Maaf karena chapter ini dipublish ulang. Ada sedikit tambahan di akhirnya. Sedikit aja sih, supaya kisah di Kiri (Sakura dkk) dan Konoha (Ino dkk) nggak benar-benar terpisah. Mudah-mudahan nggak mengganggu
Naruto fandom dan segala isinya adalah hak cipta Masashi Kishimoto-sensei. Saya hanya minjam, tanpa mengambil keuntungan apa pun kecuali kesenangan menulis. :D
Arlene Darcy
L'amis Pour Toujours: Summer Holiday Arc Chapter 4
.
.
Ino Yamanaka menghenyakkan diri di bangku taman pertama yang ia temukan dengan penuh rasa syukur begitu mereka sampai di area rumah kaca Konoha Central Park. Ternyata perjalanan dengan berjalan kaki selama kira-kira sepuluh menit menuju bagian terdalam taman kota itu sungguh melelahkan. Ditambah lagi matahari yang bersinar sangat terik bahkan sebelum mencapai tengah hari membuat udara terasa panas dan pengap. Dalam sekejap saja Ino sudah banjir keringat.
Sepertinya waktu terbaik untuk berjalan-jalan ke bagian taman yang itu adalah pagi hari, seperti kata Shino Aburame—meskipun Ino enggan mengakuinya.
Menghela napas lelah, Ino menjatuhkan kepalanya ke belakang, membiarkan sinar matahari yang menerobos melalui sela-sela kanopi hijau di atasnya menerpa wajahnya yang berkilau oleh keringat. Matanya terpejam sementara ia menghirup dalam-dalam udara bersih masuk ke paru-parunya. Kedua kaki jenjangnya diluruskan ke depan.
"Meninggalkan temanmu begitu saja saat sedang keluar bersama sebaiknya jangan dijadikan kebiasaan," suara datar bernada menyebalkan milik cowok yang menjadi teman kencannya memasuki indera pendengaran Ino. "Itu akan membuatnya berpikir kau membencinya."
Gadis itu menghembuskan napas keras-keras. "Yah, terus-terusan berhenti setiap ada kumbang lewat sebaiknya juga jangan dijadikan kebiasaan, Shino," balasnya. Ino membuka matanya dan melirik cowok yang baru saja menempati tempat kosong di sebelahnya dengan sebal. "Itu akan membuatnya berpikir dia lebih membosankan dari pada serangga, kau tahu?"
Shino tidak membalas selama beberapa saat, hanya menatap gadis itu dari balik kacamata hitamnya. Ino tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh cowok itu—dan jujur saja, ia tidak terlalu peduli. Teringat pada Idate saja sudah membuatnya sakit kepala, ia tidak mau dipusingkan lagi oleh seorang cowok yang bahkan lebih mementingkan seekor kecoa dibandingkan dirinya.
Lebih baik memikirkan apa yang sedang dilakukan oleh sahabatnya yang sedang berliburan di seberang pulau, diam-diam menyesal tidak mengiyakan saja ajakan Sakura dulu. Yah, ia tidak menyangka situasi di Konoha bakal seperti ini—pertama, Shikamaru merekrut pacar Sai untuk menjadi second vocalist di band tanpa persetujuannya. Yang itu artinya ia terjebak sepanjang liburan musim panas bersama gadis yang hobinya berkicau tentang mantan kekasihnya itu setiap ada kesempatan. Membuat hatinya panas saja.
Kedua, ia tidak tahu mengapa cowok paling tidak menyenangkan seantero Konoha High memutuskan untuk mengajaknya keluar—dan yang paling buruk, ia menerimanya begitu saja! Entah sampai kapan Ino bisa bertahan dengan cowok yang hanya akan membuatnya jengkel setiap kali ia membuka mulut. Ditambah lagi ia tidak begitu mengenal seperti apa Aburame Shino. Bagaimana jika cowok itu memutuskan untuk menempel padanya sepanjang musim panas?
Astaga… Ino tidak bisa membayangkan liburan yang lebih buruk. Ia merasa akan lebih sanggup menghadapi situasi canggung dengan Sai ketimbang yang ini.
Dan mengapa Sakura belum juga membalas emailnya?
"Apa kau berpikir seperti itu?" tanya Shino tiba-tiba, ketika Ino tengah mengutak-atik ponselnya untuk mengecek kotak emailnya.
"Huh?" Ino yang tidak begitu mendengarkan refleks menoleh. "Kau bilang apa barusan?"
Shino membuka mulutnya seperti hendak mengatakan sesuatu, namun segera diurungkan. Ia mengambil waktu untuk berdeham kecil dan menarik napas panjang sebelum mengulangi pertanyaannya, "Apa kau berpikir seperti itu… tentangku?"
Ino menaikkan kedua alisnya tinggi, memandang cowok di sebelahnya itu tidak mengerti. "Maksudmu?"
"Apa aku harus mengulang-ngulang pertanyaanku?" sahut Shino, mendadak galak. "Itu sangat membuat canggung."
"Oh, maafkan aku," Ino mendengus, "Aku tidak tahu kau bisa canggung."
Ino tidak tahu apakah ini hanya khayalannya saja akibat sinar matahari yang terlalu tirik atau wajah Shino memang bersemu merah?
"Sebaiknya aku beli minuman." Shino beranjak dari bangku. Cowok itu baru menjauh beberapa langkah sebelum tiba-tiba berhenti dan berbalik menghadap Ino. "Kau ingin sesuatu?"
"Es krim," gadis pirang itu menjawab asal. Perhatiannya kembali pada ponselnya.
"Baiklah." –Dan cowok itu pun melenggang pergi.
Tiba-tiba saja Ino kehilangan minat pada ponselnya. Mengerang bosan, gadis pirang itu kembali menjatuhkan kepalanya ke belakang. "Sekarang giliranku yang ditinggal…"
.
.
Sementara di tempat lain, Sakura tengah diliputi kelegaan luar biasa setelah bertemu dengan seseorang yang ia kenal di tempat yang asing ini—dan orang yang bisa ia percayai tentu saja. Meski gadis ceroboh itu enggan mengaku bahwa dirinya tersasar.
"Aku sedang jalan-jalan saja di sekitar sini," akunya, nyengir pada cowok berambut merah di depannya itu, "Kau tahu kan, melihat-lihat."
"Sendirian saja?" Gaara bertanya seraya melayangkan pandang ke belakang Sakura, seakan berharap melihat seseorang yang bersamanya di sana. Tapi tidak ada siapa pun di sana—yah, kecuali orang-orang yang berlalu lalang, yang pastinya tidak ada hubungannya dengan Sakura.
"Yah…" Sakura mengeluarkan tawa canggung. "Mereka sedang ada di tempat lain—maksudku, teman-temanku. Sai dan yang lain."
"Sai?" sejenak Gaara tampak bingung. "Ah, tentu saja—" cowok itu mengangguk paham. Saat masih di Konoha, Sai memang pernah memberitahunya perihal rencana liburan musim panasnya ke Kiri bersama sahabat-sahabatnya. Dan gadis berambut merah muda yang tampak agak canggung di depannya ini pastilah salah satu dari mereka. Meskipun ia sedikit heran bisa bertemu gadis itu di tempat mereka berada sekarang, karena tempat itu bukan tempat yang biasa dikunjungi turis.
Tapi itu bukan urusannya. Bisa saja Sakura memang sengaja datang untuk melihat-lihat ikan dan makanan laut segar yang jarang ditemui di Konoha, kan?—mengingat keluarganya yang merupakan pengusaha restoran.
"Gaara sendiri sedang apa di sini? Liburan kah?" Sakura bertanya selagi mereka melanjutkan menyusuri jalanan yang ramai itu, menjauhi area pasar.
"Hn," Gaara mengangguk kecil, mengerling Sakura yang masih menatapnya penuh ingin tahu—jelas tidak puas hanya dengan jawaban singkat—"Musim gugur ini Kankurou akan mulai kuliah di sini, di kampus tempat paman kami mengajar. Jadi aku dan Temari, kakak perempuanku, sengaja menemaninya di sini, sekalian menghabiskan liburan musim panas."
"Aah…" Sakura mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia memang pernah mendengar soal Kankurou yang akan mengambil kuliah di Kiri setelah cuti setahun sebelum ini—mungkin dari Tenten, ia tidak begitu ingat. "Matsuri tidak ikut?"
Mendengar nama Matsuri disebut, sudut bibir Gaara sedikit terangkat. Cowok itu menggeleng. "Dia membantu mengajar kelas ballet untuk anak-anak sepanjang musim panas ini di KAA, jadi tidak bisa meninggalkan Konoha. Lagipula sekarang ini Matsuri sedang serius berlatih untuk pertunjukan ballet pertamanya di pertunjukkan tahunan KAAnanti. Dia mendapat peran utama untuk Giselle." Ada nada bangga tersamar dalam suara Gaara saat ia mengatakan itu.
"Wah, keren sekali…" Sakura tak bisa menyembunyikan kekagumannya, meskipun ia sama sekali tidak tahu apa itu Giselle. Yang jelas, pertunjukan ballet bagi orang yang awam mengenai bidang itu terdengar keren. Apalagi peran utama. Dobel keren. "Tapi kalian jadi tidak bisa sama-sama."
Gaara tidak menjawab, tampak salah tingkah. Sakura tersenyum, berusaha untuk tidak mengikik melihat ekspresi malu-malu di wajah teman Sai yang pendiam itu.
"Jadi selama liburan di sini, kalian menginap di mana?" tanya Sakura kemudian, setelah keheningan yang canggung.
"Di apartemen Kankurou, tidak jauh dari kompleks kampusnya," sahut Gaara, sementara mereka berbelok memasuki jalanan berbatu yang lebih lengang. "Bagaimana dengan kalian? Kudengar dari Sai, kalian tidak menginap di hotel atau semacamnya."
"Yah, memang," Sakura meringis lagi. "Kami menginap di tempat Yamato—kakakku. Dia kuliah di sini juga—Dengan begitu kami bisa sedikit berhemat untuk biaya menginap selama beberpa minggu." Sakura berhenti dan merogoh ke dalam tasnya, mengeluarkan dompet, lalu menarik secarik kertas yang bertuliskan alamat Paman Kaiza. "Ini alamatnya," katanya seraya mengangsurkan kertas alamat itu pada Gaara.
Gaara menatapnya heran selama beberapa saat, tidak mengerti mengapa Sakura malah menyerahkan alamatnya alih-alih hanya menyebutkan nama tempatnya saja seperti yang biasa orang lakukan. Meski begitu, Gaara tetap mengambil kertas yang disodorkan padanya. Senyup tipis mengembang sekali lagi di bibirnya membaca alamat yang tertera di sana. "Jadi di sini…"
"Kau tahu tempat itu?" sambar Sakura sebelum sempat menahan diri.
"Ya," jawab Gaara, menyerahkan kembali kertas alamat itu pada Sakura. "Seharusnya ini tidak terlalu jauh dari Galeri Akatsuki."
Sakura mengerutkan dahinya, merasa pernah mendengar nama itu entah di mana. Yah, tidak peduli tempat apa itu, sekarang ada hal lain yang lebih mendesak—tapi masalahnya gadis itu tidak tahu bagaimana mengungkapkannya pada Gaara tanpa terlihat konyol.
"Ada apa?" tanya Gaara, bingung karena Sakura terus memandanginya.
"Ah, itu…" Sakura mengeluarkan tawa canggung. "Apa kau tahu bagaimana bisa sampai ke sana?"
Gaara mengangguk kecil. "Hn. Aku kebetulan tahu jalur kanal itu."
"Aah…" Kini giliran Sakura yang mengangguk, teringat bahwa rumah Paman Kaiza memang melewati sebuah kanal. Ia lalu berdeham kecil. Sepertinya sudah saatnya untuk mengaku. "Anu… Sebenarnya aku agak lupa jalan ke sana. Maukah… um… menunjukkan jalannya padaku?—Kalau kau tidak keberatan."
Kalau saja Gaara punya alis, tentu sekarang sudah terangkat tinggi. Sakura diam-diam menyilangkan jari di belakang punggungnya, mengharapkan keberuntungan—juga berharap supaya Gaara tidak menertawakannya karena kecerobohannya yang konyol.
"Tentu," jawab Gaara akhirnya, seraya menyunggingkan senyum tipis—bukan jenis senyum mengejek atau apa. Cowok itu bisa memakluminya. Tempat itu memang banyak jalan-jalan bercabang dan lorong-lorong yang membingungkan. Bukan hal aneh bagi orang luar kota yang tidak terbiasa dengan itu tersasar. "Tapi sebelumnya aku mau mengambil biolaku dulu, kalau kau tidak keberatan."
"Tentu saja!" seru Sakura penuh syukur. Tanpa sadar melonjak-lonjak saking leganya. Tak masalah baginya menemani Gaara sebentar, yang penting ia tidak tersesat lagi. "Wah, aku tertolong! Terimakasih banyak, Gaara."
Gaara mengepalkan tangannya yang bebas di depan mulutnya, menyamarkan tawanya menjadi dehaman kecil. "Aa… Tidak masalah."
Mereka lantas melanjutkan perjalanan, menggabungkan diri dengan para pejalan kaki lain.
"Omong-omong, Gaara, sepertinya kau sudah hafal daerah ini, ya?"
"Yah, lumayan… Sejak kecil aku sering menghabiskan waktu liburan di sini dengan orangtuaku. Sekarang salah seorang saudaraku juga tinggal di sini. Kau ingat Sasori?"
.
.
"APA? SAKURA HILANG?"
Sasuke mendelik seraya menutup kedua telinganya yang mendadak berdenging mendengar teriakan Naruto. Hebat sekali bagaimana si pirang itu langsung sadar sepenuhnya begitu Sasuke memberitahunya soal kepergian Sakura—padahal tadinya Naruto masih setengah tertidur ketika Sasuke membangunkannya.
"Idiot," Sasuke menggerutukan makian favoritnya untuk Naruto, "Bisa tidak sih, tidak berteriak begitu?"
Naruto mengabaikan Sasuke dan langsung melompat turun dari tempat tidur. Saking terburu-burunya sehingga kakinya terserimpet bantal dan akibatnya ia malah terjerembab jatuh dengan lengan mendarat terlebih dahulu di lantai.
