Grab your stuff and lets all go outside
Bang your head to this tune in your ride
Leaving all you cares right behind
For the summertime!
(Summertime – Aaron Carter)
.
.
Konoha – Musim Panas
Hari-hari terakhir yang membosankan di Konoha High akhirnya berlalu juga. Sekarang tiba saatnya hari yang ditunggu-tunggu oleh seluruh siswa yang sudah bosan belajar selama dua semester penuh—apalagi kalau bukan liburan musim panas?
Berbagai rencana yang sudah disusun jauh-jauh hari untuk mengisi liburan sudah tinggal menunggu waktu saja untuk direalisasikan. Pergi ke camp musim panas di wilayah pegunungan yang sejuk, mengunjungi kampung halaman orangtua di pinggir pantai, pelesir ke luar kota bahkan ke luar negeri, atau hanya mengisi dengan bekerja paruh waktu atau menjadi relawan kegiatan sosial… rasanya anak-anak itu sudah tidak sabar lagi.
Dan tentu saja keempat sahabat itu—Naruto, Sasuke, Sakura dan Sai—tak mau ketinggalan larut dalam euforia tersebut. Apa lagi kalau bukan rencana berliburan di Kiri yang sudah mereka godok sejak berbulan-bulan lalu?
.
.
Kegiatan pagi itu terasa biasa saja di kediaman Uchiha bersaudara. Itachi Uchiha yang duduk di belakang meja tampak sibuk membaca kolom bisnis di surat kabar sambil mengunyah roti panggangnya seperti biasa. Secangkir kopi hangat pengepul di atas meja bersama sekotak sari jeruk dengan daging buah—favorit Sasuke—dan sepiring sarapan yang sudah ia siapkan untuk sang adik tercinta. Sementara itu di sudut, anjing retriever mereka, Rufus, asyik mengganyang mangkuk makanannya dengan rakus.
Tak ada yang istimewa. Entah Itachi terlalu cuek atau membiarkan adik sematawayangnya pergi ke luar kota seorang diri adalah hal yang biasa baginya. Yah, walaupun tidak sepenuhnya sendirian juga…
Itachi menurunkan surat kabar yang tengah dibacanya untuk menyesap kopi, tepat ketika terdengar suara langkah kaki menuruni tangga. Sasuke muncul di pintu selang beberapa detik kemudian, menggendong sebuah ransel berukuran besar di bahunya. Berbeda dengan Itachi yang masih mengenakan celana piama dan kaus oblong, adiknya tampak sudah rapi dengan jeans hitam dan kaus lengan panjang berwarna biru tua.
"Bawaanmu hanya itu?" tanya Itachi sebagai pengganti ucapan selamat pagi, mengerling ransel Sasuke yang baru saja mendarat di atas bangku kosong di seberang meja.
"Hn." Sasuke bergerak ke arah rak, mengambil gelas bersih dari sana.
"Kukira akan lebih banyak lagi, mengingat kau heboh sekali mengepak barang-barangmu tadi malam," komentar Itachi seraya mengambil potongan lain roti panggang di atas piring dan mengolesnya dengan mentega. Seringai tipis menghiasi wajahnya teringat kehebohan yang terjadi ketika adiknya berkemas semalaman yang melibatkan telepon yang tak hentinya berdering.
"Aku tidak heboh," gerutu Sasuke sambil duduk, mengisi gelasnya dengan sari jeruk banyak-banyak. Ia masih agak jengkel setiap kali teringat ulah sahabat pirangnya, Naruto Uzumaki, yang terus-terusan meneleponnya sepuluh menit sekali semalam ketika ia sedang sibuk berkemas hanya untuk menanyakan hal-hal sepele—seperti berapa potong pakaian dalam yang akan dibawa sampai apakah sepuluh pak ramen instan cukup untuk persediaan selama sebulan—Padahal Sasuke sudah mematikan ponselnya dengan harapan Naruto akan beralih menggerecoki Sai atau Sakura, tapi rupanya tidak. Naruto malah mendapatkan ide lain untuk membuatnya sebal: menelepon ke telepon rumah.
"Jadi…" Itachi membungkukkan tubuhnya di atas meja, menatap adik lelakinya dengan tatapan tertarik, "Apa kalian berencana mengambil foto Sakura mengenakan bikini nanti, eh?"
Sasuke yang sedang menenggak sari jeruknya langsung tersedak. Wajahnya merona. Naruto juga sempat mengungkit soal bikini itu semalam, membuatnya kesal sekali dan berteriak padanya—"AKU TIDAK AKAN MENGAMBIL FOTO SAKURA PAKAI BIKINI DAN BERHENTI MENGGERECOKIKU TERUS, IDIOT!"—lalu membanting gagang telepon sampai sambungan terputus. Dan sekarang ia menyesalinya karena Itachi yang malam itu tampak asyik berkutat dengan pekerjaannya di ruang keluarga rupanya diam-diam menyimak pembicaraan mereka.
Melihat reaksi adiknya, Itachi terkekeh. "Hei… aku tidak tahu adik kecilku se-pervert itu. Siapa yang mengajarimu—"
"Aku tidak begitu!" potong Sasuke sewot, seraya menyeka mulutnya yang basah dengan punggung tangan.
Masih terkekeh-kekeh, Itachi mengangkat roti panggang yang sudah ia olesi mentega tadi ke mulut lalu menggigitnya. "Well, aku tidak keberatan kalau kau mau melakukannya, Sasuke," katanya dengan mulut penuh.
"Diamlah."
"Aku tidak akan bilang pada ibu," lanjut Itachi, menyeringai tipis. "Itu normal untuk anak laki-laki, kalau kau mau tahu—"
"Yah, ngomong saja terus," Sasuke menggerundel, menusuk sepotong besar omelet tomat buatan Itachi dengan garpu, "Tunggu saja sampai Kak Hana tahu kau menyimpan majalah dewasa itu di kamarmu."
"Hei—" Itachi mendengking, "Aku tidak menyimpan majalah dewasa!"
Sasuke mendengus, jelas-jelas menyatakan ketidakpercayaannya. Melihat itu wajah Itachi langsung menghangat—meskipun, tentu saja, pria muda itu berusaha menutupinya mati-matian dari sang adik yang usil—Bagaimana tidak? Ia tidak mungkin melupakan insiden pembongkaran rahasia yang cukup memalukan oleh Rufus beberapa hari yang lalu.
