Kayanya sudah lama gak mencantumkan disclaimer di fic ini. Baiklah, Naruto fandom dan segala isinya adalah hak cipta Masashi Kishimoto-sensei. Saya hanya minjam, tanpa mengambil keuntungan apa pun kecuali kesenangan menulis. :D
Arlene Darcy
L'amis Pour Toujours: Summer Holiday Arc Chapter 3
.
.
Sakura menyambut pagi hari pertamanya sejak mereka tiba di Kiri dengan dipenuhi energi. Tak peduli semalam ia tidur kelewat larut setelah menelepon ibunya di Konoha—gadis itu sudah berjanji pada sang ibu untuk memberitahunya segera setelah sampai di Kiri, tak peduli itu sudah larut malam. Dan Azami tidak akan tenang sebelum mendapatkan kepastian putri semata wayangnya sudah tiba dengan selamat—yang jelas ketika Sakura membuka matanya tepat setelah matahari mulai merangkak naik, antusiasme liburan musim panas yang menggebu-gebu segera memenuhi dirinya, mengalahkan keinginan untuk bermalas-malasan di balik selimut.
Pertama-tama yang ia lakukan adalah membuka tirai jendela kamar sewaannya lebar-lebar dan mengintip ke luar. Rupanya jendela tersebut tepat menghadap ke sisi jalan sehingga Sakura bisa melihat dengan jelas kesibukan yang mulai menggeliat di luar. Suara orang-orang yang berlalu-lalang—berjalan kaki atau menaiki sepeda—mengobrol dan saling mengucapkan selamat pagi.
Sebuah perahu kecil—mirip Gondola di Venesia—melintas di kanal tepat di seberang jalan. Sakura melihat seorang pria paruh baya berambut putih yang mendayungnya berseru menyapa Kaiza yang baru saja keluar dari pintu rumah. Pria ramah itu sudah berpakaian lengkap dan bersiap untuk acara lari paginya bersama seorang anak lelaki kecil—barangkali itu anak laki-lakinya yang ia sebutkan semalam, pikir Sakura—dan seorang pria yang lebih tua.
Senyuman merekah di wajah gadis pemilik mata hijau itu ketika ia menarik napas dalam-dalam. Samar-samar ia bisa merasakan aroma laut dari udara. Ah, rasanya ia sudah tidak sabar untuk segera berkeliling. Dan untuk itu ia harus segera bersiap-siap.
Seorang wanita berambut gelap menyapanya ketika Sakura baru saja keluar dari kamarnya hendak ke kamar mandi yang ditunjukkan oleh Kaiza semalam. Wanita itu sedikit mengingatkan Sakura pada ibu Sasuke—ia pernah sekali bertemu dengan Mikoto Uchiha ketika ibu Sasuke itu mengunjungi putranya di Rumah Sakit Konoha beberapa bulan yang lalu—Berpembawaan anggun dan memiliki senyum yang ramah.
Demi sopan santun, Sakura menyempatkan diri sekedar berbasa-basi dengannya. Wanita itu bernama Tsunami, dan seperti yang sudah ia duga, adalah istri dari sang tuan rumah. Tsunami sepertinya hendak ke luar rumah, jika dilihat dari penampilannya yang rapi. Ia meminta maaf karena belum sempat menyiapkan sarapan untuk mereka, tetapi berjanji akan membuatkan makan malam istimewa sebagai sambutan kecil untuk para tamu barunya. Sakura tentu saja tak dapat menampik ajakan baik hati itu. Kebetulan mereka juga belum sempat merencanakan untuk urusan isi perut.
.
.
Kembali ke kamarnya tak lama kemudian dalam keadaan lebih segar setelah mandi, Sakura segera menuju travel bag-nya lagi untuk mengeluarkan salah satu pakaiannya yang terlipat di tumpukan paling atas. Senyumnya merekah lagi ketika lipatan dress berbahan chiffon tersebut terurai dan terjatuh dengan lembut saat gadis itu mengangkatnya.
Dress itu masih sama cantiknya saat pertama kali ia melihatnya—dan sekarang sudah menjadi salah satu koleksi favoritnya, meskipun ia belum pernah mengenakannya sebelum ini—Dan setelah beberapa bulan berlalu sejak Maret, dress itu masih tampak sempurna di tubuhnya. Terimakasih pada Sasuke untuk itu. Omong-omong, Sakura memang sudah berencana memberi kejutan untuk cowok itu dengan memakai dress pemberiannya sekarang!
Oh, Sakura sudah tidak sabar melihat reaksi Sasuke saat melihatnya nanti!
Sakura berpaling dari cermin untuk mengambil ponselnya yang bergetar di atas ranjang. Sebuah pesan singkat baru saja masuk—dari Yamato.
Sudah bangun, Princess? Berminat mencicipi sarapan a la calon chef hebat ini? :D
Tertawa kecil, Sakura segera membalas pesan itu, memberitahu Yamato ia akan segera ke atas. Kemudian ia melempar ponselnya ke tempatnya semula di atas ranjang sebelum kembali melanjutkan kesibukannya mematut diri di depan cermin.
"Selesai!" serunya setelah menyematkan jepit rambut untuk menahan poni di sisi kepalanya. Sakura tersenyum puas mengamati pantulan dirinya sendiri di dalam cermin, lalu bergegas meninggalkan kamar untuk menuju tempat para cowok di atas.
Sama seperti suasana di bawah, di lantai atas juga sama nyamannya, hanya saja dengan perabotan yang lebih sederhana—dan lebih berantakan. Gelas-gelas bekas pakai, bungkus tortilla chip yang sudah kosong dan dua buah majalah olah raga tergeletak di atas meja di ruang keluarga. Di depannya, televisi dalam keadaan menyala—remote-nya tergeletak di sofa, terselip di bawah tumpukan bantal duduk yang sepertinya habis dipakai tidur. Sebuah jaket entah milik siapa tersampir di punggung kursi berlengan di seberang sofa.
Menyatu dengan ruangan tersebut, rupanya tuan rumah juga menyediakan ruang makan dan dapur khusus untuk para penyewa kamar. Dan di sanalah Yamato berada sekarang, sibuk berkutat sendiri. Pria berambut cokelat itu menoleh ketika Sakura menghampirinya.
"Selamat pagi," Yamato menyapanya sambil tersenyum cerah.
"Pagi!" balas Sakura tak kalah ceria.
Yamato memperhatikan penampilan gadis itu beberapa saat. Ia sudah melihat potongan rambut baru Sakura semalam, tetapi baru menyadarinya sekarang: Sakura tampak lebih fresh dengan rambut pendek. Dan dress itu sepertinya baru—Yamato belum pernah melihatnya sebelumnya.
"Kau kelihatan cantik," komentarnya tulus. "Baju baru?"
"Benar?" Senyum Sakura melebar mendengar komentar Yamato. Ia lalu berputar di tempat, memamerkan dress-nya. "Baru dipakai, ini sudah agak lama. Menurutmu cocok?"
"Sangat sesuai denganmu," sahut Yamato, mengangguk. "Sepertinya sense of fashion Ino menular padamu, hm?"
Sakura tertawa kecil, mengibaskan tangannya. "Oh, ini bukan karena Ino. Ini dari secret admirer."
Yamato menaikkan alisnya, lalu terkekeh. "Jadi sekarang kau punya secret admirer, eh? Siapa? Neji Hyuuga?"
"Bukan." Sakura hampir lupa Yamato sama sekali belum tahu tentang kejadian dengan Neji beberapa bulan yang lalu karena pindah ke Kiri. "Aku sudah putus dengan Neji."
"Oh!" Yamato tampak terkejut, tapi kemudian ia memutuskan untuk tidak bertanya soal itu. Ekspresi Sakura sesaat setelah nama Neji Hyuuga disebut sudah cukup memberitahunya gadis itu tidak ingin membahas topik itu. "Yah, siapa pun itu, dia berhasil membuatmu kelihatan cantik."
Sakura merasakan wajahnya menghangat, namun gadis itu berusaha mengabaikannya. Ia segera mengalihkan perhatian dengan melongok dengan penuh ingin tahu ke wajan yang tengah dikerjakan Yamato. "Sedang buat apa?"
"Pancake," sahut Yamato. Ia membalik pancake-nya dengan spatula sehingga sisi adonan yang telah berwarna cokelat keemasan berada di atas. "Kuharap tidak terlalu mengecewakanmu, karena aku yakin Bibi Azami sering membuatkanmu ini untuk sarapan."
"Kau bercanda, ya?" kata Sakura. Aroma lezat yang menguar dari wajan membuat gadis itu menyadari betapa laparnya ia. "Pancake ibu tentu saja berbeda dengan pancake buatan calon chef!" Sakura bergegas menuju rak untuk mengambil piring dan menyodorkannya dengan penuh semangat pada Yamato.