"WADOUUUWW!" Naruto melolong, memegangi sikunya yang nyeri sambil berguling-guling.
Sasuke menghela napas keras. "Idiot," gerutunya lagi.
"Ada apa ini? Berisik sekali." Sai melangkah masuk ke dalam kamar dengan handuk lembab menggantung di bahu, memandang keheranan pada kedua sahabatnya—terutama pada Naruto yang masih berguling-guling sambil mengerang-erang kesakitan. Alisnya terangkat tinggi. "Kalian tidak sedang berkelahi, kan?"
"Si Idiot ini jatuh dari tempat tidur," sahut Sasuke sambil mendengus. Ia membungkuk, meraih bantal yang ikut terjatuh bersama Naruto, melemparnya kembali ke tempat tidur.
"AAOOOW! Sas-ke-sial sempat-sempatnya mengata-ngataiku di saat seperti ini!" lolong Naruto merana. Mata birunya yang sudah berair membeliak sakit hati pada Sasuke. "Dan kenapa malah menolong bantal bukannya temanmuuu, dasar sial!"
"Itu karena kau memang idiot, Idiot!" cibir Sasuke menanggapi protes Naruto, menendang kaki si pirang—tentu saja untuk main-main.
Tersenyum geli melihat tingkah kedua sahabatnya yang terkadang agak kekanak-kanakan itu, Sai maju untuk membantu Naruto bangun. "Kau tidak apa-apa? Mana yang sakit?"
Naruto menunjukkan sikunya yang memerah pada Sai, lalu mengumpat keras ketika Sai dengan sengaja malah menekan bagian itu. "ADUH! #$%*! Hati-hati dong, Sai! Sakit, nih!"
"Maaf, maaf…" Sai terkekeh.
Naruto menggeram, "Sejak kapan kau jadi jahil begitu?"
"Aku kan belajar darimu, Naruto," balas Sai disertai seulas senyum polos yang membuat Naruto mendelik padanya.
Bersungut-sungut sebal, Naruto memutuskan untuk tidak membalas dan kembali memfokuskan perhatiannya pada informasi yang dibawa Sasuke barusan; apalagi kalau bukan soal Sakura yang hilang. Mengabaikan sikunya yang masih terasa nyeri, Naruto menyambar ponselnya yang diletakkan di atas meja—dan mengumpat ketika mendapati ponselnya itu mati. Ia lupa men-charge-nya semalam.
"Aaargh! Sial! Kenapa kalian masih santai-santai begitu, sih? Sakura hilang, nih!" sewotnya ketika melihat kedua sahabatnya malah menontonnya tanpa melakukan apa-apa.
"Aku tidak bilang dia hilang, dasar bodoh!" sahut Sasuke sambil berkacak pinggang.
"Tapi kan katamu Sakura tidak ada di kamarnya," Naruto memelototi Sasuke.
"Aku belum selesai bicara, Idiot," Sasuke menghela napas tak sabaran, "Sakura pergi sebelum kita semua bangun. Jadi—"
"Eeeh? Kenapa Sakura tidak membangunkan kita? Kenapa kau tidak bangun lebih pagi, Sasuke?" jari Naruto menuding, seolah salah Sasuke lah Sakura pergi tanpa mereka.
Sai kembali mengangkat kedua alisnya tinggi ketika Sasuke membalas Naruto tak kalah sengit, mempermasalahkan ajakannya menonton pertandingan sepakbola semalaman. Naruto yang tidak terima balas menyembur. Sementara Sai hanya bisa nyengir menonton pertengkaran kekanak-kanakan kedua sahabatnya itu. Kalau saja Sakura ada di sini pasti bakal tambah seru, pikirnya geli, teringat masa-masa awal ia pindah ke Konoha High.
Ah, rasanya sudah lama sekali...
Perhatiannya kemudian teralih pada meja di seberang tempat tidur, tempat ia menyimpan ransel. Kerutan samar muncul di antara kedua alisnya ketika melihat wadah kamera kesayangannya di sana. Sai sama sekali tidak ingat pernah mengeluarkan kamera dari dalam ransel—ia bahkan belum menyentuh ranselnya sejak semalam!
Sai memandang kedua sahabatnya yang masih belum selesai bertengkar, bertanya-tanya apa salah satu dari mereka yang mengeluarkan kameranya sewaktu ia mandi tadi. Tapi rasanya tidak mungkin. Naruto baru saja bangun ketika ia masuk. Dan Sasuke—cowok itu terlalu sibuk mencemaskan Sakura. Lagipula, Sasuke bukan tipe orang yang suka menggeratak barang milik orang lain yang bukan urusannya.
"SAI!"
Sai sedikit terlonjak mendengar suara keras Naruto meneriakkan namanya. Perhatiannya serta merta teralihkan lagi pada sahabat pirangnya itu yang kini sibuk melotot padanya. "Apa?" sahut Sai refleks.
"Ngapain malah bengong di situ? Sakura HILANG, tahu!"
Di samping Naruto, Sasuke memutar bola matanya. Cowok itu menghela napas keras, menyerah menghadapi kekeraskepalaan sahabatnya yang terkadang menyebalkan itu dan memilih untuk menyibukkan diri membongkar ranselnya.
"Sakura tidak hilang," jawab Sai kalem, "Tadi kan Sasuke sudah meneleponnya dan Sakura bilang dia akan segera pulang—"
"Tapi dia sendirian di luar sana! Bagaimana kalau ada apa-apa?" sela Naruto tak sabaran.
Kini giliran Sai yang menghela napas. "Sakura pasti akan memberitahu kita kalau terjadi sesuatu," ujarnya seraya berjalan melewati Naruto untuk menaruh handuknya di gantungan. "Dia bukan anak kecil yang tidak bisa menjaga diri, Naruto. Lagipula ini kan karena salah kita juga. Bisa saja Sakura sengaja meninggalkan kita karena marah, Jadi kurasa sebaiknya kita membiarkannya bersenang-senang sendiri dulu. Benar kan, Sasuke?"
Sasuke membalas dengan gerutuan tak senang sementara Naruto tampak tidak puas.
"Dan siapa bilang kami hanya santai-santai saja di sini, eh?" Sasuke berkata sambil memelototi Naruto. Cowok itu telah mengeluarkan celana pendek putih dan kaus oblong biru tua dari dalam ranselnya. "Setelah ini kita akan keluar menyusul Sakura."
"Betul," timpal Sai sembari membungkuk untuk membuka ritsleting tas travel-nya. "Jadi sebaiknya kau segera mandi kalau tidak ingin kami tinggal."
Naruto memelototi kedua sahabatnya yang sibuk berganti pakaian. Rambut gelap keduanya basah dan menguarkan aroma bersih sabun mandi. Sedetik kemudian Naruto baru menyadari hanya ia saja yang masih bau dan berantakan.
"GRAAAH! KENAPA KALIAN TIDAK NGOMONG DARI TADI?"—Dan si jabrik pirang itu pun langsung kocar-kacir menuju kamar mandi, sama sekali lupa dengan peralatan mandi dan handuknya. Tak lama kemudian, terdengar suara pintu kamar mandi ditutup dengan keras.
"Selalu saja gampang panik kalau berhubungan dengan Sakura kan, Si Naruto itu?" Sai memecah keheningan sementara mereka—ia dan Sasuke—berganti pakaian.
Sasuke menjawab dengan gerutuan pelan. Dulu, saat Sakura tidak masuk sekolah selama berhari-hari setelah ayahnya meninggal dunia pun begitu. Naruto sampai nekat membolos, bahkan mempertaruhkan posisinya di tim inti klub sepakbolanya, hanya demi mencoba membuat Sakura bangkit lagi. Dan ia juga belum lupa bagaimana paniknya Naruto saat Sakura minggat dari rumah.
"Apa kau pikir dia masih ada perasaan pada Sakura?" celetuk Sai lagi—dia yang dimaksud, tentu saja adalah Naruto.
Sasuke terdiam selama beberapa saat sementara melepas kaus dari atas kepalanya. Sejujurnya ia sendiri tidak begitu yakin. Naruto tidak pernah lagi membicarakan tentang perasaan khusus-nya terhadap Sakura, kecuali pengakuannya yang menganggap Sakura sudah seperti saudarinya. Ditambah lagi hingga sekarang Naruto belum menunjukkan tanda-tanda yang jelas bahwa dirinya tertarik pada gadis lain—kedekatannya dengan Hinata Hyuuga juga masih samar-samar sampai sekarang.
"Naruto itu sudah mengenal Sakura jauh sebelum kita dan dia sangat menyayangi cewek itu. Jadi wajar saja kalau dia khawatir," jawab Sasuke kemudian, mengambil kaus yang telah dikeluarkannya dari ransel sebelumnya.
Sai tampak memikirkan jawaban Sasuke sesaat, lalu berkata sambil tersenyum, "Kau benar. Tapi melihat mereka seperti itu apa kau tidak cemburu eh, Sasuke?"
Sasuke menanggapinya dengan menyambit kepala Sai dengan kaus kotornya. "Bicara saja sesukamu," tukasnya galak.
Sai menyingkirkan kaus Sasuke dari kepalanya sambil terkekeh-kekeh, namun segera berhenti begitu matanya menangkap sesuatu yang membuat perhatiannya teralih. Dari posisinya berlutut, ia bisa melihat dengan jelas luka bekas operasi usus buntu di perut kanan bawah Sasuke, menempel pada garis celananya. "Wah, itu bekas operasimu yang waktu itu, ya?" tanyanya, tanpa berpikir langsung menyentuh bagian itu dengan tangannya.
Sasuke yang tengah memasukkan kaus lewat kepalanya langsung melompat karena kaget. "Oi!" teriaknya, terbelalak menatap Sai yang balas menatapnya bingung.
"Kenapa?"
"Tanganmu dingin, tahu!"
"Oh…" Dengan wajah polos Sai menggosok-gosok kedua tangannya sambil meniup-niupnya di depan mulut, lalu menempelkannya lagi di perut Sasuke. "Sudah lebih hangat?"
Sasuke menyingkirkan tangan Sai kasar dari perutnya. Wajahnya memerah. "Jangan seenaknya main pegang begitu!" omelnya seraya cepat-cepat memakai kausnya, mengamankan sebanyak mungkin kulit di tubuhnya. "Terlalu dekat denganmu bisa berbahaya, tahu tidak?"
"Kenapa dia?" Sai mengerjap ketika Sasuke bergegas keluar dari kamar sambil mengomel.
.
.
Suara bel berdenting pelan ketika pintu kaca itu mengayun terbuka. Sepasang remaja melangkah masuk. Remaja lelaki berambut merah gelap yang masuk terlebih dahulu disambut oleh sapaan ramah seorang pria paruh baya yang merupakan pemilik toko musik tua itu—tak diragukan lagi mereka telah saling mengenal—Sementara gadis di belakangnya selama beberapa saat dibuat terkesima oleh pemandangan di sekelilingnya.
Di sepanjang dinding kayu tempat itu dipenuhi oleh lemari kaca yang memajang berpuluh-puluh—mungkin lebih—alat musik gesek berbagai jenis dan ukuran. Lukisan-lukisan dan foto-foto para musisipria dan wanita juga terlihat dipajang di sana.
Sakura tengah asyik mengagumi deretan cello yang dipajang di dekat pintu masuk ketika Gaara memanggil namanya, "Sakura?"
Mendengar namanya dipanggil, serta merta Sakura menoleh pada Gaara yang sedang berdiri di depan konter di seberang ruangan. "Ya?"
"Ini akan sedikit lama. Kau tidak apa-apa?"
"Oh, tidak masalah," Sakura menjawab sambil melempar senyum.
Gaara membalas senyumnya. "Kalau begitu duduk saja dulu. Kau pasti lelah."
Sakura mengerling bangku kayu berukir di salah satu sudut ruangan yang bernuansa cokelat hangat itu. "Oh, ya. Terimakasih."
Setelah Gaara menghilang di bagian belakang toko bersama pria tadi, Sakura kembali melanjutkan acara melihat-lihatnya. Namun lama-kelamaan perhatiannya tidak benar-benar fokus pada deretan alat-alat musik klasik yang berjejeran dengan apiknya di dalam lemari kaca di depannya. Pikiran gadis itu melayang ke rumah Paman Kaiza, tempat ketiga sahabatnya barangkali sekarang ini masih berada.
Mereka pasti sudah bangun semua sekarang, pikirnya. Apa yang sedang mereka lakukan di rumah? Apa mereka mencemaskannya? Pasti begitu. Sasuke kedengarannya sangat gusar waktu ia meneleponnya tadi. Apa dia marah?
Sakura menghela napas berat, tiba-tiba merasa bersalah karena telah meninggalkan mereka. Tapi itu kan karena salah mereka juga, kata suara lain dalam kepalanya, mengingatkan. Harusnya Sakura lah yang marah, bukannya mereka. Menghela napas keras-keras sekali lagi, Sakura berbalik dan menghenyakkan diri di bangku.
Ia lalu mengeluarkan ponsel dari tas selempangnya, menemukan tiga panggilan tak terjawab dari Sasuke dan sebuah pesan singkat bernada gusar yang menyuruhnya memberitahukan di mana posisinya sekarang secepatnya, supaya mereka bisa segera menyusulnya. Sakura mendenguskan tawa kecil, tidak tahu harus jengkel atau terharu terhadap kecemasan yang ditunjukkan cowok itu terhadapnya.
Sakura tengah mempertimbangkan untuk menelepon Sai atau Naruto—tidak Sasuke, karena cowok itu sudah bisa dipastikan akan menyemprotnya habis kalau ia berani-berani menghubunginya—ketika sebuah kotak berisi kue mochi terulur di depannya. Rupanya Gaara.
"Mochi khas Suna," kata Gaara, menjawab pandangan bingung gadis di depannya, "Mau?"
Seraya mengucapkan terimakasih, Sakura mengambil sebuah kue dari dalam kotak yang diulurkan Gaara sementara cowok bermata hijau pucat itu duduk di sebelahnya. "Aku tidak tahu di Kiri ada yang menjual kue mochi khas Suna."
