Udah berapa lama fic ini ga apdet? Kayanya udah berbulan-bulan. Gomeeeeen... XD Mudah-mudahan dengan 15K aka 46 pages Ms Word ini cukup buat kompensasi lamanya apdet :p

Naruto fandom dan segala isinya adalah hak cipta Masashi Kishimoto-sensei. Saya hanya minjam, tanpa mengambil keuntungan apa pun kecuali kesenangan menulis. :D

Arlene Shiranui's

L'amis Pour Toujours: Summer Holiday Arc Chapter 4

.

.

"...jadi kau belum bertemu lagi dengan cowok itu sejak kalian keluar bareng?" tanya Sakura dengan dahi berkerut, memindahkan ponsel flip miliknya dari telinga kanan ke telinga kiri. Hampir setengah jam mendengarkan sahabatnya berkeluh kesah via ponsel, tak heran telinganya jadi sedikit panas.

"Hmm..." suara desahan Ino yang tak bersemangat menyahut dari seberang. "Dia juga tidak datang lagi ke toko."

Sakura menarik kedua kakinya naik ke sofa. Cengiran samar tersungging di bibir gadis berambut merah muda itu. Sejujurnya ia tak tahu harus berkomentar apa mendengar curhatan Ino kali ini. Ini adalah kali pertama Ino menelepon semenjak empat hari Sakura berada di Kiri dan ia langsung disuguhi kabar yang benar-benar membuatnya terkejut.

Well, tidak sepenuhnya mengejutkan juga sih, mengingat Ino sudah pernah memberitahunya via email bahwaShino Aburame mengajaknya keluar. Dan ia juga sudah menduga-duga kemungkinan cowok itu menaruh hati pada sahabatnya. Awalnya Sakura menduga Ino tidak akan ambil pusing, seperti gadis pirang itu tak ambil pusing ketika sederet cowok-cowok kece KHS rela mengantre demi mengajaknya jalan. Tetapi membayangkan Ino Yamanaka bisa sampai gelisah sedemikian rupa hanya karena seorang cowok—yang menurutnya—aneh macam Shino Aburame ... itu adalah bagian yang mengejutkan.

"Haah ... cowok itu benar-benar membuatku pusing!"

Kali ini Sakura tak dapat menahan diri mengikik.

"Ooh ... dan kau sekarang menertawakan aku," Ino menukas di seberang.

"Sori—aku tidak bisa menahan diri," kata Sakura setelah kikikannya mereda. "Kau ini lucu. Tidak biasanya seorang Ino Yamanaka, Miss Popular, dibuat gelisah setengah mati oleh seorang cowok yang bisa dibilang tak ada hubungan denganmu. Shino Aburame! Sulit dipercaya cowok itu bisa membuatmu terpikat—"

"Jangan bicara sembarangan! Aku tidak terpikat padanya! Yang benar saja!" sergah Ino kesal, memotong kata-kata Sakura. "Aku—Aku hanya ingin tahu sebenarnya apa sih yang diinginkan cowok itu dariku?"

Sakura menghembuskan napas keras-keras. Entah Ino memang tidak tahu atau pura-pura bersikap tolol. "Bukankah sudah jelas? Dia itu—" Gadis itu tak melanjutkan kata-katanya karena Sai memilih saat itu untuk muncul.

Cowok jangkung itu baru saja kembali dari pantry, membawa nampan besar berisi semangka yang sudah dipotong-potong—potongannya sangat berantakan, besar kecil tidak beraturan—Sai menenaruh nampannya di atas meja di depan sofa, mengambil sepotong dan menyamankan diri di samping Sakura.

"Mau semangka?" tawarnya sambil mengulurkan potongan semangka di tangannya pada Sakura.

Sakura menatapnya ragu. "Yeah—um ... kurasa nanti saja," tolaknya dengan cengiran salah tingkah. "Er ... kau tidak keberatan?"

Sai yang baru saja meraih remote televisi dari atas meja, menoleh pada gadis di sebelahnya. Kedua alis hitamnya terangkat tinggi melihat Sakura memberinya isyarat dengan menggoyangkan ponsel di tangannya. Sai tersenyum paham.

"Silakan saja," ujar Sai kalem, "aku tidak akan menguping kok." Ia kemudian berpaling untuk menyalakan benda elektronik di depan mereka sambil dengan santai menggigit potongan semangkanya.

Sakura masih memandangi cowok berkulit pucat itu, bimbang. Tentu saja ia percaya Sai tidak akan menguping—dan ia juga mungkin tidak akan terlalu peduli, tapi tetap saja. Mengobrol dengan Ino lewat ponsel di dekat Sai membuat Sakura merasa canggung. Terlebih yang mereka obrolkan ini masalah cowok. Memang sih, sekarang mereka sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Sai juga sudah jadian dengan orang lain—

"... kura? Sakura? Haloo—apa kau masih di sana?"

Suara Ino segera membuyarkan lamunannya. Sakura mengerjap, perhatiannya kembali teralih pada ponselnya. "Iya, iya. Aku masih di sini, Pig!" Gadis itu buru-buru melompat bangun dari sofa dan kabur ke arah dapur, tempat Naruto dan Sasuke sibuk berkutat menyiapkan makan siang untuk mereka berempat.

"Hei, mau ke mana, Sakura?" Naruto berpaling dari isi panci beraroma ramen yang sedang diaduknya ketika Sakura melesat melewatinya. Gadis itu tak menggubrisnya. Ia lewat begitu saja dan menyelinap ke pintu kasa di dekat dapur yang menuju tangga sempit ke atap yang terbuka. Ponsel setia menempel di telinganya.

Di sebelah Naruto, Sasuke yang tengah sibuk memotong-motong tomat pun perhatiannya ikut teralih. Mata hitamnya mengawasi bayangan Sakura di balik pintu. Gadis itu mendudukkan diri di anak tangga, berbicara pada ponselnya dengan suara pelan. Kerutan samar muncul di antara kedua alis Sasuke.

Sedang apa dia?

Penasaran, diam-diam Sasuke menajamkan telinganya.

.

.

"Sori, harus pindah tempat," suara Sakura kembali terdengar dari seberang sambungan setelah jeda beberapa saat.

Ino mengerutkan dahi. "Ngapain pindah tempat segala?"

"Tadi ada Sai."

"Oh ..." Sejenak Ino tampak bimbang, tak tahu harus berkomentar apa. Saat itu pikirannya terlalu disibukkan oleh seorang cowok bernama Shino Aburame sampai-sampai ia tidak terpikir hal lain, termasuk Sai yang beberapa hari yang lalu masih menjadi alasannya ragu menghubungi Sakura via telepon. Dan sekarang ia heran sendiri ketika menyadari ternyata dirinya tak lagi terlalu peduli pada keberadaan mantan kekasihnya itu.

Memangnya kenapa?

Setelah berbulan-bulan berusaha keras untuk move on, rasanya sekarang hal itu sudah tidak penting lagi baginya. Maka setelahnya Ino memilih untuk tidak berkomentar. Gadis itu lalu berpindah dari posisinya semula berdiri bersandar pada pilar kayu di beranda belakang rumah Shikamaru dan menghenyakkan diri di salah satu kursi rotan di sana. Suara orang-orang mengobrol samar-samar terdengar dari dalam rumah.

Hari itu adalah akhir pekan, yang berarti Shikamaru dan Chouji mendapatkan libur dari tempat mereka bekerja paruh waktu. Mereka memanfaatkan waktu luang tersebut untuk berlatih sebelum manggung di sebuah cafe kecil di kota malam ini. Dan bukan mereka bertiga saja yang berkumpul, dua sepupu Shikamaru yang membantu mereka sebagai manajer peralatan juga datang, begitu juga dengan personel tambahan, Sasame Fuuma dan Zaku Abumi. Selain itu Shikamaru juga mengundang Shiho.

Rupanya cowok bertampang malas itu sudah meminta bantuan Shiho untuk menjadi manajer mereka—lagi-lagi tanpa persetujuan Ino—Alasannya karena gadis itu pandai mengatur. Tentu saja Shiho menerimanya dengan senang hati. Lagipula band mereka memang butuh seseorang yang bisa mengatur dan fokus. Bayangkan saja, kelompok yang isinya tukang tidur, tukang makan, tukang pacaran, tukang marah-marah dan satunya lagi tukang galau gara-gara urusan cowok, mereka benar-benar butuh bantuan. Dua sepupu Shikamaru juga hanya bisa sesekali membantu karena sibuk dengan kuliah musim panas mereka.

Dan sekarang mereka sedang istirahat setelah sesi latihan yang tidak terlalu seru—salahkan pikirannya yang melantur ke mana-mana.

"Sampai di mana kita tadi—oh, ya. Tadi kau mau bilang apa, Sakura? Dia kenapa?"

"Dia?" suara Sakura terdengar bingung. "Maksudmu Sai?"

Ino memutar bola matanya. "Shino," geramnya tak sabaran. "Kita kan tidak sedang membicarakan Sai."

"Oh, yeah ... sori." Terdengar kekehan kecil canggung di seberang. "Kupikir tadi ... Oh, lupakan saja. Tadi aku mau bilang Shino pasti punya perasaan khusus padamu, Ino."

Sejujurnya apa yang dituturkan Sakura barusan telah menghantui pikirannya beberapa hari terakhir ini. Ino tidak bodoh dan ia cukup berpengalaman menghadapi anak laki-laki yang berusaha mendekatinya. Meskipun belum pernah ada yang seperti Shino Aburame. Ia tidak menunjukkan ketertarikan secara terang-terangan, atau berusaha membuatnya terkesan seperti yang dilakukan anak laki-laki lain. Tetapi dengan datang hampir setiap hari ke toko bunga keluarganya, bicara tentang segala hal yang disukainya, seolah cowok itu berusaha membuat Ino mengenalnya lebih dalam. Memangnya apa alasan Shino mau repot-repot melakukan itu semua pada seorang gadis yang tak ada hubungannya dengannya? Kecuali jika Shino bermaksud mendekatinya. Kecuali jika ia ... memiliki perasaan tertentu padanya, seperti yang dikatakan Sakura.

Ino mengangkat sebelah tangannya yang bebas, memijat-mijat pelipisnya yang terasa berdenyut-denyut seraya menghela napas berat. Hanya dengan memikirkan hal itu saja sudah membuatnya mendapatkan sakit kepala.

"Jangan berpura-pura tidak menyadarinya, Ino. Kau sendiri pernah bilang di email-mu kalau Shino mungkin menyukaimu, kan?" Sakura mengingatkannya. "Dan menurutku memang tidak ada hal lain yang lebih masuk akal yang bisa menjelaskan sikapnya padamu. Benar, kan?"

Ino terdiam lagi, tak tahu harus menanggapi apa. Setidaknya selama beberapa saat. "Tapi mengapa—maksudku, kalau dia memang suka padaku, mengapa tidak bilang saja sejak awal? Kalau begitu kan aku hanya perlu menjawab iya atau tidak, habis perkara. Kenapa malah membuatku bingung dengan bersikap seperti menyukaiku, tapi tidak menyukaiku? Kau mengerti maksudku, kan?"

Jeda sejenak sebelum Sakura menjawab lambat-lambat, "Yah ... aku tidak begitu mengenal sifat cowok itu sih, tapi setahuku dia orangnya tertutup, agak canggung bersosialisasi dengan anak-anak lain di luar kelompoknya. Mungkin Shino tidak tahu bagaimana caranya mendekati gadis yang dia sukai. Maksudku ... yah, aku tahu bagaimana rasanya sangat menyukai seseorang, Ino. Ingin selalu berdekatan dengan orang itu, tapi tidak tahu harus berbuat apa dan tanpa disadari malah berakhir melakukan sesuatu yang tolol."

"Maksudmu seperti kau dengan Neji dulu?" Ino tak dapat menahan seringainya, tetapi Sakura hanya terkekeh.

"Atau mungkin itu hanya bagian dari stateginya," lanjut Sakura.

"Strategi?" Wajah cantik Ino berkerut bingung.

"Yeah. Strategi agar membuatmu terus-menerus memikirkannya. Dia sengaja bersikap seperti itu untuk membuatmu bingung, lalu kau jadi penasaran dan tak bisa berhenti memikirkan dia dan ... tada! Tanpa kau sadari kau terperangkap dalam jeratnya dan jadi jatuh suka padanya!"

Ino mendengus tertawa mendengar teori Sakura yang baginya terdengar agak konyol. "Kedengarannya seperti psikopat yang bisa mengontrol pikiran orang."

"Tapi itu cukup masuk akal juga, kan?" kata Sakura sambil tertawa. "Shino Aburame itu bukan cowok dengan otak kosong. Malahan, dia sangat cerdas. Salah satu yang paling pintar di sekolah kita. Walaupun anak-anak sering mengatainya culun, tapi kita berdua tahu dia bukan tipe orang yang lugu—tidak seperti Sai dulu—Dan jangan lupakan fakta bahwa dia ketua klub Jurnal. Dia pasti sudah banyak membaca tentang hal-hal seperti itu."

"Jangan konyol, Sakura," kekeh Ino, meskipun sebenarnya ia memikirkan kemungkinan kata-kata sahabatnya itu benar. Tetapi semakin ia memikirkannya, semakin Ino merasa itu tidak mungkin. Memikirkan Shino mencoba memanipulasinya ... rasanya agak terlalu kejam. "Walaupun Shino orangnya menyebalkan, tapi aku tidak percaya dia akan melakukan hal seperti itu padaku, Sakura. Maksudku, saat aku meninggalkannya begitu saja di taman, itu jelas bukan rencananya." Ketika Ino mengatakan itu, rasa bersalah kembali menusuk-nusuk ulu hatinya.

"Oh, so sweet ... Sekarang kau membelanya," goda Sakura, mengikik.

Ino mengabaikannya. "Dia pasti marah sekali padaku sekarang, Sakura." Perubahan nada bicara Ino segera menghentikan kikikan Sakura. "Kalau dia memang pernah menyukaiku, kurasa sekarang sudah tidak lagi. Hanya orang bodoh yang menyukai orang yang sudah menghinanya terang-terangan. Aku bahkan tidak bisa menyalahkannya kalau dia membenciku."

"Ino, jangan bicara seperti itu. Dia tidak akan membencimu," Sakura berusaha meyakinkannya.

Ino mengeluarkan suara tawa getir. "Kau ini seperti tidak tahu saja, Sakura. Sudah berapa cowok yang tadinya suka padaku kubuat berbalik membenciku? Kau bisa lihat, Sai—"

"Omong kosong!" sela Sakura gusar. "Sai tidak membencimu. Dia hanya butuh waktu untuk mendinginkan kepalanya dan menerima kenyataan." Suara helaan napas. "Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri, Ino. Begini saja, kalau masalah ini begitu mengganggumu, bagaimana kalau kau mencoba menghubungi Shino?"

"Aku tidak mungkin menghubungi dia, Saku—" gerung Ino seraya dengan frustasi menyapu poni pirangnya ke belakang.

"Mengapa tidak? Dengar, kalau kalian tidak bicara masalahnya tidak akan selesai. Setidaknya itu bisa membuatmu merasa lebih baik."

Masalahnya, Ino terlalu malu untuk memulai pembicaraan dengan Shino. Dan gadis itu juga tak yakin Shino mau bicara padanya setelah apa yang terjadi. Waktu itu saja Shino tak bicara sepatah kata pun saat mengantarnya kembali ke rumah, lalu pergi begitu saja tanpa menoleh lagi sedikit pun.

"Menurutmu begitu?"

"Tentu saja."

Kalau saja Ino bisa bersikap tak peduli pada Shino seperti sebelumnya, mungkin ini akan jauh lebih mudah. Tapi kenyataannya, Ino tak bisa berhenti memikirkan cowok itu. Setiap hari ia diam-diam menunggu dengan cemas, berharap Shino akan muncul di pintu tokonya seperti hari-hari sebelumnya. Tapi Shino tidak pernah muncul lagi. Dan itu semua membuat Ino merasa sangat merana—Oh, sepertinya ia sekarang berada dalam bahaya besar!

Menghela napas, Ino akhirnya berkata, "Kurasa kau benar. Aku akan mempertimbangkannya."

"Dan kabari aku kalau kalian berdua sudah jadian."

"HEI—" Ino mendengking. Wajahnya seketika menghangat. Di seberang suara tawa Sakura membahana. "Aku bilang mau bicara, bukannya jadian. Dasar bodoh! Jidat lebarmu itu jangan terlalu sering dipakai memikirkan hal-hal mesum!"

"Hahaha ..."

Balasan yang didapatnya hanyalah suara tawa yang semakin menjadi-jadi. Pada akhirnya Ino pun tak dapat menahan dirinya ikut tertawa. Tak peduli seperti apa Sakura menggodanya, Ino merasa bebannya sedikit terangkat setelah bicara padanya. Memang tak ada yang bisa menandingi sesi curhat dengan sahabatnya itu. Sakura barangkali tidak memiliki pengalaman yang lebih banyak dengan cowok sebagaimana dirinya, tetapi ia adalah pendengar dan pemberi saran yang luar biasa. Ino bersyukur memiliki Sakura sebagai sahabatnya.

