Entah sudah berapa lama waktu berlalu sejak kereta berangkat, Sakura nyaris tidak menyadarinya. Sejak tadi gadis berambut merah muda itu terlalu asyik menyerocos tentang Kiri pada Naruto. Ini memang bukan kali pertama bagi Sakura pergi ke kota itu—ia dan keluarganya pernah ke sana untuk berlibur bertahun-tahun silam—begitu juga dengan Sai dan Sasuke. Sementara bagi Naruto, liburan ini adalah pengalaman pertamanya. Tentu saja cowok itu menjadi sangat antusias dan penasaran tentang kota asing itu. Namun tampaknya cowok itu kurang berminat membaca buku tour guide yang dipinjamkan Sakura untuknya.
Yah, Naruto Uzumaki memang bukan tipe yang bisa berkawan akrab dengan buku—kecuali jika teramat sangat terpaksa—kontras dengan ketiga sahabatnya.
"Pokoknya kau pasti bakal sangat menyukai Kiri, Naruto! Aku jamin deh!" Sakura mengakhiri monolognya dengan penuh semangat.
Kedua mata biru Naruto berbinar antusias. "Ah, rasanya aku jadi tidak sabar lagi. Satu-satunya yang aku tahu tentang Kiri, katanya—tepatnya sih, kata Kiba—di sana banyak cewek cantiknya. Apalagi di sana banyak pantai. Pasti—"
"Haish, dasar cowok!" Sakura menyela perkataan Naruto dengan menendang kakinya, tahu betul apa yang dimaksudkan cowok pirang itu—sesuatu yang nakal.
"Ouch!" Naruto meringis, berlagak kesakitan sambil menggosok-gosok kakinya. "Tapi memang benar, kan?" lanjut Naruto kemudian, melirik Sai minta dukungan, "Benar kan, Sai?—cowok playboy ini pasti tahu banyak."
Di sampingnya, Sai tertawa kecil. "Yeah… kurasa kau tidak akan dikecewakan."
Sakura mengerucutkan bibirnya, pura-pura cemberut, lalu menghela napas. "Haah… Terserah deh. Yang jelas aku tidak mau berjalan dengan cowok-cowok yang matanya jelalatan melihat cewek berbikini."
"Eeh!" Naruto berseru dramatis, membuat Sakura terkikik.
"Tapi rasanya ada satu orang di antara cowok-cowok itu yang tidak akan tertarik," kata Sai kalem, seraya melayangkan pandang pada satu orang yang sedari tadi tidak melibatkan diri dalam obrolan, Sasuke Uchiha. "Dan kurasa orang itu tidak akan keberatan menemanimu jalan-jalan," lanjutnya dalam suara rendah, menyunggingkan senyum penuh arti saat mengerling Sakura—Gadis itu pura-pura tidak mendengar atau melihat apa pun, memilih saat itu untuk menoleh pada Sasuke yang duduk di sebelahnya.
Sasuke bergeming, sama sekali tidak menyadari dirinya menjadi pusat perhatian ketiga sahabatnya saat itu. Kedua lengannya dilipat di depan dada. Bagian depan rambut gelapnya terjatuh ke depan, sedikit menutupi wajahnya yang tertunduk. Kedua kelopak matanya tertutup rapat.
Naruto yang penasaran kemudian mencondongkan tubuhnya ke arah Sasuke, melambai-lambaikan tangannya di depan wajah sahabatnya itu. Tak ada reaksi. "Dia tidur rupanya," ujarnya sambil nyengir. Naruto baru saja hendak membangunkan Sasuke dengan menepuk bahunya ketika Sakura menghalangi tangannya.
"Jangan," ujarnya cepat-cepat dalam suara rendah, "Biarkan saja. Mungkin dia agak bosan." Gadis itu menatap wajah Sasuke yang tertidur pulas, tak bisa menahan senyum mengembang di bibirnya. Sejak dulu Sakura selalu berpendapat Sasuke adalah makhluk imut kalau ia sedang tidur, benar-benar berbeda dengan saat cowok itu terjaga—bukan berarti Sakura tidak menyukai Sasuke yang terjaga.
Naruto menghela napas saat kembali menghenyakkan diri ke bangkunya. "Ya ampun… Liburannya baru saja mulai dan Sasuke sudah bosan duluan?"
"Lebih baik bosan sekarang, dari pada nanti," komentar Sai seraya mengambil gadget dari dalam sakunya, menyumpal telinganya dengan earphone. "Beritahu aku kalau kita sudah sampai." Dan tak lama, Sai sudah tenggelam dalam keasyikannya sendiri mendengarkan musik favoritnya.
Sementara itu, Sakura juga sudah mengeluarkan ponsel dari dalam saku. Jemarinya dengan lincah menari di atas deretan tombol-tombol pada benda itu.
Menyadari kawan-kawannya sudah asyik sendiri dengan kegiatan masing-masing, Naruto memutuskan untuk—tidak seperti dirinya yang biasa—membaca tour guide-nya lagi. Namun tak lama kemudian ia akhirnya menyerah—membaca dalam kereta membuat kepalanya pusing—lalu jatuh tertidur.
.
.
"Ini dia buketnya. Silakan…" Ino Yamanaka, dengan wajah penuh senyum mengangsurkan sebuket besar mawar merah yang baru saja selesai ia rangkai di atas meja konter.
"Ah, iya…" pelanggannya, seorang pria muda berkacamata yang baru saja melakukan transaksinya di kasir buru-buru memasukkan kembali dompetnya ke dalam saku celana sebelum mengambil buket dari tangan Ino. Sejenak ia memeriksa buket itu sebelum melempar senyum puas pada gadis pirang di seberang meja konter. "Terimakasih banyak, Nona."
"Untuk pacarnya, ya?" goda Ino dengan nada antusias.
Pria itu tersenyum malu-malu. "Sebenarnya untuk istriku."
"Oh!" Ino mengerling kartu di tangan pelanggannya. "Ulangtahun pernikahan?"
"Begitulah…" Dengan anggukan sopan dan ucapan terimakasih terakhir, pria itu lalu meninggalkan toko menuju sebuah wagon yang diparkirkan di sisi jalan tak jauh dari toko bunga Yamanaka.
Ino merosot di atas meja konter yang dingin begitu pria itu pergi, menghela napas. Senyum yang sebelum ini terpasang di wajahnya entang ke mana perginya. Pasti akan sangat menyenangkan jika ia yang diberi bunga, pikirnya muram. Sesuatu yang romantis—dan menyenangkan—semacam itu rasanya sudah lama sekali berlalu semenjak ia berpisah dengan Idate—dan Sai.
Bukannya Ino mengharapkan dirinya punya pacar sekarang ini—yah, sepertinya ia sudah pasrah akan nasibnya menjomblo setiap musim panas—gadis itu hanya merasa agak bosan. Barangkali tidak akan terlalu membosankan seandainya saja ia bisa menghabiskan waktunya dengan melakukan hal lain yang lebih seru ketimbang menjaga toko yang sepertinya sudah dilakukannya seumur hidup.
Misalnya saja latihan band.
Tapi masalahnya Shikamaru dan Chouji memutuskan untuk menunda dulu latihan dan melakukan sesuatu yang sama sekali bukan mereka: bekerja paruh waktu di toko serba ada di pusat kota!—Ya, ampun… Ino tidak bisa membayangkan Shikamaru mau merelakan waktu tidurnya seharian dengan berkutat dengan hal-hal merepotkan seperti menyusun berkotak-kotak tampon di rak pajangan.
Dan Ino baru saja berpikir akan menelepon Sakura dan mengajaknya ber-window shopping ketika ia teringat sahabatnya itu pastilah sekarang sedang dalam perjalanan ke Kiri hari ini bersama Sasuke, Naruto dan Sai.
Haah… kadang-kadang Ino cemburu pada ketiga cowok itu karena kedekatan mereka dengan Sakura. Ia merasa seakan mereka sudah merebut sahabatnya darinya, meskipun tentu saja ia tahu kalau itu sama sekali tidak benar. Dan Sakura berhak untuk berteman dengan siapa pun termasuk ketiga cowok itu. Tidak peduli bagaimana sebalnya Ino, ia tidak berhak memonopoli Sakura untuk dirinya sendiri. Benar, kan?
Sekali lagi menghela napas berat, Ino meraih gelas limun dinginnya dari sisi meja konter dan menghirup cairan manis-asam-segar di dalamnya dengan malas-malasan sambil memandang berkeliling toko bunganya yang sepi. Kedua orangtuanya sedang keluar menghadiri acara yang diadakan oleh Hyuuga Grup, tempat ayahnya bekerja. Jadi praktis dirinya lah yang menjadi penanggung jawab di toko itu.