"Tidak sebanyak yang di Konoha. Hanya ada satu toko yang jual di sini, toko tempat kita bertemu tadi," terang Gaara, juga mencomot sebuah mochi untuk dirinya sendiri lalu menggigitnya. Ia mengambil jeda waktu untuk mengunyah dan menelan kuenya sebelum melanjutkan, "Kami—aku dan kedua kakakku—tidak bisa benar-benar jauh dari rumah, kau tahu? Walaupun ini tidak seenak yang di Suna."
"Bisa dimengerti," sahut Sakura sambil tertawa sopan, ikut menyantap kuenya. Matanya kemudian menelusuri lemari-lemari kaca di sepanjang dinding. "Tempat ini semacam… toko musik?"
"Yah… semacam itu," Gaara mengangguk singkat, "Mereka membuat alat musik di sini lalu menjualnya. Mereka juga menerima pesanan khusus dan perbaikan. Bisa dibilang ini semacam bengkel alat musik."
"Aah…" Sakura mengangguk-anggukkan kepalanya. "Jadi kau memesan biola baru di sini atau—"
"Ah, bukan, bukan," sela Gaara. Wajahnya tampak agak malu. "Aku sedang memperbaiki biola lamaku. Aku tidak sengaja menjatuhkannya dan mematahkan lehernya—ceroboh."
"Kenapa tidak beli yang baru saja?" tanya Sakura.
Gaara memberinya senyum tipis. "Itu adalah biola pertamaku. Hadiah dari ayah waktu aku berusia empat tahun."
Sudah belajar musik sejak kecil. Gaara pastilah berasal dari keluarga musisi, pikir Sakura. "Apa ayahmu juga musisi sepertimu?" tanyanya penasaran.
"Aa. Dia seorang violinist yang hebat, komposer, sekaligus produser sebuah orchestra di Suna."
"Wow…" Sakura tak bisa menyembunyikan kekagumannya. Berasal dari keluarga seniman terkenal di tempat asalnya, Sakura membatin. Seperti yang diharapkan dari kolega keluarga Shimura. "Dan ibumu?"
"Penyanyi opera," sahut Gaara. Ada kebanggaan terpancar di wajahnya yang pucat, seperti saat mereka membicarakan Matsuri sebelumnya. "Bidang yang sedang dipelajari kakak perempuanku, Temari."
"Oh!" Sakura berseru terkejut. Ia pernah bertemu dengan Temari beberapa kali saat gadis itu mengunjungi adiknya di Konoha. Dan yang ia tahu tentang kakak perempuan Gaara itu hanyalah bahwa ia adalah kenalan dan teman baik Ino saat sahabatnya itu ikut kompetisi senam di Ame dulu. "Kukira kakakmu seorang atlet senam—atau… atau dancer seperti Matsuri."
"Oh, itu hanya hobinya yang lain," jelas Gaara, menawarkan lagi kotak mochinya, "Mau lagi?"
"Trims, Gaara. Tapi nanti kakak-kakakmu tidak kebagian lho, kalau kau menawariku terus. Begini-begini makanku banyak, asal kau tahu saja," gurau Sakura, tertawa kecil.
Gaara hanya tersenyum kecil menanggapi gurauan Sakura. Membatin dalam hati apakah gadis ini memang selalu ceria seperti ini? Kalau iya, sekarang ia menjadi mengerti dari mana Sai mendapatkan cheerful nature-nya, mengingat banyaknya omongan yang ia dengar dari orang-orang di KAA tentang Sai. Tentang bagaimana cucu Profesor Shimura itu dulunya begitu tertutup dan pemurung. Sangat mengagumkan bagaimana sifat seseorang bisa begitu memengaruhi orang lain. Dan yah… Gaara juga tidak melupakan bagaimana Naruto Uzumaki, sahabat Sai yang lain.
"Tidak mencoba menghubungi teman-temanmu?" tanya Gaara kemudian, mengerling ponsel lipat berasesori Hello Kitty yang tergenggam di tangan Sakura. "Mungkin saja mereka khawatir."
"Ah, aku baru saja mau menelepon—" tepat saat itu, ponselnya bergetar. Sakura merintih pelan melihat nama Sasuke terpampang di layar, namun cepat-cepat melempar cengiran pada Gaara. "Panjang umur," katanya, melambaikan ponselnya.
Tak ingin mengganggu, Gaara lantas beranjak meninggalkan Sakura setelah sebelumnya meletakkan kotak mochinya di bangku—barangkali saja ia ingin makan lagi—Sementara gadis itu menjawab teleponnya.
"Ha—halo?"
.
.
Setelah beberapa saat yang menyebalkan menunggu Naruto menyelesaikan urusan bersih-bersihnya, akhirnya cowok pirang itu keluar juga dari kamar, sudah berpakaian lengkap.
"Ayo kita berangkat!" serunya pada kedua sahabatnya yang duduk di sofa, menonton televisi tanpa benar-benar memerhatikan acaranya—Sasuke menyalakan televisi hanya supaya ada suara. Dan ia masih jengah mengobrol dengan Sai karena kejadian tadi—"Oi, kalian berdua. Ngapain duduk-duduk saja di situ. Ayo pergi!"
Sasuke mendongak, melempar pandang jengkel pada Naruto. "Memangnya salah siapa kita terlambat begini?" gerutunya.
"Kau ini—" Naruto memasang tampang siap berperang.
"Dari pada bertengkar lebih baik kita berangkat sekarang," sela Sai kalem, seraya beranjak dari sofa. "Sakura sudah membalas pesanmu?" tanyanya pada Sasuke.
Menghela napas, Sasuke menggerutu, "Belum." Ia lantas mematikan televisi, lalu ikut berdiri. "Ayo berangkat."
Sasuke berjalan mendahului Naruto menuju tangga, sama sekali tak menyadari ketika Naruto menjulurkan lidah mengejek ke arahnya. Di belakang mereka, Sai mendengus tertawa melihat kelakuan kekanakan Naruto.
"Apa?" sembur Naruto pada Sai, merasa dirinya ditertawakan.
"Tidak ada," kekeh Sai sambil menepuk-nepuk kedua bahu Naruto dengan tangannya, lalu sedikit mendorongnya ke depan supaya ia lebih bergegas menyusul Sasuke yang telah menuruni tangga lebih dulu.
Di pintu depan, Sasuke baru saja hendak memasukkan anak kunci cadangan yang diberikan Yamato padanya ke lubang kunci ketika terdengar suara anak kunci yang diputar dari luar. Tangan Sasuke masih terjulur ke depan ketika pintu itu mengayun membuka, nyaris saja mengenainya kalau saja Sasuke tidak sigap melangkah menjauhi pintu—dan menginjak kaki Naruto yang kebetulan berdiri di dekatnya—Naruto mengumpat keras, yang tentu saja diabaikan oleh Sasuke.
Seseorang muncul dari balik pintu, membawa ransel yang tampak terlalu besar untuk tubuhnya yang mungil. Dan dari cara orang itu tersengal-sengal, sepertinya bawaannya itu pun seberat kelihatannya.
"Haah… Akhirnya sampai juga," engah orang itu seraya melepas ransel dari bahunya dan menjatuhkannya ke lantai. Dan ketika ia menegakkan diri untuk memijat-mijat bahunya, gerakannya terhenti mendadak. Mata cokelat orang itu membulat melihat tiga orang asing di depannya.
Dan tiga orang itu pun tampak sama terkejutnya melihat kehadiran sosok cantik berambut hitam panjang itu di depan mereka. Bahkan Naruto terang-terangan ternganga. Rasa sakit di kakinya terlupakan.
"H—halo," sapa orang itu ragu-ragu. Namun setelah ia melihat kunci di tangan Sasuke, sebuah pemahaman muncul di wajahnya. Senyum mengembang di bibirnya. "Ah, kalian bertiga pasti teman-teman Yamato dari Konoha, kan?"
Sasuke yang berdiri paling dekat dengannya hanya mengangguk kecil sebagai jawaban. Naruto lah yang kemudian menyambar, "Yeah, kami teman Yamato dari Konoha. Apa kakak ini… istrinya Paman Kaiza?"
Orang di depan mereka tampak tercengang mendengar pertanyaan Naruto, tapi kemudian sebuah tawa kecil menyusul. "Oh, bukan, bukan. Kalian pasti belum bertemu Bibi Tsunami—istri Paman Kaiza—ya? Aku teman kampus Yamato yang juga tinggal di sini. Namaku Haku." Orang bernama Haku itu mengulurkan tangannya ke arah mereka.
Naruto menyambar tangan itu seraya dengan penuh semangat menyebutkan namanya juga nama kedua sahabatnya yang lain. Sasuke yang diuluri tangan setelahnya menjabat agak ragu, sementara Sai menyambutnya ramah. "Salam kenal, Kak Haku," ucapnya hangat.
"Ada Sakura juga, tapi dia sudah keluar duluan," jelas Naruto, masih cengengesan. "Kami baru saja mau pergi menyusulnya."
"Aa…" Haku mengangguk-anggukkan kepalanya. "Um… kalau kalian tidak keberatan, aku ingin istirahat dulu di atas," ujarnya sambil menujuk ke lantai atas.
"Ah, iya, iya, Kak. Silakan. Eh—tas itu kelihatannya berat," kata Naruto ketika Haku mengangkat ransel beratnya lagi ke bahu dengan susah payah. "Mau kubantu?"
"Ah, tidak perlu," tolak Haku sambil melempar senyum berterimakasih pada Naruto. "Aku bisa sendiri, kok. Kalian bersenang-senang saja." Memberi senyum ramah terakhir pada ketiga remaja itu, Haku melewati mereka menuju tangga, menaikinya dengan agak kepayahan.
"Wah, kakak itu cantik sekali…" desah Naruto, menatap anak tangga di mana Haku baru saja menghilang. Ia pastilah masih bengong di situ kalau saja Sai tidak menariknya keluar menyusul Sasuke yang tampaknya tidak terlalu berminat dengan kenalan baru mereka.
"Eh, tapi bukannya Yamato bilang yang tinggal di kamar sebelah itu laki-laki?" celetuk Naruto begitu mereka sudah melangkah di bawah sinar matahari musim panas yang terik. Rupanya ia masih penasaran pada Haku. "Atau mungkin Kak Haku itu pacar temannya Yamato yang menginap? Atau malah pacarnya Yamato sendiri?" renungnya.
"Kenapa?" dengus Sai, "Naksir?"
"Bukannya begitu!" sergah Naruto segera. Wajahnya merona. "Hanya saja… yah… cewek itu cantik banget! Astaga, apa kau tidak lihat tadi, Sai?"
Sai hanya terkekeh-kekeh.
"Kalau pikiranmu itu sudah kembali ke tempatnya yang benar, Naruto," tukas Sasuke menyela mereka, "Sebaiknya kita mulai memikirkan bagaimana caranya kita bisa menemukan Sakura."
"Astaga," Naruto menepuk dahinya, tampak agak malu. "Aku hampir lupa."
"Yeah. Yang benar saja," cemooh Sasuke seraya memutar bola matanya.
Naruto langsung cemberut.
Menghela napas, Sasuke mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya, mengeluh ketika mendapati tak ada balasan dari Sakura. Mulai habis sabar, Sasuke menekan angka panggilan cepat yang langsung terhubung dengan nomor ponsel Sakura. Terdengar nada tunggu… Sekali… Tiga kali… dan akhirnya suara pelan Sakura menyahut dari seberang,
"H—halo?"
.
.
"Akhirnya dijawab juga. Dari mana saja kau?"
Sakura meringis mendengar nada ketus dalam suara Sasuke di seberang. Ia sudah menyangka reaksi cowok itu akan seperti itu jika ia mengangkat teleponnya. Sasuke pasti marah. "Sasuke…" sahut Sakura lemah. "Tadi ponselnya kusimpan di dalam tas, jadi aku tidak tahu kalau kau meneleponku lagi. Ponselku ku-silent."
Sasuke mengeluarkan suara bernada tak sabar. "Sekarang kau ada di ma—"
Suara Sasuke tiba-tiba terputus, disusul suara-suara ribut di seberang—seperti ada seseorang yang berusaha merebut ponsel dari tangan Sasuke.
"SAKURA!"
Sakura refleks menjauhkan telinganya dari ponsel mendengar suara keras Naruto. Ia bahkan bisa mendengar suaranya cukup jelas dari jarak yang cukup jauh tanpa menggunakan loudspeaker ketika Naruto kembali berteriak, "KAU KEMANA SAJA? KAMI KHAWATIR, TAHU!"
"Naruto…" desis Sakura, "Tidak berteriak begitu bisa tidak, sih?"
Naruto terkekeh. "Hehehe… sori. Habis aku cemas sekali waktu Sasuke bilang kau hilang."
"Aku tidak bilang dia hilang, Idiot!" Sakura bisa mendengar suara Sasuke mendesis di belakang Naruto.
Sakura menghela napas. "Iya deh, maaf… Habis kalian juga sih, malah nonton bola sampai pagi bukannya istirahat supaya hari ini kita bisa jalan-jalan. Aku kan jadi kesal!"
Naruto mengeluarkan tawa canggung. "Habis mau bagaimana lagi. Semalam kan pertandingan final," kilahnya.
Sakura memutar bola matanya. "Terserah deh," desahnya, menyerah. Dasar cowok…
"Jadi, Sakura, sekarang kau di mana?" tanya Naruto kemudian. "Biar kami bisa menyusulmu."
"Aku… er…" kali ini giliran Sakura yang tertawa canggung. "Sebenarnya aku tidak tahu sedang berada di mana, Naru—"
Dan sekali lagi, Sakura terpaksa menjauhkan ponsel dari telinganya ketika Naruto menyelanya dengan berteriak, "APA? JADI KAU NYASAR?"
"Naruto…" rintih Sakura memohon. "Tidak perlu berteriak begit—"
"Kenapa tidak bilang dari tadi? Kami kan bisa mencarimu lebih awal," Naruto kedengarannya sangat khawatir. "Kau tidak kenapa-kenapa, kan—Hei!"