Kedua gadis itu masih asyik saling melempar godaan dan ejekan sambil tertawa-tawa ketika Shikamaru muncul dari pintu masuk. Cowok itu melangkah tanpa semangat dengan kedua tangan di saku celana pendeknya, kemudian menghenyakkan diri di bangku rotan yang lain di samping bangku Ino. Kedua kakinya diselonjorkan dengan malas.

"Sudah dulu ya, Sakura. Nanti kutelepon lagi. Bye."

"Kau yakin malam ini bisa?" tanya Shikamaru setelah Ino menutup ponsel flip-nya.

Ino menoleh, menatap teman masa kecilnya itu dengan mata dipicingkan. "Memangnya kenapa?"

Shikamaru membuang napas panjang sebelum menjawab, "Kondisimu kelihatannya sedang tidak baik."

"Aku baik-baik saja, Shikamaru, dan aku akan ikut manggung malam ini. Aku kan vokalisnya!" sahut Ino.

"Sasame bisa menggantikanmu," kata Shikamaru sederhana.

Ino mendecih sebal. "Bilang saja kau bermaksud menggantikanku secara permanen dari band!"

"Aku tidak bilang begitu. Haah ... kau ini rupanya masih sensitif masalah Sasame, ya?" Shikamaru menatap gadis di sebelahnya itu malas. "Aku berkata begini karena Chouji mengkhawatirkanmu. Dari tadi kau juga melamun terus. Pasti sedang memikirkan hal-hal yang merepotkan lagi."

Ino memalingkan wajahnya, cemberut. "Bukan urusanmu."

"Memang." Shikamaru menguap lebar-lebar. "Tapi akan jadi urusanku kalau performance-mu terpengaruh. Kalau tidak bisa seratus persen, sebaiknya istirahat saja dulu."

"Sejak kapan kau jadi perfeksionis seperti itu?" tukas Ino, namun Shikamaru hanya menjawab dengan gendikan bahu. Ino menghela napas. "Aku bersumpah akan seratus persen. Yang penting kau tidak menyuruhku mengurung diri di rumah, Shika. Aku butuh manggung malam ini."

"Untuk mengalihkan perhatian dari Shino Aburame?" Seringai kecil muncul di wajah cowok berkucir tinggi itu.

Raut terkejut nampak di wajah Ino, namun gadis itu segera menguasai diri. "Kau ini ngomong apa sih?!" elaknya, merasakan wajahnya merona.

Shikamaru mendengus kecil. "Suaramu tadi sampai terdengar ke dalam, tahu."

Ino menendang kaki Shikamaru. "Pembohong! Aku tadi ngomong pelan. Kau pasti menguping!"

"Rupanya benar Shino, ya?" ucap Shikamaru dengan seringai penuh kemenangan.

Sial! Aku terpancing!—Ino merutuk dalam hati. Berbicara dengan orang jenius memang tidak boleh sembarangan, meskipun orang itu sangat pemalas sekali pun. Mereka punya seribu satu cara untuk mengorek informasi. Ino baru saja hendak membuka mulutnya untuk mengomeli Shikamaru yang sok tahu itu, namun diiterupsi oleh seorang gadis jangkung berkacamata yang baru saja muncul di pintu.

"Shiho?"

Wajah gadis itu sedikit tersipu saat Shikamaru menyebut namanya. "Um ... Bibi Yoshino menyuruhku memanggil kalian berdua. Makan siangnya sudah siap."

"Baiklah. Kami akan segera masuk," sahut Ino, nyengir kecil melihat tampang malu-malu Shiho.

"Aa. Makasih, Shiho," tambah Shikamaru sambil mengangguk.

Shiho membuat gerakan canggung seperti hendak mengatakan sesuatu, tapi tidak jadi. Gadis itu hanya tersenyum gugup, lalu berbalik dan kembali masuk ke dalam rumah.

Seringai nakal tergambar di wajah Ino ketika ia mendapati pandangan Shikamaru masih terarah pada pintu tempat Shiho baru saja menghilang. "Bukankah dia manis?" tanyanya menggoda, bertekad membalas perbuatan Shikamaru sebelumnya.

"Apa?" sahut Shikamaru. Alisnya terangkat tinggi. Jelas ia hanya hanya pura-pura bego—atau ia benar-benar tidak memerhatikan apa yang diucapkan Ino karena terlalu memerhatikan hal lain? Entahlah ...

"Shiho," kata Ino sambil menggendikkan bahu. "Bukankah kau mengajaknya berdansa waktu prom kemarin? Kau pasti menganggapnya manis."

Tak ada perubahan ekspresi berarti di wajah Shikamaru. "Tolong diralat. Aku tidak mengajaknya berdansa. Dia yang memintaku," jelasnya dengan nada malas.

Ino mencibirnya. "Tapi tetap saja kau menerimanya. Kuharap kau mengajaknya bergabung dengan kita bukan cuma ingin memanfaatkannya karena apa yang dilihatnya darimu, Shikamaru."

"Haah ... bicaramu itu semakin melantur saja, Ino. Memangnya siapa yang memanfaatkan dia?" Shikamaru beranjak dari bangkunya. Kedua tangannya kembali tenggelam di saku celana pendeknya, seraya melempar tatapan malas pada Ino. "Terserah kau saja mau ngomong apa, Ino, yang jelas aku tidak pernah punya pikiran merepotkan seperti itu."

"Baguslah," sahut Ino sambil tersenyum. "Kalau kau berani melakukannya, aku orang pertama yang akan menghentikanmu."

Menanggapi kata-kata Ino, Shikamaru hanya menggerundel pelan, lalu menyeret langkahnya menuju pintu. Mengikik kecil, Ino menyusulnya tak lama kemudian.

.

.

Sakura menutup ponsel flip miliknya diiringi helaan napas panjang. Seulas senyum tersungging di bibirnya. Perasaan lega memenuhi dadanya setelah pembicaraannya dengan Ino barusan. Bukan berarti ia senang mendengar sahabatnya itu dibuat pusing oleh seorang cowok, melainkan karena pada akhirnya Ino berhenti meratapi Sai dan Sasame—kebiasaan yang menurutnya sangat tidak sehat. Sekarang ini Sakura hanya berharap Ino bisa segera menyelesaikan masalahnya dengan Shiho Aburame. Mereka akan berlanjut atau tidak, mudah-mudahan tidak akan ada sakit hati lagi.

Gadis itu melompat turun dari anak tangga yang didudukinya, lalu dengan langkah ringan kembali ke dapur dan segera disambut oleh aroma sedap ramen. Cacing-cacing di perutnya mendadak berdemo.

"Hmm ... kelihatannya enak!" Sakura melompat di antara Sasuke dan Naruto yang tengah membagi sepanci ramen yang mereka masak ke dalam empat mangkuk.

"Pastinya enak dong," seru Naruto berpuas diri. "Siapa dulu yang masak, Naruto!"

Sasuke—seperti biasa—mencibirnya. "Dasar bodoh. Ramen instan seperti ini siapa saja bisa membuatnya."

Naruto langsung manyun ke arahnya. "Kau ini tidak bisa ya menghargai sedikit usahaku? Aku bahkan mengizinkanmu memasukkan semua tomat-tomat tidak enak itu ke ramen-KU!"

"Hn," gerutu Sasuke sembari mengupas telur rebus.

Naruto yang tidak puas, menyikut kasar lengannya. Sasuke memelototinya. Naruto membalas dengan menjulurkan lidah ke arah sahabatnya itu. Sakura yang sudah terbiasa dengan pertengkaran kedua sahabatnya itu segera menyelipkan diri di antara mereka, memaksa keduanya membuat jarak aman satu sama lain sebelum ada mangkuk yang melayang.

"Berhentilah bertengkar seperti anak kecil begitu, kalian berdua!" omel Sakura dengan nada antara geram dan geli.

"Dia yang mulai duluan, Sakura!" Naruto pura-pura merengek.

Sasuke mencibir, tapi tak mengatakan apa-apa untuk membalasnya. Sakura mengikik, lalu mengambil satu telur rebus yang masih utuh dan mulai membantu Sasuke mengupas.

Sudah sejak dua hari yang lalu mereka memutuskan untuk mengurus sendiri makanan mereka. Tinggal cukup lama di sana, tidak mungkin mereka setiap hari makan di luar, bukan? Terlalu banyak memakan biaya. Mungkin Sai dan Sasuke tidak akan ada masalah dengan uang, tetapi tidak dengan Sakura dan Naruto. Mereka harus berhemat jika tidak ingin kehabisan uang saku sebelum liburan berakhir. Selain itu mereka juga tidak mungkin terus-terusan mengandalkan Yamato, karena ia harus kuliah dan bekerja.

Maka mau tidak mau mereka harus mengurus sendiri semuanya. Mulai dari patungan, berbelanja bahan-bahan makanan di pasar dan membuat jadwal memasak berpasangan—Sakura dengan Sai, Sasuke dengan Naruto—Sasuke sama sekali tidak berkomentar, tapi Sai menganggap ini akan jadi pengalaman yang menarik, mengingat ia belum pernah pergi berbelanja sendiri atau bekerja di dapur sebelumnya.

Memang sedikit merepotkan, tapi menyenangkan.

"Omong-omong, Sakura, memangnya ada apa sih antara Ino dan Shino?" tanya Naruto kemudian, mengejutkan Sakura.

"Eeh? Kau menguping, ya?"

"Salahkan suaramu yang keras itu," gerutu Sasuke tanpa mengalihkan perhatian dari telur kedua yang sedang dikupasnya.

Sakura langsung mengerucutkan bibirnya sebal. Nyengir, Naruto menyenggol lengan gadis itu dengan sikunya. Sakura menoleh dan mendapati mata biru langit milik Naruto menatap penasaran. "Hei, hei, apa mereka berdua sedang dekat?"

"Aku tidak tahu," Sakura mencoba mengelak, enggan membicarakan masalah Ino yang tidak ada hubungannya dengan mereka. Terlebih ada Sai tak jauh dari tempat mereka, walaupun Sai tampaknya begitu asyik sendiri dengan tayangan anime yang tengah ia tonton di televisi sehingga kecil kemungkinan cowok itu akan mendengarkan.

Jelas tidak puas dengan jawaban yang diberikan Sakura, Naruto menuding gadis itu dengan sendok sayur yang digunakannya untuk menyendok kuah ramen. "Hee ... tadi jelas-jelas Sakura ngomong tentang mereka jadian. Pasti ada apa-apa antara Shino dan Ino. Iya, kan? Iya, kan? Iya, kan?"

Sakura memutar bola matanya tak sabar. "Sejak kapan kau jadi tukang gosip begini, Naruto?" Naruto hanya menanggapi dengan cengiran lima jari yang menjadi khas dirinya. Dan Sakura langsung tahu cowok pirang itu masih belum menyerah. Sakura menghembuskan napas keras. "Yeah ..." ujarnya lambat-lambat, sementara jemarinya memipili pecahan cangkang yang masih menempel pada bagian putih telur rebusnya. "Sepertinya sih Shino sedang berusaha mendekati Ino. Tapi masih belum jelas juga."

"Kenapa belum jelas?" tanya Naruto lagi, tanpa sadar melupakan ramen yang seharusnya ia bagi ke mangkuk.

"Karena sikap Shino tidak jelas." Sakura mengangkat bahunya.

"Kenapa bisa begitu?"

"Mana kutahu!" tukas Sakura gemas, seraya mencubit pipi cowok berkulit tan itu keras-keras, membuat Naruto mendengking kesakitan.

"Aw, aw, aw—Sakura, sakiiit!" Pemilik rambut pirang jabrik itu mengusap-usap pipinya yang memerah setelah terkena cubitan ganas Sakura. Matanya sampai berair, tapi tampaknya Naruto tak begitu keberatan. "Huhuhu ... pipiku jadi melar sebelah. Yang satunya juga dong, biar adil," selorohnya, menawarkan pipinya yang sebelah lagi untuk dicubit.

Gurauan Naruto sukses membuat Sakura tertawa. Dan alih-alih mencubit pipi Naruto yang sebelah lagi, gadis itu meninju lengannya main-main. "Apaan, sih? Sudah sana bagi dulu ramennya. Nanti keburu dingin!"

"Hehehe ... siap, Bos!"

Naruto lantas segera melanjutkan kegiatannya menuang ramen ke mangkuk ketiga, sementara Sakura dengan cekatan memotong telur yang sudah selesai ia kupas. Sisa tawa masih tertinggal di bibirnya. Sasuke diam-diam memerhatikannya, tanpa sadar ikut tersenyum ... yang kemudian segera menguap lenyap setelah beberapa saat kemudian tertangkap basah oleh Naruto.

"Apa?" desis Sasuke di belakang Sakura, saat melihat Naruto melempar cengiran penuh arti ke arahnya. Naruto balas menggodanya dengan mengedipkan mata. Sasuke memelototinya. Naruto tergelak tanpa suara.

"Kemarikan! Sekarang bukan giliranmu masak!" ketus Sasuke sambil merebut pisau dari tangan Sakura, membuat gadis itu terkejut.

"Eeh—Aku kan cuma mau membantu."

"Hn. Tidak perlu," gerutu Sasuke sambil memotong telur yang sudah dikupas. Ia terlalu bernafsu menggunakan pisau sehingga bagian kuning telurnya hancur. Makian pelan meluncur dari bibirnya.

"Aku tidak mau telur yang itu, Sas-key," seru Naruto, menunjuk telur yang hancur.

"Diam, kau!" Sasuke membentaknya.

Melihat tingkah Sasuke—tetapi jelas tidak menyadari apa yang sedang terjadi dengan cowok itu—Sakura menatapnya prihatin. "Mood-mu sedang jelek, ya, Sasuke?"

Naruto mendengus kecil. "Dia pasti masih kepikiran cowok pirang yang kita temui kemarin di museum. Tapi itu bukan masalah besar," katanya asal sambil terkekeh-kekeh, "Bukan hal aneh ada orang yang menyebut Sasuke Bocah Tengik. Iya, kan, Sasuke?"

Sasuke tidak menanggapi. Jelas bukan itu masalahnya.

"Euh ... itu sangat kasar," komentar Sakura dengan nada mencela, membuat sudut bibir Sasuke sedikit terangkat membentuk seringai puas samar.

Cowok pirang yang disebutkan Naruto adalah cowok yang sama yang ditemui Sakura di hari pertamanya berpetualang di kota itu. Namanya Deirada atau siapa, Sakura tidak begitu ingat. Mereka bertemu lagi ketika ia sedang menemani Sai melihat-lihat museum seni bersama Naruto dan Sasuke. Hanya saja saat itu orang itu tidak begitu menaruh perhatian padanya seperti pada pertemuan pertama mereka dulu. Alih-alih padanya, orang itu justru memusatkan perhatiannya pada Sasuke. Mereka berdua jelas sudah saling kenal sebelumnya dan tak perlu menjadi jenius untuk melihat hubungan keduanya yang tak terlalu baik. Sasuke pun enggan menjelaskan pada ketiga sahabatnya soal itu kecuali bahwa orang itu dulu pernah mencoba membakar rumahnya dengan petasan.

"Yah ... lupakan soal orang aneh itu," kata Naruto sambil lalu, "Jadi Ino meneleponmu tadi hanya ingin curhat soal Shino?" Rupanya ia masih penasaran soal itu.

"Yeah, kurang-lebih ..." Sakura menghela napas, sembari mengawasi Sasuke memotong telur kedua. "Bukan begitu. Begini ..." Gadis itu memegangi kedua tangan Sasuke, menekan lembut tangannya yang memegang pisau sehingga ujungnya yang tajam membelah mulus telur yang bertekstur lembut tersebut. "Kau harus melakukannya pelan-pelan."

"Aku bisa melakukannya sendiri," Sasuke menggerutu kaku, tapi tak berusaha menampik Sakura.

Melihat Sasuke yang tampak kikuk, Naruto tak dapat menahan cengirannya mengembang sekali lagi. Yah, kapan lagi bisa melihat Sasuke Uchiha, si ketua organisasi sekolah yang sok cool itu bisa kikuk begitu? Pemandangan langka. Sementara Sasuke kali ini sepertinya tidak memerhatikan Naruto. Perhatiannya sepenuhnya tercurah pada gadis yang sekarang masih memegangi tangannya, membimbingnya memotong telur terakhir dengan kesabaran seseorang yang mengajari anak TK mengeja alfabet untuk pertama kalinya.

"Nah, selesai!" Sakura berkata riang seraya melepaskan tangan Sasuke dan mulai menyusun telur ke dalam mangkuk ramen yang masih mengepulkan uap hangat. Tapi gerakannya langsung terhenti begitu melihat mangkuk terakhir yang disodorkan Naruto. "Eeh—kenapa yang ini lebih banyak dari yang lain?"

"Itu punyaku," seloroh Naruto dengan cengiran tanpa dosa. Ditaruhnya panci yang sudah kosong ke wastafel.

"Kalau begitu kau tidak dapat telur," Sakura berkata tegas.

"Hee?" Naruto memprotes, tapi Sakura menampiknya dengan menggoyangkan telunjuk di depan hidung cowok berambut pirang itu.