Seorang pegawai toko tampak sedang mengajari dua orang remaja yang bekerja paruh waktu di sana—pasti anak baru, karena Ino belum pernah melihat mereka sebelum ini—cara merawat bunga potong agar tahan lama di deretan rak yang memajang bunga krisan yang berwarna-warni. Sepasang pengunjung paruh baya sedang memilih-milih di rak lily, ditemani seorang pegawai lain yang kelewat bersemangat. Sementara cowok yang biasa mengantar-antar pesanan delivery sepertinya sedang tidak ada kerjaan. Sekarang ini ia sedang tebar pesona dengan gadis yang menjaga kasir—dan itu berarti posisi mereka dekat dengan Ino sehingga gadis itu bisa mendengar dengan jelas kata-kata gombal menggelikan yang dilontarkan cowok itu.
Ino sekuat tenaga menahan diri untuk tidak muntah di tempat.
Suara denting yang berasal dari pintu masuk toko mengalihkan perhatian gadis blonde itu. Ino otomatis menurunkan gelasnya dan menegakkan diri, bersiap menyambut pelanggannya selayaknya pemilik toko yang baik.
"Selamat datang di Yamanaka Flo—" kata-kata Ino terputus di tengah jalan begitu ia melihat siapa yang datang. Hatinya mencelos. Ini jelas bukanlah kunjungan yang ia harapkan.
Seorang gadis berambut oranye cerah panjang melangkah ke dalam toko. Senyum ceria mengembang di wajahnya begitu ia melihat Ino dan langsung menghampiri konter. "Halo, Ino!" sapa Sasame Fuuma cerah.
"Hai, Sasame," balas Ino dengan senyuman yang setengah dipaksakan, "Kau ingin cari bunga?"
Sasame memandangi deretan rak bunga di depan kaca etalase sebelum menjawab, "Um… mungkin tidak hari ini, Ino." Ia kembali memandang Ino yang mengangkat sebelah alisnya. "Aku kebetulan lewat sini, jadi kuputuskan untuk mampir sebentar," tambahnya sambil tertawa kecil melihat ekspresi bingung Ino.
"Oh…" Ino tak tahu harus menanggapi apa. Tampaknya ia masih belum bisa mengatasi keterkejutannya atas kedatangan Sasame yang begitu mendadak. Bukan berarti Ino tidak menyukai gadis itu atau apa. Berada di angkatan yang sama di sekolah, mengikuti beberapa kelas yang sama, juga sama-sama bergabung di klub musik sudah cukup bagi Ino mengenali Sasame sebagai gadis yang cukup menyenangkan. Penuh semangat, sedikit tomboy tapi manis dengan caranya sendiri. Bukan tipikal gadis yang suka cari-cari masalah seperti kebanyakan teman-temannya di squad cheers.
Hanya saja kenyataan bahwa Sasame sekarang jadian dengan Sai yang notabene mantan pacarnya membuatnya sedikit… canggung. Meskipun tampaknya Sasame tidak tahu menahu tentang hubungannya dengan Sai dulu—dan Ino tidak bisa membayangkan situasi tidak enak macam apa yang bakal terjadi seandainya Sasame tahu. Bisa saja gadis itu membencinya habis-habisan seperti yang biasanya dilakukan cewek kebanyakan: membenci mantan pacar cowoknya.
"Kau mau limun?" Ino menawari Sasame kemudian, berusaha mengatasi kecanggungannya. "Pagi ini ibuku memanggang kue almond yang enak sekali. Kau mau coba?"
"Ah, lain kali saja," sahut Sasame, "Aku ada keperluan lain setelah ini."
"Oh," kata Ino lagi, tak tahu harus merasa kecewa atau lega.
"Apa Shikamaru sudah memberitahumu sesuatu soal band?" Sasame tiba-tiba terlihat begitu antusias.
Ino kembali mengangkat alisnya tinggi. "Beritahu soal apa?" tanyanya penasaran.
Sasame mencondongkan tubuhnya di atas konter dan berbisik di telinga Ino. Nada bicaranya terdengar sangat puas. "Musim panas ini aku bergabung di band kalian. Rhythm guitar, dan backing vocal-mu."
Ino pastilah ternganga seperti orang tolol saking terkejutnya saat itu karena ia mendengar Sasame mengikik. Ini tidak adil!—pikirnya geram. Bisa-bisanya Shikamaru memasukkan personil lain tanpa memberitahunya terlebih dahulu!
Eh, tunggu dulu. Sepertinya Shikamaru memang pernah bicara soal personel baru untuk menggantikan Naruto dan Sai yang absen. Tapi kan tetap saja… —dan dari semua orang yang bisa dipilihnya, kenapa harus pacar Sai sih?
"Menyenangkan, ya? Musim panas ini kita bakal sering menghabiskan waktu bersama-sama dan berkeliling Konoha. Shikamaru bilang mungkin kita akan tur ke kelab-kelab di luar kota juga! Rasanya sudah tidak sabar—"
"Bagaimana dengan The Glossy?" Ino menyelanya cepat.
Senyum di wajah Sasame sedikit memudar. Gadis itu menghela napas sambil mengangkat bahunya. "Kami vakum dulu untuk sementara. Yah… karena musim panas ini lebih dari separuh personil punya urusan masing-masing. Sai juga…" tambahnya agak murung.
Ino merasakan hatinya mencelos. Ini dia yang paling dikhawatirkannya—Sasame mulai mengungkit-ungkit soal Sai, membuatnya tidak nyaman.
"Sai akan menghabiskan waktu liburannya di Kiri dengan teman-temannya," lanjut Sasame dengan seulas senyum agak masam di bibirnya. "…dan Sakura Haruno. Padahal pasti akan sangat menyenangkan kalau kami bisa melewatkan musim panas bersama-sama, bukan? Maksudku, ini kan bulan pertama kami—"
"Aku mengerti," Ino menyelanya lagi. Entah mengapa Ino tidak menyukai cara Sasame menyebut nama Sakura. "Pasti sangat berat. Kau mengantarnya berangkat pagi ini?" ia tak bisa menahan diri bertanya.
Kali ini giliran Sasame yang mengangkat alisnya. "Dari mana kau—Ah! Tentu saja. Pasti Sakura yang memberitahumu, kan? Tidak. Aku tidak mengantarnya ke stasiun. Sai tidak memperbolehkanku." Pipinya bersemu merah. "Sai bilang, bisa-bisa nanti dia melanggar janjinya pada Naruto dan Sasuke liburan ke Kiri kalau aku mengantar. Katanya, dia takut tidak akan tega meninggalkanku. Tapi Sai sudah berjanji akan meneleponku setiap hari. Manis, ya, Sai itu?"
Ino menyesal sudah bertanya. "E—eh… Iya. Sepertinya."
"Ah, maaf. Sepertinya aku sudah bicara melantur," Sasame tertawa malu-malu. Ia lalu mengerling arloji di pergelangan tangan kirinya. "Kurasa aku harus pergi sekarang, Ino. Sampai ketemu saat latihan nanti. Omong-omong, kau kelihatan cantik dengan rambut pendek begitu." Sasame melempar senyum lebar untuk terakhir kalinya pada Ino, sebelum berbalik menuju pintu utama toko.
Sejenak Ino mengawasi Sasame berlari-lari kecil ke sisi jalan dari balik etalase tokonya. Rambut oranye-nya yang panjang berayun di punggungnya seiring dengan langkah kakinya, tampak mencolok di atas warna merah menyala kaus kutung tanpa lengan yang ia kenakan. Tak lama kemudian sebuah taksi menepi dan Sasame bergegas naik.
Ino menenggak habis sisa limunnya dan memijat-mijat pelipisnya yang mendadak berdenyut-denyut setelah Sasame pergi. Ia hanya bisa berharap keadaan tidak akan menjadi lebih buruk saat latihan band nanti. Dan lebih dari itu, ia berharap bisa segera mengatasi sedikit rasa yang masih tersisa untuk Sai.
Astaga… Ada apa dengannya? Padahal sebelumnya Ino tidak pernah kesulitan melupakan mantan-mantannya. Ia bahkan sudah tidak peduli lagi pada Idate!
Getaran kecil yang berasal dari saku celana pendek yang dikenakannya menyentakkan gadis itu dari lamunan. Dengan malas-malasan Ino merogoh saku untuk mengambil ponselnya, berpikir barangkali ibunya yang mengingatkannya untuk mengorder pada pemasok bunga untuk pesanan acara pernikahan minggu depan atau apa. Rupanya bukan.
Punggungnya yang semula melengkung tanpa semangat langsung menegak, begitu pula dengan senyum lebar yang langsung muncul di bibirnya begitu melihat nama Sakura muncul di layar. Namun baru saja Ino hendak membuka email yang dikirimkan sahabatnya itu, lagi-lagi dentang pintu toko mengalihkan perhatiannya… dan kembali membuatnya terkejut dengan kemunculan pelanggan tak terduga.
Dia datang lagi.
"Bukankah kau seharusnya menyambut pelanggan dengan ramah, Yamanaka?" tegur Shino Aburame dengan suara datar. Kedua tangannya tenggelam di dalam saku jaketnya sementara cowok paling jangkung di kelas dua itu menatap Ino dari balik kacamata hitamnya. "Ah, kurasa kau kehilangan manner-mu karena terlalu terkejut melihatku."