"Kau di mana, Sakura?" Sasuke mengambil alih. Kali ini nada bicaranya lebih mendesak.
Sakura memijat-mijat pangkal hidungnya, merasa bersalah. "Sudah kubilang, aku tidak tahu nama tempat ini. Tapi jangan khawatir, aku baik-baik saja. Sekarang aku sedang bersama teman yang lebih hafal daerah sini. Dia bilang bisa mengantarku pulang."
"Teman siapa?" sambar Sasuke.
"Pokoknya teman, bukan orang jahat."
"Siapa?" desak Sasuke keras kepala.
Sakura menghela napas lagi. "Gaara."
"Gaara siapa?"
"Dia bersama Gaara?" kali ini suara Sai yang terdengar di belakang suara Sasuke. Sakura mendengar ponsel berpindah lagi—kali ini ke Sai. "Kau sedang bersama Gaara, Sakura? Gaara Sabaku?" tanyanya. Nada bicaranya khawatir, tapi jauh lebih tenang dari dua orang sebelumnya.
"Iya. Gaara yang itu, temanmu dari KAA," sahut Sakura.
"Aah… ternyata dia sudah ada di Kiri. Syukurlah kalau kau dengan dia. Kami bisa agak tenang," kata Sai dengan nada yang lebih santai. "Bisa operkan ponselmu padanya, Sakura?"
Sakura menjulurkan leher untuk melihat ke bagian belakang toko yang cukup luas itu, melihat Gaara sedang berbicara dengan paman penjaga toko sementara memeriksa sebuah biola yang sepertinya baru saja selesai diperbaiki. "Sepertinya tidak bisa, Sai. Gaara kelihatannya masih sibuk."
"Hm… Baiklah. Sekarang bisa kau jelaskan padaku kau sedang berada di mana, Sakura? Aku sudah beberapa kali ke sini. Siapa tahu aku tahu tempat itu."
Sekarang gadis bermata hijau itu memandang berkeliling. "Aku ada di semacam toko musik—tapi yang dipajang di sini hanya alat musik gesek: biola, cello dan semacamnya," beritahunya. Ia lalu beranjak dari bangku dan mengintip ke jendela. "Di seberang jalan ada toko piano. Ah, sepertinya ini semacam distrik pertokoan yang khusus menjual alat-alat musik."
"Oh!" seru Sai. "Sepertinya aku tahu tempat itu. Apa kau masih lama di sana?"
Sakura kembali mengerling Gaara—yang kini sedang mencoba biolanya. "Sepertinya Gaara sudah mau selesai."
"Hmm… Kalau begitu kita bisa bertemu di tempat lain. Setelah ini kalian mau ke mana?"
"Er… Aku belum tahu. Tapi katanya Gaara mau mengantarku pulang setelah ini," sahut Sakura. Melihat Gaara sepertinya sudah selesai mencoba biolanya, Sakura bergegas menghampirinya. "Kau mau bicara dengannya?"
"Yeah. Kalau bisa."
Sakura menurunkan ponselnya, lalu menepuk pundak Gaara. Cowok itu menoleh. "Ya?"
"Sai," Sakura mengulurkan ponselnya. "Dia mau bicara denganmu."
Gaara memandang ponsel yang terjulur ke arahnya, lalu memandang Sakura. "Sai?"
Sakura menjawab dengan anggukan kepala, sebelum kemudian Gaara mengambil ponsel itu dari tangannya. Sakura menunggu mereka bicara sembari melihat-lihat biola milik Gaara yang sudah tersimpan rapi di wadahnya di atas meja pajangan. Biola itu berukuran lebih kecil dari biola yang pernah Sakura lihat—sepertinya memang ukuran untuk anak-anak, mengingat tadi Gaara memberitahunya itu pemberian ayahnya saat usianya empat tahun—dan dalam keadaan mulus seakan tidak pernah rusak sama sekali.
Dan yang membuat Sakura tak bisa menahan cengirannya adalah sebentuk gambar Teddy Bear imut terlukis di badan biola yang mengilap itu. Gadis itu jadi membayangkan Gaara kecil yang memainkan biola-Teddy-nya. Ditambah wajahnya yang baby face itu. Wah… pasti imut sekali.
"Baiklah. Jadi kita bertemu di Galeri Akatsuki," kata-kata Gaara kemudian mengalihkan perhatian Sakura. "Aa. Sampai ketemu di sana."
"Bagaimana?" Sakura menanyainya sementara Gaara memutuskan sambungan dan mengembalikan ponsel itu pada pemiliknya.
"Kau bisa bertemu teman-temanmu di Galeri Akatsuki," jawab Gaara, tersenyum kecil. "Kebetulan aku memang mau ke sana."
"Oh, baiklah," sahut Sakura, meskipun ia tidak tahu di mana itu Galeri Akatsuki—yang katanya tidak jauh dari rumah Paman Kaiza. Tapi mendengar Sai dan yang lain akan pergi ke sana juga, ia jadi lebih tenang.
Setelah Gaara menyelesaikan urusan pembayaran servis biola-nya dan mengambil kotak mochi yang hampir tertinggal di meja ruang tunggu, keduanya lantas meninggalkan tempat itu.
.
.
"Bagaimana?" tanya Sasuke, menerima ponselnya kembali dari Sai.
"Jangan khawatir," sahut Sai sambil tersenyum, "Sakura seratus persen aman. Dan kita akan segera bertemu dengannya di Galeri Akatsuki."
Sasuke menggerutu pelan mendengar nama yang tak asing di telinganya itu—Akatsuki. Berarti ia akan bertemu dengan teman-teman kakaknya yang aneh-aneh itu lagi. Seperti tidak ada tempat lain yang lebih baik saja, ia membatin. Dan satu lagi yang membuatnya kepikiran…
"Siapa itu Gaara?"
"Kau tidak ingat Gaara?" sambar Naruto, lalu tertawa puas. "Untuk ukuran orang yang katanya jenius, ingatanmu itu sangat payah, Sasuke," cemoohnya. Sasuke membeliak padanya, tapi Naruto mengabaikannya dan meneruskan, "Kau ingat cowok berambut merah dari KAA yang main biola di ulang tahun Sakura? Dia itu yang namanya Gaara. Orangnya baik dan asyik—tidak sepertimu—Haah… aku juga tenang kalau Sakura bersama dia."—Naruto mengerling jahil pada Sasuke ketika mengatakan itu, lalu buru-buru kabur melihat tampang Sasuke yang seakan siap menyemburkan bola api.
"Jangan diambil hati, Sasuke," kata Sai kalem sambil menepuk bahu Sasuke yang sibuk memelototi punggung Naruto, terkekeh kecil. "Tidak ada alasan bagimu untuk menganggap Gaara sebagai ancaman. Setahuku dia sudah punya pacar," tambah Sai dengan suara rendah. Dan tanpa menunggu reaksi Sasuke, cowok berambut sehitam tinta itu melenggang menyusul Naruto.
Sasuke merasakan wajahnya memanas. "Bodoh," umpatnya. Memangnya siapa yang menganggap cowok ini—Gaara—ancaman, eh?
"Oi, oi, Sai! Galeri Akatsuki itu jalannya ke arah mana?"
.
.
Untuk kesekian kalinya Ino mengerling arloji yang melingkari pergelangan tangan kirinya. Entah sudah berapa lama Shino pergi, rasanya sudah lama sekali. Gadis itu menghela napas keras-keras, melepaskan rasa bosannya. Ditambah lagi perutnya mulai menuntut minta diisi mengingat ia belum makan apa pun sejak pagi.
"Kemana sih perginya orang itu?" gerundelnya, menjulurkan leher dan memandang sekitar, seakan berharap Shino tiba-tiba muncul dari balik pohon atau apa. Tapi ia tak mendapati tanda-tanda keberadaan cowok itu di mana pun. "Mau beli minuman saja lama sekali. Uuuh… aku lapar…" keluhnya, memegangi perutnya yang kembali memperdengarkan suara memrotes.
Tubuh Ino menegak ketika tiba-tiba saja sebuah kecurigaan melintas di otaknya—Jangan bilang Shino sengaja meninggalkanku. Dia marah, kemudian membalas dendam padaku dengan menelantarkanku di sini.
"Haiiish!" Ino menghentakkan kakinya dengan kesal. Seharusnya sejak awal ia tidak menerima ajakan Shino. Seharusnya ia tahu hal seperti ini bakal terjadi cepat atau lambat. Ino sudah dengar omongan anak-anak tentang perangai buruk Shino Aburame dan ia tak percaya dirinya bisa begitu bodoh sehingga mau begitu saja terjebak dengannya—"Haiiish!"
Kesal pada Shino—dan pada dirinya sendiri—Ino melompat bangun dari bangku taman tempatnya duduk.
Baiklah. Aku tidak akan memberi cowok itu kepuasan dengan menunggunya terus seperti orang tolol di sini!
Didorong oleh rasa kesal—dan oleh keinginan untuk segera mengisi perut—Ino lantas meninggalkan tempat itu.
Tak lama kemudian, gadis itu sudah tiba di Konoha City Square. Ia sudah hendak menuju tempat makan yang sudah sangat dihafalnya, namun tiba-tiba mengurungkan niatnya. Sangat tidak enak kalau makan sendirian di tempat ramai begini, pikirnya. Kemudian ia teringat Shikamaru dan Chouji yang bekerja paruh waktu di toserba di distrik itu. Sekali lagi Ino melirik arlojinya. Senyumnya melebar. Sudah masuk jam istirahat makan siang, Shikamaru dan Chouji pasti sedang istirahat. Kebetulan sekali.
Dan ke sanalah kemudian Ino melangkah.
Rupanya tak sulit menemukan mereka. Bahkan sebelum tiba di tempat mereka bekerja, Shikamaru dan Chouji sudah menampakkan diri di sebuah kedai tenda tempat para pekerja di pertokoan sekitar situ biasa melewatkan waktu istirahat makan siang. Dan kejutan besar bagi Ino, ternyata mereka tidak hanya berdua saja, melainkan bertiga. Shiho, gadis berkacamata dari klub Jurnal yang ia tahu sangat menaruh hati pada Shikamaru, juga ada bersama mereka. Gadis itu juga mengenakan seragam yang sama seperti kedua cowok yang lain—jelas sekali ia juga bekerja di tempat yang sama dengan mereka.
Wow—sepertinya sudah ada yang melakukan lompatan besar, Ino membatin, nyengir.
"Ino?" celetuk Shikamaru terkejut ketika melihat Ino menghampiri mereka. Mendengar nama gadis itu disebut, Chouji dan Shiho yang duduk membelakangi arah datangnya serta-merta menoleh, tampak sama terkejutnya dengan Shikamaru.
"Hai!" sapa Ino ceria, sambil menarik tempat duduk untuk dirinya sendiri di samping Shikamaru.
"Apa yang kaulakukan di sini?" Shikamaru menanyainya.
Ino pura-pura cemberut. "Apa? Kau keberatan kalau aku makan siang dengan kalian? Sori, deh."
"Aah… Maksud Shikamaru bukan begitu, Ino," sahut Chouji riang, ketika pesanan mereka datang—nasi kare dan sekotak sari apel untuk Shikamaru dan Shiho. Porsi jumbo plus semangkuk keripik kentang dan susu untuk Chouji—"Semakin banyak teman yang ikut bergabung semakin asyik."
Ino tersenyum pada sahabat gembulnya itu. Perhatiannya lalu beralih pada Shiho yang duduk di seberangnya. "Jadi… kau juga mengambil kerja paruh waktu dengan bocah-bocah ini, Shiho."
"Yah…" Shiho nyengir canggung, diam-diam mengerling Shikamaru yang tengah menarik wadah makanan yang baru diantarkan oleh pelayan ke arahnya. "Sekedar untuk mengisi waktu luang," ujarnya.
"Ah, begitu," sahut Ino, melempar senyum penuh arti. Di seberangnya, Shiho buru-buru meminum sari apelnya. Mencium aroma makanan yang terhidang di meja membuat perut Ino berkeriuk keras lagi—untungnya di sana suasana sedang ramai, jadi tidak ada yang mendengar kecuali dirinya sendiri. "Aku mau pesan makanan dulu," kata Ino sambil beranjak.
Tak lama kemudian gadis itu kembali dengan membawa nampan berisi sepotong sandwich isi tuna, sekotak yoghurt organik dan sari jeruk. Selama beberapa saat mereka menikmati makan siang masing-masing dalam diam, sebelum Shikamaru memecah keheningan dengan berkata pada Ino,
"Jadi kau datang kemari memang bukan untuk protes lagi soal Sasame, eh, Ino?"
Ino menoleh, mendapati Shikamaru tengah memandangnya penuh selidik. Gadis itu menelan sandwich -nya dan mendengus sinis. "Memangnya aku bisa ngomong apa lagi? Aku protes juga kau tidak bakal mendengarkanku. Percuma saja buang-buang napas."
Shikamaru menatapnya sejenak, lalu menyunggingkan seringai puas. "Baguslah. Lagipula kau dan Sasame sepertinya memang cocok."
"Kau meledekku," cibir Ino, menyeruput sari jeruknya banyak-banyak. "Tadinya aku sama sekali tidak ada rencana kemari. Berterimakasih lah pada Shino. Dia yang membuatku tersasar kemari."
Mendengar nama teman satu klubnya disebut, Shiho yang sedari tadi hanya mendengarkan segera menyambar, "Shino? Shino Aburame?"
"Memangnya ada Shino lain yang kita kenal?" Ino menggerutu. Dan tiba-tiba saja kejengkelannya karena Shino telah meninggalkannya begitu saja setelah mengajaknya keluar meluap lagi. "Aku sama sekali tidak mengerti apa yang sebenarnya dipikirkan cowok itu. Datang terus ke toko bungaku hanya untuk membuatku jengkel setengah mati dan tiba-tiba saja kemarin dia mengajakku keluar."
"Shino… mengajakmu keluar?" Shiho tampak sangat terkejut. Sepasang bola mata gelap di balik lensa tebal kacamatanya membulat menatap Ino.