"Ck ck ck ... tidak pakai protes. Kau sudah dapat jatah ramen lebih, jadi jatah telurmu untuk Sasuke."

Mendengar itu, Naruto menggerung protes seraya buru-buru membagi kelebihan ramen miliknya ke dua mangkuk yang lain. Sakura mengawasinya sambil menahan tawa.

"Nah, sekarang sudah sama. Jadi aku dapat telur, kan?" tanya Naruto setelah semua mangkuk mendapat jatah ramen yang sama banyaknya, sambil melempar pandang penuh harap pada Sakura yang kemudian memberinya anggukan singkat pertanda setuju. Gadis itu lalu menaruh potongan telur di mangkuk ramen miliknya. "Yay!" soraknya girang, membuat Sakura tertawa geli melihat tingkahnya yang sok seperti anak kecil—tentu saja ia hanya berpura-pura, untuk bergurau.

Dan seperti biasa, Sasuke selalu menanggapi gurauan Naruto dengan gaya khasnya—"Cih! Idiot."

Telinga sensitif Naruto langsung berkedut. "Oi! Apa maksudnya itu? Ngajak berantem?"

Sasuke membalas dengan dengusan mengejek. "Coba saja." Tanpa memedulikan Naruto yang mendelik padanya, ia menyambar salah satu mangkuk ramen dari atas meja konter dan melenggang santai ke ruang televisi untuk bergabung dengan Sai. Seringai tipis menghiasi wajahnya.

"Kalian berdua benar-benar akrab, ya?" komentar Sakura dengan kekehan kecil, sembari mengambil gelas bersih dari rak.

Sejenak Naruto masih menggerutu, tapi sedetik kemudian ia mendengus tertawa. "Yeah, mungkin ... Tapi tidak seakrab Sasuke dengan Sai, kurasa," ujarnya, nyengir.

Sakura melempar pandang ingin tahu ke ruang televisi tempat Sasuke dan Sai sedang duduk. Sasuke tengah menyantap ramennya sementara Sai memandang ke arahnya, berbicara entah apa.

Yang ia tahu, ketiga cowok itu memang akrab satu sama lain, meskipun dengan cara yang berbeda. Jika dibandingkan dengan Sasuke dan Naruto yang seringkali menunjukkan keakraban dengan saling melempar ejekan, cemoohan dan sumpah-serapah, hubungan Sasuke dan Sai memang tampak lebih normal. Tapi di mata Sakura, Sasuke tak lebih akrab dengan Sai dibanding dengan Naruto. Kecuali kalau ada hal lain yang luput dari pengamatannya.

"Benarkah?"

Naruto melempar tatapan misterius pada Sakura. "Kau tidak tahu karena kau tidak sekamar dengan kami, Sakura. Sasuke itu cuma mau tidur sekasur dengan Sai. Sejak Kak Haku meminjami kami kasur cadangan, Sasuke tidak pernah lagi mau berbagi tempat denganku. Sai juga begitu, maunya dengan Sasuke terus. Mereka tak terpisahkan. Hmm ... apa kau mencium ada yang mencurigakan di sini?" tanyanya lambat-lambat sok detektif, dan langsung mengaduh ketika tiba-tiba Sakura mencubit lengannya dengan gemas.

"Itu karena kau saja yang tidurnya tidak bisa tenang," sembur Sakura, tertawa. "Sai cerita padaku kau pernah menendangnya sampai jatuh dari tempat tidur."

"Eeh—aku melakukan itu?" Naruto terbelalak.

Sakura mengangguk, nyengir. "Dan Sasuke mengeluhkan soal dengkuranmu yang kelewat keras," tambahnya, mengacungkan sendok ke arah Naruto.

Naruto hendak membuka mulutnya untuk membantah, tetapi langsung berubah pikiran ketika melihat Sai yang baru saja datang untuk mengambil jatah makan siangnya. "Hei, Sai, aku punya kabaruntukmu, Teman!" beritahunya antusias.

Kata-kata Naruto sontak melenyapkan cengiran di wajah Sakura. Gadis itu teringat pembicaraannya dengan Ino beberapa saat yang lalu dan tiba-tiba saja ia merasa cemas. Jangan bilang kalau Naruto mau memberitahukan soal itu pada Sai!

"Kabar apa?" Sai menoleh, memandang Naruto tertarik.

Naruto melompat ke arah Sai, mengalungkan sebelah lengannya ke pundak temannya itu. Cengiran lima jari masih menghiasi wajahnya saat ia berkata pelan sok berahasia, "Kudengar sekarang ini Si Ino sedang dekat dengan seorang cowok di Konoha."

"Naruto! Sudah kubilang kan itu belum jelas!" seru Sakura protes, tapi Naruto mengabaikannya. Gadis itu lantas mengalihkan pandangannya pada Sai untuk melihat reaksinya.

Selama beberapa saat, Sai tidak bereaksi apa-apa. Ekspresi wajahnya sama sekali tak terbaca—datar. Entah apa yang ia pikirkan saat itu. Terkejut? Atau apa?

"Oh." Hanya itu yang meluncur dari bibir Sai sebagai tanggapan atas informasi Naruto. Sai lalu menarik salah satu mangkuk ramen ke arahnya, mencicipi kuahnya dengan sendok yang tadi diambilnya dari rak.

Sakura memandangnya penuh tanda tanya, sama sekali tidak bisa menebak apakah Sai memang tidak peduli atau hanya berpura-pura.

"Ck! Kenapa reaksimu dingin begitu, sih?" tuntut Naruto tak puas, melepaskan rangkulannya.

"Hmm ..." Sai mengambil waktu menyeruput lagi kuah ramennya. "Memangnya aku harus bereaksi bagaimana?"

Naruto menggeram tak sabar. "Apa kek—setidaknya kau kan bisa tanya dia dekat dengan siapa? Apa kau tidak ingin tahu? Kau kan mantan-nya."

Sai mengangkat bahu dengan lagak tak peduli. "Ino mau dekat dengan siapa pun tidak ada hubungannya denganku."

"Oh, baiklah. Terserah kau saja." Naruto menghela napas dramatis seraya melambaikan kedua tangan di udara. Menyerah. "Aku cuma mau memberitahu kalau Ino sekarang sedang dekat dengan teman klub jurnalmu, si kolektor serangga. Kuharap kau tidak kaget kalau nanti menemukan mereka berduaan di ruang jurnal atau apa."

"Belum tentu begitu, Naruto," sergah Sakura, menghela napas. "Dia—"

"Kolektor serangga?" Sai menyelanya. Ekspresinya terkejut. "Maksudmu Aburame? Shino Aburame?"

"Yep!"

Selama beberapa saat Sai tampak tidak yakin harus berkomentar apa. Ia terkejut, jelas. Hampir satu tahun mengenal Shino Aburame, Sai tak pernah melihat ketua klub jurnalnya itu dekat dengan para gadis kecuali anggota jurnal. Sikapnya yang kaku dan kurang bersahabat, ditambah kegemarannya pada serangga—yang menurut sebagian orang menjijikkan—membuat Shino menjadi cowok paling tidak populer di kalangan para gadis. Membayangkannya memiliki kedekatan khusus dengan salah satu dari mereka, apalagi sampai pacaran rasanya agak ... sulit dibayangkan. Terlebih gadis ini adalah Ino Yamanaka, gadis paling populer di Konoha High. Mereka berdua nyaris tak pernah bertegur sapa. Rasanya hanya sekali Sai melihat mereka saling bicara—saat prom.

Mungkin saat itu mereka mulai dekat, Sai membatin. Atau bahkan sebelum itu.

Sai belum lupa ada periode di beberapa bulan yang lalu, saat Shino bersikap tidak ramah dan mengabaikannya ketika sedang berkumpul dengan anak-anak jurnal. Saat itu Sai tidak begitu peduli karena pikirannya disibukkan oleh hal lain. Saat itu, gosip mengenai hubungan gelap-nya dengan Ino tengah menyebar di seantero sekolah.

Jangan bilang saat itu Shino sudah menaruh hati pada Ino. Ya, ampun ...

"Hei—kenapa malah bengong?"

Suara Naruto membuyarkan lamunannya. Sai mengerjapkan mata, mendapati kedua sahabatnya tengah mengawasinya dengan raut penasaran.

"Jangan bilang kau kepikiran!" tuding Naruto menggodanya.

"Tidak," sahut Sai cepat. "Sudah kubilang, kan, itu tidak ada hubungannya denganku." Ia mengambil mangkuk ramennya dan buru-buru meninggalkan dapur sebelum ditodong pertanyaan menyudutkan lain.

"Menurutku Sai masih ada hati pada Ino," tandas Naruto setelah Sai pergi.

"Yang benar saja. Bagaimana dengan Sasame?" Sakura menukas—meskipun sejujurnya ia juga masih penasaran. Diraihnya mangkuk ramen miliknya. "Sudah, ah. Sebaiknya kita makan sekarang, setelah itu kita bisa keluar."

Naruto langsung sumringah. "Yeah! Pantai! Aku datang, Nona-Nona!"

.

.

Selesai makan siang, keempat sahabat itu berencana untuk pergi ke pantai. Ini adalah kali kedua mereka pergi ke sana semenjak tiba di Kiri. Dua hari lalu mereka sempat berkeliling Kiri menggunakan sepeda sewaan bersama Inari. Remaja lelaki itu menjadi semacam pemandu wisata bagi mereka, menunjukkan tempat-tempat menarik di kota pinggir laut itu. Inari tidak hanya menunjukkan tempat-tempat yang ada di buku panduan wisata Kiri milik Sakura, tetapi juga yang tak disebutkan di sana. Seperti sebuah kedai yang tampak tak menarik dari luar di salah satu jalan sempit yang berkelok-kelok, tapi menjual roti isi paling besar dan paling enak yang pernah mereka makan seumur hidup! Merek membeli sebuah roti untuk berlima dan itu cukup untuk membuat mereka kenyang sebelum mengakhiri petualangan hari itu di pantai Kiri yang berpasir putih.

Sebelum pergi, Naruto tidak lupa mengoleskan lotion tabir surya banyak-banyak di tubuh dan wajahnya. Ia jelas tak ingin kejadian memalukan dua hari yang lalu terulang. Saat itu Naruto dengan sok menolak menggunakan lotion untuk melindungi kulitnya dari matahari. Ia menganggap menggunakan lotion hanya dilakukan oleh anak perempuan dan menertawakan Sai dan Sasuke saat mereka menggunakannya.

Saat itu mereka melewatkan waktu hampir sepanjang hari di bawah sinar matahari, dan setibanya di pantai, Naruto memutuskan untuk berjemur, dengan kacamata hitam milik Sai bertengger di hidungnya. Entah karena terlalu lelah setelah berkeliling atau apa, Naruto tertidur. Dan ketika ia terbangun, kulitnya sudah memerah terbakar matahari. Seakan rasa panas di kulitnya belum cukup buruk, ketika Naruto menanggalkan kacamata hitamnya, kulit di sekeliling matanya lebih terang dibanding di tempat lain!

Bisa dibayangkan betapa konyolnya. Sepanjang sore hari itu Naruto menjadi bulan-bulanan ketiga sahabatnya. Haku sampai menyemburkan makanannya saat Sasuke dengan sengaja melepas kacamata hitam Naruto saat makan malam di rumah dan tak mau keluar dari kamarnya sepanjang sisa makan malam karena tak bisa berhenti tertawa. Hari berikutnya Naruto masih harus menggunakan kacamata hitam saat keluar rumah untuk menutupi perbedaan warna kulit yang menonjol. Tapi sekarang keadaannya sudah jauh lebih baik. Setidaknya ia sudah tak memerlukan kacamata hitam lagi setelah Sakura membantunya menyamarkan perbedaan warna kulit itu dengan sedikit krim dan bedak.

Dan seperti dua hari yang lalu, kali ini pun mereka menyewa sepeda di tempat penyewaan sepeda dan skuter yang letaknya tak jauh dari kediaman Paman Kaiza. Yah, apa boleh buat. Karena jarak dari tempat mereka ke pantai cukup jauh dan akan memakan banyak waktu jika berjalan kaki.

Tapi sebelum itu, Sakura punya rencana lain.

"Stop! Stop!"

Sakura menepuk-nepuk bahu Naruto yang memboncengnya dengan sepeda ketika mereka melewati sebuah teater kecil. Gadis berambut merah muda itu segera melompat turun begitu Naruto menghentikan laju sepedanya. Tak jauh dari mereka, Sasuke yang membonceng Sai juga ikut berhenti.

"Hei—mau ke mana, Sakura?" seru Naruto dari atas sepedanya.

"Sebentar. Aku mau beli tiket," sahut Sakura ceria, berlari-lari kecil menuju pintu masuk teater.

"Eeh—tiket apa?" tanya Naruto, tapi sosok Sakura sudah keburu masuk ke dalam gedung yang tampak tua itu. Naruto bertukar pandang dengan Sai dan Sasuke yang sama bingungnya.

Di dalam, Sakura dengan antusias segera menuju loket penjualan tiket. Tidak ada banyak orang di sana—hanya sepasang turis backpacker yang sedang membeli tiket dan seorang cowok berpenampilan nerdy yang duduk di belakang box loket bercat merah. Tempat itu juga sedikit kotor dengan botol-botol bekas air mineral dan bungkus kosong snack menumpuk tempat sampah di sudut. Maklum saja, tempat itu bukanlah teater besar yang dikelola dengan biaya besar dan tenaga profesional. Hanya sebuah teater kecil yang dijalankan para seniman bermodal kecil, yang membuat pertunjukan teater, opera, drama musikal atau konser dengan biaya rendah.

Meski begitu, tempat ini cukup terkenal di Kiri. Terutama di kalangan penyuka seni pertunjukkan, tapi tak memiliki banyak uang untuk pergi ke Mist Opera House. Dan walau digarap dengan biaya seadanya, pertunjukkannya sama sekali tidak jelek. Menurut gosip yang beredar, banyak aktris dan aktor terkenal bermula dari teater kecil itu.

Dan tempat itu juga sudah menjadi incaran Sakura semenjak hari pertama ia melihatnya. Terlebih setelah ia mendapatkan selebaran pertunjukan musikal yang dibagi-bagikan hari sebelumnya—selebaran yang sama juga terlihat ditempel di bagian depan loket penjualan tiket.

"Selamat datang!" sambut cowok penjual tiket saat tiba giliran Sakura mendekat ke loket. Cowok itu berpostur kecil, memakai kacamata dan rambutnya yang berwarna biru-kelabu berpotongan pendek berdiri. Ia nyengir, memamerkan deretan gigi putih dengan taring sedikit menonjol. "Mau beli tiket untuk pertunjukan besok malam?" tanyanya ramah.

"Iya," sahut Sakura, tersenyum.

"Untuk berapa orang?"

"Um ..." dengan bodohnya Sakura baru menyadari ia belum bertanya pada ketiga temannya.

"Empat orang," suara datar milik Sasuke menyahut.

Sakura menoleh, mendapati Sasuke, Sai dan Naruto sudah berdiri di belakangnya. Sasuke menatapnya dengan ekspresi kesal di wajahnya, sementara Naruto tengah sibuk memandang berkeliling. Di sebelahnya, Sai tampak serius membaca selebaran yang tertempel di bagian depan loket.

"'Beauty And The Beast' ..." Sai bergumam pelan. Ekspresinya tertarik.

"Bodoh. Kenapa tidak bilang dulu kalau mau nonton teater, eh?" desis Sasuke, mengetuk ujung topi baseball putih yang bertengger di kepala Sakura, membuat bagian depan topi yang agak kebesaran itu melorot menutupi mata pemakainya.

Sakura memanyunkan bibirnya. "Sori deh," selorohnya sambil memperbaiki letak topinya. "Aku tidak tahu kalian bertiga mau nonton teater juga."

"Maksudmu kau mau pergi sendiri?" tukas Sasuke.

Sakura melempar pandang sebal pada Sasuke sebelum berpaling pada Naruto. "Naruto mau nonton juga?"

Mata biru Naruto menelusuri keterangan harga tiket yang tercantum di bagian kaca loket yang sudah agak buram. Cengiran menghiasi wajahnya. "Yeah! Tentu saja aku mau!"—jelas ia tidak keberatan dengan harga tiket masuknya.

"Sai?"

"Kalau kalian nonton, kenapa tidak?" sahut Sai ringan. "Kelihatannya ini pertunjukan yang menarik. Musikal?"

"Benar. Drama musikal klasik khusus untuk liburan musim panas," cowok di balik loketmenjawab riang. "Jadi tiket untuk empat orang?" Ia lalu mulai menghitung lembaran tiket sesuai jumlah yang dipesan.

Seseorang baru saja keluar dari ruangan lain di bagian dalam teater. "Oi, Chojiro, kau dipanggil bos, katanya ada masalah dengan properti. Biar aku yang ganti jaga loketnya," kata sosok cowok berpostur tegap itu. Sama seperti temannya yang menjaga loket, ia juga berambut biru terang, hanya saja potongannya lebih panjang hingga mencapai bahu. Matanya berwarna ungu dan wajahnya tampak sangat familier.