Melihat Sakura bertingkah seperti anak kecil yang tak sabaran, Yamato terkekeh. "Aku hampir lupa kalau kau penggila pancake, Sakura."
Sakura menjulurkan lidahnya, nyengir. "Habis, aku sudah lama sekali tidak merasakan masakan buatanmu sih. Jadinya aku terlalu bersemangat. Eh, omong-omong…" Sakura menoleh ke belakang, menyapukan pandangannya ke penjuru ruangan dengan wajah bertanya-tanya. Sejak tadi ia tidak melihat tanda-tanda keberadaan ketiga sahabatnya di sana di sana. "Kemana Naruto, Sai dan Sasuke? Kok belum kelihatan?"
"Hmm…" Yamato mengangkat bahu, tanpa mengalihkan perhatian dari pekerjaannya, "Kurasa mereka masih tidur."
"Eeh!" Sakura berseru terkejut. "Jam segini?"
Yamato terkekeh lagi sebelum menjawab dengan nada ringan, "Yah… semalaman suntuk mereka bertiga menonton pertandingan sepakbola dan baru saja tidur sekitar satu jam yang lalu. Kau tahu kan, semalam itu pertandingan final liga—"
Sakura menyela kata-kata Yamato dengan mengeluh keras-keras. Kegairahan yang ia perlihatkan sebelumnya menguap lenyap, digantikan oleh kejengkelan yang tampak jelas. Bagaimana tidak? Sejak semalam gadis itu sudah membayangkan hal-hal menyenangkan yang akan ia lewati bersama ketiga sahabatnya keesokan hari, dan sekarang semua rencananya gagal total. Bukannya beristirahat setelah perjalanan jauh, ketiga cowok itu malah nonton bola sampai pagi!
Dan—Ooh, buat apa Sakura repot-repot merencanakan akan membuat kejutan untuk Sasuke kalau orangnya sekarang malah tidur?
Menghentakkan kaki dengan kesal, Sakura menyeret kakinya menuju meja makan dan menghenyakkan diri di sana. Bibirnya manyun.
Melihat kekecewaan di wajah gadis itu, Yamato berkata lembut, "Jangan kecewa begitu." Ia menuang pancake hangat ke piring yang tadi disodorkan Sakura padanya, lalu meletakkannya di atas meja. "Namanya juga cowok. Kadang-kadang tidak bisa menahan godaan dari sesuatu yang sangat disukai. Dan kalau sudah begitu jadi lupa segalanya—misalnya saja, ya pertandingan sepakbola semalam. Kau mau sirup maple atau mentega?"
"Maple," Sakura menggerutukan jawaban seraya menopang dagunya dengan dua tangan di meja, sementara menonton Yamato menuangkan sirup maple di atas pancake-nya tanpa gairah—tiba-tiba saja ia tidak merasa lapar lagi—Ia menghela napas berat. "Kupikir kami bisa jalan-jalan hari ini."
Yamato menyunggingkan senyum maklum mendengar keluh-kesah gadis di hadapannya tersebut. "Mereka hanya butuh waktu istirahat sedikit lebih lama, Sakura," ujarnya mencoba menghibur. "Santai saja. Kalian masih punya banyak waktu untuk menjelajahi Kiri sepuasnya nanti."
Sakura menanggapinya hanya dengan ringisan yang tidak mencapai matanya. Kalau saja ia tidak ingat apa yang sudah dilakukan Yamato untuknya—membujuk Azami supanya mengizinkannya berlibur ke Kiri, menyediakan tempat menginap yang nyaman sekaligus perlindungan untuknya dan ketiga sahabatnya, dan yang terakhir, membuatkan sarapan favoritnya—Sakura pasti sudah menyembur.
"Ayolah…" bujuk Yamato lagi, "Jangan berwajah masam begitu."
"Aku tidak begitu," sangkal Sakura setengah hati.
Yamato terkekeh, lalu menyorongkan piring berisi pancake hangat yang telah ia persiapkan ke depan gadis itu. "Sekarang sebaiknya kau sarapan dulu. Kata orang makanan lezat bisa memperbaiki mood yang jelek. Susu atau jus jeruk?"
"Jeruk saja, trims."
Sakura mengalihkan pandangannya ke sisi lain ruangan itu sementara Yamato mengambil sekotak jus jeruk dari dalam kulkas untuknya. Mata hijaunya menjelajahi pintu-pintu yang mengelilingi ruang tengah. Sama seperti di lantai di bawahnya, ruangan itu juga memiliki tiga kamar: dua bersebelahan di satu sisi dan satu kamar di sisi lainnya, dekat dengan kamar mandi. Gadis itu bertanya-tanya dalam hati kamar mana yang ditempati oleh Naruto, Sasuke dan Sai?
"Yamato?" panggil Sakura pada Yamato, masih memandang penasaran pada ketiga pintu tersebut.
"Hm?" pria itu menyahut tanpa berpaling dari kegiatannya menuang jus jeruk ke dalam gelas.
"Mereka bertiga…" Sakura menoleh pada Yamato, "…tidur di kamar yang mana?"
Kali ini Yamato mengangkat wajahnya. Senyum jahil mengembang di bibirnya. "Kenapa?" ia malah balik bertanya, "Mau mengerjai mereka supaya bangun?"
Sakura memonyongkan bibirnya, pura-pura cemberut. "Aku kan cuma tanya," tukasnya.
Terkekeh, Yamato lantas menjawab, "Kamar yang paling dekat dengan tangga. Eh—Sakura, sarapanmu?"
Namun gadis itu mengabaikan Yamato. Ia beranjak dari meja makan dan melangkah menuju pintu kamar yang dimaksud pria itu. Sakura tidak melihatnya tadi, tiga pasang sepatu yang sudah sangat ia kenali bertebaran berantakan di sekitar pintu. Sakura menghela napas keras dan menggeleng-gelengkan kepala melihat pemandangan di depannya.
Dasar cowok.
Mengikuti nalurinya yang terbiasa dengan keteraturan di rumah—atau barangkali terdorong oleh rasa pedulinya pada ketiga sahabatnya—Sakura membungkuk dan mulai merapikan sepatu-sepatu itu, menyusunnya berpasangan di tempat kosong pada rak sepatu di dekat pintu. Yamato yang sedari tadi mengawasi apa yang dilakukan gadis itu sama sekali tidak berkomentar. Ia hanya tersenyum kecil, lalu melanjutkan membuat sarapan untuk dirinya sendiri.
Aku terlalu mengkhawatirkan hal yang tidak perlu, pikir Yamato. Bertahun-tahun ia mengenal Sakura, seharusnya ia tahu bahwa sejengkel apa pun gadis itu pada teman-temannya, ia tidak akan sampai hati mengusik waktu istirahat mereka tanpa alasan yang masuk akal. Sakura bukan orang yang egois seperti itu—tidak setelah ia melewati banyak peristiwa yang membuatnya belajar untuk lebih dewasa.
Sakura memutar kenop pintu perlahan, berhati-hati supaya tidak menimbulkan suara yang terlalu keras. Dan pemandangan yang ia dapati di dalam memastikan kata-kata Yamato sebelumnya: mereka bertiga memang masih terlelap.
Secercah cahaya matahari pagi menerobos masuk melalui celah-celah pada tirai jendela yang masih tertutup, menimpa tiga sosok yang bergelung seperti tiga anak kucing di bawahnya. Sasuke, Naruto dan Sai tidur berdempetan di atas tempat tidur berukuran sedang—seukuran dengan tempat tidur Sakura di bawah—di sudut kamar, tampak sangat lelap. Ketiganya sama sekali tak terlihat terganggu dengan posisi mereka yang sebenarnya kurang nyaman. Maksudnya, bagian mana yang nyaman dengan tiga orang menempati kasur yang paling banyak biasa ditempati dua orang? Dan ketiganya pun masih mengenakan pakaian yang mereka kenakan hari sebelumnya—kecuali jaket yang sudah ditanggalkan dan dilempar sembarangan di atas tumpukan tas di sudut lain kamar.
Sai, yang menempati sisi paling pinggir tempat tidur, terbaring menelungkup dengan wajah menghadap ke meja di sebelah tempat tidur. Sebelah lengannya yang panjang terjuntai ke lantai di bawahnya. Di sebelahnya, Naruto mendengkur keras. Ia menguasai separuh tempat tidur untuk dirinya sendiri. Kepala pirangnya bersandar di atas bahu Sai, begitu pula dengan sebelah tangannya yang tergeletak di atas punggung cowok pucat itu. Sementara sebelah kakinya yang mengangkang bertengger seenaknya di atas kaki Sasuke yang menempati sisi di dekat dinding. Sasuke yang malang seakan terjepit antara Naruto dan dinding. Cowok itu berbaring miring menghadap ke dinding. Rambut gelapnya yang berantakan menutupi sebagian wajahnya yang praktis menempel di dinding.
