," seru Rin antusias seraya berjalan ke belakang Sakura, ikut memandangnya dari cermin seraya tersenyum. Jemarinya merapikan helaian rambut merah muda calon keponakannya.

Sakura merasakan wajahnya menghangat. Ini bukan kali pertama dirinya mendengar komentar seperti itu tentang penampilannya—tapi tetap saja… "Ah, semua orang juga pasti tampil spektakuler malam ini," ujarnya merendah.

Rin tersenyum dari balik cermin. "Tunggu sampai pamanmu melihatmu. Kau akan membuatnya ternganga."

Sakura terkikik. Ia pun sudah tak sabar melihat reaksi Kakashi.

"Dan pemuda bernama Lee ini… aku yakin dia adalah pemuda paling beruntung karena mendapatkan gadis secantik kau sebagai prom-date-nya."

Wajah Sakura yang sudah hangat terasa semakin panas. Ia baru saja hendak membuka mulut untuk menanggapi ketika terdengar suara bel dari arah pintu depan.

"Itu mungkin Lee," seru Rin dengan antusiasme seorang gadis remaja yang akan pergi berkencan untuk pertama kalinya, "Ayo, sebaiknya kita turun sekarang untuk menyambutnya!"

Sakura dengan gugup berusaha merapikan kembali rambutnya, sebelum kemudian bergegas menyusul Rin yang sudah terlebih dahulu turun ke ruang tamu. Sakura melangkah hati-hati ketika menuruni tangga. Stiletto yang ia kenakan membuatnya cemas bisa tergelincir sewaktu-waktu.

Lee sudah ada di ruang tamu ketika Sakura tiba di sana, tengah diajak mengobrol dengan Azami dan Rin. Cowok itu—untunglah—berpenampilan seperti layaknya orang yang akan pergi ke acara-acara resmi. Ia bahkan terlihat lumayan keren dalam balutan tuxedo sederhana berwarna hitam, dengan dasi kupu-kupu dan rompi dalaman—tentu saja—berwarna hijau.

Cowok itu langsung terlonjak berdiri dari sofa yang didudukinya saat melihat Sakura. Mulutnya ternganga dan selama beberapa saat tampaknya tidak berhasil menemukan kata-kata untuk diucapkan.

Azami dan Rin tampak sangat puas.

"Sakura terlihat sangat cantik, kan?" kata-kata ibu Sakura menyadarkan Lee.

"Ah, er… i-iya… tentu," sahut Lee tergagap. Wajahnya merona merah—membuat Sakura merasa tidak enak, lalu membelalak pada ibunya.

"Kita berangkat sekarang, Lee?" Sakura berpaling pada Lee, tersenyum padanya.

"O-Oke…"

Namun, belum selangkah pun mereka bergerak, Azami berseru, "Tunggu dulu, Sayang. Kita harus mengabadikan ini." Wanita itu bergegas melintasi ruangan menuju lemari buffet, mencari-cari digital camera miliknya—yang rupanya tidak ada di sana. "Rin, apa kau tahu di mana kameraku?"

"Oh, sudahlah, Ibu… Kami harus berangkat sekarang…" rintih Sakura malu, ketika Rin ikut-ikutan heboh mencari kamera. Sementara Lee hanya mengerjap bingung.

Sampai akhirnya Rin menemukan kameranya di lemari pajangan. Azami kemudian menggiring mereka ke depan lemari pajangan untuk diambil gambarnya.

"Sakura, Nak, bisa berdiri lebih dekat dengan Lee—"

"Ibu…" Sakura merengek.

"Sayang, ayolah. Sebentar saja. Nah, begitu…" Azami mengangkat kameranya dan mulai memotret. "Sekali lagi, ya…"

Sakura mulai berpikir ibunya terobsesi mengambil gambarnya—Azami memotret mereka saat berjalan menuju pintu, meminta mereka berpose sekali lagi saat menuruni undakan—sampai ia melihat air mata mengambang di mata hijau itu ketika ia tersenyum bangga. Saat itu Sakura menyadari apa artinya. Ibunya terkenang pada mendiang ayah dan kakak perempuannya. Dulu, saat Himeko pergi ke prom untuk pertama kalinya dengan Yamato, mereka juga sama hebohnya dengan Azami dan Rin sekarang, sibuk memotret mengabadikan momen bahagia salah seorang anggota keluarga mereka.

"Maafkan soal yang tadi," ucap Sakura ketika mereka sudah duduk di dalam jeep tentara milik ayah Lee.

"Jangan khawatir. Ibumu wanita yang sangat menyenangkan, Sakura," ucap Lee. Ia melambai pada Azami dan Rin yang masih mengawasi mereka dari pintu depan rumah—kedua wanita itu balas melambai. "Dan kau… um… sangat cantik," tambahnya malu-malu sambil memandang Sakura.

"Thanks."

Tepat saat itu, sebuah limosin melintas melewati mereka. Suara musik yang disetel keras-keras terdengar melewati jendelanya yang terbuka, bercampur dengan suara bising yang berasal dari serombongan besar remaja yang mereka kenali sebagai siswa senior Konoha High juga—teman-teman Lee.

Lee menghela napas berat setelah limo itu berlalu, memandang gadis yang duduk di jok sebelahnya dengan pandangan meminta maaf. "Kuharap kau tidak keberatan kita hanya naik jeep."

"Oh, tidak apa-apa," tanggap Sakura cepat. Diajak ke prom saja ia sudah sangat berterimakasih. Rasanya agak keterlaluan jika ia berharap perlakuan lebih—misalnya dijemput pakai limo. Limo kan biaya sewanya sangat mahal. "Dari pada berjalan kaki, ini jauh lebih baik."

Lee tersenyum lebar penuh kelegaan. "Ah, hampir lupa…" ia kemudian mencondongkan tubuh meraih ke dalam laci dashboard dan mengeluarkan sebuah kotak karton yang ternyata berisi korsase dari bunga anggrek segar yang sangat cantik, serasi dengan warna gaunnya—juga korsase yang disematkan Lee di tux-nya. "Ino Yamanaka memberitahuku, korsase ini akan cocok untukmu. Dan ternyata memang benar."

Ah, pikir Sakura. Lee pasti membelinya di toko bunga milik keluarga Ino.

Gadis itu lantas mengulurkan tangannya, membiarkan Lee memasangkan korsase itu di pergelangan tangannya. "Terimakasih," ucapnya lagi.

"Sudah siap berangkat?" Lee memasang seat belt-nya, "Kalau kau tidak keberatan, aku ingin mengajakmu makan malam dulu di restoran yang kutahu sebelum ke sekolah. Tidak apa-apa, kan?"

"Uh-um…" Sakura mengangguk setuju.

Dan tak lama kemudian, jeep Lee bergerak perlahan meninggalkan Blossoms' Street.

.

.

Sasuke Uchiha melirik arloji di pergelangan tangan kirinya untuk kesekian kalinya semenjak ia tiba di aula sekolah, di mana prom akan diadakan. Masih ada tiga puluh menit sebelum acara dimulai dan anak-anak kelas tiga sudah mulai berdatangan—yah, kecuali mereka, pikir Sasuke. Menghela napas tak sabar, Sasuke memandang berkeliling aula yang nyaris tidak bisa dikenali lagi, berharap menemukan sosok yang sedari tadi ditunggunya di antara kerumunan bergaun warna-warni dan ber-tux yang sedang mengobrol, meskipun ia tahu itu percuma saja.

Sakura belum datang.

"Pssst!" Sasuke mendengar seseorang mendesis di belakangnya.

"Apa?" tukasnya pada Naruto yang melongok melalui pintu yang menghubungkan aula dengan ruangan kecil di belakangnya—ruangan itu biasanya digunakan sebagai gudang, tetapi sekarang berubah fungsi sebagai ruangan khusus untuk kru.

"Tidak ada," sahut Naruto nyengir, kemudian melangkah keluar dan menutup pintu di belakangnya. "Sakura belum datang, ya?" tanyanya, ikut memandang berkeliling.

"Kelihatannya belum," gerutu Sasuke.

Tetapi tampaknya Naruto tidak begitu mendengarkannya. "Whoaa… Semua orang kelihatan berbeda, ya…" serunya terpesona, "Hei, bukankan cewek yang sedang berdiri di dekat meja punch itu cewek berkacamata yang biasanya nongkrong di perpus? Wah… dia jadi lain! Ahahaha… topengnya lucu sekali—Urgh… tapi si Inui itu masih saja tampangnya kelihatan menyebalkan walaupun dia pakai topeng!"

Semua orang terlihat berbeda, memang benar. Bahkan Naruto pun tampak berbeda—meskipun ia masih mempertahankan warna yang menjadi ciri khasnya: oranye.

Tidak seperti cowok-cowok kelas tiga yang sebagian besar menggunakan tuxedo lengkap, Naruto—dan cowok-cowok anggota komite yang lain, kecuali Sasuke—hanya mengenakan kemeja formal yang dipadu dengan rompi. Dalam hal Naruto, kemeja hitam yang lengannya digulung sampai siku dan rompi oranye mencolok membungkus tubuhnya yang tegap. Sebuah topi oranye bergaya jaman dulu yang bertengger menutupi rambut pirangnya dan sebuah topeng silver yang menutupi sebagian wajahnya membuatnya nyaris tidak bisa dikenali.

Sementara Sasuke mengenakan tux hitam lengkap—dengan jas, dasi dan sebagainya. Gayanya sudah seperti James Bond saja, komentar Naruto saat pertama kali melihatnya tadi. Sasuke tidak mengenakan topi. Gaya rambut khasnya yang mencuat ke belakang dibiarkan seperti biasa. Hanya sebuah topeng ala Erik the 'Phantom of the Opera' yang dipilihkan Itachi untuknya menyamarkan penampilannya—walaupun tidak sepenuhnya tersamar, karena orang-orang langsung bisa mengenalinya dari potongan rambutnya dan sebelah wajah rupawannya yang terekspos.

Dan omong-omong tentang penampilan Sasuke, musik instrumental yang sedang diputar adalah lagu tema 'Panthom of the Opera'—kebetulan sekali. Atau mungkin Itachi telah mengintip kopi dokumen komite yang diberikan Shiho pada Sasuke beberapa hari yang lalu?

"Aku jadi ingin tahu bagaimana penampilan Sakura," celetuk Naruto, "Dia pasti jadi cantik banget."

"Hn," gumam Sasuke—ia juga penasaran. "Aku mau ke tempat Sai."

"Oh, oke," sahut Naruto tidak jelas. Ia sedang sibuk terpesona oleh gadis-gadis cheers yang baru saja melewati mereka dengan pasangan masing-masing, "Tapi jangan lupa kau harus memberikan sambutan setelah ini, Sasu—ya ampun, dia sudah pergi."

.

.

Di lobby depan, kegiatan jauh lebih sibuk dari pada di dalam aula. Antrian panjang anak-anak kelas tiga bersama partner masing-masing terlihat mulai dari undakan sampai di pintu utama, menunggu untuk mendaftar di meja penerimaan dan dipotret di bawah atap lengkung yang berlatar belakang tema prom untuk kenang-kenangan. Sementara sebagian rombongan yang sudah selesai dipotret tengah asyik melihat-lihat deretan foto wisuda dan foto-foto kegiatan mereka sepanjang tiga tahun menjadi siswa sekolah itu yang dipajang di sepanjang dinding.

Beberapa gadis anggota komite—termasuk sang ketua, Shiho—tampak sibuk di meja penerimaan di sisi pintu masuk, membagikan booklet prom yang ditukar dengan undangan. Sementara para cowok yang bertugas mendokumentasikan juga tak kalah sibuk. Dan salah satu dari mereka adalah Sai. Ia lah yang menjadi fotografer di depan atap lengkung, bergantian dengan Kiba dan dua orang cowok yang Sasuke kenali dari klub fotografi.

Sasuke lantas berjalan menghampiri Sai yang tengah sibuk dengan pasangan anak kelas tiga yang mengenakan gaun dan tux seragam berwarna pink cerah.

Sama seperti Naruto, Sai juga tidak mengenakan tux. Kemeja hitam lengan panjang dan rompi putih bergaris yang membungkus tubuh jangkungnya membuatnya terlihat ramping. Topengnya yang berwarna hitam di satu sisi dan putih di sisi lainnya didorong ke atas kepalanya supaya matanya bisa bebas memandang ke kamera tanpa terhalang, membuat bagian depan rambut hitam pekatnya mencuat ke mana-mana.

"Sibuk, eh?" sapa Sasuke pada Sai setelah cowok itu selesai memotret tanpa memandangnya, melainkan pada antrian di depan pintu.

"Seperti yang kau lihat," sahut Sai, berjalan ke sisi supaya Kiba bisa mengambil alih tempatnya dan memotret serombongan besar gadis bertopeng yang kelewat antusias.

"Sakura belum datang?" tanya Sasuke to the point—masih sibuk menjulurkan leher ke arah pintu, sama sekali menghiraukan tatapan terpesona sekelompok gadis kelas tiga yang masih menunggu giliran difoto.

Ia mendengar Sai terkekeh kecil—tapi ia mengabaikannya. "Belum. Tadi aku mengirimkan pesan padanya dan katanya, mereka masih makan. Itu lima menit yang lalu."