Kedua mata Sakura membulat. "Suigetsu?" gadis itu refleks menyeletuk, menyebut nama orang pertama yang melintas dalam kepalanya.

Cowok yang mirip Suigetsu itu berhenti di dekat loket dan menoleh ke arah Sakura. Selama beberapa saat sepasang mata ungunya menatap gadis berambut merah muda di depannya tersebut, ekspresinya bingung. "Maaf?"

Ternyata bukan Suigetsu. Hanya wajahnya saja yang mirip—sangat mirip. "Er—sori. Kukira kau seseorang yang kukenal," ucap Sakura canggung. Mana mungkin Suigetsu ada di sini, rutuknya dalam hati.

Sejenak cowok itu menatap Sakura dengan kedua mata disipitkan, kemudian berpindah pada ketiga remaja yang lain. Sebuah pemahaman melintas di wajahnya. "Kalian teman-teman Suigetsu?" tanyanya lambat-lambat. "Dari Konoha? Konoha High School?"

Sakura baru akan menjawab ketika Naruto menyeletuk mendahuluinya, "Oh—kau kenal Suigetsu?"

Cowok itu tersenyum lebar, memamerkan deretan giginya yang putih, membuat kemiripannya dengan Suigetsu semakin tak terbantahkan. "Ah, pantas. Ternyata temannya," kekehnya seraya mendekat, mengulurkan tangan, "Aku Mangetsu Hozuki. Suigetsu Hozuki itu adikku. Kebetulan sekali, ya? Salam kenal, teman-temannya Sui dari Konoha ..."

Itu menjelaskan mengapa mereka begitu mirip, Sakura membatin. Kemiripan mereka sebelas dua belas dengan Itachi dan Sasuke. Tersenyum sopan, gadis itu membalas uluran tangan Mangetsu, sebelum cowok itu berganti menjabat tangan tiga temannya yang lain.

"Aku satu klub dengan Sui di teater," beritahu Sakura antusias.

"Benarkah?" Mangetsu mengarahkan mata ungunya kembali pada Sakura, tampak tertarik. "Anak teater juga? Wow ... Kuharap kau—kalian—bakal menyukai pertunjukkan kami. Serahkan ini padaku, Buddy," tambahnya pada Chojiro.

"Empat tiket," beritahu Chojiro sebelum buru-buru keluar dari loket dan berlari ke arah pintu tempat Mangetsu tadi keluar.

"Baiklah." Mangetsu menempati loket yang baru ditinggalkan temannya. Diraihnya lembaran tiket yang sudah dihitung Chojiro di atas meja, menyorongkannya melewati lubang di bagian depan loket. "Ini tiketnya. Kalian bayar setengahnya saja. Diskon khusus dariku untuk teman-teman Sui dari Konoha."

"Wah, benarkah?" Sakura yang tengah membuka tas untuk mengambil dompetnya langsung berseri-seri. "Trims!"

"Tapi jangan bilang-bilang bosku," imbuh Mangetsu sambil mengedipkan mata. Cowok itu jelas-jelas tidak menyadari salah seorang teman Sakura melotot tak senang ke arahnya.

"Wow, kita beruntung!" seru Naruto senang ketika mereka melangkah keluar dari teater. "Kakaknya Suigetsu baik banget memberi kita diskon."

"Kakekku memberi kita tiket gratis ke Mist Opera House," ujar Sai mengingatkan, seolah tidak mau kalah. Kakeknya, Danzou Shimura, memang telah berbaik hati memesan tempat khusus untuk cucu dan teman-temannya menonton pertunjukan debut salah satu ballerina lulusan KAA di sana.

"Kalau begitu dobel beruntung," timpal Sakura riang seraya mengamit lengan Sai. "Sampaikan terimakasih pada kakekmu nanti, ya?"

Sai membalas senyumnya. "Akan kusampaikan."

"Kalau begitu sebaiknya kita cepat," kata Naruto, bergegas menuju tempat di mana sepeda mereka diparkirkan. "Keburu kita tidak kebagian tempat melihat sunset."

"Naruto, sekarang kan masih siang!" Sakura tertawa. Tapi gadis itu tetap bergegas menyusulnya, menyeret Sai bersamanya.

Sementara itu, di belakang mereka Sasuke mengawasi dengan ekspresi tak puas di wajahnya. Kedua tangannya tenggelam di saku celana pendeknya. Bibirnya terkatup rapat. Sasuke sepenuhnya mengerti segala hal mengenai teater dan seni pertunjukkan itu bisa membuat Sakura sangat antusias sampai lupa diri—itu adalah gairahnya. Tetapi ia tidak suka membayangkan jika ada seseorang yang memanfaatkan itu untuk bersikap sok akrab dengan gadis itu—dan Sasuke jelas tidak menyukai cara kakak Suigetsu tadi memandang Sakura-nya.

.

.

Suasana pantai di siang hari itu tampaknya diluar harapan mereka. Tempat itu begitu penuh, jauh lebih penuh dibandingkan saat pertama kali mereka mendatangi tempat itu—padahal hanya berjarak dua hari saja. Dari mana datangnya orang-orang ini?

Sejauh mata memandang, mereka hanya melihat manusia-manusia belaka. Orang-orang berlalu-lalang. Payung-payung besar dipasang berderet di sana-sini, menaungi para turis yang asyik berjemur di atas handuk yang dihamparkan di pasir putih sepanjang bibir pantai. Anak-anak kecil berlarian, memainkan bola plastik berwarna-warni cerah. Nyaris tak tersisa tempat lagi sekedar untuk mengistirahatkan bokong yang pegal setelah menempuh perjalanan jauh dengan sepeda. Bahkan di air pun penuh dengan orang yang berenang.

"Ya, ampun ..." Sakura mendesah.

"Ckckck ... Tempat ini jadi semacam lautan manusia," komentar Naruto. Mata birunya mengikuti sepasang gadis cantik berbikini seksi yang baru saja lewat.

"Sekarang bagaimana?" Sakura menoleh pada dua temannya yang lain.

Sai melompat turun dari boncengan Sasuke, memandang berkeliling dengan tampang bingung. "Mungkin sebaiknya kita cari tempat untuk duduk dulu?" usulnya tak yakin.

"Apa kau melihat tempat untuk duduk di sini?" gerutu Sasuke, menghela napas keras. "Sudah kubilang pergi ke pantai siang hari di hari libur bukan ide bagus."

"Kau tidak pernah bilang begitu!" tuding Naruto panas.

Sasuke hendak membuka mulutnya untuk membalas, tapi kemudian mengurungkan niatnya. Ia sedang malas berdebat, apalagi dengan cuaca sepanas ini—rasa-rasanya semakin hari suhu udara semakin panas saja—Seraya menyeka keringat yang mengalir dari bagian bawah topinya, Sasuke berkata pada Sakura, "Kau bawa peta kan, Sakura?"

"Bawa," sahut Sakura, seraya buru-buru merogoh ke dalam tas selempangnya, mengeluarkan peta pariwisata Kiri miliknya. "Kau punya rencana?"

Sasuke tak langsung menjawab. Diambilnya peta yang diulurkan Sakura dan membukanya. Matanya menjelajah ke titik-titik yang menunjukkan wilayah pantai tempat mereka berada sekarang. Penasaran, Sakura bergegas mendekati Sasuke, ikut melongok ke peta.

"Seharusnya di sekitar sini ada tempat lain yang layak dikunjungi," gumam Sasuke.

"Aah," Sakura mengangguk-anggukkan kepala, mulai mengerti maksud Sasuke. Ia lantas ikut mencari, menelusuri sepanjang pantai itu, tapi mereka tidak menemukan apa-apa. Kalau mereka mau ke tempat lain, mereka tak punya pilihan lain kecuali kembali ke kota.

"Bagaimana kalau kita telusuri saja pantai ini?" usul Naruto sederhana. "Maksudku, pasti ada suatu tempat yang lebih sedikit orangnya."

"Kurasa usul Naruto masuk akal juga," timpal Sai setuju.

"Memangnya kita mau menelusuri sampai mana?" sahut Sasuke tanpa mengalihkan pandangannya dari peta.

"Sasuke benar," Sakura menghela napas, "Sejauh mata memandang tempat ini penuh orang. Dan Yamato bilang sebaiknya kita tidak main terlalu jauh."

Tepat saat itu, sebuah van hitam berhenti di sisi jalan di dekat mereka, disusul sebuah suara berat yang rasanya tak asing, "Hei, bukankah itu adiknya Itachi dan teman-temannya?"

Keempat remaja itu refleks menoleh ke arah van. Itu adalah van yang sama yang digunakan Yamato untuk menjemput mereka di pelabuhan beberapa hari yang lalu. Seorang pria berotot dan berambut biru melongok dari jendela di sisi kemudi, menyeringai lebar memamerkan sederet giginya yang runcing. Kacamata hitam bertengger di pangkal hidungnya.

"Kisame," Sasuke menggerutu, sementara ketiga temannya yang lain ber-hai-ria menyapa Kisame. Ia tak sendirian. Seorang pria berperawakan lebih kecil dan berambut merah duduk di bangku penumpang—Sasori. Pria itu mengangguk kecil, membalas sapaan mereka.

"Kalian sedang apa di sini?" tanya Kisame.

"Jalan-jalan. Memangnya sedang apa lagi?" sahut Sasuke judes, dan langsung mendapat sikutan keras di rusuknya dari Sakura yang berdiri di dekatnya. Namun sepertinya Kisame tidak begitu keberatan dengan sikap tak sopan Sasuke. Pria itu malah terkekeh dan mengatakan sesuatu seperti 'dia sama sekali tidak berubah, ya?' pada temannya.

"Kami sedang mencari tempat untuk istirahat sebentar," ujar Sakura menambahi, disertai cengiran minta maaf. "Di sini sepertinya ... um ... agak penuh."

"Memang seperti ini suasananya kalau hari libur," komentar Kisame sambil menyapukan pandanganya ke arah pantai yang ramai.

"Seharusnya kalian datang lebih sore," imbuh Sasori yang diangguki Kisame. "Kalau sore pengunjungnya lebih sedikit. Kalian juga bisa sekalian melihat sunset."

"Tadinya juga mau begitu," kata Sai. "Tapi salah satu teman kami tidak sabar ingin melihat gadis-gadis berbikini," tambahnya polos.

Yang merasa langsung memprotes keras. "Aku tidak begitu!" Naruto menyembur. Wajahnya merah padam.

"Aku tidak bilang kalau itu kau, Naruto," sahut Sai kalem.

"Memangnya kakak berdua mau ke mana?" tanya Sakura pada Kisame, menyela pembicaraan tak bermutu Sai dan Naruto.

"Kami mau ke penangkaran hiu," Kisame menjawab. "Letaknya tak jauh dari sini, di balik batu karang itu." Ia menunjuk batu karang besar—entah seberapa jauhnya—di ujung pantai. "Tempatnya keren, kalau kalian tertarik melihat hiu," tambahnya berpromosi.

Mendengar itu, Sakura tiba-tiba teringat sesuatu. Gadis itu menoleh cepat pada Sasuke. "Hei, bukankah Inari pernah menyebutkan soal penangkaran hiu itu waktu dia menemani kita jalan-jalan? Kau ingat?"

"Hn," sahut Sasuke enggan. Tentu saja ia ingat. Dan ia juga tahu tentang tempat itu bahkan sebelum Inari menyebutkannya. Dari siapa lagi sumbernya kalau bukan dari Itachi? Kakak laki-lakinya itu sempat berpromosi tempat-tempat bagus di Kiri padanya sebelum ia berangkat liburan, dan itu termasuk penangkaran hiu yang disebutkan Kisame. Tapi kalau bisa, Sasuke tidak ingin mengunjungi tempat-tempat di mana ia kemungkinan bisa bertemu teman-teman Itachi. Sasuke tidak terlalu menyukai mereka—terutama Deidara.

"Kalian berminat ikut? Sekalian menunggu sore," tawar Kisame.

"Kelihatannya asyik. Kenapa tidak?" seru Naruto bersemangat. Sai hanya mengangguk—ia selalu ikut sama ke mana ketiga sahabatnya ingin pergi.

"Sasuke?" Sakura melempar tatapan penuh harap pada Sasuke.

Melihat antusiasme di wajah gadis itu membuat Sasuke tak dapat berkutik lagi. Ditambah Naruto dan Sai, ia jelas kalah suara. Pada akhirnya Sasuke hanya bisa menghela napas, mengalah. "Hn."

Saat berikutnya, keempat sahabat itu sudah duduk berdesakan di dalam van. Kedua sepeda sewaan mereka diikatkan dengan rantai di bagian belakang kendaraan tersebut.

.

.

Perjalanan menuju tempat penangkaran hiu yang disebutkan Kisame ternyata lebih jauh dari yang diperkirakan. Di tengah perjalanan Sakura mulai mencemaskan bagaimana caranya nanti mereka pulang. Terlalu jauh jika hanya mengandalkan sepeda sewaan.

"Bukannya tadi kau sendiri yang ingin pergi?" desis Sasuke tanpa menyembunyikan kejengkelannya.

"Tapi aku kan tidak tahu akan sejauh ini," Sakura balas berbisik. Ekspresinya was-was.

"Haah ... menyusahkan saja."

Naruto meninju lutut Sasuke melewati Sakura yang duduk di sebelahnya. "Jangan bicara seperti itu pada Sakura. Kau ini," desisnya galak. Ia lalu mengalihakan pandangannya pada Sakura, memberinya senyum menenangkan. "Jangan dengarkan orang menyebalkan ini, Sakura. Nanti aku akan memboncengimu pulang. Jarak bukan masalah, oke? Kakiku kuat kok."

Sakura meringis, membalas senyum Naruto, kendati ia masih was-was. "Trims, Naruto."

Sasuke melempar pandang ke luar jendela, cemberut.

"Jangan khawatir soal itu," pria berambut merah yang duduk di sebelah Kisame menoleh ke bangku belakang. "Teman kami di penangkaran ada yang mau ke kota. Kalian bisa ikut mereka."

Mendengar itu, Sakura baru bisa bernapas lega. "Ah, kita tertolong. Trims, Kak ..."

"Bukan masalah," sahut Kisame, melirik ke belakang melalui kaca spion. Seringai lebar menghiasi wajahnya. "Lagipula, Itachi sudah meminta tolong pada kami agar menjaga adiknya selama di Kiri. Jadi kau tidak perlu khawatir, Sasuke. Kalau ada apa-apa, jangan sungkan mengontak Akatsuki."

"Aku bukan anak kecil yang perlu dijaga-jaga," gerutu Sasuke tidak senang.

Di sebelah Kisame, Sasori mendengus. Pria itu berpaling ke arah jendela dengan kepalan tangan di depan mulutnya untuk menyembunyikan tawa. "Itachi ... dia itu benar-benar ..." gumamnya sambil geleng-geleng kepala. Sasuke membelalak padanya.

Tak ada yang bicara lagi setelah itu, sampai akhirnya van yang mereka tumpangi berhenti di depan sebuah bangunan. Jika dilihat sekilas, tidak ada yang istimewa dengan bangunan yang tampak seperti pondok pinggir pantai itu. Tidak ada plang besar atau semacamnya, hanya sebuah papan dengan logo hiu di bagian depan bertuliskan 'Let Sharks Live' dan alamat website organisasi konservasi predator laut tersebut. Dan tak tampak banyak pengunjung di sana seperti kebanyakan tempat wisata di hari libur.

"Selamat datang di tempat Penangkaran Hiu Kiri!" seru Kisame bak seorang pemandu wisata setelah mereka semua turun dari van.

Dan seperti seorang wisatawan sejati, Sai sudah siap dengan kamera di tangan, memandang berkeliling dengan tertarik. "Tempatnya sedikit terpencil, ya?" komentarnya polos.

"Yah," Kisame terkekeh, "Yang penting kan bukan ramai atau sepinya, tapi bagaimana kami menyelamatkan makhluk-makhluk malang itu dari perburuan liar yang dilakukan orang-orang tak bertanggung jawab." Ekspresinya berubah lebih serius saat menyebutkan kalimat terakhir, seolah itu adalah masalah yang pelik. Tapi sepertinya sih memang begitu, jika dilihat dari tulisan besar di bagian depan kaus biru tua tanpa lengan yang ia kenakan—'I enjoy watching sharks swim in the ocean, not in my soup!'

"Yeah, makhluk malang yang bisa kapan saja mencaplokmu di lautan kalau kau lengah," gurau Naruto dalam bisikan pelan pada Sakura.

"Naruto ..." Sakura menegurnya dalam desisan seraya melempar senyum lemah pada Kisame, berharap pria itu tak tersinggung atas ucapan usil kawannya. Tetapi tampaknya Kisame tidak keberatan. Ia hanya menyeringai.

"Bagaimana kalau kita masuk saja?"

Kisame lalu mengajak mereka memasuki pondok menyusul Sasori yang sudah masuk lebih dulu—Sasori praktis langsung berlari ke dalam pondok begitu mereka sampai tadi—Udara sejuk dari air conditioner langsung menyapu mereka begitu melangkahkan kaki memasuki bagian dalam pondok yang terlihat lebih seperti sebuah kantor kecil yang berantakan.