Sakura mengangkat sebelah tangan ke atas mulutnya untuk meredam kikikan yang tak bisa ia tahan setelah melihat semua itu. Tiba-tiba saja perasaan hangat menjalari hatinya menggantikan kejengkelan yang dirasakannya beberapa saat yang lalu.
"Teman-temanmu itu kocak sekali," Sakura bisa mendengar Yamato terkekeh dari arah dapur, "Semalam, sebelum aku pergi mengembalikan mobil, mereka sempat bertengkar meributkan siapa yang akan tidur di ranjang."
Cengiran Sakura melebar. "Yeah. Aku bisa membayangkannya," ujarnya pelan—yang tentu saja tak terdengar oleh Yamato di dapur—lebih pada dirinya sendiri. Mereka memang bisa bersikap kekanak-kanakan kalau mereka mau.
"Kalau Haku sudah kembali, aku bisa meminjamkan kasur tambahan miliknya untuk mereka," lanjut Yamato.
Sakura lalu berjalan mendekati tempat tidur, mencondongkan tubuh dengah hati-hati untuk meraih tirai sebelum menariknya terbuka, berusaha tidak membangunkan ketiganya. Cahaya matahari kini masuk tanpa halangan, menyiram seisi kamar dengan sinarnya yang hangat—namun tidak cukup untuk membuat ketiga orang itu terbangun. Hanya Naruto yang tampaknya sedikit terusik. Cowok pirang itu menggerutu ketika sinar matahari menimpa pelupuk matanya, menginyem, lalu berguling mencari posisi yang lebih nyaman dan melanjutkan mendengkur.
"Dasar kerbau…" gumam Sakura geli.
Sakura mengawasi ketiga sahabatnya beberapa saat lagi ketika sebuah ide jahil tiba-tiba melintasi otaknya. Ia lantas berpaling, mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar sebelum matanya terarah pada barang-barang milik Sasuke, Naruto dan Sai di seberang tempat tidur.
Tak lama kemudian, gadis itu sudah mengeluarkan sebuah kamera DSLR milik Sai. Meskipun Sakura tidak begitu mengerti fotografi, tapi Sai pernah mengajarinya menggunakan benda itu sekali. Dan sekarang saatnya aksi balas dendam. Mata hijaunya berkilat-kilat membayangkan reaksi ketiga cowok itu kalau mereka tahu apa yang akan ia lakukan.
Ini akan menyenangkan…
.
.
Sakura kembali ke meja makan tak lama kemudian, dengan ekspresi puas menghiasi wajahnya. Dengan perasaan lebih riang dari sebelumnya, ia menarik piring pancake-nya mendekat. Tepat saat itu, Yamato yang baru saja menyelesaikan memasak adonan pancake terakhirnya, segera bergabung dengan gadis itu di meja makan, menaruh setumpuk pancake hangat di atas meja. Pria itu melepas celemeknya, menyampirkannya di punggung bangku, lalu duduk dan mulai menyiapkan sarapan untuk dirinya sendiri.
"Kelihatannya suasana hatimu sudah membaik," komentarnya sambil mengambil dua potong pancake ke piringnya, tersenyum. Mata gelapnya mengawasi ekspresi gadis yang duduk di seberangnya, menyadari raut kesal yang dilihatnya beberapa saat yang lalu di sana kini sudah tidak tampak lagi.
Sakura menanggapi pernyataan Yamato dengan cengiran, sebelum mulai melahap sarapannya. "Wow, ini sangat lezat, Yamato. Lebih lezat dari pancake buatan ibu!"
Yamato terkekeh-kekeh. Meski sudah bertahun-tahun mengenal Sakura, Yamato masih saja dibuat takjub dengan perubahan suasana hati gadis itu yang kadang-kadang cepat sekali berubah. Di satu waktu ia bad mood, tetapi tak lama kemudian bisa berubah menjadi sangat ceria. Seperti sekarang ini misalnya. Dan Yamato sama sekali tidak punya ide apa yang membuat suasana gadis itu berubah ceria.
Kecuali…
"Kau tidak melakukan yang tidak-tidak pada mereka, kan?" Yamato menatap Sakura dengan tatapan campuran antara curiga dan geli.
"Apa? Tega sekali kau menuduhku!" bantah Sakura, pura-pura sakit hati. "Aku tidak memotret mereka sedang tidur dan memajangnya di situs sekolah!"
Yamato terkekeh-kekeh. "Jadi kau memotret mereka sedang tidur dan memajangnya di situs sekolah?"
Sakura ikut terkikik. "Tidak yang kedua—bisa-bisa seisi sekolah bisa gempar—Lagipula wajah mereka bertiga imut-imut kalau sedang tidur. Tidak bisa dilewatkan begitu saja."
"Sejak kapan kau jadi jahil begitu, hm?" tanya Yamato.
Sakura berlagak berpikir keras, sebelum berkata dengan nada ringan, "Yah, karena aku dikelilingi oleh orang-orang macam itu—jahil, maksudnya—sulit untuk tidak terpengaruh, Yamachi."
"Aah…" Yamato mengangguk-anggukkan kepalanya sementara menuang sari jeruk ke dalam gelas untuk dirinya sendiri. Ekspresi geli terpahat di wajahnya.
Tentu saja, pikirnya. Izumo dan Kotetsu tidak akan pernah melewatkan kesempatan untuk berbuat jahil kalau suasananya tepat. Ia pernah menjadi korban ulah mereka beberapa kali. Naruto Uzumaki setali tiga uang dengan mereka—dari yang sering ia dengar dari Sakura—Begitu juga dengan Ino Yamanaka, meskipun kejahilan gadis pirang itu belum setingkat dengan tiga orang pertama. Bukan tidak mungkin Sakura terpengaruh oleh mereka.
"Jadi apa rencanamu hari ini?" tanya Yamato ketika mereka setengah jalan menghabiskan sarapan. "Maksudku, sementara menunggu teman-temanmu bangun," tambahnya, memasukkan potongan lain pancake ke mulut.
Sakura mengambil waktu mengunyah dan menelan makanannya sebelum berkata, "Hm… Yang jelas aku tidak berencana melewatkan waktu di rumah saja seharian. Bagaimana kalau kau yang menemaniku jalan-jalan hari ini?" Mata hijaunya menatap Yamato penuh harap. "Kau pasti tahu banyak tempat yang menarik. Dan kau bisa menunjukkan kampusmu."
Yamato memberinya tatapan menyesal. "Maafkan aku, Sakura. Kurasa aku tidak bisa menemanimu jalan-jalan hari ini."
"Eeh—Kenapa?" Gadis berambut merah muda itu tak bisa menyembunyikan kekecewaannya.
"Bukankah aku sudah pernah memberitahumu? Aku mengambil kelas musim panas tahun ini. Paginya aku mengikuti kelas sampai sore, dan setelah itu aku harus bekerja."
Sakura mengeluh. Suasana hatinya berubah lagi. Gadis itu baru menyadari Yamato sudah mengenakan seragam kampusnya yang menyerupai pakaian koki itu. Tapi sedetik kemudan senyumnya terkembang lagi. "Tidak masalah. Aku bisa jalan-jalan sendiri."
Terjadi perdebatan kecil setelah itu. Yamato keberatan Sakura pergi sendirian tanpa ditemani, terlebih ia sudah berjanji pada Azami untuk selalu menjaga gadis itu. Tetapi Sakura bersikeras pergi dan berkata dirinya sudah cukup besar untuk bisa menjaga dirinya sendiri. Perdebatan berakhir setelah Yamato setuju Sakura pergi asalkan gadis itu mau berjanji tidak akan pergi terlalu jauh.
"Yay! Yamato baiknya…"
"Dan satu lagi, jangan terlalu percaya pada orang asing."
Sakura tertawa. "Ya, ya, aku sudah tahu."
.
.
Sakura dan Yamato meninggalkan rumah setelah menyelesaikan sarapan. Rencananya, Sakura akan ikut mengantar Yamato ke kampusnya, sekaligus ingin melihat tempat impian mendiang kakaknya untuk melanjutkan sekolah dulu. Sekolah kuliner yang konon katanya terbaik di seluruh penjuru negeri. Setelah itu ia akan melihat-lihat tempat menarik di sekitar situ. Sebenarnya Sakura ingin sekali melihat pantai, tapi Yamato tidak mengizinkan mengingat tempat itu jaraknya cukup jauh—dan terlalu banyak orang asing.
Yah, apa boleh buat. Toh ia akan ke sana nanti bersama Naruto, Sasuke dan Sai. Mereka masih punya banyak waktu.
"Jadi ini kampusmu?" Sakura mendongak, memandang bangunan di depannya. Tadinya ia sudah berharap akan menemukan bangunan kampus yang spektakuler seperti KAA di Konoha, tapi nyatanya tempat itu tidak tampak istimewa dari luar. Bangunan itu indah, tentu saja, dengan jendela tinggi dan pintu kaca di bagian depan. Jika dilihat sekilas, tempat itu tidak seperti sebuah kampus. Kalau saja Yamato tidak memberitahunya, jelas Sakura akan mengira itu restoran atau hotel.