Ino mengabaikannya dan melanjutkan, "Harusnya aku tahu sejak awal kalau dia cuma mau mengerjai aku—dari dulu kan cowok itu membenciku!" Gadis itu menggebrak meja dengan dramatis, membuat beberapa pengunjung yang duduk tak jauh dari meja mereka menoleh. "Dan kalau kalian tidak percaya, dia sama sekali tidak mengacuhkanku karena menurutnya serangga-serangga itu lebih bagus—Ooh… kalau begitu ngapain coba dia mengajakku keluar?"
Shiho tercenung sementara Ino melanjutkan omelannya. Sebelum ini ia memang pernah mendengar bahwa ketua Klub Jurnalnya tengah menaruh perhatian pada salah satu gadis populer di sekolah mereka. Awalnya ia tidak begitu mempercayai rumor itu mengingat Shino Aburame memang sangat tertutup dan tak pernah menunjukkan ketertarikan yang khusus terhadap makhluk lain selain serangga- serangga koleksinya. Ditambah lagi rumor itu berasal dari Kiba Inuzuka. Tahu sendiri bagaimana cowok itu—tak ada hiburan yang paling menyenangkan baginya selain membuat Shino jengkel—jadi tak ada alasan bagi Shiho untuk memercayai omongan Kiba tentang Shino.
Tapi gadis di depannya ini… gadis populer… dan—jika apa yang dikatakan Ino bukan sekedar bualan—Shino sedang berusaha mendekatinya. Shiho tahu betul Shino bukanlah tipe orang yang terus-terusan datang ke satu tempat tanpa alasan, atau untuk alasan yang tidak masuk akal seperti hanya untuk membuat jengkel—oh, yeah. Shino memang terkadang bisa sangat menjengkelkan, apalagi kata-katanya yang tajam itu. Tapi bukan itu masalahnya sekarang.
Seperti saat Shino menyukai suatu tempat di mana serangga tertentu tinggal, ia akan datang terus-menerus untuk mengamati dan mempelajarinya. Dan ia akan sangat serius dengan itu. Jadi… bukan tidak mungkinuntuk pertama kalinya ocehan Kiba tentang Shino bukan sekedar bualan, kan? Walaupun rasanya ini… agak sulit dipercaya.
"…dan dia meninggalkanku begitu saja seperti orang tolol. Apanya yang beli minuman? Memangnya berapa lama sih waktu yang diperlukannya untuk membeli minuman? Seharian?" Ino mendengus marah, lalu menyeruput sari jeruknya lagi. "Dia pasti hanya ingin mempermainkanku—dan dia sukses besar."
"Shino tidak seperti itu," kata Shiho tiba-tiba. Mendengar celaan tak berdasar yang dilontarkan gadis pirang itu terhadap rekan satu klubnya lama-lama membuatnya kesal juga.
Ino menatap Shiho terkejut, sekaligus jengkel. "Apa maksudmu dia tidak seperti itu? Tentu saja dia seperti itu. Memangnya apa alasannya meninggalkan seorang gadis yang ia ajak keluar begitu saja kalau tidak ingin mengerjainya?"
"Apa pun yang kau katakan tentang Shino Aburame, aku tidak mempercayainya. Shino bukanlah tipe orang yang suka mempermainkan orang lain. Ya, dia memang menjengkelkan, keras kepala, maniak serangga dan kata-katanya menusuk, tapi bukan berarti dia orang yang sebegitu—keterlaluan. Kalau dia bilang padamu dia pergi membeli minuman, dia pasti pergi membeli minuman dan akan kembali padamu. Kecuali ada alasan lain yang mendesaknya kembali lebih lama."
Jeda sejenak sementara Shiho mengatur napas. Diraihnya kotak sari apel dan meminum isinya banyak-banyak. "Kau tidak mengenal Shino sebaik kami di klub jurnal, Ino Yamanaka. Yang kau kenal hanyalah apa yang kau tahu dari omongan orang-orang tentangnya. Jadi kumohon padamu, Ino, jangan menghakiminya sebelum kau benar-benar mengenal dan memahami seperti apa dia."
Mendengar kata-kata Shiho, Ino tercengang. Untuk beberapa saat, gadis itu tampaknya kehilangan kata-kata. Sampai akhirnya ia hanya bisa berkata, "Terserah deh…" –Namanya juga teman satu klub, sudah pasti Shiho akan membelanya habis-habisan, Ino membatin masam. Ia lantas melanjutkan makan siangnya tanpa bicara lagi.
Shiho, setelah berkata seperti itu tampak malu karena telah terbawa emosi. Terlebih ketika ia melirik Shikamaru, cowok itu tengah memandangnya terpesona. Shiho buru-buru menunduk, dengan kikuk berusaha memperbaiki posisi kacamata di atas hidungnya. Wajahnya semakin memanas ketika mendekat kata-kata Shikamaru setelahnya,
"Kurasa yang dikatakan Shiho benar. Bukan begitu, Chouji?"
Merasa disebut namanya, Chouji yang sejak tadi tidak memperhatikan apa-apa kecuali makanannya, mendongak memandang Shikamaru bingung. "Kau bwilang afha, Shika—"
"Haah… kau ini," sela Shikamaru, terkekeh.
Ino bersungut-sungut.
.
.
Matahari sudah tepat berada di puncak kepala ketika Gaara dan Sakura tiba di tempat mereka janjian dengan Sai. Sakura langsung mengenali kawasan itu, meskipun suasananya jauh lebih ramai dibandingkan pagi tadi. Namun yang membuat gadis itu terkejut adalah ketika Gaara menunjukkan padanya yang mana Galeri Akatsuki.
Ternyata tempat yang diimaksud adalah galeri aneh yang berada tepat di sebelah toko buku tempat ia membeli petanya, tempat yang sama di mana ia mendengar suara ledakan yang membuat jantungnya hampir copot. Dan wajar saja Sakura tidak mengenali tempatnya, karena memang tidak ada papan nama bertuliskan 'Galeri Akatsuki', hanya tulisan tidak jelas berbunyi 'Art is a BANG!' di kacaetalase dan pengumuman soal kursus membuat keramik untuk turis itu.
Namun ternyata galeri yang dimaksud bukan hanya itu. Sakura tidak memerhatikannya sebelumnya—karena tadi pagi tempat itu tidak dikerumuni orang-orang seperti sekarang, sehingga tidak cukup menarik perhatiannya—Terdapat semacam bangunan lain di sebelahnya yang menyatu dengan galeri. Tempat itu seperti sebuah teater kecil yang terbuka, dengan dekorasi khas berbau vintage yang menggunakan warna-warna cerah. Dan tempat itu sangat ramai. Dari suara-suara di dalam, Sakura yakin banyak anak kecil yang menonton.
"Kurasa sebentar lagi akan selesai," ucap Gaara seraya mengerling jam tangan digital di pergelangan tangan kirinya. Lalu menoleh memandang Sakura yang tengah sibuk menjulurkan lehernya ke atas kepala orang-orang, berusaha melihat apa yang sedang terjadi di dalam. Gaara tersenyum kecil. "Kau ingin menonton?"
"Eh?" Sakura memandang Gaara. "Apa bisa?" tanyanya ragu, lalu ganti memandang dengan penasaran kerumunan orang yang memadati teater kecil itu. Mana bisa menonton kalau penuh begitu…
"Tidak masalah," sahut Gaara enteng.
Ia lantas memberi isyarat pada Sakura untuk mengikutinya menuju pintu galeri di sebelahnya. Rupanya pintu itu tidak dikunci, meskipun jelas-jelas tandanya masih Closed.Gaara melangkah tanpa ragu memasuki ruangan itu seakan ini bukan pertama kalinya ia masuk ke galeri yang masih tutup itu. Sakura membuntuti di belakangnya, melewati ruangan depan yang sepertinya adalah ruangan pamer, dan memasuki ruangan kedua di belakangnya yang lebih mirip bengkel seni.
Berderet meja dan bangku dengan alat pembuat kerajinan tembikar—seperti yang pernah Sakura lihat di televisi—memenuhi hampir separuh ruangan, karung berisi semacam tanah liat kering dan wadah-wadah yang Sakura tak tahu apa fungsinya. Sementara separuh ruangan yang lain ditempati oleh rak-rak berisi boneka-boneka marionette berbagai bentuk dan ukuran. Ada juga boneka-boneka yang setengah jadi di rak yang lainnya.
Sakura tak bisa menahan dirinya terpesona.
"Kemari," suara Gaara yang memanggilnya segera mengalihkan perhatian gadis itu dari sebuah boneka marionette yang sangat cantik di salah satu lemari. Mereka lalu memasuki pintu yang terdapat di samping ruangan.
Ruangan di balik pintu itu lebih kecil dengan penerangan sedikit temaram. Di sana juga terdapat rak lain di mana selusin boneka marionette lain digantungkan. Lalu sebuah panggung yang agak tinggi, di mana dua orang berpakaian serbahitam berdiri membelakangi arah mereka masuk. Ada ada beberapa orang lagi yang mengatur pencahayaan dan musik. Mereka tampak sangat sibuk sampai-sampai tidak menyadari kehadiran Gaara dan Sakura di sana. Sekali lihat saja Sakura langsung tahu kalau ruangan itu adalah bagian belakang panggung semacam pertunjukkan boneka.
"Lihat dari sini."
Sakura mengikuti Gaara ke sisi ruangan lain yang lebih sempit dan menjorok ke depan, mengintip di balik tirai hitam yang membatasi ruangan itu dengan—tidak salah lagi—bagian depan panggung. Hal pertama yang dilihat Sakura adalah deretan bangku yang dipenuhi anak-anak yang tampak antusias, ditemani para orangtua dan turis-turis dewasa yang berdiri di bagian belakang. Beberapa dari mereka tampak sibuk merekam dengan handycam.
Dan ketika Sakura mengarahkan pandangannya untuk pertama kalinya ke arah panggung, ia menahan napas. Kedua matanya melebar, terpesona oleh apa yang dilihatnya. Ini adalah pertunjukan boneka marionette pertama yang pernah ia tonton.
Sayangnya, agaknya kedatangan mereka terlambat, karena lima menit kemudian pertunjukan berakhir. Para penonton—anak-anak dan dewasa—bertepuk tangan riuh sementara para boneka di atas panggung membungkuk sedemikian rupa pada mereka. Sakura ikut bertepuk, meskipun agak kecewa.
Para penonton mulai membubarkan diri. Dalam waktu singkat bangku-bangku di depan panggung sudah kosong. Sakura menghenyakkan diri di salah satu bangku mungil itu, menonton panggung kosong, sementara Gaara mendekati bibir panggung, melongok ke atas.
"Kankurou!" panggilnya, membuat Sakura menaikkan alis.
Kankurou?
"Oi, Gaara!" balas suara dari belakang panggung. "Kau sudah datang?"
Sakura belum melupakan suara itu—bagaimana bisa lupa jika suara yang sama pernah terus-menerus melontarkan kata-kata menyengat padamu beberapa waktu yang lalu?—Kemudian disusul kemunculan sosok cowok jangkung berambut cokelat jabrik dari sisi panggung. Kankurou Sabaku sama sekali belum berubah sejak Sakura terakhir kali melihatnya; masih suka cengengesan, sangat berbeda dengan adiknya yang kalem. Cowok itu mengenakan jeans dan kaus hitam lengan panjang. Tampaknya ia adalah salah satu yang Sakura lihat berdiri di belakang panggung tadi, menggerakkan boneka.
Kankurou menghampiri Gaara di bibir panggung. "Mochi! Mochi!" serunya seperti anak kecil yang antusias karena diberi permen, seraya mengulurkan tangan pada adiknya.
Gaara mengulurkan bungkusan yang dibawanya pada sang kakak yang langsung membukanya dengan barbar. Kankurou memasukkan satu gigitan besar kue mochi ke mulutnya, lalu mendesah nikmat. Bibirnya belepotan tepung putih. "Makasih, Gaara-ku sayang…" ucapnya, mengacak-acak rambut merah Gaara—yang langsung menepis tangannya. Kankurou tertawa.
Melihat adegan itu, Sakura meringis. Sesebal apa pun ia terhadap Kankurou, tapi melihat interaksinya dengan Gaara mau tak mau mengingatkannya pada kakak beradik Uchiha, Sasuke dan Itachi. Apa semua kakak laki-laki itu suka sekali mengganggu adiknya, ya?
"Temari tidak kemari?" tanya Gaara kemudian, seraya mendengarkan pandangan berkeliling tempat itu.
"Nope," sahut Kankurou setelah menelan sepotong besar mochi. "Katanya kepalanya masih sakit, jadi kurasa dia akan tidur di apartemen seharian. Haah… flu musim panas memang merepotkan." Kemudian perhatiannya beralih ke bangku penonton. Matanya membulat melihat gadis berambut merah muda yang tak asing sedang duduk di sana. "Ah!" tangannya yang memegang mochi menuding ke arah Sakura. "Violetta!"
"Namaku Sakura," tukas Sakura protes, memasang tampang cemberut.
Kankurou nyengir, mengabaikan protes gadis itu. "Wah, tidak disangka bisa bertemu kau di sini. Baik-baik saja? Sudah tidak sering nangis lagi, kan?"
Wajah Sakura memerah. "Diam, kau!"
Kankurou terkekeh-kekeh, lalu berteriak ke belakang panggung. "Oi, Sasori! Mau mochi Suna, tidak? Gaara beli banyak, nih!"
Terdengar sahutan dari belakang panggung dan tak lama, sosok pria muda berambut merah seperti Gaara—hanya saja sedikit lebih panjang—muncul dari sisi panggung. Perawakan pria itu lebih kecil dari Kankurou, tapi terlihat jauh lebih dewasa. Dan sama seperti Kankurou, pria itu mengenakan pakaian serbahitam. Sakura langsung mengenalinya sebagai teman Itachi yang dulu pernah datang ke restoran keluarganya.
"Kalian ini, untuk apa jauh-jauh ke Kiri kalau yang dicari mochi Suna?" cibir pria bernama Sasori itu, menatap Kankurou yang asyik mengganyang mochi sambil geleng-geleng kepala.
"Biarin!" sahut Kankurou, menjulurkan lidah pada Sasori.