Anjingnya itu telah tanpa dosa menggondol salah satu majalahnya dari kamar dan menjadikannya pengganti mainan tulang untuk dikunyah ketika Itachi sedang tidak ada di rumah. Alhasil, pria itu kaget setengah mati mendapati lembaran-lembaran yang sudah terkoyak-koyak itu di hampir seluruh penjuru rumah ketika ia pulang—dengan Sasuke yang berpura-pura tidak tahu malah membiarkan semua itu dan enak-enakan mengganyang tomat sambil nonton televisi. Beruntung saat itu Hana tidak sedang mampir ke rumah karena ada kucing malang yang harus ia operasi di kliniknya.
"Deidara yang mengirimiku barang-barang itu," Itachi berkata dalam gerutuan pelan yang nyaris tak terdengar setelah beberapa saat hening.
Sasuke hanya memutar matanya dengan lagak cuek, lalu memasukkan makanan yang sudah dilumuri saus tomat banyak-banyak itu ke mulutnya. Ternyata seorang Itachi Uchiha tidak selamanya menjadi Tuan Jenius yang sempurna—pemikiran itu entah mengapa membuat suasana hati Sasuke menjadi agak riang sepanjang sarapan.
Tak lama kemudian, piring dan gelas di atas meja akhirnya bersih. Sasuke—sebagai adik yang baik, yang sebentar lagi akan meninggalkan kakaknya melewatkan musim panas membosankan berdua saja di Konoha dengan Rufus—segera mengumpulkan peralatan makan kotor itu dan membawanya ke mesin pencuci piring. Tepat saat itu terdengar suara klakson mobil dari depan rumah.
"Mungkin itu taksimu," kata Itachi seraya melongok dari jendela dapur. Dan benar saja, taksi berwarna kuning yang dipesan Itachi untuk adiknya sudah menunggu di depan rumah. Sebenarnya ia sendiri ingin mengantar Sasuke sampai ke stasiun, hanya saja saat itu mobilnya sedang masuk bengkel.
Sasuke mengeringkan tangannya, mengambil ransel dan bergegas ke depan rumah, disusul sang kakak di belakangnya.
"Hati-hati," Itachi berpesan selayaknya seorang kakak yang baik, ketika Sasuke sedang mengikat tali sepatunya.
"Hn." Sasuke menegakkan diri, mengangkat ransel besarnya di pundak.
"Hn. Jangan lupa ini—" Itachi mengangsurkan bungkusan kecil kertas berisi obat yang baru dibeli di apotek hari sebelumnya pada Sasuke sebelum adiknya itu melangkah menuruni undakan. "Untuk jaga-jaga."
"Apa ini?" Sasuke mengambil bungkusan itu, penasaran.
"Obat untuk mabuk perjalanan," jelas Itachi, "Naik ferry bisa membuatmu mual kalau kau belum terbiasa—kau kan belum pernah naik ferry."
Sekedar informasi, Kiri memang terletak di seberang pulau. Itu artinya kau harus naik ferry setidaknya enam sampai tujuh jam setelah menempuh perjalanan dengan kereta sebelumnya. Dan perjalanan dari pelabuhan Kiri sampai ke tempat tujuan mereka juga memakan waktu dua jam. Jika diperkirakan keberangkatan kereta pertama mereka pukul sembilan, mereka akan sampai tepat tengah malam nanti.
"Trims," ucap Sasuke sekenanya, menyelipkan bungkusan itu ke dalam salah satu kantung ransel yang bisa dijangkaunya.
"Hn. Salamkan untuk calon adik iparku, ya!"
Mendengar itu, Sasuke nyaris terjungkal dari undakan. Namun dengan cepat cowok itu mengendalikan diri dan kembali menoleh ke belakang untuk memberi sang kakak death glare andalannya—yang sama sekali tak berhasil. Itachi masih memasang senyum santai di wajahnya sambil melambaikan tangan padanya. Mendengus, Sasuke lantas kembali berbalik dan melanjutkan menuruni undakan menuju taksi.
Diam-diam sudut bibirnya berkedut. Meskipun sangat menyebalkan setiap kali Itachi menggodanya tentang gadis yang tengah ditaksirnya itu, tapi tetap saja Sasuke tak bisa menahan geliat kegairahan di dasar perutnya. Karena itu baginya berarti bentuk dukungan dari sang kakak untuk benar-benar menjadikan Sakura calon adik iparnya—jika ia cukup beruntung.
Sasuke hampir mencapai pintu taksi ketika terdengar suara salakan anjing dari arah rumah. Rufus baru saja menerobos pintu melewati Itachi, melompati undakan dan berlari mengejar tuan mudanya. Sambil menggoyang-goyangkan ekornya, retriever berbulu cokelat keemasan itu menyalak lagi, mencoba menarik perhatian Sasuke ketika ia sedang membuka pintu belakang taksi dengan menubruk bokong cowok itu dengan dua kaki depannya.
"Oi, Ruf!" Sasuke berseru kaget pada anjingnya yang kelewat antusias.
Rufus melompat sambil menyalak-nyalak girang, berusaha menggaruk saku celana Sasuke seakan ingin mengambil apa pun yang disimpan sang tuan di sana—dan itu mengingatkan Sasuke akan sesuatu yang nyaris saja terlupa.
"Dasar anjing licik," gumam Sasuke sambil berbalik menghadap Rufus, membungkuk untuk menggaruk leher penuh bulu—ia tak bisa menahan seringainya ketika menyadari maksud si anjing, "Kau tidak mau membiarkanku pergi tanpa memberikan itu pada tuanmu, eh?"
Seolah mengerti, Rufus menyalak. Ekornya yang berbulu cokelat keemasan bergoyang riang.
"Hn." Sasuke menghela napas, mendongak memandang Itachi yang sudah menuruni undakan dan sedang berjalan ke arahnya dengan kaki telanjang.