"Jadi mereka makan malam dulu?" gerutu Sasuke, kali ini menoleh pada Sai.

"Apa kau lebih suka Sakura datang kemari dalam keadaan kelaparan?" kekeh Sai sambil mengutak-atik kameranya untuk melihat hasil jepretannya sejauh ini. "Topengmu itu hanya menutupi sisi kiri wajahmu, Sasuke. Kalau kau berwajah masam begitu, orang akan langsung tahu."

"Hn." Sasuke tidak memedulikannya.

Saat itu mereka melihat rombongan yang mereka kenal baik—setidaknya dua orang dari mereka. Neji Hyuuga bersama teman-teman dan adik sepupu yang menjadi partner -nya, Hinata. Neji terlihat keren dengan tux putih. Topengnya yang juga berwarna senada tidak ia kenakan, melainkan hanya diselipkan di dalam saku—sepertinya mengenakan topeng terlalu merepotkan baginya. Sementara di sebelahnya, Hinata tampil anggun dengan gaun biru tua berimpel yang menjuntai sampai ke mata kaki. Sebuah topeng bergaya klasik yang menggunakan tongkat dibawa-bawa di tangannya.

Hinata langsung disambut heboh oleh sahabatnya, Shiho, di meja penerimaan sementara mereka mendaftar dan menukar undangan. Shiho langsung memekik antusias betapa cantiknya sahabatnya itu, dan betapa berbedanya penampilan mereka malam ini. Dan memang benar, Shiho pun terlihat sangat berbeda. Sasuke nyaris tidak mengenalinya saat melihatnya pertama kali tadi kecuali dari warna rambutnya yang pirang platinum. Gadis itu melepas kacamata tebalnya. Ia pastilah mengenakan lensa kontak di balik topeng bulu-bulu spektakuler yang menutupi hampir keseluruhan wajahnya.

Hinata menyapa Sasuke dan Sai begitu rombongan mereka mendekat ke atap lengkung, memuji betapa kerennya mereka malam ini. Sasuke mengangguk pada Neji yang menyunggingkan senyum sopan sebagai sapaan—yah, hubungan mereka masih saja kaku.

Sai kemudian mengarahkan mereka berpose di bawah atap lengkung. Tidak berpasangan, melainkan serombongan seperti yang sebelumnya, bersama teman-teman Neji yang sebagian besar tidak membawa pasangan. Setelah selesai, rombongan itu langsung menuju aula tanpa melihat-lihat foto seperti yang lain.

"Itu mereka datang!" Sai menyenggol lengan Sasuke tak lama setelah rombongan Neji menghilang di aula.

Sasuke segera menoleh ke arah yang ditunjuk Sai dan di sanalah mereka, baru saja bergabung di barisan belakang antrian yang sudah semakin memendek. Kedua orang yang baru datang itu tampak begitu akrab mengobrol sementara mereka mendekat ke meja penerimaan—sebenarnya si cowok lah yang lebih banyak yang bicara sementara pasangannya hanya mendengarkan. Gadis itu sudah mengenakan topengnya, namun rambutnya yang berwarna merah muda sangat mencolok, membuatnya mudah dikenali.

Itu Sakura—dan Rock Lee. Tidak salah lagi.

Sakura dengan riang melambaikan tangan ketika mengenali dua sahabatnya. Sai balas melambai. Sementara Sasuke—ia mematung seperti orang tolol.

"Hei," bisik Sai pada Sasuke, "Sakura kelihatan beda, ya… Agak cantik."

Cowok itu hanya mengeluarkan gerutuan tidak jelas sebagai jawaban. Dan ketika pasangan itu sudah hampir mendekati mereka, Sasuke tiba-tiba berbalik dan berkata cepat pada Sai, "Sebaiknya aku masuk sekarang, Sai. Acaranya sudah mau dimulai."

Tanpa berkata apa-apa lagi, bahkan tanpa menyapa Sakura, Sasuke langsung berbalik dan berjalan dengan langkah lebar-lebar menuju aula—membuat senyuman di wajah Sakura memudar. Ia melempar pandang bertanya pada Sai, yang menjawabnya dengan bahu terangkat.

"Selamat malam, Nona…" sapa Sai pada Sakura ketika mereka sudah mendekat ke atap lengkung untuk difoto. Cowok itu tersenyum hangat, lalu tanpa diduga meraih tangan gadis itu dan mengecup punggung tangannya dengan sikap gentleman.

"Eek!" Sakura terpekik kaget, langsung menarik tangannya dari pegangan Sai. "Hei, apa-apaan, sih!" gadis itu memprotes, seraya memukul main-main lengan Sai.

Cowok itu hanya terkekeh-kekeh. "Maaf," katanya, menambahkan pada Lee, "Hanya refleks karena melihat gadis cantik. Kau sangat beruntung, Senior."

"Er… he he he…" Lee yang tadi sempat tercengang, mengeluarkan tawa canggung. Sejenak ia tampak tidak tahu harus menanggapi bagaimana atas komentar itu, sebelum kemudian membusungkan dadanya dengan bangga sambil tersenyum lebar. "Tentu saja!"

Di sebelahnya, Sakura berdeham untuk menyamarkan kikiknya.

"Silakan," Sai melambaikan tangannya ke arah atap lengkung, mengarahkan pada Lee dan Sakura berdiri di sana untuk difoto—berdua saja. "Jangan canggung begitu, Sakura. Bisa lebih rapat sedikit. Oke…"

Kilau lampu blitz yang berasal dari kamera Sai membutakannya selama beberapa saat. Sakura mengerjap-ngerjapkan matanya dan ketika ia mulai bisa melihat dengan jelas lagi, terjadi kehebohan di sana. Kepala semua orang tertoleh ke arah pintu, diiringi pekikan kaget dan seruan-seruan memanggil nama kedua gadis yang baru saja tiba. Keduanya tampak sedang menaiki undakan perlahan-lahan dengan yang satu memapah yang lainnya.

Awalnya Sakura tidak mengenali mereka—setidaknya sampai Lee berseru di sebelahnya, "TENTEN!"

Sakura tercengang—benar-benar tercengang sampai-sampai mulutnya terbuka lebar. Benar itu adalah Tenten, Sakura langsung mengenalinya dari wajah dan matanya yang cokelat cemerlang. Hanya saja… Ya, ampun… apa yang ia lakukan dengan rambutnya?

Masih tercekik oleh keterkejutan, Lee bergegas mendekati sepupu jauhnya itu saat kedua gadis akhirnya sampai di meja penerimaan. "APA YANG KAU LAKUKAN DENGAN RAMBUTMU?" teriaknya sambil menuding kepala Tenten.

"Haish.. Norak seperti biasa," sungut Tenten pada Lee, pura-pura cemberut.

Yakumo Kurama, gadis yang datang bersamanya, menarik-narik lengan Tenten. "Sudah kubilang, kan…" rintihnya. Gadis itu seperti mau menangis—mata cokelatnya terlihat berkaca-kaca—tetapi dalam waktu bersamaan ia juga tersenyum.

Tenten membalas senyumnya tanpa beban seraya mengangkat tangannya, mengelus kepalanya yang kini licin dengan penuh sayang. "Aku suka gaya rambutku yang baru."

"Astaga…"

"Tenten…" Yakumo speechless.

Tenten menepuk-nepuk lengan sahabatnya yang setengah memeluk lengannya. "Sudah kubilang, kan? Dua gadis pelontos ini akan jadi pusat perhatian di prom. Kau sangat cantik, jadi jangan merasa minder lagi, Yakumo. Hm?"

"Tapi kan kau tidak perlu melakukan ini untukku…" Yakumo berbata pelan, memandang cemas pada orang-orang yang masih menatap mereka.

"Apa kata ayahmu kalau tahu—"

"Oh, dia tahu," Tenten menyela perkataan Lee, "Dan dia tidak terlalu keberatan—sejujurnya tampaknya dia tidak begitu peduli seandainya aku menggimbal rambutku sekali pun," tambahnya sambil nyengir. "Hei, jangan mengurusi kami. Sakura sudah menunggumu, tuh."

Sakura tersadar ketika Tenten menyebut namanya. Gadis itu tersenyum padanya. Sakura mengerjap dan buru-buru menutup mulutnya. Ia pastilah terlihat tolol—tapi Sakura tak bisa menahan diri. Ia benar-benar terkejut dan takjub melihat dua seniornya itu.

Ia sudah pernah melihat Yakumo dalam penampilannya yang baru tanpa rambut panjangnya kemarin. Dan malam ini pun seperti itu. Seperti saat wisuda, Yakumo menutupi kepalanya dengan scraft yang dibentuk sedemikian rupa seperti model gypsy yang serasi dengan gaun yang membungkus tubuh kurusnya. Jejak-jejak penyakit ganas yang menggerogoti tubuhnya tertutup oleh penampilannya yang—seperti kata Tenten—sangat cantik. Gadis itu tampak agak letih—barangkali karena ia tidak memakai kursi rodanya—tetapi lebih dari itu, Yakumo tampak bergairah dan sehat.

Sementara Tenten berbeda. Gadis itu sama sekali tidak menutupi kepalanya yang kini tanpa rambut sehelai pun. Barangkali penampilannya ini tampak aneh, tetapi tetap terlihat menarik karena pembawaannya yang penuh percaya diri. Dan qipao berwarna shocking-pink beraksen bunga persik yang dikenakannya menegaskan kesan itu. Dan keduanya membawa topeng bertongkat yang identik.

Sakura menepi ke sisi Sai ketika kedua gadis itu berjalan ke depan atap lengkung untuk difoto. Sakura begitu terpesona pada penampilan ajaib keduanya sampai-sampai ia nyaris melupakan prom-date-nya. Gadis itu sedikit terlonjak ketika Lee menyentuh lengannya.

"Kita masuk?"

"E—Eh, oh, i-iya…" dengan kikuk, Sakura menyisipkan tangannya di lekukan siku cowok itu sebelum mereka berjalan beriringan di atas karpet merah yang membentang di sepanjang koridor yang sudah dihias menuju aula sekolah.

Sekali lagi Sakura dibuat takjub. Dekorasi di lobby depan yang sudah membuatnya terpesona belum apa-apa jika dibandingkan dengan dekorasi di dalamnya. Sakura nyaris tidak bisa mengenali aula sekolahnya lagi. Ia seakan masuk ke dalam ballroom di sebuah istana yang megah, dengan tamu-tamu yang mengenakan pakaian-pakaian yang tak kalah indah namun terkesan misterius dengan topeng-topeng berbagai bentuk yang mereka kenakan. Indah sekali.

Namun selalu saja ada yang merusak suasana—seperti seorang cowok yang mengenakan topeng scream menyeramkan, atau topeng gorilla, atau topeng-topeng konyol lain yang rasanya tidak cocok berada di lingkungan yang glamor seperti itu.

Penerangan di ruangan itu dibuat redup, sehingga perhatian semua orang akan tersedot ke arah panggung yang terang benderang. Alunan piano yang dimaikan oleh Shikamaru berpadu indah dengan suara sopran milik Sasame Fuuma yang menyanyikan 'Think of Me'—masih lagu tema 'Panthom of the Opera'.

Gadis yang tengah dekat dengan Sai itu terlihat anggun dengan gaun putihnya yang seakan memendarkan cahaya lampu panggung, sangat berbeda dengan pembawaannya yang tomboy saat sedang manggung bersama band-nya. Belum lagi suaranya yang seolah menyuarakan kesan mendalam yang disampaikan dalam setiap bait lagu yang dinyanyikannya, membuat bulu kuduk Sakura meremang—astaga, ia sama sekali tidak tahu Sasame bisa bernyanyi dengan cara seperti itu. Sakura jadi semakin mengerti mengapa Sai yang sangat menghargai seni bisa tertarik pada gadis itu.

"Sakura!"

Perhatian gadis itu teralih dari panggung. Ia menoleh untuk mendapati seorang gadis berambut pirang pucat menyeruak dari kerumunan dan berjalan ke arahnya. Dari topengnya yang berwarna putih gading dan bermotif untaian bulu angsa keemasan, juga dari gaunnya yang berwarna krem lembut, Sakura langsung mengenali sahabatnya, Ino.

"Ino—kukira kau belum datang!" seru Sakura mengatasi suara bising di sekitarnya.

"Aku sudah datang satu jam sebelum acaranya mulai—Chouji kan harus bersiap-siap dulu," balas Ino seraya melambaikan tangan ke arah panggung. Ia lalu berpaling pada Lee, tersenyum. "Halo, Lee. Kau kelihatan keren!"

"Terimakasih!" Lee berseru seraya menarik-narik rompinya—entah ia sadar atau tidak saat melakukannya—nyengir. "Kau juga cantik."

"Tapi Sakura lebih cantik, kan?" Ino menggodanya—yang langsung dihadiahi cubitan di lengan oleh Sakura.

Lee hanya tersenyum penuh arti sambil memandang gadis di sebelahnya. Namun sayangnya Sakura tidak memperhatikannya, karena saat berikutnya ia sudah sibuk menarik Ino menjauh.

"Kau sudah bertemu Sasuke?" tanya Sakura dalam bisikan, sambil memandang berkeliling dengan resah.