Ino menghela napas.Sepertinya hari ini akan menjadi hari yang melelahkan.
.
.
Sakura memandang penuh gairah ke luar jendela kereta. Pemandangan di luar sudah mulai berubah. Pemandangan yang tadinya didominasi oleh warna hijau pepohonan dan hamparan ladang yang menjadi ciri khas daerah pinggiran Konoha, kini digantikan oleh pemandangan laut yang biru. Dengan ombak yang memecah di batu-batu karang di bawah tebing, burung-burung camar yang beterbangan di atasnya mencari ikan, belum lagi suara-suara khas tepi laut yang meskipun bercampur dengan suara mesin kereta masih bisa membuat gadis bermata hijau itu terpesona.
Musim panas yang sebenarnya sudah ada di depan mata.
Sakura kemudian menoleh pada ketiga sahabatnya. Naruto masih tertidur dengan wajah menempel pada kaca jendela yang dingin, begitu pula dengan Sasuke—cowok berambut gelap itu masih dengan posisi semula bersedekap dengan kepala tertunduk. Hanya Sai yang masih terjaga. Ia sudah melepas earphone dari telinganya.
"Sepertinya sudah hampir sampai," katanya.
"Yah," Sakura melirik jam tangannya, "Mestinya memang tidak lama lagi kita sampai di stasiun berikutnya."
Sakura dan Sai lantas segera membangunkan Sasuke dan Naruto begitu kereta sudah mendekati stasiun—yang juga merupakan pemberhentian terakhir kereta dengan rute itu. Para penumpang mulai bergerak menurunkan barang-barang mereka dan rak di atas bangku untuk bersiap turun, begitu pula dengan keempat remaja itu. Sasuke yang masih terkantuk-kantuk hampir sama menjatuhkan travel bag Sakura di atas kepalanya sendiri ketika ia membantu gadis itu menurunkan barangnya. Kepalanya mungkin sudah benjol besar kalau saja Sai—yang saat itu posisinya paling dekat—tidak membantunya menahan tas yang ternyata lumayan berat itu—Ini cewek bawaannya apa sih?
Beruntung, stasiun tidak begitu penuh hari itu, meskipun tidak bisa dibilang sepi juga. Setidaknya mereka tidak harus berdesakan di peron dan menunggu lama untuk mendapatkan bus yang akan membawa mereka ke pelabuhan.
Bus yang mereka tumpangi bukanlah angkutan ternyaman sejauh ini. Tidak seperti di kereta yang sejuk, di dalam bus udara musim panas yang bersuhu tinggi benar-benar terasa—ditambah lagi sepertinya pendingin udara dalam bus rusak—Dalam sekejap saja mereka sudah mandi keringat.
Menyerah pada udara panas, Sakura akhirnya melepas topi yang sedari tadi menutupi kepalanya, dan dengan sukses membuat ketiga sahabatnya tercengang. Bukannya apa-apa. Awalnya mereka jelas mengira Sakura menggulung rambutnya di dalam topi, mengingat topi dari bahan rajutan itu lumayan tebal di bagian belakang. Namun alih-alih mendapati rambut merah muda panjang terjatuh ke bahu saat Sakura menarik lepas topinya, mereka melihat rambut itu bahkan tidak mencapai bahunya. Sakura telah memotong pendek rambut pink-nya.
"Kau apakan rambutmu?" Sasuke, yang lagi-lagi mengambil tempat di sebelah Sakura, langsung menyembur saking terkejutnya.
"Apa?" Sakura menyisiri rambutnya yang sedikit berantakan menggunakan jemari, nyengir pada cowok di sebelahnya. "Aku memotongnya kemarin dengan Ino. Kau suka?"
Sasuke tidak menjawab. Mata gelapnya tak lepas memandangi Sakura ketika gadis itu menggerak-gerakkan kepalanya sehingga rambut merah mudanya yang kini pendek—dan terlihat sangat lembut itu—menyapu sisi-sisi wajahnya yang sedikit memerah karena udara panas. Sasuke merasakan entakan yang sudah sangat ia kenali di dasar perutnya melihat pemandangan itu. Walaupun ia sudah sangat terbiasa dengan rambut panjang Sakura, tetapi ia tak bisa dibilang tidak menyukai penampilan baru gadis itu dengan rambut pendek. Sakura terlihat lebih segar… dan manis.
"Tidak jelek," komentar Sai dari bangku seberang.
"Tapi aku lebih suka Sakura dengan rambut panjang," kata Naruto, yang kemudian buru-buru menambahkan begitu melihat Sakura mendelik padanya, "Eh, rambut pendek juga cantik kok. Beneran! Sakura jadi kelihata lebih… er… tangguh."
"Tangguh?" Sakura terkekeh mendengar komentar Naruto tentang dirinya, "Bilang saja kalau aku jadi kelihatan tomboy. Tapi trims, Naruto. Tangguh kedengarannya juga bagus." Ia kembali menyandarkan punggungnya pada jok bus dan memandang keluar, tampak puas—sebelum kemudian menyadari Sasuke masih menatapnya. Sakura mengerjap. "Ada yang salah, Sasuke?"
Cowok bertama gelap itu tersentak, seolah baru terbangun dari lamunan. "Apa?—Tidak," sahutnya seraya buru-buru berpaling. Wajahnya menghangat. "Tidak ada apa-apa."
Di bangku seberang mereka, Naruto menyikut Sai dan mengendikkan kepala ke arah dua teman mereka yang lain, nyengir. Sai tersenyum penuh arti. Sakura sudah berpaling lagi ke luar jendela sehingga tidak menyadari tatapan mereka, sementara Sasuke mendelik pada kedua sahabatnya itu. "Apa?" desisnya dengan wajah panas. Naruto terkekeh tanpa suara.
Setelah perjalan yang singkat dengan bus, akhirnya mereka tiba di pelabuhan. Tanpa berlama-lama, keempat sahabat itu kembali menyeret barang-barang mereka untuk kemudian bergabung dengan antrian penumpang di depan loket penjualan tiket kapal—yang untuknya tidak terlalu panjang—yang akan membawa mereka ke Kiri. Sebenarnya hanya Sasuke dan Naruto yang mengantri, sementara Sai dan Sakura menunggu di ruang tunggu bersama barang-barang mereka.
"Panas, ya?" Sakura mengipasi dirinya sendiri dengan topinya, sembari memperhatikan para calon penumpang kapal berlalu-lalang di depan mereka. Kedua kakinya dijulurkan ke depan.
"Namanya bukan musim panas kalau tidak panas, Sakura," timpal Sai, meraih ke dalam salah satu kantung dalam tasnya dan mengeluarkan sekaleng minuman ringan. Ia membukanya, lalu mengangsurkannya pada Sakura.
"Trims," Sakura mengambil kaleng minuman tersebut dari tangan Sai, menenggak isinya sedikit, lalu menempelkan kalengnya ke pipi. Walaupun tidak terlalu dingin, kaleng itu tetap terasa sejuk di kulitnya. Sakura mendesah pelan. Rasanya sangat nyaman.
"Kau ini… sudah tahu udaranya panas, masih saja pakai topi dari bahan tebal begitu," kata Sai, melirik topi woll di tangan Sakura.
"Apa boleh buat," Sakura menghembuskan napas keras-keras. "Aku menghilangkan hampir semua topiku. Yang tersisa hanya ini," ia melambaikan topinya, "dan topi pet dalam tasku. Aku tidak terlalu tahan panas matahari sebetulnya," ujarnya menambahkan. "Kalau kepalaku kena sinar matahari yang panas terlalu lama, aku bisa sekarat, kau tahu?"
Sai mengangkat alisnya tinggi. "Segawat itu kah?"
Melihat tampang kaget Sai membuat Sakura tertawa. "Hanya bergurau. Tapi aku memang tidak tahan panas-panasan lama." Gadis itu mengangkat bahunya dengan sikap santai.
"Kalau begitu harusnya kita tidak pergi ke daerah pantai," ujar Sai serius. Ia tampak cemas. "Bagaimana kalau kau sakit betulan?"
"Tidak akan. Kan aku sudah bawa topi…"
"Tapi kan—"
Sakura memotong perkataannya dengan menempelkan kaleng minumannya ke pipi Sai, membuat cowok itu mengerjap oleh sejuk yang mendadak terasa di kulitnya. "Jangan cemas. Matahari tidak akan membunuhku. Memangnya aku vampir?"
Sai menghela napas, mengalah. Kemudian mengambil kaleng yang ditempelkan ke pipinya oleh Sakura dan menghirup isinya tanpa melepaskan pandangannya dari Sakura, bertekad tidak akan membiarkan gadis itu berkeliaran di bawah sinar matahari tanpa memakai pelindung kepala.