"Yah…" Yamato tersenyum melihat ekspresi Sakura. "Kau kelihatan kecewa."
"O—oh, tentu saja tidak," Sakura membantah cepat. "Aku hanya… yah, tempatnya tidak seperti kampus tempat orang berkuliah, kau tahu?"
"Apa kau berharap melihat kami berkuliah di dalam kelas atau semacam itu?" Sakura menoleh pada Yamato, memberinya tatapan bertanya. Yamato melanjutkan, "Yah, kadang-kadang kami memang belajar di kelas, tapi kami lebih banyak menghabiskan waktu di tempat yang jauh lebih hebat dari kelas dengan meja, kursi dan papan tulis. Percayalah, ini kampus paling luar biasa yang bisa dibayangkan oleh siapa pun yang bercita-cita menjadi chef."
"I see…" Sakura mengangguk mengerti. Senyumnya mengembang. "Seperti yang selalu dikatakan kakakku."
Terkekeh, Yamato mengacak rambut merah muda Sakura. "Ya sudah. Kalau begitu aku mau masuk sekarang—"
"Eh, tunggu!" Sakura buru-buru menyelanya. Gadis itu merogoh tas selempang kecil yang dibawanya, mengeluarkan digital camera miliknya. "Untuk kenang-kenangan!"
Setelah puas mengambil gambar dengan kameranya—dan sukses membuat wajah Yamato memerah karena malu setelah beberapa orang temannya memergokinya menjadi objek foto seorang gadis muda yang kelewat antusias—Sakura akhirnya mengizinkan Yamato masuk.
"Sampai ketemu nanti!" Sakura berseru pada punggung Yamato ketika pria itu bergabung dengan beberapa temannya—yang juga berseragam sepertinya—yang baru saja datang.
Sakura bisa mendengar teman Yamato terkekeh dan bertanya dalam suara rendah, "Siapa gadis itu? Pacarmu?" sebelum pintu kaca itu menutup di belakang mereka, memblokir suara dari dalam sehingga Sakura tidak bisa mendengar jawaban yang diberikan Yamato pada temannya.
"Jadi, sekarang ke mana dulu?" Sakura berkata pada dirinya sendiri. Sembari mengingat-ingat tempat-tempat menarik yang diberitahu Yamato sebelum mereka berangkat tadi, gadis itu mengeluarkan sebuah peta kecil yang dibawanya untuk berjaga-jaga. "Ah, jalan ke sini!"
Selama beberapa menit, Sakura menyusuri jalanan menjauhi kampus Yamato. Ia sekilas ingat mereka melewati jalan itu semalam dengan mobil. Tetapi di siang hari seperti ini suasananya benar-benar terasa berbeda. Semalam, Sakura hanya melihat jalanan kosong yang membosankan. Sekarang ia bisa merasakan geliat kehidupan di Kiri yang sebenarnya.
Memang tidak terlalu ramai jika dibandingkan dengan jalanan di Konoha. Sejak meninggalkan rumah tadi, rasanya Sakura hanya melihat sedikit sekali kendaraan roda empat yang berlalu-lalang. Skuter pun hanya beberapa. Sebagian besar adalah pejalan kaki. Kalaupun berkendaraan, mereka tampaknya lebih suka menggunakan sepeda. Tidak heran jika kota itu, meskipun tidak banyak memiliki kawasan hijau seperti Konoha, udaranya terkenal bersih.
Sakura juga menemukan banyak tempat menarik di sana: butik-butik yang ia yakin pasti sangat disukai Ino, bakery yang menguarkan aroma lezat roti segar yang baru keluar dari panggangan, toko yang menjual barang antik, toko alat musik, coffee shop… Dan tentu saja yang paling membuat Sakura antusias adalah sebuah teater kecil yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kampus Yamato. Dari papan pengumuman yang terpasang di bagian depan teater, sepertinya akan ada pertunjukkan drama di sana beberapa hari ke depan. Segera saja acara menonton teater masuk ke dalam daftar rencananya.
Kemudian, tak jauh dari teater, Sakura berhenti sejenak di depan sebuah bangunan yang tidak terlalu besar tepat di samping sebuah toko buku tua. Sakura menelengkan kepalanya, mencoba mengingat. Bukankah ini adalah tempat Yamato menurunkan Kisame semalam?
Tempat itu mirip galeri keramik—atau toko keramik? Sakura tidak bisa memastikan. Di bagian etalase, mereka memajang beberapa kerajinan yang terbuat dari tanah liat, mulai dari yang sederhana—kalau tidak mau dibilang jelek—sampai yang sangat rumit. Sebagian besar berbentuk seperti miniatur hewan. Tapi dari pemberitahuan yang tertera di papan yang diletakkan di sisi pintu—seperti papan menu yang biasanya ditaruh di depan restoran—mereka memberikan les membuat kerajinan dari tanah liat untuk turis di sana. Sepertinya menarik, pikir Sakura. Hanya saja tulisan di etalase yang membuat dahinya sedikit berkerut: Art is a BANG!—Aneh sekali.
Namun perhatiannya segera teralih oleh bangunan yang terletak tepat di sebelahnya. Senyum antusias merekah di wajah gadis itu melihat itu adalah sebuah toko buku—atau perpustakaan kecil? Kalau ada sesuatu yang menarik minat Sakura Haruno selain teater, itu adalah buku. Tanpa berpikir dua kali, Sakura langsung memutuskan untuk mampir.
Suara khas lonceng di atas pintu masuk langsung menyambutnya begitu Sakura melangkahkan kaki memasuki tempat itu, disusul ucapan selamat datang yang ramah dari salah satu pegawai di belakang meja kasir. Sakura kemudian mengedarkan pandangannya berkeliling dengan antusias, memandangi deretan rak-rak tinggi penuh buku yang nyaris memenuhi sepanjang dinding yang dilapisi panel kayu. Di sudut ruangan terdapat tangga kayu kecil yang agak curam menuju lantai dua. Dan rupanya mereka tidak hanya menyediakan buku-buku baru, tapi juga buku-buku terbitan lama yang sudah jarang terlihat di toko buku biasa.
Suasananya juga sangat hangat. Dengan penerangan yang cukup, sofa nyaman dan kursi berlengan empuk disediakan di beberapa tempat di ruangan itu untuk para pengunjung yang ingin membaca, belum lagi bau kertas yang khas bercampur dengan aroma manis cokelat yang tercium samar-samar segera membuat Sakura kerasan. Oh, ia bisa betah tinggal berjam-jam di sana kalau ia mau!
Tapi masalahnya Sakura tidak punya waktu berjam-jam sekarang. Masih banyak tempat yang ingin ia lihat dan ia harus kembali ke rumah sebelum para cowok tukang tidur itu bangun—Sakura tentu saja tidak ingin membuat mereka cemas—Maka gadis itu memutuskan untuk menahan godaan menjelajahi rak demi rak di sana dan hanya mengambil sebuah peta Kiri dan beberapa kartu pos dari rak di dekat kasir.
Sakura tengah membayar belanjaannya di kasir ketika tiba-tiba saja terdengar suara ledakan keras seperti ledakan petasan dari luar, membuat gadis itu terlonjak kaget. "Apa itu?" serunya refleks. Matanya terbelalak.
Namun yang mengherankan, orang-orang di sana tak tampak seterkejut Sakura. Beberapa pengunjung di sana hanya menoleh ke arah sumber suara dengan dahi berkerut sebelum kembali tenggelam dalam kegiatan mereka. Sedangkan cowok yang melayani Sakura di kasir hanya menghela napas, lalu nyengir melihat ekspresi terkejut pengunjung barunya—jika tidak mau dibilang ketakutan.
"Itu dari galeri sebelah," beritahunya dengan nada geli, selagi menghitung belanjaan Sakura. "Mereka memang kadang-kadang memang suka main petasan."
"Main petasan?" pekik Sakura kaget. "Apa tidak bahaya? Bagaimana kalau sampai kebakaran?"
Cowok itu terkekeh. "Kalau begitu kami dengan senang hati akan menuntut ganti rugi pada mereka," selorohnya santai seraya memasukkan belanjaan Sakura ke dalam kantung kertas kecil.
Sakura ternganga tak percaya melihat reaksi orang di depannya yang begitu santai mengomentari resiko terjadi kebakaran besar karena ulah tidak bertanggung jawab seperti main petasan di dalam ruangan.
"Mereka memang sekumpulan orang-orang sinting, kami di sini sudah terbiasa. Dan kami bisa menjamin tempat ini aman," tambah si pegawai sambil tersenyum. Disorongkannya kantung yang sudah disegel ke depan Sakura. "Terimakasih sudah berkunjung, Nona."