"Uh-uh… Dia ada di ruang kru bersama Naruto," jawab Ino. "Kenapa?" tanyanya kemudian dengan nada yang sama sekali berbeda—seperti sedang menggodanya. "Sudah dengan Lee kok malah mencari Sasuke?"

"Bukannya begitu," sahut Sakura gusar, "Dia kelihatannya marah padaku. Tadi kami bertemu di lobby tapi dia langsung pergi. Apa Sasuke kelihatan sedang marah?"

"Tidak tuh," Ino mengangkat bahu, "Dia sedang makan ramen instan dengan Naruto, sama sekali tidak kelihatan sedang marah. Seperti orang kelaparan sih iya," tambahnya seraya mengikik. "Sudahlah, Saku…" ujarnya cepat ketika melihat Sakura hendak membuka mulut untu bertanya-tanya lebih lanjut, "Jangan pikirkan Sasuke. Dia tidak akan kenapa-kenapa—yah, doakan saja dia tidak tersedak. Nikmati saja acaranya. Hm?"

Sakura menatap Ino. Sejenak, ia tampaknya hendak membantah, tapi kemudian berubah pikiran. Ino benar, tidak ada gunanya mencemaskan Sasuke sekarang. Lagipula, apa yang akan dikatakan Lee jika ia tahu Sakura memikirkan cowok lain sementara jadi prom-date-nya?

"Nah, kalau begitu sebaiknya aku tidak mengganggu kalian lebih lama. Oke, Darling?" Ino menepuk-nepuk lengan Sakura dengan lagak seperti seorang kakak perempuan, lalu menoleh pada Lee, "Selamat bersenang-senang!"

Sebelum Sakura mengatakan apa pun lagi, Ino sudah berbalik dan menghilang di kerumunan bertopeng di belakangnya.

"Um… Kita duduk di sana, yuk!" Lee lalu mengajak Sakura ke deretan meja bundar bertaplak linen yang dipenuhi anak-anak kelas tiga yang tak lain dan tak bukan adalah teman-teman satu gengnya di klub sepakbola bersama beberapa gadis kelas tiga yang di klub bertindak sebagai manager mereka.

Sakura dan Lee disambut dengan heboh setibanya di meja itu. Lee langsung ber-high five dengan cowok berambut pirang yang duduk paling dekat dengannya, yang langsung Sakura kenali sebagai mantan ketua klub sepakbola tempat Lee bergabung, Temujin. Cowok itu kelihatan keren sekali walaupun wajahnya separuh tertutup topeng, membuat Sakura merona merah ketika Temujin melempar senyum sopan dan mengangguk singkat padanya. Dan tak lama kemudian, mereka sudah menyamankan diri di dua bangku yang tersisa.

Duduk dikelilingi anak-anak kelas tiga membuat Sakura merasa canggung. Mereka semua menyenangkan, sebetulnya—dan iseng, terus saja menggodanya tentang bagaimana rasanya berkencan dengan Rock Lee. Apakah cowok itu mencoba mencekokinya dengan kare superpedas favoritnya saat makan malam dan pertanyaan-pertanyaan aneh lain yang cukup membuat Sakura sakit kepala.

Beruntung, Lee yang tampaknya bisa merasakan kecanggungan adik kelasnya itu segera menghentikan ulah teman-temannya dengan mengalihkan pembicaraan ke topik lain—apa lagi kalau bukan olahraga. Sakura pun akhirnya terbebas dari kewajiban meladeni mereka dan mulai mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan dengan antusias, sebelum suara dalam milik seorang cowok yang sangat dikenalnya membuat hatinya mencelos.

Sakura memutar kepalanya dan terbelalak—untungnya ia mengenakan topeng saat itu, jadi tidak terlihat dari luar—melihat Neji Hyuuga ternyata duduk meja yang tepat bersebelahan dengan meja teman-teman Lee. Seperti yang dilakukan Temujin beberapa menit yang lalu, Neji tersenyum sopan padanya. Sakura merasakan sensasi seperti digelitik samar di dasar perutnya, tidak seperti dulu di mana rasanya pasti seperti jungkir balik.

"Ternyata benar kau, Sakura," cowok bermata keperakan itu berkata, "Tadinya kukira orang lain."

Sedikit gugup, Sakura membalas senyumnya. "Hai, Neji."

Neji tidak sendirian di sana. Duduk di sebelahnya, adik sepupunya, Hinata, yang juga langsung menyapa dengan riang begitu melihatnya. Seperti Sakura, gadis itu juga canggung duduk dikelilingi oleh teman-teman kelas tiga kakak sepupunya. Menemukan wajah teman seangkatan yang dikenalnya membuatnya tampak sangat lega. Begitu pula dengan Sakura yang langsung menggeser bangkunya lebih dekat pada Hinata.

Sepertinya Lee tidak begitu keberatan, karena ia sendiri juga menyapa Neji dengan antusias, walaupun tidak seantusias ketika menyapa teman-temannya. Mata bundarnya sejenak melirik Sakura dengan was-was. Yah, berhubung ia juga berteman cukup dekat dengan Neji—bahkan bisa dibilang bersahabat karib—dan Tenten adalah sepupu jauhnya, tidak mungkin ia tidak mengetahui tentang konflik yang pernah terjadi antara Sakura dan mereka berdua. Namun melihat Sakura tidak menampakkan tanda-tanda terganggu dengan kehadiran Neji, Lee merasa jauh lebih tenang.

Sementara itu, Sakura sudah terlibat obrolan akrab dengan Hinata.

"Kukira kau akan datang bersama Shiho," Sakura berkata pada Hinata, "Kau tahu, kan? Mengurusi segala urusan prom ini."

"Oh, t-tadinya aku memang berencana pergi dengannya, tapi…" Hinata melirik kakak sepupunya yang sedang berbincang dengan Lee tentang kampus yang akan mereka masuki nanti, "Kak Neji memintaku menemaninya. Mendadak sekali. Kuharap Shiho tidak terlalu kecewa."

Sakura tertawa kecil. "Shiho tidak akan kecewa padamu. Tapi mungkin ada cowok yang kecewa—kukira."

Kata-kata Sakura mengingatkan Hinata pada kejadian hari sebelumnya di koridor aula, saat Naruto mengajaknya… dan wajahnya kontan memerah. Untung saja penerangan di ruangan itu tidak terlalu terang sehingga Sakura tidak bisa melihatnya. Hinata buru-buru mengalihkan pembicaraan.

"Kukira Sakura akan pergi dengan Sasuke."

Sakura mengeluarkan tawa hambar yang tidak mencapai matanya yang tertutup topeng. "Sasuke tidak mungkin mengajakku. Kurasa dia tidak begitu suka prom," ujarnya sambil mengangkat bahu, berusaha terlihat tidak begitu peduli, meskipun ada kekecewaan samar yang tak bisa dijelaskan setiap kali memikirkan itu—dan memikirkan bagaimana Sasuke langsung kabur ketika bertemu dengannya di lobby tadi.

Hinata memandang temannya selama beberapa saat sebelum berkata, "K-kelihatannya tidak begitu kok. Kemarin Sasuke mencarimu. Kukira dia ingin mengajakmu—aku melihatnya membawa undangan prom juga."

Sakura membulatkan matanya, terkejut dengan informasi baru yang didengarnya dari Hinata. Dipandanginya gadis berambut gelap itu, mencoba memastikan apakah Hinata sedang berbohong padanya. Tetapi Sakura cukup mengenal Hinata untuk tahu adik sepupu Neji itu bersungguh-sungguh dengan ucapannya—lagipula untuk apa ia berbohong soal Sasuke, kan? Dan omong-omong soal itu…

'Kalau memang berniat mengajakku ke prom, kenapa tidak sejak awal saja, sih? Aku harus bicara padanya nanti!'

"Yah…" Sakura tertawa kecil sambil mengangkat bahu dengan santai, berlagak tidak terlalu peduli, "Mungkin undangannya untuk orang lain." –Hanya khayalan Sakura saja ataukah ia memang melihat kekecewaan samar melintas di wajah Hinata saat itu? "Hei!" Sakura buru-buru mengubah topik, "Dari tadi aku ingin tanya, dari mana sih kalian mendapatkan ide membuat tema prom seperti ini? Benar-benar berbeda. Dekorasinya bagus banget!"

Tampaknya ini berhasil menghalihkan perhatian Hinata, karena saat berikutnya ia dengan antusias menceritakan bagaimana awalnya komite menggodok rencana untuk prom—mulai dari mengumpulkan suara dari anak-anak kelas tiga tentang tema apa yang mereka inginkan untuk prom, melakukan riset, menentukan dekorasi, musik, konsumsi, pengisi acara dan semua detail kecil lain yang membuat Sakura tidak bisa tidak mengaggumi kerja keras komite menggarap acara ini.

"Aku sangat berharap komite tahun depan membuat prom yang keren untuk kita seperti ini," kata Sakura yang langsung ditimpali dengan anggukan setuju dari Hinata.

Aula semakin ramai. Anak-anak yang tadi melihat-lihat foto di lobby depan sudah mulai berdatangan. Sakura memandang berkeliling dengan antusias sekali lagi, senang ketika menyadari cukup banyak teman-teman seangkatannya, bahkan anak kelas satu yang hadir. Meskipun Sakura tidak mengenal dekat sebagian besarnya berhubung mereka adalah anak-anak populer yang beruntung mendapatkan undangan dari para senior.

Kemudian pandangannya terjatuh pada salah satu meja paling dekat dengan panggung yang diisi oleh para guru. Tidak semua guru hadir, tentu saja. Hanya beberapa orang dan itu termasuk pamannya tersayang, Kakashi Hatake, sedang diajak mengobrol dengan penuh semangat oleh koleganya, Pak Maito Gai. Rambut peraknya berkilauan tertimpa cahaya dari panggung, dan walaupun tampangnya agak bosan, pamannya itu terlihat tampan—tidak seperti para siswa, para guru tidak mengenakan topeng. Yah, kecuali Pak Gai yang semangat masa mudanya menginspirasinya untuk jadi Alien dadakan di sana.

Baru saja timbul niatan untuk menyapa pamannya itu ketika tiba-tiba saja telinganya menangkap kata-kata Lee,

"…kau serius mau melepaskan beasiswamu di Universitas Ame?"

Sakura menoleh cepat pada kedua cowok itu, tidak dapat menahan keterkejutannya ketika ia membelalak pada Neji. Cowok itu agaknya menyadari tatapan Sakura, karena ia menoleh dan tersenyum tipis pada Sakura sebelum menjawab Lee,

"Itu benar." Neji menghela napas.

"Kenapa?" tuntut Lee tak percaya. "Padahal kau sudah kerja keras untuk mendapatkan tempat di sana, kan? Mengapa dilepas begitu saja, Neji?"

"Ada alasannya, tentu saja."

"Tentu saja harus ada alasan!" sahut Lee tak sabaran. "Apa karena kau tidak percaya diri?"

Sekali lagi Neji menghela napas, sebelum menyahut tenang, "Aku tidak bisa mengatakan alasannya padamu, Mate, maaf. Ini terlalu pribadi."

"Eeh—Kenapa?" Lee tidak repot-repot menyembunyikan kekecewaannya atas jawaban Neji yang tidak memuaskan.

Kali ini Neji tidak menjawabnya. Perhatiannya kini tengah tertuju pada pintu masuk. Sakura ikut menoleh ke arah pandang cowok itu, mendapati Tenten dan Yakumo yang baru saja masuk sambil bergandengan tangan, disambut oleh teman-teman teater mereka. Kedua gadis itu tertawa, terlihat begitu gembira—terutama Yakumo yang sudah berbulan-bulan tidak berkumpul dengan teman-temannya sejak sakit.

Sakura kembali menolehkan kepala pada Neji dan menyadari tatapan cowok itu, meskipun tidak yakin siapa yang sedang ditatapnya saat itu—Tenten atau Yakumo—nyaris terlihat sedih.

"Tapi kau akan tetap mengambil medis, kan?" tanya Lee menyelanya.

Neji mengedip dan kembali memandang temannya. "Aa," sahutnya sambil mengangguk. "Konoha Medical School."

"Wah, aku tidak tahu harus senang atau bagaimana kalau begitu, Neji," kata Lee, nyengir, "Kalau kau benar mendaftar di sana, berarti kita masih satu universitas."—Konoha Medical School masih bagian dari Konoha University, dan Lee, seperti yang dikoarkannya pada semua orang yang mau mendengarnya, berhasil mendapatkan beasiswa lewat jalur prestasi di salah satu kampus bonavide di seluruh negeri itu. "Lagipula di sana juga tidak kalah bagus dari Ame Medical School, kan?"

"Aa."

"Sayang sekali tidak dengan beasiswa."

"Aa." Neji tampak tidak begitu peduli—yah, untuk siswa yang berasal dari keluarga terpandang seperti keluarga Hyuuga, uang bukanlah masalah besar.

Meski begitu, Sakura masih penasaran dengan alasan yang membuat Neji melepaskan beasiswanya begitu saja. Apakah itu ada hubungannya dengan… Oh, ya ampun, Sakura! Sakura mengomeli dirinya sendiri dalam hati. Memangnya kenapa kau harus peduli? Itu kan urusan Neji dan tidak ada sangkut pautnya denganmu! Lagipula kau sudah bersumpah tidak akan memikirkan cowok itu lagi, kan? Namun Sakura tak bisa menahan dirinya menoleh sekali lagi ke arah Tenten dan Yakumo, mengawasi ketika kedua gadis itu mengambil tempat duduk di meja di seberang mereka.