"Omong-omong," kata Sakura lagi, "Bagaimana dengan Sasame? Dia tidak keberatan kan kau pergi liburan… kau tahu, bersamaku?" –Sebetulnya Sakura sudah mengkhawatirkan ini sejak Sai memberitahunya ia jadian dengan Sasame beberapa hari yang lalu. Biasanya seorang gadis tidak akan suka jika pacarnya terlalu dengan dengan gadis lain, tidak terkecuali sahabat pacarnya itu. Dan Sakura tidak ingin menjadi biang keladi, kalau-kalau Sai dan Sasame bertengkar suatu saat.
"Entahlah…" Sai mengangkat bahu, mengalihkan pandangannya ke arah lain, "Mungkin sedikit, tapi kurasa tidak juga. Sasame sepertinya akan sibuk musim panas ini. Dia memberitahuku kalau Shikamaru mengajaknya bergabung di band."
"Bergabung di band?" Sakura tampak terkejut, "Dengan Ino?"
Sai tidak menjawab—dan memang tidak perlu. Ia menenggak kembali minumannya. "Sasame kelihatannya sangat senang mendapatkan kesibukan, jadi dia tidak akan terlalu kesepian. Lagipula," Sai menoleh pada Sakura, tersenyum, "Aku sudah berjanji padanya untuk terus kontak. Jadi tidak masalah…"
Sakura tidak benar-benar mendengarkan perkataan terakhir Sai. Pikirannya terlalu sibuk membayangkan bagaimana perasaan Ino saat ia tahu harus melewatkan banyak waktu dengan gadis yang merupakan pacar Sai—yah, bagaimana pun ia tahu sahabatnya itu masih menyimpan sedikit rasa pada Sai—Pastilah sangat canggung dan tidak mengenakkan. Berita bagusnya, Sai bukanlah tipe cowok yang suka bocor dan berkoar tentang hubungan masa lalunya dengan Ino pada Sasame. Tidak ada pentingnya, katanya. Kalau tidak… yah, kau tidak pernah bisa memprediksi apa yang bakal terjadi, bukan?
Sakura tersadar dari lamunannya ketika dua orang yang sedari tadi mereka tunggu akhirnya tiba dengan empat lembar tiket kapal.
"Dermaga tiga," Sasuke memberitahu mereka, seraya mengambil ranselnya yang diletakkan di bangku sebelah Sakura. "Kapalnya akan berangkat setengah jam lagi."
"Ah," Sakura beranjak dari duduknya, begitu pula dengan Sai yang entah mengapa tampak agak pucat—maksudnya, lebih pucat dari biasanya—"Sebaiknya kita bergegas." Sakura baru saja hendak meraih pegangan travel bag-nya ketika Naruto mengambilnya terlebih dahulu. "Eeh—"
"Biar aku yang bawakan," tawarnya baik hati.
"Tapi kan bawaanmu banyak, Naruto," Sakura memprotes, hendak mengambil kembali tasnya dari tangan Naruto, namun cowok itu menghalanginya.
"Biar saja. Tenagaku lebih kuat. Tadi tasmu hampir saja memecahkan kepala Sasuke."
"Tapi—"
Sasuke yang melihat ini menjadi tidak sabar. Ia lantas merebut tas Sakura dari tangan Naruto. "Berisik! Biar aku saja yang bawa. Kau bawa saja tas gitarmu!"
"Ya sudah," Naruto tidak berusaha melawan—malah nyengir. "Kau saja yang bawa."
"Eeh—Sasuke, tunggu!" Sakura bergegas berlari-lari kecil mengikuti Sasuke yang sudah lebih dulu berjalan meninggalkan ruang tunggu dengan menyeret travel bag miliknya.
"Kau sengaja, ya?" Sai menanyai Naruto sementara mereka berjalan menuju tempat pemberangkatan penumpang dermaga tiga.
"Yah… Harus ada yang melakukannya, kan?" sahut Naruto ceria. Cengiran lebar menghiasi wajah tan-nya. "Kau tahu Sasuke, kan? Kadang-kadang dia harus dipancing dulu baru mau bergerak."
"Ah, betul." Sai memandangi Sasuke dan Sakura yang berjalan agak jauh di depan mereka, tersenyum geli pada pemandangan di depannya itu. Sakura sedang mencoba mengambil kembali tasnya dari pegangan Sasuke, tapi cowok itu menghiraukannya. Alhasil, Sakura hanya bisa berlari-lari kecil menyamai langkah lebar Sasuke, tampak sebal. Namun Sai cukup yakin saat itu Sasuke diam-diam menikmati perhatian kecil dari gadis bermata hijau itu.
.
.
Begitu sampai di atas kapal, keempatnya tidak langsung menaruh barang-barang. Awalnya, gerakan kapal yang disebabkan oleh gelombang air laut sedikit membuat pusing, tapi mereka bisa segera beradaptasi. Terlebih pengalaman pertama dengan alat angkutan laut ini, terutama bagi Sakura dan Naruto, membuat mereka jadi sangat antusias.
Sakura dengan penuh minat mengawasi berbagai kegiatan yang tengah berlangsung di dermaga, termasuk kendaraan-kendaraan yang bergerak perlahan dengan tertib memasuki geladak bawah kapal yang mereka tumpangi, sementara Naruto bertanya-tanya sendiri bagaimana bisa kapal tidak tenggelam dengan muatan sebanyak itu?—Tak ada seorang pun yang mau repot-repot menjelaskan padanya.
Setelah bosan dengan dermaga, perhatian mereka kemudian teralih pada pemandangan laut di sisi lain kapal. Biru kehijauan terlihat tenang sejauh mata memandang, ditingkahi beberapa kapal—entah itu kapal penumpang atau kapal penangkap ikan—yang tampak sedang berlayar atau menunggu giliran untuk bersandar di dermaga. Hembusan angin yang membawa aroma asin khas lautan menerpa wajah dan rambut mereka. Dan saat itu matahari sudah agak condong ke arah Barat sehingga tidak terlalu terik.
"Hei, aku bisa melihat Kiri dari sini!" seru Naruto penuh semangat sambil menunjuk ke hamparan lautan di depannya, "Tidak begitu kelihatan sih. Keciiil… sekali."
"Norak!" cemooh Sasuke. Sudut bibirnya berkedut. "Mana kelihatan Kiri dari sini, Idiot!"
"Tidak tahu nih, Naruto suka asal," timpal Sakura, tertawa.
"Biarin!"
"Tapi pemandangannya indah, ya?" Sakura menghirup udara dalam-dalam, meresapi aroma air laut yang asin, "Aah… Aku suka sekali laut! Bagaimana kalau kita berfoto sebelum kapalnya berangkat? Sai?" ia menoleh pada Sai yang sedari tadi tidak bersuara.
"Hm?—Oh, yeah…" sahut Sai. Suaranya terdengar sedikit lemah dan bergetar—atau itu hanya karena efek dari suara mesin kapal yang berisik dan menenggelamkan suaranya? Entahlah.
Cowok itu baru saja hendak mengambil kamera dari dalam tasnya ketika Sakura berseru, "Pakai punyaku saja dulu!" Gadis itu melambaikan sebuah digital camera berwarna pink metalik—Entah kapan ia mengeluarkannya. "Ayo sini, merapat!" Sakura menarik lengan Sai agar berdiri lebih dekat dengannya, sementara Naruto dengan gembira merangkul pundak Sasuke yang berdiri di sebelah Sakura.
Sakura menjulurkan tangannya yang memegang kamera sejauh mungkin supaya wajah mereka semua terlihat di layar sebelum memberi aba-aba, "Satu… dua… cheers!"
Foto pertama mereka di liburan musim panas adalah foto dengan wajah ketiga cowok hanya terlihat dari hidung ke bawah. Foto kedua tidak lebih baik—Naruto hanya terlihat separuh dan mata Sai terpejam. Akhirnya Sakura terpaksa meminta bantuan pada salah satu penumpang untuk memotret mereka.
.
.
Hampir satu jam telah berlalu semenjak kapal meninggalkan dermaga, namun tampaknya Sakura dan Naruto belum bosan juga memandangi laut. Mereka masih berdiri di dekat susuran kapal, memandangi air laut yang terbelah besi haluan sementara kapal melaju, membentuk ombak kecil berbuih putih di sekelilingnya. Sesekali terpekik dan menunjuk-nunjuk ketika melihat sesuatu di bawah air, entah itu ubur-ubur atau sekelompok lumba-lumba yang tiba-tiba muncul di sisi kapal, melompat anggun di atas permukaan air laut seakan ingin menarik perhatian para penumpang kapal. Sementara Sasuke dan Sai memilih untuk duduk di bangku yang memang disediakan untuk penumpang di geladak, mengawasi kedua sahabat mereka.
Yah, setidaknya Sasuke lah yang sedari tadi tak melepas pandangannya dari Sakura, memanfaatkan situasi di mana perhatian gadis itu sedang terpusat pada hal lain sehingga kecil kemungkinan dirinya dipergoki—itu bakal sangat memalukan. Bukannya Sakura tiba-tiba berubah menjadi cantik jelita seperti dalam dongeng klise sehingga membuat Sasuke terpesona, sama sekali tidak. Sasuke selalu berpendapat Sakura bukanlah tipe gadis yang bisa memesona orang dengan kecantikannya seperti halnya Ino. Akan tetapi ia juga tidak mengerti mengapa sepertinya sulit sekali mengalihkan pandangan dari wajah ceria gadis itu, dan kedua bola mata hijaunya yang berbinar-binar.