Masih belum sepenuhnya mengatasi keterkejutannya—bahkan ia merasakan jantungnya masih berdebar-debar gara-gara suara tadi—Sakura meninggalkan toko dan nyaris bertabrakan dengan seorang pria berambut keperakan yang baru saja keluar dari galeri sebelah. Dilihat dari ekspresi wajahnya, tampaknya mood orang itu sedang tidak terlalu baik. Ia lewat begitu saja di depan Sakura, mendesiskan kata-kata makian luar biasa yang membuat seorang wanita mendelik padanya sambil menutupi telinga anaknya yang masih kecil.
Sebelum mendapatkan kejutan lain yang membuat jantungnya melompat ke leher, Sakura buru-buru pergi dari sana.
.
.
Sementara itu, di sebuah kamar yang berjarak bermil-mil dari Kiri, seorang gadis lain masih sibuk bergelung seperti bola di bawah selimut: Ino Yamanaka. Bias sinar matahari yang menerobos melalui sela-sela tirai jendela yang masih tertutup menerpa rambut pirang pendeknya yang menyembul dari balik gundukan selimut. Suara-suara yang berasal dari luar membuatnya berkali-kali mengubah posisi tidurnya. Wajahnya yang tampak lelah mengerut, jelas merasa terganggu. Ditambah lagi gadis itu tidak mendapatkan tidur yang nyenyak sejak semalam—atau bisa dikatakan ia nyaris tidak tidur.
Salahkan Shikamaru Nara yang telah membuat mood-nya memburuk sejak membuat keputusan sepihak untuk melibatkan kekasih mantan kekasihnya dalam band, yang berarti Ino harus menolelir kehadiran gadis itu di dekatnya sepanjang musim panas. Sepulang dari studio milik Shikamaru, Ino sibuk uring-uringan sendiri, merutuki sikap Shikamaru yang menurutnya tidak adil, terlebih setelah Ino memberitahunya alasan mengapa ia keberatan dengan Sasame.
Yah, meskipun ia tahu betul Shikamaru tidak melakukannya untuk tujuan tertentu. Tapi tetap saja… Ino benci harus terjebak dalam situasi yang membuatnya merasa tidak nyaman seperti ini.
Bahkan curhat pada Sakura via email tidak membuat perasaannya lebih baik. Ino bisa menduga reaksi Sakura atas ketidakberuntungannya ini—ia akan bersikap seperti Shikamaru, menganggap alasannya terlalu egois dan kekanak-kanakan. Oh, Ino bahkan bisa membayangkan gadis berambut merah muda itu berkata, "Kau hanya cemburu karena Sasame pacaran dengan Sai. Akui saja kau tidak suka melihat cowok yang dulu tergila-gila padamu sekarang menyukai gadis lain."
Sahabatnya itu kadang-kadang bisa bersikap kejam kalau ia mau, terlebih mengingat Sakura sangat menentang hubungannya dengan Sai dulu—dengan alasan yang masuk akal, tentu saja. Ino benci mengakuinya, tapi saat itu ia memang melakukan hal yang salah.
Dan memikirkan semua itu membuatnya gelisah dan tetap terjaga hampir sepanjang malam. Ino tidak pernah mengira sebelumnya bahwa perasaannya terhadap Sai lebih kuat dibandingkan dengan mantan-mantannya yang lain. Gadis itu tidak pernah kesulitan untuk melupakan mantannya sebelum ini—termasuk Idate. Ia tidak peduli lagi pada cowok itu—Meminjam istilah Shikamaru, ini benar-benar merepotkan.
Suara ketukan pelan yang berasal dari pintu kamar kembali mengusiknya, disusul suara panggilan ibunya yang terdengar agak tidak sabaran. Ini bukan pertama kalinya sejak di luar mulai terang. Ibunya sudah datang mengetuk pintu kira-kira… mungkin lima menit yang lalu, dan sepuluh menit sebelumnya, dan sepuluh menit sebelum itu.
Ino mengerang mengantuk. "Sebentar lagi, Ma…" sahutnya tanpa repot-repot membuka mata.
"Tadi kau juga bilang sebentar lagi, Nona Muda," seru ibunya lagi, "Sekarang sudah hampir tengah hari. Bukankah kau ada janji dengan temanmu?"
Ino menggerutu soal ibunya yang suka melebih-lebihkan. Yang benar saja, sekarang kan masih terlalu pagi. "Latihan band baru nanti sore, Ma…" sahutnya malas, menarik selimut lebih tinggi sehingga menutupi kepalanya sepenuhnya, berharap itu akan memblokir suara ibunya.
Sayangnya tidak.
"Tapi pemuda yang di bawah memberitahu Ibu kalian ada janji pagi ini."
Kata-kata ibunya mau tak mau membuat Ino menyingkirkan kembali selimutnya. Ia mengangkat kepala yang terasa berat, memandang ke arah pintu dengan mata setengah terpejam. Dahinya berkerut. "Pemuda siapa?" tanyanya mengantuk.
Sejenak, ibu Ino tampak berpikir. "Namanya kalau tidak salah… Shino-sesuatu—"
Ino tersentak bangun, memekik tertahan. Mendengar nama Shino disebut, kantuknya hilang seketika, teringat janji yang ia buat hari sebelumnya dengan cowok itu. Ino menyambar jam beker dari atas meja—yang sengaja tidak ia nyalakan—dan terbelalak mendapati ia sudah sangat terlambat dari waktu yang sudah dijanjikan!
Uh ooh… Shino pasti bakal jadi menyebalkan!
"Kenapa Mama tidak membangunkanku dari tadi, sih?" Ino ngomel-ngomel seraya melompat turun dari tempat tidur, nyaris terguling terserimpet selimut.
Ibu Ino menghela napas, mengawasi putrinya yang panik mencari-cari handuk. "Ibu sudah berusaha membangunkanmu dari tadi, Nak. Tapi kau tidak bangun-bangun juga."
Ino mengabaikan ibunya. Gadis itu kocar-kacir menuju kamar mandi setelah menyambar handuk dari gantungan. "Bilang padanya aku akan turun sebentar lagi!" teriaknya dari dalam kamar mandi.
Tak lama kemudian, Ino akhirnya turun dari kamarnya, sudah berpakaian lengkap. Tidak ada siapa-siapa di ruang keluarga. Ibunya sudah kembali pada kesibukannya di toko bunga, sementara ayahnya pastilah sudah pergi sejak pagi untuk memenuhi undangan main golf bersama Hiashi Hyuuga—seperti yang hari sebelumnya diumumkan pria itu dengan penuh semangat pada keluarganya. Akhirnya ia bisa mengeluarkan peralatan golf lamanya yang sudah berdebu dari gudang.
Toko sedang ramai ketika Ino tiba di sana. Di deretan pot-pot besar yang memajang beraneka mawar potong segar, tampak ibunya tengah melayani salah seorang pengunjung. Tetapi Ino tidak sedang mencari ibunya sekarang. Gadis itu menjulurkan leher, menoleh ke sana kemari sementara mata birunya menjelajahi seisi toko, mencari sosok Shino di antara para pengunjung. Tapi ia tidak menemukan cowok itu.
Barangkali dia bosan menunggu dan akhirnya memutuskan pulang, pikir Ino, merasa tidak terlalu kecewa. Toh, gadis itu memang tidak terlalu berharap bisa keluar bersama Shino—Ino bahkan tidak pernah membayangkannya sebelumnya, dari semua cowok yang eksis di Konoha High, ia akan melewatkan waktu berdua saja dengan si pendiam Shino Aburame. Mungkin ia sudah mulai kehilangan akal sehatnya.
Ino baru saja berbalik untuk kembali ke dalam rumah, ketika sosok jangkung tiba-tiba muncul di hadapannya. Well, sebenarnya tidak muncul tiba-tiba. Orang itu pastilah sudah berdiri di sana sebelumnya, dan ketika Ino berbalik, gadis itu nyaris menabraknya. Ino mendongak, terkejut melihat Shino menjulang di depannya, balas menatapnya melalui kacamata hitam yang ia kenakan.
"Shino, kau mengejutkanku!" pekik Ino, refleks melompat mundur dan memukul dada cowok di depannya.
Shino bergeming dan wajah Ino merona ketika gadis itu menyadari apa yang baru dilakukannya—memukul cowok itu. Terkadang Ino memang suka memukul teman-teman cowoknya dengan maksud main-main. Shikamaru, Chouji, Naruto atau Kiba adalah sasarannya yang paling sering, karena mereka bertiga terbilang akrab dengannya. Tapi ini adalah Shino Aburame! Cowok yang nyaris tidak pernah benar-benar bicara dengannya sampai Prom Night beberapa waktu yang lalu. Entah mengapa memukul Shino membuatnya malu.
"M—Maaf," ucap Ino, nyengir gugup. "Er… kau sudah lama?"