Tepat saat itu, terdengar gemuruh tepuk tangan dari para undangan saat Shikamaru dan Sasame mengakhiri lagu mereka. Perhatian Sakura mau tak mau teralih kembali ke panggung, lalu ikut bertepuk sopan bersama yang lain.

"M-Mereka keren sekali, ya…" puji Hinata berseri-seri, "Aku suka sekali suara Sasame."

"Eh—Iya…" tanggap Sakura tak jelas, "Suaranya memang bagus."

Di depan sana, tampak Sasame turun dari panggung sementara Shikamaru masih bertahan di sana. Seorang cowok kelas satu yang bertugas menjadi MC naik menggantikannya, diikuti beberapa anggota band, termasuk cowok bertopi oranye yang langsung Sakura kenali sebagai Naruto. Mereka langsung menempati tempat masing-masing sementara sang MC mulai berbasa-basi—dan kemudian, dengan iringan musik dari band dan sorakan riuh para undangan, MC mengumumkan acara dimulai.

Sebagaimana acara-acara resmi pada umumnya, selalu saja ada bagian yang membosankan. Apalagi kalau bukan sesi sambutan. Yang pertama dan mewakili para guru, adalah Kakashi Hatake. Untunglah ia cukup mengerti murid-muridnya sudah cukup kenyang dijejali pidato membosankan sejak upacara kelulusan hari sebelumnya sehingga ia tidak berlama-lama. Lagipula, Kakashi memang terkenal tidak terlalu suka terlalu banyak berbasa-basi. Guru Aljabar itu hanya mengucapkan selamat dan mengingatkan mereka untuk tetap bersikap selayaknya manusia beradab sepanjang acara.

Yang kedua adalah Menma, sang ketua angkatan yang juga mewakili teman-teman kelas tiganya. Cowok berwajah baik hati itu mengucapkan terimakasih pada komite yang telah menyiapkan acara itu untuk mereka, bla bla bla… yah, selama menjabat sebagai ketua angkatan sekaligus ketua OSIS periode lalu, Menma memang menjadi sangat berpengalaman dengan pidato—terutama yang membuat teman-temannya menguap lebar. Ketika Menma akhirnya menuruni panggung, anak-anak tetap bertepuk dengan sopan untuk menghargainya.

Dan tepukan itu langsung berubah menjadi sorakan dan jeritan riuh rendah—terutama dari para gadis—ketika MC memanggil Sasuke Uchiha yang akan mewakili adik-adik kelas untuk naik ke panggung. Sakura tidak tahan untuk tidak mengikik melihat sahabatnya dengan gaya cool-nya yang biasa melangkah mendekati panggung dan menaiki undakannya diiringi musik James Bond yang dimainkan band.

Tidak banyak yang disampaikan Sasuke. Hanya beberapa patah kata ucapan selamat, yang kemudian diakhiri dengan ucapan garing, "Selamat menikmati acaranya…" –Tapi tetap saja ia yang mendapatkan sambutan paling meriah. Dasar cowok ganteng!

Dan detik berikutnya, band mulai melaksanakan tugasnya. Keriuhan pesta akhir tahun ajaran pun dimulai.

Meja-meja yang tadinya terisi penuh, perlahan mulai ditinggalkan sementara anak-anak mulai membanjiri lantai dansa, atau mendekat ke meja yang menyajikan makanan kecil dan minuman punch.

Sakura tadinya mengira Lee akan langsung mengajaknya berdansa seperti teman-temannya yang lain. Rupanya tidak. Cowok itu tampaknya ingin memanfaatkan momen absennya teman-temannya untuk melanjutkan obrolan yang sudah mereka mulai dari restoran kare tempat mereka makan malam dan mengambil foto mereka berdua dengan kamera ponselnya—untuk kenang-kenangan, katanya. Sakura tidak keberatan, tentu saja, tapi ada saat-saat dirinya merasa sangat canggung dan serba salah ketika ia merasakan tatapan intens cowok itu padanya. Kalau sudah begitu, ia akan mengalihkan pandangannya ke tempat lain.

Sialnya, pandangannya selalu terjatuh pada sesuatu yang sama sekali tidak membuatnya merasa lebih baik. Misalnya saja, satu waktu ia malah bertemu pandang dengan Sasuke di seberang ruangan. Cowok itu sedang melotot padanya—atau setidaknya, itulah yang Sakura rasakan. Di waktu lain, ia tidak sengaja melihat Neji sedang bersama Yakumo. Tenten dan Hinata entah menghilang ke mana. Keduanya tampak sedang berbicara dengan suara rendah—terlihat dari posisi mereka yang terlalu dekat untuk ukuran orang mengobrol normal. Lengan Neji diletakkan di punggung bangku Yakumo sementara gadis itu berbicara entah apa padanya.

Yah… bukannya Sakura cemburu atau apa…

"Kau haus?" suara Lee menginterupsinya.

Sakura cepat-cepat berpaling pada prom-date-nya itu, tersenyum sopan. "Sedikit."

"Mau kuambilkan punch?"

"Boleh," Sakura mengangguk.

Lee lantas beranjak dari bangkunya dan menerobos kerumunan menuju meja makanan kecil. Sakura menghela napas, menyandarkan punggungnya ke bangku.

"Kelihatannya kau agak bosan," komentar suara seorang gadis.

Sakura menoleh dan mendapati Ino sudah duduk di bangku yang ditinggalkan Hinata, nyengir. "Tidak juga. Mengobrol dengan Lee lumayan menyenangkan juga. Kau sendiri…" Sakura sejenak memandang berkeliling, mencari-cari sosok Chouji, "…tidak berdansa dengan Chouji?"

Ino menghela napas keras-keras. "Ya ampun, Sakura. Chouji kan sedang ada di panggung. Lupa, ya? Makanya, dari tadi jangan memelototi Neji terus—bisa merusak otakmu. Lagipula, ngapain sih? Masih berharap?" goda Ino.

"Tentu saja tidak!" bantah Sakura cepat, merasakan darah mengalir memenuhi wajahnya yang untungnya, separuh tertutup topeng sehingga Ino tidak bisa melihatnya. "Dan kau," ia buru-buru membelokkan topik, "…belum ada yang mengajakmu turun?"

Ino mengangkat bahu, berlagak tidak peduli sembari menghirup gelas minuman punch berwarna pink jernih yang dibawanya. "Hei, Sasuke!"

Gadis itu kemudian menyapa Sasuke yang baru saja bergabung di meja mereka, menduduki bangku Lee dengan gaya malas. Kedua tangannya dilipat di depan dada. "Hn."

"Sasuke," sapa Sakura ragu, jelas masih khawatir Sasuke sedang marah padanya.

Sasuke menoleh padanya, sama sekali tidak berekspresi—dan topeng yang dipakainya menambah kesan mengintimidasi yang cukup membuat bulu kuduk Sakura meremang. "Ditinggal teman kencanmu, eh?"

Sebuah kerut samar muncul di antara kedua alis Sakura mendengar komentar itu. "Lee sedang mengambilkan punch untukku," sahutnya dengan nada yang entah bagaimana terdengar menantang.

"Oh." Sasuke mendengus, kemudian berpaling untuk membeliak pada kerumunan di lantai dansa.

Di sebelahnya, Sakura bisa mendengar Ino mengikik tertahan. Namun kikikannya tidak bertahan lama, karena tepat saat itu Sai muncul di kerumunan dan ia tidak sendirian. Sai menarik tangan Sasame yang tertawa-tawa mengikutinya dan keduanya lalu berdansa tak jauh dari meja mereka. Sasame melingkarkan lengannya di leher Sai sementara cowok itu menunduk membisikkan sesuatu di telinganya—mereka praktis berpelukan saat itu. Entah apa yang dibisikkan Sai pada gadis itu, tampaknya sesuatu yang lucu karena tak lama kemudian tawa Sasame pecah berderai.

Sakura melirik ke sebelahnya dan mendapati Ino sedang menunduk menatap gelasnya seakan itu adalah benda paling menarik di dunia, seraya bersenandung kecil mengikuti musik yang sedang dimainkan oleh band di panggung. Sesekali ia menghela napas bosan. Sakura melempar senyum menyesal ke arahnya—dan tentu saja Ino tidak melihatnya.

Terdengar suara bangku berderit di sebelah Ino ketika Shino Aburame, yang entah muncul dari mana, duduk di sana tanpa menghiraukan orang-orang lain. Tidak jelas apakah ia bosan atau apa, wajahnya terlalu datar untuk bisa ditebak apa yang sedang ia pikirkan. Belum lagi kacamata hitamnya—Shino tidak mengenakan topeng—membuat Sakura bertanya-tanya sendiri apakah cowok itu bisa melihat dalam ruangan yang redup ini di balik kacamata hitamnya?

Perhatiannya kemudian teralih pada Hinata dan Shiho yang juga ikut bergabung di meja mereka. Keduanya tampak serius membicarakan tentang jalannya acara. Kemudian beberapa gadis anggota komite lagi bergabung di meja itu, langsung ramai berfoto-foto dengan kamera ponsel mereka. Atau sebenarnya mereka hanya ingin menarik perhatian Sasuke dengan mengeluarkan suara-suara sok imut begitu.

Ketika Lee kembali dengan membawa dua gelas punch, ia tercengang melihat meja yang tadinya hanya berisi dirinya dan Sakura kini sudah penuh sesak dengan anak-anak.

"Um…" gumamnya, memandang sekeliling meja itu dengan bingung. Tidak ada tempat yang tersisa untuknya duduk—bahkan tampaknya tidak ada yang menyadari kehadirannya kecuali Sakura yang langsung mengambil inisiatif menghampirinya duluan.

"Di sini penuh, ya?" Sakura meringis, seraya mengambil gelas punch yang diangsurkan Lee padanya, lalu meneguk isinya, "Trims. Aku haus sekali…"

"Sama-sama," Lee menatapnya lama sementara Sakura menaikkan kembali gelasnya ke bibir sambil memperhatikan anak-anak yang berdansa di dekat mereka. Kepalanya terangguk-angguk mengikuti irama musik. Senyum di wajah Lee mengembang tanpa ia sadari. Sampai sekarang ia masih takjub akan keberuntungannya bisa mengajak Sakura Haruno sebagai prom date-nya. Karena jujur saja, ia sudah menyukai gadis itu sejak lama. Yah, Lee sendiri sudah tidak ingat lagi kapan ia mulai menganggap pink adalah warna paling cantik yang pernah tercipta di muka bumi.

Teman-temannya mungkin tidak menganggap Sakura Haruno adalah gadis yang menarik untuk diajak kencan. Kecanduannya terhadap buku dan kepintarannya yang tersohor di seantero sekolah sudah dipastikan membuat cowok-cowok berpikir dua kali untuk mendekatinya—yah, mereka kan selalu ingin terlihat lebih pintar di depan gadis-gadis, bukannya sebaliknya—Belum lagi hubungan kekerabatannya dengan salah satu guru konseling sekolah yang terkenal disiplin—walau dirinya sendiri suka telat—Pak Hatake.

Tetapi bagi Lee, yang dari dulu sangat menjunjung tinggi kerja keras, hal itu justru menjadi daya tariknya. Ia senang memperhatikan Sakura belajar, melahap habis buku-buku di perpustakaan untuk menambah wawasannya, tak ragu mencari ilmu dari siapa pun yang ia pikir lebih tahu banyak darinya untuk bisa menjadi lebih lagi—ia pernah melihat Sakura belajar Kimia dengan Neji, berdiskusi alot tentang Science dengan Sasuke Uchiha, mendatangi pamannya pada jam istirahat di kantor guru untuk menanyakan bab Aljabar yang ia belum mengerti—Lee juga memperhatikan bagaimana kerja keras Sakura saat penggarapan drama sekolah. Gadis itu selalu total. Tidak pernah setengah-setengah.

Dan tentu saja Lee tidak melupakan faktor fisiknya juga, walaupun Sakura tidak begitu menonjol jika dibandingkan dengan para gadis populer di sekolahnya. Tetapi bagi Lee, gadis itu memiliki bola mata terindah yang pernah ia lihat. Bukan hanya karena warnanya yang hijau seperti warna favoritnya, melainkan karena mata itu sangat ekspresif. Berbinar setiap kali suasana hatinya sedang bagus, berkilat berbahaya setiap kali ia marah, berkabut saat sedang sedih… Kau hampir selalu bisa membaca suasana hatinya lewat matanya.

Hanya saja, Lee tidak pernah punya keberanian untuk mendekatinya secara langsung. Sakura nyaris tidak pernah dekat dengan cowok sebelum ia bergaul dengan teman-temannya yang sekarang. Belum lagi fakta bahwa gadis pujaannya itu malah menyukai sahabat baiknya, Neji Hyuuga. Dan tampaknya Neji juga menyukainya—Lee sempat beranggapan begitu setelah beberapa lama melihat kedekatan mereka dan bersaing dengan sahabatnya untuk mendapatkan gadis adalah hal terakhir yang diinginkannya di tahun terakhirnya di sekolah—Maka Lee memutuskan untuk menahan diri dan terpaksa puas hanya dengan melihat gadis itu dari jauh.