Sasori mengabaikan Kankurou, lalu menoleh pada Gaara. "Biolamu sudah selesai diperbaiki, Gaara?"
"Sudah," jawab Gaara, menepuk kotak biola yang tersampir di bahunya.
"Baguslah," Sasori tersenyum tipis padanya. "Lain kali lebih berhati-hati. Tidak biasanya kau ceroboh seperti itu. Semakin mirip Kankurou saja." Mata hazelnya melirik Kankurou.
"Eeh—apa itu maksudnya?" sembur Kankurou tersinggung, sementara Gaara hanya mendengus kecil.
Sasori tidak menggubris Kankurou. Sekarang perhatiannya teralih pada Sakura yang sedari tadi bengong menonton mereka. Kedua alisnya terangkat. Namun belum sempat ia membuka mulut untuk mengatakan sesuatu, terdengar suara berat yang berasal dari dalam galeri memanggilnya,
"Hoi, Sasori, kau ada di sana?"
"Orang itu akhirnya bangun juga," gumam Sasori, sebelum menyahut keras, "Aa. Aku di sini. Ada apa?"
"Apa Deidara dan Hidan ada di sana?"
"Tidak. Mereka sudah pergi tadi pagi. Kenapa?"
"Aku lapar. Di mana mereka menyimpan ramen instannya?"
Sasori menghela napas. "Ramen terakhir sudah dimakan Deidara tadi pagi." –terdengar Kisame mengeluh keras di dalam. "Kau mau mochi?"
"Mochi? Boleh deh."
"Hei—mochiku!" dengking Kankurou ketika Sasori mengambil beberapa kotak mochi yang masih belum dibuka dari kantung yang tergeletak di lantai panggung.
"Nanti kuganti. Jangan merajuk seperti anak kecil!" omel Sasori. Kankurou cemberut.
Tepat saat itu terdengar bunyi bergedubrakan keras dari dalam, disusul suara Kisame yang mengumpat ditimpali suara panik orang-orang yang sedang sibuk beres-beres di belakang panggung.
"Kisame, kalau kau merusakkan bonekaku lagi, kau tidak akan selamat!" Sasori berteriak gusar. Sembari membawa kotak-kotak mochi Kankurou, pria itu bergegas ke belakang, siap mengamuk.
"Mochiku…" Kankurou bergegas bangkit dan mengejar mochi-mochinya yang dibawa Sasori masuk.
Sakura memalingkan wajahnya dari pemandangan yang menggelikan itu sambil menutupi mulutnya dengan tangan, berusaha menyembunyikan tawanya. Ia sama sekali tidak menyangka jika Kankurou yang selama ini dikenalnya sebagai cowok menyebalkan sok galak itu memiliki sisi kekanakan seperti itu.
"Oh!" Sakura refleks berseru ketika matanya menangkap sosok remaja lelaki berambut pirang jabrik yang dikenalnya berdiri di luar teater, celingukan ke sana kemari. Senyumnya merekah. "Naruto!—Hei, aku di sini!"
.
.
"Apa masih jauh?" tanya Naruto untuk kesekian kalinya pada Sai. Udara yang panas, jalanan yang penuh dengan orang-orang yang berlalu-lalang, ditambah lagi perutnya yang keroncongan karena belum makan apa-apa sejak pagi membuatnya tidak sabaran.
Sai hendak membuka mulut untuk menjawab ketika Sasuke yang menyambar terlebih dulu, "Tidak. Kita sudah sampai. Itu." Sasuke menunjuk sebuah bangunan di salah satu sisi jalan tak jauh dari mereka. "Yang ada lambang awan merah di pintunya."
Sai memandang Sasuke dengan kedua alis terangkat tinggi, sementara Naruto langsung melesat menerobos para pejalan kaki menuju tempat yang dimaksud. "Jadi kau sudah tahu tempat itu?"
Sasuke mengendikkan bahu. "Hanya menebak dari lambangnya," jawabnya. "Dan kalau kau belum tahu, Akatsuki itu semacam geng yang dibentuk sekelompok orang aneh dan salah satunya adalah kakakku tersayang," lanjut Sasuke menjelaskan ketika dilihatnya Sai tampak tak paham.
"Aah…" Sai mengangguk-anggukkan kepala.
Sementara itu Naruto yang sudah tiba di depan galeri mulai celingukan ke sana kemari, mencari-cari sosok Sakura. Tapi gadis berambut merah muda itu tak terlihat di mana pun. Sampai terdengar olehnya suara nyaring memanggil namanya.
"Naruto!"
"Eh—Sakura?" Naruto menoleh ke arah Kiri, tapi tetap tak menemukan sang pemilik suara.
"Hei, aku di sini!"
Kali ini Naruto memutar tubuhnya dan memandang ke arah yang benar. Senyumnya melebar selebar-lebarnya saat mendapati gadis berambut merah muda yang sejak tadi mereka cari sedang melambai padanya dari dalam sebuah teater kecil yang kosong.
"SAKURA!"
Naruto bergegas masuk untuk menghampirinya sambil membuka lengannya lebar-lebarnya seakan hendak memeluk gadis di depannya. Namun Sakura segera mendorong dadanya begitu cowok itu mendekat.
"Tidak pakai peluk-peluk!" Sakura berkata galak.
Naruto menghentikan gerakannya, menggantinya dengan menggaruk belakang kepalanya, nyengir lebar. "Haha… maaf, maaf. Habis, aku lega sekali melihatmu. Kukira kau hilang betulan."
Sakura mengerucutkan bibirnya, pura-pura cemberut. "Hilang apanya? Kau pikir aku barang, bisa hilang?" tukasnya sambil menusuk dada Naruto dengan jarinya. Namun kemudian tatapannya berubah lebih lembut. "Tapi terimakasih sudah mengkhawatirkanku, Naruto. Sudah bertemu Gaara?"
Gaara maju dari belakang Sakura, mengulurkan tangannya pada Naruto. "Lama tak bertemu, Naruto. Apa kabar?" sapanya sopan.
"Eh—iya," Naruto menerima uluran tangan Gaara dan menjabatnya. "Aduh, kau ini resmi sekali. Aku kan jadi malu," kata Naruto, nyengir canggung. "Kabarku baik. Kau juga kelihatan baik. Eh—terimakasih sudah menjaga Sakura kami."
Melihat sikap Naruto yang seperti itu, Gaara tak dapat menahan senyum. "Aa. Tidak masalah. Sai?" ia menyapa Sai yang baru saja tiba di belakang Naruto.
"Halo, Gaara." Sama seperti pada Naruto barusan, Gaara juga mengulurkan tangan untuk dijabat oleh Sai. Dan jika dilihat dari sikap Sai yang biasa saja dengan sambutan yang resmi itu, agaknya itu memang kebiasaan mereka setiap kali bertemu. "Syukurlah Sakura bertemu denganmu. Maaf sudah merepotkan. Gadis ini memang sedikit ceroboh," kata Sai kalem, seraya mengacak-acak rambut merah muda di puncak kepala Sakura.
"Apaan, sih?" Sakura menurunkan tangan Sai dari kepalanya, malu. Sai terkekeh—dan Sakura membalas dengan mendelikkan mata pada cowok yang sekepala lebih jangkung darinya itu. "Eh, mana Sasuke?" tanyanya ketika menyadari Sasuke tak ada bersama mereka.
Namun Sakura tak memerlukan jawaban dari Sai untuk memberitahunya di mana Sasuke, karena saat berikutnya ia sudah menemukan sendiri. Cowok itu berdiri di sana, tepat di pintu masuk teater, tampak terpaku menatap ke arahnya. Sakura balas menatapnya dengan kedua alis terangkat tinggi, bingung. Apa yang dilakukannya berdiri bengong saja di situ?
Jelas gadis itu sama sekali tidak menyadari bahwa dirinya lah yang membuat Sasuke terpaku seperti orang tolol di pintu masuk. Sakura tidak tahu bahwa kekhawatiran Sasuke terhadapnya begitu besar sampai-sampai membuatnya nyaris tak bisa berpikir—entah apa yang terjadi kalau tidak ada Sai yang bisa tetap berkepala dingin—juga begitu gusar hanya karena mendengar ia melewatkan waktu berduaan saja dengan seorang cowok asing. Sakura juga tidak menyadari bahwa rentetan kata-kata pedas yang siap disemburkan cowok itu padanya untuk meluapkan segala perasaannya yang kacau tertelan begitu saja hanya karena Sasuke melihatnya.
Jantungnya berdegup dua kali lebih kencang dari biasanya dan ia bisa merasakan darah terpompa dengan cepat ke wajahnya tatkala ia melihat gadis itu berlari-lari kecil menghampirinya. Sial—Sasuke buru-buru memalingkan wajahnya.
"Hei!" Sasuke merasakan sebuah tangan menarik lengan kausnya, dan saat berikutnya wajah Sakura yang tampak sedikit merona karena udara panas muncul di ruang pandangnya. Matanya yang berwarna hijau cerah dan bulat itu memandang langsung ke matanya. "Ngapain berdiri saja di sini?"
Terlalu dekat. Sasuke refleks melompat mundur karena kaget.
Sakura menatapnya bingung. "Kau ini kenapa, sih?"
"Jangan berdiri terlalu dekat begitu!" bentak Sasuke sebelum ia bisa menahan diri.
Sakura mengerjap kaget, tapi kemudian sebuah cengiran mengembang di bibirnya. "Iya deh, maaf."
"Hn." Sasuke membuang pandang ke arah lain—kemana pun asal tidak menatap Sakura. Entah mengapa melihatnya seperti itu membuatnya grogi. Ini tidak biasanya.
Merasa Sasuke tidak mau memandangnya, Sakura mengerucutkan bibir—cemberut. "Masih marah, ya?"
"Tidak," Sasuke membantah.
"Kenapa tidak memandangku?"
Menggeram jengkel—pada dirinya sendiri, juga pada situasi yang tidak menguntungkan ini—Sasuke akhirnya memberanikan diri menatap wajah gadis itu, berharap wajahnya tak semerah yang ia bayangkan. "Sudah puas?"
Sakura tersenyum geli. Gadis itu sudah melihat semu kemerahan yang tak biasa di wajah Sasuke saat menatapnya. Dan sepertinya ia tahu kenapa.
"Begitu lebih baik," sahutnya ceria, lalu ia memutar tubuhnya seolah sedang memamerkan dress yang dikenakannya pada Sasuke. "Lihat, lihat! Dress ini cantik, kan? Penggemar rahasiaku yang memberikannya, lho."
Sasuke pura-pura mencibir, meskipun wajahnya menghangat lagi. "Apanya yang penggemar rahasia?"
"Kalau bukan penggemar rahasia, tidak mungkin mengirimkan barang sebagus ini tanpa nama," kata Sakura, mendengus tertawa. "Kau pikir aku bodoh atau apa, Keledai?"
"Hei, siapa itu yang kau maksud dengan Keledai?" tukas Sasuke kesal.
Sakura tertawa. Mata hijau cerahnya berkilat-kilat jenaka membuat Sasuke sejenak melupakan kekesalannya dan mendenguskan tawa kecil. Aneh sekali bagaimana seorang gadis bisa membuatnya merasakan berbagai emosi dalam waktu yang hampir bersamaan. Semenit yang lalu Sakura telah membuatnya terpesona—yeah, kata-kata yang tidak akan ia pergunakan di depan gadis itu secara verbal—sesaat kemudian ia merasa kesal dan malu. Dan sekarang Sasuke harus menahan serangan perasaan sayang yang membuatnya ingin sekali memeluk gadis yang sedang tertawa di depannya ini.
Tawa Sakura terhenti ketika tiba-tiba saja Sasuke menyentil dahinya keras. "Ow! Sasuke apa-apaan, sih? Sakit, tahu!" protes Sakura sambil menggosok-gosok dahinya yang memerah.
"Keledai," balas Sasuke. "Jadi kau memilih memakainya sekarang setelah berbulan-bulan, eh?"
"Oh, jadi selama ini kau menunggu-nunggu aku memakainya?" tuding Sakura. "Kenapa tidak bilang dari dulu? Siapa di sini yang Keledai?"
Kata-kata Sakura membuatnya tak bisa berkata-kata. "Cih. Bodoh," tukasnya kemudian. Tak ingin terlihat bodoh di depan Sakura, Sasuke buru-buru mengalihkan topik. "Kau ini habis makan apa sebenarnya? Berantakan sekali," katanya, menyeka serbuk putih yang menempel di pipi kanan Sakura dengan tangannya.
"Oh—" Sakura mengangkat tangannya ke tempat yang disentuh Sasuke sehingga tangan mereka tak sengaja bersentuhan. "Tadi aku makan mochi—"
"Diam," perintah Sasuke.
Sakura mengerjap ketika Sasuke menahan tangannya supaya ia bisa membersihkan noda tepung di wajahnya dengan tangannya yang satu lagi. Mau tak mau Sakura mendongak menatap wajah cowok di depannya itu. Ekspresi serius di wajah Sasuke entah mengapa membuat Sakura sedikit salah tingkah. Belum lagi sentuhan ibu jari Sasuke yang mengusap lembut pipinya.
Sementara Sasuke sendiri tengah bergelut dengan gejolak perasaannya sendiri dan berusaha tetap tenang. Sasuke tak tahu apa yang mendorongnya berbuat seperti itu, padahal bisa saja ia membiarkan Sakura membersihkan wajahnya sendiri—seperti yang normalnya akan ia lakukan. Tapi, Sasuke mengingatkan dirinya sendiri dengan jengkel, Sakura tidak membuatku merasa normal. Gadis ini benar-benar menyebalkan.
Perlahan, tanpa Sasuke sadari, mata hitamnya mulai bergerak dari pipi Sakura ke matanya. Sesaat kemudian ia menemukan dirinya tenggelam ke kedalaman kolam hijau bening yang adalah kedua bola mata Sakura.
"Ehem!"
Keduanya refleks saling melepaskan diri dan menoleh, mendapati Sai, Naruto dan Gaara sudah keluar dari ruangan teater, sedang memandangi mereka. Gaara memandang mereka ingin tahu. Naruto tampak agak kaget, sementara Sai menampakkan ekspresi geli di wajahnya. Sasuke, meskipun sebenarnya merasa sangat malu karena dipergoki seperti itu, berusaha terlihat tak peduli. Tetapi Sakura lah yang pertama kali memecah keheningan yang canggung itu.