"Oi, Yura, apa si Hidan sudah kembali?" Kisame bertanya pada seorang pria berjanggut kambing yang tengah sibuk dengan laptop-nya di salah satu meja.

Pria bernama Yura itu mengangkat kepalanya. "Belum. Mungkin sebentar lagi," sahutnya, mengambil cangkir berisi kopi yang sudah dingin dari samping laptop. Matanya kemudian menyapu keempat remaja yang masuk bersama Kisame.

"Mereka adik temanku—pengunjung kita hari ini," kata Kisame sebelum Yura sempat bertanya.

"Ah," pria itu mengangguk pada keempat remaja itu. "Selamat datang," tambahnya datar, lalu menyeruput kopinya.

"Kemana Sasori?" tanya Kisame pada Yura yang sudah kembali dengan kesibukannya semula.

"Sepertinya di toilet," sahut Yura tanpa mengalihkan pandangan dari pekerjaannya.

Kisame mendengus. "Kurasa dia kebanyakan makan mochi. Dasar orang Suna."

"Hei, aku juga orang Suna!" sembur Yura tersinggung.

Kisame mengabaikan protes Yura. "Sudah siap dengan turnya?" Ia berpaling pada keempat pengunjungnya. Tanpa menunggu jawaban, diajaknya mereka menuju bagian belakang pondok.

Suara deburan ombak yang memecah di batu karang dan hembusan angin laut segera menyambut ketika mereka melangkah ke dek di belakang pondok. Pemandangan laut yang biru membentang di depan mereka sejauh mata memandang. Terdapat semacam dermaga kayu panjang yang mengarah ke laut, dengan sebuah speed boat tertambat di sana. Sementara di sisi lain dermaga terdapat semacam kolam air laut yang luas, dibatasi semacam tembok yang terbuat dari susunan batu karang. Di dalamnya mereka bisa melihat hiu-hiu kecil berenang ke sana kemari.

"Wah ..." Sakura melompat ke pinggir kolam, berlutut supaya bisa melihat lebih jelas. Selama ini ia hanya pernah melihat hiu di televisi, belum pernah melihat predator itu dari dekat. Pengalaman pertamanya ini membuatnya antusias. "Mereka kecil."

"Tentu saja. Mereka bayi-bayi hiu," kata Sasuke, membungkuk di samping Sakura. "Mereka dibiakkan di sini untuk kemudian dilepaskan di lautan."

Sakura menoleh, tersenyum. "Kau sepertinya tahu banyak, ya?"

Sasuke mendengus kecil. "Semua orang juga tahu. Itu mengapa mereka menyebutnya konservasi, penangkaran."

"Selain itu, kami juga menyelamatkan hiu-hiu malang yang tak sengaja tersangkut jaring nelayan," tambah Kisame.

"Hei, lihat itu! Ada pari juga!" seru Naruto, menunjuk pari kecil yang melintas di dekat mereka.

Sai dengan lihai mengambil gambar ikan-ikan itu dengan kameranya. "Kalau boleh tahu, hiu jenis apa saja yang ada di sini?" tanyanya kemudian.

"Ada beberapa," jawab Kisame, dan saat berikutnya ia mulai menyebutkan semua jenis yang ada di sana, menunjuknya satu-persatu, menjelaskan perbedaannya dan segala hal yang ia ketahui tentang hewan-hewan tersebut. "...tapi yang ada di sini hanya beberapa saja. Sisanya ada di penangkaran lain. Kalian bisa lihat pulau kecil itu?" Pria itu menunjuk ke tengah laut.

Keempat remaja itu menoleh ke arah yang ditunjuk Kisame. Di kejauhan, mereka dapat melihat sebuah pulau kecil.

"Daerah ini adalah wilayah konservasi hiu," pria berambut biru itu menjelaskan. "Kalau kalian ingin melihat-lihat ke pulau itu, aku bisa mengajak kalian."

"Tidak, terimakasih. Kami baik-baik saja di sini," sahut Sai cepat, dan langsung mendapat tatapan heran dari Kisame. Wajah Sai sedikit merona ketika ia membuang pandang ke arah lain.

"Dia tidak biasa naik kapal. Kemarin saja dia mabuk laut," jelas Naruto, nyengir—Sai pura-pura tidak dengar dan menyibukkan diri memotret pemandangan.

Kisame mengangguk mengerti, meskipun tampaknya ia agak kecewa. Jelas ia ingin sekali memamerkan segala hal mengenai hiu-hiu itu.

"Jadi, apa di sana ada yang ... kau tahu—" Naruto membuat gerakan mencaplok dengan kedua tangannya diiringi suara geraman, "—seperti di film Jaws atau Deep Blue Sea."

Kisame terkekeh. "Kau terlalu banyak nonton film. Yang sebenarnya tidak begitu. Mereka binatang yang sangat anggun," ujarnya dengan nada penuh pemujaan. "Sayangnya, banyak orang-orang tak bertanggung jawab yang memburu mereka hanya untuk kepentingan materi. Kalian tahu kan, sirip mereka berharga sangat mahal." Ia mengakhiri dengan helaan napas berat.

"Dan butuh adu urat yang lumayan sengit supaya Kakuzu tidak ikut-ikutan," tambah seseorang yang baru datang dari arah pondok—Sasori. Ekspresinya geli.

"Jangan ingatkan aku," dengus Kisame jengkel.

Sasuke, yang sudah tahu persis seperti apa tabiat orang yang mereka bicarakan, memutar bola matanya. Anggota kelompok kakaknya itu memang tidak ada yang beres—meskipun tidak semuanya.

Kakuzu yang sedang mereka bicarakan contohnya, adalah orang paling mata duitan yang pernah Sasuke kenal seumur hidup. Orang menyebalkan—tak kalah menyebalkan dari Deidara, si tukang cari masalah. Ada lagi Hidan, cowok aneh yang bergabung di sekte yang tidak jelas, punya hobi menyeramkan melukai diri sendiri. Lalu ada Zetsu, si cowok nyentrik yang mengecat rambutnya menjadi hijau. Warna matanya yang berbeda membuatnya tampak menyeramkan, dan katanya ia juga punya kepribadian ganda. Kemudian ada Obito—mereka memanggilnya 'Tobi'—yang masih ada hubungan keluarga dengannya. Tak ada kata lain yang lebih tepat untuk menggambarkan orang itu kecuali ... aneh.

Sasori, mungkin terlihat lebih normal. Ia adalah seniman jenius, seorang pengajar di universitas dan sebagainya. Tapi kegemarannya terhadap boneka membuatnya agak tidak normal. Sasori selalu berkata setiap boneka yang ia ciptakan memiliki jiwa sendiri dan itu sempat memengaruhi Sasuke—dulu. Saat ia berulangtahun yang kesepuluh, Sasori pernah memberinya sebuah boneka kayu yang memiliki rupa sangat mirip dengannya. Boneka itu membuatnya ketakutan setengah mati, sampai akhirnya Mikoto melakukan sesuatu yang paling bijaksana: membuangnya. Sampai sekarang Itachi kadang-kadang menggunakan kejadian memalukan itu untuk menggodanya. Itulah sebabnya Sasuke tidak bisa benar-benar menyukai Sasori.

Barangkali kelompok Itachi yang benar-benar bisa Sasuke tolelir hanya Kisame, Pein dan Konan.

"Sasuke!" panggil Sakura, mengalihkan perhatiannya.

Sasuke menoleh dan pipinya langsung bertabrakan dengan ujung telunjuk Sakura. Pada saat yang bersamaan, terdengar suara jepretan kamera Sai yang terarah padanya. Sai tertawa kecil melihat hasil fotonya dari layar kamera kemudian.

"Manis," komentarnya.

"Ha. Lucu," cibir Sasuke sebal, menggosok-gosok pipinya, berusaha tidak melirik ke arah Sakura yang mengikik geli.

"Hei, hei, hei, kalian! Foto-foto kok tidak mengajak aku!" protes Naruto.

Si pirang bermata biru itu langsung melompat menyela di antara Sasuke dan Sakura. Kedua lengannya merangkul bahu mereka, bersiap berpose. Sakura mengangkat sebelah tangannya, membuat tanda V sambil nyengir manis. Sasuke memasang tampang datar.

Terkekeh, Sai kembali mengangkat kameranya.

'Klik!'

"Kyaaa!"

"Whoa!"

Teriakan kaget Naruto dan Sakura memecah di antara suara debur ombak, disusul suara ceburan keras. Tanpa aba-aba, Sasuke dengan isengnya sengaja mendorongkan tubuhnya ke arah kedua sahabatnya. Sakura yang berjongkok di tepi kolam berhasil berpengangan pada papan kayu di bawahnya, tetapi Naruto yang posisinya membungkuk tidak seberuntung itu. Segera saja Naruto kehilangan keseimbangan dan terjungkal ke dalam kolam berisi bayi-bayi hiu.

"Kyaa—NARUTO!" Sakura memekik. "Sasuke, apa-apaan sih?!" Gadis itu mendelik galak ke arah Sasuke yang hanya menyeringai.

"Naruto, kau tidak apa-apa?" Sai berlutut di tepi kolam, tampak cemas sekaligus geli.

Naruto megap-megap, menyemburkan air ke segala jurusan. Seluruh tubuhnya basah kuyup. "SASUKE!" raungnya marah.

"Apa?" sahut Sasuke tanpa rasa bersalah.

"AWAS KAU! AKAN KUBA—AAARGH! ADA YANG LEWAT DI KAKIKU!" Naruto berteriak, menendang-nendang air dengan panik. Wajahnya berubah ungu. "KELUARKAN AKU DARI SINI! AAA—AKU AKAN DIMAKAN!"

"Tenanglah, jangan panik!" seru Kisame yang sedari tadi menonton dengan wajah geli. Dengan tenang ia menghampiri tepi kolam. "Berenang saja seperti biasa. Mereka tidak akan memakanmu."

Tapi tampaknya Naruto tidak mendengarkan mereka. Ia tetap mendompak dengan hebohnya dan berteriak-teriak—sama sekali tak terpikir untuk berenang ke tepi. Padahal jaraknya sangat dekat.

"Kalian berdua, lakukan sesuatu!" pekik Sakura pada kedua sahabatnya.

Namun sebelum Sai maupun Sasuke sempat melakukan sesuatu—kelihatannya mereka malah tidak berniat melakukan sesuatu. Sai terlalu bingung dan Sasuke tampak menikmati menonton Naruto yang ketakutan—Kisame sudah mendahului mereka. Dengan cepat ia membuka kaus dan celana jinsnya, lalu melompat ke dalam air. Lengan Kisame yang berotot menyambar bagian belakang kaus Naruto dan dengan mudah menariknya ke pinggir seperti menarik boneka. Di tepi kolam, Sasori menjulurkan tangannya, membantu Naruto keluar dari air.

"Kau baik-baik saja?" tanya Sasori ketika Naruto terguling ke dek, menahan tawa.

Naruto terbatuk-batuk. "Hidungku—kemasukan air," engahnya.

"Naruto!" Sakura bergegas menghampirinya, tampak sangat cemas. "Tidak apa-apa, kan?"

"He-eh ..." sahut Naruto tak jelas.

"Kakimu masih utuh?"

Suara Sasuke seakan menyengat Naruto. Serta-merta ia melompat berdiri, jarinya menuding. Air asin menetes-netes dari pakaiannya yang basah kuyup. "KAU—KAU MAU MEMBUNUHKU, YA?!" raungnya penuh dendam.

"Hn," Sasuke menyahut cuek. Kedua tangan tenggelam di saku celana pendeknya. Seringai menghiasi wajahnya.

"SASUKE!"

Naruto barangkali akan menerkam Sasuke kalau saja Sakura tidak menghalanginya. "Sudahlah, Naruto. Tak perlu buang-buang tenaga berkelahi dengannya,"—Sakura mengerling Sasuke jengkel, lalu kembali memandang Naruto. "Yang penting kan kau tidak kenapa-kenapa."

"Padahal berenang dengan hiu-hiu itu menyenangkan lho, kalau kau bisa lebih tenang," komentar Kisame setelah keluar dari kolam dan mengambil pakaiannya.

Naruto memelototi Sasuke beberapa saat lagi, sebelum akhirnya membuang napas keras. "Yeah ..." Sambil menggerutu, Naruto mulai merogoh ke dalam saku celananya. Ia mengumpat saat mendapati dompet beserta isi-isinya basah kuyup. Juga ponselnya. "Aaaargh! Ponselku ..." ratapnya, memandangi alat komunikasinya yang mati dan menetes-neteskan air.

Seringai di wajah Sasuke memudar, digantikan ekspresi samar rasa bersalah ketika ia bergegas menghampiri Naruto. Disambarnya ponsel yang mati tersebut dari tangan Naruto dan dengan cekatan mulai membuka casing, batrai dan apa pun yang bisa dibukanya—untuk mencegah konslet lebih parah—Naruto menatap ngeri ponsel kesayangannya yang tengah dipereteli.

"Mau kau apakan ponselku?" Naruto hendak merebut kembali ponselnya, tapi ditepis Sasuke.

"Diam!" Dengan sapu tangan yang dipinjamnya dari Sai, Sasuke mulai mengeringkan badan ponsel dengan hati-hati.

"Lebih baik dikeringkan dengan pengering rambut atau kipas angin," usul Sasori cepat, mengawasi Sasuke yang berusaha menyelamatkan ponsel malang itu. "Kalau tidak salah ada hair dryer di kamar mandi. Coba kau tanya Yura."

Tanpa membuang-buang waktu dan mengucapkan apa-apa lagi, Sasuke bergegas kembali ke pondok dengan membawa ponsel Naruto. Sang pemilik ponsel mengekor di belakangnya sambil menyumpah-nyumpah.

"Sasuke, kalau ponselku sampai rusak, aku akan membunuhmu!"

"Adik Itachi itu, kukira dia orang yang serius," Kisame berkata dengan diiringi tawa kecil serak saat kedua remaja itu sudah menghilang di dalam pondok. "Ternyata bisa bergurau juga."

Sasori menanggapi dengan dengusan kecil. "Selera humornya buruk."

"Yeah," Sai terkekeh, "Sekalinya dia bergurau, bencana terjadi. Bukan begitu, Sakura?"

Sakura berpaling dari pondok tempat Sasuke dan Naruto baru saja menghilang, menghela napas. Tampaknya gadis itu tidak benar-benar mendengarkan apa yang dikatakan Sai. "Kuharap ponsel Naruto tidak rusak. Bagaimana nanti kalau dia mau menghubungi ayahnya?"

Perhatian mereka kemudian teralih oleh kedatangan sebuah motor boat lain yang baru saja merapat. Seorang pria berambut kelabu melompat turun untuk menambatkan kapal di dermaga. Pria itu mengenakan celana pendek dan kemeja hawai yang kancingnya dibiarkan terbuka, memamerkan dada dan perutnya yang berotot. Seorang pria lain yang bepostur lebih kecil turun setelah mesin kapal mati, menyeringai lebar pada semua orang yang ada di sana.

Sakura yang langsung mengenali sosok pria berambut pirang panjang itu refleks merapat ke belakang Sai.

"Halo," sapa Deidara sok ceria. "Wah wah wah, coba lihat ini. Kita kedatangan pengunjung dari Konoha. Teman-teman si Bocah Tengik."

"Hai," balas Sai dengan senyum kalem. "Bocah Tengik yang kau maksud itu punya nama, kalau kau belum tahu. Namanya Sasuke Uchiha."

"Yah, terserah," Deidara mengibaskan tangannya dengan sok, mengabaikan kata-kata Sai. Lalu perhatiannya tertuju pada Sakura. Senyum nakal mengembang di bibirnya. "Dan Nona Pink manis, kita kemarin belum sempat mengobrol, kan?"

"Jangan ganggu dia, Deidara," tegur Kisame jemu. "Itachi bilang jangan mengganggu adik dan teman-temannya."

"Cih. Itachi. Si gondrong sialan sok ngatur itu," cibir Deidara, seolah tidak menyadari kalau dirinya juga gondrong. "Kenapa aku harus mendengarkan kata-katanya?"

"Karena kalau tidak, Kisame bakal mematahkan tulang-tulangmu dan mengumpankan pada hiu putih kesayangannya," timpal pria berambut kelabu. Mata magenta-nya berkilat-kilat, menimbulkan kesan kejam yang tak dapat dijelaskan. "Kau tahu Kisame, kan? Jongos Itachi paling setia. Dia sudah seperti kerbau yang dicucuk hidungnya kalau disuruh-suruh si Uchiha brengsek itu."

Wajah Kisame langsung merah padam. Ekspresinya seakan sudah gatal ingin membenamkan tinjunya ke wajah sengak pria bernama Hidan itu. Namun sesaat kemudian air mukanya berubah licik. "Tunggu saja sampai Pein tahu kau menyimpan foto Konan di dompetmu. Aku jadi ingin tahu seperti apa reaksinya."