Tapi sekarang, ketika ia mulai menyadari bahwa berdiam diri tidak akan membawanya kemana-mana, ia mulai memberanikan diri. Terlebih ini barangkali adalah kesempatan terakhirnya sebelum meninggalkan sekolah—dan entah kapan ia bisa bertemu dengan Sakura lagi. Lee tidak ingin ada penyesalan di kemudian hari. Setidaknya ia bisa merasa lebih lega setelah mengungkapkan semuanya pada gadis itu, tak peduli apa pun jawabannya nanti.

"Sakura?"

"Ya?" Sakura berpaling dari lantai dansa dan menatapnya.

"Kau… er…" Lee tanpa sadar menggaruk sisi lehernya dengan sikap gugup, "Mau dansa?"

"Okay!" sahut Sakura, tersenyum.

Cowok di depannya langsung berseri-seri. Ia menenggak minumannya hingga tandas, sebelum mengambil gelas yang masih terisi separuhnya dari tangan Sakura. "Biar kusimpan ini dulu."

Sakura mengangguk. Ia mengawasi Lee menaruh dua gelas itu di meja tepat di depan Sasuke duduk. Sejenak ia bertemu pandang dengan Sasuke. Sebagian kecil dirinya ingin tahu bagaimana reaksi sahabatnya itu kalau ia tahu Lee mengajaknya berdansa dan merasa sedikit kecewa ketika mendapati Sasuke tampaknya tidak peduli—Ya ampun! Memangnya apa yang kau harapkan sih, Sakura?

Berusaha mengenyahkan pikiran-pikiran itu, Sakura lantas mengikuti desakan tangan Lee yang membawanya ke lantai dansa.

Untuk beberapa saat mereka hanya berdiri kikuk di sana, berhadapan. Lee tampaknya tidak tahu harus mulai dari mana—atau meletakkan tangannya di mana, berhubung musik yang sedang mengalun sekarang bertempo lambat. Akhirnya, Sakura lah yang membimbingnya. Gadis itu meraih sebelah tangan Lee, meletakkannya di pinggangnya, sementara tangan yang lain digenggamnya. Ia sendiri meletakkan tangannya yang bebas di bahu Lee. Mereka bergerak canggung. Lee melangkah kelewat hati-hati agar tidak menginjak kaki Sakura. Alhasil, ia bergerak seperti robot.

"Sori," kata Lee dengan wajah merona. "Aku tidak terbiasa dengan ini—berdansa, maksudku."

"Tidak apa-apa," Sakura tertawa kecil—lalu mengaduh ketika Lee tak sengaja menginjak kakinya.

"A—ah, maaf!" seru Lee panik. "Sakit?"

"Tidak—tidak apa-apa," sahut Sakura cepat-cepat, berusaha mengabaikan ujung jari kakinya yang berdenyut-denyut. "Aku juga sering menginjak kaki pasanganku kalau sedang berdansa."

Lee menatapnya dengan kedua alis tebalnya terangkat tinggi. "Jadi kau sering berdansa?"

"Hmm…" Sakura mengangguk. "Dengan ayahku…" seulas senyum menerawang terbentuk di bibirnya ketika teringat waktu-waktu manis yang dilewatkannya dengan sang ayah, "Dulu waktu aku masih kecil, ayahku sering mengajakku berdansa setiap kali kami sekeluarga sedang berkumpul, dengan iringan lagu-lagu lama favoritnya. Dan dia selalu mengizinkanku menaiki kakinya."

"Father-daughter dance," gumam Lee. Matanya melembut.

"Hmm…" Sakura tersenyum lagi. Dari atas bahu Lee, ia bisa melihat Sai yang sedang berdansa dengan Sasame tak jauh dari tempatnya—posisi Sasame memunggunginya sehingga praktis ia berhadapan dengan Sai—cowok itu nyengir, mengedipkan mata ke arahnya. Sakura mendengus tertawa, mendadak teringat dansa terakhirnya dengan Sai beberapa bulan yang lalu setelah kunjungannya ke KAA. Saat itu, ia juga beberapa kali menginjak kaki Sai ketika cowok itu mencoba mengajarinya salsa.

"Apa ada sesuatu yang lucu?" tanya Lee bingung, menoleh ke belakang.

"Oh, tidak, tidak—" Sakura masih terkekeh-kekeh, "Aku hanya teringat seseorang yang pernah kuinjak kakinya sampai bengkak."

"Astaga… Kuharap aku tidak akan membuat kakimu bengkak!" kata Lee sungguh-sungguh, seraya memandang ke bawah dengan cemas.

Sakura tertawa.

.

.

"Ehem… Sepertinya di sini agak panas, ya, Sasuke?" Ino berkata keras-keras, melirik cowok yang duduk tak jauh dari tempatnya. "Uuh… panas sekali!" ia mengibas-ngibaskan tangan, berlagak mengipasi dirinya sendiri.

Mata hitam Sasuke yang sedari tadi mengikuti Sakura beralih untuk pertama kalinya. Cowok itu menoleh, memandang si gadis pirang dengan mata disipitkan. "Apa?" tukasnya galak.

Ino pura-pura cemberut. "Galak betul, sih?"

Mendengus, Sasuke kembali berpaling ke lantai dansa dan mendapati gadis yang menjadi objek tatapannya sejak tadi tengah tertawa. Sasuke menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan, berusaha tetap tenang.

Mereka cuma berdansa…

Mereka cuma berdansa…

Mereka cuma berdansa…

"Psst… Sasuke!"

Ia mendengar Ino memanggilnya, namun diabaikannya.

"Sasuke…" –kali ini disertai colekan di bahu.

"What?"

Gadis pirang itu memberinya cengiran menjengkelkan. "Jangan menahan diri begitu, Sasuke. Tidak baik untuk kesehatan."

"Apa maksudmu?" Sasuke mengernyit padanya, pura-pura tak mengerti.

"Saku—"

"Dengar," potong Sasuke cepat sebelum Ino sempat menyelesaikan kalimatnya, "Aku tidak punya waktu membahas omong kosong denganmu—"

Sorak-sorai yang kemudian terdengar dari arah lantai dansa mengalihkan perhatian mereka. Musik bertempo lambat rupanya sudah berakhir dan kini band mulai memainkan lagu yang lebih keras. Para pedansa yang tadinya bergerak pelan kini mulai berjingkrak-jingkrak mengikuti perubahan irama itu. Beberapa yang lebih suka suasana romantis memilih menyingkir, dan itu tidak termasuk Sakura dan Lee.

Rock Lee rupanya sudah menemukan cara menyedot perhatian Sakura padanya sepenuhnya—juga perhatian semua orang di lantai dansa. Anak-anak menyeruak, memberi tempat untuk cowok berambut bob itu menunjukkan kebolehannya berjoget. Mereka semua bertepuk dan menyorakinya ketika Lee mulai mempertontonkan gerakan-gerakan konyol dengan penuh semangat. Di sampingnya, Sakura tampak tertawa. Tak lama, gadis itu pun ikut berjoget bersama yang lain, meskipun tidak seheboh Lee.

Kelihatannya Sakura benar-benar menikmati kencan-nya, pikir Sasuke—agak—sebal.

"Yah…" kata Ino, "Omong kosong itu sepertinya sedang bersenang-senang dengan cowok lain."

Berpura-pura tidak mendengarkan kata-kata Ino, Sasuke lantas beranjak bangun dari kursinya dan pergi dari sana, mencoba menghibur diri dengan segelas punch dingin. Mengesalkan sekali, di saat sahabat-sahabatnya bisa bersenang-sendang sedangkan dirinya sendiri tidak. Ah, tiba-tiba saja Sasuke merindukan Itachi dan playstation mereka.

"Sasuke Uchiha bukan tipe orang yang bisa dipancing dengan cara seperti itu."

Suara dalam cowok yang duduk di sebelahnya kontan membuat Ino memutar kepalanya. "Maaf?" Ia mengernyit pada Shino Aburame.

"Katakan langsung padanya apa maksudmu. To the point. Uchiha bukan orang yang suka basa-basi," ujar Shino datar.

Ino memandang ketua klub jurnal itu keheranan. Setahunya Shino Aburame jarang sekali bergaul dengan orang-orang di luar klubnya. Bagaimana ia bisa begitu percaya diri berkata seperti apa persisnya Sasuke—Ino bahkan belum pernah melihat mereka saling bicara sebelumnya! "Wah, ternyata kau tahu banyak tentang Sasuke, eh?"

"Uchiha sudah menjadi siswa sekolah ini selama hampir setahun," sahut Shino masih dengan suara datarnya yang misterius. "Pernah berkasus dengan si Uzumaki, diangkat menjadi ketua OSIS dan sebagainya. Bukan hanya sekali jurnal menulis profil dirinya dan memuatnya di jurnal sekolah. Jadi tidak mungkin aku tidak mengenal Uchiha."

"Tapi itu tidak cukup untuk mengenal seseorang dengan baik, kan?"

"Pengamatan, Yamanaka. Seperti yang kukatakan tadi, Sasuke sudah hampir setahun menjadi teman kita di sini. Keterlaluan sekali jika setidaknya kita tidak mengamati dirinya—setidaknya sedikit memberikan perhatian."

Ino mengernyit, tersinggung dengan kata-kata cowok berkacamata hitam itu. "Apa kau bermaksud mengatakan aku tidak menaruh perhatian pada teman-temanku?"

"Kau sendiri yang berkata seperti itu," sahut Shino tenang, sama sekali tak tampak terganggu dengan nada bicara Ino yang mendadak dingin.

"Well…" Ino memutar tubuhnya sehingga ia duduk serong menghadap Shino, memberinya senyum menantang, "Karena kau sudah mengenalku selama kira-kira… um… sejak sekolah dasar, kukira kau pasti tahu banyak tentang aku, Shino."

Shino memandangnya lewat kacamata hitam yang menutupi kedua matanya, sejenak tidak berkata apa-apa.

"Jadi… bisa kau beritahu aku seperti apa tepatnya aku, hm?" Ino memasang senyum penuh percaya diri, seolah yakin cowok di depannya itu tidak tahu apa-apa tentang dirinya. Hanya bicara omong kosong.

Namun senyum itu sedikit memudar ketika Shino menunjukkan kepercayadiri yang sama besarnya. Cowok itu juga memutar posisi duduknya, sehingga mereka duduk hampir berhadapan sekarang. Seakan belum cukup membuatnya gugup, Shino mencondongkan tubuhnya sedikit. Ino mengerjap, memandang pantulan wajahnya sendiri di dalam kaca mata hitam cowok jangkung itu.

"Ino Yamanaka, putri tunggal dari Inoichi Yamanaka, arsitek yang juga merangkap sebagai staf ahli design interior di Hyuuga Grup. Keluargamu mengelola salah satu jaringan toko bunga terbesar di Konoha yang berpusat di rumahmu, Alamanda Avenue nomor sepuluh. Hobimu berkebun, bermusik, menari dan shopping. Bergabung di squad cheerleaders semenjak middle school, juga tergabung dalam band bersama Shikamaru Nara dan Chouji Akimichi—Inoshikachou Jr. Kau pernah digerebek saat melanggar jam malam—"

"HEI!" protes Ino. Wajahnya merona mendengar orang yang bahkan nyaris tak pernah berbicara padanya tiba-tiba membeberkan catatan memalukannya dengan begitu entengnya. Namun Shino mengabaikannya dan meneruskan.

"…Mendapatkan medali perak di bidang gymnastic pada Kompetisi Olahraga dan Seni musim panas lalu di Ame. Makanan favoritnya adalah salad dengan banyak tomat cherry dan puding—dan membenci shasimi. Kau bersahabat dekat dengan Sakura Haruno, Shikamaru Nara dan Chouji Akimichi, memiliki lima mantan kekasih sejauh ini dan baru saja putus dari Idate Morino, adik kepala kepolisian Konoha, Ibiki Morino. Ciuman pertamamu terjadi saat tahun terakhir sekolah dasar—"

Rona di wajah Ino segera bertransformasi menjadi merah padam. "SHINO—Dengar, itu tidak menjelaskan seperti apa—"

"Ino Yamanaka adalah orang yang sensitif. Sedikit bossy dan keras kepala, tetapi sangat peduli dan perhatian pada teman-temannya. Kadang suka seenaknya, tetapi selalu memikirkan orang lain. Penuh percaya diri dan tidak pernah ragu menyuarakan apa yang kau pikirkan. Apakah aku benar?"

Ino tak tahu harus berkata apa sekarang. Gadis itu tercengang menatap lawan bicaranya itu seakan baru kali ini benar-benar melihatnya. Ia sama sekali tidak pernah membayangkan Shino Aburame, si ketua klub Jurnal yang superpendiam, maniak serangga yang menyebalkan itu, tahu begitu banyak tentang dirinya.

.

.

Lagu ketiga akhirnya berakhir diiringi aplaus meriah dari para pedansa yang antusias untuk band di atas panggung. Padahal prom belum berjalan separuhnya, tetapi wajah anak-anak sudah memerah akibat kebanyakan berjoget. Dan Sakura dan Lee adalah di antaranya. Meskipun dalam kasus Sakura, kebanyakan tergelak barangkali adalah alasan yang lebih tepat. Dan gadis itu merasa lega sekali ketika Lee mengajaknya menepi dari lantai dansa yang penuh.