Ada perasaan yang sangat menyenangkan di sana—termasuk ketika gadis itu meninju lengan Naruto dengan semena-mena karena cowok itu bergurau kelewatan soal turis yang mereka lihat di sisi lain geladak.
Sasuke mendengus menahan tawa. Sampai kemudian suara mengeluh samar di sebelahnya membuat cowok itu terpaksa berpaling. Kerutan samar muncul di antara kedua alisnya ketika mendapati Sai terlihat tidak sehat. Wajahnya pucat pasi—lebih pucat dari biasanya, bahkan kulitnya tampak agak ungu. Kedua matanya terpejam rapat sementara tangannya memijat-mijat pangkal hidungnya.
"Kau baik-baik saja?" Sasuke menanyai sahabatnya, merasa agak cemas pada kondisinya. "Sai?"
Sai seperti tidak mendengarkannya sampai Sasuke menepuk pundaknya. Ia mengangkat kepalanya sedikit untuk menoleh pada Sasuke, tersenyum lemah. "Kelihatannya bagaimana?" suaranya terdengar agak lirih. Sai menelan ludahnya dengan susah payah. Dahinya berkerut dalam, menahan mual. "Sepertinya aku mabuk laut."
"Jelas sekali," Sasuke menghela napas seraya menepuk-nepuk punggung bagian atas sahabatnya pelan. Tiba-tiba saja Sai membuat gerakan menutup mulutnya dengan tangan. "Hei—jangan muntah di sini—Astaga…"
"M—Maaf…"
Sasuke kemudian bangkit dari duduknya, lalu membantu Sai berdiri dengan memegangi lengannya. "Ke toilet, sekarang!" katanya dengan nada memerintah.
Sai tak punya pilihan lain selain menurut pada desakan Sasuke. Lagipula rasanya ia sudah tidak sanggup bicara saat itu—khawatir akan memuntahi Sasuke kalau ia berani membuka mulut. Mereka baru beberapa langkah meninggalkan bangku ketika tiba-tiba Sakura berlari-lari menghampiri mereka diikuti Naruto. Raut kecemasan tampak di wajahnya.
"Sai kenapa—oh, ya ampun… Kau tidak apa-apa, kan?"
"Hanya mabuk laut," Sasuke menyahut, sedikit jengkel ketika dengan-nyaris-penuh-kasih-sayang Sakura menyeka pelipis Sai yang berkeringat dingin.
Di belakang Sakura, Naruto meringis. "Lebih baik ke toilet sekarang. Bisa repot kalau dia muntah di sini. Mukanya sudah ungu begitu."
"Kami baru akan ke toilet," geram Sasuke tak sabar sambil kembali menarik Sai yang terhuyung-huyung. Tidak tega, Sakura lantas bergegas ikut memapahnya. Sasuke mengangkat alis padanya. "Apa kau bermasud ikut kami ke toilet cowok, Sakura?"
"Oh—" Sakura jelas melupakan—untuk beberapa saat—perbedaan gender mereka saking cemasnya.
"Biar aku saja!" Naruto mengambil alih tempat Sakura. Kemudian bersama Sasuke, ia memapah—lebih tepatnya, menyeret—Sai ke kamar kecil pria.
.
.
Ketiga cowok itu kembali ke bangku tempat mereka menaruh barang-barang tak lama kemudian. Sai masih sama pucatnya seperti sebelumnya, namun terlihat lebih lega ketika ia kembali menghenyakkan diri di tempatnya semula. Sementara dua yang lain mengambil tempat duduk di sebelahnya. Tampang Naruto agak jijik, tetapi Sasuke tampak kalem seperti biasa. Ia langsung merogoh salah satu kantung di ransel besarnya.
"Sudah baikan?" tanya Sakura seraya menawarkan sebotol air mineral yang baru dibelinya di kafetaria tadi pada Sai.
Sai mengangguk lemah, menerima botol air dari tangan Sakura. "Lumayan. Masih agak pusing."
"Sai memuntahkan semua isi perutnya," komentar Naruto—tak ada seorang pun yang menghiraukannya.
"Ini," Sasuke mengangsurkan sebutir tablet yang baru dikeluarkannya dari bungkusan, "Minum. Ini obat untuk mabuk kendaraan."
Sai menatap obat itu curiga. "Apakah aman?"
Sasuke memutar matanya. "Aman. Kecuali Itachi berniat meracuniku."
Itu alasan yang cukup bagi Sai. Sambil mengucapkan terimakasih, ia menerima obat yang diulurkan Sasuke, lalu menelannya bersama air yang didapatkannya dari Sakura. Selang beberapa saat, rasa kantuk yang memang merupakan efek samping obat mulai dirasakan Sai dan tak lama kemudian ia sudah jatuh tertidur dengan kepala bertumpu nyaman di pangkuan Sakura—Sasuke mengerutkan kening melihat ini, namun tak bisa berbuat apa-apa karena Sakura lah yang menawarkan diri.
.
.
Senja mulai turun. Matahari sudah semakin condong ke arah Barat. Perlahan, bulatan berwarna kuning keemasan itu tenggelam di batas cakrawala, menyisakan bias kemerahan yang luar biasa cantik di langit tak berawan. Pemandangan menakjubkan ini tidak dilewatkan begitu saja oleh para penumpang kapal. Beberapa penumpang tampak mengabadikan momen itu dengan kamera mereka, sementara beberapa yang lain hanya memandang takjub. Tak terkecuali Sakura.
Seumur hidup tinggal di daerah yang jauh dari laut membuatnya nyaris tak pernah menikmati suasana seperti ini. Pemandangan yang hanya bisa dilihatnya di televisi ternyata jauh lebih indah jika dilihat secara langsung seperti ini. Beruntung saat itu tempat duduk mereka menghadap langsung ke matahari terbenam.
"Romantis, ya?" Sakura tak bisa menahan diri mendesah saking terpesonanya.
Naruto yang saat itu duduk di lantai kapal bersama Sasuke—karena tempat mereka ditempati Sai untuk tidur—menoleh pada gadis di belakangnya, nyengir. "Yah, dengan seorang cowok mabuk tidur di pangkuanmu, Sakura," ia mengerling Sai yang masih tertidur pulas karena pengaruh obat, "pastinya sangat romantis." –Ia berkata begitu sambil melirik Sasuke yang duduk di sebelahnya, terkekeh melihat cowok itu memutar mata.
Sakura terkekeh kecil. Sebelah tangannya mengusap rambut hitam Sai yang terjatuh di keningnya. Cowok itu bergeming, sama sekali tak merasa terganggu. "Tidurnya lelap sekali. Sasuke, kalau ada apa-apa dengannya kau yang tanggung jawab!"
"Dia cuma tidur, bukan mati," Sasuke berkata sebal, meskipun ia tahu Sakura hanya bergurau dengannya. Tapi melihat gadis itu bermain-main dengan rambut Sai dengan jemarinya membuat mood-nya jelek lagi. Bukannya ia menyalahkan Sai atau apa. Bukan salahnya tiba-tiba terserang mabuk laut parah.
"Tidur seperti orang mati," komentar Naruto, terkekeh. "Oi, Sai!" Ditepuk-tepuknya lengan cowok yang tengah tertidur itu, tapi Sakura segera menepis tangannya.
"Jangan ganggu. Biarkan saja dia tidur."
"Eeh!" Naruto memprotes, "Sakura curang sekali. Aku mau membangunkan Sasuke waktu dia molor di kereta tadi tidak boleh."—Sasuke sedikit merona, tapi pura-pura tidak mendengar—"Sekarang membangunkan Sai juga tidak boleh. Kemarin dulu kau membiarkan saja Sasuke menendang bangkuku dengan kejamnya waktu aku ketiduran di kelas."
"Berisik, ah!" Sakura menarik daun telinga Naruto—tentu saja main-main—sambil terkekeh, membuat cowok pirang itu mengaduh. "Itu karena mereka memang butuh istirahat. Bukannya kau yang karena malas mendengarkan pelajaran Pak Raidou."
"Tapi kan pelajaran Pak Raidou memang dongeng sebelum tidur!" Naruto bersungut-sungut, sembari mengusap-usap telinganya yang memerah.
Keributan yang mereka timbulkan rupanya mengusik Sai. Mereka semua terdiam dan mengawasi ketika Sai mengeluarkan suara erangan pelan, dahinya berkerut. Tapi ia tidak terbangun, hanya menolehkan kepala ke arah lain sebelum melanjutkan tidur. Dadanya bergerak naik turun seiring irama napasnya yang dalam.
Keheningan di antara keempat sahabat itu kemudian dipecahkan oleh suara berkeriuk keras yang berasal dari perut Naruto.