Shino berpaling dari gadis di depannya untuk menatap jam dinding besar di atas meja kasir, sebelum menjawab dengan nada datarnya yang biasa, "Kukira kemarin aku sudah cukup jelas menyebutkan waktunya, dan itu kira-kira dua jam yang lalu. Kurasa belum terlalu lama."
Wajah Ino yang sudah memerah semakin merah. "Well, aku minta maaf kalau begitu, Shino," tukasnya. Mengapa Shino senang sekali menyindirnya? Membuatnya sebal saja. Terlebih sekarang beberapa pegawai tokonya mulai melempar pandang ingin tahu ke arah mereka. Tidak ada yang lebih buruk dibandingkan menjadi bahan gosip di rumah sendiri.
"Sebaiknya kita pergi sekarang saja," kata Ino ogah-ogahan.
"Memang begitu rencananya."
Ino memutar matanya, lalu bergegas berbalik meninggalkan toko setelah berpamitan pada ibunya. Shino menyusul di belakangnya, tidak berkomentar apa pun lagi.
.
.
Sakura memandang berkeliling dari tempatnya duduk di salah satu bangku di bawah kanopi sebuah kedai es krim kecil di alun-alun kota. Saat itu matahari sudah semakin meninggi dan jalanan Kiri mulai dipenuhi oleh para turis. Sejenak mata gadis itu mengawasi orang-orang itu berlalu-lalang di depannya. Sepasang gadis kecil tampak sedang bermain dengan sekelompok merpati di seberang alun-alun. Kedua gadis itu menabur biji-bijian dengan gembira sementara burung-burung itu beterbangan di sekeliling mereka.
Sakura tertawa kecil, tiba-tiba teringat kejadian dulu. Ia dulu juga pernah melakukan hal yang sama dengan mendiang kakaknya saat mereka sekeluarga berliburan ke Kiri bertahun-tahun lalu. Saat itu Sakura sempat menangis meraung-raung ketika tanpa sengaja pakaiannya terkena kotoran burung. Mendiang ayahnya, yang tak bisa menahan tawa, berusaha membujuknya dengan iming-iming akan dibelikan baju baru. Tetapi Sakura kecil yang terlanjur ngambek pada ayahnya terus saja menangis dan baru berhenti ketika ibunya membelikannya es krim stroberi porsi besar di kedai yang sama tempatnya duduk sekarang.
Kalau saja ketiga sahabatnya mendengar soal ini, mereka pasti bakal menertawakannya. Setidaknya Naruto pasti akan tertawa. Sai mungkin akan menganggapnya aneh. Dan Sasuke… Sakura bisa membayangkan komentar menyengat apa yang bisa dilontarkannya.
Tersenyum geli oleh pemikirannya sendiri, Sakura kembali menunduk, menekuni kegiatannya sebelumnya sambil menyuap es krim stroberinya yang tinggal sedikit. Sesekali ia menandai sesuatu dalam peta yang dibelinya tadi, mencocokkan dengan tempat-tempat yang disebutkan dalam buku tour guide miliknya, mengira-ngira tempat menarik mana yang bisa dicapai dengan berjalan kaki.
Ada pasar bunga tak jauh dari sana, juga sentra kuliner. Pasar tradisional di dekat pasar bunga sepertinya juga layak dikunjungi—Sakura sudah pernah melihat liputan acara kuliner di televisi tentang tempat itu, di mana mereka mengikuti sang chef berbelanja bahan-bahan makanan segar untuk diolah. Mulai dari berbagai jenis makanan laut, bumbu-bumbu, juga sayur dan buah. Dan semuanya dalam kondisi segar—Tapi tempat itu terlalu jauh. Mengingat ia belum terlalu hafal jalan-jalan di sana, bisa-bisa ia tersasar nanti kalau nekat.
Mungkin ia akan ke sana lain kali saja bersama yang lain, batinnya memutuskan. Lagipula ia kan memang belum terlalu butuh berbelanja sekarang. Maka setelah menandaskan es krim dan membayarnya, Sakura segera beranjak untuk meneruskan petualangan kecilnya.
Tempat pertama yang dituju gadis itu adalah tepi sungai, karena di sanalah pusat keramaian yang paling dekat—tentu saja ia tidak mengabaikan kata-kata Yamato yang memintanya tidak main terlalu jauh sendirian—Di sana Sakura melihat meja-meja bertaplak linen putih café outdoor berjejer di area dekat susuran sungai. Tempat itu cukup ramai meskipun masih jauh masuk waktu makan siang. Orang-orang tampak duduk-duduk di sana, menikmati makanan atau sekedar ngopi, bercengkerama sambil menikmati pemandangan sungai dengan perahu-perahu yang berlalu-lalang.
Di area lain yang tak jauh dari sana, berdiri kanopi-kanopi putih tempat para pedagang menjajakan dagangannya. Entah itu pedangan makanan atau pernak-pernik khas Kiri untuk oleh-oleh. Pemandangan ini sedikit mengingatkan Sakura pada bazar yang diadakan setahun sekali di Konoha—hanya saja bazar di Konoha biasanya diadakan saat musim semi.
Dan di sanalah Sakura berada sekarang, tengah melihat-lihat di gerai yang memajang aneka macam boneka yang terbuat dari kayu. Gadis itu nyengir sendiri saat mengangkat sebuah boneka tali berhidung panjang—mirip tokoh boneka terkenal Pinochio—di depannya. Tiba-tiba ia teringat Kankurou dan boneka talinya. Dulu ia sering melihat cowok bawel itu membawa-bawa boneka seperti itu dan memainkannya di sela-sela menonton anak-anak klub teater berlatih drama. Sakura yakin sekali Kankurou melakukannya hanya untuk pamer di depan Tenten.
"Boneka itu jelek," suara laki-laki menyela lamunannya.
Sakura refleks menoleh dan mendapati seorang laki-laki asing berdiri di sebelahnya di depan meja pajangan. Gadis itu pasti akan mengira orang di sampingnya itu adalah seorang wanita jika saja ia tidak memperhatikannya benar-benar. Dengan rambut pirang panjang halus, mata biru cerah yang besar, dan tubuh yang tidak terlalu tinggi, sekilas orang itu memang kelihatan seperti wanita. Tapi dari suara, tonjolan di bagian leher dan dadanya yang rata, jelas ia adalah seorang laki-laki tulen. Ditambah lagi… orang itu lumayan tampan juga kalau diperhatikan.
Pria itu tersenyum lebar pada Sakura—agak sedikit menakutkan. "Untuk gadis manis sepertimu lebih cocok dengan yang ini," katanya, mengulurkan sebuah keramik mungil berbentuk seperti burung aneh yang baru saja diambilnya dari meja pajangan yang lain.
"Eeh…" Sakura yang masih terkejut karena tiba-tiba diajak bicara orang yang tak dikenalnya, tidak tahu harus menanggapi apa. Gadis itu hanya nyengir canggung, lalu berpaling, mengabaikan keramik yang terulur ke arahnya. Berharap dengan begitu, pria asing itu tidak mencoba mengajaknya bicara lagi—Di samping karena Sakura memang selalu merasa canggung berbicara dengan orang yang baru dikenal, ia juga masih belum lupa kata-kata Yamato tentang jangan terlalu mempercayai orang asing.
Bagaimana jika orang itu berniat jahat?
"Hei," Sakura mendengar pria itu berkata lagi. Tampaknya ia belum menyerah. Sakura mengerling ke arahnya, mendapati pria itu tengah melempar pandang penasaran padanya. "Kau bukan orang sini, ya? Turis?"
"Er… ya," sahut Sakura canggung.
"Pantas saja," cetus pria itu sambil memamerkan senyumannya yang menawan tapi agak menakutkan itu, "Aku tahu semua gadis cantik yang tinggal di sekitar sini. Tapi aku tidak pernah melihatmu sebelumnya. Omong-omong, namaku Deidara. Siapa namamu, Nona Manis?"
Uh ooh… Untuk pertamakalinya hari itu Sakura menyesali keputusannya pergi sendirian tanpa ketiga sahabatnya.
.
.
Ketika memikirkannya kembali, Ino merasa dirinya sudah gila telah menerima ajakan kencan Shino Aburame. Ini memang bukan pertama kalinya gadis itu keluar berdua bersama cowok yang berstatus bukan pacar resminya, tetapi ini adalah pertama kali baginya keluar dengan cowok yang sama sekali tidak memujanya. Seharusnya ia tahu ini tidak akan berjalan seperti yang biasa ia bayangkan.
Rasanya selalu menyenangkan ketika para cowok itu berusaha menarik perhatiannya, memperlakukannya seperti seorang ratu, berharap dengan begitu bisa mengambil hatinya. Tapi Shino bukanlah cowok seperti itu. Ia tidak pernah repot-repot menanyakan kemana Ino ingin pergi, tidak berusaha menggandeng tangannya, ataupun memuji kecantikannya. Ia malah lebih menaruh perhatian pada serangga yang ditemuinya ketimbang gadis cantik yang berjalan di sampingnya.