"Yang tadi itu seru sekali!" seru Sakura mengatasi suara bising.

Lee melepaskan topengnya, memperlihatkan daerah sekeliling matanya yang merah dan berkilau oleh selapis keringat tipis. Napasnya agak tersengal, tatapi tidak menghalanginya memamernya cengiran lebar yang mengingatkan Sakura akan Naruto. "Sebenarnya aku tidak terlalu pandai yang begituan," katanya merendah seraya menggaruk-garuk belakang kepalanya.

"Yang jelas kau pandai membuat orang tertawa," ujar Sakura riang.

"Euh… Sepertinya aku sudah mempermalukan diriku sendiri tadi." Sakura bisa melihat rona merah muncul di kedua pipi cowok di depannya, membuat Sakura tak bisa menahan tawanya lagi.

"Sama sekali tidak!"

"Kau senang?" Lee menatap gadis yang tertawa di depannya sambil tersenyum—bukan nyengir seperti sebelumnya.

Sakura mengangguk. "Terimakasih sudah mengajakku ke prom, Lee. Ini sangat menyenangkan."

Mendengar jawaban Sakura, Lee tersenyum-senyum sendiri sambil melihat ke arah lain. Seperti tidak tahu harus berkata apa untuk menanggapinya, sebelum ia kemudian mengajak Sakura ke meja kosong—bukan meja mereka yang sebelumnya, melainkan meja di sisi lain aula. Agak jauh dari lantai dansa yang riuh rendah.

"Sebenarnya ada yang ingin kukatakan padamu," kata Lee ketika mereka sudah duduk nyaman. Cowok itu menggeser kursinya sehingga ia duduk menghadap langsung pada Sakura yang menatapnya dengan penasaran.

"A—Apa itu?" tanya Sakura, mendadak gugup melihat sikap Lee yang mendadak tampak serius.

Selama beberapa saat Lee tidak kunjung bersuara. Ia seperti ragu-ragu, meskipun mata bundarnya terus menatap Sakura—membuat gadis itu salah tingkah. Sakura mengerjap, ketika Lee tiba-tiba berdiri lagi, menyingkirkan bangkunya ke pinggir dan berlutut tepat di depannya duduk. Tangan cowok itu meraih tangannya, menggenggamnya dengan mantap.

"Be my girl, Sakura."

Seketika kedua mata hijau Sakura membulat demi mendengarkan permohonan Lee barusan.

"EEH!"

.

.

"SASUKE!"

Sasuke nyaris terjungkal ke mangkuk punch ketika seseorang tiba-tiba saja menyerangnya dari belakang, memberinya rangkulan sebelah lengan yang meremukkan tulang.

"Naruto…" Sasuke menggeram jengkel, menggertakkan gigi sambil membelalak pada sahabat oranye-nya, "Bisa-lebih-beradab-sedikit-tidak?"

Yang diajak bicara malah memamerkan cengiran lebar tanpa dosa, sama sekali tak memedulikan protes Sasuke. "Turun jabatan jadi penyendok punch, eh?" ledeknya terkekeh-kekeh, melepaskan rangkulannya. Tangannya meraih sebuah gelas kosong dan menyorongkannya pada Sasuke. "Mau dong. Haus, nih…"

"Ambil sendiri!" bentak Sasuke.

Naruto memonyong-monyongkan bibirnya, berlagak sebal, sebelum mengambil centong dari bibir mangkuk kristal berukuran besar itu dan menuang cairan benik merah muda itu ke dalam gelas untuknya sendiri. "Hei, tadi kau lihat Lee tidak?" tanya Naruto kemudian, nyengir lebar mengingat kehebohan yang sempat terjadi di lantai dansa beberapa saat yang lalu. "Heboh sekali dia."

"Hn." Sasuke menghirup minumannya, berusaha terdengar tidak terlalu peduli pada apa yang dikatakan Naruto berikutnya,

"Sakura juga kelihatan gembira sekali. Kau tadi melihatnya melakukan ini?" Naruto membuat gerakan menggelikan dengan pinggulnya. "Lalu seperti ini?" kali ini diikuti sebelah tangannya yang memutar-mutar di udara—memancing kikikan dari gadis-gadis kelas tiga yang berdiri tak jauh dari mereka.

Sasuke mau tak mau mendengus. "Sakura tidak melakukan gerakan konyol seperti itu," gerutunya.

Naruto terbahak. "HA! Sudah kuduga! Kau memperhatikan Sakura dari tadi!"

"Idiot!" Sasuke menggerundel, mengangkat gelasnya ke bibir untuk menutupi wajahnya yang menghangat mendengar tuduhan Naruto yang tepat sasaran.

"Sepertinya ada yang seru di sini, teman-teman?" Sai bergabung bersama mereka tak lama kemudian. Topengnya sudah ditarik lagi ke belakang rambut hitamnya yang mencuat berantakan. Cowok itu mengambil gelas kosong dan mengisinya dengan minuman banyak-banyak.

"Oh, iya!" Naruto langsung menyambar seraya mengerling Sasuke, "Tadi kau lihat cewek cantik yang pakai gaun hijau? Yang datang dengan Rock Lee tadi? Sasuke naksir dia."

Sasuke langsung memelototi Naruto—yang tentu saja diabaikan oleh yang bersangkutan. Sementara Sai terkekeh kecil.

"Aku tidak tahu kau suka melirik gadis orang lain, Sasuke," komentarnya. "Dirty… dirty…"

"Terus saja ngomong sesuka hati kalian!" desis Sasuke jengkel. Ia mengenggak habis minumannya, membanting gelasnya ke meja dan baru saja hendak pergi ketika Naruto menahannya.

"Mau kemana kau?" katanya, masih terkekeh-kekeh, lalu merangkulkan lengannya yang bebas gelas punch sekali lagi ke sekeliling bahu sahabatnya, "Kami kan cuma bergurau. BER-GU-RA-U, Sasuke… ya, ampun…"

"Hn." Sasuke menepis kasar tangan Naruto dari bahunya.

Sai menghela napas sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kau benar-benar tidak punya selera humor, Sasuke. Bukankah kau sudah berjanji tidak akan marah-marah?"

"Yeah, aku memang berjanji tidak akan marah-marah pada Sakura," gerutu Sasuke, memelototi keduanya, "Tapi tidak pada dua idiot seperti kalian yang bisanya hanya membuat orang jengkel."

"Ouch!" Naruto mencengkeram bagian depan rompinya, memasang tampang seolah-olah Sasuke baru saja menyakiti hatinya—meskipun tentu saja, ia melakukannya sambil nyengir.

"Kalau begitu maafkan kami, Yang Mulia," Sai mengangkat gelasnya, seraya memamerkan senyumnya yang terbukti bisa meluluhkan hati gadis-gadis, tapi tidak dengan Sasuke—Sasuke kan bukan gadis.

"Hn. Terserah."

"Astaganaga… Bersantailah sedikit, Sasuke…" Naruto menghela napas dengan dramatis, lalu mengambil gelas Sasuke yang kosong di atas meja sebelum mengisinya kembali dengan punch. "Nikmati saja acaranya. Kapan lagi kita bisa melihat cewek-cewek berdandan cantik begini, eh? Apalagi mereka semua tidak bisa melepaskan mata mereka darimu."

"Betul. Mengajak salah satu dari mereka berdansa tidak akan menyakitimu, Sasuke," saran Sai baik hati.

"Seperti Sai yang lengket terus dengan Sasame—omong-omong," Naruto beralih pada Sai kali ini, memandangnya penasaran, "Memangnya kalian berdua sudah jadian?"

Sai tidak langsung menjawab, hanya tersenyum penuh arti seraya melirik panggung di mana Sasame dan bandnya yang terdiri dari para gadis bergaun bermain menggantikan band sebelumnya. "Bagaimana menurut kalian? Dia cantik, kan?"

Sementara itu, Sasuke yang sama sekali tidak menaruh minat pada pembicaraan Naruto dan Sai, menolehkan kepala ke arah meja di mana Sakura dan Lee duduk. Kedua alisnya terangkat tinggi melihat pemandangan baru itu—Lee yang berlutut di depan Sakura yang tampak panik, menggenggam kedua tangannya.

.

.

Sakura begitu terkejut dengan penembakan mendadak yang dialamatkan padanya oleh Lee sampai-sampai tak bisa berkata-kata selama beberapa saat. Gadis itu sama sekali tidak menyangka dirinya akan menghadapi ini sekarang. Ia bahkan tidak pernah berpikir Lee mungkin menyukainya sungguhan—sampai barusan—Selama ini ia hanya berpikir Lee mengajaknya ke prom karena cowok itu tidak menemukan gadis yang bersedia pergi dengannya.

"…Aku tahu aku tidak sepintar Neji, atau setampan Sasuke, atau sepopuler Temujin. Tapi aku sungguh-sungguh menyukai Sakura dengan segenap jiwa raga…"

"Er…"

"…Kalau Sakura bersedia berkencan denganku, aku berjanji akan melindungi Sakura dengan nyawaku! Aku tidak akan membuat Sakura menangis. Janji tidak akan kurang ajar…"

"Um…"

"…Aku akan membuatmu tertawa dan aku berjanji Sakura akan menjadi gadis yang paling bahagia di muka bumi!"

"Itu…"

"…Maka dari itu," Lee berhenti sejenak untuk mengambil napas, menatap Sakura dalam-dalam, "Maukah kau menjadi pacarku, Sakura?"

Sakura memandang berkeliling dengan cemas dan benar saja, anak-anak mulai memandangi mereka. Tentu saja, posisi Lee yang berlutut dan menggenggam tangannya telah memancing rasa penasaran. Sakura sangat bersyukur musik yang berdentum-dentum keras membuat suara Lee sedikit teredam. Tapi tetap saja ini membuat Sakura luar biasa malu sampai-sampai berharap ia bisa lenyap dari sana saat itu juga.

"Bagaimana?"

Suara Lee kembali menyentaknya. Sakura kembali menunduk memandang cowok yang berlutut di depannya dan mendapati kecemasan yang mulai menggelayut di wajahnya. Sakura menggigit bibir, tidak tahu harus berkata apa. Lee sudah memperlakukannya dengan sangat baik, mengajaknya ke prom, membuatnya tertawa, mentraktirnya makan… Sakura sama sekali tidak ingin mengacaukan pertemanan yang baru saja terbentuk—dan tentu saja ia tidak mau menyakiti hati Lee. Tapi ia juga tidak ingin membohongi cowok itu tentang perasaannya.

Setelah beberapa saat yang rasanya lama sekali—dan setelah beberapa tarikan napas untuk menenangkan sarafnya—akhirnya Sakura berkata pelan dengan nada penuh penyesalan, "Maafkan aku, Lee… Aku… tidak bisa."

Keheningan kembali menyusup menyusul jawaban yang meluncur dari bibir Sakura. Jeda lama yang membuat Sakura semakin tidak nyaman. Dan ekspresi terpukul yang terpampang di wajah Lee tidak membuatnya merasa lebih baik. Rasanya seperti merampas sesuatu yang sangat berharga milik orang lain.

"Lee?"

Genggaman Lee pada tangannya melonggar dan cowok itu menundukkan kepalanya. Sakura merasa sangat tidak enak.

"Aku benar-benar minta maaf, Lee. Tapi kita masih bisa berteman, kan?" kata Sakura cemas, "Aku sangat menghargai niat baikmu, tapi aku benar-benar tidak bisa—" Ya, ampun… apa yang harus kulakukan?

"Sudah kuduga," kata Lee, akhirnya mengangkat kembali wajahnya yang tersenyum—barangkali dimaksudkannya sebagai senyum tegar. Tetapi bagi Sakura, ia terlihat seperti sedang sakit gigi—"Tidak apa-apa, Sakura. Aku mengerti."

"Maafkan aku…" ucap Sakura, sepenuh hati menyesal.

Lee mengeluarkan tawa kaku. Yah, sebenarnya ia sudah memperkirakan jawaban gadis itu sejak awal dan ia juga sudah mempersiapkan diri mendengarnya—tapi tetap saja… penolakan itu menyakitkan. "Tidak ada paksaan kok, tenang saja." –Padahal ia sedang berjuang keras agar air matanya tidak membanjir keluar seperti aliran sungai. "Setidaknya aku sudah mengatakan semuanya padamu."

Mau tak mau Sakura ikut tersenyum mendengar perkataan itu. Rasanya seperti déjà vu, ketika dirinya sendiri mengungkapkan perasaannya pada Neji beberapa bulan yang lalu, membuatnya bisa memahami apa yang dirasakan Lee sekarang. Gadis itu lantas mengangguk. "Terimakasih juga sudah menyukaiku, Lee. Kau baik sekali."

"Yah… aku memang begitu. Ha ha ha… uh…" Sakura lega sekali ketika Lee akhirnya bangun dari posisi berlututnya. "Hei, kau pasti haus setelah berdansa tadi. Mau kuambilkan minuman?"

Sakura mengangguk, mengawasi Lee yang langsung berbalik pergi menuju meja kudapan—dan terkejut ketika mendapati Sasuke tengah menatap ke arahnya. Sakura cepat-cepat berpaling ke arah lain, berpura-pura tidak menyadarinya, meskipun mendadak ia menjadi sangat cemas… Hei! Memangnya apa yang harus ia cemaskan?