"Eheheh… Aku lapar…" Cowok pirang itu meringis sambil memegangi perutnya.
Sakura baru teringat sejak berangkat tadi pagi mereka memang belum makan apa pun yang lebih berat dari pada permen dan mereka juga melewatkan makan siang karena terlalu terfokus pada perjalanan—Hei, mereka kan harus berkonsentrasi agar tidak nyasar. Maka Sasuke dengan berbaik hati mengusulkan untuk membelikan mereka semua ramen instan yang dijual di kafetaria kapal, membuat Naruto girang sekali.
"Berhentilah bersikap seperti idiot, Naruto," desis Sasuke, agak sebal dan malu dengan tingkah norak Naruto yang terus menyenandungkan 'Ramen, ramen, rameeeeen…' ketika mereka berdua tengah menunggu petugas kafetaria menyeduhkan ramen pesanan mereka.
Naruto nyengir dan menggaruk-garuk kepala pirangnya yang tak gatal. "Habis Sasuke baik banget mau mentraktir ramen. Aku kan jadi terharu…"
Sasuke mencibirnya.
"Kukira aku tadi salah lihat. Ternyata memang benar Sasuke."
Kedua cowok itu kontan menoleh ketika mendengar suara berat seorang pria dari arah belakang mereka. Ekspresi Naruto menyiratkan kebingungan, sementara Sasuke tampak sangat terkejut melihat penampakan seorang pria bertubuh tinggi besar itu. Pria itu menyeringai lebar, menampakkan deretan giginya yang runcing seperti gigi hiu. Kulitnya yang sangat pucat nyaris biru membuatnya terlihat menyeramkan.
"Kisame?"
"Yo!" Pria bernama Kisame itu mengangkat kopi kalengan yang dibawanya.
"Aah!" Naruto berseru keras, menunjuk dengan tidak sopan pada Kisame. "Kau kan temannya Kak Itachi yang waktu itu datang ke restorannya Sakura! Aku ingat muka birumu!"
"Hmm…" Kisame tampak mengingat-ingat, "Oh, restoran yang ayam panggang orientalnya sangat enak itu, kan? Ya, ya… Aku dulu pernah ke sana bersama Itachi. Dan omong-omong soal cowok sombong itu, di mana dia?" Kisame menoleh ke sana kemari, berharap menemukan teman lamanya di sana.
"Kak Itachi di Konoha," sahut Sasuke dengan nada nyaris malas-malasan. Dari dulu ia tidak begitu menyukai teman-teman kakaknya yang menurutnya aneh, meskipun Kisame lumayan baik padanya. "Dia tidak ikut."
Kisame berhenti celingak-celinguk dan menatap Sasuke dengan kedua alis terangkat tinggi—tampak agak terkejut dengan informasi ini. "Wah! Kukira kami semua akan berkumpul di Kiri musim panas ini."
"Katanya banyak pekerjaan di kantor yang tak bisa ditinggalkan."
Kisame mengerutkan dahi. "Kenapa dia tidak cerita padaku waktu aku telepon kemarin?"
"Mana kutahu," jawab Sasuke masa bodoh.
Kisame menggerutukan sesuatu yang tak bisa didengar Sasuke dan Naruto, tampak tidak senang. "Kalian hanya berdua?" tanyanya kemudian.
"Berempat. Sai dan Sakura ada di luar," jawab Naruto.
"Aku boleh bergabung, kan?"
Sasuke dan Naruto bertukar pandang, namun rupanya Kisame tidak benar-benar meminta persetujuan mereka karena saat berikutnya ia sudah memesan ramen instan untuk dirinya sendiri dan membayari ramen mereka juga. Meskipun enggan, toh Sasuke setuju juga Kisame bergabung dengan mereka.
Seperti yang sudah diduga, Sakura terkejut dengan sang pendatang baru ini. Gadis itu pun menujukkan reaksi yang sama dengan Naruto saat melihat Kisame. Namun berbeda dengan Sasuke, Sakura tampaknya tidak begitu keberatan dengan kehadiran pria besar itu. Ia malah tertawa saat Kisame berkata 'Bukan Paman, lho…'—mengingatkannya pada perkenalan pertama mereka dulu, saat Sakura menyebutnya dengan kata 'Paman'—dan mengucapkan terimakasih atas ramennya.
"Dia kenapa?" tanya Kisame, merujuk pada Sai yang masih tertidur.
"Mabuk laut," sahut Naruto, nyengir, "Langsung teler begitu setelah minum obat antimabuk."
"Sai…" Sakura mengguncang lembut bahu Sai untuk membangunkannya, "Sai, bangun sebentar. Makan dulu."
Sai terbangun tak lama kemudian—Sakura langsung meluruskan kakinya dengan penuh kelegaan—Pandangannya tak fokus dan rambut hitamnya mencuat berantakan. Ia tampak bingung saat Sasuke mengangsurkan cup ramen padanya.
"Makan," Sasuke menjejalkan cup itu ke tangan Sai.
"Masih pusing?" Sakura menanyainya.
"Sedikit," Sai menjawab sambil menyunggingkan senyum lemah, "Sudah tidak apa-apa."
"Ini," Kisame mengulurkan padanya sebutir jeruk yang baru ia keluarkan dari dalam backpack superbesar yang ia bawa, "Supaya tidak mual."
"Eh…" Sai menatap pemberian itu, lalu Kisame, tampak sangat kebingungan. Siapa orang asing ini tiba-tiba memberi jeruk? "Terimakasih."
.
.
Beberapa jam berselang, akhirnya kapal yang mereka tumpangi merapat di salah satu dermaga pelabuhan Kiri. Dengan sedikit terkantuk-kantuk—karena saat itu malam sudah sangat larut—rombongan kecil yang terdiri dari lima orang itu bergabung dengan antrian penumpang yang hendak turun.
"Orang yang menjemputku seharusnya sudah datang sekarang," kata Kisame ketika mereka sudah tiba di tempat penurunan penumpang. Ia melirik arloji di pergelangan tangan besarnya lalu memandang berkeliling—ia tak perlu menjulurkan leher seperti yang dilakukan Sakura karena tubuhnya sudah sangat jangkung, menjulang di antara para penumpang—"Kalian mau sekalian ikut? Dari pada naik bus."
"Terimakasih, Kakak, tapi kami juga dijemput—Ah! Itu dia!" Sakura memekik ketika melihat orang yang menjemputnya di antara orang-orang yang berlalu-lalang. "Yamato!"
Pria muda berambut cokelat itu lantas menoleh ke sana kemari, mencari-cari sumber suara yang memanggilnya. Sampai ia melihat sosok gadis berambut merah muda melambaikan tangannya dengan penuh semangat ke arahnya sambil melompat-lompat. Di dekat gadis itu, Yamato juga melihat tiga orang yang juga sudah ia kenali. Yamato lantas balas melambai. "Sakura!"
Yamato lantas mendekat rombongan itu, membuka kedua lengannya ketika Sakura berlari ke arahnya dan menubruk memeluknya penuh kegembiraan.
"Yamato, kangeeen…"
Yamato tertawa, menepuk-nepuk punggung gadis yang sudah dianggapnya seperti adik kandung itu penuh sayang. "Tapi kan kita baru bertemu bulan Maret yang lalu, Sakura."
Sakura melepaskan pelukannya dan memberi Yamato senyum lebar. "Pokoknya aku senang bertemu denganmu. Trims sudah membantuku membujuk ibu."
"Iya, iya…" Yamato menepuk puncak kepala Sakura yang tertutup topi woll. "Bagaimana kabarmu? Kelihatannya kau sehat, eh?"
Sebelum Sakura membuka mulut untuk menjawab, Sasuke sudah tiba di sampingnya bersama Sai dan Naruto, membawakan travel bag miliknya. "Jangan seenaknya meninggalkan tasmu di mana-mana."
"Ups!" Sakura nyengir pada Sasuke. "Aku lupa. Makasih, Sasuke."
"Hn."
"Sasuke, Naruto, Sai, apa kabar?" Yamato menyapa ketiga sahabat adiknya, "Perjalanannya menyenangkan?"
"Lumayan," jawab Sasuke, bersamaan dengan Naruto yang langsung menyahut penuh semangat, "Tentu saja!" Di samping mereka, Sai hanya mengulum senyum. Baginya perjalanan mereka cukup menyenangkan, kecuali di bagian mabuk laut.
"Perjalanan kami oke juga. Yang jelas kami tidak tersasar," kata Sakura cerah. "Tadi kami juga bertemu teman Kak Itachi di kapal." Gadis itu lantas menoleh ke belakang, di mana Kisame berdiri tak jauh dari mereka, tampak bingung antara mau mendekat atau tidak.
Di luar dugaan, ekspresi Yamato berubah terkejut tapi senang begitu melihat pria berambut biru itu. "Kisame Hoshigaki?"
Kisame mengerjap. "Kau kenal aku?"