"Kemari, Rufus. Nanti Sasuke bisa terlambat kalau kau—Eh?" Kedua alis Itachi naik saat mendapati Sasuke mendekatinya melewati Rufus dan menyorongkan bungkusan kecil yang baru saja ia keluarkan dari dalam saku celananya. "Apa—"
"Hadiah ulangtahunmu," sela Sasuke tanpa benar-benar memandang sang kakak. Walaupun mereka sangat dekat sebagai kakak-adik, Sasuke tidak terbiasa bersikap manis pada Itachi—dan melakukan hal-hal yang oh-so-sweet seperti memberikan kado ulangtahun, walaupun agak terlambat, membuatnya canggung. "Selamat… er… bertambah tua."
Seulas senyum simpul membayang di wajah pria yang lebih tua hampir enam tahun dari Sasuke itu, sebelum kemudian mengalungkan sebelah lengannya di leher sang adik, memitingnya. "Kukira kau sama sekali melupakan ulangtahunku, Sasuke!" Itachi mengacak-acak rambut Sasuke dengan penuh sayang.
"Kakak—Lepas—" Sasuke memberontak, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Itachi. Namun rupanya Itachi belum berniat melepaskannya—setidaknya sebelum ia berhasil mendaratkan ciuman di rambut Sasuke yang beraroma-bersih-habis-dikeramas itu. "EEW!"
Menyeringai lebar, akhirnya Itachi melepaskan Sasuke yang langsung merapikan kembali rambutnya yang awut-awutan setelah serangan mendadak barusan. Entah sejak kapan kado kecil yang tadinya masih berada di tangan Sasuke sudah berpindah tangan padanya. "Trims, Sasuke," ucapnya, menggoyang-goyangkan kadonya di udara.
Sasuke membalasnya dengan belalakan sebal. "Sebaiknya kau jaga itu baik-baik. Kado itu sangat mahal."
"Iya, iya…" Itachi terkekeh kecil. "Akan kujaga baik-baik."
"Hn." Sasuke lantas berbalik kembali menuju taksi yang sudah menunggunya—dengan sang supir yang sudah memasang tampang tak sabaran—berhenti sebentar ketika melewati Rufus untuk membelai kepala anjing itu—"Baik-baik di rumah, Ruf. Jagakan kakek itu untukku."
"Aku dengar itu, Sasuke Uchiha!" –Sasuke mengabaikan protes kakaknya.
Woof!
"Good boy..."
"Ke mana, Tuan?" tanya si supir dengan suara beratnya setelah Sasuke sudah duduk dengan nyaman di bangku belakang taksi.
"Stasiun Konoha," Sasuke menyahut, seraya mengerling jam tangan digital yang melingkari pergelangan tangan kirinya. Masih ada empat puluh lima menit lagi. "Tapi sebelumnya kita ke Fox dulu."
"Baik."
Sasuke kembali menoleh ke luar jendela sesaat sebelum taksi yang ditumpanginya bergerak perlahan meninggalkan rumah nomor sembilan, melihat Itachi melambaikan tangan padanya dengan Rufus di sebelahnya. Seulas senyum terbentuk di bibir Sasuke diam-diam, berharap kakaknya akan menyukai hadiahnya—mengingat selama tujuhbelas tahun hidupnya ia nyaris belum pernah benar-benar memberikan sesuatu pada sang kakak kecuali selalu merepotkannya.
Sebuah getaran kecil yang berasal saku jeans-nya membuyarkan lamunan cowok itu. Sasuke berpaling dari jendela dan mengambil ponselnya. Sebuah senyum tipis mengambang di wajahnya ketika ia membaca nama yang tertera di layarnya.
Sakura calling…
.
.
Sementara itu, suasana yang agak berbeda terasa di ruang makan kediaman Shimura di Root Hills. Dua orang pria berbeda generasi duduk di depan sebuah meja makan panjang, menikmati sarapan mereka tanpa bicara. Yang terdengar hanya suara denting halus pisau dan garpu yang beradu dengan piring porselen mahal. Sementara seorang pria paruh baya yang merupakan kepala pelayan di rumah itu berdiri bak patung di sudut, menunggu kalau-kalau salah satu tuannya membutuhkan bantuannya menuang air atau teh.
Suasana hening tersebut berlangsung beberapa saat, sebelum akhirnya sang tuan besar, Danzou Shimura, meletakkan pisau dan garpu di atas piring, mengelap bibirnya yang keriput dengan serbet dan memecah keheningan dengan bertanya pada cucunya, "Pukul berapa keretamu akan berangkat, Sai?"
Sai Shimura mengambil waktu mengunyah roti panggang dan menelannya sebelum menjawab dengan nada sopan, "Pukul sembilan."
"Hmm…" Pria tua itu mendesah pelan, mengambil cangkir tehnya dan menyesap isinya perlahan.
Hening lagi. Sembari melanjutkan sarapannya, Sai diam-diam mengawasi sang kakek. Sejak ia membicarakan rencana liburan musim panasnya pada Danzou beberapa minggu yang lalu, kakeknya itu tampaknya masih belum benar-benar setuju. Bagi sang kakek, rencana itu tidak aman dan terlalu beresiko—dengan kata lain, tidak sesuai standarnya. Pria itu bahkan menawarkan akan membiayai semua akomodasi liburan mereka, mulai dari biaya transportasi yang terjamin dan biaya menginap di hotel berbintang. Tetapi Sai menolaknya. Ia sudah bisa menduga bagaimana reaksi ketiga sahabatnya jika mereka mendengar usulan sang kakek—mereka pasti akan menolak—dan Sai tidak ingin repot-repot membuat mereka tersinggung.
Keberuntungan berada di pihaknya ketika akhirnya Danzou setuju dan mengizinkannya berbuat sesuai keinginannya, tentu saja setelah melalui beberapa sesi perdebatan yang cukup alot. Meski begitu tetap saja Sai masih merasa was-was kakeknya itu bisa berubah pikiran sewaktu-waktu, dan kembali pada sikap otoriternya yang lama dengan memaksanya mengikuti semua kemauannya. Bisa repot nanti.
Selang beberapa lama, Danzou menurunkan cangkirnya kembali ke atas meja. "Salah satualumnus sekolah kita akan melakukan debut di Kiri. Kuharap kau bisa menghadiri pertunjukkannya mewakiliku, Nak."
"Baik, Kakek," jawab Sai lega. Tadinya ia sempat mengira kakeknya akan mencoba membujuknya lagi.