.

.

"OI, LEE!" Naruto berseru riang menyapa Lee saat melihat seniornya itu mendekat. "Bersenang-senang, eh? Aksimu tadi keren banget!"

Lee memandang Naruto, tampak bingung seolah ia heran mengapa Naruto bisa ada di sana, sebelum kemudian berpaling untuk mengambil gelas kosong dan mengisinya dengan minuman tanpa mengatakan apa pun.

Melihat reaksi Lee yang tidak seperti biasanya—Lee yang biasa pasti akan langsung menjawab sapaannya—Naruto mengerutkan kening. "Hei, kau kenapa, Lee? Mukamu kusut begitu. Baru saja kehilangan semangat masa mudamu, eh?"—perkataan Naruto dimaksudkan untuk bergurau, tapi tampaknya Lee bahkan tidak mendengarkannya.

Naruto bertukar pandang bingung dengan Sasuke dan Sai. Sai mengangkat bahunya, sementara Sasuke tidak bereaksi apa pun kecuali menatap Lee yang sibuk menyendok minuman dengan mata disipitkan. Ekspresi wajahnya terlihat merana sekali.

"Lee, kau baik-baik saja?" Naruto kemudian maju, menepuk bahu Lee—dan langsung terkejut melihat tampang kacau kakak kelasnya tersebut—"Astaga! Kau kenapa, sih?"

"Oh—ti-tidak apa-apa, Naruto," sahut Lee seraya menyeka matanya—yang kemudian Naruto sadari, basah—dan memaksakan senyum, "Aku hanya… um… sedih membayangkan akan meninggalkan sekolah ini." Lee memandang berkeliling, "Terlalu banyak kenangan, kau tahu…"

Naruto meringis, merasa tidak nyaman melihat Lee yang biasanya penuh semangat mendadak menjadi sangat melankolis. "Yeah… tapi kurasa kau tidak perlu menangis begitu. Kau kan bisa datang kemari kapan saja kau mau."

"Uh…" Lee tertawa kaku, "Kurasa kau benar—Dan aku tidak menangis, Naruto," tambahnya, jelas-jelas berbohong.

"Sepertinya ada sesuatu yang terjadi antara dia dan Sakura," bisik Sai pelan, sehingga hanya Sasuke saja yang bisa mendengarnya. "Dan itu bukan sesuatu yang bagus." –Ia memandang Sakura di seberang ruangan yang tampak tengah termangu sendirian.

Sasuke hanya menanggapi dengan mengangkat bahunya, berlagak tidak peduli, meski matanya terus mengawasi Lee. Termasuk ketika beberapa cowok kelas tiga menghampirinya dan mereka mulai saling berbicara dengan suara rendah. Tampak salah satu dari mereka—Temujin—menggeleng-gelengkan kepala dan menepuk bahu Lee dengan sikap bersimpati. Tak lama kemudian mereka pun pergi dari tempat itu.

"Well, aku tidak terlalu yakin apa yang terjadi," kata Naruto pada kedua sahabatnya sambil menghela napas, "Tapi sepertinya Lee baru saja ditolak oleh teman kita."

.

.

Sakura segera bangkit dari duduknya begitu Lee kembali, menyambut cowok itu dengan senyum manis, merasa sangat lega saat melihat ekspresi Lee yang sudah kembali ceria—meskipun belum sepenuhnya.

"Maaf menunggu lama," ucap Lee, mengangsurkan gelas minuman kedua yang diambilnya untuk Sakura malam itu. "Tadi mengobrol dengan bocah-bocah itu dulu," tambahnya sambil mengerling teman-temannya yang menunggu tak jauh dari sana—di dekat pintu aula.

Sakura mengangguk mengerti, mengambil gelas yang diulurkan padanya seraya mengucapkan terimakasih.

"Kalau kau tidak keberatan, aku harus pergi sekarang," kata Lee, "Ada sesuatu yang harus kulakukan dengan mereka."

Sekali lagi Sakura hanya mengangguk untuk menunjukkan ia tidak keberatan.

"Er… Maaf kalau sudah membuatmu tidak nyaman, Sakura," ujarnya lagi, membuat gerakan canggung dengan tangannya, meringis. "Aku…" Lee seperti akan mengatakan sesuatu, tetapi mendadak berubah pikiran. "Ah, sudahlah. Sebaiknya aku pergi sekarang." Lee berbalik. Namun baru beberapa langkah menjauh, cowok itu berbalik lagi. "Hei, kau tidak akan kemana-mana setelah ini, kan?"

"I—iya…" Sakura menjawab bingung.

Senyum Lee melebar. "Baguslah. Aku ingin menunjukkan sesuatu yang seru padamu setelah pengumuman Prom Queen & King. Ah, dan aku akan mengantarmu pulang nanti—aku sudah janji pada ibumu. Oke?"

"Aku mengerti," sahut Sakura—walaupun tidak sepenuhnya mengerti di bagian 'ingin menunjukkan sesuatu' itu. Memangnya apa yang ingin diperlihatkan Lee padanya? Masa sih cowok itu masih akan memberikan kejutan lagi setelah penolakan yang diterimanya beberapa saat yang lalu?

Setelah memberinya cengiran terakhir, cowok berambut bob itu bergegas bergabung dengan teman-temannya dan menghilang di pintu.

Lama setelah Lee pergi, Sakura hanya duduk di sana dengan gelas punch yang masih penuh tergenggam di kedua tangannya. Matanya memandangi lantai dansa yang dipenuhi anak-anak, tengah memikirkan apa yang baru saja terjadi ketika seraut wajah kecokelatan dengan dua bola mata biru cerah tiba-tiba memblokir pandangannya, membuatnya terlonjak kaget.

"Eep! Naruto!" Sakura memekik kaget, refleks melayangkan sebelah tangannya yang bebas, memberi sahabatnya pukulan main-main di bahu. "Kau mengagetkanku!" tambahnya mencela.

Naruto tertawa kecil, lalu menarik sebuah bangku kosong ke depan Sakura sebelum kemudian mendudukinya dengan posisi terbalik—sehingga ia duduk dengan sandaran kursi di depan dadanya—"Sori, sori. Habis, kau malah bengong saja di sini. Kenapa tidak bergabung dengan kami saja, hm?"

Sakura menghela napas panjang sambil memandang ke seberang aula, di mana Sasuke dan Sai duduk di meja yang tadinya ditempati Lee dan teman-temannya. Mereka berdua tidak sendiri. Seperti ada semacam perkumpulan anak-anak kelas dua di sana. Sakura agak terkejut melihat Ino juga duduk di sana, tampak tidak keberatan dengan kehadiran Sai—begitu pula sebaliknya—dan malah terlihat mengobrol agak akrab dengan—Sakura mengangkat alis melihat ini—Shino Aburame. Ia juga melihat Kiba, Hinata, Shiho, Chouji, Shikamaru, Zaku dan beberapa anak-anak komite yang seangkatan dengannya.

"Nanti aku pasti akan bergabung dengan kalian," kata Sakura kemudian, kembali memandang Naruto, "Hanya ingin menenangkan diri sebentar."

"Hmm…" Naruto bergumam. Ia menopang dagunya dengan tangan yang disandarkan pada sandaran bangku, memandang Sakura dengan seulas senyum kecil menghiasi bibirnya. "Hei, apa kau mau cerita tentang apa yang terjadi padamu dan Lee tadi?"

"Eeh? Apa maksudmu, Naruto?" Sakura berpura-pura tak mengerti, sementara ia merasakan darah mengalir ke wajahnya.

"Um…" Naruto pura-pura berpikir, sebelum berkata, "Aku, Sai dan Sasuke kebetulan tahu sesuatu yang mungkin mengganggumu. Yah… aku hanya ingin mendengarnya sendiri dari mulutmu, Sakura. Lagipula…" cowok pirang itu mengerling teman-temannya di seberang sejenak, "Aku merasa Sai dan Sasuke selalu menyabotase dirimu—maksudku, kau selalu bisa curhat dengan mereka sementara aku hampir selalu mengetahui masalahmu dari orang kedua. Itu sangat menyebalkan, tahu…" Ia menghela napas, "Aku kan juga ingin kau curhati. Siapa tahu aku bisa membantu, walaupun hanya meminjamkan kuping."

Sakura tidak tahan tidak tertawa mendengar kata-kata Naruto, dan saat berikutnya ia sudah mengulurkan sebelah tangannya yang bebas, mencubit pipi cowok itu dengan gemas, membuatnya mengaduh kesakitan.

"Masih saja mengeluh soal itu. Memangnya kau tidak merasa malah dirimu yang sering kami sabotase? Sai selalu curhat padamu—dia sendiri yang bilang—dan Sasuke juga, lalu aku. Apa kupingmu itu tidak terlalu lelah dipakai mendengarkan ocehan kami?"

"Ah, itu…" Naruto nyengir, menggosok-gosok pipinya yang memerah akibat cubitan ganas Sakura, "Kalau itu bisa membuat sahabat-sahabatku merasa lebih lega, kenapa tidak? Itu gunanya seorang teman, kan? Ayo, sekarang waktunya curhat! Dan setelah itu kau tidak boleh bengong saja di sini—kau kan tidak datang ke prom untuk bengong!"

Sakura menatap sahabatnya dengan gemas, gatal sekali ingin menghadiahi jitakan pada kepalanya yang terlampau keras itu. Tetapi dalam waktu bersamaan, ia ingin sekali memeluknya karena telah bersikap begitu manis. Rasanya seperti punya kakak laki-laki yang sangat perhatian.

Dan tak lama setelah itu, kata-kata Sakura sudah mengalir seperti keran bocor. Semuanya yang mengganggu pikirannya tertumpah keluar: tentang pernyataan cinta Lee yang membuatnya tak nyaman, juga tentang kekhawatirannya pada Sasuke yang mungkin marah padanya—meskipun ia kebingungan menjelaskan pada Naruto apa yang mungkin menyebabkan Sasuke bisa marah padanya.

.

.

Tak ada hal lain yang lebih menyenangkan saat prom kecuali melewatkan waktu bersama teman-teman—setidaknya bagi mereka yang tidak punya pasangan, tentu saja. Seperti serombongan anak-anak kelas dua yang duduk di meja di sudut. Membuat keributan dengan tawa keras, sementara salah dua dari mereka—Naruto dan Kiba—saling melempar ledekan yang agak keterlaluan satu sama lain. Juga melibatkan kekonyolan lain seperti permainan adu minum—tentu saja bukan menggunakan minuman keras—yang berakhir dengan Sai, Zaku dan seorang cewek kabur ke kamar kecil dengan kandung kemih penuh dan permainan dare or dare—karena tidak ada yang mau memilih truth—yang bertanggung jawab atas meledaknya sebagian besar tawa para remaja itu.

Bahkan Sasuke pun tampak agak gembira—terlihat menyeringai dari waktu ke waktu. Entah karena efek permainan yang sebelumnya ia sebut sangat kekanak-kanakan, ataukah karena Sakura yang duduk di sampingnya, tertawa lepas.

"Jadi, Sasuke," kata Sakura, tiba-tiba mengalihkan perhatiannya sementara yang lain dan menoleh ingin tahu pada cowok yang duduk di sebelahnya, "Naruto bilang kau tidak marah padaku."

Sasuke mengangkat sebelah alisnya, "Memangnya kenapa aku harus marah padamu?"

"Aku tidak tahu. Um…" Sakura mengerutkan dahi, berlagak sedang berpikir keras, "Mungkin karena aku tidak memberitahumu akan datang ke prom—atau karena aku pergi dengan Lee?"

"Jangan konyol, Sakura," Sasuke mendengus kecil.

"Kalau begitu kenapa kau nyaris tidak bicara padaku sepanjang malam?" tuntut Sakura, entah mengapa merasa sebal dengan tanggapan Sasuke yang dingin-dingin saja. Padahal tadi ia sudah cemas setengah mati. "Dan kenapa kau kabur begitu saja waktu melihatku di lobby?"

"Aku tidak kabur karena melihatmu," sahut Sasuke dingin.

"Lalu kenapa?"

"Karena aku lapar."

Jawaban Sasuke kontan membuat Sakura tertawa. Pukulan main-main ia alamatkan pada lengan cowok itu. "Nggak lucu, tahu!"

"Aku tidak sedang melucu," kata Sasuke, menggosok-gosok lengannya yang baru ditimpuk Sakura. Wajahnya sedikit menyeringai. "Atau kau memang mengharap aku kelaparan setelah melewatkan makan siang karena harus mengurusi acara merepotkan ini, eh?"

Sakura tersenyum padanya—lega, "Dasar! Kau membuatku khawatir saja! Kupikir kau marah padaku."

"Hn," gumam Sasuke seraya mengangkat gelas punch-nya ke mulut untuk menutupi seringaiannya.

"Aku diberitahu kau sebenarnya mau mengajakku kemarin, Sasu—"

Sasuke langsung tersedak minumannya. Darah mengalir cepat ke wajahnya, membuatnya bersemu. Beruntung saat itu Sakura tidak melihatnya, karena perhatian gadis itu tersedot oleh sorak-sorai yang mendadak memenuhi seisi aula. Rupanya MC baru saja mengumumkan bahwa hasil pemilihan Prom Queen & King akan segera dibacakan.