"Tentu saja. Setidaknya aku pernah melihat fotomu di tempatku bekerja." Yamato mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Kisame. "Namaku Yamato. Aku bekerja di Akatsuki Café," ujarnya menambahkan ketika dilihatnya Kisame masih tampak tak mengerti.
"Aah…" Kisame mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti, "Tadi Sasori meneleponku, katanya akan ada orang dari restoran yang menjemput. Tadinya kukira Hidan. Rupanya kau—"
Yamato memberinya senyum sopan seraya mengangguk. "Sasori yang memintaku sekalian menjemputmu waktu aku meminta izin menggunakan mobil restoran untuk menjemput adikku," ia mengerling Sakura dan ketiga temannya, tersenyum pada mereka, sebelum kemudian berpaling memandang jam tangannya. "Bagaimana kalau kita berangkat sekarang? Supaya tidak terlalu malam sampainya."
Yamato lantas mengambil travel bag Sakura dari tangan gadis itu sebelum memimpin rombongan kecil itu menuju lapangan parkir tempat mobil pinjaman Yamato sudah menunggu. Sementara mereka berjalan melintasi deretan pos petugas pelabuhan, Kisame mengungkapkan keheranannya pada seseorang bernama Kakuzu yang mengizinkan Yamato meminjam mobilnya.
"Awalnya memang Bos tidak mengizinkan," kata Yamato dengan nada ringan, "Tapi saat itu Sasori sedang bersamanya, dialah yang membujuknya."
Kisame terkekeh berat. "Aku yakin dia membujuk Kakuzu bukan dengan cara yang biasa."
Yamato tersenyum simpul, mengerti betul apa yang dimaksudkan pria jangkung itu. Beberapa bulan bekerja di bawah manajemen yang diurus oleh pria bernama Kakuzu itu membuat Yamato sudah cukup mengenali watak bosnya itu. "Dan kurasa itu juga karena Itachi Uchiha menelepon tak lama kemudian," tambahnya, mengerling Sasuke—yang sama sekali tidak memperhatikan apa-apa. Yang ada dalam pikirannya sekarang hanyalah cepat sampai agar ia bisa istirahat dan tidur nyenyak—"Dia meminta seseorang menjemput adiknya di pelabuhan. Dan akhirnya dia mengizinkanku, dengan syarat aku membayari bensinnya."
Suara tawa Kisame yang menggelegar memecah malam. "Orang itu masih saja pelit. Tidak pernah berubah."
Mereka sampai di lapangan parkir tak lama kemudian. Sasuke langsung mengenali sebuah van yang dicat hitam pekat dengan dengan simbol yang tak asing. Corak awan berwarna merah darah tergambar di bagian belakang badan van, bersama tulisan 'Akatsuki' yang dicetak italic di atasnya. Sasuke menahan dirinya untuk tidak mengeluarkan komentar mencemooh—seperti yang biasa dilakukannya pada teman-teman sang kakak—melihat mobil itu. Salah-salah, ia bisa menyinggung Yamato yang sudah berbaik hati menjemput mereka.
.
.
Perjalanan mereka berlangsung dalam keheningan. Wajar saja, karena saat itu malam sudah sangat larut dan mereka semua—kecuali Yamato—sudah sangat kelelahan akibat perjalanan jauh. Sasuke dan Naruto dalam waktu singkat sudah terlelap di bangku tengah. Keduanya dengan semena-mena—barangkali juga tidak sadar saking lelap—menjadikan bahu Sai yang duduk di antara mereka sebagai bantal. Untungnya Sai terlihat tak keberatan dengan itu. Sampai kepala Sasuke dan Naruto merosot dalam waktu yang bersamaan ketika mobil tanpa sengaja melindas lubang di jalan, dan beradu di depan dada Sai, menimbulkan suara 'duk!' keras. Mereka berdua lantas terbangun sambil menyumpah-nyumpah, tapi tak lama kemudian keduanya sudah terlelap lagi—kali ini mereka bersandar pada kaca jendela mobil. Sai yang tidak mengantuk karena sebelumnya sudah tidur cukup lama hanya terkekeh tanpa suara melihat tingkah kedua sahabatnya.
Sementara itu di bangku belakang, Kisame mendengkur keras.
Sakura yang duduk di bangku depan bersama Yamato tidak langsung jatuh tertidur seperti yang lain. Di awal perjalanan, ia dan Yamato sempat terlibat berbincangan kecil tentang Konoha dan teman-teman di restoran, setidaknya sebelum Sakura tak dapat lagi menahan kuapnya.
"Sebaiknya kau tidur," saran Yamato tanpa melepaskan pandangannya pada jalanan sepi di depannya, "Perjalanan kita masih jauh. Nanti akan kubangunkan kalau kita sudah sampai."
Sakura menangguk, lalu memandang ke luar jendela sementara mengambil posisi yang lebih nyaman. Mereka masih melewati daerah tepi laut yang gelap. Sakura nyaris tak bisa memandang apa pun selain jalanan dan permukaan air laut yang berkilauan tertimpa cahaya bulan di bawah tebing, juga cahaya putih yang berasal dari sebuah mercusuar di ujung pulau. Pasti pemandangannya sangat menakjubkan di siang hari, pikir Sakura.
Tak lama kemudian, gadis itu menyerah oleh rasa kantuk dan akhirnya jatuh tertidur.
.
.
Sakura setengah tersadar ketika seleret cahaya menimpa pelupuk matanya. Gadis itu mengangkat kepalanya yang masih terasa berat dan mengarahkan pandangannya yang masih belum fokus ke luar jendela. Mobil yang mereka tumpangi masih melaju, namun pemandangan di luar sudah berubah. Laut sudah tidak lagi nampak, digantikan deretan bangunan berdinding batu yang terasa asing. Tiang-tiang lampu jalan berukir berderet di sepanjang jalan, menerangi jalanan itu dengan cahayanya yang berwarna kuning keemasan. Sakura bisa melihat deretan kanopi toko-toko yang sudah tutup, juga bangku-bangku yang dibalik di atas meja di bagian luar sebuah restoran kecil.
Gadis itu barangkali tertarik untuk melihat lebih banyak kalau saja ia tidak begitu lelah. Dalam sekejap matanya sudah terpejam lagi, meskipun tidak benar-benar tertidur.
Tak lama ia merasakan mobil mereka berhenti. Tadinya ia mengira mereka sudah sampai, tapi ternyata Yamato hanya menurunkan Kisame di depan sebuah bangunan—mungkin sebuah toko atau gallery, entahlah. Sakura terlalu mengantuk untuk mencari tahu—Seseorang terlihat keluar dari dalam bangunan dan mereka berbicara dengan suara rendah yang tak bisa didengarnya. Tetapi dari nada bicaranya, orang itu kelihatannya tidak terlalu senang. Kemudian disusul oleh orang kedua yang bersuara keras, begitu kerasnya sehingga apa yang diucapkannya tidak terdengar jelas.
Sakura menoleh ke bangku belakang ketika ia mendengar suara Naruto. Cowok pirang itu terbangun, mengerjap-ngerjapkan matanya dan memandang sekeliling dengan bingung.
"Apa kita sudah sampai?" tanyanya dengan suara mengantuk.
"Kelihatannya belum," sahut Sakura pelan.
"Ooh…" Naruto menguap lebar-lebar. Tak sampai setu menit kemudian ia sudah mendengkur lagi dengan lengan memeluk Sai yang tidur di sebelahnya seperti guling.
Yamato kembali tak lama kemudian, tersenyum melihat Sakura sudah terbangun. "Sebentar lagi kita sampai, Sakura. Maafkan soal keributan yang tadi, ya. Mereka memang begitu."
Sakura tidak benar-benar mendengarkannya. "Apa kita masih jauh?"
"Tidak, Sayangku. Lima menit lagi kita sampai," janji Yamato. Kemudian mobil itu kembali melaju dengan kecepatan lambat.
Seperti janjinya, mereka akhirnya sampai lima menit kemudian. Namun mereka tidak berhenti di tempat yang dibayangkan Sakura sebelumnya. Alih-alih berhenti di depan sebuah rumah, mereka berhenti di tepi sebuah jembatan lengkung kecil yang melintasi sebuah kanal.
"Kita sudah sampai!" Yamato mengumumkan. "Kuharap kalian tidak keberatan berjalan sedikit."
Sasuke langsung terbangun mendengar suara Yamato, begitu pula dengan Sai. Hanya Naruto yang agak sulit dibangunkan. Setelah semuanya benar-benar terjaga, meskipun dengan sedikit terkantuk-kantuk, mereka mulai menurunkan barang-barang dari mobil dibantu Yamato. Pria itu kemudian memimpin mereka berjalan melewati jembatan lengkung, menyusuri jalan yang tidak terlalu lebar di tepi kanal, melewati deretan rumah yang tampak serupa dan berdempet-dempet. Kesemuanya memiliki balkon di lantai dua, berdinding batu kapur dan memiliki pintu utama dari kayu ek. Beberapa rumah dihiasi tanaman yang menjalar di sepanjang dinding dan pagar balkon, sementara yang lainnya membiarkannya polos begitu saja.