"Hei—sejak kapan kalian berdiri di situ?" suaranya begitu ceria dan biasa, seakan tak terjadi apa pun yang berarti antara dirinya dan Sasuke barusan. Dan ini diam-diam membuat Sasuke sedikit… kecewa.
"Baru saja," sahut Sai, tersenyum. "Sudah siap pergi?"
"Kemana?"
"Tentu saja cari makan!" sambar Naruto cepat. "Kami belum makan apa-apa dari pagi, Sakura. Lapaaar…"
Sakura melotot. "Belum makan? Padahal Yamato dan aku sudah meninggalkan pancake di kulkas untuk kalian."
"Bodoh," kali ini Sasuke yang menyahut, ketus. Lagi-lagi ia merasa kesal tanpa alasan jelas. "Mana kami tahu kalau ditaruh di kulkas?"
Sakura memandangnya cemberut.
"Sudah, sudah," Sai menyela, "Sebaiknya kita cari makan sekarang. Sebelum ada yang pingsan karena kelaparan. Aku tahu tempat makan yang enak di sekitar sini."
"Ramen! Aku mencium aroma ramen waktu jalan ke sini tadi!" seru Naruto penuh semangat. "Pasti ada kedai ramen di dekat sini."
"Naruto!" Sakura menjitak kepala Naruto, membuat cowok itu mengaduh kesakitan. "Kita kan sudah makan ramen semalam. Masa ramen lagi?"
Naruto bersungut-sungut.
Setelah berpamitan dengan Gaara—cowok berambut merah itu menolak dengan sopan saat mereka mengajaknya bergabung. Katanya, ia sudah janji akan makan dengan Sasori dan Kankurou di tempat lain dan tak ingin mengganggu—dan berterimakasih sekali lagi padanya karena telah menjaga Sakura, ketiga remaja Konoha itu lantas pergi dari sana. Bukan menuju kedai ramen seperti yang diinginkan Naruto, tentu saja.
.
.
"Selamat melanjutkan bekerja kalau begitu, kalian bertiga," seru Ino agak terlalu bersemangat dari yang seharusnya ketika ia mengantar Shikamaru, Chouji dan Shiho kembali ke toserba tempat mereka bekerja selepas jam istirahat makan siang.
"Kau yakin tidak apa-apa, Ino?" tanya Shikamaru, sedikit merasa khawatir. Sejak meninggalkan warung makan tadi, gadis itu tampak murung—tidak. Tepatnya setelah pembicaraannya dengan Shiho, temannya itu jadi tak banyak bicara lagi.
Ino mengangguk, memaksakan senyum. "Kau ini bicara apa? Tentu saja aku tidak apa-apa. Memangnya kau pikir aku kenapa?"
"Er…" Shikamaru menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. "Entahlah…"
"Ino hati-hati pulangnya," pesan Chouji, penuh perhatian seperti biasa. "Setelah sampai di rumah langsung istirahat saja. Nanti sore kita masih ada latihan, soalnya."
"Aah… Aku tahu, Chouji!" Ino menepuk-nepuk lengan Chouji yang empuk, tersenyum padanya.
"Kami duluan, Ino," kata Shiho ramah. Gadis itu melempar pandang khawatir pada Ino sebelum berbalik dan menyusul Shikamaru dan Chouji yang sudah terlebih dulu memasuki pintu khusus karyawan.
Ino masih berdiri di sana selama beberapa saat lagi, merasa sangat gelisah. Nyatanya melewatkan makan siang dengan teman-temannya sama sekali tidak membuatnya terhibur seperti yang diharapkannya. Sebaliknya, pembicaraan penuh emosi antara dirinya dan Shiho semakin membuat suasana hatinya semakin tak karuan. Bukan berarti ia menyalahkan Shiho karena itu—sama sekali tidak. Malah bisa dibilang, perkataan Shiho lah yang mengingatkannya akan kesalahan yang mungkin saja ia perbuat.
Shino… —dan sekarang pikiran Ino dipenuhi oleh cowok itu. Ino mengerang frustasi seraya menutup wajah dengan kedua tangannya, sementara gelombang perasaan bersalah menerpa dirinya.
Bagaimana jika yang dikatakan Shiho benar, bahwa Shino mungkin kembali untuk mencarinya? Bahwa Shino sama sekali tidak bermaksud mempermainkannya seperti yang ia kira? Astaga… apa yang sudah kau lakukan, Ino Yamanaka?
Ino mengeluarkan ponsel dari saku celananya, bermaksud menghubungi Shino, namun kemudian ia menyadari tak ada nomor Shino di ponselnya. Mungkin sebaiknya ia kembali saja ke taman rumah kaca, pikirnya. Tetapi rupanya Ino tidak perlu pergi sejauh itu.
Gadis itu baru saja berbalik, bahkan ia belum sempat melangkah sesenti pun, Shino Aburame sudah muncul di hadapannya. Hatinya mencelos, dan selama beberapa saat Ino merasa tubuhnya seakan membeku saat menatap cowok jangkung itu. Keringat yang mengalir di pelipisnya, juga napasnya yang sedikit tersengal, memberitahunya betapa jauh jarak yang sudah ditempuh Shino sampai ia tiba di dari cone es krim yang tergenggam di tangannya, yang hampir seluruhnya mencair dan mengotori ujung lengan kausnya, Ino langsung tahu kalau Shino tidak meninggalkannya seperti yang ia kira.
Serangan penyesalan yang datang kemudian jauh lebih besar dari sebelumnya.
Ino nyaris menangis ketika ia memaksakan dirinya menghampiri Shino. Tanpa bicara gadis itu mengeluarkan sebungkus tisu dari sakunya dan mulai membersihkan tangan Shino yang berlumur lelehan es krim setelah membuang sisanya ke tempat sampah.
"Sudah kuduga kau akan menemui teman-temanmu," kata Shino tenang. Tak ada emosi berarti dalam suaranya.
"Bodoh," desis Ino parau. Tangannya yang memegang tisu gemetaran. "Kalau tahu aku tidak ada di taman, kenapa tidak pulang saja, sih?"
"Aku tidak mungkin pulang sebelum memberimu es krim yang kau minta," sahut Shino, seakan itu menyelesaikan masalah. "Dan kupikir kau pasti lapar mengingat kau belum makan sejak pagi. Jadi aku mencari makan siang untukmu dulu." Shino mengangkat sebuah bungkusan berisi sandwich, sebotol air mineraldan sebungkus kecil tomat cherry—buah favorit Ino—di sebelah tangannya yang lain, tanpa sadar malah membuat Ino semakin merasa bersalah sampai tak dapat berkata-kata. "Tapi sepertinya kau sudah makan."
"Shino—"
"Yang ingin kukatakan adalah," Shino menyelanya. Nadanya lebih tegas dan tajam dari sebelumnya. Kedua matanya yang tersembunyi di balik kacamata hitamnya menatap lurus ke kedalaman bola mata biru aqua milik Ino. "Jika kau memang tidak menyukaiku, akan lebih baik jika kau tidak mengiyakan ajakanku sejak awal. Karena ditinggalkan oleh teman itu rasanya menyakitkan."
Ino memejamkan matanya, berusaha menenangkan diri. Kata-kata yang dilontarkan Shino barusan menamparnya telak. Ia bahkan tak mampu membalasnya.
"Sekarang kalau kau tidak keberatan, aku akan mengantarmu pulang."
"Tidak perlu," sahut Ino dengan suara serak, tanpa menatap lawan bicaranya. "Aku bisa pulang sendiri."
"Aku yang menjemputmu tadi," kata Shino berkeras. "Jadi aku juga yang harus mengantarmu pulang, Ino. Itu yang dinamakan pria bertanggung jawab."
Ino mendongak, menatap Shino putus asa. Entah ini adalah cara Shino membalas dendam kepadanya, dengan membuatnya merasa bersalah, atau ada alasan lain. Yang jelas, setelah ia sampai dengan selamat di rumahnya, Ino tak bisa memikirkan hal lain kecuali Shino Aburame.
.
.
Waktu cepat sekali berlalu jika kau benar-benar menikmatinya. Sepertinya pepatah itu sangat pas dengan apa yang dirasakan Sakura, Naruto, Sai dan Sasuke sekarang. Padahal rasanya baru beberapa saat yang lalu mereka menikmati makan siang yang benar-benar enak—dan murah! Sai rupanya tahu tempat yang bagus—lalu melewatkan waktu dengan berjalan-jalan di sekitar kanal, menjajal wisata perahu, dan menonton seniman jalanan beraksi, tahu-tahu matahari sudah condong ke arah Barat dan perut mereka lapar lagi. Maka, dengan perasaan lebih riang dari sebelumnya, keempat sahabat itu pulang ke kediaman Paman Kaiza.
Langit sudah sepenuhnya gelap ketika mereka tiba di sana. Aroma lezat masakan dari arah dapur utama langsung menyambut begitu mereka membuka pintu.
Rupanya Yamato sudah pulang, dan ia sengaja izin dari tempat kerjanya untuk membantu Bibi Tsunami menyiapkan makan malam spesial sebagai ucapan selamat datang bagi keempat tamu baru mereka dari Konoha. Teman Yamato, Haku,juga ikut membantu di dapur. Tak perlu menunggu terlalu lama sampai masakan istimewa berupa bermacam-macam hidangan seafood khas Kiri terhidang di meja. Hanya dengan mencium aromanya saja sudah membuat air liur menetes.
Acara makan malam pun berlangsung menyenangkan. Rupanya Paman Kaiza dan ayah mertuanya sangat senang melempar lelucon satu sama lain, membuat suasana makan menjadi ramai dengan gelak tawa. Selain itu, mereka tak pelit membagi informasi pada turis yang antusias seperti Sakura dan Naruto, tentang tempat-tempat indah yang layak dikunjungi di Kiri. Mereka juga menawari keempat remaja itu untuk ikut berlayar bersama mereka sesekali. Naruto, Sakura dan Sasuke tentu saja dengan senang hati menerimanya, tapi Sai langsung pucat pasi.
Lalu Naruto, yang terbiasa bergaul dengan anak-anak di panti asuhan, bisa cepat akrab dengan si kecil Inari. Dalam waktu singkat keduanya langsung terlibat obrolan seru tentang klub sepakbola yang menjadi favorit masing-masing.
Puncaknya adalah ketika Naruto yang penasaran pada Haku, bertanya apakah Haku adalah kekasih Yamato, semua orang di meja itu—kecuali Sasuke, Sakura dan Sai—malah meledak tertawa.
"Ooh… tidak, Naruto…" sahut Yamato, tertawa sampai wajahnya memerah. "Aku masih suka perempuan."
"Ha?" bukan hanya Naruto yang tercengang dengan penyataan Yamato, tapi Sakura, Sasuke dan Sai juga.
"Jadi begini, adik-adik," kata Haku, setelah tawanya mereda, "Sama seperti Naruto, banyak yang mengira aku perempuan. Tapi sebenarnya…" Haku memberi jeda sejenak untuk memberi efek dramatis, "…aku ini laki-laki."
Tampang Naruto seperti mau pingsan. "Bohong, ah! Padahal Kak Haku lebih cantik dari pada Sakura, lho—Ouch!" –Sakura menendang kakinya di bawah meja.
Setelah makan malam, Yamato mengajak mereka semua naik ke atap lewat tangga besi di dekat dapur di lantai dua. Atap rumah itu mirip seperti atap sekolah di atas perpustakaan, hanya saja pagar pembatas dari kawat digantikan oleh dinding beton setinggi pinggang. Dan pemandangan dari situ sangat menakjubkan, meskipun tidak sejelas jika kau melihat dari bangunan yang lebih tinggi. Mereka bisa melihat langit malam yang bertabur bintang dengan jelas di atas mereka, dan jalur kanal yang berkilau karena cahaya lampu di bawahnya. Perahu-perahu mungil berpenerangan lampion tampak hilir-mudik melewati jalur itu.
Dari kejauhan, samar-samar terdengar alunan musik klasik dan nyanyian yang berasal dari pengeras suara di alun-alun kota—"Setidaknya semalam dalam satu minggu, mereka memasang layar lebar di sana untuk para turis yang ingin nonton pertunjukan opera gratis," Yamato menjelaskan asal suara-suara itu—Benar-benar suasana yang menggambarkan sebuah kota seni.
"Kalau begitu, kapan-kapan kita juga harus ke sana untuk nonton pertunjukkan opera gratis!" cetus Sakura penuh semangat. Gadis itu memejamkan matanya, seakan ingin meresapi suara musik yang terdengar di kejauhan. "Kalau didengarkan dari sini, rasanya romantis sekali."
"Kau benar," kata Sai, ikut memejamkan matanya. "Rasanya jari-jariku juga jadi gatal ingin memainkan piano."
"Kalau begitu pakai gitarku saja!" usul Naruto gembira. Tanpa menunggu jawaban ketiga sahabatnya, si pirang jabrik itu bergegas turun ke kamar untuk mengambil gitarnya.
Sayangnya saat itu Yamato tidak bisa berlama-lama bersama mereka setelah mendapatkan telepon bernada galak dari bosnya. Ia harus datang segera ke restoran tempatnya bekerja, kalau tidak ingin gajinya dipotong.
"Lebih baik Yamato berhenti saja dari tempat kerjanya," gumam Sasuke setelah Yamato pergi.
Sakura yang tengah asyik memandangi pemandangan kota yang gemerlap di kejauhan menoleh pada Sasuke. Dahinya berkerut heran. "Memangnya kenapa?"
"Dia kerja di tempat Akatsuki, kan? Kudengar yang menjadi manajer di sana si Kakuzu," kata Sasuke sambil duduk di lantai beton yang dingin, memandang langit di atasnya. "Aku kenal orang itu. Kerja dengannya sama saja diperas."
"Ah, tidak mungkin," Sakura terkekeh, meskipun ia sendiri tidak merasa yakin, mengingat ia tidak tahu menahu tentang tempat Yamato bekerja sekarang. "Yamato bilang dia sangat menyukai pekerjaannya. Katanya orang-orang di sana menyenangkan."