Tidak diragukan lagi, ini memang bukanlah acara jalan-jalan-berduaan-dengan-cowok paling menyenangkan bagi Ino Yamanaka.
Dan tempat mereka berada sekarang tidak membuat gadis itu merasa lebih baik. Alih-alih ke rumah kaca seperti yang dikatakan Shino hari sebelumnya, mereka hanya berkeliling di sekitar taman. Tidak ada yang salah dengan taman itu sebetulnya. Suasananya tenang, udaranya pun tidak terlalu panas di bawah naungan rimbunan pohon-pohon tua besar yang tumbuh di sekitar taman. Suara dengungan serangga khas musim panas terdengar di antara gemerisik dedaunan yang tertiup angin lembut. Suasana yang sempurna untuk berjalan-jalan.
Tapi apa yang pernah terjadi di sana lah yang membuat Ino merasa tidak nyaman.
Masih segar dalam ingatan gadis itu peristiwa yang membuatnya sangat terguncang beberapa bulan yang lalu di sana ketika ia bertengkar hebat dengan mantan pacarnya, Idate, saat cowok itu mengkonfrontasinya tentang hubungannya dengan Sai. Ino masih ingat Idate menyeretnya di sepanjang jalan itu, sementara ia menangis dan memohon-mohon pada cowok itu untuk tidak menyakiti Sai. Ia sama sekali tidak lupa bagaimana kejamnya perlakuan Idate pada Sai waktu itu—sampai sekarang pun terkadang ia masih memimpikannya.
Ino memeluk kedua lengannya, bergidik. Rasanya ia ingin pergi dari tempat itu secepatnya.
"Bukankah katamu kita akan pergi ke rumah kaca?" tanyanya pada Shino yang sedang sibuk mengambil gambar seekor kumbang badak yang bertengger di salah satu dahan pohon, berusaha terdengar tidak seperti merengek.
Shino tidak langsung menyahut. Ia menurunkan kameranya dan memandang ke atas dari balik kacamata hitamnya. "Matahari sudah agak tinggi sekarang," ujarnya lambat-lambat, "Rumah kaca seharusnya sudah sangat panas dan pengap di cuaca seperti ini. Itulah sebabnya mengapa aku mengajakmu pergi pagi-pagi, bukan jam seperti ini, Yamana—"
"Kau tahu," sela Ino tak sabaran, "Aku tidak keberatan dengan panas."—Di mana pun asal bukan di tempat ini.
Shino menoleh pada gadis itu, sejenak mempertimbangkan, sebelum akhirnya berkata datar, "Kalau itu yang kau inginkan."
.
.
Sasuke mengerang ketika tiba-tiba merasakan sesuatu menimpa sisi wajahnya dengan keras. Kesadarannya perlahan terkumpul sementara tangannya berusaha menyingkirkan sesuatu itu dari wajahnya. Ia membuka matanya yang berat dan mendapati sesuatu itu ternyata tangan seseorang—tangan Naruto, tepatnya.
"Naruto—" gerutu Sasuke jengkel, melempar kasar tangan Naruto dari wajahnya. Namun yang bersangkutan hanya menginyem, berguling ke sisi lain, lalu meneruskan mendengkur dengan wajah menempel nyaman di punggung Sai.
Kini kesadaran Sasuke sudah terkumpul sepenuhnya—meski matanya masih dibebani kantuk—Ia menarik dirinya ke posisi duduk, sejenak memijat-mijat pangkal hidungnya. Kepalanya masih terasa pusing akibat begadang semalaman. Ia kemudian menoleh ke sisi lain tempat tidur, memandangi Naruto dan Sai yang masih terlelap, sebelum pandangannya beralih ke jendela yang terbuka. Dahinya berkerut. Rasanya jendela itu masih tertutup saat mereka pergi tidur semalam. Tidak mungkin kan kalau ia terbuka sendiri?
Suara dering musik ringtone yang berasal dari salah satu ponsel di atas meja mengalihkan perhatiannya. Ia melihat ponsel milik Sai bergetar dan berkedip-kedip. Sang pemilik ponsel menggerutu, terusik oleh suara ponselnya sendiri. Tangannya menggerayangi meja.
"Haaa~loo?" Sai menguap, menjawab panggilan ponselnya dengan nada mengantuk yang panjang. Namun sekejap kemudian kesadaran cowok berambut eboni tersebut terkumpul sepenuhnya begitu mendengar suara di seberang. Ia langsung melompat bangun, nyaris terguling dari tempat tidur. "Aah, iya, Sasame. Selamat pagi…" suaranya mendadak berubah dalam dan menyenangkan ketika menyebut nama gadis yang belum lama resmi menjadi kekasihnya itu.
Sasuke memutar bola matanya. Kembali ia mengarahkan pandangannya ke jendela sementara Sai beranjak dari tempat tidur dan meninggalkan kamar dengan ponsel masih menempel di telinga—mencari privasi, tentu saja—Matahari sudah bersinar terik di luar. Namun mengingat saat itu adalah musim panas, jadi tidak aneh jika cuaca sudah terasa panas bahkan pada pagi hari. Tapi benarkah sekarang masih pagi?
Sasuke memandang berkeliling kamar itu, tapi tidak menemukan jam dinding terpasang di mana pun untuk mengkonfirmasi waktu. Ia lantas merayap turun dari tempat tidur, sambil menahan kuap berjalan menuju meja tempat ia meletakkan ponsel dan jam tangan miliknya.
Masih pukul sembilan pagi.
Tidak heran ia masih terasa sangat lelah akibat perjalanan hari sebelumnya. Tubuhnya belum cukup mendapatkan istirahat. Belum lagi Naruto yang semalam mengajaknya begadang menonton pertandingan sepak bola—yah, meskipun bukan sepenuhnya salah Naruto, karena ia sendiri sangat penasaran dengan hasil akhir liga sepak bola yang ia ikuti semenjak di Konoha itu.
Sasuke baru saja berpikir untuk tidur lagi ketika tiba-tiba teringat pada Sakura dan antusiasmenya dengan liburan mereka. Seraya menggerutu, ia pun mengurungkan niatnya dan berbalik menuju tasnya untuk mengambil handuk.
"Oi, Naruto!" Sasuke mencoba membangunkan sahabatnya yang masih terlelap dengan menepuk pundaknya. Namun yang ia dapatkan hanyalah erangan pelan tak berarti dari yang bersangkutan. Naruto sama sekali tidak tampak terganggu. Sasuke memberikan tepukan lebih keras pada pundak cowok pirang itu. Dan kali ini ada reaksi—
"Lima menit lagi, Pap…" Naruto meraih bantal yang ditinggalkan Sai dan menaruhnya di atas kepalanya untuk memblokir suara Sasuke—lalu kembali mendengkur.
"Idiot," dengus Sasuke, menahan geli. Menyerah, ia lantas membiarkan Naruto melanjutkan tidurnya dan beranjak meninggalkan kamar.
Di dapur, Sai masih sibuk mengobrol dengan pacarnya lewat ponsel sembari menuang air dingin yang baru didapatkannya dari kulkas ke dalam gelas untuk dirinya sendiri. Sasuke melewatinya menuju kamar mandi untuk melakukan ritual pagi harinya, sebelum bergabung dengannya.
"Uhum…" Sasuke bisa mendengar Sai terkekeh kecil ketika ia mengambil gelas dari rak dan mengisinya dengan air dari botol yang ditinggalkan Sai di atas meja konter, "Jangan minder begitu. Suaramu sangat bagus, itu sebabnya Shikamaru mengajakmu bergabung—Iya, tentu saja. Kuharap aku ada di Konoha sekarang untuk melihatmu main, Cantik—"
Sasuke menahan diri untuk tidak berpura-pura berlagak muntah ke gelasnya. Mendengarkan Sai mulai menggunakan panggilan-panggilan sayang pada pacarnya seperti 'Cantik' atau 'Sweetheart' atau apa pun itu benar-benar membuat sekujur tubuhnya terasa geli. Tapi bukan berarti Sasuke tidak pernah mendengar yang seperti itu. Di rumah, ia punya kakak laki-laki yang kalau sedang kumat noraknya suka memanggil kekasihnya dengan sebutan 'Puppy Love'—Bulu kuduknya meremang setiap kali membayangkan dirinya menggunakan kata-kata seperti itu untuk memanggil someone-nya kelak.
Tapi mungkin Sakura tidak akan keberatan jika ia memanggilnya 'Cherry Blossom'.
Wajahnya mendadak menghangat oleh pemikirannya sendiri. Sembari mengeluarkan suara dehaman, Sasuke buru-buru mengangkat gelasnya ke bibir dan menenggak isinya banyak-banyak untuk membasahi kerongkongannya yang terasa kering—Sai menoleh padanya dengan kedua alis terangkat, mengira kawannya itu mendehaminya.