Di samping mereka, Sai yang tiba gilirannya bertugas dengan band berikutnya yang mengiringi dansa pertama raja dan ratu, bergegas meminta diri untuk bersiap-siap. Nyaris tidak ada yang memperhatikannya pergi karena terlalu antusias mengira-ngira siapakah anak kelas tiga yang beruntung tahun iniNama Neji Hyuuga, Temujin dan seorang cowok superganteng dari klub basket disebut-sebut menjadi kandidat kuat untuk King, sementara untuk Queen, terlalu banyak kandidat sehingga mereka tidak bisa memutuskan yang mana yang menjadi favorit, kecuali menunggu hasilnya saja.

Setelah beberapa menit menegangkan—dan menyebalkan, mengingat MC dengan sengaja berlama-lama dan menggoda para undangan—akhirnya hasilnya diumumkan. Dan memang tidak meleset terlalu jauh dari perkiraan.

Neji Hyuuga berhasil menyedot perhatian dari para voters-nya, sehingga ia diganjar dengan titel sebagai Prom King—meskipun tampaknya ia tidak terlalu antusias dengan titel barunya dan terlihat nyaris malas-malasan ketika MC memintanya naik ke panggung. Pengumuman Prom Queen jauh lebih mendebarkan, mengingat persaingan antar para gadis untuk mendapatkan gelar itu jauh lebih sengit dibandingkan para cowok yang cenderung tidak pedulian. Benar saja, ketika nama yang sama sekali tak terduga—Yakumo Kurama—disebutkan, berbagai suara bernada kecewa bahkan tangisan terang-terangan terdengar di sana-sini. Meskipun masih tetap ada yang memberikan aplaus sopan sebagai penghargaan.

Yakumo yang sama sekali tidak menyangka akan terpilih, selama beberapa saat hanya duduk di bangkunya sambil melongo. Setidaknya sampai Tenten yang luar biasa gembira untuknya langsung memeluknya sambil memekik-mekik girang. Mata cokelatnya berkaca-kaca karena terharu.

"Itu setimpal, kan?" kata Ino pada Sakura—keduanya berdiri memberikan aplaus pada Yakumo ketika gadis itu berjalan dengan dibantu Tenten menuju panggung—"Aku suka sekali gaunnya dan kurasa yang membuat para cowok menganggapnya menarik adalah semangat hidupnya. Bukankah itu membuatnya terlihat cantik?"

Sakura mengangguk setuju.

Tetapi jelas tidak semua gadis setuju dengan pendapat Ino. Sebagian dari mereka bersungut-sungut bahwa cowok-cowok memilihnya bukan karena Yakumo menarik, melainkan hanya karena kasihan—omong-omong, voters untuk Prom Queen adalah para cowok, sementara Prom King sebaliknya, dari cewek-cewek—Tetapi tidak ada yang peduli, setidaknya para cowok. Mereka tetap bersorak dan bersuit-suit ketika ketua komite—Shiho—yang juga diundang ke panggung, menyematkan tiara di atas scraft yang membungkus kepalanya. Yakumo nyaris menangis ketika Neji dengan lembut membimbingnya turun ke lantai dansa yang sengaja dikosongkan untuk dansa pertama mereka sebagai King & Queen—Tenten malah sudah menangis sejak tadi.

Di atas panggung, Sai yang telah bersiap di belakang piano mulai memainkan nada-nada intro dengan indah sementara seorang cowok dari tim choir sekolah yang menjadi vocalist mulai menyanyikan lirik yang sudah mereka kenal untuk mengiringi Neji dan Yakumo,

"You're in my arms, and all the world is calm
The music playing on for only two
So close together and when I'm with you
So close to feeling alive…"

Segera saja anak-anak lain ikut turun mengisi lantai dansa, sehingga Neji dan Yakumo hanya sebentar menjadi pusat perhatian. Anak-anak penghuni meja kelas dua juga tak mau ketinggalan. Satu demi satu mereka meninggalkan meja. Ino sudah menarik prom-date-nya, Chouji, ke lantai dansa. Naruto mengajak Hinata yang menerimanya dengan malu-malu. Bahkan Shiho telah menemukan keberanian dengan mengajak Shikamaru. Tanpa diduga cowok itu mau saja, walaupun agak malas, membuat Shiho girang bukan main.

Seakan tidak ingin ketinggalan—dan karena tidak ingin keduluan orang lain lagi—Sasuke mengulurkan tangan pada gadis di sebelahnya. "Mau dansa?"

Sakura menoleh padanya, terkejut dengan ajakan yang tiba-tiba ini—tadinya ia mengira Sasuke tidak akan melakukan pergerakan apa pun—Meski begitu ia dengan senang hati menerimanya. Menyambut uluran tangan Sasuke, gadis itu lantas berdiri dari bangkunya dan mengikuti Sasuke menuju lantai dansa yang sudah nyaris penuh.

Sakura mengikuti langkah Sasuke, yang mengejutkan, terlihat luwes dan anggun seakan dansa bukan hal asing baginya. Dengan sebelah tangan memeluk pinggang Sakura, dan sebelah lagi menggenggam tangannya, Sasuke membawa gadis itu berputar pelan bersamanya.

"Aku tidak tahu kau jago dansa, Sasuke," komentar Sakura sambil tersenyum.

"Hn."

Sasuke menarik Sakura lebih rapat ke tubuhnya, berhadap dengan begitu gadis itu akan diam sementara ia mencoba menetralkan degupan jantungnya yang menggila. Kedekatan fisik itu begitu membuatnya gugup, tapi juga terasa sangat menyenangkan. Ia lantas memejamkan mata, menghirup aroma rambut Sakura yang menempel di pipinya sementara mereka berdansa, menikmati saat-saat itu.

Oh, sudah lama sekali ia membayangkan hal seperti ini akan terjadi suatu hari…

"So close to reaching that famous happy end
Almost believing this was not pretend
And now you're beside me and look how far we've come
So far we are so close…"

Mengikuti irama musik, mereka berputar lebih cepat namun masih tetap dalam gerakan yang luwes. Sakura terkikik ketika tak sengaja menabrak pedansa lain di belakangnya dan sedikit mengacaukan gerakan dengan menginjak kaki Sasuke. Namun Sasuke tampaknya tak keberatan. Malah, ia tak bisa menahan senyum mendengar suara tawa Sakura yang terasa dekat.

"Sori…" bisik Sakura, nyengir minta maaf. Wajahnya yang tak tertutup topeng merona merah muda.

"Hn."

Dari atas bahu Sasuke, Sakura melihat Yakumo dan Neji berdansa tak jauh dari mereka—jika itu bisa dibilang sebagai dansa. Karena pada kenyataannya mereka bahkan hampir tidak bergerak. Hanya kedua tangan yang saling memeluk dan mata yang saling menatap dalam keheningan yang mereka ciptakan sendiri. Sakura teringat kata-kata Yakumo beberapa bulan yang lalu di malam api unggun festival sekolah. Saat itu Yakumo meyakinkan bahwa Neji dan Tenten saling menyukai—dan bahwa dirinya hanyalah penghalang di antara mereka.

Namun apa yang dilihatnya sekarang membuatnya ragu. Bagaimana mungkin Neji menatap Yakumo dengan cara seperti itu seandainya cowok itu tidak punya perasaan apa pun padanya? Sementara Tenten—yang kebetulan juga sedang berdansa dengan seorang cowok kelas tiga yang tidak dikenalnya di dekat mereka—tampak berusaha keras tetap ceria. Seperti dirinya yang pernah berjuang mati-matian menyingkirkan perasaannya terhadap Neji.

Seakan tahu apa yang sedang dipandangi Sakura, Sasuke memutar posisi mereka sehingga gadis itu memunggungi Neji dan Yakumo.

"Jangan memandangi mereka," Sasuke berkata pelan.

"Aku tidak memandangi mereka," bantah Sakura, seraya mendongak, menatap Sasuke—dan merasakan perasaan bersalah menyerbu hatinya. Sama seperti Yakumo yang menyukai Neji tapi terhalang oleh persahabatannya dengan Tenten, Sasuke pasti juga merasakan beban yang sama menyakitkan. Namun selama ini Sasuke tetap bersikap baik dan melindunginya.

Saat itu, Sakura merasakan gelombang rasa sayang yang bersar terhadap Sasuke menerpanya.

"Apa?" tanya Sasuke, berusaha terdengar tidak terlalu gugup saat menyadari tatapan Sakura padanya.

"Tidak ada," sahut Sakura pelan, lalu tersenyum.

"Sakura—" gerakan gadis itu berikutnya membuatnya terdiam. Bahkan kakinya pun ikut berhenti melangkah. Sakura telah melepaskan tangannya dari genggaman Sasuke. Sebagai gantinya, sekarang ia mengalungkan kedua lengannya ke leher cowok itu. Praktis memeluknya.

"Maaf…" gadis itu berbisik padanya dengan nada yang entah mengapa terdengar begitu sedih. "Maafkan aku, ya…"

Sasuke berdiri membeku. Sama sekali tidak memahami apa maksud perkataan Sakura. Permintaan maaf untuk apa? Untuk kakinya yang terinjak tadi atau ada hal lain? Namun pada akhirnya Sasuke memutuskan untuk tidak mengambil pusing—apa pun itu, yang terpenting baginya sekarang adalah menikmati saat-saat langka di mana ia bisa berdekatan dengan gadis yang disukainya. Maka Sasuke membiarkan saja ketika gadis itu mengeratkan pelukannya selama beberapa saat, sebelum mereka mulai bergerak lagi.

"We're so close
To reaching that famous happy end
And almost believing this was not pretend
Let's go on dreaming for we know we are
So closeSo close…
And still so far…"

.

.

Lagu berakhir tak lama kemudian, diiringi aplaus dari anak-anak. Namun kemeriahan itu segera diinterupsi oleh suara derit keras seperti pintu tua yang dipaksa dibuka. Anak-anak langsung terdiam, saling pandang dengan bingung ketika suara gemuruh guntur dan lolongan serigala yang entah berasal dari mana terdengar memenuhi aula.

Segera saja terjadi kehebohan ketika serombongan zombie—atau setidaknya, cowok-cowok berkostum zombie—menyeruak kerumunan dan mengosongkan lantai dansa. Saat berikutnya lantai dansa sudah dipenuhi zombie. Anak-anak yang tersingkir ke pinggir lantai dansa langsung menjerit dan bersorak-sorai riuh ketika intro Thriller milik Michael Jackson terdengar dari pengeras suara dan para zombie mulai bergoyang, memperagakan Thriller dance yang terkenal.

Sakura dan teman-temannya tertawa dan bertepuk tangan mengikuti irama, menyemangati para zombie.

"Ya ampun, Sakura!" jerit Ino mengatasi suara bising, seraya menunjuk ke salah satu zombie yang berbaris paling depan. "Itu kan Lee!"

Tidak salah lagi—Sakura tidak tahu apa yang Lee lakukan pada rambutnya, tapi ia bisa mengenali matanya yang bundar. Sakura lantas tertawa tergelak-gelak, sama sekali tidak menyangka sesuatu yang ingin diperlihatkan Lee adalah tarian zombie ini.

"Whoa! Sepertinya dia mati setelah ditolak Sakura dan berubah jadi zombie!" teriak Naruto, tergelak.

"Apa?" Ino menoleh cepat pada Naruto, lalu pada Sakura—yah, ia kan belum tahu Sakura tadi ditembak Lee.

"Nanti kuceritakan!" kata Sakura padanya.

Tak lama kemudian, bukan hanya para zombie yang berjoget. Anak-anak lain pun mulai ikut-ikutan turun berjoget, menyamakan langkah, membuat suara prok-prok-prok bergemuruh ketika langkah mereka serentak menghentak lantai. Naruto dan Kiba bergabung dengan barisan. Naruto berusaha menarik Sasuke ikut, tapi yang bersangkutan menolak mentah-mentah. Menyerah dengan Sasuke, Naruto beralih pada Sakura.

Sakura menarik Ino yang langsung turun tanpa pikir panjang. Ino menarik Hinata, yang meskipun malu-malu dan kesulitan menyamakan langkah ikut larut dalam kehebohan itu. Shiho bergabung dengannya tak lama kemudian. Tenten dan beberapa cewek kelas tiga juga tak ketinggalan di belakang mereka.

Sai yang sudah turun dari panggung, langsung menyambar kameranya dan langsung merekam—tidak ingin kehilangan momen. Kemudian ia dengan iseng mendorong Sasuke ke barisan, dibantu Naruto yang menariknya, memaksanya ikut berjoget sambil tertawa-tawa.

Tak bisa marah pada keisengan sahabat-sahabatnya, Sasuke akhirnya tak bisa menahan dirinya tertawa bersama yang lain. Meskipun rasanya bukan seperti dirinya, tapi ia sangat menikmati kemeriahan itu untuk pertama kalinya.

Baginya, juga bagi ketiga sahabatnya yang lain, malam itu adalah prom pertama yang tak terlupakan.

.

.

TBC…

.

.

Naruto © Kishimoto Masashi

So Close © Jon McLaughlin

Thriller © Michael Jackson