Mereka berhenti di salah satu rumah berdinding batu yang memiliki berpot-pot tanaman hias di kanan-kiri undakannya. Yamato mengeluarkan kunci dari dalam sakunya dan baru saja hendak memasukkannya ke lubang kunci ketika pintu itu terbuka dari dalam. Seorang pria berkulit kecokelatan dan berwajah ramah menyambut mereka.
"Aku sudah bertanya-tanya kapan kau akan kembali, Yamato," katanya sambil tersenyum.
"Kuharap kami tidak mengganggu, Kaiza," kata Yamato.
"Sama sekali tidak. Kebetulan aku senang menunggu pertandingan sepakbola. Final liga malam ini, kau tahu?" Pria itu kemudian mengarahkan pandangannya pada keempat remaja di belakang Yamato. Ia tersenyum hangat. "Ah, ini pasti para penyewa baruku yang kau bicarakan itu bukan, Yamato?"
"Yah…" Yamato menepi supaya Kaiza bisa menyapa keempat remaja itu, "Sakura, Sasuke, Sai, Naruto, ini adalah Tuan Kaiza, pemilik tempat ini. Kaiza, ini adik perempuanku," Yamato meletakkan tangan di bahu Sakura saat mengatakan itu, "dan ketiga temannya yang akan menghabiskan liburan musim panas di sini."
Keempat remaja itu mengangguk sopan pada sang pemilik rumah.
"Menyenangkan sekali. Mari masuk, Tuan-Tuan dan Nona…" Kaiza kemudian menepi supaya mereka bisa masuk ke dalam rumah, "Di sini aku tinggal bersama ayahku, Tazuna, istriku, Tsunami dan anak laki-lakiku, Inari. Sekarang mereka semua sudah tidur, tapi kalian bisa menemui mereka besok pagi."
Kaiza dengan ramah menunjukkan bagian dalam rumahnya. Berbeda dengan yang terkesan dari luar, ternyata rumah itu cukup luas di bagian dalamnya—dan terlihat sangat nyaman. Terdapat tiga kamar di lantai dasar, ruang keluarga dengan perabot bernuansa kayu yang hommy yang menyatu dengan dapur dan ruang makan. Di dekat pintu, terdapat tangga menuju lantai dua.
"Kami menyewakan lantai dua, biasanya untuk pria—tapi kau tenang saja, Nona, karena istriku telah menyiapkan kamar di lantai dasar khusus untukmu," tambahnya pada Sakura, "Ada satu kamar lagi yang kosong di atas, kuharap kalian bertiga tidak keberatan tidur dalam satu kamar."
"Kamar itu cukup luas, cukup untuk bertiga. Kalian tidak perlu khawatir," Yamato menambahkan sambil tersenyum menenangkan, sebelum berpaling pada sang tuan rumah lagi, "Apa Haku sudah pulang dari Kumo?"
Kaiza menggeleng. "Sayangnya belum, Nak. Tadinya kukira dia akan pulang hari ini."
Yamato menghela napas. "Ya sudah, tidak masalah. Kurasa sudah saatnya beristirahat. Biar aku yang tunjukkan kamar mereka, Kaiza."
Kaiza menyerahkan kunci kamar yang dimaksud pada Yamato, lalu tersenyum pada Sakura, "Kamarmu di sebelah sini, Nona."
Sakura mengucapkan selamat malam pada ketiga sahabatnya sebelum menyeret tasnya mengikuti Kaiza melintasi ruang keluarga sementara yang lain mengikuti Yamato ke lantai dua. Kamar Sakura tidak terlalu besar, tapi cukup nyaman dengan sebuah ranjang berukuran sedang yang dilapisi seprai dan bedcover berenda berwarna pink pucat, sebuah lemari pakaian dan meja nakas. Meskipun seprai dan bedcover sangat bernuansa girly, tetapi Sakura cukup yakin tadinya kamar itu adalah kamar anak laki-laki jika dilihat dari ornament yang masih tersisa—termasuk poster-poster jagoan anime dan pemain sepakbola yang menghiasi sepanjang dinding dan lemari.
"Tadinya ini kamar putraku," Kaiza membenarkan dugaan Sakura, "Sekarang dia tidur bersama kakeknya—Oh, jangan khawatir, Nak," katanya buru-buru melihat ekspresi di wajah Sakura, "Inari sama sekali tidak keberatan. Biasanya juga dia lebih suka tidur dengan kakeknya, jadi kamar ini praktis kosong. Istriku sudah mengganti seprainya. Kami harap ini cukup nyaman."
"Oh, ini sangat nyaman, Paman Kaiza, terimakasih banyak," ucap Sakura sambil tersenyum sopan. Ia menyeret kopernya masuk dan meletakkannya di dekat lemari pakaian.
"Selamat beristirahat kalau begitu."
Sakura mengucapkan terimakasih sekali lagi sebelum Kaiza menutupkan pintu kamar untuknya. Gadis itu bergegas mengunci pintunya, lalu melemparkan diri di atas ranjang dan mendesah penuh kelegaan saat mendapati ternyata ranjang itu sangat nyaman. Ia lalu merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel dan beberapa bungkus permen. Sakura hendak meletakkannya di meja ketika melihat ada email yang masuk ke ponselnya.
Dari Ino.
…dan isinya cukup panjang.
.
.
'Sakura-ku tersayang…
Maaf baru membalas emailmu larut malam begini. Aku sangat sibuk seharian sampai-sampai tidak ada waktu.
Oke, bisa kuduga kau tidak percaya dengan kata-kataku, bukan? Aku mengaku deh. Sebenarnya aku tidak terlalu sibuk, hanya saja ada beberapa kejadian tak terduga yang membuatku lupa membalas emailmu sampai malam ini. Dan kau pasti akan terkejut kalau kuceritakan.
Kejutan yang pertama, tadi pagi Sasame Fuuma, pacar sahabatmu tersayang, datang ke toko bungaku dan memberitahuku kalau dia bergabung di band! Kau percaya itu?—Maksudku, tega-teganya Shikamaru memasukkan cewek itu ke dalam band tanpa bicara padaku dulu! Kau pasti tahu alasan keberatanku, kan, Sakura? Kau pasti bisa membayangkan betapa canggungnya saat kami latihan dan betapa menyebalkannya saat dia mulai mengoceh tentang hubungannya dengan Sai. Siapa yang peduli, siih?
Dan kau tahu apa yang dikatakan Shikamaru saat aku protes padanya soal itu? Dia bilang seharusnya aku bisa lebih dewasa dan berhenti bersikap egois—dan dia mulai menceramahiku soal profesionalitas.
Kurasa dia benar. Aku merasa seperti anak kecil yang merengek-rengek karena mainannya diambil orang. Maksudku, aku sebal pada Sasame karena dia pacar Sai, aku tidak akan mengingkari itu. Dan yang membuatku kesal adalah saat Sasame bersikap sangat baik padaku saat latihan dan memuji suaraku.
Aku benci diriku.
Sakura… kalau saja kau ada di sini, mungkin kau bisa membantuku berpikir lebih jernih.
Kejutan yang kedua—yah, kukira kau akan tertawa alih-alih terkejut mendengar ini—Shino Aburame datang lagi ke toko bungaku! Kau masih ingat kan waktu dia datang kemarin dulu mencari bunga yang tidak ada di tokoku? Kali ini dia datang dan menunjukkan bunga yang dia maksud waktu itu, yang ternyata hanya bunga liar. Dia bilang itu adalah bunga favoritnya. Dan dia juga mulai mengoceh tentang dirinya sendiri, apa yang dia sukai; makanan yang dia sukai, serangga yang dia sukai, dan sebagainya, dan sebagainya. Aku tidak mengerti apa maksudnya memberitahuku itu semua.
Kadang kupikir Shino mungkin menyukaiku, tapi aku tidak yakin karena dia senang sekali menyindirku dan membuatku kesal. Maksudku, para cowok biasanya memuji atau melakukan sesuatu yang romantis untuk menarik perhatian gadis yang disukainya, kan?
Cowok itu benar-benar membingungkan.
…
Omong-omong, dia mengajakku pergi ke rumah kaca di KCP besok. Katanya dia ingin memperlihatkan kepadaku serangga-serangga yang ia sukai itu. Karena aku tidak ada kerjaan, kuterima saja. Aku memang sedang butuh jalan-jalan untuk menenangkan pikiranku. Dan kurasa serangga tidak buruk juga. Aku suka kupu-kupu.
…
Hentikan itu! Aku bisa mendengarmu tertawa sekarang!
…
Begitulah Sakura, Konoha masih sama membosankannya seperti kemarin-kemarin. Bagaimana dengan perjalananmu ke Kiri? Menyenangkan kah? Apa kau sudah bertemu cowok superganteng di jalan? Aku menunggu cerita selengkapnya darimu segera.
Love,
Ino.'
.
.
TBC…
.
.
Terimakasih sudah membaca sampai sejauh ini J