Danzou menghela napas berat. "Aku tidak percaya kau bahkan lebih keras kepala dibandingkan mendiang kakakmu, Sai."
Sai tersenyum kecil. "Kakek tidak perlu terlalu mengkhawatirkanku. Aku dan teman-temanku sudah cukup besar. Kami bisa menjaga diri."
"Sebaiknya begitu." Danzou lalu beranjak dengan susah payah. Pelayan bergegas maju untuk menarikkan bangkunya. "Kakek sudah minta supir mengantarmu sampai stasiun, jadi kau tidak perlu memesan taksi." Ia diam sejenak, menatap cucu sematawayangnya dengan kedua mata hitamnya yang sudah dipenuhi kerut sebelum berkata, "Berhati-hatilah di Kiri."
"Aku mengerti." Sai mengawasi kakeknya berjalan dengan bertumpu pada tongkatnya menuju ruang kerjanya. Mendadak ia menyadari betapa ringkihnya pria yang dulu selalu ditakutinya itu. Sejak hubungannya dengan sang kakek membaik pasca terapinya dengan dokter Yakushi, Sai semakin merasa bahwa Danzou Shimura bukan seperti orang yang selama ini ia pikirkan.
Di balik reputasinya sebagai seniman besar yang terkenal angkuh, Danzou memiliki sisi lain dalam dirinya. Seorang pria kuat yang telah banyak ditempa oleh pahitnya hidup. Ia telah merasakan banyak kehilangan yang menyakitkan. Istrinya—nenek Sai—yang meninggal dalam usia belia saat melahirkan putra pertamanya, ayah Sai. Bertahun-tahun kemudian, selagi bersiap untuk menikmati masa tua dan menurunkan tampuk kekuasaannya di sekolah seni terbesar di Konoha pada putranya yang seorang pianis handal, tiba-tiba saja kecelakaan tragis merenggut putranya tersebut bersama menantunya. Seolah itu belum cukup, beberapa tahun kemudian cucu kesayangannya, Shin, juga meninggal karena sakit.
Maka wajar jika Danzou menjadi sangat protektif terhadap Sai yang kini menjadi pewaris tunggalnya dan memastikan cucunya tersebut tetap berada di jalan yang ia inginkan untuk meneruskan KAA suatu saat nanti. Dan penolakan Sai terhadap harapannya rupanya telah melemahkan pria itu. Adalah keputusan yang sulit ketika ia harus memilih antara sang cucu dan sekolah yang telah menjadi bagian dari hidupnya dan keluarganya. Namun ternyata rasa sayangnya terhadap Sai mengalahkan keinginannya melindungi KAA—pria itu akhirnya mengalah dan memberi kebebasan pada Sai dengan resiko suatu hari KAA mungkin akan jatuh di tangan orang di luar keturunan Shimura.
Sai selalu merasa bersalah setiap kali memikirkan ini. Dan ada kalanya timbul keinginan untuk kembali ke KAA demi Danzou, tapi ia selalu meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia pasti bisa melakukan sesuatu untuk KAA dan sang kakek meskipun ia tidak lagi bersekolah di sana—di samping karena ia sudah terlanjur jatuh hati pada Konoha High sehingga tidak rela meninggalkan sekolah barunya itu.
Dan sekarang rasa bersalah itu muncul lagi. Entah mengapa mendadak menjadi sangat berat bagi Sai meninggalkan kakeknya sendirian di Konoha.
"Kakek!" panggilnya sebelum Danzou benar-benar meninggalkan ruang makan. Sai menyudahi sarapannya dan bergegas beranjak menghampiri sang kakek.
Danzou menghentikan langkah dan menoleh. "Ada apa lagi?"
"Hanya ingin mengantar Kakek ke ruang kerja," Sai meletakkan tangannya dengan lembut di punggung kakeknya.
"Tidak perlu," Danzou menolak datar, "Kakek masih bisa jalan sendiri."
"Tentu saja Kakek masih bisa jalan sendiri," Sai tersenyum, "Aku hanya ingin ngobrol sebentar sebelum berangkat."
Danzou menatap cucunya, tidak berkata apa-apa lagi untuk menolak. Ia membiarkan saja ketika Sai membimbingnya menuju ruang kerjanya sementara para pelayan mulai membereskan meja makan.
.
.
"Kau yakin tiketnya diletakkan di atas meja?" Iruka menanyai Naruto yang tengah sibuk berkutat di kamarnya yang bak kapal pecah.
"Yakin banget, Pap," sahut Naruto panik, melempar buku diktat aljabar yang baru dibongkarnya—siapa tahu tiket keretanya terselip di sana—ke tumpukan barang-barang yang berserakan di lantai, "Tadi malam masih ada di sana kok!"
"Mungkin kau sudah menaruhnya di dalam tas, Naruto," usul Iruka.
Naruto menegakkan tubuhnya dan menoleh pada ayahnya. Wajahnya berkilau oleh keringat. "Tadi aku sudah mencarinya di tas, tapi di sana tidak ada. Dan aku yakin seratus persen belum memasukkannya ke sana."
"Bagaimana kalau di tempat lain?" tanya Iruka lagi. Ia sudah hafal betul kebiasaan putranya itu menyimpan barang-barang penting di tempat tak terduga dan melupakannya tak lama kemudian—dan kali ini pria itu cukup yakin Naruto melakukan hal yang sama. "Di sakumu bagaimana?"
Naruto merogoh sakunya, mengeluarkan dompet dan ponsel. Tapi tidak ada tiket. "Tidak ada." –Dan saat berikutnya ia mulai melempar-lempar barang lagi—kali ini ia mengobrak-abrik lemari pakaiannya. "Mati aku kalau tiketnya hilang!"
Iruka baru saja hendak bergerak untuk mencari di meja buffet sekali lagi ketika terdengar suara klakson mobil dari arah luar jendela. Naruto terlonjak kaget dan mengumpat ketika mengerling jam dinding. "Sasuke." –Ia lalu melongok ke jendela dan benar saja, sebuah taksi dengan Sasuke di dalamnya sudah menunggu di depan jalur masuk rumahnya. "Uh oh, gawat. Dia bakal ngamuk kalau tahu tiket keretaku hilang."