"…Ah, bukan apa-apa. Hanya Sasuke. Sepertinya dia iri karena tidak seberuntung aku mendapatkan telepon dari gadis cantik. Ha ha…" kekeh Sai—yang segera mendapat sambitan ganas handuk dari Sasuke di seberang meja. Ouch.
Dan omong-omong tentang Sakura, sejak tadi Sasuke tidak melihat tanda-tanda kehadiran gadis berambut merah muda itu di sana. Rumah itu terasa sunyi. Selain suara Sai dan televisi yang baru saja dinyalakan, ia tidak mendengar suara lain bahkan sekedar dengung obrolan samar pemilik rumah dari lantai bawah. Seakan di rumah itu hanya ada mereka bertiga.
Penasaran—juga didorong oleh sekelumit perasaan cemas—Sasuke memutuskan untuk memastikannya sendiri. Suasana di lantai bawah masih sama seperti saat ia melihatnya semalam—sepi. Tampaknya para penghuni rumah itu memang sedang tidak ada di tempat.
Tapi di mana Sakura?
"Sakura?" panggil Sasuke ragu-ragu. Tidak ada jawaban.
.
.
Sakura mempercepat langkahnya tanpa benar-benar memperhatikan arah. Yang ada di dalam kepala gadis itu hanyalah pergi sejauh mungkin dari Deidara. Sesekali ia menoleh ke belakang, memastikan cowok sok akrab yang baru dikenalnya itu tidak mengikutinya.
Bukannya bermaksud tidak sopan atau apa, tapi sikap orang itu yang terlalu ingin mengakrabkan diri padanya membuat gadis itu curiga. Modus operandi orang-orang yang berniat jahat kan semakin canggih saja. Apalagi sekarang Sakura bisa dibilang adalah sasaran empuk—orang asing, di tempat yang asing dan sendirian pula. Kalau ia tidak berhati-hati, ia tidak akan tahu apa yang bakal terjadi, kan?
Mungkin sebaiknya aku pulang saja sekarang, pikirnya.
Gadis itu lantas menghentikan langkahnya dan memandang berkeliling. Mata hijaunya mengerjap terkejut saat menyadari ia sama sekali tidak tahu sedang berada di mana sekarang. Tempat itu agak sepi, dengan jalanan sempit yang sedikit menanjak. Di kanan kiri jalan nyaris tidak ada apa-apa kecuali dinding batu yang tinggi dan beberapa pintu ganda yang terbuat dari kayu. Dan yang lebih parah, Sakura sama sekali tidak ingat bagaimana ia bisa sampai di sana.
Gawat—Aku tersasar!
Sejenak Sakura memejamkan mata, menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan untuk menyingkirkan rasa paniknya. Di saat seperti ini ia harus tetap tenang. Yang dibutuhkannya sekarang hanyalah mencari tahu di mana sekarang dirinya berada dan menemukannya di peta secepat mungkin.
Urgh… Ini semua gara-gara aku keburu panik bertemu cowok pervert! Bodoh! Bodoh! Bodoooh!
Sembari berdoa agar arah yang ditujunya benar, Sakura berbalik arah dan mulai menelusuri jalan yang dilewatinya sebelumnya, berusaha mengingat-ingat lagi dari mana ia datang—sekaligus mencari petunjuk papan alamat atau apa pun yang bisa dicari di peta.
Setelah entah berapa lama Sakura menelusuri lorong itu, akhirnya ia bisa bernapas lega ketika menemukan ujungnya dan keluar ke jalanan yang lebih ramai—meskipun ia masih belum bisa menemukan petunjuk lokasinya—Rupanya jalan itu menembus ke lokasi di pinggir sungai, tapi bukan tempat yang dikunjunginya tadi. Aroma amis ikan yang menguar samar di udara dan suara hiruk pikuk orang-orang yang bertransaksi memberi gadis itu petunjuk bahwa pasar ikan pasti tidak jauh dari sana.
Yang jadi masalah baru sekarang adalah, tempat itu letaknya cukup jauh dari kediaman Paman Kaiza. Sakura buru-buru membuka petanya lagi untuk memastikan—ia bersyukur sempat membeli peta tadi—dan langsung mengeluh keras-keras setelah mengkonfirmasi kecurigaannya.
Dering ponsel yang tiba-tiba terdengar dari dalam tas selempangnya membuat gadis itu terlonjak kaget. Ia lantas melipat kembali petanya dan merogoh ke dalam tas. Hatinya mencelos begitu melihat nama Sasuke tertera di layar ponsel flipnya.
Mereka sudah bangun.
"Sasuke?" Sakura menjawab teleponnya dengan nada yang diusahakannya terdengar ceria—bagaimana pun ia tidak ingin membuat cowok-cowok itu cemas. "Akhirnya pangeran tidur bangun juga!"
"Apanya yang pangeran tidur?" Sasuke menukas dari seberang. Suaranya terdengar tidak senang. "Kenapa tidak membangunkan kami, eh? Sekarang kau di mana?"
Sakura menghela napas. Disandarkannya punggungnya yang lelah di dinding terdekat. "Salah kalian sendiri yang bukannya istirahat malah begadang," sahutnya, tanpa berusaha menutupi nada bersungut-sungut dalam suaranya.
Sasuke menjawab setelah jeda beberapa saat, "Tapi tidak seharusnya kau kabur sendirian—"
"Hei, aku tidak kabur!" Sakura memotong perkataannya dengan nada kesal. "Aku bersama Yamato."—tadinya.
Gadis itu mendengar Sasuke mendengus kecil. "Jangan bohong padaku, Sakura. Yamato memberitahu kami semalam kalau hari ini dia ada kelas seharian, kecuali kau sedang ikut kuliahnya. Sekarang beritahu aku kau di mana!"
Sakura memandang berkeliling dengan bingung, tidak tahu harus menjawab apa. Tercabik antara keinginan berkata jujur bahwa ia sedang tersasar, tetapi tidak ingin membuat sahabatnya itu cemas, Sakura akhirnya berkata lemah, "Dengar, aku akan segera pulang. Oke?"
Dan tanpa menunggu tanggapan dari Sasuke, Sakura memutuskan sambungan dan menjejalkan kembali ponselnya ke dalam tas. Sekarang ia benar-benar harus segera pulang, jika tidak ingin mendapatkan masalah yang lebih gawat.
Sakura menegakkan dirinya dan menarik napas panjang sejenak sebelum mengeluarkan kembali petanya. Sepertinya cara yang paling aman untuk sampai di tempatnya datang tadi adalah dengan menelusuri jalan di tepi sungai itu—meskipun agak jauh jika dilihat di peta.
Ooh… Seandainya saja ia tahu jalan pintas yang lebih dekat. Tapi Sakura tidak ingin mengambil resiko tersasar untuk kedua kalinya di hari yang sama. Sama sekali tidak lucu.
"Haruno? Sakura Haruno, kan?"
Baru saja Sakura melangkah beberapa meter dari tempatnya semula, ia mendengar seseorang memanggil namanya. Gadis itu menoleh ke asal suara dan mendapati seorang cowok yang kira-kira sebaya dengannya dan berambut merah gelap berdiri di depan pintu kaca salah satu toko yang berjejer di sana. Sepertinya ia baru saja keluar dari toko itu jika melihat kantung kertas belanjaan berwarna cokelat yang dibawanya.
Mata Sakura membulat begitu ia mengenali sosok cowok yang tidak asing itu, meskipun rasanya agak lain melihatnya tanpa balutan seragam KAA-nya.
"Lho? Gaara?"
Cowok bernama Gaara itu menyunggingkan senyum tipis sopan. "Ternyata benar. Kukira aku salah lihat tadi."
.
.
TBC…
.
.
Maaf baru apdet.
Sebenernya aku ngerasa gak maksimal sama chapter ini, gak tau kenapa. Mungkin karena aku nulisnya dikit-dikit, sekali nulis cuma dapet beberapa paragraph saja dengan mood yang beda-beda, hasilnya jadi agak aneh gini. Maafkan, ya? Tadinya chapter ini cuma pengenalan sama tokoh-tokoh dan setting yang nanti muncul di arc ini. Tapi gak tau tuh dapet atau enggak..
Yups. Ada Gaara juga di sini. Dan nanti mungkin akan munculin beberapa teman dari Konoha yang ternyata ikutan nimbrung di Kiri, biar liburannya tambah rame. Pingin sedikit nambahin bumbu romance di sana-sini, tapi belum tahu mau gimana. Baru rencana aja sih.
Makasih buat yang udah membaca dan mereview chapter kemarin. #bowed Kalo gak keberatan, aku juga ingin tahu apa yang kalian pikirkan tentang chapter ini. Dan kayanya aku harus bersiap mendapatkan kritikan pedas nih.. :p
See ya next chap!