Mendengar ancaman itu, giliran Hidan yang merah padam. Sudut bibir Sasori berkedut melihat ekspresi Hidan, sementara Deidara sudah terbahak. Dari semua anggota geng Akatsuki, Pein adalah orang yang paling Hidan takuti. Walaupun dari luar terlihat sangar, tapi ia tak pernah berani mencari gara-gara dengan ketua tak resmi mereka itu. Termasuk saat dirinya jatuh hati pada Konan, kekasih sang ketua, Hidan berusaha menutupinya rapat-rapat—meski ujung-ujungnya ketahuan juga saat ia tertangkap basah oleh Kisame tengah memandangi foto Konan yang disimpannya di balik dompet.

"Kalau kau sampai kau buka mulut soal itu ..." desis Hidan penuh ancaman. "Aku akan—"

"Akan apa?" tantang Kisame, menyeringai. "Pein pasti akan menanganimu terlebih dulu sebelum kau sempat menyentuhku. Kita semua tahu bagaimana posesifnya dia."

Hidan menggeram. Setelah melempar pandangan marah terakhir pada Kisame yang tampak puas, Hidan ngeloyor pergi, diiringi tawa mengejek Deidara.

"Menurutmu apa kisah cinta segitiga dramatis Pein-Konan-Itachi dulu bakal terulang lagi?" gelak Deidara. "Aku tidak sabar melihat Pein menendang bokong Hidan seperti dia menendang bokong Itachi dulu. Ha! Pasti seru!"

"Pein tidak akan menendang bokong siapa-siapa. Memangnya dia sepertimu yang masih seperti remaja labil?" komentar Sasori tajam, dengan sukses melenyapkan tawa Deidara. Pria berambut merah itu merogoh saku celananya, mengeluarkan satu set kunci dan menjejalkannya ke tangan temannya yang berisik itu. "Kunci galeri. Malam ini aku akan bermalam di tempat Kankurou. Jangan macam-macam dengan koleksiku!"

Saat berikutnya Deidara mulai menyemburkan kata-kata bernada memprotes sekali lagi pada Sasori. Sakura mendesah bosan, mengerling Sai. "Kurasa sebaiknya kita ke dalam saja."

"Yeah," sahut Sai setuju.

.

.

Matahari sudah lebih condong ke arah Barat ketika akhirnya Sakura dan ketiga sahabatnya kembali ke pantai tempat mereka bertemu dengan Sasori dan Kisame. Rupanya yang dikatakan Sasori memang benar, pantai lebih lengang di sore hari. Deretan para turis yang berjemur sudah jauh berkurang dan kini mereka lebih leluasa memandang debur ombak yang memecah di tepi pantai.

"Thanks tumpangannya, Kak," ucap Sakura kaku setelah Deidara membantu mereka menurunkan sepeda dari bagian belakang van.

"Apa sih yang tidak untuk gadis manis sepertimu?" sahut Deidara, menyunggingkan senyum menggoda.

Sakura meringis, merasa agak jengah dengan perhatian yang ditunjukkan secara terang-terangan oleh pria itu terhadapnya—padahal mereka kan baru bertemu beberapa hari.

"Hei, kalian bertiga harus menjaga Sakura baik-baik, ya," Deidara beralih pada ketiga sahabat Sakura. "Jangan sampai ada orang iseng yang berbuat macam-macam padanya."

"Yang kau maksud dengan orang iseng yang berbuat macam-macam itu kau sendiri, kan?" balas Naruto sengit. Tampaknya—seperti Sasuke—ia juga tidak terlalu menyukai sikap sok kenal sok dekat Deidara pada sahabat perempuan mereka. Ditambah lagi suasana hatinya yang belum sepenuhnya membaik sejak insiden di kolam hiu sebelumnya.

Sakura memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan cengiran. Sai tersenyum, sementara sudut bibir Sasuke berkedut menahan seringai. Deidara tampak kesal. Ia baru saja hendak membuka mulut untuk membalas, tapi Hidan menyelanya dengan tak sabar dari dalam van,

"Oi, Deidara-chan, menurunkan sepeda saja lama sekali!"

"Berisik! Aku sudah selesai!" Deidara menukas, seraya membanting pintu belakang van menutup. Dan tanpa mengatakan apa-apa lagi, ia mengitari mobil itu dan melompat masuk ke dalam van. Mereka bisa mendengar Deidara dan Hidan saling memaki di dalam van sebelum kendaraan itu meluncur pergi.

"Kalo melihat seperti apa Kak Itachi, rasanya sulit dipercaya dia bisa bergaul dengan orang-orang macam mereka," komentar Naruto, masih memandangi bagian belakang van Akatsuki yang semakin menjauh. "Kau bilang mereka satu geng, kan?" Ia menoleh pada Sasuke.

"Hn," Sasuke menggerutu, "Tapi tidak semuanya begitu."

"Yeah." Naruto mengangguk. "Sejauh ini aku lumayan suka Kisame dan cowok yang rambutnya merah—yang saudaranya Gaara. Siapa namanya tadi?"

"Sasori."

"Yeah ..." Naruto kemudian terdiam, menatap Sasuke.

Sasuke menatapnya balik, dahinya berkerut. "Apa?"

"Aku kan sedang marah padamu!" teriak Naruto sewot sambil menuding Sasuke. "Ngapain kau bicara padaku?!"

"Kau duluan yang mengajakku bicara!" sergah Sasuke jengkel.

"Kalau begitu jangan bicara lagi!" Naruto membuang muka, lalu berjalan ke area parkir sepeda untuk memarkirkan sepedanya. Rupanya Naruto tidak main-main dengan ucapannya kalau ia tidak akan bicara pada Sasuke sampai Sasuke mempertanggungjawabkan perbuatannya pada ponsel kesayangannya.

"Tch!" Sasuke mendecih, mengikuti Naruto membawa sepedanya ke area parkir tanpa mengatakan apa pun lagi.

"Oh, ya ampun ..." Sakura memandang Sasuke dan Naruto yang berlagak saling mendiamkan dengan tatapan tak percaya.

"Lucu, ya? Seperti anak kecil." Sai terkekeh.

"Yang benar saja." Sakura memutar bola matanya, ekspresinya geli. "Naruto tidak akan tahan lama-lama tidak bicara dengan Sasuke. Lihat saja," imbuhnya, nyengir.

Sementara Sasuke dan Naruto memakirkan sepeda sewaan mereka, Sakura dan Sai beranjak menuju hamparan pasir putih di tepi pantai. Sakura melepaskan sandalnya dan berlari ke bibir pantai, tertawa riang ketika kakinya tersapu ombak kecil yang memecah di tepian.

Sejenak Sai hanya mengawasi gadis itu asyik bermain air dari pinggir pantai. Selama ini Sai tidak pernah benar-benar menganggap Sakura cukup cantik—mungkin manis, tapi hanya di saat-saat tertentu dimana Sakura berdandan—tapi kali ini gadis itu terlihat berbeda. Entah itu karena pengaruh permainan cahaya matahari atau karena hal lain yang membuatnya tampak memesona, yang jelas untuk beberapa saat Sai tak bisa memalingkan pandangannya. Terutama ketika topi baseball yang sedari tadi menutupi kepalanya lepas tertiup angin.

Gadis itu memekik, melompat menangkap topinya sebelum terjatuh ke air. Angin menerbangkan rambut merah mudanya yang pendek, membuatnya berantakan. Tetapi Sakura hanya menyapunya asal saja ke belakang dengan jemari, sebelum kembali berlompatan riang ketika ombak kecil bergelung melewati kakinya. Wajahnya yang penuh tawa merona kemerahan, mata hijaunya berbinar-binar.

Tak hanya itu, Sakura kali ini mengenakan celana jins pendek dan kemeja putih tanpa lengan, mengekspos keindahan kaki dan lengannya. Kulitnya yang sedikit kecokelatan terbakar matahari musim panas tampak berkilauan terpecik air laut.

Sai tak dapat menahan senyumnya. Siapa yang menyangka Sakura yang di matanya selalu tampak terlalu biasa itu bisa terlihat begitu ... seksi? Tangannya refleks meraih kamera miliknya untuk mengabadikan pemandangan langka di depannya.

Gerakan Sakura serta-merta berhenti ketika mendengar suara jepretan kamera Sai. Gadis itu menoleh, dahinya berkerut. "Kau sedang apa?"

"Memotret," sahut Sai sederhana sambil mengambil gambar Sakura sekali lagi—kali ini dengan pose bengong.

Seolah baru tersadar, Sakura berteriak memprotes karena Sai memotretnya diam-diam.

"Memangnya kenapa? Bukankah kau juga memotret kami diam-diam saat kami tidur?" Sai mengangkat bahunya dengan lagak tak peduli.

Sakura meringis, tak tahu harus berkata apa untuk membalas. Setidaknya yang dilakukan Sai bukanlah memotretnya saat sedang tidur—karena pose tidurnya pasti bakal sangat memalukan untuk diabadikan—Gadis itu kembali menjebloskan topinya ke kepala dan berlari menghampiri sahabatnya. Tangannya terjulur hendak meraih kamera dari tangan Sai, tapi cowok itu lebih cepat darinya. Sai menjauhkan kameranya dari jangkauan gadis itu, sementara tangannya yang bebas mengambil topi dari kepalanya.

"Hei!"

"Kau lebih enak dilihat tanpa topi, Sakura." Tersenyum, Sai memasang topi Sakura ke kepalanya sendiri dengan posisi terbalik, membuatnya tampak seperti tukang potret keliling.

"Jadi menurutmu selama ini aku tidak enak dilihat?" Sakura pura-pura cemberut.

"Hmm ... bagaimana, ya?" Sai tertawa, dan segera mendapat serangan cubitan gemas bertubi-tubi dari Sakura. "Aduduh, sakit—aw! Iya, iya, kau enak dilihat—" Sai berusaha menghindar, tapi Sakura terus mengejarnya sambil cekikikan. "Aduh—ampun, Sakura. Kalau Sasuke melihat kita begini, dia bisa salah paham lho—AW!"

"SAI! Apaan, sih!" seru Sakura dengan wajah menghangat. Entah mengapa akhir-akhir ini setiap kali Sai menggodanya soal Sasuke, gadis itu merasa agak salah tingkah. Padahal sebelumnya biasa saja.

"Salah paham apa?"

Rupanya tanpa mereka sadari, Sasuke dan Naruto sudah ada di sana. Sakura langsung berhenti mencubiti Sai, nyengir salah tingkah. Di sebelahnya, Sai tersenyum penuh arti, tapi ia tak mengatakan apa pun. Sasuke mengawasi mereka dengan mata menyipit curiga.

"Aaah—lagi-lagi kalian foto-foto tanpa mengajakku!" seru Naruto, menunjuk kamera Sai. Ia jelas tidak menyadari suasana yang mendadak canggung itu.

"Apa, sih? Sai cuma lagi memotret pemandangan, kok!" kata Sakura setelah mengatasi kecanggungannya. "Iya kan, Sai?"

"Yah ..." Sai mengedarkan pandang berkeliling. Semburat oranye yang cantik sudah menghiasi langit Kiri, pertanda matahari akan segera turun ke peraduannya. Permukaan air laut tampak berkilau keemasan di kejauhan. "Pantai di sore hari bukankah sangat indah?"

"Dan sangat cocok untuk berfoto," sambung Naruto ceria. "Ayo, kita bikin dokumentasi."

.

.

"Kau tidak ingin bergabung dengan mereka?" Sai mendudukkan diri dengan nyaman di atas pasir, mengerling Sasuke yang duduk di sebelahnya.

"Nah," Sasuke menggumamkan jawaban singkat. Mata gelapnya masih mengawasi Sakura dan Naruto yang tengah bermain air di tepi pantai. Mereka tampak sangat gembira, tetapi suasa hati Sasuke saat itu sedang tidak seriang itu. Mungkin karena masih merasa bersalah atas insiden Naruto, entahlah ... Yang jelas sejak mereka mulai berfoto tadi, ia lebih memilih menyingkir dulu.

"Sepertinya hari ini bukan hari yang baik untukmu, ya?" Sai terkekeh kecil. "Untungnya mereka punya pengering pakaian, jadi Naruto tak perlu berkeliaran dengan pakaian basah."

Sasuke tidak menjawab, hanya menghela napas pelan seraya menyandarkan punggung pada batang pohon kelapa di belakangnya. Ia memejamkan mata sejenak, membiarkan angin laut menerpa wajahnya, merilekskan pikirannya.

"Ponsel Naruto sudah bisa nyala?" tanya Sai lagi.

"Nope."

Sai ikut-ikutan menghela napas. "Yamato pasti tahu tempat memperbaiki ponsel di sini."

"Hn."

Sai menatap Sasuke lama. "Ada sesuatu yang mengganggumu, Sasuke?"

Sasuke mengambil waktu beberapa saat memandangi Sakura yang sedang tertawa-tawa sebelum menjawab, "Tidak juga."

Sai tampak tidak terlalu yakin dengan jawaban Sasuke, tapi ia tidak mendesaknya. Kalau Sasuke merasa perlu bicara, ia pasti akan bicara.

Langit semakin merah. Matahari yang tampak seperti bulatan oranye di langit kini sudah menyentuh cakrawala. Indah sekali. Sai tentu saja tak ingin melewatkan momen itu. Ia segera mengabadikannya. Tepat saat itu, Sakura dan Naruto yang sudah puas bermain air, bergabung dengan mereka—Naruto duduk di tempat yang paling jauh dari Sasuke.

"Kenapa tidak pakai kamera saja?" tanya Naruto heran saat melihat Sai malah menggunakan kamera ponselnya alih-alih kamera profesional miliknya.

"Aku mau mengirimkannya pada Sasame," Sai menjawab kalem. "Malam ini dia dan band-nya Shikamaru sudah mulai manggung. Aku ingin memberinya semangat."

"Wah, itu manis sekali," komentar Sakura, tersenyum tulus.

"Ciee ... yang punya pacar sih beda, ya? Walaupun jauh tapi tetap perhatian jalan terus. Ibaratnya, jauh di mata dekat di hati," seloroh Naruto. Mata birunya berkilat jahil. "Tapi apa tidak merasa aneh? Maksudku, pacar dan mantan pacarmu sekarang berada di band yang sama."

"Naruto!" Sakura melirik gusar pada Naruto. "Usil banget, sih!"

"Memangnya kenapa? Aku kan cuma tanya," kata Naruto, memasang tampang polos.

Tetapi tampaknya Sai tidak keberatan. Malah bisa dibilang, ia tidak peduli. Alih-alih menggubris kata-kata Naruto, ia lebih memilih menyibukkan diri mengetik pesan untuk kekasihnya di Konoha.

.

.

Untuk kesekian kalinya Ino Yamanaka menghela napas frustasi. Dipalingkannya sejenak perhatiannya pada ponsel miliknya yang sedari tadi ia otak-atik, berusaha menjernihkan pikiran. Setelah berbicara pada Sakura tadi siang, Ino memutuskan untuk mengikuti saran sahabatnya tersebut untuk menghubungi Shino Aburame. Tapi rupanya sekarang ada masalah lain. Setelah mendapatkan nomor ponsel cowok itu dari Shiho, Ino tidak tahu harus memulai dari mana.

Tadinya gadis itu berniat langsung menelepon, tetapi di tengah jalan ia berubah pikiran. Ino menjadi sangat gugup ketika mendengar suara Shino ketika menjawab teleponnya. Otaknya seperti macet dan kata-kata yang sudah tersusun di dalam kepalanya buyar begitu saja. Tak ingin terdengar tolol di telepon, Ino memutuskan untuk mengirim pesan saja. Tapi bahkan untuk mengetik sebuah pesan pun rasanya sangat sulit.

Entah sudah berapa kali Ino mengetik pesan, kemudian menghapusnya lagi karena tidak yakin dengan apa yang ia tulis di sana. Dari mana sebaiknya ia harus memulai? Apakah ia harus berbasa-basi dulu? Atau langsung saja meminta maaf? Seumur hidupnya, Ino tak pernah merasa sesulit ini hanya untuk mengetik sebuah pesan pada seorang cowok!

"... Ino?"

Apa yang sebaiknya kutulis? Ya, ampun ...

Sebuah tepukan di lengannya segera membuyarkan lamunan Ino. Gadis itu menoleh cepat dan mendapati Shiho dan Sasame, bahkan Shikamaru yang duduk di bangku depan, tengah menatap ke arahnya. Saat itu ia bersama para personel band-nya tengah dalam perjalanan menuju cafe tempat mereka akan manggung nanti malam menggunakan van milik keluarga Nara. Shikamaru duduk di depan bersama sepupunya yang menyupir, para gadis duduk di bangku tengah, sementara Chouji, Zaku dan seorang lagi sepupu Shikamaru yang menjadi manager peralatan berjejalan di bangku belakang.

Ino mengerjap. "Eh—ada apa?"

"Kita sedang membicarakan soal manggung minggu depan, Ino," kata Shiho sabar. "Karena jadwal manggung dua hari dan lokasi kelabnya yang cukup jauh—sudah di luar wilayah Konoha, aku baru saja mengusulkan pada Shikamaru bagaimana kalau kita bermalam saja? Kupikir, kalau bolak-balik akan terlalu melelahkan. Lagipula kita bisa sekalian jalan-jalan barang sehari dua hari. Aku juga sudah mencari informasi tentang penginapan tak jauh dari tempat kita manggung. Di sana ada tempat yang cukup bagus dan tidak terlalu mahal. Jadi, ehm ... bagaimana menurutmu? Hanya tinggal kau saja yang belum mengemukakan pendapat," gadis berkacamata itu mengakhiri penjelasan panjang lebarnya dengan nada resmi—barangkali bawaan anggota organisasi sekolah yang doyan rapat. Entahlah.