Naruto meninggalkan jendela untuk membongkar tempat tidurnya. "Tiket, tiket, tiket… di mana kau sebenarnya? Dasar sial… Pap, ketemu tidak?"
"Tidak ada di sini." Iruka menghela napas. "Mungkin sebaiknya kau telepon pihak stasiun. Barangkali saja mereka bisa memberikan gantinya."
Tetapi Naruto mengabaikan usulan ayahnya. Ia terlalu bernafsu mengobrak-abrik seprai tempat tidurnya, membuat ayahnya geleng-geleng kepala. Tak lama kemudian, terdengar bel dari pintu depan. Tampaknya Sasuke sudah tidak sabar menunggunya dan memutuskan mengecek sendiri.
"Biar aku yang bukakan pintu." Iruka bergegas meninggalkan kamar untuk membukakan pintu bagi Sasuke sementara Naruto masih mencari tiketnya yang hilang entah ke mana. "Sasuke," sapanya saat mendapati Sasuke berdiri tak sabar di depan pintu.
Sasuke mengangguk sopan. "Naruto eh… sudah siap?"
"Er…" Iruka mengerling ke dalam rumah, "Dia sedang mencari tiketnya yang hilang. Sepertinya terselip entah di mana."
Sasuke mengangkat alisnya tinggi-tinggi, lalu menghela napas keras. Dasar idiot itu…
Melihat tampang Sasuke yang jelas-jelas tidak senang, Iruka buru-buru menambahkan, "Sebentar lagi pasti ketemu. Kau mau menunggu sebentar?"
"Kalau boleh aku ingin memba—" kata-kata Sasuke terhenti ketika mendadak matanya tertumbuk pada rak sepatu di dekat pintu masuk. Secarik lembaran berwarna biru muda yang langsung dikenalinya sebagai tiket kereta mencuat dari sebuah sepatu kets berwarna hitam dengan tali oranye. Sekali lagi Sasuke menghela napas. "Kurasa tidak perlu, Paman. Tiketnya sudah ketemu," katanya sambil menunjuk rak sepatu.
Iruka menoleh ke arah yang ditunjuk Sasuke dan ikut menghela napas. "Naruto!" serunya.
"Bilang pada Sasuke sebentar lagi aku turun, Pap!" suara Naruto terdengar dari arah kamar.
"Tidak usah dicari lagi. Tiketnya ada di sepatumu!"
"Apa?" Terdengar suara langkah kaki bergedebukan menuruni tangga dan Naruto muncul tak lama kemudian, berantakan—dengan wajah berkilau oleh keringat dan rambut awut-awutan akibat terlalu sering diacak-acak saking frustasinya mencari si tiket yang hilang—Cowok itu langsung berseru dramatis begitu melihat benda yang sedari pagi dicarinya. "YA AMPUN, TERNYATA KAU ADA DI SANA!" Naruto menyambar tiketnya dan mengecupnya saking senangnya. "Kukira kau hilang, Naaak!"
"Dasar," dengus Sasuke.
Seolah baru menyadari Sasuke ada di sana, Naruto berseru padanya juga, "Oh Sasuke, kau penyelamat hidup!" Naruto menyambar Sasuke dan memeluknya—membuat sahabatnya itu tercekik—dan baru melepasnya ketika Sasuke mendorongnya mundur. Naruto nyengir lebar. Di belakang mereka, Iruka geleng-geleng kepala.
"Sebaiknya kau bergegas. Keretanya sebentar lagi berangkat," Sasuke mengingatkannya.
"Oki doki!" Naruto baru saja melompat hendak kembali ke dalam untuk mengambil tas, tetapi langkahnya terhenti. Ia berbalik pada Sasuke, menyorongkan tiketnya. "Pegangkan ini, Saske. Takutnya nanti aku meninggalkannya di atas."
Sasuke menyambar tiket dari tangan Naruto. "Cepatlah."
Naruto lantas bergegas masuk kembali menuju ruang keluarga di mana ia meletakkan barang-barangnya.
"Maafkan dia," kata Iruka pada Sasuke, "Naruto memang suka lupa menyimpan barang. Mungkin maksudnya meletakkan tiketnya di sana supaya langsung menemukannya begitu akan memakai sepatu."
"Yeah…" Sasuke menyeringai kecil.
Tidak sampai satu menit, Naruto kembali dengan menggendong ransel besar di punggungnya dan sebuah tas gitar. Sasuke mengangkat sebelah alisnya melihat pemandangan itu. "Kau mau membawa gitar?"
"Untuk jaga-jaga," sahut Naruto, nyengir. Setelah mengenakan sepatunya, ia lalu berpaling pada ayahnya seraya menyampirkan tali tas gitarnya di bahu. "Pap, aku berangkat sekarang!"
"Ya, ya. Jaga diri baik-baik." Iruka menepuk-nepuk lengan putranya sebelum kemudian mengikuti kedua remaja itu ke beranda dan mengawasi mereka melintasi jalur masuk menuju taksi yang sudah menunggu.
Naruto menyimpan ransel dan tas gitarnya di bagasi bersama ransel besar Sasuke sebelum menyamankan diri di bangku belakang. "Sudah menghubungi Sakura dan Sai?" ia menanyai Sasuke yang duduk di sebelahnya.
"Hn. Sakura sudah ada di stasiun sekarang," jawab Sasuke sembari mengerling jam tangannya. "Sai sebentar lagi berangkat."
"Baiklah…" Cengiran lebar menghiasi wajah si cowok pirang sekali lagi, jelas sangat antusias dengan perjalanan liburan ke luar kota perdananya kali ini. Sebelum kendaraan yang membawa mereka mulai bergerak menjauhi Fox, Naruto cepat-cepat membuka jendela untuk berpamitan untuk yang terakhir kalinya pada sang ayah. "Pap jangan merindukan aku, ya!" serunya.
Di beranda, Iruka hanya tertawa kecil dan melambaikan tangan. Pria bercodet di hidung itu masih berdiri di sana sampai taksi yang membawa putranya menghilang di ujung jalan. Tampaknya musim panas kali ini akan terasa sepi bagi Iruka Umino tanpa Naruto. Meski demikian, ia sangat berharap Naruto menikmati liburannya.
.
.