Sasuke hanya menanggapinya dengan gendikan bahu. Ia lalu menghela napas pelan. Mata gelapnya yang masih terpaku ke langit sedikit menerawang, seakan apa yang dilihatnya mengingatkannya pada sesuatu. Sasuke bahkan tidak menyadari ketika Sakura dan Sai mendudukkan diri di kanan-kirinya.
"Indah, ya?" Sakura mendesah.
"Hn."
"Lihat. Ada bintang yang bergerak," celetuk Sai setelah agak lama mereka terdiam, menunjuk salah satu titik cahaya di langit yang bergerak. "Oh, ternyata pesawat."
Sakura tertawa, menimpuk main-main lutut Sai melewati Sasuke. "Apaan, sih? Merusak suasana saja."
Tepat saat itu, Naruto muncul membawa gitarnya. "Show time!" serunya semangat, sambil duduk di tempat kosong di samping Sakura. "Haah… tidak ada yang sempurna untuk menemani saat-saat seperti ini kecuali musik yang bagus."
Namun, belum sempat Naruto memetik satu nada pun, ponselnya tiba-tiba berbunyi. Meski tidak terlalu senang karena diinterupsi, Naruto tetap merogoh ke dalam saku celana pendeknya, mengambil ponsel. Senyum lebar merekah kemudian, menggantikan raut cemberutnya ketika membaca nama yang muncul di layar ponselnya. "Pap!"
Sakura tersenyum mendengarkan Naruto berbicara dengan ayahnya—walaupun ia hanya bisa mendengar suara Naruto. Tapi sepertinya seru sekali. Yah, bukan rahasia lagi kalau hubungan Naruto dan ayah angkatnya itu sangat akrab. Ah, Sakura juga jadi kepingin menelepon ibunya.
Panjang umur. Gadis itu baru saja mengambil ponselnya untuk menghubungi Azami ketika nama ibunya itu muncul di layar ponsel flip-nya diiringi nada panggil. Mencari privasi, Sakura bangkit dari duduknya dan mengambil tempat nyaman yang agak jauh dari ketiga sahabatnya sebelum mengangkat telepon dari Azami.
"Senang, ya?" kata Sai. Sasuke menoleh, mendapati Sai sedang menatap Sakura dengan tatapan sedikit iri. "Ditelepon keluarga," jelas Sai, tersenyum. "Kakekku… biasanya hanya akan menelepon jika ada perlu saja."
"Mengapa tidak kau saja yang meneleponnya, kalau begitu?" tanya Sasuke.
Sai terkekeh kecil. "Masalahnya aku tidak tahu harus membicarakan apa," ujarnya. "Aku dan kakek memang jarang membicarakan sesuatu yang… yah… seperti yang dibicarakan Naruto dan ayahnya."
"Hn." –Sama seperti aku dan ayah, kalau begitu, pikir Sasuke.
"Kau sendiri, apa tidak ingin menghubungi orangtuamu atau kakakmu?" tanya Sai kemudian.
"Ibuku baru saja menelepon tadi, sebelum makan malam," jawab Sasuke. "Dan aku baru saja bertemu Itachi kemarin," tambahnya, sedikit menggerutu. Padahal terus terang saja, ia juga ingin ditelepon kakaknya. Pasti sekarang orang itu sedang asyik pacaran, ia membatin.
"Kau ini dingin sekali," komentar Sai sambil mengambil ponselnya sendiri dari dalam sakunya. "Kau tahu, Sasuke? Kurasa kau benar. Sebaiknya aku yang menelepon kakek duluan," katanya, lalu beranjak dan mengambil tempat di sudut yang agak jauh.
Sejenak Sai merasa ragu. Haruskah ia menghubungi Danzou sekarang? Tapi apa yang akan mereka bicarakan? Bukankah kemarin, sebelum ia berangkat ke Kiri, mereka sudah bicara lumayan banyak? Tetapi akhirnya Sai mengalah pada dorongan untuk mendengarkan suara sang kakek, walaupun hanya sebentar. Sekedar menanyakan kabar toh tak ada salahnya, kan?
Nada tunggu terdengar beberapa kali setelah Sai men-dial nomor ponsel kakeknya. Barangkali kakek sedang sibuk, pikirnya. Dan ia hampir saja memutuskan hubungan ketika terdengar suara dari seberang. Tapi bukan suara kakeknya, melainkan suara seorang wanita muda.
"Nona Yuugao?"
"Saya, Tuan. Apa Anda ingin bicara dengan Tuan Danzou?" tanya Yuugao Uzuki, asisten kakeknya.
"Kalau beliau tidak sibuk," sahut Sai.
"Ah…" jeda sejenak, dan Sai bisa merasakan nada menyesal ketika Yuugao berkata lagi, "Sayangnya Tuan Danzou sedang ada pertemuan dengan para pendana sekolah, Tuan."
"Begitu," Sai berusaha terdengar tidak terlalu kecewa.
"Apa Tuan Sai ada pesan?"
"Ya," sahutnya, setelah terdiam beberapa saat. "Katakan pada kakek, aku sudah sampai di Kiri dengan selamat. Bilang padanya untuk jaga kesehatan, makan yang baik dan tidur cukup. Jangan sampai kelelahan. Oh, dan bilang padanya jangan sampai lupa check up akhir pekan ini."
"Baik, Tuan. Akan saya sampaikan."
Lalu Sai memutuskan sambungan setelah mengucapkan terimakasih pada asisten sang kakek. Ia menghela napas, lalu tersenyum pada dirinya sendiri. Setidaknya kakek tahu kalau aku menelepon. Kemudian tanpa berlama-lama, Sai menghubungi nomor lain. Tak perlu menunggu lama sampai suara seorang gadis menyahut ceria di seberang.
"Sasame?—Aa," ia terkekeh sendiri, "Aku juga merindukanmu."
Sasuke mendengus ketika mendengar Sai menyebutkan nama Sasame. Sepertinya ia memang harus membiasakan diri mulai sekarang, mengingat mereka tinggal satu atap sepanjang musim panas ini. Perhatiannya beralih dari Sai ke Naruto yang tengah menertawakan entah apa yang dikatakan ayahnya, lalu Sakura yang mulai menyebut-nyebut soal Kakashi dan Rin. Sejenak ia ragu, sebelum akhirnya mengambil ponselnya sendiri.
Wajah nyengir Itachi balas memandangnya saat Sasuke membuka kontak kakak lelakinya itu. Cengiran yang mirip muncul di bibir Sasuke.
"Halo?" suara Itachi menjawab setelah dua kali nada tunggu. Nada bicaranya terdengar serius, seakan Itachi sedang berkonsentrasi pada entah apa yang sedang dikerjakannya sekarang.
"Kak, ini aku, Sasuke."
"Aah… ada apa, Sasuke?" Samar-samar Sasuke mendengar suara ribut di seberang. "Kukira kau baru akan menelepon kira-kira er… tiga hari lagi."
Sasuke mendecih pelan. "Memangnya tidak boleh aku menelepon sekarang?"
Itachi terkekeh kecil. "Bukannya begitu…" Jeda beberapa saat. Sasuke mendengar suara orang berseru di belakang Itachi, lalu seperti suara ledakan. "Aku senang kau menelepon. Bagaimana Kiri?"
"Biasa saja," gerundel Sasuke. Dahinya mengernyit ketika mendengar kakaknya mengerang. "Kak, kau lagi di mana, sih?"
"Apa?" Terdengar suara seperti senapan yang ditembakkan bertubi-tubi, disusul teriakan seseorang.
"Kau ada di mana?"
"Oh—sh*t!—akh! Sebentar, Sasuke—" jeda lagi. "Aku ada di rumah. Kenapa?"
"Main game?"
"Yeah…" –kerutan di dahi Sasuke semakin dalam ketika ia mendengar seseorang berseru di belakang suara Itachi, disusul tawa kakaknya.
"Kau sedang bersama siapa?—Siapa itu?"
"Oh, ada Kiba," sahut Itachi. Suara kakaknya itu sedikit menjauh, "Sebentar, ya. Ini Sasuke menelepon."
"Oke, Kak!" suara seseorang yang bersama Itachi menyahut. "Kak Itachi, pizza-nya kuhabiskan, ya?"
"Ya, makan saja," kata suara Itachi. Lalu terdengar suara salakan anjing di belakangnya.
"Ngapain Kiba di rumah kita?" tuntut Sasuke gusar. Ia agak tidak suka memikirkan kakak lelakinya main game sambil tertawa-tawa bersama orang lain yang bukan dirinya—Hana Inuzuka pengecualian.
"Kiba, ya? Um… brother in law bonding time?" Itachi terkekeh.
"Apa?"
"Tidak apa-apa, Sasuke. Dia cuma main. Hana sedang ada urusan di luar kota, dan Kiba tidak mau ditinggal berdua dengan ibunya—sepertinya mereka sedang bertengkar," jelas Itachi. "Oh, ya… Dia mau menginap di sini. Tidak apa-apa kan, dia tidur di kamarmu?"
"Tidak boleh!" bentak Sasuke berang. "Kalau mau menginap, suruh saja tidur di sofa!"
Itachi terdiam sejenak, lalu tertawa. "Sasuke, Sasuke… Kau ini kedengarannya seperti merajuk. Tenang saja. Tidak ada yang bisa menggantikan posisimu di hati Kakak."
"Ma—Maksudku bukan begitu!" Sasuke bersungut-sungut. "Menyesal aku meneleponmu."
Itachi hanya terkekeh-kekeh menanggapi adiknya yang sedang cemburu itu. "Yeah, I miss you too, Sasuke."
.
.
.
.
.
Dear Ino,
Aku sudah membaca emailmu dan wow… sepertinya musim panasmu bakal sangat sibuk—kalau kau mengerti maksudku. Aku bisa mengerti keberatanmu soal Sasame, tapi kurasa kau tidak perlu sampai segitunya. Kau pasti sudah bosan mendengar ini, tapi kapan kau bisa move on kalau kau terus-terusan dibayang-bayangi oleh Sai? Dan mungkin saja Shikamaru melakukan ini juga untuk membantumu.
Ayolah, Ino. Aku tahu kau pasti bisa melakukannya. Tetap semangat, oke?
Lalu… soal Shino.
…
…
…
Mungkin dia… suka padamu? Entahlah. Cowok kan kadang suka ada yang aneh-aneh, dan mungkin Shino ada di antara salah satu yang aneh itu—mungkin istilah 'unik' lebih tepat. Mungkin saja semua yang dia lakukan itu, yang katamu menyindir dan segala macam, adalah bentuk perhatiannya padamu. Dan yang katamu dia suka mengoceh tentang dirinya sendiri, barangkali maksudnya adalah supaya kau lebih mengenalnya.
Entahlah… itu hanya perkiraanku saja, Ino-ku sayang. Aku juga sama bingungnya denganmu. Lagipula aku kan tidak begitu mengenal Shino Aburame kecuali kalau dia itu ketua klub Jurnal yang suka bolak-balik mengingatkan deadline pada ehemtemankuehem dan suka sekali serangga.
Jujur saja, rasanya sulit dibayangkan cowok sependiam itu bakal mencoba mendekatimu yang Miss Popular itu. Jadi… yah… aku tunggu cerita detailnya darimu saja deh. –Omong-omong, aku tidak tertawa, lho…
Aku benar-benar berharap liburanmu bakal menyenangkan, seperti aku di sini.
Oooh… walaupun awalnya tidak begitu oke. Haha. Bayangkan saja, cowok-cowok itu terlambat bangun hanya karena semalaman begadang menonton pertandingan sepakbola di televisi! Maksudku, apa mereka tidak lelah setelah perjalanan jauh? Menyebalkan sekali. Aku terpaksa melewatkan pagi pertamaku di Kiri sendirian—yah, tidak sendirian juga sih. Untung saja ada Yamato. Dia mengizinkanku ikut mengantarnya ke kampusnya pagi ini.
Setelah itu, aku memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar. Sumpah deh, niat awalku memang jalan-jalan sebentar saja dan kembali lagi ke tempatku menginap untuk membangunkan cowok-cowok pemalas itu. Tapi gara-gara aku panik bertemu dengan… well… cowok aneh yang sok akrab—kau tahu kan kalau aku paling ngeri dengan cowok macam ini? Ujung-ujungnya aku tersesat. TERSESAT!—bisa kau bayangkan sendiri, Ino. Sendirian di tempat yang sama sekali asing.
Untungnya aku bertemu dengan Gaara. Kau ingat dia, kan? Itu lho, cowok KAA yang main biola di acara ulangtahunku, adik Temari, yang dulu kau bilang imut. Kau pasti ingat. Aku bertemu dengannya tadi. Dan dia baik sekali mau menemaniku. Kami juga sempat jalan-jalan sebentar ke distrik musik yang keren banget. Selain dia, aku juga bertemu dengan Kankurou. Dan dia masih menyebalkan. Haha…
Kau tahu tidak, Ino? Rasanya seperti kembali ke masa lalu, saat aku menyusuri jalan-jalannya yang berbatu, melihat jalur kanal yang sempit, melewati alun-alun kota, juga mencium aroma laut yang berpadu dengan aroma roti yang baru keluar dari panggangan. Semua itu mengingatkanku pada ayah dan kakak saat kami berliburan di Kiri dulu sekali. Apalagi tadi aku sempat melihat jembatan tempat aku dan Kak Hime pernah kabur untuk melihat sunrise. Kalau aku tidak sedang bersama Gaara, mungkin aku sudah menangis. Haha.
Ah, kenapa jadi melankolis begini?
Begitulah. Sejauh ini—dan ini baru satu hari—liburanku menyenangkan. Keluarga yang kami tumpangi rumahnya sangat baik dan menyenangkan. Dan kelihatannya Naruto, Sasuke dan Sai juga sangat menikmati Kiri. Mudah-mudahan saja akan begitu seterusnya. Besok kami berencana pergi ke pantai. Rasanya sudah tidak sabar.
Salam sayang,
Sakura.
.
.
TBC…
.
.