"Yah ..." Ino mengangkat bahu, tersenyum. "Sepertinya bagus. Aku ikut yang lain saja."

"Kalau begitu sudah diputuskan!" Shiho tampak gembira. Dan saat berikutnya ia sudah memaparkan semua rencananya dengan menggebu-gebu pada Shikamaru.

Ino yang tidak sedang berminat mendengarkan, berpaling ke luar jendela sambil bertopang dagu. Suasana khas Konoha di malam hari sudah mulai terasa, kendati langit belum sepenuhnya gelap. Lampu-lampu jalan sudah dinyalakan, begitu pula dengan lampu di balik etalase toko dan gedung apartemen yang mereka lewati. Tapi Ino sama sekali tidak memerhatikan itu semua. Pikirannya kembali berkelana pada kegiatannya semula—memikirkan apa yang sebaiknya ia tulis untuk Shino.

"Sepertinya kau sedang memikirkan sesuatu."

Lagi-lagi sebuah suara mengusiknya. Kali ini datang dari gadis berambut oranye panjang yang duduk di sebelahnya, Sasame. Ino lantas berpaling dari jendela dan menoleh, mendapati Sasame tengah melirik ke ponsel di tangannya. Layarnya menampakkan kolom pesan yang masih kosong, dengan nama Shino Aburame tertera di sana. Ino buru-buru menutupinya dengan tangan.

Sasame tersenyum penuh arti. "Cowok, ya?" tebaknya dengan suara rendah, seakan apa yang ia katakan adalah sebuah rahasia besar.

Ino merasakan wajahnya menghangat, tetapi gadis itu berusaha terlihat tak terlalu peduli. Ia hanya merespon dengan gendikan bahu.

"Tidak apa-apa kok kalau kau memikirkan cowok. Itu kan bukan hal yang aneh. Jadi tak perlu malu," kata Sasame.

"Aku tidak malu," bantah Ino dalam gerutuan, tanpa menyadari bahwa bantahannya itu berarti dirinya mengakui sedang memikirkan cowok.

Sasame tertawa kecil. Kelihatannya gadis itu gembira sekali sampai wajahnya merona. Ino menatapnya keheranan.

"Kenapa kau kelihatannya senang sekali?"

"Tentu saja aku senang," sahut Sasame riang, diiringi hela napas penuh kelegaan. "Selama ini aku sangat khawatir kalau Ino masih memikirkan Sai-ku. Tapi melihatmu kelihatannya sudah move on, aku jadi legaaa ... sekali."

Mendengar kata-kata Sasame, Ino tak dapat menahan diri mendengus tertawa. "Jadi kau merasa terancam denganku?"

Gadis bermata cokelat itu meringis malu. "Siapa sih yang tidak merasa terancam jika mantan dari cowoknya semenarik kau, Ino? Semua orang juga tahu kalau kau sangat populer di kalangan cowok-cowok."

Ino tercengang menatap gadis di sebelahnya itu, tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar. Tapi di saat yang sama itu juga menjelaskan semua sikap Sasame di depannya, mengapa gadis itu datang kerap membicarakan Sai di depannya dan seakan sengaja memperlihatkan kemesraan mereka setiap kali ada kesempatan. Barangkali ia bermaksud menyampaikan pesan tersirat pada Ino bahwa ia tak lagi memiliki kesempatan jika ia berniat merebut Sai atau semacamnya. Ha! Yang benar saja.

"Ya ampun, Sasame ..." Ino kehabisan kata-kata, dan selama beberapa saat ia hanya bisa tertawa. "Dengar. Aku dan Sai sudah selesai dan kami sekarang berjalan masing-masing. Sekarang dia sudah punya kau dan aku—yah, mengurusi urusanku sendiri. Seharusnya kalau kau percaya padanya, kau tidak perlu merasa terancam olehku atau siapa pun."

Sasame menghela napas, tampak agak bimbang. "Entahlah ..." ujarnya lambat-lambat sambil menatap Ino. "Mengingat masa lalu kalian berdua, Sai yang mau saja jadi—"

"Stop! Stop!" bentak Ino, memotong kata-kata Sasame. Ia sudah bisa menebak ke arah mana pembicaraan itu akan berlanjut jika tidak segera dihentikan, dan Ino tidak menyukainya. Sama sekali tidak. "Aku tidak mau membicarakan ini lagi, oke?" katanya tegas.

Sasame mengerjap kaget. Wajahnya memerah, ekspresinya tersinggung. "Baiklah. Maaf ..." ucapnya cemberut, kemudian kembali mengalihkan perhatiannya ke depan.

Sialan, rutuk Ino dalam hati. Pacar Sai ini benar-benar membuatnya mendapatkan sakit kepala. Sekarang ia malah sama sekali tak bisa berpikir. Dengan geram, dijejalkannya ponsel miliknya ke dalam tas. Nanti saja kalau suasana hatinya sudah membaik, Ino akan mencoba menulis pesan lagi.

Sementara itu di sampingnya, ponsel Sasame mendengungkan nada getar. Gadis itu cepat-cepat mengambil alat komunikasi tersebut dari dalam saku jaketnya, memekik girang saat mendapati nama kekasihnya, Sai, tertampang di layar. "Oh, Sai ... Manis banget, sih?"

Ino tak dapat menahan diri melirik ke arah ponsel dalam genggaman Sasame. Di layarnya, ia melihat foto pemandangan sunset di pantai—pasti di Kiri. Berderet kata-kata pesan tertera di bagian bawahnya. Ino tak sempat membacanya karena cukup panjang, tetapi sekilas ia bisa membaca tiga kata di akhir pesannya,

'I LOVE YOU'

Aneh, Ino membatin. Biasanya setiap kali ia menyaksikan kemesraan mantan kekasihnya itu dengan Sasame, ia selalu merasakan sentakan rasa cemburu di dasar perutnya. Tapi kali ini ... Ino tidak merasakan apa-apa.

.

.

Momen sunset yang indah telah berlalu, kini langit Kiri sudah sepenuhnya diselimuti beludru gelap yang dihiasi bulatan putih yang menggantung rendah. Sinarnya yang lembut meninggalkan jejak keperakan di atas permukaan laut. Pemandangan pantai di malam hari jelas tak kalah cantik dibanding siangnya. Ditambah udara yang terasa lebih sejuk, membuat para pengunjung pantai enggan beranjak.

Termasuk dua remaja lelaki yang kini masih betah duduk berselonjor di pasir putih. Menikmati hembusan angin laut, juga pemandangan indah yang tersaji di depan mereka. Dan dengan bonus gadis-gadis cantik yang sesekali melintas, Naruto dan Sai tampak sangat menikmati waktu mereka—setidaknya Naruto yang menikmati, sementara Sai lebih sibuk dengan ponsel miliknya. Apa lagi kalau bukan saling berkirim pesan dengan kekasihnya di Konoha?

Naruto mengerling Sai, menghela napas keras. "Tahu tidak? Sejak dulu aku sering membayangkan bisa melewatkan waktu seperti ini—duduk-duduk di tepi pantai, menikmati sunset bersama seorang gadis. Bukannya berduaan denganmu seperti ini! Haah ..."

Sai mendenguskan tawa kecil, lalu berkata tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel, "Maaf deh, kalau aku bukan seorang gadis seperti yang kau inginkan."

"Siapa yang bilang aku ingin kau jadi cewek, eh?" Naruto tergelak. "Kalaupun kau cewek, aku tidak akan mau denganmu."

Sai terkekeh-kekeh. Ia mengambil waktu menyelesaikan mengetik pesan, mengirimkannya pada Sasame, sebelum memusatkan perhatian sepenuhnya pada sahabatnya. "Jadi, apakah ada seseorang yang khusus yang sedang kau pikirkan sekarang, Naruto?"

Mendadak ditodong pertanyaan semacam itu membuat Naruto salah tingkah. "Hahaha ... K—Kenapa tiba-tiba tanya begitu?" Ia tertawa canggung.

Sai mengangkat bahu. "Aku cuma penasaran," sahutnya sederhana. "Maksudku, setelah Sakura, sepertinya kau tidak menunjukkan ketertarikan khusus pada gadis lain. Jujur saja aku sempat berpikir kalau kau ...ehm, tidak tertarik pada gadis-gadis karena trauma setelah ditolak Sakura."

"Eeh—sembarangan saja bicara," Naruto buru-buru membantah, menghindari mata Sai. "Aku tidak menunjukkannya bukan berarti aku tidak tertarik," tambahnya dalam gerutuan lemah.

"Kalau begitu memang ada seseorang," tandas Sai. Melihat air muka Naruto yang mendadak berubah malu-malu, ia bisa menebak jika pernyataannya memang tidak salah. Sebenarnya Sai sudah memiliki dugaan, namun sebelum ia sempat mengutarakannya, Naruto mendahuluinya,

"Menurutmu apa tidak apa-apa kita membiarkan Sasuke dan Sakura pergi berdua saja?" –jelas sekali Naruto berusaha mengubah topik.

Sai mengangkat kedua alisnya tinggi. "Bukankah kau tadi sendiri yang bilang biar mereka ada kesempatan berduaan?" –walaupun sebelumnya Naruto pakai acara sok mengusir Sasuke segala, karena alasan masih marah.

"Oh, iya, ya!" Naruto menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya yang tak gatal, cengengesan.

"Apa kau berubah pikiran? Mau menyusul mereka?"

"Tidak usah. Biarkan saja." Naruto mengibas-ibaskan tangannya. "Sepanjang liburan ini kan mereka selalu bersama kita. Kalau ada kita, kelihatannya Sasuke kurang leluasa."

Sai mengangguk-anggukkan kepala. "Kalau begitu, Sasuke punya rencana mengungkapkan perasaannya?"

"Aku tidak tahu," Naruto menggendikkan bahu, lalu menghela napas, "Dia jarang curhat soal perasaannya lagi. Sasuke itu kan orangnya pemalu. Tapi siapa yang tahu, kan?"

"Untuk ukuran orang yang sedang marah, kau sangat pengertian, Naruto," ujar Sai dengan senyum kecil.

Naruto terkekeh. "Sasuke itu, walaupun dia adalah orang paling menyebalkan nomor satu di alam semesta, dia adalah sahabat baikku. Sulit untuk benar-benar marah padanya, kau tahu?"

"Walaupun dia sudah merusak ponselmu?"

"Yah ... aku masih agak kesal soal ponsel itu, sih." Senyum di wajah Naruto melembut. "Tapi itu kan cuma ponsel. Sedangkan arti seorang sahabat itu lebih dari sebuah ponsel. Benar, kan? Lagipula kan ada kompensasinya!" Naruto merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah ponsel touchscreen berwarna hitam keluaran terbaru, yang sengaja dipinjamkan oleh Sasuke kepadanya sementara ponselnya ditangani. Cengiran jahil telah menggantikan senyumnya. Mata birunya berkilat-kilat melirik Sai. "Kapan lagi aku punya alasan yang sah membongkar isi ponsel Sasuke, eh? Biasanya mana mau si pelit itu mengizinkan kita menyentuh ponselnya. Haha! Nah, sekarang coba kita lihat apa yang dia simpan di dalam sini!"

.

.

"Sebenarnya kau tidak perlu mengantarku segala, Sasuke. Tokonya kan dekat," gadis berambut merah muda itu memecah keheningan sementara ia dan Sasuke berjalan menuju mini market 24 jam. Mata hijaunya melirik cowok berambut gelap yang berjalan di sebelahnya itu dengan sikap canggung.

"Kau ingat apa yang terjadi saat kami membiarkanmu berkeliaran sendirian di tempat yang asing begini, eh?" balas Sasuke tanpa memandangnya. Kedua tangannya tenggelam di saku celana.

Sakura memasang tampang cemberut saat diingatkan tentang kecerobohannya sehingga tersasar di hari pertama mereka di Kiri. Kalau diingat-ingat lagi, ia masih merasa malu. "Asal kau tahu saja ya, aku tidak sebodoh itu sehingga bisa tersasar karena pergi ke toko yang letaknya tidak lebih dari seratus meter!"

"Hn." Sasuke tidak menggubris protesnya.

Sebenarnya masalahnya bukan itu. Sakura sama sekali tidak keberatan ditemani jika saja ia tidak berniat membeli sesuatu-yang-hanya-digunakan-oleh-cewek. Jujur saja ia merasa canggung jika harus membeli benda tersebut bersama cowok, apalagi bersama Sasuke. Ini semua gara-gara Naruto!

Sakura mempercepat langkahnya mendahului Sasuke ketika mereka sudah tiba di depan toko yang dituju. Hembusan udara sejuk yang berasal dari pendingin ruangan segera menyambut mereka ketika Sakura mendorong pintu kaca itu membuka.

"Selamat datang!" sapa seorang cowok yang berjaga di belakang meja kasir dengan nada riang dibuat-buat seperti sudah disetel.

Sejenak Sakura termangu di depan pintu. Matanya mencari-cari di antara deretan rak dan mendapati benda yang dibutuhkannya ada di rak paling kiri di dekat kasir. Gadis itu segera melangkahkan kakinya cepat ke rak tersebut. Ia baru saja hendak membungkuk untuk mengambil varian yang biasa ia gunakan ketika dari sudut matanya, ia melihat Sasuke mengikuti di belakangnya. Alih-alih mengambil apa yang ia butuhkan, Sakura malah melengos melewati rak itu begitu saja dan berjalan mengitari lorong itu menuju rak makanan ringan.

Uuh ... malunya.

"Mau beli makanan saja pakai berputar-putar segala," Sakura bisa mendengar Sasuke bergumam di belakangnya saat ia sedang memilih-milih potato chips.

"Terserah aku, dong," sahut Sakura berusaha tampak tak peduli, sementara wajahnya merona merah. Sepertinya ia akan membeli tampon besok pagi saja sebelum para ketiga temannya bangun. Bibi Tsunami pasti tahu tempat yang menjual benda itu di dekat rumah. Ia akan bertanya padanya besok.

Sial ... Kenapa aku tidak membawa lebih banyak persediaan dari rumah?

Selama beberapa saat keduanya tak bersuara. Yang terdengar hanya alunan musik dari pengeras suara toko sementara mereka menyusuri lorong makanan kecil. Sesekali disela suara nyaring si cowok kasir yang menyambut pengunjung yang datang.

"Kau mau memakan itu semua?" tanya Sasuke kemudian, ketika melihat Sakura memeluk beberapa kantung keripik dan biskuit sekaligus.

Terkekeh, Sakura menjawab, "Tentu saja tidak. Ini untuk kita berempat. Kau tahu kan, Naruto sudah menghabiskan semua persediaan camilan kita."

"Kalau begitu kenapa tidak dia saja yang beli?" Sasuke tak dapat menahan diri menukas. Ada rasa tidak rela melihat Sakura yang membayari semua camilan yang dimakan Naruto.

"Tidak apa-apa," sahut Sakura dengan nada ringan, mengambil sebungkus keripik tortila—yang kemudian direbut oleh Sasuke dari tangannya dan dikembalikan ke tempatnya semula di rak. "Hei!" Sakura memprotes.

"Kau tidak membayari apa yang dimakan Naruto atau siapa pun," kata Sasuke tegas, mulai mengambili bungkusan-bungkusan lain dari pelukan gadis itu dan hanya menyisakan sebungkus keripik buah rendah kalori dan biskuit sayuran. "Kalau kau mau camilan, beli saja untuk dirimu sendiri."

"Tapi, kan—"

"Kurasa dua itu sudah cukup, kan?" tandas Sasuke dengan nada mengakhiri diskusi, sebelum berbalik menuju deretan rak minuman.

Sakura mendelik pada punggung cowok itu. Sasuke kadang-kadang memang suka seenaknya sendiri, seperti sekarang. Menyebalkan, tapi entah mengapa terasa manis. Sudut bibir Sakura meliuk membentuk seulas senyum kecil saat ia menunduk memandang dua bungkus camilan di tangannya—Sasuke sengaja menyisakan dua jenis camilan favoritnya.

"Dasar ..."

Dengan cengiran masih terpatri di wajahnya, Sakura mencomot sebungkus keripik kentang dari rak, sebelum bergegas menyusul Sasuke.

"Hei, Sasuke. Kau meminjamkan ponselmu pada Naruto, apa tidak apa-apa?" tanya Sakura, merendengi Sasuke. "Bagaimana kalau Kak Itachi atau orangtuamu menghubungimu? Nomormu kan jadi tidak aktif."

"Kak Itachi bukan orang bodoh. Kalau dia tidak bisa menghubungiku, dia pasti menghubungimu, atau Naruto, atau Sai," sahut Sasuke datar, mengambil sebotol air mineral ukuran sedang dari rak. "Dia itu seperti radar. Ke mana pun aku pergi, dia pasti bisa menemukanku." –Sasuke teringat saat dirinya minggat dari rumah setahun lalu. Itachi lah orang pertama yang berhasil menemukannya.