Sementara itu di stasiun Konoha, Sakura yang sudah datang hampir satu jam sebelum jam keberangkatan duduk di salah satu bangku di tunggu penumpang bersama ibu dan pamannya, Kakashi Hatake. Gadis itu tampaknya sudah tidak sabar lagi. Ia bolak-balik mengerling jam besar yang terpasang di salah satu dinding putih ruangan itu atau melongok ke peron seakan berharap segera melihat kereta yang akan membawanya ke pelabuhan datang sewaktu-waktu.
Dua puluh menit sebelum jam keberangkatan, kereta yang ia tunggu-tunggu pun akhirnya datang. Namun kegairahannya dalam sekejap berubah menjadi kegelisahan saat ketiga sahabatnya belum juga menampakkan batang hidung mereka.
"Tenang saja. Masih ada dua puluh menit sebelum kereta berangkat," Kakashi berusaha menenangkan keponakannya yang tak hentinya berjalan hilir mudik.
"Lima belas menit," Sakura mengoreksi.
"Lima belas menit," Kakashi mengangguk setuju. Senyum geli terpampang di wajahnya melihat tingkah tak sabaran sang keponakan.
"Mereka pasti datang, Sayang. Tadi Sasuke sudah bilang dia dan Naruto sedang dalam perjalanan, bukan?" timpal Azami, menepuk bangku kosong di sebelahnya, "Duduklah dulu."
Masih dengan tampang tak puas, gadis itu akhirnya menurut dan duduk di samping ibunya. Matanya sejenak mengawasi para penumpang lain yang mulai naik ke kereta di peron, sebelum beralih ke pintu masuk, berharap ketiga cowok itu segera menampakkan diri. Sakura sedang mempertimbangkan akan menelepon Sasuke lagi—entah untuk yang keberapa kalinya semenjak pagi—ketika dua dari tiga orang yang ia tunggu-tunggu sejak tadi akhirnya muncul.
Sasuke dan Naruto, masing-masing membawa ransel besar di punggung—dan tambahan sebuah tas gitar yang dibawa Naruto. Cowok pirang itu melambaikan tangan penuh semangat begitu melihatnya. Sementara Sasuke hanya mengangguk kecil.
"Benar kan, mereka pasti datang," kata Azami sambil berdiri menyambut kedua sahabat putrinya. Di sampingnya, Kakashi melakukan hal yang sama.
"Kalian telat!" semprot Sakura cemberut. Jarinya menuding.
"Hn. Itu karena Naruto kehilangan tiketnya. Dia harus membongkar kamarnya dulu," kata Sasuke, sama sekali menghiraukan Naruto yang langsung memprotesnya—"Aku tidak menghilangkannya! Aku hanya lupa di mana menyimpannya!"—Ia mengangguk sopan pada Azami dan Kakashi, menyapa mereka, "Bibi Azami, Pak Hatake."
"Sai belum datang?" tanya Naruto sambil celingukan, ketika menyadari seorang lagi dari mereka yang masih absen.
"Belum," gerutu Sakura, kelihatan tidak begitu senang. "Kuharap dia segera datang atau kita akan ketinggalan kereta."
Di belakangnya, Azami tersenyum kecil. "Bagaimana kalau kalian simpan dulu barang-barang di kereta sembari menunggu Sai, hm?" ia mengusulkan, mengerling ransel besar yang disandang Sasuke dan Naruto di punggung, "Tas Nak Sasuke dan Naruto kelihatannya berat sekali."
"Ide bagus!" Naruto langsung setuju. Bahunya memang sudah terasa pegal karena terbebani tas. Terlebih ia membawa tas gitar yang juga tak kalah berat.
Rombongan kecil itu lantas bergerak menuju peron empat di mana kereta yang akan mereka tumpangi telah menunggu. Setelah menemukan gerbong yang benar, mereka bergegas naik—Kakashi dengan baik hati mengangkatkan travel bag Sakura yang lumayan berat ke atas kereta—Bangku mereka berada tepat di tengah gerbong, di sebelah bangku yang ditempati suami istri paruh baya, yang jika ditilik dari obrolan mereka, hendak menjenguk anak mereka yang tengah berkuliah di Kiri sekalian menghabiskan waktu cuti sang suami di sana.
"Trims, Pamanku yang baik…" ucap Sakura sambil nyengir ketika Kakashi baru saja menyimpankan travel bag-nya di rak barang yang berada tepat di atas bangku.
"Sama-sama, keponakanku yang baik…" balas Kakashi, tersenyum. Ia berpaling pada Naruto yang tampak kesulitan menjejalkan tas gitarnya di rak. "Butuh bantuan dengan itu, Naruto?"
"Oh, yeah. Trims, Pak Hatake," ucap Naruto penuh kelegaan ketika Kakashi yang bertubuh lebih jangkung darinya dengan mudah mendorong tas besar itu dengan aman ke bagian rak yang lebih dalam.
"Berniat unjuk kebolehan di Kiri, eh, Naruto?" Kakashi melempar seringai kecil pada salah satu siswanya tersebut.
Naruto menanggapi dengan menggaruk belakang kepala pirangnya yang tidak gatal dan nyengir lebar. "Pak Hatake tahu saja."
Kakashi terkekeh. "Karena dulu mendiang ayah Sakura juga suka begitu setiap kali pergi ke Kiri," ujarnya seraya melirik sang keponakan yang rupanya tengah menatap ke arahnya dengan tertarik. "Dulu waktu ayah dan ibumu baru menikah, mereka berbulan madu di Kiri. Waktu itu mereka belum cukup mapan, jadi seperti kalian sekarang, mereka berangkat ke sana sebagai backpacker. Menurutnya, selain dikenal sebagai kota dengan penduduk yang sangat menghargai seni dalam bentuk apa pun, Kiri adalah kota yang romantis. Jadi dia membawa gitarnya, selain sebagai alat mencari uang tambahan untuk berlibur—ayahmu sama sekali tidak malu mengamen, meskipun di sekolahnya dulu dia terkenal sebagai pemain band—juga untuk merayu ibumu."
"Aaw…" Sakura memekik girang. Pipinya merona merah muda. "Aku sudah tahu dari dulu kalau ayahku itu so sweet… Aah… Aku juga ingin ada pria yang memainkan gitar untukku seperti yang dilakukan ayah pada ibu. Pasti romantis…"
"Tenang saja, Sakura," cetus Naruto sambil menepuk dada, "Nanti aku pasti akan memainkan gitarku untukmu."
Sakura membuang mukanya, berpura-pura cemberut. "Kalau Naruto aku tidak mau!"
"Hee? Sakura, kejamnya…"
Sakura terkikik.
Sementara itu Sasuke yang sedari tadi mau tidak mau mendengarkan percakapan mereka selagi menaruh ranselnya di bangku, mendadak mood-nya berubah jelek. Mengapa dari semua hal yang diinginkan Sakura dari seorang cowok adalah bisa main gitar? –karena Sasuke sama sekali tidak bisa memainkan alat musik sialan itu! Ia malah bisa dibilang buta nada!
.
.
"Perlu saya ambilkan troli, Tuan?" seorang pria berseragam abu-abu gelap berlabel keluarga Shimura itu bertanya sopan setelah menurunkan sebuah travel bag berukuran kecil dari dalam bagasi mobil mewah di depan pintu utama Stasiun Konoha.
Cowok berambut gelap yang baru saja turun dari pintu belakang mobil tersebut menaikkan posisi ransel di punggungnya, lalu tersenyum sopan pada supir pribadi kakeknya. "Ah, tidak usah—biar aku yang membawanya sendiri, Hyo." Sai menarik gagang tasnya. "Terimakasih. Sekarang kau boleh pulang."
Sang supir membungkuk kecil. "Selamat menikmati liburan musim panas, Tuan. Hati-hati di jalan."
"Aa." Melempar senyum terakhir pada pria itu, Sai lalu berbalik pergi sambil menyeret travel bag-nya ke arah peron –ke tempat di mana teman-temannya sudah menunggu. Mudah-mudahan saja mereka tidak mengamuk atas keterlambatannya yang jauh melewati waktu perjanjian.
Tidak butuh waktu lama bagi Sai untuk menemukan kereta yang dimaksudkan dalam tiketnya. Serombongan orang yang sudah sangat dikenalnya yang sedang berkumpul di salah satu peron sudah cukup memberitahunya jika ia tidak salah. Tanpa membuang banyak waktu lagi—dan karena pengumuman keberangkatan kereta sudah berkumandang ke seantero stasiun—Sai bergegas menyeret travel bag-nya menuju peron tersebut.
"Maaf aku terlambat!" seru Sai mengatasi suara bising stasiun ketika ia sudah dekat.
Ketiga sahabatnya dan juga dua orang dewasa yang bersama mereka kontan menoleh ke arahnya datang. Ekspresi mereka bermacam-macam. Azami dan Kakashi menyambutnya dengan senyum ala orang dewasa yang membuatnya tidak enak hati karena—merasa seperti—sudah membuat mereka menunggu lama. Sasuke, seperti biasa, tampak cuek. Naruto langsung melambaikan tangan dengan penuh semangat, ketara sekali lega melihatnya datang. Tetapi Sakura lah yang pertama kali menemukan suara,
"Sai lamaaa!" protesnya sambil cemberut. "Perjanjiannya kan setengah jam yang lalu."
"Maafkan aku," kata Sai, seraya menyunggingkan senyum menyesal, "Tadi ada perlu sedikit dengan kakekku. Maaf, ya?"
"Yah, terlambat lebih baik daripada tidak datang sama sekali, kan?" kata Naruto membesarkan hati.
"Sakura memang tidak sabaran," Azami menggoda putrinya. "Kuharap nanti putriku yang manja ini tidak akan merepotkan kalian."
"Ibu…" Sakura memprotes lagi. Pipinya digembungkan. Azami hanya menanggapi dengan tawa kecil, seraya membelai-belai lengan putrinya yang entah sejak kapan tumbuh lebih jangkung darinya dengan penuh sayang.
"Oh, Bibi tenang saja. Kami akan selalu menjaga Sakura di Kiri!" cetus Naruto—seperti biasa—penuh percaya diri.
Azami tersenyum padanya, lalu berpaling pada Sai yang meminta diri untuk menaikkan barang-barangnya ke dalam kereta dibantu Sasuke. Naruto menyusul mereka tak lama kemudian, memberikan waktu pada Sakura untuk berpamitan pada ibu dan pamannya.
"Ibu, aku pergi sekarang," pamit Sakura seraya memeluk ibunya hangat.
"Jaga diri baik-baik di sana, Sakura," Azami membelai punggung putrinya.
Sebenarnya ia masih tidak rela Sakura pergi terlalu jauh dari pengawasannya walaupun hanya beberapa minggu saja. Tetapi karena tampaknya Sakura sungguh-sungguh menginginkan liburan ini—dan Kakashi juga sudah meyakinkannya bahwa Sakura sudah cukup besar untuk menjaga dirinya sendiri—maka ia dengan berat hati mengizinkan. Meskipun tentu saja, ia tidak sepenuhnya melepaskan Sakura tanpa pengawasan orang dewasa. Ia sudah membicarakan ini dengan Yamato dan pria itu setuju—bahkan dengan senang hati—menjaga Sakura selama gadis itu berlibur di sana. Lagipula, Sakura sendiri yang mengusulkan ini supaya ibunya tidak terlalu khawatir.
"Beritahu Ibu kalau kau sudah bertemu Yamato, ya?"
Sakura mengangguk di atas bahu ibunya. "Aku mengerti," ujarnya sambil melepaskan pelukannya. "Aku akan langsung telepon ibu jika sudah bertemu Yamato. Dia sudah janji akan menjemput di pelabuhan Kiri."
Azami mengangguk. "Jangan keluar rumah larut malam, jangan terlalu lama panas-panasan, jangan main terlalu jauh—"
"Ibu…" Sakura memprotes lagi yang langsung disambut tawa kecil ibunya.
"Baiklah, baiklah… Yang penting kau bisa menjaga dirimu di kota asing itu, Nak. Berhati-hatilah."
"Aku tahu…" Sakura lalu berpaling pada Kakashi, memeluk pria itu juga. "Kakashi, tolong jagakan ibu untukku."
"Aah…" Kakashi menepuk-nepuk lembut belakang kepala keponakannya yang terbungkus topi woll merah. "Semoga liburanmu menyenangkan, Sakura."