"Mungkin itu yang dinamakan ikatan batin. Kak Itachi bisa merasakan di mana adik kecil tersayangnya berada," Sakura tertawa kecil. "Aduh, manisnya ..."

"Siapa yang manis?" gerutu Sasuke. Semburat merah tipis muncul di pipinya.

Sakura mengikik. Sejak dulu ia selalu menganggap hubungan kakak-beradik Uchiha itu sangat manis. Walaupun Sasuke selalu bersikap judes dan tidak menyenangkan, tetapi tetap saja ia terlihat seperti anak kecil jika berhadapan dengan Itachi yang seringkali tak segan-segan menunjukkan rasa sayangnya.

"Ah, sayang sekali Kak Itachi tidak ikut kemari," desah Sakura, tersenyum.

Sasuke mengatupkan bibirnya. Ada secuil perasaan gusar yang mengusiknya setiap kali Sakura berbicara tentang Itachi. Sasuke tidak suka mendengar nada kagum dalam suara gadis itu. Kendati ia tahu Itachi sudah punya Hana, tapi tetap saja ia tidak bisa tenang. Sama tidak tenangnya jika ia melihat Sakura berdekatan dengan cowok lain. Seperti saat Rock Lee mengajaknya ke prom, atau hari ini, saat Deidara dan kakak Suigetsu bersikap sok akrab padanya. Sasuke bahkan merasakan kecemburuan tertentu terhadap Yamato. Sangat konyol, memang, namun Sasuke tak sanggup menahan diri.

Tapi masalahnya, akan terdengar sangat egois jika ia menginginkan Sakura hanya memandang dirinya saja. Sasuke sudah cukup belajar dari pengalaman bahwa sikap posesif sama sekali tidak membantu. Ditambah lagi fakta tentang statusnya sebagai sahabat Sakura dan tidak lebih dari itu. Sakura bebas dekat dan bergaul dengan siapa pun yang ia inginkan, Sasuke sama sekali tidak berhak untuk melarang. Kecuali—akhir-akhir ini Sasuke sering memikirkannya—jika ia mengambil resiko dengan mempertaruhkan persahabatan mereka dengan mengungkapkan perasaannya, meminta gadis itu menjadi kekasihnya secara resmi.

Baik Naruto maupun Sai sudah memberikan lampu hijau padanya, tetapi masalahnya Sasuke tidak tahu pasti seperti apa perasaan Sakura terhadapnya. Selain itu, ia juga belum sepenuhnya yakin bahwa luka hati gadis itu karena Neji sudah benar-benar sembuh untuk siap menjajaki hubungan yang lain—terkadang gadis itu masih terlihat gamang setiap kali nama cinta pertamanya itu disebut, kendati Sakura bersikeras sudah melupakannya—Bagaimana jika Sakura ternyata tidak menginginkan dirinya? Pernyataan perasaannya pasti akan mengubah persahabatan mereka selamanya. Hubungan mereka akan jadi aneh. Bukan tidak mungkin Sakura akan menghindarinya dan itu adalah hal terakhir yang Sasuke inginkan terjadi pada hubungannya dengan gadis itu.

Situasi seperti ini sangat membingungkan bagi Sasuke, juga menyakitkan. Rasanya seperti ditarik ke dua arah berlawanan oleh kekuatan yang sama-sama besar. Mana yang akan ia pilih: perasaannya, atau persahabatannya dengan Sakura?

"... suke?" Jentikan jari di depan wajah Sasuke serta-merta membuyarkan lamunannya, mengembalikannya ke dunia nyata. Ia tersentak mendapati kedua bola mata hijau cemerlang itu menatapnya heran. "Halo ... Bumi pada Sasuke! Ada di sini ada orang?"

"Hn." Sasuke menangkap sebelah tangan Sakura yang terlurur ke depan wajahnya, menurunkannya perlahan.

"Kau kenapa, sih, tiba-tiba bengong seperti itu?" tanya Sakura penasaran. Matanya menyipit penuh selidik. "Memikirkan sesuatu, ya?"

"Tidak ada," gerutu Sasuke, dengan berat hati melepaskan tangan Sakura dan berpaling.

"Sudah jelas begitu, masih mengelak," cibir Sakura, seraya mengambil sebotol minuman isotonik dari rak. "Jangan-jangan masih kepikiran ponsel Naruto, ya?" tebaknya, lalu tanpa menunggu jawaban Sasuke, gadis itu berkata dengan nada geli, "Salahmu juga sih, iseng. Bagaimana kalau tadi aku juga ikut tercebur? Seisi tasku pasti kacau balau. Apa kau mau mengganti semuanya?"

Sasuke menghela napas keras. "Berisik. Kau ini cerewet sekali," sahutnya kasar. Tiba-tiba saja ia merasa kesal pada dirinya sendiri.

Sakura menggembungkan pipinya, merengut menatap Sasuke. "Judes sekali, sih. Begitu saja marah. Lama-lama wajahmu itu dipenuhi keriput, lho, kalau marah-marah terus."

Sasuke tidak menggubrisnya, mengambil satu lagi—tidak, tapi dua botol air mineral lagi dari rak.

"Eeh—kau mau minum itu semua?" suara Sakura kembali berkicau nyaring—yang anehnya, Sasuke sama sekali tidak keberatan.

"Untuk Naruto dan Sai," gerutunya.

"Huh—tadi kau melarangku membelikan mereka, tapi kau sendiri—"

"Naruto pasti bakal ribut kalau tidak dibawakan apa-apa," sela Sasuke dengan nada malas. "Dari pada aku sakit telinga—"

"Wah, wah ... Kukira tadi siapa, ternyata kalian berdua."

Sebuah suara yang terdengar tak asing segera menghentikan kata-kata Sasuke. Cowok itu menoleh dengan terkejut ke ujung lorong tempat suara tersebut berasal dan mendapati sosok yang paling tidak ingin ia lihat sedang berdiri di sana. Di sampingnya, Sasuke bisa mendengar Sakura menarik napas.

"N—Neji?"

Cowok berambut cokelat panjang itu tersenyum hangat. "Selamat malam."

.

.

"Whoa ... banyak sekali fotonya Sakura di sini!"

Tergelak, Naruto dengan penuh semangat menggeser gambar demi gambar yang tersimpan di salah satu folder ponsel Sasuke. Rasanya sudah banyak sekali gambar yang sudah ia buka, tetapi gambar berikutnya masih terus bermunculan setiap kali jarinya menggeser, seakan tak ada habis-habisnya. Dan sebagian besar gambar-gambar itu menampilkan seorang gadis manis berambut merah muda dengan berbagai pose dan lokasi. Sedang serius belajar di kelas, berkutat dengan buku di perpustakaan, mengelap meja di Blocaf, bengong di bus, menyiram tanaman di halaman rumah, tertawa ngakak dengan Ino di depan loker, mengantre makanan di kantin, dan lain-lain, dan sebagainya—dan hampir semua gambar-gambar itu diambil secara diam-diam.

"Seperti stalker saja," komentar Sai yang ikut melihat di samping Naruto, menyeringai. "Ternyata Sasuke jago juga menangkap momen."

"Dan berbakat menjadi paparazzi," sambung Naruto sambil terkekeh-kekeh. "Maksudmu, kapan coba dia mengambil semua gambar ini? Kenapa kita sama sekali tak pernah menangkap basah dia?"

"Tapi itu cukup menjelaskan alasan mengapa Sasuke tidak pernah mengizinkan kita melihat isi ponselnya tanpa izin," kata Sai, setelah akhirnya mereka sampai di gambar terakhir—foto Itachi yang sedang masak di dapur, mengenakan celemek bunga-bunga.

"Yeah ..." Naruto tergelak lagi. "Bayangkan kalau Sakura sampai tahu."

Sai tertawa kecil membayangkan ekspresi Sakura jika tahu Sasuke diam-diam sering memotretnya. Jujur saja Sai tak dapat menebaknya. Mungkin gadis itu akan malu alih-alih marah. Sementara itu Naruto telah membuka aplikasi kamera di ponsel Sasuke dan mulai mengambil foto-foto narsis dirinya sendiri.

"Hati-hati, nanti Sasuke marah," kata Sai memperingatkan. Tampangnya geli menonton aksi Naruto.

"Biar saja. Biar lebih bervariasi," seloroh Naruto cuek, memasang pose sok imut dengan menggembungkan pipinya untuk dipotret. "Lagian satu-satunya fotoku di sini nggak keren banget." Maksudnya adalah foto yang diambil Sasuke saat Naruto tidur nyenyak di kelas Sejarah, dengan air liur membasahi buku catatannya. Eew.

Setelah puas berfoto-foto narsis dengan ponsel Sasuke, Naruto beralih mengambil gambar objek lain. Ia mengambil gambar Sai—tapi hanya sekali—lalu objek-objek di sekitar mereka. Mulai dari bulan, pasir, kaki, pohon kelapa, para turis, orang pacaran, gadis-gadis cantik yang kebetulan lewat ... sepertinya Naruto benar-benar berniat memenuhi memory ponsel Sasuke.

Sampai kemudian kamera terarah pada dua orang yang tengah mengobrol tak jauh dari mereka. Tadinya Naruto sama sekali tak memerhatikan mereka, sampai sekarang. Ia tidak mengenali sosok pria muda berbandana itu, tapi gadis yang sedang bersamanyalah yang menarik perhatiannya. Posisi gadis itu membelakanginya, meski begitu figurnya terlihat sangat familier. Tubuhnya yang tidak terlalu tinggi dibungkus dress sederhana sepanjang lutut yang dilapisi cardigan berwarna indigo. Rambut gelapnya yang panjang dikepang longgar di belakang kepalanya. Kulitnya putih ...

"Hei, Sai!" Naruto menyikut Sai tanpa mengalihkan matanya dari si gadis misterius. "Kau lihat cewek yang di sana, yang rambutnya dikepang?"

Sai memandang ke arah yang ditunjuk Naruto. Gadis yang dimaksud Naruto tampak tengah tertawa oleh apa pun yang dikatakan pria di sampingnya. "Ya—"

"Mirip seseorang yang kita kenal tidak, sih?"

Sai menyipitkan matanya untuk melihat lebih jelas. Sebuah nama melintas dalam benaknya ketika memandang sosok itu lebih saksama. Namun sebelum Sai mengatakan apa yang dipikirkannya, si gadis memilih saat itu untuk menoleh, sehingga wajahnya terlihat lebih jelas di bawah siraman cahaya lampu. Ternyata bukan hanya mirip, tapi itu memang Hinata Hyuuga.

"Eh—benar! Itu Hinata!" seru Naruto, mendadak melompat bangun. "OI, HINATA!" teriaknya, melambai-lambaikan tangannya dengan heboh.

Mendengar ada suara orang memanggil namanya, Hinata menolehkan kepalanya ke sana kemari, tampak kebingungan. Begitu juga dengan pria di sebelahnya.

"HINATA! DI SINI! SEBELAH SINI, OII!" Sekarang Naruto mulai melompat-lompat.

Alih-alih, Hinata, pria yang bersamanyalah yang menemukan Naruto lebih dulu. Pria itu nyengir, lalu menunjuk ke arah Naruto. Hinata menoleh ke arah yang ditunjuknya. Bahkan hanya dengan bantuan cahaya temaram sekali pun, rona di wajahnya terlihat jelas saat bertemu pandang dengan Naruto yang tersenyum lebar padanya.

"N—Naruto?"

.

.

Ino menarik napas dalam-dalam, berusaha memusatkan perhatiannya. Pikirannya terus saja melayang kemana-mana. Ia belum tenang sebelum berhasil mengirimkan pesan untuk Shino, tetapi Sasame yang memaksa berlatih lagu yang akan mereka untuk terakhir kalinya membuatnya kehabisan waktu. Sekarang tinggal beberapa menit lagi sebelum Shikamaru selesai bersiap-siap dan mereka naik ke panggung.

"Kau baik-baik saja, Ino?" suara Shiho mengalihkan perhatiannya. Gadis berkacamata itu memandangnya prihatin dari seberang meja tempatnya duduk di sudut cafe yang mulai ramai.

"Yah, aku baik saja," Ino memaksakan seulas senyum.

"Kau kelihatan ... nervous," kata Shiho, jelas tidak memercayai kata-kata Ino sebelumnya. Matanya sejenak terarah pada Sasame yang duduk di sebelah Ino. Gadis itu tampak jauh lebih santai, mendengarkan musik lewat earphone sambil bersenandung kecil.

"Aku tidak nervous," bantah Ino pelan, "...tidak ada hubungannya dengan manggung."

Shiho menatapnya beberapa saat lagi, kemudian mengangguk mengerti. Gadis itu lalu membungkuk dan meraih kantung plastik yang disimpannya di bawah bangkunya. Dikeluarkannya sebotol air mineral dan diulurkannya pada Ino.

"Jangan khawatir," kata Shiho dengan senyum penuh pengertian ketika Ino menerima botol yang diulurkannya.

Ino memandangnya ragu, tidak paham apa yang sedang dibicarakan manager baru band-nya itu. "Eh—makasih."

Shiho mengangguk lagi, kemudian beranjak untuk mengecek apakah panggung sudah siap. Sepeninggal Shiho, Ino mengedarkan pandang berkeliling. Cafe itu dipenuhi anak-anak muda belaka. Sebagian besar tampak tak lebih tua darinya—Ino mengenali beberapa wajah yang dikenalnya sebagai siswa Konoha High—dan sebagian yang lain tampak lebih tua, mungkin mahasiswa. Mereka duduk bergerombol atau berpasangan di meja-meja yang tersebar di depan panggung, mengobrol ribut sambil menikmati makanan dan minuman.

Yah, cafe itu memang salah satu tempat nongkrong anak muda yang lumayan terkenal di Konoha. Ino sendiri pernah mengajak Sakura menghabiskan waktu di sana di akhir pekan waktu mereka masih kelas satu, menonton band-band amatir manggung sambil cuci mata. Sebenarnya Ino sangat menyukai tempat itu, hanya saja kali ini ia tak dapat menikmati suasananya.

Tak lama kemudian, Shiho memanggil Ino dan Sasame untuk segera bersiap-siap di panggung. Sasame melepaskan earphone-nya, menjejalkannya ke dalam tas sebelum beranjak ke panggung. Ino mengikutinya.

Shikamaru dan yang lain sudah bersiap di tempat masing-masing ketika kedua gadis itu naik. Ino tidak benar-benar memerhatikan ketika mereka disambut tepukan riuh dan suitan dari para pengunjung cafe, dan menempati tempatnya di salah satu kursi tinggi di belakang tiang mikrofon.

Sekali lagi Ino menarik napas dalam-dalam, sementara di sebelahnya, Sasame sedang menyapa penonton dengan suaranya yang terdengar riang dan bersemangat. Seharusnya itu adalah tugas Ino, tetapi karena malam itu suasana hatinya tidak terlalu baik, Ino lantas meminta Sasame yang melakukannya. Entah apa yang Sasame katakan, Ino tidak begitu mendengarkan. Ia hanya tersenyum saat semua orang bertepuk untuk mereka.

Shikamaru mulai memainkan intro lagu pertama yang akan mereka bawakan dengan keyboard-nya. Ino memejamkan mata sejenak, membiarkan dirinya larut dalam nada-nada melankolis Gomenasai milik t.A.T.u. Saat ia kembali membuka mata, ia bisa melihat perhatian para pengunjung padanya, membuatnya semangatnya sedikit terangkat.

Tempatnya memang di sini, di atas panggung. Dan tak ada penghiburan yang lebih baik dari pada ini.

"What I thought wasn't mine

In the light, wasn't one of a kind

A precious pearl

When I wanted to cry

I couldn't 'cause I wasn't allowed"

Di bagian refrain, Sasame mengiringinya,

"Gomenasai, for everything

Gomenasai, I know I let you down

Gomenasai till the end

I never needed a friend

Like I do now ..."

Fase berikutnya adalah giliran Sasame yang menyanyikan liriknya. Ino menyapukan senyuman ke penjuru cafe sementara suara merdu partner-nya menyihir penonton. Tatapannya kemudian terhenti di pintu masuk. Sesosok cowok berpostur jangkung baru saja melangkah masuk, tampak menjulang di antara pengunjung lain. Kacamatanya bertengger di pangkal hidungnya—seperti biasa. Bahkan walaupun tertutup lensa gelap sekalipun, Ino bisa merasakan tatapan cowok itu padanya.

Ino sama sekali tidak mengerti ketika saat berikutnya ia merasakan serbuan rasa gugup yang ganjil. Jantungnya berdegup begitu kencang dalam rongga dadanya, memacu aliran darah lebih banyak ke wajahnya. Tangannya yang memegang tiang mikrofon mendadak gemetaran, namun anehnya di saat bersamaan, ada kegembiraan yang tak dapat ia sembunyikan melihat sosok Shino Aburame di sana.

"Gomenasai, for everything

Gomenasai, I know I let you down

Gomenasai till the end

I never needed a friend

Like I do now ..."

.

.

TBC ...

.

.

Gomenasai (c) t.A.T.u