"Trims," Sakura melepaskan diri dari Kakashi, lalu berbalik menuju pintu kereka dan melompat naik untuk bergabung dengan ketiga sahabatnya yang sudah menunggu di bangku mereka. Sakura melompat melewati Sasuke dan duduk di tempatnya tepat di sisi jendela. "Sudah siap liburan, teman-teman?" tanyanya penuh semangat pada ketiga cowok itu.
"Yeah…" sahut Naruto yang duduk tepat di depannya antusias. "Aku sudah tidak sabar ingin cepat-cepat sampai di Kiri."
"Sasuke," Sakura menyikut Sasuke yang duduk di sebelahnya, tertawa, "Jangan bertampang jutek begitu dong. Semangat sedikit!"
"Hn." Sasuke mendengus, melipat kedua lengannya di depan dada.
Sakura mengabaikan reaksi dingin Sasuke dan berpaling pada jendela. Ibu dan pamannya melambaikan tangan dari peron. Sakura balas melambai. Tak lama setelah terdengar pintu kereta ditutup, kereta yang membawa mereka perlahan mulai bergerak meninggalkan peron, meninggalkan Azami dan Kakashi yang semakin lama semakin menjauh sementara kereta menjauhi Stasiun Konoha.
"Akhirnya…" pekik Sakura gembira.
.
.
"Kau tidak khawatir?" tanya Kakashi seraya mengawasi ketika kereta yang membawa keponakannya mulai bergerak.
"Sedikit," Azami mengakui, sembari melambaikan tangan pada sang putri yang duduk di sisi jendela kereta. "Tapi kan kau sendiri yang meyakinkanku bahwa tidak ada yang harus dikhawatirkan, bukan?"
Kakashi terkekeh kecil. "Maksudku, apa kau tidak khawatir meninggalkan Sakura bersama tiga anak lelaki itu?"
Azami menoleh cepat pada Kakashi, memandangnya dengan kedua alis terangkat tinggi. "Maksudmu Naruto, Sasuke dan Sai?" –lalu tawanya pun pecah. "Oh, tidak, Kakashi. Aku tidak khawatir. Aku sangat percaya pada anak-anak itu, kalau itu yang kau maskudkan. Sakura juga mempercayai teman-temannya, seharusnya memang tidak ada keraguan lagi. Lagipula di sana ada Yamato."
"Yah…" Kakashi berkata dengan nada ringan seraya mengangkat bahunya, "Aku hanya penasaran saja."
Mereka masih berdiri di sana sampai kereta yang membawa Sakura dan ketiga sahabatnya menghilang dari pandangan.
"Omong-omong," kata Kakashi ketika keduanya sudah meninggalkan peron dan menuju lapangan parkir tempat wagon Azami diparkirkan. "Ini hanya mengandai-andai saja—seandainya kau harus memilih dari ketiga anak lelaki itu untuk menjadi menantumu, siapa yang paling kau sukai?"
Sekali lagi Azami tertawa menanggapi pertanyaan adik iparnya. "Apakah sekarang sindrom ayah overprotektif mulai menjangkitimu, Kakashi? Barusan kau bertanya apakah aku khawatir, lalu sekarang… apa kau yang sebenarnya khawatir, hm? Kau khawatir anak-anak itu akan mengambil Sakura darimu?"
"Well…" Kakashi menggaruk tengkuknya. "Sakura itu keponakan yang paling aku sayangi, Azami, kau tahu itu—dan dia sudah seperti putriku. Aku hanya penasaran apa kau pernah memikirkan masa depannya? Karena… yah… meskipun aku sering menggodanya tentang cowok-cowok, rasanya membayangkan Sakura berpacaran—sedikit tidak rela." –Kakashi mengabaikan gelak tawa Azami—"Jadi, berhubung kau paling mempercayai ketiga pemuda itu dibandingkan yang lain, siapa yang paling kau sukai?"
"Entahlah…" sahut Azami setelah tawanya mereda, "Aku menyukai tiga-tiganya. Naruto pemuda yang baik, menyenangkan dan selalu membuat Sakura tertawa. Dia juga sangat berbakat dan bersemangat, mengingatkanku pada mendiang ayah Sakura. Sai… dia anak yang manis dan sopan. Dia juga berasal dari keluarga baik-baik. Sakura kelihatannya senang sekali pergi-pergi dengannya." Azami mengambil napas sejenak, sebelum melanjutkan, "Sasuke lain lagi. Anak itu tidak terlalu banyak bicara, jadi aku tidak tahu terlalu banyak tentang anak itu kecuali bahwa dia sangat tampan." Wanita itu tertawa kecil, "Dan entah bagaimana aku bisa merasakan ikatan emosional yang kuat antara Sakura dengan anak itu. Aku juga tidak terlalu mengerti—Tapi aku cukup menyukai Sasuke. Dia anak yang baik. Ah, aku tidak bisa memutuskan."
"Hmm…" Kepala Kakashi terangguk-angguk. Tangannya merogoh saku celananya, mengambil kunci mobil ketika mereka sudah tiba di sisi wagon Azami.
"Daripada mengkhawatirkan masa depan Sakura, bagaimana kalau kau mengkhawatirkan masa depanmu sendiri dengan Rin, hm?" goda wanita berambut merah gelap itu. "Sudah menentukan tanggalnya?"
Pertanyaan Azami dengan sukses mengalihkan perhatian Kakashi dari Sakura.
.
.
TBC…
.
.
Maaf semuanya karena telat apdet. J
Sekarang lagi sibuk-sibuknya dan aku sengaja nyuri waktu buat ngelanjutin ini. Sebenarnya ini juga belum selesai, tapi berhubung udah lumayan panjang jadi dicicil apdet aja dulu kali yah. Dan mudah-mudahan waktu masuk gerbong jiwa nanti ada waktu luang—Aku udah gak betah di sini, toloooong… Pingin cepat-cepat kembali ke Bandung.
Makasih buat yang udah ngikutin dan mereview cerita ini sampe sejauh ini. Yang mau repot-repot mengulas chapter demi chapter, aku ucapin makasih banget. Buat dukungannya, buat doanya, buat semuanya. Maafin author yg gak becus ini. J
